Anda di halaman 1dari 20

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA

PROGRAM STUDI FARMASI F-MIPA


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA II


PRAKTIKUM IV
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN MINYAK ATSIRI DARI
DAUN KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendron, L.)

Disusun oleh:
Nanda Rohiatna
J1E112074
Kelompok VI

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PRAKTIKUM IV
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN MINYAK ATSIRI DARI
DAUN KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendron, L.)

KELOMPOK VI

Mengetahui,
Asisten

Nilai Laporan Awal

(Muhamad Iqbal
Fadillah)

Tanggal : 10 April 2015

Nilai Laporan Akhir

Tanggal : 20 Mei 2015

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PERCOBAAN IV
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN MINYAK ATSIRI DARI
DAUN KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendron, L.)

I.

TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat memahami prinsip
dan dapat melakukan isolasi minyak atsiri dari daun kayu putih (Melaleuca
leucadendron, L.) beserta analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis
tipis.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kayu Putih
Potensi tanaman kayu putih sebagai salah satu jenis minyak atsiri di
Indonesia cukup besar mencangkup antara lain daerah Maluku, Nusa
Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Bali dan Papua yang berupa hutan alam
kayu putih. Asteromyrtus brasii merupakan salah satu anggota genus
Asteromyrtus yang secara keseluruhan terdiri dari tujuh spesies, yaitu A.
brasii, A. amhernica, A. lysicephala, A. magnifica, A. angustifolia, A.
tranganensis, dan A. symphicarpa (Widiyanto & Mohamad, 2014).
Salah satu tanaman yang berkhasiat obat adalah tanaman kayu putih
(Melaleuca leuncandendra l). Kayu putih merupakan tumbuhan asli
Indonesia yang terdapat didaerah Maluku tengah tepatnya dipulau Buru dan
Sulawesi. Di beberapa daerah daun kayu putih dalam jumlah besar dapat
diperoleh dari semak dan pohon kayu putih yang tumbuh secara liar tanpa
proses budidaya. Kayu putih dapat tumbuh di tanah tandus, tahan panas dan
dapat bertunas kembali meskipun setelah terjadi kebakaran. Ciri-ciri pohon
kayu putih mempunyai tinggi berkisar antara 10-20 m, kulit batangnya
berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan kulit yang
terkelupas tidak beraturan. Batang pohonnya tidak terlalu besar, dengan
percabangan yang menggantung ke bawah. Daunnya tunggal, agak tebal
seperti kulit, bertangkai pendek, letak berseling. Helaian daun berbentuk

jorong atau lanset, dengan panjang 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan
pangkal daun runcing, tepi rata dan tulang daun hampir sejajar. Permukaan
daun berambut, warna hijau kelabu sampai hijau kecoklatan, daun bila
diremas atau dimemarkan berbau minyak kayu putih. Perbungaan majemuk
bentuk bulir, bunga berbentuk seperti lonceng, daun mahkota warna putih,
kepala putik berwarna putih kekuningan, keluar di ujung percabangan. Buah
panjang 2,5-3 mm, lebar 3-4 mm, warnanya coklat muda sampai coklat tua
(Krisnaningrum, 2011).
Tanaman kayu putih merupakan salah satu tanaman penghasil minyak
atsiri, biasanya diambil daunnya yang merupakan bagian tumbuhan yang dikenal
dengan kandungan minyak atsiri. Daun kayu putih (Melaleuca leuncandendra l)
ini mengandung minyak atsiri yang terdiri atas sineol, alfa-terpienol,
valeraldehida, dan benzaldehida. Minyak atsiri dalam tanaman ini sering disebut
minyak kayu putih yang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit seperti
anti septic dan bakteri, Insektisida dan vermifuge, decongestant dan expetorant,
kosmetik dan tonik, perangsang dan sudororific, analgesik, panas, dan anti sakit
saraf (Krisnaningrum, 2011).

2.2 Minyak Atsiri


Minyak atsiri sebagai bahan wewangian, penyedap masakan dan obatobatan sudah dipergunakan sejak lama. Minyak atsiri, minyak yang mudah
menguap atau terbang merupakan senyawa yang berwujud cairan atau
padatan yang memiliki komposisi maupun titik didih yang beragam, Minyak
atsiri dapat diperoleh dari bagian tanaman meliputi akar, kulit, batang, daun,
buah, biji maupun dari bunga. Minyak atsiri pada tanaman mempunyai 3
fungsi yaitu membantu proses penyerbukan dengan menarik beberapa jenis
serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau
hewan lain dan sebagai cadangan makanan dalam tanaman (Widiyanto &
Mohamad, 2014).
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolism
dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan
kimia dalam tanaman. Minyak tersebut disintesa dalam sel kelenjar pada
jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh resin. Minyak
atsiri umumnya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang

terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) serta
beberapa persenyawaan kimia yang mengandung unsur nitrogen (N) dan
belerang (S). Pada umumnya sebagian besar minyak atsiri terdiri dari
campuran

persenyawaan

golongan

hidrokarbon

dan

hidrokarbon

teroksigenasi (Widiyanto & Mohamad, 2014).


Minyak kayu putih akan termasuk ke dalam kelas mutu U (utama) jika
memiliki kadar sineol

55%, dan mutu P (pertama) jika kadar sineol kurang

dari 55%. Komponen utama dalam minyak kayu putih adalah sineol, yang
kadarnya mencapai 50-65%. Senyawa ini terdapat pada sejumlah besar
minyak atsiri, bahkan sineol terdapat dalam 260 jenis minyak atsiri. Sineol
(1,8- Cineole) sebagai komponen utama minyak kayu putih memiliki rumus
C10H18O, senyawa tersebut dikenal dengan nama bermacam-macam seperti
Cajeput hydrate, Cajuputol, dan Cajeputol (Widiyanto & Mohamad, 2014).
Minyak kayu putih (cajuput oil, oleum-melaleuca-cajeputi, atau oleum
cajeputi) dihasilkan dari hasil penyulingan daun dan ranting kayu putih (M.
leucadendra). Minyak atsiri ini dipakai sebagai minyak pengobatan, dapat
dikonsumsi per oral (diminum) atau, lebih umum dibalurkan ke bagian tubuh.
Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut
kembung. Komposisi dalam pembuatan minyak kayu putih adalah : oleum
cajeputi 100% (Krinaningrum, 2011).

Berdasarkan penelitian kandungan kimia minyak kayu putih pada


tanaman A. brasii yang terdeteksi adalah 1,8 cineole dengan kelimpahan
sebesar 34,88%, trans-beta-ionon-5,6-epoxide (21,26%), formamide (CAS)
methanamide (11,20%), acetic acid (CAS) ethylic acid (8,14%), dan alpha
pinene (4,39%). Sineol atau 1,8-cineole adalah eter siklik alami dan anggota
monoterpenoid. Eukaliptol dihasilkan dari banyak anggota marga Eucalyptus
dan beberapa anggota suku Myrtaceae, seperti Melaleuca dan Syzygium
(Widiyanto & Mohamad, 2014).
2.3 Ekstraksi Destilasi Uap
Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya
dengan menggunakan pelarut, jadi ekstrak ialah sediaan yang diperoleh
dengan cara mengekstraksi tanaman yang berkhasiat obat dengan ukuran

partikel tertentu, dan menggunakan medium pengekstraksi. Simplisia yang


lunak seperti rimpang, daun, akar, dan ada yang keras seperti biji, kulit kayu,
kulit akar, simplisia lunak mudah ditembus oleh cairan penyari, karena itu
pada penyarian tidak perlu diserbuk sampai halus, sebaliknya pada simplisia
yang keras, perlu dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyarian
(Dirjen POM, 1986).
Prinsipnya metode penyulingan dengan uap sama dengan penyulingan
langsung, hanya saja air penghasil uap tidak diisikan bersama-sama dalam ketel
penyulingan. Uap yang digunakan berupa uap jenuh tau uap yang kelewat panas
dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer. Di dalam proses penyulingan, dengan uap
ini uap air dialirkan melalui pipa melingkar yang berpori dan berada dibawah
bahan tanaman yang akan disuling. Kemudian uap akan bergerak menuju
kebagian atas melalui bahan yang disimpan diatas saringan. Kelebihan dan
kekurangan dari metode ini antara lain sebuah ketel uap dapat melayani beberapa
buah ketel penyulingan yang dipasang seri sehingga proses produksi akan
berlangsung lebih cepat. Proses penyulingan ini memerlukan konstruksi ketel
yang lebih kuat, alat alat pengaman yang lebih baik dan sempurna, biaya yang
diperlukan pun lebih mahal (Krisnaningrum, 2011).
Laporan penelitian dari Krisnaningrum (2011) menggambarkan langkahlangkah penentuan kadar minyak atsiri pada kayu putih. Pertama adalah
menimbang simplisia sebanyak 100 gram, kemudian labu destilasi dibersihkan
dengan alkohol. Simplisia dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan
aquades ke dalam labu alas bulat sebanyak 1000 ml. labu dirangkai dengan alat
destilasi stahl pada klem dan statif. Api dinyalakan dan dipanaskan simplisia
sampai mendidih. Setelah selesai, biarkan 15 menit, lalu dipisahkan hasil
destilasi dengan air. Volume minyak atsiri dibaca pada buret dan dihitung kadar
minyak atsiri yang didapatkan (Krisnaningrum, 2011).

Berdasarkan penelitian Supriyanto & Bambang (2012) terhadap


perbandingan kandungan minyak atsiri pada jahe kering dan jahe segar,
sebanyak 120 gram jahe segar diiris tipis melintang dan kemudian dilakukan
distilasi Stahl selama 6 jam, untuk memperoleh data kuantitatif minyak
atsiri. Kemudian minyak atsiri hasil distilasi diambil dengan pipet, lalu
ditampung dalam botol vial untuk kemudian dianalisis kualitatif dengan GC-

MS. Dan sebanyak 120 gram kelompok jahe yang lain dikeringkan dengan
dipanaskan pada oven suhu 50oC selama 5 hari selanjutnya disebut sampel B,
lalu diiris tipis melintang setelah itu didestilasi Stahl selama 6 jam. Untuk
memperoleh data kuantitatif minyak atsirinya. Selanjutnya minyak atsiri hasil
destilasi dianalisis dengan GC-MS (Supriyanto & Bambang, 2012).
Sebagian besar minyak atsiri diperoleh dengan cara penyulingan atau
hidrodistilasi. Kelemahan hidrodistilasi antara lain adalah kemungkinan
hilangnya komponen-komponen minyak atsiri karena larut dalam air.
Penggunaan temperatur yang tinggi pada proses hidrodistilasi akan
menyebabkan komponen-komponen yang sensitif terhadap panas akan mudah
rusak sehingga kualitas minyak atsiri yang dihasilkan menjadi rendah. Selain
itu, hidrodistilasi membutuhkan energi yang cukup besar. Namun, mengingat
proses dan peralatan yang digunakan cukup sederhana, hidrodistilasi masih
menjadi pilihan untuk mendapatkan minyak atsiri dari berbagai tumbuhan
penghasil minyak atsiri (Supardan dkk, 2009).
2.4 Kromatografi Lapis Tipis
Metode pemisahan kromatografi didasarkan pada perbedaan distribusi
molekul-molekul komponen diantara dua fase (fase gerak dan fase diam)
yang kepolarannya berbeda. Apabila molekul-molekul komponen berinteraksi
secara lemah dengan fase diam maka komponen tersebut akan bergerak lebih
cepat meninggalkan fase diam. Keberhasilan pemisahan kromatografi
bergantung pada daya interaksi komponen-komponen campuran dengan fase
diam dan fase gerak (Hendayana, 2010).
Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi cair yang paling
sederhana. Pada Kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas serupa
dalam hal fase diamnya berupa lapisan tipis dan fase geraknya mengalir
karena kerja kapiler. Perbedaannya dalam sifat dan fungsi fase diam. Pada
KLT, fase cair lapisan tipis (tebal 0,1-2 mm) yang terdiri dari bahan padat
yang dilapiskan kepada permukaan penyangga datar yang biasanya terbuat
dari kaca, tapi dapat pula terbuat dari pelat polimer atau logam. Lapisan
melekat kepada permukaan dengan bantuan bahan pengikat, biasanya
CaSO4 atau amilum (pati) (Gritter, 1991).

Bahan dan Teknik KLT antara lain :


1.

Penjerap/fase diam
Penjerap yang paling sering digunakan pada KLT adalah silica dan
serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi-desorpsi yang utama pada
KLT adalah partisi dan adsorbsi

2.

Fase Gerak pada KLT


Sistem yang paling sederhana ialah dengan menggunakan campuran 2
pelaut oganik karena daya elusi campurankedua pelarut ini dapat mudah
diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara
optimal.

3.

Aplikasi (Penotolan) Sampel


Penotolan (aplikasi) sampel dapat dilakukan sebagai suatu bercak, pita,
atau dalam bentuk zig zag.

4.

Pengembangan
Teknik pengembangan KLT dan KLT kinerja tinggi yaitu konvensional,
pengembangan 2 dimensi, dan pengembangan kontinyu.

5.

Deteksi

(Rohman, 2009).
KLT digunakan secara luas untuk analisis solut-solut organik terutama
dalam bidang biokimia, farmasi, klinis forensik, baik untuk analisis kualitatif
dengan cara membandingkan nilai Rf solute dengan nilai Rf senyawa baku
atau untuk analisis kualitatif. Penggunaan umum KLT adalah untuk
menentukan banyaknya komponen dalam campuran, identifikasi senyawa,
memantau berjalannya suatu reaksi, menentukan efektifitas pemurnian,
menentukan kondisi yang sesuai untuk kromatografi kolom, serta untuk
memantau kromatografi kolom, melakukan screening sampel untuk obat
(Sudjadi, 2007).
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan
perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu yaitu
fase diam dan fase gerak. Fase diam menahan komponen campuran
sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen

yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen
yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. Semua
kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi
cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir
melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam
campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang
berbeda Proses kromatografi juga digunakan dalam metode pemisahan
komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam tetes menjadi fraksifraksi terpisah yang diakibatkan oleh perbedaan adsorpsi, difusi dan eksklusi
komponen gula dan non gula tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang
digunakan (Sudjadi, 2007).
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu batang pengaduk,
chamber, corong kaca, corong pisah, erlenmeyer 250 ml, gelas beker 500 ml,
gelas ukur 10 ml, oven, pipa kapiler, pipet tetes, seperangkat alat destilasi uap
dan air, statif, UV 254 nm dan 366 nm, dan vial.
3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan praktikum kali ini yaitu aluminium foil,
aquades, etil asetat, n-heksan, kertas saring, dan 200 gram daun kayu putih
yang telah dirajang.
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Destilasi Daun Kayu Putih
200 gram daun kayu putih
Dirajang tipis
Dimasukkan ke
destilator

dalam

labu

Aquades

Ditambahkan
sebanyak
2/3
volume labu destilator (hingga
mencapai setengah dari pipa
destilator)
Dilakukan proses destilasi selama
kurang lebih 2 jam

Destilat

Ditampung di dalam erlenmeyer


250 ml yang ditutup dengan
aluminium foil
Dipindahkan ke dalam corong
pisah
untuk
memisahkan
campuran

Fase minyak

Dimasukkan ke dalam vial

Hasil
3.2.2 Pengaktifan Plat
Plat KLT

Dimasukkan ke dalam oven pada


suhu 105 oC 110 oC selama 30
menit

Hasil
3.2.3 Pembuatan Eluen
7 ml n-heksana

3 ml etil asetat

Dicampurkan dalam gelas beker


Diaduk dengan batang pengaduk

10 mL eluen non polar


( n-heksana : etil asetat)
(7 : 3)

Hasil
3.2.4 Penjenuhan Chamber
Eluen

Dimasukkan ke dalam chamber


hingga tingginya 0,5 cm

Kertas saring

Dipotong dengan panjang melebihi chamber


Dimasukkan kertas saring yang telah dipotong
Ditutup chambernya
Dibiarkan kertas saring hingga basah dan keluar

Hasil
3.2.5 Penotolan
Plat KLT

Dibuat pola pada sebuah kertas


dengan batas bawah 1 cm dan batas

atas 0,5 cm
Diletakkan diatas pola tersebut.

Fase minyak

Ditotolkan dengan menggunakan


pipa kapiler pada bagian kanan
setipis mungkin

Fase air

Ditotolkan dengan menggunakan


pipa kapiler pada bagian kiri setipis
mungkin

Hasil

3.2.6 Proses Elusi


Plat KLT yang sudah
ditotolkan sampel

Dimasukkan dalam chamber yang

sudah jenuh
Ditutup chambernya
Dibiarkan terelusi sampai batas
atas

Hasil
3.2.7 Pengamatan
Noda yang terpisah karena disinari
UV 254 nm dan 366 nm
Diamati jaraknya
Digambar
Dihitung nilai Rf dari tiap noda
pada plat

Hasil

IV. HASIL PERCOBAAN

4.1 Hasil

No
.
1.

Perlakuan

Keterangan

Menimbang simplisia
daun kayu putih

Sebanyak 200 gram

2.

Memasukkan ke
dalam alat destilasi

Destilasi yang berisi


minyak kayu putih
dan air 3 liter

3.

Menambahkan
aquades 2/3 volume
panic destilator dan
melakukan destilasi
kurang lebih 4 jam.
Memasukkan juga
aquades melalui
tabung dialat
destilator sampai
tabung berisi
setengahnya

Dokumentasi

4.

Menampung hasil
destilat

5.

Memasukkan dalam
corong pisah

6.

Memisahkan minyak
atsiri dan air dalam
corong pisah,
didiamkan hingga
terbentuk 2 lapisan

7.

Memisahkan bagian
minyak dan bagian
air, memasukkan
dalam vial

8.

9.

Destilat yang
diperolehs ebanyak
1200 mL

Lapisan atas: minyak


Lapisan bawah: air

Mengaktifkan plat
silika gel yang
digunakan sebagai
fase diam KLT dalam
oven suhu 1050C
selama 30 menit

Membuat fase gerak /


eluen dengan

Larutan eluen yang


dibuat sebanyak 10

perbandingan
n-heksan dan etil
asetat (7:3)

10.

Menjenuhkan
chamber dengan
menggunakan kertas
saring. Dilakukan
penotolan fase
minyak & fase air
pada KLT

11.

Melakukan proses
elusi sampai tanda
batas

12.

Mengamati noda pada


UV 254 nm & 366
nm

mL

254 nm

366 nm
Perhitungan 254 nm
Fase minyak :

Fase air :

Rf = Jarak noda

Rf = Jarak noda

Jarak eluen

Jarak eluen

= Jarak Noda tailing


Jarakeluen
= 6,2 1,7
6,5
= 0,69

= Jarak Noda tailing


Jarakeluen
= 6,2 1,8
6,5
= 0,68

DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM. 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta.
Gritter, J.R. 1991. Kromatografi. Penerbit Institut Teknologi, Bandung.
Hendayana, S. 2010. Kimia Pemisahan. Penerbit Rosda, Bandung.
Krisnaningrum, W. 2011. Pengambilan Minyak Atsiri Daun Kayu Putih
(Melaleuca leucadendron L.) dengan Metode Destilasi Air di Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Tawangmangu. Laporan Kegiatan Magang Tugas Akhir. Surakarta.
Rohman, A. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Sudjadi. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Supardan, M.D., Ruslan, Satriana, Normalina A. 2009. Hidrodistilasi Minyak Jahe
(Zingiber officinale Rosc.) Menggunakan Gelombang Ultrasonik. Reaktor.
12(4): 239-244
Supriyanto dan Bambang C. 2012. Perbandingan Kandungan Minyak Atsiri antara
Jahe Segar dan Jahe Kering. Chem. Prog. 5(2): 81-85
Widiyanto, A dan Mohamad S. 2014. Sifat Fisikokimia Minyak Kayu Putih Jenis
Asteromyrtus brasii. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 32(4): 243-252

V. Pembahasan
Praktikum ini berjudul Isolasi dan Identifikasi Komponen Minyak
Atsiri Dari Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendron, L.). Tujuannya adalah
dapat memahami prinsip dan dapat melakukan isolasi minyak atsiri dari daun
kayu putih (Melaleuca leucadendron, L.) beserta analisis kualitatif dengan
metode kromatografi lapis tipis. Daun kayu putih yang digunakan adalah daun
yang dikeringkan lalu dipotong kecil-kecil.
Tumbuhan Kayu Putih memiliki banyak manfaat bagi kesehatan
karena tumbuhan ini dapat dikategorikan sebagai tumbuhan obat. Yang sering
digunakan sebagai obat adalah dari kulit dan daunnya sedang penggunaannya
biasanya dijadikan ramuan. Untuk penggunaan ramuan Kayu Putih dalam
bentuk kemasan biasanya pada saat melakukan perjalanan jauh atau untuk
menghangatkan tubuh pada musim dingin. Selain itu bisa juga digunakan
untuk mengatasi orang yang sedang mengalami mabuk perjalanan dan
berbagai masalah kesehatan lainnya. Selain itu, minyak kayu putih dapat
mengobati penyakit seperti demam, flu, batuk (Guenther, 2006).
Minyak atsiri adalah senyawa mudah menguap yang tidak larut di dalam
air yang berasal dari tanaman. Minyak atsiri dapat dipisahkan dari jaringan
tanaman melalui proses destilasi. Proses ini jaringan tanaman dipanasi dengan
air atau uap air. Minyak atsiri akan menguap dari jaringan bersama uap air yang
terbentuk atau bersama uap air yang dilewatkan pada bahan. Campuran uap air
dan minyak atsiri dikondensasikan pada suatu saluran yang suhunya relatif
rendah. Hasil kondensasi berupa campuran air dan minyak atsiri yang sangat
mudah dipisahkan kerena kedua bahan tidak dapat saling melarutkan
(Hasbullah, 2001).
Percobaan ini menggunakan cara destilasi atau penyulingan. Destilasi
atau penyulingan adalah suatu pemurnian senyawa oganik cair dimana suatu
proses yang didahului dengan penguapan senyawa cair, lalu uap diembunkan
dan akan kembali mncair. Prosesnya yaitu larutan diuapkan pada alat uap yang
kemudian mengental dan kembali menjadi cairan. Kromatografi adalah metode
pemisahan komponen dalam suatu sampel dimana komponen didistribusikan

diantara dua fase, yaitu fase gerak dan fase diam. Fase gerak adalah fase yang
membawa cuplikan, dan fase diam adalah fase yang menahan cuplikan secara
efektif.
Cara kerja yang pertama dalam percobaan ini yaitu menimbang 200 gr
daun kayu putih yang sudah dikeringkan sebelumnya. Setelah ditimbang, daun
kayu putih selanjutnya diremas-remas menjadi ukuran yang lebih kecil dan
dimasukkan kedalam labu desilator. Ditambahkan aquades sebanyak 2/3 dari
volume labu desilator (mencapai setengah dari pipa desilator) lalu dilakukan
proses destilasi selama 4 jam. Destilat yang diperoleh ( 1200 ml) kemudian
ditampung didalam Erlenmeyer 250 ml yang ditutup dengan aluminium foil dan
dipindah kedalam corong pisah untuk memisahkan campuran minyak dan air.
Setelah terpisah antara mnyak dan air, minyak yang didapat dimasukkan ke
dalam vial.
Selanjutnya yaitu mengaktifkan plat KLT, plat KLT dimasukkan
kedalam oven dengan suhu 105 C - 110 C selama 30 menit. Tujuan dari
pengaktifan plat KLT yaitu untuk mengaktifkan adsorben dan agar molekulmolekul air yang terikat pada plat hilang, karena jika dalam plat masih
mengandung molekul air, maka plat tidak bisa aktif. Setelah plat KLT
diaktifkan, selanjutnya membuat eluen (fase gerak). N-heksan sebanyak 7 ml
dan etil asetat 3 ml dicampur dalam gelas beker lalu diaduk dengan batang
pengaduk. Didapat 10 ml eluen non polar n-heksan : etil asetat (7:3). Eluen
yang dibuat dimasukkan dalam chamber sampai tingginya 0,5 cm. dimasukkan
kedalam chamber kertas saring yang sudah dipotong dengan panjang melebihi
chamber, dan chamber ditutup sampai kertas saring terbasahi sampai keluar.
Selama proses penjenuhan, chamber harus dijaga jangan sampai chamber
tersentuh atau dipindahkan. Jika selama penjenuhan, chambernya tersentuh atau
dipindah maka akan mempengaruhi proses penjenuhan, karena saat eluen mulai
naik dan membasahi seluruh kertas saring maka akan turun kembali.
Penjenuhan ditandai dengan kertas saring yang berada dalam chamber sudah
terbasahi seluruhnya.
Plat KLT yang sudah diaktifkan digambar polanya pada kertas dengan
batas bawah 1 cm dan atas 0,5 cm. fase minyak ditotolkan setipis mungkin
menggunakan pipa kapiler paa bagian kanan dan fase air ditotolkan pada bagian

kiri. Setelah penotolan selesai, plat KLT dimasukkan kedalam chamber yang
sudah jenuh lalu ditutup dan dibiarkan terelusi sampai batas atas. Diamati noda
pada UV 254nm dan 366 nm, diamati jaraknya, digambar lalu dihitung nilai rf
dari tiap nod pada plat. Didapat hasil perhitungan nilai rf yaitu untuk fase
minyak nilai rf nya 0,69 dan nilai rf dari fase air adalah 0,68.
VI. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1.

Minyak atsiri adalah senyawa mudah menguap yang tidak larut didalam

2.

air yang berasal dari tanaman.


Sifat-sifat minyak atsiri yaitu berbau harum sesuai aroma tanaman yang
menghasilkannya, mempunyai rasa getir, pahit atau pedas, berupa cairan

3.

berwarna kuning, kemerahan dan ada yang tidak berwarna.


Nilai rf dari fase minyak yaitu 0,69 dan fase air 0,68.