Anda di halaman 1dari 14

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Uraian Materi

arakteristik berasal dari kata karakter yang berarti tabiat watak, pembawaan,
atau kebiasaan yang di miliki oleh individu yang relatif tetap (Pius Partanto,
Dahlan, 1994). Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup

seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku
menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan.(Moh. Uzer Usman,1989).
Sedangkan defenisi peserta didik diantaranya adalah:

Peserta didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau
sekelompok orang yang menjalankan pendidikan.

Peserta didik adalah unsur penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena
sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas pembelajaran (Saiful Bahri
Djamarah, 2000).

Peserta didik adalah individual yang memiliki keunikan, berbeda satu sama lain
dan tidak satupun yang memiliki ciri-ciri persis sama meskipun mereka itu
kembar.
Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya.

Perbedaan individual ini merupakan kodrat manusia yang bersifat alami. Berbagai
faktor dalam diri individu berkembang melalui cara-cara yang bervariasi dan oleh
karena itu menghasilkan dinamika karakteristik individual yang bervariasi pula.
Karakteristik individual yang berbeda sehingga tiap individu sebagai kesatuan jasmani
dan rohani mewujudkan dirinya secara utuh dalam keunikannya. Keunikan dan
perbedaan individual itu oleh perbedaan faktor pembawaan dan lingkungan yang
dimiliki oleh masing-masing individu. Perbedaan individu tersebut membawa implikasi
imperatif terhadap seluruh layanan pendidikan untuk memperhatikan karakteristik
peserta didik yang unik dan bervariasi tersebut.

Di atas telah disinggung bahwa modul ini akan mempelajari karakteristik peserta
didik khususnya untuk usia sekolah menengah. Pengertian peserta didik usia sekolah
menengah adalah peserta didik pada jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP)
dan sederajat, serta peserta didik pada jenjang sekolah menengah (SLTA dan SMK)
dan sederajat. Dalam kategori psikologi perkembangan, peserta didik SLTP termasuk
pada masa remaja awal, sedangkan peserta didik SLTA dan SMK termasuk masa
remaja akhir. Perkembangan peserta didik pada kedua tahap masa remaja tersebut
memiliki karakteristik masing-masing yang khas, yang membedakan perkembangan
keduanya.

Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Menengah

ada usia sekolah menengah yaitu usia SLTP dan SLTA (SMK) peserta didik
berada pada masa remaja atau pubertas atau adoelesen. Masa remaja
merupakan masa peralihan atau transisi antara masa kanak dan dewasa.

Meskipun perkembangan aspek-aspek kepribadian telah diawali pada masa-masa


sebelumnya, tetapi puncaknya boleh dikatakan terjadi pada masa-masa ini, sebab
setelah melewati masa remaja ini, remaja telah berubah menjadi orang yang dewasa
yang boleh dikatakan telah terbentuk suatu pribadi yang relatif tetap. Pada masa
transisi ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat.
Oleh karena itu sebagai pendidik, anda perlu menghayati tahapan
perkembangan yang terjadi pada peserta didik sehingga dapat mengerti segala
tingkah laku yang ditampakkan peserta didik tersebut. Misalnya pada peserta didik
usia sekolah menengah, dapat terjadi suasana hati yang semula riang gembira tibatiba mendadak berubah menjadi rasa sedih. Jika anda sebagai pendidik tidak peka
terhadap kondisi seperti ini, bisa jadi anda memberikan respons yang dapat
menghambat perkembangan peserta didik anda.
Untuk mengetahui perkembangan karakteristik peserta didik, khususnya usia
sekolah menengah (remaja), adalah hal yang tidak mudah. Ibarat teka-teki besar
yang harus dipecahkan dalam memahami perkembangan psikologis remaja,
seorang pendidik harus membuka kuncikunci rahasia yang dirancang dalam suatu
sistem pembelajaran yang menyeluruh dan integral. Di bawah ini akan dipaparkan
2

perkembangan berbagai aspek dari para peserta didik yang berusia 12 atau 13
tahun hingga 18 atau 19 tahun.

a. Karakteristik Perkembangan dan Pertumbuhan Fisik Remaja


Salah satu segi perkembangan yang cukup pesat dan nampak dari luar
adalah perkembangan fisik. Pada masa remaja awal (usia SLTP) anak-anak ini
nampak postur tubuhnya tinggi-tinggi tetapi kurus. Lengan kaki dan leher mereka
panjang-panjang, baru diikuti dengan pertambahan berat badan mereka dan
pada akhir masa remaja, proporsi tinggi dan berat badan mereka pun seimbang.
Pada usia 11-12 tahun tinggi badan anak laki-laki dan perempuan tidak pernah
jauh berbeda, pada usia 12-13 tahun pertambahan tinggi badan perempuan lebih
cepat dibandingkan anak laki-laki, tetapi pada usia 14-15 tahun anak laki-laki
akan mengejarnya, sehingga pada usia 18-19 tahun tinggi badan anak laki-laki
jauh daripada perempuan, lebih tinggi sekitar 7 sampai 10 meter.
Rata-rata pertambahan tinggi badan masih dapat diperkirakan, tetapi
pertambahan berat badan sangat sulit diperkirakan. Hal itu disebabkan karena
besarnya pengaruh faktor luar, seperti kondisi sosial ekonomi, pengaruh
komposisi dan gizi makanan. Perubahan yang sangat cepat dalam tinggi ini,
tidak berjalan sejajar dengan kekuatan dan keterampilannya. Keduanya agak
tertinggal dibandingkan tinggi badan. Anak yang dalam usia SD jagoan dalam
olahraga, pada usia SLTP mengalami sedikit kemunduran karena belum ada
penyesuaian dengan perubahan-perubahan fisik yang dialami, gerak-gerik
merekapun tampak kaku dan canggung.
Selain terjadi pertambahan tinggi badan yang sangat cepat, pada masa
remaja terjadi perkembangan seksual yang cepat pula. Perkembangan ini
ditandai dengan munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Ciri-ciri kelamin
primer berkenaan dengan alat-alat produksi, baik pada anak laki-laki maupun
perempuan. Pada awal masa remaja anak perempuan mulai mengalami
menstruasi dan anak laki-laki mengalami mimpi basah, dan pengalaman ini
merupakan pertanda bahwa mereka telah memasuki masa kematangan seksual.
Pengalaman pertama menstruasi pada anak perempuan, seringkali dirasakan
3

oleh remaja sebagai sesuatu yang mengagetkan, menakutkan, menimbulkan


rasa cemas, takut dan malu. Adakalanya mereka menutup-nutupi atau
menyembunyikan pengalaman tersebut. Karena itu, ada peserta didik pada masa
awal remaja menunjukkan tingkah laku yang bermacam-macam. Disinilah
penerangan dan bimbingan dari guru sangat diperlukan menjelang mereka
memasuki masa remaja. Pengalaman mimpi basah pertama pada anak laki-laki
juga menimbulkan kekagetan walaupun tidak sebesar anak perempuan. Setelah
pengalaman tersebut biasanya terjadi perubahan perhatian dan perasaan
terhadap lawan jenis. Selanjutnya ciri-ciri kelamin sekunder, berkenaan dengan
tumbuhnya bulu-bulu pada seluruh badan. Perubahan suara menjadi semakin
rendah-besar (lebih-lebih pada anak laki-laki), membesarnya buah dada pada
anak perempuan,

dan

tumbuhnya

jakun

pada

anak laki-laki.

Dengan

perkembangan ciri-ciri kelamin sekunder ini, secara fisik remaja mulai


menunjukkan ciri-ciri orang dewasa.
Masih dalam kaitan dengan perkembangan fisik, pada masa remaja juga
terjadi perkembangan hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin
yang masuk dalam darah. Hormon yang terpenting berkaitan dengan
perkembangan kehidupan seksual adalah testosterone dan estrogen. Keduanya
ada, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Tetapi konsentrasi yang tinggi
dari testosterone ada pada anak laki-laki, sehingga sering disebut sebagai
hormon kepriaan dan estrogen terkonsentrasi tinggi pada anak perempuan
sehingga disebut hormon kewanitaan. Memang kedua jenis hormon tersebut
mempengaruhi perkembangan karakteristik kepriaan dan kewanitaan. Hormon
tersebut tidak hanya mempengaruhi perkembangan seksual, tetapi juga
pertumbuhan fisik.
Testosteron merangsang pertumbuhan otot dan tulang-tulang, baik anak
laki-laki maupun anak permpuan. Sampai dengan usia Sekolah Dasar
pertumbuhan otot dan tulang keduanya sama, tetapi pada masa remaja terdapat
perbedaan. Pertumbuhan otot-otot dan tulang-tulang anak laki-laki lebih besar
dan panjang dibandingkan anak perempuan.

Estrogen merangsang pertambahan penyimpanan lemak di bawah kulit,


dan mendorong pematangan tulang-tulang sehingga mencapai bentuk dan
kekuatan sebagai orang dewasa. Dalam usia Sekolah Dasar anak laki-laki dan
perempuan dengan rangsangan estrogen memiliki jumlah lemak yang hampir
sama,

sekitar

seperlima

dari

tubuhnya,

tetapi

pada

masa

pubertas,

pertambahannya menjadi berbeda. Pertambahan timbunan lemak pada peserta


didik perempuan lebih banyak dibandingkan peserta didik laki-laki. Hal itulah
yang menimbulkan penampilan, peserta didik laki-laki berbeda dengan peserta
didik perempuan. Peserta didik laki-laki kelihatan lebih kekar, otot dan kulitnya
lebih kasar, sedangkan peserta didik perempuan lebih lembut, licin dan halus.
Sudah tentu kelembutan dan kehalusan otot dan kulit peserta didik perempuan
akan berkurang apabila ia melakukan pekerjaan dan latihan-latihan kekuatan otot
yang keras. Demikian juga halnya pada peserta didik laki-laki, kekuatan dan
kekasaran otot dan kulitnya akan berkurang apabila ia jarang sekali melakukan
pekerjaan dan latihan-latihan kekuatan otot.
Bertolak dari perkembangan fisik ini, kelihatan bahwa laju perkembangan
peserta didik sekolah menengah memiliki perbedaan karakteristik antara peserta
didik SLTP (remaja awal) dengan peserta didik SLTA atau SMK (remaja akhir).
Abin

Syamsuddin

Makmun

(1996:92)

memetakan

perbedaan

profil

perkembangan fisik dan prilaku psikomotorik antara remaja awal dan remaja
aklhir seperti tampak pada table berikut :

TABEL 1.1.
Perbedaan Profil Perkembangan Fisik
Antara Peserta Didik SLTP dengan Peserta Didik SLTA (SMK)
NO

1.

2.

3.

Peserta Didik SLTP

Peserta Didik SLTA (SMK)

(remaja awal)

(remaja akhir)

Laju perkembangan secara umum

Laju perkembangan secara umum

berlangsung secara pesat

kembali menurun, sangat lambat

Proporsi ukuran tinggi dan berat

Proporsi tinggi dan berat badan lebih

badan sering tidak seimbang

seimbang mendekati kekuatan tubuh

(termasuk otot dan tulang belulang)

orang dewasa

Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbuh

Siap berfungsinya organ-organ

bulu pada pubic region, otot

reproduktif seperti pada orang-orang

mengembang pada bagian-bagian

yang sudah dewasa.

tertentu) disertai mulai aktifnya


sekresi kelenjar jenis (menstruasi
pada anak perempuan dan polusi
pada anak laki-laki pertama kali)
4.

Gerak-gerak tampak canggung dan

Gerak-geriknya mulai mantap

kurang terkoordinasikan
5.

Aktif dalam jenis permainan yang

Jenis dan jumlah cabang permainan

dicobanya

lebih selektif dan terbatas pada


keterampilan yang menunjang pada
persiapan kerja.

b. Karakteristik Perkembangan Sosial dan Moralitas Remaja


Keterampilan berpikir baru yang dimiliki remaja adalah pemikiran sosial.
Pemikiran sosial ini berkenaan dengan pengetahuan dan keyakinan mereka
tentang masalah-masalah hubungan pribadi dan sosial. Remaja awal telah
memiki pemikiran-pemikiran yang logis, tetapi dalam pemikiran yang logis ini
mereka seringkali menghadapi kebingungan antara pemikiran orang lain. Pada
remaja berkembang sikap egosentrisme, yang berupa pemikiran-pemikiran

subjektif logis dirinya tentang masalah-masalah sosial yang di hadapi dalam


masyarakat atau kehidupan pada umumnya.
Egosentrisme remaja seringkali muncul atau diperlihatkan dalam hubungan
dengan orang lain, mereka tidak dapat memisahkan perasaan dia dan perasaan
orang lain tentang dirinya. Remaja sering berpenampilan atau berprilaku mengikuti
bayangan atau sosok gangnya. Mereka sering membuat trik-trik atau cara-cara
untuk menunjukkan kehebatan, kepopuleran atau kelebihan dirinya kepada
sesama remaja. Para remaja seringkali membuat atau memiliki cerita atau
dongeng pribadi, yang menggambarkan kehebatan dirinya. Cerita-cerita yang
mereka baca atau dengar dicoba diterapkan atau dijadikan cerita dirinya.
Secara berangsur-angsur remaja mengurangi sifat egosentrimenya, dalam
hubungan pribadinya berkembang etika pribadi mereka, berkenaan dengan
pengetahuan dan penghayatan tentang apa yang baik dan yang jahat. Ada dua
aspek nilai yang menjadi perhatian utama para remaja, yaitu nilai-nilai keadilan
dan kesejahteraan. Pada peserta didik laki-laki dan perempuan tidak terlalu
ekstrim adanya perbedaan tersebut. Kecenderungan peserta didik laki-laki lebih
peduli terhadap nilai-nilai keadilan dan kejujuran, sedangkan anak perempuan
terhadap nilai-nilai kesejahteraan, baik dalam lingkup keluarga, hubungan sebaya
maupun masyarakat.
Pada masa remaja kepedulian terhadap kepentingan dan kesejahteraan
orang lain cukup besar, tetapi kepedulian ini masih dipengaruhi oleh sifat
egosentrisme. Mereka belum bisa membedakan kebahagiaan atau kesenangan
yang dasar (hakiki) dengan yang sesaat, memperhatikan kepentingan orang-orang
secara umum atau orang-orang yang dekat dengan dia. Sebagian remaja sudah
bisa menyadari bahwa membahagiakan orang lain itu perbuatan yang mulia tetapi
itu hal yang sulit, mereka mencari keseimbangan antara membahagiakan orang
lain dengan dirinya.
Pada masa remaja juga telah berkembang nilai moral berkenaan dengan
rasa bersalah, telah tumbuh pada mereka bukan saja rasa bersalah karena
berbuat tidak baik, tetapi juga bersalah karena tidak berbuat baik. Dalam
perkembangan nilai moral ini, masih kelihatan adanya kesenjangan. Remaja
7

sudah mengetahui nilai atau prinsip-prinsip yang mendasar, tetapi mereka belum
mampu melakukannya, mereka sudah menyadari bahwa memuliakan orang lain
itu

adalah

baik,

tetapi

mereka

belum

mampu

melihat

bagaimana

merealisasikannya. Profil perkembangan pemikiran sosial dan moralitas peserta


didik SLTP dan SLTA (SMK) dipetakan seperti tampak pada table berikut ini.
TABEL 1.2.
Perbedaan Profil Perkembangan Pemikiran Sosial dan Moralitas
Antara Peserta Didik SLTP dengan Peserta Didik SLTA (SMK)
NO

1.

Peserta Didik SLTP

Peserta Didik SLTA (SMK)

(remaja awal)

(remaja akhir)

Diawali dengan kecenderungan

Bergaul dengan jumlah teman yang

ambivalensi keinginan menyendiri dan

lebih terbatas dan selektif serta

keinginan bergaul dengan banyak

bertahan lebih lama

tetapi bersifat temporer


2.

Adanya ketergantungan yang kuat

Ketergantungan pada kelompok

kepada kelompok sebaya disertai

sebaya berangsur fleksibel, kecuali

semangat konformitas yang tinggi

dengan teman dekat pilihannya yang


banyak memiliki kesamaan minat
dan sebagainya.

3.

4.

Adanya ambivalensi antara keinginan

Mulai dapat memelihara jarak dan

bebas dari dominasi pengaruh orang

batas-batas kebebasannya mana

tua dengan kebutuhan bimbingan dan

yang harus dirundingkan dengan

bantuan dari orang tuanya

orang tuanya.

Dengan sikap dan cara berpikirnya

Sudah dapat memisahkan antara

yang kritis mulai menguji kaidah-

peserta didik nilai-nilai dengan

kaidah , atau sIstem nilai etis dengan

kaidah-kaidah normative yang

kenyataannya dalam prilaku sehari-

universal dan para pendukungnya

hari oleh para pendukungnya (orang

yang mungkin dapat berbuat keliru

dewasa)

atau kesalahan.

c. Karakteristik Perkembangan Intelektual Remaja


Sejalan dengan perkembangan fisik yang cepat, berkembang pula
kemampuan

intelektual

berpikirnya.

Kalau

pada

usia

Sekolah

Dasar,

kemampuan berpikir anak masih berkenaan dengan hal-hal yang konkrit atau
berpikir konkrit, pada masa SLTP mulai berkembang kemampuan berpikir
abstrak, remaja mampu membayangkan apa yang akan dialami bila terjadi
suatu peristiwa umpamanya perang nuklir, kiamat dan sebagainya. Remaja
telah mampu berpikir jauh melewati kehidupannya baik dalam dimensi ruang
maupun waktu. Berpikir abstrak adalah berpikir tentang ide-ide, yang oleh Jean
Piaget seorang ahli psikolog dari Swiss disebutnya sebagai berpikir formal
operasional.
Berkembangnya kemampuan berpikir formal operasional pada remaja
ditandai dengan tiga hal penting. Pertama, peserta didik mulai mampu melihat
(berpikir) tentang kemungkinan-kemungkinan. Kalau pada usia Sekolah Dasar
peserta didik hanya mampu melihat kenyataan, maka pada usia remaja mereka
telah mampu berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan. Kedua, peserta didik
telah mampu berpikir ilmiah. Remaja telah mampu mengikuti langkah-langkah
berpikir ilmiah, dari mulai merumuskan masalah, membatasi masalah,
menyusun hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data sampai dengan
menarik kesimpulan. Ketiga, remaja telah mampu memadukan ide-ide secara
logis. Ide-ide atau pemikiran abstrak yang kompleks telah mampu dipadukan
dalam suatu kesimpulan yang logis.
Secara umum kemampuan berpikir formal mengarahkan remaja kepada
pemecahan masalah-masalah berpikir secara sistematik. Dalam kehidupan
sehari-hari para remaja dan juga orang dewasa jarang menggunakan
kemampuan

berpikir

formal,

walaupun

mereka

sebenarnya

mampu

melaksanakannya. Mereka lebih banyak berbuat berdasarkan kebiasaan,


perbuatan atau pemecahan rutin. Hal itu mungkin disebabkan karena tidak
adanya atau kurangnya tantangan yang dihadapi atau dialami sebagai

tantangan, atau orang tua, masyarakat dan guru tidak membiasakan remaja
menghadapi tantangan tuntutan yang harus dipecahkan.
Oleh karena itu, guru perlu mulai mendorong kemampuan berpikir, para
peserta didik pada usia ini, tentang kemungkinan ke depan. Mengarahkan para
peserta didik kepada pemikiran tentang pekerjaan yang tentunya pemikiran
tersebut, disesuaikan dengan pertambahan usia. Para remaja muda (usia
SLTP) pemikiran tentang pekerjaan masih diwarnai oleh fantasinya, sedang
para remaja dewasa (usia SLTA) telah lebih realistik.
Pada usia Sekolah Dasar peserta didik sudah memiliki kemampuan
mengingat informasi dan keterampilan memproses informasi tersebut. Dengan
telah dikuasainya kemampuan berpikir formal, maka keterampilan memproses
informasi ini berkembang lebih jauh. Pemrosesan informasi yang mencakup
penerimaan informasi oleh alat indra ditahan sebentar, kemudian dilanjutkan ke
Terminal Ingatan Singkat (ITS) dan diproses lebih lanjut dalam suatu bentuk
yang dapat disimpan dalam Terminal Ingatan Lama (TIL). Keterampilan
memproses informasi Ini pada masa remaja lebih cepat dan kuat, dan ini
sangat

memegang

peranan

penting

dalam

penyelesaian

tugas-tugas

pembelajaran maupun pekerjaan. Sesuai dengan pelajaran dan tugas-tugas


yang mereka hadapi, para remaja mempunyai keunggulan keterampilan,
umpamanya mereka sudah mengerti dan dapat mengerjakan dengan benar
bentuk tes objektif tanpa penjelasan luru, mereka telah mampu mencari hal-hal
penting pada waktu membaca buku, mereka telah mempunyai minat terhadap
hal-hal khusus umpamanya mata pelajaran atau bidang tertentu. Penguasaan
keterampilan memproses informasi ini menyempurnakan atau membulatkan
penampilan penguasaan kognitif mereka.
Bertolak

dari

uraian

di

atas,

berikut

ini

disajikan

perbedaan

perkembangan intelektual antara peserta didik usia SLTP dengan peserta didik
SLTA (SMK).

10

Tabel 4.3.
Perbedaan Profil Perkembangan Intelektual
Antara Peserta Didik SLTP dengan Peserta Didik
SLTA (SMK)
NO
1.

Peserta Didik SLTP

Peserta Didik SLTA (SMK)

(remaja awal)

(remaja akhir)

Proses berpikirnya sudah mampu

Sudah mampu mengoperasikan kaidah-

mengoperasikan kaidah-kaidah logika

kaidah logika formal disertai

formal (assosiasi, diffrensiasi,

kemampuannya membuat generalisasi

komparasi, dan kausalitas) dalam ide-

yang lebih koklusif dan komprehensif)

ide atau pemikiran absrak (meskipun


relatif terbatas)
2.

Kecakapan dasar umum (general

Tercapainya titik puncak (kedewasaan

intelligence) menjalani laju

intelektual umum, yang mungkin ada

peerkembangan yang terpesat (terutama penambahan yang sangat terbatas bagi

3.

bagi yang belajar di sekolah)

yang terus bersekolah)

Kecakapan dasar khusus (bakat atau

Kecenderungan bakat tetentu mencapai

aptitude) mulai menunjukkan

titik puncak dan kemantapannya

kecenderungan-kecenderungan lebih
jelas.

Sumber: Abin Syamsuddin Makmun (1996:92),

d. Perkembangan Karakteristik Spiritual (agama dan keyakinan)


Remaja
Perkembangan

kemampuan

berpikir

remaja

mempengaruhi

perkembangan pemikiran dan keyakinan tentang agama. Kalau pada tahap


usia Sekolah Dasar pemikiran agama ini bersifat dogmatis, masih dipengaruhi
oleh

pemikiran

yang

bersifat

konkrit

dan

berkenaan

dengan

sekitar

kehidupannya, maka pada masa remaja sudah berkembang lebih jauh, didasari
pemikiran-pemikian rasional, menyangkut hal-hal yang bersifat abstrak atau
gaib dan meliputi hal-hal yang lebih luas. Remaja yang mendapatkan
pendidikan agama yang intensif, bukan saja telah memiliki kebiasaan
11

melaksanakan kegiatan peribadatan dan ritual agama, tetapi juga telah


mendapatkan atau menemukan kepercayaan-kepercayaan khusus yang lebih
khusus yang lebih mendalam yang membentuk keyakinannyadan menjadi
pegangan dalam merespon terhadap masalah-masalah dalam kehidupannya.
Keyakinan yang lebih luas dan mendalam ini, bukan hanya diyakini atas dasar
pemikiran tetapi juga atas keimanan. Pada masa remaja awal, gambaran
Tuhan masih diwarnai oleh gambaran tentang ciri-ciri manusia, tetapi pada
masa remaja akhir gambaran ini telah berubah kearah gambaran sifat-sifat
Tuhan yang sesungguhnya.
Perbedaan profil perkembangan agama dan keyakinan antara peserta
didik dengan peserta didik SLTA (SMK) adalah sebagai berikut.
Tabel 4.4.
Perbedaan Profil Perkembangan Agama dan Keyakinan Antara Siswa
SLTP dengan siswa SLTA (SMK)
No

1.

Peserta Didik SLTP

Peserta Didik SLTA (SMK)

(Remaja Awal)

(Remaja Akhir)

Mengenai eksistensi (keberadaan), sifat

Eksistensi dan sifat kemurahan serta

kemurahan dan keadilan Tuhan mulai

keadilan Tuhan mulai dipahamkan

dipertanyakan secara kritis dan skeptis

dan dihayati menurut sistem


kepercayaan atau agama yang
dianutnya

2.

3.

Penghayatan kehidupan keagamaan

Penghayatan dan pelaksanaan

sehari-hari dilakukan mungkin

kehidupan keagamaan sehari-hari

didasarkan atas pertimbangan adanya

mulai dilakukan atas dasar

semacam tuntutan yang memaksa dari

kesadaran dan pertimbangan hati

luar dirinya

nuraninya sendiri yang tulus ikhlas

Masih mencari dan mencoba

Mulai menemukan pegangan hidup

menemukan pegangan hidupnya

yang definitif

12

e. Karakteristik Perkembangan Kultural (Bahasa) Remaja


Mengacu

kepada

tahapan

perkembangan

bahasa

yang

telah

dipaparkan terdahulu, sesuai dengan tingkatan kronologis yang telah dicapai,


karakteristik perkembangan bahasa remaja telah mencapai tahap kompetensi
lengkap. Pada usia ini, individu diharapkan telah mempelajari semua sarana
bahasa dan keterampilan-keterampilan performansi untuk memahami dan
menghasilkan bahasa tertentu dengan baik (Tarigan, 1986)
Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya di dukung
oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap
operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai
mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah
secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan
dalam menyusun pola hubungan secara komprehensif, membandingkan secara
kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan sImbol-simbol
dan terminologI konkret dan mengkomunikasikannya.
Sejalan perkembangan psikis remaja yang berada pada fase pencarian
jati diri, ada tahapan kemampuan berbahasa pada remaja yang berbeda dari
tahap-tahap yang sebelum atau sesudahnya yang kadang-kadang menyimpang
dari norma umum seperti munculnya istilah-istilah khusus di kalangan remaja.
Karakteristik psikologi khas remaja seringkali mendorong remaja membangun
dan memiliki bahasa yang relatif berbeda dan bahkan khas untuk kalangan
remaja sendiri, sampai-sampai tidak jarang orang di luar kalangan remaja
kesulitan memahaminya. Dalam perkembangan masyarakat modern sekarang
ini, di kota-kota besar bahkan berkembang pesat bahasa khas remaja yang
sering dikenal dengan bahasa gaul. Bahkan karena pesatnya perkembangan
bahasa gaul ini dan untuk membantu kalangan di luar remaja memahami
bahasa mereka, Debby Sahertian (2000) telah menyusun dan menerbitkan
sebuah kamus khas remaja yang disebut dengan Kamus Bahasa Gaul
Kalangan remaja justru sangat akrab dan sangat memahami bahasa gaul serta

13

merasa aman jika berkomunikasi dengan sesama remaja meng gunakan


bahasa gaul.

f. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja


Seperti telah diuraikan di atas masa remaja merupakan masa peralihan
antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami
perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial dan emosional.
Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur 13 tahun sampai 18 tahun, yaitu
masa peserta didik duduk di bangku sekolah menengah. Masa ini biasanya
dirasakan sebagai masa sulit,baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga,
atau lingkungannya.
Karena berada pada masa peralihan antara masa anak-anak dan masa
dewasa, status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun lingkungannya.
Conny Semiawan (1989) mengibaratkan: terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil
untuk taplak meja karena sudah bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum
dewasa . Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobarkobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering
mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.

14