Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN HEMODIALISA

Oleh :

1. Desti Ibz Asbanu


2. Fuad Rizal Fauzi
3. Gregorius
4. Siti Nur Azizah

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan, yang mana atas berkat
rahmat, nikmat dan hidayahnya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Tidak lupa
pula sholawat serta salam kita ucapkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad
SAW, yang mana beliau telah membawa umatnya dari alam yang gelap gulita ke
alam yang terang benderang dan penuh ilmu pengetahuan.
Penulis

menyusun

makalah

yang berjudul

Asuhan

Keperawatan

Hemodialisa ini karena ada sangkut pautnya antara ilmu keperawatan dengan Ilmu
Keperawatan khususnya pada Sistem Perkemihan. Penulis berharap makalah
Asuhan Keperawatan Hemodialisa ini akan sangat berguna dalam menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di bidang Ilmu Keperawatan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari akan segala kekurangan
dan kemampuan yang sangat terbatas dimiliki oleh penulis, sehingga dalam
penulisan, penyusunan kalimat dan dalam mencari sumber buku serta internet masih
kurang dan teramat sulit. Namun penulis sudah berusaha semaksimal mungkin agar
makalah ini dapat diselesaikan untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh
dosen pembimbing dan berusaha untuk menjadikan yang terbaik.
Dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang
sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga
makalah ini dapat memenuhi harapan kita semua.

Kediri, 12 Oktober 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.
Hemodialisa adalah pengobatan bagi orang yang menurun fungsi ginjalnya.
Hemodialisa mengambil alih fungsi ginjal untuk membersihkan darah dengan cara
mengalirkan melalui ginjal buatan. Hal yang melatar berlakangi isi makalah ini di
harapkan agar pengobatan hemodialisa dapat di cegah bagi para penderita penurunan
fungsi ginjal dengan lebih meningkatkan asupan cairan bagi fungsi ginjal yang
belum kronis.
Haemodialysis adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti ureum dan zat
beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat dializer yang berisi membrane
yang selektif-permeabel dimana melalui membrane tersebut fusi zat-zat yang tidak
dikehendaki terjadi. Haemodialysa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa
bentuk keracunan
Banyak orang merasa tak nyaman dan ragu-ragu saat-saat pertama dilakukan
hemodialisa. Saat dilakukan hemodialisa sebenarnya anda tidak akan merasakan apaapa, beberapa orang akan merasa lelah setelah selesai dilakukan hemodialisa terutama
bila baru beberapa kali hemodialisa. Setelah beberapa kali hemodialisa maka cairan
yang berlebih dan racun dari tubuh anda akan berkurang, anda akan merasa kembali
bertenaga.

1.2 Rumusan Masalah


Dari makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Hemodialisa rumusan
masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan Hemodialisa ?
2. Apakah tujuan dari Hemodialisa ?
3. Bagaimana etiologi dari Hemodialisa ?
4. Bagaimana indikasi dari Hemodialisa ?
5. Bagaimana kontra indikasi dari Hemodialisa ?

6. Bagaimana prinsip kerja Hemodialisa ?


7. Apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum Hemodialisa ?
8. Bagaimana cara kerja Hemodialisa ?
9. Apa saja Komplikasi dari Hemodialisa ?
10. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien Hemodialisa ?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Hemodialisa tujuan
penulisannya adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian dari Hemodialisa.
2. Untuk mengetahui tujuan dari Hemodialisa.
3. Untuk mengetahui etiologi dari Hemodialisa.
4. Untuk mengetahui indikasi dari Hemodialisa.
5. Untuk mengetahui kontra indikasi dari Hemodialisa.
6. Untuk mengetahui prinsip kerja Hemodialisa.
7. Untuk mengetahui hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum Hemodialisa.
8. Untuk mengetahui cara kerja Hemodialisa.
9. Untuk mengetahui Komplikasi dari Hemodialisa.
10. Untuk

mengetahui

konsep

dasar

asuhan

keperawatan

pada

pasien

Hemodialisa.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah yang berjudul tentang Asuhan Keperawatan
Hemodialisa yaitu dapat mengetahui penatalaksanaan terbaru dan hal hal yang
terkait dengan Hemodialisa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Hemodialisa
Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah
buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau
pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (DR. Nursalam
M. Nurs, 2006).
Hemodialisa memerlukan sebuah mesin dialisa dan sebuah filter khusus yang
dinamakan dializer (suatu membran semipermeabel) yang digunakan untuk
membersihkan darah, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam
sebuah mesin diluar tubuh. Hemodialisa memerlukan jalan masuk ke aliran darah,
maka dibuat suatu hubungan buatan antara arteri dan vena (fistula arteriovenosa)
melalui pembedahan (NKF, 2006).
Hemodialisis (cuci darah) adalah sebuah terapi . Kata ini berasal dari kata
haemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti dipisahkan. Hemodialisis
merupakan salah satu dari Terapi Penggganti Ginjal, yang digunakan pada penderita
dengan penurunan fungsi ginjal, baik akut maupun kronik. Prinsip dasar dari
Hemodialisis adalah dengan menerapkan proses dIfusi dan ultrafiltrasi pada ginjal
buatan, dalam membuang sisa-sisa metabolisme tubuh. Hemodialisis dapat dikerjakan
untuk sementara waktu (misalnya pada Gagal Ginjal Akut) atau dapat pula untuk
seumur hidup (misalnya pada Gagal Ginjal Kronik). Pada dasarnya untuk dapat
dilakukan Hemodialisa memerlukan alat yang disebut ginjal buatan (dialiser), dialisat
dan sirkuit darah. Selain itu juga diperlukan akses vaskuler.

2.2 Tujuan Hemodialisa


Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain:
a. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa
metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.

b. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya


dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
c. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
d. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

2.3 Etiologi Hemodialisa


Hemodialisa dilakukan kerena pasien menderita gagal ginjal akut dan kronik
akibat dari : azotemia, simtomatis berupa enselfalopati, perikarditis, uremia,
hiperkalemia berat, kelebihan cairan yang tidak responsive dengan diuretic, asidosis
yang tidak bisa diatasi, batu ginjal, dan sindrom hepatorenal.

2.4 Indikasi Hemodialisa

Penyakit dalam (Medikal)


ARF ( Kegagalan Ginjal Mendadak )- pre renal/renal/post renal, apabila
pengobatan konvensional gagal mempertahankan RFT normal.

CRF ( Kegagalan Ginjal Menahun ) , ketika pengobatan konvensional tidak


cukup

Snake bite

Keracunan

Malaria falciparum fulminant

Leptospirosis

Ginekologi

APH

PPH

Septic abortion

Indikator biokimiawi yang memerlukan tindakan hemodialisa

Peningkatan BUN > 20-30 mg%/hari

Serum kreatinin > 2 mg%/hari

Hiperkalemia

Overload cairan yang parah

Odem pulmo akut yang tidak berespon dengan terapi medis

Pada CRF ( Kegagalan Ginjal Menahun ) :


1. BUN > 200 mg%
2. Creatinin > 8 mg%
3. Hiperkalemia
4. Asidosis metabolik yang parah
5. Uremic encepalopati
6. Overload cairan
7. Hb: < 8 gr% - 9 gr% siap-siap tranfusi

2.5 Kontra Indikasi Hemoodialisa


1. Umur : dulu ditetapkan usia maksimum adalah 50 tahun, tetapi belakangan ini
batas tersebut sudah dinaikkan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya
tenologi HD dan bertambahnya pengalaman-pengalaman.
2. Adanya penyakit-penyakit di luar ginjal yang tidak dapat disembuhkan
misalnya : keganasan.
3. Adanya penyakit kardiovaskular yang berat, misalnya : adanya infark dan
lainnya.
4. Keadaan umum yang terlalu buruk.
5. Sirkulasi pada haemodilisis
6. Extra coly oreal blood carculation untuk sekali pakai.
7. Dialysat circulation, Dialisat terbentuk dari 2 bahan : cairan dialisat pekat dan
air.
2.6 Prinsip Kerja Hemodialisa
Prinsip mayor/proses hemodialisa
1.

Akses Vaskuler :
Seluruh dialysis membutuhkan akses ke sirkulasi darah pasien. Kronik

biasanya memiliki akses permanent seperti fistula atau graf sementara. Akut
memiliki akses temporer seperti vascoth.

2.

Membran semi permeable


Hal ini ditetapkan dengan dialyser actual dibutuhkan untuk mengadakan

kontak diantara darah dan dialisat sehingga dialysis dapat terjadi.


3.

Difusi
Dalam dialisat yang konvesional, prinsip mayor yang menyebabkan

pemindahan zat terlarut adalah difusi substansi. Berpindah dari area yang
konsentrasi tinggi ke area dengan konsentrasi rendah. Gradien konsentrasi
tercipta antara darah dan dialisat yang menyebabkan pemindahan zat pelarut
yang diinginkan. Mencegah kehilangan zat yang dibutuhkan.
4.Konveksi
Saat cairan dipindahkan selama hemodialisis, cairan yang dipindahkan akan
mengambil bersama dengan zat terlarut yang tercampur dalam cairan tersebut.
5. Ultrafiltrasi
Proses dimana cairan dipindahkan saat dialysis dikenal sebagai ultrafiltrasi
artinya adalah pergerakan dari cairan akibat beberapa bentuk tekanan. Tiga tipe
dari tekanan dapat terjadi pada membrane :
1. Tekanan positip merupakan tekanan hidrostatik yang terjadi akibat cairan
dalam membrane. Pada dialysis hal ini dipengaruhi oleh tekanan dialiser dan
resisten vena terhadap darah yang mengalir balik ke fistula tekanan positip
mendorong cairan menyeberangi membrane.
2. Tekanan negative merupakan tekanan yang dihasilkan dari luar membrane
oleh pompa pada sisi dialisat dari membrane tekanan negative menarik
cairan keluar darah.
3. Tekanan osmotic merupakan tekanan yang dihasilkan dalam larutan yang
berhubungan dengan konsentrasi zat terlarut dalam larutan tersebut. Larutan
dengan kadar zat terlarut yang tinggi akan menarik cairan dari larutan lain
dengan konsentrasi yang rendah yang menyebabkan membrane permeable
terhadap air.

2.7 Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum Hemodialisa


Persiapan mesin dan perangkat HD ;
a.

Pipa pembuangan sudah masuk dalam saluran pembuangan

b.

Sambungkan kabel mesin dengan stop kontak

c.

Hidupkan mesin ke rinse selama 15-30 menit

d. Pindahkan ke posisi dialyze lalu sambungkan slang dialisat ke jaringan


tempat dialisat yang telah disiiapkan.
e.

Tunggu sampai lampu hijau

f.

Tes conductivity dan temperatur

g. Gantungkan saline normal sebanyak 4 flatboth yang telah diberikan heparin


sebanyak 25-30 unit dalam masing-masing flatboth
h.

Siapkan ginjal buatan sesuai dengan kebutuhan pasien

i.

Siapkan blood lines dan AV fiskula sebanyak2

j.

Ginjal buatan dan blood lines diisi saline normal (priming)

k.

Sambungkan dialisatelines pada ginjal buatan

l.

Sambil mempersiapkan pasien slang inlet dan outlet disambungkan lalu


jalankan blood pump (sirkulasi tertutup)

Persiapan Penderita :
Indikasi hemodialisa :
a. Segera/ indikasi mutlak : over hidrasi atau edema paru, hiperkalemi, aliguri
berat atau anuria, asidosis, hipertensi maligma.
b. Dini/ profilaksi : gejala uromia (mual muntah) perubahan mental, penyakit
tulang, gangguan pertumbuhan dan seks, perubahan kualitas hidup.
c. Bila penderita baru yang dating di ruang HD, sebelum kita melakukan HD
terlebih dahulu periksa kembali hasil-hasil pemeriksaan yang penting (Hb,
hematokrit, ureum, kreatinin, dan HbsAg), hal ini perlu untuk menentukan
tindak lanjut sperlu untuk menentukan tindak lanjut suatu HD.
Langkah-langkah HD
a. Timbang dan catat BB

b. Ukur dan catat tekanan darah (dapat digunakan untuk menginterpretasikan


kelebihan cairan)
c. Tentukan akses darah yang akan ditusuk
d. Bersihkan daerah yang akan ditusuk dengan betadine 10% lalu alcohol 70%
kemudian ditutup pakai duk steril
e. Sediakan alat-alat yang steril didalam bak spuit kecil :spuit 2,5 cc sebanyak
1, spuit 1 cc 1 buah, mangkok kecil berisi saline 0,9% dan kasa steril
f. Sediakan obat-obatan yang perlu yaitu lidonestdan heparin
g. Pakai masker dan sarung tangan steril
h. Lakukan anestesi local didaerah akses darah yang akan ditusuk
i. Tusuk dengan AV fistula lalu berikan heparin sebanyak 2000 unit pada inlet
sedangkan outlet sebanyak 1000 unit
j. Siap sambungkan ke sirkulasi tertutup yang telah disediakan
k. Aliran darah permulaan sampai 7 menit 75 ml/menitkemudian dinaikkan
perlahan sampai 200 ml/menit
l. Tentukan TMP sesuai dengan kenaikkan berat badan
m. Segera ukur kemabali tekanan darah, nadi, pernapasan, akses darah yang
digunakan dicatat dalam status yang telah tersedia.
Perawatan pasien Hemodialisa
Terbagi 3 yaitu ;
a. Perawatan sebelum hemodialisa
Mempersiapkan perangkat HD
Mempersiapkan mesin HD
Mempersiapkan cara pemberian heparin
Mempersiapkan pasien baru dengan memperhatikan factor Bio
Psiko Sosial, agar penderita dapat bekerja sama dalam hal
program HD
Mempersiapkan akses darah

Menimbang berat bada, mengukur tekanan darah, nadi,


pernapasan
Menentuakn berat badan kering
Mengambil pemeriksaan rutin san sewaktu
b.

Perawatan Selama Hemodialisa


Selama HD berjalan ada 2 hal pokok yang diobservasi yaitu penderita

dan mesin HD
1). Observasi terhadap pasien HD
Tekanan darah, nadi diukur setiap 1 jam lalu dalam status
Dosis pemberian heparin dicatat setiap 1 jam dalam status
Cairan yang masuk perparenteral maupun peroral dicatat jumlahnya
dalam status.
Akses darah dihentikan.
2). Observasi terhadap mesin HD
Kecepan aliran darah /Qb, kecepatan aliran dialisat/Qd dicatat setiap 1
jam
Tekanan negatif, tekanan positif, dicatat setiap jam
Suhu dialisa, conductivity diperhatikan bila perlu diukur
Jumlah cairan dialisa, jumlah air diperhatikan setiap jam
Ginjal buatan, slang darah, slang dialisat dikontrol setiap 1 jam.
c. Perawatan sesudah Hemodialisa
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan yaitu cara menghentikan
HD pada pasien dan mesin HD
1). Cara mengakhiri HD pada pasien
Untuk tekanan darah nadi sebelum slang inlet dicabut
Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium
Kecilkan aliran darah menjadi 75 ml/menit
Cabut AV fistula intel/ lalu bilas slang inlet memakai saline normal
sebanyak 50-100 cc, lalu memakai udara hingga semua darah dalam
sirkulasi ekstrakorporeal kembali ke sirkulasi sistemik

Tekan pada bekas tusukan inlet dan outlet selama 5-10 menit, hingga
darah berhenti dari luka tusukan
Tekanan darah, nadi, pernapasan ukur kembali lalu catat
Timbang berat badan lalu dicatat
Kirimkan darah ke laboratorium
2). Cara mengakhiri mesin HD
Kembalikan tekanan negative, tekanan positif, ke posisi nol
Sesudah darah kembali ke sirkulasi sistemik cabut selang dialisat lalu
kembalikan ke Hansen connector
Kambalikan tubing dialisat pekat pada konektornya
Mesin ke posisi rinse, lalu berikan cairan desifektan (hipoclhoride
pekat) sebanyak 250 cc, atau cairan formalin 3% sebanyak 250 cc
Bila formalin dibiarkan selama 1-2 x 24 jam, baru mesin dirinsekan
kembali.

2.8 Cara Kerja Hemodialisa


Sebuah ginjal buatan disambung dengan mesin hemodialisa. Sebuah
selang infus akan bertugas mengalirkan darah dari tubuh anda untuk dibersihkan
di ginjal buatan, selang infus lainnya akan mengalirkan kembali darah ke tubuh
anda. Proses ini yang akan membuang sampah dan air yang berlebih dari tubuh
anda.
Diperlukan suatu cara agar darah bisa masuk ke mesin, hal ini disebut
dengan akses. Akses yang paling umum adalah fistula di lengan . Dokter bedah
anda akan membuat sayatan kecil di lengan dan menyambung 2 pembuluh darah,
arteri dan vena. Hal ini akan membuat pembuluh vena menjadi besar dan
memudahkan perawat dialisa untuk memasang 2 jarum, satu untuk mengalirkan
darah menuju mesin, yang lainnya mengalirkan darah menuju tubuh.

2.9 Komplikasi Hemodialisa


A.

Hipotensi
Penyebab : terlalu banyak darah dalam sirkulasi mesin, ultrafiltrasi
berlebihan, obat-obatan anti hipertensi.

B.

Mual dan muntah


Penyebab : gangguan GI, ketakutan, reaksi obat, hipotensi.

C.

Sakit kepala
Penyebab : tekanan darah tinggi, ketakutan.

D.

Demam disertai menggigil.


Penyebab : reaksi fibrogen, reaksi transfuse, kontaminasi bakteri pada
sirkulasi darah.

E. Nyeri dada.
Penyebab : minum obat jantung tidak teratur, program HD yang terlalu
cepat.
F.

Gatal-gatal
Penyebab : jadwal dialysis yang tidak teratur, sedang.sesudah transfuse
kulit kering.

G.

Perdarahan amino setelah dialysis.


Penyebab : tempat tusukan membesar, masa pembekuan darah lama,
dosis heparin berlebihan, tekanan darah tinggi, penekanan, tekanan tidak
tepat.

H.

Kram otot
Penyebab : penarikan cairan dibawah BB standar. Penarikan cairan
terlalu cepat (UFR meningkat) cairan dialisat dengan Na rendah BB naik
> 1kg. Posisi tidur berubah terlalu cepat.

2.10 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Hemodialisa


A.

PENGKAJIAN

a.

Biodata
1) Nama

2) Umur

: Biasanya terjadi pada usia lebih dari 50 tahun

3) Jenis Kelamin

4) Pekerjaan

5) Agama

6) Alamat

7) Pendidikan

b. Riwayat Kesehatan
1.

Keluhan utama
Pada pasien GGK yang akan dilakukan hemodialisa biasanya mengeluh mual,
muntah, anorexia, akibat peningkatan ureum darah dan edema akibat retensi
natrium dan cairan.

2.

Riwayat kesehatan yang lalu


Perlu ditanya penyakit-penyakit yang pernah diderita klien sebagai penyebab
terjadinya GGK, seperti DM, glomeruloo nefritis kronis, pielonefritis. Selain
itu perlu ditanyakan riwayat penggunakan analgesik yang lama atau menerus.

3.

Riwayat kesehatan keluarga


Perlu ditanyakan apakah orang tua atau kelauarga lain ada yang menderita
GGK erat kaitannya dengan penyakit keturunannya seperti GGK akibat DM.

c.

Data Biologis

1.

Makan/ minum
Biasanya terjadi penurunan nafsu makan sehubungan dengan keluhan mual
muntah akibat peningkatab ureum dalam darah.

2.

Eliminasi
Biasanya terjadi ganggutian pengeluaran urine seperti oliguri, anuria, disuria,
dan sebagainya akibat kegagalan ginjal melakukan fungsi filtrasi, reabsorsi
dan sekresi.

3.

Aktivitas
Pasien mengalami kelemahan otot, kehilangan tonus dan penurunan gerak
sebagai akibat dari penimbunan ureum dan zat-zat toksik lainnya dalam
jaringan.

4.

Istrahat/ tidur
Pasien biasanya mengalami gangguan pola istrahat tidur akibat keluhankeluhan sehubungan dengan peningkatan ureum dan zat-zat toksik seperti
mual, muntah, sakit kepala, kram otot dan sebagainya.

d. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum

: lemah dan penurunan tingkat kesadaran

akibat

terjadinya uremia
Vital sign

: biasanya terjadi hipertensi akibat retensi cairan dan


natrium dari aktivitas sistim rennin

BB

1.

: Biasanya meningkat akibat oedema

Inspeksi
- Tingkat kesadaran pasien biasanya menurun
- Biasanya timbul pruritus akibat penimbunan zat-zat toksik pada kulit
- Oedema pada tangki, acites, sebagai akibat retensi cairan dan natrium

2.

Auskultasi
Perlu dilakukan untuk mengetahui edema pulmonary akibat penumpukan
cairan dirongga pleura dan kemungkinan gangguan jantung (perikarditis)
akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksik uremik serta pada tingkat
yang lebih tinggi dapat terjadi gagal jantung kongestif.

3. Palpasi
Untuk memastikan oedema pada tungkai dan acietas.
4. Perkusi
Untuk memastikan hasil auskultasi apakah terjadi oedema pulmonar yang
apabila terjadi oedema pulmonary maka akan terdengar redup pada perkusi.

e.

Data psikologis

Pasien biasanya mengalami kecemasan akibat perubahan body image, perubahan


peran baik dikeluarga maupun dimasyarakat. Pasien juga biasanya merasa sudah
tidak berharga lagi karena perubahan peran dan ketergantungan pada orang lain.
f,. Data sosial
Pasien biasanya mengalami penurunan aktivitas sosial akibat penurunan kondisi
kesehatan dan larangan untuk melakukan aktivitas yang berat.
g.

Data Penunjang

1.

Rontgen foto dan USG yang akan memperlihatkan ginjal yang kecil dan
atropik

2.

Laboratorium :
BUN dan kreatinin, terjadi peningkatan ureum dan kreatinin dalam darah.
Elektrolit dalam darah : terjadi peningkatan kadar kalium dan penurunan
kalium.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan berhubungan darah penurunan haluaran urin, diet
berlebihan dan retensi urine.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membram mukosa
mulut.
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosis

Nursing Outcome

Nursing Intervention

Keperawatan

Classification

Classification

Kelebihan
cairan
darah
haluaran

volume Setelah di lakukan tindakan

berhubungan keperawatan selama 1 x 24 b. Timbang berat


penurunan jam,
urin,

diharapkan

kondisi

diet pasien sebagai berikut :

berlebihan dan retensi Menunjukkan


urine

a. Kaji status pasien

perubahan

berat badan yang lambat


Mempertahankan
pembatasan diet dan
cairaan
Menunjukkan turgor kulit
normal tampa oedema
Melaporkan adanya
kemudahan dalam
bernapas atau tidak terjadi
napas pendek.

badan harian
c. Keseimbangan
masukan dan
haluaran
d. Turgor kulit dan
adanya oedema
e. Tekanan darah,
denyut nadi dan
irama nadi
f. Batasi masukan
cairan
g. Bantu pasien
dalam menghadapi
ketidaknyamanan
akibat pembatasan
cairan

Diagnosis

Nursing Outcome

Nursing Intervention

Keperawatan

Classification

Classification

Perubahan nutrisi Setelah dilakukan tindakan a. Kaji faktor berperan


kurang

dari keperawatan selama 1 x 24

kebutuhan tubuh jam,

diharapkan

kondisi

berhubungan

pasien sebagai berikut :

dengan

Memilih makanan yang

anoreksia, mual,

menimbulkan

muntah,

makan dalam batasi diet.

pembatasan diet Menunjukkan


dan

perubahan

dalam merubah
masukan nutrisi
b. Anoreksia, mual
muntah

nafsu c. Kurang memahami


pembatasan diet

tidak d. Menyediakan

adanya penambahan atau

makanan kesukaan

membram

penurunan berat badan

pasien dalam batas

mukosa mulut.

yang cepat

diet

Menunjukkan turgor kulit e. Tingkatkan masukan


yang

normal

tampa

protein yang

oedema, kadar albumin

mengandung nilai

plasma dapat diterima.

biologis, tinggi, telur,


produk susu, daging.

Diagnosis

Nursing Outcome

Nursing Intervention

Keperawatan

Classification

Classification

Kurang

Setelah dilakukan tindakan

pengetahuan

keperawatan selama 1x24

tentang

kondisi jam,

dan penanganan

diharapkan

kondisi

Bantu pasien
untuk
mengidentifikasi

pasien sebagai berikut :

cara-cara untuk

Menyatakan rencana

memahami

untuk melanjutkan

berbagai

kehidupan normalnya

perubahan akibat

sedapat mungkin.

penyakit dan

Menggunakan informasi
dan instruksi tertulis.

penanganan
yang
mempengaruhi
hidupnya.

BAB III
PEMBAHASAN ILUSTRASI KASUS

Tn.U usia 55 tahun masuk rumah sakit melalui IGD pada tanggal 22
maret 2014 dengan keluhan sesak, badan terasa lemah, terdapat edema pada
ekstremitas bawah. Tanda-tanda vital ketika masuk rumah sakit yaitu tekanan
darah : 170/100 mmHg, Nadi : 88x/menit, RR : 28 x/menit, S : 36,7 C,
terpasang kanul 3L/menit, CRT > 4 detik.
A. PENGKAJIAN
I.

Identitas diri klien


Nama

: Tn. U

Umur

: 55 tahun

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Sumber informasi : Klien dan keluarga


Tgl pengkajian

: 23 Maret 2014

II. Riwayat Penyakit


1. Keluhan utama
Klien mengeluhkan sesak dan lemas
3.

Riwayat penyakit sekarang


Klien masuk rumah sakit melalui IGD pada tanggal 22 maret 2013 dengan
keluhan sesak, mual, badan terasa lemah, terdapat edema pada ekstremitas
bawah. Tanda-tanda vital ketika masuk rumah sakit yaitu tekanan darah :
170/100, Nadi : 88x/i, RR : 28 x/i, S : 36,7 C.
Riwayat penyakit dahulu
Keluarga klien mengatakan klien pernah masuk rumah sakit sebelumnya
dengan keluhan sakit hipertensi. Keluarga klien mengatakan klien memiliki
riwayat penyakit Diabetes militus, hipertensi dan asma.

4.

Diagnosa medis

Gagal ginjal stadium V

III. Pengkajian
1. Persepsi dan pemeliharan kesehatan
Menurut penuturan keluarga, Pasien memandang kesehatan sanggat
penting untuk dijaga. Jika klien merasakan sakit, demam, atau sekedar
flu biasanya klien memeriksakan diri ke Puskesmas atau ke pelayanan
kesehatan terdekat
2. Pola nutrisi
Program di RS

: Tinggi protein

Intake makanan

: klien makan 3x sehari.

Intake Cairan

: Klien minum 4 gelas/hari, air putih dan teh.

3. Pola eliminasi:
Sebelum sakit keluarga klien mengatakan bahwa klien biasa BAB
1x/hari pagi hari. Dan Saat sakit klien belum pernah BAB, terpasang
cateter dengan urin keluar 300 cc per 12 jam.
4. Pola tidur dan istirahat
Sebelum sakit keluarga klien mengatakan bahwa klien mulai tidur
malam sekitar jam 22.00 kemudian subuh jam 04.30 bangun untuk
melaksanakan solat subuh. Saat ini klien hanya terbaring ditempat
tidur, klien mengatakan badannya lemah.
IV. Pemeriksaan Fisik
I. Keluhan yang dirasakan saat ini :
1. Kesadarannya compos mentis, GCS 14. Klien merasakan badannya lemas
2. TD pre HD : 159/ 83mmHg
3. TD post HD: 150/79mmHg
4. RR: 26x/menit
5. HR: 78x/menit

6. S:36C
7. BB pre HD : 63 kg
a. Kepala
Bentuk kepala simetris, warna rambut hitam dan sebagian beruban, lebat,
kebersihan kepala baik, rambut klien panjang lurus, tidak ada benjolan dan
kelainan pada kepala, penyebaran rambut merata
b. Telinga
Telinga simetris, tidak terdapat serumen
c. Mata
Terdapat ikterik pada sklera, tidak strabismus, pupil Isokor, skrera anikterik mata
anemis dan tidak ada udema palpebra.
d. Hidung
Simetris kiri dan kanan, terpasang kanul oksigen 3 lpm
e. Mulut
Bibir lembab, gigi terdapat karies, mulut dan lidah bersih
f. Leher
Posisi leher baik, terdapat kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
g. Thorax
Pergerakan dinding dada simetris, suara nafas vesikuler, perkusi: sonor.
h. Abdomen
perkusi: suara timpani, peristaltik usus 12x/menit.
i. Ekstremitas
Tidak ada luka dan dapat melakukan pergerakan dengan baik, terdapat udem pada
ekstremitas bawah, capillary refil 4 detik.

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan darah : Tanggal 24 Maret 2012
Parameter Nilai normal
HB

8,5 mg/dl

12-16

NORMAL

UREA

197 mg/dl

10-50

HIGH

CREATININ 8,46 mg/dl

0,5-1,2

HIGH

4,8 mmol/dl

3,4-5,4

NORMAL

NA

149 mmol/dl

135-155

NORMAL

Cl

97 mmol/dl

95-108

NORMAL

URIC ACID

7,8 mg/dl

3,4-7

HIGH

IV. ANALISA DATA


ETIOLOGI

DATA

PROBLEM

DO :

Pola nafas tidak Depresi

klien tampak bernafas mengunakan

efektif

Terpasang nasal kanul 3L/mnt

Kesadarannya compos mentis, GCS 14.

pernafasan

Klien merasakan badannya lemas


TD pre HD : 159/ 83mmHg
TD post HD: 150/79mmHg
RR: 26x/menit
HR: 78x/menit
S:36C
DS :

Klien mengatakan nafas terasa sesak.

klien mengatakan sesak nafas jika O2


dilepas.

klien mengatakan batuk tetapi tidak ada


dahak
DS :

Kelebihan volume Mekanisme

Klien mengatakan BB terakhir adalah 63 cairan

pengaturan

kg

melemah

DO :

Ke dua kaki terlihat edema

BAK kurang lebih 300 cc

Capillary raffyl kurang lebih 4 detik

Balance cairan +1335,63 cc

pusat

V. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasar analisa data dapat di simpulkan dianosa keperawatan sesuai dengan
prioritas masalah :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernafasan
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan melemah

VI. INTERVENSI KEPERAWATAN


DX.

NOC

NIC

KEPERAWATAN
Pola
efektif

Nafas

tidak Setelah dilakukan tindakan Posisikan

pasien

untuk

berhubungan keperawatan selama 1x24 memaksimalkan ventilasi

dengan depresi pusat jam pasien


pernafasan

menunjukkan Pasang mayo bila perlu

nafas, Lakukan fisioterapi dada


dibuktikan dengan kriteria jika perlu
hasil:
Keluarkan sekret dengan
keefektifan

pola

Mendemonstrasikan

batuk batuk atau suction


efektif dan suara nafas yang
Auskultasi suara nafas, catat
bersih, tidak ada sianosis
adanya suara tambahan
dan
dyspneu
(mampu
Berikan bronkodilator
mengeluarkan
sputum,
Berikan pelembab udara
mampu bernafas dg mudah,
Kassa basah NaCl Lembab
tidakada pursed lips)
Atur intake untuk cairan
Menunjukkan jalan nafas
mengoptimalkan
yang paten (klien tidak
keseimbangan.
merasa tercekik, irama
Monitor respirasi dan status
nafas, frekuensi pernafasan
O2
dalam rentang normal, tidak
Bersihkan mulut, hidung dan
ada suara nafas abnormal)
secret trakea
Tanda Tanda vital dalam
Pertahankan jalan nafas yang
rentang normal (tekanan
paten
darah, nadi, pernafasan)

Observasi adanya tanda tanda


hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi
Monitor vital sign
Informasikan pada pasien dan
keluarga

tentang

tehnik

relaksasi

untuk

memperbaiki pola nafas.


Ajarkan bagaimana batuk
efektif
Monitor pola nafas

Kelebihan
Cairan
dengan

Volume Setelah dilakukan tindakan

berhubungan keperawatan
Mekanisme jam,

pengaturan melemah

selama1x24 dan output yang akurat

Kelebihan

cairan

Pertahankan catatan intake

teratasi

volume

Pasang urin kateter jika

dengan diperlukan

kriteria:

Monitor hasil lab yang

Terbebas dari edema, efusi, sesuai dengan retensi cairan


anaskara

(BUN , Hmt , osmolalitas

Bunyi nafas bersih, tidak ada urin )

dyspneu/ortopneu

Terbebas dari distensi vena

jugularis,

Monitor vital sign


Monitor indikasi retensi /
kelebihan cairan (cracles,

Memelihara tekanan vena CVP , edema, distensi vena


sentral,

tekanan

kapiler leher, asites)

paru, output jantung dan

vital sign DBN

Kaji lokasi dan luas edema


Monitor masukan makanan

Terbebas dari kelelahan, / cairan


kecemasan atau bingung

Monitor status nutrisi


Berikan diuretik sesuai
interuksi

Kolaborasi pemberian obat

Monitor berat badan

Monitor elektrolit

Monitor tanda dan gejala


dari odema

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hemodialisa adalah pengobatan bagi orang yang menurun fungsi
ginjalnya. Hemodialisa mengambil alih fungsi ginjal untuk membersihkan
darah

dengan

cara

mengalirkan

melalui

ginjal

buatan.

Pasien yang memerlukan hemodialisa adalah pasien GGK dan GGA apabila
terdapat indikasi Hiperkalemia, Asidosis, Kadar ureum/kreatinin tinggi dalam
darah, Kelebihan cairan, Perikarditis dan konfusi yang berat, Hiperkalsemia
dan hipertensi.
3.2 Saran
Semakin berkembangnya zaman dan teknologi semakin meningkat juga
resiko akan penyakit pada manusia terutama dalam hal ini kehilangan fungsi
ginjal atau gagal ginjal, maka hemodialisis merupakan sarana penting dalam
mengatasi hal ini sehingga dapat mengembalikan fungsi ginjal yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
1. NANDA, Nursing Diagnosis: Definition and classification 2005-2006.
NANDA International Philadelphia
2. Jhonshon Marion, dkk. Nursing Outcomes Classification (NOC) second
edition, by mosby Year Book Inc. New York
3. NKF, 2006, Hemodialysis. Terdapat pada: http://www.kidneyatlas.org.
PERNEFRI, 2003, Konsensus dialisis. Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi
Bagian Ilmu Penyakit dalam. FKUI-RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Jakarta.
4. Rose, B. D. & Post, T. W, 2006, Hemodialysis: Patient information,
Terdapat pada: http://www.patients.uptodate.com.