Anda di halaman 1dari 73

FILSAFAT HUKUM

Hamdan Zoelva

1. FILSAFAT ?
Sifak pokok filsafat :
Menyeluruh, Mendasar, Spekulatif

Cabang utama Filsafat


Ontologi, tentang hakekat keberadaan sesuatu.
Apakah hakekat dari sesuatu objek yang dikaji
(metafisika)
Epistemologi, cara, metode dan faliditas
pengetahuan (logika, metodelogi, filsafat ilmu)
Aksiologi, tentang aksiolog nilai, kriteria, apa yang
baik dan buruk (etika, estetika)

2. Posisi Filsafat Dalam


Hirarki Ilmu Hukum
IDIOLOGI, Humanisme (Agama) Kitab Suci
FILSAFAT HUKUM - Apakah hukum itu? Apa
tujuan hukum? Positivisme hukum
TEORI HUKUM Stuffenbaw Theori
DOGMA / NORMA HUKUM PERATURAN HUKUM

3. Dasar-Dasar Filsafat Hukum


Pandangan filsafat hukum sangat dipengarhi
oleh cara pandang manusia tentang dirinya,
yang terbagai dalam dua pandangan, yaitu
manusia sebagai ciptaan Tuhan (hamba
Tuhan), serta alam sekitarnya dan manusia
sebagai unsur bebas apa adanya
(eksistensialis/humanis)
Pandangan pertama, menempatkan Tuhan
dan Kitab Suci dan alam sekitar sebagai
sumber hukum paling utama.

Lanjutan ...
Pandangan kedua, menempatkan humanisme
sebagai sumber hukum paling utama.
Pandangan kedua ini melahirkan, dua kutub
pandangan yaitu, kutub individualist dan
kutub socialist. Kutub individualis berpegang
pada hukum kodrat yang berasal dari hukum
umum, seperti ajaran moral dari Aquinas,
Kant, dll. Kutug sosialist dan pendekatan
ekonomi serta sejarah, seperti ajaran Marx,
Hegel dan lain-lain.

4. Pembagian Disiplin Ilmu Hukum


Filsafat hukum (perenungan dan perumusan nilai,
penyelarasan nilai).
Politik hukum, (kebijakan hukum, hukum yang dicitacitakan, ius constituendum). Antara ilmu hukum dan ilmu
politik
Ilmu hukum

Ilmu tentang norma (hukum dogmatik, penyusunan noma


hukum, norma abstrak konkrit, logika hukum, keberlakuan
norma hukum, dll)
Ilmu tentang pengertian hukum (apa itu subjek hukum,
peristiwa hukum, dll)
Ilmu tentang kenyataan hukum (sosiologi hukum, antropologi
hukum, psikologi hukum, perbandingan hukum, dll).

5. Objek Kajian Filsafat Hukum


Tuhan, Alam dan Manusia.
Berpikir dan merenung tentang apa yang ada di balik yang
diketahui pancaindera manusia atau hakekat dari sesuatu.
Kaum folosof menyatakan adalah naif, jika manusia hanya
melihat suatu kedaan sebagai yg sudah semestinya dan
tidak memikirkan apa yang ada di balik yang nampak
Demikian pula dalam hukum, filsafat selalu memikirkan
akar dari hukum, atau apa yang ada dibalik hukum yang
terlihat itu. Mengapa hukum tidak membawa keadilan.
Apakah keadilan itu? Mengapa hukum tidak efektif, dstnya.
Lalu mereka mengaitkannya dengan kondisi sosilogisnya,
pandangan agama atau kepercayaannya. Itulah sebabnya
lahir berbagai aliran filsafat hukum.

8. Perkembangan Filsafat Barat


Perkembangan filsafat barat
Zaman Kuno, pra Socrates, Yunani. Kehidupan manusia
dipengaruhi aturan2 Dewa yang disebut nomos.(hukum
alam). Kemudian hukum lahir dari perjanjian masyarakat,
dalam kehidupan antara polis dan warga. Hukum di sini
identik dengan ketertiban dan kewibawaan. Selajutnya
masa Socrates, aliran Sofis (idealis), muncul tuntutan
keadilan yang lebih tinggi yang tidak hanya ketertiban. Lahir
Palto, Aristotele (teori keadilan Aristoteles, keadilan
distributive dan keadilan commutative/corrective
Abad Pertengahan (setelah runtuhnya Romawi di abad ke 5
M sampai renaisance keemasan kristen di eropa, pada sisi
lain dinaggap sebagai abad kegelapan di Eropa). Thomas
Aquinas mengemukakan teori lex eterna, lex devina dll.

9. ....Lanjutan (abad 18)


Abad Reaisanse abad 16 17 (kebebasan,
keluar dari ikatan agama, gereja dipisahkan
dari negara, tokohnya antara lain GalileoGalilei, Hugo de Groot, Machiavelli dll).
Zaman Barok (Era Rasionalisme Eropa:
Decrates, Spinoza dll).
Zaman Aufklarung Fajar Budi abad 17-18:
masa pematangan Rasio (Thomas Hobbes,
John Locke, J.J. Rosseau dll

10. .... Lanjutan (abad 19)


Filsafat positivisme, (abad 19, tokoh utamanya adalah
August Comte 1798-1857, John Stuart Mill 1806-1873,
Herbert Spencer 1820-1903). Lebih mengutamakan
empirik daripada rasio, tidak boleh melewati fakta.
Filsafat marxisme (Karl Max 1818-1883, Frederich Engels
1820-1895). Manusia adalah mahluk bermsyarakat yang
beraktivitas, terlibat dalam proses produksi.
Pragmatisme. Berpijak pada pikiran bahwa bukan salah
dan benar dari suatu tindakan tetapi apakah berguna
atau tidak. Ukuran kebenaran itu adalah kebenaran
empirik dan ditentukan oleh seberapa jauh manfaatnya.

11. ... Lanjutan (abad 20)


Neokantianisme. Yaitu pengembangan dari
filsafat Immnuel Kant, yang menekankan
pentingnya metode ilmu. Hasilnya antara lain
pembedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu
mengenai nilai-nilai yang berlaku.
Fenomenologi, lebih sebagai metode yang
diterapkan pada ilmu sosial.
Eksistensialisme. Filsafat harus berpangkal pada
manusia yang konkrit dan tidak pada hakekat
manusia pada umumnya. Saya ada maka saya
berpikir, bukan saya berpikir maka saya ada

Strukturalisme. Semula sebagai metode lingusitik,


berkembang menjadi aliran filsafat yang melihat
manusia sebagai pusat kenyataan, pemikiran,
kebebasan, tindakan dan sejarah. Manusia
diselidiki sebagai unsur yg berfungsi dalam
macam-macam struktur bawah sadar, politik,
sosial ekonomis. Manusia sebagai mahluk historis
dan sebagai subjek bebas yg merupakan tema
pokok dalam filsafat eksistensialisme tidak
muncul dalam strukturalisme. Manusia berhimpit
pada strutkur-struktur sosial.

12. Perbandingan Filsafat Barat dan


Timur
Barat-Timur (India, China, Indonesia):
konflik harmoni,
buatan asli,
mandiri saling bergantung,
materialistik kerohanian,
Rasional - Intuitif
individualitas - kolektivitas

Nikah siri
Tanpa nikah
Bagaimana anak yang lahir dari perkosaan?

KULIAH KEDUA

14. FILSAFAT BARAT


Asal-usul filasafat Barat berkembang dari
Filsafat Yunani. Berkembangnya filsafat Yunani
tidak lepas dari latar belakang masalah yang
dihadapi dalam kehidupan masyarakat kota
polis di Yunani, yaitu terjadinya kekacauan
dalam masyarakat Yunani, pertentangan2,
perlakuan sewenang-wenang dan lain-lain
sehingga melahirkan renungan para ahli pikir
tentang apa yang baik dan dan apa yang tidak
baik.

Mulai pada abad 8 SM, timbul kesadaran akan


konflik antara hukum positif dan keadilan yang
diakibatkan oleh konflik dan pertentangan di
masyarakat Yunani. Hal ini melahirkan dua
kutub pemikiran keadilan, yaitu keadilan
hukum positif dan keadilan di luar hukum
positif yang bersumber dari luar manusia yang
merupakan kesusilaan yang lebih tinggi.
Sumber keadilan adalah sesuatu yang konstan,
mutlak dan berada di luar manusia.

Hukum menduduki tempat yang sangat


penting dan merupakan sumber keramat dari
segala keadilan duniawi. Hukum bersumber
dari tradisi yang dimiliki oleh para raja yang
dianggap berasal dari dewa Zeus. Keadilan di
sini identik dengan ketertiban dan
kewibawaan.

Dalam kondisi yang demikianlah melahirkan


para pemikir Yunani, Sokrates, Plato dan
Aristoteles, serta interaksinya dengan kaum
Sofis.
Plato (429 347 SM). Salah satu murid
Socrates. Pada 389 SM, Ia membangun
sekolah filsafat Academia di Athena.
Karyanya yang terkenal adalah Politeia
(Republik Negara), Politikos (ahli negara
staatsmen) dan Nomoi (the law).

Plato merupakan filusuf yang berusaha


mempertemukan dunia ide, yang ada di luar
manusia dengan fakta-fakta yang ada pada
manusia (hal ini karena pengaruh kaum sofis
yang sangat pragmatis). Menurut Plato, faktafakta tidak lain dari produk dunia ide yang ada
di luar manusia. Dunia ide lah yang paling
tinggi. Dalam bidang hukum. Plato sangat
percaya bahwa harmoni adalah tatanan
ideal suatu

masyarakat dan itulah inti keadilan yaitu


antara berbagai fungsi anggota masyarakat
yang terbagi-bagi secara bijaksana dan
harmonis. Dalam hal ini hukum tidak terlalu
penting.
Akan tetapi karena karena pengalamannya
melihat kenyataan Raja tiran dari Sicilia
Diyonisius, Plato berubah pikiran bahwa
hukum yang utama, negara pada tempat
kedua. Seluruh kehidupan harus tunduk pada

Aristoteles (384 322 SM). Murid utama dari


Plato. Ditugaskan mengajak Iskandar
Zulkarnain (selama 17 tahun) anak dari Raja
Philipus dari Macedonia.
Pemikirannya yang luar biasa adalah hasil
pengamatannya atas hukum dari lebih dari
150 bangsa.

Doktrin yang paling utama peninggalan


Aristoteles adalah sifat dualisme dari manusia,
yaitu bagian dari alam sekaligus majikan dari
alam. Sebagai bagian dari alam, manusia
harus tunduk pada hukum untuk benda-benda
dan segala sesuatu yang diciptakannya.
Sebagai majikan dari alam, manusia mengatur
alam dengan kemampuan akalnya, yang
memberikan manusia bertindak dengan
bebas.

Inilah yang menjadi dasar penting bagi filsafat


hukum kodrat, baik aliran scholastik maupun
aliran rasionalistis.
Sumbangan penting lain dari Aristoteles
adalah formulasinya mengenai keadilan,
dengan membedakan antara distributive
justice (keadilan kepada setiap orang menurut
tempatnya atau jasanya). Commutative justice
atau Corrective justice (keadilan yang
memulihkan keadaan). Harus sama setiap

Sumbangan pemikiran lain dari Aristtoteles


adalah : Pembedaan antara keadilan menurut
hukum positif dan keadilan menurut kodrat.
Pembedaan antara keadilan abstrak dan
kepatutan (equity), hukum terpaksa membuat
aturan2 yang bersifat umum, dan kadang
kejam terhadap perorangan. Definisi hukum,
yaitu aturan2 yang mengikat baik rakyat
maupun pemerintah.

Dalam bidang kenegaraan, Aristoteles


mengemukakan bentuk2 pemerintahan,
monarki, aristokrasi dan polity (republik).
Sedangkan bentuk kemerosotan adalah, tirani
(sewenang-wenang), oligarki (klan tertentu)
dan demokrasi (hanya pada suara terbanyak).

15. Aliran Filsafat Hukum


Menjawab berbagai keresahan tentang
hukum, efektifitas hukum serta keadilan
muncullah berbagai aliran filsafat hukum.
Agama. Keresahan karena ketegangan antara
hukum yang berlaku dengan nilai agama,
melahirkan filsfat hukum agama;
Aliran Filsafat. Keresahan karena ketegangan
antara hukum yang berlaku dengan nilai aliran
filsafat yang dianut, misalnya, Kant, Max,
Hegel dll.

16. Aliran Filsafat Hukum Barat


Hukum Alam

Hukum Alam supra-rasional (agama dan wahyu). August Comte,


sholastic, hukum kanonik. Hukum Islam
Syariah..., ..... Fiqh (4 mazhab),.... Perundang-undangan, Qanun.
Hukum Alam Rasional. Hukum tertinggi adalah moralitas --norma atau hukum positif. Immanuel Kant, Hart. Kantianism...
Positivism ... Kelsen, Kelsenian.

Positivisme Hukum.
Utilatiarisme
Mazhab Sejarah
Sosiological Jurispudence
Realisme hukum
Freirechtlehre

Negara hukum formal perhatian utamanya


adalah keabsahan dari proses hukum.
NH materil --- hukum yang baik dan buruk -HAM.
Constitutional constructivism. Delibarative
autonomy (dignity of man) dan deliberative
democracy.

15. Aliran Hukum Alam


Hidup yang baik adalah hidup yang selaras
dengan alam. Hukum alam konstan yaitu
suatu keadilan yang abadi, tidak berubahubah. Keadilan sebagai hukum yang paling
tinggi atau terakhir yang berkembang dari sifat
alam semesta, dari tuhan dan dari akal
manusia. karena itu hukum (dalam arti
keadilan) lebih tinggi dari pembentukan
hukum. pikiran tentang hukum itu seperti

karangan Aristoteles, Ethika dan Rethorika.


Hukum berusaha menjawab pertanyaan quid
ius (apakah hukum) ? yang bersumber dari
akal murni yang menjadi dasar perundangundangan. Hukum tidak lain merupakan
sebagian dari etika yang fungsi pokoknya
hanyalah dapat tampil sebagai perantara
antara moral dan hukum murni. Cicero dan
Kant adalah para penganjur hukum alam.

....dura lex sed lex (lebih baik ada hukum yang


tidak sempurna daripada tidak ada hukum).
Bila pikiran memerlukan bahasa maka nilai
memerlukan norma. Berobahnya suatu norma
menjadi perintah merupakan soal
penghargaan subyektif dan sudah barang
tentu tidak ada perintah bila tidak ada yang
menaatinya. Penganut hukum alam --- kaum
moralis.

...nilai dan norma menjadi selaras, yang


merpakan asas utama dari hukum.
bersamaan dengan itu pula merupakan
permulaan dari kehidupan moral yang
sebenarnya. Itulah yang lebih dari dua ribu
tahun yang disebut dengan hukum alam.

Hukum alam, pada masa setelah renaissance


di Eropa dilakukan sekularisasi, yang lebih
menekankan pada penalaran murni dan
logika, yang tidak dikaitkan dengan ajaran
agama. Dari sini lahirlah pemikiran yang hanya
didasarkan pada humanisme. Hak asasi
manusia adalah warisan hukum alam yang
disekularisasi, yakni hanya berasarkan rasio
dan prinsip humanisme.

Peranan Hukum Alam


Dipergunakan untuk mengubah hukum
perdata Romawi yang lama menjadi sistem
hukum umum yang berlaku di seluruh dunia
Sebagai senjata dalam perebutan kekuasaan
antara gereja dan kaisar-kaisar Jerman pada
abad pertengahan
Sebagai dasar hukum internasional dan dasar
kebebasan perseorangan terhadap
pemerintahan yang absolut

Dipergunakan oleh hakim-hakim Amerika


untuk menafsirkan konstitusi, khususnya
terkait dengan kekebasan dasar dan masalahmasalah ekonomi.
Untuk mempertahankan segala bentuk
idiologi
Sebagai dasar filsafat perseorangan dan hakhak asasi manusia

Thomas Aquinas Mengenai


Pembagian Hukum Alam
Lex Eterna, Rsio Tuhan sendiri yang mengatur
segala hal dan merupakan segala sumber
Hukum
Lex Divina, bagian dari rasio Tuhan yang dapat
ditangka panca indera manusia
Lex Naturalis, hukum alam; yaitu penjelmaan
dari lex Eterna dalam rasio manusia
Lex Positiva, pelaksanaan hukum alam dalam
kasus konktrit.

Dunia ide, pikiran, asumsi, hipotesis, verifikasi


falsifikasi invention.

16. Positivisme Hukum


Positivisme hukum, Analitical legal positivism.
Ada lima ciri utama :
Hukum adalah perintah. Ius constitutum dan ius
constituendum.
Pentingnya analisa mengenai pengertian hukum
Sistem hukum sebagai logika tertutup (logical
means)
Moral dan kesusilaan tidak dapat dinilai sebagai
hukum. hukum yang berlaku dan hukum yang
dicita2kan ( law is it is dan law as it ought to be).
Moral berada di luar hukum

John Austin (1790 1859). Hukum positif


analitis. Hukum tidak lain dari perintah yang
berdaulat dan harus dipisahkan dari keadilan.
Membedakan dengan hukum tuhan, yang
dianggapnya tidak mempunyai arti.
Hans Kelsen. Aliran Hukum Positif yang murni.
ajarannya yang terkenal adalah Reine
Rechtsleer yang merupakan satu ajaran umum
tentang hukum

18. Pragmatic Positivism


The American Realist Movemnet. Membangun
relasi yang tepat antara hukum yang logic dan
rasional dengan penarapannya dalam
kenyatannya oleh pengadilan. Hukum tidak
memiliki makna tanpa penerapan yang benar
dalam kehidupan manusia oleh pengadilan.
Jadi hukum dengan demikian harus berkaitan
dengan pragmatis.

19.
Scandinavian Realisme, Pada esensinya adalah
kritik filsafat atas dasar metafisik dari hukum
karena itu mereka menolak tegas filsafat
hukum alam

17. Utilitiarisme
Utilitiarisme lahir sebagai reaksi terhadap
karakter metafisik dan abstrak dari filsafat
hukum dan politik abad ke-18.
Bentham, secara langsung menyerang konsep
dari teori hukum alam, dengan membangun
gerakan dari abstrak ke konkrit, idealis ke
materialis, apriori ke empirik. Gerakan ini
merupakan ciri umum dari filsafat abad ke-19.
Filsafat hukum Bentham, adalah utilitiaris
individualisme. Collectivism ... Hegel, Karl Max

Utility menurut Bentham adalah sebagai


ekspresi the property or tendency of a thing
to prevent some evil or to procure some
good. Good is pleasure, evil is pain. Tugas dari
hukum adalah untuk kebaikan dan
menghindari kejahatan. Bentham adalah
seorang individualisme, yang menurutnya
menolak mitos volonte generale atau suatu
an organic community.

Menurut Bentham hukum harus melayani


totalitas perseorangan dalam suatu
masyarakat dan the ultimate end of
legislation is to him the greatest happiness of
the greatest number. Liberalisme dan
individualisme, ekonomi pasar, kapitalisme.
John Stuart Mill, melakukan penelitian
mengenai hubungan antara keadilan, uitility,
individual interest and general utility. Dia,
seperti halnya Bentham, percaya bahwa tidak

Bentham mengkaji hakekat dari keadilan


dalam hubungannya dengan utility, yaitu
menemukan sintesa dari keadilan dan utility,
yaitu our conduct should be such that all
rational beings might adopt with benefit to
their collective interest.
Rudolf van Jhering utilitiarisme, a father of
modern sosiological jurisprudence, yang
membangun konsep keseimbangan antara
kepentingan individu dan kepentingan kolektif.

Lanjutan ....1
Bagi kaum positivist, kekuatan mengikat dari
hukum sangat tergantugn pada kecocokannya
dengan hukum positif yang berlaku. Hukum
yang tidak bersumber dari hukum positif tidK
memiliki kekuatan mengikat.
Bagi kaum sosiologist, hukum memiliki
kekuatan mengikat, jika sesuai dengan
perasaan hukum masyarakat dan lingkungan
sosial di tempat hukum itu berfungsi.

Lanjutan ......2
Pandangan integralis. Kekuatan mengikat dari
hukum tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi
saja, tetapi harus dilihat pada konteks
penerapannya dalam kehidupan sosial. Hukum
tidak bisa dilihat hanya dari sisi teks, apakah
cocok dengan hukum positif semata-semata
atau cocok dengan pendapat umum yang
berkembang pada saat itu.

Lanjutan .....3
Hukum harus memberi jawab dan memenuhi
hak kodrati manusia yang asasi dengan
menjaga perasaan sosial yang melingkupinya.
Oleh karena itu, landasan moral kekuatan
mengikat hukum, dalam biadang hukum
peradata, pidana dan tata negara, sering tidak
sama. Dalam bidang hukum perdata misalnya,
kesepakatan-kesepakatan, persamaan hak dan
keseimbangan hukum antar pribadi menjadi
sangat penting.

Lanjutan .....4
Demikian pula halnya dalam lapangan hukum
pidana. Landasan moral kekuatan berlakunya
hukum harus menghormati martabat pribadi
seseorang sebagai manusia dan menghormati
kemarmonisan dan tanggung jawab sosial
serta kepntingan umum. Dalam bidang hukum
tata negara, kepentingan umumlah yang harus
diutamakan dengan tidak mengorbankan hakhak dan kepntingan individu. Kemaslahatan
umum menjadi sangat penting.

Mazhab Sejarah
Hukum adalah pencerminan jiwa rakyat,
hukum tumbuh bersama-sama dengan
pertumbuhan rakyat dan menjadi kuat
bersama dengan kekuatan rakyat, dan menjadi
mati jika bangsa itu kehilangan kebangsaannya
Pelopor ajaran ini adalah Von Savigny. Hukum
itu tidak dibuat tetapi tumbuh bersama
masyarakat.

Sosiological Jurisprudence
Roscoe Pound, Eugen Ehrlich dll, hukum yang
baik adalah yang sesuai dengan hukum yang
hidup dalam msyarakat. Hukum harus dilihat
sebagai suatu lembaga kemsyarakatan yang
berfungsi untuk memenuhi kebutuhankebutuhan sosial.
Salah satu pendapat Roscoe Pound yang
terkenal adalah hukum itu merupakan a tool
of social engineering.

DISKUSIKAN
Kepastian hukum dan keadilan. Apakah yang
harus di utamakan?
Keadilan individu dan kepnetingan umum.
Kepentingan umum sering mengorbankan
keadialan individu. Negara dan warga negara.

Tugas
Buatlah tulisan menjawab pertanyaan apakah
hukum itu dan apakah tujuan hukum
menurut : pandangan aliran: hukum alam,
positivisme, reaslisme Amerika, aliran
utilitiarisme serta aliran sosiological
jurisprudence.
Minimal 10 halaman.
Waktu 14 hari dari sekarang, email :
hamdanzoelva@yahoo.com

Kuliah 4
DIKSUSI FILSFAT

Sumber Perdebatan
Filsafat Hukum
Alam manusia. Melahirkan dua aliran: 1)
manusia yang independen dan 2) manusia
yang tunduk pada alam dan Tuhan
Hukum alam - Hukum buatan manusia.
Melahirkan perdebatan antara keadilan yang
dilandasi moralitas dan kepastian hukum.
Hukum alam supra rasional rasional
(manusia)
Individualisme dan kolektivisme.
Penguatamaan pada keadilan individu dan

1. Pokok Diskusi Filsafat Hukum


Mendiskusikan hukum secara filosofis
Apakah Hukum itu?
Apakah Tujuan hukum?
Apakah dasar kekuatan berlakunya hukum?
Jaawaban atas ketiga topik tersebut sangat
berkaitan dengan filsafat yang dianut oleh
peneliti atau teoretisi hukum tersebut.
Hukum dan kekuasaan. Hukum sebagai
produk politik

2. Kekuatan Mengikat Hukum


Bagaimanakah kekuatan mengikat dari hukum,
sangat tergantung pada pandangan tentang
hukum. Bagi agamawan, hukum meiliki
kekuatan mengikat jika bersumber dari hukum
agama. Bagi penganut aliran hukum kodrat,
kekuatan mengikat hukum sangat tergantung
pada kecocokannya dengan kodrati manusia,
dan prinsip-prinsip hukum umum.

Bagaimana menurut kaum utulitiarisme,


Penganut sosiological Jurisprudence, aliran
sejarah, aliran legal realism?

Mengapa Orang Mentaati Hukum

Teori kedaulatan Tuhan


Teori kedaulatan negara
Teori perjanjian masyarakat
Teori kedaulatan hukum

Hukum dan Kekuasaan


Hubungan hukum dan kekuasaan ? Hukum
dan kekuasaan bagaikan dua sisi mata uang.
Hukum tanpa kekuasaan adalah hukum yang
lumpuh, sedangka kekuasaan tanpa hukum
menimbulkan kelaliman.

Tiga Pandangan Tentang Hukum


Pertama: Idelaistis-spiritualistis. Hukum itu independen,
berada di dunia ide. Hukum itu tidak dapat dicampuri
dengan fakta. Hukum ya hukum, apa pun faktanya harus
diberlakukan. Pandangan ini menguasai pandangan para
Juris sampai abad IX. Seperti pandangan Plato, yang
menganggap ide itu memiliki derajat lebih tinggi daripada
materi. Aristoteles, yang memebedakan keadilan alam dan
keadilan perundang-undangan. Seperti juga, pandangan
kaum Stoicein (Zeno) pada Cicero, pandangan hukum
moralistis dari Ulpianus dan lain-lain. Pandangan hukum
alam (ius naturale) dari Thomas Aquinas, termasuk hukum
kanonik dan yang berdasarkan wahyu.

Kedua : Pandangan Materialistis-Sosiologis. Hukum


bukanlah hasil dari perwujudan ide, keadilan, rasio, atau
wahyu (dianggap sebagai pendekatan statis) tetapi
merupakan produk kenyataan kemasyarakatan dan realitas
sosial (dianggap sebagai pendekatan dinamis). Pandangan
inilah yang melahirkan:
Utilitiarisme Bentham, John Stuart Mill dan von Jherings
Mazhab historis, Von Savigny, hukum lahir dari masyarakat yang
terus berkembang menjadi sebuah jiwa bersama, jiwa bangsa.
Marxisme, Filsafat Marx dan Engle sengat mempengaruhi
pemikiran hukum, karena menurut mereka hukum tidak lain
lahir dari geja dan materi yang ada dalam masyarakat. Karena
hukum kadang menindas, karena gejala kekuasaan borjuis.

Ketiga: Ajaran Hukum Umum, kedua pandangan tersebut


sebelumnya tidak memuaskan, sehingga lahir pandangan
ketiga ini yang melihat pada hal-hal asasi sama pada gejalagejala hukum. John Austin misalnya, melihat hukum tidak
lain dari perintah yang berkuasa. Hukum tidak lain dari
himpulan perintah yang berkuasa yang mengandung sanksi.
Selanjutnya pandangan Hans Kelsen, yang melihat hukum
tidak lain dari himpunan norma yang bersifat hierarkis.
Bahan Diskusi. Hukum Islam, masuk pada kelompok mana?
Produk wahyu untuk manusia. Wahyu sebagai hukum yang
pasti, diperhadapkan pada masyarakat yang berbeda,
berubah dan berkembang. Di mana posisi wahyu?

PANDANGAN IDEALISTIS

Nomos, wahyu, lex aeterna


Rasio manusia, lex naturalis, humanisme

PANDANGAN MATERIALISTIS-SOSIOLOGIS

Hukum sebagai produk masyarakat, social contract


Hukum bersifat material, tidak ideal. Setiap
masyarakat ada unsur material yang menentukan.

HUKUM UMUM- Hukum Positif

Hukum adalah perintah penguasa, terdapat norma


yang bersifat umum. Usaha memadukan kenyataan
sosial dan idealistis.

Tugas Makalah
Judul Bebas terkait Filsafat Hukum. Kaitkan
antara salah satu Mazhab Filsafat hukum
dengan kenyataan hukum di Indonesia.
Tulisan Ilmiah dengan sistematika Ilmiah,
minimum 26 halaman, spasi 1,5.

Sistematika Tulisan:
Pendahuluan (Latar Belakang Masalah).
Rumusan masalah
Kerangka teori, Mazhab Hukum apa yang saudara
pilih untuk dibahas, uraian mengenai mazhab
hukum ybs dengan bahan pustaka yang anda
miliki (dengan kerangka teori itulah dibangun
dasar-dasar argumentasi dalam analisis masalah)
fakta-fakta hukum di Indonesia (lihat hasil
penelitian atau paling tidak pengamatan dan
pengalaman praktik saudara>

Analisis, Uraian fakta dikaitkan dengan kerangka


teori yang dipilih
Kesimpulan dan rekomendasi
Daftar pustaka.

Aliran Hukum Timur


Perbedaan pokok filsafat barat dan timur
adalah pada rasionalisme, pertentangan dan
harmoni. Individualisme dan kolektivisme.
Rusia, Social Fate.

Filsafat India
Kita Weda, dari bangsa Aryan yang mendiami
bagian utara India (1400 2000 SM).
Keberadaan kitab ini sangat mempengaruhi
pemikiran dan sistem kepercayaan rakyat
India yang menfokuskan alam semesta sebagai
pusat atau objek utama dalam
pembahasannya, Manusia adalah bagian
semata dari alam semesta.
Rasionalisme masuk ke India setelah
masuknya Barat.

Filsafat Tiongkok
Tiga kepeceryaan besar yang berkembang di
Tiongkok adalah, Konfusianisme, Taoisme dan
Budhisme.
Taoisme dan Budhisme mengajarkan agar
manusia mengikuti alam. Harmoni antara
manusia dan alam.

Filsafat Islam

REFERENSI
Teori of Justice John Rawls
Pokok-pokok Filsafat Hukum, Prof Darji
Darmodiharjo & Sidarta
Filsafat Hukum, Sudikno
Pengantar Filsafat Hukum, prof Lili Rasyidi
Filsafat dan Teori Hukum, Lili Rasyidi
The Islamic Conception of Justice