Anda di halaman 1dari 39

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,
telinga, dan sebagainya) (Notoatmodjo,2005, p : 50). Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2003) pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui
berkenaan dengan hal. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour).
Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu
aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan
sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui,
maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu.
Menurut teori WHO (World Health Organization) yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan
oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan
bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui oleh seseorang melalui
pengenalan sumber informasi, ide yang diperoleh sebelumnya baik secara
formal maupun informal.

Menurut

Notoatmodjo

(2007)

pengetahuan

atau

kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan


seseorang. Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari
oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku
baru didalam diri seseorang terjadi proses yang berurutan), yakni :
a. Awareness (kesadaran)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu
terhadap stimulus (objek).
b. Interest (merasa tertarik)
Terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai
timbul.
c. Evaluation (menimbang-menimbang)
Terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
d. Trial
Sikap dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan
apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adaption
Dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap
yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (longlasting).

Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan


kesadaran akan tidak berlangsung lama. Jadi, Pentingnya pengetahuan disini
adalah dapat menjadi dasar dalam merubah perilaku sehingga perilaku itu
langgeng.
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007) ada 6 tingkatan pengetahuan, yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu dapat diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk juga mengingat kembali suatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di
terima dengan cara menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan
sebagainya.
b. Memahami (Comprehention)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dpat menginterprestasikan
materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi sebenarnya. Aplikasi dapat diartikan sebagai
penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya.

d. Analisis (Analysis)

Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi


kedalam komponen komponen, tetapi masih didalam struktur
organisasi tersebut yang masih ada kaitannya antara satu dengan yang
lain

dapat

ditunjukan

dengan

menggambarkan,

membedakan,

mengelompokkan, dan sebagainya.


e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis

merupakan

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan

atau

menghubungkan bagian bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang


baru dengan dapat menyusun formulasi yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu
materi penelitian didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri
atau kriteria yang sudah ada. Pengetahuan diukur dengan wawancara
atau angket tentang materi yang akan di ukur dari objek penelitian
3. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Notoatmodjo (2007), berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar,
makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk
menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan

cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun


dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan
sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang
dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seorang yang
berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula.
Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal,
akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal.
Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek juga mengandung dua
aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya
akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin
banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan menumbuhkan
sikap makin positif terhadap obyek tersebut .
b. Mass media / informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun
non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate
impact)

sehingga

menghasilkan

perubahan

atau

peningkatan

pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media


massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang
inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa
seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, penyuluhan dan lain-lain
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan

orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media


massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat
mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu
hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan
terhadap hal tersebut.
c. Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui

penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan

demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak


melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya
suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status
sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,
baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh
terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada
dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal
balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap
individu.
e. Pengalaman
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik dari
pengalaman pribadi maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman ini
merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.

f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya
semakin membaik. Pada usia tengah (41-60 tahun) seseorang tinggal
mempertahankan prestasi yang telah dicapai pada usia dewasa.
Sedangkan pada usia tua (> 60 tahun) adalah usia tidak produktif lagi dan
hanya menikmati hasil dari prestasinya. Semakin tua semakin bijaksana,
semakin banyak informasi yang dijumpai dan sehingga menambah
pengetahuan (Cuwin, 2009). Dua sikap tradisional Mengenai jalannya
perkembangan hidup :
1) Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang di
jumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah
pengetahuannya.
2) Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah
tua karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental. Dapat
diperkirakan bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya
usia, khusunya pada beberapa kemampuan yang lain seperti misalnya
kosa kata dan pengetahuan umum. Beberapa teori berpendapat
ternyata IQ seseorang akan menurun cukup cepat sejalan dengan
bertambahnya usia.
4. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara wawancara


atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari
subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan
diatas (Nursalam, 2008) :
Tingkat pengetahuan baik bila skor > 75% - 100%
Tingkat pengetahuan cukup bila skor 56% - 75%
Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 56%

B. Sikap
1.

Definisi Sikap
Sikap adalah juga merespon tertutup seseorang terhadap stimulus

atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan (senang tidak senang, setuju tidak setuju, baik tidak baik,
dan sebagainya). Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan
bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum
merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan
faktor predisposisi perilaku (reaksi tertutup) (Notoatmodjo, 2005)
Komponen Pokok Sikap :
Menurut Allport (1954) sikap itu terdiri dari 3 komponen, yaitu :

a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap obyek, artinya


bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap
objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek, artinya bagaimana
penilaian (terkandung didalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap
objek.
c. Kecenderungan untukk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah
merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka.
Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka
(Tindakan)
Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang
utuh (total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
pikiran, keyakinan dan emosi memegang peran penting.
Seperti halnya pengetahuan, sikap juga memiliki tingkatan berdasarkan
intensitasnya, sebagai berikut :
a. Menerima (Receiving)
Diartikan bahwa seseorang atau subyek menerima stimulus yang diberikan
(objek). Misalnya, sikap seseorang terhadap periksa hamil dapat diketahui
dan diukur dari kehadiran si ibu untuk mendengarkan penyuluhan di
lingkungannya.
b. Menanggapi (Responding)
Menanggapi di sini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi. Misalnya , seorang ibu yang

mengikuti penyuluhan tersebut ditanya atau diminta menanggapi oleh


penyuluh, kemudian ia menjawab atau menanggapainya.
c. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain
dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain
merespons.
d. Bertanggung Jawab (Responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap
apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu
berdasarkan keyakinannya, dia harus beranni mengambil resiko bila ada
orang lain yang mencemooh atau adanya risiko lain
2. Faktor faktor yang mempengaruhi sikap
Faktor faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap objek sikap
antara lain :

a. Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi
haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih
mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi
yang melibatkan faktor emosional.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis


atau searah dengan sikap orang yang diangap penting. Kecenderungan ini
antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafilisasi dan keinginan
untuk menghindari konflik dengan orang yang di anggap penting tersebut.
c. Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita
terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota
masyarakatnya, karena kebudayaanlahyang memberi corak pengalaman
individu-individu masyarakat asuhannya.
d. Media massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi
lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyektif
cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisannya, akibatnya berpengaruh
terhadap sikap.

e. Lembaga Pendidikan dan lembaga agama


Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan agama sangat
menentukan sitem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada
gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
f. Faktor emosional

Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang


berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak
langsung. Pengukuran secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan - pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan.
Pertanyaan secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan
pendapat dengan menggunkana kata setuju atau tidak setuju terhadap
pernyataan - pernyataan objek tertentu, dengan menggunakan skala likert
(Notoatmodjo, 2005).

C. Remaja
1. Definisi Remaja
Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal
dari bahasa latin adolescere yang artinya tumbuh atau tumbuh untuk
mencapai kematangan (Ali, 2009). Remaja adalah anak usia 10 24 tahun
yang merupakan usia antara masa kanak kanak dan dewasa dan sebagai
titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan sejak dini
(Romauli, 2009).
Pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja yang
lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria,
yaitu biologis, psikologis, dan sosio ekonomi remaja untuk memahami serta
mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Informasi tentang

haid dan mimpi basah, serta tentang alat reproduksi laki laki dan wanita
perlu diperoleh setiap remaja (Widyastuti, 2009).
Jika dipandang dari aspek psikologis dan sosialnya, masa remaja
adalah suatu fenomena fisik yang berhubungan dengan pubertas. Pubertas
adalah suatu bagian yang penting dari masa remaja dimana yang lebih di
tekankan adalah proses biologisnya yang pada akhirnya mengarah kepada
kemampuan berproduksi.
Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika
anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual. Kata
pubertas berawal dari kata latin yang berarti usia kedewasaan. Kata ini
lebih menunjuk pada perubahan fisik daripada perilaku yang terjadi pada
saat individu secara seksual menjadi matang dan mampu memberikan
keturunan (Hurlock, nd).
Monk mengemukakan bahwa pubertas datang dari kata puber
(yaitu Pubescent). Kata lain Pubescence yang berarti mendapatkan pubes
atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang
menunjukkan perkembangan seksual. Bila selanjutnya dipakai istilah puber,
maka yang dimaksudkan adalah remaja sekitar masa pemasakan seksual
(Monks dan Knoers, 2002).
2. Pembatasan usia remaja
Lazimnya masa remaja diangggap mulai pada saat anak secara
seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara
hukum. Menurut Hurlock secara umum masa remaja dibagi menjadi dua

bagian yaitu remaja awal dan remaja akhir. Garis pemisah antara awal
remaja dan akhir remaja terletak kira-kira di sekitar usia tujuh belas tahun.
Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam
belas tahun atau tujuh belas tahun sampai delapan belas tahun. Dengan
demikian akhir masa remaja merupakan periode tersingkat.
Tak jauh berbeda dengan itu Monks mengatakan, bahwa
perkembangan masa remaja secara global berlangsung antara umur 12-21
tahun, dengan pembagian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa
remaja pertengahan, dan 18-21 masa remaja akhir. Sedangkan pada
umumnya masa pubertas terjadi antara 12-16 tahunpada anak laki-laki dan
11-15 tahun pada anak wanita (Monks dan Knoers, 2002). Batas usia remaja
menurut WHO adalah 12-24 tahun. Sedangkan menurut BKKBN adalah 1019 tahun (Widiastuti, 2009)

3. Perkembangan pada masa remaja


Menurut Widiastuti (2009) berdasarkan sifat atau ciri-ciri perkembangan
masa (rentang waktu) remaja ada tiga yaitu :
a. Masa Remaja awal (10-12 tahun)
1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya
2) Tampak dan merasa ingin bebas
3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya
dan mulai berpikir yang khayal (abstrak)

b. Masa Remaja Tengah (13-15 tahun)


1) Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri
2) Ada keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan jenis
3) Timbul perasaan cinta yang mendalam
4) Kemampuan berpikir abstrak (mengkhayal) makin berkembang
5) Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seks
c. Masa Remaja Akhir (16-19 tahun)
1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri
2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif
3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya
4) Dapat mewujudkan perasaan cinta
5) Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak

D. Pendidikan Kesehatan
1. Definisi Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan ditujukan untuk menggugah kesadaran,
memberikan

atau

meningkatkan

pengetahuan

masyarakat

tentang

pemeliharaan dan peningkatan kesehatan baik bagi dirinya sendiri,


keluarganya maupun masyarakatnya. Bentuk pendidikan ini antara lain
penyuluhan kesehatan, pameran kesehatan, iklan-iklan layanan kesehatan,
spanduk, billboard, dan sebagainya (Notoatmodjo,2007). Semua petugas
kesehatan telah mengakui bahwa pendidikan kesehatan itu penting untuk

menunjang program-program kesehatan yang lain (Notoatmodjo, 2003).


Penyuluhan kesehatan masyarakat di dalam bahasa inggris disebut
Education for Health. Sedangkan di Indonesia disebut dengan komunikasi,
informasi, dan eduksi (KIE). Pendidikan kesehatan atau penyuluhan
kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan
pengetahuan, sikap, dan praktek masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2003).
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis,
dimana perubahan tersebut bukan skedar proses transfer materi / teori dari
seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur, akan tetapi
perubahan tersebut terjadi karena adanya kesadaran dari dalam diri individu,
kelompok, atau masyarakat sendiri (Mubarak dan chayatin, 2009).

2. Tujuan Pendidikan Kesehatan


Tujuan utama pendidikan kesehatan (Mubarak dan Chayati, 2009) adalah :
a. Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri
b. Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan
sumber daya yang ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar.
c. Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan taraf
hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat.
3. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup prndidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi,


antara lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau
aplikasinya, dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2007).
a. Dimensi sasaranannya
1) Pendidikan kesehatan individual, dengan sasaran individu
2) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
3) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas
b. Dimensi tempat pelaksanaan
1) Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran
murid
2) Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah sakit-rumah
sakit dengan sasaran pasien atau keluarga pasien, di Puskesmas dan
sebagainya.
3) Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh
atau karyawan yang bersangkutan.
c. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat
pencegahan (five levels of prevention) menurut Leavel and Clark, yaitu
sebagai berikut :
1) Promosi Kesehatan (Health promotion)
Dalam tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam
peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan
higiene perorangan dan sebagainya.

2) Perlindungan Khusus (Specific protection)


Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan
khusus ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan terutama di
negara-negara berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat
tentang pentingnya imunisasi sebagai perlindungan terhadap
penyakit pada dirinya maupun pada anak-anaknya masih rendah.
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt
treatment)
Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
terhadap kesehatan penyakit, maka sulit mendeteksi penyakitpenyakit yang terjadi dalam masyarakat.Bahkan kadang-kadang
masyarakat sulit atau tidak mau di periksa dan diobati penyakitnya.
Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan
kesehatan yang layak. Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan sangat
di perlukan pada tahap ini.
4) Pembatasan cacat (Disability limitation)
Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat
tentang kesehatan dan penyakit, maka sering masyarakat tidak
melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Pengobatan yang tidak
layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan
cacat atau ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan
juga diperlukan pada tahap ini.
5) Rehabilitasi (rehabilitation)

Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang


menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang
diperlukan

latihan-latihan

tertentu.

Oleh

karena

kurangnya

pengertian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak atau sengan


melakukan latihan-latihan yang di anjurkan. Di samping itu, orang
yang cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang-kadang malu intuk
kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau
menerima mereka sebagai anggota masyarakat yang normal. Oleh
sebab itu, jelas pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk
orang yang cacat tersebut, tetepi juga perlu pendidikan kesehtan
kepada masyarakat
4.

Metode Pendidikan Kesehatan


Pendidikan kesehatan juga sebagai suatu proses, dimana proses
tersebut mempunyai masukan (input) dan keluaran (output). Dalam suatu
proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan
yakni perubahan perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor
yang mempengaruhi suatu proses pendidikan di samping masuknya sendiri
juga metode, materi atau pesannya, pendidik atau petugas, yang
melakukannya, dan alat-alat bantu/alat peraga pendidikan. Hal ini berarti
bahwa untuk masukan (sasaran pendidikan) tertentu, harus menggunakan
cara tertentu pula, materi juga harus disesuaikan dengan sasaran, demikian
juga alat bantu pendidikan disesuaikan. Untuk sasaran kelompok,
metodenya harus berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual.

Untuk sasaran massa pun harus berbeda dengan sasaran individual dan
sebagainya (Notoatmodjo, 2007)
Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan individual,
kelompok dan massa (public) :
1. Metode Pendidikan Individual (Perorangan)
Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual
ini digunakan untuk membina perilaku baru atau seseorang yang telah
mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar
digunakannya pendekatan individual ini disebabkan karena setiap orang
mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan
penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan
mengetahui dengan tepat serta membantunya maka perlu menggunakan
metode (cara ini). Bentuk dari pendekatan ini, antara lain :
a. Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance and Counseling)
Dengan cara ini, kontak antara klien dengan petugas lebih intensif,
setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu
penyelesaiannya. Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan
berdasarkan kesadaran, penuh perhatian, akan menerima perilaku
tersebut (mengubah perilaku).
b. Interview (Wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan
penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk
menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima

perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang


akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian atau kesadaran yang
kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam
lagi.
2. Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus mengingat besarnya
kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk
kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil.
Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran
pendidikan.
a. Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta
penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok
besar ini, antara lain :
1) Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun
rendah.
2) Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan
pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian
(presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik
yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di
masyarakat.

b. Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut
kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil
antara lain :
1) Diskusi Kelompok
Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat
bebas berpartisipasi dalam diskusi maka formasi duduk para
peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadaphadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam
bentuk lingkaran atau segi empat. Pimpinan diskusi / penyuluh juga
duduk diantara peserta sehingga tidak menimbulkan kesan ada
yang lebih tinggi. Tepatnya mereka dalam taraf yang sama
sehingga tiap anggota kelompok ada kebebasan / keterbukaan
untuk mengeluarkan pendapat.
2) Curah Pendapat (Brain Storming)
Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok.
Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada
permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu
masalah kemudian tiap peserta memberikan jawaban-jawaban atau
tanggapan (cara pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban
tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis.
Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh
diberi komentar oleh siapa pun. baru setelah semua anggota

mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan


akhirnya terjadilah diskusi.
3) Bola Salju (Snow Balling)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang, 2 orang).
Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih
kurang 5 menit, tiap 2 pasang bergabung menjadi 1. Mereka tetap
mendiskusikan masalah tersebut dan mencari kesimpulannya.
Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini
bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya
akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
4) Kelompok Kecil (Bruzz Group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil (buzz
group) kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama / tidak
dengan

kelompok

lain

dan

masing-masing

kelompok

mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap


kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.
5) Memainkan Peranan (Role Play)
Dalam metode ini, beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai
pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan, misalnya
sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan dan
sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau
anggota masyarakat. Mereka meragakan misalnya bagaimana
interaksi / komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.

6) Permainan Simulasi (Simulation Game)


Metode ini adalah merupakan gambaran antara role play dengan
diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa
bentuk permainan seperti permainan monopoli

5. Metode Pendidikan Massa (Public)


Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan
pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya
massa atau publik maka cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.
Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah awareness atau
kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi, belum begitu diharapkan
sampai dengan perubahan perilaku. Namun demikian bila sudah sampai
berpengaruh terhadap perubahan perilaku adalah wajar. Pada umumnya
bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya
menggunakan atau melalui media massa. Beberapa contoh metode ini,
antara lain :
a. Ceramah umum (public speaking)
Pada acara-acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional,
menteri

kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya berpidato di

hadapan massa rakyat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan.


Safari KB juga merupakan salah satu bentuk pendekatan massa.

b. Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik


TV

maupun radio, pada hakekatnya adalah merupakan bentuk

pendidikan kesehatan massa.


c. Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan
lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV
atau radio adalah juga merupakan pendekatan pendidikan kesehatan
massa. Contoh "Praktek

Dokter Herman Susilo" di televisi pada

waktu yang lalu.


d. Sinetron "Dokter Sartika" didalam acara TV juga merupakan bentuk
pendekatan pendidikan kesehatan massa.
e. Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel
maupun tanya jawab / konsultasi tentang kesehatan atau penyakit juga
merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan massa.
f. Billboard yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster dan
sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh
billboard "Ayo ke Posyandu".
6. Media Pendidikan Kesehatan
Media pendidikan kesehatan adalah media yang digunakan untuk
menyampaikan pesan kesehatan karena alat tersebut digunakan untuk
mempermudah penerimaan pesan kesehatan bagi masyarakat yang dituju.
Menurut Notoatmodjo (2005), media pendidikan kesehatan didasarkan cara
produksinya dikelompokkan menjadi :

a. Media cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan


visual. Media cetak terdiri dari :
1) Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan kesehatan dan
bentuk buku, baik tulisan ataupun gambar.
2) Leaflet adalah suatu bentuk penyampaian informasi melalui lembar
yang dilipat. Isi informasi dapat berupa kalimat maupun gambar.
3) Selebaran adalah suatu bentuk informasi yang berupa kalimat maupun
kombinasi.
4) Flip chart adalah media penyampaian pesan atau informasi kesehatan
dalam bentuk lembar balik berisi gambar dan dibaliknya berisi pesan
yang berkaitan dengan gambar tersebut.
5) Rubrik atau tulisan pada surat kabar mengenai bahasan suatu masalah
kesehatan.
6) Poster adalah bentuk media cetak berisi pesan kesehatan yang
biasanya ditempel di tempat umum.
7) Foto yang mengungkap informasi kesehatan yang berfungsi untuk
member informasi dan menghibur.
b. Media Elektronik yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat
dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu
elektronika.adapun macam media elektronik :
1) Televisi
2) Radio
3) Video

4) Slide
5) Film
c. Luar ruangan yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar ruangan
secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis, missal :
1) Pameran
2) Banner
3) TV Layar Lebar
4) Spanduk
5) Papan Reklame

E. PMS (Pre Menstrual Syndrome)


1. Definisi PMS (Pre Menstrual Syndrome)
Salah satu gangguan derajat kesehatan yang sulit diidentifikasi
secara akurat pada wanita adalah kumpulan gejala-gejala yang dikenal
dengan sindrom premenstruasi PMS. Perubahan siklik fisik, fisiologi dan
prilaku (misal perut mengembung, perubahan suasana hati, perubahan nafsu
makan) yang dicerminkan saat siklus menstruasi terjadi hampir pada semua
wanita beberapa waktu antara menarche dan menopause (Varney, 2007).
PMS adalah kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang berhubungan
dengan siklus menstruasi (Wikipedia).
Gejala PMS dapat diperkirakan dan biasanya terjadi

secara

regular pada 7-14 hari sebelum datangnya menstruasi. Sindrom itu akan
menghilang pada saat menstruasi dimulai sampai beberapa hari setelah

selesai menstruasi. Hal ini paling umum mempengaruhi para remaja dan
wanita-wanita di dalam awal usia 20-50 tahun yaitu dimulai pada tahap
awal pubertas dan berakhir pada tahap menopause (Saryono, Sejati W,
2009).
PMS merupakan suatu gejala yang sering dialami oleh wanita
menjelang menstruasi dengan dampak yang dialami bisa menjadi lebih
ringan seperti bingung, pelupa, timbul jerawat ataupun lebih berat
seperti diare, konstipasi, insomnia, depresi, bahkan kadang muncul rasa
ingin bunuh diri. Sedangkan gangguan mental dapat berubah mudah
tersinggung dan sensitif, sedangkan gangguan fisik berupa acne, nyeri,
pusing, sakit punggung, nyeri payudara. PMS ini bisa membuat
penderitanya merasa sangat sengsara (Agustini, 2004).
Penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas.
Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni
ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Teori lain
mengatakan bahwa, karena hormon estrogen yang berlebihan. Para
peniliti mengatakan bahwa, salah satu kemungkinan yang kini sedang
diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor
dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon
seks dalam sel. Kemungkinan dapat berhubungnan dengan gangguan
perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang
dialami penderita.

Owen (Consultant Obstetrician and Gynaecologist) dalam


Camoki 2007 menyebutkan bahwa penetapan berat ringannya PMS
berubah-ubah tergantung pada terganggunya aktifitas sehari-hari. Bagi
wanita yang sangat mengenali dirinya sendiri dan dapat mengelolanya,
boleh jadi PMS tidaklah menganggu. Tak jarang, wanita mengenali
PMS dan akses yang merugikan diri sendiri serta orang sekitarnya, tidak
mudah untuk mengendalikannya
2. Etiologi PMS (Pre Mentsrual Syndrome)
Penyebab yang pasti dari Pre Mentrual Syndrome belum di
ketahui secara pasti, dapat bersifat komplek dan multifaktorial. Namun
dimungkinkan berhubungan dengan faktor-faktor hormonal, genetik,
sosial, perilaku, biologis dan psikis (Saryono dan Waluyo, 2009).
a. Faktor Hormonal
PMS terjadi pada sekitar 70-90% wanita pada usia subur dan lebih
seringg ditemukan pada wanita usia 20-40 tahun.peran hormon
ovarium tidak begitu jelas, tetapi gejala PMS sering berkembang
ketika

ovulasi

tertekan.

Perubahan

kadar

hormonal

dapat

mempengaruhi kerja neurotransmitter seperti serotonin, tetapi kadar


hormon seks yang besikulasi pada umumnya normal pada wanita
PMS. Faktor hormonal yakni terjadi ketidakseimbangan antara
hormon estrogen dan progesteron.
b. Faktor Kimiawi

Faktor kimiawi sangat mempengaruhi munculnya PMS. Bahan


bahan kimia tertentu didalam otak seperti serotonin, berubah-ubah
selam siklus menstruasi. Serotonin adalah suatu neurotransmiter yang
merupakan suatu bahan kimia yang terlibat dalam pengiriman pesan
sepanjang saraf didalam otak, tulang belakang dan seluruh tubuh.
c. Faktor Genetik
Faktor genetik juga memainkan suatu peran yang sangat penting,
yaitu insidensi PMS dua kali lebih tinggi pada kembar satu telur
(monozigot) dibanding kembar dua telur.
d. Faktor Psikologis
Faktor psikis, yaitu stres sangat besar pengaruhnya terhadap kejadian
PMS akan semakin menghebat jika di dalam diri seorang wanita
terus menerus mengalami tekanan
e. Faktor gaya hidup
Faktor gaya hidup dalam diri wanita terhadap pengaturan pola makan
juga memegang peranan yang tak kalah penting. Makan terlalu
banyak atau terlalu sedikit, sangat berperan terhadap gejala-gejala
PMS. Makanan terlalu banyak garam akan menyebabkan retensi
cairan, dan membuat tubuh bengkak. Terlalu banyak mengkonsumsi
minuman beralkohol dan minuman-minuman beralkohol dan
minuman-minuman

berkafein

dapat

menganggu

suasana

hati.Rendahnya kadar vitamin dan mineral dapat menyebabkan

gejala-gejala PMS semakin memburuk.Beberapa teori penyebab


PMS :
1) Berhubungan dengan hipoglikemia (kadar gula darah rendah
yang abnormal / hyperthyroid)
2) Berhubungan dengan homon pitutiari, prostaglandin, dan
neurotransmiter di otak.
3) Karena kurang asupan vitamin B6, kalsium, dan magnesium.
3. Gejala PMS (Pre Menstrual Syndrome)
Wanita dapat mengalami berbagai macam gejala PMS baik gejala
emosional maupun gejala fisik.
Tabel 2.1 Gejala- gejala Pre Mentrual Syndrome
Gejala fisik

Gejala Emosional

Perut kembung

Depresi

Nyeri Payudara

Cemas

Sakit kepala

Suka menangis

Kejang atau bengkak pada kaki

Suka Menangis

Nyeri panggul

Sifat Agresif atau pemberontakan

Hilang Koordinasi

Pelupa

Rasa gatal pada kulit

Tidak bisa tidur

Peka suara atau cahaya

Merasa tegang

Nafsu makan bertambah

Irritabilitas

Hidung tersumbat

Suka marah

Tumbuh jerawat

Paranoid

Sakit pinggul

Perubahan dorongan seksual

Suka makan manis atau asin

Konsentrasi berkurang

Palpitasi

Merasa tidak nyaman

Kepanasan

Pikiran bunuh diri


Keinginan menyendiri
Perasaan bersalah

Sumber : dikutip dari Rayburn et. Al (2001)


4. Tipe PMS (Pre Menstrual Syndrome)
Tipe dan gejalanya Tipe PMS bermacam-macam. Dr. Guy E.
Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA,
AS, membagi PMS menurut gejalanya yakni PMS tipe A, H, C, dan D.
Delapan puluh persen gangguan PMS termasuk tipe A. Penderita tipe H
sekitar 60%, PMS C 40%, dan PMS D 20%. Kadang-kadang seorang
wanita mengalami gejala gabungan, misalnya tipe A dan D secara
bersamaan.Setiap tipe memiliki gejalanya sendiri.
a. PMS tipe A (anxiety)
Ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf
tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi
ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul
akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron: hormon
estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron.
Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi
gejala, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS bisa
jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. Penderita PMS A
sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi
atau membatasi minum kopi.

b. PMS tipe H (hyperhydration)


Memiliki gejala edema(pembengkakan), perut kembung,nyeri
pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat
badan sebelum haid. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan
dengan tipe PMS lain. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya
air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam
atau gula pada diet penderita. Pemberian obat diuretika untuk
mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya
mengurangi gejala yang ada. Untuk mencegah terjadinya gejala ini
penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet
makanan serta membatasi minum sehari-hari.
c. PMS tipe C (craving)
Ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan
yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana
(biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap
gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti
kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang kadang-kadang sampai
pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin
dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat
disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak
terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya
magnesium.
d. PMS tipe D (depression)

Ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah,


gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata
(verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau
mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan
dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari selururh tipe PMS benarbenar murni

tipe

D.

PMS

tipe D murni

disebabkan oleh

ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di mana hormon


progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan
hormon estrogennya. Kombinasi PMS tipe D dan tipe A dapat
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stres, kekurangan asam amino
tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal di tubuh, atau
kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6). Meningkatkan
konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium
dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi
bersamaan dengan PMS tipe A.
5. Penanganan PMS (Pre Menstrual Syndrom)
Terdapat suatu persetujuan dalam penatalaksanaan PMS.
Riwayat yang terinci dan dikaji dengan cermat serta kelompok gejala
harian dan fluktuasi mood yang terdapat pada beberapa siklus dapat
menjadi

petunjukdalam

penyusunan

perencanaan

penatalaksanaan.

Konseling, dalam bentuk kelompok pendukung atau konseling pasangan /


individu dapat sangat bermanfaat. Penggunaaan obat-obatan seperti
inhibitor

prostaglandin

dan

diuretik

untuk

meredakan

edema,

bromokriptin(parlodel) untuk mengatasi nyeri tekan pada payudara dan


diet yang seimbang. Rendah kafein dan natrium atau disertai makanan
diuretik alami dapat meredakan gejala. Latihan fisik dan suplemen vitamin
(B6 dan E) seringkali direkomendasikan.
Pada wanita yang digangggu oleh PMS dapat mengurangi
gejala-gejala

dengan

melakukan

perubahan

pada

dietnya

seperti

mengurangi jumlah gula yang dimakan, memperbanyak mengonsumsi


serat. Mengurangi asupan lemak, mengurangi jumlah garam jika terdapat
retensi cairan dan menghindari kafein (Health Media Nutrition Series,
1996). Ada beberapa jenis perawatan yang dapat dijalani untuk mengatasi
sindrom pra mensrtruasi (Atikah 2009) :
a. Mengkonsumsi pil kontrasepsi oral
b. Obat anticemas, seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitors
(SSRIs), yang dapat digunakan setiap hari atau selama 14 hari sebelum
menstruasi
c. Obat nyeri Over-The-Counter (OTC), yaitu obat-obatan penghilang
nyeri seperti asam asetilsalisilat, asetaminofen, dan obat antiinflamasi
nonsteroid. Obat-obatan ini dapat membantu menyembuhkan gejala
fisik yang sifatnya sedang, seperti nyeri otot atau sakit kepala.
d. Melakukan diet, seperti mengurangi kafein (mengurangi rasa tertekan,
mudah tersinggung, dan gelisah), garam, termasuk kandungan sodium
pada makanan kemasan (mengurangi kembung), mengkonsumsi lebih
banyak karbohidrat kompleks dan serat, seperti roti gandum, pasta,

sereal, buah dan sayuran, menambah asupan protein pada menu


makanan, mengkonsumsi makanan kaya vitamin dan mineral atau
mengkonsumsi suplemen vitamin dan mineral, mengurangi gula dan
lemak

(meningkatkan

energi

dan

menstabilkan

mood)

dan

menghentikan konsumsi alkohol.


e.

Lakukan olahraga seperti aerobik selama 30 menit selama empat


hingga enam kali seminggu. Aerobik melatih otot besar yang
membantu ketegangan saraf dan kecemasan, serta meretensi cairan
yang menyebabkan perut terasa penuh.

f. Makan teratur, tidur cukup, dan berolahraga. Lakukan relaksasi seperti


pijat atau hal yang membuat nyaman.
g. Lakukan terapi alternatif lain, misalnya dengan menggunakan aroma
terapi, akupuntur, minum jamu, atau mengompres perut dengan bantal
panas.
6. Faktor resiko
Beberapa faktor yang meningkatkan terjadinya PMS adalah:
a. Wanita yang pernah melahirkan.
b. Wanita yang sudah menikah.
c. Usia yang semakin tua (antara 30-40 tahun).
d. Stres

e. Mempunyai riwayat depresi (baik depresi pasca melahirkan).


f. Faktor diet (kebiasaan makan tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat,
minuman bersoda, produk susu, makanan olahan)

g. Kekurangan zat gizi seperti kurang vitamin B (vitamin B6), vitamin


E, vitamin C, magnesium,zat besi, seng, mangan, asam lemak linoleat
h. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol
i. Kegiatan fisik (kurang olahraga dan aktivitas fisik)
7. Pencegahan
Pencegahan PMS dapat dilakukan dengan cara :
a. Melakukan diet yang sehat yang mengandung cukup buah dan sayuran
b. Atau mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung cukup
vitamin dan mineral seperti A, B6, E dan kalsium.
c. Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur
d. Menghindari dan mengatasi stres
e. Menjaga berat badan. Berat badan yang berlebihan dapat meningkatkan
risiko menderita PMS.
f. Mencatat jadwal siklus haid serta kenali gejala PMS.
g. Memperhatikan apakah sudah dapat mengatasi PMS pada siklus-siklus
datang bulan berikutnya (Wijaya, 2008)

E. Kerangka Teori
1. Pendidikan
2. Mass media /
informasi
( radio, majalah,
televisi, penyuluhan)
3.Sosial Budaya dan
ekonomi
4. Lingkungan
5. Pengalaman
6. Usia
Pengetahuan

Sikap

Perilaku
(Proses terjadinya
perilaku) :
1.Kesadaran
2.Merasa tertarik
3.Menimbangnimbang
4.Mencoba
5. Mengadopsi
perilaku

1.Pengalaman Pribadi
2.Pengaruh Orang lain
3.Pengaruh kebudayaan
4. Media massa
5.Lembaga Pendidikan
dan lembaga agama
6.Faktor Emosional

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber : Modifikasi Notoatmodjo 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.

F. Kerangka Konsep

Variabel Bebas
Penyuluhan

Variabel Terikat
Pengetahuan

Sikap

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


G. Hipotesis
Ha = Ada perbedaan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang PMS (Pre
Menstrual Syndrom) sebelum dan sesudah diberi penyuluhan.