Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH STRUKTUR HEWAN

ORGAN REPRODUKSI MAMALIA

DISUSUN OLEH :
1. Ayatun Nisa

(E1A013005)

2. Dewi Andriani

(E1A013014)

3. Rositawati

(E1A013044)

4. Siti Zarah

(E1A013047)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
NOVEMBER 2014

KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan dan kemampuan kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah Struktur Hewan tentang Sistem
Reproduksi Pada Mamalia.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Struktur Hewan. Pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Struktur Hewan
yang telah membimbing penulis dalam penyusunan makalah ini.
Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan yang disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan penulis, dimana
penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan bekal pengetahuan yang penulis miliki
untuk mencapai hasil yang terbaik. Maka demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini,
kami terbuka untuk menerima kritik-kritik yang konstruktif dari pembaca.
Semoga makalah ini dapat menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca dan
menjadikan rahmat yang tak putus bagi penulis. Amin.

Mataram, November 2104

Kelompok 4

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................
DAFTAR ISI ............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................
1.1. Latar Belakang ......................................................................................................
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................................
1.3. Tujuan ...................................................................................................................
1.4. Manfaat .................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................
2.1. Organ Reproduksi Pada Mamalia .........................................................................
2.2. Reproduksi Pada Mamalia ....................................................................................
BAB III PENUTUP ....................................................................................................
3.1. Kesimpulan ...........................................................................................................
3.2. Saran

...............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1;

Latar Belakang
Reproduksi merupakan cara hewan untuk melanjutkan keturunan sehingga tidak

mengalami kepunahan. Hampir semua makhluk hidup melakukan reproduksi, baik secara
vegetatif ataupun secara generatif. Reproduksi secara generatif dapat berupa fertilisasi
eksternal dan internal. Vertilisasi internal dilakukan di dalam organ reproduksi yang
dilakukan dengan kawin sesama spesies. Hewan dapat melakukan perkembang biakan
secara viviva, ovivar, dan ovovivivar.
Umumnya pada mamalia terjadi fertilisasi secara internal dan berkembangbiak
dengan cara melahirkan. Mamalia merupakan hewan vertebratayang berambut. Mammalia
betina memiliki kelenjar mamae (susu) yang berkembang atau tumbuh dengan baik, anggota
gerak depan dapat bermodifikasi untuk berlari dan pada kulit terdapat banyak kelenjar
keringat dan kelenjar minyak. Hewan mamalia juga mengalami fertilisasi internal, lubang
genital dan anus terpisah.
Mamalia dapat hidup dalam iklimtropis, subtropis, bahkan dikutub sekalipun.
Kesemuanya itu menjadikan mamalia menjadi mampu memiliki berbagai macam habitat di
muka bumi. Ratusan jenis mamalia dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka
menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. mamalia
juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu,
perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup
dan makanan utamanya. Maka dikenal berbagai jenis mamalia yang berbeda-beda warna
dan bentuknya. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar
pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar
kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.

1.2;
1;
2;
3;
4;
1.3;

Rumusan Masalah
Apa saja organ reproduksi pada mamalia ?
Apa yang termasuk organ reproduksi internal ?
Apa yang termasuk organ reproduksi eksternal ?
Bagaimana proses reproduksi ?

Tujuan
1; Untuk mengetahui organ reproduksi pada mamalia

2; Untuk mengetahui organ reproduksi internal


3; Untuk mengetahui organ reproduksi eksternal
4; Untuk mengetahui proses reproduksi pada mamalia
1.4;

Manfaat
Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana sistem

reproduksi pada mamalia, organ-organ reproduksi mamalia beserta proses yang berlangsung
di dalamnya, dan fungsinya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ORGAN REPRODUKSI PADA MAMALIA
Mammalia merupakan hewan vertebrata yang tubuhnya tertutup rambut. Hewan
Mammalia betina memiliki kelenjar mamae (susu) yang berkembang atau tumbuh dengan
baik, anggota gerak depan dapat bermodifikasi untuk berlari dan pada kulit terdapat banyak
kelenjar keringat dan kelenjar minyak. Hewan mamalia juga mengalami fertilisasi internal,
lubang genital dan anus terpisah, ada organ intromitten (penis), telur tidak bercangakang,
dikandung dalam uterus (oviduk). Di dalam membran embrional terdapat amnion, korion,
dan allantois. Secara praktis semua Mammalia itu vivivar. Embrio berkembang dalam
uterus, dan pertukaran metabolik antara embrio dan induk terjadi melalui plasenta (baik
untuk nutrisi maupun respirasi). Organ reproduksi mamalia terdiri dari organ reproduksi
eksternal dan internal.
2.1.1;Organ Reproduksi Internal
2.1.1.1 Organ Reproduksi Betina
Hewan mamalia betina memiliki organ reproduksi primer dan sekunder.
Organ reproduksi primer yaitu ovarium. Ovarium menghasilkan ova (sel telur) dan hormonhormon kelamin betina. Organ reproduksi sekunder atau saluran reproduksi terdiri dari
oviduk, uterus, serviks, vagina, dan vulva. Fungsi organ-organ reproduksi sekunder
menerima, menyalurkan, dan menyatukan sel-sel kelamin jantan dan betina, memberi
lingkungan, memberi makan, melahirkan individu baru. Alat-alat kelamin dalam digantung
oleh ligamentum lata. Ligamentum ini terdiri dari mesovarium (penggantung ovarium),
mesosalpink (penggantung oviduk), dan mesometrium (penggantung uterus).
a; Ovarium
Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum abdiminalis. Ia
mempunyai dwi fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur (ova) dan
sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormon kelamin betina (estrogen dan
progesteron). Pada sapi dan domba, ovarium berbentuk oval, namun pada kuda berbentuk
seperti ginjal karena ada fossa ovulatorus yakni suatu legokan pada pinggir ovarium. Pada
babi, ovarium berupa gumpalan anggur, folikel-folikel dan corpora lutea menutupi jaringanjaringan ovarial di bawahnya. Pada sapi, ovarium bervariasi dalam ukuran panjang, lebar,

dan tebal. Umumnya ovarium kanan lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara
fisiologik lebih aktif.
Folikel-folikel pada ovarium mencapai kematangan melalui tingkatan perkembangan
yaitu folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier (folikel yang sedang tumbuh), dan
folikel de Graaf (folikel matang). Folikel primer terdiri dari satu bakal sel telur yang pada
fase ini disebut oogonium dan selapis sel folikuler kecil. Folikel sekunder berkembang ke
arah pusat stroma korteks sewaktu kelompok sel-sel folikuler. Yang memperbanyak diri
membentuk suatu lapisan multi seluler sekeliling vitellus. Pada stadium ini terbentuk suatu
membran antara oogonium dan sel-sel folikuler, disebut zona pellucida.
Folikel tersier timbul sewaktu sel-sel pada lapisan folikuler memisahkan diri untuk
membentuk lapisan dan sutu rongga (antrum), ke arah oogonium akan menonjol. Antrum
dibatasi

oleh

banyak

lapisan

sel

folikuler

yang

dikenal

secara

umum

sebagai membrana granulose dan diisi oleh suatu cairan jernih Liquor foliculi yang kaya
akan protein dan estrogen.
Folikel de Graaf adalah folikel matang yang menonjol melalui korteks ke permukaan
ovarium bagaikan suatu lepuh. Pertumbuhannya meliputi dua lapis sel stroma korteks yang
mengelilingi sel-sel folikuler. Lapisan sel-sel tersebut membentuk theca folliculi yang dapat
dibagi atastheca interna yang vascular dan theca externa yang fibrous.
b; Oviduk
Oviduk atau tuba fallopii merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil berlikuliku, dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya. Pada sapi dan kuda, panjang
oviduk mencapai 20--30 cm dengan diameter 1,5--3 mm. oviduk tergantung pada
mesosalpink. Ia dapat dibagi atas infundibulum dengan fimbriae-nya, ampula, dan isthmus.
Ujung oviduk dekat ovarium membentang ternganga membentuk suatu struktur
berupa corong (infundibulum). Muara infundibulum (ostium abdominale) dikelilingi oleh
penonjolan-penonjolan ireguler pada tepi ujung oviduk (fimbriae). Pada saat ovulasi,
pembuluh-pembuluh darah pada fimbriae penuh berisi darah yang mengakibatkan
pembesaran dan penegangan fimbriae. Penegangan ini diiringi oleh kontraksi otot-otot
menyebabkan ostium tuba fallopii mendekati permukaan ovarium untuk menerima ovum
matang yang akan dilepaskan.
Ampula tuba fallopii merupakan setengah dari panjang tuba dan bersambung dengan
daerah tuba yang sempit, isthmus. Pada saat ovulasi, ovum disapu ke dalam ujung oviduk
yang berfimbrial. Kapasitas sperma, fertilisasi, dan pembelahan embrio terjadi di dalam tuba

fallopii. Cairan luminal tuba fallopii merupakan lingkungan yang baik untuk terjadinya
fertilisasi dan permulaan perkembangan embrional. Cairan dihasilkan oleh lapisan epitel
tuba karena pengaruh hormon ovarial. Pertemuan utero-tubal mengatur pengangkutan
sperma dari uterus ke tuba fallopiidan transpor embrio dari tuba ke dalam uterus.
c; Uterus
Uterus terdiri dari kornu, korpus, dan serviks. Proporsi relatif masing-masing bagian
berbeda-beda antar spesies. Uterus babi tergolong bicornis dengan kornu yang sangat
panjang tetapi korpusnya sangat pendek. Uterus sapi, domba, dan kuda kedua kornu dan
korpus uteri yang cukup panjang (paling besar pada kuda).
Dari segi fisiologik, hanya dua lapisan uterus yang dikenal yaitu endometrium dan
miometrium. Endometrium adalah suatu struktur glanduler yang terdiri dari lapisan epitel
yang membatasi rongga uterus, lapisan glanduler, dan jaringan ikat. Miometrium merupakan
bagian muskuler dinding uterus yang terdiri dari dua lapis otot polos, selapis dalam otot
sirkuler, dan selapis luar otot longitudinal yang tipis.
Permukaan dalam uterus ruminansia mengandung penonjolan-penonjolan seperti
cendawan

dan

tidak

berkelenjar, disebut caruncula.

Uterus

sapi

memiliki

70--

120 caruncula yang berdiameter 10 cm dan terlihat seperti spon karena banyak lubanglubang kecil (crypta) yang menerima villi chorionok placental. Villi-villi chorion hanya
berkembang pada daerah tertentu pada selubung faetus (cotyledon) yang memasuki
caruncula. Cotyledon dan caruncula bersama-sama disebut placentoma. Uterus kuda dan
babi tidak mempunyai caruncula.
Uterus mempunyai fungsi-fungsi yang penting untuk perkembangbiakan ternak.
Pada waktu perkawinan, kontraksi uterus mempermudah pengangkutan sperma ke tuba
fallopii. Sebelum implantasi, uterus mengandung cairan yang merupakan medium bersifat
suspensi bagi blastocyt, sesudah implantasi uterus merupakan tempat pembentukan plasenta
dan perkembangan fetus.
Fungsi lain uterus adalah adanya hubungan kerja secara timbal balik dengan
ovarium. Adanya korpus luteum akan merangsang uterus menghasilkan PGF 2 yang
berfungsi untuk regresi korpus luteum secara normal. Stimulasi uterus selama fase
permulaan siklus birahi mempercepat regresi korpus luteum dan menyebabkan estrus
dipercepat.
Uterus merupakan merupakan bagian saluran reproduksi yangmerupakan tempat
tumbuh dan berkembangnya embrio. Secara umum dikenal emapt jenis uterus yaitu tipe

dupleks, tipe bipartit,tipe bicornua, dan tipe simpleks. Uterus dupleks terdiri atas dua serviks
tanpa tubuh uterus, tanduk terpisah secara sempurna,misalnya uterus pada mencit, tikus, dan
kelinci. Uterus bipartit merupakan uterus yang memiliki satu serviks, tubuh uterusmencolok,
sebuah septum memisahkan kedua tanduk, misalnya uterus pada kucing, anjing, sapi, dan
domba. Uterus bicornua adalah uterus yang memiliki satu serviks, badan uterus sangat
kecildan hanya memiliki satu ruangan saja, misalnya uterus pada babi.Uterus bipartit dan
bicornua sama-sama memiliki dua tanduk uterus. Pada primata, termasuk manusia,
uterusnya

merupakanuterus

tipe

simpleks,

dimana

ovuductnya

langsung

berhubungandengan badan uterus, badan uterus sangat mencolok tanpa tanduk,misalnya


uterus pada primate.

Gambar Berbagai jenis uterus pada hewan dan manusia (Nalbandov, 1990) (1)
dupleks, (2) bikornua, (3) bipartite, dan (4) simpleks.
d; Serviks
Serviks adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke kaudal ke dalam
vagina. Serviks dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen yang merapat. Dindingnya
ditandai dengan berbagai penonjolan.
Pada ruminansia penonjolan-penojolan ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng
transversal dan saling menyilang disebut cincin-cincin annuler. Cincin-cincin ini sangat
nyata pada sapi (biasanya 4 buah) yang dapat menutup rapat serviks. Pada babi, cincin-

cincin tersebut tersusun dalam bentuk sekrup pembuka botol yang disesuaikan dengan
perputaran spiralis ujung penis babi jantan. Pada kuda, rongganya lurus dengan lipatan
memanjang berbentuk seperti corong sehingga mudah didilatasi secara manual.
Serviks berfungsi untuk mencegah masuknya mikroorganisme atau benda-benda
asing ke lumen uterus. Pada saat estrus, serviks akan terbuka sehingga memungkinkan
sperma memasuki uterus sehingga terjadi pembuahan serta menghasilkan cairan mucus
yang keluar melalui vagina. Pada saat hewan bunting, serviks menghasilkan sejumlah besar
mucus tebal yang dapat menutup atau menyumbat mati canalis servicalissehingga mencegah
masuknya materi infeksius ke dalam uterus serta mencegah fetus keluar. Sesaat sebelum
partus, penyumbat serviks mencair dan serviks mengalami dilatasi sehingga terbuka dan
memungkinkan fetus beserta selaputnya dapat keluar.
e; Vagina
Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak
di dalam rongga pelvis, dorsal dari vesica urinaria, dan berfungsi sebagai alat kopulatoris
(tempat deposisi semen dan menerima penis), serta sebagai tempat berlalu bagi fetus
sewaktu partus. Legokan yang dibentuk oleh penonjolan serviks ke dalam vagina
disebut fornix. Himen adalah suatu konstriksi sirkuler antara vagina dan vulva. Himen
dapat menetap dalam berbagai derajat pada semua spesies dari suatu pita sentral tipis dan
vertikal sampai suatu struktur yang sama sekali tidak tembus (himen imperforata).
2.1.1.2 Organ reproduksi jantan
Organ reproduksi hewan jantan dapat dibagi atas 3 komponen yaitu, organ kelamin
primer pada hewan jantan yaitu gonad jantan, dinamakan testis atau testikulus (jamak =
testes) disebut juga orchis atau didymos. Kelenjar kelamin yang biasa terdapat pada hewan
jantan terdiri dari: kelenjar Vesikularis, kelenjar Prostata, dan kelenjar Cowper, sedangkan
saluran salurannya terdiri dari epididimis, vas deferens, dan uretra. Dan alat kelamin bagian
luar atau organ kopulatoris (bagian yang digunakan saat intromisi) yaitu penis.
a; Testis
Organ kelamin primer atau testis berjumlah dua buah dan pada ternak mamalia
secara normal terdapat di dalam suatu kantong luar, disebut skrotum. Testis terletak pada
daerah prepubis, terbungkus kantong skrotum digantung oleh funiculus spermaticus yang
mengandung unsur-unsur yang terbawa oleh testis dalam perpindahannya dari cavum
abdominalis melaluicanalis inguinalis ke dalam skrotum.

Pada sapi jantan testis berbentuk oval memanjang dan terletak dengan sumbu
panjangnya vertikal di dalam skrotum, panjangnya mencapai 12--16 cm dengan diameter 6-8 cm. Setiap testis mempunyai berat 300--500 g, namun tergantung pada umur, berat badan,
dan bangsa sapi. Secara histologi, testis dibungkus oleh tunica albugenia. Pada tepi
proksimal testis, suatu penebalan dari tunica albugenia berjalan memasuki masa testis
disebut mediastinum. Dari mediastinum dilepaskan sekat-sekat (septula testis) yang masuk
ke dalam substansi testis dan membagi substansi tersebut menjadi beberapa lobuli (lobuli
testis).
Substansi atau parenkim testis yang terdapat di dalam lobuli testis terdiri dari
saluran-saluran kecil bergulung-gulung (tubuli seminiferi) yang menghasilkan spermatozoa.
Di antara tubuli, di dalam jaringan interstitial terdapat sel-sel datar dan poligonal yang
disebut sel-sel interstitial dari Leydig, yang menghasilkan androgen, hormon-hormon
kelamin jantan terutama testosteron.
Setiap tubulus mempunyai selaput dasar (membrana basalis) terdiri dari jaringan
ikat. Dengan permukaan membrana basalis sebagai dasarnya, terletak 2 macam sel, yaitu:
1; sel-sel bundar dan besar disebut spermatogonia (spermatophore, spermospore) atau
bakal sel-sel kelamin jantan,
2; sel-sel Sertoli atau sel-sel Sustentaculer yang menjurus ke arah centrum tubulus
dan disebut sel-sel penunjang. Selain untuk nutrisi, sel-sel sertoli dianggap
memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekor spermatozoa.
Testis sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi, yaitu: 1) menghasilkan
spermatozoa; 2) mensekresikan hormon kelamin jantan, testosteron. Spermatozoa dihasilkan
di dalam tubuli seminiferi atas pengaruh Follicle Stimulating Hormone (FSH), sedangkan
testosteron diproduksi oleh sel-sel interstitial dari Leydig atas pengaruh Interstitial Cell
Stimulating Hormone (ICSH).
Spermatozoa dihasilkan dari spermatogonia epitel germinalis di dalam tubuli
seminiferi. Sel spermatogonia akan melepaskan diri dari sel sekitarnya dan berubah bentuk
dan ciri-cirinya, kemudian melekat pada sel induk yang disebut sel Sertoli. Spermatozoa
akan melepaskan diri dari sel induk dan bebas berada dalam saluran tubuli menuju ke
saluran-saluran pengumpul.
Spermatozoa akan dialirkan dari tubuli seminiferi ke rete testis dan vasa eferentia
oleh tekanan di dalam tubuli ke epididimis, kemudian akan mendewasakan diri di dalam
epididimis. Adanya kontraksi di dalam epididimis mengakibatkan sperma akan dialirkan ke
kauda epididimis dan sperma mulai dapat bergerak dan mempunyai daya untuk membuahi

ovum. Spermatozoa diejakulasikan karena kontraksi otot, diawali dari vasa eferentia dan
diikuti seluruh saluran yang menuju keluar dan kelenjar pelengkap.
Hormon kelamin jantan bertanggung jawab untuk keinginan kelamin (libido) dan
perkembangan sifat-sifat kelamin sekunder. Pada sapi jantan terlihat pada tanduk yang berat,
bentuk badan depan, suara, dan sifat-sifat luar yang lain. Testosteron diperlukan untuk
mempertahankan intergritas otot tunika dartos dan epididimis, serta aktivitas kelenjarkelnjar kelamin pelengkap.
Kastrasi pada hewan jantan adalah penyingkiran sumber spermatozoa dan androgen.
Pengaruh fisik dan fisiologis dari kastrasi tergantung pada tingkatan perkembangan seksual
pada saat kastrasi. Pada hewan jantan dewasa yang dikastrasi masih tetap subur untuk waktu
yang singkat setelah kastrasi, yaitu sebelum androgen dimetabolizer sepenuhnya dan
sebelum spermatozoa si dalam vasa deferentia diresorbsi. Libido akan menghilang, organorgan kelamin pelengkap akan beregresi, dan sifat-sifat kelamin sekunder bertahan pada
tingkatan perkembangan pada saat kastrasi dilakukan. Sapi-sapi jantan yang dikastrasi
sebelum pubertas tidak pernah mengembangkan sifat-sifat kelamin sekunder, libido, dan
sifat agresifnya tidak terlihat.
b; Epididimis
Epididimis adalah suatu struktur memanjang yang bertaut rapat dengan testis.
Epididimis mengandung duktus (saluran) yang sangat berliku-liku (panjang 60 meter pada
babi dan 80 meter pada kuda). Epididimis dapat dibagi atas kepala (kaput epididimis), badan
(korpus epididimis), dan ekor (kauda epididmis). Kauda epididimis dapat teraba dari luar
sebagai suatu penonjolan yang jelas batasnya dan terletak paling rendah di dalam skrotum.
Epididimis mempunyai 4 fungsi utama,--pengangkutan, konsentrasi, maturasi, dan
penyimpanan spermatozoa dewasa-- dengan rincian sebagai berikut:
1; pengangkutan. Spermatozoa diangkut dari rete testis ke duktus deferens (vas
deferens). Perjalanannya dibantu oleh cilia (rambut getar) yang bergerak aktif
memukul ke arah luar dan gerakan peristaltik oleh dindingnya. Pengangkutan
sperma dari epitel kecambah sampai kauda epididimis memakan waktu 7--9 hari
pada sapi jantan (tergantung pada frekuensi ejakulasi),
2; konsentrasi. Suspensi sperma encer dengan konsentrasi 25--350 ribu sel/mm3, air
diresorbsi selama perjalanan terutama pada kaput, dan ketika mencapai kauda
konsentrasi menjadi 4 juta sel/mm3,
3; maturasi. Sperma menjadi matang di dalam epididimis dan sitoplasma (cytoplasmic
droplet) berpindah dari pangkal kepala (proximal droplet) ke ujung bawah bagian

tengah sperma (distal droplet). Pematangan ini dapat dicapai atas pengaruh sekresi
dari sel-sel epitel;
4; penyimpanan. Kauda epididimis dengan lumen duktus relatif lebih luas merupakan
tempat penyimpanan sperma dewasa. Konsentrasi sperma sangat tinggi. Kondisi di
dalam kauda epididimis adalah optimal untuk pertahankan kehidupan sperma yang
berada dalam keadaan metabolisme sangat minim. Apabila epididimis sapi diikat,
sperma akan tetap hidup dan fertil di dalam epididimis sampai 60 hari.
c; Vas deferens dan Ampula
Vas deferens atau duktus deferens mengangkut sperma dari kauda epididimis ke
uretra. Dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam pengangkutan semen
sewaktu ejakulasi. Diameter mencapai 2 mm dan konsistensi seperti tali. Dekat kauda
epididimis, vas deferens berliku-liku dan berjalan sejajar dengan korpus epididimis. Dekat
kaput epididimis, vas deferens menjadi lemas dan bersama pembuluh darah dan limfe serta
serabut syaraf membentuk Funiculus Spermaticus yang berjalan melalui canalis inguinalis
ke dalam cavum abdominalis.
Kedua vas deferens yang terletak sebelah menyebelah di atas Vesica urinaria, lambat
laun menebal dan membesar membentuk ampulla duktus deferentis. Pada sapi ampula
berkembang dengan baik; tidak terdapat pada anjing dan kucing, serta pada babi kecil.
Kelenjar ampula mensekresikan fruktosa dan asam sitrat ke duktus deferentia. Ampula dapat
diurut secara manual dengan manipulasi rektum untuk memperoleh semen.
d; Glandula Vesicularis
Kelenjar ini dulu disebut Vesicula Seminalis. Pada sapi terdapat sepasang jelas
lobulasinya dan berada di dalam lipatan urogenital lateral dari ampula. Kelenjar vesikularis
berbeda-beda dalam ukuran dan lobulasi antar individu hewan. Pada sapi kelenjar ini
berukuran panjang 10--15 cm dan diameter 2--4 cm. Sekresi kelenjar vesicularis
membentuk 50 % dari volume ejakulat normal. Sekresi kelenjar ini bersifat keruh dan
lengket, berisi protein, kalium, asam sitrat, fruktosa, dan beberapa enzim. Biasanya sekresi
kelenjar ini bermuara dengan duktus deferens melalui bermacam-macam duktus ejakulatori
ke dalam uretra bagian pelvis kemudian ke kaudal leher vesica urinaria.
e; Glandula Prostata dan Cowper
Kelenjar prostata sapi mengelilingi uretra dan terdiri dari dua bagian: badan Prostata
(Korpus prostatae) dan prostata desseminata atauprostata Cryptik (pars desseminata
prostata).

Kelenjar Cowper (glandula bulbouretralis) terdapat sepasang, bundar, kompak,


berselubung tebal dan pada sapi lebih kecil dari kuda. Kelenjar ini terletak di atas uretra
dekat jalan keluarnya dari cavum pelvis. Sekresi kelenjar ini bersifat apokrin (bagian tengah
sitoplasma sel ditransformasi menjadi sekresi). Cairan yang menetes dari preputium sapi
sebelum penunggangan adalah sekresi kelenjar Cowper dan Prostata. Fungsinya
kemungkinan besar adalah untuk membersihkan dan menetralisir uretra dari bekas urin dan
kotoran lain sebelum ejakulasi. Cairan sekresi ini bebas dari sperma.
f; Uretra
Uretra masculinus atau canalis urogenetalis adalah saluran ekskretori bersama antara
urine dan semen. Uretra membentang dari daerah pelvis ke penis dan berakhir pada ujung
glans sebagai orificium urethra externa. Uretra dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu
bagian pelvis, bulbus uretra, dan bagian penis.
Sebelum terjadi ejakulasi, konsentrasi sperma dari ampula bercampur dengan cairancairan kelenjar pelengkap pada uretra bagian pelvis. Colliculus seminalis, merupakan
penonjolan pada bagian kaudal leher vesica urinaria yang berfungsi menutup leher vesica
urinaria pada saat terjadi ejakulasi dan mencegah masuknya semen ke dalam vesica urinaria
atau mencegah bercampurnya semen dengan urine.
g; Preputium
Merupakan suatu invaginasi berganda dari kulit dan menyelubungi bagian bebas dari
penis pada waktu tidak ereksi serta badan penis kaudal pada saat ereksi. Orificium
preputii merupakan pintu luar preputium. Permukaan luar merupakan kulit yang agak khas,
sedangkan bagian dalam adalah selaput lendir yang berlipat-lipat dan mengandung kelenjar
tubuler yang menghasilkan sekresi berlemak. Sekresi berlemak ditambah sel epitel yang
lepas dan kuman-kuman yang ada akan membentuk substansi yang disebut smegma
preputii. Preputium tersusun oleh 2 otot yaitu protactor (praeputialis cranialis) dan otot
retractor (praeputialis kaudalis) yang berfungsi menarik orificium preputialis ke depan atau
ke belakang.
Terdapat tiga jenis mamalia, yaitu monotremata, marsupial, dan plasental, dan
semuanya terjadi melalui fertilisasi internal. Monotremata adalah mamalia yang bertelur.
Mamalia marsupial melahirkan bayi yang belum berkembang baik; perkembangan
utamanya terjadi di luar rahim. Pada mamalia plasental, bayi yang lahir merupakan individu
dengan organ tubuh yang lengkap dan berfungsi kecuali organ seksual.

2.1.2;Organ Reproduksi Eksternal


2.1.2.1;
Organ Reproduksi Betina
Alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vulva terdiri dari labia majora,
labia minora, commisura dorsalis dan ventralis, serta klitoris. Pertemuan antara vagina dan
vestibulum ditandai oleh muara uretra eksterna (orificium urethrae externa). Pada sapi dan
babi terdapat kantong buntu disebut diverticulum suburethrae yang terletak pada bagian
bawah dari permuaraan uretra. Selama proses partus berlangsung, vestibulum berfungsi
untuk tumpuan pertautan bagi seluruh saluran kelamin yang berkontraksi sewaktu
mengeluarkan fetus.
Labia atau bibir vulva secara normal selalu dekat berdampingan, tidak menganga,
dan lubang vulva terletak tegak lurus terhadap lantai pelvis. Labia minora adalah bibir yang
lebih kecil dengan jaringan ikat di dalamnya dan mengandung kelenjar Sebaceous. Antara
celah vulva dan anus terdapat perineum yaitu kulit yang terdiri dari jaringan ikatdan urat
daging yang dapat sobek bila melahirkan anak yang terlalu besar.
Commisura ventralis menutupi klitoris, suatu struktur yang homolog dan mempunyai
asal embriologik yang sama dengan penis. Klitoris terdiri dari jaringan erektil yang
diselubungi oleh epithel squamous bersusun dan mengandung cukup banyak ujung-ujung
syaraf sensoris.
2.1.2.2;
Organ reproduksi jantan
a; Skrotum
Testis ternak dewasa terdapat dalam suatu kantong luar disebut skrotum, kecuali
pada babi dan kucing, skrotum pada semua hewan peliharaan terletak diantara kedua paha.
Pada kedua hewan tersebut pertama, skrotum terletak kaudal dari paha dan kaudoventral
dari arcus ischiadicus di bagian luar.
Skrotum terdiri dari kulit yang tidak berbulu, kecuali pada domba dan kambing, dan
banyak mengandung kelenjar keringat (gld. Sudorifera) dan kelenjar minyak (gld. Sebacea).
Garis pertemuan kulit dibagian tengah yang membatasi testis kiri dan kanan disebut Raphe
scrota. Pemberian darah utama bagi skrotum adalah melalui arteri pudenda externa dan pada
babi dan kucing juga arteri pudenda interna. Skrotum diinervasi oleh nervus Genitalis yang
merupakan cabang dari nevus Genitofemoralis.
Skrotum berfungsi menunjang dan melindungi testis serta epididimis dan
mempertahankan suhu yang lebih rendah daripada suhu badan yang diperlukan untuk
spermatogenesis. Suhu testis relatif konstan, 4 0C sampai 7 0C di bawah suhu tubuh. Pada

hewan jantan normal, suhu tersebut dipertahankan oleh fungsi termoregulatoris otot tunika
dartos. Apabila suhu lingkungan menurun maka otot akan berkontraksi sehingga menarik
skrotum dan membawa testis mendekati tubuh yang hangat. Apabila suhu lingkungan tinggi
maka otot akan mengendor sehingga membiarkan skrotum memanjang dan menjauhi testis
dari kehangatan tubuh. Mekanisme termoregulasi mulai terjadi setelah hewan mengalami
pubertas dan dipengaruhi oleh hormon testikuler.
Faktor lain yang membantu pendinginan dan pemanasan darah arterial yang menuju
testis adalah mekanisme pertukaran panas yang dipengaruhi oleh posisi arteri testikuler dan
plexus venous pampiniformis sekelilingnya, yang hanya sedikit dipisahkan oleh tenunan
pengikat di dalam funiculus spermaticus. Pendinginan atau pemanasan darah arterial yang
menuju testis tergantung pada suhu lingkungan. Apabila suhu lingkungan terlampau tinggi
sehingga perbedaan suhu abdomino testikuler tidak dapat dipertahankan untuk
spermatogenesis normal, terjadilah degenerasi jaringan spermatogenik. Kegagalan kerja
termoregulatoris merupakan penyebab kemajiran pada hewan Cryptorchid (testis tidak turun
ke skrotum), tetapi aktivitas sel-sel Leydig mensekresikan hormon kelamin jantan tetap
berjalan.
b; Penis
Penis adalah organ kopulatoris hewan jantan yang mempunyai tugas ganda yaitu
pengeluaran urine dan peletakan semen ke dalam saluran reproduksi hewan betina. Penis
terdiri dari akar, badan, dan ujung bebas yang berakhir pada glans penis. Akar
penis dibentuk oleh dua cabang krura penis kiri dan kanan yang mempertautkan penis pada
kedua sisi arcus ischiadicus, kemudian bersatu membentuk badan penis. Badan penis terdiri
dari korpus cavernosa penis yang relatif besar dan diselubungi selubung fibrosa berwarna
putih, tunica albugenia. Pada bagian ventral tersusun ataskorpus cavernosa urethra dengan
struktur yang lebih kecil dan menelilingi uretra. Kedua korpora tersebut bersifat seperti spon
dan berongga-rongga, yang merupakan kapiler yang sangat membesar dan bersambung
dengan vena penis. Glans penis terletak bebas di dalam preputium dan bervariasi antar
spesies. Pada kuda dan domba mempunyai bagian uretra yang bebas dan disebut procesus
uretralis. Pada sapi dan domba mempunyai glan berbentuk seperti helm disebut galea
glandis dan uretra eksternal berlubang. Pada anjing terdiri dari pars longa glandis dan
bulbus glandis yang mengelilingi os penis.
Penis sapi termasuk dalam tipe fibroelastik dan bersifat agak kaku walaupun dalam
keadaan tidak ereksi. Sebagian besar badan penis pada keadaan tidak ereksi berbentuk huruf

S (Flexura Sigmoidea) yang berada disebelah dorsokaudal skrotum. Selama ereksi bentuk S
menghilang, penis melurus karena relaksasi musculus retractor penis, sehingga penis
menonjol keluar dari preputium. Pada kuda, penisnya bersifat vaskuler-muskuler yang
mengandung banyak jaringan kavernosa sehingga pada waktu ereksi penis sangat besar dan
panjang. Pada anjing, bulbus glandis merupakan tempat muara darah sesudah penis masuk
vagina sehingga akan sulit keluar sampai ereksi menurun.
Otot yang berfungsi untuk membantu penis berkontraksi yaitu:
1; otot bulbocavernosus/bulbospongiosus, membentang dari arcus ischiadicus ke
glans penis, merupakan kelanjutan otot uretralis di luar pelvis, berfungsi
mengosongkan uretra ekstrapelvis,
2; otot ischiocavernosus, sepasang otot yang berasal dari tuber ischii dan
ligamentum sacroischiadicus yang bertaut pada krura dan korpus penis, berfungsi
membantu ereksi dengan menutup banyak aliran vena dari pelvis dan
menarikpenis ke arah dorsokranial melawan tulang pelvis.
Otot retraktor penis, otot yang bertaut pada vertebre coccygeus I dan II, berpisah dan
bertemu kembali di bawah anus. Membentang sepanjang permukaan ventrokaudal penis dan
bertaut pada tunika albugenia penis. Berfungsi menarik kembali penis ke dalam preputium
sesudah ejakulasi dan mempertahankan penis pada keadaan tidak ereksi.
2.2; Reproduksi
Terdapat tiga jenis mamalia, yaitu monotremata, marsupial dan plasental, dan
semuanya terjadi melalui fertilisasi internal. Monotremata adalah mamalia yang bertelur.
Mamalia marsupial melahirkan bayi yang belum berkembang baik, perkembangan
utamanya terjadi di luar rahim. Pada mamalia plasental, bayi yang lahir merupakan individu
dengan organ tubuh yang lengkap dan berfungsi kecuali organ seksual.
Platipus digolongkan dalam mamalia monotremata. Platipus menelurkan telur tang
mirip dengan telur reptil, dan sedikit lebih bundar daripada telur burung. Platipus betina
biasanya menelurkan dua telur pada saat bersamaan. Walaupun terkadang memungkinkan
platipus betina menelurkan satu atau tiga telur. Periode inkubasinga dibagi menjadi tiga
bagian yaitu:

Tahap pertama, embrio tidak memiliki satupun organ fungsional dan bergantung pada

kantung merah telur untukbernafas.


Tahap kedua jari-jari kaki mulai muncul.
Tahap ketiga gigi muncul.

Telur menetas sesuai periode inkubasi yang berlangsung sekitar 10 hari. Setelah telur
menetas, keluarlah bayi platipus tidak berambut yang langsung melekat pada induknya.
Sang induk kemudian menyusui anaknya yang peka dan buta. Bayi platipus akan
meninggalkan sarangnya setelah berusia 17 minggu. Organ reproduksi platipus mirip
dengan aves karena ovarium kanan tidak tumbuh sempurna.
Mamalia marsupial dan plasental tidak bertelur seperti mamalia monotremata.
Mamalia jantan dan memiliki alat kelamin luar, sehingga pembuahan bersifat internal.
Sebelum terjadi pembuahan internal, mamalia jantan mengawini mamalia betina. Sperma
yang dihasilkan testis disalurkan melalui vas deferens yang bersatu dengan ureter. Sperma
yang telah masuk kedalam serviks akan bergerak menuju uterus dan oviduk untuk mencari
ovum. Ovum yang telah dibuahi sperma akan membentuk zigot yang selanjutnya akan
menempel pada dinding uterus. Zigot akan berkembang menjadi embrio dan fetus. Selama
pertumbuhan dan perkembangan zigot menjadi fetus, zigot membutuhkan banyak zat
makanan dan oksigen yang diperoleh dari uterus induk dengan perantara plasenta dan tali
pusar.

BAB III
PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
Mammalia merupakan hewan vertebrata yang tubuhnya tertutup rambut. Hewan
Mammalia betina memiliki kelenjar mamae (susu) yang berkembang atau tumbuh dengan
baik, anggota gerak depan dapat bermodifikasi untuk berlari dan pada kulit terdapat banyak
kelenjar keringat dan kelenjar minyak. Hewan mamalia juga mengalami fertilisasi internal,
lubang genital dan anus terpisah, ada organ intromitten (penis), telur tidak bercangakang,
dikandung dalam uterus (oviduk). Hewan mamalia betina memiliki organ reproduksi primer
dan sekunder. Organ reproduksi primer yaitu ovarium. Ovarium menghasilkan ova (sel
telur) dan hormon-hormon kelamin betina. Organ reproduksi sekunder atau saluran
reproduksi terdiri dari oviduk, uterus, serviks, vagina, dan vulva. Fungsi organ-organ
reproduksi sekunder menerima, menyalurkan, dan menyatukan sel-sel kelamin jantan dan
betina, memberi lingkungan, memberi makan, melahirkan individu baru. Alat-alat kelamin
dalam digantung oleh ligamentum lata. Ligamentum ini terdiri dari mesovarium
(penggantung

ovarium),

mesosalpink

(penggantung

oviduk),

dan

mesometrium

(penggantung uterus). Organ reproduksi hewan jantan dapat dibagi atas 3 komponen yaitu,
organ kelamin primer pada hewan jantan yaitu gonad jantan, dinamakan testis atau
testikulus (jamak = testes) disebut juga orchis atau didymos. Kelenjar kelamin yang biasa
terdapat pada hewan jantan terdiri dari: kelenjar Vesikularis, kelenjar Prostata, dan kelenjar
Cowper, sedangkan saluran salurannya terdiri dari epididimis, vas deferens, dan uretra. Dan
alat kelamin bagian luar atau organ kopulatoris (bagian yang digunakan saat intromisi) yaitu
penis. Terdapat tiga jenis mamalia, yaitu monotremata, marsupial dan plasental, dan
semuanya terjadi melalui fertilisasi internal. Monotremata adalah mamalia yang bertelur.
Mamalia marsupial melahirkan bayi yang belum berkembang baik, perkembangan
utamanya terjadi di luar rahim. Pada mamalia plasental, bayi yang lahir merupakan individu
dengan organ tubuh yang lengkap dan berfungsi kecuali organ seksual.
3.2;Saran
Sebaiknya makalah dibaca secara seksama dan telititi agar mudah di mengerti,
sehingga pemahaman yang didapatkan lebih bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA
http://tabangang.blogspot.com/2013/12/organ-reproduksi-jantan-dan-betina.html (Diakses
pada hari sabtu, 29 November 2014 pada pukul 20.00 wita)
http://biologikitakelompok8.blogspot.com/2013/12/reproduksi-mamalia.html (Diakses pada
hari sabtu, 29 November 2014 pada pukul 20.05 wita)
http://niayulianty.blogspot.com/2013/04/anatomi-dan-fungsi-organ-reproduksi.html
(Diakses pada hari sabtu, 29 November 2014 pada pukul 20.30 wita)
http://www.scribd.com/doc/9680551/MONOTREMATA (Diakses pada hari sabtu, 01
Desember 2014 pada pukul 20.00 wita)
http://penapun-tertoreh.blogspot.com/2010/04/reproduksi-mamaliatikus-dan-aves.html
(Diakses pada hari sabtu, 04 Desember 2014 pada pukul 13.00 wita)