Anda di halaman 1dari 10

Agung Pandu W.

09700308
Demam Berdarah Dengue

Pengertian Demam Berdarah


Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue,
yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya
Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun
berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus dengue merupakan virus dari
genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis
dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembap. Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi
virus dengan Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan
virus dari famili Flavivirida. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan
penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari
empat jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda. Sistem imun
yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama justru akan mengakibatkan
kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang
dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus
yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk.
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya, yaitu
nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus. Aedes aegypti
adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat
membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut.
Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat
mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya. Nyamuk betina juga
dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta

dapat pula berperan sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor
nyamuk.
Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang
memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu, risiko demam
berdarah juga lebih tinggi pada wanita, seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun, atau
seseorang yang berasal dari ras Kaukasia.
Manifestasi Klinis
Infeksi virus dengue dapat bermanifestasi pada beberapa luaran, meliputi demam biasa,
demam berdarah (klasik), demam berdarah dengue (hemoragik), dan sindrom syok dengue.
A. Demam berdarah (klasik)
Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda tergantung usia
pasien. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya
ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam
tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan
muntah, serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia)
dan penurunan keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat
diobservasi pada pasien demam berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan
pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing
berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi (menorrhagia).
B. Demam berdarah dengue (hemoragik)
Pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) biasanya menunjukkan gejala
seperti penderita demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam
tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran
hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh
limfa, pendarahan dibawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan,
trombositopenia, dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada
pasien DBD. Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus
membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah. Fase
kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh
yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan

darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh
dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan
kematian.
C. Sindrom Syok Dengue
Sindrom syok adalah tingkat infeksi virus dengue yang terparah, di mana pasien akan
mengalami sebagian besar atau seluruh gejala yang terjadi pada penderita demam berdarah
klasik dan demam berdarah dengue disertai dengan kebocoran cairan di luar pembuluh
darah, pendarahan parah, dan syok (mengakibatkan tekanan darah sangat rendah), biasanya
setelah 2-7 hari demam. Tubuh yang dingin, sulit tidur, dan sakit di bagian perut adalah
tanda-tanda awal yang umum sebelum terjadinya syok. Sindrom syok terjadi biasanya pada
anak-anak (kadangkala terjadi pada orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue untuk
kedua kalinya. Hal ini umumnya sangat fatal dan dapat berakibat pada kematian, terutama
pada anak-anak, bila tidak ditangani dengan tepat dan cepat] Durasi syok itu sendiri sangat
cepat. Pasien dapat meninggal pada kurun waktu 12-24 jam setelah syok terjadi atau dapat
sembuh dengan cepat bila usaha terapi untuk mengembalikan cairan tubuh dilakukan dengan
tepat. Dalam waktu 2-3 hari, pasien yang telah berhasil melewati masa syok akan sembuh,
ditandai dengan tingkat pengeluaran urin yang sesuai dan kembalinya nafsu makan.

Gambaran Klinis
1. Masa inkubasi biasanya berkisar antara 4 7 hari.
2. Demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2 7 hari. Panas dapat turun
pada hari ke-3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 panas mendadak
turun.
3. Tanda-tanda perdarahan
o

Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji
Tourniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi
perdarahan sebagai berikut: Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan konjungtiva,

Epistaksis, Pendarahan gusi, Hematemesis, Melena dan Hematuri. Petekie sering sulit
dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk.
o

Untuk membedakannya regangkan kulit, jika hilang maka bukan petekie. Uji
Tourniquet positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai sebagai presumptif
test (dugaan keras) oleh karena uji Tourniquet positif pada hari-hari pertama demam
terdapat pada sebagian besar penderita DBD. Namun uji Tourniquet positif dapat juga
dijumpai pada penyakit virus lain (campak, demam chikungunya), infeksi bakteri
(Typhus abdominalis) dan lain-lain. Uji Tourniquet dinyatakan positif, jika terdapat 10
atau lebih petekie pada seluas 1 inci persegi (2,52,5 cm) di lengan bawah bagian
depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).

4. Pembesaran hati (hepatomegali)


o

Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit

Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit

Nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus.

5. Renjatan (syok)
o

Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki

Penderita menjadi gelisah

Sianosis di sekitar mulut

Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba

Tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang.

6. Trombositopeni
o

Jumlah trombosit 100.000/l biasanya ditemukan diantara hari ke 3 7 sakit

Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bag. Hemokonsentrasi


(peningkatan hematokrit)

Peningkatnya nilai hematokrit (Ht) menggambarakan hemokonsentrasi selalu


dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka terjadinya perembesan plasma,
sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala.

Pada umumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan hematokrit.


Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit > 20% (misalnya 35% menjadi
42% : 35/100 x 42 = 7, 35+7=42), mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler
dan perembesan plasma. Perlu mendapat perhatian, bahwa nilai hematokrit
dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan. Penurunan nilai hematokrit
>20% setelah pemberian cairan yang adekuat, nilai Ht diasumsikan sesuai nilai
setelah pemberian cairan.

7. Gejala klinik lain


o

Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot,
anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan kejang

Pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan


kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis

Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan

gastrointestinal dan renjatan.


Diagnosis
Penyakit demam berdarah didiagnosis dengan melihat gejala yang muncul, seperti
demam tinggi dan munculnya ruam. Namun, karena gejala penyakit demam berdarah
kadangkala sulit dibedakan dengan penyakit malaria, leptospirosis, maupun demam tifoid maka
biasanya pekerja medis atau dokter akan terlebih dahulu mengecek sejarah kesehatan dan
perjalanan pasien untuk mencari informasi kemungkinan pasien tergigit nyamuk. Selain itu
untuk mendapatkan ketepatan diagnosis yang lebih tinggi umumnya dilakukan berbagai uji
laboratorium. Beberapa tes yang biasanya dilakukan adalah studi serologi untuk mengetahui

ada tidaknya antibodi terhadap virus dengue di tubuh pasien, menghitung titer antibodi terhadap
virus dengue, dan penghitungan sel darah lengkap (sel darah merah, sel darah putih, dan
trombosit). Selain itu, uji laboratorium lain yang dapat dilakukan adalah uji inhibisi
hemaglutinasi, uji ELISA, dan reaksi berantai polimerase reverse transcriptase untuk
mendeteksi antigen, antibodi, atau asam nukleat spesifik terhadap virus dengue. Uji-uji tersebut
dapat memakan waktu beberapa hari. Uji ELISA dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya
interaksi antigen dan antibodi terhadap virus dengue.
Pencegahan
Pengasapan atau fogging bermanfaat membunuh nyamuk Aedes dewasa untuk mencegah
penyebaran demam berdarah. Hingga kini, belum ada vaksin atau obat antivirus bagi penyakit
ini. Tindakan paling efektif untuk menekan epidemi demam berdarah adalah dengan mengontrol
keberadaan dan sedapat mungkin menghindari vektor nyamuk pembawa virus dengue.
Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang
tepat, yaitu:

Lingkungan
Pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan mengendalikan vektor
nyamuk, antara lain dengan menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya
sekali seminggu, mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu
sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas,
aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah, dan perbaikan desain rumah.

Biologis
Secara biologis, vektor nyamuk pembawa virus dengue dapat dikontrol dengan
menggunakan ikan pemakan jentik dan bakteri.

Kimiawi
Pengasapan (fogging) dapat membunuh nyamuk dewasa, sedangkan pemberian
bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air dapat membunuh jentik-jentik
nyamuk. Selain itu dapat juga digunakan larvasida.

Selain itu oleh karena nyamuk Aedes aktif di siang hari beberapa tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan senyawa anti nyamuk yang
mengandung DEET, pikaridin, atau minyak lemon eucalyptus, serta gunakan pakaian
tertutup untuk dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk bila sedang beraktivitas di
luar rumah. Selain itu, segeralah berobat bila muncul gejala-gejala penyakit demam
berdarah sebelum berkembang menjadi semakin parah.
Pengobatan
Obat yang mengandung acetaminofen, misalnya tilenol, sangat disarankan bagi penderita
demam berdarah untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam. Sampai saat ini belum ada
obat spesifik bagi penderita demam berdarah. Banyak orang yang sembuh dari penyakit ini
dalam jangka waktu 2 minggu Tindakan pengobatan yang umum dilakukan pada pasien demam
berdarah yang tidak terlalu parah adalah pemberian cairan tubuh (lewat minuman atau
elektrolit) untuk mencegah dehidrasi akibat demam dan muntah, konsumsi obat yang
mengandung acetaminofen (misalnya tilenol) untuk mengurangi nyeri dan menurunkan demam
serta banyak istirahat. Aspirin dan obat anti peradangan nonsteroidal seperti ibuprofen dan
sodium naproxen justru dapat meningkatkan risiko pendarahan. Bagi pasien dengan demam
berdarah yang lebih parah, akan sangat disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit,
pemberian infus dan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh, serta transfusi darah akibat
pendarahan yang terjadi.
Sebagai terapi simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol, serta obat
simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi
nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna
bagaian atas (lambung/duodenum). Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama
penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO. Protokol
ini terbagi dalam 5 kategori, sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Penanganan tersangka DBD tanpa syok (gambar 4).


Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat (gambar 5).
Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20% (gambar 6).
Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa.
Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa (gambar 7).

Gambar 4. Penanganan tersangka DBD tanpa syok

Gambar 5. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat

Gambar 6. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%

Gambar 7. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa