Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN MK.

EKOLOGI PERTANIAN (AGH320)


KUNJUNGAN BIOFARMAKA IPB
KELOMPOK 16
Rizki Utami Novianti

A24130057

Hafidz Ahmad Basrowi

A24130103

Eneng Fachrunnisa

A24130149

Ikhsan Maulana

A24130197

Asisten :
Abil Dermail

A24120003
Dosen :

Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS


Prof. Dr. Ir. Sandra Arifin Aziz, MS
Dr. Ir. Maya Melati, MS, MSc
Hafith Furqoni, SP, Msi

DEPARTEMEN AGGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah,
diantaranya kekayaan akan beraneka ragam tumbuhan. Sebagian dari tumbuhan
tersebut ada yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dijadikan obat
tradisional, karena mengandung satu atau beberapa zat aktif yang dapat mengobati
penyakit tertentu. Tanaman-tanaman yang memiliki fungsi seperti itu biasa disebut
sebagai tanaman obat.
Sama seperti tumbuhan lainnya, tanaman obat juga membutuhkan
berbagai komponen faktor yang dapat menunjangnya agar tumbuh dengan baik.
Faktor tumbuhnya mencangkup faktor biotik maupun abiotik yang dapat dilihat
dari ekosistem tumbuhnya. Lingkungan tumbuh yang tidak sesuai akan
mengurangi kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan tanaman obat baik ripang,
daun, maupun batangnya. Setiap tanaman obat memiliki kebutuhan lingkungan
tumbuh yang berbeda-beda. Lingkungan tumbuh yang dimaksud meliputi tanah,
iklim maupun curah hujan.
Penggunaan obat tradisional meningkat karena beberapa faktor (Salan
2009) yaitu: 1) Umumnya, harga obat-obatan buatan pabrik yang sangat mahal,
sehingga masyarakat mencari alternatif pengobatan yang lebih murah; 2) Efek
samping yang ditimbulkan oleh obat tradisional sangat kecil dibandingkan dengan
obat modern. Kebanyakan masyarakat hanya membudidayakan tanaman obat
yang mereka ketahui saja. Padahal masih banyak sekali tumbuhan yang memiliki
khasiat sebagai obat dan belum dimanfaatkan karena masyarakat belum
mengetahui khasiatnya juga familiar terhadap tanaman tersebut. Sehingga khasiat
tanaman tersebut menjadi rendah dan diabaikan begitu saja karena dianggap tidak
bernilai atau bermanfaat.

Tujuan
Mengenal dan mendeskripsikan berbagai jenis tanaman obat, komponen
biotik dan abiotik pada ekosistem tanaman obat serta teknik budidaya yang
diterapkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengembangan agroindustri tanaman obat di Indonesia memiliki prospek
yang baik. Indonesia memiliki lebih dari 9.609 spesies tanaman yang memiliki
khasiat sebagai obat ( Wasito 2008). Menurut Syukur dan Hernani (2003), sekitar
26% telah dibudidayakan, dan sisanya 74% tumbuhan liar di hutan-hutan. Dari
yang telah dibudidayakan, lebih dari 940 jenis digunakan sebagai obat tradisional.
Jenis tanarnan terdapat di Indonesia yang dapat dirnanfaatkan sebagabi
ahano baty aitu mnbi (tuber), akar (radix), batang (ligna), daun (folia), bunga
(fructus), biji (semen), tanalnan (herb), dan sebagainya. Namun sebagian besar
dimanfaatkan, tidak hanya untuk kepentingan ekspor, tetapi juga mendorong
produksi obat-obatan dalam negeri.
Badan POM (2005) mendefinisikan obat tradisional adalah bahan atau
ramuan berupa bahan tumbuhan, bahan mineral, sediaan sari atau campuran dari
bahan-bahan tersebut digunakan secara turun temurun untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Ada 9 tanaman obat unggulan nasional sampai ketahap
klinis yaitu : salam, sambiloto, kunyit, jahe merah, jati belanda, temulawak, jambu
biji, cabe jawa dan mengkudu.
Peningkatan konsumsi obat tradisional di Indonesia semakin meningkat,
hal ini dapat dilihat dari perkembangan industri obat tradisional yang terus
berkembang dari tahun ke tahun. Pada tahun 1997 di Indonesia terdapat 429 buah
IKOT dan 20 buah Industri Obat Tradisional (IOT). Pada tahun 1999, meningkat
menjadi 833 buah IKOT dan 87 buah IOT (Wasito 2008).
Pemanfaatan tanaman obat secara langsung dapat memperbaiki status gizi,
sarana pemarataan pendapatan, sarana pelestarian alam, serta sarana gerakan
penghijauan dan keindahan. Ramuan obat tradisional bersifat konstruktif sehingga
hasil optimal bila herbal dikonsumsi secara rutin, jadi tidak cocok untuk
pengobatan penyakit yang akut. Akan tetapi kelemahan dari obat tradisional juga
ada yaitu sampai saat ini bahan baku belum terstandarisasi dan tidak semua bahan
atau ramuan telah teruji secara klinis atau pra-klinis. Ramuan obat tradisional
bersifat higrokospis dan volumnies akibatnya mudah tercemar berbagai jenis
mikroorganisme ( Lestrari 2008).

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu
Tempat dan Waktu
Praktikum Ekologi Pertanian dilaksanakan pada hari Rabu, 09 September
2015 pukul 07.00 - 10.00 WIB di Kebun Biofarmaka, Cikabayan Bawah.
Bahan dan Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum identifikasi komponen ekosistem
tanaman obat adalah buku catatan, alat tulis dan kamera.
Metode
Mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok besar untuk bergantian
mengunjungi empat lokasi, yaitu lokasi display (kelompok tanaman yang umum
dimanfaatkan masyarakat), lokasi konservasi (kelompok tanaman tahunan), lokasi
pembibitan (kelompok tanaman di pembibitan) dan lokasi produksi (kelompok
tanaman di lahan produksi). Mahasiswa mengidentifikasi berbagai jenis tanaman
obat pada empat lokasi tersebut dan melakukan pengamatan morfologi (keragaan
tanaman) dan lingkungan tumbuh tanaman (biotik dan abiotik). Setelah itu
mahasiswa wajib mencatat dan mendokumentasi tanaman obat yang diamati.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah media tanam.
Penggunaan media tanam yang tepat akan memberikan kondisi lingkungan yang
optimal bagi pertumbuhan tanaman. Media tanam yang baik memiliki
kemampuan menyediakan air dan udara yang optimum. Menurut Thompson dan
Troeh (1978) komposisi tekstur, struktur dan kandungan bahan organik di dalam
suatu media menentukan baik tidaknya suatu media tanam. Hartman dan Kester
(1983) menambahkan bahwa media tanam yang ideal harus memiliki syarat
mempunyai aerasi dan drainase yang baik kelembaban cukup, bebas dari
organisme dan bahan berbahaya, cukup hara dan bobot ringan.
Menurut Ingels (1985) media tanam yang tepat merupakan salah satu
syarat keberhasilan budidaya tanaman khususnya budidaya dalam wadah.
Keberhasilan pertumbuhan tanaman ditentukan oleh 13 perkembangan akarnya.
Akar tanaman hendaknya berada pada suatu lingkungan yang mampu memberikan
pendukung struktural, memungkinkan absorbsi air dan ketersediaan nutrisi yang
memadai. Selain itu, media tanam memungkinkan drainase dan pH yang baik bagi
tanaman. Dalam penelitian ini digunakan 3 macam media tanam yaitu arang
sekam, kompos dan pasir.
Lokasi Pembibitan
Terdapat naungan pada areal pembibitan, Fungsi naungan pada bibit
sewaktu kecil adalah untuk mengatur cahaya sinar matahari yang masuk ke
pembibitan hanya berkisar antara 30-60% saja, menciptakan iklim mikro yang
ideal atau baik bagi pertumbuhan awal bibit, menghindarkan bibit dari sengatan
matahari langsung yang dapat membakar daun-daun yang masih muda, dan
menurunkan suhu tanah pada disiang hari, memelihara kelembaban tanah,
mengurangi derasnya curahan air hujan dan hemat penyiraman air (Nugrojo, dkk.,
2006). Penataan bibit dalam lokasi pembibitan juga
1. Sambiloto (Andrographis pani-culata Nees)
Merupakan herba berkayu, pada pangkal sering bercabang, berakar kuat, tinggi
0,4-1,5 m batang berambut, pendek bertangkai daun berbentuk baji diatas pangkal
yang bertepi rata, bergerigi kasar dapat berbunga 6 dan terkumpul menjadi tandan

ujung. Daun pelindung kecil. Tangkai bunga pendek, Kelopak berambut pendek
panjang 5,5-7,5mm, taju atau hampir sampai pangkal tabung berakhir dengan 2
rusuk, bulat telur terbalik dan lebih lebar dari taju lainya, taju samping dengan
ujung runcing ungu, kedua mahkota berbibir 2, bawah lurus menjulang kedepan,
kepala sari berwarna ungu. Bakal buah gundul, kelopak buah kurang lebih
panjangnya 1cm, buahnya keras memanjang, berkerut halus (Van Steenis 1947).
Tumbuhan sambiloto memiliki daya adaptasi pada lingkungan ekologi
setempat. Tumbuhan tersebut terdapat di seluruh Nusantara karena dapat tumbuh
dan berkembang baik pada berbagai topografi dan jenis tanah. Tumbuh baik pada
curah hujan 2.000 3.000 mm tahun-1, suhu udara 25-320C serta kelembaban yang
dibutuhkan antara 70 90 %. Tumbuhan sambiloto dapat tumbuh pada semua
jenis tanah, ialah yang subur, mengandung banyak humus, tata udara dan
pengairan yang baik. Sambiloto tumbuh optimal pada pH tanah 6 7 (netral).
Pada tingkat kemasaman tersebut, unsur hara yang dibutuhkan tanaman cukup
tersedia dan mudah diserap oleh tanaman. Kedalaman perakaran sambiloto
dapatmencapai 25 cm dari permukaan tanah.
Sambiloto banyak dibutuhkan dalam industri obat tradisional di Indonesia.
Cukup banyak klaim yang menunjukkan manfaat sambiloto dalam pengobatan
tradisional, seperti untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi kuman,
anti diare, gangguan lever, dan anti bakteri. Badan POM memasukkan tanaman ini
sebagai tanaman unggulan untuk dikembangkan dalam industri obat fitofarmaka.
Industri obat tradisional Indonesia, memanfaaatkan sambiloto untuk berbagai
produk, seperti jamu anti inflamasi, obat penurun tekanan darah, dan sebagainya.

Perbandingan
Pembibitan sambiloto yang ada di kebun biofarmaka menggunakan media
tanam tanah, pupuk kandang, dan arang sekam; dimana sudah cukup memenuhi
syarat media tanam yang standar. Pertumbuhan generatif lebih dominan karena
bibit terlambat dalam pemindahan kelapang serta tidak dilakukan penyiangan
yang menyebabkan gulma berkembang di media tanam. Daun tumbuh cukup kecil
kemungkinan karena intensitas cahaya terlalu tinggi karena naungan yang
digunakan kurang rapat dan pengaturan jarak terlalu rapat antar polibag sehingga

mengurangi bidang tumbuh tanaman. Ada beberapa tanaman yang tumbuh kerdil,
kemungkinan karena media tanam yang terlalu masam.
2. Kumis kucing
Gambaran kumis kucing (Orthosiphon spicatus B. B. S.) secara manual
dapat dilihat dengan mata biasa, dengan bentuk-bentuk tanaman kumis kucing
bisa dilihat berdasarkan bagian-bagian tanaman yaitu : akar, batang, daun, bunga
dan biji. Tanaman ini berjenis akar tunggang, batangnya berbentuk persegi empat
agak beralur dan berwarna hijau keunguan. Daun berbentuk bulat telur, lonjong,
berwarna hijau, panjang <10 cm dan lebar 3 5 cm. Tangkai berbentuk bulat,
berwarna ungu kehijauan, atau hijau tergantung varietas. Posisi daun pada batang
berhadapan dan selang-seling, tulang daun bercabang-cabang

( Bakti husada

2001). Sebagai tanaman yang tumbuh liar di sepanjang anak sungai dan selokan,
kumis kucing mulai banyak ditanam di pekarangan sebagai tumbuhan obat dan
dapat ditemukan di daerah dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl
(Dalimartha, 2000). Curah hujan yg ideal bagi pertumbuhan tanaman ini adalah
lebih dari 3.000 mm/tahun. Dengan sinar matahari penuh tanpa ternaungi.
Naungan akan menurunkan kadar ekstrak daun. Keadaan suhu udara yg baik utk
pertumbuhan tanaman ini adalah panas sampai sedang.
Daun kumis kucing (Orthosiphon spicatus B. B. S.) yang kering
(simplisia) di Indonesia dipakai sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air
kemih (diuretik) sedangkan di India untuk mengobati rematik. Masyarakat
menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya penyembuhan
batuk, encok, masuk angin dan sembelit (Dalimarta 2003). Tanaman ini juga
bermanfaat untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis,
albuminuria dan penyakit syphilis (Arief 2005).

Perbandingan
Pertumbuhan kumis kucing sedikit terhambat karena adanya naungan yang

menghalangi intensitas cahaya yang sangat dibutuhkan dimana tanaman ini


memerlukan penyinaran penuh. Gangguan lainnya adalah gulma yang kurang
dikendalikan sehingga pertumbuhan gulma menyaingi pertumbuhan kumis kucing
itu sendiri, dapat dilihat dari tumbuhnya daun yang agak mengecil dari ukuran
daun rata-rata.

3. Torbangun
Secara

makroskopis,

tanaman

Bangun-bangun

memiliki

ciri

batangberkayu lunak, beruas-ruas dan berbentuk bulat, diameter pangkal 15


mrn,tengah 10 mm dan ujung 5 rnm. Daun tanaman ini tunggal,
helaiannyabundar telur, panjang helaiannya 3,5-6 cm, pinggirnya agak
berombak dengan panjang tangkai 1,5-3 cm, dan tulang dam menyirip.
Tanaman bangun-bangun tumbuh secara liar, jarang berbunga, namun mudah
sekali dikembangbiakkan dengan stek dan cepat berakar di dalam tanah yang
gembur (Heyne 1987). Suatu penelitian yg dilakukan oleh Damanik terhadap
ibu-ibu menyusui di daerah Sumatera Utara dengan metoda focus group
discussion ( FGD) memperoleh kesimpulan bahwa konsumsi daun bangunbangun ( Coleus amboinicus) dipercaya dapat meningkatkan mengembalikan
stamina ibu, meningkatkan produksi ASI, membersihkan daerah rahim dan
kepercayaan itu tetap kuat selama beratus-ratus tahun. Potensinya sebagai
laktagogum ditunjukkan oleh daun bangun-bangun yg mengandung saponin,
flavonoid, polifenol serta dapat meningkatkan hormon-hormon menyusui, seperti
prolaktin dan oksitosin ( Damanik, 2001).

Perbandingan
Tanaman torbangun yang ditanam di bagian pembibitan terlihat segar
dengan daun cukup lebar.
4. Daun Jinten
Coleus amboinicus Lour. merupakan tumbuhan semak menjalar,
batangnya berkayu, lunak, beruas-ruas, ruas yang menempel ditanah akan tumbuh
akar, mudah patah, penampang bulat, diameter pangkal 15 mm, tengah 10
mm, dan ujung 5 mm, batang yang masih muda berambut kasar dan hijau pucat.
Berakar tunggang, berwarna putih kotor. Daunnya tunggal, mudah patah, bulat
telur, tepi beringgit, ujung dan pangkal membulat, berambut, panjang 6,5-7 cm,
lebar 5,5-6,5 cm, tangkai panjang 2,4-3 cm, pertulangan menyirip dan berwarna
hijau muda. Bunganya majemuk, bentuk tandan, berambut halus, kelopak bentuk
mangkok, setelah mekar pecah menjadi lima, berwarna hijau keunguan, putik
satu, panjangnya 17 mm, kepala putik coklat, benang sari empat, kepala sari

kuning, mahkota bentuk mangkok berwarna ungu (Depkes RI 2000). Tumbuh di


daerah ketinggian 100 mdpl.
Daun Coleus amboinicus mengandung saponin, flavonoida, polifenol dan
minyak atsiri ( Depkes RI 2000). Digunakan sebagai obat sariawan, obat batuk,
karminatif, meningkatkan keluarnya ASI (laktagoga), analgesik, antipiretik, antiseptik
(Dalimartha. S 2004).
Perbandingan

Daun jinten tumbuh dengan baik, terbukti dari daunnya yang dan lebat.
Naungan yang ada cukup, sesuai dengan karakter tanaman ini yag suka
naungan.kecukupan air perlu diperhatikan.
5. Sambang Colok
Menurut Mardisiswojo dan Harsono (1985), sambang colok (Aerva
sanguinolenta Blume) tumbuh liar di halaman dan di ladang-ladang sampai
setinggi kira-kira 1000 m dari permukaan laut. Ada juga yang ditanam orang di
halaman-halaman sebagai tanaman hias. Heyne (1987) menambahkan bahwa
tanaman sambang colok merupakan terna berbatang lemas dan tingginya sekitar
0.3-2 m. Daun sambang colok berbentuk jantung, bertepi rata dan berbulu,
warnanya merah-coklat atau ungu. Bunganya berwarna merah atau merah muda.
Daun inilah yang digunakan sebagai obat dan biasanya direbus. Daun dan akar
sambang colok mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, di samping itu
daunnya juga mengandung minyak.
Perbandingan
Sambung colok yang ada di kebun biofarmaka tumbuh cukup baik dalam
pot karena cocok dengan ketinggian tempat di bogor yang sekits 100-400 mdpl.
Terlihat dari daun yang tumbuh cukup segar, dengan warna cerah. Tanaman
ditanam dalam pot dan tidak diletakkan dibawah paranet, namun ternaungi oleh
pohon-pohon yang lebih tinggi saat matahari siang dan sore dan mendapatkan
cukup sinar matahari pagi. Media tanam juga sudah cukup baik dengan campuran
tanah, arang sekam, dan pupuk kandang.
Lokasi Display
1. Tabat Barito
Tabat barito (Ficus deltoidea Jack.) merupakan tanaman perdu dengan
tinggi 0,5 3 m, batang bulat dan berlignin, batang coklat abu-abu dan

mengeluarkan eksudat. Tumbuhan ini dapat tumbuh setinggi 1.5 m dan diameter
kanopi berukuran kurang lebih 1.5 m. Daunnya berwarna hijau berkilat dan
mempunyai bintik yang berwarna emas di permukaann, dibawah permukaan
daunnya berwarna kuning keemasan dengan bintik-bintik hitam. Tanaman ini
mengandung senyawa flavonoid, tannis, triterpenoids, dan phenols (Nia 2003).
Tabat barito merupakan tanaman obat langka, yang manfaatnya antara lain
untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit paru-paru basah, kencing manis,
darah tinggi, lemah jantung, diare, melancarkan peredaran darah dan infeksi kulit.
Selain itu tabat barito juga digunakan untuk meningkatkan stamina tubuh
(afrodisiak), pelancar haid, pengobat keputihan, serta merapatkan rahim setelah
bersalin. Tanaman ini berupa perdu, epifit, banyak terdapat dikawasan belukar tepi
laut atau rimba di pegunungan Kalimantan, tetapi tidak tumbuh dikawasan hutan
bakau (Darusman 2005).
Perbandingan
Kebun Percobaan Biofarmaka Cikabayan memiliki ketinggian 100-400
mdpl dengan curah hujan 2500-5000 dan suhu berkisar antara 20-30oC. Dengan
ketinggian 500 m dari permukaan laut. Meskipun ekosistem tumbuhnya berbeda
seperti pada habitat aslinya di hutan-hutan Kalimantan. Tanaman Tabat Barito ini
dapat tumbuh dengan baik. Terlihat dari daunnya yang banyak dan terdapat
beberapa buah di cabangnya.
2. Lidah Buaya
Lidah buaya (Aloe vera) memiliki batang pendek tertutup oleh daun-daun
yang rapat. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabuabuan, dan bersifat sukulen. Pajang daunnya dapat mencapai 50 cm 75 cm.
Tanaman lidah buaya dapat tumbuh di daerah panas dan berhawa kering sekaligus
di daerah yang beriklim dingin karena daya adaptasinya tinggi, dan secara
fisiologi tanaman ini termasuk jenis CAM. Kelemahan tanaman lidah buaya
adalah jika ditanam di daerah basah dengan curah hujan tinggi karena mudah
terserang cendawan. Tanaman lidah buaya memiliki manfaat sebagai obat
kecantikan atau bahan kosmetik, menghaluskan kulit, menyuburkan rambut, atau
sebagai minuman dan makanan kesehatan, anti inflamasi, anti jamur, antibakteri,
dan regenerasi sel (Irni 2007).

Perbandingan

Pada Kebun Percobaan Biofarmaka Cikabayan morfologi yang tampak


pada tanaman lidah buaya adalah daunnya besar berisi tetapi berwarna kuning,
tidak segar berwarna hijau. Padahal kebun biofarmaka ini masih dapat
digolongkan memenuhi kriteria ekosistem tempat tumbuhnya. Sehingga mungkin
saja terdapat faktor lain yang mempengaruhi, seperti jenis tanahnya atau
kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman kurang terpenuhi pada kebun
biofarmaka ini.
3. Kecubung
Kecubung (Datura metel) merupakan tanaman hias berbatang keras
dengan cabang besar menyerupai kayu. Batangnya berwarna hijau, berdaun
tunggal berwarna hijau dan berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi. Kecubung
banyak terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 800 m dpl, terutama di
daerah dengan musim kering yang panjang dan di tempat terbuka.
Tanaman kecubung mengandung alkaloid atau hiosiamin dan skopolamin.
Alkaloid bersifat racun sehingga pemakaiannya terbatas pada bagian luar. Biji
kecubung mengandung hiosin dan lemak, sedangkan daunnya mengandung
kalsium oksalat. Tanaman ini berkhasiat mengobati reumatik, sembelit, asma,
sakit pinggang, bengkak, encok, eksim dan radang anak telinga (Mursito 2011).

Perbandingan
Tanaman kecubung di areal display tumbuh tinggi sekitar 1,5 meter,

terdapat beberapa buah kecubung. Tetapi memiliki daun yang sedang, tidak terlalu
lebar seperti pada lingkungan tumbuhnya yang sesuai. Walau lingkungan tumbuh
di kebun biofarmaka ini sudah cukup sesuai dengan ekosistem tumbuhnya tetapi
bisa jadi terdapat faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhannya. Seperti jenis
tanah atau unsure hara yang terkandung belum memenuhi kebutuhannya.
4. Temulawak
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Temulawak merupakan terna
tahunan yang tumbuh berumpun, berbatang basah yang merupakan batang semu
yang terdiri atas gabungan beberapa pangkal daun yang terpadu. Daun berbentuk
memanjang sampai lanset, panjang daun 50-55 cm dan lebarnya sekitar 15 cm.
Tumbuhan temulawak mempunyai ukuran rimpang yang besar dan bercabang-

cabang. Warna kulit rimpang coklat kemerahan atau kuning tua, sedangkan warna
daging rimpang kuning jingga atau jingga kecoklatan. (Wijayakusuma 2007).
Temulawak tumbuh dengan baik di lahan yang teduh dan terlindung dari
sinar matahari. pada habitat alami tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan
pohon bambu atau jati. Secara umum tanaman ini memiliki daya adaptasi yang
tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah beriklim tropis. Suhu udara yang baik
untuk budidaya tanaman ini antara 19-30oC dengan curah hujan tahunan antara
1.000-4.000 mm/tahun. Temulawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5-1.000
m/dpl dengan ketinggian optimum 750 m/dpl. Kandungan pati tertinggi di dalam
rimpang diperoleh pada tanaman yang ditanam pada ketinggian 240 m/dpl.
Tanaman ini lebih cocok dikembangkan di dataran sedang.
Temulawak memiliki kandungan flavonoid dan minyak atsiri yang
berpotensi

sebagai

antioksidan.

Rimpang

temulawak

dipercaya

dapat

meningkatkan kerja ginjal serta antiinflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman
ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, antikolesterol,
antiinflamasi, anemia, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba.

Perbandingan
Di Kebun Percobaan Biofarmaka Cikabayan, Temulawak dapat tumbuh

hanya saja kurang maksimal secara kuantitatif maupun kualitatif. Tanaman ini
lebih cocok dikembangkan di dataran sedang, sedangkan kebun biofarmaka
termasuk dataran rendah. Tanaman temulawak yang terdapat di areal display ini
sedang dalam fase pembungaan, sehingga tidak terdapat daunnya. Hal ini
dikarenakan Bogor dan wilayah di Indonesia sedang masuk musim kemarau.
5. Pegagan
Pegagan (Centella asiatica), merupakan herba menahun yang tidak
berbatang. Pegagan tumbuh menjalar, rimpangnya berukuran pendek. Akarnya
menjalar atau merayap dengan stolonnya berukuran bisa mencapai 2.5 m dan
berwarna kecoklatan. Daun pegagan tunggal, letak bassalis atau rosette dengan
jumlah 2-5 daun, bertangkai panjang 5-15 cm, dan berbentuk seperti ginjal dengan
ukuran 2-5 cm. Tepi daunnya bergerigi dengan penampang 1-7 cm dan kadang
berambut. Helaian daun berwarna hijau muda. Bunga berbentuk paying, tunggal,

atau 3-5 bunga secara bersama keluar dari ketiak daun. Tangkai bunga lebih
pendek dari pada tangkai daun.
Tumbuhan ini menyebar liar dan dapat tumbuh subur di atas tanah dengan
ketinggian 1-2.500 meter dari permukaan laut. Pegagan sering ditemui tumbuh
melimpah ditempat-tempat yang agak terlindung dan menyukai lingkungan yang
basah (Winarto 2003). Manfaat dari pegagan dapat mengobati penyakit wasir,
pembekakan hati, bisul, tergigit ular atau luka berdarah, darah tinggi, campak,
demam, amandel, susah tidur, kurang nafsu makan, membersihkan darah,
memperbaiki jaringan empedu sehingga proses pencernaan lancar.
Kandungan utama pegagan adalah triterpen asam asiatat dan asam
madekasat serta turunan dari triterpen ester glikosida, asiatikosida, thankuniside,
isothankuniside, madecessoside, brahmoside, brahmic acid, madasiatic acid,
meso-inositol, centellose, karotenoid, garam-garam mineral, vallarine dan zat
samak.

Perbandingan
Tanaman pegagan di areal display memiliki daun yang kecil-kecil tetapi
tumbuh dengan jumlah banyak dan berwarna hijau pucat. Hal tersebut
dikarenakan tempat tumbuhnya tidak terdapat naungan sehingga tanaman
langsung terpapar sinar matahari, sehingga pertumbuhannya kurang baik. Musim
kemarau yang sedang melanda daerah Bogor juga mempengaruhi pertmbuhannya,
karena menyebabkan tanah kering sedangkan tanaman pegagan menyukai daerah
yang lembab.
Lokasi Produksi
1. Jati Belanda
Tumbuhan berasal dari Amerika. Morfologi tunbuhan berupa semak atau
pohon,

tinggi

10-20

m,

percabangan

ramping.

Bentuk

daun

bundar

telusampailanset, panjang helai daun 4 cm sampai 22,5 cm, lebar 2-10 cm,
pangkal menyerongberbentuk jantung, bagian ujung tajam, permukaan daun
bagian atas berambut jarang, permukaan bagian bawah berambut rapat, panjang
tangkai daun 5-25 mm, mempunyai daun penumpu berbentuk lanset atau
berbentuk paku, panjang 3-6 cm. Perbungaan berupa mayang, panjang 2-4 cm,
berbunga banyak, bentuk bunga agak ramping dan berbau wangi; panjang gagang

bunga lebih kurang 5 mm; kelopak bunga lebih kurang 3 mm; mahkota bunga
berwarna kuning, panjang 3-4 mm; tajuk terbagi dalam 2 bagian, berwarna ungu
tua kadang-kadang kuning tua, panjang 3-4 mm; bagian bawah terbentuk garis
panjang 2-2,5 mm; tabung benang sari berbentuk mangkuk; bakal buah berambut,
panjang buah 2-3,5 cm. Buah yang telah masak berwarna hitam. Tanaman ini
dirawat dengan disiram dengan air, dijaga kelembapan tanahnya, dan dipupuk
dengan pupuk organik. Tanaman ini menghendaki tempat yang terbuka dengan
cukup sinar matahari (Arief 2005).
Tanaman jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) mempunyai
efek antidiare, astrigen, dan menguruskan badan (Arief 2005).
Bagian dalam kulit batang tanaman jati belanda dipakai untuk
mengobati penyakit cacing dan kaki gajah.

Perbandingan
Lahan produksi jati belanda di kebun biofarmaka memiliki jarak tanam 2,5
x 2,5 m. Pemangkasan dilaksanan rutin menyebabkan tanaman bertajuk lebar dan
cukup rendah karena untuk keperluan produksi dan memudahkan pemanenan.
Pertanaman mendapatkan naungan dari pohon-pohon yang lebih tinggi menyebab
daun lebih pucat dan tipis.
2. Pegagan

Perbandingan
Daun pegagan yang diusahakan tumpangsari bersama jati belanda memiliki
daun yang lebih lebar namun tipis dan warna agak pucat. Stolon yang dihasilkan
juga lebih sedikit dan batang lebih panjang namun rapuh karena efek etiolasi.
Jarak tanam yang digunakan 20x20 cm. Setiap ulan dapat dipanen sekaligus untuk
mengurangi kerapatan tanaman. Transplanting dilakukan kembali setelah 3 kali
panen untuk memaksimalkan produksi. Beberapa tanaman layu karena kekeringan
sebab akar dangkal.
3. Sambiloto

Perbandingan
Sambiloto yang diusahakan secara tumpang sari dengan jati belanda dari segi
lingkungan tumbuhnya sudah cukup mendukung dengan naungan yang cukup

rapat. Daun lebih lebar dan besar namun tipis. Jarak tanam juga 20x20 cm dan
transplanting dilakukan setiap setelah pemanenan. Namun beberapa tanaman
terlihat kerdil kemungkinan karena tanah yang asam dan terjadi kekeringan yang
panjang dan tanaman memiliki akar yang dangkal.
4. Temu-temuan

Perbandingan
Saat dilakukan kunjungan temu-temuan sedang tidak ditanam karena
nelum adanya air, jadi informasi hanya didapatkan dari narasumber. Jadi disela
pertanaman jati belanda, selain ditanami sambiloto dan pegagan juga ditanami
temu-temuan.
Lokasi Konservasi
1. Mundu
Mundu atau Garcinia dulcis merupakan sejenis pohon buah anggota genus
Garcinia. Tumbuhan mundu berupa pohon berbatang pendek dengan tinggi
maksimal 13-15 meter dengan tajuk yang mengerucut ke atas. Batangnya
mempunyai kulit berwarna coklat dan mempunyai semacam getah berwarna putih
yang akan berubah menjadi coklat pucat saat kering. Batang mundu ditumbuhi
banyak ranting berbentuk hampir persegi empat yang mudah patah dan berbulu
halus. Daun mundu berbentuk bundar telur sampai lonjong jorong, panjang 10
30 cm dan lebar 3,5 14 cm, hijau pucat bila muda, permukaan atas hijau gelap
dan mengkilat, pada bagian bawah dengan tulang tengah yang menonjol dan
keras, urat-urat daun banyak dan paralel, panjang tangkai daun sampai 2 cm.
Bunga mundu muncul di dekat pangkal daun berwarna kuning keputihan dan
berbau harum. Buah mundu berbentuk bulat dengan ujung atas dan bawah agak
meruncing dengan diameter antara 5-8 cm. Buah berwarna hijau muda saat masih
mentah dan berubah menjadi kuning cerah (mengkilat) ketika masak. Buah
mundu (Garcinia dulcis) memiliki 1-5 biji berukuran 2,5 cm berwarna coklat.
Daging buah mundu berwarna kuning dan mengandung banyak air. Rasa buahnya
manis agak masam.
Pohon mundu tumbuh di Indonesia (Jawa dan sebagian Kalimantan) dan
telah ditanam di negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina.
Habitatnya adalah daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 meter dpl.

(Soedibyo 1995).Buah mundu dapat dimakan langsung dan diolah menjadi selai
bahkan sebagai campuran jamu tradisional. Buahnya juga berhasat menurunkan
berat badan. Sedangkan kayu dan kulitnya, dahulu sering dipakai sebagai
campuran pembuat warna hijau alami (Thomas 1992).

Perbandingan
KP Biofarmaka Cikabayan memiliki ketinggian 100-400 mdpl dengan
curah hujan 2500-5000 dan suhu berkisar antara 20-30oC. Dengan ketinggian 500
m dari permukaan laut, tanaman Mundu ini sudah tumbuh dengan baik.
Lingkungan tumbuh sekitar tanamna bersih dari gulma dan hanya terdapat sedikit
serasah daun. Kelembaban, serta suhu yang dibutuhkan juga sesuai dengan
lingkungan di Biofarmaka.
2. Kayu Manis
Kayu manis atau Cinnamomum burmannii Merupakan tumbuhan tahunan
yang dimanfaatkan sebagai obat. Daun kayu manis berseling atau dalam rngkaian
spiral dan bersifat liat. Panjang daun sekitar 9-12 cm dan lebar 3,4-5,4 cm
(tergantung jenisnya), warna pucuk kemerahan dan daun tuanya bewarna hijau
tua. Warna bunga kuning, berkelamin dua atau sempurna dengan ukuran kecil.
Bunga tidak bertajuk, benangsari berjumlah 12 helai yang terangkai dalam 4
kelompok. Kelompok benangsari yang berada didalam umumnya mandul. Kotak
sari beruang empat, persarian berlangsung dengan bantuan serangga (sejenis
lalat). Buahnya adalah buah buni berbiji satu dan berdaging, berbentuk bulat
memanjang (panjang buah sekitar 1,3-1,6 cm dengan diameter 0,35-0,75), buah
muda berwarna hijau tua dan bila sudah tua berwarna. Kulit batang pokok, cabang
dan ranting mengandung minyak atsiri yang merupakan komoditas ekspor.
Kayu manis memerlukan lingkungan tumbuh optimum pada ketinggian
500 - 1.500 m.dpl, bila ditanam di ketinggian kurang dari 500 m dpl, meskipun
tanaman tumbuh lebih cepat namun kualitas kulit kayunya rendah (ketebalan kulit
dan aromanya berkurang) sedang kayu manis jenis C zeylanicum, tumbuh baik
pada ketinggaian antara 0 - 500 m dpl. Iklim, kayu manis tumbuh baik didaerah
yang beriklim tropis basah. Iklim tropis basah tersebar hampir di seluruh wilayah
Indonesia. Faktor iklim yang harus diperhatikan adalah: a) curah hujan, kayu
manis menghendaki hujan yang merata sepanjang tahun dengan jumlah cukup

yaitu sekitar 2.000-2.500 mm/tahun, jika curah hujan terlalu tinggi akan
berpengaruh pada hasil rendemennya yang rendah; b) Suhu, kayu manis akan
tumbuh baik pada suhu rata-rata 25 derajat celcius dengan batas maksimum 27
derajat celcius dan batas minimum 18 derajat celcius; c) Kelembaban, kayu manis
akan tumbuh baik baik pada kelembaban 70-90%, semakin tinggi kelembaban,
pertumbuhan tanaman akan semakin baik; dan d) Sinar matahari, akan
berpengaruh terhadap proses fotosintesis tanaman. Kayu manis memerlukan
memerlukan sinar mata hari sekitar 40-70%. Keadaan tanah, jenis tanah yang
sesuai untuk pertumbuhan kayu manis adalah tanah yang banyak mengandung
humus, remah, berpasir dan mudah menyerap air seperti latosol. Namun kayu
manis juga dapat tumbuh pada jenis tanah andosol, podsolik merah kuning dan
mediteran. Keasaman (pH) tanah yang cocok untuk kayu manis adalah pH 5,0 6,5.
Kulit kayu manis mempunyai komposisi kimia yang sangat bermanfaat
seperti minyak asiri. Kadar komponen kimia kulit kayu manis, tergantung pada
daerah asal, secara rinci komposisi kimia kayu manis sebagai berikut: kadar air
7,9%, minyak asiri 3,4%, alkohol ekstrak 8,2%, abu 4,5%, abu larut dalam air
2,23%, abu tidak dapat larut 0,013%, serat kasar 29,1%, karbohidrat 23,3%, eter
ekstrak yang tidak menguap 4,2%, nitrogen 0,66%. Kayu manis, selain dapat
digunakan untuk bumbu makanan, juga dimanfaatkan sebagai antiseptik karena
asiri mempunyai daya bunuh terhadap mikroorganisme. Minyak asiri dapat
dijadikan obat penyakit disentri, penyembuh reumatik, mencret, pilek, sakit usus,
jantung, pinggang dan darah tinggi (Thomas, 1992). Manfaat lain dari minyak
kayu manis adalah memiliki efek untuk mengeluarkan angin dan membangkitkan
selera atau menguatkan lambung.

Perbandingan
Tanaman kayu manis yang tumbuh di KP Biofarmaka Cikabayan dengan
ketinggian 100-400 mdpl dengan curah hujan 2500-5000 dan suhu berkisar antara
20-30oC tumbuh dengan baik, mulai dari keragaan tanaman yang bagus dengan
daun yang masih hijau. Lingkungan tumbuh sekitar pohon kayu manis bersih dari
gulma karena sekitaran batang bawah tertutup serasah daun sehingga gulma sulit

untuk tumbuh. Keelembapan dan suhu di tempat pratikum juga sudah cukup baik
untuk pertumbuhan Kayu Manis.
3. Kepel
Kepel (cinnamomun burmanii) tanaman tahunan yang bisa berfungsi
sebagai obat. Keragaan pohon kepel batang pohon tegak, tidak merontokkan daun
secara serentak, tingginya mencapai 25 m. Tajuknya teratur berbentuk kubah
meruncing ke atas (seperti cemara) dengan percabangan mendatar atau agak
mendatar.
Diameter batang utamanya mencapai 40cm, berwarna coklat-kelabu tua
sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besarbesar. Daunnya berbentuk lonjong-jorong sampai bundar-telur/bentuk lanset,
berukuran (12-27)cm (5-9)cm, berwarna hijau gelap, tidak berbulu, merontal
tipis; tangkai daunnya mencapai 1,5 cm panjangnya. Bunganya berkelamin
tunggal, mula-mula berwarna hijau kemudian berubah menjadi keputih-putihan,
muncul pada tonjolan-tonjolan di batang; bunga jantannya terletak di batang
sebelah atas dan di cabang-cabang yang lebih tua, berkumpul sebanyak 8-16
kuntum, diameternya mencapai 1 cm; bunga betinanya hanya berada di pangkal
batang, diameternya mencapai 3 cm. Buahnya dengan 1-13 lembar daun
buah bertipe mirip buah buni (berrylike ripe carpels), panjang tangkai buahnya
mencapai 8 cm; daun buah yang matang hampir bulat bentuknya, berwarna
kecoklat-coklatan, diameternya 5-6 cm, perikarpnya berwarna coklat, berisi sari
buah, dapat dimakan. Bijinya berbentuk menjorong, berjumlah 4-6 butir.
Secara tradisional burahol telah digunakan sebagai bahan parfum,
khususnya di kalangan keraton, dengan mengkonsumsi buahnya dapat membuat
bau keringat

menjadi wangi, bau nafas menjadi harum, bahkan dapat

mengharumkan bau air seni. (Fachrurozi, 1980; Heyne, 1987; Sunarto, 1987;
Verheij dan Coronell, 1997). Fachrurozi, Z. 1980. Burahol (Stelechocarpus
burahol (Bl) Hk.f. & Th.)

Perbandingan
Tanaman kepel yang berada di kebun biofarmaka cikbayan dengan
ketinggian 100-400 mdpl dengan curah hujan 2500-5000 dan suhu berkisar antara

20-30oC tumbuh dengan baik, daun terlihat hijau. Lingkungan tumbuh sekitar
pohon kepel sedikit ditemui gulma dan cukup tertutupi oleh serasah daun.
4. Waru Lengis
Waru lengis (Hibiscus tiliaceus) Merupakan tanaman daerah tropis yang
terutama tumbuh di pantai berpasir. Waru laut juga tumbuh liar di hutan dan di
ladang, kadang-kadang ditanam di pekarangan atau di tepi jalan sebagai pohon
pelindung. Pada tanah yang subur, batangnya lurus, tetapi pada tanah yang tidak
subur batangnya tumbuh membengkok, percabangan dan daun-daunnya lebih
lebar. Pohon, tinggi 5-15 m. Batang berkayu, bulat, bercabang, warnanya cokelat.
Daun bertangkai, tunggal, berbentuk jantung atau bundar telur, diameter sekitar 19
cm. Pertulangan menjari, warnanya hijau, bagian bawah berambut abu-abu rapat.
Bunga berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah, berwarna kuning
dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam, berubah menjadi kuning merah,
dan akhirnya menjadi kemerah-merahan. Buah bulat telur, berambut lebat,
beruang lima, panjang sekitar 3 cm, berwarna cokelat. Biji kecil, berwarna cokelat
muda. Daun mudanya bisa dimakan sebagai sayuran. Kulit kayu berserat, biasa
digunakan untuk membuat tali. Waru dapat diperbanyak dengan biji. Phon waru
berasal. Dari derah tropika di pasifik barta. Phon waru dapat tumbuh paik pada
kondisi lingkungan dnegna curah hujan 800- 2000 mm. dapat dimanfaatkan
sebagai obat demam bisul dan amandel.

Perbandingan
Pohon waru yang tumbuh dikebun percobaan biofarmaka cikabayan
dengan ketinggian 100-400 mdpl dengan curah hujan 2500-5000 dan suhu
berkisar antara 20-30oC tumbuh dengan tumbuh dengan kurang baik, terlihat dari
banyaknya daun yang menguning dan batang yang ditumbuhi jamur. Hal tersebut
dapat disebabkan oleh curah hujan di daerah bogor yang terblilang tinggi.
Lingkungan tanaman sekitar tidak terlihat adanya gulma dan tertutupi serasah
dedaunan.
5. Ayang-ayang
Ayang-ayang (Elaeocarpus grandiflorus) merupakan tnamanan tahunan
yang banyak tumbuh dipinggir air dengan ketinggian dibawah 500 mdpl. Bakal
buah bebentuk telur, berambut, dan kepala putik tidak melebar. Bunga berbentuk

spulc berwarna hijau dan panjang sekitar 3cm. Daun ayang ayang bertangkai dan
berjela pada ujung ranting. Bentuk daun lanset, beralih sedikit demi sedikit pada
tangkai, gundul, seperti kulit, bergerigi tidak dala, yang tua merah api. Tandan
bunga ayang ayang menggantung, berbunga 4-6 buah, panjang 2-10 cm. Tangkai
bunga 3-4,5 cm. Daun kelopak berambut dan berwarna merah cerah. Daun
mahkota putih, pada tpangkalnya dengan sisik ke arah ujung melebarr sekali dan
terbagi dalam taju, panjang 2-2,5 cm.
Pohon ayang-ayang yang tumbuh di daerah kebun biofarmaka cikabayan
dengan ketinggian 100-400 mdpl dengan curah hujan 2500-5000 dan suhu
berkisar antara 20-30oC tumbuh dengan tumbuh dengan kurang baik. Hal tersebut
terlihat dari daun yang menguning dan berguguran. Lingkungan tumbuh sekitar
pohon tertutupi oleh serasah dedaunan. Pohon ayang-ayang di kebun biofarmaka
cikabayan tidak ternaungi sehingga menerima sinar matahari dengan intensitas
cukup tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Tanaman obat memiliki banyak macam jenisnya, habitus, dan khasiatnya.
Selain itu ada komponen biotik seperti organisme pengurai, tanaman itu sendiri,
serta organisme pengganggu; dan komponen abiotik seperti media tanam, suhu,
kelembaban, cahaya, air, mutrisi yang secara langsung maupun tidak langsung
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman obat itu sendiri.
Hal yang tidak kalah penting adalah teknik budidaya yang diterapkan sebagai
wujud dari usaha untuk mengelola tanaman obat tersebut agar tetap dalam
keadaan

yang

dikehendaki

untuk

mendukung

pertumbuhan

dan

perkembangannya.

Saran

Sebaiknya kebun bifarmaka ini dapat dikelola lebih baik lagi. Selain
sebagai wahana studi, produksi, juga dapat digunakan sebagai tempat koleksi
tanaman obat bahkan bisa dijadikan ajang wisata.

DAFTAR PUSTAKA
Arief H. 2005. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 2. Cetakan I. Penerbit
Penebar Swadaya. Jakarta. 65.
Bakti Husada. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I) Jilid 2. Departemen
Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2001
Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1. Trubus Agriwidya,
Jakarta.
Dalimartha S. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 2. Trubus Agriwidya.
Jakarta. 126-130.
Darusman K, D. Iswantini, E. Djauhari, R. Heryanto. 2005. Ekstrak Tabat Barito
Berkhasiat AntiTumor: Kegunaan sebagai Jamu, Ekstrak Terstandar dan
Fitofarmaka.
Dharma Majalah Ilmiah Kopertis Wil.IV. No. 8. Th XX Maret
Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan
Obat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.
Fachrurozi, 1980; Heyne, 1987; Sunarto, 1987; Verheij dan Coronell, 1997.
Fachrurozi, Z. 1980. Burahol (Stelechocarpus burahol (Bl) Hk.f. & Th.)
Heyne, K. 1987. Tanaman Berguna Indonesia II. Yayasan Sarana Wana Jaya.
Jakarta.
Irni F. 2007. Khasiat dan Manfaat Lidah Buaya. Jakarta (ID) : Agromedia Pustaka.
Lestari, Garsinia. 2008. Taman TOGA. PT. Gramedia Jakarta.
Mardisiswojo, S. dan H. Radjakmangunsudarso. 1985. Cabe Puyang Warisan
Nenek Moyang 1. PN Balai Pustaka. Jakarta
Mursito B, Heru P. 2011. Tanaman Hias Berkhasiat Obat. Jakarta (ID) : Penebar
Swadaya.
Nia A.S. 2003. Ekstrak Tabat Barito Berkhasiat Anti Tumor: Kegunaan sebagai
Jamu, Ekstrak Terstandar dan Bahan Fitofarmaka. IPB.
Nugrojo, H., P., James, M., R., Gerhard, E.,S., M., Nugraha, E., Joel, M., T.,
Karam F., 2006.Teknik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman
Buah. (online) (www.worldagroforestry.org). diakses pada tanggal 25
september 2015.
Salan, R. 2009. Penelitian faktor-faktor psiko-sosio-kultural dalam pengobatan
tradisional pada tiga daerah, palembang, semarang, bali, jakarta. Badan
penelitian dan pengembangan kesehatan, pusat peneltian kanker dan
pengembangan radiologi, departemen kesehatan RI. Hal 40
Syukur, C dan Hernani. 2003. Budidaya Tanaman Obat Komersial. PT. Penebar
Swadaya Jakarta.

Thomas, A.N.S. 1992. Tanaman Obat Tradisisonal, hal 5658. Yogyakarta:


Kanisiu.
Wasito, H. 2008. Peran Perguruan Tinggi Farmasi Dalam Pengembangan Industri
Kecil Obat Tradisional Untuk Pengentasan Kemiskinan. Wawasan Tri
Wijayakusuma, H, HM. 2000. Potensi tumbuhan obat asli indonesia
Sebagai produk kesehatan. Risalah Pertemuan Ilmiah Penelilian dan
Pengembangan Teknologi Isolop dan Radiasi. Himpunan pengobatan
tradisional dan akupuntur se Indonesia
Wijayakusuma, M. Hembing. (2007). Penyembuhan dengan Temulawak. Jakarta
(ID) : Sarana Pustaka Prima.
Soedibyo,BRA M. 1995. Alam Sumber Kesehatan, Manfaat dan Kegunaan.
Jakarta: Balai Pustaka.
Winarto W.P, Maria S. 2003. Khasiat dan Manfaat Pegagan : Tanaman Penambah
Daya Ingat. Depok (ID) : PT AgroMedia Pustaka.

LAMPIRAN
Dokumentasi

jati
JatiPertanaman
Belanda
SeligiProduksi
Belanda Produksi

Anyang-anyang

Kepel

Kayu Manis

Sambang Colok

Mundu

Lidah Buaya

Torbangun

Tabat Barito

Tempuyung

Bunga Kumis Kucing

Kumis Kucing

Daun Jinten