Anda di halaman 1dari 11

SOAL A

1. Anak, perempuan, 8th, bersin dan gatal hidung tiap pagi hari. Tidur
mendengkur
a. Sebutkan 5 gejala lain: akut (rinorea, gatal, kongesti hidung, bersin) dan
kronis (nasal blockage, anosmia, hipereaktivitas hidung)
rinore, hidung tersumbat, mata gatal, lakrimasi, bersin, dan hidung gatal
b. clnical finding
Rinoskop anterior edem, basah, pucat, secret encer, banyak.
Mukosa inferior hipertrofi
Stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung bayangan gelap
bawah mata
Allergic salute menggosok hidung dengan punggung tangan
Akibat menggosok, timbul garis lintang di dorsum nasi 1/3 bawah
Allergic crease
Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi
gangguan pertumbuhan gigi geligi facies adenoid
Gambaran peta di lidah geographic tongue
c. DD: Rhinitis alergi persistent, Rhinitis vasomotor
d. Pemeriksaan: in vitro(eosinophil darah perifer, sitologi hidung, IgE), in
vivo (cungkit kulit, uji intrakutan)
Hitung eos (normal, naik), IgE (normal) RAST
ELISA
Sitologi hidung: tidak memastikan diagnosis, pelengkap (eos banyak
alergi inhalan, basofil banyak makanan)
Tes cukit kulit
Uji intrakutan/intradermal
SET
IPDFT
e. rhinitis persistent ringan: anti histamin oral/topikal atau antihitamin +
dekongestan oral atau kortokosteroid topikal atau natriumkromoglikat. Bial
gejala menetap 2 sampai 4 minggu maka gunakan terapi untuk persistent
atau berat. Bila terapi berhasil lanjutkan selama 1 bulan.
Rhinitis persistent berat: kortikosteroid topikal. Bila membaik 2-4 minggu,
terapi sama dengan persistent ringan.
Operasi dilakukan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil
dikecilkan dengan kauterisasi.
Imunoterapi pembentukan IgG blocking antibodi
2. Pria, 50th, stomatitis berulang 1/3 anterior lidah (3bln yll), lesi kadang
berdarah, benjolam dileher kanan (+)
a. Etiologi dan diagnosis: etilogi: tidak pasti, diduga kuat berhubungan
dengan merokok dan alkohol, kebersihan mulut, mengemut sirih atau
tembakau dan berhubungan dengan ras. Diagnosis:Tumor ganas rongga
mulut. Stomatitis berulang dalam 2 minggu dalam 1 bulan merupakan
salah satu gejala tumor rongga mulut. Gejala lain adalah eritroplakia
(bercak kemerahan di selaput lendir bibir, nyeri menelan, nyeri telinga.
b. Apakah ada hubungannya antara lesi di lidah dengan benjolan: 2/3
anterior lateral bagian lidah mempunyai aliran limfe yang menjalar ke
kelenjar limfe submandibula, dan kelenjar limfe jugulo-digastrikus.
Kelenjar limfe yang berasal dari pangkal lidah mempunyai jaringan limfe

pada kedua sisi leher, sedangkan yang 2/3 anterior mepunyai penjalaran
pada 1 sisi. Karena terdapat tumor lidah di 1/3 anterior, maka terbentuk
penjalaran ke unilateral kelenjar limfe di leher.
c. CT-scan metastasis tulang
MRI luas masa pada jaringan lunak
Biopsi
DPL
3. Wanita 30 tahun, masalah pendengaran sejak 1 bulan yang lalu setelah
common cold yang lama. AD membrane timpani kusam, reflex cahaya (-),
intak. AS Normal
a. DD?
OMA:
< 2 bulan.
Membrane timpani dapat intak
Disertai tanda-tanda radang
OME:

Ada efusi di kavum timpani


Membrane timpani intak
Tanpa tanda-tanda radang

OMSK:

b.
c.

d.

e.

>2 bulan
Perforasi marginal dan atik
Karakteristik hearing impairment? Tuli konduktif karena masalahnya ada di
telinga tengfah
Pathogenesis?
Common cold merusak pertahanan dari epitel di tuba gangguan fungsi
tuba tekanan negative di telinga tengahdisertai infeksi OMA
Tes garputala?
Weber lateralisasi ke telinga yang sakit
Rinne negative
Swabah memanjang
10
20
30
40

4. Wanita 30 tahun, otolgia di telinga kanan, 2 hari setelah membersihkan kuping


DD : trauma, Benda asing di liang telinga, otitis eksterna difus, otitis media akut
Anamnesis
-

cara membersihkan telinga


penggunanaan obat saat membersihkan telinga

riwayat benda asing di telinga


adanya penurunan pendengaran atau tidak.
adanya otore atau tidak, jika ada bagaimana warna, konsistensi dan
baunya
apakah ada demam, batuk dan pilek
apakah telinga terasa penuh

Pemeriksaan
-

inspeksi dan palpasi duan telinga, apakah ada hiperemis, edema, nyeri
tekan, deformitas.
Menggunakan otoskop inspeksi liang telinga apakah ada hiperemis,
edema, benda asing, sikatriks, serumen, sekret Kemudian inspeksi
membran timpani, apakah terdapat retraksi, bulging, perforasi.

Tatalaksana
Benda asing di telinga : tentukan dlu apakah benda hidup atau mati. Benda
dikeluarkan dengan pengait serumen. Jika benda mati lansung di ambil, jika
benda hidup pasang tampon dan teteskan rivanol + anestesi lokal. Diamkan
selama 10 menit. Setelah organisme tersebut mati baru diambil.
Otitis eksterna difus: tampon + antibiotik. Boleh tambahin antibiotik sistemik
Otitis media akut :
-

stadium oklusi obat tetes hidung HCL efedrin 1 %


stadium presupurasi tambahin antibiotik seperti penisilin, eritromisin,
dll selama 7 hari
stadium supurasi tambahin miringotomi
stadium perforasi obat cuci telinga H2O2 3 % selama 3-5 hari.
Stadium resolusi antibiotik diperpanjang menjadi 3 minggu.

SOAL B
1. Seorang anak perempuan berumur 3 tahun belum dapat berbicara. Tidak
bereaksi terhadap rangsangan suara.
a. Sebutkan diagnosis: gangguan pendengaran
b. Pemeriksaan, alasan, dan temuan?

Pemeriksaan
BOA

Timpanometri

Alasan
Utk mengetahui
respon sistem
audiotorik terhadap
stimuli bunyi
Untuk menilai kondisi
telinga tengah

Temuan
Pasien tidak berespon
terhadap stimulus bunyi
Tipe
A (N)
AD (diskontinuitas tlg
pendengaran)
AS (sklerotik tulang

Audiometric nada
murni
OAE

BERA

Untuk mengetahui
jenis dan derajat
ketulian
Untuk menilai fungsi
koklea yang objeltif
Untuk mengukur
aktifitas listrik yang
dihasilkan N VIII,
pusat2 neural, dan
traktus di dalam
batang otak thp
stimulus audiotorik

pendengaran)
B (cairan di telinga
tengah)
C (gangguan fungsi tuba)
Konduktif/sensorineural/
mix
Pass/refer bila ada
gangguan pada koklea
refer
Perbedaan masa laten,
amplitude, dan morfologi
gelombang.
Contoh: pada tuli
konduktif masa latennya
menurun

c. Tatalaksana:
Alat bantu pendengaran
Bila hasil timpanometri menunjukan tipe B miringotomi
Bila hasil timpanometri menunjukan tipe C rekonstruksi tuba
OAEreferimplant koklea
2. Jelaskan tatalaksana trauma hidung baru tertutup dan terbuka??
Jika pasien datang dengan trauma hidung, yang pertama harus dilakukan
adalah periksa abc terlebih dahulu. Jika ABC sudah dilakukan dan pasien
dinyatakan aman, maka dapat lanhjut ke survey sekunder.
Pada survei sekunder, lakukan inspeksi dan palpasi. Pada inspeksi kita
harus melihat keadaan hidung keseluruhan secara sistematis dan mencari
apakah ada fraktur di daerah lain.
Pemeriksaan penunjang ;
-

rontgen proyeksi waters, os nasal proyeksi dari atas hidung


CT-scan 3 dimensi
DPL, faktor hemostasis

Persiapan alat :
-

tampon kapas
adrenalin 1/1000, lidokain 1-2 %
cunam Asch
cunam Walsham
speculum hidung killian
pinset bayonet yg panjang
gips untuk fiksasi eksterna
vaselin, betadin, antibiotik

Trauma hidung tertutup

Prinsipnya adalah reposisi tulang. Tahap awal harus diberikan anestesi dengan
tampon lidokain 1-2 % yang di campur dengan epinefrin 1:1000%. Jika pasien
anak-anak atau dewasa yang tidak kooperatf, berikan anestesi umum. Tampon
ini di pasang masing masing 3 buah pada setiap lubang hidung. Pertama di
meatus superior, kedua di antara konka media dan septum, ketiga di antara
konka inferior dan septum nasi. Ketiga tampon dipertahankan selama 10 menit.
Dapat ditambahkan spray oxymethaxolin melalui rinoskopi anterior.
Fraktur ini harus diatasi dalam waktu kurang dari 14 hari, karena jika lebih dari
waktu tersebut ditakutkan terjadi kalsifikasi sehingga reposisi tidak bisa
dilakukan, dan harus di rinopasti estetomi.
Reposisi menggunakan Cunam Ash dan cunam walsham.
Cunam Walsham satu sisi dimasukan ke lubang hidung, satu lagi di luar
hidung, kemudian reposisi hidung ke tempat semua dengan bantuan palpasi jari.
Cunam Ash masing-masing blade masuk ke rongga hidung kemudian tekan
septum. Kembalikan posisi septum ke tempat semula.
Setelah reposisi selesai, pasang kembali tampon dengan tambahan antibiotik.
Setelah itu fiksasi dengan gips seperti bentuk T dan dipertahankan selama 10-14
hari.
Trauma Hidung terbuka
Terjadi karena fraktur tulang disertai dengan laserasi kulit. Tatalaksana harus
dengan bantuan ahli neurologi, mata dan bedah plastik.
Lubang hidung harus di bersihkan dan diperiksa, karena kemungkinan terjadinya
fistula cairan serebospinal. Integritas tendon kantus media harus di evaluasi.
Prinsip reposisi adalah menyambungkan kembali tulang-tulang yang patah pada
operasi dengan menggunakan kawat stainless steel atau plate&screw. Kemudian
reposisi kembali tulang ke tempat semula. Pasang tampon dan fiksasi seperti
huruf T.

3. Pria, 55 tahun berdarah dari hidung +, rinoskopi posterior tampak darah


mengalir dari nasofaring. Bagaimana terapi untuk pasien ini, jelaskan selengkaplengkapnya.
Tujuan terapi
1. KU (t,n, s, p, TD)
2. Cari sumber perdarahan
3. Hentikan perdarahan
4. Cari faktor penyebab
Tatalaksana:
1. Pantau KU, periksa ABC, bila perlu siapkan infus/transfusi

2. Siapkan lampu, spekulum, dan suction. Anamnesis dapat memberi keterangan


sumber perdarahan
- pasien duduk/dibaringkan dengan kepala ditinggikan --> tujuan supaya darah
tidak mengalir ke sal napas bawah
- bersihkan hidung, beri tampon sementara dengan adrenalin 1/5000 - 1/10000
+ lidocain 2% selama 10-15 menit
3. Hentikan perdarahan
Posterior:
A. Sfenopalatina/a. Etmoidalis posterior
Siapkan tampon Bellocq
A. Buat tampon dari kassa bulat/kubus 3 cm
B. Ikat 3 tali pada tampon, 2 pada satu sisi dan satu lagi pada sisi berlawanan
C. Kateter folley masukkan ke hidung, sebelumnya ikat dua benang pada ujung
yang dimasukkan, dorong terus sampai benang terlihat pada rongga belakang
mulut
D. Tarik benang tersebut dan sambungkan dengan tampon posterior dan tarik
kateter bila perlu dorong dengan jari sehingga tampon terfiksasi pada daerah
naso faring
E. Fiksasi bagian depan dengan tampon lain, fiksasi tampon dengan benang
yang berada sisi berlawanan dengan menempel pada pipi pasien
F. Diamkan tampon selama 2-3 hari, selama waktu tersebut gunakan untuk
mencari penyebab perdarahan pada pasien (poin 4).
4. Pria, 18 tahun, disfagia 3 bulan, dengan foto kontras penyempitan esofagus
~2cm distal
A. Diagnosis banding: akalasia, tumor esofagus jinak/ganas, GERD dengan
komplikasi
Akalasia:
ketidakmampuan bagian distal esofagus untuk relaksasi dan penurunan
kemampuan peristaltik esofagus
etiologi: inkoordinasi neuronal ; degenerasi ganglion auerbach/emosi/trauma
psikis.
Patofisiologi:
Gangguan peristaltik pada 2/3 bawah esofagus. Tegangan sfingter bagian bawah
lebih tinggi dibandingkan bagian atas ditambah dengan relaksasi sfingter yang
tidak sempurna.
Gejala:
Disfagia(tiba2), sebentar atau progresif lambat; regurgitasi, nyeri substernal,
penurunan BB, rasa terbakar
Tumor esofagus
Jinak
Jarang, gejala lambat jika dibandingkan dengan tumor ganas esofagus
Epitelial (papiloma, polip, adenoma, kista) --> bertangkai/pendunculated
Non epitelial (leiomyioma[paling sering], fibromioma, hemangioma,

limfaangioma, mixofibroma, neirofibroma)--> tidak bertangkai/sessile


Gejala:
Tidak khas, disfagia lambat, rasa tidak enak di epigastrium dan substernal, rasa
penuh dan sakit menjalar ke punggung.
Ganas
Karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, karsinomasarkoma, sarkoma
Gejala:
Sumbatan, penyebaran tumor ke mediastinum, metastasis ke kelenjar limfe.
Disfagia lambat dan progresif, terjadi ketika massa tumor sudah melebihi
setengah lumen esofagus.
GERD kronis
Fase kronis kondisi ini dapat menyebabkan striktur pada esofagus sehingga
menimbukan penyempitan lumen esofagus.

B. Pemeriksaan penunjang yang disarankan


Esofagoskopi untuk melihat lokasi penyempitan
Tumor jinak, bertangkai, ganas tidak.
Akalasia akan menunjukkan mukosa yang pucat, edema, dan tanda esofagitis
akibat sisa makanan. Sfingter esofagus bagian bawah akan mudah terbuka
dengan penekanan.
Pada GERD kronis dapat terlihat striktur.
Khusus untuk tumor dapat dilakukan biopsi dan sitologi.
Khusus akalasia dapat dilakukan manogram untuk melihat motilitas esofagus
dan sfingter esofagus bagian bawah.
C. Tatalaksana:
Tumor jinak: pembedahan, dengan teknik tergantung klinis pasien
Tumor ganas: tx tergantung lokasi, jenis, dan metastasis. Operasi, radioterapi,
dan kemoterapi serta kombinasinya. Operasi yang dipilih adalah enbloc
esophageostomy (end to end/ side to end) suatu operasi bypass.
GERD dengan striktur dapat dilakukan dilatasi esofagus dengan bantuan
esofagoskop, seminggu sekali, 2 minggu, 3 bulan sekali dst. Jika setelah tiga kali
tidak berhasil dapat dilakukan reseksi esofagus dan anastomosis ujung ke ujung.
Akalasia: hanya paliatif. Diet tinggi kalori, medikamentosa (nitrit, antikolineregik,
penghambat adrenergik, nifedipine), dilatasi (businasi atau balon dilator),
psikoterapi, dan operasi kardiomiotomi Heller untuk melemahkan sfingter.

SOAL C

1. Seorang laki-laki dewasa datang dengan keluhan timbul benjolan di leher kiri
sebesar biji rambutan sejak satu minggu yang lalu. Benjolan agak nyeri dan
dapat digerakkan dari kulit maupun dari dalam.
a. Tuliskan kemungkinan penyebab dari benjolan leher ini dan tulis
dengan lengkap
i. Limfadenopati et causa metastasis KGB
ii. Limfadenopati et causa infeksi rongga mulut, bakteri, parotis
iii. Limfadenopati et causa limfoma malignum
iv. Ca tiroid
b. Lengkapi anamnesis saudara untuk tiap-tiap kemungkinan tersebut
i. Perkembangan dari benjolan tersebut bagaimana, apakah
langsung membesar atau tiba-tiba membesar, adakah
benjolan di tempat lain
ii. Apakah terdapat perubahan pada suara menjadi lebih serak
iii. Apakah terdapat kesulitan menelan?
iv. Apakah terdapat demam?
v. Apakah terdapat keringat di malam hari dan penurunan berat
badan?
vi. Apakah merokok?
vii. Apakah terdapat riwayat batuk-batuk lama?
viii. Apakah terdapat hidung tersumbat, hidung mimisan?
ix. Apakah telinga terasa penuh, nyeri, gangguan pendengaran
x. Apakah suka makan-makanan yang dibakar?
xi. Jantung berdebar, tremor?
c. Pemeriksaan apa yang saudara rencanakan untuk menegakkan
diagnosis tersebut
i. PF
1. Tanda vital
2. Status generalis
a. Pemeriksaan tiroid
b. Pemeriksaan paru
c. Pemeriksaan kelenjar getah bening
3. Pemeriksaan THT
4. Pemeriksaan penunjang
a. DPL
b. Ro toraks
c. Biopsi massa
d. Sputum BTA
2. Seorang penderita laki-laki usia 18 tahun mengalami pukulan pada
hidungnya 5 hari yang lalu. Pada pemeriksaan di RS didapatkan hidung
tidak udem lagi, warna kulit mulai tampak kebiruan, tampak deformitas
hidung bengkok ke kiri, pada perabaan terasa nyeri, teraba krepitasi,
septum bengkok ke kiri, dan perdarahan hidung tidak terlihat.
a. Persiapan alat dan anestesi
i. Boies nasal fracture elevator
ii. Cunam asch
iii. Cunam walsham
iv. Spekulum hidung pendek dan panjang
v. Pinset bayonet
vi. Tampon kapas

vii. Antibiotika
viii. Anestesi
1. Tampon lidocain 1-2 % dicampur dengan epinefrin
1:1000
2. Oxymethaxolin spray
b. Bagaimana saudara melakukan reposisi dan fiksasi serta perawatan
dan tindakan
i. Tampon kampas dengan obat anelgesia dipasang masingmasing 3 buah pada setiap lubang hidung
ii. Dipertahankan selama 10 menit tampon dan semprotkan
oxymethaxolin spray beberapa kali
iii. Untuk reposisi digunakan teknik reduksi tertutup
iv. Untuk mereposisi deformitas hidung digunakan cunam
walsham dengan cara satu sisinya dimasukan ke dalam
kavum nasi sedangkan sisi lain di luar hidung di atas kulit
yang dilindungi dengan karet. Hal ini dilakukan pada kedua
sisi hidung
v. Untuk reposisi septum, digunakan cunam asch dengan cara
memasukan kedua bilah ke dalam kedua rongga hidung
sambil menekan septum dengan kedua sisi forsep
vi. Setelah reposisi dilakukan pasang tampon yang sudah
ditambah antibiotika
3. Anak laki-laki, 3bulan, KU lemah, subfebris, napas bunyi, cekungan
epigastrium, ateletaksis paru kanan atas
a. Diagnosis banding
i. Obstruksi saluran napas grade III e.c BA di karina
ii. Obstruksi saluran napas grade III e.c BA di bronkus kanan
b. Tatalaksana
4. Anak perempuan, 10th, otore sejak 5hr, 2hr yll vertigo+mual, demam
TUGAS
1. D/: OMA AD dengan komplikasi Labirinitis sirkumskripta (infeksi labirin
sebagian melalui tingkap bundar)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Sekret di liang telinga,
b. Membran timpani perforasi,
c. RC (-)
d. Tes penala: campuran
e. Tes keseimbangan: abnormal
3. Pemeriksaan penunjang
a.
b.
4. Perforasi:
a. Obat cuci telinga: H2O2 3% 3-5hr
b. Antibiotik
i. Penisilin/amoksisilin (40 mg/kg/hr 4xSehari)
ii. Ampisilin (50-100 mg/kg/hr 3xSehari)
iii. Eritromisin (40 mg/kg/hr)

5. Tipe-tipe rx. HP, rhinitis allergic tipe rx. HP yang mana, pemeriksaan klinik apa
saja?
Reaksi Hipersensitivitas
1. Rx. Hipersensitivitas Tipe I: Reaksi Anafilaks. Antigen atau alergen bebas
akan bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE yang terikat pada sel
mast atau sel basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Keadaan ini
menimbulkan reaksi tipe cepat.
2. Rx. Hipersensitivitas Tipe II : reaksi sitotoksik. Antigen terikat pada sel
sasaran. Antibodi dalam hal ini IgE dan IgM dengan adanya komplemen
akan diberikan dengan antigen, sehingga dapat mengakibatkan hancurnya
sel tersebut.
3. Rx. Hipersensitivitas Tipe III : reaksi imun kompleks. Antibodi berikatan
dengan antigen dan komplemen membentuk kompleks imun. Keadaan ini
menimbulkan neurotrophichemotactic factor yang dapat menyebabkan
terjadinya peradangan atau kerusakan lokal. Pada umumnya terjadi pada
pembuluh darah kecil.
4. Rx. Hipersensitivitas Tipe IV: Reaksi tipe lambat. Pada reaksi
hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan adalah antibodi (imunitas
humoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau
dikenal sebagai imunitas seluler.
Rinitis Alergi termasuk rx. Hp tipe I (tahap sensitisasi) dan tipe 2 (tahap
provokasi/rx alergi).
1. Allergen makrofag/monosit (APC) fragmen pendek peptida+HLA kls II
MHC kls II dipresentasikan pada sel T helper TH1 (infeksi), TH2
(alergi)
APC sitokin (IL1) rangsang TH2 sitokin (IL3,4) ikat di reseptor
limfosit B IgE sirkulasi darah dan jaringan (Rx. HP tipe 1)
2. Bila jaringan terpapar allergen, maka IgE+allergen degranulasi mastosit
dan basofil histamin rs. Alergi rhinitis alergi (rinore, gatal, bersin,
tersumbat(Rx. HP tipe 4)
Pemeriksaan Fisik
1. Rinoskop anterior edem, basah, pucat, secret encer, banyak. Mukosa
inferior hipertrofi
2. Stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung bayangan gelap bawah
mata
3. Allergic salute menggosok hidung dengan punggung tangan
4. Akibat menggosok, timbul garis lintang di dorsum nasi 1/3 bawah
Allergic crease
5. Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi
gangguan pertumbuhan gigi geligi facies adenoid
6. Gambaran peta di lidah geographic tongue

7. Dinding posterior faring tampak granuler & edema