Anda di halaman 1dari 5

New Mindset to be superior Mindset to Stop Corupti on Young Generation

Hingga dewasa ini, korupsi masih menjadi problem di negara-negara berkembang.


Korupsi memang sudah menjadi penyakit sosial di negara-negara berkembang dan
sangat sulit diberantas. Untuk melakukan pemberantasan korupsi ternyata juga sangat
banyak hambatannya. Maka, bagaimanapun keras usaha yang dilakukan oleh
pemerintah melalui lembaga-lembaga negara ternyata korupsi juga tidak mudah
dikurangi apalagi dihilangkan. Bahkan secara menyeluruh bisa dinyatakan bahwa
korupsi tidak akan pernah bisa untuk dihilangkan. Kenyatannya memang tidak ada
suatu negara di dunia ini yang memiliki indeks persepsi korupsi (IPK) yang berada di
dalam angka mutlak 10, paling banter adalah mendekati angka mutlak tersebut.
Sejarah korupsi memang setua usia manusia. Ketika manusia mengenal relasi
sosial berbasis uang atau barang, maka ketika itu sebenarnya sudah terjadi yang
disebut korupsi. Hanya saja memang kecanggihan dan kadar korupsinya masih sangat
sederhana. Akan tetapi sejalan dengan perubahan kemampuan manusia, maka cara
melakukan korupsi juga sangat variatif tergantung kepada bagaimana manusia
melakukan korupsi tersebut. Jadi, semakin canggih manusia merumuskan rekayasa
kehidupan, maka semakin canggih pula pola dan model korupsinya. Untuk membahas
korupsi lebih dalam maka alangkah baiknya terlebih dahulu untuk mengetahui arti
dari korupsi.
Kata Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang
memiliki arti busuk, rusak, menyogok, menggoyahkan, memutarbalik. Secara Harfiah,
Korupsi berarti kebusukan, kebejatan, ketidak jujuran, dapat disuap, tidak bermoral,
penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang memfitnah.
Andi Hamzah, (2005) menjelaskan bahwa Korupsi berawal dari bahasa latin
corruptio atau corruptus. Corruptio berasal dari kata corrumpere, suatu kata latin yang
lebih tua. Dari bahasa latin itulah turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris yaitu
corruption, corrupt; Prancis yaitu corruption; dan Belanda yaitu corruptie, korruptie.
Dari Bahasa Belanda inilah kata itu turun ke Bahasa Indonesia yaitu korupsi.
Kemudian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Korupsi adalah penyelewengan
atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau
orang lain, menyelewengkan; menggelapkan (uang dsb).
Menurut pasal 435 KUHP, korupsi berarti busuk, buruk, bejat dan dapat disogok,
suka disuap, pokoknya merupakan perbuatan yang buruk. Perbuatan Korupsi dalam
istilah kriminologi digolongkan kedalam kejahatan White Collar Crime. Dalam
praktek Undang-undang yang bersangkutan, Korupsi adalah tindak pidana yang
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang yang secara langsung
ataupun tidak langsung merugikan keuangan Negara dan perkenomian negara.
Kemudian sejauh ini kita tahu secara umum bahwa biasanya korupsi terjadi karena
penyelewengan uang negara atau bisa juga dikaitkan pada bidang ekonomi Korupsi
juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak
efisienan yang tinggi. Mengenai kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri
dibanding dengan kebutuhan hidup yang makin hari makin meningkat pernah di
kupas oleh B Soedarsono yang menyatakan antara lain "Pada umumnya orang

menghubung-hubungkan tumbuh suburnya korupsi sebab yang paling gampang


dihubungkan adalah kurangnya gaji pejabat-pejabat....." namun B Soedarsono juga
sadar bahwa hal tersebut tidaklah mutlak karena banyaknya faktor yang bekerja dan
saling memengaruhi satu sama lain. Kurangnya gaji bukanlah faktor yang paling
menentukan, orang-orang yang berkecukupan banyak yang melakukan korupsi. Selain
itu, dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari
pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan
risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang
menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah
birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan
menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan baru. Dimana
korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga mengacaukan "lapangan
perniagaan". Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan
sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien. Korupsi
juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan
pemerintahan.
Korupsi yang mewabah ini tak hanya ada pada aspek perekonomian seperti yang
sudah diceritakan diatas, namun juga pada aspek yang lain yaitu seperti warisan
budaya. Warisan budaya tak selamanya baik, ada kalanya budaya justru menjadi
rantai setan yang membelit dan sulit lepas dari korbannya. Budaya diwariskan dari
generasi ke generasi berikutnya melalui pembelajaran langsung maupun tidak
langsung.
Dalam sebuah kantor misalnya, jika karyawan seniornya sering datang terlambat
atau pulang lebih cepat dari yang telah ditetapkan perusahaan, maka secara langsung
atau tidak langsung telah mentransfer budaya korupsi waktu kepada karyawan
juniornya. Jika hal ini terus menerus dibiarkan tanpa adanya teguran dari atasan
sekaligus memberikan contoh yang baik dengan bekerja ontime (tepat waktu), maka
lambat laun akan menjadi budaya perusahaan yang offtime (terlambat).
Kedua, yaitu cara pandang yang salah tentang kekayaan menggunakan konsepsi
Alfred Schutz tentang because motive atau disebut sebagai motif penyebab. Di dalam
konsepsi ini, maka dapat dinyatakan bahwa tindakan manusia ditentukan oleh ada
atau tidaknya faktor penyebabnya. Maka seseorang melakukan korupsi juga
disebabkan oleh beberapa faktor penyebab. Faktor penyebab itulah yang disebut
sebagai motif eksternal penyebab tindakan.
Manusia dewasa ini sedang hidup di tengah kehidupan material yang sangat
mengedepan. Dunia kapitalistik memang ditandai salah satunya ialah akumulasi
modal atau kepemilikan yang semakin banyak. Semakin banyak modal atau
akumulasi modal maka semakin dianggap sebagai orang yang kaya atau orang yang
berhasil. Maka ukuran orang disebut sebagai kaya atau berhasil adalah ketika yang
bersangkutan memiliki sejumlah kekayaan yang kelihatan di dalam kehidupan seharihari. Ada outward appearance yang tampak di dalam kehidupan sehari-harinya.
Cobalah kalau kita berjalan di daerah-daerah yang tergolong daerah komunitas kaya,
maka hal itu cukup dilihat dengan seberapa besar rumahnya, di daerah mana rumah

tersebut, dan apa saja yang ada di dalam rumah tersebut. Maka dengan mudah dapat
diketahui bahwa ada perumahan yang tergolong sebagai perumahan elit.
Di tengah kehidupan yang semakin sekular, maka ukurannya adalah seberapa besar
seseorang bisa mengakses kekayaan. Semakin kaya, maka semakin berhasil. Maka
ketika seseorang menempati suatu ruang untuk bisa mengakses kekayaan, maka
seseorang akan melakukannya secara maksimal. Di dunia ini, banyak orang yang
mudah tergoda dengan kekayaan. Karena persepsi tentang kekayaan sebagai ukuran
keberhasilan seseorang, maka seseorang akan mengejar kekayaan itu tanpa
memperhitungkan bagaimana kekayaan tersebut diperoleh.
Dalam banyak hal, penyebab seseorang melakukan korupsi adalah karena
ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya.
Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidak mampu ditahan sementara akses ke arah
kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi, maka jadilah seseorang akan
melakukan korupsi. Jadi, jika menggunakan cara pandang penyebab korupsi seperti
ini, maka salah satu penyebab korupsi adalah cara pandang terhadap kekayaan. Cara
pandang terhadap kekayaan yang salah akan menyebabkan cara yang salah dalam
mengakses kekayaan. Korupsi dengan demikian kiranya akan terus berlangsung,
selama masih terdapat kesalahan tentang cara memandang kekayaan. Semakin banyak
orang salah dalam memandang kekayaan, maka semakin besar pula kemungkinan
orang akan melakukan kesalahan dalam mengakses kekayaan.
Setelah mengerti tentang dampak dan penyebab yang ada dari korupsi pada
beberapa aspek dan bidang kehidupan maka kini hal yang paling utama untuk
menghindari dampak yang sudah terjadi karena korupsi yaitu cara menangani korupsi,
yang ada di lingkungan Indonesia raya ini dan pemilihan cara yang digunakan dalam
menangani hal tersebut.
Dari beberapa upaya yang ada untuk menangani kasus ini ada 2 macam cara yaitu
cara preventif dan kuratif, pembahasan yang pertama, yaitu cara yang akan dibahas
lebih dalam yaitu Cara Preventif .
Strategi preventif diarahkan untuk mencegah terjadinya korupsi dengan cara
menghilangkan atau meminimalkan faktor-faktor penyebab atau peluang terjadinya
korupsi. Berangkat dari fenomena korupsi yang telah lama sekali membelit bangsa
yang kita cintai, baiknya warisan budaya dan cara pandang yang salah terhadap
kekayaan harus diakhiri dengan pendidikan, sebab pendidikan adalah pondasi yang
akan membangun karakter generasi bangsa yang akan melanjutkan generasi
sebelumnya.
Faktanya masih bisa dihitung dengan jari, universitas yang telah memasukan
pendidikan anti korupsi ke dalam kurikulum pendidikannya, masih minim kesadaran
dan implementasi untuk mengikis budaya korupsi melalui pendidikan. Padahal,
melalui pendidikanlah faktor penyebab korupsi setahap demi setahap dikikis.
Pendidikan akan efektif manakala ditanamkan sedini mungkin, meskipun bukan
berarti terlambat jika mulai diterapkan bagi seseorang yang telah lama mengenyam
pendidikan. Bukanlah ide yang buruk jika pendidikan anti korupsi ditanamkan sejak
Sekolah Dasar.
Bahkan, kalau perlu dimasukan kepada kurikulum pendidikan. Sebab Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) yang digalakan sejak sepuluh tahun silam tanpa

diimbagi oleh pendidikan dasar anti korupsi bisa jadi memicu faktor penyebab
korupsi. Mengapa? Karena orientasinya hanya kepada hasil akhir, bagaimana seorang
siswa bisa mencapai kesuksesan akademik tanpa ditopang bagaimana proses siswa
tersebut meraih kesuksesan akademik secara halal
Kalaupun pendidikan anti korupsi belum menjadi kurikulum di Sekolah Dasar,
padahal kekinian penting artinya, maka sebagai orangtua atau masyarakat umum bisa
melakukan beberapa hal berikut ini. Mengenalkan kepada anak sedini mungkin apa itu
korupsi dan bagaimana seseorang dapat dikategorikan korupsi.
Menurut Prof. Dr. H. Jalaludin, M.A., seorang Guru Besar bidang studi Filsafat
Pendidikan IAIN Raden Fatah Palembang (dalam Suyitno, 2006: 191), dalam upaya
pemberantasan korupsi, lembaga pendidikan memiliki peranan penting, yaitu sebagai
benteng pertahanan dan pendobrak. Lembaga pendidikan berperan aktif dalam
mempersiapkan generasi bangsa yang memiliki komitmen tinggi terhadap nilai-nilai
luhur, yaitu memiliki jati diri yang jelas, serta mampu menjaga nurani dari pengaruh
tindakan nista. Sehingga diharapkan generasi bangsa memiliki kesadaran moral untuk
memberantas tindak korupsi dengan memulainya dari dirinya sendiri.
Menurut hemat saya, apabila hanya memberikan upaya preventif diatas tidak
menutup kemungkinan bahwa generasi muda dapat menghilangkan kebiasaan
buruknya secara sengaja atau tidak disengaja yang sudah merupakan suatu tindakan
korupsi meski kadar korupsi di lingkup generasi muda tidak serumit dan sebesar
tindakan korupsi yang dilakukan generasi tua terutama yang menduduki kursi
pemerintahan tetapi dampak yang akan terjadi akan sama buruk seperti generasi
sebelumnya karena budaya korupsi yang sudah diaplikasikan dalam kehidupan sudah
dimulai sejak dini. Jadi, generasi muda lebih dominan meniru tindakan yang dilakukan
oleh masyrakat dilingkungannya dan generasi sebelumnya sebagai pedoman hidup
seperti seorang siswa yang awalnya hanya melirik temannya ketika ulangan, menjadi
selalu menyontek ketika ulangan untuk mendapatkan nilai yang tinggi tanpa usaha dan
kepatuhan dalam belajar karena teman-temannya bisa mendapat nilai yang tinggi tanpa
harus belajar. Maka upaya yang dapat dijalankan tak lepas dari faktor hiburan yang
paling disegani oleh kalangan muda melalui sarana yang ada seperti media cetak,
massa dsb bisa dibuat suatu program khusus yang dibuat dengan semenarik mungkin
yang sesuai dengan tingkat hiburan kalangan muda sehingga bisa berdampak baik,
yaitu dengan program yang bertujuan merubah pemikiran kalangan muda ke arah anti
korupsi.
Strategi preventif juga dapat dilakukan dengan.; Memperkuat Dewan Perwakilan
Rakyat; memperkuat Mahkamah Agung dan jajaran peradilan di bawahnya;
Membangun kode etik di sektor Parpol, Organisasi Profesi dan Asosiasi Bisnis;
Meneliti sebab-sebab perbuatan korupsi secara berkelanjutan; Penyempurnaan
manajemen sumber daya manusia (SDM) dan peningkatankesejahteraan Pegawai
Negeri; Peningkatan kualitas penerapan sistem pengendalian manajemen;
Penyempurnaan manajemen Barang Kekayaan Milik Negara (BKMN); Peningkatan
kualitas pelayanan kepada masyarakat; Kampanye untuk menciptakan nilai (value) anti
korupsi secara nasional.
Kemudian upaya selanjutnya yang akan digunakan yaitu dengan cara
penanggulangan korupsi cara kuratif, prasyarat keberhasilan dalam pencegahan dan
penanggulangan korupsi adalah adanya komitmen dari seluruh komponen bangsa,
meliputi komitmen seluruh rakyat secara konkrit, serta Lembaga Tinggi Negara.
Komitmen tersebut telah diwujudkan dalam berbagai bentuk ketetapan dan peraturan
perundang-undangan di antaranya sebagai berikut:

1. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara Yang


Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
2. Undang-undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih
dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;
3. Undang-undang No. 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
yang selanjutnya disempurnakan dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001.
4. Undang-undang No. 20 tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-undang No.31
tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
5. Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Kedua pendekatan solusi ini penting; namun, menurut Aswicahyono meletakkan
keduanya secara berhadapan dalam hubungan yang kompetitif, dan hal ini perlu
dikoreksi. Alasannya, kedua solusi tersebut tidak bersifat mengecualikan satu sama
lain (mutually distributive); keduanya dapat diterima sebagai solusi yang saling
melengkapi (mutually complementary). Perlu senantiasa diingat, baik sendiri maupun
secara bersama-sama, kedua pendekatan solusi korupsi masih belum memadai.
dipandang secara keseluruhan.
Sudah terlihat dari definisi, korupsi merupakan suatu tindakan yang merugikan
banyak pihak, budaya yang
.