Anda di halaman 1dari 10

1.

Indeks bias
Indeks bias adalah suatu angka (konstanta) yang menunjukan
perbandingan antara sinus sudut datanh dan sinus sudut pantul ;
(n=sin i/sin r =l/v ) . indeks bias juga merupakan fungsi dari sinar
didalam medium yang berbeda.
Pengukuran indeks bias dapat dilakukan secara relatif dengan
memperhatikan relief dan dibandingkan dengan pergerakan garis
becke,atau secara absolut dengan menggunakan minyak imersi.
Semua kristal yang bersistem isometrik tergolong sebagai zat isotropik
dengan demikian mempunyai satu harga indeks bias (n dan n ),
sedangkan yang bersistem orthorombik, monoklin, atau
triklin,mempunyai tiga harga indeks bias [n n ,dan n ].

Indeks bias yang dimaksud adalah indeks bias dari mineral jika dibandingkan
dengan indeks bias balsam.
Ketika tubus diturunkan dan mineral membesar, maka nmineral < nbalsam dan
sebaliknya.
Indeks bias mineral dapat diartikan sebagai salah satu nilai (konstanta)
yang menunjukkan perbandingan sinus sudut datang (i) dengan
sinus sudut bias atau refraksi (r). Berdasarkan pengertian tersebut,
maka indeks bias (n) juga merupakan fungsi dari perjalanan sinar di
dalam medium yang berbeda.

Indeks bias : adalah suatu angka (konstanta) yang menunjukkan perbandingan


antara sinus sudut datang dan sinus sudut pantul (n=sin i/ sin r). Indeks bias juga
merupakan fungsi dari sinar didalam medium yang berbeda-beda.
Pengukuran indeks bias dapat dilakukan secara absolut dengan menggunakan
minyak imersi maupun relatif dengan memperhatikan relief dan dibandingkan
dengan pergerakan garis becke. Sebenarnya penentuan indeks bias menggunakan
garis becke adalah permainan cahaya, saat objek kita jauhkan atau meja objek
diturunkan, kita lihat pergerakan garis beckenya. Garis becke akan mendekati
indeksbias yang lebih tinggi saat dijauhkan. Contoh garis becke masuk kedalam
mineral saat dijauhkan, berarti nmin>ncb. Begitu juga sebaliknya.
Semua kristal yang bersistem isometrik tergolong sebagai zat isotropik dengan
demikian mempunyai satu harga indeks bias, sedangkan yang bersistem
orthorombik, monoklin atau triklin mempunyai tiga harga indeks bias.
Menetukan indeks bias mineral dengan cara:
Menutup sebagian jalan masuknya cahaya kedalam mineral dengan
menggunakan benda yang tidak tembus cahaya.

Apabila bayangan gelap nampak pada posisi yang berlawanan


dengan arah posisi penutupnya, maka n min < n cb.
Sebaliknya jika terlihat bayangan gelap nampak pada posisi yang
searah dengan arah penutup datangnya sinar, maka n min> n cb.
2. Pecahan dan belahan

1.5

BELAHAN
Belahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu

atau lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang
mampu membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak hancur,
tetapi terbelah-belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua mineral
mempunyai sifa ini, sehingga dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar dan
sukar dibelah atau tidak dapa dibelah. Tenaga pengikat atom di dalam di dalam
sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh sebab itu bila terdapat ikatan
yang lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah
melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui bidangbidang tersebut. Karena keteraturan sifat dalam mineral, maka belahan akan
nampak berjajar dan teratur (Danisworo, 1994).
Apabila suatu mineral mendapat tekanan yang melampaui batas elastisitas
dan plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan pecah. Belahan mineral akan
selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata karena belahan
merupakan gambaran dari struktur dalam dari kristal. Belahan tersebut akan
menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian yang kecil, yang setiap bagian kristal
dibatasi oleh bidang yang rata. Berdasarkan dari bagus atau tidaknya permukaan
bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :
a.

Sempurna ( Perfect )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang

merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.
Contoh : calcite, muscovite, galena, halite.
b. Baik ( Good )

Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata,
tetapi dapat juga terbelah tidak melalui bidang belahannya . Contoh : feldspar,
hyperstene, diopsite, rhodonite.
c. Jelas ( Distinct )
Yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi mineral
tersebut

sukar

membelah

melalui

bidang

belahannya

dan

tidak

rata.

Contoh : staurolite, scapolite, hornblende, anglesite, scheelite.

d. Tidak Jelas ( Indistinct )


Yaitu apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi kemungkinan untuk
membentuk belahan dan pecahan sama besar. Contoh : beryl, corundum, platina,
gold, magnetite.
e. Tidak sempurna ( Imperfect )
Yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya, dan mineral akan
pecah dengan permukaan yang tidak rata. Contoh : apatite, cassiterite, native
sulphur.
Belahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk mengalami disintegrasi
sepanjang bidang lemahnya. Belahan dapat dibagi menjadi:

1 arah: Mika, Muskovit

2 arah: Feldspar, Amphibole

3 arah: Halit, Kalsit

4 arah: Flourit

.
1.6

PECAHAN

Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah


yang tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan
belahan dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar.
Permukaan bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti
cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala arah dengan
tidak teratur (Danisworo, 1994).
Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:

Concoidal: bila memperhatikan gelombang yang melengkung di permukaan


pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan botol. Contoh Kuarsa.

Splintery/fibrous: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya asbestos,


augit, hipersten

Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus,


contoh pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.

Uneven: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan yang


kasar, contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.

Hackly: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak teratur dan
runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan perak.

3. Jenis Gelapan dan Sudut Gelapan


.
d. Sudut Gelapan dan Jenis Gelapan
Sudut gelapan adalah sudut yang dibentuk oleh sumbu panjang kristalografi
(sb-c) dengan sumbu indikatrik mineral, baik sinar cepat maupun sinar
lambat. Gelapan adalah keadaan mineral pada kedudukan warna interferensi
maksimum, terjadi apabila sumbu indikatris (arah getar sinar) mineral sejajar
dengan arah getar analisator atau polarisator. Terdapat beberapa jenis gelapan,
yaitu :

Gelapan sejajar (paralel), terjadi bila pemadaman berada pada posisi


dimana sumbu panjang atau belahan mineralnya sejajar sumbu-c dan
sejajar pula dengan benang silang. Gelapan ini umumnya terjadi pada sistem
kristal tetragonal, heksagonal, trigonal dan ortorombik.
Gelapan simetris, terjadi bila pemadaman pada posisi simetris (X,Z = 45 o).
Umumnya pada sayatan mineral sistem ortorombik, monoklin, misalnya pada
jenis mineral piroksin dan amphibol.
Gelapan miring, gelapan jenis ini merupakan pemadaman yang terjadi pada posisi
dimana sumbu panjang kristal (belahan yang sejajar sumbu-c) membentuk
sudut dengan arah getar analisator atau polarisator.
Gelapan

bergelombang,

gelapan

jenis

ini

terjadi

karena

keseluruhan

mineral telah mengalami tekanan namun belum sampai rekristalisasi secara


sempurna, umumnya pada kuarsa.

Muncul jika salah satu vibrasi sejajar polarizer bawah.


Sinar datang tertahan oleh polarizator dan tidak mampu terpantul
Sinar yang melalui mineral terserap oleh polarizator, mineral
terlihat gelap.
Pada putaran posisi 45, sinar cepat dan sinar lambat mampu
dirubah
menjadi vibrasi pada polarizer atas.
Hanya perubahan warna interference saja yang menjadi lebih terang
atau lebih gelap, warna sebenarnya tidak berubah.
Banyak mineral secara umum membentuk butiran memanjang dan
dengan mudah dikenali kedudukan belahannya, ct. biotit,

horenblenda, plagioklas.
Sudut pemadaman adalah sudut antara panjang atau belahan
mineral
dan kedudukan vibrasi mineral.
Nilai sudut pemadaman masing-masing mineral bervariasi mengikuti
arah orientasi butirannya.

Tipe Gelapan
Pemadaman Parallel; Mineral menjadi gelap ketika belahannya atau
sumbu panjang searah terhadap salah satu benang silangnya. Sudut
pemadaman (EA) = 0; contoh:
Orthopiroksen dan Biotite
Pemadaman Paralel
semua mineral uniaxial menunjukkan pemadaman parallel
mineral-mineral orthorhombik menunjukkan pemadaman parallel
(hal itu karena sumbu kristal dan sumbu indicatrik serupa)

Pemadaman Miring; mineral gelap ketika belahan membentuk sudut


dengan benang silang, (EA) > 0 ; contoh:
Klinopiroksen dan Horenblenda
Mineral-mineral Monoclinic dan Triclinic memiliki sumbu
indikatrik yang tidak serupa dengan subu kristalnya ----memiliki pemadaman
miring
sudut pemadaman dapat membantu memerikan nama

mineralnya

Pemadaman Simetri; mineral menunjukkan belahan 2 arah atau dua


perbedaan muka kristal---- memungkinkan untuk mengukur dua sudut
gelapan antara masing-masing belahan atau muka dan kedudukan vibrasi.
Jika 2 sudut sama maka akan dijumpai pemadaman simetri, (EA1 = EA2);
contoh:
Amfibol dan Kalsit
Tanpa belahan: mineral yang tidak memanjang atau tidak memperlihatkan
belahan yang mencolok, akan memberikan pemadaman setiap diputar
90, tetapi tidak dapat diukur sudut pemadamannya; contoh:
Kuarsadan olivine
..
21. Menentukan sudut gelapan dengan cara:

Memastikan posisi awal meja objek dalam keadaan terang maksimum dan
mencatat nilai yang ditunjukkan skala meja objek

Memutar meja objek ke kiri hingga gelap maksimum dan mencatat nilai
yang ditunjukkan skala meja objek.

Dan mengembalikan meja objek pada posisi awal (terang maksimum)


kemudian memutar ke kanan hingga gelap maksimum.

Menghitung

selisih

nilai

yang

ditunjukkan

pada

saat

mineral

menunujukkan kondisi terang maksimum (posisi awal) dan pada saat

kondisi gelap maksimum (ketika meja objek diputar kea rah kiri dan kanan
dari posisi awal)
22. Menentukan jenis gelapan berdasarkan nilai yang ditunjukkan sudut gelapan

4. Penentuan TRO
23. Menentukan TRO dengan cara:

Memasukkan komparator keping gips.

Melihat perubahan warnanya. Jika terjadi penambahan warna berarti


mengalami addisi dan jika terjadi pengurangan warna berarti substraksi.

Melihat perubahan warna tersebut pada Tabel Michel-Levy. Jika berbeda


orde Length slow dan jika dalam satu orde berarti Length- fast
Tanda rentang optik
Tanda rentang optik adalah istilah untuk menunjukkan
hubungan antara sumbu kristalografi (terutama arah memanjangnya
kristal) dengan sumbu sinar cepat (x) dan lambat (z).
Tujuannya adalah menentukan sumbu sinar mana (x atau z)
yang kedudukannya berimpit atau dekat (menyudut lancip) dengan
sumbu panjang kristal. Dengan demikian, TRO hanya dimiliki oleh
mineral yang memiliki belahan satu arah atau arah memanjangnya
mineral (sumbu c). Jenis tanda rentang optik yaitu :
- Length slow (+) = sumbu c berimpit /menyudut lancip dengan
arah getar sinar lambat (sumbu z). Keadaan ini dinamakan Addisi
yaitu penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator
digunakan.

- Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut lancip dengan arah


getar sinar cepat (sumbu x). Keadaan ini dinamakan Substraksi
yaitu pengurangan orde warna interferensi pada saat kompensator
digunakan.
Penentuan tanda rentang optik dilakukan dengan pengamatan
nikol bersilang dengan menggunakan kompensator (keping gips/baji
kuarsa). Cara menentukan orientasi optik dan sudut gelapan antara
lain:
- Letakkan mineral pada posisi sumbu panjang (c) sejajar PP
(vertikal)
- Putar meja objek sehingga pada terang max
- Catat warna interferensinya, orde
- Masukkan keping kompensator, perhatikan gejala yang terjadi,
addisi atau subtraksi
- Jika subtraksi = z kompensator tegak lurus z indikatriks mineral,
length fast, TRO negatif
- Jika addisi = z kompensator sejajar z indikatriks mineral, length
slow, TRO positif
- Putar meja ke kiri hingga gelap maks, pada kedudukan ini z atau
g sejajar atau tegaklurus PP, catat kedudukan ini Ao
- Putar kembali meja objek hingga sumbu panjang kristal sejajar
PP, catat kedudukannya Bo
- Sudut gelapannya = A-B
5. Pembacaan Michele levy
Standardisasi sayatan tipis memiliki ketebalan 0,03 mm. Dalam
sayatan tipis,interference mineral harus dapat diamati, yang hanya
dapat dalam sayatan tipis0,03mm. Warna interference dapat dilihat
dari posisi horizontal sayatan. Setelahwarna interference diketahui,
pengamatan dilanjutkan melalui garis diagonalnyahingga didapatkan

sifat birefringence (BF). Dari posisi birefringence, denganmeluruskan ke


bawah

melalui

garis

diagonal

ke

perpotongannya,

akan

diketahuiketebalan standarnya, apakah lebih tebal atau tidak dari 0,03


mm. Orde warnainterference dan birefringence menggunakan tabel
warna Michel-LevyBirefringence ditentukan dari refraksi ganda pada
pantulan sinar maximum(warna orde tertinggi). BF dapat dilihat jika
posisi sayatan berada pada sudutpemadaman 45O terhadap nikol. BF
dapat digunakan (bertujuan) untuk mengujiketebalan sayatan kristal.
Cara

Pengindentifikasian

Berdasarkan

Tabel

Mineral

Michael

sangatlah

Levy,Tinggal

Mudah

Ditarik

saja

jika
Dari

Dilihat
Garis

Horizontal ),03 mm Pada Thickness mm Kemudian Di arahkan


Berdasarkan Warna Biferingencenya yang telah tersedia Pada Bagian
Atas Tabel,jika Telah dapat BF nya Tarik Garis Lurus vertikal Ke Arah
Bawah untuk menentukkan mineral Tersebut Berada Pada Orde Ke
Berapa.

Membaca Michel Lvy Chart


Michel Lvy chart digunakan untuk mengenali karakteristik mineral dari
nilai intereferensi maksimum yang didapat dari mineral yang belum kita
ketahui. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut (ilustrasi lihat
gambar di bawah):
1. Pengamatan nikol silang
2. Tempatkan mineral pada posisi gelap sempurna
3. Putar mineral sampai berada pada posisi terang sempurna
4. Kenali warna terang maksimumnya secara visual dengan
membandingkan dengan diagram michel levy. Kemudian baca berapa
panjang gelombang nya di bagian bawah dari diagram (catat pembacaan,
misalkan kita mendatkan warna biru, dan kita bingung apakah ini biru
mewakili orde 2-655 nm atau biru orde 3-1150 nm)
5. Masukkan plat gypsum (panjang gelombang 550 nm)
6. Warna yang kita lihat adalah warna yang sudah bertambah 1 lambda
(Misalkan warna yang kita dapat berwarna biru kehijauan, maka panjang
gelombang 655+550= 1205).