Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
Depresi merupakan bagian dari gangguan mood. Mood adalah keadaan
emosional internal yang meresap dari seseorang. Emosi adalah kompleksitas
perasaan yang meliputi psikis, somatik dan perilaku yang berhubungan dengan
afek dan mood.2 Gangguan depresi merupakan gangguan yang banyak kita jumpai
dalam praktik sehari-hari dan dapat mengenai semua usia.
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyerta. 2 Pasien depresi
memperlihatkan

kehilangan

energi

dan

minat,

merasa

bersalah,

sulit

berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir untuk mati dan bunuh diri. Tanda
dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat aktivitas, kemampuan kognitif,
bicara dan fungsi vegetatif (termasuk tidur, aktivitas seksual dan ritme biologi
yang lain). Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal,
sosial dan fungsi pekerjaan. Neurotransmitter yang mungkin berkurang pada
gangguan depresi adalah norepineprin, dopamin, dan serotonin.3
Gangguan depresi paling sering terjadi dengan prevalensi seumur hidup
sekitar 15%. Perempuan dua kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki. Hal ini
diduga adanya perbedaan hormon. Rata-rata usia penderita sekitar 40 tahun. Data
terkini menunjukkan, gangguan depress berat diusia kurang dari 20 tahun, yang
mungkin

berhubungan

dengan

meningkatnya

pengguna

alkohol

dan

penyalahgunaan zat.3
Pengobatan yang diberikan adalah terapi farmakologis, yaitu obat
antidepresan, seperti obat trisiklik, tetrasiklik, Monoamine oxidase inhibitors
(MAOIs) atau Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs), perawatan di
rumah sakit, dan terapi psikososial, termasuk terapi kognitif, terapi interpersonal,
terapi keluarga, terapi perilaku, dan terapi berorientasi psikoanalitis.2

BAB II
STATUS PASIEN
I. IDENTIFIKASI PASIEN
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Umur
d. Status pernikahan
e. Agama
f. Tingkat pendidikan
g. Warga negara
h. Suku bangsa
i.

: Nn. BAK
: Perempuan
: 42 tahun
: Menikah
: Islam
: Tamat SMA
: Indonesia
: Palembang
Alamat: Jln. Silabranti, lrg kedeperan, kelurahan

silaberanti kecamatan seberang ulu 1


j. Pekerjaan
: IRT
II. ANAMNESIS
A. ALLOANAMNESIS
a. Keluhan Utama
:Susah tidur semakin berat sejak 1 bulan SMRS
b. Riwayat Perjalanan Penyakit
1 tahun yang lalu, pasien mengeluh sulit tidur. Os merasa sering
murung, Pasien sering merasa sedih dan terkadang menangis di kamar.
Pasien tidak sering marah-marah dan tidak melempar barang di sekitar
pasien. Pasien tidak sering menyakiti diri sendiri, seperti menggigit dan
mencakar tangan pasien. Nafsu makan pasien berkurang, pasien hanya
makan dan minum seadanya. Pasien masih dapat mengurus diri sendiri,
seperti makan dan mandi. Pasien tampak lebih cepat lelah, sulit tidur
pada malam hari. Perilaku pasien seperti ini baru pertama kali terjadi.
Perilaku pasien berubah semenjak suami pasien jarang pulang kerumah
karena bertugas di luar kota.
3 minggu yang lalu, pasien merasa susah tidur semakin
memberat , Pasien sering merasa sedih dan terkadang menangis di
kamar, pasien mengaku gelisah memikirkan anak, suami, dan
keluarganya. Perilaku pasien seperti ini yang membuat semakin berat
ketika terjadi masalah dengan kakak ipar. .Pasien tidak terlihat sering
berbicara sendiri dan tidak mudah curiga terhadap orang lain. Pasien

tidak mengatakan adanya bisikan-bisikan ataupun melihat sesuatu.


Pasien juga mengeluh jantungnya berdebar dan sering merasa nyeri
perut. Pasien kemudian ke UGD AK Gani dikatakan sakit lambung dan
pasien diberi aprazolam dan keluhan susah tidurnya berkurang.
1 hari SMRS keluhan susah tidur kembali muncul dan semakin
berat, dan tidak berubah dengan minum aprazolam.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit lain disangkal.
d. Riwayat Premorbid
- Lahir
: lahir cukup bulan,spontan, langsung menangis
- Bayi
: tumbuh kembang baik
- Anak-anak
: interaksi sosial baik
- Remaja
: interaksi sosial baik
- Sekarang
:pendiam, menarik diri, cemas, tidak memiliki
keinginan untuk melakukan apapun.
e. Riwayat perkembangan organobiologi
-

Riwayat kejang (-)


Riwayat demam tinggi
yang lama (-)

- Riwayat trauma kepala (-)


- Riwayat asma (-)
- Riwayat sakit ginjal (-)

f. Riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang


Riwayat mengonsumsi alkohol dan NAPZA disangkal.
g. Riwayat pendidikan
-

Pasien tamat SD.

h. Riwayat pekerjaan
Setelah lulus SD, pasien hanya di rumah untuk membantu
ibunya melakukan pekerjaan rumah.
i. Riwayat perkawinan
Pasien belum menikah.
j. Keadaan sosial ekonomi
Pasien tinggal bersama keluarga dengan keadaan sosial
ekonomi menengah ke bawah.
-

k. Riwayat keluarga
- Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa disangkal.
- Pedigree:
- Pasien merupakan anak keempat dari empat bersaudara.
B. AUTOANAMNESIS DAN OBSERVASI
Wawancara dan observasi dilakukan pada Rabu, 30
September 2015 pukul 11.00 s.d. 12.00 WIB di Bangsal Kenanga Rumah
Sakit Ernaldi Bahar, Palembang. Penampilan pasien cukup rapi, pasien
memakai

baju

lengan

pendek.

Pemeriksa

dan

pasien

duduk

salingberhadapan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa


Indonesia.
-

Pemeriksa
Selamat

pagi, bu.

tangan

muda Akbar

pemeriksa)
-

dan
mengulurka
n tangan)

Siapa nama

42 tahun.

Ibu umurnya

Sekarang

Hari ini hari

adekuat
Perhatian

(+)
Konsentrasi

cukup
Mood

Sulit tidur
dok

hipotimik
-

Di rumah
Kenanga.
Rabu.

apa?
-

sakit.

kitadimana?

Interpretasi
Kontak (+)

Bakimah

ibu?

berapa?

(menjabat

Saya dokter
(tersenyum

Pasien
Pagi, dokter

baik
-

Daya ingat
baik

Orientasi
tempat baik

Saya
kepikirkan

Daya ingat

Orientasi
waktu baik

Ya ibu bak,

anak

ada yang

dok,
-

bisa saya
bantu?
-

Apa

sembuh
sembuh, jadi

n ibu sulit
tidur,

ada

yang

ibu

cemaskan?
Kenapa
dengan anak
anak?
-

menggangg
u

mereka
-

Kira kira 1
tahun lalu

Dulu suami

Sejak kapan

di luar kota

ibu

dok.
Dua minggu

sulit
-

sekali
Dulu
awalnya
sulit

tidur,

mencemaska
n apa bu
Sering
pulang

Sekarang
sudah

ibu

belajar

saya bekerja

tidur?
-

karena sakit
saya ini ga

yang

menyebabka

anak

idak

lg
-

Di

kodim

sinila dok
-

bapaknya?
-

Sampe
sekarang
bapak tugas
di luar kota
bu?
7

Sekarang
tugas

dmn

bu
bapaknya?
III.PEMERIKSAAN
A. STATUS INTERNUS
1) Keadaan Umum
-

Sensorium

: Compos mentis
Frekuensi nadi
: 82x/menit
-

Tekanan darah

Frekuensi

napas

: 20 x/menit

: 110/70 mmHg Suhu


: 36,7 0C
B. STATUS NEUROLOGIKUS
1)
2)
3)
4)

Urat syaraf kepala (panca indera)


: tidak ada kelainan
Gejala rangsang meningeal
: tidak ada
Gejala peningkatan tekanan intracranial : tidak ada
Mata
Gerakan
: baik ke segala arah
Persepsi mata : baik, visus normal
Pupil : bentuk bulat, sentral, isokor,
3mm/3mm
Refleks cahaya
: +/+
Refleks kornea
: +/+
Pemeriksaan oftalmoskopi : tidak
dilakukan
5) Motorik
-

Fungsi
Motori

Lengan
-

Tungkai
-

Ka

Lu

lu

k
-

Gerakan

Kekuatan

Tonus

5
-

5
-

5
-

5
-

Eu

eu

+
-

+
-

+
-

Klonus

Refleks

fisiologis
Refleks

patologis
6)
7)
8)
9)

Sensibilitas
: normal
Susunan syaraf vegetatif: tidak ada kelainan
Fungsi luhur
: tidak ada kelainan
Kelainan khusus
: tidak ada
-

C. STATUS PSIKIATRIKUS
-KEADAAN UMUM
a. Sensorium
: Compos Mentis
b. Perhatian
: adekuat
c. Sikap
: kooperatif
d. Inisiatif
: ada
e. Tingkah laku motorik : normoaktif
f. Ekspresi fasial
: cenderung sedih
g. Verbalisasi
: lancar dan jelas
h. Cara bicara
: lancar
i. Kontak psikis
Kontak fisik : ada, adekuat
Kontak mata : ada, adekuat
Kontak verbal : ada, adekuat
- KEADAAN KHUSUS (SPESIFIK)
a. Keadaan afektif
Afek : sesuai
Mood : hipotimik
b. Hidup emosi
-

Stabilitas

Dalam-

: stabil

dangkal

: dalam

Pengendal -

Skala

ian

:terkendali diferensiasi

: normal

Adekuat-

Inadekuat

: adekuat

Echt-unecht

: echt

Einfuhlung

: bisa

dirabarasa
-

Arus emosi

cepat
c. Keadaan dan fungsi intelektual
-

Daya ingat : baik

Daya konsentrasi

Orientasi orang/waktu/tempat

: baik
: baik

Luas pengetahuan umum

: sesuai

Discriminative judgement : baik

Discriminative insight

: baik

Dugaan taraf intelegensi

: baik

Depersonalisasi dan derealisasi

: tidak

ada
d. Kelainan sensasi dan persepsi
-

Ilusi

: tidak

Halusinasi : tidak ada

ada
e. Keadaan proses berpikir
-

Psikomotilitas : cepat

Mutu

: baik

Arus pikiran

- Flight of ideas
- Inkoherensi
Sirkumstansial
Tangensial

: ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

Terhalang(blocking) : tidak ada


Terhambat (inhibition): tidak ada
Perseverasi
: tidak ada
Verbigerasi
: tidak ada

10

Isi pikiran

-Waham
-Pola Sentral
-Fobia
-Konfabulasi
-Perasaan inferior
-Kecurigaan

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: ada
: tidak ada

Rasa permusuhan/dendam: tidak ada


Perasaan berdosa/salah : ada
Hipokondria
: tidak ada
Ide bunuh diri
: ada
Ide melukai diri
: ada
Lain-lain
: tidak ada

Pemilikan pikiran

Obsesi

: tidak ada

- Aliensi

: tidak ada

Autistik
Simbolik
Dereistik
Simetrik

Bentuk pikiran
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

Paralogik
Konkritisasi
Overinklusif

: tidak ada
: tidak ada
:tidak ada

11

f. Keadaan dorongan instinktual dan perbuatan


- Hipobulia
: ada
- Vagabondage
: tidak ada
- Stupor
: tidak ada
- Pyromania
: tidak ada
- Raptus/Impulsivitas
: tidak ada
- Mannerisme
: tidak ada
- Kegaduhan umum
: tidak ada
- Autisme
: tidak ada
- Deviasi seksual
: tidak ada
- Logore
: tidak ada
- Ekopraksi
: tidak ada
- Mutisme
: tidak ada
- Ekolalia
: tidak ada
- Lain-lain
: tidak ada
g. Kecemasan
: ada
h. Dekorum
- Kebersihan
: baik
- Cara berpakaian
: baik
- Sopan santun
: baik
i. Reality testing ability
RTA tidak terganggu
D. PEMERIKSAAN LAIN
a. Pemeriksaan elektroensefalogram : tidak dilakukan
b. Pemeriksaan radiologi/ CT scan : tidak dilakukan
c. Pemeriksaan laboratorium
: tidak dilakukan
IV. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
: F.32.2 Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik
Aksis II
: Z03.2 Tidak ada diagnosis
Gambaran kepribadian cemas
Aksis III
: Tidak ada
Aksis IV
: Masalah lingkungan sosial (gagal menikah)
Aksis V
: GAF scale tertinggi 100-91, GAF scale terendah 5041, GAF scale saat ini 70-61
V. DIAGNOSIS BANDING

12

F.32.2 Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik


F.32.3 Episode Depresi Berat Dengan Gejala Psikotik

VI. TERAPI
a. Psikofarmaka
- Fluoxetine cap 20mg, 2x1 (1 0 1)
b. Psikoterapi
- Suportif

Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi

masalah.
Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur

Kognitif
-

Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yang timbul

akibat cara berpikir yang salah, mengatasi perasaan, dan sikapnya


terhadap masalah yang dihadapi.
-

Keluarga
-

Memberikan penyuluhan bersama dengan pasien yang

diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan


pasien.
-

Religius
-

Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan ibadah

sesuai ajaran agama yang dianutnya, yaitu menjalankan solat lima waktu,
menegakkan amalan sunah seperti mengaji, berzikir, dan berdoa kepada
Allah SWT.
VII.

PROGNOSIS
Dubia ad bonam
-

13

- BAB III
- TINJAUAN PUSTAKA
-

3.1

3.1.1 Definisi Depresi

DEPRESI

14

Depresi merupakan salah satu gangguan mood. Gangguan mood

dianggap sebagai sindrom, yang terdiri atas sekelompok tanda dan gejala
bertahan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan yang menunjukkan
penyimpangan nyata fungsi habitual seseorang serta kecenderungan untuk
kambuh, sering dalam bentuk periodik atau siklik.1 Pasien dengan mood
terdepresi (yaitu, depresi) merasakan hilangnya energi dan minat, perasan
bersalah, sulit berkonsentrasi, hilang nafsu makan, dan pikiran tentang
kematian atau bunuh diri.2
-

Episode depresi berat harus harus ada setidaknya 2 minggu dan

seseorang yang didiagnosis memiliki episode depresif berat terutama juga


harus mengalami empat gejala dari daftar yang mencakup perubahan berat
badan dan nafsu makan, perubahan tidur dan aktivitas, tidak ada energi, rasa
bersalah, masalah da;a, berpikir dan membuat keputusan, serta pikiran berulang
mengenai kematian dan bunuh diri.1
-

3.1.2 Epidemiologi
-

Gangguan depresif berat adalah suat gangguan yang sering, dengan

prevalensi seumur hidup adalah kira-kira 15 persen, kemungkinan setinggi 25


persen pada wanita. Prevalensi gangguan depresif pada wanita dua kali lebih
besar dibandingkan laki-laki.2 Alasan perbedaan ini yang telah di hipotesiskan
antara lain perbedaan hormonal, pengaruh kelahiran anak, stressor psikososial
yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, serta model perilaku
ketergantungan yang dipelajari.1
-

Rata-rata usia onset untuk gangguan depresi berat kira-kira 40 tahun,

50 % dari semua pasien mempunyai onset antara 20 dan 50 tahun. 2 Beberapa


data epidemiologi baru-baru ini menyatakan bahwa insidensi gangguan depresi
berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun.
Jika pengamatan tersebut benar, mungkin berhubungan dengan meningkatnya
penggunaan alkohol dan zat-zat lain pada kelompok usia tersebut.2Pada
umumnya gangguan depresi berat terjadi paling sering pada orang tua yang
tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau berpisah. 1,2

15

3.1.3 Etiologi dan Patofisiologi


- a. Faktor organobiologi
- Hipotesis yang paling konsisten mengenai gangguan mood ini
berhubungan

dengan

disregulasi

heterogen

pada

amin

biogenik.

Norepinefrin dan serotonin adalah dua neurotransmitter yang paling terlibat


dalam patofisiologi dalam gangguan mood.3
- Penurunan regulasi reseptor beta adrenergic dan respon klinik
antidepresan mungkin merupakan peran langsung system noradrenergik
dalam depresi. Bukti lain yang melibatkan reseptor 2-presinaptik pada
depresi, telah mengaktifkan reseptor yang mengakibatkan pengurangan
jumlah pelepasan norepinefrin. Reseptor 2-presinaptik juga terletak pada
neuron serotonergic dan mengatur pelepasan serotonin.3
- Aktivitas dopamine mungkin berkurang pada depresi. Penemuan
subtipe baru reseptor dopamine dan meningkatnya pengertian fungsi
regulasi presinaptik dan pascasinaptik dopamine memperkaya hubungan
antara dopamine dan gangguan mood. Dua teori terbaru tentang dopamine
dan depresi adalah jalur dopamine mesolimbik

mungkin mengalami

disfungsi pada depresi dan reseptor dopamine D 1 mungkin hipoaktif pada


depresi.3
- Aktivitas serotonin berkurang pada depresi. Serotonin bertanggung
jawab untuk control regulasi afek, agresi, tidur dan nafsu makan. Pada
bebrapa penelitian ditemukan jumlah serotonin yang berkurang di celah
sinaps dikatakan bertanggung jawab untuk terjadinya depresi.3
c. Faktor genetik
Genetik merupakan faktor penting dalam perkembangan
gangguan mood, tetapi jalur penurunan sangat kompleks. Tidak hanya
sulit untuk mengabaikan efek psikososial, tetapi juga, factor nongenetik
kemungkinan juga berperan sebagai penyebab berkembangnya gangguan
mood setidak-tidaknya pada beberapa orang.3

16

Penelitian menunjukkan anak biologis dari orang tua yang

terkena gangguan mood berisiko mengalami gangguan mood walaupun


anak tersebut dibesarkan oleh keluarga angkat. Penelitian pada anak
kembar menunjukkan anak kembar monozigot lebih besar kemungkinan
mengalami gangguan depresi daripada anak kembar dizigot.3
d. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan
klinis yang telah lama direplikasi bahwa peristiwa kehidupan yang
menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan
mood daripada episode selanjutnya, hubungan tersebut telah dilaporkan
untuk pasien dengan gangguan depresi berat.2
Data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa
kehidupan

paling

berhubungan

dengan

perkembangan

depresi

selanjutnya adalah kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stressor


lingkungan yang paling berhubungan dengan onset satu episode depresi
adalah kehilangan pasangan.2
Beberapa artikel

teoritik

dan

dari

banyak

laporan,

mempermasalahkan hubungan fungsi keluarga dan onset dalam


perjalanan gangguan depresi berat. Selain itu, derajat psikopatologi
didalam keluarga mungkin mempengaruhi kecepatan pemulihan,
kembalinya gejala dan penyesuaian pasca pemulihan.2
-

3.1.4 Manifestasi Klinik


-

Mood terdepresi, kehilangan minat dan berkurangnya energy adalah

gejala utama dari depresi.Pasien mungkin mengatakan perasaannya sedih, tidak


mempunyai harapan, dicampakkan, dan tidak berharga. Emosi pada mood
depresi kualitasnya berbeda dengan emosi duka cita atau kesedihan yang
normal.3
-

Pikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul pada sekitar dua

pertiga pasien depresi, dan 10 sampai 15 persen diantaranya melakukan bunuh


diri.Mereka yang dirawat di rumah sakit dengan percobaan bunuh diri
mempunyai umur hidup lebih panjang dibandingkan yang tidak dirawat.

17

Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadiari ia mengalami depresi dan


tidak mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari
keluarga, teman dan aktivitas yang sebelumnya menarik bagi dirinya.3
-

Hampir semua pasien depresi (97%) mengeluh tentang penurunan

energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesaikan tugas, mengalami


hendaya di sekolah dan pekerjaan, dan meurunnya motivasi untuk terlibat
dalam kegiatan baru. Sekitar 80 persen pasien mengeluh masalah tidur,
khususnya terjada dini hari (terminal insomsia) dan sering terbangun di malam
hari karena memikirkan masalah yang dihadapi. Kebanyakan pasien
menunjukkan peningkatan atau penurunan nafsu makan demikian pula dengan
bertambah dan menurunnya berat badannya serta mengalami tidur lebih lama
dari biasanya.3
-

Kecemasan adalah gejala tersering dari depresi dan menyerang 90

persen pasien depresi. Berbagai perubahan asupan makanan dan istirahat dapat
menyebabkan timbulnya penyakit lain secara bersamaa, seperti diabetes,
hipertensi, penyakit paru obstruksi kronik, dan penyakit jantung. Gejala lain
termasuk haid yang tidak normal dan meurunnya minat serta aktivitas seksual.3
-

Pada pemeriksaan status mental, episode depresi memperlihatkan

retardasi psikomotor menyeluruh merupakan gejala yang paling umum,


walaupun agitasi psikomotor juga sering ditemukan, khususnya pada pasien
usia lanjut. Menggenggamkan tangan dan menarik-narik rambut merupakan
gejala agitasi yang paling umum.Secara klasik, seorang pasien depresi memiiki
postur yang membungkuk, tidak terdapat pergerakan yang sponta, dan
pandangan mata yang putus asa dan memalingkan pandangan.Pasien depresi
seringkali dibawa oleh keluarga atau teman kerjanya karenan penarikan sosial
dan penurunan aktivitas secara menyeluruh.2
-

Banyak pasien terdepresi menunjukkan suatu kecepatn dan volume

bicara yang menurun, berespons terhadap pertanyaan dengan kata tunggal dan
menunjukkan respons yang melambat terhadapt pertanyaan. Secara sederhana,
pemeriksa mungkin harus menunggu dua atau tiga menit untuk mendapatkan
suatu respons terhadap suatu pertanyaan.2

18

Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan menderita

episode depresif berat dengan ciri psikotik.Waham atau halusinasi yang sesuai
dengan mood terdepresi dikatan sesuai mood (mood-congruent).Waham sesuai
mood pada seorang pasien terdepresi adalah waham bersalah, memalukan,
tidak berguna, kemiskinan, kegagalan, kejar dan penyakit somatic terminal
(sevagai contoh, kanker dan otak yang membusuk).Isi waham atau halusinasi
yang tidak sesuai mood (mood-incongruent) adalah tidak sesuai dengan mood
terdepresi. Pasien depresi juga memiliki pandangan negatif tentang dunia dan
dirinya sendiri.2
-

3.1.5 Diagnosis
- a. Skala penilaian objektif untuk depresi
-

Skala penilaian objektif untuk depresi dapat berguna dalam

praktik klinis untuk mendapatkan dokumentasi keadaan klinis pada pasien


terdepresi. Zung Self-Rating Depression Scale adalah skala pelaporan yang
terdiri dari 20 pertanyaan. Skor normal adalah 34 atau kurang, skor
terdepresi adalah 50 atau lebih. Skala memberikan petunjuk global tentang
kekuatan (intensitas) gejala depresi pasien, termasuk ekspresi afektif dari
depresi.3
-

Raskin Depression Scale adalah skala yang dinilai oleh dokter

yang mengukur keparahan depresi pasien, seperti yang dilaporkan oleh


pasien dan seperti yang diamati oleh dokter, pada skala lima angka dari tiga
dimensiL laporan verbal, pengungkapan perliaku, dan gejala sekunder. Skala
ini memiliki rentang 3 sampai 13: normal adalah 3, dan terdepresi adalh 7
atau lebih.2
-

Hamilton Rating Scale for Depression (HAM-D) adalah skala

depresif yang digunakan secara luas yang memiliki sampai 24 nomor,


masing-masingnya memiliki nilai 0 sampai 4 atau 0 sampai 2, dengan skor
total ada;h 0 sampai 76. Penilaian diturunkan dari suatu wawancara klinis
dengan pasien. Klinisi menilai jawaban pasien terhadap pertanyaan tentang
perasaan bersalah, bunuh diri, kebiasaantidur, dan gejala depresi lainnya.2

19

b. Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III.4

Pedoman diagnostik pada depresi dibagi menjadi :

Semua gejala utama depresi :

o afek depresif
o kehilangan minat dan kegembiraan
o berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
-

o
o
o
o
o
o
o

Gejala lainnya:
konsentrasi dan perhatian berkurang
harga diri dan kepercayaan diri berkurang
gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
pandangan masa depan yang suram dan pesimis
gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
tidur terganggu
nafsu makan berkurang

Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,


akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu dari 2 minggu.

Episode depresif ringan menurut PPDGJ III

(1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di
atas
(2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
(3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode
berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
(4) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.
(1)
(2)
(3)
(4)

Episode depresif sedang menurut PPDGJ III


Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama
Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya
Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu
Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan
urusanrumah tangga.

Episode Depresif Berat dengan Tanpa Gejala Psikotik menurut PPDGJ


III :

(1) Semua 3 gejala utama depresi harus ada

20

(2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya


harus berintensitas berat
(3) Bila ada gejala penting (misalnya retardasi psikomotor) yang menyolok, maka
pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh
terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan.
(4) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
-

Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik menurut PPDGJ III :


-

Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas

(F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.


-

Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau

malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.
Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau
menuduh, atau bau kotoran.Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada
stupor.
-

3.1.6 Tatalaksana
-

Berbagai obat dan teknik psikoterapi telah dikembangkan untuk

memulihkan penderita depresi.Pada sebagian besar kasus, pengobatan


penderita depresi akan paling efektif dengan mengkombinasikan pemberian
obat-obatan oleh psikiater dengan pemberian psikoterapi oleh psikolog.5
Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi dan beberapa
memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus bergantung pada
diagnosis, berat penyakit, umur pasien, dan respon terhadap terapi sebelumnya.
Bila seseorang menderita depresi berat, maka diperlukan seorang yang dekat
dan yang dipercayainya untuk membantunya selama menjalani pemeriksaan
dan pengobatan depresi tersebut.Kadang seorang penderita depresi berat perlu
rawat inap di rumah sakit, kadang cukup dengan pengobatan rawat jalan.5,6
1. Terapi psikologi
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan,
empati, pengertian, dan optimistik. Bantu pasien mengindentifikasi dan
mengekspresikan hal-hal yang membuatnya prihatin dan melontarkannya.
21

Identifikasi faktor pencetus dan bantulah untuk mengoreksinya. Bantulah


memecahkan problem eksternal (misal pekerjaan) arahkan pasien terutama
selama episode akut dan bila pasien tidak aktif bergerak.
Terapi kognitif-perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien
depresi ringan dan sedang. Diyakini oleh sebagian orang ketidak berdayaan
yang dipelajari, depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan
keterampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman sukses. Dari
perpektif kognitif pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiranpikiran negatif dan harapan-harapan negatif. Terapi ini mencegah
kekambuhan.6
-

2. Terapi Fisik
- Pada farmakoterapi digunakan obat anti depresan, dimana anti
depresan dibagi dalam beberapa golongan yaitu :

Golongan trisiklik, seperti : amitryptylin, imipramine, clomipramine dan


opipramol.

Golongan tetrasiklik, seperti : maproptiline, mianserin dan amoxapine.

Golongan MAOI-Reversibel (RIMA, Reversibel Inhibitor of Mono


Amine Oxsidase-A), seperti : moclobemide.

Golongan atipikal, seperti : trazodone, tianeptine dan mirtazepine.

Golongan SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor), seperti :


sertraline, paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram.
-

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan onset efek

primer (efek klinis) sekitar 2-4 minggu, efek sekunder (efek samping) sekitar
12-24 jam serta waktu paruh sekitar 12-48 jam (pemberian 1-2 kali perhari).3
-

Ada lima proses dalam pengaturan dosis, yaitu:

1. Initiating Dosage (dosis anjuran), untuk mencapai dosis anjuran selama minggu
I. Misalnya amytriptylin 25 mg/hari pada hari I dan II, 50 mg/hari pada hari III
dan IV, 100 mg/hari pada hari V dan VI.
2. Titrating Dosage (dosis optimal), dimulai pada dosis anjuran sampai dosis
efektif kemudian menjadi dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari

22

selama 7 sampai 15 hari (miggu II), kemudian minggu III 200 mg/hari dan
minggu IV 300 mg/hari.
3. Stabilizing Dosage (dosis stabil), dosis optimal dipertahankan selama 2-3
bulan. Misalnya amytriptylin 300 mg/hari (dosis optimal) kemudian diturunkan
sampai dosis pemeliharaan.
4. Maintining Dosage (dosis pemeliharaan), selama 3-6 bulan. Biasanya dosis
pemeliharaan dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari.
5. Tapering Dosage (dosis penurunan), selama 1 bulan. Kebalikan dari initiating
dosage. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari 100 mg/hari selama 1 minggu,
100 mg/hari 75 mg/hari selama 1 minggu, 75 mg/hari 50 mg/hari selama 1
minggu, 50 mg/hari 25 mg/hari selama 1 minggu.
-

Dengan demikian obat anti depresan dapat diberhentikan total. Kalau


kemudian sindrom depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan
seterusnya. Pada dosis pemeliharaan dianjurkan dosis tunggal pada malam
hari (single dose one hour before sleep), untuk golongan trisiklik dan
tetrasiklik. Untuk golongan SSRI diberikan dosis tunggal pada pagi hari
setelah sarapan. Pemberian obat anti depresi dapat dilakukan dalam jangka
panjang oleh karena addiction potential-nya sangat minimal.

Efek Samping obat anti depresi adalah:5

Tricyclic antidepressants.
- Obat-obatan yang termasuk kedalam kelompok ini (misal Amitryptiline)
sudah dipakai bertahun tahun dan telah terbukti tidak kalah manjur dibandingkan
dengan obat anti depresi yang lebih baru. Hanya saja, karena banyaknya dan lebih
kerasnya efek samping obat, maka obat tricyclic antidepressant biasanya tidak
diberikan sebelum obat jenis SSRI dicoba dan tidak berhasil mengobati depresi.
Efek samping obat ini antara lain: penglihatan kabur, mulut kering, gangguan
buang air besar dan gangguan kencing, detak jantung cepat dan bingung. Obat
jenis ini juga sering menyebabkan penambahan berat badan.5

Tetracyclic.
- Obat-obatan yang termasuk kedalam kelompok ini misalnya Maproptiline
(Ludiomil) efek sampingnya seperti TCA; efek samping otonomik, kardiologik

23

relatif lebih kecil, efek sedasi lebih kuat diberikan pada pasien yang kondisinya
kurang tahan terhadap efek otonomik dan kardiologik (usia lanjut) dan sindrom
-

depresi dengan gejala anxietas dan insomnia yang menonjol.6


Selective serotonine reuptake inhibitors (SSRI).
- Banyak dokter yang memulai pengobatan depresi dengan SSRI. Efek
samping yang paling sering adalah menurunnya dorongan seksual dan sulitnya
mencapai orgasme. Berbagai efek samping lainnya biasanya menghilang sejalan
dengan penyesuaian tubuh terhadap obat-obatan tersebut. Beberapa efek samping
SSRI yang sering adalah: sakit kepala, sulit tidur, gangguan pencernaan, dan
resah/ gelisah.5

Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs).


- Obat obatan dalam kelompok ini biasanya merupakan pilihan terakhir bila
obat dari kelompok lain sudah tidak mempan mengobati depresi. Obat obatan
dalam kelompok ini bisa menimbulkan efek samping yang serius, bahkan bisa
menyebabkan kematian. Obat MAOIs memerlukan diet ketat karena bila
berinteraksi dengan makanan seperti keju, acar mentimun (pickles) dan anggur,
serta obat anti pilek (decongestant) dapat berakibat fatal. Selegiline (Emsam)
merupakan obat jenis terbaru dalam kelompok ini yang memakainya tidak dengan
diminum, cukup dengan ditempelkan di kulit. Obat selegiline mempunyai lebih

sedikit efek samping dibandingkan dengan obat MAOIs lainnya.5


Atypical antidepressant
- Merupakan obat anti depresi yang tidak bisa dimasukkan kedalam kelompok
obat lainnya. Pada beberapa kasus, obat tersebut dikombinasikan untuk
mengurangi efeknya terhadap tidur. Obat terbaru dalam kategori ini adalah
vilazodone (Vibryd). Obat vilazidone mempunyai efek samping kecil terhadap
dorongan seksual. Beberapa efek samping dari vilazodone yang sering muncul

adalah: mual, muntah, mencret dan sulit tidur.5


Obat obatan lainnya.
Dokter mungkin mengobati depresi dengan obat obat lainnya, misalnya
dengan obat stimulant, obat untuk menstabilkan suasana hati (mood), obat anti
cemas/ anxiety, dan obat anti psikotik. Pada beberapa kasus, dokter mungkin
mengkombinasikan beberapa obat agar dihasilkan efek yang optimal. Strategi ini
dikenal sebagai augmentation (penguatan/ tambahan).5
24

Kegagalan terapi

Kegagalan terapi pada umumnya disebabkan:

o Kepatuhan pasien menggunakan obta (compliance), yang dapat hilang oleh


karena adanya efek samping, perlu diberikan edukasi dan informasi
o Pengaturan dosis obat belum adekuat
o Tidak cukup lama mempertahankan pada dosis minimal
o Dalam menilai efek obat terpengaruh oleh presepsi pasien yang tendensi
negative, sehingga penilaian menjadi bias.
-

Kontraindikasi

Kontraindikasi obat anti depresan yaitu:

o Penyakit jantung koroner, MCI, khususnya pada usia lanjut


o Galukoma, retensi urin, hipertofi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsi
o Pada penggunaan obat lithium, kelainan fungsi jantung, ginjal dan kelenjar tiroid
3. Terapi Elektrokonvulsif
- Terapi Elektrokonvulsif (ECT) digunakan untuk mengatasi depresi
berat, terutama pada penderita :7
a. Gangguan jiwa psikotik
b. Yang mengancam akan bunuh diri
c. Yang dapat memperberat penyakitnya, misal tidak mau makan
-

Terapi ini biasanya sangat efektif dan bisa segera meringankan

depresi.Teknik terapi ini adalah dengan memasang elektroda dikulit kepala,


lalu diberi aliran listrik untuk merangsang peningkatan arus listrik didalam
otak.Efek kejang yang timbul dapat membuat depresinya berkurang,
kemungkinan kejang buatan ini memutus atau mengacaukan sambungan
aliran impuls depresi diotak.ECT bisa menyebakan hilangnya ingatan untuk
sementara waktu. Pengobatan denga ECT dilakukan sebanyak 5-7 kali, aliran
listrik bisa menimbulkan efek kontraksi otot dan nyeri, karena itu penderita
dibius total selama pengobatan ECT.7
-

3.2 PERCOBAAN BUNUH DIRI (SUICIDE ATTEMPT)

3.2.1 Definisi Percobaan Bunuh Diri (Suicide Attempt)


25

Secara umum, bunuh diri berasal dari bahasa Latin suicidium,

dengan

sui

yang

berarti

sendiri

dan

cidium

yang

berarti

pembunuhan.Schneidman mendefinisikan bunuh diri sebagai sebuah perilaku


pemusnahan secara sadar yang ditujukan pada diri sendiri oleh seorang
individu yang memandang bunuh diri sebagai solusi terbaik dari sebuah isu.
Dia mendeskripsikan bahwa keadaan mental individu yang cenderung
melakukan bunuh diri telah mengalami rasa sakit psikologis dan perasaan
frustasi yang bertahan lama sehingga individu melihat bunuh diri sebagai satusatunya penyelesaian untuk masalah yang dihadapi yang bisa menghentikan
rasa sakit yang dirasakan (dalam Maris dkk., 2000).
-

Menurut Corr, Nabe, dan Corr (2003), agar sebuah kematian bisa

disebut bunuh diri, maka harus disertai adanya intensi untuk mati. Meskipun
demikian, intensi bukanlah hal yang mudah ditentukan, karena intensi sangat
variatif dan bisa mendahului , misalnya untuk mendapatkan perhatian,
membalas

dendam,

mengakhiri

sesuatu

yang

dipersepsikan

sebagai

penderitaan, atau mengakhiri hidup.


-

Menurut Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2000), bunuh

diri memiliki 4 pengertian, antara lain:


1

Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional

Bunuh diri dilakukan dengan intensi

Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri

Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif),
misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup
atau secara sengaja berada di rel kereta api.
-

3.2.2 Metode Bunuh Diri


-

Richman menyatakan ada dua fungsi dari metode bunuh diri (dalam

Maris dkk., 2000). Fungsi pertama adalah sebagai sebuah cara untuk
melaksanakan intensi mati. Sedangkan pada fungsi yang kedua, Richman
percaya bahwa metode memiliki makna khusus atau simbolisasi dari individu.
-

Secara umum, metode bunuh diri terdiri dari 6 kategori utama yaitu:

26

obat (memakan padatan, cairan, gas, atau uap)

menggantung diri (mencekik dan menyesakkan nafas)

senjata api dan peledak

menenggelamkan diri

melompat

memotong (menyayat dan menusuk)


-

3.2.3 Faktor
-

Tidak ada faktor tunggal pada kasus bunuh diri, setiap faktor yang ada

saling berinteraksi.Namun demikian, tidak berarti bahwa seorang individu yang


melakukan bunuh diri memiliki semua karakteristik di bawah ini. Berikut beberapa
faktor penyebab bunuh diri yang didasarkan pada kasus bunuh diri yang berbedabeda tetapi memiliki efek interaksi di antaranya (Maris, dalam Maris dkk.,2000;
Meichenbaum, 2008):
1

Major-depressive illness, affective disorder

Penyalahgunaan obat-obatan (sebanyak 50% korban percobaan bunuh memiliki


level alkohol dalam darah yang positif)

Memiliki pikiran bunuh diri, berbicara dan mempersiapkan bunuh diri

Sejarah percobaan bunuh diri

Sejarah bunuh diri dalam keluarga

Isolasi, hidup sendiri, kehilangan dukungan, penolakan

Hopelessness dan cognitive rigidity

Stresor atau kejadian hidup yang negatif (masalah pekerjaan, pernikahan,


seksual, patologi keluarga, konflik interpersonal, kehilangan,suicidal).

Kemarahan, agresi, dan impulsivitas

10 Key symptoms (anhedonia, impulsivitas, kecemasan / panik, insomnia global,


halusinasi perintah)
11 Suicidality (frekuensi, intensitas, durasi, rencana dan perilaku persiapanbunuh
diri)
12 Akses pada media untuk melukai diri sendiri
13 Penyakit fisik dan komplikasinya
14 Repetisi dan komorbid antara faktor-faktor di atas

27

3.2.4 Penjelasan Bunuh Diri


-

Penjelasan-penjelasan dari perspektif yang berbeda berikut hendaknya

dipandang sebagai satu kesatuan dalam memahami perilaku bunuh diri yang
kompleks.
-

1. Penjelasan Psikologis
-

Leenars (dalam Corr, Nabe, & Corr, 2003) mengidentifikasi tiga

bentuk penjelasan psikologis mengenai bunuh diri. Penjelasan yang pertama


didasarkan pada Freud yang menyatakan bahwa suicide is murder turned around
180 degrees, dimana dia mengaitkan antara bunuh diri dengan kehilangan
seseorangatau objek yang diinginkan. Secara psikologis, individu yang beresiko
melakukan bunuh diri mengidentifikasi dirinya dengan orang yang hilang
tersebut.Dia merasa marah terhadap objek kasih sayang ini dan berharap untuk
menghukum atau bahkan membunuh orang yang hilang tersebut. Meskipun individu
mengidentifikasi dirinya dengan objek kasih sayang, perasaan marah dan harapan
untuk menghukum juga ditujukan pada diri. Oleh karena itu, perilaku destruktif diri
terjadi.
-

2. Penjelasan Biologis
-

Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan penjelasan

biologis yang tepat untuk perilaku bunuh diri. Beberapa peneliti percaya bahwa ada
gangguan pada level serotonin di otak, dimana serotonin diasosiasikan dengan
perilaku agresif dan kecemasan. Penelitian lain mengatakan bahwa perilaku bunuh
diri merupakan bawaan lahir, dimana orang yang suicidal mempunyai keluarga yang
juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Walaupun demikian, hingga saat ini
belum ada faktor biologis yang ditemukan berhubungan secara langsung dengan
perilaku bunuh diri.
-

3.Penjelasan Sosiologis
-

Penjelasan yang terbaik datang dari sosiolog Durkheim yang

memandang perilaku bunuh diri sebagai hasil dari hubungan individu dengan
masyarakatnya, yang menekankan apakah individu terintegrasi dan teratur atau tidak
dengan masyarakatnya.
28

Berdasarkan hubungan tersebut, Durkheim (dalam Corr, Nabe, &

Corr, 2003) membagi bunuh diri menjadi 4 tipe yaitu:


-

a. Egoistic Suicide

Inidividu yang bunuh diri di sini adalah individu yang terisolasi dengan
masyarakatnya,

dimana

individu

mengalami

underinvolvement

dan

underintegration. Individu menemukan bahwa sumber daya yang dimilikinya


tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, dia lebih beresiko melakukan
perilaku bunuh diri.
-

b. Altruistic Suicide

Individu di sini mengalami overinvolvement dan overintegration. Pada situasi


demikian, hubungan yang menciptakan kesatuan antara individu dengan
masyarakatnya begitu kuat sehingga mengakibatkan bunuh diri yang
dilakukan demi kelompok. Identitas personal didapatkan dari identifikasi
dengan kesejahteraan kelompok, dan individu menemukan makna hidupnya
dari luar dirinya. Pada masyarakat yang sangat terintegrasi, bunuh diri demi
kelompok dapat dipandang sebagai suatu tugas.

c. Anomic Suicide

Bunuh diri ini didasarkan pada bagaimana masyarakat mengatur anggotanya.


Masyarakat membantu individu mengatur hasratnya (misalnya hasrat
terhadap materi, aktivitas seksual, dll.). Ketika masyarakat gagal membantu
mengatur individu karena perubahan yang radikal, kondisi anomie (tanpa
hukum atau norma) akan terbentuk. Individu yang tiba-tiba masuk dalam
situasi ini dan mempersepsikannya sebagai kekacauan dan tidak dapat
ditolerir cenderung akanmelakukan bunuh diri. Misalnya remaja yang tidak
mengharapkan akan ditolak oleh kelompok teman sebayanya.

d. Fatalistic Suicide

Tipe bunuh diri ini merupakan kebalikan dari anomic suicide, dimana
individu mendapat pengaturan yang berlebihan dari masayarakat.Misalnya
ketika seseorang dipenjara atau menjadi budak.

29

- BAB IV
- ANALISIS KASUS
-

Seorang wanita berumur 19 tahun, belum menikah dan tidak bekerja.

Dibawa ke rumah sakit oleh keluarga dengan kondisi pasien compos mentis
terganggu, dengan sebab utama sering mengurung diri. 3 minggu yang lalu, pasien
menjadi lebih pendiam dan sering melamun. Pasien mengurung diri di kamar dan
menangis sepanjang hari. Pasien sering marah-marah dan melempar barang di sekitar
pasien. Nafsu makan pasien berkurang, pasien hanya makan dan minum setelah
dipaksa. Pasien masih dapat mengurus diri sendiri, seperti makan dan mandi. Pasien
tidak lagi membantu ibu pasien untuk mengurus rumah dan keluarga. Pasien tampak
lebih cepat lelah, sehingga lebih banyak tidur pada siang hari dan sulit tidur pada
malam hari. Perilaku pasien seperti ini baru pertama kali terjadi. Perilaku pasien
berubah semenjak calon suami pasien yang beragama Islam menolak untuk
menggunakan adat Hindu di acara pernikahan mereka.
1 minggu yang lalu, pasien semakin sering menangis dan marahmarah. Pasien tidak keluar kamar dan menolak makan dan minum, sudah beberapa
hari pasien tidak makan, pasien tampak sangat lemas. Pasien tampak kecewa dan
putus asa, pasien sering mengatakan lebih baik mati, namun belum ada upaya untuk
bunuh diri. Pasien sudah tidak bisa mengurus diri sendiri. Pasien tidak terlihat sering
berbicara sendiri dan mudah curiga terhadap orang lain. Pasien tidak mengatakan
adanya bisikan-bisikan ataupun melihat sesuatu.
Saat dilakukan wawancara psikiatri, os mengatakan bahwa rencana
pernikahanannya akan segera terlaksana. Os dan calon suaminya akan segera
menikah setelah lebaran idul fitri ini. Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan
status mental, didapatkan gejala klinis bermakna berupa pasien sering menyendiri,
pikiran kosong, nafsu makan menurun, aktivitas psikomotor menurun, susah
memulai tidur dan jika terbangun susah untuk tidur kembali, sulit berkonsentrasi
sehingga pasien dapat disimpulkan mengalami gangguan jiwa. Pada pemeriksaan
status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita, sehingga
didiagnosis gangguan jiwa non psikotik. Pada status internus tidak ditemukan adanya
kelainan dan pada pemeriksaan status neurologi juga tidak ditemukan adanya
30

kelainan, sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan dan didiagnosis


gangguan jiwa non psikotik non organik.
Dari autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan 3
gejala utama depresi yang dialami sejak beberapa bulan ini berupa kehilangan minat
dan kegembiraan, mudah lelah, dan afek hipotimia, disertai gejala tambahan berupa
sulit berkonsentrasi, gagasan tentang putus asa untuk menikah, psikomotor menurun,
tidur terganggu dan jika terbangun sulit untuk tidur lagi, serta nafsu makan berkurang
sehingga berdasarkan PPDGJ III dapat ditegakkan diagnosis aksis I sebagai Episode
depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2) Diagnosis aksis II tidak ada diagnosis.
Aksis III tidak ada diagnosis. Aksis IV stressor berupa masalah lingkungan sosial
(gagal menikah). Aksis V GAF scale tertinggi GAF scale tertinggi 100-91, GAF
scale saat MRS 50-61, GAF scale follow up 70-61.
Depresi merupakan salah satu gangguan mood. Pasien dengan mood
terdepresi (yaitu, depresi) merasakan hilangnya energi dan minat, perasan bersalah,
sulit berkonsentrasi, hilang nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh
diri. Gangguan depresi berat merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia
yang berkaitan dengan perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada psikomotor, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif.
- Penyebab dari gangguan depresi terdiri dari faktor biologis, faktor genetika
dan faktor psikososial. Pada hipotesis timbulnya depresi dihubungkan dengan
peran beberapa neurotransmiter aminergik. Hipotesis tersebut menjadi dasar
penggunaan dan pengembangan obat-obat anti depresan.
Pada gangguan depresi yang sering terdapat pikiran-pikiran atau
rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan
pemberian terapi psikoterapi dan obat anti depresan. Pemberian anti depresan
diberikan melalui tahapan-tahapan, yaitu dosis initial, titrasi, stabilisasi, maintenance
dan dosis tapering. Dimana dosis dan lama pemberiannya berbeda-beda. Pada kasus
ini diberi anti depresan Sertraline 50 mg 0-1-1. Kombinasi psikoterapi dan
farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi berat.
-

31

- DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb Ja. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatri.
9th ed. Philadelpia: Lippincott William & Wilkins: 2003
2. Kaplan HI, BJ Sadock, JA Grebb. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1, Jakarta Barat:
Bina Rupa Aksara,2012. Hal: 813-816
3. Psikiatri UI
4. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.
Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa FK-Unika Atmajaya: Jakarta; 2001.
5. Jiwo T. Pusat Pemulihan dan Pelatihan Penderita Gangguan Jiwa.
6. Tomb DA, Buku Saku Psikiatri.Edisi 6, Cetakan 1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2004. Hal : 47-63
7. Junaldi I. Anomali Jiwa. Dalam: Gangguan Kecemasan. Edisi 1.
Yogyakarta:Percetakan Andi, 2012. Hal:124-141
-

32