Anda di halaman 1dari 3

Model existential

Menurut teori model eksistensial, gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila
individu tidak memiliki kebanggaan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami
gangguan dalam body magenya. Prinsip dalam proses terapinya adalah mengupayakan agar
individu berpengalaman dan bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain
dianggap sukses, atau di anggap sebagai panutan (experience in relationship), memperluas
kesadaran diri dengan cara instropeksi (self assesment), bergaul dengan kelompok sosial dan
kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jati dirinya sendiri, dan
menerima kritik atau feedback tentang perilaku dari orang lain serta dapat mengontrol
perilakunya (encourage to accept self and control behavior). Prinsip keperawatannya adalah
klien dianjurkan untuk berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk
mempelajari dirinya dan mendapatkan feedback dari orang lain, misalnya melalui terapi
aktivitas kelompok. Terapis berupaya untuk memperluas kesadaran diri pasien melalui
feedback, kritik, saran, atau reward dan punishment.
Para ahli teori eksistensial yakin bahwa penyimpangan perilaku terjadi ketika individu
berada di luar pengaruh dirinya sendiri atau lingkungan. Individu yang terasing dari dirinya
sendiri merasa sepi, sedih, dan tidak berdaya. Kurangnya kesadaran diri disertai kritik tajam
terhadap diri sendiri membuat individu tidak berpatisipasi dalam hubungan yang memuaskan.
Individu tidak bebas memilih semua alternatif yang mungkin karena batasan yang ditetapkan
pada diri sendiri. Ahli teori eksistensial yakin individu tersebut menghindari tanggung jawab
personal dan menyerahkannya pada keinginan atau tuntutan orang lain.
Semua terapi eksistensial memiliki tujuan mengembalikan individu kepada pemikiran
autentik tentang dirinya. Tanggung jawab personal terhadap diri, perasaan, perilaku, dan
pilihan ditekankan. Individu didorong untuk hidup sepenuhnya pada masa kini dan
memandang masa depan.

Terapi Existential
Terapi Kognitif

Banyak ahli terap eksistensial menggunakan terapi kognitif, yang berfokus pada
pemrosesan pikiran dengan segara, yakni berfokus pada pemrosesan pikiran dengan segera,
yakni bagaimana individu mempersepsikan atau menginterprestasi pengalamannya dan
menentuka cara ia merasa dan berperilaku. (Beck & Rush, 1995).
Terapi Emotif Rasional
Albert Ellis, perintis terapi emotif rasional, mengidentifikasi 11 keyakinan tidak
rasional yang digunakan individu untuk membuat diri mereka tidak bahagia. Contoh
keyakinan yang tidak rasional ialah, Jika saya mencintai seseorang, ia juga harus mencintai
saya. Ellis menyatakan bahwa terus-menerus meyakini pernyataan yang secara jelas tidak
benar ini akan membuat individu sama sekali tidak bahagia, tetapi ia akan meyalahkan
individu yang tidak membalas cintanya. Ellis juga yakin bahwa individu memiliki pikiran
otomatis yang menyebabkan mereka tidak bahagia pada situasi tertentu. Ia menggunaka
teknik ABC untuk membantu individu mengidentifikasi pikiran otomatis ini: A merupakan
stimulus atau peristiwa yang mengaktifkan, C merupakan respons tidak tepat yang
berlebihan, dan B merupakan ruang kosong dalam pikiran individu yang ia harus isi dengan
megidentifikasi pikiran otomatis.
Viktor Frankl dan Logoterapi
Mendasarkan keyakinan pada observasinya tentang individu di kamp konsentrasi di
Jerman pada Perang Dunia II. Keingintahuannya tentang mengapa beberapa individu
bertahan hidup sedangkan yang lain tidak, mengarahkannya pada kesimpulan bahwa individu
yang bertahan mampu menemukan makna hidup, bahkan dalam kondisi yang sangat buruk.
Oleh karena itu, pencarian makna (logos) merupakan tema utama dalam logo terapi
Terapi Gestalt
Terapi ini dirintis oleh frederick Fritz Perls, menekankan identifikasi perasaan dan
pikiran individu saat ini. Perls yakin bahwa kesadaran diri menyebabkan penerimaan diri dan
tanggung jawab terhadap pikiran dan perasaan individu sendiri.
Terapi Realitas
William Glasser menggunakan pendekatan yang disebut terapi realitas, yang berfokus
pada perilaku individu dan bagaimana perilaku tersebut membuat individu terus mencapai
tujuan hidup. Ia mengembangkan pendekatan ini saat menangani individu yang berperilaku

buruk, berprestasi tidak memuaskan disekolah, dan mengalami masalah emosional. Ia yakin
bahwa individu yang tidak berhasil sering menyalahkan orang lain, sistem, atau masyarakat
untuk masalah mereka. Ia yakin mereka perlu menemukan identitas diri melalui perilaku
yang bertanggung jawab. Pada terapi realitas, klien ditantang untuk mempelajari cara
perilaku mereka menghambat upaya untuk mencapai tujuan hidup.

Referensi :
Buku ajar keperawatan jiwa / Sheila L. Videbeck ; alih bahasa, Renata Komalasari, Alfrina Hany ; editor edisi
bahasa Indonesia, Pamilih Eko Karyuni. Jakarta : EGC, 2008.