Anda di halaman 1dari 83

SISTEM INFORMASI TERPADU

PENGEMBANGAN
USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)
ABON SAPI
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Ekonomi Teknik
Semester VI (Enam)
Dosen Pengampu :
Ir. Mohammad Hefni

Disusun Oleh:
Kelompok II
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Nama
Ahmad Rois Nawawi
Den Suryana
Dian Nurajizah
Febian Tuwage
Hasan Basri Zulkhan
Novi Sulastri
Qurrota Ayuni
Rian Ahmad Darussalam
Sumi Martiani
Titi Septis Handayani
Yohani Dewi Utami

NIM
D4 112 1625
D4 112 1628
D4 112 1629
D4 112 1630
D4 112 1632
D4 112 16
D4 112 1640
D4 112 1642
D4 112 1644
D4 112 1645
D4 112 16

TEKNOLOGI PANGAN DAN GIZI


KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
JEMBER
2015

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia.


Sebagian besar wilayah Indonesia berupa perairan dengan luas wilayah laut mencapai 5,8
juta km dan garis pantai sepanjang 81.000 km. Potensi perairan tersebut dapat
menghasilkan 6,7 juta ton ikan per tahun. Produk Domestik Bruto (PDB) selama
periode 2000-2003, sub sektor perikanan meningkat sebesar 26,04 persen, jauh lebih
tinggi dibandingkan peningkatan PDB total yang sebesar 12,14 persen (DKP, 2004). Oleh
sebab itu, perikanan merupakan sub sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan
dalam pembangunan di Indonesia.
Ikan sebagai komoditi utama di sub sektor perikanan merupakan salahsatu bahan
pangan yang kaya protein. Manusia sangat memerlukan protein ikan karena selain mudah
dicerna, pola asam amino protein ikan pun hampir sama dengan pola asam amino yang
terdapat dalam tubuh manusia (Afrianto dan Liviawaty, 1989). Di samping itu, kadar
lemak ikan yang rendah sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.
Tabel 1.1. Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan
No.
1.
2.
3.
4.

Komponen
Kadar (%)
Kandungan air
76,00
Protein
17,00
Lemak
4,50
Mineral dan vitamin
2,52-4,50
Sumber: http://www.ristek.go.id/

Namun demikian, ikan merupakan komoditi yang cepat mengalami pembusukan


(perishable food). Pembusukan disebabkan oleh enzim, baik dari ikan itu sendiri maupun
mikroba dan proses ketengikan (rancidity). Kadar air ikan segar yang tinggi mempercepat
proses perkembangbiakan mikroorganisme pembusuk yang terdapat di dalamnya. Daya
tahan ikan segar yang tidak lama, menjadi kendala dalam usaha perluasan pemasaran
hasil perikanan. Bahkan sering menimbulkan kerugian besar pada saat produksi ikan
melimpah. Oleh karena itu, sejak lama masyarakat berusaha melakukan berbagai macam
proses pengolahan pascapanen ikan guna meminimalkan kendala tersebut.
Pada dasarnya proses pengolahan pascapanen ikan bertujuan untuk mengurangi
kadar

air

dalam

daging

ikan.

Penurunan

kadar

air

ini

bisa

menghambat

perkembangbiakan mikroorganisme dalam daging ikan sehingga produk olahan ikan akan
memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan daging ikan segarnya. Terdapat bermacammacam cara pengolahan pascapanen ikan, mulai dari cara tradisional sampai modern.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Salah diantara produk olahan ikan adalah abon ikan. Abon merupakan produk
olahan yang sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat. Dewan Standarisasi Nasional
(1995) mendefinisikan abon sebagai suatu jenis makanan kering berbentuk khas yang
terbuat dari daging yang direbus, disayat-sayat, dibumbui, digoreng dan dipres.
Pembuatan abon menjadi alternatif pengolahan ikan dalam rangka penganekaragaman
produk perikanan dan mengantisipasi melimpahnya tangkapan ikan di masa panen.
Abon ikan merupakan jenis makanan olahan ikan yang diberi bumbu, diolah
dengan cara perebusan dan penggorengan. Produk yang dihasilkan mempunyai bentuk
lembut, rasa enak, bau khas, dan mempunyai daya awet yang relatif lama 1. Sementara
menurut Karyono dan Wachid (1982), abon ikan adalah produk olahan hasil perikanan
yang dibuat dari daging ikan, melalui kombinasi dari proses penggilingan, penggorengan,
pengeringan dengan cara menggoreng, serta penambahan bahan pembantu dan bahan
penyedap terhadap daging ikan. Seperti halnya produk abon yang terbuat dari daging
ternak, abon ikan cocok pula dikonsumsi sebagai pelengkap makan roti ataupun sebagai
lauk-pauk.
Proses pembuatan abon ikan relatif mudah sehingga bisa langsung dikerjakan
oleh anggota keluarga sendiri. Peralatan yang dibutuhkan pun relatif sederhana sehingga
untuk memulai usaha ini relatif tidak memerlukan biaya investasi yang besar. Oleh sebab
itu, usaha pengolahan abon ikan ini bisa dilakukan dalam skala usaha kecil. Hal ini
membuat usaha ini sangat berpotensi untuk dikembangkan di banyak wilayah di
Indonesia yang memiliki sumberdaya perikanan laut yang melimpah.
Upaya untuk mengembangkan usaha pengolahan abon ikan ini sejalan dengan
upaya menumbuh-kembangkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Namun
demikian, dilatar belakangi oleh pemikiran bahwa perbankan masih kekurangan
informasi mengenai kelayakan usaha dan pola pembiayaan yang cocok bagi usaha ini,
maka menjadi kebutuhan mendesak untuk menyediakan informasi dalam bentuk pola
pembiayaan (lending model) usaha kecil untuk usaha pengolahan abon ikan.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

BAB II
ISI
1. Profil Usaha dan Pola Pembiayaan
Sejumlah wilayah di Indonesia yang telah mengembangkan agroindustri abon
ikan adalah Jawa Barat (Sukabumi, Indramayu dan Ciamis), DKI Jakarta, Jawa
Tengah (Semarang dan Cilacap), Bali (Jembrana), Kalimantan Tengah (Buntok dan
Barito Selatan), dan Jambi (Tanjung Jabung Timur) 2. Pada umunya, pola pengolahan
abon ikan tersebut didominasi oleh pengolahan tradisional dan bersifat industri rumah
tangga (sekitar 68%).
Salahsatu sentra usaha pengolahan abon ikan yang telah berkembang sejak
awal dekade 1990-an adalah sentra usaha pengolahan abon ikan yang ada di
Kabupaten

Sukabumi,

tepatnya

di

Desa

Cikahuripan,

Kecamatan

Cisolok

Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sampai saat ini, wilayah tersebut
terdapat dua produsen abon ikan berskala kecil dengan penggunaan teknologi, semimekanis. Secara garis besar, peralatan yang digunakan relatif masih sederhana.
Pemakaian peralatan semi-mekanis hanya untuk proses penggilingan, pemarutan dan
pengepresan yaitu berupa : mesin giling, mesin parutan, dan mesin pengepres. Pada
umumnya, unit-unit usaha abon ikan di sentra-sentra agroindustri sejenis memang
berskala kecil dengan karakteristik yang hampir sama.
Produsen abon ikan di Cisolok Kabupaten Sukabumi di atas, berbentuk
Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang
bertempat tinggal di sekitar lokasi unit usaha. Pendirian unit usaha abon ikan di
wilayah ini diawali dengan pelaksanaan pelatihan pembuatan abon ikan pada tahun
1988 melalui Dinas Perindustrian Kabupaten Sukabumi. Perkembangan selanjutnya,
kedua KUB tersebut dibina juga oleh sejumlah instansi di Kabupaten Sukabumi,
seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas
Kesehatan.
2. Aspek Keuangan
1. Pemilihan Pola Usaha
Unit usaha yang dianalisis adalah unit usaha abon ikan berskala kecil.
Bentuk badan usaha perusahaan adalah perusahaan perseorangan. Perusahaan
mengolah bahan baku ikan Marlin sebanyak 3.000 kg/bulan. Apabila proses
produksi berjalan optimal, dari sejumlah bahan baku tersebut (dicampur dengan
bahan-bahan pembantu), akan diperoleh produk abon ikan sebanyak 1.200 kg
/bulan (rendemen 40 persen).

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

2. Asumsi
Pada analisis aspek keuangan digunakan asumsi-asumsi yang disesuaikan
dengan kondisi pada saat survei lapangan di Cisolok Kabupaten Sukabumi (Bulan
Agustus 2007), serta berdasarkan hasil perhitungan pada aspek-aspek sebelumnya.
Asumsi-asumsi yang dijadikan dasar perhitungan tersebut terangkum dalam tabel.
Tabel 2.1. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan Usaha Abon ikan
No
Asumsi
Jumlah/Nilai
1 Periode proyek
5
2 Jumlah hari kerja per bulan
20
3 Jumlah bulan per tahun
12
Rata-rata skala produksi per hari
a. Rendemen Pengolahan ikan ke
40
4 abon ikan
b. Produksi abon per hari
60
c. Bahan baku ikan per hari
150
Komposisi pemasaran produk
a. Dijual di pabrik
10
5
b. Dijual ke pengecer lokal
10
c. Dijual kepada pedagang besar
80
Komposisi jenis produk menurut kemasan
6

7
8
9

a. Kemasan 100 gram


b. Kemasan 250 gram
Harga jual produk di tingkat
produsen
Harga bahan baku ikan marlin

Satuan
Tahun
Hari
Bulan
%
Kg
Kg
%
%
%

60

40

70,000

Rp/Kg

18,000

Rp/Kg

15

Discount factor ( suku bunga )

Keterangan
Periode 5 Tahun

Dari Total
Produksi

Tk Suku Bunga
Kredit

3. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja


Besarnya kebutuhan modal kerja dihitung berdasarkan kebutuhan dana
awal untuk satu kali siklus produksi. Usaha pembuatan abon ikan mempunyai
siklus produksi (lama waktu yang diperlukan dari pembelian bahan baku sampai
pembayaran terlama dari penjualan produk) kurang lebih selama 1,5 bulan.
Sehingga jumlah kredit modal kerja yang dibutuhkan adalah :
Kebutuhan modal kerja

= (siklus produksi/bulan kerja dalam setahun) x

biaya operasional selama 1 tahun


= (1/8) x Rp 937.870.500 = Rp 117.233.813,
Sumber dana untuk mencukupi kebutuhan modal kerja berasal dari dana
pengusaha sendiri dan dari bank. Perincian jumlah dan sumber dana untuk usaha
abon ikan disajikan dalam tabel 2.2 di bawah ini.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Tabel 2.2 Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja

Sumber : Lampiran 4
Jangka waktu kredit dari bank adalah 2 tahun tanpa grace period. Tingkat
suku bunga kredit yang digunakan adalah sebesar 15% per tahun dengan sistem
bunga menurun. Dengan demikian, jumlah angsuran pokok dan bunga kredit
yang harus dibayar oleh pengusaha abon ikan pada setiap bulannya juga dapat
dihitung.
4. Komponen Biaya Investasi dan Biaya Operasional
a. Biaya Investasi
Biaya investasi untuk usaha abon ikan terdiri dari : biaya perizinan,
sewa tanah dan bangunan, serta pembelian mesin/peralatan produksi dan
peralatan pendukung lainnya. Jenis, nilai pembelian dan penyusutan dari
masing-masing biaya investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha
pengolahan abon ikan disajikan pada Tabel 5.2 di bawah.

Tabel 2.3 Biaya Investasi Usaha Abon Ikan

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Sumber : Lampiran 2
Biaya perizinan adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh
surat-surat izin antara lain Surat Izin Usaha Pengolahan (SIUP), P-IRT dari
Departemen Kesehatan, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), badan hukum
KUB, dan Sertifikat Halal. Masa berlaku masing-masing surat izin tersebut
bervariasi.

Total biaya perizinan yang dibutuhkan adalah sebesar Rp

2.450.000,. Sewa tanah dan bangunan dilakukan untuk jangka waktu 5 tahun.
Pada tahun-tahun tertentu juga dilakukan re-investasi untuk pembelian mesin
atau peralatan produksi yang umur ekonomisnya kurang dari 5 tahun. Jumlah
biaya investasi keseluruhan pada tahun 0 adalah Rp 26.100.000,. Kebutuhan
dana investasi ini dipenuhi dari dana sendiri dan kredit investasi dari lembaga
keuangan formal seperti bank.
Komponen terbesar untuk biaya investasi ini adalah pembelian
mesin/peralatan produksi serta sewa tanah dan bangunan yang mencapai 87%
dari total biaya investasi. Sisanya adalah biaya investasi untuk pembelian
peralatan pendukung dan pengurusan perizinan.
b. Biaya Operasional
Biaya operasional terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap.
Komponen biaya variabel mencakup biaya bahan baku, bahan pembantu, bahan
pendukung, biaya tenaga kerja produksi, biaya makan tenaga kerja produksi dan
biaya transportasi. Sementara itu, komponen biaya tetap terdiri dari biaya
overhead pabrik (BOP) serta biaya administrasi dan umum.
Total biaya operasional untuk satu tahun produksi adalah sebesar Rp
937.870.500,. Biaya bahan baku dan bahan pembantu menyerap 88 % dari
total biaya operasional tersebut.
Tabel 2.4 Biaya Operasional Usaha Abon Ikan per Tahun

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Sumber : Lampiran 3
5. Perolehan Margin
Dalam analisis setiap investasi usaha, termasuk usaha pengolahan abon
ikan, tentu terdapat ketidakpastian yang akan mempengaruhi hasil perhitungan.
Analisis sensitivitas harus dilakukan guna menguji seberapa sensitif usaha yang
akan dilaksanakan terhadap perubahan jumlah dan harga-harga dari input dan
output produksi. Dalam analisis sensitivitas ini digunakan 3 skenario, yaitu :
1. Skenario I
Pendapatan usaha mengalami penurunan sedangkan biaya investasi dan
biaya operasional diasumsikan tetap. Penurunan pendapatan bisa diakibatkan
oleh penurunan harga abon ikan, jumlah permintaan yang menurun, ataupun
jumlah produksi yang menurun.
2. Skenario II
Biaya operasional mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi dan
penerimaan usaha diasumsikan tetap. Kenaikan biaya operasional bisa terjadi
akibat kenaikan harga input produksi, seperti bahan baku dan peralatan
produksi.
3. Skenario III
Skenario ini merupakan gabungan dari skenario I dan skenario II,
yaitu : diasumsikan penerimaan usaha mengalami penurunan dan biaya
operasional mengalami kenaikan, sedangkan biaya investasi tetap.

6. Proyeksi Rugi Laba dan BEP

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Tingkat

keuntungan (profitability) dari

usaha

yang

dilaksanakan

merupakan bagian sangat penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan
investasi. Keuntungan dihitung berdasarkan selisih antara penerimaan dan
pengeluaran tiap tahunnya. Tabel 5.7 di bawah menunjukkan keuntungan Proyeksi
Rugi/Laba dan BEP dari Usaha Abon ikan. Perincian selengkapnya disajikan dalam
Sumber : Lampiran 7 dan 8.
7. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Berdasarkan analisis arus kas, dilakukan perhitungan B/C ratio atau Net
B/C, Net Present Value (NPV),Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back
Period (PBP). Sebuah usaha berdasarkan kriteria investasi di atas dikatakan layak
jika B/C ratio atau Net B/C > 1, NPV > 0, dan IRR > discount factor.
3. Aspek Produksi
1. Lokasi Usaha
Tahap penting dalam memulai suatu usaha adalah pemilihan lokasi tempat
usaha akan didirikan. Pertimbangan penetapan lokasi usaha didasarkan pada faktor
kedekatan letak dari sumber bahan baku, akses

pasar terhadap produk yang

dihasilkan, ketersediaan tenaga kerja, air bersih, sarana transportasi dan


telekomunikasi.
Lokasi usaha pengolahan produk ikan sebaiknya terdapat di daerah-daerah
yang dekat kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan, terutama Tempat
Pelelangan Ikan (TPI). Kondisi tersebut akan mempermudah proses penyediaan
bahan baku ikan, mengingat sifat ikan yang mudah rusak, serta bisa mengurangi
biaya transportasi dalam penyediaan bahan baku.
2. Tenaga Kerja
Jenis teknologi yang digunakan dalam industri abon ikan umumnya
sederhana dan sangat mudah penguasaannya. Oleh karena itu, industri ini tidak
menuntut prasyarat tenaga kerja berpendidikan formal, tetapi lebih mengutamakan
keterampilan khusus dalam pengolahan abon ikan. Kebutuhan tenaga kerja dengan
spesifikasi tersebut bisa dipenuhi oleh pria atau wanita yang telah mengikuti
pelatihan dan/atau magang di unit usaha sejenis.
Pada skala usaha abon ikan yang disurvei, dengan kapasitas produksi 60 kg
produk abon per hari, jumlah tenaga kerja yang digunakan terdiri dari 1 orang

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

pimpinan perusahaan, 6 orang tenaga kerja produksi dan 1 orang tenaga


administrasi. Jumlah tenaga kerja produksi sangat tergantung dari skala produksi,
sedangkan tenaga adminstrasi jumlahnya relatif tetap. Sistem pengupahan tenaga
kerja produksi adalah upah harian sebesar Rp 25.000, per hari. Sementara itu,
pimpinan perusahaan dan tenaga administrasi digaji bulanan, masing-masing
sebesar Rp 1.500.000, dan Rp 700.000, per bulan.
3. Bahan Baku
Bahan baku yang cocok digunakan dalam pembuatan abon ikan adalah
ikan berdaging tebal juga harus memiliki serat kasar dan tidak mengandung banyak
duri.

Sejumlah

spesies

ikan

yang

memenuhi

kriteria

tersebut

adalah:

Marlin/Jangilus (Istiophorus sp), Tuna, Cakalang, Ekor Kuning, Tongkol, Tengiri,


dan Cucut. Spesies-spesies ikan ini umumnya dapat ditangkap sepanjang tahun
oleh nelayan dengan alat tangkap pancing di perairan laut dalam. Beberapa spesies
ikan air tawar pun bisa digunakan, misalnya: Nila dan Gabus. Sedangkan ciri-ciri
fisik yang harus dimiliki daging ikan yang bisa dijadikan bahan baku pembuatan
abon ikan adalah dalam kondisi segar, warna dagingnya cerah, dagingnya terasa
kenyal, dan tidak berbau busuk.
Pada unit usaha di lokasi penelitian Cisolok Sukabumi, bahan baku yang
digunakan

dalam

proses

produksi

abon

ikan

adalah

Ikan

Marlin/Jangilus (Istiophorus sp). Alasan pemilihan Ikan Marlin sebagai bahan


baku dalam produksi abon ikan adalah karena daging jenis ikan ini memiliki serat
yang lebih panjang dan warna yang lebih cerah, bila dibanding dengan daging ikan
lainnya. Sebainya, ikan Marlin yang digunakan sebagai bahan baku abon ikan
memiliki berat di atas 100 kg. Ikan dengan ukuran tersebut akan meminimalkan
bagian ikan yang 'terbuang' pada saat proses penyiangan daging ikan. Pada saat
survei, harga beli ikan Marlin adalah Rp 18.000 per kg.
Pengadaan bahan baku usaha pengolahan abon ikan di Cisolok Sukabumi
diperoleh dari TPI terdekat, yaitu TPI Pajagan dan TPI Palabuahan Ratu. Namun,
bila bahan baku tidak tersedia di kedua TPI tersebut, maka bahan baku masih bisa
diperoleh dari TPI Binuangeun (Banten), TPI Muara Angke dan Muara Baru
(Jakarta).

Proses pembelian bahan baku biasanya dilakukan dengan cara

melakukan pemesanan terlebih dahulu dari sejumlah TPI, kemudian pemasok akan
mengantarkan langsung bahan baku tersebut ke lokasi produksi dengan biaya
pengiriman sepenuhnya ditanggung oleh pemasok. Sistem pembayaran bahan baku

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

biasanya dengan sistem 50 persen dibayar pada saat pasokan tiba dan 50 persen
lagi setelah produk abon ikan terjual. Sistem pembayaran bahan baku seperti ini
bisa dilakukan karena sudah lamanya kerjasama yang dilakukan pihak produsen
dengan para pemasoknya.
Seperti dalam proses pembuatan produk olahan makanan lainnya, dalam
pembuatan abon ikan pun digunakan bahan-bahan pembantu (bumbu-bumbu).
Fungsi bahan-bahan pembantu tersebut adalah sebagai penyedap rasa dan zat
pengawet

alami

bagi

produk

abon

ikan

yang

dihasilkan.

Sejumlah bahan pembantu yang biasa digunakan dalam pembuatan abon adalah
rempah-rempah, gula, garam dan penyedap rasa. Jenis rempah-rempah yang
digunakan adalah bawang putih, ketumbar, lengkuas, sereh dan daun salam. Gula
yang digunakan adalah gula pasir. Gula pasir dapat memberikan rasa lembut
sehingga dapat mengurangi terjadinya pengerasan.

Sementara garam yang

digunakan sebagai bumbu adalah garam dapur. Di samping sebagai bumbu, garam
dapur pun berfungsi sebagai bahan pengawet karena kemampuannya untuk
menarik air keluar dari jaringan. Bawang putih mempunyai aktivitas anti mikroba.
Senyawa allicin dalam bawang putih berperan memberikan aroma khas, serta
memiliki kemampuan merusak protein kuman penyakit sehingga kuman tersebut
mati. Sementara itu, penyedap rasa berfungsi untuk menambah kenikmatan rasa
abon ikan yang dihasilkan.
Sejumlah literatur atau penelitian sebelumnya telah mendokumentasikan
komposisi bahan-bahan dalam pembuatan abon ikan. Salahsatu publikasi tersebut
disajikan pada Tabel 2.5 di bawah ini.
Tabel 2.5 Komposisi Bahan-bahan Pembantu Per 10 kg Bahan Baku Daging Ikan
Jenis Bahan Pembantu (Bumbu)
1. Bawang Merah
2. Bawang Putih
3. Ketumbar
4. Irisan Lengkuas
5. Daun Salam
6. Serei
7. Gula Pasir
8. Asam Jawa
9. Kelapa

Jumlah
150
100
10,0
3
10
3.0
700
6
10

Satuan
Gram
Gram
Gram
Iris
Lembar
Tangkai
Gram
Mata
Butir

Komposisi bahan-bahan pembantu yang digunakan oleh kedua produsen abon


ikan di Cisolok Sukabumi disajikan dalam Tabel 2.6 berikut :
Tabel2.6 Komposisi Bahan-bahan Pembantu? Per 10 kg Bahan baku Daging Ikan

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

10

Jenis Bahan Pembantu (Bumbu)


1. Gula Pasir
2. Lengkuas
3. Ketumbar
4. Bawang Putih
5. Bawang Merah
6. MSG
7. Garam Dapur
8. Garam Rebus
9. Kelapa
10. Serei
11. Daun Salam

Jumlah
2
0,5
250
150
0,5
16
700
2
2
2
5

Satuan
kg
kg
gram
gram
kg
gram
gram
kg
butir
batang
helai

4. Teknologi
Penentuan pilihan teknologi yang akan diterapkan sangat tergantung
kepada skala unit usaha yang akan didirikan. Beberapa patokan umum yang dapat
dipakai dalam pemilihan teknologi adalah : seberapa jauh derajat mekanisasi yang
diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan, keberhasilan pemakaian
teknologi di tempat lain, serta kemampuan tenaga kerja dalam pengoperasian
teknologi.
Produsen abon ikan pada umumnya termasuk kategori usaha berskala
mikro - kecil dan bersifat padat tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja
merupakan faktor produksi utama dalam proses produksi abon ikan. Ini mengingat
beberapa tahap produksi abon ikan sangat mengandalkan tenaga manusia. Dengan
demikian, alternatif jenis tek-nologi yang disarankan untuk digunakan adalah
teknologi kombinasi antara peralatan tradisional dan semi-mekanik.
5. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi
Jenis produk yang dihasilkan adalah abon ikan yang dijual dalam kemasan
100 gram (60 persen) dan kemasan 250 gram (40 persen). Tabel 3.3 di bawah
menyajikan komposisi kandungan gizi dalam 100 gram abon ikan.
Tabel 3.3. Komposisi Kandungan Gizi dalam 100 gram Abon Ikan
No
1
2
3
4
5

Zat
Kandungan (gram)
Air
4,13
Lemak
24,31
Karbohidrat
13,41
Protein
31,22
Mineral
15,87
Sumber: Suryati dan Dirwana (2007)

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

11

6. Proses Produksi
Proses produksi abon ikan relatif sederhana dan mudah dilakukan. Secara
umum, proses produksi abon ikan, mulai dari tahap pengadaan bahan baku ikan
sampai tahap pengemasan abon ikan, adalah sebagai berikut :
1. Pengadaan Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah ikan Marlin yang masih utuh dan
segar, untuk selanjutnya dilakukan proses penyiangan.
2. Penyiangan Bahan baku
Pada proses penyiangan yaitu pemotongan ikan dan pencucian daging
ikan, maka bagian kepala, isi perut dan sirip ikan dibuang. Daging ikan hasil
tahap penyiangan sebaiknya direndan dalam air yang dicampur dengan air cuka.
Kadar air cuka yang dipakai adalah 2%. Ini dilakukan untuk membuat bau
amis hilang. Proses penyiangan dapat dilihat pada gambar 3.2 di bawah.

Gambar 2.1. Proses Penyiangan daging Ikan Marlin


3. Perebusan
Potongan ikan yang telah direndam dalam air cuka kemudian disusun ke
dalam badeng dan direbus selama 30 60 menit. Proses perebusan akan
dihentikan setelah daging ikan menjadi lunak. Selama proses perebusan tersebut
juga ditambahkan daun salam dan garam rebus.

Gambar 2.2. Perebusan Daging Ikan

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

12

4. Pengepresan
Ikan yang telah direbus kemudian dipres dengan mesin pengepres.
Sebelum dipres, daging ikan tersebut sebaiknya ditiriskan terlebih dahulu sekitar
5 10 menit.
Tahap pengepresan bertujuan untuk mengurangi kadar air pada daging
ikan yang telah direbus. Makin sedikit kadar air yang dikandung dalam daging,
maka akan makin baik pula serat-serat daging yang dihasilkan.

Gambar 2.3. Proses Penirisan dan Pengepresan I


5. Pencabikan I
Setelah daging ikan dipres, kemudian dilakukan proses pencabikan
sampai menjadi serat.-serat. Proses ini bisa dilakukan dengan tangan atau dengan
mesin pencabik (giling).

Gambar 2.4. Proses pencabikan I


6. Pemberian Bumbu dan Santan
Pada tahap ini, serat-serat daging hasil pencabikan ditambahkan bahanbahan pembantu (bumbu-bumbu). Bumbu-bumbu yang ditambahkan terdiri
dari : bawang putih, ketumbar, lengkuas yang telah diparut dengan mesin parutan,

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

13

gula pasir, garam dapur dan santan kelapa. Proses pembumbuan dapat dilihat
pada gambar 3.6.

Gambar 2.5. Proses penyiangan dan pemarutan lengkuas, serta penambahan bumbubumbu ke serat-serat daging ikan
7. Penggorengan
Setelah bumbu-bumbu tercampur secara merata dalam serat-serat daging
ikan,

kemudian

dilakukan

penggorengan

60

menit.

Selama

proses

penggorengan, secara terus menerus dilakukan pengadukan agar abon ikan yang
dihasilkan matang secara merata dan bumbu-bumbu dapat meresap dengan baik.
Tahap penggorengan ini akan dihentikan setelah serat-serat daging yang digoreng
sudah berwarna kuning kecoklatan. Proses penggorengan dapat dilihat pada
gambar2.6.

Gambar 2.6. Proses penggorengan


8. Pengepresan II
Tahap produksi berikutnya adalah pengepresan kembali serat-serat daging
ikan yang telah digoreng. Proses pengepresan tahap kedua ini bertujuan untuk
mengurangi kadar minyak pasca proses penggorengan.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

14

Gambar 2.7. Proses pengepresan II


9. Pencabikan II
Setelah dipres, kemudian dilakukan pencabikan tahap kedua agar tidak
terjadi penggumpalan. Proses pencabikan tahap kedua ini akan dihentikan
setelah terbentuk produk akhir berupa abon ikan dengan tekstur yang seragam.
Proses pencabikan II dapat dilhat pada gambar 2.8.

Gambar 2.8 . Proses Pencabikan II


10. Pengemasan
Pada tahap akhir produksi dilakukan pengemasan abon ikan. Jika
pengemasan tidak langsung dilakukan, maka produk abon ikan akan disimpan
terlebih dahulu dalam kantung plastik besar (blong)di gudang penyimpanan,
sebelum dilakukan pengemasan (Gambar 2.9).

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

15

Gambar 2.9. Abon ikan curah di gudang penyimpanan dan dalam kemasan siap dijual
(ukuran 250g dan 100 g)
Rata-rata waktu yang dibutuhkan dalam setiap kali produksi abon ikan
dengan kapasitas 150 kg bahan baku ikan Marlin, yaitu mulai dari tahap
penyiangan ikan sampai ke tahap pengemasan adalah satu hari kerja. Diagram
alir proses produksi abon ikan ini dapat dilihat pada gambar 3.11 di bawah.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

16

Gambar 2.10. Diagram Alir Proses Produksi Abon ikan


7. Produksi Optimum
Kapasitas produksi optimal adalah 5 : 3, yaitu bahan baku dibanding
hasil produksi. Sebagai contoh untuk 10 kg bahan baku ikan Marlin, yang
dicampur dengan bahan-bahan pembantu, akan diperoleh hasil sekitar 4 kg abon
ikan (rendemen 40 persen).
8. Kendala Produksi
Kendala produksi yang sangat dirasakan oleh pengusaha abon ikan adalah
kontinuitas penyediaan bahan baku. Meskipun bahan baku yaitu ikan Marlin dapat
didatangkan dari TPI yang lain, tetapi mengingat sifat bahan baku yang mudah

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

17

busuk dan persyaratan produksi dengan bahan baku yang segar, dapat berpotensi
pada penurunan kualitas. Untuk mengatasi hal ini, seyogyanya produsen abon ikan
melakukan pemesanan terlebih dahulu kepada nelayan pemasok langganan di TPITPI di sekitarnya, minimal satu minggu sebelum proses produksi dilakukan.
4. Aspek Pemasaran (Marketing)
1. Penawaran
Usaha abon ikan telah diusahakan di sejumlah daerah yang banyak
menghasilkan ikan, terutama daerah-daerah pantai seperti di Jawa Barat, DKI
Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Tengah, dan Jambi. Namun demikian, data
mengenai jumlah produksi abon ikan baik di tingkat nasional maupun daerah
belum bisa diperoleh. Sampai saat ini belum ada survei yang mengidentifikasi
jumlah usaha abon ikan baik di tingkat lokal maupun nasional.
Oleh sebab itu, jumlah penawaran abon ikan hanya bisa didekati melalui
jumlah rata-rata produksi abon secara umum. Data BPS tahun 2005 menunjukkan
bahwa jumlah rata-rata produksi abon yang dihasilkan industri menengah dan
besar, masing-masing adalah 112.060 kg/tahun dan 2.144,33 kg/tahun. Jumlah
rata-rata produksi tersebut tentu masih jauh di bawah potensi pasar abon yang
diprediksi akan terus mengalami peningkatan, sejalan dengan peningkatan jumlah
penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap produk olahan.
2. Persaingan dan Peluang Pasar
Di tengah banyaknya variasi produk olahan ikan, abon ikan merupakan
salahsatu produk yang prospektif untuk dikembangkan. Sejauh ini persaingan
antar pengusaha abon ikan belum dirasakan menjadi kendala. Hal ini karena
keterbatasan produksi abon ikan di Indonesia sehingga peluang pasar abon ikan
bisa dikatakan masih sangat besar. Di samping itu, juga dapat menjadi produk
substitusi abon daging serta dapat menjadi komoditi ekspor. Oleh karena itu,
kondisi ini merupakan suatu peluang bagus, baik bagi para pengusaha untuk lebih
mengembangkan usahanya, maupun bagi para calon investor untuk menanamkan
modalnya dalam sektor agroindustri pengolahan abon ikan di berbagai wilayah
perairan Indonesia.
3. Permintaan
Sampai saat ini, belum ada data kuantitatif tentang jumlah konsumsi
masyarakat terhadap abon ikan. Meskipun demikian, dapat diprediksi bahwa
jumlah konsumsi abon relatif tinggi karena makanan olahan ini banyak digemari

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

18

oleh masyarakat luas. Ritme kehidupan modern masa kini yang menuntut segala
sesuatu yang serba cepat dan waktu yang semakin terbatas, semakin memperkuat
alasan prospektifnya permintaan pasar bagi produk-produk makanan olahan siap
saji, termasuk abon ikan.
Proyeksi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 239,19 juta jiwa pada
tahun 2007 dan memiliki tren yang akan terus meningkat (BPS 2005) merupakan suatu
potensi pasar yang sangat menjanjikan bagi produk abon ikan. Hal ini cukup
beralasan mengingat akhir-akhir ini terus terjadi peningkatan rata-rata konsumsi
masyarakat terhadap produk olahan ikan dan udang. Data menyebutkan bahwa
pada tahun 2004 rata-rata konsumsi masyarakat terhadap produk olahan ikan dan
udang mencapai 14,75 kalori, meningkat menjadi 15,31 kalori pada tahun 2005 (BPS,
2005)

.
Indikasi peningkatan permintaan tersebut sejalan dengan informasi dari

produsen abon ikan di Cisolok Sukabumi yang menyatakan bahwa potensi


permintaan produk abon ikan sebenarnya relatif masih tinggi. Faktor keterbatasan
modal kerja membuat produsen tersebut hanya bisa memenuhi permintaan abon
ikan untuk wilayah Sukabumi, Bogor, Jakarta dan Tangerang. Dengan kata lain,
masih banyak permintaan abon ikan di berbagai wilayah di luar wilayah-wilayah
tersebut yang belum terpenuhi. Di samping itu, bila kendala keterbatasan modal
kerja bisa diatasi, sebenarnya peluang ekspor abon ikan pun masih terbuka lebar.
4. Harga
Harga abon ikan di Kabupaten Sukabumi ditentukan oleh para produsen.
Dalam menentukan harga abon ikan tersebut, produsen sangat mempertimbangkan
faktor besarnya biaya produksi, terutama biaya pengadaan bahan baku yaitu ikan
Marlin yang mencapai 69 persen dari total biaya produksi langsung. Pada saat
dilakukan survei (Bulan Agustus 2007), harga abon ikan di tingkat produsen di
Cisolok Sukabumi adalah Rp 70.000 per kg. Harga produsen ini berlaku untuk
semua jalur distribusi pemasaran produk.

Sementara itu, harga di tingkat

konsumen relatif bervariasi, mulai Rp 70.000 Rp 90.000 per kg. Biasanya


semakin jauh lokasi konsumen dari lokasi perusahaan, maka harga abon ikan di
tingkat konsumen akan semakin mahal.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

19

5. Jalur Pemasaran
Rantai pemasaran menggambarkan bagaimana suatu produk didistribusikan
sehingga bisa sampai kepada konsumennya. Ada paling tidak tiga jalur distribusi
produk abon ikan dari produsen ke konsumen, yaitu :
1. Dibeli

langsung

konsumen

ke

lokasi

produsen

(10%)

Konsumen yang biasanya membeli langsung di pabrik antara lain : masyarakat


sekitar, konsumen langganan, rombongan tamu sejumlah instansi, dan para
wisatawan yang berwisata di pantai sekitar unit usaha.
2. Dijual

oleh

produsen

kepada

toko

pengecer

lokal

(10%)

Sejumlah tempat yang bisa menjadi tempat penjualan abon ikan adalah toko
pengecer, pasar swalayan, hotel, restoran, terminal, dan tempat-tempat wisata di
kota/kabupaten setempat. Pada jalur distribusi ini, produk abon ikan diantar
pihak produsen ke sejumlah tempat tersebut dengan biaya transportasi
ditanggung oleh produsen.
3. Dijual oleh produsen ke pedagang besar/perantara di luar kota (80%)
Penjualan diawali dengan tahap pemesanan (partai besar) oleh pedagang
besar/perantara langganan.

Kemudian pihak produsen akan mengantar

langsung produk abon ikan ke lokasi pedagang dengan biaya transportasi


ditanggung sepenuhnya oleh pihak pedagang besar yang bersangkutan.

Gambar 2.11. Rantai Pemasaran Abon ikan


Sedang untuk cara pembayaran, secara umum ada dua sistem pembayaran.
Bagi konsumen yang langsung datang ke lokasi unit usaha, sistem pembayaran
dilakukan secara tunai. Sedangkan sistem pembayaran oleh pengecer lokal dan
pedagang besar/perantara dari luar kota dilakukan dengan sistem sebagai berikut :
50 persen dibayar pada saat produk dikirim dan sisanya (50 persen lagi) dibayar
pada saat produk sudah terjual. Biasanya, jangka waktu pembayaran paling lama
dengan sistem ini adalah 1,5 bulan sejak produk dikirim.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

20

Gambar 2.12. Abon ikan dalam kemasan 250 dan 100 gram yang siap dijual
6. Kendala Pemasaran
Konsumen abon ikan sering mengeluhkan tentang ketidaktersediaan
produk di pasaran. Sejumlah konsumen juga menginginkan abon ikan dengan rasa
manis-pedas, tekstur halus dengan aroma tidak terlalu khas ikan, tekstur halus,
kemasan dalam toples, dan lain-lain (Wijaya, 2007).
Lebih lanjut Wjaya (2007) menyatakan bahwa terkait dengan keinginan
konsumen tersebut, kedua produsen Cisolok Sukabumi hanya memproduksi satu
jenis rasa, yaitu rasa manis dengan kemasan plastik berukuran 100 gram dan 250
gram. Sedangkan dari sisi tekstur abon, terkadang abon ikan yang dihasilkan
tersebut bertekstur halus dan terkadang kasar (produk tidak standar). Hal ini tentu
berbeda dengan umumnya produk abon dari daging, seperti abon sapi, yang telah
mempunyai berbagai variasi rasa, warna dan kemasan sesuai dengan preferensi
konsumen. Kondisi ini menjadi salah satu kendala terhambatnya pemasaran produk
abon ikan. Dukungan akses teknologi dan akses modal diharapkan dapat menjadi
pemacu untuk makin berkembangnya industri olahan abon ikan.
7. Aspek SOSEK dan AMDAL
1. Aspek Sosial Ekonomi
Usaha pembuatan abon ikan mempunyai dampak yang positif, baik bagi
pengusaha maupun masyarakat setempat. Bagi pengusaha, dampak ekonomis dari
usaha ini adalah akan meningkatnya pendapatan mereka. Usaha abon ikan
merupakan bisnis yang menguntungkan karena mempunyai peluang pasar yang
masih terbuka lebar, terutama bila kendala-kendala pemasaran yang dihadapi pada
saat ini bisa diatasi. Di samping itu, beroperasinya usaha abon ikan yang bersifat

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

21

padat karya akan membantu menyerap tenaga kerja bagi masyarakat setempat
sehingga akan membantu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Lebih jauh, peningkatan produksi abon ikan akan memberi peluang bagi
peningkatan pendapatan daerah setempat. Jika dikelola secara optimal (kendalakendala produksi, pemasaran dan keterbatasan modal kerja sudah teratasi), maka
produsen abon ikan pun berpeluang mengekspor produknya sehingga bisa
berkontribusi bagi penambahan cadangan devisa.
2. Aspek Dampak Lingkungan
Aspek dampak lingkungan berkaitan dengan analisis potensi limbah yang
mungkin dihasilkan dari suatu unit usaha produksi. Unit usaha pengolahan abon
ikan tidak menghasilkan limbah berbahaya, baik bagi manusia maupun lingkungan
sekitarnya. Limbah yang dihasilkan hanya air kotor sisa pembersihan. Biasanya air
ini dibuang melalui saluran air yang dapat langsung meresap ke tanah. Air limbah
juga tidak mengandung zat-zat kimia yang membahayakan organisme tanah dan
tanaman. Alih-alih menghasilkan limbah yang berbahaya, sisa proses produksi
abon ikan justru masih bisa dimanfaatkan, misalnya :
1. Bagian-bagian bahan-baku ikan Marlin yang dibuang pada tahap penyiangan,
bisa diolah lebih lanjut menjadi hidangan sop ikan yang banyak diminati
masyarakat setempat.
2. Air sisa rebusan daging ikan pada tahap perebusan bisa diolah lebih lanjut
menjadi produk kecap ikan.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

22

BAB III
PEMBAHASAN
1. Lampiran 1
Tabel 3.1 Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan Usaha Abon ikan
No
Asumsi
1 Periode proyek
2 Jumlah hari kerja per bulan
3 Jumlah bulan per tahun
Rata-rata skala produksi per hari
a. Rendemen Pengolahan ikan ke
4 abon ikan
b. Produksi abon per hari
c. Bahan baku ikan per hari
Komposisi pemasaran produk
a. Dijual di pabrik
5
b. Dijual ke pengecer lokal
c. Dijual kepada pedagang besar
Komposisi jenis produk menurut
kemasan
6
a. Kemasan 100 gram
b. Kemasan 250 gram
Harga jual produk di tingkat
7
produsen
8 Harga bahan baku ikan marlin
9

Discount factor ( suku bunga )

Jumlah/Nilai
5
20
12

Satuan
Tahun
Hari
Bulan

40

60
150

Kg
Kg

10
10
80

%
%
%

60

40

70,000

Rp/Kg

18,000

Rp/Kg

15

Keterangan
Periode 5 Tahun

Dari Total
Produksi

Tk Suku Bunga
Kredit

Sumber: lampiran 1
Pada tabel diatas berisi tentang asumsi dan parameter untuk analisis keuangan
usaha abon ikan. Data-data yang dimasukkan dalam beberapa parameter tersebut
merupakan rencana usaha abon ikan yang selanjutnya dilakukan analisa keuangan
untuk mengetahui apakah usaha abon ikan dengan ketentuan seperti dalam tabel
tersebut sudah layak untuk dijalankan dan tentunya mendapat keuntungan. Jika setelah
dilakukan analisa keuangan dan ternyata usaha tersebut belum atau tidak layak maka
dilakukan atau belum mendapat keuntungan (terlalu kecil) maka dilakukan beberapa
perubahan, misalnya dengan menambah kapasitas produksi, mencari sumber dana
(investor/ bank lainnya) dengan diskon factor yang lebih rendah, mencari supplier
bahan baku ikan dengan harga yang lebih murah atau beberapa upaya lainnya sampai
target yang diinginkan oleh perusahaan tercapai.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

23

2. Lampiran 2
Dalam melakukan usaha pembuatan abon ikan, tentunya ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan seperti perizinan usaha, sewa tanah dan bangunan,
mesin/peralatan produksi serta alat-alat pendukung produksi lainnya. Selain itu kita
juga harus menghitung biaya investasi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
Untuk biaya perizinan usaha pembuatan abon ikan ini memerlukan biaya
sebesar Rp. 2.450.000 yang meliputi biaya SIUP, SITU, P-IRT dan Dinkes, NPWP,
Badan Hukum KUB dan Sertifikat Halal. Hal-hal tersebut sangat perlu diperhatikan
untuk kelangsungan usaha, tetapi ada beberapa perizanan yang berbatas waktu seprti
SITU yang hanya berlaku selama 5 tahun dan sertifikat halal 3 tahun dari masa aktif
surat perizinan tersebut berlaku. Tentunya dengan keadaan tersebut setiap masa
berlaku habis akan kembali diperpanjang dengan biaya yang kembali harus di
keluarkan perusahaan. Berbeda dengan perizinan SIUP setiap 5 tahun sekali
perusahaan hanya perlu melakukan laporan saja tanpa harus mengeluarkan biaya
kembali.
Pada proses produksi tentunya kita membutuhkan bangunan tempat produksi,
maka perusahaan melakukan proses penyewaan tanah dan bangunan dengan biaya
investasi sebesar Rp. 10.000.000 selama 5 tahun. Dan perusahaan akan kembali
melakukan pembayaran penyewaan setelah 5 tahun sekali.
Mesin/peralatan produksi yang dibutuhkan cukup banyak meliputi; mesin
pengepres 3 kg, mesin parutan kelapa, mesin giling, garpu besar, lumping ukuran 1 kg,
lumping ukuran 2 kg, lumping ukuran 3 kg, batu penumbuk, blong, tungku, wajang
penggoreng, sealer, baskom plastic besar, baskom

plastic kecil, saringan kelapa,

badeng, sodet besar. Dengan biaya investasi keseluruhan sebesar Rp. 12.700.000
dengan total biaya penyusutan per tahun sebesar Rp. 2.760.000 untuk seluruh
peralatan dan mesin produksi. Dari semua peralatan yang digunakan ada beberapa
peralatan yang memiliki nilai sisa yaitu lumpang dengan 3 ukuran yang berbeda, batu
penumbuk, blong, tungku, baskom plastic kecil dan besar, saringan kelapa dan bedeng
yang memiliki total nilai sisa sebesar Rp. 630.000 karena beberapa peralatan tersebut
dapat kembali dijual dengan umur ekonomis yang berbeda-beda. Selain peralatan yang
sudah disebutkan diatas ada beberapa alat pendukung dalam proses produksi yaitu
timbangan duduk 5 kg, timbangan gantung 25 kg serta etalasae yang membutuhkan
biaya investasi sebesar Rp. 950.000 dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 160.000 per
tahun. Dan 2 diantara alat pendukung itu memiliki nilai sisa sebesar Rp. 300.000 yaitu
timbangan duduk dan etalase.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

24

Jadi, seluruh biaya investasi yang harus dikeluarkan perusahaan untuk


membuka usaha abon ikan ini yaitu sebesar Rp. 26.100.000, dengan biaya penyusutan
per tahun sebesar Rp. 2.920.000 serta nilai sisa dari beberapa peralatan produksi dan
alat pendukung produksi sebesar Rp. 930.000. maka dari biaya ini kita dapat
mengetahui apa saja yang membutuhkan biaya yang cukup besar dalam menjalankan
usaha abon ikan ini. Selain itu kita juga bias menghitung biaya penyusutan alat secara
keseluruhan dan menilai alat-alat apa saja yang memiliki nilai sisa setiap tahunnya.
3. Lampiran 3 (Biaya operasional usaha abon ikan)
Dalam melaksanakan usaha abon ikan, diperlukan biaya operasional produksi
yang meliputi biaya variable dan biaya tetap. Biaya operasional dihitung pertahun
dengan jumlah produksi sebanyak 20 kali perbulan atau 240 kali pertahunnya. Dengan
kapasitas produksi abon ikan yakni 150 kg bahan baku setiap kali produksi.
Biaya variable terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan pembantu, biaya
bahan pendukung, biaya tenaga kerja produksi dan biaya transportasi. Bahan baku
berupa ikan marlin atau ikan jangilus sebanyak 150 kg setiap kali produksi, yang mana
harga ikan tersebut yaitu Rp. 18.000 per Kg, sehingga dalam satu tahun produksi
diperlukan biaya bahan baku sebesar Rp. 648.000.000. Bahan pembantu dalam
produksi abon ikan terdiri dari gula pasir, minyak goreng, lengkuas, ketumbar, bawang
putih, bawang merah, MSG, garam dapur, garam rebus, kelapa, serei, daun salam.
Jumlah bahan pembantu yang digunakan sesuai dengan formulasi. Biaya yang
diperlukan untuk bahan pembantu dalam 1 tahun produksi yaitu sebanyak Rp.
172.926.000. untuk bahan pendukung itu sendiri yaitu meliputi bensin, sabun, minyak
tanah, kayu bakar serta kantong plastic kemasan. Biaya pendukung yang diperlukan
selama satu tahun produksi yaitu Rp. 32.892.000. Biaya tenaga kerja produksi
meliputi upah untuk tenaga kerja produksi dan biaya makan tenaga kerja. Tenaga kerja
terdiri dari 6 orang tenaga produksi dan 1 orang tenaga administrasi. Upah yang
diberikan untuk tenaga kerja yaitu Rp. 25.000 dan uang makan yang diberikan yaitu
Rp. 5000 perhari. Sehingga biaya tenaga kerja produksi yang dikeluarkan dalam 1
tahun produksi yaitu Rp. 44.400.000. Sedangkan untuk biaya transportasi yang
dikeluarkan setiap kali produksi yaitu Rp. 25.000, sehingga dalam 1 tahun produksi
dikeluarkan biaya transportasi sebanyak Rp. 6.000.000. Jadi Total biaya variable untuk
operasional produksi abon ikan selama 1 tahun yaitu Rp. 904.218.000.
Biaya tetap terdiri dari biaya overhead pabrik (BOP) yang meliputi gaji
pimpinan, gaji tenaga administrasi, biaya listrik, biaya telepon, biaya peralatan habis

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

25

pakai serta biaya perawatan dan pemeliharaan, yang mana dalam 1 tahun produksi
diperlukan biaya sebanyak Rp. 33.292.500. sedangkan biaya tetap lainnya yaitu biaya
administrasi dan umum yaitu sebanyak Rp. 360.000. jadi total biaya tetap untuk
operasional produksi abon ikan selama 1 tahun yaitu Rp. 33.652.500. Jadi, total biaya
operasional usaha abon ikan selama 1 tahun produksi sebesar Rp. 937. 870.500.
Untuk perhitungan modal kerja biaya operasional, jumlah dana modal kerja
diasumsikan kebutuhan modal kerja awal adalah 1,5 bulan pertama operasional
sehingga jumlah dana modal kerja yang dibutuhkan yaitu 1/8 dari biaya operasional
selama 1 tahun produksi yaitu sebesar Rp. 117.233.813. Sumber dana modal kerja itu
sendiri berasal dari kredit sebesar Rp. 60.000.000 dan dana sendiri sebesar Rp.
57.233.813.
4. Lampiran 4
Dalam lampiran 4 ini berisi tentang kebuuhan dana untuk investasi dan modal
kerja usaha abon ikan. Untuk dana investasi bersumber dari dana kredit sebesar Rp.
10,000,000 dan dana sendiri Rp. 16,100,000. Jadi total dana investasi adalah Rp.
26,100,000. Sementara untuk dana modal kerja berjumlah total Rp. 117,233,813 yang
bersumber dari dana kredit Rp. 60,000,000 dan dana sendiri Rp. 57,233,813. Jadi,
untuk memulai usaha ini dibutuhkan dana proyek yang bersumber dari kredit
Rp.70,000,000 (48,84% dari ttotal dana) dan dana sendiri 73,333,813 (51,16% dari
total dana). Sehingga total dana yang dibutuhkan untuk memulai usaha abon ikan ini
adalah Rp. 143,333,813.
5. Lampiran 5
Untuk memenuhi biaya investasi awal usaha yang meliputi perizinan, sewa
tanah dan bangunan, mesin peralatan produksi, serta peralatan pendukung dibutuhkan
dana sebesar Rp. 26.100.000. dana tersebut didapat dari kredit dan dana sendiri. Nilai
kredit investasi sebesar Rp. 10.000.000 dan sisanya dana sendiri sebesar Rp.
16.100.000. perusahaan mengambil jangka waktu kredit selama 24 bulan dengan
bunga perbulan sebesar 1,25 % dan angsuran perbulannya menurun.
Perusahaan harus membayar angsuran pokok setiap bulan sebesar Rp.
416.667. nilai tersebut di dapatkan dari hasil pembagian nilai investasi dibagi lamanya
jangka waktu kredit yang dilakukan. sedangkan biaya angsuran bunga bulan pertama
sebesar Rp. 125.000 dan akan berkurang sebesar Rp.5.209 setiap bulannya. Dapat
dikatakan angsuran bunga setiap bulannya akan menurun. Maka total angsuran yang

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

26

harus dibayarkan perusahaan berikut bunga itu sebesar Rp. 541.667 pada bulan
pertama dan pada bulan berikutnya angsuran berkurang Rp. 5.209. begitupun pada
tahun kedua.
Untuk memenuhi biaya operasiaonal produksi yang meliputi biaya variable
dan biaya tetap dibutuhkan biaya sebesar Rp.117.233.813, biaya tersebut berasal dari
dana kredit dan dana sendiri. Nilai kredit modal kerja sebesar Rp. 60.000.000 dan
sisanya dana sendiri sebesar Rp. 57.233.813. perusahaan mengambil jangka waktu
kredit selama 24 bulan dengan bunga perbulan sebesar 1,25 % dan angsuran
perbulannya menurun.
Perusahaan harus

membayar

angsuran pokok setiap bulan sebesar

Rp.2.500.000. nilai tersebut di dapatkan dari hasil pembagian nilai investasi dibagi
lamanya jangka waktu kredit yang dilakukan. sedangkan biaya angsuran bunga bulan
pertama sebesar Rp. 750.000 dan akan berkurang sebesar Rp.31.250 setiap bulannya.
Dapat dikatakan angsuran bunga setiap bulannya akan menurun. Maka total angsuran
yang harus dibayarkan perusahaan berikut bunga itu sebesar Rp. 3.250.000 pada bulan
pertama dan pada bulan berikutnya angsuran berkurang Rp. 31.250. begitupun pada
tahun kedua.
Jumlah kredit yang dilakukan perusahaan untuk biaya investasi dan oprasional
yaitu sebesar Rp. 70.000.000 dengan angsuran pokok sebesar Rp. 35.000.000 yang
dihasilkan dari nilai kredit investasi dan modal kerja pada tahun pertama. Dengan
angsuran bunga tahun pertama itu sebesar Rp. 8.093.750. Maka total angsuran yang
harus di bayarkan perusahaan pada tahun pertama yaitu sebesar Rp. 43.093.750 hingga
sisa kredit yang harus di bayarkan perusahaan sebesar Rp. 35.000.000 dan sudah bisa
terbayarkan pada tahun kedua.
Pada dasarnya semakin besar angsuran kredit yang dibayarkan perusahaan
perbulan maka kredit juga akan dapat cepat terlunasi dengan baik. Tetapi mengingat
banyaknya hal yang harus diperhatikan yang meliputi pendapatan bersih untuk
perusahaan, maka menurut saya jangka waktu kredit yang dilakukan perusahaan
selama 24 bulan sudah cukup, tidak terlalu lama juga tidak terlalu cepat dengan
angsuran yang tidak terlalu besar.
6. Lampiran 6
Tabel 3.2. Produksi dan Penjualan Abon Ikan
No
Uraian
1 Produksi per hari
2 Produksi per bulan

Nilai
60
1,200

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Satuan
kg/hari
kg/bulan

27

3
4
5

Produksi per tahun


14,400
kg/tahun
Harga jual di tingkat produsen
70,000
Rp/kg
Nilai penjualan per tahun (Pendapatan)
1,008,000,000 Rp/tahun
Dalam lampiran 6 ini, berisi tentang rencana produksi dan penjualan abon

ikan. Dalam 1 hari UKM ini menargetkan produksi 60 kg, dalam satu bulan terdapat
20 hari kerja sehingga dalam satu bulan dapat memproduksi 1,200 kg serta dalam satu
tahunnya sekitar 14,400 kg, yang didapatkan dari hasil kali antara jumlah produksi per
tahun dengan jumlah bulan dalam 1 tahun , yaitu 12 bulan. Berarti dalam satu tahun
UKM ini terus akan berproduksi penuh selama 12 bulan. Sementara untuk harga jual
ditingkat produsen ialah Rp. 70,000/kg. Sehingga selama 1 tahun (12 bulan ) produksi
dan penjualan akan mencapai Rp. 1,008,000,000.
7. Lampiran 7
Proyeksi laba-rugi usaha abon ikan pada tahun ke-1 sampai ke-5 jumlah
pendapatan sebesar Rp1.008.000.000, pendaptan ini didapatkan dari produksi setahun
dikali harga jual ditingkat produksi, dengan laba kotor sebesar Rp 70.129.500.
Pada tahun ke-1 terdapan angsuran bungan sebesara Rp 8.093.750 dan pada
tahun ke-2 sebesar Rp 2.843.750. Laba sebelum pajak pada tahun ke-1 dan ke-2
mengalami kenaikan dikarenakan angsuran bunga pada tahun ke-2 lebih rendah dari
pada tahun ke-1 dan laba sebelum pajak pada tahun ke-3 sampai tahun ke-5 sama
yaitu sebesar Rp. 6.720.950. laba sebelum pajak didapat dari laba kotor dikurangi
bunga kredit. sedangkan pada tahun ke-3 sampai tahun ke-5 sudah tidak ada angsuran
bunga sehingga mendapatkan profit yang sama dan lebih tinggi dibandingkan pada
tahun ke-1 dan ke-2.
Sedangkan laba kena pajak dihasilkan dari laba sebelum pajak dikurangi biaya
penyusutan . Biaya penyusutan diambil dari jumlah biaya investasi usaha abon ikan.
Penggunaan pajak di perusahaan abon ikan ini diasumsikan sebasar 10% dari laba
kena pajak. Sehingga dihasilkan laba bersih pada tahun ke-1 sebasar Rp.53.204.175,
ke-2 Rp. 57.929.175 dan pada tahun ke-3 sampai ke-5 sebesar Rp.60.488.550.
Sehingga profit yang didapat pada tahun ke-1 5,28, ke-2 5,75 dan tahun ke-3
sampai ke-5 6,00. Profit didapat dari laba bersih dibagi laba kena pajak dikali 100%.
Proyeksi laba-rugi abon ikan apalila diansumsikan pada penurunan
pendapatan sebasar 2% dan 3% dengan pajak 10% masih dikatakan layak dengan
rata-rata 4,09 dan 3,20.
Proyaksi laba-rugi usaha abon ikan apabila diasumsikan pada peningkatan
biaya operasional sebasar 2% dan 3% dengan pajak 10% maih dikatakan layak
denagan rata-rata 4,13 dan 3,29.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

28

Proyaksi laba-rugi usaha abon ikan diasumsikan pada penurunan pendapatan


sebesar 1% dan peningktan biaya operasional 1% masih dikatakan layak dengan ratarata 4,11.
Proyaksi laba-rugi usaha abon ikan diasumsikan pada penurunan pendapatan
sebesar 1,5% dan peningktan biaya operasional 1,5% masih dikatakan layak dengan
rata-rata 3,25.
8. Lampiran 8
Pada lampiran 8 dijelaskan bahwa perusahaan Abon ikan melakukan
perhitungan BEP. Perhitungan BEP itu sendiri merupakan keadaan dimana suatu
perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami
rugi. Dengan kata lain, pada keadaan itu keuntungan atau kerugian sama dengan nol.
No
1
2

Tabel 3.3. Perhitungan BEP Usaha (Rata-Rata)


BEP Rata-Rata
Nilai Penjualan (Rp)
401,524,594
Jumlah Penjualan/produksi (Kg)
5,736

Pada perhitungan BEP sebelumnya telah diketahui total biaya variabel dan
total biaya tetap dimana telah diketahui pada lampiran sebelumnya (lampiran 3), akan
tetapi pada perhitungan BEP terdapat adanya penambahan jumlah biaya, yakni biaya
penyusutan dan bunga kredit pada total biaya tetap. Jumlah biaya penyusutan terdapat
pada lampiran 2 dimana jumalah setiap tahun dari tahun ke-1 hingga tahun ke-5 tetap
tidak ada penurunan ataupun penaikan yakni Rp. 2.920.000 , akan tetapi peralatan
yang digunakan setiap habis 5 tahun harus lapor kembali, sedangkan pada bunga
kredit telah dijelaskan sebelumnya (lampiran 5) dimana setiap bulan dalam 1 tahun
adanya potongan bunga 1,25%, biaya kredit hanya diketahui pada tahun pertama dan
tahun kedua seperti halnya yang telah dijelaskan pada lampiran 5 yaitu hanya 24 bulan
saja.
Perhitungan BEP dibagi menjadi 2, yakni BEP nilai penjualan (Rp) dan
BEP jumlah penjualan (kg). BEP nilai penjualan (Rp) merupakan BEP atau titik
pulang pokok yang dinyatakan dalam harga penjualan tertentu. Sedangkan BEP
jumlah penjualan (kg) merupakan titik pulang yang dinyatakan dalam jumlah
penjualan produk di nilai tertentu. Dimana dari penjelasan tersebut di dapat rumus
perhitungan sebagai berikut :

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

29

BEP Nilai Penjualan (Rp)

Total biaya
1- (total biaya variabel/ harga jual)

BEP Jumlah Penjualan (Kg) :

Total biaya
Harga jual total biaya variable

Dari penjelasan diatas didapat data hasil perhitungan BEP setiap tahun. Baik
BEP nilai penjualan (Rp) maupun BEP jumlah Penjualan (Kg). Dapat dilihat bahwa
BEP nilai penjualan (Rp) dan BEP jumlah penjualan (Kg) mengalami penurunan pada
tahun ke-1 hingga tahun ke-3 dan dari tahun ke-3 hingga tahun ke-5 jumlah BEP tetap
(konstan). Dan hasil rata-rata di dapat dari jumlah keseluruhan dari tahun ke-1 hingga
tahun ke-5 dibagi 5 maka jumlah rata-rata BEP nilai penjualan Rp. 401.524.594,- .
serta rata-rata BEP jumlah penjualan yakni 5.736 Kg.

9. Lampiran 9
Lampiran 9 menghitung tentang proyeksi arus kas usaha abon ikan selama 5
tahun. Arus kas (cas flow) adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas
dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi
pembiayaan/pendanaan

serta

kenaikan

atau

penurunan

dalam

kas

suatu

perusahahaanselama satu periode. Laporan arus kas (cas flow) mengandung 2 macam
aliran/arus kas yaitu:
1. Inflow
Inflow adalah arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi yang melahirkan
keuntungan kas (penerima kas). Inflow pada perusahaan abon ikan berasal dari
pendapatan, dana sendiri, kredit investasi, kredit modal kerja dan nilai sisa dari
alat-alat yang digunakan. Dimana inflow tahun ke 0 berasal dari dana sendiri,
kredit investasi dan kredit modal kerja karena pada tahun ke 0 belum terdapat
pendapatan dan nilai sisa. Sedangkan pada tahun ke-1 sampai ke-4 berasal dari
pendapatan dan pada tahun ke-5 ditambah dengan nilai sisa dari alat alat yang
digunakan.
Inflow untuk IRR didapatkan dari perhitungan total inflow dikurangi
jumlah pendapatan, dana sendiri, kredit investasi, kredit modal kerja dan nilai sisa
dari alat-alat yang digunakan.
a. Pendapatan
Pendapatan didapatkan dari harga penjualan dikali jumlah produksi
per tahun, perhitungan pendapatan terlampir di lampiran 6. Dalam kurun

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

30

waktu 5 tahun usaha abon ikan ini mengalami pendapatan sebesar Rp.
1.008.000.000 dimulai pada tahun ke-2.
b. Dana sendiri
Perhitungan dana sendiri yaitu diperoleh dari dana investasi dan dana
modal kerja yang terlampir di lampiran 4. Jumlah dana sendiri yaitu
73.333.813.
c. Kredit investasi
Kredit investasi bersumber dari dana investasi sebesar Rp. 10.000.000
d. Kredit modal kerja
Kredit modal kerja tersebut sudah dibahas pada lampiran 5.
e. Nilai sisa
Pada tahun ke-5 terdapat nilai sisa yang berjumlahRp. 930.000.
perhitungan tersebut di dapatkan dari jumlah/nilai dikali jumlah produksi
bahan baku.
Total inflow yang di dapatkan pada tahun ke-0 yaitu 143,333,813, dan untuk
tahun ke-1 sampai tahun ke-4 sebesar Rp. 1,008,000,000 sedangkan pada tahun ke-5
ditambahkan dengan nilai sisa yaitu Rp. 1,008,930,000
Total Inflow untuk IRR pada tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-4yaitu Rp.
1,008,000,000 sedangkan untuk tahun ke-5 yaitu Rp. 1.008.930.000 karena ditambah
dengan nilai sisa.
2. Cash out flow

Cash out flow adalah arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi
yang mengakibatkan beban pengeluaran kas. Outflow perusahan abon ikan
berasal dari Investasi/re-investasi, Modal Kerja, Biaya Operasional, Angsuran
Pokok, Bunga Kredit Perbankan dan Pajak.
Outflow untuk IRR didaptkan dari perhitungan total outflow dikurangi
jumlah Investasi/re-investasi, Modal Kerja, Biaya Operasional, Angsuran Pokok,
Bunga Kredit Perbankan dan Pajak. Pada total outflow nilai yang diperoleh setiap
tahunnya menurun dikarenakan pada tahun ke-3 sampai tahun ke-5 perusahaan
sudah tidak mengeluarkan biaya untuk angsuran dan bunga kredit perbankan.
Beberapa komponen outflow adalah sebagai berikut:
a.

Investasi/re-investasi
Biaya investasi yang terdapat pada lampiran 2 telah di hitung. Pada tahun

ke-0 biaya investasi sebesar Rp. 26.100.000, pada tahun ke-1 Rp. 150.000, pada

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

31

tahun ke-2 Rp. 715.000, pada tahun ke-3 Rp. 865.000, pada tahun ke-4 Rp.
715.000, pada tahun ke-5 Rp. 150.000
b. Modal kerja
Jumlah modal kerja yang harus dikeluarkan pada tahun ke-0 yaitu Rp.
117.233.813, perhitungan terdapat pada lampiran 4.
c. Biaya operasional
Biaya operasionalnya selama 5 tahun tetap karena dilihat dari jumlah
produksi yang tetap tidak mengalami penurunan serta penaikan sehingga tiap
tahun, biaya operasionalnya sama sebesar Rp. 937.870.500
d. Angsuran pokok
Angsuran pokok yang harus dikeluarkan yaitu pada tahun ke-1 dan ke-2
sebesar Rp. 35.000.000 karena pada tahun ke-2 sudah menutupi angsuran.
e. Bunga kredit perbankan
Sedangkan untuk kredit perbankan yaitu pada tahun ke-1 sebesar Rp.
8.093.750 dan untuk tahun ke-2 sebesar Rp. 2.843.750
f. Pajak
Perusahaan harus membayar pajak pendapatan pada tahun ke-1 sebesar
Rp. 5.911.575 dan mulai dari tahun ke-2 sebesar Rp. 6.43.575 dan pada tahun ke3 sampai dengan tahun ke-5 membayar sejumlah Rp. 6.720.950.
Total outflow yaitu pada tahun ke-0 sebesar Rp. 143.333.813, tahun ke-1 yaitu
Rp. 987.025825, tahun ke-2 Rp. 982,865,825, tahun ke-3 945.456.450, tahun ke-4 Rp.
945.306.450 dan tahun ke-5 Rp. 944.741.450.
Total outflow untuk IRR yaitu tahun ke-0 Rp. 143.333.813, tahun ke-1 Rp.
943.932.075, tahun ke-2 Rp. 945.022.075, tahun ke-3 Rp. 945. 456.450, tahun ke-4
Rp. 945.306.450 dan tahun ke-5 Rp. 944.741.450
Cash flow
Sehingga Cashflow didapatkan dari perhitungan total inflow dikurangi dengan
total outflow perusahaan. Nilai kumulatif Cashflow pada tahun pertama adalah hasil
penjumlahan nilai cash flow tahun ke-0 dengan tahun ke-1, dan pada tahun kedua
jumlah nilai Cashflow tahun ke-0, ke-1 dan ke-2 begitupun seterusnya.
Sedangkan Cashflow untuk IRR didapatkan dari perhitungan nilai inflow
untuk IRR dikurangi nilai outflow untuk IRR.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

32

Perhitungan cash flow ialah total inflow dikurangi total out flow. Jadi pada
tahun ke-1 cash flownya yaitu Rp. 20.974.175, tahun ke-2 Rp. 25.134.175, tahun ke-3
Rp. 62.543.550, tahun ke-4 Rp. 62.693.550, tahun ke-5 Rp. 64.188.550
Kumulatif cash flow dimulai pada tahun ke-1 Rp. 20.974.175, tahun ke-2 Rp.
46.108.350, tahun ke-3 Rp. 108.651.900, tahun ke-4 Rp. 171.345.450 dan tahun ke-5
Rp. 235.534.000
Kumulatif cash flow (-nilai sisa) dimulai pada tahun ke-1 Rp. 20.974.175,
tahun ke-2 Rp. 45.108.350, tahun ke-3 Rp. 108.651.900, tahun ke-4 Rp. 171.345.450
dan tahun ke-5 Rp. 234.604.000
Cashflow untuk IRR tahun ke-0 Rp. -143.333.813, tahun ke-1Rp. 64.067.925,
tahun ke-2 Rp. 62.977.925, tahun ke-3 Rp. 62.543.550, tahun ke-4 Rp. 62.693.550 dan
tahun ke-5 Rp. 64.188.550
PV Benefit pada tahun ke-1 Rp. 876.521.739, tahun ke-2 Rp. 762.192.817,
tahun ke-3 Rp. 662.776.362, tahun ke-4 Rp. 576.327.272, tahun ke-5 Rp. 501.616.524.
PV Cost pada tahun ke-0 Rp. 143.333.813, tahun ke-1 Rp. 820.810.500, tahun
ke-2 Rp. 714.572.547, tahun ke-3 Rp. 621.652.963, tahun ke-4 Rp. 540.482.031, dan
tahun ke-5 Rp. 469.703.470.
PV cash flow pada tahun ke-0 Rp. -143.333.813, tahun ke-1 Rp. 55.711.239,
tahun ke-2 Rp. 47.620.359, tahun ke-3 Rp. 41.123.399, tahun ke-4 Rp. 35.845.241 dan
tahun ke-5 Rp. 31.913.054
Kumulatif cash flow yaitu perhitungan PV Cash flow ditambah dengan jumlah
kumulatif awal, tahun ke-0 Rp. -143.333.813, tahun ke-1 Rp. -87.622.574, tahun ke-2
Rp. -40.002.215, tahun ke-3 Rp. 1.121.185, tahun ke-4 Rp. 36.966.425 dan tahun ke-5
Rp. 68.879.479
Tabel 3.4. Analisis Kelayakan Usaha Abon Ikan
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

33.94%
2.95
15%
3,379,434,713
3,310,555,234
1.021
68,879,479
212,213,292
-143,333,813
1.48

33

Analisis kalayakan usaha abon ikan ini dari perhitungan IRR, PBP, NVP serta
Neto B/C Ratio.
IRR merupakan nilai diskount rate yang menghasilkan nilai NPV = 0 dimana
nilai IRR pada perusahaan abon ikan adalah 33,94% .
Dari hasil perhitungan IRR 33, 94% lebih besar dari DF (Dicount Factor) sebesar
15%, maka proyek perusahaan abon ikan layak untuk dijalankan.
PBP (Payback Periode) merupakan jangka waktu tertentu yang menunjukan
terjadinya arus penerimaan yang secara kumulatif sama dengan jumlah investasi
dalam bentuk Present Value. Dimana pada perusahaan abon ikan diperoleh PBP
2,95 yang artinya perusahaan abon ikan mampu mengembalikan investasi dalam
jangka waktu 2,95 tahun.
PV Benefit sejumlah 3.379.434.713 dan PV Cost 3.310.555.234 sehingga dapat
disimpulkan bahwa keuntungan yang didapat perusahaan abon ikan adalah Rp.
68.879.480. PV benevit dan PV Cost didapat dari PV tahun ke-0 dibagi PV tahun
ke-5.
B/C Ratio merupakan perbandingan antara jumlah benefit yang diperoleh dengan
cost yang dikeluarkan. Hasil perhitungan B/C Ratio perusahaan abon ikan yaitu
1,021. B/C Ratio didapat dari PV benevit dibagi PV cost. Dengan hasil yang
demikian dapat diartikan usaha abon ikan layak untuk dijalankan karena B/C
Ratio > 1
Net Present Value merupakan net benefit yang telah didiskon dengan
menggunakan Diskon Faktor. NPV perusahaan abon ikan yaitu Rp. 68.879.480,Net B/C Ratio Chasflow (+) merupakan penjumlahan seluruh PV Cashflow
bernilai (+) sedangkan Cashflow (-) merupakan penjumlahan seluruh PV
Cashflow bernilai (+). Chasflow (+) didapat dari hasil pembagian PV Chasflow
ahun ke-1 dibagi tahun ke-5. Sedangkan Chasflow (-) diambil dari PV Chasflow
tahun ke-0.
10.Lampiran 10 (Proyeksi Arus Kas Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 2 %)
Tabel 3.6 . Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 2%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio

17.35%
2.95
15%
3,311,855,266
3,303,797,289
1.002

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

34

NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

8,057,977
151,391,790
-143,333,813
1.06

Dalam menganalisis kelayakan usaha perlu adanya analisis sensitiviitas yang


dilakukan untuk mengetahui kondisi perusahaan pada saat terjadinya penurunan
pendapatan atau kenikan biaya operasional yang akan menyebabkan berubahnya arus
kas perusahaan. Pada lampiran 10 dilakukan analisis sensitivitas apabila terjadi
penurunan pendapatan 2%, dari penurunan ini mengakibatkan penurunan IRR yang
cukup signifikan. Pada kondisi normal IRR mencapai 33,94% sedangkan pada saat
penurunan pendapatan sebesar 2%, IRR yang dicapai hanya sebesar 17, 35%.
Pendapatan merupakan sumber sangat penting untuk keberlangsungan usaha yang
merupakan hasil dari pemasukan yang penjualan produk.
Penurunan pendapatan terjadi akibat tidak terjualnya seluruh produk yang
diproduksi. Jika penurunan pendapatan pertahun mencapai 2% yaitu produk yang
tidak terjual senilai Rp.20.160.000 maka perusahaan masih bisa mendapatkan
keuntungan karena nilai IRR masih diatas nilai discount factor, namun selisihnya
sangat kecil yaitu hanya 2,35% diatas nilai DF. Penurunan pendapatan berdampak
besar terhadap nilai B/C ratio, NPV, dan Net B/C ratio yang hanya bernilai sangat
sedikit lebih tinggi dari titik impas. Sangat nampak perbedaannya dilihat dari seberapa
lama dana modall kerja dapat ditutupi oleh laba bersih yang didapatkan (Pay Back
Periode) yang berseisih cukup jauh. Pada kondisi pendapatan normal PBP sebesar
2.02 sedangkan pada penurunan pendapatan 2%, PBP sebesar 2,95.
11. Lampiran 11
Tabel 3.7. Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 3%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)

8.19%
3.82
15%
3,278,065,543
3,300,418,317
0.99
-22,352,774
120,981,039

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

35

Cash Flow (-)


Net B/C Ratio

-143,333,813
0.84

Sedangkan pada lampiran 11 dilakukan analisis sensitivitas apabila terjadi


penurunan pendapatan 3%, dari penurunan ini mengakibatkan penurunan IRR yang
sangat signifikan. Pada kondisi normal IRR mencapai 33,94% sedangkan pada saat
penurunan pendapatan sebesar 3%, IRR yang dicapai hanya sebesar 8,19%. Jika
penurunan pendapatan pertahun mencapai 3% yaitu produk yang tidak terjual senilai
Rp.30.240.000 maka perusahaan dalam kondisi merugi karena nilai IRR di bawah
nilai discount factor, dan selisihnya yang cukup jauh jauh yaitu sebesar 6,81% di
bawah nilai DF. Penurunan pendapatan berdampak besar terhadap nilai B/C ratio,
NPV, dan Net B/C ratio yang hanya bernilai lebih kecil dari titik impas. Pada kondisi
pendapatan normal PBP sebesar 2.02 sedangkan pada penurunan pendapatan 3%, PBP
sebesar 3,82%.
12.Lampiran 12
Tabel 3.8. Analisis Kelayakan Usaha Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 2%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

18.57%
2.86
15%
3,379,434,713
3,367,145,207
1.00
12,289,506
155,623,319
-143,333,813
1.09

Pada lampiran 12 terjadi peningkatan biaya operasional sebesar 2%, dari


kenaikan biaya operasional ini mengakibatkan penurunan IRR yang cukup signifikan.
Pada kondisi normal IRR mencapai 33,94% sedangkan pada saat mengalami kenaikan
biaya operasional, IRR yang dicapai hanya sebesar 10, 17%. Biaya operasioanal
merupakan sumber pengeluaran yang sangat penting untuk keberlangsungan usaha
yang dapat menentukan harga jual dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Kenaikan biaya operasional ini terjadi akibat kenaikan dari biaya variabel baik
dari biaya bahan baku, upah tenaga kerja biaya bahan pembantu, biaya transportasi

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

36

hingga pajak. Jika kenaikan biaya operasional mencapai 3% biaya variabel yang naik
mencapai Rp. 11.210.790 maka perusahaan masih bisa mendapatkan keuntungan
karena nilai IRR masih diatas nilai discount factor, namun selisihnya sangat kecil
yaitu hanya 3,57% diatas nilai DF. Penurunan pendapatan kenaikan biaya operasional
berdampak besar terhadap nilai B/C ratio, NPV, dan Net B/C ratio yang hanya bernilai
sangat sedikit lebih tinggi dari titik impas. Sangat nampak perbedaannya dilihat dari
seberapa lama dana modal kerja dapat ditutupi oleh laba bersih yang didapatkan (Pay
Back Periode) yang berseisih cukup jauh. Pada kondisi pendapatan normal PBP
sebesar 2.02 sedangkan pada keanikan biaya operasional sebesar 2%, PBP sebesar
2,89%.
Kondisi diatas dapat terjadi kapan saja, dikarenakan faktor eksternal seperti
kenaikan harga baku yang menyebabkan kenaikan biaya operasional maupun faktor
internal seperti kurangnya tenaga marketing yang menyebabkan penurunan
pendapatan. Solusi yang dapat dilakukan saat kondisi penurunan pendapatan terjadi
adalah dengan cara perluasan pemasaran dengan menekann biaya transportasi yaitu
menggunakan sistem online. Selain itu, tenaga operasional dengan sistem online dapat
dilakukan oleh tenaga administrasi atau pemimpin perusahaan. Namun dengan sistem
pemasaran secara online akan menambah pekerjaan administrasi. Sebaiknya
perusahaan menambah tenaga kerja yang khusus untuk marketing sehingga
pendapatan perusahaan dapat terorganisir dengan cermat karena penjualan produk
dapat dipantau langsung oleh tenaga marketing. Penambahan jumlah tenaga kerja
tentunya akan meningkatkan biaya operasional perusahaan, untuk mengatasinya
adalah dengan cara meingkatkan volume produksi perhari agar produk yang dihasilkan
lebih banyak dengan biaya operasional yang dapat ditekan sampai seminimal
mungkin. Sehingga tenaga marketing dapat memasarkan produk ke jangkauan yang
lebih luas dan perusahaan dapat meraih pendapatan yang lebih besar untuk
mengimbangi biaya operasional.
13.Lampiran 13
Tabel 3.9. Analisis Kelayakan Usaha Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 3%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost

10.17%
2.90
15%
3,379,434,713
3,395,440,193

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

37

B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

1.00
-16,005,480
127,328,333
-143,333,813
0.89

Dalam menganalisa suatu kelayakan usaha, perlu juga dilakukan analisa


sensitifitas. Fungsinya adalah untuk mengetahui pengeluaran dan pendapatan suatu
perusahaaan serta untung rugi. Pada lampiran 13 dilakukan analisa sensifitas apabila
terjadi peningkatan biaya oprasional sebesar 3%, dari peningkatan ini berdampak pada
penurunan IRR. Pada kondisi normal IRR mencapai 33,94% sedangkan pada saat
peningkatan biaya oprasional sebesar 3%, jumlah IRR menurun menjadi 10,17%. Hal
tersebut di kemungkinkan karena tidak dinaikkannya harga jual produk sehingga
dengan hal tersebut pendapatan akan menurun sementara dan terjadi pembengkakan
pada biaya pengeluaran. Penurunan pendapatan berdampak besar terhadap nilai B/C
ratio, NPV, dan Net B/C ratio lebih rendah dari titik impas dan nilai discon faktor 15%
lebih tinggi dari nilai IRR 10%. Begitu juga terjadi perbedaannya dilihat dari seberapa
lama dana modal kerja dapat ditutupi oleh laba bersih yang didapatkan (Pay Back
Periode) yang berseisih cukup jauh. Pada kondisi pendapatan normal PBP sebesar
2.02 sedangkan pada peningkatan biaya produksi 3%, PBP sebesar 2,90. Kondisi
diatas jelas

sangat tidak layak karena berdampak meruginya perusahaan. Untuk

solusinya pada peningkatan biaya produksi haruslah dibarengi dengan analasisa


kembali harga jual produk serta meningkatkan kembali kenerja para karyawan agar
pendapatan bisa ditingkatkan, sehingga perusahaan bisa untung.

14.Lampiran 14
abel 3.10. Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1% dan
Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 1%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio

17.96%
3.70
15%
3,345,644,990
3,335,471,248
1.00

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

38

NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

10,173,742
153,507,555
-143,333,813
1.07

Pada lampiran 14 dilakukan analisa sensifitas apabila terjadi penurunan


pendapatan sebesar 1% dan peningkatan biaya sebesar 1%, dari kejadian tersebut
berdampak pada penurunan nilai IRR. Pada kondisi normal IRR mencapai 33,94%
sedangkan pada saat penurunan pendapatan sebesar 1% dan peningkatan biaya
oprasional 1% nilai IRR sebesar 17,96%. Akan tetapi perusahaan belum mengalami
kerugian karena nilai IRR 17,96% masih lebih besar dari nilai DF 15%, terlihat juga
nilai Net B/C ratio (1,07) lebih tinggi dari titik impas (1,00). Akan tetapi berdampak
pada lamanya dana modal kerja dapat ditutupi oleh laba bersih yang didapatkan (Pay
Back Periode) yang berseisih cukup jauh. Pada kondisi pendapatan normal PBP
sebesar 2.02 sedangkan pada penurunan pendapatan 1% dan peningkatan biaya
oprasional 1% PBP sebesar 2,95. Solusinya yakni untuk masalah tersebut yakni
dengan cara menyusun kembali harga jual produk serta meningkatkan kapasitas
produksi dengan mengoptimalkan sumberdaya yang ada ,seperti memberlakukan jam
lembur bagi karyawan. Dengan hal tersebut diharapkan agar lebih banyak produk yang
dihasilkan dalam kurun waktu yang singkat serta penjualan produk lebih cepat,
sehingga jangka PBB lebih pendek jika dibandingkan dalam kondisi normal.

15.Lampiran 15
Tabel 3.11. Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1,5% dan
Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 1,5%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)

9.19%
3.70
15%
3,328,750,128
3,347,929,255
0.99
-19,179,127
124,154,686

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

39

Cash Flow (-)


Net B/C Ratio

-143,333,813
0.87

Pada lampiran 15 dilakukan analisa sensivitas apabila terjadi penurunan


pendapatan sebesar 1,5% dan peningkatan biaya oprasional sebesar 1,5%.
Setelah dilakukan analisa, ternyata kondisi diatas mengakibatkan penurunan
nilai dari IRR. Pada kondisi normal IRR mencapai 33,94% sedangkan pada
saat penurunan pendapatan sebesar 1,5% dan peningkatan biaya oprasional
1,5% nilai IRR sebesar 9,19%. Sedangkan nilai DF 15% lebih tinggi dari IRR
9,19% hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan merugi pada kondisi
tersebut. Terlihat jelas tingkat kerugian yang dialami perusahaan pada kondisi
di atas dengan nilai Net B/C ratio 0,87 lebih rendah dari nilai titik impas 0,99.
Kondisi tersebut juga berdampak pada lamanya dana modal

kerja dapat

ditutupi oleh laba bersih yang didapatkan (Pay Back Periode) yang berseisih
cukup jauh. Pada kondisi pendapatan normal PBP sebesar 2.02 sedangkan pada
penurunan pendapatan 1,5% dan peningkatan biaya oprasional 1,5% PBP
sebesar 3,70. Adapun solusi untuk masalah tersebut ialah apabila perusahaan
mengalami penurunan pendapatan sebaiknya perusahaan melakukan evaluasi
kinerja mulai dari hulu hingga hilir pada manajemen perusahaan, apabila
terjadi penyimpangan maka perusahaan harus segera melakukan perbaikan
kinerja agar perusahaan tidak terus menerus merugi. Apabila perusahaan
menginginkan perusahaan untung dengan mengambil kebijakan menaikkan
biaya oprasional hal yang harus di perhatikan ialah apabila ada peningkatan
biaya oprasional secara otomatis harga jual produk harus di naikkan. Apabila
meningkatakan biaya oprasional akan tetapi tidak menaikkan harga jual produk
secara otomatis merusahaan akan merugi.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

40

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.

Usaha pengolahan abon ikan sangat berpotensi untuk dikembangkan di banyak


wilayah di Indonesia yang memiliki sumberdaya perikanan laut yang melimpah.

2.

Proses pembuatan abon ikan relatif mudah dan peralatan yang dibutuhkan pun
relatif sederhana sehingga untuk memulai usaha ini tidak memerlukan biaya
investasi yang besar.

3.

Salah satu spesies ikan yang sangat cocok dijadikan sebagai bahan baku produksi
abon ikan adalah Ikan Marlin/Jangilus (Istiophorus sp), karena selain dagingnya
tebal juga tidak banyak durinya.

4.

Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat padat
tenaga kerja. Oleh sebab itu, jenis teknologi yang cocok digunakan adalah
teknologi semi-mekanik, sehingga memudahkan para pekerja dan serta lebih efektif
dan efisien.

5.

Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahan baku
ikan. Oleh sebab itu, lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat
dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehingga akan mempermudah
proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan.

6.

Abon ikan merupakan produk yang prospektif untuk dikembangkan. Hal ini
karena relatif masih terbatasnya produksi abon ikan di Indonesia sehingga peluang
pasar abon ikan ini masih sangat besar, baik di dalam maupun di luar negeri
(ekspor).

B. Saran
1.

Pada aspek produksi, perlu peningkatan kesadaran pengusaha dan para tenaga
kerja terhadap aspek sanitasi (kebersihan) proses produksi dan produk abon ikan
yang dihasilkan.

2.

Perusahaan perlu melakukan variasi rasa abon ikan yang dihasilkan (dari rasa
manis yang selama ini diproduksi), misalnya dengan pengembangan abon ikan
dengan rasa manis-pedas. Di samping rasa, perusahaan pun perlu melakukan
standarisasi tekstur (tingkat kehalusan) produk abon ikan dengan merujuk pada
keragaman selera kelompok konsumennya.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

41

3. Perusahaan perlu melakukan optimalisasi pemanfaatan produk sampingan dari


proses pengolahan abon ikan, dalam rangka diversifikasi produk olahan ikan dan
lebih meningkatkan keuntungan perusahaan.

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

42

DAFTAR PUSTAKA

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

43

LAMPIRAN
Lampiran 1. Asumsi dan Parameter Usaha Abon Ikan
No.
1
2
3
4

6
7
8
9

Asumsi
Periode proyek
Jumlah hari kerja per bulan
Jumlah bulan per tahun
Rata-rata skala produksi per hari
a. Rendemen Pengolahan ikan ke abon ikan
b. Produksi abon per hari
c. Bahan baku ikan per hari
Komposisi pemasaran produk
a. Dijual di pabrik
b. Dijual ke pengecer lokal
c. Dijual kepada pedagang besar
Komposisi jenis produk menurut kemasan
a. Kemasan 100 gram
b. Kemasan 250 gram
Harga jual produk di tingkat produsen
Harga bahan baku ikan marlin
Discount factor ( suku bunga )

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

Jumlah/Nilai

Satuan

Keterangan

5
20
12

Tahun
Hari
Bulan

Periode 5 Tahun

40
60
150

%
Kg
Kg

10
10
80

%
%
%

60
40
70,000
18,000
15

%
%
Rp/Kg
Rp/Kg
%

44

Dari Total Produksi

Tk Suku Bunga Kredit

Lampiran 2. Biaya Investasi Usaha Abon Ikan


No.

Jenis Biaya

Perizinan
SIUP
SITU
P-IRT dari Dinkes
NPWP
Badan Hukum KUB
Sertifikat Halal
Sub Jumlah

1
1
1
1
1
1

Berkas
Berkas
Berkas
Berkas
Berkas
Berkas

Sewa Tanah Dan


Bangunan

unit

2
1
2
1
1
1
1
3
7
4

unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit

2
3

Mesin/Peralatan Produksi
Mesin pengepres (3 kg)
Mesin parutan kelapa
Mesin giling
Garpu besar**)
Lumpang ukuran 1 kg
Lumpang ukuran 2 kg
Lumpang ukuran 3 kg
Batu penumbuk
Blong
Tungku

Jumlah Satuan Harga/Satuan

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

300,000
300,000
300,000
250,000
300,000
1,000,000

Nilai
300,000
300,000
300,000
250,000
300,000
1,000,000
2,450,000

10,000,000 10,000,000

1,000,000
2,500,000
2,500,000
50,000
50,000
100,000
150,000
10,000
35,000
30,000

2,000,000
2,500,000
5,000,000
50,000
50,000
100,000
150,000
30,000
245,000
120,000
45

Umur
Ekonomis

Penyusutan/Tahun

Nilai
Sisa

Selamanya*)
5
Selamanya
Selamanya
Selamanya
3

5
5
5
5
10
10
10
10
10
10

400,000
500,000
1,000,000
10,000
5,000
10,000
15,000
3,000
24,500
12,000

25,000
50,000
75,000
15,000
122,500
60,000

Wajan penggoreng
Sealer
Baskom plastik besar
Baskom plastik kecil
Saringan kelapa
Badeng
Sodet besar
Sub Jumlah
4

Peralatan Lain
Timbangan duduk 5 kg
Timbangan gantung 25 kg
Etalase
Sub Jumlah

6
3
4
3
1
5
5

1
1
1

unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit

unit
unit
unit

Jumlah

140,000
300,000
60,000
40,000
5,000
40,000
30,000

150,000
300,000
500,000

840,000
900,000
240,000
120,000
5,000
200,000
150,000
12,700,000

5
5
2
2
2
2
1

150,000
300,000
500,000
950,000

3
5
10

26,100,000

*) Setiap habis 5 tahun harus lapor kembali


**) Digunakan untuk mengeluarkan daging ikan atau abon setelah pengepresan dari tabung mesin pengepres

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

46

168,000
180,000
120,000
60,000
2,500
100,000
150,000
2,760,000

120,000
60,000
2,500
100,000
630,000

50,000
60,000
50,000
160,000

50,000
250,000
300,000

2,920,000

930,000

Lampiran 3. Biaya Operasional Usaha Abon Ikan


Jumlah/
Hari

Jumlah/
Bulan

Harga Satuan

kg/ hari
Per hari

150

3,000

00

Gula Pasir

kg

30

Minyak Goreng

kg

30

No.

Jenis Biaya

Biaya Variabel

1
2

Bahan Baku Ikan Marlin/Jangilus


Bahan pembantu/bumbu/hari

Satuan

Biaya/ Bulan

18,0

Lengkuas

kg

7.5

Ketumbar

kg

3.75

Bawang Putih

kg

2.25

Bawang Merah

kg

7.5

MSG

kg

0.24

Garam Dapur

kg

10.5

Garam Rebus

kg

30

Butir

30

Batang

30

Helai

75

Kelapa
Serei
Daun Salam

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

600
600
150
75
45
150
5
210
600
600
600
1,500
47

54,000,000
8,7

00
7,0
00
2,0
00
18,0
00
8,0
00
7,0
00
10,0
00
1,5
00
1,5
00
1,0
00
50
25

5,220,00
0
4,200,00
0
300,0
00
1,350,00
0
360,0
00
1,050,00
0
48,0
00
315,0
00
900,0
00
600,0
00
30,0
00
37,5
00

Biaya/ Tahun
648,000,00
0
62,640,00
0
50,400,00
0
3,600,00
0
16,200,00
0
4,320,00
0
12,600,00
0
576,0
00
3,780,00
0
10,800,00
0
7,200,00
0
360,0
00
450,0
00

Sub Total
3

172,926,00
0

90,0

1,080,00
0
1,200,00
0
420,0
00
6,000,00
0
17,280,00
0
6,912,00
0
32,892,00
0

Bahan Pendukung
20

Bensin

Liter

Sabun

Batang

Minyak Tanah

Liter
Kali
Produksi

0.5

Kantong Plastik Kemasan (100 g)

kantong/harii

360

Kantong Plastik Kemasan (250 g)

kantong/hari

96

orang/hari

120

orang/hari

140

Kayu Bakar

20
10
20
7,200
1,920

4,5
00

00
5,0

00

100,0
00

3,5
00

35,0
00

25,0
00
2
00
3
00

Sub Total
4

14,410,50
0

500,0
00
1,440,00
0
576,0
00
2,741,00
0

Tenaga Kerja Produksi


a. Upah
b. Biaya Makan Tenaga Kerja

25,0
00
5,0
00

3,000,00
0
700,0
00

Sub Total
5

Biaya Transportasi

20

Total Biaya Variabel


B
1

Biaya Tetap
Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

48

25,0
00

500,0
00
75,351,50
0

36,000,00
0
8,400,00
0
44,400,00
0
6,000,00
0
904,218,00
0

Gaji Pimpinan
Gaji Tenaga Administrasi

orang/bulan

orang/bulan

Per Bulan

Biaya Listrik

Per Bulan

Biaya Telepon
Biaya Peralatan Habis Pakai *)
Biaya Perawatan dan Pemeliharaan **)

1,500,00
0
700,0
00

1,500,00
0
700,0
00
150,0
00
250,0
00

Per Tahun
Per Tahun

Sub Total
2

Biaya Administrasi dan Umum

30,0

Per Bulan

00

Total Biaya Tetap


Total Biaya Operasional
*) Peralatan yang memiliki umur ekonomis kurang dari 1 tahun (1/2 tahun)
**) Sebesar 5 % dari total biaya investasi mesin dan peralatan per tahun

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

49

18,000,00
0
8,400,00
0
1,800,00
0
3,000,00
0
1,410,00
0
682,500
33,292,50
0
360,0
00
33,652,50
0
937,870,50
0

Formula Bahan Pembantu untuk 10 kg Bahan Baku Ikan


Jenis Bahan Pembantu

Jumlah

Satuan

Gula Pasir

kg

Minyak Goreng

kg

Lengkuas

0.5

kg

Ketumbar

250

Gram

Bawang Putih

150

Gram

Bawang Merah

0.5

kg

MSG

16

Gram

Garam Dapur

700

Gram

Garam Rebus

Kg

Kelapa

Butir

Serei

Batang

Daun Salam

Helai

No.
1
2
3

Biaya Penggantian Peralatan Habis Pakai


Jenis Peralatan Habis Pakai
Jumlah Satuan
Harga/satuan
(Rp/satuan)
Baskom Ukuran Kecil
Baskom Ukuran Sedang
Baskom Ukuran Besar

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

10
3
4

unit
unit
unit

15,000
40,000
65,000
50

Nilai (Rp)
150,000
120,000
260,000

4
5
6

Nyiru
Ayakan
Pisau
Biaya Total per Semester
Biaya Total per Tahun

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

10
5
5

unit
unit
unit

10,000
10,000
5,000

51

100,000
50,000
25,000
705,000
1,410,000

Rekap Jumlah Biaya Operasional Per Tahun


No.
Jenis Biaya
Nilai (Rp)
A

Biaya Variabel
Bahan Baku
Bahan Pembantu
Bahan Pendukung
Tenaga Kerja Produksi
Biaya Transportasi
Sub Total

Biaya Tetap
Biaya Overhead Pabrik (POB)
Biaya Administrasi dan Umum

Sub Total
Jumlah Biaya Operasional per Tahun

648,000,000
172,926,000
32,892,000
44,400,000
6,000,000
904,218,000
33,292,500
360,00
0
33,652,500
937,870,500

Lampiran 4. Kebutuhan Dana Untuk Investasi dan Modal Kerja


No

Rincian Biaya Proyek

Dana Investasi yang bersumber dari

Total Biaya

a. Kredit

10,000,000

b. Dana Sendiri

16,100,000

Jumlah Dana Investasi


Dana Modal Kerja yang bersumber
dari

26,100,000

a. Kredit

60,000,000

b. Dana Sendiri

57,233,813

Jumlah Dana Modal Kerja


Total Dana Proyek yang bersumber
dari

117,233,813

a. Kredit

70,000,000

b. Dana Sendiri

73,333,813

Jumlah Dana Proyek


143,333,813
Lampiran 5. Perhitungan Angsuran Kredit
A. Pembayaran Angsuran Kredit Investasi
Nilai Kredit Investasi (Rp)
Jangka waktu kredit (bulan)
Bunga per bulan (%)

10,000,000
24
1.25%

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

52

Angsuran per bulan

menurun

Thn 1
Bulan
Thn 1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jml

Angsuran
pokok

Angsuran
bunga

Total
Angsuran

416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
5,000,000

125,000
119,792
114,583
109,375
104,167
98,958
93,750
88,542
83,333
78,125
72,917
67,708
1,156,250

541,667
536,458
531,250
526,042
520,833
515,625
510,417
505,208
500,000
494,792
489,583
484,375
6,156,250

Thn 2
Bulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jml

Angsuran
pokok
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
416,667
5,000,000

Angsuran
bunga
62,500
57,292
52,083
46,875
41,667
36,458
31,250
26,042
20,833
15,625
10,417
5,208
406,250

Total
Angsuran
479,167
473,958
468,750
463,542
458,333
453,125
447,917
442,708
437,500
432,292
427,083
421,875
5,406,250

Saldo Awal
10,000,000
9,583,333
9,166,667
8,750,000
8,333,333
7,916,667
7,500,000
7,083,333
6,666,667
6,250,000
5,833,333
5,416,667

Saldo Awal

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

5,000,000
4,583,333
4,166,667
3,750,000
3,333,333
2,916,667
2,500,000
2,083,333
1,666,667
1,250,000
833,333
416,667

Saldo
Akhir
9,583,333
9,166,667
8,750,000
8,333,333
7,916,667
7,500,000
7,083,333
6,666,667
6,250,000
5,833,333
5,416,667
5,000,000

Saldo
Akhir
4,583,333
4,166,667
3,750,000
3,333,333
2,916,667
2,500,000
2,083,333
1,666,667
1,250,000
833,333
416,667
0

53

Perhitungan Angsuran Kredit (Lanjutan)


B. Pembayaran Angsuran Kredit Modal Kerja
Nilai kredit modal kerja (Rp)
Jangka waktu kredit (bulan)
Bunga per bulan (%)
Angsuran per bulan
Tahun 1
Angsuran Angsuran
Total
Bulan
Pokok
Bunga
Angsuran

60,000,000
24
1.25%
menurun
Saldo
Awal

Saldo
Akhir

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jml

2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
30,000,000

750,000
718,750
687,500
656,250
625,000
593,750
562,500
531,250
500,000
468,750
437,500
406,250
6,937,500

3,250,000
3,218,750
3,187,500
3,156,250
3,125,000
3,093,750
3,062,500
3,031,250
3,000,000
2,968,750
2,937,500
2,906,250
36,937,500

60,000,000
57,500,000
55,000,000
52,500,000
50,000,000
47,500,000
45,000,000
42,500,000
40,000,000
37,500,000
35,000,000
32,500,000

57,500,000
55,000,000
52,500,000
50,000,000
47,500,000
45,000,000
42,500,000
40,000,000
37,500,000
35,000,000
32,500,000
30,000,000

Thn 2
Bulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jml

Angsuran
Pokok
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
2,500,000
30,000,000

Angsuran
Bunga
375,000
343,750
312,500
281,250
250,000
218,750
187,500
156,250
125,000
93,750
62,500
31,250
2,437,500

Total
Angsuran
2,875,000
2,843,750
2,812,500
2,781,250
2,750,000
2,718,750
2,687,500
2,656,250
2,625,000
2,593,750
2,562,500
2,531,250
32,437,500

Saldo
Awal
30,000,000
27,500,000
25,000,000
22,500,000
20,000,000
17,500,000
15,000,000
12,500,000
10,000,000
7,500,000
5,000,000
2,500,000

Saldo
Akhir
27,500,000
25,000,000
22,500,000
20,000,000
17,500,000
15,000,000
12,500,000
10,000,000
7,500,000
5,000,000
2,500,000
0

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

54

C. Jumlah Pembayaran Angsuran Kredit (Investasi dan Modal Kerja)


Tahun
Angsuran Angsuran
Total
Saldo
Kredit
KePokok
Bunga
Angsuran
Awal
0
1
2

70,000,000
35,000,000 8,093,750
35,000,000 2,843,750

43,093,750
37,843,750

Lampiran 6. Produksi dan Penjualan Abon Ikan


Saldo
Akhir

70,000,000 70,000,000
70,000,000 35,000,000
35,000,000
0

No

Uraian

Nilai

Satuan

1
2
3

Produksi per hari


Produksi per bulan
Produksi per tahun
Harga jual di tingkat
produsen
Nilai penjualan per
tahun (Pendapatan)

60
1,200
14,400

kg/hari
kg/bulan
kg/tahun

70,000

Rp/kg

1,008,000,000

Rp/tahun

4
5

No

Uraian

1
2
3

Pendapatan
Biaya operasional
Laba kotor
Bunga kredit
Laba sebelum pajak
Biaya penyusutan
Laba kena pajak
Pajak
Laba bersih
Profit margin (%)

4
5
6
7

Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan


Tahun ke1
2
3
4
1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000
937,870,500
937,870,500
937,870,500
937,870,500
70,129,500
70,129,500
70,129,500
70,129,500
8,093,750
2,843,750
62,035,750
67,285,750
70,129,500
70,129,500
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
59,115,750
64,365,750
67,209,500
67,209,500
5,911,575
6,436,575
6,720,950
6,720,950
53,204,175
57,929,175
60,488,550
60,488,550
5.28
5.75
6.00
6.00

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

55

5
1,008,000,000
937,870,500
70,129,500
70,129,500
2,920,000
67,209,500
6,720,950
60,488,550
6.00

Rata-rata
1,008,000,000
937,870,500
70,129,500
67,942,000
2,920,000
65,022,000
6,502,200
58,519,800
5.81

Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 2 %
No

Uraian

Tahun ke1

Rata-rata

Pendapatan

987,840,000

987,840,000

987,840,000

987,840,000

987,840,000

987,840,000

Biaya operasional

937,870,500

937,870,500

937,870,500

937,870,500

937,870,500

937,870,500

Laba kotor

49,969,500

49,969,500

49,969,500

49,969,500

49,969,500

49,969,500

8,093,750

2,843,750

41,875,750

47,125,750

49,969,500

49,969,500

49,969,500

47,782,000

Biaya penyusutan

2,920,000

2,920,000

2,920,000

2,920,000

2,920,000

2,920,000

Laba kena pajak

38,955,750

44,205,750

47,049,500

47,049,500

47,049,500

44,862,000

3,895,575

4,420,575

4,704,950

4,704,950

4,704,950

4,486,200

35,060,175

39,785,175

42,344,550

42,344,550

42,344,550

40,375,800

3.55

4.03

4.29

4.29

4.29

4.09

Bunga kredit
4

Laba sebelum pajak

Pajak
6

Laba bersih

Profit margin (%)

Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 3 %
Tahun keN
Uraian
Rata-rata
o
1
2
3
4
5
977,760,00 977,760,00 977,760,00 977,760,0
1
Pendapatan
977,760,000
0
0
0
00
977,760,000
937,870,50 937,870,50 937,870,50 937,870,5
2
Biaya operasional
937,870,500
0
0
0
00
937,870,500
39,889,50
3
Laba kotor
39,889,500 39,889,500 39,889,500 39,889,500
0
39,889,500
Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

56

6
7

Bunga kredit
Laba sebelum
pajak
Biaya penyusutan

8,093,750

2,843,750

31,795,750
2,920,000

37,045,750
2,920,000

39,889,500
2,920,000

39,889,500
2,920,000

Laba kena pajak


Pajak

28,875,750
2,887,575

34,125,750
3,412,575

36,969,500
3,696,950

36,969,500
3,696,950

Laba bersih
Profit margin (%)

25,988,175
2.66

30,713,175
3.14

33,272,550
3.40

33,272,550
3.40

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

57

39,889,50
0
2,920,000
36,969,50
0
3,696,950
33,272,55
0
3.40

37,702,000
2,920,000
34,782,000
3,478,200
31,303,800
3.20

Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 2%
Tahun keNo
Uraian
Rata-rata
1
2
3
4
5
1 Pendapatan
1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000
1,008,000,000
1,008,000,000
2 Biaya operasional
956,627,910
956,627,910
956,627,910
956,627,910
956,627,910
956,627,910
3 Laba kotor
51,372,090
51,372,090
51,372,090
51,372,090
51,372,090
51,372,090
Bunga kredit
8,093,750
2,843,750
4 Laba sebelum pajak
43,278,340
48,528,340
51,372,090
51,372,090
51,372,090
49,184,590
Biaya penyusutan
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
5 Laba kena pajak
40,358,340
45,608,340
48,452,090
48,452,090
48,452,090
46,264,590
Pajak
4,035,834
4,560,834
4,845,209
4,845,209
4,845,209
4,626,459
6 Laba bersih
36,322,506
41,047,506
43,606,881
43,606,881
43,606,881
41,638,131
7 Profit margin (%)
3.60
4.07
4.33
4.33
4.33
4.13
Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 3%
No

Uraian

1,008,000,000

1,008,000,000

1,008,000,000

1,008,000,000

1,008,000,000

1,008,000,000

966,006,615

966,006,615

966,006,615

966,006,615

966,006,615

966,006,615

41,993,385

41,993,385

41,993,385

41,993,385

41,993,385

41,993,385

8,093,750

2,843,750

33,899,635

39,149,635

41,993,385

41,993,385

41,993,385

39,805,885

Biaya penyusutan

2,920,000

2,920,000

2,920,000

2,920,000

2,920,000

2,920,000

Laba kena pajak

30,979,635

36,229,635

39,073,385

39,073,385

39,073,385

36,885,885

Pendapatan

Biaya operasional

Laba kotor
Bunga kredit

Laba sebelum pajak

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

58

Rata-rata

Tahun ke-

Pajak
6

Laba bersih

3,097,964

3,622,964

3,907,339

3,907,339

3,907,339

3,688,589

27,881,672

32,606,672

35,166,047

35,166,047

35,166,047

33,197,297

Profit margin (%)


2.77
3.23
3.49
3.49
3.49
3.29
Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1% dan Peningkatan Biaya Operasional 1%
Tahun keNo
Uraian
Rata-rata
1
2
3
4
5
1 Pendapatan
997,920,000 997,920,000 997,920,000 997,920,000 997,920,000
997,920,000
2 Biaya operasional
947,249,205 947,249,205 947,249,205 947,249,205 947,249,205
947,249,205
3 Laba kotor
50,670,795
50,670,795
50,670,795
50,670,795
50,670,795
50,670,795
Bunga kredit
8,093,750
2,843,750
4 Laba sebelum pajak
42,577,045
47,827,045
50,670,795
50,670,795
50,670,795
48,483,295
Biaya penyusutan
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
5 Laba kena pajak
39,657,045
44,907,045
47,750,795
47,750,795
47,750,795
45,563,295
Pajak
3,965,705
4,490,705
4,775,080
4,775,080
4,775,080
4,556,330
6 Laba bersih
35,691,341
40,416,341
42,975,716
42,975,716
42,975,716
41,006,966
7 Profit margin (%)
3.58
4.05
4.31
4.31
4.31
4.11
Lampiran 7. Proyeksi Laba -Rugi Usaha Abon Ikan Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1,5% dan Peningkatan Biaya Operasional 1,5%
Tahun keNo
Uraian
Rata-rata
1
2
3
4
5
1 Pendapatan
992,880,000
992,880,000 992,880,000
992,880,000
992,880,000
992,880,000
2 Biaya operasional
951,938,558
951,938,558 951,938,558
951,938,558
951,938,558
951,938,558
3 Laba kotor
40,941,443
40,941,443
40,941,443
40,941,443
40,941,443
40,941,443
Bunga kredit
8,093,750
2,843,750
4 Laba sebelum pajak
32,847,693
38,097,693
40,941,443
40,941,443
40,941,443
38,753,943
Biaya penyusutan
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
2,920,000
5 Laba kena pajak
29,927,693
35,177,693
38,021,443
38,021,443
38,021,443
35,833,943
Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

59

6
7

Pajak
Laba bersih
Profit margin (%)

2,992,769
26,934,923
2.71

3,517,769
31,659,923
3.19

3,802,144
34,219,298
3.45

3,802,144
34,219,298
3.45

3,802,144
34,219,298
3.45

3,583,394
32,250,548
3.25

Lampiran 8. Perhitungan BEP Usaha Abon Ikan


No

Uraian

Hasil Penjualan Produk

Biaya Variabel

Tahun Ke1
1,008,000,000

1,008,000,000

1,008,000,000

1,008,000,000

5
1,008,000,000

Bahan Baku

648,000,000

648,000,000

648,000,000

648,000,000

648,000,000

Bahan Pembantu

172,926,000

172,926,000

172,926,000

172,926,000

172,926,000

BahanPendukung

32,892,000

32,892,000

32,892,000

32,892,000

32,892,000

Biaya Transportasi

6,000,000

6,000,000

6,000,000

6,000,000

6,000,000

Biaya Tenaga Kerja Produksi

44,400,000

44,400,000

44,400,000

44,400,000

44,400,000

Pajak

5,911,575

6,436,575

6,720,950

6,720,950

6,720,950

910,654,575

910,938,950

910,938,950

910,938,950

33,292,500

33,292,500

33,292,500

33,292,500

33,292,500

360,000

360,000

360,000

360,000

360,000

Total Biaya Variabel 910,129,575

Biaya Tetap
Biaya Overhead Pabrik (BOP)
Biaya Administrasi dan
Umum

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

60

Biaya Penyusutan

2,920,000

2,920,000

Bungan Kredit

8,093,750

2,843,750

Total Biaya Tetap 44,666,250

2,920,000

2,920,000

2,920,000

39,416,250

36,572,500

36,572,500

36,572,500

BEP Nilai Penjualan (Rp)

460,032,538

408,150,460

379,813,324

379,813,324

379,813,324

BEPJumlah Penjualan (kg)

6,572

5,831

5,426

5,426

5,426

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

61

URAIAN
Inflow
a. Pendapatan
b. Dana sendiri
c. Kredit investasi
d. Kredit modal kerja
e. Nilai sisa
Total Inflow
Total Inflow untuk IRR
Outflow
a. Investasi/re-investasi
b. Modal Kerja
c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok
e. Bunga Kredit Perbankan
f. Pajak
Total Outflow
Total Outflow untuk IRR
Cashflow
Kumulatif Cashflow
Kumulatif Cashflow (-Nilai
Sisa)
Cashflow untuk IRR
URAIAN

Lampiran 9. Proyeksi Arus Kas Usaha Abon Ikan


TAHUN
0
1
2
3

1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000


73,333,813
10,000,000
60,000,000
143,333,813 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000
1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000

26,100,000
117,233,813
-

143,333,813
143,333,813
-143,333,813

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

5
1,008,000,000

930,000
1,008,930,000
1,008,930,000

150,000

715,000

865,000

715,000

150,000

937,870,500
35,000,000
8,093,750
5,911,575
987,025,825
943,932,075

937,870,500
35,000,000
2,843,750
6,436,575
982,865,825
945,022,075

937,870,500

937,870,500

937,870,500

6,720,950
945,456,450
945,456,450

6,720,950
945,306,450
945,306,450

6,720,950
944,741,450
944,741,450

20,974,175
20,974,175

25,134,175
46,108,350

62,543,550
108,651,900

62,693,550
171,345,450

64,188,550
235,534,000

20,974,175
64,067,925

46,108,350
108,651,900
62,977,925
62,543,550
TAHUN

171,345,450
62,693,550

234,604,000
64,188,550

62

876,521,739

762,192,817

662,776,362

576,327,272

501,616,524

143,333,813

820,810,500

714,572,457

621,652,963

540,482,031

469,703,470

PV Cashflow

-143,333,813

55,711,239

47,620,359

41,123,399

35,845,241

31,913,054

Kumulatif PV Cashflow

-143,333,813

-87,622,574

-40,002,215

1,121,185

36,966,425

68,879,479

PV Benefit
PV Cost

Analisis Kelayakan Usaha Abon Ikan


IRR
PBP (Usaha) tahun

33.94%

DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

15%
3,379,434,713
3,310,555,234
1.021
68,879,479

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

2.95

212,213,292
-143,333,813
1.48

63

Lampiran 10. Proyeksi Arus Kas Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 2 %


TAHUN
URAIAN
0
1
2
3
4
Inflow
a. Pendapatan
b. Data Sendiri
c. Kredit Investasi
d. Kredit Modal Kerja
e. Nilai Sisa
Total Inflow
Total Inflow untuk IRR

73,333,813
10,000,000
60,000,000

987,840,000

987,840,000

987,840,000

987,840,000

987,840,000

143,333,813
-

987,840,000
987,840,000

987,840,000
987,840,000

987,840,000
987,840,000

987,840,000
987,840,000

930,000
988,770,000
988,770,000

26,100,000
117,233,813
-

150,000

715,000

865,000

715,000

150,000

937,870,500
35,000,000
2,843,750
4,420,575
980,849,825
943,006,075

937,870,500

937,870,500

937,870,500

4,704,950
943,440,450
943,440,450

4,704,950
943,290,450
943,290,450

4,704,950
942,725,450
942,725,450

6,990,175
9,820,350
9,820,350
44,833,925

44,399,550
54,219,900
54,219,900
44,399,550

44,549,550
98,769,450
98,769,450
44,549,550

46,044,550
144,814,000
143,884,000
46,044,550

Outflow
a. Invstasi/re-investasi
b. Modal Kerja
c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok
e. Bunga Kredit Perbankan
f. Pajak
Total Outflow
Total Outflow untuk IRR

143,333,813
143,333,813

937,870,500
35,000,000
8,093,750
3,895,575
985,009,825
941,916,075

Cashflow
kumulatif cashflow
kumulatif cashflow (-nilai sisa)
Casflow untuk IRR

-143,333,813

2,830,175
2,830,175
2,830,175
45,923,925

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

64

TAHUN

URAIAN
PV Benefit
PV Cost
PV Cashflow
Kumulatif PV Cashflow

0
143,333,813
-143,333,813
-143,333,813

858,991,304
819,057,457
39,933,848
-103,399,965

746,948,960
713,048,072
33,900,888
-69,499,077

649,520,835
620,327,410
29,193,425
-40,305,652

564,800,726
539,329,376
25,471,350
-14,834,302

491,593,441
468,701,162
22,892,279
8,057,977

Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 2%


IRR

17.35%

PBP (Usaha) - tahun

2.95

DF

15%

PV Benefit

3,311,855,266

PV Cost

3,303,797,289

B/C Ratio
NPV

1.002
8,057,977

NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

151,391,790
65

Cash Flow (-)

-143,333,813

Net B/C Ratio

1.06
Lampiran 11. Proyeksi Arus Kas Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 3 %
TAHUN
URAIAN
0
1
2
3
4

Inflow
a. Pendapatan
b. Data Sendiri
c. Kredit Investasi
d. Kredit Modal Kerja
e. Nilai Sisa
Total Inflow
Total Inflow untuk IRR
Outflow
a. Invstasi/re-investasi
b. Modal Kerja
c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok
e. Bunga Kredit Perbankan
f. Pajak
Total Outflow
Total Outflow untuk IRR
Cashflow
kumulatif cashflow
kumulatif cashflow (-nilai sisa)

977,760,000 977,760,000 977,760,000 977,760,000

977,760,000

143,333,813 977,760,000 977,760,000 977,760,000 977,760,000


977,760,000 977,760,000 977,760,000 977,760,000

930,000
978,690,000
978,690,000

73,333,813
10,000,000
60,000,000

26,100,000
117,233,813

715,000

150,000

937,870,500 937,870,500 937,870,500 937,870,500


35,000,000 35,000,000
8,093,750
2,843,750
2,887,575
3,412,575
3,696,950
3,696,950
143,333,813 984,001,825 979,841,825 942,432,450 942,282,450
143,333,813 940,908,075 941,998,075 942,432,450 942,282,450

937,870,500

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

150,000

-6,241,825
-6,241,825
-6,241,825

715,000

-2,081,825
-8,323,650
-8,323,650
66

865,000

35,327,550
27,003,900
27,003,900

35,477,550
62,481,450
62,481,450

3,696,950
941,717,450
941,717,450
36,972,550
99,454,000
98,524,000

Casflow untuk IRR

-143,333,813

URAIAN
PV Benefit
PV Cost
PV Cashflow
Kumulatif PV Cashflow

0
-

36,851,925

35,761,925

35,327,550

35,477,550

36,972,550

TAHUN
2

850,226,087 739,327,032 642,893,071 559,037,453


143,333,813
818,180,935 712,285,879 619,664,634 538,753,049
-143,333,813
32,045,152 27,041,153 23,228,438 20,284,404
-143,333,813 -111,288,661
-84,247,508 -61,019,070 -40,734,666

486,581,899
468,200,007
18,381,892
-22,352,774

Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 3%


IRR

8.19%

PBP (Usaha) - tahun

3.82

DF

15%

PV Benefit

3,278,065,543

PV Cost

3,300,418,317

B/C Ratio
NPV

-22,352,774

NetB/C Ratio

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

0.99

67

Cash Flow (+)

120,981,039

Cash Flow (-)

-143,333,813

Net B/C Ratio

0.84

Lampiran 12. Proyeksi Arus Kas Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 2%
TAHUN
URAIAN
0
1
2
3
4
Inflow
a. Pendapatan
b. Data Sendiri
c. Kredit Investasi
d. Kredit Modal Kerja
e. Nilai Sisa
Total Inflow
Total Inflow untuk IRR
Outflow
a. Invstasi/re-investasi
b. Modal Kerja
c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok
e. Bunga Kredit Perbankan
f. Pajak
Total Outflow
Total Outflow untuk IRR

1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000

1,008,000,000

143,333,813 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000


1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000

930,000
1,008,930,000
1,008,930,000

73,333,813
10,000,000
60,000,000

26,100,000
117,233,813

150,000

715,000

865,000

715,000

150,000

956,627,910
35,000,000
8,093,750
4,035,834
143,333,813 1,003,907,494
143,333,813
960,813,744

956,627,910
35,000,000
2,843,750
4,560,834
999,747,494
961,903,744

956,627,910

956,627,910

956,627,910

4,845,209
962,338,119
962,338,119

4,845,209
962,188,119
962,188,119

4,845,209
961,623,119
961,623,119

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

68

Cashflow
kumulatif cashflow
kumulatif cashflow (-nilai sisa)
Casflow untuk IRR

4,092,506
4,092,506
4,092,506
47,186,256

8,252,506
12,345,012
12,345,012
46,096,256

45,661,881
58,006,893
58,006,893
45,661,881

45,811,881
103,818,774
103,818,774
45,811,881

47,306,881
151,125,655
150,195,655
47,306,881

TAHUN

URAIAN
PV Benefit
PV Cost
PV Cashflow
Kumulatif PV Cashflow

-143,333,813

0
143,333,813
-143,333,813
-143,333,813

1
876,521,739
835,490,212
41,031,527
-102,302,286

2
762,192,817
727,337,425
34,855,392
-67,446,894

662,776,362
632,752,934
30,023,428
-37,423,466

576,327,272
550,134,180
26,193,092
-11,230,374

501,616,524
478,096,643
23,519,881
12,289,506

Analisis Kelayakan Usaha Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 2%


IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

18.57%
2.86
15%
3,379,434,713
3,367,145,207
1.00
12,289,506
155,623,319
69

Cash Flow (-)


Net B/C Ratio

-143,333,813
1.09

Lampiran 13. Proyeksi Arus Kas Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 3%
TAHUN
URAIAN
0
1
2
3
4
Inflow
a. Pendapatan
b. Data Sendiri
c. Kredit Investasi
d. Kredit Modal Kerja
e. Nilai Sisa
Total Inflow
Total Inflow untuk IRR
Outflow
a. Invstasi/re-investasi
b. Modal Kerja
c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok
e. Bunga Kredit Perbankan
f. Pajak
Total Outflow
Total Outflow untuk IRR

1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000

1,008,000,000

143,333,813 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000


1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000 1,008,000,000

930,000
1,008,930,000
1,008,930,000

73,333,813
10,000,000
60,000,000

26,100,000
117,233,813

715,000

865,000

715,000

150,000

966,006,615
966,006,615
35,000,000
35,000,000
8,093,750
2,843,750
3,097,964
3,622,964
143,333,813 1,012,348,329 1,008,188,329
143,333,813
969,254,579
970,344,579

966,006,615

966,006,615

966,006,615

3,907,339
970,778,954
970,778,954

3,907,339
970,628,954
970,628,954

3,907,339
970,063,954
970,063,954

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

150,000

70

Cashflow
kumulatif cashflow
kumulatif cashflow (-nilai sisa)
Casflow untuk IRR

-143,333,813

-4,348,329
-4,348,329
-4,348,329
38,745,422

37,221,047
32,684,390
32,684,390
37,221,047

37,371,047
70,055,436
70,055,436
37,371,047

38,866,047
108,921,483
107,991,483
38,866,047

TAHUN

URAIAN
0
PV Benefit

-188,329
-4,536,657
-4,536,657
37,655,422

876,521,739

762,192,817

662,776,362

576,327,272

501,616,524

143,333,813

842,830,068

733,719,908

638,302,920

554,960,254

482,293,229

PV Cashflow

-143,333,813

33,691,671

28,472,909

24,473,442

21,367,017

19,323,294

Kumulatif PV Cashflow

-143,333,813

-109,642,142

-81,169,234

-56,695,791

-35,328,774

-16,005,480

PV Cost

Analisis Kelayakan Usaha Pada Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 3%

IRR

10.17%

PBP (Usaha) - tahun

2.90

DF

15%

PV Benefit

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

3,379,434,713
71

PV Cost

3,395,440,193

B/C Ratio

1.00

NPV

-16,005,480

NetB/C Ratio
Cash Flow (+)

127,328,333

Cash Flow (-)

-143,333,813

Net B/C Ratio

0.89

Lampiran 14. Proyeksi Arus Kas Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1% dan Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 1%
URAIAN

TAHUN
0

997,920,000

997,920,000

997,920,000

997,920,000

Inflow
a. Pendapatan
b. Data Sendiri

73,333,813

c. Kredit Investasi

10,000,000

d. Kredit Modal Kerja

60,000,000

e. Nilai Sisa
Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

997,920,000

930,000
72

Total Inflow

997,920,000

997,920,000

997,920,000

997,920,000

998,850,000

997,920,000

997,920,000

997,920,000

997,920,000

998,850,000

150,000

715,000

865,000

715,000

150,000

947,249,205

947,249,205

947,249,205

947,249,205

947,249,205

35,000,000

35,000,000

e. Bunga Kredit Perbankan

8,093,750

2,843,750

f. Pajak

3,965,705

4,490,705

4,775,080

4,775,080

4,775,080

Total Inflow untuk IRR

143,333,813
-

Outflow
a. Invstasi/re-investasi
b. Modal Kerja

26,100,000
117,233,813

c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok

Total Outflow

143,333,813

994,458,660

990,298,660

952,889,285

952,739,285

952,174,285

Total Outflow untuk IRR

143,333,813

951,364,910

952,454,910

952,889,285

952,739,285

952,174,285

Cashflow

3,461,341

7,621,341

45,030,716

45,180,716

46,675,716

kumulatif cashflow

3,461,341

11,082,681

56,113,397

101,294,112

147,969,828

kumulatif cashflow (-nilai sisa)

3,461,341

11,082,681

56,113,397

101,294,112

147,039,828

45,465,091
45,030,716
TAHUN
2
3

45,180,716

46,675,716

Casflow untuk IRR


URAIAN

-143,333,813
0

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

46,555,091
1

73

PV Benefit
PV Cost
PV Cashflow
Kumulatif PV Cashflow

143,333,813
-143,333,813
-143,333,813

867,756,522
827,273,834
40,482,687
-102,851,126

754,570,888
720,192,748
34,378,140
-68,472,985

656,148,599
626,540,172
29,608,426
-38,864,559

570,563,999
544,731,778
25,832,221
-13,032,338

496,604,982
473,398,902
23,206,080
10,173,742

Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1% dan Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 1%
IRR
PBP (Usaha) - tahun
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C Ratio

17.96%
3.70
15%
3,345,644,990
3,335,471,248
1.00
10,173,742
153,507,555
-143,333,813
1.07

Lampiran 15. Proyeksi Arus Kas Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1,5% dan Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 1,5%
TAHUN
URAIAN
0
1
2
3
4
5
Inflow
Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

74

a. Pendapatan
b. Data Sendiri
c. Kredit Investasi
d. Kredit Modal Kerja
e. Nilai Sisa

992,880,000

992,880,000

992,880,000

992,880,000

73,333,813
10,000,000
60,000,000

Total Inflow
Total Inflow untuk IRR

143,333,813
-

992,880,000
992,880,000

992,880,000
992,880,000

992,880,000
992,880,000

992,880,000
992,880,000

930,000
993,810,000
993,810,000

26,100,000
117,233,813

150,000

715,000

865,000

715,000

150,000

951,938,558
35,000,000
2,843,750
3,517,769
994,015,077
956,171,327

951,938,558

951,938,558

951,938,558

3,802,144
956,605,702
956,605,702

3,802,144
956,455,702
956,455,702

3,802,144
955,890,702
955,890,702

-1,135,077
-6,430,154
-6,430,154
36,708,673

36,274,298
29,844,145
29,844,145
36,274,298

36,424,298
66,268,443
66,268,443
36,424,298

37,919,298
104,187,741
103,257,741
37,919,298

Outflow
a. Invstasi/re-investasi
b. Modal Kerja
c. Biaya Operasional
d. Angsuran Pokok
e. Bunga Kredit Perbankan
f. Pajak
Total Outflow
Total Outflow untuk IRR

143,333,813
143,333,813

951,938,558
35,000,000
8,093,750
2,992,769
998,175,077
955,081,327

Cashflow
kumulatif cashflow
kumulatif cashflow (-nilai sisa)
Casflow untuk IRR

-143,333,813

-5,295,077
-5,295,077
-5,295,077
37,798,673

TAHUN

URAIAN
0
PV Benefit

992,880,000

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

1
863,373,913

2
750,759,924

75

652,834,717

567,682,362

494,099,211

PV Cost

143,333,813

830,505,502

723,002,894

628,983,777

546,856,652

475,246,618

PV Cashflow

-143,333,813

32,868,412

27,757,031

23,850,940

20,825,711

18,852,593

Kumulatif PV Cashflow

-143,333,813

-110,465,401

-82,708,371

-58,857,431

-38,031,720

-19,179,127

Analisis Kelayakan Usaha Pada Penurunan Pendapatan Sebesar 1,5% dan Peningkatan Biaya Operasional Sebesar 1,5%

IRR

9.19%

PBP (Usaha) - tahun

3.70

DF

15%

PV Benefit

3,328,750,128

PV Cost

3,347,929,255

B/C Ratio
NPV

0.99
-19,179,127

NetB/C Ratio
Cash Flow (+)

124,154,686

Cash Flow (-)

-143,333,813

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

76

Net B/C Ratio

Ekonomi Teknik - Tugas Analisa Keuangan Usaha Abon Ikan

0.87

77