Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL

RENCANA ANTISIPASI BENCANA AKIBAT TSUNAMI BIDANG KESEHATAN


LINGKUNGAN DI KOTA BANDA ACEH TAHUN 2015
A. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai daerah rawan bencana. Bencana yang terjadi di
Indonesia sangatlah beragam baik jenis maupun skalanya (magnitude). Disamping
bencana, Indonesia juga rawan terhadap bencana akibat ulah manusia. Hal ini
disebabkan karena faktor letak geografis dan geologi serta demografi. Posisi
geografis Indonesia yang terletak di zona pertemuan lempeng benua merupakan
salah satu faktor penyebab atas sering terjadinya bencana alam gempa bumi. Ketika
terjadi dislokasi di zona pertemuan lempeng bawah laut, selain terjadi getaran
gempa, perpindahan sejumlah besar massa air laut akibat peristiwa ini juga dapat
memicu terjadinya tsunami.
Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan
tsu berarti lautan, nami berarti gelombang ombak. Tsunami adalah serangkaian
gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut
akibat gempa bumi (BNPB No.8 Tahun 2011).
Tsunami bisa mempunyai panjang gelombang sampai 200 km, dengan
kecepatan bisa mencapai 800 km/jam. Di tengah lautan, tinggi gelombang tsunami
hanya 0,25-0,50 meter, namun tinggi gelombang tersebut bisa naik pada saat
mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai. Oleh karena itu tsunami
dapat mempunyai daya hancur yang sangat luar biasa pada wilayah pesisir (National
Geographic, 2003; Discovery Channel, 2005; Bachtiar, 2004; Canahar,2005).
Berdasarkan penelitian dan pengalaman kejadian bencana, wilayah Kota
Banda Aceh termasuk kawasan yang rawan terhadap gempa bumi dan tsunami
karena diapit oleh pertemuan dua lempeng bumi, yaitu lempeng Eurasia dan
lempeng Indo-Australia, serta patahan Sumatera/Semangko (Subandono dan
Budiman dalam Profil Bappeda Banda Aceh, 2009).
Tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di pantai barat Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa bumi bermagnitudo 9.0 di zona subduksi
lempeng sepanjang pesisir barat Aceh hingga kepulauan Andaman dan Nicobar
(India) telah memicu terbentuknya gelombang tsunami yang menimbulkan korban
jiwa dan kerusakan infrastruktur yang sangat besar (Bappenas, 2005). Gempa bumi
tersebut merupakan yang paling dasyat di dunia yang pernah terjadi dalam suatu

generasi. Pusat gempa ada sekitar 150 km Selatan Meulaboh dan 250 km dari Banda
Aceh, ibukota provinsi Aceh.
Tsunami tersebut telah memakan korban jiwa dan merusak infrastruktur
publik, ekonomi dan sosial, seperti sekolah, pusat layanan kesehatan dan gedunggedung pemerintah. Tsunami telah mempengaruhi mata pencaharian dan kehidupan
masyarakat karena rusaknya lahan-lahan pertanian, terganggunya usaha-usaha
perikanan, hilangnya peralatan, hilangnya bukti kepemilikan tanah, menurunya
kualitas air, polusi akibat limbah padat atau cair dan rusak fasilitas sanitasi dan
pembuangan limbah, dan ini semua terjadi karena suatu bencana. Dilaporkan dengan
estimasi total kerugian material sebesar 4,0 hingga 4,5 milyar dolar AS.
Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah adalah ibu kota
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu Kota Banda Aceh yaitu sebesar 67,31%
(Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekontruksi 2005b). Kota tersebut memiliki
jumlah penduduk sebesar 230.774 jiwa (BPS,2004). Jumlah korban meninggal
mencapai 41.295 jiwa penduduk meninggal dunia, hilang 22.973 jiwa dan jumlah
pengungsi 83.542 jiwa. Dari 9 kecamatan di wilayah Kota Banda Aceh, 3
diantaranya hancur, yaitu Kecamatan Meuraxa, Kecamatan Jaya Baru, dan
Kecamatan Kuta Raja (Bappeda BA, Juni 2005). Selain jumlah penduduk dan
pemukiman yang padat, kota tersebut memiliki hamparan medan yang datar,
sehingga korban jiwa yang diakibatkan pada bencana tersebut menunjukkan paling
besar (30.000 jiwa) dibandingkan dengan daerah kota/ kabupaten lain di wilayah
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Bakornas, 2005).
Upaya untuk pemulihan baik melalui rehabilitasi dan rekonstruksi fisik dan
infrastruktur wilayah perkotaan tersebut menurut perkiraan yang disebutkan oleh
Bappenas (2005), memerlukan waktu selama 8 tahun.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu disusun suatu rencana antisipasi
bencana akibat tsunami di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
tahun 2015 dalam bidang kesehatan lingkungan. Perencanaan antisipasi ini harus
dilakukan secara terpadu, menyeluruh serta melibatkan seluruh stakeholder baik
lintas program maupun lintas sektor.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum

Tersusunnya Rencana Antisipasi Bencana Akibat Tsunami Dalam Bidang


Kesehatan Lingkungan Di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam Tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
a. Tersusunya Program Manajemen Umum Antisipasi Bencana Tsunami Di
Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2015.
b. Tersusunya Pengadaan Pangan Dan Pemeliharaan Gizi Antisipasi Bencana
Tsunami Di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun
2015.
c. Tersusunnya

Penyediaan Air

Bersih dan Penyelenggaraan

Sanitasi

Lingkungan Antisipasi Bencana Tsunami Di Kota Banda Aceh Provinsi


Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2015.
d. Tersusunnya Pengendalian Penyakit Menular Antisipasi Bencana Tsunami Di
Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2015.
e. Tersusunnya Pengendalian Manajemen Korban Luka dan/atau Cedera
Antisipasi Bencana Tsunami Di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam Tahun 2015.
f. Tersusunnya Pengorganisasian Fasilitas Pelayanan Kesehatan Antisipasi
Bencana Tsunami Di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Tahun 2015.
g. Tersusunnya Penerapan Epidemiologi Pada Keadaan Darurat Antisipasi
Bencana Tsunami Di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Tahun 2015.
h. Tersusunnya Langkah-Langkah Penanggulangan Bencana Akibat Tsunami
Dalam Bidang Kesehatan Lingkungan Pada Tahapan Pra, Saat Dan Pasca
Bencana Di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun
2015.
C. Rencana Kegiatan Program Manajemen Umum
1. Identifikasi Masalah Kesehatan
Masalah kesehatan masyarakat (terutama didaerah pengungsian) yang benarbenar dapat teridentifikasi dalam assessment ini adalah:

a. Jumlah korban yang sangat banyak, baik yang meninggal, yang mengalami
luka-luka dan yang mengalami depresi memerlukan pertolongan kesehatan
dengan segera.
b. Sistem kesehatan lumpuh disebabkan rusaknya sarana dan prasarana
pelayanan kesehatan serta banyaknya tenaga kesehatan yang hilang,
meninggal dan mengalami depresi;
c. Penanganan korban bencana tidak optimal. Banyak anggota masyarakat
termasuk pengungsi yang tinggal di lokasi pengungsian sulit memperoleh
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.
d. Jenis dan distribusi obat secara logistik yang tak sesuai dengan keadaan dan
jenis penyakit tiap posko kesehatan dan areanya. Pendistribusian obat dan
logistik baik ke posko kesehatan maupun ke unit kesehatan di banda aceh
dan sekitarnya akan kurang sistematis dan kurang jelas mekanismenya.
e. Terbatasnya air bersih dan buruknya sanitasi lingkungan. Tempat-tempat
pengungsian tidak memenuhi syarat kesehatan, misalnya kekurangan air
bersih, tempat pembuangan sampah, sarana mandi, cuci dan kakus.
f. Ketahanan pangan dan gizi menurun. Sebagai akibat ketersediaan dan
distribusi bahan makanan yang kurang merata dan banyaknya titik pengungsi
menyebabkan meningkatnya resiko kekurangan gizi, sakit dan kematian
pada kelompok rentan yaitu bayi, balita, ibu hamil dan usia lanjut.
g. Kemungkinan timbulnya penyakit menular. Kondisi lingkungan yang buruk
diikuti dengan kekurangan gizi dapat menyebabkan berjangkitnya berbagai
penyakit menular, misalnya campak, diare, malaria dan infeksi pernapasan
akut
2. Identifikasi Hambatan Dalam Keadaan Darurat
a. Di NAD terjadi konflik politik dan kekerasan bersenjata antar TNI dan GAM
semakin memperbesar masalah terutama dalam hal pendidikan. Peristiwa
pembakaran gedung sekolah, penculikan dan pembunuhan guru, kegiatan
sekolah yang sering diliburkan, hingga anak-anak yang traumatis dan
menjadi korban adalah di antara begitu banyak kejadian yang semakin
mempersulit membangun dunia pendidikan di NAD selama ini.

b. Jika terjadi bencana alam dan gelombang tsunami di Aceh kemungkinan


keamanan akan terganggu. Kejadian bencana itu, justru akan dimanfaatkan
oleh pemberontak GAM untuk menyebarkan issu-issu tsunami akan datang
kembali dan akan menimbulkan kebingungan dan kepanikan bagi
masyarakat Aceh. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kecelakaan dan
trauma psikologis. Oleh karena itu, perlu diperhatikan secara serius
keamanan di Aceh agar tidak mendapatkan ancaman dari orang yang
bertanggung jawab yaitu GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
3. Penentuan Prioritas
Prioritas akan diberikan untuk melindungi dan membantu anggota
masyarakat korban bencana yang paling rentan, khususnya anak-anak dan janda,
penyandang cacat, mereka yang telah kehilangan rumah dan harta-benda,
masyarakat miskin, dan mereka yang telah kehilangan pencari nafkah utama
dalam keluarga.
a. Kegiatan yang menjadi prioritas untuk segera dikerjakan sebagai berikut:
1)

Mengembalikan sistem kesehatan daerah secepatnya

2) Mempercepat perencanaan dan pelaksanaan pembangunan fisik unit


pelayanan kesehatan dan mencukupi SDMnya.
3) Komitmen dan peningkatan koordinasi dan mekanisme lintas sektoral
disamping peningkatan koordinasi, mekanisme kerja, manajemen dan
pembagian tugas unitunit pelayanan kesehatan, obat dan logistik
kesehatan.
4) Perbaikan lingkungan kesehatan, gizi dan penyediaan air bersih untuk
posko, sarana kesehatan dan perumahan masyarakat.
5) Penyuluhan kesehatan termasuk imunisasi, perilaku sehat dan antisipasi
terhadap KLB.
6) Pengembangan sistem surveilans terhadap penyakit-penyakit yang
mengancam dengan mengaktifkan sistem kewaspadaan dini.
7) Peningkatan komitmen dan aplikasi bantuan internasional.

b. Lokasi kegiatan untuk memulihkan kembali fungsi kesehatan dalam


penanggulangan kesehatan akibat gelombang tsunami diprioritaskan pada:
1) Tempat-tempat umum terutama masjid dan pasar
2) Bekas tempat penimbunan jenazah sebelum dikebumikan
3) Tempat penampungan pengungsi
4) Fasilitas kesehatan (Kantor Dinas Kesedehatan, Puskesmas dan Rumah
Sakit).
4. Penentuan Objektif dan Strategi
a. Kebijakan dan strategi kesehatan
Berdasarkan permasalahan pokok kesehatan tersebut kebijakan prioritas
yang harus ditempuh dan strategi-strategi yang akan dijalankan dalam
melaksanakan kebijakan adalah:
1) Penyelamatan korban bencana yang masih hidup, melalui strategi:
a) Pelayanan kesehatan darurat.
b) Pelayanan kesehatan bagi korban yang mengalami trauma.
2) Pemulihan sistem kesehatan, dengan strategi:
a) Mobilisasi tenaga kesehatan dari daerah lain.
b) Menempatkan tenaga kesehatan dengan sistem kontrak
c) Merekrut tenaga kesehatan baru
d) Melatih tenaga kesehatan
e)

Merehabilitasi dan membangun prasarana dan sarana pelayanan


kesehatan yang rusak

f) Memulihkan fungsi fasilitas pelayanan kesehatan


3) Pencegahan terjadinya wabah penyakit, melalui strategi:
a) Melakukan penilaian kebutuhan cepat (rapid health assessment)
b) Melakukan imunisasi, vector control, disinfeksi, dan penyediaan air
minum
c) Memperkuat survailans epidemiologi
4) Pencegahan kekurangan gizi, melalui strategi:
a) Memberikan bantuan makanan bagi bayi, balita dan ibu hamil.

b) Memberikan paket pertolongan gizi seperti vitamin A, tablet besi,


syrup besi
c) Memberikan penyuluhan gizi
d) Memperkuat survailans gizi.
D. Penyusunan Rencana Kegiatan Pengadaan Pangan Dan Pemeliharaan Gizi
1. Identifikasi kelompok rentan
Gizi Rehabilitasi Program (NRP) ditargetkan kepada ibu, anak-anak, bayi
dan balita karena mereka merupakan faktor yang paling rentan dan kunci dari
generasi masa depan. NRP bertujuan untuk memberikan mereka kesempatan
untuk mencapai penuh perkembangan dukungan potensial, kesehatan dan gizi
mereka.
2. Pemantauan program pangan, Pengorganisasian distribusi pangan dan
manajemen pusat rehabilitasi gizi
Segera setelah terjadinya bencana tsunami, tenda makanan harus segera
didirikan untuk menutupi kebutuhan dasar korban, termasuk pembelian beras
lokal, mie, biskuit dan minyak sayur. Selain tenda makanan, jaringan logistik
yang efektif harus dengan cepat didirikan.
Untuk memindahkan sejumlah barang pada skala yang tengah reruntuhan
Aceh, dengan minimal menggunakan akases jalan darat, laut dan fasilitas
transportasi udara. Distribusi makanan dengan tanah adalah benar-benar tidak
dapat diakses karena jembatan yang rusak setelah tsunami. Untuk menanggapi
tantangan, harus dengan jalan udara yaitu dengan mengintensifkan pemanfaatan
helikopter dan mendarat di sepanjang kerajinan pantai barat untuk memastikan
pengiriman tepat waktu kepada masyarakat yang terisolasi. Untuk memastikan
pengiriman tepat waktu kepada masyarakat terisolasi maka digunakan
Helikopter dan kerajinan arahan dari PBB Kemanusiaan Air Service (UNHAS)
yang intensif dan dimanfaatkan sepanjang pantai barat.
Distribusi makanan diberikan ke daerah-daerah yang terkena dampak
terburuk. Distribusi adalah tantangan besar karena banyak daerah yang harus
dicapai terputus karena kerusakan akses jalan. Respons yang cepat adalah

kontribusi besar untuk mencegah memburuknya status gizi anak-anak yang


rentan dan ibu. Mengingat tingkat makanan, ketidakamanan ditambah dengan
trauma dan penderitaan yang dialami oleh seluruh penduduk. Untuk mengurangi
kejadian malnutrisi pada ibu dan anak maka didirikan Posyandu, dengan adanya
Posyandu para ibu dapat diberikan pendidikan mengenai kesehatan dan anakanak bisa mendapatkan perbaikan gizi.
3. Pengelolaan Makanan Dan Minuman Pada Bencana
Dalam pengelolaan makanan dan minuman pada bencana (untuk konsumsi
orang banyak), harus memperhatikan kaedah hygiene sanitasi makanan dan
minuman (HSMM), untuk menghindari terjadinya penyakit bawaan makanan
termasuk diare, disentri, korela, hepatitis A dan tifoid, atau keracunan makanan
dan minuman, berdasarkan pedoman WHO Ensuring food safety in the
aftermath of natural disasters antara lain yaitu:
a. semua bahan makanan dan makanan yang akan didistribusikan harus sesuai
untuk konsumsi manusia baik dari segi gizi dan budaya;
b. makanan yang akan didistribusikan sebaiknya dalam bentuk kering dan
penerima mengetahui cara menyiapkan makanan;
c. stok harus dicek secara teratur dan pisahkan stok yang rusak;
d. petugas yang menyiapkan makanan harus terlatih dalam higiene dan prinsip
menyiapkan makanan secara aman;
e. petugas yang menyiapkan makanan sebaiknya tidak sedang sakit dengan
gejala berikut sakit kuning, diare, muntah, demam, nyeri tenggorok (dengan
demam), lesi kulit terinfeksi atau keluarnya discharge dari telinga, mata atau
hidung;
f. petugas kebersihan harus terlatih dalam menjaga dapur umum dan area
sekitarnya tetap bersih;
g. air dan sabun disediakan untuk kebersihan personal;
h. makanan harus disimpan dalam wadah yang melindungi dari tikus, serangga
atau hewan lainnya;
i. daerah yang terkena banjir, makanan yang masih utuh harus dipindahkan ke
tempat kering;
j. buanglah makanan kaleng yang rusak, atau bocor;
k. periksa semua makanan kering dari kerusakan fisik, tumbuhnya jamur dari
sayuran, buah dan sereal kering;
l. air bersih untuk menyiapkan makanan; dan

m. sarana cuci tangan dan alat makan harus disiapkan.


Sebagai tambahan, WHO juga mengeluarkan panduan kunci keamanan pangan
(WHO Five Keys for Safer Food):
a. jaga kebersihan makanan;
b. pisahkan bahan mentah dan makanan yang sudah dimasak;
c. masak secara menyeluruh;
d. agar makanan pada suhu aman;
e. gunakan air dan bahan mentah makanan yang aman.
Termasuk dalam hygiene dan sanitasi makanan adalah upaya untuk
mengendalikan faktor makanan, orang, tempat, dan perlengkapannya yang dapat
atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan.
E. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyediaan Air Bersih Dan Penyelenggaraan
Sanitasi Lingkungan
1. Teknik memulihkan access kepada air bersih
Air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan, Dengan demikian,
masyarakat pengungsi harus dapat terjangkau oleh ketersediaan air bersih yang
memadai untuk memelihara kesehatannya. Pada tahap awal kejadian bencana
atau pengungsian ketersediaan air bersih perlu mendapat perhatian, karena tanpa
adanya air bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan dan meningkatkan
risiko terjadinya penularan penyakit.
Pada situasi bencana dan pengungsian umumnya sulit memperoleh air
bersih yang sudah memenuhi persyaratan, oleh karena itu apabila air yang
tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis, perlu
dilakukan:
a. Buang atau singkirkan bahan pencemar;
b. Lakukan penjernihan air secara cepat apabila tingkat kekeruhan air yang ada
cukup tinggi;
c. Lakukan desinfeksi terhadap air yang ada dengan menggunakan bahan bahan
desinfektan untuk air;
d. Periksa kadar sisa klor bilamana air dikirim dari PDAM;
e. Lakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala pada titiktitik distribusi.

10

Tujuan utama perbaikan dan pengawasan kualitas air adalah untuk mencegah
timbulnya risiko kesehatan akibat penggunaan air yang tidak memenuhi
persyaratan. Bilamana air yang tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi
fisik maupun bakteriologis dapat dilakukan upaya perbaikan kualitas air antara
lain sebagai berikut:
a. Penjernihan air cepat, menggunakan:
1) Alumunium sulfat (tawas)
Cara penggunaan:
a) Sediakan air baku yang akan dijernihkan dalam ember 20 liter;
b) Tuangkan/campuran tawas yang sudah digerus sebanyak sendok
teh dan langsung diaduk perlahan selama 5 menit sampai larutan
merata;
c) Diamkan selama 1020 menit sampai terbentuk gumpalan/flok dari
kotoran/lumpur dan biarkan mengendap. pisahkan bagian air yang
jernih yang berada di atas endapan, atau gunakan selang plastik untuk
mendapatkan air bersih yang siap digunakan;
d) Bila akan digunakan untuk air minum agar terlebih dahulu direbus
sampai mendidih atau didesinfeksi dengan aquatabs.
2) Poly Alumunium Chlorida (PAC)
Lazim disebut penjernih air cepat yaitu polimer dari garam alumunium
chloride yang dipergunakan sebagai koagulan dalam proses penjernihan
air sebagai pengganti alumunium sulfat. Kemasan PAC terdiri dari:
a) Cairan yaitu koagulan yang berfungsi untuk menggumpalkan
kotoran/ lumpur yang ada di dalam air;
b) Bubuk putih yaitu kapur yang berfungsi untuk menetralisir pH.
Cara penggunaan:

Sediakan air baku yang akan dijernihkan dalam ember sebanyak 100

liter;

Bila air baku tersebut ph nya rendah (asam), tuangkan kapur


(kantung bubuk putih) terlebih dahulu agar ph air tersebut menjadi
netral (pH=7). bila ph air baku sudah netral tidak perlu digunakan
lagi kapur;

11

Tuangkan larutan pac (kantung a) kedalam ember yang berisi air lalu
aduk perlahan lahan selama 5 menit sampai larutan tersebut merata;

Setelah diaduk merata biarkan selama 5 10 menit sampai terbentuk


gumpalan/flok flok dari kotoran/lumpur dan mengendap. pisahkan air
yang jernih dari endapan atau gunakan selang plastik untuk
mendapatkan air bersih yang siap digunakan;

Bila akan digunakan sebagai air minm agar terlebih dahulu direbus
sampai mendidih atau di desinfeksi dengan aquatabs.

2. Pengadaan perumahan bagi korban bencana


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum
Dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Wilayah Dan
Kehidupan Masyarakat Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada pasal 12
ayat 2 menyatakan Pengadaan tanah untuk relokasi perumahan korban bencana
gempa bumi dan tsunami dilakukan melalui tata cara dan mekanisme
musyawarah bersama antara masyarakat, pemerintah daerah, Badan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi, serta instansi terkait lainnya di daerah.
F. Penyusunan Rencana Kegiatan Pengendalian Penyakit Menular
1. Strategi pengendalian penyakit menular utama
Strategi dalam rangka menurunkan risiko munculnya KLB penyakit menular
akibat gelombang tsunami antara lain:
a. Surveilans penyakit menular dan faktor risiko lingkungan
b. Penyuluhan
c. Pemeriksaan kimia dan mikroorganisme air dan kaporisasi
d. Fogging focus dengan penyemprotan terhadap serangga (lalat dan nyamuk).
e. Desinfeksi pada bekas tempat penimbunan sementara jenazah sebelum
dimakamkan.
f. Desinfeksi pada sarana pembuangan kotoran
g. Perbaikan kualitas air dan kaporisasi
h. Perbaikan pembuangan sampah dengan membagikan kantong sampah

12

i. Peningkatan kampanye campak pada kelompok rentan bersama NGO yang


diintegrasikan dengan kampanye program gizi.
j. Imunisasi balita, terutama untuk pencegahan campak
k. Pemantapan sistem survailans pasca bencana, pemberantasan penyakit
potensial wabah (diare, ISPA, Campak, Malaria, DBD) dan dapat diteruskan
terhadap penyakit menular lain, seperti TB Paru, PSM, dan lain-lain. Serta
survey epidemiologi faktor risiko bersama WHO dan NGO. penyakit
menular potensial wabah.
G. Penyusunan Rencana Kegiatan Manajemen Korban Luka/Cedera
1. Pentahapan medical care
Menggunakan modul aplikasi EMCIS. Setelah terjadi bencana, bantuan
medis merupakan bantuan yang sangat penting mengingat banyaknya korban
yang

akhirnya

meninggal

akibat

terlambat

mendapatkan

pertolongan.

Mengambil pengalaman dari kejadian gempa besar di dunia, fakta menunjukkan,


sekitar 80 persen dari korban meninggal dunia pada 7 jam pertama setelah
gempa terjadi.
Sayangnya, bantuan medis sering kali sulit didatangkan karena kerusakan
infrastruktur ke daerah yang terkena bencana. Kalaupun bantuan medis dapat
didatangkan, jumlah petugas yang dapat dikirim juga terbatas. Padahal, banyak
korban yang terluka parah biasanya membutuhkan perawatan yang lebih intensif
sehingga perlu dikirim ke rumah sakit terdekat.
Dengan keterbatasan infrastruktur transportasi, hal ini tentu saja sulit
untuk dilakukan. Di sinilah arti penting dari aplikasi EMCIS. Sebab, aplikasi itu
mampu melakukan fungsi telemedicine, telediagnostic, teleconsultation.
Penerapan telemedicine, telediagnostic, dan teleconsultation memungkinkan
pelayanan kesehatan korban bencana dilakukan di tempat kejadian tanpa harus
segera dibawa ke rumah sakit. Fungsi utama aplikasi itu adalah memudahkan
diagnosis, perawatan, pengawasan, dan akses terhadap tenaga ahli dan informasi
pasien tanpa tergantung pada keterbatasan jarak atau lingkungan.

13

H. Penyusunan

Rencana

Kegiatan

Pengorganisasian

Fasilitas

Pelayanan

Kesehatan
1. Pembentukan fasilitas medic
Bencana tsunami di Aceh telah merusak infrastruktur publik, ekonomi dan
sosial, seperti sekolah, gedung-gedung pemerintah dan pusat layanan kesehatan.
penyedia pelayanan kesehatan yang rusak diterjang tsunami yaitu Dinas
Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas, Polindes, Posyandu, Gudang Farmasi,
Balai Pengawasan Obat dan Makanan dan Badan Koordinasi Keluarga
Berencana, serta Pelayanan Swasta dan LSM. Karena pentingnya fasilitas medis
maka Pasca Tsunami fasiltias kesehatan di Aceh harus direnovasi dan dibangun
kembali dengan bantuan pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat yang
bekerja di Aceh.
I. Penyusunan Rencana Kegiatan Penerapan Epidemiologi Pada Keadaan
Darurat
Program
Kegiatan
Pencegahan dan pemberantasan Pengamatan dan penyelidikan penyakit (Surveilans)
Penyakit

sebagai data dasar untuk mengetahui penyakit yang


terjadi setelah pasca bencana tsunami dan tindakan
yang harus dilakukan.

14

J. Penyusunan Rencana Kegiatan Bidang Kesehatan Lingkungan Berdasarkan


Tahapan Bencana Tsunami
1.

Fase sebelum bencana

a. Pencegahan (preventiv)
Tidakan yang di rancang untuk menghalagi/merintangi kejadian suatu pristiwa
bencana atau pencegah kejadian.(cater,1992) Cara yang efektif adalah dengan
melatih

penduduk

dalam

menghadapi

tsunami

dan

menghindarkan

pembangunan konstruksi di daerah yang sering diserang tsunami.


Berikut ini tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko bencana
tsunami:
1) Membuat sistem peringatan dini.
2) masyarakat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tsunami, misalnya
tanda-tanda kedatangan tsunami dan cara-cara penyelamatan diri, sehingga
masyarakat siap dan tanggap apabila suatu saat tsunami datang secara tibatiba.
3) Membuat jalan atau lintasan untuk menyelamatkan diri dari tsunami.
4) Menanami daerah pantai dengan tanaman yang secara efektif dapat
menyerap energi gelombang (misalnya mangrove)
5) Membiarkan lapangan terbuka untuk menyerap energi tsunami.
6) Membuat dike ataupun breakwater di daerah yang memungkinkan (Anonim,
piba.tdmrc.org, 2010).
b. Penjinakan (mitigasi)
Tindakan tidakan yang di gunakan untuk mengurangi penderitaan manusia dan
kerugian apabila terjadi bencana. Mitigasi ini merupakan kegiatan kegiatan
perlindungan seperti membangun bangunan-banguan yang tahan gempa pada
daerah rawan gempa atau tsunami.(cater,1992)
Untuk mengurangi dan meredam timbulnya korban dan kerugian harta benda
akibat proses geologi yang tidak berhenti tersebut, perlu dilakukan mitigasi.
Upaya mitigasi itu antara lain menyiapkan data dan informasi daerah rawan
gempa dan tsunami, pemerintah menata daerah rentan tinggi dengan menata
ulang lokasi, menyosialisasi pemahaman dan bencana gempa dan tsunami,
masyarakat perlu menyadari bahwa mereka bertempat tingal di derah rentan

15

bencana, memehami aktivitas apa yang harus dihindarkan sesuai dengan sifat
serta jenis bencana tersebut, dan mengetahui cara menyelamatkan diri,
Aceh merupakan daratan yang datar dengan tanah alluvial yang terbentuk karena
endapan. Derah yang datar menjadikannya ideal unuk dijadikannya ibu kota
karena daerah datar sangat baik untuk dibangun dan diakses diwilayah lain
cenderung terbuka. Namun, Banda Aceh juga rawan bencana. Selain itu,
menurut Deny, Aceh diapit dua patahan. Kedua daerah patahan lebih tinggi dari
Aceh. Sehingga menjadi faktor penyebab wilayah ini rawan gempa dan rawan
tsunami karena terdapat pantai.
Dengan demikian, apabila Aceh dibangun kembali seharusnya dirancang sebagai
kota yang multi bahaya. Perencanaan kota harus dirancang sebagai alat mitigasi
atau alat memperkecil dampak bencana. Tata ruang yang baik membentu
memperkecil jumlah korban saat bencana terjadi dimasa mendatang.
1) Kontruksi tahan gempa
Bilamana melihat ke negara Jepang yang sering dilanda gempa, fondasi
rumah penduduknya disesuaikan dengan kondisi alam sekitarnya. Pada
umumnya rumah-rumah disana terdiri dari bahan kayu dan kertas. Bentuj
mejanya dibuat rendah sampai mendekati lantai sehingga tidak memerlukan
kursi. Lemarinya pun kebanyakan menyatu dengan dinding dengan penutup
yang dapat digeser. Penerapan desain rumah serta isinya tersebut dibentuk
sedemikian rupa agar bila terjadi gempa, baik bahan bangunan maupun
furniturnya sedapat mungkin tidak mencederai penghuni rumah.
Indonesia pun sebenernya merupakan negara dengan berbagai intensitas
genpa menengah sampai tinggi sehingga rancangan bangunan sepatutnya
memperhitungkan kemunginan itu. Menurut Dr. Ir Iwayan Sengara, dosen
Departemen Teknik Sipil ITB, sebenarnya ada peraturan yang membahas
rancang bangun tahan gempa. Rancangan bangun sesuai ketentuan yang
dirumuskan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Peraturan
Bangunan Tahan Gempa yang ditetapkan tahun 2002. Namun, peraturan ini
relative baru sehngga sosialisasinya masih terbatas.

2) Penggalakkan penanaman Bakau

16

Daerah yang mengalami bencana terbesar dari tsunami adalah Banda Aceh,
Lhok Nga, dan Meulabboh. Bencana tersebut selain diakibatkan oleh
tingginya gelombang tsunami, juga di perparah oleh tata ruang yang kurang
ramah bencana dan rusaknya lingkungan. Rumah dibangun dekat pantai.
Tidak ada sabuk hijau (green belt). Mangrove hanya tinggal sedikit yang
hanya tumbuh di beberapa tempat. Selain itu, ada beberapa fakta-fakta
mengenai keadaan gelombang pasang yang menghantam Aceh. Pertama,
gelombang tsunami akan semakin jauh masuk ke daratan jika kondisi pesisir
miskin mangrove.
Hutan bakau memiliki perlindungan dan pengamanan kawasan pesisir yang
sangat baik. Setiap gelombang pasang yang dating mampu diredakan melalui
hutan yang lebat. Manfaat utama hutan mangrove di kawasan pesisir dan
estuaria adalah untuk mencegah erosi, penahan ombak, penahan angin,
perangkap sedimen dan penahan intrusi air asin dari laut. Sistem
perakarannya dapat berperan sebagai perangkap sediment dan pemecah
gelombang. Hal ini dapat terjadi apabila didukung oleh formasi hutan
mangrove yang belum terganggu atau kondisinya masih alami. Kerapatan
hutan mangrove yang cenderung menurun maka fungsinya sebagai peredam
gelombang juga akan cenderung menurun (Tjardhana dan Purwanto, 1995).
c. Kesiapsiagaan (preparedness)
Kesiapsiagaan

adalah

serangkaian

kegiatan

yang

dilakukan

untuk

mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang


tepat guna dan berdaya guna. Tujuannya adalah untuk mengurangi dampak
negatif dari bencana. Kesiapsiagaan bencana merupakan proses dari penilaian,
perencanaan dan pelatihan untuk mempersiapkan sebuah rencana tindakan yang
terkoordinasi dengan baik (UU RI No 24 Tahun 2007)
Kesiapsiagaan bencana mencakup langkah-langkah untuk memprediksi,
mencegah dan merespon terhadap bencana. Koordinasi lintas sektoral diperlukan
untuk mencapai tujuan-tujuan berikut seperti yang telah disebutkan oleh LIPIUNESCO/ISDR (2006), bahwa ruang lingkup kesiapsiagaan dikelompokkan
kedalam empat parameter yaitu pengetahuan dan sikap (knowledge and attitude),

17

perencanaan kedaruratan (emergency planning), sistem peringatan (warning


system), dan mobilisasi sumber daya. Pengetahuan lebih banyak untuk
mengukur pengetahuan dasar mengenai bencana alam seperti ciri-ciri, gejala dan
penyebabnya. Perencanaan kedaruratan lebih ingin mengetahui mengenai
tindakan apa yang telah dipersiapkan menghadapi bencana alam. Sistem
peringatan adalah usaha apa yang terdapat di pemerintahan/masyarakat dalam
mencegah terjadinya korban akibat bencana dengan cara tanda-tanda peringatan
yang ada. Sedangkan mobilisasi sumber daya lebih kepada potensi dan
peningkatan sumber daya di pemerintahan/masyarakat seperti keterampilanketerampilan yang diikuti, dana dan lainnya.
Menurut Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008, kesiapsiagaan
dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna
menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda dan berubahnya tata
kehidupan masyarakat. Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada saat bencana mulai
teridentifikasi akan terjadi, kegiatan yang dilakukan antara lain:
1) Pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsur pendukungnya.
2) Pelatihan siaga / simulasi / gladi / teknis bagi setiap sektor, penanggulangan
bencana (SAR, sosial, kesehatan, prasarana dan pekerjaan umum).
3) Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan
4) Penyiapan dukungan dan mobilisasi sumberdaya/logistik.
5) Penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu guna
mendukung tugas kebencanaan.
6) Penyiapan dan pemasangan instrumen sistem peringatan dini (early
warning).
7) Penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan).
8) Mobilisasi sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan).
d. Parameter Kesiapsiagaan Rumah Tangga Menghadapi Resiko Bencana
Tsunami
Menurut LIPI-UNESCO/ISDR (2006), terdapat 5 (lima) faktor kritis yang
disepakati sebagai parameter untuk mengukur kesiapsiagaan individu dan rumah

18

tangga untuk mengantisipasi bencana alam dalam hal ini khususnya tsunami,
adalah sebagai berikut:
1) Pengetahuan dan sikap terhadap risiko bencana
Pengetahuan merupakan faktor utama kunci kesiapsiagaan. Pengetahuan
yang harus dimiliki individu dan rumah tangga mengenai bencana tsunami
yaitu pemahaman tentang bencana tsunami dan pemahaman tentang
kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut, meliputi pemahaman mengenai
tindakan penyelamatan diri yang tepat saat terjadi tsunami serta tindakan dan
peralatan yang perlu disiapkan sebelum terjadi tsunami, demikian juga sikap
dan kepedulian terhadap risiko bencana tsunami. Pengetahuan yang dimiliki
biasanya dapat memengaruhi sikap dan kepedulian individu dan rumah
tangga untuk siap dan siaga dalam mengantisipasi bencana, terutama bagi
yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana.
2) Kebijakan atau panduan keluarga untuk kesiapsiagaan
Kebijakan untuk kesiapsiagaan bencana tsunami sangat penting dan
merupakan upaya konkrit untuk melaksanakan kegiatan siaga bencana.
Kebijakan yang signifikan berpengaruh terhadap kesiapsiagaan rumah
tangga. Kebijakan yang diperlukan untuk kesiapsiagaan rumah tangga
berupa kesepakatan keluarga dalam hal menghadapi bencana tsunami, yakni
adanya diskusi keluarga mengenai sikap dan tindakan penyelamatan diri
yang tepat saat terjadi tsunami, dan tindakan serta peralatan yang perlu
disiapkan sebelum terjadi tsunami.
e. Rencana tanggap darurat
Rencana tanggap darurat menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan, terutama
berkaitan dengan pertolongan dan penyelamatan, agar korban bencana dapat
diminimalkan. Upaya ini sangat krusial, terutama pada saat terjadi bencana dan
hari-hari pertama setelah bencana sebelum bantuan dari pemerintah dan dari
pihak luar datang. Rencana tanggap darurat meliputi 7 (tujuh) komponen, yaitu:

19

1) Rencana keluarga untuk merespons keadaan darurat, yakni adanya rencana


penyelamatan keluarga dan setiap anggota keluarga mengetahui apa yang
harus dilakukan saat kondisi darurat (tsunami) terjadi.
2) Rencana evakuasi, yakni adanya rencana keluarga mengenai jalur aman yang
dapat dilewati saat kondisi darurat, adanya kesepakatan keluarga mengenai
tempat berkumpul jika terpisah saat terjadi tsunami, dan adanya
keluarga/kerabat/teman, yang memberikan tempat pengungsian sementara
saat kondisi darurat.
3) Pertolongan pertama, penyelamatan, keselamatan dan keamanan, meliputi
tersedianya kotak P3K atau obat-obatan penting lainnya untuk pertolongan
pertama keluarga, adanya anggota keluarga yang mengikuti pelatihan
pertolongan pertama, dan adanya akses untuk merespon keadaan darurat.
4) Pemenuhan kebutuhan dasar, meliputi tersedianya kebutuhan dasar untuk
keadaan darurat (makanan siap saji dan minuman dalam kemasan),
tersedianya alat/akses komunikasi alternatif keluarga (HP/radio), tersedianya
alat penerangan alternatif untuk keluarga pada saat darurat (senter dan
baterai cadangan/lampu/jenset).
5) Peralatan dan perlengkapan siaga bencana
6) Fasilitas-fasilitas penting yang memiliki akses dengan bencana seperti
tersedianya nomor telepon rumah sakit, polisi, pemadam kebakaran, PAM,
PLN, Telkom.
7) Latihan dan simulasi kesiapsiagaan bencana
f. Sistim peringatan bencana
Sistem peringatan bencana meliputi tanda peringatan dan distribusi informasi
akan terjadi bencana. Dengan adanya peringatan bencana, keluarga dapat
melakukan tindakan yang tepat untuk mengurangi korban jiwa, harta benda dan
kerusakan lingkungan. Untuk itu diperlukan latihan dan simulasi tentang
tindakan yang harus dilakukan apabila mendengar peringatan dan cara
menyelamatkan diri dalam waktu tertentu, sesuai dengan lokasi tempat keluarga
berada saat terjadinya peringatan. Sistem peringatan bencana untuk keluarga
berupa tersedianya sumber informasi

20

untuk peringatan bencana baik dari sumber tradisional maupun lokal, dan
adanya akses untuk mendapatkan informasi peringatan bencana. Peringatan dini
meliputi informasi yang tepat waktu dan efektif melalui kelembagaan yang jelas
sehingga memungkinkan setiap individu dan rumah tangga yang terancam
bahaya dapat mengambil langkah untuk menghindari atau mengurangi resiko
serta mempersiapkan diri untuk melakukan upaya tanggap darurat yang efektif.
g. Mobilisasi sumber daya
Sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia maupun pendanaan dan
sarana/prasarana penting untuk keadaan darurat merupakan potensi yang dapat
mendukung atau sebaliknya menjadi kendala dalam kesiapsiagaan bencana
alam. Karena itu, mobilisasi sumber daya menjadi faktor yang krusial.
Mobilisasi sumber daya keluarga meliputi adanya anggota keluarga yang terlibat
dalam pertemuan/seminar/pelatihan kesiapsiagaan bencana, adanya keterampilan
yang berkaitan dengan kesiapsiagaan, adanya alokasi dana atau tabungan
keluarga untuk menghadapi bencana, serta adanya kesepakatan keluarga untuk
memantau peralatan dan perlengkapan siaga bencana secara reguler.
2. Fase saat bencana.
Disaster impact adalah proses pengkajian dampak dari suatu bencana pada suatu
masyarakat, yaitu baik berupa korban manusia, harta, dan fasilitas lainnya.
(UNDP, 1992)
Berdasarkan data pemantauan awal yang telah dilakukan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup (KLH), tingkat kerusakan akibat bencana dan dampak
lingkungan yang terjadi antara lain adalah :
a. Kerusakan Ekosistem
Gempa dan Tsunami telah mengakibatkan kerusakan yang luar biasa pada
sebagaian besar wilayah pantai Nanggroe Aceh Darussalam dan Pulau Nias,
Sumatera Utara.
Kerusakan pada wilayah pantai tersebut adalah sebgai berikut:
1) Pencemaran laut, air daratan dan tanah akan menyebabkan terbatasnya
sumber daya air serta berdampak terhadap kesehatan masyarakat

21

2) Perubahan Garis Pantai


3) Pencemaran dan perusakan Terumbu Karang dan Mangrove
4) Berkurangnya/hilangnya sumber daya Ikan dan spesies pesisir (potensi
biodiversity)
5) Rusaknya ekosistem lahan basah
6) Rusaknya ekosistem buatan (Budidaya, pelabuhan dan kampung nelayan)
yang memberikan dampak signifikan bagi kegiatan perekonomian
b. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Akibat Gempa dan Tsunami
1) Pencemaran Air, terdiri dari :
a) Pencemaran air permukaan, tanah, dan air tanah akibat kerusakan
infrastruktur pendukung pengelolaan lingkungan seperti septik tank,
saluran air kotor, dan tangki penimbunan bahan-bahan yang
mengandung B3 akibat gempa dan tsunami menyebabkan terlepasnya
material-material yang ada ke lingkungan. Pada beberapa lokasi
secara jelas terlihat adanya pencemaran minyak.
b) Pencemaran air permukaan akibat penumpukan mayat manusia dan
hewan disepanjang sungai. Tingkat pencemarannya juga diperparah
oleh run off air hujan yang telah terkontaminasi oleh lumpur, sampah,
mayat, dan bangkai hewan yang masih tertahan di bangunan yang
rusak sementara sistem drainase tidak berfungsi lagi karena rusak
berat.
c) Pencemaran berbentuk genangan-genangan sisa air yang dibawa oleh
gelombang Tsunami di wilayah rendah dan daerah persawahan. Air
genangan baru ini dapat menimbulkan permasalahan karena telah
terkontaminasi oleh berbagai bahan berbahaya baik kimiawi maupun
infeksius. Pada daerah tertentu air tersebut terlihat berwarna hitam.
d) Pencemaran air tawar oleh air laut.
e) Pencemaran air tanah dan permukaan (termasuk air tergenang) akibat
kontaminasi mikroorganisma pathogen/infeksius, mayat manusia dan
bangkai hewan, dan bahan-bahan berbahaya. Dengan rusaknya
infrastruktur distribusi air minum maka sebagian masyarakat dan

22

rumah sakit menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari


(mandi dan cuci). Dampak pencemaran lingkungan akan semakin
diperparah apabila sanitasi lingkungan di lokasi pengungsian tidak
dilakukan dengan baik. Sekarang ini sanitasi di pengungsian masih
sangat buruk.
2) Pencemaran Limbah Padat, gelombang Tsunami yang diperkirakan
setinggi lebih dari 20 meter juga menghancurkan daerah perumahan,
pertokoan, industri, rumah sakit, klinik, dan sarana transportasi. Bahanbahan yang berada dalam perumahan, pertokoan, industri, dan sarana
transportasi ini, beserta berbagai material dari laut, dan lumpur sungai
terbawa ke daerah perkotaan seperti Banda Aceh. Namun arus balik
Tsunami tidak membawa semua bahan-bahan tersebut ke laut. Setelah air
surut sebagian besar bahan-bahan tersebut tertinggal dalam jumlah yang
sangat besar di jalan-jalan, perumahan, reruntuhan bangunan, lapangan,
dan

persawahan.

sampahsampah

Disamping

tersebut

juga

mengandung
kemungkinan

sampah

infeksius,

mengandung

bahan

berbahaya dan beracun. (Kementerian Lingkungan Hidup 18 Januari


2005)
3) Pencemaran

Udara,

ditimbulkan

oleh

bau

dan

penyebaran

mikroorganisme pathogen melalui udara dari limbah lumpur, puingpuing reruntuhan, peralatan rumah tangga, sarana transportasi, bahan
bakar, mayat manusia, bangkai binatang, kotoran manusia, dan limbah
infeksius lainnya dari rumah sakit dan klinik.
4) Pencemaran dan perusakan Terumbu Karang dan Mangrove,
Gelombang Tsunami juga menyebabkan terjadi kerusakan terumbu
karang, pesisir pantai dan mangrove. Dengan besarnya energi yang
dikeluarkan oleh gelombang Tsunami tersebut maka terjadinya
perubahan garis pantai di Sepanjang Pantai Barat Sumatera terutama di
NAD bagian Barat dan Utara. Arus balik dari Tsunami ke laut juga

23

membawa sebagian besar lumpur, sampah, dan berbagai jenis limbah


lainnya ke daerah pesisir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran di daerah pesisir.
3. Fase setelah bencana
a. Pengelolaan Lingkungan Pasca Tsunami
Untuk menanggulangan dampak lingkungan akibat Tsunami, dan dari
kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi ini maka pada setiap tahapan perlu
dilakukan penerapan prinsip- prinsip pembangunan berkelanjutan. Tujuan
utama pengelolaan lingkungan pasca Tsunami adalah untuk melindungi
kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.
Kebijakan umum dalam pengelolaan lingkungan pasca Tsunami yang harus
diperhatikan selama tahap Rescue, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi adalah
sebagai berikut:
1) Tahapan Rescue
a) Dalam pelaksanaan rescue harus mencegah terjadinya pencemaran
dan perusakan lebih lanjut,
b) Mencegah dampak lingkungan bahan-bahan berbahaya dan beracun
kepada kesehatan para petugas, sukarelawan, masyarakat lainnya,
c) Selama berada dikawasan yang terkena dampak disarankan untuk
melindungi tubuh antara lain dengan menggunakan masker,
d) Para petugas dan sukarelawan yang melakukan kegiatan pembersihan
harus melakukan proses dekontaminasi sebelum melakukan kegiatan
lainnya untuk mencegah pihak-pihak lain terkontaminasi,
e) Apabila ingin melakukan pembakaran sampah Tsunami maka tidak
dilakukan dengan pembakaran terbuka (open burning), pembakaran
dilakukan dengan menggunakan insenerator yang memenuhi
persyaratan,
f) Perlu dilakukan pencegahan perpindahan bahan kotaminasi melalui
kegiatan transportasi,
g) Pembangunan tempat penampungan sementara perlu menggunakan
teknologi ramah lingkungan (misalnya; penggunaan WC yang bisa

24

dimanfaatkan

biogas,

pengelolaan

sampah

dengan

sistem

composting, tidak menggunakan air tanah yang tercemar, penggunaan


peralatan penjernih air, dan pemanfaatan solar cell, ruangan hemat
energi),
h) Pembuangan sampah akhir dilakukan ditempat yang sesuai dengan
kriteria (bebas banjir, jauh dari sumber air, jauh dari perumahan, dan
daerah clay)
2) Tahapan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
a) Perlu disegera dibuat penataan ruang kawasan yang berwawasan
lingkungan,
b) Mempertimbangkan budaya dan kearifan lokal dalam penataan ruang
kawasan,
c) Tidak melakukan perusakan lingkungan lebih lanjut seperti
penebangan hutan di Kawasan Konservasi dengan alasan demi
kepentingan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Tsunami,
d) Pengelolaan kawasan yang berwawasan lingkungan, termasuk
melakukan pembuangan sampah akhir ditempat yang sesuai dengan
kriteria (bebas banjir, jauh dari sumber air, jauh dari perumahan, dan
daerah clay) dan dengan teknologi yang sesuai,
e) Perlu dilakukan clean up dan rehabilitasi lingkungan yang telah rusak
akibat Tsunami maupun akibat dari kegiatan rescue dan tanggap
darurat.
b. Tujuan jangka pendek dan menengah kegiatan ini adalah sebagai
berikut:
1) Jangka Pendek
a) Menentukan status pencemaran dan kerusakan lingkungan awal di
lokasi yang mengalami gempa dan tsunami parah,
b) Menyediakan data dan informasi lingkungan yang terkait dengan
kegiatan tanggap darurat,

25

c) Mendorong penerapan pengelolaan kegiatan tanggap darurat yang


ramah lingkungan, termasuk dalam pembangunan temporary shelter
dan penimbunan limbah padat,
d) Mendorong pemulihan kelembagaan lingkungan di Provinsi dan
Kabupaten/Kota.
2) Jangka Menengah
a) Membangunan kembali daerah gempa yang ramah lingkungan melalui
penataan ruang dengan berbasiskan prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan,
b) Memulihkan lingkungan yang tercemar dan rusak.

26