Anda di halaman 1dari 12

Apakah tarian lagu daerah, corak kain tenun atau batik yang tidak diketahui

penciptanya namun dikenal oleh khalayak ramai dapat dikategorikan sebagai


public domain?

Ya, karena dalam peraturan Hak Kekayaan Intelektual khususnya mengenai


budaya daerah sudah diatur dalam Undang-Undang nomor 19 tahun 2002 tentang
Hak Cipta pada pasal 10 ayat (2) tertulis bahwa:
Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang
menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu,
kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya.
Folklor merupakan bagian dari pengetahuan tradisional. Pengetahuan
tradisional dapat diartikan sebagai, Pengetahuan yang merujuk pada pengetahuan,
inovasi, dan praktik dari masyarakat asli dan lokal dari seluruh dunia. Dikembangkan
dari pengalaman melalui negara-negara dan diadaptasi ke budaya lokal dan
lingkungan, pengetahuan tradisional ditransmisikan secara lisan dari generasi ke
generasi. Hal itu menjadi kepemilikan secara kolektif dan mengambil bentuk folklor,
peribahasa, nilai-nilai budaya, keyakinan, ritual, hukum masyarakat, serta bahasa
daerah.1
Menurut Arif Syamsuddin pengeahuan tradisional dalam bentuk folklor
mencakup, musik tradisional, narasi dan literatur tradisional, seni tradisional,
kerajinan tradisional, simbol/nama/istilah tradisional, pertunjukkan tradisional, seni
arsitektur tradisional, danlain-lain. Contoh ekspresi budaya tradisional
dikelompokkan menjadi ekspresi verbal: berpantun, berpuisi, kata/tanda/simbol,
ekspresi musik: instrumen musik, pelantunan lagu, ekspresi gerakan: tari-tarian,
bentuk permainan, upacara ritual, sesaji, ekspresi bentuk nyata: produksi seni
tradisional (menggambar,memahat patung, kerajinan kayu, kerajinan logam,
perhiasan, karpet tradisional, alat-alat musik tradisional, bangunan arsitektur
tradisional).

Budi Agus Riswandi, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum,


(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004). Hlm. 27-28.

Wujud atau ekspresi kebudayaan tradisional/folklor merupakan tradisi yang


dipelihara, dipertahankan dan dikembangkan secara turun temurun dari generasi ke
generasi kehidupan komunitas masyarakat adat atau komunitas budaya lokal di seluruh
kepulauan Indonesia untuk kesejahteraan hidupnya pada akhirnya menjadi identitas
budaya nasional. Dengan demikian ekspresi budaya tradisional/folklor Indonesia dapat
diartikan sebagai keseluruhan sistem yang merupakan ungkapan ide, gagasan,
tindakan dan hasil karya manusia sebagai ungkapan tradisi turun temurun dalam
masyarakat.
Dasar hukum perlindungan terhadap EBT Indonesia sebagaimana terlihat
dalam Pasal 32 dan Penjelasan Undang-Undang Dasar NRI 1945 dan Pasal 28C ayat
(1,2), Pasal 28 I, ayat (3) UUD NRI 1945 sekaligus menjadi landasan konstitusional
perlindungan EBT Indonesia. Landasan operasional politik hukum perlindungan
terhadap EBT terdapat di dalam Pasal 10 UU Hak Cipta Tahun 1982, 1986 dan 2002
1) Prinsip Pendekatan Perlindungan Sui Generis
Belum terakomodasinya perlindungan hukum yang komprehensif terhadap
karya-karya EBT di beberapa peraturan hukum kekayaan intelektual Indonesia maupun
peraturannya lainnya membawa dampak terhadap munculnya kasus-kasus dan klaim
kepemilikan dan pemanfaatan secara komersial terhadap karya-karya cipta ataupun
temuan EBT Indonesia oleh pihak-pihak di luar komunitas masyarakat adat ataupun
oleh pihak asing yang semakin banyak dan tidak terselesaikan secara tuntas.
Menyadari hal tersebut pemerintah perlu menyiapkan kebijakan hukum
mengenai perlindungan EBT melalui peraturan hukum kekayaan intelektual suigeneris[6], artinya pendekatan perlindungan yang mengenalkan konsep hak baru
terhadap kepemilikan EBT yang selama ini dianggap public domain dengan
mendasarkan pada prinsip-prinsip sistem hukum kekayaan intelektual secara
tersendiri. Ada
beberapa
alasan
mengapa
pendekatan
perlindungan sui
generisdiperlukan dalam memberikan perlindungan terhadap EBT Indonesia yaitu :
Pertama, selama ini perlindungan EBT dengan mendasarkan pada prinsipprinsip yang ada dalam hukum kekayaan intelektual yang sekarang ini eksis di
Indonesia secara substantif ketentuan-ketentuan di dalam hukum kekayaan intelektual
(cipta, paten, merek, desain industri, rahasia dagang dan varitas tanaman ) kurang
mampu melindungi secara utuh terhadap EBT, hal ini disebabkan karena ada perbedaan
karakteristik hak kekayaan intelektual dan ekspresi budaya tradisional.
Walaupun sama-sama bersumber pada kreativitas intelektual manusia akan
tetetapi antara HKI dan EBT selebihnya terdapat perbedaan dalam karakternya. HKI
bentuk gagasan harus diwujudkan dalam bentuk ekspresi yang nyata (in material
form) bisa dilihat dan didengar, tetapi kalau dalam EBT bentuk gagasan bisa berwujud (
ekspresi nyata), atau tidak berwujud (bisa dalam bentuk ekspresi verbal/oral, ekspresi
gerak ataupun ekspresi bunyi . Gagasan dalam HKI berbentuk karya cipta (works)
dalam seni dan ilmu pengetahuan, desain, merek, temuan tehnologi dan species sebagai
karya atau temuan yang baru (novelty) dan tidak sama dengan pengungkapan

sebelumnya (originality), sedangkan dalam EBT hasil gagasan dalam bentuk karya cipta
seni dan pengetahuan serta teknik tertentu yang berakar tradisi turun temurun.
Pencipta dalam HKI teridentifikasi dengan jelas yaitu individu ataupun
korporasi dan orientasi unruk menghasilkan ciptaan lebih mengarah pada motif
ekonomi daripada sekedar ekspresi dari pencipta atau penemu. Hasil ciptaannya
dikonstruksikan sebagai benda yang dikategorikan sebagai benda tak berwujud sehingga
bisa menjadi obyek hak kekayaan. Hal ini berbeda dalam EBT, identifikasi pencipta
aslinya tidak diketahui, komunitas masyarakat tradisional/lokal mencipta karya EBT
secara turun temurun lintas generasi ataupun individu yang mempunyai kewenangan
berdasarkan tradisi dan orientasi untuk menghasilkan ciptaan untuk meneruskan tradisi
baik yang menyangkut kepentingan budaya dan keagamaan. Hasil ciptaan
dikonstruksikan sebagai warisan budaya dari generasi sebelumnya bukan untuk dimiliki
tetapi dijadikan identitas komunitas masyarakat yang selama mempertahankan dan
memelihara EBT.
Adanya perbedaan karakter antara HKI dan EBT menyebabkan persyaratan
substantif untuk mendapat perlindungan melalui ketentuan hukum kekayaan intelektual
tidak terpenuhi. Pemberian perlindungan dengan pendekatan hukum kekayaan
intelektual sui generis diharapkan lebih sesuai dengan karakteristik EBT, sehingga lebih
mampu memberikan perlindungan terhadap EBT secara utuh.
Kedua, prinsip-prinsip perlindungan hak kekayaan intelektual yang
mendasarkan pada ketentuan-ketentuan hukum kekayaan intelektual yang sekarang ini
eksis di Indonesia merupakan prinsip-prinsip hukum perlindungan HKI mengadopsi
paham individualis dan monolistis. Paham mendasarkan filosofi perlindungan HKI
pada konsep natural rights Jhon
Locke.
Konsepnatural
rights atau
hak
alamiah, dijadikan argumen moral bahwa orang yang mampu melahirkan karya-karya
intelektualnya, mereka secara alami, serta dengan sendirinya akan memiliki hak alamiah
yang melekat secara inheren atas karya-karya yang diciptakan. Disamping itu argumen
moral juga mendasarkan teori Labour, bahwa lahirnya hak kekayaan intelektual pada
pencipta atau penemu karena seseorang telah menggunakan pemikirannya, kemudian
berkerja secara keras sehingga menghasilkan sesuatu karya yang tadinya tidak ada atau
kurang (scare), kemudian dengan proses labour maka menjadi sesuatu yang ada.
Karenanya memberikan reward dan melegetimasi perlindungan kepada orang yang
melahirkan karya intelektual tersebut.
Filosofi ini melahirkan doktrin moral kepemilikan eksklusif HKI yaituhak
individu pemilik kreativitas intelektual agar hak-haknya tidak diganggu oleh orang lain.
Dengan demikian jelas sekali bahwa perlindungan HKI mengadopsi gagasan yang
mengedepankan hak-hak individu atau dengan kata lain perlindungan HKI mengadopsi
paham individualis. Paham ini menerima sesorang itu memiliki harga perseorangan
yang kuat, kalau hendak dikatakan mutlak, seseorang atau individu diyakini memiliki
harga moral yang intrinsik/inheren. Berdasarkan keyakinan tersebut, maka paham
perseorangan mendorong otonomi seseorang dalam berpikir dan bertindak. Sebagai

konsekuensiya maka eksklusivitas diri sebagai invidu (individual privacy) mendapat


tempat dan diakui sebagai penting. Seseorang benar-benar otonom karena dilepaskan
dengan hubungan spesifik dengan orang lain. Tujuan yang ingin dicapai berpusat pada
pengembangan diri sendiri.[7]
Lebih jauh lagi filosofi prinsip-prinsip HKI berdasarkan argumen ekonomi
bahwa perlindungan karya intelektual bukan saja mendasarkan pada hak yang inheren,
melainkan lebih menekankan pada investasi yang berkaitan pada kepentingan
ekonomi karena individu telah mengorbankan tenaga, waktu, pikiran dan biaya demi
sebuah karya atau temuan yang berguna bagi kehidupan. Hak ekonomi adalah imbalan
yang pantas bagi pencipta ataupun penemu jika ia telah menciptakan dan metemukan.
Rasionalitas untuk melindungi modal investasi tersebut mesti dibarengi dengan
pemberian hak eksklusif terhadap individu yang bersangkutan agar menikmati secara
eksklusif hasil olehah pikirnya.
Kepemilikan ekskusifnya dapat membawa konsekuensi pemilik HKI mempunyai hak
monopoli dan hak untuk mengeksploitasi manfaat ekonomi dari hasil karya ataupun
temuannya sebesar-besarnya tanpa gangguan pihak lain selama masa perlindungan dan
menjadi pembatasannya hanyalah selama tidak melanggar hak dan merugikan orang lain.
Paham individualis dan monopolistis ini jelas berbeda dengan kosmologi masyarakat
Indonesia yang bercorak komunal. Sikap hidup masyarakat yang sangat diwarnai oleh
kebersamaan menjadikan masyarakat memandang warganya bukan orang sebagai individu,
melainkan kesatuan yang tidak terpisahkan dengan masyarakat. Setiap individu dalam
lingkungan kesatuannya bergerak dan berusaha sebagai pengabdian kepada seluruh
kesatuan. Terdapat kecenderungan untuk tidak memisahkan (separte out) seseorang dari
konteks
sosialnya, cara-cara
seseorang
bertindak
dalam
konteks
atau
keseluruhan.Sehingga menciptakan ataupun menemukan sesuatu merupakan hasil gerak dan
usaha individu, dan hasilnya yang berupa karya cipta ataupun temuan dapat dinikmati secara
kolektif (berbagi) seluruh anggota masyarakat dimana individu berada. Karya-karya
intelektual tersebut diciptakan oleh para kreator dan inventor bukan bertujuan untuk dimiliki
secara pribadi sebagai kekayaan, tetetapi semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhan
komunitas masyarakat dimana dia merupakan bagian komunitas masyarakat yang
bersangkutan.
Perlindungan EBT melalui prinsip-prinsip hukum kekayaan intelektual yang sekarang
ini eksis berlaku di Indonesia maupun secara internasional berarti memberikan perlindungan
EBT dengan tidak mendasarkan ide dasar, nilai-nilai, Norma yang bersumber dari masyarakat
Indonesia sendiri, sebab masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan nilai-nilai yang bercorak
komunal dan religius/spiritual. Hal ini berbeda dengan filosofi HKI yang tumbuh berkembang
di dalam masyarkat Eropa dan Amerika yang kemudian dikembangkan di dalam konvensikonvensi HKI internasional yang mengandung paham individualis dan monopolistis.

Prinsip-prinsip yang terdapat hukum kekayaan intelektual Indonesia


merupakan transplantasi (tranplantation) dari hukum asing baik melaluiwarisan hukum
kolonial Belanda serta merta menjadi hukum nasional ataupun transplantasi hukum

internasional (persetujuan TRIPs) ke dalam hukum nasional. Sehingga sistem hukum


kekayaan intelektual Indonesia menurut Tamanaha merupakan ketentuan hukum yang
dipaksakan dari luar Indonesia(imposed from out side), tidak berakar pada kehidupan
sosial (not peculiar of social life) kehidupan bangsa Indonesia. Membuat kebijakan
perlindungan EBT secara sui-generis berarti kebijakan perlindungan EBT tidak sematamata mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum kekayaan intelektual akan tetetapi juga
mendasarkan pada nilai-nilai ataupun ide dasar yang hidup dan mengakar di dalam
komunitas-komunitas penghasil kreatiftas intelektual bangsa Indonesia.
Ketiga, bagi Indonersia ataupun negara lainnya adopsi ataupun implementasi
terhadap hukum internasioal adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada era
globalisasi sekarang ini, Oleh karena itu interdependensi antar negara-negara di dunia
semakin kuat, bahkan tidak ada satu pun negara di dunia ini yang bisa melepaskan diri
dari hubungan saling ketergantungan dengan negara lain. Ketergantungan tidak hanya
menyangkut masalah ekonomi, teknologi maupun politik. Interdependensi yang erat
juga terjadi antara hukum nasional dan hukum internasional, sehingga hukum nasional
Indonesia juga mempunyai keterikatan yang kuat terhadap hukum internasioanl.
Keterikatan ini terutama terhadap hukum internasional masuk kategori hukum
internasional dengan karakter norma hard law, seperti halnya persetujuan
TRIPs, sehingga
sistem
hukum
kekayaan
intelektual
Indonesia
terikat
penuh (konsekuensi prinsip full complainment) dengan standart-standartnorma ataupun
prinsip-prinsip perlindungan HKI yang diatur secara terperinci dalam persetujuan
TRIPs dan kalau tidak ditaati akan memberikan dampak terhadap kemungkinan
mendapakan ancaman gugatan melalui DSB nya WTO atau tindakan unilateral dari
negara lain, sehingga tidak ada keleluasan untuk membuat ketentuan-ketentuan di luar
standart Norma persetujuaan TRIPs. Memberikan perlindungan terhadap EBT melalui
ketentukan hukum kekayaan intelektual sui generis diharapkan memberikan keleluasaan
untuk tidak harus terikat demgan standart norma maupun prinsip-prinsip perlindungan
HKI berdasarkan persetujuan TRIPs sekaligus menghindarkan dari ancaman gugatan
melalui DSB ataupun tindakan unilateral dari negara lain terutama dari negara-negara
maju tujuan ekspor.
2) Prinsip Perlindungan Terpadu
Prinsip perlindungan terpadu terhadap EBT perlu dilakukan, agar perlindungan
EBT diharapkan tidak hanya melindungi EBT nya saja, tetapi juga mencakup
perlindungan terhadap warisan budaya yang berkaitan dengan EBT tersebut. Pendekatan
ini juga memberikan perlindungan untuk kepentingan komunitas masyarakat yang
selama ini memelihara, mempertahankan dan mengembangkan EBT.
Memberikan perlindungan secara terpadu berarti menggunakan strategi
perlindungan terhadap EBT yang selama berkembang baik dalam trend perkembangan
global maupun yang dipraktekkan oleh negara-negara baik melalui penggabungan dua
pendekatan sekaligus yaitu strategi positive protection strategi dan defencive protection.
Strategi tersebut memberikan perlindungan EBT dengan tujuan untuk memperoleh

manfaat ekonomi dari penggunaan EBT secara komersial oleh pihak di luar komunitas.
Sekaligus mencegah penggunaan yang tidak dikehendaki yaitu penggunaan EBT secara
tidak pantas atau bahkan melecehkan. Strategi ini juga untuk mencegah agar EBT pada
khususnya tidak hilang atau punah. Tujuan defencive protectionuntuk menjaga keutuhan
nilai-nilai budaya yang hidup sembari tetap menjaga integritas dan keberadaan EBT
dapat diakses dan digunakan siapa saja dan dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Berdasarkan penelitian Peter Jazzi[8], mayoritas masyarakat menganggap isu
perlindungan HKI dan komersialisasi dari EBT Indonesia adalah kurang urgen
dibandingkan dengan resiko punahnya EBT. Hal ini disebabkan karena kurangnya
pengakuan dan perhatian pemerintah, serta tidak adanya upaya dokumentasi atas EBT
dan masyarakat pengembannya (kustodian). Komunitas tradisional sesungguhnya juga
tidak dapat menerima penyalahgunaan dan komersialisasi EBT mereka, akan tetapi
kedua hal ini bukan merupakan keprihatinan utama mereka. Keprihatinan utama mereka
adalah: Keberlanjutan budaya mereka; Keberadaan sistem yang dapat mempertahankan
dan mentransmisikan budaya mereka ke generasi selanjutnya; Keseimbangan antara
pemberian perlindungan pada budaya mereka dan pemberian akses pada tiap orang
untuk memanfaatkannya demi terciptanya kreativitas dan inovasi baru. Menurut
mereka, tujuan undang-undang baru untuk memberikan perlindungan EBT seharusnya
adalah untuk mengatur ketiga hal tersebut.
Penggunaan prinsip-prinsip perlindungan berdasarkan hukum kekayaan
intelektual bertujuan melindungan aspek moral dan aspek ekonomi EBT. Perlindungan
aspek moral EBT dalam rangka memberikan perlindungan dari tindakan distorsi,
muntilasi dan atribusi dari EBT yang yang dapat menyebabkan hilangnya kesucian
ataupu kesakralan karya EBT dan dapat menyebabkan komunitas masyarakat
pendukungnya terhina, dan terciderai. Perlindungan aspek ekonomi dalam rangka
memberi perlindungan hak ekonomi komunitas ketika EBT dimanfaatkan secara
komersial oleh pihak lain. Kebijakan memberikan perlindungan EBT berdasarkan
hukum kekayaan intelektual yang sekarang ini eksis harus dilakukan dengan pendekatan
prismatika hukum seperti dijelaskan walaupun secara substantif dan filosofis prinsipprinsip perlindungan berdasarkan hukum kekayaan intelektual tidak bisa diterapkan
secara komprehensif terhadap EBT (lihat uraian bab III disertasi ini ). Dengan
demikian penerapan prinsip-prinsip HKI harus dilakukan secara khusus (sui generis)
disesuaikan dengan karakteristik EBT itu sendiri maupun nilai-nilai/ide dasar yang
dianut sebagian besar masyarakat Indonesia tentang keberadaan kreatiftas intelektual
berbasis EBT.
Prinsip-prinsip pelestarian dan konservasi berdasarkan hukum warisan
budaya diterapkan dalam rangka memberikan perlindungan tentang keberadaan EBT
agar tetap hidup, dan tetap memberikan ruang untuk pengembangan antar generasi
secara alami. Pelestarian dan penyebaran identitas budaya dan sosial komunitas seperti
integritas, kepercayaan spiritual, nilai-nilai dan karakter komunitas mereka yang terus

berkembang. Pendekatan ini bertujuan agar keberadaan EBT tetap berkesinambungan


dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang masih tetap menikmati EBT.
Sebagaimana diketahui karya EBT mengajarkan tradisi, kearifan, nilai-nilai,
pengetahuan komunal yang dikemas dan diturunkan ke anak cucu melalui hikayat,
legenda, kesenian, upacara, yang berangsur-angsur membentuk norma sosial dan tata
hidup bangsa Indonesia. Punahnya EBT berarti hilangnya juga norma sosial dan tradisi
Indonesia yang dapat membawa implikasi sosial seperti munculnya ketegangan maupun
konflik-konflik sosial yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia.[9]
Pendekatan dengan menggunakan prinsip-prinsip perlindungan HAM bertujuan
melindungi hak komunal masyarakat adat terutama berkaitan kepemilikan EBTnya dan
juga bertujuan supaya terjadi keseimbangan antara hak individu atas hasil dari
kreativitas intelektualnya dan hak masyarakat untuk menikmati kreatiftas intelektual.
Penerapan prinsip-prinsip hukum adat yang masih hidup diterapkan agar prinsip-prinsip
yang mengatur perlindungan EBT benar-benar mencerminkan nilai, ide dasar maupun
perilaku sebagian besar masyarakat Indonesia.
Bentuk ekspresi budaya tradisional dapat mencakup banyak hal dan berkaitan
dengan berbagai elemen EBT memerlukan keterlibatan berbagai sektor/instansi dalam
melindunginya. Langkah-langkah perlindungan terhadap EBT perlu dilakukan secara
komprehensif, yang pada akhirnya memerlukan peran aktif dari berbagai sektor yang
berkaitan untuk diintegrasikan di tingkat kebijakan nasional.
Tujuan perlindungan EBT Indonesia dalam RUU Perindungan PTEBT kurang
komprehensif karena hanya bertujuan pada aspek kekayaan intelektualnya, hal ini
terlihat dalam pertimbangan dikeluarkan kebijakan tersebut bahwa keanekaragaman
etnik atau suku bangsa, dan karya intelektual yang merupakan kekayaan warisan budaya
tersebut, telah menjadi daya tarikuntuk dimanfaatkan secara komersial sehingga
pemanfaatan tersebut perludiatur untuk kemaslahatan masyarakat. Tujuan perlindungan
PTEBT dalamkebijakan hukum nasional ini berbeda dari tujuan perlindungan PTEBT
yang sedang diusahakan di forum-forum internasional.[10] Tujuan perlindungan PTEBT
di forum internasional[11] adalah untuk memelihara (preservasi)PTEBT, sedangkan
perlindungan HKI-nya adalah merupakan konsekuensi daripreservasi PTEBT tersebut.
3) Prinsip Kompensasi (Compensatory Liability Principle)
Prinsip kompensasi atau Compensatory Liability Principle yaitu penerapan
sistem pembayaran atau kompensasi kepada pemilik EBT atas pemanfaatan ataupun
penggunaan EBT di luar konteks tradisi ataupun pemanfaatan untuk tujuan komersial
(menghasilkan keuntungan ekonomi). Pendekatan ini ada dua alternatif yang bisa
ditempuh yaitu melalui mekanisme penerapan prinsip pembayaran terhadap
kepemilikan publik atau domain public payant tanpa adanya hak eksklusif atas EBT
tersebut. Alternatif yang kedua yaitu melaui mekanisme perjanjian bagi hasil (benefit
Sharing) atas pemanfaatan EBT oleh pihak di luar komunitas masyarakat sebagai
pemilik hak eksklusif EBT

Pendekatan juga dikenal dengan prinsip domain public payant[12]yaitu prinsip


hukum yang berasal dari tradisi hukum di Perancis. Prinsip pertama kali diusulkan oleh
Victor Hugo pada waktu pembukaan Konperensi Internasional Congress Littraire
International pada 25 Juni 1878 yang bertujuan untuk membantu dan mengumpulkan
dan mendistribusikan dana budaya untuk memberikan subsidi kepada penulis
berikutnya ataupun perlu memberikan renumerasi yang dapat memberi manfaat bagi
peningkatan kreator generasi baru yang diatur dalam ketentuan hukum.[13] Prinsip
hukum ini mewajibkan membayar fee atas penggunaan untuk tujuan komersial ataupun
eksploitasi yang menguntungkan karya-karya yang sudah menjadi public domain
karena masa perlindungan sudah berakhir yang sifatnya diwajibkan (compulsory
licence) dan penggunaanya tanpa memerlukan otoritas.
Penerapan prinsip domain public payant berarti menempatkan EBT dalam
ranah domain publik dan tanpa hak eksklusif yang melekat pada komunitas pemelihara
EBT dan dengan prinsip pihak di dalam maupun di luar komunitas bebas menggunakan
dan memanfaatkan EBT (free access). Akan tetapi bilamana EBT yang bersangkutan
digunakan ataupun dimanfaatkan oleh pihak di dalam ataupun pihak di luar
komunitas di luar konteks tradisi ataupun dan atau digunakan untuk tujuan komersial
akan di kenakan pembayaranprosentase tertentu.
Berdasarkan prinsip ini berarti menerapkan juga prinsip compulsory licence
atau lisensi wajib, artinya dalam konteks perlindungan EBT setiap penggunaan dan
pemanfaatan EBT free accses tanpa harus memerlukan otorisasi baik dari pemilik
EBT maupun otoritas berwenang. Di banyak negara yang menjadi subyek prinsip ini
adalah ketika penggunaan EBT yang sudah domain publik digunakan untuk
kepentingan komersial ataupun tujuan mencari keuntungan. Perlindungan EBT dengan
menggunakan prinsip ini diadopsi di dalam Tunis Model Law1976 dan Bangui
Agreement 1999 dalam rangka mempromosikan dan penyebarkan EBT dan
dipraktekkan di negara Bolivia,Croasia, Panama, Peru dan Negara Republik Dominica.
Berdasarkan hasil penelitian penulis penerapan prinsip domain public payant
dalam rangka memberikan perlindungan EBT Indonesia terutama ditujukan pada EBT
yang penggunaan ataupun pemanfatannya tidak begitu terikat dengan norma-norma
tradisional ataupun hukum adat, artinya keberadaan EBT sudah digunakan, diakses dan
dimanfaatkan oleh masyarakat luas tanpa ada komplain ataupun keberatan oleh
komunitas masyarakat Adat/tradisional ataupun komunitas masyarakat tertentu lainnya.
Hasil pembayaran ini untuk kepentingan komunitas maupun institusi penghasil EBT
tersebut dan digunakan dalam upaya perlindungan (pelestarian ataupun penyelamatan)
serta diseminasi terhadap EBT sebagai bagian warisan budaya nasional.
Berdasarkan prinsip benefit sharing atau pembagian keuntungan, berarti setiap
penggunaan ataupun pemanfaatan EBT di luar kontekss tradisi dan ataupun untuk
tujuan komersial oleh pihak di luar komunitas pemilik EBT memerlukan PIC sebagai
konsekuensi dari hak ekslusif kepemilikan EBT oleh komunitas masyarakat yang
memelihara, mempertahankan dan mengembangkan EBT. Penggunaan ataupun

pemanfaatan EBT dilakukan melalui perjanjian (kontrak) antara pemilik EBT dan
pengguna EBT dan di dalam kontrak perjanjian inilah prinsip pembagian keuntungan ini
diterapkan.
Pelaksanaan prinsip pembagian keuntungan di dalam setiap pemanfaatan
terhadap EBT harus dilakukan adil dan seimbang dan pembagian keuntungan, finansial
dan/atau non finansial, dari keuntungan setiappemanfaatan EBT diberikan
berdasarkan kesepakatan bersama (Mutually Agreed Terms atau MTA) antara komunitas
pemelihara EBT dan pengguna EBT.[14] Pelaksanaan prinsip harus dengan cara-cara
yang kondusif terhadap peningkatan sosial dan ekonomi komunitas masyarakat
tradisional maupun komunitas masyarakat lokal, menjaga keseimbangan antara hak dan
kewajiban, dan menjamin adanya pembagian keuntungan yang adil dan pemanfaatan
EBT secara komersial.
Penerapan prinsip kompensasi dalam perlindungan EBT Indonesia merupakan
upaya membangun partisipasi publik ataupun masyarakat luas untuk usaha pelestarian
dan penyelamatan EBT yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia agar
bisa diwarisi oleh generasi yang akan datang. Penerapan prinsip kompensasi juga
diberlakukan ketika EBT dikembangkan dengan cara memodifikasi EBT menjadi karya
EBT yang inovatif dan karya tersebut dikomersialkan.
Penerapan prinsip kompensasi baik yang melalui mekanisme domain public
payant maupun pembagian keuntungan atau benefit sharing atas pemanfaatan EBT
memerlukan lembaga pengumpul royalti (collecting body). Lembaga ini bertanggung
jawab untuk mengumpulkan hasil pembagian keuntungan dan sekaligus bertanggung
jawab terhadap penggunaan pembagian keuntungan yaitu untuk pelestarian dan
pemgembangan EBT itu sendiri. Di Indonesia dalam rangka penerapan prinsip
kompensasi ini pemerintah dapat membentuk Lembaga Pengumpul dan Pengelola
Royalti (LPPR) atau TheCollective Rights Administration Body hasil pemanfaatan EBT
Indonesia. LPPR mempunyai kewenangan untuk mengumpulkan dan mengelola hasil
pemanfaatan EBT baik berupa moneter maupun non moneter dari hasil penerapan
prinsip domain public payant ataupun melalui penerapan prinsipbenefit sharing untuk
kepentingan pelesatarian, promosi dan pengembangan inovasi kreativitas intelektual
berbasis EBT.
3.

Kesimpulan
Pendekatan perlindungan hukum kekayaan intelektual Sui-generis terhadap EBT
Indonesia diharapkan secara substantif agar lebih mampu memberikan perlindungan sesuai
dengan karakteristik EBT Indonesia dan lebih sesuai dengan sistem nilai yang diakui serta
diyakini oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pendekatan perlindungan terpadu
diharapkan tidak hanya memberikan perlindungan aspek moral dan ekonomi EBT, tapi juga
melakukan konservasi keberadaan EBT sebagai warisan budaya bangsa serta sekaligus
memberikan perlindungan untuk kepentingan komunitas masyarakat yang selama ini
memelihara, mempertahankan dan mengembangkan EBT. Prinsip kompensasi sebagai upaya

memperoleh manfaat ekonomi dari setiap penggunan EBT di luar konteks tradisi dan
penggunaan secara komersial untuk kepentingan komunitas pemelihara EBT dan
pengembangan EBT secara berkelanjutan agar keberadaan EBT masih dinikmati oleh generasi
yang akan datang.
4.

Daftar Pustaka

Afifah Kusumadara, Pemeliharaan dan Pelestarian Pengetahuan Tradisionaldan Ekspresi


Budaya Tradisional Indonesia:Perlindungan Hak Kekayaan Intelektualdan Non-Hak
Kekayaan Intelektual, Jurnal Hukum No. 1 Vol. 18, 18 Januari 2011
Agus SarjoNo, HKI dan Pengetahuan Tradisional, Penerbit Alumni Bandung, 2004
Christop Beat Graber , International Trade in Indigenous Cultural Heritage, Legal and
Policy Issues, Edward Elgar Publishing 2012
Hamilton V. Lee & Sanders, Yoseph, Everyday Justice, Responsibility and The Individual
in Japan and United State, New Haven, Yale University Press, 1992
Paul Torremans, Copyright Law: A Handbook of Contemporary Research,Edward Elgar
Publishing Inc. Massasuchets, USA 2007
Peter Jazzi, Traditional Culture: A Step Forward for Protection in Indonesia, Washington
College of Law Research Paper No. 2010-16, American University Washington College
of Law, 2010
Sathipto Rahardjo, Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya, Cetakan II, Genta
Publishing, Yogjakarta 2009
WIPO/GRTKF/IC/9/4 Annex

[1] Kholis Roisah, adalah Tim Pengelola Klinik HKI FH UNDIP, Staf Pengajar Mata Hukum
Internasional dan HKI di Program S1 dan S2 FH UNDIP. Paper ini disampaikan pada Seminar
Nasional dan Konferensi Tahunan Asosiasi Pengajar HKI : Strategi Perlindungan Sumber Daya
Genetik, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradsional (SDGPTEBT) Indonesia dan
Isu Terkini di Bidang HKI dalam Liberalisasi Perdagangan Internasional, Fakultas Hukum
Udayana, Denpasar 26-27 September 2013
[2] Dalam konteks perlindungan budaya dunia (World Cultural Heritage) dikategorikan warisan
benda (tangible heritage) maupun takbenda (intangible heritage).
[3] Map of Indonesian
Culturehttp://sem2008.blogs.wesleyan.edu/files/2008/10/srihastantopaper.pdf diakses pada
tanggal 25 Mei 2010.
[4] Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia atau Representative List of the
Intangible Cultural Heritage of Humanity adalah program UNESCO yang bertujuan
menjamin Perlindungan (Safeguarding) berarti memastikan bahwa warisan budaya takbenda
tetap menjadi bagian aktif dari kehidupan generasi saat ini dan dapat diteruskan ke generasi
mendatang, termasuk identifikasi, dokumentasi, penelitian, preservasi, perlindungan,
pemajuan, peningkatan, penyebaran, khususnya melalui pendidikan, baik formal maupun

nonformal, serta revitalisasi berbagai aspek warisan budaya tersebut. Bukan perlindungan atau
konservasi dalam arti biasa yang dapat menyebabkan warisan budaya takbenda menjadi tetap
atau beku. Perlindungan ini berfokus pada proses yang terlibat dalam penyebaran WBTB dari
generasi ke generasi, bukan pada produk kongkrit dari manifestasi WBTB, seperti pertunjukan
tari, lagu, instrumen musik atau kerajinan. (Pasal 2 (3). Program ini dimulai tahun 2008,
setelah berlakunya Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda. Sebelumnya,
sebuah proyek yang disebut Karya Agung atau Masterpeace Budaya Lisan dan Takbenda
Warisan Manusia telah aktif dalam mengenali nilai-nilai budaya takbenda seperti tradisi, adat
istiadat, dan ruang budaya, beserta tokoh-tokoh setempat yang melestarikan bentuk-bentuk
ekspresi budaya tersebut. Identifikasi Karya Agung juga melibatkan komitmen dari negaranegara untuk mempromosikan dan melindungi kekayaan-kekayaan budaya miliknya,
sementara UNESCO membiayai rencana-rencana konservasi. Seluruhnya sudah ada tiga kali
pengumuman Karya Agung Budaya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia. Pengumuman
pertama dilakukan pada tahun 2001, dan dilakukan dua tahun sekali hingga tahun 2005,
dengan total 90 bentuk-bentuk warisan takbenda dari seluruh dunia
[5] Negara Indonesia harus wujudkan: (a) membuat kebijakan umum yang bertujuanmempromosikan
fungsi warisan budaya takbenda dalam masyarakat, dan mengintegrasikan perlindungan warisan tersebut
ke dalam perencanaan program; (b) menunjuk atau membentuk satu atau lebih badan yang kompeten
untuk perlindungan terhadap warisan budaya takbenda di wilayahnya; (c) mendorong studi ilmiah, teknis
dan artistik, serta penelitian, dengan maksud untuk perlindungan efektif warisan budaya takbenda,
khususnya warisan budaya takbenda yang terancam;(d) mengadopsi langkah-langkah hukum yang tepat
administratif dan teknis keuangan bertujuan untuk: i. mendorong penciptaan atau penguatan lembaga
untuk pelatihan dalam pengelolaan warisan budaya takbenda dan penyebaran warisan tersebut melalui
forum dan ruang yang dimaksudkan untuk pertunjukan atau ekspresi daripadanya; ii. memastikan akses
terhadap warisan budaya takbenda dengan menghormati praktek adat yang mengatur akses ke aspekaspek spesifik warisan tersebut;iii. mendirikan lembaga dokumentasi untuk fue warisan budaya takbenda
dan memfasilitasi akses kepada mereka.

[6] Sui Generis berasal dari ungkapan Latin yang berati of its own, yang secara harfiah diartikan dari
jenisnya atau genusnya sendiri (Oxford English Dictionary (3rd) , Oxford Dictionary Press, 2005
dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Sui_generis)
dan
berkarakter
unik
atau unique
in
its
characteristics (Merrian
Webster, An
Ensyclopidia
Britanian
Company http://www.merriam
webster.com/dictionary/solo?show=0&t=1369688439). Di
bidang
hukum
istilah sui
generisdigunakan untuk menyebut jenis jenis aturan hukum yang dibuat secara khusus
untuk mengatur suatu hal yang bersifat spesifik atau unik. Kata sui generis ini sering digunakan
dalam analisis filsafat untuk menunjukkan ide, entitas, atau suatu realitas yang tidak dapat dimasukkan
dalam konsepyang lebih luas. Dalam hukum adalah istilah ini yang digunakan untuk mengidentifikasi
klasifikasi hukum yang ada terlepas dari kategorisasi lain karena singularitas atau karena
penciptaan spesifik dari suatu hak atau kewajiban Di bidang hukum kekayaan intelektual status
hukum sui generis berlaku eksis di beberapa negara berkaitan perluasan perlindungan kreatiftas
intelektual yang dianggap mempunyai karakter unik, seperti di Perancis perlindungan terhadap karya
cipta topeng, fashion design, data base dan varitas tanaman. Di Amerika, Jepang dan beberapa negara
Eropa perlindungan terhadap topografi, chip semikonduktor dan sirkuit terpadu yang diatur dalam hukum
cipta dan paten tetapi dalam hal inid iatur secara sui generis. (http://en.wikipedia.org/wiki/Sui_generis
diakses 28 Mei 2013). Sui generis berasal dari bahasa latin yang berarti of its own (dalam jenisnya
sendiri). Sui generis suatu sistem yang dirancang khusus untuk mengatasi kebutuhan khusus dan
mengatAsi isu-isu teretentu. (Peter Jazzi hasil penelitian HKI dan Kesenian Tradisional dalam lampiran
Agus SarjoNo, HKI dan Pengetahuan Tradisional, Penerbit Alumni Bandung, halaman 470)

[7]Hamilton V. Lee & Sanders, Yoseph, Everyday Justice, Responsibility and The Individual in Japan
and United State, New Haven, Yale University Press, 1992 dalam Sathipto Rahardjo,Negara Hukum yang
Membahagiakan Rakyatnya, Cetakan II, Genta Publishing, Yogjakarta 2009, halaman 60
[8]Peter Jazzi, Traditional Culture: A Step Forward for Protection in Indonesia, Washington College of
Law Research Paper No. 2010-16, American University Washington College of Law, 2010, halaman 2122, dalam Afifah Kusumadar, Pemeliharaan dan Pelestarian Pengetahuan Tradisionaldan Ekspresi
Budaya Tradisional Indonesia:Perlindungan Hak Kekayaan Intelektualdan Non-Hak Kekayaan
Intelektual, Jurnal Hukum No. 1 Vol. 18, 18 Januari 2011,halaman 25
[9] Afifah Kusumadara, Op Cit, halaman 4
[10]Afifah Kusumadara, Op Cit, halaman 24
[11]Tujuan perlindungan EBT merupakan pengakuan terhadap warisan budaya masyarakat tradisional
ataupun masyarakat lokal yang mempunyai nilai-nilai instrinsik seperti nilai sosial, budaya, spiritual ilmu
pengetahuan, ekonomi dan nilai pendidikan dan sekaligus mempromosikan dan menghormati martabat,
integritas budaya, philosofi, intelektual dan nilai spiritual dari orang-orang masyarakat tradisional ataupun
komunitas budaya yang selama ini memelihara dan mengembangkan EBT. Disamping itu perlindungan
EBT merupakan bagian integral dari kebijakan mengenai promosi dan perlindungan kreativitas dan
inovasi, pengembangan masyarakat danstimulasi dan promosi industri kreatif sebagai bagian dar
ipembangunan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat adat dan atau masyarakat tradisional dan
komunitas budaya lainnya dan juga sebagai upaya untuk mencegah dan mengontrol penggunaan EBT
yang tidak sesuai dengan kontekss tradisi serta mempromosikan pembagian manfaat keuntunganpatut atas
penggunaan EBT dan karya turunannya. Serta merupakan bagi upaya untuk memelihara dan
mengamankan praktek-praktek budaya masyarkat secara berkelanjutan berkelanjutan.(Diringkas
dari Objective WIPO/GRTKF/IC/9/4 Annex, page 2)

[12]Paul Torremans, Copyright Law: A Handbook of Contemporary Research, Edward Elgar Publishing
Inc. Massasuchets, USA 2007, page 182
[13]Christop Beat Graber , International Trade in Indigenous Cultural Heritage, Legal and Policy Issues,
Edward Elgar Publishing 2012, page 214
[14] Prinsip pembagian keuntungan juga diterapkan dalam akses pemanfaatan sumber daya
genetik dan pengetahuan tradisional yang diadopsi dalam Convention Biological Diversity
1992 dan diatur lebih lanut dalam Nagoya Protocol on Acces to Genetic Resources and the
Fair ant Equitable Sharing of Benefit Sharing from Their Utilization to the Convention on
Biological Diversity 2011 atau dikenal sebutan ABS Protocol.