Anda di halaman 1dari 39

PENDAHULUAN

Movement Disorder merupakan sekelompok penyakit sistem saraf pusat atau


sindrom neurologis yang menyebabkan adanya kelebihan atau kekurangan gerakan
yang tidak dapat terkontrol oleh tubuh. Contoh gangguan gerak adalah penyakit
Parkinson, tremor esensial, ataksia, dan distonia.
Gangguan gerak sebagian besar terkait dengan perubahan patologis di basal
ganglia atau koneksi mereka. Basal ganglia adalah kelompok inti materi abu-abu
tergeletak jauh di dalam yang otak belahan otak (inti berekor, putamen dan globus
pallidus), yang diencephalon (subthalamic inti), dan mesencephalon (substantia
nigra). Patologi otak kecil atau jalur yang biasanya menyebabkan gangguan
koordinasi (asynergy, ataksia), salah pikiran jarak (dysmetria), dan tremor
niat. Myoclonus dan banyak bentuk tremor tidak tampaknya terkait terutama untuk
patologi ganglia basal dan sering muncul di tempat lain di sistem saraf pusat,
termasuk korteks serebral (myoclonus refleks kortikal), batang otak (retikuler refleks
myoclonus, hyperekplexia, dan gangguan myoclonus ritmis batang otak seperti
mioklonus palatal dan okular mioklonus), dan sumsum tulang belakang (mioklonus
segmental ritmis dan propriospinal nonrhythmic mioklonus). Sebuah bukti yang
semakin kuat mendukung gagasan bahwa beberapa gangguan gerak adalah induksi di
perifer.
Meskipun gangguan gerak kebanyakan tidak mengancam nyawa, mereka tentu
menjadi ancaman bagi pasien kualitas hidup. Dampaknya bisa sangat besar, dengan
kehilangan pekerjaan, ketidakmampuan untuk menggerakkan sebuah mobil, dan
penurunan aktivitas hidup sehari-hari termasuk kebersihan pribadi. Karena sebagian
besar gangguan gerak lain selain penyakit Parkinson mempengaruhi orang di bawah
usia lima puluh, kondisi ini bertanggung jawab atas beban biaya besar bagi
masyarakat. Selain itu, dokter dan pasien sering menghadapi tantangan dalam
mendapatkan cakupan asuransi untuk pengobatan kondisi ini, karena modalitas
pengobatan, baik farmakologis dan bedah, adalah relatif baru.

PENDAHULUAN
A. SISTEM EKSTRAPIRAMIDAL1
1. Basal ganglia : nucleus kaudatus, putamen dan globus pallidus
2. Substansia nigra
3. Nukleus rubra

Gambar 1. Sistem Ekstrapiramidal


Gangguan pada ekstrapiramidal dapat timbul gerakan otot involunter,yaitu
gerakan otot secara spontan dan tidak dapat dikendalikan dengan kemauan dan gerak
otot tersebut tidak mempunyai tujuan. Efek dari gangguan sistem ini dapat
memberikan efek defisit fungsional primer yang merupakan gejala negatif dan efek
sekunder yaitu gejala positif.1,2
Pada ganguan dalam fungsi traktus ekstrapiramidal gejala positif dan negatif
itu menimbulkan dua jenis sindrom yaitu:2,3
1. Sindrom hiperkinetik-hipotonik : asetilkolin menurun, dopamine meningkat

Tonus otot menurun


Gerak involunter/ireguler

Pada : chorea, atetosis, distonia, ballismus

Gambar 2. Gerakan Involunter


2. Sindrom hipokinetik-hipertonik : asetilkolin meningkat, dopamine menurun

Tonus otot meningkat


Gerak spontan/asosiatif menurun
Gerak involunter spontan

Pada : parkinson
Gejala negative dapat berupa :
1. Bradikinesia
Gerakan volunter yang bertambah lambat atau menghilang sama sekali. Gejala ini
merupakan gejala utama yang didapatkan pada penyakit Parkinson.
2. Ganguuan sikap postural
Merupakan hilangnya reflex postural normal. Paling sering ditemukan pada penyakit
Parkinson. Terjadi fleksi pada tungkai dan badan karena penderita tidak dapat
mempertahankan keseimbangan secara tepat. Penderita akan terjatuh bila berputar dan
didorong.

Gejala positif dapat berupa :


1) Gerakan involunter

Tremor
Athetosis
Chorea
Distonia
Hemiballismus

2) Rigiditas
Kekakuan yang dirasakan oleh pemeriksa ketika menggerakkan ekstremitas secara
pasif. Tahanan ini timbul di sepanjang gerakan pasif tersebut dan mengenai gerakan
fleksi maupun ekstensi sering disebut sebagai plastic atau lead pipe rigidity. Bila
disertai dengan tremor maka disebut dengan tanda cogwheel. Pada penyakit Parkinson
terdapat gejala positif dan gejala negative seperti tremor dan bradikinesia. Sedangkan
pada chorea Huntington lebih didominasi oleh gejala positif, yaitu : chorea.
PATOFISIOLOGI
Pada keadaan normal terdapat arus rangsang kortiko-kortikal yang melalui inti-inti
basal (basal ganglia) yang mengatur kendali korteks atas gerakan volunter dengan
proses inhibisi secara bertingkat. Inti-inti basal juga berperan mengatur dan
mengendalikan keseimbangan antara kegiatan neuron motorik alfa dan gamma. Di
antara inti-inti basal, maka globus pallidus merupakan stasiun neuroaferen terakhir
dan yang kegiatannya diatur oleh asupan dari korteks, nucleus kaudatus, putamen,
substansia nigra dan inti subtalamik.4
Gerakan involunter yang timbul akibat lesi difus pada putamen dan globus pallidus
disebabkan oleh terganggunya kendali atas reflex-refleks dan rangsangan yang masuk,
yang dalam keadaan normal turut mempengaruhi putamen dan globus pallidus.
Keadaan tersebut dinamakan Release phenomenon, yang berarti hilangnya aktivitas
inhibisi yang normal.4
Adapun lesi di substansia nigra (penyakit Parkinson), di inti dari luys
(hemiballismus), bagian luar dari putamen (atetosis), di nucleus kaudatus terutama
dan nucleus lentiformis sebagian kecil (korea) dan di korteks serebri piramidalis
berikut putamen dan thalamus (distonia).4
Berbagai neurotransmitter turut berperan dalam fungsi dan peran system
neurotransmitter, meliputi :

A. Dopamine, bekerja pada jalur nigostriatal (hubungan substansia nigra dan korpus
striatum) dan pada system mesolimbik dan mesokortikal tertentu.
B. GABA (Gama Aminobutiric Acid), berperan pada jalur / neuron-neiron
striatonigral.
C. Glutamate, bekerja pada jalur kortikostriatal
D. Zat-zat

neurotransmitter

kolinergik,

digunakan

untuk

neuron-neruon

talamostriatal.
E. Substansia P dan metenfekalin, terdapat pada jalur striatopalidal dan striatonigral.
F. Kolesistokinin, dapat ditemukan bersama dopamine dalam sistem neural yang
sama.
B. PENYAKIT PARKINSON

Definisi

Penyakit parkinson adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang berkaitan erat


dengan usia. Secara patologis penyakit parkinson ditandai oleh degenerasi neuronneuron berpigmen neuromelamin, terutama di pars kompakta substansia nigra yang
disertai

inklusi sitoplasmik

eosinofilik

(Lewy bodies), atau disebut

juga

parkinsonisme idiopatik atau primer.1,5,6


Parkinonisme adalah suatu sindrom yang ditandai oleh tremor waktu istirahat,
rigiditas, bradikinesia, dan hilangnya refleks postural akibat penurunan kadar
dopamine dengan berbagai macam sebab. Sindrom ini sering disebut sebagai Sindrom
Parkinson.1,4,5

Etiologi

Etiologi Parkinson primer masih belum diketahui. Terdapat beberapa dugaan, di


antaranya ialah : infeksi oleh virus yang non-konvensional (belum diketahui), reaksi
abnormal terhadap virus yang sudah umum, pemaparan terhadap zat toksik yang
belum diketahui, terjadinya penuaan yang prematur atau dipercepat.2
Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu
kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary).
Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak
disadarinya.Mekanisme bagaimana kerusakan itu belum jelas benar, akan tetapi ada
beberapa faktor resiko ( multifaktorial ) yang telah diidentifikasikan, yaitu:2,4,5

1) Usia : Insiden meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200
dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi
mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia
nigra pada penyakit parkinson.
2) Genetik : Penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik yang berperan pada
penyakit parkinson. Yaitu mutasi pada gen a-sinuklein pada lengan panjang
kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan Parkinsonism autosomal dominan.
Pada pasien dengan autosomal resesif parkinson, ditemukan delesi dan mutasi
point pada gen parkin (PARK2) di kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya
disfungsi mitokondria. Adanya riwayat penyakit parkinson pada keluarga
meningakatkan faktor resiko menderita penyakit parkinson sebesar 8,8 kali pada
usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun
sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada
usia relatif muda. Kasus-kasus genetika di USA sangat sedikit, belum ditemukan
kasus genetika pada 100 penderita yang diperiksa. Di Eropa pun demikian.
Penelitian di Jerman menemukan hasil nol pada 70 penderita. Contoh klasik dari
penyebab genetika ditemukan pada keluarga-keluarga di Italia karena kasus
penyakit itu terjadi pada usia 46 tahun.
3) Faktor Lingkungan
a) Xenobiotik : Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat
menimbulkan kerusakan mitokondria.
b) Pekerjaan : Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi
dan lama.
c) Infeksi : Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadi faktor
predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan substansia nigra. Penelitian
pada hewan menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh infeksi
Nocardia astroides.
d) Diet : Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah
satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson. Sebaliknya,kopi
merupakan neuroprotektif.
4) Ras : angka kejadian Parkinson lebih tinggi pada orang kulit putih dibandingkan
kulit berwarna.
5) Trauma kepala : Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson,
meski peranannya masih belum jelas benar.

6) Stress dan depresi : Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului


gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena
pada stress dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu
stress oksidatif.

Patofisiologi2,6
Secara umum dapat dikatakan bahwa penyakit Parkinson terjadi karena penurunan
kadar dopamine akibat kematian neuron di substansia nigra pars compacta (SNc)
sebesar 40-50% yang disertai dengan inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies)
dengan penyebab multifaktor. Substansia nigra (sering disebut black substance),
adalah suatu region kecil di otak (brain stem) yang terletak sedikit di atas medulla
spinalis. Bagian ini menjadi pusat control/koordinasi dari seluruh pergerakan. Selselnya menghasilkan neurotransmitter yang disebut dopamine, yang berfungsi untuk
mengatur seluruh gerakan otot dan keseimbangan tubuh yang dilakukan oleh sistem
saraf pusat. Dopamine diperlukan untuk komunikasi elektrokimia antara sel-sel
neuron di otak terutama dalam mengatur pergerakan, keseimbangan dan refleks
postural, serta kelancaran komunikasi (bicara). Pada penyakit Parkinson sel-sel
neuron di SNc mengalami degenerasi, sehingga produksi dopamine menurun dan
akibatnya semua fungsi neuron di system saraf pusat (SSP) menurun dan
menghasilkan kelambatan gerak (bradikinesia), kelambatan bicara dan berpikir
(bradifrenia), tremor dan kekauan (rigiditas). Hipotesis terbaru proses patologi yang
mendasari proses degenerasi neuron SNc adalah stress oksidatif. Stress oksidatif
menyebabkan terbentuknya formasi oksiradikal, seperti dopamine quinon yang
dapat bereaksi dengan alfa sinuklein (disebut protofibrils). Formasi ini menumpuk,
tidak dapat di gradasi oleh ubiquitin-proteasomal pathway, sehingga menyebabkan
kematian sel-sel SNc. Mekanisme patogenik lain yang perlu dipertimbangkan antara
lain :

Efek lain dari stres oksidatif adalah terjadinya reaksi antara oksiradikal dengan

nitric-oxide (NO) yang menghasilkan peroxynitric-radical.


Kerusakan mitokondria sebagai akibat penurunan produksi adenosin trifosfat
(ATP) dan akumulasi elektron-elektron yang memperburuk stres oksidatif,

akhirnya menghasilkan peningkatan apoptosis dan kematian sel.


Perubahan akibat proses inflamasi di sel nigra, memproduksi sitokin yang
memicu apoptosis sel-sel SNc.

Klasifikasi

Penyakit parkinson dapat dibagi atas 3 kategori, yaitu:6,7


1) Parkinson primer/idiopatik/paralysis agitans.
Sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya belum
jelas. Kira-kira 7 dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.
2) Parkinson sekunder atau simtomatik
Dapat disebabkan pasca ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis, sifilis
meningovaskuler. Toksin seperti 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-tetrahydropyridine
(MPTP), Mn, CO, sianida. Obat-obatan yang menghambat reseptor dopamin dan
menurunkan cadangan dopamin misalnya golongan fenotiazin, reserpin,
tetrabenazin dan lain-lain, misalnya perdarahan serebral pasca trauma yang
berulang-ulang pada petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid dan
kalsifikasi.
3) Sindrom Parkinson Plus (Multiple System Degeneration)
Pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran penyakit
keseluruhan. Jenis ini bisa didapat pada Progressive supranuclear palsy, Multiple
system

atrophy

(sindrom

Shy-drager,

degenerasi

striatonigral,

olivo-

pontocerebellar degeneration, parkinsonism-amyotrophy syndrome), Degenerasi


kortikobasal ganglionik, Sindrom demensia, Hidrosefalus normotensif, dan
Kelainan herediter (Penyakit Wilson, penyakit Huntington, Parkinsonisme familial
dengan neuropati peripheral).

Gejala Klinik
Gejala Motorik

Gambaran klinis penyakit Parkinson


Onset biasanya insidious dan bertahap, serta penjalaran penyakitnya lambat. Gejalagejala pertama biasanya berupa perasaan lemas yang cenderung untuk gemetar,
terutama pada lengan dan jari-jari tangan. Terdapat trias Parkinson, yaitu : tremor,
rigiditas, dan bradikinesia.
1. Tremor
Gejala penyakit parkinson sering luput dari pandangan awam, dan dianggap sebagai
suatu hal yang lumrah terjadi pada orang tua. Salah satu ciri khas dari penyakit
parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat. Namun, jika orang
itu diminta melakukan sesuatu, getaran tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut
resting tremor, yang hilang juga sewaktu tidur. Tremor terdapat pada jari tangan,
tremor kasar pada sendi metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti
menghitung uang logam atau memulung-mulung (pill rolling). Pada sendi tangan
fleksi-ekstensi atau pronasi-supinasi pada kaki fleksi-ekstensi, kepala fleksi-ekstensi
atau menggeleng, mulut membuka menutup, lidah terjulur-tertarik. Tremor ini
menghilang waktu istirahat dan menghebat waktu emosi terangsang (resting/
alternating tremor).
Tremor tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada kelopak
mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang menghitung uang).
Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan, kepala penderita bisa
bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas (tanpa sadar). Artinya, jika
disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu
sisi, namun semakin berat penyakit, tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi.
2. Rigiditas
Tanda yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan tangan yang tremor tersebut
digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu pada pergelangan
tangan, terasa ada tahanan seperti melewati suatu roda yang bergigi sehingga
gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-putus. Selain di tangan maupun di kaki,
kekakuan itu bisa juga terjadi di leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak
halus lagi seperti break-dance. Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan
dengan postur yang membungkuk. Untuk mempertahankan pusat gravitasinya agar
tidak jatuh, langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-pendek.

Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini
oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda bergigi
(cogwheel phenomenon).
3. Akinesia / bradikinesia
Kedua gejala di atas biasanya masih kurang mendapat perhatian sehingga tanda
akinesia/bradikinesia muncul. Gerakan penderita menjadi serba lambat. Dalam
pekerjaan sehari-hari pun bisa terlihat pada tulisan/tanda tangan yang semakin
mengecil, sulit mengenakan baju, langkah menjadi pendek dan diseret. Kesadaran
masih tetap baik sehingga penderita bisa menjadi tertekan (stres) karena penyakit itu.
Wajah menjadi tanpa ekspresi. Kedipan dan lirikan mata berkurang, suara menjadi
kecil, refleks menelan berkurang, sehingga sering keluar air liur.
Gerakan volunter menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya
sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek,
bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan
berkurangnya ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang,
misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan
ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut.
4. Tiba-tiba berhenti atau ragu-ragu untuk melangkah
Gejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau mulai
melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik; dan start hesitation, yaitu ragu-ragu
untuk mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering kencing, dan sembelit. Penderita
menjadi lambat berpikir dan depresi. Hilangnya refleks postural disebabkan kegagalan
integrasi dari saraf propioseptif dan labirin dan sebagian kecil impuls dari mata, pada
level talamus dan ganglia basalis yang akan mengganggu kewaspadaan posisi tubuh.
Keadaan ini mengakibatkan penderita mudah jatuh.
5. Mikrografia
Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini
merupakan gejala dini.
6. Langkah dan gaya jalan (sikap parkinson)
Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat (marche a petit
pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan,
punggung melengkung bila berjalan.
7. Bicara monoton

Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring,
sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume
suara halus (suara bisikan) yang lambat.
8. Dimensia
Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan defisit
kognitif.
9. Gangguan behavioral
Lambat-laun menjadi dependen (tergantung kepada orang lain), mudah takut, sikap
kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat
(bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu
yang cukup.
10. Gejala Lain
Kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal
hidungnya (tanda Myerson positif). Kesukaran dalam usaha pengosongan kandung
kencing dan juga sering mengalami obstipasi kronik. Rasa nyeri pada otot terutama
otot betis pada malam hari. Juga terdapat kesukaran bila hendak berlari dari kursi atau
tempat tidur yang rendah. Gejala-gejala pelengkap yang lain disesuaikan dengan
kausa parkinsonisme atau sindrom Parkinson. Misalnya hipotensi orthostatic,
takikardi, hiperhidrosis, sekresi kelenjar lemak kulit yang tinggi, emosi yang labil,
impotensia, intelegensia tetap utuh, atau mengalami kemunduran sampai kelumpuhan
neuron motorik sentral, oftalmoplegi, krisis okulogirik, gangguan serebellum dan lainlain.

Gejala Non Motorik


A. Disfungsi otonom
Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama
inkontinensia dan hipotensi ortostatik
Kulit berminyak dan infeksi kulit seboroik
Pengeluaran urin yang banyak
Gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat
seksual, perilaku, orgasme.
B. Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi
C. Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat
D. Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia)
E. Gangguan sensasi

kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaan warna


penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan oleh hypotension
orthostatic,

suatu

kegagalan

sistemsaraf

otonom

untuk

melakukan

penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi badan


berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau (microsmia atau
anosmia).

Diagnosis1,3,6,7,8

Diagnosis penyakit Parkinson ditegakkan berdasarkan kriteria :


1) Secara klinis
Didapatkan 2 dari 3 tanda kardinal gangguan motorik : tremor, rigiditas,
bradikinesia atau 3 dari 4 tanda motorik : tremor, rigiditas, bradikinesia dan
ketidakstabilan postural.
2) Krieteria Koller
Didapati 2 dari 3 tanda cardinal gangguan motorik : tremor saat istirahat atau
gangguan refleks postural, rigiditas, bradikinesia yang berlangsung 1 tahun
atau lebih.
Respons terhadap terapi levodopa yang diberikan sampai perbaikan sedang
(minimal 1.000 mg/hari selama 1 bulan) dan lama perbaikan 1 tahun atau
lebih.
3) Kriteria Gelb & Gilman
Gejala kelompok A (khas untuk penyakit Parkinson) terdiri dari :
a) Resting tremor
b) Bradikinesi
c) Rigiditas
d) Permulaan asimetris
Gejala klinis kelompok B (gejala dini tak lazim), diagnosa alternatif, terdiri
dari:
a) Instabilitas postural yang menonjol pada 3 tahun pertama
b) Fenomena tak dapat bergerak sama sekali (freezing) pada 3 tahun pertama
c) Halusinasi (tidak ada hubungan dengan pengobatan) dalam 3 tahun
pertama
d) Demensia sebelum gejala motorik pada tahun pertama.

Diagnosis possible : terdapat paling sedikit 2 dari gejala kelompok A


dimana salah satu diantaranya adalah tremor atau bradikinesia dan tak

terdapat gejala kelompok B, lama gejala kurang dari 3 tahun disertai

respon jelas terhadap levodopa atau dopamine agonis.


Diagnosis probable : terdapat paling sedikit 3 dari 4 gejala kelompok
A, dan tidak terdapat gejala dari kelompok B, lama penyakit paling
sedikit 3 tahun dan respon jelas terhadap levodopa atau dopamine

agonis.
Diagnosis pasti : memenuhi semua kriteria probable dan pemeriksaan
histopatologis yang positif.

Untuk klinis diperlukan adanya penetapan berat ringannya penyakit dalam hal ini
digunakan stadium klinis berdasarkan Hoehn dan Yahr (1967) yaitu :

Stadium 1: gejala dan tanda pada satu sisi, terdapat gejala ringan,
terdapat gejala yang mengganggu tetapi menimbulkan kecacatan,
biasanya terdapat tremor pada satu anggota gerak, gejala yang timbul
dapat dikenali orang terdekat (teman).

Stadium 2: terdapat gejala bilateral, terdapat kecacatan minimal,


sikap/cara berjalan terganggu.

Stadium 3: gerak tubuh nyata melambat, keseimbangan mulai


terganggu saat berjalan/berdiri, disfungsi umum sedang.

Stadium 4: terdapat gejala yang berat, masih dapat berjalan hanya


untuk jarak tertentu, rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu berjalan
sendiri, tremor dapat berkurang dibandingkan stadium sebelumnya.

Stadium 5: stadium kakhetik (cachactic stage), kecacatan total, tidak


mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu.

Penatalaksanaan

Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif yang berkembang progresif dan
penyebabnya tidak diketahui, oleh karena itu strategi penatalaksanaannya adalah:
1) terapi simtomatik, untuk mempertahankan independensi pasien.
2) neuroproteksi
3) neurorestorasi, yang mana neuroproteksi dan neurorestorasi untuk menghambat
progresivitas

penyakit Parkinson. Strategi ini ditujukan untuk mempertahankan

kualitas hidup penderitanya.9


Alagoritme Tatalaksana Parkinson.

1. Terapi farmakologik9
a) Obat pengganti dopamine (Levodopa, Carbidopa)
Levodopa merupakan pengobatan utama untuk penyakit parkinson. Di dalam otak
levodopa dirubah menjadi dopamine. L-dopa akan diubah menjadi dopamine pada
neuron dopaminergik oleh L-aromatik asam amino dekarboksilase (dopa
dekarboksilase). Walaupun demikian, hanya 1-5% dari L-Dopa memasuki neuron
dopaminergik, sisanya dimetabolisme di sembarang tempat, mengakibatkan efek
samping yang luas. Karena mekanisme feedback, akan terjadi inhibisi
pembentukan L-Dopa endogen. Carbidopa dan benserazide adalah dopa
dekarboksilase inhibitor, membantu mencegah metabolisme L-Dopa sebelum
mencapai neuron dopaminergik. Levodopa mengurangi tremor, kekakuan otot dan
memperbaiki gerakan. Penderita penyakit parkinson ringan bisa kembali
menjalani aktivitasnya secara normal. Obat ini diberikan bersama carbidopa untuk
meningkatkan efektivitasnya & mengurangi efek sampingnya.

Banyak dokter menunda pengobatan simtomatis dengan levodopa sampai memang


dibutuhkan. Bila gejala pasien masih ringan dan tidak mengganggu, sebaiknya
terapi dengan levodopa jangan dilakukan. Hal ini mengingat bahwa efektifitas
levodopa berkaitan dengan lama waktu pemakaiannya. Levodopa melintasi sawardarah-otak dan memasuki susunan saraf pusat dan mengalami perubahan
ensimatik menjadi dopamin. Dopamin menghambat aktifitas neuron di ganglia
basal. Efek samping levodopa dapat berupa:
1) Neusea, muntah, distress abdominal
2) Hipotensi postural
3) Sesekali akan didapatkan aritmia jantung, terutama pada penderita yang
berusia lanjut. Efek ini diakibatkan oleh efek beta-adrenergik dopamine pada
system konduksi jantung. Ini bisa diatasi dengan obat beta blocker seperti
propanolol.
4) Diskinesia

yang paling sering ditemukan melibatkan anggota gerak, leher

atau muka. Diskinesia sering terjadi pada penderita yang berespon baik
terhadap terapi levodopa. Beberapa penderita menunjukkan gejala on-off yang
sangat mengganggu karena penderita tidak tahu kapan gerakannya mendadak
menjadi terhenti, membeku, sulit. Jadi gerakannya terinterupsi sejenak.
5) Abnormalitas laboratorium. Granulositopenia, fungsi hati abnormal dan ureum
darah yang meningkat merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada terapi
levodopa.
Efek samping levodopa pada pemakaian bertahun-tahun adalah diskinesia yaitu
gerakan motorik tidak terkontrol pada anggota gerak maupun tubuh. Respon penderita
yang mengkonsumsi levodopa juga semakin lama semakin berkurang. Untuk
menghilangkan efek samping levodopa, jadwal pemberian diatur dan ditingkatkan
dosisnya, juga dengan memberikan tambahan obat-obat yang memiliki mekanisme
kerja berbeda seperti dopamin agonis, COMT inhibitor atau MAO-B inhibitor.

b) Agonis Dopamin
Agonis dopamin seperti Bromokriptin (Parlodel), Pergolid (Permax), Pramipexol
(Mirapex), Ropinirol, Kabergolin, Apomorfin dan lisurid dianggap cukup efektif

untuk mengobati gejala Parkinson. Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor
dopamin, akan tetapi obat ini juga menyebabkan penurunan reseptor dopamin secara
progresif yang selanjutnya akan menimbulkan peningkatan gejala Parkinson.
Obat ini dapat berguna untuk mengobati pasien yang pernah mengalami serangan
yang berfluktuasi dan diskinesia sebagai akibat dari levodopa dosis tinggi. Apomorfin
dapat diinjeksikan subkutan. Dosis rendah yang diberikan setiap hari dapat
mengurangi fluktuasi gejala motorik.
Efek samping obat ini adalah halusinasi, psikosis, eritromelalgia, edema kaki, mual
dan muntah.
c) Antikolinergik
Obat ini menghambat sistem kolinergik di ganglia basal dan menghambat aksi
neurotransmitter otak yang disebut asetilkolin. Obat ini mampu membantu
mengoreksi keseimbangan antara dopamine dan asetilkolin, sehingga dapat
mengurangi gejala tremor.
Ada dua preparat antikolinergik yang banyak digunakan untuk penyakit parkinson ,
yaitu thrihexyphenidyl (artane) dan benztropin (congentin). Preparat lainnya yang
juga termasuk golongan ini adalah biperidon (akineton), orphenadrine (disipal) dan
procyclidine (kamadrin).
Efek samping obat ini adalah mulut kering dan pandangan kabur. Sebaiknya obat jenis
ini tidak diberikan pada penderita penyakit Parkinson usia diatas 70 tahun, karena
dapat menyebabkan penurunan daya ingat.
d) Penghambat Monoamin oxidase (MAO Inhibitor)
Selegiline (Eldepryl), Rasagaline (Azilect). Inhibitor MAO diduga berguna pada
penyakit Parkinson karena neurotransmisi dopamine dapat ditingkatkan dengan
mencegah perusakannya. Selegiline dapat pula memperlambat memburuknya sindrom
Parkinson, dengan demikian terapi levodopa dapat ditangguhkan selama beberapa
waktu. Berguna untuk mengendalikan gejala dari penyakit Parkinson yaitu untuk
mengaluskan pergerakan.
Selegilin dan rasagilin mengurangi gejala dengan dengan menginhibisi monoamine
oksidase B (MAO-B), sehingga menghambat perusakan dopamine yang dikeluarkan
oleh neuron dopaminergik. Metabolitnya mengandung L-amphetamin and Lmethamphetamin.

Biasa dipakai sebagai kombinasi dengan gabungan levodopa-carbidopa. Selain itu


obat ini juga berfungsi sebagai antidepresan ringan. Efek sampingnya adalah
insomnia, penurunan tekanan darah dan aritmia.
e) Amantadin
Berperan sebagai pengganti dopamine, tetapi bekerja di bagian lain otak. Obat ini
dulu ditemukan sebagai obat antivirus, selanjutnya diketahui dapat menghilangkan
gejala penyakit Parkinson yaitu menurunkan gejala tremor, bradikinesia, dan fatigue
pada awal penyakit Parkinson dan dapat menghilangkan fluktuasi motorik (fenomena
on-off) dan diskinesia pada penderita Parkinson lanjut. Dapat dipakai sendirian atau
sebagai kombinasi dengan levodopa atau agonis dopamine. Efek sampingnya dapat
mengakibatkan mengantuk.
f) Penghambat Catechol 0-Methyl Transferase/COMT
Entacapone (Comtan), Tolcapone (Tasmar). Obat ini masih relatif baru, berfungsi
menghambat degradasi dopamine oleh enzim COMT dan memperbaiki transfer
levodopa ke otak. Mulai dipakai sebagai kombinasi levodopa saat efektivitas
levodopa menurun.
Diberikan bersama setiap dosis levodopa. Obat ini memperbaiki fenomena on-off,
memperbaiki kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Efek samping obat ini berupa gangguan fungsi hati, sehingga perlu diperiksa tes
fungsi hati secara serial. Obat ini juga menyebabkan perubahan warna urin berwarna
merah-oranye.
g) Neuroproteksi
Terapi neuroprotektif dapat melindungi neuron dari kematian sel yang diinduksi
progresifitas penyakit. Yang sedang dikembangkan sebagai agen neuroprotektif adalah
apoptotic drugs (CEP 1347 and CTCT346), lazaroids, bioenergetics, antiglutamatergic
agents, dan dopamine receptors. Adapun yang sering digunakan di klinik adalah
monoamine oxidase inhibitors (selegiline and rasagiline), dopamin agonis, dan
complek I mitochondrial fortifier coenzyme Q10.

2. Terapi pembedahan

Bertujuan untuk memperbaiki atau mengembalikan seperti semula proses patologis


yang mendasari (neurorestorasi).
a. Terapi ablasi lesi di otak
Termasuk katergori ini adalah thalamotomy dan pallidotomy
Indikasi :
fluktuasi motorik berat yang terus menerus
diskinesia yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan medik
Dilakukan penghancuran di pusat lesi di otak dengan menggunakan kauterisasi. Efek
operasi ini bersifat permanen seumur hidup dan sangat tidak aman untuk melakukan
ablasi dikedua tempat tersebut.
b. Deep Brain Stimulation (DBS)
Ditempatkan semacam elektroda pada beberapa pusat lesi di otak yang dihubungkan
dengan alat pemacunya yang dipasang di bawah kulit dada seperti alat pemacu
jantung.
Pada prosedur ini tidak ada penghancuran lesi di otak, jadi relatif aman. Manfaatnya
adalah memperbaiki waktu off dari levodopa dan mengendalikan diskinesia.
c. Transplantasi
Percobaan transplantasi pada penderita penyakit parkinson dimulai 1982 oleh
Lindvall dan kawannya, jaringan medula adrenalis (autologous adrenal) yang
menghasilkan dopamin.
Jaringan transplan (graft) lain yang pernah digunakan antara lain dari jaringan embrio
ventral mesensefalon yang menggunakan jaringan premordial steam atau progenitor
cells, non neural cells (biasanya fibroblast atau astrosytes), testis-derived sertoli cells
dan carotid body epithelial glomus cells. Untuk mencegah reaksi penolakan jaringan
diberikan obat immunosupressant cyclosporin A yang menghambat proliferasi T cells
sehingga masa hidup graft jadi lebih panjang. Transplantasi yang berhasil baik dapat
mengurangi gejala penyakit parkinson selama 4 tahun kemudian efeknya menurun 4
6 tahun sesudah transplantasi.
Teknik operasi ini sering terbentur bermacam hambatan seperti ketiadaan donor,
kesulitan prosedur baik teknis maupun perijinan.

3. Non Farmakologik7
a.Edukasi
Pasien serta keluarga diberikan pemahaman mengenai penyakitnya, misalnya
pentingnya meminum obat teratur dan menghindari jatuh. Menimbulkan rasa simpati
dan empati dari anggota keluarganya sehingga dukungan fisik dan psikik mereka
menjadi maksimal.
b.Terapi rehabilitasi
Tujuan rehabilitasi medik adalah untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan
menghambat bertambah beratnya gejala penyakit serta mengatasi masalah-masalah
sebagai berikut : Abnormalitas gerakan, Kecenderungan postur tubuh yang salah,
Gejala otonom, Gangguan perawatan diri (Activity of Daily Living ADL), dan
Perubahan psikologik.
Latihan yang diperlukan penderita parkinson meliputi latihan fisioterapi, okupasi, dan
psikoterapi.
Latihan fisioterapi meliputi : latihan gelang bahu dengan tongkat, latihan ekstensi
trunkus, latihan frenkle untuk berjalan dengan menapakkan kaki pada tanda-tanda di
lantai, latihan isometrik untuk kuadrisep femoris dan otot ekstensor panggul agar
memudahkan menaiki tangga dan bangkit dari kursi.
Latihan okupasi yang memerlukan pengkajian ADL pasien, pengkajian lingkungan
tenpat tinggal atau pekerjaan. Dalam pelaksanaan latihan dipakai bermacam strategi,
yaitu :
Strategi kognitif : untuk menarik perhatian penuh/konsentrasi, bicara jelas dan
tidak cepat, mampu menggunakan tanda-tanda verbal maupun visual dan
hanya melakukan satu tugas kognitif maupun motorik.
Strategi gerak : seperti bila akan belok saat berjalan gunakan tikungan yang
agak lebar, jarak kedua kaki harus agak lebar bila ingin memungut sesuatu
dilantai.
Strategi keseimbangan : melakukan ADL dengan duduk atau berdiri dengan
kedua kaki terbuka lebar dan dengan lengan berpegangan pada dinding.
Hindari eskalator atau pintu berputar. Saat bejalan di tempat ramai atau lantai
tidak rata harus konsentrasi penuh jangan bicara atau melihat sekitar.

Seorang psikolog diperlukan untuk mengkaji fungsi kognitif, kepribadian, status


mental pasien dan keluarganya. Hasilnya digunakan untuk melakukan terapi
rehabilitasi kognitif dan melakukan intervensi psikoterapi.

Prognosis

Obat-obatan yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala parkinson, sedangkan


perjalanan penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat ini. Sekali terkena
parkinson, maka penyakit ini akan menemani sepanjang hidupnya. Tanpa perawatan,
gangguan yang terjadi mengalami progress hingga terjadi total disabilitas, sering
disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak general, dan dapat menyebabkan
kematian.
Dengan perawatan, gangguan pada setiap pasien berbeda-berbeda. Kebanyakan pasien
berespon terhadap medikasi. Perluasan gejala berkurang, dan lamanya gejala
terkontrol sangat bervariasi. Efek samping pengobatan terkadang dapat sangat parah.
Penyakit Parkinson sendiri tidak dianggap sebagai penyakit yang fatal, tetapi
berkembang sejalan dengan waktu. Rata-rata harapan hidup pada pasien Parkinson
pada umumnya lebih rendah dibandingkan yang tidak menderita Parkinson. Pada
tahap akhir, penyakit Parkinson dapat menyebabkan komplikasi seperti tersedak,
pneumoni, dan memburuk yang dapat menyebabkan kematian.
Progresifitas gejala pada Parkinson dapat berlangsung 20 tahun atau lebih. Namun
demikian pada beberapa orang dapat lebih singkat. Tidak ada cara yang tepat untuk
memprediksikan lamanya penyakit ini pada masing-masing individu. Dengan
treatment yang tepat, kebanyakan pasien Parkinson dapat hidup produktif beberapa
tahun setelah diagnosis.8
C. TREMOR
Tremor adalah serentetan gerakan involunter, agak ritmis, merupakan getaran yang
timbul karena berkontraksinya otot-otot yang berlawanan secara bergantian. Dapat
melibatkan satu atau lebih bagian tubuh. Jenis tremor yang perlu kita kenal adalah
tremor normal atau fisiologis, tremor halus (disebut juga tremor toksik) dan tremor
kasar.
Tremor fisiologis didapatkan bila anggota gerak ditempatkan pada posisi sulit atau
bila kita melakukan gerakan volunter dengan sangat lambat. Tremor yang terlihat
pada orang normal yang sedang marah atau ketakutan merupakan aksentuasi dari
tremor fisiologis ini.

Tremor halus dianggap sebagai tremor toksik. Contoh yang khas adalah tremor yang
dijumpai pada hipertiroidi. Tremor ini terutama terjadi pada jari dan tangan. Kadangkadang tremor ini sangat halus dan sukar dilihat. Untuk memperjelas, tempatkan
kertas di atas jari-jari dan akan tampak kertas tersebut bergetar walaupun tremor
belum jelas terlihat. Tremor toksik ini didapatkan pula pada keracunan nikotin, kafein,
obat-obatan seperti adrenalin, efedrin atau barbiturate.
Tremor kasar salah satu contohnya adalah tremor yang didapatkan pada penyakit
Parkinson. Ini merupakan tremor yang lambat, kasar dan majemuk.
Tremor intense merupakan tremor yang timbul waktu melakukan gerakan volunteer
dan menjadi lebih nyata ketika gerakan hampir mencapai tujuannya. Tremor ini
merupakan tremor kasar dan dapat dijumpai pada gangguan serebelum. Pada tes
tunjuk-hidung pada pasien dengan gangguan di serebelum, tremor menjadi lebih nyata
pada saat telunjuk hampir mendekati hidung.
D. CHOREA
Gerakan involuntary yang dapat dijumpai didalam klinik adalah korea (chorea),
balismus, atetosis, dan distonia. Dalam kombinasi keempat gerakan involuntary itu
dapat menjadi simtomp suatu penyakit. Bahkan beberapa komponen gerakannya
memperlihatkan kesamaan, dan karena itulah mungkin keempat gerakan ini memiliki
substrat anatomic dan fisiologik yang sama.1,2
Korea adalah istilah untuk gerakan involuntary yang menyerupai gerakan lenganlengan seorang penari. Gerakan itu tidak berirama, sifatnya kuat, cepat dan tersentaksentak dan arah gerakannya cepat berubah. Gerakan koreatik yang melanda tanganlengan yang sedang melakukan gerakan voluntary membuat gerakan voluntary itu
berlebihan dan canggung. Gerakan koreatik ditangan-lengan seringkali disertai
gerakan meringis-ringis pada wajah dan suara mengeram atau suara-suara lain yang
tidak mengandung arti. Kalau timbulnya sekali-sekali maka sifat yang terlukis diatas
tampak dengan jelas, tetapi apabila timbulnya gencar, maka gerakan koreatiknya
menyerupai atetosis. Korea dalam bentuk yang khas ditemukan pada korea
syndenham dan korea gravidarum. Pada korea Huntington ia timbul dengan gencar
sehingga lebih tepat dinamakan koreatetosis Huntington. Korea dapat bangkit juga
secara iatrogenic yakni akibat penggunaan obat-obat anti psikosis (seperti haloperidol,
dan phenothiazine).3,4,5,6,10

Korea dapat melibatkan sesisi tubuh saja, sehinggga disebut hemikorea. Bila
hemikorea bangkit secara keras sehingga seperti membanting-banting diri, maka
istilahnya ialah hemibalisme. Secara pasti telah diketahui bahwa kerusakan di nucleus
substalamikus kontralateral mendasari hemibalisme.
Atetosis merupakan keadaan motorik dimana jari-jari tangan dan kaki serta lidah atau
bagian tubuh lain apapun tidak dapat diam sejenak. Gerakan yang mengubah posisi
ini bersifat lambat, melilit dan tidak bertujuan. Pola gerakan dasarnya ialah gerakan
involuntary ekstensipronasi yang berselingan dengan ekstensi jari-jari tangan dan
dengan ibu jari yang berfleksi dan berabduksi di dalam kepalan tangan. Umumnya
gerakan atetotik lebih lamban daripada gerakan koreatik, tetapi gerakan atetotik yang
lebih cepat dan gencar atau gerakan koreati yang kurang cepat dan tidak menyerupai
satu dengan yang lain dikenal sebagai gerakan koreoatetosis. Bilamana atetosis
melanda sesisi tubuh saja disebut hemiatetosis. 6,10
Distonia yang dikenal juga sebagai torsi spasme adalah suatu sikap menetap dari
salah satu bentuk gerakan atetotik yang hebat sekali. Gambarannya dapat berupa
hiperekstensi atau hiperfleksi tangan, hiperinversi kaki, hiper-lateroleksi atau hiperretrofleksi kepala, torsi tulang belakang dengan melengkungkan pinggang, sambil
wajah meringis-ringis.1,6
FREKUENSI
Penyakit Huntington merupakan autosomal dominan, kelainan neurodegenerative
dimana defek gen terletak pada lengan pendek dari kromosom 4. Kelainan penyakit
Huntington diperkirakan 5 sampai 10 per 100.000 orang di USA. Penyakit Wilson
merupakan autosomal resesif, penyakit multi system dengan sebuah gen terkait lokus
de esterase pada kromosom 13. Walaupun kejadian gen ini (carrier heterozigot) yang
hanya mengandug satu gen abnormal. Telah diperkirakan sampai setinggi satu persen,
kejadian penyakit hanya 30 per satu juta orang.
Korea herediter benigna, adalah kelainan yang sangat jarang dimana kebanyakan pada
silsilah sudah dengan jelas ditunjukkan bersifat dominan, angka kejadian 1/500.000
orang. 1,2,5,6,10

1. Ras
George Huntington pertama kali menjelaskan transmisi penyakit Huntington pada
tahun 1872 di Long Island New York. Semua orang yang terkena turun temurun dari
nenek moyang yang beremigrasi dari Anglia Timur ketempat baru pada tahun 1649.
Kelainan ini sekarang tersebar luas di seluruh dunia.
Huntington disease diketahui sering terjadi pada ras kaukasia. Semua kasus dari
kelainan ini mungkin terjadi dari garis keturunan Anglia Timur. Juga informasi
genetic diperoleh dari suatu garis keturunan keluarga yang membawa gen, terletak di
danau Maracaibo Venezuela dan sekelilingnya.
2. Umur
Korea bias terjadi pada semua umur. Pada anak-anak korea cepat menyebar, penyebab
peradangan, dan lesi-lesi striatal dapat terjadi pada banyak kasus sekitar 10 % dari
pasien dengan penyakit Huntington mempunyai onset penyakit pada saat berumur
kurang dari 20 tahun, sekitar 6 % saat berumur kurang dari 20 tahun, dan sekitar 3 %
saat berumur kurang dari 15 tahun, tapi onset yang paling sering terjadi pada dekade
ke IV dan dekade ke V. Kasus pernah ditemukan pada pasien berumur kurang dari 5
tahun. Pasien-pasien dengan onset dini biasanya menerima penyakit dari ayahnya,
sementara pasien dengan onset lanjut lebih sering mendapat penyakit dari ibunya.
Walaupun 27 % dari kasus pertama kali diketahui pada pasien berumur lebih dari 50
tahun, kebanyakan dari kasus tercatat pada pasien kurang dari 60 tahun. Onset
penyakit tercatat paling lambat pada dekade ke VIII.
Neuroachanthocytosis, mungkin merupakan bentuk paling umum dari korea herediter,
biasanya bermanifestasi klinis pada dekade ke III dekade IV (8-62 tahun). Ini dapat
dibedakan dengan penyakit Huntington onset lambat melalui analisis silsilah dan tes
neurogenetik.
Korea senilis merupakan sebuah kondisi yang bermanifestasi secara berangsur-angsur
di dekade pertengahan hidup.
Secara umum berdasarkan onset umum korea herediter benigna dapat dibedakan
menjadi 3 tipe yaitu awal masa anak-anak, sekitar usia 1 tahun, dan selama masa
kanak-kanak atau masa remaja akhir.
Onset umur yang paling sering yaitu sekitar satu tahun, saat anak mulai belajar
berjalan.

DEFINISI
Korea berasal dari bahasa yunani yang berarti menari, pada korea gerak otot
berlangsung cepat, sekonyong-konyong, aritmik dan kasar yang dapat melibatkan satu
ekstremitas, separuh badan atau seluruh badan. Hal ini dengan khas terlihat pada
anggota gerak atas (lengan dan tangan) terutama bagian distal. Pada gerakan ini tidak
didapatkan gerakan yang harmonis antara otot-otot pergerakan, baik antara otot yang
sinergis maupun antagonis. 2,3,4,6
Dengan kata lain korea adalah gerakan tak terkendali yang berupa sentakan berskala
besar dan berulang-ulang, seperti bedansa, yang dimulai pada salah satu bagian tubuh
dan menjalar kebagian tubuh yang lainnya secara tiba-tiba dan tak terduga.
Gerak korea dapat dibuat nyata bila pasien disuruh melakukan dua macam gerakan
sekaligus, misalnya ia disuruh menaikkan lengannya ke atas sambil menjulurkan
lidah. Gerakan korea didapatkan dalam keadaan istirahat dan menjadi lebih hebat bila
ada aktivitas dan ketegangan. Korea menghilang bila penderitanya tidur.
ETIOLOGI
Korea bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan gejala yang bias terjadi pada
beberapa penyakit yang berbeda. Seseorang yang mengalami korea memiliki kelainan
pada ganglia basalis di otak.
Tugas ganglia basalis adalah memperhalus gerakan-gerakan yang kasar yang
merupakan perintah dari otak.
Pada sebagian besar kasus terdapat neurotransmitter dopamine yang berlebihan,
sehingga mempengaruhi fungsinya yang normal. Keadaan ini bisa diperburuk oleh
obat-obat dan penyakit yang menyebabkan perubahan kadar dopamine atau merubah
kemampuan otak untuk mengenal dopamine.
Penyakit yang sering kali menyebabkan korea adalah penyakit Huntington.

Berbagai penyebab korea:6,10


Gangguan neurodegenerative
Herediter
Autosomal dominan
-

Penyakit Huntington

Neuroacanthocytosis

Ataksia spinoserebelar

Penyakit Fahr

Autosomal resesif
-

Neuroacanthocytosis

Penyakit Wilson

Degenerasi neuronal dengan besi di otak

Akumulasi tipe I

Ataxia-telengiectasia

Ataksia Friedreiech

Tuberous sclerosis

X-linked recessive
-

Mc Leod syndrome

Sporadis atau penurunan yang tidak diketahui


-

Atrofi olivopontocerebellar

Korea familial benigna

Korea fisiologis infancy

Korea senilis

Infeksi primer

Infeksi oportunistik

Gangguan neurometabolik
-

Sindrom Lesch-Nyhan

Gangguan lysosomal storage

Gangguan aminoacid

Penyakit Leights

Porphyria

Korea benigna
-

Herediter

Sporadic

Penyakit creutzfeldt-jakob

Sindrom defisiensi imunitas yang didapat

Ensefalitis letargika

Inflamatori

Sarkoisdosis

Infeksi

Lesi desak ruang


-

Tumor

Malformasi arteri vena

Diinduksi obat
-

Anti konvulsan

Obat antiperkinson

Kokain

Amfetamin

Anti depresan trisiklik

Neuroleptik

Sindrom withdrawal emergent

Diinduksi toksin
-

Intoksikasi alcohol dan penghentian

Anoksia

Monoksida karbon

Mangan, merkuri, thalium, toluene

Gangguan metabolic sistemik


-

Hipertiroidisme

Hipoparatiroidisme

Kehamilan

Degenerasi hepatoserebral akuisita

Anoksia

Cerebral palsy
Hiper-hiponatremi
Hipomagnesemia
Hipocalcemia
Imbalans elektrolit

Hiper-hipoglikemia
Nutrisi
Dimediasi imunitas
-

Korea Sydenham

Korea pasca infeksi

Systemic lupus erythematous (SLE)

Sindrom anti fosfolipid antibody

Korea paraneoplastik

Multiple sklerosis

Vascular
-

Infark

Hemoragik

Penyakit moya-moya

Cerebral palsy

PATOFISIOLOGI2,6,10
Fungsi ganglia basalis yaitu membentuk impuls yang bersifat dopaminergik dan
GABAnergik dari substansia nigra dan korteks motorik yang berturut-turut disalurkan
sampai ke pallidum di dalam thalamus dan korteks motoris. Impuls ini diatur dalam
striatum melalui dua segmen yang parallel, jalur langsung dan tidak langsung melalui
medial pallidum dan lateral pallidum / inti-inti subtalamikus.
Aktifitas inti subtalamikus mengendalikan pallidum medial untuk menghambat
impuls-impuls dari korteks, dengan demikian mempengaruhi parkinsonisme.
Kerusakan inti subtalamikus meningkatkan aktifitas motorik melalui thalamus,
sehingga timbul pergerakan involuntary yang abnormal seperti distonia, korea dan
pergerakan tidak sadar. Contoh klasik kerusakan fungsi penghambat inti
subthalamicus adalah balismus.
Sindrom chorea yang paling sering dipelajari adalah chorea Huntington, oleh karena
itu patofisiologi dari penyakit Huntington berlaku pada chorea dan akan menjadi
focus bahasan.

MEKANISME DOPAMINERGIK
Pada chorea Huntington, komposisi dari striatal dopamine normal, mengindikasi
bahwa kelainan utama yang mengancam jiwa, tetapi sudah terkena penyakit,

ukuran menengah, pada striatal saraf-saraf dopaminergik. Zat-zat farmakologik


yang dapat menurunkan kadar dopamine (seperti reserpine, tetrabenazine) atau
memblok reseptor dopamine (seperti obat-obat neuroleptik) dapat menimbulkan
chorea. Sejak obat-obatan yang menurunkan komposisi dopamine striatal dapat
menimbulkan chorea, meningkatkan jumlah dopamine akan menambah buruk
seperti pada chorea yang diinduksi levodopa yang terlihat pada penyakit
Parkinson.

MEKANISME KOLINERGIK

Konsep dari mekanisme ini yaitu menyeimbangkan antara acetylcholine dan


dopamine yang merupakan hal penting bagi fungsi striatum yang normal memberikan
hal yang penting untuk memahami penyakit Parkinson. Pada fase awal penyakit
Parkinson obat-obat anti kolinergik digunakan umum, khususnya saat tremor sebagai
gejala predominan. Gejala-gejala Parkinson lain seperti bradikinesia dan rigiditas juga
dapat terjadi.
Perkembangan korea pada pasien yang diberikan obat-obat kolinergik seperti
triheksipenidil merupakan pengamatan klinis yang umum, lebih lanjut obat
visostigmin intra vena (antikoliesterase sentral) dapat mengurangi korea untuk
sementara. Dengan cara yang sama korea yang diinduksi antikolinergik dapat menjadi
lebih berat dengan pemberian visostigmin.
Dalam ganglia basalis pasien dengan penyakit Huntington terjadi pengurangan kolin
asetil transferase yaitu enzim yang mengkatalisator sintesis asetil kolin. Berkurangnya
reseptor kolinergik muskarinik juga telah ditemukan. Dua pengamatan ini dapat
menjelaskan bermacam-macam respon terhadap visostigmin dan efek terbatas dari
precursor asetilkolin, seperti kolin dan lesitin.

MEKANISME SEROTONERGIK

Manipulasi dari striatal serotonin dapat berperan dalam pembentukan dari berbagai
macam pergerakan abnormal. Penghambatan pengambilan kembali serotonin seperti
fluoksetin dapat menimbulkan parkinsonisme, akinesia, mioklonus atau tremor.
Peranan serotonin (5-hidroksi triptamin) dalam pergerakan korea kurang jelas.
Striatum mempunyai konsentrasi serotonin yang relative tinggi. Penatalaksanaan
farmakologik untuk merangsang atau menghambat reseptor serotonin pada korea
Huntington tidak menunjukkan efek, mengindikasikan kontribusi terbatas serotonin
dalam pathogenesis korea.

MEKANISME GABAnergik

Lesi yang paling konsisten pada korea Huntington terlihat dengan hilangnya sarafsaraf dalam ganglia basalis yang mensintesis dan mengandung GABA. Arti dari
semua ini tidak diketahui. Bermacam-macam teknik farmakologi untuk meningkatkan
GABA di dalam system saraf pusat telah dicoba, bagaimanapun tidak ada manfaat
yang diperoleh.

SUBSTANSI P dan SOMATOSTATIN

Substansi P telah diketahui berkurang pada penyakit Huntington, sementara itu


somatostatin meningkat. Arti dari semua ini belum diketahui.
GAMBARAN KLINIS
Diagnosis korea ditegakkan berdasarkan gejala klinis:1,2,4,5

Gerak korea melibatkan jari-jari dan tangan, diikuti secara gradual oleh lengan
dan menyebar ke muka dan lidah. Bicara menjadi cadel. Bila otot faring
terlibat dapat menjadi disfagia dan kemungkinan pneumonia oleh aspirasi.
Sensibilitas normal.

Gerakan yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga, dan akan berkurang atau
menghilang jika penderita tertidur, tetapi akan bertambah buruk jika
melakukan aktivitas atau mengalami tekanan emosional.

Pasien yang menderita korea tidak sadar akan pergerakan yang tidak normal,
kelainan mungin sulit dipisahkan. Pasien dapat menekan korea untuk
sementara

dan

sering

beberapa

gerakan

tersama

(parakinesia).

Ketidakmampuan untuk mengendalikan voluntary (impersisten motorik),


seperti terlihat selama tes menggenggam manual atau mengeluarkan lidah,
adalah gambaran karakteristik dari korea dan menghasilkan gerakan
menjatuhkan objek dan kelemahan. Peregangan reflex otot sering bersifat
hung up dan pendular. Pada beberapa pasien yang terkena gerakan berjalan
seperti menari dapat ditemukan. Berdasarkan pada penyebab dasar korea
gejala motorik lain termasuk disartria, disfagia, ketidakstabilan postural,
ataksia, distonia dan mioklonus. Suatu diskusi dari manifestasi klinis yang
paling umum pada penyakit korea telah dijelaskan disini.
I.

Chorea Huntington (Chorea Mayor)2,3,10


Merupakan gangguan herediter yang bersifat autosomal dominan, onset pada usia
pertengahan dan berjalan progresif sehingga menyebabkan kematian dalam waktu 10

12 tahun. Dapat terjadi pada usia muda (tipe juvenile) dimana gejalanya kurang
tampak dan didominasi oleh gejala negative (rigiditas).
Penetransi penyakit Huntington adalah 100%. Ekspresi penyakit ini sangat bervariasi
tergantung manifestasi klinis dan onset umur. Saat kelainan muncul lebih awal
terutama pada pasien berumur kurang dari 20 tahun, hamper bisa dipastikan akan
berkembang cepat dengan adanya kelainan kognitif.
Varian Westhal yaitu kelainan distoni kaku, mungkin dibarengi kejang dan mioklonus.
Varian ini terutama pada pasien dengan onset pada masa anak-anak. Sebagai
pembanding ketika kelainan terjadi pada akhir hidup tanda utama adalah korea. Onset
kelemahan tersembunyi dapat dikenali keliru sebagai kelainan saraf sederhana.
Walaupun korea dan kelainan motorik lain merupakan gejala yang cepat dikenali,
mungkin bukan merupakan gejala yang paling awal dari timbulnya penyakit
Huntington.
Perubahan kepribadian dan gangguan psikologis menjadi manifestasi awal pada 50 %
kasus. Gejala yang tetap dengan depresi merupakan yang paling sering. Jangka waktu
penyakit sampai timbulnya kematian sekitar 15 tahun pada kasus penyakit Huntington
dewasa dan 8-10 tahun pada jenis remaja.

Patologi

Kehilangan neuron pada striatum berhubungan dengan berkurangnya hubungan


dengan struktur ganglia basalis lainnya. Selain itu juga, ditemukan hilangnya sel pada
korteks frontal dan temporal. Dasar neurokimia dari penyakit ini adalah defisiensi
GABA dan asetilkolin sebagai neuromodulator enkephalin dan substansi P.

Gejala1,2,3,4,5,6,10

Chorea
Demensia
Gangguan mental: perubahan kepribadian, gangguan afektif, psikosis.
Hipotonus
Refleks primitive

Diagnosis1,2,5,7,10

Pada pasien dengan gejala chorea dan didapatkan riwayat keluarga, singkirkan dari
penyakit benign hereditary chorea di mana terdapat intelektual pada penyakit tersebut.
Pada Huntingtons Choreal biasnya intelektual terganggu. Bedakan dengan chorea
senilis dimana terjadi biasanya pada usia yang lebih tua dan terdapat demensia.

Singkirkan juga berbagai penyebab chorea yang lain seperti chorea syndenam, chorea
gravidarum, dan chorea akibat obat-obatan.

Pemeriksaan fisik

Sejak penyakit Huntington merupakan penyakit koreatik yang paling jelas ditemukan
tanda-tanda fisik sebagai berikut :
o Korea secara umum ditandai adanya kedutan pada jari-jari dan pada wajah.
Seiring waktu, amplitudo meningkat, pergerakan seperti menari mengganggu
pergerakan voluntary dari ekstremitas dan berlawanan dengan gaya berjalan.
Berbicara menjadi tidak teratur.
o Tanda khas, pasien hipotonus meskipun demikian reflek-refleks mungkin
bertambah dan mungkin ditemukan klonus.
o Gerakan volunteer terganggu paling awal. Khususnya pergerakan mungkin
tidak teratur.
o Hilangnya

optokinetik

nistagmus

adalah

tanda

karakteristik

setelah

perkembangan penyakit. Kelainan kognitif dalam manifestasi awal dengan


kehilangan memori baru dan pertimbangan melemah. Apraksia dapat juga
terjadi
o Kelainan perilaku neurologi berubah secara khas terdiri dari perubahan
kepribadian, apatis, penarikan sosial, impulsif, depresi, mania, paranoia,
delusi, halusinasi, atau psikosis.
o Varian Westphal didominasi oleh rigiditas, bradikinesia dan distoni. Kejang
umum dan mioklonus dapat juga terlihat
o Ataksia dan demensia dapat juga terjadi

Pemeriksaan Penunjang3,4,10
LABORATORIUM
Diagnosis utama pada penyakit korea didasakan pada anamnesa dan penemuan
klinis, akan tetapi pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat trutama untuk
membedakan korea primer dan sekundernya diantaranya :
o Penyakit Huntington; satu-satunya pemeriksaan laboratorium untuk
mengkonfirmasi penyakit ini adalah dengan tes genetic. Kelainan ini
terdapat pada kromosom ke 4 yang ditandai dengan adanya pengulangan

abnormal dari trinucleotide CAG, dimana panjang lengan menentukan


lamanya serangan.
o Penyakit Wilson; rendahnya kadar seruloplasmin dalam serum dan
meningkatnya kadar tembaga dalam serum pada pemeriksaan urin.
Proteinuria ditemukan pada pasien yang mempunyai gangguan ginjal,
tetapi tidak semua pasien mengalami hal ini. Pada pemeriksaan fungsi hati
umumnya abnormal. Kadar amoniak dalam serum mungkin meningkat.
Jika hasil diagnose masih belum pasti maka biopsy hati akan sangat
membantu dalam mengkonfirmasi diagnosa tersebut.
o Sydenham korea; korea dapat terjadi setelah infeksi streptokokus. Umunya
1-6 bulan pasca infeksi, kadang-kadang setelah 30 tahun. Oleh karena itu,
maka titer antibody anti streptokokus tidak begitu di presentasikan. Tanpa
bukti adanya infeksi streptokokus yang mendahului, maka diagnose korea
harus ditegakkan tanpa penyebab lain.
o Neuroachanthocytosis; diagnose ditegakkan oleh adanya gambaran
achanthosit pada darah perifer. Kadar kreatinin kinase serum mungkin
meningkat.
MRI

Pasien dengan HD dan choreo-acantocithosis menunjukkan adanya penurunan


signal pada neostriatum, cauda dan putamen. Tidak ada perbedaan penting
pada penyakit ini. Penurunan signal neostriatal dihubungkan dengan adanya
peningkatan zat besi. Atrofi umum, seperti halnya atrofi local pada
neostriatum, pada sebagian cauda dengan adanya pelebaran pada bagian cornu
anterior menandakan adanya penuruna signal.

Penatalaksanaan
Medikamentosa1,4

Hanya bersifat simptomatik terhadap gejala-gejala yang ditemukan.

Penggunaan agen neuroleptik sebagai antagonis reseptor dopamine. Yang bisa


digunakan diantaranya haloperidol dan fluphenazine. Sedangkan yang jarang
digunakan yaitu risperidone, olanzapine, clozapine dan quetiapine.

Obat GABAergik dapat digunakan sebagai terapi adjuvant

Immunoglobulin intra vena dan plasmapharesis dapat digunakan untuk


mengurangi gejala Sydenham korea

Korea yang disebabkan oleh kelainan jantung dapat diobati dengan pemberian
steroid

Pengobatan

Tujuan akhir dari farmakoterapi adalah mengurangi angka kejadian dan mencegah
komplikasi. Korea akan membaik setelah pemakaian. Jika penyebabnya obat
dihentikan. Untuk membantu mengendalikan pergerakan yang abnormal bisa
diberikan obat yang menghalangi efek dopamine (misalnya obat anti psikosa)
Kategori obat : Antipsikotik berfungsi sebagai antagonis dopamine dan mempunyai
efek sebagai anti spasmodik.
Pada stadium awal dapat digunakan fenotiazin, haloperidol atau tetrabenazin.1,4

Prognosis

Prognosis tergantung pada penyebab dari korea. HD mempunyai prognosa yang


buruk, dimana pasien akan meninggal diakibatkan oleh adanya komplikasi. Hal yang
sama juga ditemukan pada pasien dengan neuroacanthocytosis yang mengalami
pneumonia.10
II.

Chorea Sydenham (Chorea Minor)


Komplikasi lambat dari infeksi A haemolytic streptococcal dan merupakan
criteria mayor acute rheumatic fever, dengan cirri khas chorea, kelemahan otot
dan beberapa gejala neuropsikiatri akibat penyakit autoimun.
Gejala klinis antara lain didahului adanya infeksi A haemolytic streptococcal
(20-30%), umur 5-15 tahun, perempuan predominan, adanya chorea general
(gerakan lebih cepat dan simetris dibanding chorea Huntington), perubahan
tingkah laku, gangguan obsesif-kompulsif dan iritabel, serta dapat sembuh sendiri
5-16 minggu. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan kadar ASTO (Anti
Streptolisin O) meningkat sedangkan pada MRI terdapat lesi di nucleus caudatus
dan putamen.

III.

Chorea Gravidarum
Onset saat kehamilan, merupakan reaktivasi chorea Sydenham.

E. DISTONIA
Manifestasi sebagai postur tubuh yang abnormal untuk waktu yang lama, yang
diakibatkan oleh spasme otot-otot besar yang terdapat di badan dan ekstremitas.
Misalnya retraksi pada kepala. Distonia dapat terjadi umum pada distonia
muskulorum atau lokal pada torticolis.1-4,10

1. Dystonia Musculorum Deformans


Onset terjadi pada masa anak-anak dan diturunkan secara autosomal resesif. Pada
awalnya terjadi deformans pada kaki berupa fleksi ketika berjalan. Lalu kelainan ini
bertambah menjadi generalisata. Dengan postur kepala, badan, dan ekstremitas yang
abnormal. Diagnosis ditegakkan jika pada pasien memiliki riwayat perinatal normal
dan tidak terdapat bukti laboratorium adanya penyakit Wilson. Pengobatan penyakit
ini dapat dengan levodopa atau Karbamazepin. Namun pada beberapa pasien tidak
ditemukan peningkatan yang berarti sehingga dapat diganti dengan anti kolinergik.
2. Spasmodik Tortikolis (Why neck)
Deviasi kepala unilateral dan etiologinya belum diketahui. Pada pemeriksaan
didapatkan kelainan vestibular, namun hal ini tidak jelas apakah disebabkan oleh
tortikolis atau postur kepala yang tidak normal. Kontraksi distonik dari M.
Sternokleidomastoideus yang nyeri dan dapat terjadi hipertrofi pada otot tersebut dan
otot-otot leher lainnya, yang menyebabkan kepala berputar ke satu sisi secara
involunter, juga kadang ke arah depan (antekoli) dan ke belakang (retrokoli).

Pengobatan:

Fenotiasin dan antikolinergik (triheksilfenidil)


Tindakan operatif yaitu dengan miotomi dan pemotongan nervus accesorius
dan radiks anterior servikalis atas.

Prognosis:

Dapat remisi

Dystonia dapat menyebar pada kelompok otot yang lainnya

F. ATETOSIS

Atetosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti berubah-ubah atau tidak mantap.
Gangguan kinetik ini biasanya disebabkan oleh kerusakan perinatal dan korpus
striatal. Dapat juga disebabkan oleh Kern ikterus atau hiperbilirubinemia. Gerakan
involunter menjadi lambat dengan kecenderungan untuk ekstensi berlebihan dari
ekstremitas bagian perifer. Tampak sebagai kekacauan gerakan dengan tingkat
pergerakan Chorea dan dystonia. Gejala ini melibatkan organ tangan, kaki dan sisi
wajah. Umumnya disertai otak congenital (palsi serebral). 1,2,6,10

G. MIOKLONUS
DEFINISI
Mioklonus adalah gerakan tidak disadari, tiba-tiba, sebentar, jerky, shock-like akibat
kontraksi otot (positif mioklonik) disebabkan gangguan di CNS timbul di anggota,
wajah atau badan.1,4
KLINIS
KLASIFIKASI2,4,6,10

Berdasarkan distribusi mioklonus : fokal, segmental, general


Berdasarkan neurofisiologi : kortikal, batang otak, spinal
Berdasarkan waktu : ireguler, ritmik, osilatori, mioklonus bisa saat istirahat

atau saat kerja


Mioklonus bisa reflektoris atau sensitif terhadap stimulus sensoris atau suara
Marsdens membagi mioklonus : -fisiologik, esensial, epileptik, simptomatik

1. Fisiologik Mioklonus
Timbulnya gerakan mendadak sekelompok otot saat mulai tidur, biasanya sesudah
aktivitas berat, emosi atau stress Hiccup bisa dimasukkan jenis ini.
2. Essensial Mioklonus
Onset dekade kedua, laki dan perempuan sama, timbul gerakan mioklonus. Saat
kerja, hilang saat tidur, meningkat saat emosi.
3. Epileptik Mioklonus
Adalah fenomena epilepsi terutama anak-anak, tipe progresif multifokal atau
mioklonus general ditandai dengan timbulnya kelainan neurologis progresif
seperti ataxia, spastisitas, dementia, tuli.

4. Simtomatik Mioklonus
Dihubungkan dengan infeksi, degenerasi, metabolik, toxic enselopati
Klasifikasi berdasarkan Etiologi dan Patologi :
1. Kortikal Mioklonus : lesi di korteks sensorimotor dan cetusan abnormal
a. tumor, angioma, encefalitis, contoh lesi kortikal : epilepsia partial continua.
Dapat juga lesi subkortikal seperti : Atropi Multi System, CorticobasalGanglionic degenerasi
b. Cortical mioklonus timbul saat gerakan sadar atau stimulasi somatosensoris
2. Mioklonus Batang Otak : cirinya general dan timbul saat stimulasi suara atau
sensoris kepala/leher. Diawali aktivasi sternocledoimastoid, diikuti otot
wajah, messeter baru badan dan anggota.
3. Spinal Mioklonus : cetusan abnormal dimulai di motor neuron : spinal
mioklonus segmental : gerakan jerky, berulang-ulang, ritmik, setinggi segmen
myelum saat tidur masih timbul 0,5-2 Hz.
4. Palatal Mioklonus : lesi di Guillan Mollaret triangle, dekat nukleus dentatus,
kontralateral sentral tegmentum dan oliva inferior, timbul hiperplasia nukleus
oliva inferior
ETIOLOGI6,10
1. Drug induced mioklonus : antikonvulsan, levodopa, lithium, clozapine,
penicillin, vigabatrin, cyclosporin, tricyclic antidepresan, MAO inhibitor.
2. Opsoklonus-mioklonus-sindromec: viral, Ca ovarii, melanoma, lymphoma,
hipoglikemi
3. Asterixis : metabolok encelopati
4. Kortikal mioklonus
5. Palatal mioklonus
6. Spinal mioklonus
7. Post Anoxic Enselopati
8. Progressive Myoclonic Ataxia (Ramsay Hunt Syndrome)
9. Trauma
10. Metal Toxic : mangan, besi
11. MPTP
ELEKTROFISIOLOGI1,10
1)
2)
3)
4)

EMG :untuk menentukan aktivitas otot segmental


SSEP
MRI otak, spinal
Elektron mikroskop pada kulit, konjungtiva dan otot

PENATALAKSANAAN10

Cari faktor etiologi dan diobati


Klonazepam : 4-10 mg/hr
Sodium valproat : 250-4500 mg/hr
Lisirude
Asetazolamide (Sindrom Ramsay Hunt)
Karbamazepin
Pada post hipoksia mioklonus bisa ditambahkan 5-hidroksi-tryptophan dan

carbidopa
Asteriksis (negative mioklonus) bisa dipakai ethosuximide dan koreksi metabolit
H.BALISMUS
Balismus (hemibalismus) adalah gerak otot yang datang tiba-tiba, kasar dan cepat
terutama mengenai otot-otot skelet yang letaknya proksimal, sedangkan pada khore,
gerak otot kasar, cepat dan terutama melibatkan otot yang agak distal.
I. SPASME
Spasme merupakan gerakan abnormal yang terjadi karena kontraksi otot yang
biasanya dipersarafi oleh satu saraf. Spasme klonik mulai tiba-tiba, berlangsung
sebentar dan berulang-ulang. Spasme tonik dapat berlangsung lama dan terusmenerus. Spasme klonik menyerupai kontraksi otot yang terjadi sewakut fararadiasi.
Spasme dapat timbul karena iritasi saraf perifer atau otot, tetapi dapat juga timbul
karena iritasi di suatu tempat, mulai dari korteks sampai ke serabut otot. Contoh dari
spasme adalah trismus dan rhesus sardonikus. Trismus merupakan spasme tonik otot
pengunyah, dan rhesus sardonikus adalah spasme tonik pada otot fasial.
J.TIC
Merupakan suatu gerakan yang terkoodinir, berulang dan melibatkan sekelompok otot
dalam hubungan yang sinergistik. Ada tic yang menyerupai spasme klonik, dan
disebut sebagai spasme-kebiasaan (habit spasm). Penyebab tic belum diketahui. Ada
pakar yang mengemukakan bahwa terdapat peranan sistem ekstrapiramidal dan ada
pula yang mengatakan akibat factor psikogen.
K.FASIKULASI
Fasikulasi merupakan gerakan halus, cepat dan berkedut dari satu berkas (fasikulus)
serabut otot atau satu unit motorik. Satu unit motorik ialah satu sel neuron motorik,
aksonnya serta semua serabut otot yang dipersarafinya. Gerak fasikulasi biasanya
tidak menyebabkan gerakan pada persendian, kecuali bila fasikulasi terdapat di jarijari. Dalam hal sedemikian kadang terjadi gerakan pada persendian.

Penyebab fasikulasi belum jelas, iritasi pada sel neuron motorik dapat menimbulkan
fasikulasi. Adanya fasikulasi dapat dibuat nyata dengan memberikan rangsang
mekanis pada otot tersebut misalnya dengan pukulan.
Fasikulasi mempunyai nilai prognostic pada penyakit degenerative yang melibatkan
sel neuron motorik, misalnya ALS (sklerosis amiotorik lateral).

PENUTUPAN
Gangguan gerak merupakan suatu kondisi yang menyulitkan aktivitas seseorang.
Sebagai contoh Penyakit Parkinson yang merupakan gangguan neurodegeneratif
progresif yang disebabkan karena proses degenerasi spesifik neuron-neuron
dopaminergik ganglia basalis terutama di substansia nigra pars kompakta
yang disertai inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy body). Penyakit Parkinson adalah
tiper tersering dari suatu keadaan Parkinsonisme, lebih kurang 80% dari seluruh
kasus. Selain itu penyakit Parkinson juga merupakan penyakit neurodegeratif
tersering kedua setelah demensia Alzheimer. Terdapat empat manifestasi motorik pada
penyakit Parkinson; tremor saat istirahat, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas
postural. Selain itu, pada penyakit Parkinson juga terdapat gejala non-motorik yang
termasuk didalamnya adalah gangguan sensoris dan otonom serta gangguan
neurobehavioral (neuropsikiatri) seperti depresi, ansietas, dan psikosis. Manajemen
pasien dengan penyakit Parkinson tahap lanjut sangatlah menantang kita dalam
penanganannya dilihat dari segi motorik, sering timbul komplikasi gejala psikosis,
yang disertai dengan berbagai komorbiditas neuropsikiatri lainnya. Penilaian dan
penanganan pasien Parkinson yang disertai gejala neuropsikiatri membutuhkan
perhatian yang lebih besar bagi kita untuk lebih memperhatikan lagi berbagai faktor
penyebab timbulnya gejala neuropsikiatri. Pengenalan secara dini gejala-gejala
neuropsikiatri yang timbul hampir menyerupai gejala penyakit Parkinson sangatlah
penting dalam tatalaksana pasien lebih lanjut.

Daftar Pustaka
1. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi klinis dasar. Edisi 5. Jakarta: Dian
Rakyat; 2008: 26-7.
2. Wilkinson I, Lennox G. Essential neurology. Edisi 4. Massachusetts:
Blackwell Publishing; 2005: 86-7.
3. Rowland LP. Syndromes caused by weak muscles. In: Merritts
neurology. Edisi: Rowland LP 11th. New York: Lippincott William dan
Wilkins; 2005.
4. Aminoff MJ, Greenberg DA, Simon RP. Clinical neurology. 6th ed.
New York: McGraw-Hill; 2005.
5. Fahn, Stanley. Merrits Neurology. 10

th.

Lippincott William dan

Wilkins; 2000.
6. De Long, Mahlon. Harrison Neurology in Clinical Medicine. 1 st
edition. McGraw-Hill Professional.2006.
7. Clarke CE, Moore AP. Parkinson

Disease.

http://www.aafp.org/afp.html, 2008.
8. Parkinson
Disease.

Diunduh

Diunduh

dari
dari

http://www.mayoclinic.com/print/parkinson-disease.net, Juli 2007.


9. John C.M.Brust, MD, Current Diagnosis and Treatment In
Neurology, McGraw-Hill. 2007, page 199-206.
10. Gangguan
Gerak.
Diunduh
http://www.emedicine.com/neuro/topic.com, Mei 2011.

dari