Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hukum merupakan dasar kehidupan dalam masyarakat dimana semua hal
kini diatur secara jelas dalam hukum, termasuk soal kepemilikan. Hak Kekayaan
Intelektual (selanjutnya disingkat HKI) merupakan cabang hukum yang sangat
dekat dengan kehidupan manusia, oleh karena itu semakin penting untuk
dipahami. Obyek atau hal-hal yang diatur dalam HKI adalah karya-karya yang
lahir dari kemampuan intelektual (daya pikir) manusia.
Sejak tanggal 15 April 1994 tidak kurang dari 124 negara, termasuk
Indonesia, telah menandatangani GATT-Putaran Uruguay. Di samping itu juga
disepakati berdirinya WTO (World Trade Organization), melalui Agreement
Establishing The World Trade Organization, untuk menggantikan GATT. Salah
satu kesepakatan yang dihasilkan dalam GATT-PU adalah berkaitan dengan
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Rights (TRIPs), dimana di
dalamnya mengatur tentang HKI (Sulistiyono, 2007).
Sesuai kesepakatan, implementasi perdagangan yang terkait dengan HKI
telah dimulai secara efektif tanggal 1 Januari 2000 khusus Negara-negara
berkembang. Dengan demikian, Pemerintah Indonesia dalam membuat materi

suatu perundang-undangan yang terkait HKI wajib mengacu dan tidak boleh
bertentangan dengan ketentuan TRIPs.
Undang-undang paten melindungi karya-karya di bidang teknologi. Tetapi
bila berupa karya-karya yang berfungsi sebagai pembeda barang satu dari yang
lainnya yang sejenis, dilindungi dalam rangka merek.
Peraturan di bidang HKI tersebut diharapkan mampu mengatasi berbagai
masalah tentang HKI, serta memberikan perlindungan bagi karya intelektual
sehingga mampu mengembangkan daya kreasi masyarakat, yang akhirnya
bermuara pada tujuan berhasilnya perlindungan terhadap HKI.
HKI termasuk di dalamnya paten dan merek, pada dasarnya adalah hak
privat, dalam arti seseorang bebas untuk mengajukan permohonan bagi
pendaftaran dan perlindungan atas HKI-nya atau tidak.

Hak privat disini

mencakup hak kepemilikan, hak komersial, dan hak produksi/pemakaian. Atas


dasar hak tersebut, maka pendayagunaan kekayaan intelektual menjadi hak
monopoli penemu (inventor) dan orang lain dilarang untuk mendayagunakan hasil
penemuannya.
Dengan

adanya

HKI

pada

dasarnya

kreatifitas

manusia

akan

terdokumentasikan dengan baik sehingga lebih murah dan akhirnya lebih mudah
untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Selain itu juga akan terlindungi secara
hukum sehingga terhindar dari pembajakan, penyalahgunaan, dan perampasan.

Di bidang farmasi, paten berpengaruh besar pada munculnya obat-obat


baru.Persaingan ketat antar industri farmasi menuntut perusahaan meningkatkan
competitive advantage yaitu kemampuan menghasilkan obat-obat inovasi baru.
Ketika suatu obat baru dipatenkan, maka obat tersebut harus diproduksi agar dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Jika masa perlindungan hak paten habis,
selanjutnya obat dapat diproduksi dan dipasarkan sebagai obat generic atau
branded generic. Perlindungan hukum terhadap hasil penemuan tersebut dapat
merangsang penemu untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menemukan berbagai
temuan sekaligus memindahkan alih teknologi dalam rangka menunjang
pembangunan dan pengembangan di bidang teknologi (Usman, 2003).
Perlindungan paten memberikan peluang juga untuk industri farmasi di
Negara-negara berkembang yang tidak memiliki kapabilitas penelitian dengan
dukungan teknologi modern.

Industri farmasi di sebagian besar Negara

berkembang memilih untuk memproduksi obat branded generic atau disebut juga
obat me too, yaitu obat paten yang telah habis masa patennya sehingga dapat
diproduksi dan dipasarkan dengan nama dagang (Sampurno, 2008). Di Indonesia
sendiri ada ratusan obat dengan zat aktif sama dipasarkan dengan bermacammacam merek dagang.
Untuk membedakan antara produk satu dengan yang lainnya maka setiap
perusahaan harus membentuk publicawareness dengan memberi merek (brand)
dengan nama yang mudah diingat dan brand equity yang kuat. Alasan utamanya
adalah agar perusahaan mampu menjual produknya dengan harga tinggi dan
mampu bersaing di pasar secara berkelanjutan. Brand disini memiliki values yang
3

mengandung makna kepercayaan customer sehingga mempengaruhi keputusan


pembelian (Sampurno, 2008).
Salah satu obat yang pemakaiannya terbanyak hampir di seluruh dunia
adalah parasetamol, termasuk dalam golongan analgesik yang biasa digunakan
untuk mengobati sakit kepala. Hampir 90% penduduk dunia pernah mengalami
sakit kepala dan efektifitas parasetamol 60% terbukti mampu mengobati sakit
kepala sampai intensitas sedang. Di Indonesia terdapat lebih kurang 350 merek
obat analgesikyang mengandung parasetamoldengan berbagai desain produk
diantaranya Sanmol, Pamol, Fasidol, Panadol, Itramol dan lain lain. Menurut
data USPTO (United States Patent and Trademark Office), 13 dokumen paten
terkait Parasetamol telah terdaftar mulai dari tahun 1975-2008. Hal ini cukup
mengherankan karena dari 13 paten parasetamol kemudian terdapat ratusan merek
obat sakit kepala yang mengandung parasetamol.

B. PERUMUSAN MASALAH
Apakah terdapat keterkaitan paten dengan berbagai merek obat sakit
kepala yang beredar dipasaran (studi kasus parasetamol)?

C. TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui keterkaitan paten dengan berbagai merek obat sakit kepala
yang beredar dipasaran (studi kasus parasetamol).
4

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Untuk praktisi agar dapat meningkatkan pengetahuan tentang keterkaitan
paten dengan berbagai merek obat sakit kepala yang beredar di pasaran
khususnya yang mengandung parasetamol.
2. Untuk peneliti dapat memberikan informasi dan acuan tentang pentingnya
paten terhadap munculnya desain produk berbagai merek obat sakit kepala
khususnya yang mengandung parasetamol.
3. Bagi akademik, menjadi sumber ilmu pengetahuan khususnya tentang
keterkaitan paten dengan berbagai merek obat sakit kepala yang beredar
dipasaran (studi kasus parasetamol).
4. Bagi masyarakat industri, memberi sumbangan pemikiran dan informasi
tentang pentingnya perlindungan paten terhadap suatu produk.
5. Bagi pemerintah, memberi masukan terhadap upaya perlindungan paten.
6. Bagi masyarakat, sebagai bahan kajian dan sumber informasi bagi
masyarakat luas.

E. KEASLIAN PENELITIAN
Penelitian ini berupaya mengungkap atau mencari pembuktian keterkaitan
antara paten dengan merek.

Secara khusus, keterkaitan antara paten dengan

berbagai merek obat sakit kepala yang beredar di pasaran, utamanya obat sakit
5

kepala dengan kandungan zat aktif parasetamol. Penelitian yang berjudul


Keterkaitan Paten dengan Berbagai Merek Obat Sakit Kepala yang Beredar di
Pasaran (Studi Kasus Parasetamol) berbeda dengan penelitian sebelumnya.
Berdasarkan tinjauan pustaka yang dilakukan, penelitian sebelumnya lebih
banyak berkaitan dengan aspek hukum pengelolaan paten seperti yang diperoleh
pada penelitian oleh Hasranita (1995) dengan judul Peranan UU Nomor 6 Tahun
1989 tentang Paten dalam Membantu Pengembangan Teknologi (Suatu Tinjauan
Yuridis). Purwaningsih (1998) melakukan penelitian Peranan Lisensi Paten
Luar Negeri dalam Pelaksanaan Alih Teknologi (Studi Kasus di PT. Kubota,
Semarang) dan Yunus (2007) tentang Pemberlakuan Paten untuk Obat yang
Mengandung Nevirapin dan Lamivudin untuk Penyembuhan Penyakit HIV/AIDS
Ditinjau dari Segi HAM dan Hukum Bisnis.
Penelitian terkait dengan Hak Paten pada Produk Kerajinan Tenun Cual
Khas Bangka di Kota Pangkalpinang Ditinjau dari UU No 14 Tahun 2001 tentang
Paten oleh Syakban (2007), Perlindungan Hak atas Merek yang Didaftarkan
Terlebih Dahulu ke Direktorat Jenderal HKI untuk Mencegah Usaha Persaingan
Tidak Sehat di Indonesia olehFirmansyah (2009), dan penelitian Pengelolaan
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di PT. Tropica Nucifera Industry (PT. TNI)
sebagai Strategi Hubungan Sosial (Social Networking) dengan Masyarakat oleh
Purnomo (2010)telah menjadi referensi.