Anda di halaman 1dari 6

Hakikat Konseling Lintas Budaya

KONSELING LINTAS BUDAYA


HAKIKAT KONSELING LINTAS BUDAYA
A. PRESPEKTIF KONSELING LINTAS BUDAYA
Banyak hal saat ini dikendalikan oleh pemahaman tentang perubahan cepat menuju
masyarakat multirasial, multikultural, dan multigual (Sue, 1991; Sue & Sue, 1990).
Masa lalu masarakat berpola dengan cara pandang utama monokultural dan
monoligual dan telah menjadikan encapsulated counselor (Wrenn, 1962)
Diversifikasi Amerika
Sensus amerika tahun 1990 (the 1990 U.S. sensus) mengungkap saat ini amerika
berbeda dalam perubahan demografi yang radikal. Tren populasi ini disebut sebagai
diversitifacation of Ameica sebagai akibat dari (a). Pola imigrasi saat ini dan (b).
Perbedaan rentang kelahiran antara kulit putih dan ras serta etnis minoritas lain. Saat
ini imigran terdiri dari keturunan Asia (34%), Latino (34 %) dan selebihnya ras lain,
populasi yang tumbuh tercepat adalah penduduk Amerika keturunan Asia yang
berkembang mendekati 80% pada tahun 1980an. Semetara Latino telah mencapai 55
juta dan akan menjadi populasi terbesar dalam 2025, sementara itu angka kelahiran
kulit putih menurun dan lebih kecil dibanding ras dan etnis lainnya (White American
= 2,9; African Americans = 2,4, Mexican Americans = 2,9; Vietnamese = 3,4; Latians
= 3,6; Cambodians = 7,4; dan Hmongs = 11,9/per ibu).
Implikasi pertumbuhan ini berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan sosial termasuk
ketenagakerjaan yang diwarnai latar belakang ras dan etnis yang berlainan. Para
pendidik dan konselor akan menghadapi realita demografis didalam kerjanya.
Kenyataan Pelatihan Model Monokulltural
Beberapa literatur menyatkan bahwa pendekatan dan teknik konseling tradisional
tidak efektif diterapkan pada ras dan etnis monoritas penduduk di Amerika (Bernal &
Padilla, 1982, dkk). Profesional konseling memahami ras, kultur, dan etnik sebagai
fungsi dan bukan dibatasi hanya pada minoritas tertentu saja. APA (Americans
Psychologist Association) telah memberikan sinyal harapan dengan nilai memproses
revisi anggaran rumah tangga dan etika dasar (Bylaws dan Ethical Priciples) untuk
merefleksi perbedaan budaya. Pada musim semi 1990 sub komite budaya dan
perbedaan individu telah me-review Criterion II of APA Criteria for Accreditation
hasilnya mengambarkan bahwa multibudaya merupakan hal yang tidak terpisahkan,
harus dikembangkan dan berbeda dalam seluruh program pelaksanaan.
Realitas Sosial Politik
Profesi konseling seringkali merefleksikan nilai-nilai masyrakat luas (Kats, 1985; Sue
& Sue, 1990). Beberapa refrensi menyebut konseling sebagai tangan utama status
quo dan penyabung nilai-nilai masyarakat. Hal ini mengidikasikan bahwa
konseling memiliki potensi dalam sosial politik yaitu:
a. Cara pandang konselor dan klien terhadap dunianya pada akhirnya terkait dengan
sejarah dan pengalaman terkini tentang rasisme dan tekanan AS (Atkinson, Morten &
Sue, 1989, dkk)
b. Para profesional konseling perlu memahami bahwa pelaksanaan konseling tidak
terpisah dengan peristiwa-peristiwa besar di masyarakat
Penelitian dan konsep tentang multikultural

Sistem nilai-nilai kelas menegah para kulit putih, seringkali terefleksi dalam
penelitian konseling dan psikologi tentang ras dan etnis minoritas. Berdasar sejarah
terdapat tiga model yang cukup hangat dalam mengkonseptualisasikan penelitian
bertemakan ras dan bahasa kaum minoritas (Casas, 1987; Katz, 1985; Ponterotto,
1988; Sue & Sue, 1990). Pertama tentang inverioritas dan pathological. Premis dasar
menyatakan bahwa para minoritas lebih rendah tingkat evolusioner-nya, (lebih
primitiv) dan patologis dari pada kaum kulit putih, model kedua menyatakan para
kulit hitam, ras, dan minoritas lain tidak cukup secara biologis dibandingkan dengan
kulit putih. Sementara kaum minoritas lebih rendah secara biologis dan genetis, ketiga
model penurunan budaya, yang menyatakan para ras dan kaum minoritas tidak
memiliki budaya yang bener
Dalam sepuluh tahun terakhir, konsep-konsep baru berbeda model, muncul dalam
literatur, seringkali muncul seperti: culturally different model (Katz, 1985; Sue, 1981),
multicultural model (Johson, 1990), Culturally pluralistik model atau Culturally
diverese model (Pototerotto & Cassas, 1991), model-model baru ini membuat
beberapa asumsi:
a. Pertama keyakinan bahwa pendekatan budaya tidak sama dengan Deviancy,
pathologi, atau inveriority.
b. Rasial dan minoritas etnis adalah bicultural dan berfungsi dalam dua kontek budaya
yang berbeda
c. Bilcultural dipandang sebagai kualitas positif dan diharapkan memperkaya potensi
kehidupan dalam segala lapisan
d. Individu-individu dipandang dalam hubungannya dengan lingkungannya dan
kekuatannnya dan kekuatan sosial yang lebih besar, daripada secara individual atau
kelompok minoritas
Isu-isu etika
Para fropesional tampa latihan dan kompetensi kerja dengan klien dengan latar
belakang budaya berbeda, adalah tidak etis, jika percaya bahwa pandangan
multikultural dapat dipandang sebagai malajustment dalam masyarakat yang
pluralistik (Szapoeznic, Santisteben, Durtines, Pres Vidal & Hervis, 1983). Konselor
yang tidak sadar akan basis perbedaan yang terjadi antara individu dan budayanya,
akan menyalahkan karakteristik-karakteristik negatif dari suatu budaya, diperlukan
kesadaran tentang kondisi konselor, kondisi kliennya, dan sistem sosial poliik agar
konselor tidak terjebak dalam praktek yang tidak etis dan berbahaya.
B. KOMPETENSI DAN STANDAR KONSELING LINTAS BUDAYA
Jelaslah bahwa kebutuhan konseling lintas mudaya diperlukan dan sangat penting
terkait penerapan etika dan kebutuhan kerja profesional konseling
Kompetensi konselor litas budaya
Sue & Sue (1990) mengorganisir karakteristik konselor dalam tiga dimensi:
a. Konselor yang berketarampilan budaya adalah seorang yang aktif berproses
menjadi sadar terhadap anggapan-anggapannya tentang tingkah laku manusia, nilainilai, bias-bias, keterbatasan pribadi, dan sebagainya
b. Konselor yang berketerampilan budaya adalah seorang yang aktif memahami
pandangannya terhadap perbedaan budaya klien tampa penilaian yang negatif
c. Konselor yang berketerampilan budaya adalah seorang yang aktif dalam proses

pengembangan dan menerapkan secara tepat, televan, dan sensitif menggunakan


startegi dan keterampilan intervensi sesuai dengan perbedaan budaya klien
Dimensi Kompetensi Kultural
Kompetensi konseling lintas budaya terbagai atas tiga dimensi yaitu: (a) Keyakinan
dan sikap, (b). Pengetahuan, (c). Keterampilan (Carney & Kahn, 1984; Sue, 1982).
Penjelasan dari tiga dimensi tersebut adalah:
a. Keyakinan dan sikap konselor terhadap ras dan etnis minoritas, kebutuhan meneliti
bias-bias dan steriotipe, pengembagan menuju orentasi positif multikulturalisasi, nilainilai dan bias-bias konselor yang menghalangi efektifitas konseling lintas budaya
b. Konselor lintas budaya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik terhadap
cara pandangnya sendiri, memiliki pengetahuan khusus tentang budaya kelompok
partner kerjannya, memahami pengaruh sosiopolotik
c. Memiliki keterampilan khusus bekerja kelompok minoritas
Kompetensi-kompetensi konseling litas budaya: sebuah kerangka kerja konseptual
Pembahasan kompetensi konselor lintas budaya dikembangkan atas kemungkinan 3
karakteristik X 3 dimensi sebagai dasar matrik pengembangan, dalam tiga
karakteristik tersebut memiliki tiga dimensi dengan demikian secara keseluruhan
terdapat sembilan kompetensi konselor litas budaya, untuk lebih jelas sebagai berikut:
a. Kesadaran konselor terhadap asumsi-asumsi, nilai, bias-biasnya sendiri
1. Keyakinan dan sikap
- Konselor lintas budaya harus mengubah ketidaksadarannya menuju kesadaran
budaya serta cukup sensitif terhadap warisan budaya sendiri untuk menilai dan
menghormati perbedaan-perbedaan
- Konselor lintas budaya menyadari bagaimana latar belakang budaya dan
pengalaman, sikap, nilai-nilai, dan bias-bias berpengaruh pada proses psikologis
- Konselor lintas budaya dapat mengenali keterbatasan kompetensi kliennya
- Konselor lintas budaya menikmati perbedaan dirinya dengan klien mencakup ras,
etnis, budaya, maupun kepercayaan
2. Pengetahuan
- Konselor lintas budaya memiliki pengetahuan khusus tentang rasial, warisan budaya,
dan bagaimana hal tersebut secara pribadi dan secara profesional mempengaruhi
pengertian-pengertiannya, bias-bias normalitas-abnormalitas, serta proses konseling
- Konselor lintas budaya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana
tekanan, rasial, deskriminasi dan striotipe mempengaruhi pribadi dan kerjanya
- Konselor lintas budaya memiliki pengetahuan dampak sosialnya berpengaruh pada
orang lain. Mereka tahu tentang perbedaan gaya komunikasi, bagaimana gayanya
bertentangan atau menunjang proses konselingnya, dan tahu bagaimana
mengantisifasi akibat-akibatnya pada orang lain
3. Keterampilan
- Konselor lintas budaya mencari bidang pendidikan, konsultasi, dan pengalaman
pelatihan dalam memperkaya pemahamannya dan efektifitas kerjannya dalam
populasi budaya yang berbeda. Untuk mengenali keterbatasan kopetensinya mereka
harus: berkonsultasi, studi atau latihan lanjutan, menjadi lebih berkualifikasi, terlibat
dalam tiga aspek tersebut
- Konselor lintas budaya secara konstan mencari pemahaman dirinya sebagai rasial,
berbudaya dan secara aktif mencari identitas non rasial

b. Pemahaman cara pandang terhadap perbedaan budaya klien


1. Keyakinan dan sikap
- Konselor lintas budaya menyadari reaksi emosional negatifnya terhadap ras maupun
eknik lain yang terbukti murugikan proses konseling
- Konselor litas budaya menyadari streotipenya dan preconcelved Notions
mempengaruhi rasial dan kelompok minoritas lainnya
2. Pengetahuan
- Konselor lintas budaya memiliki pengetahuan khusus dan informasi tentang
kelompok tertentu dari klien yang sedang dihadapinya
- Konselor lintas budaya memahami bagaimana ras, budaya, etnis, berpengaruh pada
pembentukan pribadi, pemilihan pekerjaan, ganguan psikologis, ketepatan dan
ketidaktepatan pendekatan konseling
- Konselor lintas budaya memahami dan memiliki pengetahuan tentang pengaruh
sosiopolitik yang berbenturan dengan kehidupan ras tertentu maupun etnis minoritas
3. Keterampilan
- Konselor lintas budaya cukup mengenal riset yang relevan dan penemuan mutakhir
tentang kesehatan mental, gangguan mental pada berbagai ras dan etnis
- Konselor lintas budaya aktif terlibat dengan individu dari minoritas tertentu diluar
seting konseling
c. Pengembangan strategi intervensi dan teknik-teknik yang tepat
1. Keyakinan dan sikap
- Konselor lintas budaya menghargai keagamaan dan keyakinan klien serta keyakinan
dan nilai-nilai fungsi-fungsi fisik dan mental
- Konselor lintas budaya menghormati praktek-praktek bantuan pribumi menghormati
jaringan bantuan intrinsik masyarakat minoritas
- Konselor lintas budaya menghormati ke-dwibahasaan dan tidak memandang bahasa
lain sebagai halangan untuk konseling
2. Pengetahuan
- Konselor lintas budaya mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang jelas,
eksplisit tentang karakteristik umum konseling dan terapi dan bagaimana jika dia
bertentangan dengan nilai-nilai budaya dari berbagai kelompok minoritas
- Konselor lintas budaya sadar akan hambatan secara lembaga yang menghambat para
kaum minoritas memanfaatkan layanan kesehatan mental
- Konselor lintas budaya mempunyai pengetahuan tentang potensi bias alat-alat
pengukuran dan menggunakan prosedur, mengiterprestasi temuan berdasar budaya
dan karakteristik bahasa klien
- Konselor lintas budaya memiliki pengetahuan tentang struktur keluarga para
minoritas, herarki, nilai-nilai, dan keyakinan
- Konselor lintas budaya sadar akan relevansi perbedaan praktek-praktek pada tingkat
sosial dan komunitas tertentu yang memungkinkan mempengaruhi kesejahteraan
psikologis populasi yang mendapat pelayanan
3. Keterampilan
- Konselor lintas budaya memiliki keterampilan dalam berbagai macam respon verbal
maupun nonverbal, mereka dapat mengirim dan menerima respon verbal maupun non
verbal secara akurat dan tepat. Dia juga dapat mengatisipasi akibat negatif
keterbatasan dan ketidaktepatan cara/gaya bantuannya
- Konselor lintas budaya dapat melatih keterampilan intervesi secara lembaga atas
nama kliennya. Mereka dapat membnatu klien menentukan masalah mana yang

bersumber dari rasisme, atau bias-bias lain, sehingga klien secara tidak tepat
menyalahkan dirinya
- Konselor lintas budaya tidak menentang untuk mencari konsultasi secara tepat
dengan para penyembuh tradisional, para religius, para pemimpin agama, para
praktisi, dalam proses tretmennya pada klien yang berbeda budaya
- Konselor lintas budaya bertanggung jawab atas interaksi dalam bahasa-bahasa yang
diminta klien; hal ini juga memungkinkan reveral ke pihak luar secara tepat.
Permasalahan yang sering muncul adalah konselor tidak memiliki kemampuan bahasa
sesuai dengan klien. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan: 1) mencari terjemah yang
memiliki pengetahuan bahasa dan latar belakang profesi yang tepat, 2). Menunjuk
konselor yang cakap dalam dwibahasa
- Konselor lintas budaya memiliki keahlian dalam menggunakan intrumen testing dan
pengukuran tradisional
- Konselor lintas budaya dapat menghadirkan dan juga menghilangkan bias,
prasangka, dan praktek-praktek diskriminasi
- Konselor lintas budaya bertanggungjawab membelajarkan klien dalam prose
intervensi psikologi seperti tujuan, harapan, keabsahan, dan orentasi konselor.
C. Pendekatan Emic dan Etic
Konselor litas budaya memasukkan pendekatan informal adalah mengunakan
kontributor terhadap konseling lintas budaya yaitu berusaha menyampaikan
pengharapan conseli tentang latar belakang budaya berbeda, dengan mendorong
kesadaran untuk menetralkan masalah dalam memperoses konseling lintas budaya
bagi pengalaman klien. Konselor yang berorentasi emic dihasilkan berdasarkan
konsep, dan pendekatan yang indigen terhadap budaya, sedangkan konseling
berorentasi etik didasarkan pada asumsi bahwa perbedaan antara budaya adalah
kuantitatif dan konsep dasar diaplikasikan
Apa yang hendak didorong pengarang adalah pergeseran dari pandangan etic kepada
emic, dan sebaliknya, melalui improvisasi dan pencampuran kreatif dua perspektif
tersebut, kadang-kadang dengan mengintegrasikannya ke dalam konseptualisasi dan
teknik. Orientasi yang mereka sampaikan menunjukkan tarik menarik dengan
formulasi Berry (1969)
TEKNIK VERSUS HUBUNGAN
Generalisasi secara tentatif menyatakan bahwa hubungan variabel-variabel lebih kuat
ketika ditransfer antar budaya daripada dalam teknik khusus, seperti yang
disampaikan oleh refleksi perasaan, menonjol dan populer pada waktu itu. Beberapa
pengarang menggabungkan pengakuan pentingnya fleksibilitas teknik,... sensitivitas
pribadi dan keterbukaan terhadap intervensi aktif dan langsung (Draguns, 1976),
Untuk membantu konselor mengimplementasikan prinsip-prinsip umum ini, berikut
disampaikan :
Dalam mengadaptasikan teknik (misalnya level aktivitas umum, mode intervensi
verbal, konteks remark, nada suara) dengan latar belakang budaya dari klien;
penerimaan komunikasi dan penghargaan klien dalam bentuk makna dan kepintaran
di dalam kerangka budaya dia sendiri; dan keterbukaan terhadap kemungkinan
intervensi langsung dalam kehidupan klien daripada etos tradisional yang ditentukan
atau dibolehkan oleh konselor.
KONSELING BUDAYA SEBAGAI PROSES PEMBELAJARAN BILATERAL

Kontributor edisi pertama Konseling Lintas Budaya mengakui bahwa Konseling


Lintas Budaya melibatkan pengalaman pembelajaran bilateral di mana baik konselor
ataupun klien berpartisipasi, dan di mana keduanya terpengaruh, klien memperoleh
perubahan menguntungkan. Namun kontak dan interaksi budaya di secara pribadi
bermanfaat dan secara emosional mengisi hubungan, karakteristik pengalaman
konseling selalu mempengaruhi konselor dengan baik. Pertama, terdapat pengalaman
perbedaan yang tidak dapat dihindari. Dari ini seringkali terdapat reaksi yang sulit dan
kadang-kadang menyakitkan, pikiran terbuka dan konselor perseptif dapat belajar
banyak tentang dirinya dan pandangan mereka tentang budaya lain. Dalam proses
tersebut, mereka dapat meningkatkan sensitivitas dan kompetensi lintas budaya.
Sebuah keuntungan insidental bagi konselor konseling lintas budaya ditemukan dalam
pandangan klien yang menyampaikan pengalaman subyektif tentang budaya lain
KONSELING LINTAS BUDAYA SEBAGAI USAHA BERORIENTASI MASA
DEPAN
Prince (1963) telah pergi ke Nigeria dan membawa kembali dua kesimpulan penting:
berdasarkan irrelevansi teknik terapi barat yang tidak dimodifikasi dan tentang
efektivitas intervensi pribumi (indigenous). Torey (1972) telah menyampaikan kasus
untuk mengidentifikasi isi efektif psikoterapi dalam non barat tradisional dan
psikoterapi Euro-American, Konsensus dalam bidang tersebut menekankan kesulitankesulitan lintas budaya dalam intervensi terapi (Wintrob 1976; Wohl 1976).

DAFTAR RUJUKAN
Pedersen, P.B. 1991. A conceptual framework. Journal of Counseling and
Development. Vol 70. No 1. hal 5.
Pedersen, P.B. 1991. Multiculturalisme as a generic counseling and development.
Journal of Counseling and Development. Vol 70. No 1. hal 6-12
Pedersen, P.B.; Draguns, J.G.; Lonner, W.J. dan Trimble, J.E. 2002 Counseling Across
Cultures. 5th Edition. London: Sage