Anda di halaman 1dari 3

Kandungan senyawa minyak cengkeh

Minyak cengkeh atau minyak cengkih adalah minyak atsiri yang dihasilkan
dari penyulingan bagian tanaman cengkeh, terutama daun dan bunga cengkeh.
Secara umum, daun dan ranting cengkeh mengandung eugenol dengan
konsentrasi lebih banyak dibandingkan bunga cengkeh. Minyak yang dihasilkan
dari daun cengkeh kering terdapat 82-88% eugenol. Kandungan lain yang
terdapat di dalamnya adalah zat mangan, asam lemak omega 3, magnesium,
serat, zat besi, potasium dan juga kalsium. Vitamin yang diperlukan oleh tubuh
juga ada di dalamnya, terutama vitamin C dan vitamin K. Minyak daun cengkeh
merupakan salah satu minyak atsiri yang cukup banyak dihasilkan di Indonesia
dengan cara penyulingan air dan uap. Minyak daun cengkeh berupa cairan
berwarna bening sampai kekuning-kuningan, mempunyai rasa yang pedas,
keras, dan berbau aroma cengkeh. Warnanya akan berubah menjadi coklat atau
berwarna ungu jika terjadi kontak dengan besi atau akibat penyimpanan.
Senyawa eugenol merupakan komponen utama yang terkandung dalam
minyak cengkeh (Syzygium aromaticum), dengan kandungan dapat mencapai
70-96%, dan walaupun minyak cengkeh mengandung beberapa komponen lain
seperti eugenol asetat dan -caryophyllene (Alma et al., 2007; US EPA, 2008;
Bhuiyan et al., 2010), tetapi yang paling penting adalah senyawa eugenol,
sehingga kualitas minyak cengkeh ditentukan oleh kandungan senyawa tersebut,
semakin tinggi kandungan eugenolnya maka semakin baik kualitasnya dan
semakin tinggi nilai jualnya. Dalam persyaratan mutu minyak daun cengkeh SNI
06-2387-2006 kandungan minimal senyawa eugenol adalah 78% (Badan
Standardisasi Nasional, 2006)
Minyak cengkeh tersusun eugenol yaitu sampai 95% dari jumlah minyak
atsiri keseluruhan. Selain eugenol, juga mengandung aseton-eugenol, beberapa
senyawa dari kelompok seskuiterpen, serta bahan-bahan yang tidak mudah
menguap seperti tanin, lilin, dan bahan serupa damar. Kegunaan minyak
cengkeh antara lain obat mulas, menghilangkan rasa mual dan muntah

Kandungan senyawa minyak sereh

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Minyak daun cengkeh merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia dan memegang
peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat produsen minyak daun
cengkeh. Minyak cengkeh mengandung beberapa komponen, tetapi yang paling penting
adalah eugenol. Eugenol inilah yang memberikan aroma khas yang banyak dibutuhkan
oleh berbagai industri, antara lain industry kosmetika, farmasi, dan pestisida nabati
( Agus kardinan, 2005 : 14).
Eugenol dapat dipisahkan dari minyak daun cengkeh dengan cara penggaraman
(direaksikan dengan basa alkali encer), pemurnian dengan cara ekstraksi dan pemisahan
eugenol dengan asam-asam anorganik. Tahapan terpenting pada isolasi eugenol dari
minyak daun cengkeh adalah mengekstrak komponen- komponen non eugenol yang ada
dalam air (larutan non eugenolat). Ekstraksi dilakukan dalam corong pemisah. Cara
ekstraksi yang demikian disebut ekstraksi cair-cair tak kontinyu.
Ekstraksi cair-cair tak kontinyu mempunyai kendala- kendala antara lain pengulangan
yang berulang-ulang, terjadinya kenaikan tekanan internal dan emulsi dalam corong
pemisah, serta kehilangan pelarut yang relatif besar. Selain itu, betakariofilen masih
juga ada bersama-sama eugenol yang dihasilkan pada pemurnian eugenol memakai
ekstraksi cair-cair tak kontinyu (Rusli, 1980 : 51).
Untuk mengatasi kendala- kendala yang terjadi pada ekstraksi cair cair tak kontinyu,
maka digunakan ekstraksi cair-cair kontinyu pada pemurnian eugenol dari minyak daun
cengkeh.

Dapus

.
Badan Standar Nasional. 2006. Mutu Minyak Daun Cengkeh. Jakarta:BSN.
Guenther. 1950. Minyak Atsiri. Jakarta: UI Press
Harris. 1987. Tanaman Minyak Atsiri. Akarta: Penebar Swadaya.
Virmani, O.P. dan Datta, S.C., 1971, Essential Oil of Cymbopogon winterianus (Oil
of Citronella, Java), The Flavour Industry, 595-605 Lufony dan Rahmawati.
1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Jakarta: Penebar Swadaya.