Anda di halaman 1dari 48

BAB III

DIN AL-ISLAM
Kerangka Islam Holistik Integralistik

Penulis :
Dr. Asep Zaenal Auso, M.,Ag

Editor ahli :
1. Prof. Dr. K.H. Miftah Faridl
(Mantan Guru Besar Bidang Humaniora ITB)
2. Dr. Agus Syihabuddin, MA, MBA (Dosen Agama Islam ITB)

Karakteristik yang mau dibangun dengan bab Din Al-Islam : Kerangka Islam
Holistik Intergralistik ini adalah (1). Pemahaman tentang hakikat Dien al-Islam. (2).
Kesadaran bahwa Islam adalah agama holistik (meliputi semua aspek hidup dan kehidupan)
\
serta integralistik
(konsep yang padu). (3). Keyakinan dan pemahaman bahwa Islam bukan
sekadar sistem teologi tetapi merupakan sebuah sistem hidup dan kehidupan yang di
dalamnya ada tata keyakinan, tata cara beribadah dan tata cara berperilaku (4). Kesadaran
bahwa konsep Islam yang holistik akan dapat dinikmati hasilnya apabila seluruh ajaran
Islam dilaksnakan secara kaffah, holistik (5). Semangat untuk melaksanakan Islam secara
total dan konsisten (kaffah dan istiqamah) sampai ajal tiba (6). Keyakinan bahwa berislam
yang baik hanya dapat dicapai melaui iman, hijrah dan jihad.

1. Hakikat Din al-Islam


Dari sisi bahasa, din berasal dari kata dana- yadinu- dinan yang salah satu artinya
adalah peraturan (kamus al-Munjid), bisa juga berarti perjalanan (kamus al-Muhith).

Jadi

din adalah aturan yang mengatur perjalanan hidup manusia di alam dunia ini.1 Adapun
istilah Islam berasal dari kata salima (selamat) kemudian dibentuk menjadi kata aslama,
yuslimu , islaman yanag artinya berserah diri secara total ( total submittion).

Jika din

digabungkan dengan kata Islam sehingga menjadi din al-Islam berarti tatacara hidup ala
Islam yang patuh secara total kepada kehendak Allah.
Apabila din diterjemahkan sebatas agama, itu tidaklah tepat. Mengapa ? ada dua
alasan pokok (1). Istilah agama (religion, religie) hanyalah merupakan alih bahasa saja yang
tidak mengandung makna substantif dan essensil. (2). Kalau din diterjemahkan agama
maknanya menjadi sempit karena mereduksi banyak tatanan hidup yang tidak termasuk
katagori agama sebab definisi agama adalah tata keyakinan dan tata beramal yang memiliki
tiga unsur, yakni (a). Adanya nabi, (b). Memiliki kitab suci dan (c). Tatacara ibadah. Definisi
demikian, mereduksi isme-isme yang ada menjadi bukan agama padahal isme-isme itu pun
berisi tatanan hudup. Agama yang diakui di Indonesia misalnya, hanya ada enam , yakni
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Fu Tse,

padahal di Indonesia terdapat

ratusan bahkan mungkin ribuan tatacara hidup, misalnya Komunisme, Materalisme,


Liberalisme, Hedonisme, Nihilisme, Agnotisme, Theosofi, dan seluruh aliran kepercayaan
pada hakikatnya termasuk din (tatan hidup).
Dengan memaknai din sebagai tatanan hidup, maka yang dimaksud dengan istilah
muslim adalah orang yang ber-din al-Islm, atau orang-orang yang melaksanakan tata cara
hidup menurut Alquran dan Sunnah, baik dalam tata cara makan, minum, berpakaian,
berekonomi, berpolitik, dan lain-lain. Adapun istilah kafir adalah orang-orang yang ber-din
selain Islam.
Din al-Islam sebagai tatanan hidup meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan
(holistik), dari mulai masalah ritual sampai kepada masalah pergaulan antar manusia,
1 Emile Durkheim menyatakan bahwa esensi agama adalah kepercayaan dan pengalaman yang bersifat sakral,
sedangkan menurut John R. Bernet, esensi agama adalah tata aturan yang memiliki kekuatan yang lebih tinggi
daripada kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Kalau begitu esensi agama sebenarnya adalah aturan yang
memiliki kekuatan luar biasa yang bisa mengatasi kekuatan manusia.

termasuk masalah sosial budaya, sosial ekonomi, sosial politik, bahkan sampai kepada
masalah kenegaraan. Keseluruhannya menyatu tak dapat dipisah-pisah (integralistik).
Seseorang yang mengaku muslim atau menganut din al-Islm harus mengikuti tatanan hidup
Islam secara kffah ; komprehensif, holistik, integratif apapun resikonya. Apabila ia
menerima sebahagian aturan Islam dan menolak sebahagian lainnya, itu dikatagorikan
sebagai kafir juga, ia pasti akan terpental di akhirat sebagaimana diterangkan di dalam QS.
Ali Imran [3] : 19 dan 85.












# #


#




Sesungguhnya din di sisi Allah hanyalah Islam (QS. 3 : 19 ) Barangsiapa
mencari tatanan hidup selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(din itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS.
Ali Imran [3] : 85).

Din terbagi dua yang sangat jelas bedanya, yakni din al-haq dan din al-bathil .
Pengert
ian din al-haq ialah din yang berisi aturan Allah yang telah didesain sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan fitrah manusia. Aturan ini kemudian dituangkan di dalam kitab
undang-undang Allah, yakni Alquran
, sedangkan di luar din al-Islam adalah din yang berisi aturan manusia paling tidak
banyak dioplos dengan aturan manusia.
Berdasarkan pengelompokkan din ini, maka manusia sebagai pemilih din otomatis
hanya terbagi menjadi dua kelompok yang

jelas-jelas

berbeda yakni kelompok Huda

(mendapat petunjuk) dan kelompok Dhallin (kelompok sesat). Kelompok Hud adalah
kelompok yang memilih din al-Islam sebagai tatanan hidupnya. Ini berarti bahwa mereka
telah mengikuti jalan yang haq sehingga Allah akan menghapuskan segala kesalahannya,
sedangkan kelompok Dhalalah atau dhallin adalah orang-orang yang memilih din selain
Islam. Ini berarti mereka telah mengikuti aturan yang salah dan telah menjadikan setan
sebagai pimpinan mereka. Mereka itulah orang-orang yang sesat sebagaimana ditegaskan
oleh Allah di dalam Alquran surat Al-Araf [7] : 30 dan surat Muhammad [47] : 1-3.







Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi
mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka)
selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.











Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan
Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang
yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta
beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah
yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan
mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena
sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya
orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka.
Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan
bagi mereka. QS. Muhammad [47] : 1-3.

Dalam pandangan Alquran, din al-Islam adalah satu-satunya din ciptaan Allah (QS.
Ali Imran [3]: 19 dan 85), sedangkan selain din al-Islam merupakan hasil ciptaan manusia
berdasarkan akal, imajinasi dan falsafah sebagaimana telah dikemukakan di atas. Din-din ini
telah

melahirkan isme-isme yang pada dasarnya merupakan din juga, antara lain

Materalisme, Kapitalisme, Liberalisme, Markisme, Komunisme, dan Kolonialisme. Segala


macam aturan hasil pikiran manusia sebagai din al-bathil itu telah terbukti gagal dalam
mengatur umat manusia. Materealisme yang bertitik tolak dari dan berorientasi kepada
materi telah melahirkan orang-orang yang serakah;

Kapitalisme yang menitikberatkan

kepada penguasaan kapital (modal) telah melahirkan terjadinya monopoli; Liberalisme yang
menitikberatkan kebebasan dan menonjolkan hak individu telah melahirkan terjadinya jurang
pemisah antara orang kaya dan orang miskin, serta melahirkan kecemburuan sosial dan
dekadensi moral; Komunisme telah melahirkan manusia yang tidak mengenal Tuhan dan

tidak mengenal hak milik individu sehingga melahirkan ketidakpuasan. Oleh karena tatanan
hidup produk falsafah manusia itu telah terbukti tidak membawa keselamatan, maka manusia
harus segera hijrah kepada din al-Islm.
Muncul pertanyaan, mengapa beberapa tokoh pemikir Islam berpendapat
semua agama itu benar ?
Benar tidaknya suatu agama menurut manusia tergantung dari sudut mana
melihatnya atau tergantung kepada perspektifnya :

Dari sisi politik : Agama yang benar adalah agama yang tidak mengganggu stabilitas

politik.
Dari sisi sosioliogis : Agama yang benar adalah agama yang penganutnya mau dan

mampu berinteraki sosial dengan masyarakat serta tidak melahirkan keresahan sosial.
Dari sisi Psikologi : Agama yang benar adalah agama yang dapat memberikan

ketenteraman batin.
Dari sisi militer : Agama yang benar adalah agama yang para penganutnya mampu

ikut serta dalam pertahanan keamanan negara.


Dari sisi subjektivitas penganutnya: Semua agama itu benar menurut penganutnya
masing-masing.

Menurut penganut Kristen Protestan agama yang benar adalah

agama Kristen Protestan saja sedangkan agama yang lainnya termasuk Katolik adalah
agama yang salah. Kata orang Hindu agama yang benar adalah agama Hindu,

sedangkan menurut muslimin agama yang benar hanyalah agama Islam.


Dari sisi Filosofis : Dari sisi ontologis agama yang benar harus jelas definisi dan
eksistensinya. Dari aspek epistemologi harus menaati azas dan prinsip keilmuan,

memiliki sumber-sumber ajaran serta memiliki metodologi untuk mendapatkannya.


Dari sisi aksiologis agama itu harus bermanfaat dan dapat dijadikan pegangan, mana

yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.


Dari sisi syariah Islam : Agama yang benar adalah agama yang sesuai dengan
syariah Allah yakni betawhid, beribadah, dan berakhlak luhur sesuai akhlak Nabi
SAW sebagaimana diterangkan oleh Alquran dan sunnah Rasulullah saw.
Masalahnya adalah kita mau melihat agama dari sisi mana ?.

Kalau presiden,

negarawan, dan politikus, pasti akan mendefinikan agama yang benar dari perspektif politik,
sedangkan Lembaga Sosial Kemasyarakatan (LSM) semacam Aliansi Kebebasan Beragama
akan melihat benar tidaknya agama dari sisi sosial budaya. Mereka akan berpendapat semua
agama itu benar selama bisa bekerjasama di bidang sosial kemasyarakatan. Adapun umat
Islam secara pribadi, kolektif dan kelembagaan melihat kebenaran agama dari sisi syariah.
Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga yang mempresentasikan

umat Islam harus melihat benar tidaknya paham dan aliran dalam Islam dari sisi Alquran dan
Sunnah Rasul. Kewajiban MUI adalah hifdzud din yakni membela kemurnian al-Islam,
siapapun yang menodai kemurnian Islam harus disikapi secara serius oleh MUI. Apabila
fatwa MUI tidak disetujui oleh LSM, bahkan fatwa tersebut cenderung dilecehkan, itu soal
lain, terserah respon mereka karena antara MUI dengan LSM berbeda perspektif.
Insya Allah dilihat dari berbagai sisi, dien al-Islam sangat unggul, dari sisi sosial
politik, Islam sangat menopang stabilitas politik dan loyal kepada negara, secara sosial Islam
melakukan hubungan harmonis baik dengan sesama muslim maupun dengan nonmuslim, dari
sisi psikologi, ajaran Islam sangat menentramkan hati, dari sisi militer umat Islam yang
paling banyak membela negara dan tak takut mati melawan penjajah, dan dari sisi syariah
Islam benar-benar konsisten kepada Alquran dan sunnah Rasul. Sayangnya banyak orang
yang melihat Islam dari kasus buruk sebahagian kecil penganutnya, itu tidak fair, tetapi
memang itu adalah resiko mayoritas.
Lantas muncullah LSM yang mengatasnamakan Islam yang juga mengaku melihat
kebenaran agama dari sisi syariah tetapi hasilnya berbeda dengan fatwa MUI. Kelompok ini
berpendapat bahwa semua agama itu benar, penganut agama apapun akan masuk surga.
Penganut Yahudi, Nashrani, Shabiin

atau apapun agamanya, bisa selamat di akhirat,

mendapat rida Allah dan masuk syorga apabila beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dalil
yang digunakan oleh LSM ini adalah QS. Al-Baqarah [2] : 62.
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani
dan orang-orang Shabiin, 2 siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman
kepada Allah dan hari Akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari
Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.3
Dalam pandangan penulis, tokoh-tokoh LSM

atau kelompok manapun yang

berpendapat bahwa semua agama benar adalah pendapat yang secara akademis keliru.
Mengapa ? sebab mereka menafsirkan Alquran hanya menggunakan rasio tidak
menggunakan tafsir ayat dengan ayat atau tafsir ayat dengan hadits.
Perhatikan ayat di atas bahwa seseorang bisa selamat di akhirat apabila memenuhi dua
syarat :

2Shabiin adalah orang-orang yang mengikuti syariat nabi-nabi terdahulu, orang-orang yang
menyembah bintang, atau orang-orangtyang menyembah dewa-dewa.
3 Alquran Surat 2 Albaqarah : 62

Syarat pertama adalah Iman : Yakni meyakini adanya Tuhan, bukan Tuhan sembarang
Tuhan tetapi Tuhan Allah, juga bukan sekadar mengimani adanya Allah tetapi mengimani
Allah dengan tawhid tanpa syirik.

Allah menjelaskan bahwa syirik itu bisa

menghanguskan amal-amal kebaikan. Jangankan nonmuslim, orang yang beragama Islam


sekalipun tetapi masih syirik, tak ada dijamin keselamatannya. Oleh karena itu Allah
menyatakan :Wahai orang beriman, imanlah kamu , ibarat orang yang sudah mandi
tetapi disuruh mandi lagi karena badannya masih kotor. Jadi orang yang beriman tetapi
imannya baru sampai ke level percaya, belum mendapat jaminan keselamatan. Adapun
beriman kepada hari akhir maksudnya meyakini akan datangnya kiamat seraya terus

mempersiapkan sebanyak mungkin amal saleh yang akan dibawa.


Syarat kedua adalah amal saleh : amal saleh di sini bukan amal baik dalam takaran akal
manusia tetapi amal yang memenuhi dua kriteria yakni (1). Didasari niat ikhlas (2).
Sesuai dengan contoh Rasulullah saw, minimal tidak bertentangan dengan aturan Allah.
Jadi seseorang bisa mendapatkan keselamatan di akhirat apabila dia bertawhid kepada

Allah tanpa sedikitpun syirik serta beribadah kepada Allah berdasarkan contoh Rasulullah
saw, minimal tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah Rasulullah saw. Kalau begitu,
orang Yahudi, Nashrani, Shabiin (termasuk ke dalam Shabiin adalah penganut agama Majusi,
Shinto, Kong Fu Tse, penyembah bintang, Paganisme, penganut ajaran nabi terdahulu), baru
bisa selamat jika masuk Islam dengan konsisten dan holistik integralistik. Itu pandangan
syariah Islam bukan pandangan sosiolog atau politikus dan juga bukan sekadar pandangan
pribadi penulis.
Apabila masih syirik (menduakan Allah), maka ayat yang berlaku adalah QS. AlBayyinah [98] : 7 yaitu :Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang
musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah
seburuk-buruknya makhluk. Umat Islam sekalipun jika masih syirik menduakan Allah swt
maka bangunan akidahnya dianggap ambruk dan bangunan amal ibadahnya dianggap hangus
(habithat amaluhum).

2. Perbedaan Islam dengan agama lain


Jika ada orang mengatakan bahwa semua agama itu sama, pasti itu pandangan
perspektif bukan pandangan holistik. Penulis menilai dan meyakini bahwa Islam agama lain
sangat berbeda, baik dalam persoalan kitab suci, konsep ketuhanan, konsep ibadah maupun
konsep berperilaku (akhlak). Perhatikan tabel di bawah ini:

PERBEDAAN ISLAM DENGAN AGAMA LAIN


ISLAM
a. Kitab Suci : (1). Alquran sebagai
kitab suci tertulis dalam bahasa
aslinya dan kemurniannya dijaga oleh
Allah SWT. (2). Ayat-ayat Alquran
turun ketika Nabi Muhammad masih
hidup dan berhenti sebelum Nabi
wafat (3). Isi Alquran dapat diuji
material dengan ilmu pengetahuan
modern.
b. Konsep teologi : Tuhan dalam ajaran
Islam adalah Esa absolut, Tawhid.
Allah adalah pencipta langit dan
bumi. Allah tidak beranak, tidak
dilahirkan, tidak makan dan minum,
memberi penyakit tapi tak pernah
sakit, menjaga tetapi tidak dijaga,
tidak mengantuk apalagi tidur. Allah
itu Esa mutkak

NON ISLAM
(1). Kitab suci Kristen /Katolik tidak dalam
bahasa yang asli, semuanya terjemahan
sehingga rawan terjadi distorsi (2). Tidak
semua ayat Bible sebagai firman Allah sebab
ada karya penulis yang masuk ke dalamnya.
(3). Tidak ada satu pun kitab agama lain yang
siap diuji material dari sisi ilmu pengetahuan
modern.

c. Makanan dan pernikahan : (1).


Islam mengharamkan daging babi,
bangkai, darah serta daging hewan
yang disembelih tidak dengan atas
nama Allah. (2). Mengharamkan arak
secara mutlak (3). Islam menganjurkan
menikah
dan
melarang
pelajangan.

(1). Kristen/Katolik menghalalkan babi dan


Hindu mengharamkan sapi karena sapi
dianggap hewan suci. (2). Kristen/ Katolik
menghalalkan arak asal tidak mabuk berat.
(3). Pasteur, biarawati
dan Bikshu
mengharamkan dirinya menikah.

d. Konsep pergaulan dan aurat : (1).


Islam memiliki konsep yang jelas soal
batasan aurat (2). Memiliki konsep
yang jelas tentang halal-haram
pergaulan dengan lawan jenis. (3).
Menghalalkan cerai sebagai solusi
jalan buntu.

(1). Kristen tidak memiliki batasan yang jelas


tentang batas aurat. (2). Tidak memiliki
batasan yang jelas tentang batas haram halal pergaulan pria wanita. (3). Kristen
/Katolik mengharamkan cerai.

e. Dosa dan kematian : (1). Setiap bayi


yang lahir adalah fitrah atau suci dari
dosa (2). Dosa tidak dapat ditanggung
oleh orang lain (3). Dosa harus
ditaubati, pelaku maksiat harus
menyesali dosa, berjanji tidak akan
berbuat lagi, meminta ampun kepada
Allah dengan banyak istighfar dan

Kristen/katolik : (1). Setiap bayi yang lahir


membawa dosa warisan dari Adam dan Hawa
(2). Dosa bisa ditanggung oleh Yesus (3).
Dosa kaum Nashrani ditebus dengan darah
penyaliban Yesus (4). Semua orang
Kataolik/Nasharni
berapapun
banyak
dosanya pasti akan ditebus oleh darah Yesus,
diampuni dan masuk surga, sedangkan amal

Agama Yahudi meyakini bahwa Nabi Uzeir


anak Allah, Katolik dan Kristen meyakini
Trinitas atau Tuhan Esa relatif di mana Yesus
adalah sebagai Tuhan anak. Padahal Uzeir
dan Yesus itu makan, sakit, mengantuk dan
tidur. Hindu meyakini bahwa dewa Brahma,
Wishnu dan Syiwa sebagai Tuhan yang Esa
tapi Esa relatif, Budha bertuhan Esa tetapi
ketika menyembah Tuhan, mereka melalui
patung Sang Budha.

beramal saleh. (4). Orang musyrik


yang menganggap ada Tuhan
tandingan Allah. Apabila dosa syirik
terbawa mati, pasti abadi di neraka.
Akan tetapi dosa yang lainnya jika
ditaubati akan diampuni.

kebaikan hanya membedakan mahkota yang


dipakainya di dalam surga. Dalam agama
Hindu penghapusan dosa bisa melalui
penyiksaan diri.

f. Konsep Ibadah : (1). Jelas urutannya


sejak nabi pertama Adam, Ibrahim,
Musa, Isa sampai Muhammmad (2).
Lengkap (3). Rasional (4). Penuh
simbol dan norma-norma (5).
Universal, kalau pun ada perbedaan
hanya dalam persoalan kecil, ranting,
furuiyah.

(1). Konsep ibadah pada agama Nashrani


lepas putus dari ajaran ibadah nabi Musa dan
nabi Isa atau Yesus (2). Hukum-hukumnya
pun banyak berubah dari masa Musa, nabi Isa
dan sekarang. (3). Muncul pengaruh kuat dari
agama Yunani seperti munculnya patung
Yesus dan Maria pada agama Katolik (4).
Terjadi perbedaan mendasar antar sekte
tentang cara ibadah, termasuk perayaan natal
yang tidak seragam waktunya.

Islam adalah agama yang berbeda secara signifikan dengan semua agama yang ada,
baik dalam Kitab suci, konsep teologi, konsep ritual, konsep ibadah muamalah maupun
dalam konsep perilaku atau akhlak.

Meyakini bahwa semua agama itu sama adalah

keyakinan yang keliru, sesat dan menyesatkan.

3. Islam Holistik Integralistik


Islam adalah satu-satunya Agama Langit, maksudnya agama yang diciptakan oleh
Allah SWT hanya satu yakni agama Islam atau agama Tawhid. Islam adalah agama para nabi,
dari mulai nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa sampai dengan nabi Muhammad. Apabila
seorang tokoh pemikir Islam menyatakan bahwa agama Langit ada tiga yakni Yahudi,
Nashrani dan Islam itu benar dari perspektif sosial kesejarahan, tetapi dari sisi Alquran,
agama langit hanya satu yakni Islam Tawhid saja, sedangkan Yahudi dan Nashrani adalah
tercampur dengan ajaran hasil kreatifitas orang-orang tertentu, yang dikenal dengan nama
Musa As-Samiri (Yahudi) dan Paulus (Nashrani). Allah menginformasikan hal ini.
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan
tangan mereka sendiri lalu dikatakannya ini dari Allah, dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecekaan besarlah
bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan
besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan . (QS. Al-baqarah [2]: 79).

Berdasarkan ayat Alquran di atas jelaslah bahwa dari sisi kitab sucinya pun sudah
dimasuki unsur kreatifitas manusia. Dalam hal ini sebagai akademisi kita boleh bertanya,
apakah kitab Bible bernar-benar firman Allah atau firman Allah plus, plus surat-surat dari
Paulus ?
Dari soal kitab suci, berlanjut kepada konsep Tuhan. Di zaman nabi Adam, Tuhan itu
hanya satu yakni Allah swt. Demikian juga di zaman nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Ismail
dan Ishak, syuab, Yusuf, ilyas, Ilyas, dll. Perubahan konsep Tuhan Allah terjadi pasca
periode Nabi Musa as atau setelah nabi Musa as wafat. Komandan perubahan itu adalah
Musa As-Samiri sebagai pengikut nabi Musa yang menempuh jalan berbeda dengan nabi
Musa. Pemikiran As-Samiri dikembangkan oleh para pengikutnya, maka pada perkembangan
berikutnya di dalam agama Yahudi ada keyakinan baru bahwa nabi Uzeir adalah anak Allah.
Konsep Tuhan Allah berubah lagi pasca periode Nabi Isa yang dikomandoi oleh Paulus yang
menyatakan bahwa nabi Isa (Yesus) anak Allah.






Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al
Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka
meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana
mereka sampai berpaling? (QS. 9 St-Taubah : 30).
Di zaman nabi Muhammad konsep Tuhan Allah dimurnikan lagi dengan lebih jelas
dan tegas sebagaimana diterangkan di dalam QS. 112 Al-Ikhlas : Katakanlah hai
Muhammad, Dialah Allah yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya
segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun
setara dengan Dia. Dari sini dikembangkan konsep tawhid yakni Tawhid Rubbubiyah,
tawhid Mulkiyah dan tawhid Uluhiyah sebagaimana akan diterangkan nanti.
Dalam hal ini profesor Harun Nasution sebagai guru besar bidang pemikiran Islam
menyatakan dalam berbagai macam kuliahnya bahwa untuk mengetahui lurus tidaknya suatu
agama, persoalan utama yang harus dilihat dan diteliti adalah (1). Soal kitab sucinya, baik
validasi maupun akurasinya (2). Konsep theologinya. Pernyataan Harun Nasution tersebut
benar, karena jika melihat benar-tidaknya suatu agama dari sisi perilaku penganutnya itu akan
sangat bias.

Apabila kitab sucinya tercampur dengan perkataan manusia, maka bukan lagi kitab
suci. Otomatis agamanya pun bukan murni agama langit lagi. Selanjutnya bisa disimpulkan
bahwa agama yang benar-benar agama langit hanyalah satu yakni Islam.
Din al-Islam, sebagai satu-satunya agama Langit, berisi tatanan hidup yang lengkap,
holistik, kaffah, dari mulai cara makan sampai cara berpolitik, dari urusan dapur hingga
urusan tempur, dari urusan pribadi sampai urusan negeri, dari urusan mengaji sampai urusan
bermusik, dari urusan harta sampai wisata, dari urusan bayi sampai urusan mati, dari urusan
memberi sampai urusan memotong tangan pencuri, semua ada, lengkap, berdalil, bernash,
rasional, sesuai fitrah, pasti benarnya, dan pasti pula balasannya. Ajaran Islam yang dibawa
oleh nabi Muhammad Saw, jauh lebih komprehensif daripada ajaran Islam yang diturunkan
kepada Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, atau nabi-nabi lainnya.4
Hal ini sangat wajar dan rasional, sebab masalah hidup yang dihadapi manusia akan
semakin kompleks, baik menyangkut masalah ideologi, politik, sosial ekonomi, kebudayan,
sampai kepada kemungkinan terjadinya tindak kriminal yang berteknologi tinggi. Itu semua
sudah diantisipasi dengan syariah nabi Muhammad saw. Syariah yang dibawa oleh nabi
Muhammad saw pada prinsipnya telah sempurna. Adapun perkara-perkara ranting
(furuiyah), itu pasti akan dapat diatasi oleh para ulama tafaqqquh fi din5 yang akan ada pada
setiap zaman. Insya Allah.
Syariah Islam yang sengaja diciptakan Allah, spesial untuk mengatur umat nabi akhir
zaman sudah sempurna, sehingga kita tidak perlu lagi membuat konsideran mengingat,
menimbang, memperhatikan, dan memutuskan hal-hal baru dengan berlandaskan rasio tanpa
menoleh kepada ayat Al-Quran atau hadits. Apabila ada ilmuwan agama atau dosen agama
Islam yang membuat aturan baru dalam beragama berdasarkan rasio dengan mengabaikan
ayat Alquran atau sunnah Rasul, itu berarti dia telah menggantikan peran Allah sebagai AsySyari (pembuat hukum dan undang-undang), juga telah menggantikan peran Rasulullah Saw

4 Semua nabi, dari mulai nabi Adam as sampai nabi Muhammad saw membawa agama yang
sama yakni al-Islam, atau agama Tawhid. Sungguh keliru orang yang beranggapan bahwa
nabi Musa membawa agama Yahudi. Sama kelirunya dengan orang yang beranggapan bahwa
nabi Isa (Yesus) itu membawa agama Nashrani. Allah menegaskan pula bahwa Nabi Ibrahim
bukanlah Yahudi bukan pula Nashrani melainkan seorang muslim yang hanief (lurus). Lihat
QS.
5 Ulama Tafaqquh fi dien adalah ulama yang memiliki pemahaman yang tinggi dalam
persoalan agama. Mereka adalah orang-orang ahli dzikir yang akan sanggup memecahkan
problema hidup yang dihadapi oleh masyarakat.

sebagai penjelas dan model terbaik (uswah hasanah), lebih dari itu dia telah
mempertuhankan akalnya. Itu adalah tindakan zindik (mengotori agama).
Allah Swt dengan segala keluasan ilmunya yang unlimited (tak terbatas) sengaja
menciptakan syariah Islam untuk diketahui dan dilaksanakan, bukan untuk dikutak-katik dan
diubah-ubah sebagaimana dilakukan oleh Musa al-Samiri terhadap ajaran nabi Musa a.s atau
Paulus terhadap ajaran nabi Isa a.s. Muslimin wal muslimat, mukminin wal mukminat tinggal
bersikap samina wa athana (kami dengar dan kami taati). Allah s.w.t berfirman dalam QS.
Al-Hasyr (59) : 76

Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa-apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah

Para guru besar bidang pemikiran Islam tidak boleh mengutak-atik ajaran Islam
dengan landasan rasio semata-mata, sebab Alquran diturunkan justru untuk mengarahkan
cara berpikir manusia, bukan malah sebaliknya Alquran yang diatur oleh otak manusia. Para
guru besar bidang agama Islam harus bersikap sebagaimana guru besar bidang sains. Para
saintis meneliti hukum alam dan memanfaatkannya untuk kehidupan manusia, tetapi tidak
pernah terpikir atau berkeinginan untuk mengubah hukum alam.
Mempelajari detail hukum alam yang dilakukan para saintis memakan waktu yang
sangat lama dan tiada berakhir, demikian juga untuk memahami hukum syariah memerlukan
waktu yang sangat panjang, bahkan pasti tidak akan pernah berujung. Akan tetapi paling
tidak, kita berusaha untuk memahami dan mengamalkan al-Islam secara benar, menggunakan
metodologi yang tepat, yang akurasi dan validasinya dapat dipertanggung jawabkan secara
akademis.

4. Karakteristik Islam
Islam sebagai agama ciptaan Allah ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

Syumul (lengkap) : Islam mengatur semua sisi kehidupan manusia dari mulai soal aqidah
dan teologi, persoalan ritual, persolan ekonomi, politik dan pemerintahan (termasuk etika
berperang), sosial budaya (pakaian, kosmetik, olah raga, hiburan) HAM (sek,
pendidikan, pekerjaan, perburuhan, dll); Hukum (Jarimah Hudud, jarimah qishash, dan

6 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnyanya, ( CV Toha Putra , Semarang,


1989), hal. 916.

jarimah tazier), Gizi (makanan dan minuman), serta persoalan lingkungan hidup dan
etika pengembangan sainteks.

Haq (benar) : Semua aturan Allah pasti benar sehingga kita tidak boleh ragu. Mengapa
demikian ? sebab Allah sebagai pencipta agama Islam adalah Tuhan yang menciptakan
segenap makhluk termasuk manusia. Oleh karena itu, pasti Allah-lah paling mengetahui
bagaimana cara mengurus manusia. Kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu jangan
sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (QS. Al-Baqarah [2]: 147). Dan
apa yang telah kami wahyukan kepadamu yaitu Alkitab Alquran itulah yang benar,
dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya sesungguhnya Allah benar-benar
Maha Mengatahui Lagi Maha melihat (keadaan) hamba-hambaNya.7 (QS. Fathir [35]:
31.

Fitrah : Tidak ada satu pun ajaran Islam yang membunuh atau bertentangan dengan
fitrah atau sifat dasar manusia. Sifat dasar manusia terangkum dalam (1). Willingnes
(kemauan) seperti ingin makan minum, ingin tidur, ingin menyalurkan seksualnya, ingin
hiburan, ingin aman, ingin bebas dan terlindungi. (2). Feeling (perasaan), seperti rasa
cinta, rindu, benci, sedih, gembira, marah, dll. (3). Thingking (pemikiran), seperti
bertanya, bermusyawarah, diskusi, berdebat, dll. Semua kemauan, perasaan dan
pemikiran itu tidak dilarang apalagi dibunuh tetapi Islam hanya mengarahkannya agar
kemauan, perasaan dan pemikiran manusia tersebut bisa melahirkan manfaat tanpa
menimbulkan konflikasi dan kontradiksi, sesuai kebutuhan yang riel bukan sesuai
keinginan yang tidak terbatas. Juga agar tidak isyraf atau berlebihan. Di samping itu,
arahan Islam bertujuan agar pemenuhan kebutuhan tersebut dapat meningkatkan harkat
martabat manusia bukan menjatuhkannya ke martabat binatang. Maka hadapkankah
wajahmu dengan lurus kepada agama; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tiada ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum [30]: 30)8

La haraj (tidak menyulitkan) : Tidak ada satu sisi ajaran Islam pun yang berada di luar
kemampuan manusia, baik shalat, zakat, maupun haji temasuk saum nabi Dawud
sekalipun. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu
dalam agama suatu kesempitan. (QS. Al-Haj [22] : 78). 9

7 Alquran dan Terjemahnya, hal. 700


8 Alquran dan Terjemahnya, hal. 645.
9 Alquran dan Terjemahnya, hal. 523.

Rahmatan lil aalamin (universal dan berlaku untuk semua segmen) : Ajaran Islam
bersifat universal, semua hukum dan tatacara ibadah berlaku di seluruh dunia, untuk
semua suku bangsa dan ras, bahkan berlaku pula di luar angkasa. Dan tidaklah Kami
mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi segenap alam
QS. Al-Anbiya [21] : 107). Selain itu, agama Islam ditujukan kepada semua segmen.
Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. AlAnam [66] : 6).

10

Islam bisa diamalkan oleh orang kaya atau miskin, orang muda atau

tua, kurus atau gendut, berpendidikan rendah atau berpendidikan tinggi, orang kota atau
orang desa, orang primitif atau orang moderen, semuanya tanpa kecuali akan sanggup
melaksanakan ajaran Islam.

Tawazun : ada keseimbangan antara akhlak kepada Allah, diri sendiri, kepada sesama
manusia dan kepada alam sekitar. Ada keseimbangan antara pemenuhan kepentingan
pribadi dan pemenuhan kepentingan orang lain, ada keseimbangan antara pemenuhan
kebahagiaan temporal di dunia dan kebahagiaan absolut di akhirat.Dan carilah pada
apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) di negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kebahagiaan) dunia (QS. Al-Qashash [28]:
77).

Adalah (berkeadilan) : Islam menganjurkan makan sayuran sekaligus membolehkan


makan daging, tidak seperti biksu yang vegetarian. Islam menganjurkan menikah
sekaligus melarang melajang seperti kebiasaan para pastur. Islam membolehkan poligami
sekaligus melarang keras perselingkuhan dan seks bebas tidak seperti paham liberal yang
melarang poligami, Islam memerintahkan kerja keras dan olah raga sekaligus
menganjurkan istirahat dan hiburan, Islam pun membolehkan jual beli cash atau
angsuran sekaligus mengharamkan riba.

Koheren : Antara satu bagian dengan bagian lain dalam ajaran Islam saling
mengokohkan, saling menopang dan saling melengkapi. Tidak ada satupun yang saling
bertentangan. Misalnya bagaimana hubungan shalat dengan ketenangan batin, puasa
dengan kesehatan, zakat dengan usaha dan investasi, haji dan kegiatan politik
internasional, pemenuhan gizi dengan perintah puasa, larangan riba dengan prinsip
investasi, larangan membunuh dengan kewajiban perang, larangan mencuri dan
keharusan sadaqah. Semuanya saling menjelaskan dan saling mengisi.

10 Alquran dan Terjemahnya, hal. 951

Konsisten : Islam berisi ajaran yang konsisten, memegang erat azas dan prinsip-prinsip
kebenaran dan keilmuan, di manapun dan dalam situasi apapun.

Objektif : Apa-apa yang Allah perintahkan pasti baik menurut kacamata sains objektif,
serta apa-apa yang dilarangNya pasti tidak baik menurut kajian ilmu pengetahuan ilmiah,
misalnya manfaat shaum, larangan makan berlebihan, larangan menikah dengan
saudara sedarah, dll.

Fleksibel : Apabila tidak ada air , wudlu boleh diganti dengan tayamum, apabila tidak
mampu shalat sambil berdiri boleh shalat sambil duduk, apabila kelaparan dan terancam
kematian boleh makan daging babi alakadarnya, apabila bepergian jauh boleh shalat
jamak qashar dan boleh membatalkan shaum. Itulah beberapa contoh fleksibilitas ajaran
Islam.

Solutif : Islam merupakan solusi (makhraja) tuntas untuk mengatasi persoalan krusial,
misalnya hukum qishash bagi pembunuh, hukum potong tangan bagi pencuri, hukum
dera bagi penzina, kebolehan bercerai dengan baik untuk mengatasi kekacauan berumah
tangga, dll. Semua aturan itu, walaupun selintas nampak kejam tetapi sebenarnya
berlandaskan kepada sifat rahman dan rahim Allah SWT dengan target akhir
terwujudknya komunitas yang penuh kasih sayang dan ampunan Allah atau rahmatan lil
alamin

5. Fungsi Islam
Ajaran Islam dengan segenap karakteristiknya sebagaimana dijelaskan di atas memiliki
multi fungsi yakni sbb:

Hifzdu al-jasad (menjaga keselamatan jasad). Fungsi preventifnya antara lain Allah
melarang berkelahi dan membunuh. Adapun fungsi kuratifnya adalah hukum qisash, yakni
hukum fisik sesuai dosanya; hidung bayar hidung, mata bayar mata, gigi bayar gigi, dan
nyawa bayar nyawa. Meskipun selintas hukum ini amat kejam, tetapi qishash dikenakan
kepada mereka yang telah berbuat kekejaman yang mengakibtakan tubuh orang lain
terluka atau hilang, bahkan membuat nyawa orang jadi melayang. Bukankah hukuman itu
seimbang dan adil ? Tanyakan kepada nalar dan nurani Anda, apakah dengan hukuman
qishash masalah menjadi tuntas atau berbuntut panjang ? Menurut Allah, di dalam hukum
qisash terdapat kehidupan, maksudnya jika hukum qisash dilaksanakan maka nyawa
manusia sebagai modal hidup akan sangat dihargai dan terjamin. Sebaliknya, apabila

hukum qisash tidak dilaksanakan, maka agama Islam yang dianut ratusan tahun dijamin
tidak akan berfungsi kuratif dalam mengatasi kejahatan penganiayaan, pembunuhan atau
tindak kekerasan lainnya. Kalau begitu, agama menjadi tidak berfungsi untuk menjaga
keamanan jasad, pasti.

Hifzdun Nafs (menjaga keselamatan psikhis). Fungsi preventif ajaran Islam untuk
menjaga kestabilan jiwa ini antara lain perintah berdzikir, tawakkal, sabar, qanaah, dan
syukur nikmat, juga larangan menghina, mencela, memfitnah, dll. Fungsi kuratifnya
adalah mengenakan sanksi keras kepada orang-orang yang suka mencemarkan nama baik
atau penebar fitnah, baik si penebar fitnah itu seorang dosen, polisi, tentara maupun
wartawan, pokoknya siapapun orangnya wajib dihukum tazier (penjara). Apabila para
penyebar berita bohong tidak dihukum berat, maka negara akan dipenuhi dengan fitnah
dan dusta.

Hifdzu al-Mal (menjaga keselamatan harta). Fungsi prevetifnya antara lain perintah jual
beli yang jujur, larangan riba, larangan mencuri dan berjudi. Fungsi kuratifnya antara lain
memotong tangan pencuri dengan mempertimbangkan motif dan jumlah barang yang
dicuri, juga memenjarakan pelaku riba dan rentenir serta para penjudi. Jika mereka
dibiarkan, maka ekonomi negara akan berantakan.

Hifdzun Nasal (menjaga keturunan). Fungsi preventifnya antara kewajiban transparanasi


dalam memelihara anak angkat, tidak boleh memanipulasi data nasab, juga perintah untuk
cepat menikah dan larangan berzina. Fungsi kuratifnya antara lain hukuman dera 100 kali
bagi penzina yang belum pernah menikah, dan hukuman rajam sampai mati bagi penzina
yang pernah menikah. Jika hukum ini tidak diberlakukan, pasti perzinahan akan menebar
ke mana-mana sampai ke pinggir-pinggir masjid dan pesantren, dan bisa terjadi pada anakanak kiyai dan ulama yang dihormati.

Hufzdu al-Aql (menjaga akal). Fungsi preventif ajaran Islam antara lain kewajiban
mencari ilmu tanpa akhir dan larangan meminum khamr/ arak yang sifatntya bisa
merusak akal . Fungsi kuratifnya antara lain, bagi orang yang menegak arak wajib
dihukum dera minimal 40 kali maksimal 80 kali. Apabila peminum arak tidak dihukum
berat pasti akan melahirkan rangkaian kejahatan. Minuman keras berdekatan dengan
kejahatan lainnya seperti tawuran, penyiksaan, pembataian, pembunuhan, pemerkosaan,
dll. Apalagi jika undang-undang serta peraturan daerah (PERDA) membuka lebar
perdagangan arak, pasti negeri ini tidak berkah dan sarat kriminal. Agama Islam yang

dianut mayoritas penduduk Indonesia pasti tidak akan berfungsi apabila hukum tentang
arak tidak ditegakkan.

Hifdzud Din (menjaga agama). Fungsi preventifnya adalah kewajiban berpegang teguh
kepada Al-Quran dan Sunnah, mengamalkan ajarannya, mendakwahkannya, serta
membelanya dengan segala kekuatan yang dimiliki. Fungsi kuratifnya adalah menghukum
tegas orang-orang yang menodai Islam, baik melecehkan Alquran, melakukan penafsiran
Alquran secara serampangan, menghina nabi Muhammad, mengaku nabi baru,
menghancurkan nama ulama, mendiskreditkan pusat studi Islam seperti pesantren,
mencemari citra masjid, atau mengingkari rukun iman dan rukun Islam. Perlu dicatat
bahwa ajaran Islam sangat menghormati perbedaan pendapat tetapi mewajiban hukuman
berat bagi orang zindik yakni orang-orang yang menodai agama Islam beserta seluruh
atributnya. Jika fungsi ini tidak dilaksanakan, kemurnian agama Islam tidak akan
terpelihara, dan akan terus menerus lahir dan berkembang ajaran sesat dan menyesatkan.

Hifdzu al-ummah, (menjaga umat). Fungsi perventifnya antara lain perintah untuk bersatu
memegang tali Allah dan larangan berpecah belah, juga larangan bersikap ashabiyah yakni
merasa kelompoknya lebih baik daripada kelompok yang lain. Sikap demikian bisa
memicu pertengkaran antar kelompok Islam sendiri. Fungsi kuratifnya adalah
menghukum berat pihak-pihak yang menjadi otak atau provokator keributan antar umat
Islam, termasuk tawuran karena perbedaan pemahaman keagamaan (khilafiyah).\

Hifdzu al-alam (menjaga alam), baik alam mikro maupun alam makro, baik bumi maupun
langit, baik flora maupun fauna, baik material terbaharui maupun material tak terbaharui,
baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik. Fungsi preventifnya antara lain
perintah Allah untuk berbuat ihsan terhadap alam, baik perintah yang tertulis di dalam
Alquran maupun yang dijelaskan di dalam hadits. Fungsi kurratifnya adalah menghukum
orang-orang yang merusak lingkungan, baik penebangan hutan sembarangan, illegal
loging, memburu hewan langka, mengekploitasi sumber kekayaan alam secara berlebihan,
atau menguasai sumber-sumber energi (air, minyak, batu bara, dll) oleh perseorangan atau
oleh sekelompok orang karena di dalam konsep Islam, sumber air, anergi dan tempat
pengembalaan harus menjadi milik publik, haram menjadi milik perseorangan dan haram
diperjual-belikan.
Dalam hal ini, seseorang yang memilih Islam sebagai agamanya harus merasa aman
dan terlindungi, tidak boleh merasa keberatan untuk menerima semua aturan Islam. Allah
menegaskan : Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima)

agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu
hatinya ?). Maka kecelakan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk
mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. 39 Al-Zumar : 22).
Supaya ajaran Islam bernar-benar berfungsi maka ajaran Islam yang normatif harus
menjadi ajaran Islam yang aplikastif opersional. Untuk itu diperlukan tiga langkah sistimatis,
yakni (1). Disyariahkan (2). Diilmiahkan, dan (3). Di-DPR- kan. Penjelasannya sbb :

Langkah pertama, mensyariahkan, yakni mengupas semua persoalan hidup, baik


persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, hankam, ekologi maupun
persoalan ritual dari sisi hukum syari, berdasarkan nash Alquran dan hadits serta hasil
ijtihad sehingga detail. Semua sisi aktivitas manusia harus dapat dilihat dengan jelas dari
sisi hukum dan sanksinya. Pada tahap ini kita memerlukan banyak ulama yang benarbenar menguasai persoalan diniyah. Dalam hal ini MUI sangat tepat menjadi komandonya
di bawah payung hukum kementerian Agama.

Langkah kedua, mengilmiahkan, yakni menjelaskan masalah syariah berdasarkan


pendekatan ilmu pengetahuan ilmiah dan teknologi, sehingga syariah Islam menjadi ilmu
objektif dan ilmiah. Misalnya apa bahaya riba menurut para ahli ekonomi dan bagaimana
konsep ekonomi dan perbankan yang steril riba, hukuman apa yang bisa mencegah
penebaran zina dan budaya korupsi, serta segala persolan lainnya. Dengan cara itu
diharapkan nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Alquran dan hadits dapat dipahami
secara objektif ilmiah. Hasilnya, bukan hanya diyakini secara iman tetapi dapat dipahami
pula oleh rasio dan diakui secara ilmiah orang semua orang, baik muslim maupun
nonmuslim. Itu akan lebih memudahkan diterimanya Islam oleh publik apapun agamanya.
Lembaga yang paling tepat untuk melaksanakan tugas ini adalah LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia).

Langkah ketiga, men-DPRkan. Kalau muslim dan nonmuslim sudah memahami syariat
Islam secara objektif ilmiah maka teruskan dengan langkah penyusunan Rancangan
Undang-undang (RUU) tentang berbagai macam persoalan secara parsial, satu demi satu.
Kemudian RUU diajukan kepada DPR untuk disahkan menjadi UU. Apabila anggota
DPR sudah di-tarbiyah sehinga mereka memahami persoalan hukum Islam secara objektif
ilmiah, maka anggota DPR tidak akan sulit untuk menyetujuinya. Dengan cara itu maka
lahirlah berbagai UU tentang macam-macam persoalan umat. Luar biasa.

Setelah DPR mengesahkan bagian demi bagian ajaran Islam menjadi sebuah Undangundang, selanjutnya ditindaklanjuti dengan peraturan pemerintah, peraturan menteri,
peraturan daerah dan lain-lain sehingga bagian demi bagian syariah Islam memiliki
landasan hukum positifnya. Sebaliknya, apabila syariah Islam tidak dituangkan dalam
bentuk undang-undang, peraturan pemerintah atau perda, maka syariah Islam tidak bisa
diterapkan di Indonesia. Apabila hukum-hukum Islam yang tersebar pada banyak ayat
Alquran dan hadits Rasulullah tidak disosialisasikan dan tidak diterapkan pada kehidupan
masyarakat, maka hukum Islam itu TELAH MATI. Bagaimana tanggung jawab kita di
akhirat sebagi khalifah Allah ?

Sejak Indonesia ini berdiri ada beberapa UU yang telah lahir yang harus dijadikan rujukan,
sebahagiannya harus direvisi. UU tersebut antara lain :
a). UU Perkawinan : UU Perkawinan tahun 1984 telah lahir, akan tetapi sebahagian isi
UU tersebut masih kurang sempurna, misalnya pasal tentang pelaksanaan poligami yang
harus mendapat izin isteri pertama, ini adalah sesuatu yang mustahil dilaksanakan. Pasal
lainnya menyatakan bahwa poligami dapat dilaksanakan kalau isteri pertama tidak punya
anak, tidak bisa melayani suami, dll. Pasal-pasal seputar poligami demikian kurang rasional
dan kalau begitu hampir mustahil poligami dapat dilaksanakan. Mengapa pasal-pasal seputar
poligami justeru terkesan berisi pelarangan poligami ? Mengapa bisa terjadi begini ?.
Kita harus memahami bahwa isi pasal-pasal UU yang disusun sangat tergantung kepada
paradigma berpikir para penyusunnya. Hampir pasti, pihak yang mengajukan RUU tersebut
keliru memahami ruh dan tujuan poligami. Mereka berpikir bahwa poligami adalah lambang
hegemoni suami atas isteri, poligami adalah proyek kenikmatan pria, poligami adalah simbol
pelecehan terhadap kaum wanita, poligami dianggap penyebab bencana keutuhan keluarga.
dll. Itu semua adalah anggapan dasar yang sangat keliru. Apabila asumsi dasarnya sudah
keliru maka konsep lanjutannya pasti lebih keliru. Bagi para pemikir yang memahami dengan
mendalam hakikat dan faedah poligami pasti tidak akan menyusun pasal-pasal poligami yang
bertentangan dengan spirit pelaksanaan poligami. Allah membolehkan poligami sebagai
perlindungan sosial dan perlindungan ekonomi bagi kaum wanita terutama janda-janda bukan
sekadar perlindungan seksual.
b). UU Zakat, ini harusnya dirinci sampai kepada kewajiban pemerintah mengelola
zakat dan saksi bagi orang yang tidak membayar zakat.

d). UU Perbankan Syariah. Kini sudah ada direktorat Bank Syariah tetapi
direktorat ini harus mandiri, otonomi dan bebas melakukan semua tindakan perbankan
syariah. Sumber keuangannya pun harus syari;ahj jangan tercamour dengan uang triba.
e). UU Ekonomi dan Keuangan : Indonesia termasuk UU tentang air, energi. Di
dalam ajaran Islam, air-energi dan tempat pengembalaan adalah miliki bersama umat Islam
yang dikelola oleh negara, jadi tidak boleh menjadi miliki swasta apalagi perseorangan. Dan
ini haram.
f). UU perlindungan terhadap hak-hak wanita. Ini harus berisi pasal-pasal yang
melindungi hak-hak wanita termasuk hak dalam mendapatkan pendidikan, perlindungan serta
penghargaan terhadap martabat kaum wanita. Akan tetapi jangan mengarah kepada
mempersamakan perempuan dengan laki-laki sebagaimana konsep kelompok pemikir
Fenimisme Barat. Alquran menjelaskan walaisa dzakaru ka al-untsa, dan tidaklah sama
antara pria dan wanita.
g). UU Perlindungan Anak : yang berisi tentang hak-hak anak dan kewajiban
orangtua dan pemerintah terhada anak.
h). UU Pendidikan. Ini harusnya memberikan ruh Ilahiyah dalam setiap aspek
pendidikan sehingga para lulusan tidak sekuler.
i). UU Kriminal (criminal Laws) : yang dikatagorikan kepada Jarimah hudud
(hukuman fisik bagi pelaku kejahatan, seperti potong tangan untuk pencuri dan dera 100 kali
bagi penzina), Jarimah qishash (yakni hukuman bagi pelaku tindak kriminal penganiayaan
dan pembunuhan), dan Jarimah Tazier yakni hukum penjara bagi pelaku kejahatan yang
tidak terkena hudud dan qishash). Masuk di dalamnya UU perlindungan anak, UU tentang
KDRT.
j). UU Pornografi : Ini seharusnya dirinci sampai kepada UU berpakaian,
berkosmetik, dan hiburan (musik, pentas seni, film, dll).
k). UU Agraria : UU ini harus menggambarkan kekuasaan negara atas tanah yang ada
di negara itu, dan pembatasan secara ketat pembelian atau kepemilikan tanah oleh orangorang yang bukan pribumi negara itu.
l). UU Energi : Harus berisi penegasan bahwa semua pengelolaan energi adalah hak
negara dan dilarang dimiliki oleh swasta aalagi oleh perseorangan.
k). KUHP : KUHP atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang ada sekarang
yang memuat hukum-hukum hasil pemikiran ahli hukum Belanda harus direvisi dengan
spirit hukum Allah. Misalnya, dalam KUHP yang sekarang, zina hanya dimaknai sebatas
hubungan sebadan dengan isteri orang lain, itu pun berupa delik pengaduan. Apabila

suaminya tidak suka atas kejadian tersebut, suami boleh mengadukannya ke pengadilan
sebagai delik aduan, tetapi jika suaminya tidak mengadukan kasus ini, maka perzinahan pun
tidak dapat dikenai hukuman. Adapun menggauli janda atau perawan oleh KUHP tidak
dikatagorikan perbuatan zina melainkan dikatagorikan prostitusi, dan tidak terkena sanksi.
Inilah hukum bodoh alias hukum Jahiliyah yang harus diubah.
Sebenarnya, produk hukum menggambarkan sikap dan prilaku pembuat hukum itu
sendiri. Jika bersebadan dengan janda atau perawan di luar nikah tidak dikatagorikan zina dan
tidak dikenai sanksi, sangat mungkin karena memang para penyusun draft KUHP tersebut
adalah orang yang tidak menganggap dosa kalau bersebadan dengan perawan atau janda di
luar nikah, bahkan mungkin mereka berniat melakukannya, atau sangat mungkin perbuatan
itu sudah menjadi hobi mereka.
Gara-gara prostitusi tidak dikenai hukuman, maka prostitusi menebar di mana-mana,
hubungan sebadan dianggap hal biasa, murid SMP dan SMA saja sudah banyak yang berbuat
seperti itu tanpa ada perasaan dosa, juga di kalangan mahasiswa dan orang yang sudah
menikah. Selanjutnya diprediksi bahwa prostitusi (zina) akan terus tumbuh subur, tidak
mustahil jika suatu ketika nanti, prostitusi alias zina ini akan menjadi komoditi yang bisa
mendatangkan devisa negara. Akibat seks bebas ini, terjadi aborsi dengan angka yang sangat
spektaler.
Melihat fakta kemaksiatan di Indonesia, segenap umat Islam wajib menyumbangkan
pemikirannya untuk mengubah isi KUHP tersebut dengan hukum Allah, bukan hukum
Jahilyah yang sudah terbukti membawa Indonesia kepada kehancuran moral. Kini Indonesia
mengarah kepada negara yang mayoritas masyarakatnya berbuat maksiat secara terangterangan, tanpa malu bahkan jsuteru mereka berbangga-bangga dengan dosa. Naudzubillahi
mindzalik.

Skema : EKSISTENSI DIN AL-ISLAM

EKSISTENSI
DIN AL-ISLAM

KEDUDUKAN :
Din sebagai Fondasi
Kehidupan .

MAKNA DIN
Makna tradisi =
Agama.
Makna Sustantif =
Tatanan hidup.

KLASIFIKASI :
Din al-haq dan
Din al-bathil
.

FUNGSI AGAMA:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Hifdzul Jasad.
Hifdzun Nafsi
Hifdzul Aqli
Hifdzun Nasal
Hifdzul Maal
Hifdzud Din
Hifdzul
Ummah
8. Hifdzul Alam

KLASIFIKSI
PENGANUT
AGAMA :
1. Huda
2. Dhallin,

TUJUAN :
Tercapainya
kebahagiaan dunia
dan akhirat.

LANGKAH
APLIKASI :

Disyariahkan.
Diilmiahkan
Di-DPR- kan

KARAKTERITIK
DIN AL-ISLAM
1.
2.
3.
4.

Syumul
Haq
Sesuai fitrah
Tidak
memberatkan.
5. Fleksible
6. Universal.
7. Kohern
8. Konsisten
9. Objektif
10. Tawazun.
11. Adalah
12. Salutif.

6. Kerangka Ajaran Islam Komprehensif


DIN AL - ISLAM

SYARIAH
(ISLAM)

AQIDAH
(IMAN)
RUKUN
IMAN

IBADAH
(Ibadah
Mahdlah)

TAWHID

Shalat
Shaum
Zakat
Haji
Pengurusan
Jenazah

Tawhid
Rubbubiyah
Mulkiyah
Uluhiyah

IHSAN
(AKHLAQ)

MUAMALAH
(Ibadah Ghair
Mahdlah)

1. SIYASAH (Politik
& Hubungan
Internasional)
2. IQTISHADIYAH
(Ekonomi &
Keuangan )
3. TSAQAFAH
(Kebudayaan &
Ipteks).
4. MUNAKAHAT
(Hukum
Pernikahan)
5. JINAYAT (tazier,
hudud dan
Qishash).

1. Hablum
minallah
2. Hablum
minannas
3. Hablum minal
alam

Pilar 1 : Aqidah (Iman)


Aturan Allah yang berkenaan dengan tata keyakinan atau sistema credo disebut
Aqidah, aturan Allah yang berkenaan dengan tatacara beramal atau sistema ritus disebut
Syariah, adapun aturan Allah yang berkenaan dengan perilaku secara umum disebutlah
Akhlak. Istilah lain dari akidah, syariah, akhlak adalah Iman, Islam, Ihsan.
Sebagian ulama seperti Muhammad Syaltout menyatakan Islam memiliki dua pilar
yakni Aqidah dan Syariah, salah satu buku karangannya berjudul al-Islam ; aqidah wa
syariah, sedangkan sebagian ulama lainnya menambah dengan pilar yang ke tiga yakni
Akhlak. Mengapa Syaltout hanya menyebut dua pilar ? karena akhklak sebenarnya tiada lain
adalah syariah yang dilihat dari perspektif lain yakni dari sudut baik buruk bukan sekadar
dari sisi haram halal semata.
Secara bahasa aqidah artinya ikatan,al-aqidatu hiya ma aqada alaiha al-qolb11,
aqidah adalah ikatan yang terpatri di dalam hati. Hasan al-Bana di dalam bukunya Al-Aqid
menyatakan bahwa akidah adalah sesuatu yang harus diyakini oleh hati dan dipercaya oleh
jiwa, sehingga menjadi keyakinan yang tak ada sedikitpun keraguan dan kebimbangan.12
Jadi akidah itu bukan

berisi konsep sistem teologi semata tetapi berisi segala macam

persoalan yang berkaitan dengan kepercayaan. Akidah merupakan sejumlah

nilai yang

diyakini, dengan kekuatan pokok terletak pada TAWHID.13


Tawhid

sebagai pandangan dunia. Tawhid adalah pandangan umum tentang

realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu, sejarah manusia. Tauhid mencakup prinsip
dualitas, ideasionalitis, teologi , kemampuan manusia dalam mengola alam tanggung jawab
dan penilaian14
11 Luis Maruf, Al-Munjid, (Beirut, , 1952), Cetakan 13, hal. 543.
12 Al-Aqid li al-Imm Asy-Syahd |asan al-Bana, Dr Asy-Syihab, t,t, hal. 17 Lihat alMajmu, hal. 292.
13 Harun Nasution, Teologi Islam, hal. ix. Menurut Harun Nasution, Ilmu Tauhid yang
diajarkan di kalangan Islam biasanya kurang mendalam dalam pembahasannya dan kurang
filosofis. Selanjutnya ilmu Tauhid bisanya memberi pembahasan sepihak dan tidak
mengemuka-kan pendapat dari aliran-aliran atau golongan-golongan lain yang ada dalam
teologi Islam. Ilmu Tauhid yang diajarkan dan dikenal di Indonesia umumnya ialah Ilmu
Tauhid menurut aliran Asyariyah, sehingga timbullah kesan di kalangan sementara umat
Islam Indonesia, bahwa inilah satu-satunya teologi yang ada dalam Islam.
14 Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya, Menjelajah Khazanah
Peradaban Gemilang, Mizan, Bandung, cetakan III, 2001, hal. 110 112.

Dualitas : Islam hanya mengenal realitas dalam dua jenis, yakni Tuhan dan bukan
Tuhan; Pencipta dan ciptaan. Allah adalah tuhan sedangkan yang lain adalah bukan Tuhan.
Allah adalah pencipta sedangkan selain Allah adalah ciptaan. Menjadikan makhluk sebagai
tuhan adalah kesalahan yang paling besar. Tuhan tidak dapat menjadi makhluk sebagaimana
anggapan Nashrani bahwa Yesus adalah Tuhan Bapak yang menjelma menjadi Tuhan Anak
yang 100 % karakteristiknya makhluk. Juga makhluk tidak dapat berubah menjadi Tuhan.
Ideasionalitas : Supaya ide Tuhan bertemu dengan ide manusia, maka Tuhan
memberikan wahyu dan akal kepada manusia agar manusia mempelajari wahyu dan
mempelajari makhluk ciptaanNya. Tujuannya agar manusia mampu memahami kehendak
Tuhan dan segala rahasia perbuatan-Nya. Dengan memahami wahyu dan rahasia ciptaanNya, manusia memiliki idea-idea yang benar yang bisa bertemu dengan idea Tuhan, bukan
idea yang bertentangan dengan idea-Nya.
Teologi : Allah menciptakan alam dalam beragam jenis dan bentuk ini bukanlah
kreasi yang sia-sia atau main-main tetapi memiliki tujuan yang jelas. Alam bersifat sistemik
dengan sistem hukum yang melekat pada makhluk tersebut. Hanya Allah yang paling
mengetahui karakteristik setiap makhluk, oleh karena itu hanya Allah-lah yang paling
mengetahui bagaimana cara mengatur makhluk. Manusia adalah makhluk bukan tuhan, pasti
tidak akan bisa mengatur makhluk lain sebaik Allah. Oleh karena itu pula manusia harus
menggunakan hukum Allah bukan menggunakan hukum buatan akal manusia. Aturan
manusia yang bertentangan dengan kehendak Allah adalah hukum bathil, itulah teologi dalam
hukum.
Ruang dan Waktu : Aturan Allah berlaku sesuai dengan ruang dan waktu. Aturan
Allah untuk mengatur hidup manusia hanya berlaku di dunia ini (ruang) dan selama manusia
hidup (waktu), sedangkan di akhirat nanti berlaku hukum yang lain, yakni hukum yang sesuai
dengan ruang dan waktu akhirat. Peran manusia di dunia adalah sebagai khalifah sedangkan
di alam qubur peran itu tak ada lagi. Di dunia, manusia wajib ibadah tetapi di akhirat
manusia tidak wajib beribadah melainkan hanya memanen hasil ibadah. Dunia adalah tempat
menanam sedangkan akhirat tempat menuai. Di dunia ini manusia tak dapat melihat jin dan
malaikat sedangkan di akhirat manusia bisa melihat jin dan malaikat, bahkan penghuni surga
bisa melihat Allah swt seperti melihat bulan tanpa awan. Tawhid ini harus dipahami dengan
benar dan penuh keyakinan.
Tanggung Jawab dan penilaian: Manusia bertanggung jawab sebagai khalifah, dan
terkena taklief untuk melaksanakan hukum dan aturan Allah. Baik buruknya pelaksanaan
tugas itu akan dinilai langsung oleh Allah. Hanya Allahlah yang menilai, hanya Allah-lah

yang memberikan jaza (balasan ), hanya Allah lah yang menggolongkan orang yang layak
masuk surga dan orang yang pantas masuk neraka. Allah adalah penentu tunggal, Raja di hari
Pembalasan. Itu adalah sisi lain dari Tawhid.
Dilihat dari sisi kedudukan dan esensinya,

akidah dengan inti pokok tawhid

merupakan fundamen agama yang sangat berperan sebagai motivator dan panentu nilai
aktivitas, baik aktivitas lahir maupun aktivitas batin. Akidah sangat mempengaruhi sikap
(attitude) seseorang baik cara berbicara, cara bertindak, cara hidup dan cara mati. Akidah
menjadi kekuatan dalam kehidupan di bumi ini. Ia mempunyai fungsi praktis untuk
melahirkan perilaku dan keyakinan yang kuat untuk mentransformasikan kehidupan seharihari dan sistem sosialnya.15 Oleh karena itu, dalam pandangan Hasan Hanafi, ajaran Islam
yang paling inti adalah tawhid. Tawhid adalah basis Islam. Untuk bisa membangun kembali
peradaban Islam tak bisa tidak harus dengan membangun kembali semangat Tawhid itu.

16

Karena begitu pentingnya kedudukan dan fungsi tawhid, Harun Nasution menegaskan bahwa
setiap orang yang ingin menyelami seluk beluk suatu agama secara mendalam, perlu
mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya.17
Akidah merupakan sesuatu yang fundamental dalam din al-Islm, sebagai titik dasar
awal seseorang menjadi muslim. Akidah sebagai landasan din al-Islm merupakan ajaran
yang universal yang abadi, tidak mengalami perubahan sepanjang masa, sejak adanya misi
rislah nabi Adam a.s hingga kerasulan Muhammad saw, yakni membawa misi akidah yang
sama yaitu monotheisme atau tawhid (QS. Al-Araf [7] : 65, 73, 85, QS. Hud : 26,50,61, 48,
QS. Al-Anbiya [21] : 25, QS. An-Nahl [16 ] : 36). Makna tawhid adalah mengesakan Tuhan
dalam segala hal, suatu tuntutan keyakinan bahwa Allah adalah ilah (Tuhan) yang mutlak.
Untuk mengetahui taksonomi tawhid bisa dilihat pada nisbah atau hubungan antara surat alFatihah dan surat An-Nas. Surat Al-Ftihah adalah pendahuluan sedangkan surat al-Nas
adalah penutup. Al-quran sebagai sebuah maha karya Allah Swt pasti sangat cermat,
termasuk meletakkan surat di awal dan surat penutup. Pada kedua surat tersebut ada
pernyataan yang maha penting, terutama pada kalimat Rabbul lamin, Mliki yaum ad-din

15 Kazuo, Shimogaki, Kiri Islam, Telaah Kritis antara Modernisme dan Postmodernisme, ,
(Yogyakarta : LKiS 1994), hal 72.
16 Kazuo Shimogaki, Kiri Islam, hal. 10.
17Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta :
Universitas Indonesia Press, 1986), hal. ix.

dan iyyka nabudu. Demikian juga pada surat terakhir yakni surat an-Ns [114], ada kalimat
rabb an-ns, mlik an-ns dan ilh an-ns.
Kedua surat itu mengandung konklusi pengesaan Allah yang luar biasa, mengandung
konsep tawhid yang lengkap dan kokoh. Dengan demikian Al-Quran dibingkai oleh dua
surat (awal dan akhir) yang memuat pesan tawhid yang sangat kuat. Munsabah (interrelasi)
18

kedua surat itu menggambarkan secara jelas adanya tiga macam refleksi ketawhidan, yakni

tawhid rubbubiyah, tawhid mulkiyah dan tawhid uluhiyah.


Rabb mengandung dua pengertian, yakni sebagai Pencipta dan sebagai Pemilik.
Sebagai Pencipta, mengandung maksud bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta dengan
segala isinya termasuk manusia. Dia adalah Maha Pengatur segala urusan, Maha Pemelihara,
Maha Pemberi rizki, Maha Pendidik, dan Maha

Penjamin stabilitas keamanan. ( QS.

Al-Alaq [96] : 1 -5 , QS. Yunus [10] : 3,31,32. QS. Al-baqarah [2] : 21,22 . QS. Asy-Syura [42]
: 11-12, QS. Quraisy [106] : 3 -4). Sedangkan Rabb sebagai Pemilik mengandung maksud bahwa
Allah adalah pemilik alam, pemilik hukum, dan pembuat undang-undang. (QS. Asy-Syura [42] :10
QS. Al-Araf [7] :2,3. QS. Al-Anam [6] : 144, QS. As-Sajdah [32]: 2,3 QS. Yunus [10]:37, QS. Yusuf
[ 12] : 40).
Dengan demikian yang dimaksud dengan tawhid rubbubiyah adalah meyakini bahwa Allahlah satu-satunya Rabb, yang menciptakan, memelihara, memberi rizki, dan mengatur manusia. Oleh
karena itu, di tangan Allah-lah kewenangan secara absolut untuk membuat undang-undang atau
hukum. Apabila manusia mencoba membuat atau memproduksi hukum di luar hukum Al-Quran
yang bertentangan dengan Alquran, maka sama saja dengan memproklamasikan diri sebagai Rabb,
itu termasuk syirik Rubbubiyah, bisa juga dikatagorikan syirik fi al-hukmi
Allah dengan predikat sebagai Rabb al-lamin telah menata alam semesta ini dengan hukum
sunnatullah, sedangkan Allah dengan predikat Rabb an-ns berarti Allah-lah yang telah menata
kehidupan manusia dengan wahyu Al-Quran (Rubbubiyah Allah). Seluruh aturan dan perundangundangan yang merupakan produk akal manusia, yang bertentangan dengan hukum syariah harus
dinyatakan gugur karena dinilai batil, sesat, termasuk hukum jahiliyah yang tak lain merupakan
hukum hawa nafsu. Orang yang berpegang teguh kepada aturan produk akal dan mengingkari hukum
Allah dihukum zalim, fasik, dan musyrik (QS. Al-Maidah [4] : 44-47).

18 Munsabah adalah salah satu istilah dalam Ulum al-Quran yakni


hubungan atau interrelasi antara ayat dengan ayat atau surat dengan
surat. Dengan memahami munsabah ini akan sangat membantu
memahami Al-Quran secara integral dan komprehensif. Apalagi karena AlQuran itu bersifat yufassir bauhu ba, yakni antar bagian Al-Quran
saling terkait dan saling menafsirkan.

Selanjutnya, manusia yang mengaku Allah sebagai Rabb an-Ns berarti hanya mengakui
bahwa hanya syariah Allah-lah yang paling tepat mengatur manusia. Manusia wajib melaksanakan
undang-undang Allah di muka bumi, jika tidak, maka pengakuan terhadap Allah sebagai rabb an-ns
adalah dusta dan oleh karena itu ia dinyatakan sedikitpun mereka tidak beriman hingga
menegakkan hukum wahyu. (QS. An-Nisa [4] : 52).
Tawhid mulkiyah adalah pengakuan seorang hamba bahwa hanya Allah-lah satu-satu mlik
(Raja) yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sehingga manusia wajib menaati Allah melebihi
segalanya. Ini berdasarkan firman Allah di dalam surat Al-Furqan [ 25] : 2 dan QS. Al-Isra : QS. AlIsra [17] : 111 :

"(Allah) yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak
mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan
Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya
dengan serapi-rapinya. (QS.Al-Furqan [ 25] : 2).






















Dan katakanlah : Segala puji bagi Allah yang tiada mempunyai anak dan tidak
mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk
menjaga-Nya) dari kehinaan. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang
sebesar-besarnya.(QS. Al-Isra [17] : 111).

Lebih menaati, lebih takut dan lebih cinta kepada makhluk daripada Allah swt
dianggap syrik mulkiyah.
Pendekatan yang dilakukan Allah adalah deduksi yakni dari umum ke khusus.
Perhatikan lagi hubungan antara QS. Al-Fatihah dengan QS An-Nas :
1. Allah adalah satu-satunya Tuhan Pencipta, Pemelihara, Pengurus dan Pengatur
alam semesta, maka Allah pulalah yang mencipta, memelihara, mengurus dan
mengatur manusia (makhluk yang amat kecil dibandingkan dengan alam semesta).
2. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang merajajai segenap alam yang wajib dipatuhi
oleh semua alam, maka Allah pulalah raja bagi manusia sehingga manusia wajib
mematuhinya.
3. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib diabdi oleh segenap alam, maka
Allah-lah yang harus diibadahi oleh manusia.
Selain tawhid rubbubiyah, mulkiyah dan uluhiyah sebagaimana dijelaskan di atas,
masih ada tawhid lainnya. Di dalam kitab Fath al-Majid, syarah kitab Tawhid Muhammad

Ibn Abd al-Wahhab, yang disusun oleh Abdurrahman ibn Hasan Ali asy-Syaikh dan
ditahqiq oleh Abd al-Azz ibn Abdillah ibn Bz, dengan mengutip pendapat Ibn alQayyim, dinyatakan bahwa tawhid dibagi ke dalam dua macam, yakni : (1). Tawhid fi almarifah wa al-itsbat yang meliputi tawhid rubbubiyah dan tawhid asm al-shift. (2).
Tawhid fi al- Thalib wa al-qaid yang meliputi tawhid uluhiyah dan ubudiyah19 Dengan
demikian tawhid terbagi empat bagian yakni tauhid rububiyah, tauhid asm wa as-Shift,
tauhid uluhiyah dan tauhid ubudiyah namun bisa diringkaskan menjadi dua saja yakni tauhid
Rubbubiyah dan Uluhiyah sebab yang dua lagi hanyalah sub saja. Penjelasan masing-masing
tawhid itu adalah sebagai berikut di bawah ini.
Tawhid rubbubiyah adalah: huwa Itiqdu anna Allh wahdah khalaqa al-lam ialah
meyakini bahwa sesungguhnya Allah yang Maha Esa-lah yang telah menciptakan segenap
alam. Jadi tawhid rubbubiyah adalah mengesakan Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pengurus
dan Pengatur) alam ini. Dalam marifah kepada Allah sebagai Rabb, manusia harus
memahami nama-nama dan sifat Allah, termasuk pekerjaan-Nya, qadha dan qadar-Nya
beserta hikmah-hikmahnya, sebagaimana termaktub antara lain pada awal surat al-Hadid,
Thah, al-Hasyr, awal surat li Imrn, dan surat al-Ikhlsh.
Tawhid uluhiyah

adalah pengesaan Allah sebagai Tuhan yang harus disembah.

Tawhid ini melahirkan pengabdian hanya kepada Allah sebagai simbol monoloyalitas.
Seseorang yang memiliki tawhid uluhiyah dan ubudiyah meyakini bahwa tiada tuhan selain
Allah, tidak beribadah kecuali kepada-Nya, tidak bertawakkal kecuali kepada-Nya, tiada
memilih wali (pelindung) kecuali Dia, tidak beramal kecuali untuk keagungan-Nya,
sebagaimana termaktub antara lain dalam surat al-Kfirun, surat al-Mumin, awal surat alArf, dan surat al-Anm. Walaupun sebenarnya semua ayat Alquran memuat ajaran tawhid.
Demikian juga Abu Bakar al-Jaziry membagi tawhid kepada empat macam yakni (1).
tawhid rubbubiyah, (2). tawhid uluhiyah (3). tawhid asm wa ash-shifat dan (4). tawhid
ubudiyah yang penjelasannya kurang lebih sama dengan penjelasan di atas.20
Pembagian tawhid yang dikemukakan oleh dua nara sumber di atas tidak
mencantumkan adanya tawhid mulkiyyah , hal itu sebenarnya tak jadi masalah sebab
sebenarnya taksonomi tauhid bukanlah teks Al-Quran atau hadits tetapi merupakan
19 Abdurrahman ibn |asan Ali Asy-Syaikh, Fat\ al-Majd Mu\ammad Ibn
Abd al-Wahhb, (Mekah al-Mukarramah: Maktabah Bazar Mu[tafa al-Bz,
al-Mamlukah al-Arabiyyah as-Suudiyyah), 1417 H/1996 M, hal. 18.
20 Abu Bakar Jabir al-Jazairy, Manhaj al-Muslim, Dr alUlm wa al-Hakam,
(Madinah al-Munawwarah, 1421 Hijriyah), hal. 19, 22, 29, 72.

kesimpulan hasil analisis para ulama. Dalam hal ini, rujukan tentang tawhid mulkiyah yang
dikemukakan di atas, memiliki rujukan ayat-ayat Alquran yang sangat banyak jumlahnya
sebagaimana telah diterangkan. Bahkan bisa penulis tambahkan di sini, bahwa di dalam AlQuran terdapat tidak kurang dari 50 kata mlik, mulkiyyah atau malakut yang menunjukkan
bahwa Allah adalah Raja.21

Pilar 2 : Syariah (Islam)


Syari'ah didefinisikan sebagai khitab al-Syari almutaalliq bi afal al-mutakallafin
bi al-iqtisha aw al-takhyir aw al-wadli aw al-mani22 yakni ketentuan Allah yang berkaitan
dengan perbuatan subjek hukum berupa melakukan suatu perbuatan, memilih atau
menentukan sesuatu (sebagai syarat, sebab atau penghalang).23
nenurut al-'Imad Ibn Ka`ir adalah

24

Adapun definisi ibadah

Hiya al-thaat bi faili al-makmur wa tark al-mahdzur

yang artinya, ibadah adalah menaati atas segala perintah Allah serta meninggalkan yang
dilarangNya. Definisi lain yang lebih luas adalah

25

: Ism jami likulli ma yuhibbuhu wa

yardlahu min al-aqwal wa al-amal, al-dhahirah wa al-bathinah. Ibadah adalah kata


kebendaan (yang diambil dari kata kerja fiil madhi, past tense, abada yang artinya dia telah
mengabdi), yang ditujukan kepada segala aktivitas yang disukai dan diridai Allah, baik
berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang tampak maupun tidak tampak. Bisa juga
dibuat definsi yang lebih simpel, yakni

ibadah adalah hidup sesuai dengan aturan

Alqur'an dan Sunnah Rasul.


Adapun tujuan ibadah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawy, adalah untuk
mencapai keridaan Allah swt.26 Kalau digabungkan menjadi syariah ibadah, maka

21Muhammasd Fuad Abdul Baqy, Al-Mujam al-Mufa\rasy li al-fali al-Qurn al-Karm,


(Beirut : Dr al-Marifah, 1414 Hijriyah), hal. 847-848.
22

23 Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, (Beirut : Dar al-Fikr al-Arabi, 1958) , hlm. 26.
24 Abd Rahman ibn Hasan Ali Syaikh, Fath al-Majid, Jilid I, (Riyadl : Nazar Mutaf alBz, 1996), hlm. 22.
25 Abd Rahman, Fath al-Majid, Jilid I, hal. 21.
26 Imam Muslim, Shahih Muslim (Syarah Nawawi), (Beirut : Dar al-Ikhiya al-Arabi, dan
Maktabah al-Mu`anna, t.t.) , Juz I, hal. 157.

maksudnya adalah segala macam aturan, baik wajib, sunat atau haram yang menyangkut
tatacara mengabdi kepada Allah dalam rangka mencari keridaan-Nya.
Baik akidah maupun syariah kedua-duanya adalah aturan Allah, bedanya akidah
merupakan aturan tentang keyakinan (sistema credo) sedangkan syariah ibadah merupakan
aturan tentang tata beramal (sistema ritus). Dari sisi fungsi, akidah sebagai fondasi sedangkan
syari'ah adalah bangunannya27 Supaya bangunan syariah ibadah bisa tegak berdiri, maka
fondasi akidah harus benar-benar kokoh. Sangat mustahil seseorang mau melaksanakan
ibadah dengan sepenuh hati kalau fondasi akidahnya lemah. Dengan demikian hubungan
antara akidah dengan syariah sangat erat.
Supaya ibadah seorang hamba dapat diterima oleh al-Mabud (Yang disembah), ada
salah satu syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu yakni memahami siapa itu al-mabud.
Ini artinya seorang hamba harus terlebih dahulu mengenal Allah, baik sebagai Rabb, sebagai
Mlik maupun sebagai Ilh.
Secara ringkas dasar-dasar dan prinsip ibadah adalah sbb (1). Ibadah harus
berdasarkan keikhlasan yakni memurnikan ibadah yang bertujuan untuk memperoleh rida
Allah semata-mata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. 98/ AlBayyinah : 5). (2). Ibadah harus berdasarkan contoh Rasulullah SAW : Nabi
menyatakan :Barang siapa beramal suatu amal ibadah padahal tidak ada perintah
melakukannya, maka amal ibadah itu akan ditolak. (3). Ibadah harus dikerjakan dengan
serius, khusyuk, dan fungsional. Contoh : Orang yang rajin melaksanakan shalat tetapi tidak
mau menolong diberi balasan neraka Wail (QS. Al-Maun [107]).
Selanjutnya, secara garis besar, aktivitas ibadah ini terbagi dua katagori yakni ibadah
mahdhah dan ibadah ghair mahdhah. Ibadah mahdlah adalah ibadah khusus atau spesial
yang berhubungan dengan Allah yakni ibadah shalat, shaum, zakat, haji dan pengurusan
jenazah. Di luar itu termasuk ibadah ghair mahdlah atau disebut juga muamalat. Ibadah ghair
mahdlah atau muamalat antara lain pernikahan (munakahat), perekonomian (iqtisahdiyah)
politik (siyasah), kebudayaan (tsaqafah), Jarimah ( jarimah hudud, jarimah qishash, jarimah
tazier/penjara). Aktivitas manusia dari mulai makan minum, mandi, berpakaian,
berkosmetik, olah raga, hiburan, berorganisasi, bermasyarakat, serta aktivitas lainnya dari
mulai bangun tidur sampai tidur lagi adalah ibadah ghair mahdlah. Tidak ada satu bidang
27 Hadis menyatakan bahwa Islam dibangun dengan lima hal, yakni syahadat, salat, saum,
zakat dan haji. Jadi kalau akidah merupakan fondasi sedangkan syariah ibadah merupakan
bangunannya.

kehidupan pun yang tidak termasuk ibadah, oleh karena itu diatur oleh Islam. Aktivitas yang
mengikuti aturan Islam, sedikitnya tidak bertentangan dengan aturan Islam, asal diniatkan
ibadah, maka termasuk ibadah dan pasti mendapatkan pahala.
Perlu diperjelas lagi bahwa Ibadah mahdhah (mihadh = bersih), adalah rangkaian
ibadah yang bersih tidak bercampur dengan aturan dari luar. Termasuk ke dalam ibadah
mahdlah ini adalah salat, saum, zakat, haji dan pengurusan jenazah. Asal hukum ibadah
mahdlah adalah haram atau batal (al-ashlu fi al-;ibadati al-buthlan). Jadi jika tidak ada
perintah untuk beribadah, janganlah sok rajin melakukan ibadah, karena melakukan ibadah
yang tidak dicontohkan oleh Nabi saw adalah bidah dlalalah (berlebihan yang sesat).
Sungguh banyak orang yang keliru, dia melakukan ibadah sebagai hasil
kreativitasnya, tetapi kemudian ia ditegur orang. Ia mengelak bahwa ia telah melakukan
bidah, lantas dia berkata begini : Mana dalil yang melarangnya, kan tidak ada, jadi saya
tidak salah melakukan ibadah ini karena tidak dilarang ?. Itu pandangan yang keliru,
seharusnya dia berkata begini :Saya melakukan ibadah ini karena ada dalil sahih yang
memerintahkannya.
Sebaliknya, dalam hal muamalat atau aktivitas di luar ibadah mahdlah atau aktivitas
duniawi, hukum asalnya adalah halal (al-ashlu fi al-asy-ya-i al-halal). Jadi selama tidak
diharamkan atau tidak dilarang oleh Allah dan Rasulullah berarti perbuatan itu halal. Anda
tidak perlu mencari dalil Alquran atau hadits tentang halalnya bebek, main golf atau
membuka ragam bisnis, yang harus Anda cari adalah dalil yang mengharamkannya, selama
tidak diharamkan berarti halal.
Kemudian ada juga orang yang berdalih bahwa walaupun ibadah yang dia lakukan
tidak diperintah oleh Nabi, tetapi dia merasa bahwa ibadahnya itu banyak baiknya, mengapa
tidak dikerjakan. Padahal baik dan buruknya ibadah bukan dari perspektif akal dan nalar
manusia tetapi dari pandangan Rasulullah. Seandainya ada ibadah ritual yang dipandang baik
oleh Rasulullah, pasti beliau sudah mengerjakannya.
Kita harus benar-benar sadar bahwa Nabi saw adalah orang yang paling taqwa, orang
yang paling sempurna ibadahnya, orang yang tidak pernah menyembunyikan ilmunya, orang
yang transparan. Jadi jika kita menambah ibadah di luar ketentuan Nabi, itu sama saja dengan
menyatakan bahwa ibadah Rasulullah kurang lengkap. Kalau ingin berkreasi, lahannya ada
pada ibadah ghair mahdlah, misalnya di zaman Nabi, pelaksannaan munakahat itu tidak
memakai buku nikah apalagi dilengkapi dengan foto pengantin, sekarang mau dilengkapi,
silahkan. Jadi kalau pun bidah, sangat mungkin bidahnya bidah hasanah (kreativitas yang
baik). Tapi jangan sekali-kali berkreasi di bidang ibadah mahdlah.

Supaya lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini yang menjelaskan perbedaan antara
ibadah Mahdlah dan ghair mahdlah :
Ibadah Mahdhah

Ibadah Ghair Mahdhah

Asal ibadah mahdhah adalah haram, kecuali


kalau ada dalil yang memerintahkan untuk
mengerjakannya.

Asal ibadah ghair mahdhah adalah halal kecuali kalau


ada dalil yang mengharamkannya.

Aturannya khusus, tidak boleh tercampur


dengan aturan dari luar, misalnya
mengucapkan alaihis salam ketika mendengar
nama nabi . Itu adalah aturan umum tetapi
tidak boleh diterapkan dalam shalat.
Tidak berlaku qiyas, misalnya mengqiyaskan
zakat profesi kepada zakat pertanian atau
zakat mas.
Bahasa dalam ibadah mahdlah harus asli
(bukan terjemahan), misalnya bacaan shalat
dan doa-doa haji.

Pada umurnya tidak diatur dengan detail, yang


ditetapkan hanya prinsip-prinsipnya saja, misalnya
tentang cara berpakaian atau pernikahan.

Kadang-kadang sulit dipahami akal, misalnya


mengapa harus mencium hajar aswad.
Akal tidak boleh ikut campur, tidak ada
kreativitas akal. Kreasi baru dalam ibadah
mahdlah dianggap bidah dhalalah
(berlebihan yang sesat).

Qiyas berlaku dalam menetapan hukum ibadah ghair


mahdhah.
Dalam ibadah ghair mahdhah boleh menggunakan
bahasa terjemahan, misalnya doa ketika mau makan,
dan ucapan ijab qabul, yang redaksinya tidak harus
persis yang penting esensinya.
Pada umumnya tujuan dan hikmah ibadah ghair
mahdhah mudah dipahami akal.
Akal boleh ikut campur dalam pengembangan ibadah
ghair mahdah, karena setiap zaman memerlukan
tatacara yang sesuai dengan zamannya. Misalnya
cara ijab qabul dalam jual beli di zaman dahulu
dengan di zaman modern, yang penting adalah
siubstansinya.

Dari sisi hukum, ibadah terbagi dua yakni ibadah Fardlu ain dan ibadah Fardlu Kifayah.
Penjelasannya sbb (1). Fardlu Ain artinya kewajiban perseorangan, individual yang tak dapat
diwakilkan kepada orang lain seperti kewajiban shalat lima waktu, mengeluarkan zakat, menunaikan
ibadah haji, atau mencari ilmu primer sebagai dasar berakidah dan beramal saleh. (2). Fardlu Kifayah
yakni kewajiban kolektif muslimin, maksudnya tidak wajib semua muslim melakukannya tetapi
cukup ada perwakilan yang signifikan, misalnya mengurus jenazah, menjadi dokter, apoteker, ahli
nuklir, ahli ruang angkasa, dll. Dalam hal ini apabila ada perwakilan yang signifikan, semua muslim
tidak berdosa, tetapi apabila tidak ada perwakilan yang signifikan maka semua muslim berdosa.
Contoh : apabila tidak ada ahli-ahli strategi perang yang signifikan padahal ini adalah masalah yang
amat penting, maka semua muslim berdosa. Belajar Biologi, Fisika, Astronomi, teknologi dan ilmu
kauniyah lainnya adalah fardlu kifayah, mendapatkan pahala dan kalau disebarkan kepada orang lain
akan menjadi amal investasi yang mengalir terus pahalanya.

Pilar 3 : Akhlak (Ihsan)

Apa hakikat akhlak ? hakikat akhlak adalah perilaku (behavior) yang lahir dari
dorongan hati nurani atau sikap (attitude) sehingga melahirkan kebiasaan (habit) dan budaya
(culture). Walaupun ada istilah akhlakul karimah (akhlak mulia) dan akhlakul Madzmumah
(akhlak buruk), tetapi secara makna konotasi, akhlak itu adalah perilaku baik, jadi jika
dikatakan orang itu tidak berakhlak maksudnya orang itu dianggap berperilaku buruk.
Apa bedanya akhlak dengan etika ?.
Akhlak adalah bagian dari din al-Islam yang membahas perilaku baik buruk dari sisi
Alquran dan sunnah Rasul, sedangkan etika adalah bagian dari filsafat, yakni bidang
aksiologis yang membahas baik buruknya suatu perbuatan dari perspektif filosofis.
Kemudian jika dikatakan etika Islam berarti pemikiran falsafati tentang perilaku baik dan
buruk dilihat dari perspketif Islam.28
Apa bedanya antara etika dengan etiket ? Etika (ethics) adalah moral atau nilai baik
buruk yang bersifat absolut, misalnya wajib hormat kepada orangtua sedangkan etiket
(ethiquette) adalah sopan santun yang bersifat praktis dan tidak absolut, misalnya cara
salaman sebagai tanda hormat anak kepada orang tua, itu berbeda-beda antara gaya Sunda,
Jawa, Batak, India, Cina, dll.
Apa hubungan antara etika dengan moral dan mental ? Moral adalah jiwa dilihat dari
sisi baik dan buruk, moralitas adalah keseluruhan azas perilaku yang berhubungan dengan
nilai baik dan buruk. Adapun mental adalah jiwa dilihat dari sisi kuat dan lemah, mentalitas
adalah keseluruhan azas perilaku yang berhubungan dengan kuat dan lemahnya jiwa
seseorang. Dalam hal ini, etika berhubungan erat dengan moralitas dan mentalitas. Jadi jika
disebut etika Islam atau akhlak adalah pandangan integratif tentang perilaku manusia dilihat
dari sisi moralitas dan mentalitas dalam perspektif Alquran dan Sunnah Rasulullah saw.
Di mana posisi akhlak dalam kerangka ajaran Islam ? Apabila seseorang memiliki
akidah yang benar dan kokoh, akan mudah melaksanakan syariah secara konsisten, yang
selanjutnya dapat membuahkan akhlaq. Jika diibaratkan pohon, akidah adalah akar, syariah
adalah batang dan cabang-cabangnya, sedangkan akhlak adalah buah.
Akhlak meliputi perilaku manusia yang nampak maupun yang tidak nampak seperti
kegiatan hati. Akhlak bukanlah sebatas sopan santun kepada sesama manusia tetapi lebih luas
dari itu, yakni meliputi hubungan dengan Allah (hablum minallah), hubungan dengan sesama
28 Etika berasal dari bahasa Yunani : Ethos, artinya kebiasaan, adat, watak, sikap dan cara berpikir. Dalam
bahasa Latin, etika sama dengan moral. Mos (mufrad) yang artinya kebiasaan, sedangkan mores (jamak) artinya
adat kebiasaan, tatasusila. Etika adalah nilai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan. Etika adalah A
theory of value, A conduct of life, Moral philosophy (Oxford)

manusia (hablum minannas), dan hubungan dengan alam sekitar (hablum minal alam).
Contoh akhlak hablum minallah adalah shalat, haji, doa, dzikir, syukur nikmat dll. Contoh
akhlak hablum minannas adalah menjenguk orang yang sakit, saling tolong menolong,
mengikis dendam dan

saling memaafkan. Adapun contoh hablum minal alam seperti

membuang sampah ke tempatnya, menyantuni hewan, hemat energi, memanfaatkan sumber


daya alam sebaik mungkin, dll.
Objek bahasan akhlak dengan syariah adalah sama, yang berbeda hanyalah sudut
pandangnya. Contoh, shalat dilihat dari perspektif syariah merupakan kegiatan ibadah
mahdlah dengan tatacara tertentu, dari mulai takbiratul ihram sampai salam, sedangkan
shalat dalam perspektif akhlak adalah taqarrub kepada Allah, melalui jalan mahabbah
(perasaam cinta) bukan sekadar karena suatu kewajiban. Secara esensial akhlak sama dengan
syariah.
Persamaan antara syariah dan akhlak adalah dalam objek dan ruang lingkup
pembahasannya, sedangkan perbedaan antara keduanya hanya dari sudut pandangnya;
syariah melihat dari sudut pandang haram dan halal, sedangkan akhlak melihatnya dari sudut
baik-buruk. Contoh : Dilihat dari sisi syariah, seorang pria yang melaksanakan shalat dengan
hanya mengenakan celana tanggung, asal menutupi pusar sampai lutut, tanpa memakai baju,
sudah dinilai sah, tetapi dilihat dari sisi akhlak, itu tidak sopan kecuali darurat.
Keterpaduan antara akidah, syariah dan akhlak ibarat sebuah pohon; akidah ibarat
akar, syariah ibarat pohon besrta cabang dan daunnya sedangkan akhlak ibarat buahnya.
Apabila akidah dan syariah tidak melahirkan akhlak yang mulia, ibarat pohon yang akarnya
kokoh menghujam ke dalam tanah, batang dan daunnya mejulang ke langit tetapi sayangnya
tidak berbuah, lama ke lamaannya pohon itu ditebang pemiliknya. Jadi, setiap muslim wajib
berislam secara holistik integralistik.

EKSISTENSI
DIN AL- ISLAM

AQIDAH
(Iman)
Tata keyakinan
RUKUN IMAN
1. Iman kepada
Allah
2. Malaikat
3. Kitab-kitab Allah
4. Rasul-rasul Allah
5. Hari Kiamat
6. Qadha-qadar

SYARIAH
(Islam)
Tata beramal
RUKUN ISLAM :
Syahadat, Shalat, shaum,
zakat, haji.
1. Ibadah Mahdhah =
yakni ibadah spesial.
2. Ibadah Gahir
Mahdhah atau ibadah
umum.

AKHLAQ
(Ihsan)
Tata berperilaku
1. Hablum
minallah
2. Hablum
minannas
3. Hablum minal
alam

TAWHID RUBBUBIYAH : Meyakini bahwa Allah-lah


satu-satunya tuhan yang menciptakan alam, memelihara
dan mengurusnya.
TAWHID

TAWHID MULKIYAH : Meyakini hanya Allah lah


satu-satunya Tuhan yang memiliki dan merajai alam ini.

(Mengesakan Allah
dalam dzat, sifat dan
perbuatan-Nya)

TAWHID ULUHIYAH : Meyakini bahwa Allah-lah


satu-satunya
Tuhan akhlak
yang harus
dibadi/
disembah.
Muncul pertanyaan : Bagaimana
hubungan antara
dengan
tasawuf
? . Apa itu

tasawuf ? Benarkah tasawuf bukan berasal dari ajaran Rasulullah saw ? benarkah tasawuf
tarekat banyak mengandung akidah syirik dan amalan bidah ? Untuk memperoleh
jawabannya, silahkan baca buku ini bab tentang Studi Kritis tentang pokok-pokok Ajaran
Tasawuf Tarekat.

7. Keterikatan Muslim Terhadap Islam (Konsep Iman,


Hijrah dan Jihad)
Keterikatan muslim terhadap Islam, paling tidak ada lima yakni (1). Meyakini bahwa
Islam adalah satu-satunya din yang haq. (2). Mempelajari Islam sekuat tenaga menurut
sekemampuan masing-masing (3). Mengamalkan Islam secara bertahap sampai sempurna
sesuai kemampuan setiap orang (4). Mendakwahkannya kepada semua lapisan masyarakat di
seluruh duiua (5). Menjaga dan mempertahankannya dari upaya-upaya pihak musuh yang
bermaksud menodai dan menghancurkan Islam.
Kewajiban kesatu sampai kelima di atas harus dilalui dengan prinsip amanu, wa
hajaru wa jahadu yakni beriman, berhijrah dan berjihad. "Sesungguhnya orang-orang yang
beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan
rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Baqarah [2] :
218. Penjelasannya sbb :

Iman dan bai'at

Menganut Islam bukanlah sebuah pemaksaan karena Tidak boleh ada paksaan dalam
beragama. Sesungguhnya kebenaran itu telah nyata bedanya dari yang tidak benar (QS .
Al-Baqarah [2]:256). Akan tetapi setelah menjadi muslim ia wajib dipaksa untuk
mengamalkan ajaran Islam. Ia harus melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat, jika
mengingkarinya wajib dihukum bahkan diperangi. Masuk Islam ibarat masuk tentara, tiada
paksaan untuk memasukinya, akan tetapi apabila telah masuk, ia wajib dipaksa untuk menaati
semua aturan ketentaraan tanpa kecuali;

wajib apel, latihan, piket dll. Apabila

Mengingkarinya dianggap sebagi sikap disersi yang diancam hukuman berat seperti disel,
disiksa bahkan dipecat.
Untuk memasuki Islam ada gerbang yang harus dilalui yakni Syahadah (kesaksian).
Maksud kesaksian di sini bukan kesaksian dengan mata melainkan kesaksian dengan ilmu
dan kepercayaan :

Saya bersaksi, tiada Tuhan selain Allah,


dan saya bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah

Isi syahadat pertama adalah menyatakan sikap monoloyalitas bahwa hanya Allah-lah
Tuhanku, tuhan yang wajib disembah. Aku tidak sudi diperbudak oleh siapapun kecuali
diperbudak oleh Allah. Syahadat kedua berisi pengakuan bahwa Muhammad saw adalah nabi
dan rasul Allah, dia adalah idolaku, aku mencintainya, aku akan mengamalkan sunnahnya,
dan aku siap mengorbankan apapun yang aku miliki untuk membela risalahnya.
Ikrar dua kalimah syahadat tersebut harus dilakukan di depan Nabi saw atau di depan
imam sebagai saksi. Baru setelah itu keislamannya diumumkan kepada publik. Ini berlaku
bagi orang yang masuk Islam pada usia baligh (dewasa), tetapi tidak berlaku bagi orangorang yang sudah memeluk Islam sejak kecil atau muslim keturunan. Sebagai contoh, Ali ibn
Abi Thalib, Fatimah dan Asma sebagai muslim keturunan, semuanya tidak mengucapkan
syahadat baiat (testimony) di hadapan imam. Berbeda dengan Hamzah atau Umar ibn
Khattab yang melakukan baiat syahadat karena mereka memeluk Islam setelah dewasa.
Baiat ibarat kontrak kerja. Seorang buruh tidak boleh langsung bekerja sebelum ada
perjanjian antara buruh dengan majikan (direktur), kalau dia bekerja sebelum ada perjanjian
kontrak kerja, maka ia tidak mungkin menerima gaji/ujrah meski sudah bekerja keras. Kalau
seseorang mau mendapatkan upah, harus ada kontrak kerja lebih dahulu. Demikian pula

dalam beribadah, seseorang yang semula nonmuslim, tidak bisa langsung beribadah kalau
belum melalui baiat di depan Imam. Jadi fungsi baiat sebagai pintu keabsahan beribadah.
Kesakisian di depan imam ini sering disebut baiah atau baiat. Dasar pijakannya adalah AlQuran surat Al-Fath [48] : 10 :

(10)






Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia (baiat) kepadamu
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka,
maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa
dirinya dan barang siap menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala
yang besar.29

Baiat berasal dari kata ba-ya-a yang artinya menjual atau membeli, sebagaimana
QS. Al-Baqarah [2]: 275, bahwa Allah menghalalkan jual beli (al-baia) dan mengharamkan
riba. Juga di dalam Al-Quran surat al-Jumu'ah [62] : 10, Dan tinggalkanlah al-baia (jual
beli)

30

Makna pertama baiat adalah berniaga (QS. Ash-Shaf [61] : 10), maksudnya,

bahwa seseorang yang telah di-baiat berarti telah menanda-tangani


berniaga dengan Allah

kontrak untuk

di mana dalam perniagaan itu wajib menggunakan aturan dan

undang-undang yang telah dibuat oleh Allah. Makna kedua baiat adalah menjual (QS. AtTaubat [9] :111), yakni menjual diri dan segala miliknya kepada Allah. Dalam hal ini Allah
membelinya dengan surga. Makna ketiga baiah adalah berjanji,

yakni berjanji untuk

mengabdi kepada Allah. Sejak perjanjian itu ditanda tangani, manusia wajib merasa terikat
dengan aturan Allah.
Baiat ada dua macam, yakni (1). baiat ketika masuk Islam bagi orang-orang
nonmuslim yang memeluk Islam setelah dewasa. (2), baiat sebagai janji setia kepada
pimpinan yang sah. Dia berbaiat untuk tunduk patuh kepada imam selama imam dalam
29 Landasan tentang pentingnya berjamaah antara lain hadis dari Umar
ibn Khattab yang menyatakan bahwa Tidak sah Islam tanpa jamaah,
tidak sah jamaah tanpa Imamah, tidak sah Imamah tanpa baiat, dan
tidak sah baiah tanpa ketaatan.
30 Ramli Kabi Ahmad {iddiq Abdurrahman, Baiat, Satu Prinsip Gerakan
Islam, El-Fawaz Press, 1993, hal. 36 - 39. Judul aslinya adalah Al-Baiah fi
al-Nizm al-Siysy al-Aslam wa abiqtuh fi al-hayt as-siysiyyah wa alMu[irah.

keadaan lurus, hak atau berada di jalan Allah swt. Redaksi baiat bisa beragam tergantung
kepentingannya. Misal : Saya berbaiat kepada engkau sebagai imam kami. Kami akan taat
kepada perintahmu selama kamu berada di jalan Allah, dan aku akan meluruskanmu dengan
segala kekuatan yang aku miliki apabila engkau menyimpang.
Ikrar syahadat bisa luluh lantak, antara lain apabila diiringi hal-hal berikut ini :
a. Syirik Lain asyrakta kayahbathanna amaluka , apabila kamu syirik, maka hancur
keburlah amal-amalmu.
b. Menjadikan makhluk sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah Swt. Makhluk
perantara tersebut diyakini sebagai pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah. Hal
itu sama saja dengan menyekutukan Allah. (QS. Yunus [10] : 18). Ini bisa
membatalkan syahadat. Lihat juga QS. Az-Zumar [39]:3.
c. Tidak menganggap kafir kepada orang yang jelas-jelas kafir . Allah menegaskan
bahwa amalan orang kafir sebanyak apapun seperti abu yang ditiup angin kencang
sehingga mereka tidak bisa mengambil manfaat sedikit pun dari amalannya. (QS.
Ibrahim [14]: 9).
d. Mayakini bahwa agama yang benar bukan hanya Islam tetapi semua agama bisa
e.
f.
g.
h.

membawa manusia ke surga (QS. Ali Imran [3] : 19, 85 dan QS- An-Nisa [4] : 65.
Membenci seluruh atau sebahagian syariat Allah (QS. Muhammad [47]: 9).
Memperolok-olokan ayat-ayat Allah (QS.At-Taubat [9]: 64-65).
Bekerjasama dengan orang kafir dalam memerangi Islam (QS.Al-Maidah [5] : 51).
Mengambil orang kafir sebagai pemimpin :Barang siapa di antara kamu mengambil
mereka sebagai pemimpin, maka sesunguhnya orang itu termasuk golongan mereka.

(QS. Al-Maidah [5] : 51.


i. Enggan mengamalkan agama Allah Siapakah yang lebih zalim daripada orangorang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling
dari padanya.? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orangorang yang berdoa.(QS. As-Sajdah [32]: 22).

Hijrah
Setelah seseorang menyatakan keimanannya, mereka wajib berhijrah secara total.
Alquran menegaskan bahwa apabila seseorang telah menyatakan diri sebagai mukmin, ia
harus berhijrah.










"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah
dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. Al-Baqarah [2] : 218 :









Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad
dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang
memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang orang yang
hijrah) mereka itu satu sama lain lindung melindungi. 8:72 :

Hijrah ada dua macam yakni hijrah makani dan hijrah qalbi. Hijrah makani ialah
pindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain sebagaimana Nabi dan para sahabanya
hijrah dari Mekah ke Medinah. Mereka rela meninggalkan kampung halaman, pekerjaan,
jabatan dan segala miliknya padahal ketika itu tidak ada jaminan pekerjaan dan fasilitas hidup
di kota Yastrib. Mereka berhijrah hanya karena mencintai Allah dan Rasulnya. Tujuannya
untuk membuat komunitas masyarakat yang diatur oleh hukum Allah yang asbolut yakni AlQuran.

Apabila mereka tidak hijrah berarti membiarkan diri berada dalam komunitas

Jahiliyah. Jika nanti mereka dibinasakan oleh orang kafir, mereka termasuk orang yang rugi.
Allah menegaskan di dalam Q.S An-Nisa [4 ]: 97 sbb :

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan


menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya :Dalam keadaan
bagaimanakah
kamu ini (diwafatkan)?.
Para malaikat bertantya
pula :Bukanlah bumi Allah itu luas sehingga kami dapat berhijrah di bumi
itu?. Orang-orang itu tempatnya nereka jahannam dan seburuk-buruknya
tempat ibadah.

Adapun hijrah qalbi adalah berpindah dari wilayah dhulumat jahiliyah ke wilayah nur
(cahaya) sebagaimana diterangkan di dalam QS Al-Balad [90] : 10 : Wahadainhu annajdain (Kami menunjukinya dengan dua jalan), yakni jalan yang batil dan jalan yang haq.
Hijrah qalbu adalah pindah dari kebiasaan buruk kepada kebiasaan baik, dari perilaku
jahiliyah kepada perilaku Ilahiyah, dari dunia gelap gulita (dzulumat) ke jalan yang terang
(nur). Oleh karena itu, mari kita tinggalkan kebiasaan nonqurani untuk beralih kepada
kebiasaan Qurani secara total, kaffah. Tinggalkanlah amalan-amalan bidah, syirik, khurafat,
Islam sinkretik, serta amal-amal keagamaan yang tidak bersumber dari ajaran Rasulullah saw.
Jangan takut dijauhi oleh teman-teman yang selama ini dekat dengan kita, justeru kita harus
mengajak mereka untuk berislam dengan Islam ilmu bukan Islam persepsi.
Kita pun tidak boleh berislam setengah-setengah, dalam beberapa hal sudah Islami
tetapi dalam beberapa hal lain masih Jahiliyah karena sudah menjadi tradisi yang sulit
ditinggalkan. Dahulu, ada seorang Yahudi yang memeluk Islam dengan sebuah syarat, dia
berkata :Ya Rasulullah aku mau memeluk Islam tetapi tolong biarkanlah saya melalukan
beberapa kebiasaan agama yang biasa saya lakukan selama saya memeluk Yahudi . Ketika
itu turunkah QS Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
totalitas, kaffah.

Jihad :
Kewajiban lain seorang mukmin adalah jihad. Jihad adalah berjuang secara maksimal
untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi dengan mengerahkan pikiran, tenaga, harta
bahkan darah dan nyawa, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Quran surat Ash-Shaf [61] :
10-12:

( 10)







( 11)

















(12)

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu


perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika
kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan
kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan
kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang
besar ".

Setiap kali kita mau beribadah pasti datang setan menggoda dan berusaha
menggagalkannya, baik itu setan manusia maupun setan jin. Oleh karena itu jangan sekalikali dunia ini (anak, isteri, suami, harta, jabatan, dll) membuat kita lupa diri. Kita harus
menyiapkan semua potensi yang bisa dijadikan alat untuk melawan setan, setan tidak bisa
dilawan dengan setengah hati tetapi harus dilawan dengan kekuatan penuh ( full power) atau
dengan jihad. Banyaknya muslimin anggota Badan Legilatif, di partai, di ORMAS, pejabat
pemerintah, pejabat BUMN, pejabat swasta murni yang terlibat KORUPSI itu gara-gara dia
tidak berjihad dalam melawan setan tetapi hanya dengan setengah hati atau bahkan mungkin
dengan sepertempat hati, atau mungkin hanya cukup dengan mengusap dada sambil
beristighfar saja. Melihat muslim yang lemah iman dan tidak memiliki keberanian (syajaah)
seperti itu, mungkin setan sudah tidak malu-malu lagi menggodanya.
Setan menggoda manusia dengan empat langkah yang sistimatis yakni (1). Tadlil atau
penyesatan agar manusia menganggap baik suatu perbuatan yang salah antara lain bidah
yang dianggap sunnat. (2). Talbis ialah mencampurkan amal baik dengan amal buruk seperti
sidkah yang dibarengi riya atau mencampurkan ajaran Islam dengan budaya lokal yang
disebut Islam sinkretik (3) Takhwief atau menakut-nakuti misalnya enggan bersidkah karena
takut miskin, tidak berani menasehati anak wanitanya yang berbuka aurat karena takut anak
perempuannya kabur, atau takut dipecat kalau menasihati atasan (4). Amar maruf nahyi
munkar, misalnya orang yang memakai cadar dicurigai teroris tetapi perempuan yang berani
berbuka aurat di depan umum digelari miss universe dan diberi sejumlah hadiah yang amat
memukau.
Apabila kita ingin menang melawan setan, ada tiga kuncinya yakni (1). Ikhlas karena
Allah (2). Syajaah atau berani sepenuh hati dan (3). Mengerahkan segenap yang masih
tertambat (kekuatan potensial). Selanjutnya para juara yang berhasil melawan setan
dikelompokkan menjadi empat katagori manusia :Dan barang siapa menaati Allah dan

RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat
oleh Allah, yaitu nabi dan para shidiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang
saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS. 4 An-Nisa : 69). Penjabarannya
sebagai berikut :

Shalihin: ialah para pengamal ajaran Islam, mereka melaksanakan ibadah mahdlah dan
ibadah ghair mahdlah, mereka pun menjauhi segala maksiat. Kalau dalam bahasa

menejmen, mereka adalah level pelaksana.


Syuhada: ialah shalihin plus, selain saleh mereka pun terjun langsung ke medan perang

untuk mempertahankan ketinggian Islam dari ulah musuh-musuh Allah.


Shidiqin : adalah syuhada plus, bukan hanya saleh dan siap berperang di jalan Allah tetapi
mereka amat teguh kepercayaannya kepada Rasulullah, sehingga hidup mereka benarbenar amat baik, selalu lurus, jujur, istiqamah (konsisten) dan muthmainnah (tenang),
bagi mereka dunia tidak menggoyahkan keimanannya.
Anbiya : para nabi pasti shalihin, pasti syuhada, pasti shidiqin, bahkan mereka diberi

wahyu dan maksum (dijaga dari perbuatan salah).


Pertanyaannya, kita termasuk kelompok yang mana ? Seharusnya, minimal kita
masuk ke dalam kelompok shalihin, atau mejadi manusia level pelaksana yang taat kepada
aturan Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila kita kalah terus oleh setan dan bahkan
menjadi anggota setan, maka kita akan menjadi orang yang amat rugi di dunia dan akhirat.
Empat kelompok orang yang menjadi pengikut setan adalah :

Fasiqin :ialah orang Islam yang banyak berbuat dosa, juga orang-orang yang menerima
sebahagian ayat Alquran tetapi menolak sebahagian lainnya (numinu bi badhin wa
nakfuru bibadhin). Misalnya mereka menerima ayat tentang shalat, shaum, zakat, haji
dan rumah tangga tetapi menolak ayat hudud, qishash, poligami dan aturan pembagian

warits.
Kafir Mutlak: Ialah orang-orang yang menolak semua ayat Alquran atau menolak

Islam secara keseluruhan.


Thagut: Mereka bukan lagi menolak Alquran tetapi membuat aturan dan hukum
tandingan Alquran, merekrut anak buah, memberikan komando amar munkar nahyi
maruf dan mengintimidasi siapapun yang menentang kebijakannya. Contoh konkretnya

Abu Jahal dan Abu Lahab.


Munafiq: ialah orang-orang yang berpura-pura iman, menggunakan atribut Islam, dekat
dengan umat Islam tetapi niatnya ingin menghancurkan Islam dari dalam. Contoh
konkretnya Abudullah bin Saba.

Penulis mengajak pembaca untuk berusaha seoptimal mungkin menjadi orang yang
baik, minimal setingkat shalihin dan jangan sekali-kali menjadi fasiqin apalagi munafiqin.
Catatan tambahan :

Banyak para pemikir muslim modernis yang terpengaruh pemikiran Orientalis yang
beranggapan bahwa Hukum Islam terikat dengan ruang dan waktu, sehingga perlu
ada penafsiran baru terhadap hukum Islam, kasarnya perlu ada perubahan hukum
supaya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Dalam hal ini penulis
memohon, tolong tunjukan di bagian mana hukum Islam tidak mampu merespon

perkembangan zaman, berikan contoh. !


Penulis tidak menampik bahwa semua hukum dan aturan terikat ruang dan waktu.
Ajaran Islam nabi Muhammad ini terikat ruang, yakni berlaku di alam dunia ini.
Begitu kita masuk ke alam qubur atau alam akhirat, ajaran Islam ini sudah tidak
berlaku lagi. Ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad terikat waktu, ya benar,
yakni sejak Nabi saw diangkat menjadi nabiyullah sampai terjadi Kiamat. Itilah ruang
dan waktu yang didefinisikan oleh Alquran bukan ruang dan waktu yang

didefinisikan oleh pemikiran individual.


Islam dengan Alquran dan sunnahnya, sudah dipersiapkan oleh Allah Swt sebagai
sebuah aturan yang berlaku sampai akhir zaman, sehingga Allah memutuskan bahwa
Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul terakhir, tak perlu lagi nabi yang baru.
Segala macam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta kemajuan
budaya manusia sampai kiamat telah diketahui oleh Allah sebelum terjadi. Jadi Allah
tidak akan perlu merevisi aturannya sampai dunia ini Kiamat. Yakinlah bahwa ilmu

Allah itu meliputi masa depan bahkan menjangkau periode akhirat.


Islam adalah agama yang sempurna, jangan diubah-ubah lagi. Adapun jika ada
persoalan kecil yang belum diterangkan oleh Alquran bisa dipecahkan dengan cara
ijtihad, tetapi ijtihad tidak boleh mengutak-atik apa yang telah qathi atau pasti dan
telah diterangkan ditegaskan oleh Alquran dan sunnah Rasul secara jelas
eksplisit.

Din Al-Islam

SIFAT AJARAN
ISLAM :
Sesuai fitrah.
La haraj (tidak
memberatkan)
Syumul
(lengkap)

TIPOLOGI TOKOH
ISLAM :
Sufistik
Sinkretis
Tekstualis
Kontekstual
Liberal

AZAS BERISLAM
Bi al-ilm, ialah
berdasarkan ilmu
bukan berdasarkan
mayoritas, figur,
atau tradisi nenek
moyang

PENDEKATAN
DALAM STUDI
ISLAM :
Holistik
Parsial

FUNGSI ISLAM :
Hifdzu al-Aql
Hifdzu al-Jasad
Hifdzun -nasal
Hifdzu al-Maal
Hifdzud din
Hifdzu al-ummah
Hifdzu alalam
PENDEKATAN
DALAM
MENGAMALKAN
ISLAM :
Law approach
Love approach

SIFAT AJARAN
ISLAM :
Sesuai fitrah.
La kharaj (tidak
memberatkan)
Syumul
(lengkap)

TIPOLOGI TOKOH
ISLAM :
Sufistik
Sinkretis
Tekstualis
Kontekstual
Liberal

AZAS BERISLAM
Bi al-ilm, ialah
berdasarkan ilmu
bukan berdasarkan
mayoritas, figur,
atau tradisi nenek
moyang

PENDEKATAN
DALAM STUDI
ISLAM :
Holistik
Parsial

FUNGSI ISLAM :
Hifdzu al-Aql
Hifdzu al-Jasad
Hifdzu al-nasal
Hifdzu al-Maal
Hifdzu al-din

PENDEKATAN
DALAM
MENGAMALKAN
ISLAM :
Law approach
Love approach

KETERIKATAN MUSLIM
TERHADAP ISLAM

IMAN :
Meyakini bahwa Islam
adalah din yang haq.

HIJRAH:
Mempelajari Islam dan
Mengamalkannya.

Bersyahadat kemudian
bersikap komitted
kepada syahadat tsb,

Menghijrahkan
kemauan, perasaan dan
pemikiran dari daerah
bathil ke daerah al-haq.
Mempelajari Islam dan
Mengamalkannya.

JIHAD :
Mendakwahkan dan
membela Islam
dengan harta,
pikiran, dan nyawa.
Berjuang sekuat
tenaga untuk
memelihara dan
membela keimanan.