Anda di halaman 1dari 36

BAB IX

SYARIAH AKHLAQ
Tujuan, Prinsip dan Fungsi Ibadah
dalam Membangun Karakter

Penulis:
Dr. Asep Zaenal Ausop, M.Ag

Editor Ahli :
Prof. Asep Saeful Muhtadi (guru besar UIN Bandung)
Ny. Qariah, M.Ag (Dosen Agama Islam ITB)

Karakter yang mau dibangun dengan Syariah-Akhlaq : Tujuan, Prinsip dan


Fungsi Ritual dalam Membangun Karakter ini adalah (1). Kesadaran perlunya ibadah
yang utuh yakni dengan melibatkan lima dimensi kemanusiaa. (2). Pemahaman tentang
hierarki budaya simbolik dan budaya normatif dalam ritual (3). Memiliki semangat
memperbanyak studi, penelitian dan diskusi ilmiah (4). Semangat juang untuk selalu
berusaha menjauhi perbuatan fahsya dan munkar (5). Kemampuan mengendalikan
emosi terutama marah (6). Kesukaan berbagi dengan orang lain terutama dengan
kelompok dhuafa (7). Semangat untuk fastabiqul khairat atau menjadi pelopor amal
yang saleh, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun terhadap
lingkungan.

1. Ibadah Mahdlah dan Ghair Mahdlah


Din al-Islam dalam arti luas disebut syariah (aturan), selanjutnya jika dihubungan
dengan bidang-bidangnya, syariah yang berkaitan dengan tata keyakinan disebutlah aqidah,
syariah yang berhubungan dengan ibadah disebut syariah ibadah atau sering disebut
syariah saja (syariah dalam arti sempit). Adapun syariah yang berkenaan dengan baik
buruknya perilaku disebutlah akhlaq.
Pada bab ini akan dibahas hakikat syariah ibadah atau tata aturan yang berkenaan
dengan amal ibadah seperti shalat, shaum, zakat, haji, pengurusan jenazah, pernikahan,
perdagangan, sampai kepada hukum pidana dan perdata.
Pertanyaan pertama, apakah itu ibadah ? Menurut al-'Imad Ibn Ka`ir, ibadah adalah
1

Hiya al-thaat bi faili al-makmur wa tark al-mahdzur yang artinya, ibadah adalah menaati

atas segala perintah Allah serta meninggalkan yang dilarangNya. Definisi lain yang lebih
luas adalah 2 : Ism jami likulli ma yuhibbuhu wa yardlahu min al-aqwal wa al-amal, aldhahirah wa al-bathinah. Ibadah adalah kata kebendaan (yang diambil dari kata kerja fiil
madhi, past tense, abada yang artinya dia telah mengabdi), yang ditujukan kepada segala
aktivitas yang disukai dan diridai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang
tampak maupun tidak tampak. Ibadah memiliki makna : al-ibadatu hiya ma yardlahu min
al-aqwal wa al-afal, adh-dhahirah wa al-bathinah, Hakikat ibadah adalah segala aktivitas
manusia yang Allah ridai, baik perkataan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin,
jasadiyah maupun qolbiyah. Jadi segala kegiatan manusia sejak bangun tidur sampai tidur
lagi, selama diridai oleh Allah SWT berarti ibadah. Termasuk ke dalamnya antara lain, tidur,
mandi, berpakaian, makan minum, bekerja, mencari ilmu, mencari nafkah, olah raga, hiburan,
shalat, saum, zakat, haji, menjenguk orang sakit, mengurus jenazah, dll.
Karena ibadah meliputi segala aktivitas yang Allah ridai, maka semua aktivitas
manusia diatur oleh Allah swt, baik melalui Alquran maupun sunnah Rasulullah. Misalnya
sebelum memulai aktivitas didahului dengan basmalah (doa), setelah selesai pekerjaan
disunnahkan mengucapkan hamdalah (doa), ketika sedang bekerja selalu menaati segala
peraturan dan nilai-nilai Ilahiyah. Hukum dan nilai Alquran harus senantiasa diaati oleh
setiap muslim

dalam semua kegiatan, baik ketika sedang shalat, shaum, berdaagang,

1 Abd Rahman ibn Hasan Ali Syaikh, Fath al-Majid, Jilid I, (Riyadl : Nazar Mutaf al-Bz, 1996),
hlm. 22.
2 Abd Rahman, Fath al-Majid, Jilid I, hal. 21.

berpakaian, bermain bola, juga dalam berpolitik dan bernegara. Jadi aturan Allah itu melekat
dalam semua aspek kegiatan. Ketika aturan Allah dipisahkan dari kegiatan duniawi maka
kegiatan itu sudah sekuler, dan itu bukan sekadar tidak apa-apa melainkan tidak memperoleh
pahala bahkan bisa menuai dosa dan adzab.
Pertanyaan kedua, apa tujuan ibadah ? Tujuan ibadah adalah untuk mendapatkan
ridha Allah SWT. Implementasi rida Allah ini adalah kebahagiaan dunia dan kebahagiaan
akhirat. Kebahagiaan dunia adalah hidup penuh berkah dan ketenangan batin, sedangkan
kebahagiaan akhirat adalah terhindar dari neraka, mendapat surga, dan bisa bertemu dengan
Allah SWT. Jadi jika seseorang beribadah karena ingin memperoleh surga atau karena takut
neraka, itu tidak apa-apa. Allah menginformasikan adanya surga dan neraka sebagai reward
and funishment justeru bertujuan untuk memotivasi manusia agar menjadi orang saleh.
Pertanyaan ketiga, apa fungsi ibadah ? Ibadah memiliki beberapa fungsi antara lain:
a) Fungsi Taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Manusia mustahil bisa dekat
kepada Allah tanpa ibadah. Semakin intensif ibadah dilakukan seseorang akan
semakin besar kemungkinannya untuk bisa dekat dengan Allah.
b) Fungsi Mahabbah : yaitu untuk memperdalam cinta kepada Allah. Banyak beribadah
merupakan tanda nyata cinta kepada Allah. Orang-orang yang mengaku cinta kepada
Allah tetapi malas beribadah, itu adalah dusta.
c) Fungsi Washilah : yakni untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan-Nya. Allah
menyatakan carilah jalan untuk bisa sampai kepadaNya dengan menggunakan
washilah yakni amal-amal yang baik.
d) Fungsi Thariqah : untuk membuka jalan agar kelak di akhirat bisa bertemu dengan
Allah
e) Fungsi tanha anil fahsya wa al-munkar: yakni untuk membangun karakter manusia
sehingga manusia berakhlak mulia, serta menjauhi perbuatan fahsya (keji) dan
munkar (perbuatan yang harus diinkari).
Pertanyaan ke lima, ada berapa macam ibadah itu ? Ibadah terbagi menajdi dua
gugusan yakni ibadah mahdlah dan ibadah ghair mahdlah atau disebut muamalah.
Penjelasannya sbb :
a). Ibadah Mahdlah : adalah ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Allah.
Termasuk ke dalam ibadah mahdlah adalah shalat, shaum, zakat, haji dan pengurusan
jenazah. Dalam hal ini, zakat pun masih mengandung ibadah taaqquli (rasio masih ikut
campur) bukan semat-mata taabbudi (ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Allah).

b). Ibadah ghair Mahdlah : ialah ibadah umum yang banyak bersangkut paut
dengan hak dan kewajiban Adami (sesama manusia). Rinciannya adalah (1). Munakahat
(pernikahan) termasuk di dalamnya aturan nikah, etika hubungan suami isteri, thalak, rujuk,
serta berbagai macam kasus rumah tangga beserta solusinya. (2), Tsaqafah (kebudayaan),
termasuk di dalammya pendidikan, pengembangan ilmu, pakaian dan kosmetik, olah raga,
seni dan hiburan (3). Iqtishadiyah (ekonomi dan keuangan), termasuk di dalamnya
perdagangan, koperasi, perbankan dan utang piutang (4). Siyasah (politik), termasuk di
dalamnya

tentang bentuk dan konstitusi negara, badan musyawarah (legislatif),

kepemimpinan,dll. (5). Jinayat termasuk di dalamnya jarimah hudud, qishash, tazier, serta
penegakkan hukum dan HAM.
Pertanyaan ke enam, apa persamaan dan perbedaan antara Ibadah mahdlah dan ghair
mahdlah ? Persamaan antara keduanya, sama-sama aturan Allah, bersumber dari Alquran
dan sunnah Rasul, yang bertujuan untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia agar
manusia bisa berbahagia di dunia dan di akhirat. Di samping persamaan terdapat pula
perbedaan antara keduanya. Lihat tabel di bawah ini.
Perbedaan antara ibadah Mahdlah dan gair Mahdlah :
ASPEK

IBADLAH MAHDLAH

Hukum asal

1.

Dalil

2.

IBADAH GHIR MAHDLAH

Al-buthlan, artinya asal


ibadah itu adalah batal atau
haram dikerjakan.
Al-Amr : Ibadah itu harus
menunggu perintah. Tak ada
perintah, tak ada ibadah.

1.

Al-Halal : Asalnya Ibahah ghair mahdlah


atau muamalah adalah halal

2.

An-Nahyu : Menunggu larangan. Selama


tidak dilarang berarti halal/ boleh.

3.

Taufiqi : Cocok dengan


contoh Rasul.

3.

Rasio

4.

4.

Pemahaman

5.

Ghair Taaqquli : Kadangkadang tidak dipahami akal


tetapi rasio tidak boleh ikut
campur.
Al-ittiba : Mengikuti apa
adanya, baik dimengerti
maupun tidak dimengerti.

Ghair mukhalafah : Yang penting tidak


menyalahi atau bertentangan dengan
aturan Alquran dan sunnah Rasul.
Taaqquli : Semua aspek ibadah ghair
mahdlah mudah dipahami dan rasio boleh
ikut mengatur

Interevensi

6.

Kreasi baru

7.

Mihadl : Steril dari aturan


luar. Aturan yang dianggap
baik menurut hasil
pemikiran manusia, tidak
berlaku dalam ibadah
mahdlah.
Berlebihan dianggap bidah
dlalalah (berlebihan yang

5.

Al-ittiba wa al-Fahmu : Menaati


ketentuan Rasulullah, akan tetapi apabila
ada hal-hal yang tidak dapat diphami
akal, mungkin karena kesimpulan yang
salah, sehingga akal boleh ikut campur.

6.

Ghair Mihadl : Tidak steril dari aturan


luar. Aturan dari hasil pemikiran
manapun boleh masuk untuk melengkapi
aturan ibadah gahir mahdlah selama tidak
bertentangan dengan prinsip ibadah.

7.

Berlebihan mungkin bisa menjadi bidah

sesat).
hasanah (berlebihan yang baik).

Penjelasannya sbb :
Prinsip pertama, Asal ibadah adalah Al-buthlan dan al-amr, artinya asal ibadah itu
buthlan atau batal atau terlarang mengerjakannya, juga bersifat al-amr atau perintah, jadi
selama Nabi tidak memerintahkannya, selama itu pula ibadah haram dilaksanakan.
Kaidahnya adalah al-ashlu fi al-ibadati al-buthlan hatta yaquma dalilun ala al-amri, asal
dalam ibadah adalah batal (terlarang) sehingga ada dalil yang memerintahnya. Misalnya,
adakah perintah membaca surat Al-falaq, surat An-Nas dan melafalkan niat sebelum shalat ?
Jawabannya : Tidak ada. Jika tidak diperintah berarti jangan dikerjakan, jika dikerjakan juga
berarti menyalahi aturan Rasulullah saw. Banyak kejadian orang-orang melakukan tambahan
ibadah tanpa perintah Rasulullah tetapi hanya merupakan hasil berpikir subjektif,

dia

menganggap bahwa ibadah yang ia ciptakan banyak baiknya dan berguna bagi umat. Dia
mengatakan begini :Ini kan baik, apa buruknya ? bukankah Nabi pun tidak
melarangnya ?. Orang itu tidak memahami prinsip ibadah Mahdlah.
Prinsip kedua : Mihadl : yakni steril dari aturan luar. Misalnya dalam keseharian,
apabila mendengar atau menyebut nama nabi, ucapkanlah alaihis salam, sedangkan jika
mengucapkan nama nabi Muhammad lanjutkanlah dengan ucapan shalallahu alaihi wa
sallam. Aturan itu tidak boleh digunakan dalam ibadah mahdlah seperti di dalam adzan.
Ketika muazdzin mengucapkan kalimat asyhadu anna muhammadar rasulullah", muadzin
tidak boleh menambah dengan ucapan shalallahu alaihi wa sallam. Demikian juga di dalam
shalat, apabila imam membaca ayat shuhufi ibrahima wa musa.... makmum tidak perlu
mengucapkan alaihis salam. Contoh lain, apabila kita bersin disunnatkan mengucapkan
hamdalah, orang lain yang mendengarnya menyambung dengan ucapan yarhamukallah
(mudah-mudahan Allah menyayangimu), orang yang bersin menimpali dengan ucapan
yahdikumullahu wa yashlih balakum, mudah-mudahan Allah menunjukimu serta
menghindarkan bala bagimu. Akan tetapi aturan itu tidak berlaku apabila kita bersin di saat
sedang shalat.
Prinsip ketiga : Taufiqi dan Ittiba (cocok dan mengikuti), maksudnya ibadah itu
harus cocok dengan contoh Rasulullah Saw. Selama Rasulullah tidak mencontohkan, selama
itu pula kita jangan mengada-ada. Juga ittiba artinya hanya mengikuti apa yang Rasulullah
kerjakan, kalau seseorang melaksanakan ibadah yang bukan dari Nabi berarti dia tidak
mengikuti Nabi. Kaidahnya adalah : Al-ashlu fi al-ibadati at-taufiqu wa al-ittiba (asal hukum

dalam ibadah adalah kecocokan dan mengikuti Nabi). Misalnya, setelah mengucapkan
takbiratul ihram, Rasulullah bersidekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan
kirinya di atas dada. Muncullah orang yang menerangkan bahwa: Setan itu berkubang di
dalam hati (qalbu, heart) sehingga kita perlu menutupnya dengan sidekap, oleh karena itu
dalam bersidekap harus meletakkan tangan di atas dada sebelah kiri, bukan di dada bagian
depan. Jika kita mengamalkan sarannya itu berarti shalat kita tidak cocok dengan shalat
Rasulullah SAW. Selain itu, karena taufiqi maka kita tidak boleh memodernisir ibadah
mahdlah misalnya memodernisir cara thawaf dengan menggunakan ban berjalan sehingga
jemaah haji tidak perlu berjalan mengelilingi kabah, tapi tinggal mengecup hajar aswad.
Contoh lain, khutbah jumat tidak boleh menggunakan infocus dan layar sebagaimana
mengajar di kelas sehingga khatib turun naik dari mimbar untuk menjelaskan materi khutbah.
Khutbah jumat adalah ibadah mahdlah, kapan khatib harus duduk dan berapa kali khatib
boleh duduk selama khutbah sudah diatur rinci, duduk saja diatur apalagi yang lainnya,
pokoknya ibadah mahdlah jangan dimodernisir.
Prinsip kelima : Ghair Taaqquli. Artinya apapun yang diperintahkan Rasulullah
kadang sering sulit dipahami akal, tetapi dalam hal ini, baik perintah itu dipahami maupun
tidak dipahami tetap saja harus diamalkan. Contoh mengecup hajar aswad ketika sedang
thawaf. Umar Ibn Khattab berkata:

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah batu yang tidak


bisa memberi madharat dan juga tidak memberi manfaat. Seandainya
saya tidak melihat Rasulullah s.a.w menciummu, akupun tidak akan
menciummu.
Kemudian
Umar
pun
mencium 3
Prinsip kelima : Tafshili, artinya aturan ibadah mahdlah sudah sangat rinci, baik
mengenai tempat, waktu, maupun kaifiyat (tatacaranya). Oleh karena mukmin hanya tinggal
melaksanakannya. Menambah-nambah dari apa yang dicontohkan rasul adalah bidah
dlalalah (berlebihan yang sesat), jika dikurangi dari yang seharusnya adalah zhalim minimal
tidak sempurna, apalagi jika sengaja mengubah-ubahnya adalah fasiq.

3 Imam al-Hafidz Abi Abdillah al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ala Shahihaini (Darul MarifahBairut, Libanon, t.t), Bab : Awal Kitab Manasik, Juz 1, hal.457

Aturan ibadah Mahdlah tersebut berbeda dengan ibadah ghair mahdlah atau
muamalah. Dalam muamalah berlaku aturan yang merupakan kebalikan dari ibadah
mahdlah yakni:
Prinsip pertama : Asalnya Halal, artinya ibadah ghair mahdlah atau muamalah
adalah halal, jadi selama tidak ada dalil yang mengharamkannya berarti boleh. Kaidah yang
berlaku adalah :Al-ashlu fi al-asy-ya-i al-ibahah illa ma dalla dalilun ala tahrimihi asal
dalam segala sesuatu adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Oleh karena itu
jangan mencari dalil yang membolehkan tetapi carilah dalil yang melarangnya. Jangan
mencari dalil tentang haramnya lele, keong sawah, bermain gantole, atau mengcloning
hewan, tetapi carilah yang mengharamkannya, selama tidak diharamkan berarti boleh. Kita
menyatakan babi itu haram dimakan setelah ada ayat Alquran yang berisi larangan memakan
babi (QS. Al-Maidah [5] : 3). Kita pun menjauhi olah raga tinju karena ada hadits yang
menyatakan fajtanibul wajha jauhilah memukul wajah. Atau kita mengharamkan musik
yang bisa membawa manusia kepada kesesatan setelah turun QS. Luqman [31] : 6.
Prinsip kedua, mujmal. Maksudnya, aturan muamalah hanya menyangkut prinsipprinsipnya bukan rinciannya. Misalnya soal dagang, prinsipnya adalah jangan ada unsur riba
(membungakan uang), maesir (judi) dan ghurur (curang) serta mesti adanya unsur rida sama
ridah yang diimplementasikan dengan ijab qabul, adapun rincian prakteknya terserah kepada
kreativitas umatnya. Rasulullah menyatakan antum alamu biumuri dunyakum kamu lebih
tahu dalam soal urusan duniamu. Juga dalam hal berpakaian, yang penting prinsipnya yakni
harus menutup aurat, tidak ketat, tidak transaran atau tembus pandang, harus bermanfaat dan
tidak mubadzir, harus pantas dan jangan mengundang fitnah, tidak boleh mengesankan sikap
arogan dan tidak boleh menyerupai pakaian lawan jenis. Adapun corak dan modelnya
terserah kepada umatnya.
Prinsip ketiga, taaqquli. Akal pikiran manusia boleh turut campur mengaturnya. Islam
membuka diri terhadap semua ide pengembangan muamalah sejauh tidak bertentangan
dengan Islam dan bermanafaat. Ajaran Islam tentang muamalah hanya bersifat prinsipprinsip maka otak manusia boleh turut campur mengaturnya selama aturan itu tidak
bertentangan dengan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Di sini kreatifitas manusia diberi
peluang dan kesempatan seluas-luasnya. Jika ada produk atau aturan baru yang baik dan
bermanfaat padahal di zaman Nabi tidak ada, itulah yang disebut bidah hasanah (berlebihan
yang baik), misalnya kelengkapan materai dalam surat perjanjian, buku nikah yang
dilengkapi foto pengantin, lahirnya lembaga konsumen, dll. Jadi bidah hasanah berada pada
wilayah ibadah muamalah bukan pada wilayah ibadah mahdlah.

2. Ibadah Kaffah (Ritual Integratif)


Manusia dalam pandangan filsafat sains dengan pendekatan integralistik transendental
memiliki lima sisi kemanusiaan yang bersifat hierarkis (bertingkat) dan saling berhubungan
satu sama lain yakni (1). tubuh, (2). perilaku, (3). kesadaran, (4). nurani dan (5). ruh. Dalam
melaksanakan ibadah, seluruh sisi ini harus terlibat secara utuh dan menyatu (integral). Untuk
lebih jelasnya akan penulis uraikan satu persatu dengan menggunakan ilustrasi thawaf haji
dan shalat.

Level 1, Tubuh : Ketika thawaf, tubuh harus bersih dan sudah berwudhu serta memakai
pakaian yang menutup aurat. Semua orang yang thawaf harus begitu dan memang sudah
begitu. Demikian pula sebelum melaksanakan shalat, tubuh itu harus bersih dari hadats,
sudah berwudhu, berpakaian harus suci dan menutup aurat. Tidak sah shalat seseorang
jika tidak suci. Dalam hal ini siapapun yang shalat pasti sudah berwudhu, tapi tubuh saja

tidak cukup, thawaf itu harus dengan perilaku yang benar.


Level 2, Perilaku : Perilaku thawaf telah diatur sedemikian rupa. Thawaf dimulai dari
rukun hajar aswad dengan cara mencium langsung

yang disebut istiqbal,

atau

merabanya dengan tangan kanan lalu mencium tangan tersebut yang disebut istilam. jika
itu pun sulit cukuplah dengan mengangkat tangan yang diarahkan ke hajar aswad itu
tanpa mencium tangannya yang disebut isyarah. Kemudian berdzikir sepanjang putaran,
lantas sejak rukun Yamani sampai hajar aswad kita membaca doa :Rabbana atina fi
dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar. Itulah perilaku orang
thawaf. Perilaku orang berthawaf pasti seperti itu. Akan tetapi thawaf dengan perilaku
saja tanpa melibatkan unsur kesadaran akan sulit mewujudkan jiwa yang saleh. Demikian
pula dengan shalat, perilaku shalat adalah dimulai dengan takbiratul Ihram kemudian
ditutup dengan salam. Semua orang yang shalat sudah begitu, tetapi itu tidak cukup,

shalat harus melibatkan kesadaran.


Level 3, Kesadaran : Ketika berthawaf, kita harus sadar bahwa kita sedang mengelilingi
rumah Allah untuk memperoleh ampunanNya. Sadarkah kita bahwa di saat kita
berthawaf, Allah sangat memperhatikan kita ?. Oleh karena itu berthawaf harus dengan
penuh kesantunan, berjalan dan melaju dengan tenang, telinga dan mata dipasifkan,
sedangkan hati diaktifkan secara penuh. Amat tidak layak melakukan perbuatan yang
kurang sopan di saat thawaf, apalagi sampai saling dorong, saling sikut dan marahmarah. Sadarkah pula kita bahwa amat banyak rahmat Allah yang diberikan kepada

orang yang thawaf dan orang yang menyaksikannya. Apabila seseorang berthawaf tanpa
melibatkan kesadaran, mungkin hanya sibuk menghitung dan mengingat-ingat jumlah
putarannya saja tanpa mampu menggetarkan lubuk hati yang paling dalam. Dan itu pasti
akan sangat sulit menikmati putaran demi putaran thawafnya, padahal thawaf itu amat
nikmat. Demikian pula ketika shalat, kita harus melibatkan kesadaran, yakni menyadari
bahwa shalat adalah dialog antara hamba dengan Allah, oleh karena itu jangan tergesagesa, bacaan al-Fatihah pun harus ayat perayat. Shalat itu untuk mengingat Allah
(lidzikri) oleh karena kita itu perlu berkonsentrasi. Shalat itu adalah doa, oleh karena itu
bacaannya harus jelas dan dengan tempo yang teratur. Shalat itu berfungsi mencegah
maksiat, oleh karena itu setiap gerakan dan bacaan shalat, episode demi episode shalat

harus berfungsi mencegah maksiat.


Level 4, Nurani : Ketika berthawaf, nurani harus terlibat penuh; hati tidak hentihentinya menjerit memohon ampun,

qalbu terus menerus memelas kepada Allah

memohon kebaikan dunia akhirat, Jiwa terus menerus bergetar ketika mengucapkan
lafadz-lafadz dzikir (takbir, tahlil dan tahmid). Sepanjang putaran thawaf, semua unsur
nurani (kemauan, perasaan dan pemikiran) luluh di bawah keagungan Ilahi Rabbi, lebur
di bawah kedahsyatan

pengaruh Allah SWT. Itulah keadaan orang yang berthawaf

dengan nuraninya. Apabila nurani tidak terlibat dalam thawaf, maka thawaf akan terasa
hambar tanpa makna. Tapi itu pun belum sempurna apabila ruhnya belum menyatu.
Demikian pula dengan shalat, shalat yang baik adalah shalat yang melibatkan unsur
nurani. Bagi orang yang pernah haji atau umrah pasti tahu ketika Imam Sudes atau Imam

Surem menangis ketika beliau membaca ayat-ayat tentag siksa.


Level 5, Ruh : Perhatikan orang yang sedang bermimpi, tubuhnya terbaring di tempat
tidur, tetapi ruhnya mengalami banyak hal. Demikian pula ketika orang berthawaf,
tubuhnya menapak di bumi dan berputar mengelilingi kabah, tetapi ruhnya naik
menuju medan Ilahiyah, ibarat magnet. Menurut Laurenz ilmuwan Perancis, lambang
magnet itu seperti tangan kanan yang semua jarinya berputar ke arah kanan tetapi
jempolnya berdiri ke atas. Ketika gaya magnet berputar berlawanan jarum jam, maka inti
magnet naik ke atas. Mudah-mudahan, ketika tubuh kita berthawaf mengelilingi kabah,
ruh kita naik menunju medan ilahiyah, sehingga segenap eksistensi diri yang bersifat
duniawi lenyap. Kesadaran yang muncul adalah tentang eksistensi diri kita sebagai
hamba Allah yang akan mati lantas bertemu dengan sang Pencipta. Itulah kenikmatan
tertinggi dalam berthawaf.
Demikian juga orang yang shalat dengan melibatkan ruh, sebagai contoh adalah Ali Ibn
Abi Thalib, ketika dia shalat, ia ditusuk dari belakang dengan pedang oleh seorang

munafik. Ketika pedang tembus ke dadanya, Ali tetap tidak bergeming, bahkan semakin
dekat dengan Allah. Ketika pedang dicabut oleh para pendampingnya, Ali tetap tidak
bergeming hingga akhirnya ia roboh.
Sangat mungkin, kebanyakan orang yang berthawaf dan shalat hanya melibatkan dua
sisi kemanusiaan saja yakni tubuh dan perilaku, tanpa melibatkan kesadaran, nurani dan
ruhnya. Oleh karena itu, marilah kita berlatih agar bisa berthawaf dan shalat dengan utuh,
kaffah, menyatu, integral sehingga kita benar-benar merasakan kenikmatan spiritual dalam
setiap thawaf dan shalat. Insya Allah.
Demikian pula dalam melakukan sai, melontar jumrah, dan wukuf, kita harus
melibatkan lima unsur kemanusiaan secara utuh dan integral yakni melibatkan tubuh,
perilaku, kesadaran, nurani dan ruh.
Dari sisi pandangan lain, terdapat lima level budaya yakni 1). Budaya material 2).
Budaya sosial 3). Budaya simbolik 4). Budaya normatif dan 5). Budaya Wahyu. Jika
diaplikasikan dalam ritual dapat penulis jelaskan sebagai berikut di bawah ini. Sekali lagi
penulis akan membuat penjelasan dengan menggunakan ilustrasi seputar thawaf dan shalat.
(1).

Budaya Material : Ketika thawaf umrah misalnya, seluruh jemaah haji tanpa kecuali
memakai kain ihram, tidak ada seorang pun yang tidak mengenakannya. Walaupun
demikian, tidaklah penting membanding-bandingkan tentang mahal murahnya kain
ihram yang dipakai karena yang penting berfungsi menutup aurat. Kain ihram adalah
budaya material, budaya paling bawah, berada di bawah budaya sosial. Demikian pula
ketika shalat tidak perlu membanding-bandingkan mahal murahnya mukena atau sarung
yang dikenakan.

(2).

Budaya Sosial : Ialah bagaimana menciptakan hubungan sosial yang baik antar jemaah
haji selama thawaf, misalnya saling menghargai, saling memberi kesempatan, saling
menolong, dan saling mengingatkan ketika ada yang keliru. Segenap jamaah haji
menjauhkan diri dari sikap kibir (arogan), ujub (merasa paling baik), jidal (berbantahbatahan), rafats (berbicara kotor), fusuq (bersikap fasik), dll. Seluruh jemaah haji selalu
berusaha menciptakan suasana sosial yang sangat harmonis. Itulah budaya sosial.
Demikian juga dalam shalat, jemah harus mengedepankan budaya sosial antara lain
saling memberi kesempatan dan saling menghargai.

(3).

Budaya Simbolik : Ialah simbol-simbol yang ada ketika melaksanakan thawaf, misalnya
mencium hajar aswad. Mengecup batu hitam itu adalah sebuah simbol yang penuh
makna. Karena itu kalau mungkin menciumnya, ciumlah (istiqbal), tetapi jika tidak

mungkin menciumnya cukuplah diraba dengan tangan kanan lantas telapak tanganya
dicium (istilam), namun jika masih tidak mungkin juga, cukupkan dengan isyarah
tangan. Akan tetapi pada kenyataannya banyak orang yang memaksakan diri untuk
menciumnya walaupun harus menyakiti orang lain atau membayar upah kepada para
joki, bahkan banyak wanita yang terbuka auratnya di saat terjepit dan terseret arus para
pencium. Kalau terpaku kepada keharusan mencium hajar aswad seperti itu berarti
terpaku kepada simbol. Itulah haji orang awam. Bagi orang yang hawas (intelek) pasti
tidak terikat dengan simbol. Jika ia memang sulit mencium atau merabanya, ia merasa
puas degan isyarah. Demikian pula dengan shalat yang penuh dengan simbol-simbol dari
mulai takbiratul ihram sambil mengangkat tangan, ruku, dan sujud, itu semua adalah
simbol sedangkan norma di balik simbol itu adalah litadzim (menghormati) Allah.
(4).

Budaya Normatif : Ialah norma-norma yang ada di balik simbol itu. Misalnya, makna
normatif di balik simbol mencium hajar aswad antara lain nilai al-musawwah (persamaan
derajat non diskriminasi), serta nilai keharusan merendah hati. Dalam pandangan Allah
SWT, semua manusia, baik mereka yang berkulit hitam, coklat, merah atau putih
memiliki derajat yang sama. Unsur yang membedakan satu dengan yang lain hanyalah
ketaqwaannnya. Jadi mencium hajar aswad hanyalah simbolik. Dalam hal ini Umar Ibn
Khattab berkata:

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah batu yang tidak


bisa memberi madharat dan juga tidak memberi manfaat. Seandainya
saya tidak melihat Rasulullah s.a.w menciummu, akupun tidak akan
menciummu.
Kemudian
Umar
pun
mencium 4
Lain sekali dengan haji orang awam yang sangat terpaku kepada simbol dan berhenti
pada simbol itu tetapi tidak berlanjut kepada norma. Mereka merasa sangat puas kalau
dapat mencium hajar aswad walaupun harus menyakiti sekian orang di sekitarnya.
Mereka amat merasa bangga telah berhasil mencium hajar aswad tetapi tidak pernah
ingin tahu bagaimana mengaplikasikan norma di balik mencium hajar aswad tersebut.
Itulah haji orang awam. Berbeda sekali dengan haji orang yang lebih mementingkan
norma di balik simbol itu. Mereka cukup berisyarah tanpa harus memaksakan diri
4 Imam al-Hafidz Abi Abdillah al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ala Shahihaini (Darul Marifah-Bairut,
Libanon, t.t), Bab : Awal Kitab Manasik, Juz 1, hal.457

mencium hajar aswad. Mereka sangat mementingkan aplikasi nilai-nilainya daripada


simbol. Itulah haji orang-orang hawas (intelek). Orang hawas pun memahami bahwa,
memulai thawaf adalah dari sudut hajar aswad dan berakhir di hajar aswad, memulai
thawaf dengan ucapan bismillahi Allahu Akbar dan mengakhirinya pun dengan Allahu
akbar, mengandung makna bahwa hidup harus dimulai dengan nama Allah dan ditutup
dengan nama Allah juga. Demikian pula ketika shalat, ada noma di balik simbol,
misalnya mengangkat tangan sambil mengucapkan takbir mengandung makna bahwa
kita menghormati dan pasrah kepada Allah serta mengikis sikap sombong, arogan atau
kibir. Sungguh disayangkan, jika sering bertakbir tetapi hatinya tetap arogan.
(5).

Budaya Wahyu : ialah apabila semua perilaku lahir batin orang yang berthawaf selalu
dipandu oleh wahyu. Wahyu menjelaskan bahwa Allah itu sangat dekat, oleh karena itu
bacaan thawaf cukup dengan suara yang lirih dengan merendah hati (tadharruan wa
khufyatan). Jika ada orang yang berthawaf sambil berdzikir dengan suara keras apalagi
berteriak-teriak, itu adalah haji orang awam. Apa lagi ? Wahyu Allah pun menjelaskan
idfa billati hiya ahsan (tolaklah semua sikap buruk orang lain dengan sikap yang baik),
misalnya ketika thawaf, kaki terinjak orang, janganlah balas menginjak, ketika dada
tersikut tak perlu balas menyikut, ketika tubuh terdorong tak layak balas mendorong,
ketika orang marah marah tak patut balas memarahinya. Itulah budaya wahyu, itulah
hajinya orang-orang hawas (intelek). Demikian pula dalam shalat, kita harus merasa
bahwa shalat adalah untuk mencegah maksiat; takbir mengikis sikap sombong, sidekap
menumbuhkan sikap merendah hati, ruku dengan bacan subhanallah mengikis sikap sok
suci, salam ke kiri dan ke kanan mengikis sikap dendam dan permusuhan tetapi
menyemai sikap damai dan persahabatan. Oleh karena itu, di mana pun kita berada harus
selalu berjuang sungguh-sungguh untuk selalu menjauhi maksiat, jangan sampai terjadi,
shalat terus maksiat pun jalan. Itu adalah shalat sahun, shalat yang sia-sia. Naudzu
billahi min dzalik.
Marilah kita melakukan thawaf, sai, wukuf, melontar jumrah, tahallul dan segenap

episode ibadah haji serta ibadah shalat dengan panduan wahyu. Bukan sekedar haji tubuh
dan haji perilaku tetapi haji yang berkesadaran, haji dengan nurani dan haji ruhiyah/spiritual.
Kita harus menghindari haji yang sekadar haji simbolik tetapi harus tembus kepada haji
normatif dan haji wahyu ilahiyah. Harapan kita tiada lain agar kita menjadi haji mabrur
dengan nilai cumlaude.

3. Ibadah : antara Simbol dan Norma


Dalam setiap ibadah terdapat dua sisi yang saling berdampingan yakni simbol dan
norma. Supaya lebih jelas dan supaya pembaca bisa menangkap esensi hubungan antara
simbol dan norma di dalam ritual, di bawah ini penulis tegaskan sbb :

Mengangkat tangan dalam shalat sambil mengucapkan takbir adalah simbol, normanya
adalah litadzim yakni untuk menghormat Allah dan bersikap pasrah kepadaNya. Simbol
Itu penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah norma yang ada di balik simbol itu.

Semua simbol dalam ibadah ritual shalat dan haji, tidak tercantum di dalam Alquran tetapi
cukup dijelaskan oleh hadits nabi. Di dalam Alquran, Allah hanya mencantumkan normanorma dan esensinya ibadah tersebut, misalnya esensi shalat adalah : (1). lidzikri : shalat
adalah untuk mengingat Allah (2). Dialog : shalat pada hakikatnya adalah dialog manusia
dengan Allah (3). Doa : Intisari shalat adalah doa (4). Shilah : shalat adalah senjata
mukmin (5). Khasyiun : shalat harus khusyuk yang berfungsi mencegah maksiat.

Tatacara shalat dari mulai takbir sampai salam sebagai simbol hanya tercantum di dalam
hadits, itupun pada awalnya tidak ditulis karena Nabi melarangnya. Tatacara shalat sebagai
simbol itu memang penting tetapi mengapa Nabi tidak mencantumkannya dalam lembar
negara misalnya atau dengan cara apa saja yang dianggap sebagai arsip penting. Ini sangat
mungkin karena norma itu jauh lebih penting dari pada simbol. Atau kita ambil
hikmahnya, yakni agar semua muslimin terutama para ilmuwan/ulama tidak merasa cukup
dengan ilmu yang dimilikinya, menjauhi sikap arogan, serta terdorong untuk
menghidupkan majelis ilmu sehingga terjadi dinamika keilmuan yang luar biasa.

Simbol-simbol dalam ibadah dapat di tawar, lain lagi dengan esensi, norma (norm) dan
nilai (value) tak dapat ditawar. Misalnya shalat fardlu yang lima waktu wajib dilakukan
sambil berdiri tetapi apabila tidak mampu, maka boleh dilakukan sambil duduk bahkan
berbaring, itulah rukhsah (keringanan) dari Allah. Contoh lain, ketika takbiratul Ihram,
kita harus mengangkat kedua tangan, akan tetapi jika salah satu tangan kita sakit, cukuplah
mengangkat sebelah tangan saja. Berbeda dengan nilai/norma atau esensi, misalnya dalam
shalat harus mengingat Allah, ya mesti begitu, tidak dapat ditawar.

Sering terjadi perbedaan pendapat dalam menggunakan simbol. Contoh pertama, satu
kelompok setelah itidal atau bangkit dari ruku, mereka bersidekap, sementara kelompok
yang lain menjuntaikan kedua tangannya ke bawah. Apakah gara-gara perbedaan ini
kelompok yang satu diterima dan kelompok yang lain ditolak oleh Allah swt ?. Contoh

kedua, sebahagian orang ketika turun untuk sujud mendahulukan tangannya sedangkan
sebahagian lainnya lebih mendahulukan lututnya, apakah karena soal ini yang satu
terlempar dan yang lain dimanjakan oleh Allah. Contoh ketiga, satu kelompok berisyarah
tasyahud dengan menggerak-gerakan telunjuknya sementara kelompok lain tidak
menggerak-gerakkannya. Apakah hanya gara-gara ini satu kelompok masuk surga
sementara kelompok yang lain masuk neraka ?. Menurut hemat penulis itu tidak rasional,
tidak logis, kalau begitu Allah kejam, tidak Maha Pemurah, karena dari awalnya pun
tatacara shalat itu tidak ditulis. Hal yang rasional adalah jika mereka menolak apa-apa
yang sudah pasti benarnya, atau karena orang itu ngotot menggunakan hadits yang sudah
jelas kedhaifannya, lantas ibadahnya ditolak, baru itu wajar.

Perbedaan pendapat dalam tatacara shalat atau haji harus dikaji secara ilmiah, melalui
bahtsul kutub, diskusi sampai ke tingkat debat, tetapi apabila telah melalui serangkaian
diskusi atau debat ternyata tidak ada titik temu maka kerjakanlah sesuai dengan keyakinan
masing-masing dengan tidak saling menyalahkan. Jangan sampai meributkan simbol tetapi
melupakan norma/nilai, atau esensi.

Kebiasaan terpaku kepada simbol, atau bertengkar soal simbol yang memang di dalam
haditsnya pun kurang jelas, lantas melupakan norma di balik simbol. Itu merupakan
kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan.

Pekerjaan ibadah yang benar-benar baru (muhdatsah) atau ibadah yang hanya berdasarkan
hadits yang benar-benar dhaif, itu dikatagorikan sebagai amalan bidah, sesat dan
berakibat neraka. Adapun perbedaan tatacara ibadah sebagai akibat perbedaan pemahaman
atau perbedaan kesimpulan hasil penelitian dari sejumlah hadits yang diduga shahih, itu
adalah khilafiyah (perbedan pendapat). Jika hanya perbedaan pendapat, itu amat wajar,
dan jika tak ada titik temu setelah melewati sejumlah diskusi, maka semua pihak harus
saling menghargai. Dalam hal ini penulis yakin bahwa Allah akan memaafkan kita karena
perberbedaan pendapat ini, karena perbedaan ini sudah kita diskusikan secara akademis
ilmiah dan total optimal. Rabbana la tuakhidzna in nasina aw akhtana ya Tuhan kami,
janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. (QS. Al-Baqarah [2]: 286).
Melakukan kesalahan karena tak senagaja adalah khatta tetapi melakukan kesalahan
karena sengaja disebut bathil.

4. Fungsi Shalat dalam Membangun Karakter

Ayat-ayat Alquran dan hadits Nabi yang menjelaskan substansi, essensi serta fungsi
shalat antara lain :

Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan fahsya dan munkar
(QS. Al-Ankabut [29] : 45). Dan dirikanlah Shalat untuk mengingat-Ku (QS Thaha
[20] : 14). Minta tolonglah kamu dengan sabar dan shalat (QS. Al-Baqarah [2] : 45 )
Sungguh bahagia orang yang shalat, ialah yang beriman, ialah orang yang shalatnya
khusyuk. (QS. Al-Mukminun [23] : 1-2)

Hadits Nabi : Pembeda antara muslim dengan kafir adalah shalat (HR. Muslim dan
Tirmidzi). Amal yang pertama diperiksa pada hari kiamat adalah shalat. Sungguh
pertama-tama seorang hamba yang akan dihisab adalah shalatnya. Apabila
shalatnya baik, maka berbahagian dan beruntunglah dia, tetapi apabila shalatnya
ruksak maka menyesal dan merugilah dia (HR. Tirmidzi).

Tentang definisi dan tatacara shalat diterangkan oleh para ulama bahwa shalat itu
adalah rangkaian perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri
dengan salam. Nabi s.a.w menegaskan : Kunci shalat itu adalah bersuci, ihramnya itu
adalah takbir dan tahallulnya itu adalah salam". (HR. Abu Dawud : 61618 At Tirmidzi
: 3 Ibnu Maajh : 275,276). Adapun tatacaranya telah dicontohkan oleh nabi. Nabi
bersabda Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat (HR. Bukhari 3 :
69).
Sebelum melaksanakan shalat, kita harus berwudhu, yakni membasuh anggota tubuh

secara sistematis dan serius. Dari mulai membasuh telapak tangan bulak-balik, berkumurkumur dan menghirup sejenak air ke hidung untuk membersihkan kotoran yang ada di lubang
hidung, membasuh wajah, membasuh tangan kanan dan kiri sampai sikut, menyapu seluruh
bagian kepala sekaligus menyapu dan membersihkan lubang telinga, diakhiri dengan
membasuh kaki sampai mata kaki. Bagian tubuh luar mana yang tidak dibersihkan ?
Kebiasaan berwudhu melahirkan karakter manusia yang selalu ingin bersih dan suci,
sekaligus membenci tubuh yang kotor. Coba lihat wajah orang yang sering berwudhu dan
bandingkan dengan mereka yang tidak pernah berwudhu. Orang yang rajin berwudhu selalu
nampak bercahaya kendatipun berkulit hitam. Apalagi jika wudhunya bisa menembus
dimensi ruhani dapat membersihkan dosa. Rasulullah s.a.w menegaskan dalam hadits yang
diriwatkan oleh

Bukhari dan Muslim bahwa orang yang sempurna wudhunya maka

wudhunya itu akan membersihkan dosanya.5 Jadi wudhu itu disamping mensucikan hadats
juga dapat membersihkan dosa. Berwudhu yang afdlal ialah manakala batal wudhu segera
berwudhu lagi, sehingga selamanya ia memiliki wudhu, senantiasa dalam keadaan suci, steril
5 Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, ( Darul Fikr, Beirut, 1981 M/1401 H), Bab
: Wudlu tsalatsan-tsalatsan. Lihat juga : Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusairi al-Naisaburi, Shahih Muslim,
( Darul Jail, Beirut, tanpa Thn), , Bab : Shifat wudlu wa kamalihi

dari hadats. Berwudhu di luar waktu shalat sangat baik karena akan semakin banyak dosa
yang dihapuskan. Seseorang yang berdoa dalam keadaan punya wudhu, itu sangat mungkin
doanya lebih mudah dikabulkan. Amin. Oleh karena itu usahakan agar kita memiliki wudhu
sepanjang waktu.
Selanjutnya, ketika tiba waktu shalat dikumandangkanlah adzan oleh muadzin.
Dalam hal ini setiap umat beragama mempunyai cara masing-masing untuk memanggil
umatnya beribadah. Umat Nashrani membunyikan lonceng (genta), orang Yahudi meniup
terompet, orang Budha membunyikan bedug atau gong, sedangkan orang

Hindu

membunyikan kentongan, adapun umat Islam mengumandangkan adzan. Apabila ada orang
Islam memberi tahu waktu shalat kepada jemaah dengan kentongan yang berasal dari Hindu
dan bedug yang berasal dari Budha, diteruskan dengan adzan, apakah ini tidak termasuk
sinkretik ? Apakah ini tidak termasuk tasyabbuh atau menyerupai cara ibadah agama lain ?
Adzan terdiri dari (1). Sejumlah pernyatan sikap yakni Allah Maha Besar, Saya
bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Saya bersaksi Muhammad itu rasul Allah. Itu diulangulang. Suatu pernyataan yang diulang-ulang akan membentuk sikap dan karakter peneguhan
keyakinan. (2). Ajakan : Mari kita shalat, mari nenuju kemenangan. Ajakan yang berulangulang akan membuat orang itu mau mengikuti ajakan, paling tidak, mereka memahami ajakan
itu. (3). Penutup adzan adalah Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah. Setiap ajakan
ditutup dengan pujian kepada Allah. Ini mengandung makna bahwa yang penting kita
mengajak mereka shalat, soal ia mau atau tidak, itu adalah persolan hidayah dari Allah.
Siapapun yang mau shalat diwajibkan menutup aurat. Ini membangun karakter malu
berbuka aurat dan perasaan bangga menutup aurat. Dianjurkan pula mengenakan pakaian
terbaik yang dimilikinya bukan pakaian asal-asalan. Ini membangun karakter untuk selalu
menghargai diri sendiri dalam rangka menghargai tuannya (Allah Swt ), karena pakaian itu
merupakan gambaran kepribadian. Sayangngnya banyak orang yang menutup aurat ketika
shalat tetapi kemudian membukanya di luar shalat. Padahal aturan berpakaian menurut Allah
adalah harus selalu menutup aurat, baik di ketika shalat maupun di luar shalat.
Sebelum imam mengomando untuk memulai shalat, imam memerintahkan kepada mudazin
untuk mengumandangkan iqamah. Kalimat-kalimat iqamah sama dengan kalimat adzan,
hanya dalam iqamah ada tambahan kalimat Qad Qamatish shalah sebanyak 2 kali yang
artinya sungguh shalat telah siap didirikan, sungguh shalat telah siap dilaksanakan! Ini
membangun karakter controlling, agar sebelum menunaikan tugas harus dievaluasi benar
kesiapan para pelaksananya agar tidak ada kekeliruan atau terjadi ketidakseriusan dalam
pelaksanaannya. Sebelum shalat dimulai, dibentuklah shaf yang lurus dan rapat dengan

komando imam : itadilu shawwu shufufakum luruskan dan rapatkan shaf-shaf kalian.
Menurut hadits Nabi yang diriwatakan oleh Imam Abu Daud6, shaf itu harus rapat agar setan
tidak masuk ke celah-celah shaf dan mengacaukan hati jemaah. Ini melatih karakter jamaah
untuk selalu rapi dan tertib sehingga tak mudah diinfiltrasi. Orang yang berada di shaf
terdepan dijanjikan mendapat pahala paling banyak. Ini adalah

pembangunan karakter

persaingan sportif dan keseriusan dalam mengabdi. Tempat jemaah pria di bagian depan
sedangkan tempat jemaah wanita di belakang. Ini menanamkan karakter untuk menjaga jarak
dengan lawan jenis, sebagai latihan untuk menjauhi benih perzinahan. Jangan sampai terjadi,
ketika shalat berjauhan dengan lawan jenis tetapi selesai shalat berpacaran saling
berpegangan. Bagaimana ini ? ibarat kain yang sudah dicuci bersih kemudian disiram air
comberan, apa tidak mubadzir ?
Ketika shaf jamaah benar-benar sudah rapi, barulah imam memberi komando Allahu
Akbar kemudian

serentak diikuti oleh makmum dengan ucapan Allahu Akbar. Hadits

menjelaskan bahwa seandainya muslimin mengetahui betapa besarnya pahala bagi orang
yang ikut shalat berjamaah dengan mengucapkan takbiratul ihram segera setelah imam
bertakbir pasti mereka akan mengusahakannya. Ini membangun karakter agar jemaah tidak
terbiasa datang terlambat.
Imam mengomando makmum sambil membelakanginya tetapi semua jamaah menaati
imam. Ini membangun karakter ketaatan kepada pimpinan walaupun pimpinan tidak
melihatnya. Ketika imam keliru segeralah sebahagian makmum terutama yang berada dekat
di belakang imam dengan mengucapkan : Subhanallah. (Allah maha Suci). Itu kalimat
spiral bukan kalimat fulgar. Maksudnya kira-kira begini: Allah itu Maha Suci, sedangkan
engkau wahai imam tidak suci. Jadi kalau engkau berbuat salah wajar saja. Sekarang engkau
keliru, maka perbaikilah kesalahanmu ! .

Tidak boleh menggunakan kalimat fulgar,

misalnya Khatta, khatta , salah ! salah !. Cara memperbaiki imam seperti ini membangun
karakter untuk tidak panik manakala pimpinan salah dan tidak perlu membesar-besarkan
kesalahan pimpinan, apalagi menyebar aib pimpinan pada surat kabar atau pada jejaring
sosial lainnya. Kekeliruan ulil amri cukup diperbaiki oleh orang-orang yang dekat saja.
Sebaliknya pimpinan yang berbuat kekeliruan tidak boleh anti kritik. Pimpinan yang anti
kritik apalagi otoriter biasanya melahirkan ketaatan semu pada rakyat dan akhirnya bisa
terjungkir.

6 Abu Dawud Sulaiman bin al-Asyats al-Sajastani, Sunan Abu Dawud, (Darul Ibn Hazm, 1997 M/1418 H),
Bab : Taswiyah as-shufuf

Makmum wanita memperbaiki imam bukan dengan mengucapkan subhanallah karena


suara perempuan di saat seperti itu bisa dianggap aurat dan bisa melahirkan beragam respons.
Makmun wanita cukup dengan tepuk tangan, menepuk punggung tangan kiri oleh telapak
tangan kanan, bukan tepuk tangan seperti applaus kepada pemakalah yang briliant. Ini
membangun karakter kesantunan di depan publik.
Apabila imam batal (kentut misalnya), maka imam segera memberi tahu kepada
makmum terdepan bahwa dia batal.

Caranya, imam berdiri lantas menghadap kepada

makmum kemudian memberi isyarat dengan memegang hidungnya, bukan memegang


pantatnya. Sopan sekali.

Makmum yang di belakang sangat paham akan isyarat itu,

kemudian salah seorang di antara mereka segera maju menggantikan imam yang batal. Imam
yang batal segera meninggalkan posisi dan jabatannya lantas keluar melalui pintu samping.
Pergantian imam berlangsung tanpa gejolak, elegan, sangat nyaman,

tak ada yang

dipermalukan, dan ektivitas shalat berjamaah tidak terganggu. Gawatnya jika tidak ada
seorang pun makmum yang memahmi norma di balik simbol memegang hidung, mereka
hanya saling menatap (bengong) dan bertanya bingung. Kalau demikian kejadiannya, shalat
berjamaah bisa bubar. Cara seperti ini mengandung nilai latihan karakter sikap sportif.
Siapapun yang menjadi pimpinan harus sportif kalau dia batal atau tidak lagi mampu
menjalankan roda organisasi atau pemerintahan. Juga memberi pelajaran tentang melakukan
kaderisasi sehingga ada kader

yang benar-benar siap menggantikan kedudukan

imam

manakala imam yang ada berhalangan tetap.


Selama shalat, terjadi pembangunan karakter yang amat banyak. Supaya agak rinci
akan penulis tambahkan lagi penjelasannya sbb :

Takbir dan mengangkat tangan : Tentara menghormat atasannya dengan mengangkat


sebelah tangan, dilakukan setiap hari, awal apel dan ketika mau pulang. Kalimat
komandonya :Hormat gerak !. Tentara menghormat atasannya hanya dengan sebelah
tangan, tanpa diiringi kata-kata. Cara itu dianggap paling baik sehinga tentara mendapat
gaji setiap bulan dan naik pangkat. Bandingkan dengan takbir dalam shalat. Kita
mengangkat kedua tangan (bukan sebelah), diiringi ucapan Allahu Akbar, Allah yang
Maha Agung. Itu jauh lebih tinggi nilainya. Simbolnya adalah mengangkat tangan
tetapi norma di balik simbol itu adalah litadzim ( untuk menghormat Allah) dan
kepasrahan. Apabila orang berulang kali mengucapkan Allahu Akbar tetapi keadaan
hatinya tetap sombong, dapat dikatakan ucapan takbirnya tidak memiliki nilai.

Sidekap : Setelah bertakbir dengan mengangkat kedua belah tangan, kita pun sedekap,
yakni meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada, dengan wajah tunduk dan
mata melihat ke tempat sujud. Itu semua melambangkan sikap pasrah menyerah dan
sikap sangat santun dan ajrih kepada Allah. Ini membangun karekter tadharru (merendah
hati kepada Allah). Mengapa harus tadharru ? Karena manusia dengan segala pangkat,
gelar dan kepakarannya tidak mungkin bisa menyamai ilmu dan kekuasaan Allah. Lihat
saja bagaimana tidak berdayanya para profesor dan tentara ketika Tsunami di Aceh dan
di Jepang, banjir di Cina, serta peristiwa alam lainnya. Allah dilawan ?

Ucapan Alhamdulillahi rabbil alamin : Ini membangun karakter manusia tidak gila
pujian sebab semua pujian itu milik Allah. Ketika dipuji mengucapkan Alhamdulillah
ketika dihina mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (kami semua milik Allah
dan kepadaNya lah kami kembali). Orang yang sering mengucapkan kalimat hamdalah
tetapi di hatinya masih terpatri sikap selalu ingin dipuji, dapat dikatakan bahwa ucapan
hamdalahnya tidak bermakna.

Ruku : Orang Jepang menghormati kaisar atau atasannya dengan merunduk sedikit .
Bandingkan dengan cara ruku dalam shalat, pantat harus rata dengan kepala, seraya
mengucapkan Subhana rabbiyal adzim (Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung).
Kalimat yang diucapkan setiap kali ruku ini akan membangun karakter manusia agar
tidak sok suci. Dia meyakini bahwa Allah Maha Suci sedangkan dirinya maha kotor,
karena merasa kotor maka ia tidak mungkin menghina orang lain. Jika pada kenyatannya
ia masih suka menghina orang lain, berarti subhanllah-nya tidak berfungsi karena tidak
memperbaiki karakternya.

Sujud : Kaum kafirin di Mesir menghormati Firaun dengan cara sujud satu kali tanpa
mengucapkan

apa-apa, sedangkan di dalam shalat kita sujud dua kali sambil

mengucapkan Subhana rabbial ala (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). ini
membangun karakater sikap hormat kepada Allah dan membangun karakter merendah
hati dan tidak sok suci.

Duduk di antara dua sujud : Kepada sebahagian raja-raja, para bawahannya


menghormat mereka dengan cara duduk bersimpuh. Bandingkan dengan duduk di antara
dua sujud sambil mengucapkan Rabbigfirli, warhamni, wazburni, wahdini, warzuqni
(Ya Allah maafkanlah aku, sayangilah aku, lapangkan dadaku, tunjukilah aku, dan
berilah aku rizki). Ini membangun karekter antara lain bahwa manusia itu harus lapang
dada).

Salam : Assalamu alaikum warahmatullah (mudah-mudahan keselamatan dan rahmat


Allah dilimpahkan kepadamu). Ini membangun karakter untuk saling mendoakan,
memaafkan, dan saling mendukung dalam kebaikan, sekaligus membuang karakter suka
bermusuhan, mudah tersinggung, cepat marah atau hobi menebar kebencian dan dendam.
Seakan-akan kita mengatakan begini :Wahai temanku di sebelah kanan dan kiri,
siapapun namamu, sukumu, budayamu, warna kulitmu, dan bahasa yang kamu gunakan,
kita sama-sama muslim, saya mendoakanmu agar kamu selamat, sukses dan selalu
berada dalam rahmat Allah. Marilah saling memaafkan segala kealpaan dan dosa di
antara kita. Dengan cara begitu maka hapus-leburlah semua dosa di antara kita, kecuali
satu, utang (utang harus dibayar).

Sel darah, otot dan sendi: Di dalam shalat , semua sel darah, otot dan seluruh sendi
bergerak, tak ada satu pun yang pasif. Persendian tangan bergerak ketika takbir,
persendian punggung bergerak ketika ruku, persendirian kaki bergerak ketika sujud,
persendian leher bergerak ketika salam ke kiri dan ke kanan, serta persendian jari tangan
bergerak ketika tasyahud dan wiridan. Jadi ketika shalat, semua sel darah, semua otot
dan semua persendian bergerak, bertasbih kepada Allah Rabbul Izzati. Wajar kalau shalat
dikatagorikan sebagai ibadah terbesar kepada Allah.
Berdasarkan uraian itu kita paham, semua muslim yang rajin shalat,

yakni shalat

yang melibatkan semua dimensi kemanusiaan serta dimensi budaya, seharusnya menjadi
muslim yang berkarakter Qurani.
Sebagai akhir uraian tentang fungsi shalat dalam membangun karakter, di bawah ini akan
penulis jelaskan mengenai shalat khusyuk versus shalat sahun.
Menurut syaikh Mushtafa al-Maraghi7, shalat khusyuk memiliki empat kriteria yakni :

Haqqun fi al-harakat (benar gerakannya) : gerakan dan tata letak anggota tubuh
selama shalat harus benar, dari mulai gerakan mengangkat tangan ketika takbiratul
ihram sampai gerakan melihat ke kanan dan ke kiri ketika salam. Selain itu harus
tumaninah (ada ketenangan dalam setiap episode gerakan), serta tidak melakukan
gerakan-gerakan di luar gerakan shalat kecuali kalau terpaksa. Gerakan shalat yang
baik dan benar adalah bahagian dari indikator shalat khusyuk .

7 Lihat Tafsir Al-Maraghi, juz 1 ketika menjelaskan soal khusyuk.

Tawajjuhul Qalbu (menghadapkan hati) : ketika kita sedang shalat, wajah kita
menghadap ke qiblat tetapi hati tertuju kepada Allah SWT, yakni konsentrasi penuh.
Jangan sampai terjadi, hati melamun ke mana-mana memikirkan hal-hal di luar shalat.
Supaya konsentrasi penuh kepada Allah, ada kiat-kiatnya antara lain wajah merunduk,
mata melihat tempat sujud, memahami bacaan shalat minimal memahami makna
globalnya, tidak menahan kencing dan kentut, tidak mengantongi barang-barang yang
dapat berjatuhan ketika ruku dan sujud, tidak sengaja mendengar suara apa saja, dan
selalu menghindari apa saja yang dapat membelokkan hati.

Ikhlas : Ialah melakukan shalat semata-mata karena Allah bukan karena motif-motif
duniawi. Kita ingin mengabdi kepada Allah dan mempersembahkan ritual yang
sesempurna mungkin. Bagaimana jika kita shalat karena ingin syurga, bolehkah ?
Memang Allah memberi kabar gembira bahwa Dia akan memberi pahala kepada
orang yang shalat, jadi
mendapatkan syorga,

kalau seseorang melaksanakan shalat karena ingin

itu termasuk ikhlas. Disebut tidak ikhlas kalau motif

melaksanakan shalatnya karena motif-motif duniawi.

Tanha anil Fahsya wal munkar : ialah mencegah perbuatan maksiat, baik maksiat
perseorangan seperti mencuri maupun maksiat kolektif seperti zina. Shalat sarat
dengan simbol-simbol yang mengandung norma pencegahan maksiat. Sebagaimana
dijelaskan terdahulu tentang fungsi takbir untuk mengikis kesombongan, sampai
kepada salam yang berfungsi mengikis kesenangan berselisih dan bermusuhan. Jika
shalatnya benar pasti akan sanggup mencegah maksiat.
Jadi shalat kita dinilai khusyuk jika gerakan dan bacaannya benar, hati konstrasi

kepada Allah, niatnya semata-mata mengabdi kepada Allah, serta yang mempu mencegah
maksiat.
Kebalikan dari shalat khusyuk adalah shalat Sahun. Shalat sahun ialah shalat dengan
ciri-ciri sbb : (1). Qamu Qusala, mengerjakan shalat sangat terlambat, mengulur-ulur waktu,
bersikap sangat menyepelekan, baginya yang penting mengerjakan shalat. Shalatnya hanya
formalitas. (QS. An-Nisa [4] : 142) (2). Yuraun, yakni motivasinya ingin dipuji (3). Wa
yamnaunal maun yakni shalatnya tidak berfungsi mencegah maksiat, antara lain tidak mau
menolong orang yang susah. Baca : QS. Al-Maun. (4). La yadzkuruna Allah illa Qalila
qalil; Pikirannya tertuju kepada Allah hanya sedikit saja. (5). Tidak tumaninah : gerakannya
terburu-buru dan bacaannya pun tergesa-gesa. (6). Ghafilun : Hatinya lalai, melamun dan
tidak konsentrasi kepada Allah. \

Perhatikan oleh anda bahwa banyak orang shalat tetapi melakukan perbuatan yang
mubadzir, laghwi (berlebihan), bakhil (pelit), tidak menjaga kemaluannya, banyak inkar
janji, serta melakukan maksiat lainnya (QS. Al-Mukminun ayat 1-11). Shalat yang tidak
fungsional untuk mencegah maksiat adalah shalat sahun.
Marilah kita shalat yang khusyuk agar banyak manfaatnya di dunia dan di akhirat,
antara lain merasakan ketenangan jiwa, cepat menemukan solusi ketika hidup bermasalah,
mendapatkan keridaan Allah, memperoleh sorga dan bertemu dengan Allah SWT. Marilah
kita berusaha sekuat tenaga untuk mendirikan shalat dengan khusyuk supaya mendapatkan
nilai cumlaude.

5. Fungsi Zakat dalam Membangun Karakter


Salah satu ciri pokok orang yang bertaqwa adalah suka menginfaqkan sebahagian
rizki yang Allah karuniakan kepadanya. Allah SWT menjelaskan : Alif lam mim. Kitab
(Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yaitu
mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat,

dan menafkahkan

sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka . (QS. 2/Albaqarah : 1-3).
Apakah Infaq itu dengan rizki atau dengan harta ? Supaya memperoleh jawaban yang
tepat, penulis akan menjelaskan perbedaan antara rizki, milik, harta dan gaji sbb : (1). Ujrah
atau gaji adalah a-ljaza ala al-amal8 yakni imbalan atas pekerjaan/jasa, misalnya pegawai
negeri, pegawai BUMN, pegawai swasta yang menerima gaji setiap awal bulan. Dalam hal
ini tidak semua mempunyai gaji, termasuk mereka yang berprofesi sebagai pedagang karena
pedagang bukan menjual jasa tetapi menjual produk. (2). Maal (harta) adalah ma malaktahu
min kulli syai-in9 apa-apa yang dimiliki. Sebenarnya itu terlalu luas, penulis mendefinikan
harta adalah apa-apa yang kita miliki dan bisa dijual atau diwariskan seperti uang, rumah,
tanah dan kendaraan. (3). Milik adalah syai-un yamlikuh atau sesuatu yang dimiliki.10 Jadi
milik adalah apapun yang kita punyai, baik yang bisa dijual seperti mobil maupun yang tidak
bisa dijual seperti anggota badan. (4). Ar-Rizqu = ma yuntafau bihi11 ialah apa-apa yang bisa
dimanfaatkan. Rizki adalah segala karunia Allah bagi kita, baik berupa harta benda, anggota
8Khalil Mamun Syikhan, Kamus Al-Muhith, Dar al-Marifat, Beirut Lubnan, .p. 34
9 Kamus Al-Muhith, p. 1249
10 Kamus Al-Muhith, p. 1241
11 Kamus Al-Muhith, p. 504

tubuh, nyawa, kehormatan, penghargaan, kesehatan, tenaga, pikiran, kemampuan berbuat, dll.
Ini lingkaran yang paling luas meliputi gaji, harta, maupun milik. Rizki yang paling besar
adalah nikmat Iman.
Setiap mukmin tanpa kecuali terkena kewajiban untuk menginfaqkan sebahagian
rizki. Infaq itu bisa dengan harta benda seperti mewakafkan tanah atau menyerahkan
sejumlah uang untuk pembangunan masjid tetapi bisa juga infaq dengan yang lain. Apabila
tidak memiliki harta benda, seseorang masih bisa berinfaq dengan tenaga, atau nyawa seperti
mati di medan tempur. Jika tenaga pun tidak ada, masih bisa berinfaq dengan doa. Jika
berdoa pun tidak mampu misalnya, masih bisa berinfaq dengan senyum. Pokoknya setiap
kebaikan adalah sidkah (kullu marufin shadaqah).12. Hadits ini memberi pemahaman bahwa
bersidkah tidak selamanya dengan harta tetapi bisa dengan apa saja. Oleh karena itu, orangorang miskin janganlah berkecil hati karena merasa tak mampu bersidkah dengan harta tetapi
bersidkahlah dengan kebaikan secara konsisten.13 Jadi tidak ada seorang muslim pun di dunia
ini yang tidak bisa berinfaq, karena infaq itu dengan rizki bukan dengan harta saja. Infaq
yang paling baik adalah infaq yang lengkap bi amwalikum wa anfusikum (dengan harta dan
jiwa ragamu). Alangkah sempurnanya jika kita berinfaq dengan harta, tenaga, pikiran, doa,
sikap baik, dan dengan nyawa karena sesungguhnya Allah telah membeli harta dan jiwa
orang mukmin dengan syurga. Amin.
Apa perbedaan antara infaq, zakat dan shadaqah ?

12 Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, ( Darul Fikr, Beirut, 1981 M/1401 H),
Bab : Kullu Maruf Shadaqah no. 6021. Lihat juga : Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusairi alNaisaburi, Shahih Muslim, ( Darul Jail, Beirut, tanpa Thn), Bab : Bayan anna isma as-shadaqah yaqau ala
kulli nauin minal maruf, no. 2375
13 Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusairi al-Naisaburi,Shahih Muslim, ( Darul Jail, Beirut,
tanpa Thn), Bab : Bayan anna isma as-shadaqah yaqau ala kulli nauin minal maruf, no. 2376 . Sahabat Abu
Dzar menceritakan para sahabat Nabi s.a.w berkata kepada beliau :Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah
pergi membawa pahala yang banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, shaum seperti kami shaum, tetapi
mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka. Rasulullah s.a.w menjawab : bukankah Allah juga telah
menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian shadaqahkan? Karena sungguh setiap takbir itu shadaqah, setiap
tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar maruf shadaqah, nahyi munkar shadaqah dan mencampuri istri
juga shadaqah. Mereka bertanya : wahai Rasulullah, apakah seseorang mendatangi syahwatnya (hubungan
suami-istri) juga mendapatkan pahala? Beliau menjawab : Bukankah kalau ia menyimpannya (air mani) dalam
sesuatu yang haram berarti berdosa? Maka demikianlah jikalau ia menyimpannya pada sesuatu yang halal
berarti ia mendapatkan pahala (HR. Muslim).

Infaq adalah istilah induk14 yang artinya menafkahkan sebahagian rizki baik sebagian
maupun sampai habis. Infaq itu terbagi dua klasifikasi yakni (1). Infaq di jalan syetan (fi
sabili thagut) seperti bayar pelacur, berjudi, atau membeli arak (2). Infaq di jalan Allah (fi
sabilillah) seperti mebangun masjid atau membangun fasilitas umum yang bermanfaat. Infaq
di jalan Allah. Inilah infaq yang benar. Benar itu bahasa Arabnya shadaqa, maka disebutlah
shadaqah. Jadi shadaqah adalah menginfaqkan rizki di jalan yang benar saja, sedangkan
menginfaqkan harta di jalan setan tidak bisa disebut shadaqah.
Infaq shadaqah ini terbagi dua hukumnya, yakni infaq yang wajib dan infaq yang sunnat.
Infaq yang wajib terbagi dua lagi yakni infaq wajib muqaddar dan infaq wajib ghair
muqaddar. Infaq wajib muqaddar ialah infaq yang hukumnya wajib dan sudah pasti
ukurannya, yakni zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal. Adapun infaq wajib ghair
muqaddar adalah infaq yang wajib tetapi tidak pasti ukurannya, seperti nafakah untuk anak
isteri, amal jariyah dalam rangka membangun masjid, atau memberi makan bagi fakir miskin.
Semua itu wajib hukumnya tetapi mengenai jumlah dan ukurannya diserahkan kepada
kemampuan masing-masing.
Di samping infaq shadaqah yang wajib terdapat pula infaq shadaqah yang sunnat.
Termasuk ke dalam katagori ini adalah wakaf, hibbah dan hadiah. Wakaf adalah
menyerahkan barang yang tahan lama (termasuk uang) untuk kepentingan umum seperti
wakaf tanah untuk membangun masjid atau jalan umum, sedangkan hibbah adalah
memberikan barang atau uang kepada seseorang atas dasar kecintaan. Adapun hadiah adalah
memberikan uang atau barang kepada seseorang karena prestasinya. Sekarang banyak terjadi
pengusaha menghibahkan uang, mobil atau tanah kepada pejabat tertentu padahal itu bisa
amat berkaitan dengan jabatannya bukan karena kecintaan. Ini bisa dinilai sebagai rusywah
(suap) bukan hibbah.
Dengan uraian di atas kita paham bahwa zakat hanyalah sebahagian dari infaq shadaqah.
Zakat merupakan rukun Islam, oleh karena itu orang yang tidak berzakat dianggap tidak
shalat. Hadits nabi menegaskan la shalata liman la zakata lah (tidak dianggap shalat mereka
yang tidak berzakat). Kasihan sekali nasib orang yang rajin shalat tetapi enggan membayar
zakat. Kelak hartanya akan menjadi setrika baginya di akhirat. Mengapa demikian ? Wajar
sebab zakat merupakan penyokong tegaknya agama dan kesejahteraan umat. Jadi kalau
seseorang tidak menunaikan zakat, sama saja dengan tidak mendukung kemajuan Islam.
14 Menurut ar-Raghib al-Aspahani, infaq diambil dari kata nafaqa yang artinya berlalu dan habis, seperti firman
Allah s.w.t : Katakanlah:"Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat
Rabbku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu
sangat kikir. (QS. Al-Isra (17):100).

Selanjutnya, infaq secara umum (bukan hanya zakat) harus lebih digalakkan, dan infaq
ini bisa dilakukan setiap saat tidak terikat oleh waktu, penggunaan dana infaq pun bisa sangat
leluasa. Infaq merupakan soko guru kemajuan Islam, jadi orang yang tidak suka infaq bisa
dinilai tidak menyokong kemajuan Islam.
Karakter apa yang dibangun dengan infaq ?
Dengan kebiasaan berinfaq berarti membangun karakter suka berbagi. Perhatikan orang
yang suka berinfaq, pasti dia tidak tega melihat orang lain yang memerlukan bantuan, tidak
akan pernah membiarkan orang lain terhimpit dalam kesulitan dan tidak senang melihat
penderitaan orang. Jadi infaq dapat mengikis karakter pelit, sikap itung-itungan dan sikap
materealistik.
Orang yang sering berinfaq hampir dapat dipastikan tidak gila dunia, dan jauh dari sikap
individualistik yang mementingkan diri sendiri. Orang yang terbiasa berinfaq sering
mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Wajar saja kalau orang yang infaq banyak
didoakan kaum dhuafa dan di bela banyak pihak di manapun dia berada.
Apa manfaat infaq ?
Infaq (zakat, shadaqah, wakaf, dll) banyak manfaatnya. Bagi Islam dan umatnya, infaq
bisa mengangkat kaum dhuafa dari lembah derita dan kemiskinan, bisa mencegah
pemurtadan, memperlancar dakwah terutama dakwah ke pedalaman, memperkokoh ekonomi
umat, memfasilitasi peribadatan, dan meningkatkan syiar Islam di tengah-tengah agama lain.
Bagi orang yang berinfaq, infaq itu bisa memancing datangnya rizki yang lebih banyak
(HR. Muslim), mempermudah segala urusan hidup, (QS . Al-lail : 6-7), mendapatkan pahala
ratusan kali lipat bahkan bisa mengalirkan pahala sampai hari Kiamat, bisa menolak bala
dan mushibah (tudfaul bala), bisa mendatangkan bala bantuan tanpa diduga ketika kita
sangat memerlukan bantuan. Inna Allah fi auni al-abdi ma kana al-abdu fi auni akhih, Allah
pasti menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya (HR. Muslim)..
Pokoknya manfaat infaq sangat luar biasa banyaknya. Jadi pada hakikatnya infaq itu untuk
dirinya sendiri bukan untuk orang lain apalagi untuk Allah, karena Allah itu Maha Kaya,
tidak membutuhkan apa-apa.
Perhatikan orang ahli infaq, pasti hidupnya mudah, rizkinya lancar dan di manapun dia
berada pasti ditolong orang. Jika kran infaq kita dibuka lebar-lebar, maka kran rizki kita pun
akan dibuka oleh Allah. Sebaliknya apabila kran infaq kita dikurangi maka kran rizki kita pun
akan dikurangi oleh Allah SWT. Marilah kita membiasakan infaq sehingga tiada hari tanpa

infaq. Bagi mereka yang mampu, penulis mengajak marilah bersama-sama kita menunaikan
zakat agar harta dan diri kita bersih, rizki melimpah hidup pun berkah. Amin.15

6. Fungsi Shaum dalam Membangun Karakter


Dasar hukum pelaksanaan saum (puasa) adalah QS. Al-Baqarah [2]: 183.

Wahai orang-

orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan
kepada orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi bertaqwa.
Kata kunci yang terdapat pada ayat tersebut adalah :
Ya ayyuha : harfun nida (kata seru). Di sini double huruf nida. Ini mengandung makna
bahwa seruan itu amat penting diperhatikan.
Kutiba (fiil madhi majhul), yang artinya telah dituliskan, telah di SK-kan, telah dibuat Surat
Perintah Kerja (SPK) nya.
Laallakum : adalah taraji yakni cita-cita yang mungkin tercapai, mudah-mudahan.
Tattaqun : dari kata waqa yaqi wiqayatan, yang artinya hidup berhati-hati.
Secara terminologi, makna shaum adalah imsak al-nafs (menahan nafsu). Menahan
apa ? (1), Menahan nafsu biologis seperti makan, minum dan bergaul dengan isteri/suami.
(2). Menahan nafsu psikhis seperti marah, menggunjing, berbicara kotor, dll.
Prosessing saum dimulai dengan sahur. Nabi bersabda Sahurlah kamu karena dalam
sahur ada keberkahan. Ketika sahur, kita memakan makanan yang halalan thayyiba (boleh
secara hukum dan baik untuk tubuh). Parameter baik bagi tubuh adalah tepat jumlah dan tepat
pula kualitasnya. Dalam hal ini sebaiknya kita menghindari, paling tidak menyedikitkan
makanan yang mengandung 3 P yakni pengawet, penyedap dan pewarna, itu tidak baik bagi
tubuh karena dapat mengakibatkan kanker. Kebiasaan memilih secara hati-hati mana
makanan yang halalan thayyiba dan mana yang tidak, dapat melahirkan karakter hati-hati
dalam memilih makanan.
Ketika sahur, hati kita pun berniat untuk puasa. Kedudukan niat amat penting, karena
secara syari niat itu menentukan nilai. Dari sisi lain, niat adalah energi. Jika niatnya kuat
15 Allah swt dan RasulNya mengingatkan kepada kita :Sesungguhnya harta ini hijau dan manis.
Siapa yang mendapatkannya dengan cara hak maka ia akan diberkahi. Dan banyak orang orang yang
mengurus harta Allah dan Rasul-Nya sekehendak nafsunya, maka tidak ada baginya pada hari kiamat
kecuali neraka. (HR. Tirmidzi). Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.Maka orang-orang yang
beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.
(QS. 57/ Al-Hadid :7)

maka puasanya pun akan kuat, sebaliknya jika niatnya lemah, maka puasanya pun akan
lemah. Contoh si A berkata : Besok hari Senin, saya mau saum sunnat, kuat tidak kuat akan
saya paksakan sampai maghrib. Pasti si A akan kuat berpuasa sampai maghrib. Adapun Si B
berkata :Saya juga mau puasa. Ya kalau kuat akan diteruskan tetapi kalau lapar, saya akan
batalkan. Hasilnya hampir pasti batal. Dalam hal ini kita dibiasakan untuk selalu
memperkokoh niat sebelum melakukan sesuatu, itu adalah pembangunan karakter yang baik.
Apabila makan sahur telah selesai, kita bertekad: Mulai sekarang saya stop untuk tidak akan
makan dan minum sampai maghrib tiba. Dengan statemen itu maka semua sekresi otak akan
di-off. Karena sekresi otak di off maka otak tidak mendapat rangsangan untuk makan,
minum, atau bersenggama. Karena tak ada rangsangan yang masuk ke otak, maka hati tidak
stress. Karena hati tidak stress maka produksi asam lambung pun normal sehingga tidak
mengakibatkan sakit maag.
Bandingkan antara lapar puasa dengan lapar biasa, lapar biasa mengakibatkan tubuh
terasa dingin tetapi lapar puasa justeru tubuh menjadi panas. Lapar biasa mengakibatkan
susah tidur tetapi lapar puasa mengakibatkan enak tidur. Kenapa bisa demikian, karena lapar
saum dipenuhi energi niat.
Ketika berpuasa, kita benar-benar berusaha mengendalikan emosi. Kalau menahan
makan dan minum adalah dari mulai subuh sampai maghrib, tetapi menahan emosi adalah
dari subuh sampai subuh lagi. Apabila ada orang yang mengajak berkelahi sekalipun pun,
janganlah dilayani, cukup kita jawab Inni shaim, maaf saya sedang saum. Tidak boleh kita
katakan Maaf saya sedang saum, tunggu setelah maghrib !. Jadi saum itu membangun
karakter mengalah untuk kebaikan, dan mengendalikan emosi termasuk menahan marah.
Sembilan jam setelah sahur, kira-kira pukul 13.00, perut biasanya merasa lapar dan
badan pun lemas, itu karena kadar gula darah menurun. Tapi jangan khawatir karena ketika
perut lapar dengan suhu tubuh yang panas, tubuh akan memecah cadangan gula yang ada
pada liver dan usus. Gula itu lantas diserap lagi oleh tubuh sehingga tubuh pun segar bugar
lagi. Jadi puasa itu bagaikan cuci gudang gula. Selain cuci gudang gula, dengan perut yang
lapar dan tubuh yang panas akan terjadi penekanan terhadap perkembangan sel-sel kanker
dan pengurangan oxidan.
Begitu maghrib tiba, sekresi otak akan otomatis on sehingga tubuh pun terangsang
untuk makan dan minum. Ketika rangsangan makan minum menguat maka jangan di tahantahan karena bisa stress, asam lambung bisa melimpah sehingga bisa sakit maag. Oleh karena
itu segeralah berbuka puasa yang disebut tajil.

Nabi mengawali buka puasa dengan makan kurma tiga butir. Mengapa dengan
kurma ? karena kurma itu manis dan berfungsi mengganti gula darah dengan cepat. Hanya
dalam tempo empat menit, kurma yang kita kunyah menjadi energi. Kalau makan nasi
memerlukan waktu 2 jam baru menjadi energi yang efektif. Mengapa tiga butir kurma bukan
tiga ons ? Karena lambung kita masih rawan. Dan ketika kurma dicerna, perut memerlukan
darah untuk mencernanya.
Kurang baik kalau kita berbuka puasa langsung makan nasi yang banyak, dua sendok
tembok misalnya. Mengapa demikian ? Karena untuk mencerna makanan yang banyak,
lambung memerlukan darah yang banyak pula, sehingga darah akan turun ke lambung, darah
dari otak pun turun pula ke lambung. Akibatnya otak kekurangan darah, berarti otak
kekurangan oksigen, akhirnya mengantuk. Kalau

mengantuk berat, bagaimana dengan

tarawih ? Di sini kita dilatih untuk memiliki karakter apik dan teratur dalam makan dan
minum.
Agar orang-orang dhuafa bisa berbuka secara layak, semua mukmin dianjurkan
untuk berbagi. Menurut hadits, orang yang berinfaq makanan untuk orang lain berbuka puasa
akan mendapatkan pahala sebesar puasanya itu sendiri. Di sini kita dilatih untuk memiliki
karakter senang berbagi.
Pada malam hari, ada qiyamul lail. Paket qiyamul lail ada tiga aktivitas yakni shalat
malam, doa spesial, dan tartil Quran. Shalat malam yang tidak mengandung pro kontra
secara fiqih adalah 11 rakaat, boleh kurang dari itu yang penting gasal. Janji Allah, bagi ahli
tahajud akan mendapat tempat yang mulia (maqama mahmuda). Allah menegaskan Mudahmudahan kamu mendapat tempat yang terpuji. QS. Al-Isra [17] : 79.
Selesai shalat malam, berdoalah dengan khusyuk karena Allah tidak akan
mendengarkan doa yang dipanjatkan dari hati yang lalai. Doanya spesial sebagaiman tertera
pada QS. 17 / Al-Isra : 80 : Dan katakanlah ! Ya Tuhanku, masukkanlah aku secatra masuk
yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepada
ku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Selesai berdoa, dilanjutkan dengan
membaca Alquran secata tatil.
Dalam salah satu hadits Qudsi diterangkan :Apabila suami isteri bangun tengah
malam, tahajud bersama, lantas berdoa bersama, Allah berkata : Aku malu kalau tidak
mengabulkan doanya. Pada malam hari Allah membuka tangannya untuk menerima dan
mengabukan doa orang-orang yang tahajud.
Orang yang membiasakan qiyamul lail akan mendapatkan tempat yang mulia. ( QS.
17 : 79). Oleh karena itu jika anda ingin hidup berkah, maka tiada malam tanpa qiyamul lail,

apalagi di bulan Ramadhan, karena pada bulan itu pahala dan keberkahannya sangat
melimpah, Ramadhan adalah bulan berkah, bulan ampunan, bulan menabung amal, serta
bulan discount dosa. Shaum Ramadhan dengan segala aktivitas yang mengiringinya
membangun karakter keuletan, kesabaran, kerendahan hati, suka berbagi, dan cinta Allah dan
RasulNya.
Bagaimana dampak saum bagi peningkatan kualitas kesehatan ? Konsep kesehatan
yang dikedepankan para ahli kesehatan modern adalah konsep SLODO, kependekan dari
Spirit, Life Style, Olah raga. Diet, dan Obat. Itu merupakan urutan fungsi. Penjelasannya
sebagai berikut :

Spirit : yakni hati dan pikiran harus tenang, bebas, dan tidak cemas. Ketenangan jiwa
atau pikiran menempati urutan pertama yang menentukan sehat tidaknya seseorang.
Padahal selama saum, spirit/ nurani kita benar-benar dilatih supaya tenang.

Life Style : Gaya hidup, yakni pola makan, minum, istirahat, dan bergaul dengan
isteri. Selama saum kita mengatur dengan baik kapan harus makan, istirahat, dan
bergaul dengan isteri.

Olah raga : yakni olah raga yang benar dan rutin, seminggu 3-5 kali. Olah raga itu
wajib bukan sunnat tetapi wajib ghair muqaddar (tidak pasti ukurannya). Selama
saum kita tetap olah raga tetapi dengan porsi yang disesuaikan.

Diet : yakni mengatur asupan ke tubuh. Usahakan mengurangi secara signifikan


makanan minuman yang tidak baik bagi tubuh, seperti lemak/minyak dan 3 P, yakni
pengawet, penyedap dan pewarna. Selama saum kita benar-benar diet. Kalau diet
dengan setengah puasa dapat mengakibatkan sakit maag tetapi diet dengan puasa
syari tidak akan menimbulkan sakit maag.

Obat : memakan obat kimia atau herbal adalah urutan terakhir dalam menjaga
kesehatan. Selama saum kita memakan suplemen tetapi kalau bisa menghindari obat
antibiotik.
Esensi dan eksistensi saum untuk mendukung konsep SLODO sangat signifikan, jadi

sangat rasional jika nabi mengatakan Shumu tashihu, saumlah kamu, niscaya kamu sehat.
Selama saum, terjadi detoksinasi qalbu (heart) karena selama saum, kita harus menjaga
emosi, antara lain tidak boleh yarfuts (bicara porno atau kotor) , yashob (teriak-teriak), dan
yajhal (berbuat bodoh). Selama saum kita benar-benar membangun karakter untuk mampu
mengendalikan nafsu biologis dan nafsu psikhis dalam rangka menggapai ketaqwaan.

Shaum itu satu bulan (29 atau 30 hari). Selama bulan Ramadhan kita melakukan
latihan intensif, dari mulai tarawih, itikaf, bedoa, berpuasa, berdzikir, dan menjaga hati,
sehingga dalam tempo tiga minggu saja dapat melahirkan habit (kebiasaan) apalagi puasa
satu bulan penuh. Lebih-lebih jika setelah Lebaran diteruskan dengan saum syawwal 6 hari,
diteruskan dengan saum senin dan kamis, dan diteruskan pula dengan saum 3 hari pada
tengah bulan hijriyah. Habit-nya akan tumbuh dan terpelihara.
Habit yang dihasilkan dengan shaum Ramadhan adalah (1). Habit puasa (2). Habit
tahajud (3). Habit baca Alquran atau mencari ilmu (4). Habit berbagi (5). Habit menahan
emosi (6). Habit silaturahmi (7). Habit bertaubat (8). Habit menjaga kesehatan (9) Habit
makan dan minum yang teratur (10). Habit mengatur waktu. Dll. Paling tidak, dengan shaum
menumbuhkan ten habit bukan seven habit.

7. Fungsi Haji dalam Membangun Karakter


Imam Hambali16, secara bahasa haji artinya kunjungan ke tempat yang diagungkan,
sedangkan secara syari, haji adalah mengunjungi Mekah untuk beribadah pada waktu yang
khsusus. Jadi hakikat haji adalah bertamu ke baitullah di Mekah pada bulan-bulan tertentu
dengan maksud untuk melaksanakan ibadah tertentu, berupa serangkaian ibadah ritual yang
dipersembahkan oleh mukminin kepada Allah SWT. Adapun manfaatnya 100 % untuk
manusia bukan untuk Allah sebab Allah tidak membutuhkan apa-apa.
Substansi haji adalah rekonstruksi tawhid melalui napak tilas sejarah perjalanan hidup
keluarga nabi Ibrahim a.s. Pesan semua episode ibadah haji adalah penanaman tawhid dan
sekaligus mengikis anasir syirik seperti tahayul, khurapat, bidah dan riya. Allah s.w.t
menegaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 26 :





Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah
(dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan
sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah
dan orang-orang yang rukuk dan sujud.17
16 Ibn Qudamah, Maktabah Al-Syamilah : Kasyaf al-Qina an matn al-Iqna Maktabah Syamilah,

Juz 6, Hal. 295.


17 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, hal.515

Apa esensi haji ?


Esensi haji antara lain (1), Al-musawwah (persamaan, equality) yakni memperkokoh
perasaan sederajat dengan segenap umat manusia lainnya, bagaimana pun warna kulit,
budaya, dan pendidikannya. (2). Dzikrul Maut (ingat mati) yakni supaya jemah haji
menyadari arti kematian, kematian yang baik, alam qubur, alam mahsyar, dll. (3). Tazkiyah
Nafsi yakni pensucian jiwa dari segala hal yang dapat mengotori qalbu seperti syirik,
dendam, cepat tersinggung, mudah marah, kebiasaan bicara porno, dll.
Selama haji banyak simbol yang dikedepankan. Simbol tersebut sarat dengan makna
dan norma. Perhatikan pekerjaan haji di bawah ini.

Kain ihram : Memakai kain ihram adalah simbol orang yang sedang umrah atau haji.
Norma di balik simbol itu antara lain mengingatkan kita terhadap pakaian mayat
sehingga ingat kepada kematian. Kain ihram pun lambang kesederhanaan, persamaan
derajat, dan lambang kesucian.

Thawaf : adalah simbol upaya mendekat sedekat-dekatnya ke rumah Allah, serta antri
untuk memohon ampunan Allah.

Mencium hajar aswad : adalah simbol tawhid ittiba yakni ketaatan kepada perintah
Rasul sebagai sikap samina wa athana (kami dengar dan kami taati), walaupun
mungkin pikiran kita belum memahami makna mengecup batu hitam itu. Bisa berarti
juga al-musawwah yakni persamaan deratajat (equality).

Sai : adalah simbol perlunya keseimbangan antara iktiar yang maksimal dengan doa
yang optimal. Lihat saja, bagaimana Siti Hajar berlari di antara bukit Shafa dan
Marwah yang diiringi dengan doa dan doa.

Memotong rambut : Rambut adalah lambang kesombongan dan kejelitaan,


memotong rambut adalah simbol untuk menggambarkan upaya memangkas sikap
sombong. Selain itu, juga sebagai simbol kepasrahan kepada Allah. Jika nabi Ismail
rela dipotong kepalanya, maka jemaah haji pasrah digunduli rambutnya.

Wukuf : adalah ibarat alam mahsyar, di mana semua manusia menunggu pemeriksaan
dan penimbangan amal (mizan). Selanjutnya satu persatu divonis oleh pengadilan
Allah, untuk masuk syorga atau neraka. Khawatir termasuk golongan kiri (ashab alsyimal), maka kita terus menerus bertaubat kepada Allah.

Mabit di Muzdalifah : jemaah haji melaksanakan camping level internasional,


mereka tidur beralaskan pasir dan beratapkan langit dengan hiasan sejuta bintang. Ini

adalah simbol persatuan, persaudaran, dan mengakrabkan diri dengan alam. Di sini
tidak terlihat perbedaan pejabat dengan rakyat, orang besar atau rakyat kecil, semua
terlihat sama, inilah al-musawwah atau equality.

Melontar Jumroh : adalah simbol permusuhan dan perlawanan terhadap syetan.


Mukminin diingatkan dengan melontar jumrah tentang bahayanya setan dalam
menjerat manusia.

Larangan memakai wangi-wangian: ini adalah simbol tentang perlunya hidup


sabar, siap menderita, siap menjauhi nafsu sekual, dan hal-hal duniawi lainnya serta
siap berjuang berpayah-payah untuk mengejar ridha Allah.

Larangan rafats dan jidal : rafast adalah bicara kotor/porno, sedangkan jidal artinya
berbantah-bantahan. Ini adalah simbol yang berisi norma bahwa kita harus melatih
diri untuk berbicara santun, jauh dari kata-kata kotor atau porno. Juga melatih diri
untuk bisa mengendalikan emosi ketika berbicara dengan orang lain. Dari Abi
Hurairah ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda : Barang siapa yang berhaji di
baitullah ini dengan tidak berbuat rafats dan fasiq , ia akan kembali sebagaimana
saat dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa) .18

Larangan memetik daun dan memotong pohon : ini adalah simbol perlunya
mencintai lingkungan dan menjauhi sikap fasad (merusak). Seorang mukmin harus
senantiasa melestarikan lingkungan. Nabi menegaskan :Tanamlah satu biji walaupun
engkau tahu besok mau mati !. Inilah motivasi amal investasi yang berhubungan
dengan pelestarian lingkungan. Istilah go green dengan beragam gaya bahasa, sudah
sejak lama disuarakan dan dipraktikkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya.

Larangan berburu : ialah simbol tentang perlunya pelestarian hewan. Menyayangi


dan menyantuni hewan adalah sunnah Rasul. Dalam satu hadits Nabi menceritakan
tentang seorang pria yang memberi minum seekor anjing yang amat kehausan di
padang pasir yang kering kerontang. Nabi menjelaskan bahwa Allah SWT menyukai
perbuatan pria itu dan Allah mengampuni dosanya. Pada hadits yang lain, Rasulullah
pun menceritakan tentang seorang wanita yang menyiksa kucing sampai mati
sehingga Allah memvonis wanita itu masuk neraka sebelum dia masuk syorga.

18 Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, ( Darul Fikr, Beirut, 1981 M/1401 H),
Juz II hal. 141, Bab : Fadlul Hajji Mabrurun Lihat juga : Ahmad bin Syueib Abu Abdurrahman An-Nasai,
Sunan An-Nasai, Bi Syarhi Jalaluddin As-Suyuthi ( Daar al-Marifah, Beirut, Libanon-Maktab Tahqiqi alTurots al-Islami, 1990), Jilid ke 3 Juz V hal. 121, No. 2626, Bab : Fadlul Hajji

Sungguh banyak karakter yang dibangun dengan ibadah haji dalam semua episode
haji, baik karakter yang berhubungan dengan Allah, dengan sesama manusia maupun karakter
yang berhubungan dengan alam sekitar. Seharusnya, jemaah haji memahami dan
mengaplikasikan pesan-pesan setiap episode haji, sehingga ketika kembali ke tanah air,
mereka menunaikan pesan-pesan nilai-nilai haji tersebut.
Apa itu haji mabrur ?
Mabrur berasal dari akar kata barra yang memiliki tiga arti yakni kebaikan, menepati
janji, dan mengangkat/membawa. Haji mabrur adalah haji yang baik, yang memenuhi syarat,
rukun dan wajib haji. Menurut kamus al-Muhit haji mabrur adalah haji yang benar yang
menaati segala aturan haji, juga haji yang tidak menyalahi sunnah Rasul, dan tidak tercampur
dengan dosa19. Haji mabrur adalah haji yang menepati janji, intinya jemaah haji berjanji
untuk hidup lebih baik sesuai dengan Alquran dan Sunnah Rasul. Haji mabrur pun berarti
membawa pesan-pesan haji, baik pesan thawaf maupun pesan lainnya. Di antara pesan haji
yang

pokok adalah menjauhi syirik termasuk khurapat, bidah dan riya. Allah s.w.t

menegaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 26 :
















Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah
(dengan mengatakan): "Janganlah kamu memper-serikatkan sesuatu pun dengan Aku dan
sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah
dan orang-orang yang rukuk dan sujud.20
Balasan bagi haji mabrur adalah syorga. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Nasai dari Abu Hurairah sbb :


- -




: Al-Fairuzabadi, Qamus al-Muhit, juz, hal 353. Lengkapnya sebagai berikut 19





Lihat juga : Muhammad Ibn Mukaram Ibn Mandzur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arabi, (dar as-Shadir, Bairut,
t.t) juz 4 : 51, Bab : ba-ra-ra

.
20 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, hal.515

Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw ia bersabda : Haji yang mabrur tiada balasan
baginya kecuali syurga21

21 Ahmad bin Syueib Abu Abdurrahman An-Nasai, Sunan An-Nasai, Bi Syarhi Jalaluddin As-Suyuthi, Juz
VIII hal. 499, Jilid ke 3 Juz V hal. 118-119, No. 2621, Bab : Fadlul Hajjil Mabrur

RITUAL
(IBADAH MAHDLAH)

Pada
hakikatnya
tujuan
beribadah itu
bermuara
kepada
perbaikan
akhlak

Ibadah harus
melibatkan lima
dimensi
kemanusiaan
yakni tubuh,
perilaku,
kesadaran, nurani
dan ruh

Ibadah
melibatkan lima
dimensi
budaya yakni
budaya material,
sosial, simbolik,
normatif dan ruh

Di dalam Ibadah
ada dimensi esensi
dan dimensi
simbol. Simbol itu
penting tetapi
norma atau esensi
jauh lebih penting.

FUNGSI IBADAH DALAM PEMBANGUNAN


KARAKTER/AKHLAK

SHALAT :
Menumbuhkan kebiasaan bersih, dan tepat waktu
Menumbuhkan sikap disiplin, jujur, setia dan taat kepada imam/ pimpinan.
Menumbuhkan kesiapan mengoreksi dan dikoreksi.
Menumbuhkan sikap sabar, merendah hati, tidak sok suci serta tidak gila pujian.
Menumbuhkan sikap damai dan tidak suka permusuhan.

SHAUM :
Mengendalikan diri dan menumbuhkan kebiasaan beribadah.
Mengendalikan willingness, feeling dan thinking.
Menumbuhkan sikap siap berbagi.

ZAKAT :
Menumbuhkan sikap senang berbagi (dermawan) sekaligus mengikis sikap pelit.
Menumbuhkan sikap peduli kepada orang lain terutama kaum dhuafa.

HAJI :
Menumbuhkan sikap lebih bijaksana dalam menghadapi sesuatu.
Menumbuhkan perasaan al-musawwah (equality).
Menumbuhkan semangat beribadah, dan melahirkan akhlak yang luhur mulia.
Menumbuhkan perasaan cinta lingkungan