Anda di halaman 1dari 17

BAB 1.

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG.
Seiring dengan perkembangan zaman, sentuhan tekhnologi modern
telah mempengaruhi dan menyentuh masyarakat Bugis, namun kebiasaan-kebiasaan
yang merupakan tradisi turun temurun bahkan yang telah menjadi Adat masih sukar
untuk dihilangkan. Kebiasan-kebiasaan tersebut masih sering dilakukan meskipun
dalam pelaksanaannya telah mengalami perubahan, namun nilai-nilai dan makna
masih tetap terpelihara dalam setiap upacara tersebut.
Kata Bugis berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan ugi merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana,
Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi
menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki
dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.
Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku suku DeuteroMelayu, atau Melayu muda. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama
dari daratan Asia tepatnya Yunan. Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air
disebabkan mata pencaharian orang-orang bugis umumnya adalah nelayan dan
pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan
berusaha (massompe) di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor
historis orang-orang Bugis itu sendiri di masa lalu.
Dalam makalah ini penulis akan memaparkan tentang kebudayaan
suku Bugis, yang meliputi Sejarah perkambangan suku bugis, adat istiadat, adat
pernikahan, system kepercayaan, mata pencaharian, bahasa suku Bugis, Kesenian,
seni tari, makanan, permainan.

BAB 2.
1

SEJARAH PERKEMBANGAN SUKU BUGIS.


Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah
pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari dunia atas yang turun
(manurung) atau dari dunia bawah yang naik (tompo) untuk membawa norma
dan aturan sosial ke bumi.
Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung,
tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang
yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya.
Kata Bugis berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan ugi merujuk pada raja pertama kerajaan Cina ( bukan
negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya di Kecamatan
Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka
menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang / pengikut dari La Sattumpugi. La
Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Battara Lattu,
ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan
beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar.
Sawerigading Opunna Ware (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang tertuang
dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading
juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan
beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

ADAT ISTIADAT SUKU BUGIS.


Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten
Sidenreng Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama Sidrap
adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota
kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah
2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli
daerah ini adalah suku Bugis yang taat beribadah dan memegang teguh tradisi saling
menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui
bangunan masjid yang besar dan permanen. Namun terdapat daerah dimana masih
ada kepercayaan berhala yang biasa disebut Tau Lautang yang berarti Orang
Selatan.

ADAT PERNIKAHAN SUKU BUGIS.


Dalam upacara perkawinan adat masyarakat Bugis Bone yang disebut
Appabottingeng ri Tana Ugi terdiri atas beberapa tahap kegiatan. Kegiatankegiatan tersebut merupakan rangkaian yang berurutan yang tidak boleh saling tukar
menukar, kegiatan ini hanya dilakukan pada masyarakat Bugis Bone yang betul-betul
masih memelihara adat istiadat.
Pada masyarakat Bugis Bone sekarang ini masih kental dengan
kegiatan tersebut, karena hal itu merupakan hal yang sewajarnya dilaksanakan karena
mengandung nilai-nilai yang sarat akan makna, diantaranya agar kedua mempelai
dapat membina hubungan yang harmonis dan abadi, dan hubungan antar dua keluarga
tidak retak.

Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi :


1. Mattiro (menjadi tamu)
Merupakan suatu proses dalam penyelenggaraan perkawinan. Mattiro
artinya melihat dan memantau dari jauh atau Mabbaja laleng
(membuka jalan). Maksudnya calon mempelai laki-laki melihat calon
mempelai perempuan dengan cara bertamu dirumah calon mempelai
perempuan, apabila dianggap layak, maka akan dilakukan langkah
selanjutnya.
2. Mapessek-pessek (mencari informasi)
Saat sekarang ini, tidak terlalu banyak melakukan mapessek-pessek
karena mayoritas calon telah ditentukan oleh orang tua mempelai lakilaki yang sudah betul-betul dikenal. Ataupun calon mempelai
perempuan telah dikenal akrab oleh calon mempelai laki-laki.
3. Mammanuk-manuk (mencari calon).
Biasanya orang yang datang mammanuk-manuk adalah orang yang
datang mapessek-pessek supaya lebih mudah menghubungkan
pembicaraan yang pertama dan kedua. Berdasarkan pembicaraan
antara pammanuk-manuk dengan orang tua si perempuan, maka orang
tua tersebut berjanji akan memberi tahukan kepada keluarga dari pihak
laki-laki untuk datang kembali sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Jika kemudian terjadi kesepakatan maka ditentukanlah waktu madduta
Mallino (duta resmi)
4. Madduta mallino
Mallino artinya terang-terangan mengatakan suatu yang tersembunyi.
Jadi Duta Mallino adalah utusan resmi keluarga laki-laki kerumah
perempuan untuk menyampaikan amanat secara terang-terangan apa
yang telah dirintis sebelumnya pada waktu mappesek-pesek dan
mammanuk-manuk.

Pada acara ini pihak keluarga perempuan mengundang pihak keluarga terdekatnya
serta orang-orang yang dianggap bisa mempertimbangkan hal lamaran pada waktu
pelamaran. Setelah rombongan To Madduta (utusan) datang, kemudian dijemput dan
dipersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Dimulailah pembicaraan
antara To Madduta dengan To Riaddutai, kemudian pihak perempuan pertama
mengangkat bicara, lalu pihak pria mengutarakan maksud kedatangannya.
Apabila pihak perempuan menerima maka akan mengatakan Komakkoitu adatta,
srokni tangngaka, nakkutananga tokki yang artinya bila demikian tekad tuan,
kembalilah tuan, pelajarilah saya dan saya pelajari tuan, atau dengan kata lain pihak
perempuan menerima, maka dilanjutkan dengan pembicaraan selanjutnya yaitu
Mappasiarekkeng.
5. Mappasiarekkeng
Mappasiarekkeng artinya mengikat dengan kuat. Biasa jua disebut
dengan Mappettuada maksudnya kedua belah pihak bersama-sama
mengikat janji yang kuat atas kesepakatan pembicaraan yang dirintis
sebelumnya. Dalam acara ini akan dirundingkan dan diputuskan segala
sesuatu yang bertalian dengan upacara perkawinan, antara lain :
a. Tanra esso (penentuan hari).
b. Balanca (Uang belanja)/ doi menre (uang naik).
c. Sompa (emas kawin) dan lain-lain.
Setelah acara peneguhan Pappettuada selesai, maka para hadirin disuguhi hidangan
yang terdiri dari kue-kue adat Bugis yang pada umumnya manis-manis agar hidup
calon pengantin selalu manis (senang) dikemudian hari.
Dalam system perkawinan adat Bugis juga terdapat pernikahan Ideal
yaitu sebagai berikut :
1. Assialang Maola, ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat
kesatu, baik dari pihak Ayah maupun Ibu.

2. Assialanna Memang, ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat


kedua, baik dari pihak Ayah maupun Ibu.
3. Ripaddeppe Abelae, ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat
ketiga, baik dari pihak Ayah maupun Ibu atau masih mempunyai
hubungan keluarga.
Adapun perkawinan-perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang
(Salimara) yaitu sebagai brikut ;
1.
2.
3.
4.
5.

Perkawinan antara anak dengan Ibu/Ayah.


Perkawinan antara saudara sekandung.
perkawinan antara menantu dam mertua.
Perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan.
Perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu.

Tahap tahap dalam perkawinan suku Bugis secara adat yaitu sebaga berkut :
1. Lettu ( lamaran)
Ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan
untuk menyampaikan keinginannya untu melamar calon mempelai
perempuan.
2.

Mappettuada (kesepakatan pernikahan).


Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk
membicarakan waktu pernikahan, jenis sunrang atau mas kawin,
balanja abalanja atau belanja perkawinan, penyelenggaraan pesta dan
sebagainya.

3.

Maddupa ( mengundang ).
Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakatan antar
kedua belah pihak untuk memberitahu kepada semua kaum kerabat
mengenai perkawinan yang akan dilaksanakan.

4.

Mappaccing (Pembersihan)
6

Ialah ritual yang dilakukan masyarakat Bugis ( biasanya hanya


dilakukan oleh kaum bangsawan ). Ritual ini dilakukan pada malam
sebelum akad nikah dimulai, dengan mengundang para kerabat dekat,
sesepuh dan orang yang dihormati untuk melaksanakan ritual ini, cara
pelaksanaannya menggunakan pacci ( daun pacar ), kemudian para
undangan dipersilahkan untuk memberi berkah dan doa restu kepada
calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan dosa calon
mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada orang tua calon
mempelai.

A.

UPACARA SEBELUM AKAD PERNIKAHAN.


Sejak tercapainya kata sepakat, maka kedua belah pihak keluarga
sudah dalam kesibukan. Makin tinggi status sosial dari keluarga yang akan
mengadakan pesta perkawinan itu lebih lama juga dalam persiapan. Untuk
pelaksanan perkawinan dilakukan dengan menyampaikan kepada seluruh sanak
keluarga dan rekan-rekan. Hal ini dilakukan oleh beberapa orang wanita dengan
menggunakan pakaian adat.
Perawatan dan perhatian akan diberikan kepada calon pengantin .
biasanya tiga malam berturut-turt sebelum hari pernikahan calon pengantin
Mappasau (mandi uap), calon pengantin memakai bedak hitam yang terbuat dari
beras ketan yang digoreng samapai hangus yang dicampur dengan asam jawa dan
jeruk nipis. Setelah acara Mappasau, calon pengantin dirias untuk upacara Mappacci
atau Tudang Penni.

Mappaccing berasal dari kata Paccing yang berati bersih.

Mappaccing artinya membersihkan diri. Upacara ini secara simbolik menggunakan


daun Pacci (pacar). Karena acara ini dilaksanakan pada malam hari maka dalam
bahasa Bugis disebut Wenni Mappacci.

Melaksanakan upacara Mappaci akad nikah berarti calon mempelai


telah siap dengan hati yang suci bersih serta ikhlas untuk memasuki alam rumah
tangga, dengan membersihkan segalanya, termasuk : Mappaccing Ati (bersih hati) ,
Mappaccing Nawa-nawa (bersih fikiran), Mappaccing Pangkaukeng (bersih/baik
tingkah laku /perbuatan), Mappaccing Ateka (bersih itikat).
Orang-orang yang diminta untuk meletakkan daun Pacci pada calon
mempelai biasanya dalah orang-orang yamg punya kedudukan sosial yang baik serta
punya kehidupan rumah tangga yang bahagia. Semua ini mengandung makna agar
calon mempelai kelak dikemudian hari dapat pula hidup bahagia seperti mereka yang
telah meletakkan daun Pacci itu ditangannya.
Dahulu kala, jumlah orang yang meletakkan daun Pacci disesuaikan
dengan tingkat stratifikasi calon mempelai itu sendiri. Untuk golongan bangsawan
tertinggi jumlahnya 2 x 9 orang atau dua kasera. Untuk golongan menengah 2 x 7
orang dua kapitu, sedang untuk golongan dibawahnya lagi 1 x 9 orang atau 1 x 7
orang. Tetapi pada waktu sekarang ini tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dalam
jumlah orang yang akan melakukan acara ini.
B.

UPACARA AKAD NIKAH.


Setelah prosesi mappacci selesai, keesokan harinya mempelai laki-laki
diantar kerumah mempelai wanita untuk melaksanakan akad nikah (kalau belum
melakukan akad nikah). Karena pada masyarakat Bugis Bone kadang melaksanakan
akad nikah sebelum acara perkawinan dilangsungkan yang disebut istilah Kawissoro.
Kalau sudah melaksanakan Kawissoro hanya diantar untuk melaksanakan acara
Mappasilukang dan Makkarawa yang dipimpin oleh Indo Botting.
Setelah akad perkawinan berlangsung, biasanya diadakan acara resepsi
(walimah) dimana semua tamu undangan hadir untuk memberikan doa restu dan
sekaligus menjadi saksi atas pernikahan kedua mempelai agar mereka tidak berburuk
sangka ketika suatu saat melihat kedua mempelai bermesraan.
8

Pada acara resepsi tersebut dikenal juga yang namanya Ana Botting,
hal ini dinilai mempunyai andil sehingga merupakan sesuatu yang tidak terpisakhkan
pada masyarakat Bugis bone. Sebenarnya pada masyarakat Bugis Bone, ana botting
tidak dikenal dalam sejarah, dalam setiap perkawinan kedua mempelai diapit oleh
Balibotting dan Passepik, mereka bertugas untuk mendampingi pengantin di
pelaminan.
Ana Botting dalam perkawinan merupakan perilaku sosial yang
mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan merupakan ciri khas kebudayaan orang
Bugis pada umumnya dan orang Bugis pada khususnya, karena kebudayaan
menunjuk kepada berbagai aspek kehidupan yang meliputi cara-cara berlaku,
kepercayaan dan sikap-sikap serta hasil kegiatan manusia yang khas untuk suatu
masyarakat aatu kelompok penduduk tertentu. Oleh karena itu, Ana Botting
merupakan kegiatan (perilaku) manusia yang dilaksanakan oleh masyarakat Bugis
Bone pada saat dilangsungkan perkawinan.
Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah prosesi
dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda,
dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin ke
rumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan
upacara pernikahan,dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamu
memberikan kado tau paksolo. setelah akad nikah dan pesta pernikahan di rumah
mempelai wanita selesai dillanjutkan dengan acara mapparola yaitu mengantar
mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki.
mappaenre botting.
Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi
keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahmi
dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan
terhadap keluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka
sendiri yang disebut nalaoanni alena.

KEPERCAYAAN SUKU BUGIS.


Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua
atau gunung atau pohon keramat. Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk)
mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu. Mereka mengaku shalat 5
waktu, berpuasa, dan berzakat. Walaupun pada kenyataannya mereka masih
menganut animisme di daerah mereka. Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak
berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.

MATA PENCAHARIAN SUKU BUGIS.


Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan
pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan.
Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu
masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang
pendidikan.

ADAT PANEN SUKU BUGIS.


Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen
raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau
appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat
menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah
yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual
itu dirangkai dengan massure, membaca meong palo karallae, salah satu epos
Lagaligo tentang padi.
Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang
biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah
10

dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan


appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda.
Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada
kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia
juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia
memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos
Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang
sangat dihormati.

BAHASA SUKU BUGIS.


Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi
Selatan, yang tersebar di sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten
Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian
kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten
Sidenrengrappang,

Kabupaten

Soppeng,Kabupaten

Wajo,

Kabupaten

Bone,

Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat


Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku
kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis
menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai Bahasa Ugi dan mempunyai tulisan
huruf Bugis yang dipanggil aksara Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12
lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

11

Aksara Bugis

KESENIAN SUKU BUGIS.


A.

Alat musik:

1.

Kacapi (kecapi).
Salah satu alat music petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya
suku bugis, bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya
kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga
bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil
karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada
acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan
pada hari ulang tahun.

2.

Sinrili.
Alat music yang menyerupai biola, tetapi biola dimainkan dengan
membaringkan dipundak sedangkan sinrili dimainkan dalam keadaan
pemain duduk dan alat diletakkan tegak didepan pemainnya.

3.

Gendang.
Music perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang
dan bundar seperti rebana.

4.

Suling.

Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis yaitu sebagai berikut :


Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling

jenis ini telah punah.


Suling calabai (suling ponco), sering dipadukan dengan biola,
kecapi dan dimainkan bersama penyanyi.

12

Suling Dupa Samping (music bambu). Music bambu masih


terpelihara di daerah Kecamatan Lembang. Biasanya dilakukan
pada acara Karnayal (baris-berbaris) atau acara penjemputan tamu.

B.

Seni Tari:

1.

Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta
hujan.

2.

Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis


jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda
kesyukuran dan kehormatan.

3.

Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuanperempuan

yang

sedang

menenun

benang

menjadi

kain.

Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuan-perempuan


Bugis.
4.

Tari Pajoge dan tari Anak Masari ; tarian ini dilakukan oleh calabai
(waria), namun tarian jenis ini sulit sekali ditemukan bahkan
dikategorikan telah punah.

5.

Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa, tari
Pagalung, dan tari Pabbatte (biasanya digelar pada saat pesta panen).

MAKANAN KHAS SUKU BUGIS.


Suku Bugis memiliki makanan khasnya tersendiri yang biasanya
rasanya manis, makanan khas suku Bugis diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Barongko.

13

Barongko adalah makanan penutup khas suku Bugis. Dibuat dari


adonan pisang yang dihaluskan, santan dan telur yang kemudian
dibungkus dengan daun pisang.
2. Es Pallu Butung.
Makanan ini terbuat dari pisang matang. Dimasak dengan santan yang
dicampur terigu, gula pasir, vanili, daun pandan, dan sedikit garam,
kemudian disajikan dengan es serut dan sirop.
3. Pisang Epe.
Makanan khas Makassar yang terbuat dari pisang mengkal yang
dipipihkan lalu dibakar kemudian di siram dengan saus gula merah.
4. Barobo.
Bubur beras yang dimasak dengan bumbu, dicampur dengan sayuran
seperti labu, jagung, bayam atau kangkung.
5. Lawa.
Makanan khas daerah Luwu, terbuat dari jantung pisang yang telah
ditumbuk halus, dicampur dengan ikan segar dan parutan kelapa
sangrai.

PERMAINAN.
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis
(Pinrang) yaitu seperti : Mallogo, Mappadendang, Magasing, Mattoajang (ayunan),
getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak.

BAB 3.
PENUTUP
TANGGAPAN

14

Tanggapan saya mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam


Kebudayaan Suku Bugis yaitu sebagai berikut :
1. Adat istiadat dalam kebudayaan suku Bugis mengandung nilai-nilai
Religius dan sosial yaitu karena masyarakat suku Bugis taat
beribadah dan memegang teguh tradisi saling tolong menolong, selain
itu kita juga sangat mudah menemukan mesjid-mesjid yang besar dan
permanen.
2. Dalam adat pernikahan suku Bugis juga terdapat nilai religiusnya yaitu
ketika acara mapaccing (pembersihan), acara ini dilakukan untuk
membersihkan dosa calon mempelai, serta dilanjutkan dengan
sungkeman atau meminta maaf kepada kedua orang tua calon
mempelai. Sehingga calon mempelai siap dengan hati yang suci bersih
serta

ikhlas

untuk

memasuki

alam

rumah

tangga

dengan

membersihkan segalanya.
3. Selain mapaccing, dalam adat pernikahan suku Bugis juga terdapat
acara mapparola atau mappaenre botting acara ini dilakukan oleh
keluarga mempelai laki-laki dan mempelai perempuan untuk
bersilaturahmi satu sama lain (religious).
4. Masyarakat suku Bugis pada masa yang lalu memiliki nilai religious
yang kurang, hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari mereka
yang sering menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon
keramat. Tetapi mereka mengaku menunaikan shalat, berpuasa, serta
berzakat.
5. Dalam acara adat panen suku Bugis terdapat ritual pesta panen
mappadendang yang didalamnya terdapat nilai kearifan atau bentuk
suka cita dan kesyukuran pada sang Khalik untuk hasil panen yang
melimpah. Selain itu dalam acara panen tersebut juga terdapat nilai
budaya, ritual mappadendang ini dimaksudkan untuk mempertahankan
warisan budaya leluhur yang dikhawatirkan akan ditinggalkan oleh
generasi muda.

15

6. Suku Bugis juga memiliki nilai-nilai seni yaitu baik dari seni music
maupun seni tari. Alat music khas yang digunakan masyarakat suku
Bugis seperti kecapi, sinrili, gendang, dan suling. Selain alat music
suku Bugis juga memiliki tari-tarian yang indah seperti tari pelangi,
tari paddupa bosara, tari pattenung, tari pajoge dan tari anak
masari,dll.

DAFTAR
PUSTAKA

http://pyandsaputra.blog.com/?p=33
http://ajhierikhapunya.wordpress.com/2011/04/22/makalahtentang-upacara-perkawinan-adat-masyarakat-bugis-bone/

16

http://melayuonline.com/ind/article/read/231/adat-dankebudayaan-suku-bugis
http://id.scribd.com/doc/56623233/SUKU-BUGIS

17