Anda di halaman 1dari 14

SEJARAH EROPA MODERN

PERANG DUNIA I

Kelompok 6
1. Faizah Zukhrifa
2. Muhammad Hanafi
3. Novinda Ayu Rizki
4. Putri Fatmawati Nur H.
5. Zulkifli Pelana
Pendidikan Sejarah (A) 2012

Fakultas Ilmu Sosial


Universitas Negeri Jakarta

PERANG DUNIA I
Pendahuluan
Perang Dunia I (PD I) adalah sebuah perang global terpusat di Eropa yang dimulai pada 28 Juli
1914 - 11 November 1918. Perang ini melibatkan semua kekuatan besar dunia, yang terbagi
menjadi dua aliansi bertentangan, yaitu Triple Entente (Inggris, Perancis, Rusia) dan Triple Alliance
(Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia).
Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi Perang Dunia I, di antaranya sebagai berikut:
aliansi (persekutuan) negara-negara Great Powers Eropa, perebutan pengaruh dan wilayah
kekuasaan, persaingan ekonomi, dan persaingan kekuatan militer. Kemudian, dari faktor-faktor
tersebut berkaitan dengan beberapa peristiwa menuju pecahnya Perang Dunia I, di antaranya yakni:
Krisis Maroko, Persetujuan Inggris dengan Rusia, Krisis Bosnia, Krisis Agadir, Perang Balkan I,
Perang Balkan II, dan pembunuhan Archduke Franz Ferdinand.
Kemudian, jalannya perang berlangsung di dua front, front barat dan front timur. Para pelaku
perangnya meliputi Blok Sentral (Triple Alliance) dan Blok Sekutu (Triple Entente). Pembahasan
jalannya perang disusun berdasarkan kronologi waktu dari tahun 1914-1918.
Akhir Perang Dunia I ditandai dengan kekalahan pihak Blok Sentral. Perjanjian Versailles
sebagai perdamaian pun dikeluarkan. Berdasarkan perjanjian ini Jerman merupakan pihak yang
dinyatakan bersalah dan menanggung banyak kerugian pasca perang. Kemudian untuk membentuk
kesatuan dunia yang damai dan menghindari terjadinya perang kembali, atas usul Woodrow Wilson,
dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa.

Pembahasan
1. Latar Belakang Perang Dunia I

(Norman Lowe, 1997, h. 7)

A. Faktor-Faktor Penyebab Perang


1) Sistem Aliansi Negara-Negara Great Powers di Eropa
Berawal tahun 1815 dengan Aliansi Suci (Prusia, Rusia, dan Austria). Kemudian, pada
Oktober 1873, Kanselir Jerman Otto von Bismarck menegosiasikan Liga Tiga Kaisar /
Dreikaiserbund (Austria-Hongaria, Rusia, dan Jerman). Perjanjian ini gagal karena AustriaHongaria dan Rusia tidak sepakat mengenai kebijakan Balkan, sehingga meninggalkan
Jerman dan Austria-Hongaria dalam satu aliansi yang dibentuk tahun 1879 bernama Dual
Alliance. Hal ini dipandang sebagai cara melawan Rusia di Balkan saat Kesultanan
Utsmaniyah terus melemah.1 Pada tahun 1882, aliansi ini meluas hingga Italia dan menjadi
Triple Alliance.2
Setelah tahun 1870, konflik Eropa terhindar melalui jaringan perjanjian yang direncanakann
antara Jerman dan seluruh Eropa yang dirancang oleh Bismarck. Ia berupaya menahan Rusia
agar tetap di pihak Jerman untuk menghindari perang dua front dengan Perancis dan Rusia.
Ketika Wilhelm II menjadi Kaiser Jerman, sistem aliansi Bismarck perlahan dihapus. Pada
tahun 1892, Aliansi Perancis-Rusia ditandatangani. Pada tahun 1904, Inggris dan Perancis
menandatangani Entente Cordiale. Dan pada 1907, Inggris dan Rusia menandatangani

1 H. P. Willmott, World War I (New York: Dorling Kindersley, 2003), h. 15


2 John Keegan, The First World War (London: Hutchinson, 1998), h. 52
3

Konvensi Inggris-Rusia. Sistem penguncian perjanjian bilateral ini kemudian dikenal sebagai
Triple Entente.3
2) Perebutan Pengaruh dan Wilayah Kekuasaan
Perebutan pengaruh dan wilayah kekuasaan antar negara-negera Eropa terlihat dari Krisis
Maroko, Konflik Bosnia, Perang Balkan 1, Perang Balkan 2, dan Krisis Agadir.
3) Persaingan Ekonomi antara Inggris dengan Jerman
Pengusaha dan kapitalis Jerman ingin berperang dengan Inggris untuk menguasai ekonomi
dunia.4
4) Persaingan Kekuatan Militer, terutama Angkatan Laut antara Inggris dan Jerman
Kekuatan industri dan ekonomi Jerman tumbuh pesat setelah unifikasi pada tahun 1871. Sejak
pertengahan 1890-an sampai seterusnya, pemerintahan Wilhelm II memakai basis industri
untuk memanfaatkan sumber daya ekonomi skala besar untuk membangun Kaiserliche
Marine (Angkatan Laut Kekaisaran Jerman), yang dibentuk oleh Laksamana Alfred von
Tirpitz, untuk menyaingi AL Inggris.5 Keinginan bersaing ini dipicu dengan peluncuran
HMS Dreadnought tahun 1906. Perlombaan senjata antara Britania dan Jerman akhirnya
meluas ke seluruh Eropa, dengan semua kekuatan besar memanfaatkan basis industri mereka
untuk memproduksi perlengkapan dan senjata yang diperlukan untuk konflik pan-Eropa.
Persaingan Angkatan laut antra dua negara ini berlangsung hingga tahun 1914.6
B. Peristiwa-Peristiwa Menuju Pecahnya Perang
1) Krisis Maroko (1905-1906)
Maroko adalah wilayah Afrika yang tidak dikendalikan kekuatan Eropa. Hal ini membuat
Jerman mengumumkan pada Sultan Maroko untuk mengatur kemerdekaan negaranya dan
menuntut konferensi internasional yang mendiskusikan bagaimana ke depannya. Konferensi
diadakan di Algeciras di Spanyol selatan. Inggris percaya jika Jerman menjalankan caranya
itu, maka akan menjadi langkah penting untuk membawa pada dominasi diplomasi Jerman.7
2) Persetujuan Inggris dengan Rusia (1907)

3 Willmott, loc. cit.


4 Norman Lowe, Modern World History (London: Macmillan, 1997), h. 12
5 H. P. Willmott, World War I (New York: Dorling Kindersley, 2003), h. 21
6 Lowe, loc. cit
7 Norman Lowe, Modern World History (London: Macmillan, 1997), h. 6
4

Selama bertahun-tahun, Inggris melihat Rusia sebagai ancaman besar bagi kepentingannya di
Timur Jauh dan India. Namun, keadaan berubah setelah Rusia kalah dari Jepang dalam Perang
Rusia-Jepang. Di lain pihak, Rusia ingin sekali untuk mengakhiri permusuhan panjang dan
ingin menarik perhatian investasi Inggris untuk program modernisasi industri mereka.
Persetujuan ini bukan tentang aliansi militer dan bukan kepentingan pergerakan anti-Jerman,
tapi Jerman berpandangan bahwa akan dikepung Inggris, Perancis, dan Rusia.8
3) Krisis Bosnia (1908)
Austria mengambil keuntungan dari revolusi Turki, dengan menganeksasi Bosnia. Hal itu
merupakan sebuah pukulan bagi Serbia yang mengharapkan untuk mengambil-alih Bosnia,
karena Bosnia berisi sekitar 3 milyar jiwa orang Serbia di antara populasi campuran Serbia,
orang Kroasia dan orang Muslim. Serbia meminta bantuan kepada Rusia. Namun, Rusia
masih kesal dengan kekalahannya atas Jepang dan tidak berani mengambil risiko perang lain
tanpa dukungan sekutunya. Sudah jelas Jerman akan membantu Austria dalam perang.
Perancis mundur, tidak mau terlibat perang di Balkan. Inggris ingin menghindari pelanggaran
dengan Jerman. Akibatnya, tak ada bantuan untuk Serbia dan akhirnya Austria yang
mendapatkan Bosnia. Hal tersebut merupakan kemenangan bagi Austro-Jerman, tetapi malah
berdampak buruk:

Serbia tetap bermusuhan dengan Austria dan hal itu malah menyebabkan pecahnya perang
pada saat itu.

Rusia bertekad menghindari penghinaan lebih lanjut dan memulai membangun militer
besar-besaran. Mereka bersiap-siap jika Serbia meminta bantuannya lagi.9
4) Krisis Agadir (1911)
Sesuai konferensi Algeciras (1906), Perancis merasa perlu memantapkan kedudukannya di
Maroko. Tetapi kondisi Maroko sendiri menjadi bergolak, karena munculnya berbagai
perlawanan rakyat terhadap Perancis. Oleh sebab itu, Jerman masuk kembali ke masalah
Maroko dengan mengakui kemerdekaan Maroko tahun 1908. Pemberontakan semakin hebat.
Pada tahun 1911, ibukota Maroko, Fez bahkan dapat dikepung kaum pemberontak dan tentara
Perancis pun menduduki kota tersebut. Tindakan ini memaksa Jerman mengirimkan kapalkapal perangnya ke Maroko. Menurut Inggris, tindakan Jerman mengancam perdamaian dunia
karena melibatkan tiga negara besar yaitu, Perancis, Jerman dan Inggris. Tetapi kondisi ini
dapat diakhiri dengan perjanjian yang intinya Jerman harus meninggalkan Maroko dan

8 Ibid, h. 7
9 Ibid, h. 8
5

mengakui kekuasaan Perancis atas Maroko. Dan sebagai imbalannya, Jerman mendapat
sebagian daerah Perancis di Kongo.
5) Perang Balkan I (1912)
Perang Balkan I adalah suatu rangkaian pertempuran yang berlangsung antara 8 Oktober
1912 - 18 Mei 1913. Perang dimulai ketika Serbia, Yunani, Montenegro dan Bulgaria (Liga
Balkan) menyerang Turki, merebut hampir sebagian wilayah yang tersisa di Eropa. Bersama
dengan pemerintahan Jerman, Sir Edward Grey (Perdana Menteri Inggris) mengatur
konferensi perdamaian di London. Perang ini bertujuan merebut Macedonia yang dikuasai
Turki. Perang berakhir dengan kemenangan pihak Liga Balkan dan ditandatanganinya
Perjanjian London. Setelah berakhirnya perang, terjadi perselisihan mengenai batas wilayah
kekuasaan antara anggota liga, yang menyebabkan pecahnya Perang Balkan II.10
6) Perang Balkan II (1913)
Perang Balkan II adalah konflik yang pecah ketika Bulgaria menyerang Serbia dan Yunani
pada 16 Juni 1913 karena Bulgaria tidak puas akan persetujuan perdamaian yang telah dibuat.
Bulgaria sebenarnya mengharapkan mendapat bagian dari Macedonia, namun ternyata
diberikan semua pada Serbia. Bulgaria dikalahkan dengan Perjanjian Bucharest (1913).11
Tentara Yunani dan Serbia berhasil mengusir tentara Bulgaria dan melancarkan serangan
balik. Perang ini lalu melibatkan Rumania karena adanya sengketa wilayah. Kesultanan
Utsmaniyah juga mengambil kesempatan dari situasi ini untuk merebut kembali wilayahnya.
Ketika tentara Rumania mencapai ibukota Bulgaria, Sofia, Bulgaria meminta gencatan
senjata, sehingga ditandatanganilah Traktat Bukares, di mana Bulgaria harus menyerahkan
beberapa wilayahnya kepada Serbia, Yunani, Rumania dan Utsmaniyah. Konsekuensi Perang
Balkan II sangat serius:

Serbia telah diperkuat dan bertekad menimbulkan pergolakan di tengah-tengah orang


Serbia dan Kroasia yang tinggal di Austria-Hungaria.

Austria bertekad untuk mengakhiri ambisi Serbia.

Jerman mengambil kesediaan Grey untuk bekerja sama sebagai tanda bahwa Inggris siap
untuk lepas dari Perancis.12
7) Pembunuhan Archduke Franz Ferdinand

10 Wikipedia, Perang Balkan I: <http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Balkan_I>,


[diakses 26 April 2013]
11 Norman Lowe, Modern World History (London: Macmillan, 1997), h. 9
12 Ibid, h. 10
6

Peristiwa ini terjadi di Sarajevo pada 28 Juni 1914. Archduke, keponakan lelaki dan pewaris
Kekaisaran Franz Josef, melakukan kunjungan resmi ke Sarajevo. Ketika itu dia dan istrinya
ditembak mati oleh teroris Serbia, Gavrilo Princip. Austria menyalahkan pemerintahan Serbia
dan mengirimkan ultimatum berat. Serbia menerima sebagian besar poin di dalamnya, tetapi
Austria dengan janji dukungan Jerman, bertekad untuk menjadikan peristiwa itu sebagai
alasan untuk perang.13
Pada 28 Juli 1914, Austria-Hungaria menyatakan perang kepada Serbia. Rusia berkeinginan
keras untuk tidak membiarkan Serbia kecewa lagi, Rusia melakukan mobilisasi umum (29
Juli). Pemerintahan Jerman menuntut agar seharusnya hal ini ditunda (31 Juli), dan ketika
Rusia gagal memenuhinya, Jerman menyatakan perang pada Rusia (1 Agustus 1914) dan
Perancis (4 Agustus 1914). Austria-Hungaria menyatakan perang kepada Rusia pada tanggal 6
Agustus 1914.
2. Jalannya Perang dan Pihak-Pihak yang Berperang
A. 1914
1) Front Barat
Schlieffen Plan dimaksudkan sayap kanan Jerman akan bergerak cepat melalui Belgia ke
pantai, dan kemudian membusur ke sepanjang barat dan selatan Paris, hampir mengepung
tentara Perancis. Namun dalam pelaksanaannya, rencana tersebut gagal. Jerman dikalahkan
oleh perlawanan kuat Belgia; mereka gagal menguasai pesisir Kanal, gagal mengepung
tentara Perancis, dan dihentikan pada Pertempuran Marne Pertama.14 Pertempuran Marne
adalah pertempuran Perancis-Inggris melawan Jerman yang dipimpin oleh Helmuth von
Moltke pada 5-12 September 1914. Serangan Jerman diakhiri secara efektif. Serangan balasan
Sekutu pada Pertempuran Marne I menggagalkan serangan Jerman, dengan strategi perang
parit di Blok Barat.15 Pertempuran ini merupakan peristiwa sangat penting, karena:

Pertempuran Marne menghancurkan Schlieffen Plan: Perancis tidak akan tersingkir dalam
waktu 6 minggu, dan semua harapan Jerman bahwa perang dalam waktu singkat pun sirna.

Jerman harus menghadapi perang dalam skala penuh pada dua front, yang mana tidak
diharapkan Jerman.

Gerakan perang berakhir -jalur parit, yang digunakan sebagai perlindungan, membentang

13 Norman Lowe, Modern World History (London: Macmillan, 1997), h. 10


14 Ibid, h. 22
15 Rick Beyer, The Greatest Stories Never Told (New York: HarperCollins, 2003), h.
148-149
7

dari Alpen ke pesisir Kanal.

Ada waktu bagi AL Inggris untuk membawa blokade yang melumpuhkan mendesak
pelabuhan-pelabuhan Jerman.16
2) Blok Timur
Di front timur, Rusia berpindah lebih cepat dari yang Jerman harapkan, membuat Austria dan
Jerman salah perhitungan menyerang pada saat yang sama. Walaupun berhasil melawan
Austria dengan menduduki provinsi Galicia, Jerman membawa Hindenburg keluar dari
pensiun dan mengalahkan Rusia dua kali di Tannenburg (Agustus) dan Danau Masurian
(September). Pertempuran ini merupakan hal penting: Rusia kehilangan peralatan dan amunisi
dalam jumlah besar. Meskipun mereka telah mempunyai enam dan seperempat juta orang
yang telah dikerahkan pada akhir tahun 1914, sepertiga dari mereka tanpa disenjatai. Rusia
tidak pernah pulih dari kemundurannya, sedangkan kepercayaan diri Jerman semakin
bertambah. Ketika Turki masuk ke dalam perang, pandangan untuk Rusia sudah suram, sejak
Turki bisa memotong pasokan utamanya dan jalur perdagangan utama melalui Dardanelles.
Satu titik terang bagi Sekutu adalah Serbia mengusir invasi Austria dengan cara halus pada
akhir 1914, dan Austria berada di titik terendah.17

B. 1915
1) Barat
Di barat kebuntuan berlanjut, meskipun beberapa upaya dilakukan untuk memecahkan
selokan parit. Inggris mencoba di Neuve Chapelle dan Loos, Perancis di Champagne; Jerman
diserang lagi di Ypres. Ini seperti semua serangan di front barat sampai 1918, terus gagal.
Kesulitan perang parit yang selalu sama:

Adanya kawat berduri di tanah tak bertuan antara dua parit berlawanan yang sisi
serangannya mencoba merambah dengan pemboman artileri besar.

Teknologi pesawat pengintai dan observation balloon mampu mengintai pergerakan


pasukan di sepanjang parit.

Parit sulit dikepung karena peningkatan daya tembak senapan mesiu dan senapanmesin yang membuat serangan frontal bunuh diri dan kavaleri tidak berguna.

Bahkan ketika jalur parit diterobos, bagian depan merupakan bagian yang sulit karena
tanahnya telah menggunduk oleh rentetan tembakan artileri.

Bagian dasar tanah sangat sulit dipertahankan, karena biasanya membentuk salient (sebuah

16 Norman Lowe, Modern World History (London: Macmillan, 1997), h. 22


17 Ibid, h. 23
8

gundukkan tanah di jalur parit).

Di Ypres, Jerman menggunakan gas beracun, tetapi ketika angin berubah arah, malah
berhembus kembali pada sendiri dan menimbulkan banyak korban akibatnya.18
2) Timur
Di timur, peruntungan Rusia bercampur-aduk: mereka sukses melawan Austria tetapi
mereka dikalahkan oleh Jerman, yang merebut Warsawa dan seluruh Polandia. Pemblokadean
Dardanelles oleh Turki menghambat Rusia, yang juga telah kehabisan senjata dan amunisi. Itu
sebagian untuk mengosongkan Dardanella dan membuka jalur suplai penting untuk Rusia
melalui Laut Hitam, maka dilancarkanlah Kampanye Gallipoli. Ini merupakan ide Winston
Churchill (Pejabat Tinggi Pertama AL Inggris) untuk melepaskan diri dari kebuntuan barat
dengan menyingkirkan Turki. Turki dianggap memiliki kekuatan paling lemah dalam Blok
Sentral.
Namun, Kampanye ini gagal. Percobaan pertama pada bulan Maret, AL Anglo-French
menyerang melalui Dardenelles untuk menaklukan Konstantinopel, tetapi gagal ketika
menabrak serangkaian tambang. Hal ini merusak rencana yang sudah direncanakan
sebelumnya, jadi ketika Inggris mencoba untuk mendarat di Semenanjung Galipoli, Turki
sudah memperkuat pertahanan mereka. Pada tahun 1915 merupakan tahun yang kurang baik
bagi Sekutu; bahkan Inggris dikirim untuk melindungi kepentingan perminyakan AngloPersia melawan serangan Turki, mungkin menjadi terhambat di Mesopotamia karena
mendekati Baghdad, yang dikepung Turki di Kut-el-Amara dari Desember 1915 sampai Maret
1916, membuat mereka terpaksa menyerah.
3) Pada Bulan Mei, Italia Menyatakan Perang Pada Austria-Hungaria
Italia berharap menguasai wilayah Austria yang berbahasa Italia serta wilayah sepanjang
pantai timur laut Adriatik. Sebuah perjanjian rahasia yang ditandatangani di London yang
mana Sekutu menjanjikan Italy Trentino, sebelah selatan Tyrol, Istria, Trieste, bagian
Dalmatia, Adalia, beberapa pulau di Laut Aegea dan protektorat Albania. Sekutu berharap
bahwa dengan menduduki ribuan tentara Austria, Italia yang akan mengurangi tekanan pada
Rusia. Tetapi Italia membuat sedikit perkembangan dan upaya mereka tidak ada bedanya
dengan kekalahan Rusia pada akhirnya.19

C. 1916
1) Pertempuran Verdun
18 Norman Lowe, Modern World History (London: Macmillan, 1997), h. 24-25
19 Ibid, h. 25-27
9

Pertempuran ini adalah pertempuran antara pasukan Jerman dan Perancis di blok
Barat selama Perang Dunia I pada tanggal 21 Februari sampai 18 Desember 1916, di daerah
perbukitan utara kota Verdun-sur-Meuse di utara-timur Perancis.
Pertempuran Verdun berakhir dengan kemenangan Perancis karena Komando tertinggi
Jerman gagal mencapai dua tujuan strategis: (1) Merebut kota Verdun, dan (2) Lebih banyak
korban daripada pasukan Perancis. Secara keseluruhan, Pertempuran Verdun mengakibatkan
lebih dari seperempat juta orang terbunuh di medan pertempuran dan setidaknya setengah juta
terluka.
Pertempuran Verdun merupakan pertempuran terpanjang dan paling dahsyat selama Perang
Dunia I. Total penggunanan senjata sekitar 40 juta peluru artileri dari kedua belah pihak
selama pertempuran.
2) Pertempuran Laut Jutland
Pertempuran laut terbesar ini terjadi di Laut Utara lepas pantai Jutland pada 31 Mei - 1 Juni
1916. AL Jerman dipimpin Vice Admiral Reinhard Scheer berhadapan dengan AL Inggris
dipimpin Admiral Sir John Jellicoe. Peperangan ini adalah penghindaran diri AL Jerman
terhadap AL Inggris yang berjumlah lebih besar, dengan tujuan meloloskan diri sambil
berusaha merusak pihak Inggris. Pertempuran ini buntu, karena Jerman, yang kalah jumlah
dengan armada Inggris bagaimanapun, secara strategis Inggris mempertahankan penguasaan
mereka terhadap laut, dan sebagian besar armada laut Jerman tetap berada di pelabuhan
sepanjang berlangsungnya perang.20
D. 1917
1) Pertempuran Passchendaele
Pertempuran Passchendaele adalah salah satu pertempuran besar pada PD I, yang terjadi

20 Spencer C. Tucker, dkk. Encyclopedia of World War I (Santa Barbara: ABC-Clio,


2005), h. 619-624
10

antara bulan Juli dan November 1917.21 Dalam serangkaian operasi, pasukan di bawah
komando Inggris Entente menyerang Tentara Kekaisaran Jerman. 22 Pertempuran ini terjadi
untuk mengendalikan desa Passchendaele dekat kota Ypres di Flanders Barat, Belgia. Tujuan
dari serangan ini adalah untuk mencapai terobosan, menghantam pertahanan tentara Jerman,
dan memaksa Jerman untuk menarik diri dari Pelabuhan Channel. Serangan juga untuk
mengalihkan perhatian tentara Jerman dari Perancis di Aisne.
Pada tahun 1917, Jerman menerapkan peperangan kapal selam tanpa batas, karena sudah
memperkirakan bahwa Amerika Serikat akan terjun dalam peperangan ini berhadapan dengan
mereka. Jerman berusaha menempatkan pertahanannya di alur pendaratan Sekutu sebelum
pihak Amerika Serikat mengirimkan tentaranya lewat laut, tetapi hanya mampu untuk
mempertahankan dan mengoperasikan hanya 5 buah kapal selam jarak jauh.
2) Pertempuran Kapal Selam Jerman vs Sekutu
Peperangan kapal selam digambarkan sebagai serangan umumnya berlangsung tanpa
peringatan, yang mengakibatkan anak buah kapal dagang yang diserang hanya memiliki
sedikit kemungkinan untuk hidup. Amerika Serikat melancarkan protes, dan Jerman kemudian
mengadakan perubahan terhadap aturan peperangan. Setelah peristiwa penenggelaman kapal
penumpang RMS Lusitania (1915) yang terkenal tersebut, Jerman berjanji untuk tidak
menyerang kapal penumpang, sementara pihak Inggris mempersenjatai kapal dagang mereka,
menempatkan mereka di bawah perlindungan aturan penjelajah yang mensyaratkan peringatan
kalau diserang dan menempatkan anak buah kapal di tempat yang aman.
Ancaman serangan kapal selam Jerman berkurang di tahun 1917, ketika kapal dagang
berlayar secara berkonvoi yang dikawal kapal-kapal perusak. Taktik ini mempersulit kapal
selam mencari targetnya, yang mana secara signifikan ancaman ini makin berkurang setelah
ditemukan hydrophone dan depth charges, yang membuat kapal perusak pengawal konvoi
dapat menyerang kapal selam dengan tingkat keberhasilan yang memadai. Sistem konvoi
melambatkan jalur supply karena kapal dagang harus menunggu untuk berlayar sampai
konvoi kapal-kapal terbentuk. Solusi dari hambatan ini adalah usaha pembangunan kapal21 Peter Hart, Passchendaele: the Sacrificial Ground (London: Cassell & Co., 2001), h.
211-212
22 Tim Travers, The Killing Ground: The British Army, the Western Front & the
Emergence of Modern War 1900-1918 (London: Pen and Sword Books, 2003), h. 215217
11

kapal dagang secara ekstensif. Kapal pengangkut pasukan mempunyai kecepatan yang jauh
lebih cepat daripada kapal selam dan tidak berlayar secara konvoi di Atlantik Utara. Kapal
selam Jerman berhasil menenggelamkan hampir 5000 buah kapal Sekutu, dan menderita
kerugian 178 buah kapal selam.
E. 1918 - Blok Sentral Dikalahkan
1) Serangan Musim Semi Jerman tahun 1918
Diluncurkan oleh Ludendorff dalam upaya terakhir memenangkan perang sebelum terlalu
banyak pasukan AS tiba, dan sebelum ketidakpuasan di Jerman menyebabkan revolusi.
3) Serang-balik Sekutu dimulai (8 Agustus)
Di dekat Amiens, dengan ratusan tank menyerang di beberapa titik yang berbeda. Hal ini
memaksa Jerman menarik seluruh lini dan membentuk salient. Perlahan tapi pasti Jerman
terpaksa kembali, sampai akhir September Sekutu telah menembus Hindenburg Line.
Meskipun Jerman sendiri belum menyerang, Ludendorff sekarang yakin bahwa ia akan
dikalahkan pada musim semi 1919.
4) Penyebab Blok Sentral Kalah Perang

Setelah Rencana Schlieffen gagal, menghapus semua harapan kemenangan cepat Jerman.

Kekuatan laut Sekutu sangat menentukan, menegakkan blokade mematikan yang


menyebabkan kekurangan pangan dan ekspor lumpuh.

Kampanye kapal selam Jerman gagal dalam menghadapi konvoi yang dilindungi kapal
perusak Inggris, AS dan Jepang.

Masuknya AS membawa sumber daya baru yang luas pada Sekutu.

Pemimpin politik Sekutu pada saat kritis -Lloyd George dan Clemenceau- yang mungkin
lebih kompeten daripada Blok Sentral.

Ketegangan terus-menerus dari kekalahan besar memberitahu Jerman bahwa mereka


kehilangan pasukan terbaik pada 1918 serta pasukan serangan baru yang muda dan
perpengalaman ditambah epidemi flu Spanyol memperburuk situasi.

Jerman dikecewakan parah oleh sekutu-sekutunya dan terus-menerus harus membantu


Austria dan Bulgaria.

3. Akhir Perang Dunia I


Sebelumnya, pada awal 1917, Jerman menyerang kapal selam milik AS. Hal ini membuat AS
menyatakan perang terhadap Jerman pada bulan April. Sebelumnya pada 1916, hanya ada
130.000 angkatan bersenjata di AS, pada akhir tahun 1917, 3,5 juta tentara telah terdaftar, dan
12

pada 1918 mereka berada di perjalanan menuju Eropa. Intervensi AS dalam perang menaikkan
keseimbangan dan memaksa Jerman untuk menuntut perdamaian pada bulan November 1918,
menutup perang ini.23
A. Versailles, Penyelesaian Perdamaian, dan Liga Bangsa-Bangsa
Pihak yang menang berkumpul di Paris pada musim dingin tahun 1919 untuk menyusun
perjanjian perdamaian dengan pihak yang kalah. Dalam negoisasi ini terdapat tokoh yang
menonjol yaitu Woodrow Wilson, yang menuangkan idenya ke dalam Empat Belas Poin
berlandaskan prinsip demokrasi, nasionalisme, dan liberalisme. Wilson menyerukan penentuan
nasib nasional untuk rakyat dan penentuan ulang perbatasan Eropa. Ia juga meminta sebuah
asosiasi umum untuk menyelesaikan sengketa antar negara dan mencegah perang terjadi
kembali. Kedua idenya ini menjadi pusat diskusi dalam negoisasi ini.24
Meskipun tujuan Wilson idealis, perjanjian perdamaian (Perjanjian Versailles), sangat
memberatkan pihak Jerman. Hal penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah
Jerman menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan melalui aturan dari
pasal 231-247, harus melakukan perbaikan pada negara-negara yang tergabung dalam Sekutu.
Gagasan Wilson lainnya adalah, Asosiasi Umum Bangsa yang berasal dari pertemuan di
Paris yang disebut Liga Bangsa-Bangsa. Liga ini berdasarkan prinsip keamanan kolektif di mana
semua negara bertanggung jawab melindungi kedaulatan dan kemerdekaan negara lain. Negaranegara anggota berjanji untuk tidak saling perang dan akan memanfaatkan organisasi ini untuk
mendiskusikan dan menyelesaikan sengketa secara damai. Sebagai organisasi yang universal,
Liga Bangsa-Bangsa akan menggantikan sistem persekutuan.25
Pencetus Liga Bangsa-Bangsa adalah presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson. Namun,
Amerika Serikat sendiri tidak tergabung dalam organisasi ini. Negara lain yang tidak bergabung
adalah Rezim Komunis Rusia dan Jerman, sebagai bagian dari hukuman perang, dilarang untuk
bergabung Liga Bangsa-Bangsa sampai 1926.
B. Konsekuensi Perang

23 David S. Mason, A Concise History of Modern Europe: Liberty, Equality, Solidarity;


Second Edition (London: Rowman & Littlefield Publishers, 2011) h. 111
24 Mason, loc. cit.
25 David S. Mason, A Concise History of Modern Europe: Liberty, Equality, Solidarity; Second
Edition (London: Rowman & Littlefield Publishers, 2011) h. 112

13

Perang Dunia I mengakibatkan kerugian sangat besar. Sebanyak kurang lebih delapan juta
jiwa tewas dan dua puluh juta jiwa lainnya luka-luka, bahkan banyak di antara mereka cacat atau
dimutilasi secara mengerikan. Kerugian ini tersebar di seluruh benua.
Selain itu, perang ini menandai akhir dari kekuasaan monarki absolut di Eropa, suatu proses
yang dimulai oleh Revolusi Prancis. Kali ini, kekuasaan monarki tidak akan muncul kembali.
Dari kerajaan-kerajaan tua muncul banyak negara demokratis baru berdasarkan cita-cita abad ke18; kedaulatan rakyat, dan cita-cita abad ke-19; liberalisme dan nasionalisme.
Banyak negara-negara baru yang lemah, miskin dan tidak terbiasa dengan toleransi
demokratis. Beberapa negara, khususnya Jerman sangat menderita di bawah hukuman
perdamaian pasca perang. Depresi ekonomi di seluruh dunia sangat berpengaruh terhadap
Jerman, ekonomi Jerman yang memang sudah lemah akibat hukuman pembayaran perbaikanperbaikan setelah perang menjadi semakin hancur akibat depresi ekonomi dunia. Jutaan warga
Jerman menjadi pengangguran, kemiskinan merajalela, dan kemunculan perasaan kesal terhadap
Perjanjian Versailles. Hal ini yang nantinya melatarbelakangi munculnya pengaruh Adolf Hitler.
_______________________
Daftar Pustaka
Allen, W.E.D. & Paul Muratoff. 2011. Caucasian Battlefields, A History of Wars on the Turco
Caucasian Border. Cambridge University Press
Beyer, Rick. 2003. The Greatest Stories Never Told. New York: HarperCollins
Brown, Malcolm. 1999. Verdun 1916. Chicago: Tempus Publishing
Hart, Peter. 2001. Passchendaele: the Sacrificial Ground. London: Cassell & Co.
Keegan, John. 1998. The First World War. London: Hutchinson
Lowe, Norman. 1997. Modern World History. London: Macmillan
Mason, David S. 2011. A Concise History of Modern Europe: Liberty, Equality, Solidarity; Second
Edition. London: Rowman & Littlefield Publishers
Simkins, Peter, dkk. 2003. The First World War; The War to The End All War. New York: Osprey
Publishing
Travers, Tim. 2003. The Killing Ground: The British Army, the Western Front & the Emergence of
Modern War 1900-1918. London: Pen and Sword Books
Tucker, Spencer C, dkk. 2005. Encyclopedia of World War I. Santa Barbara: ABC-Clio
Willmott, H.P. 2003. World War I. New York: Dorling Kindersley
Wikipedia, Perang Balkan I: <http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Balkan_I>, (diakses 26 April
2013)

14