Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sindrom ovarium polikistik atau polycistic ovarian syndrome (PCOS)
merupakan salah satu penyebab ketidaksuburan (infertilitas) karena kegagalan
terjadinya proses ovulasi, keluarnya sel telur (ovum) dari indung telur
(ovarium). Sindrom ovarium polikistik didefinisikan sebagai kumpulan gejala
yang ditandai dengan adanya proses anovulasi (tidak keluarnya ovum) kronis
disertai

perubahan

endokrin

(seperti

hiperinsulinemia

dan

hiperandrogenemia). Beberapa komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi


pada pengidap sindrom ovarium polikistik meliputi peningkatan risiko
diabetes melitus tipe 2, gangguan toleransi glukosa (resistensi insulin), kadar
lipid dalam darah abnormal (dislipidemia), penyakit kardiovaskular,
penebalan dinding rahim, dan infertilitas (Lord et al., 2008).
Di Amerika sindrom ovarium polikistik biasanya terjadi pada usia
reproduktif (antara 15 sampai 40 tahun) dan angka kejadiannya sekitar 510%. Meskipun angka kejadian PCOS dijumpai cukup tinggi pada wanita
usia reproduktif, penyebab pastinya hingga kini belum banyak diketahui
(Baziad, 2012).
Sindrom ovarium polikistik pertama sekali ditemukan oleh Stein dan
Leventhal pada sekitar tahun 1935.Kelainan atau sindrom ini bukanlah
sebuah penyakit, melainkan kelompok gejala. Gambaran klinis yang dijumpai
pada umumnya berupa amenorea (tidak ada menstruasi/haid), oligomenorea
(haid yang sedikit), infertilitas (ketidaksuburan), hirsutisme (tumbuhnya
rambut berlebihan), adipositas (kegemukan), dan pembesaran kedua ovarium
(DeCherney et al., 2007).
Meskipun penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, namun
terdapat kemajuan dalam bidang endokrinologi, biokimia, dan farmakologi
untuk memberikan pengobatan yang menggembirakan, termasuk terapi yang
bersifat farmakologi maupun operatif. Mengingat tindakan operatif
memberikan angka keberhasilan yang cukup tinggi maka diperlukan suatu
pembahasan yang dapat menambah wawasan mengenai Sindroma Ovarium
Polikistik.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dan etiologi pada Sindroma Ovarium
Polikistik.
2. Untuk mengetahui tanda gejala dan penegakan diagnosis pada Sindroma
Ovarium Polikistik.
3. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada Sindroma Ovarium Polikistik.
4. Untuk mengetahui komplikasi dan prognosis pada Sindroma Ovarium
Polikistik.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi
2

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah suatu kelainan


heterogen berupa anovulasi kronik dan hiperandrogenik yang tidak dapat
dijelaskan penyebabnya, di mana semua penyebab sekunder (neoplasma yang
mensekresi androgen) telah disingkirkan (William et al., 2007). PCOS
bukanlah suatu penyakit namun merupakan suatu kumpulan gejala (POGI,
2006) dengan karakteristik berupa adanya anovulasi persisten dan manifestasi
klinis berupa kista multipel pada ovarium, amenore sekunder atau
oligomenore dan infertilitas (Norwitzt et al., 2006).
B. Etiologi
Etiologi PCOS masih belum diketahui, dan tidak ada gen atau
substansi lingkungan spesifik yang terbukti mengakibatkan terjadinya PCOS
(Norwitz

et

al.,

2006),

meskipun

beberapa

penelitian

mencoba

menghubungkan kejadian PCOS dengan pengaruh genetik melalui aktifitas


5-reduktase (William et al., 2007).
Menurut POGI (2006) penyebab terbanyak PCOS adalah akibat
adanya gangguan hormonal. Gangguan hormonal berupa resistensi insulin,
adanya deposit lemak sentral (obesitas) dan Diabetes Mellitus tipe 2 sering
dianggap berhubungan dengan kejadian PCOS pada wanita usia subur
(William et al., 2007).
C. Epidemiologi
Penelitian tentang prevalensi PCOS masih terbatas. Di Amerika
Serikat prevalensinya berkisar 4-6%. Menurut Leventhal sindroma ini terjadi
1% - 3 % dari semua wanita steril, 3%-7% wanita yang mempunyai
pengalaman ovarium polikistik serta 15-25% wanita usia reproduksi akan
mengalami siklus yang tidak berovulasi. Sebanyak 75% dari siklus yang tidak
berovulasi itu berkembang menjadi anovulasi kronis dalam bentuk Ovarium
polikistik (OPK). Telah ditemukan bahwa 80% dari kelainan ovarium
polikistik ini secara klinis tampil sebagai Penyakit Ovarium Polikistik
(POPK). Pada 5-10% wanita usia reproduksi, Penyakit Ovarium polikistik ini
akan bergejala lengkap sebagai Sindroma Ovarium polikistik (SOPK)
(Fauser, 2012).
D. Faktor resiko
3

Faktor Resiko PCOS yaitu (Pernoll, 2011) :


1. Riwayat PCOS dalam keluarga
Bila dalam satu keluarga terdapat penderita PCOS maka
kemungkinan terjadinya PCOS adalah 50%. PCOS dapat diturunkan dari
pihak bapak atau ibu kepada anaknya.
2. Riwayat keluarga dengan diabetes diperkirakan juga akan meningkatkan
resiko terjadinya PCOS oleh karena ada hubungan yang sangat kuat
antara kejadian diabetes dan PCOS.
3. Resistensi insulin
Resistensi insulin menyebabkan kenaikan kadar gula darah dan
diabetes. Lebih dari 40% penderita SOPK menunjukkan adanya resistensi
insulin, dan lebih dari 10% diantaranya akan menderita diabetes melitus
tipe 2 saat berusia sekitar 40 tahun. Kadar insulinyang tinggi seperti ini
dapat meningkatkan kadar hormon pria sehingga keluhan SOPK menjadi
semakin parah. Gangguan akibat dari resistensi insulin mengacu pada
metabolisme glukosa. Kompensasi akibat adanya hiperinsulinemia adalah
peningkatan kerja insulin dan menyebabkan efek-efek yang berlebihan
pada organ lain termasuk stimulasi sekresiandrogen ovarium oleh sel-sel
adrenal. Insulin juga dapat menurunkan produksi sexhormone-binding
globulin (SHBG) di liver.
4. Obesitas
Pada wanita pasca menopause, kebanyakan estrogen berasal dari
perubahan androstenedion menjadi estron pada jaringan lemak.
Kecepatan perubahan ini 15-20 kali lebih besar pada wanita gemuk. Oleh
karena itu, estrogen dalam darah wanitagemuk diketahui lebih tinggi.
Kadar estrogen yang tinggi diyakini dapat meningkatkan resiko polikistik
5.

ovarium.
Menstruasi terlalu dini (Menarche)
Wanita yang mulai menstruasi pada usia di bawah usia 12 tahun
memiliki resiko yanglebih tinggi karena adanya peningkatan waktu

paparan dinding rahim terhadapestrogen.


6. Tingkat kesuburan.
7. Hipotoroid atau hormon yang tidak seimbang.
8. Terapi tamosifen pada kanker mammae.
E. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala pada penderita PCOS (Ibanez et al., 2014):

1. Hirsutisme (tumbuhnya rambut tubuh yang berlebihan), contohnya :


2.
3.
4.
5.
6.

kumis
Akne / jerawat
Obesitas/kegemukan
Oligomenore (menstruasi yang jarang)
Amenore (tidak menstruasi)
Infertilitas.

F. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis harus difokuskan pada pola menstruasi, kehamilan
sebelumnya (jika ada), obat-obatan yang sedang dikonsumsi, konsumsi
merokok, konsumsi alkohol, pola makan, dan riwayat anggota keluarga
dengan

diabetes

atau

penyakit

kardiovaskular.

Ketidakteraturan

menstruasi (80%) terjadi segera setelah menarke, termasuk amenore


sekunder dan atau oligomenore (Norwitz et al.,2006).
Pada 75% penderita PCOS mengalami infertilitas akibat
anovulasi kronik, dan beberapa ditemukan memiliki gejala sisa pada
jangka panjang. Gejala sisa pada penderita PCOS dapat berupa penyakit
kardiovaskular dan dislipidemia; intoleransi glukosa atau diabetes
mellitus yang tidak tergantung insulin (DM tipe 2); hiperplasia
endometrium atau adenokarsinoma akibat pajanan estrogen kronik pada
uterus (Norwitz et al., 2006).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada penderita PCOS harus ditujukan pada
tanda-tanda hirsutisme (William et al., 2007) yaitu kebotakan, jerawat
(akne), klitoromegali (pembesaran klitoris), distribusi rambut pada tubuh
(muka, di atas bibir, dada, linea alba) [POGI, 2006], pengecilan
payudara, dan tanda-tanda resistensi insulin (obesitas, distribusi lemak
sentripetal, akantosis nigrikans). Sedangkan pada pemeriksaan bimanual
dapat juga ditemukan ovarium yang membesar (Norwitz et al., 2006).
Hirsutisme (70%) adalah suatu keadaan dimana ditemukan pola
pertumbuhan rambut pria (diatas bibir, dagu, dada, punggung) pada
seorang wanita. Sedangkan akantosis nigrikans adalah penanda
dermatologis akibat resistensi insulin dan hiperinsulinemia yang ditandai
dengan perubahan warna kulit menjadi abu-abu kecoklatan, halus,

kadang-kadang seperti veruka pada leher, selangkangan dan aksila. Oleh


sebab itu, efek-efek ekstrem dari anovulasi kronik hiperandrogenik dari
PCOS

disebut

sebagai

Sindrom

HAIR-AN

(hiperandrogenisme,

resistensi insulin, dan akantosis nigrikans) (Norwitz et al., 2006).


3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium

seperti

testosterone

(T)

atau

dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAS) bermanfaat untuk menunjukkan


hiperandrogenisme ovarium. Tumor yang mensekresi androgen pada
ovarium atau kelenjar adrenal juga selalu disertai dengan kadar androgen
dalam sirkulasi yang meningkat, tetapi tidak terdapat kadar absolut yang
bersifat patognomonik untuk suatu tumor atau kadar minimum yang
dapat menyingkirkan kemungkinan adanya tumor (Norwitz et al., 2006).
Kadar T yang tinggi selalu berasal dari ovarium (> 1,5 ng/ml),
sedangkan kadar DHEAS yang tinggi selalu berasal dari suprarenal (> 57ng/ml) [POGI, 2006].
Indikasi pemeriksaan T maupun DHEAS dapat di lihat dari ringan
beratnya pertumbuhan rambut. Bila pertumbuhan rambut yang terlihat
hanya sedikit saja (ringan), maka kemungkinan besar penyebab tingginya
androgen serum adalah akibat gangguan pada ovarium yaitu berupa
anovulasi kronik, sedangkan bila terlihat pertumbuhan rambut yang
mencolok, maka peningkatan androgen kemungkinan besar berasal dari
kelenjar supra renal yang dapat berupa hiperplasia, atau tumor (POGI,
2006).
USG dan atau laparoskopi merupakan alat utama untuk diagnosis
PCOS. Dengan USG, hampir 95 % diagnosis dapat dibuat. Pada USG
terlihat gambaran seperti roda pedati, atau folikel-folikel kecil
berdiameter 7-10 mm. Baik dengan USG, maupun dengan laparoskopi,
ke dua, atau salah satu ovarium pasti tampak membesar (POGI, 2006).
Wanita dengan PCOS menunjukkan kadar FSH, PRL (prolaktin),
dan E (estrogen) normal, sedangkan LH sedikit meningkat (rasio
LH/FSH>3). LH yang tinggi ini akan meningkatkan sintesis T di
ovarium, dan membuat stroma ovarium menebal (hipertikosis). Kadar T
yang tinggi juga mengakibatkan folikel mengalami atresia (POGI, 2006).

Menurut William et al. (2007), diagnosis PCOS ditegakkan


berdasarkan adanya kritera mayor dan kriteria minor. Diagnosis PCOS
ditegakkan berdasarkan dengan minimal dua kriteria mayor atau satu
kriteria mayor ditambah kriteria minor.
Kriteria mayor meliputi: anovulasi dan hiperandrogenisme baik
secara klinis ataupun laboratorium. Dimana keadaan ini tidak ditemukan
pada penyakit lain yang juga berhubungan dengan hiperandrogenisme
(seperti gangguan adrenal, neoplasma ovarium, dan sindrom cushing) atau
anovulasi (gangguan hipo atau hipergonadotropik, hiperprolaktinemia, dan
penyakit tiroid) (William et al., 2007).
Sedangkan kriteria minor meliputi: resistensi insulin, onset saat
permenarke pada hirsutisme dan obesitas, adanya peningkatan rasio LH
dan

FSH,

dan

anovulasi

intermiten

yang

berhubungan

dengan

hiperandrogenemia (testosterone bebas, DHEAS) (William et al., 2007).


G. Patogenesis
Patogenesis SOPK kurang jelas diketahui, namun diduga bahwa
defek

primer

kemungkinan

karena

adanya

resistensi

insulin

yang

menyebabkan hiperinsulinemia (Hardiman, 2008).


Konsentrasi insulin dan LH didalam sirkulasi secara umum akan
meningkat. Sel theca yang membungkus folikel dan memproduksi androgen
yang nantinya akan dikonversi menjadi estrogen didalam ovarium menjadi
sangat aktif dan responsif terhadap stimulasi LH. Sel theca akan lebih besar
dan akan menghasilkan androgen lebih banyak. Sel-sel theca yang hiperaktif
ini akan terhalang maturasinya sehingga akan menyebabkan sel-sel granulosa
tidak

aktifdan

aktifitas

aromatisasinya

menjadi

minimal.

Akibat

ketidakmatangan folikel-folikel tersebut maka terjadi pembentukan kista-kista


dengan diameter antara 2-6mm dan masa aktif folikel akan memanjang,
sehingga akan terbentuk folikel-folikel baru sebelum folikel yang lain mati.
Folikel-folikel tersebut akan berbentuk seperti kista yang dilapisi oleh sel-sel
theca yang hiperplastik yang mengalami liteinasi sebagai respon peningkatan
kadar LH (Hardiman, 2008).

Gambar 2.1 Patomekanisme Sindroma Ovarium Polikistik (David, 2005)


H. Patofisiologi
Sindrom ovarium polikistik (PCOS) merupakan tahap akhir dari suatu
siklus perusak akibat peristiwa-peristiwa endokrinologis yang dapat diawali
dari banyak titik yang berbeda. Masih belum jelas apakah patologi primernya
berada di ovarium atau pada hipotalamus, tetapi kerusakan yang mendasar
tampaknya adalah karena pengiriman sinyal yang tidak seharusnya ke
hipotalamus dan hipofisis. Kadar LH yang meningkat (tanda khas PCOS)
disebabkan oleh peningkatan produksi estrogen perifer (umpan balik negatif)
dan peningkatan sekresi inhibin. Sedangkan kadar FSH yang tertekan

diakibatkan oleh peningkatan produksi estrogen perifer (umpan balik positif)


dan peningkatan sekresi GnRH (Norwitz et a.l, 2006).
PCOS ditandai oleh keadaan menetap dari LH yang meningkat
secara kronik dan kadar FSH yang tertekan secara kronik, meskipun terdapat
peningkatan dan penurunan yang bersifat siklik yang terlihat dalam siklus
menstruasi normal. LH yang meningkat menstimulasi stroma ovarium dan
sel-sel teka untuk meningkatkan produksi androgen. Androgen dikonversi di
perifer melalui aromatisasi menjadi estrogen yang memperparah anovulasi
kronik. Sedangkan akibat dari FSH yang tertekan, pertumbuhan folikel baru
terus-menerus distimulasi tetapi tidak sampai titik pematangan dan ovulasi
penuh (korpus luteum dan korpus albikan jarang terdeteksi). Androgen yang
meningkat berperan terhadap pencegahan perkembangan folikel normal dan
induksi atresia premature (Norwitz et al., 2006).
Penambahan jaringan adiposa pada pasien yang mengalami obesitas
turut berperan terhadap aromatisasi ekstraglandular androgen menjadi
estrogen. Sedangkan testosterone dalam sirkulasi meningkat (menyebabkan
hirsutisme) karena kadar globulin pengikat hormone seks (sex hormonebinding globulin, SHBG) menurun pada PCOS. Ovarium merupakan lokasi
utama overproduksi androgen pada PCOS sedangkan kelenjar adrenal hanya
memiliki peran kecil (Norwitz et al., 2006).

Gambar 2.2 Patofisiologi PCOS (Norwitz et al., 2006)


I. Gambaran histopatologi
Secara makroskopis, ovarium pada wanita dengan PCOS berukuran 2
hingga 5 kali lipat dari ukuran normal (Wood et al., 2008). Pada potongan
melintang permukaan ovarium tampak adanya penebalan korteks dan
ditemukan kista yang multipel yang secara tipikal dengan diameter kurang
dari 1 cm (DeCherney et al., 2007).
Sedangkan secara mikroskopis,

korteks

superficial

ovarium

mengalami fibrotik dan hiposelluler, dan mungkin mengandung pembuluh


darah prominent (William et al., 2007). Selain itu tampak folikel atretik yang
lebih kecil, dimana dijumpai peningkatan jumlah folikel dengan luteinisasi
teka interna, dan mungkin juga ditemukan luteinisasi pada sel stroma
(DeCherney et al., 2007).

10

Gambar 2.3 Gambaran patologi polikistik ovarium sindrom (sumber :


DeCherney et al., 2007)

J. Penatalaksanaan
1. Terapi Lama
a. Reseksi baji ovarium (ovarian wedge resection)
Dapat dilakukan secara laparatomi atau laparoskopi.
Direkomendasikan oleh Kismer dan Patton terhadap pasien
SPOKyang mengalami ovilasipada pemberian clomifen sitrat namun
tidak terjadi kehamilan. keduanya menganjurkantindakan reseksi baji
dilakukan pada pasien yang tidak mengalami kehamilan setelah
7atau 8 kali siklus pengobatan dengan clomiphene citrat. Pada
reseksi baji ovariumdilakukan insisi 2-3 cm pada korteks ovarium
yang menebal.Insisi dibuat sesuai dengan alur ovarium, dan
dihindari
perdarahan

daerah
yang

medulladiangkat

hilus

ovarium

banyak.
dan

untukmengjindari

Melalui

sebanyak

lubang

mungkin

terjadinya

insisi

korteks

bagian
ovarium

dipertahankan (Azziz, 2006).


2.

Terapi Baru
Penatalaksanaan pada PCOS diarahkan pada interupsi siklus
anovulatorik kronik hiperandrogenik yang terus berlanjut (Jakubowicz et
al., 2012). Penurunan berat badan dapat mengurangi sekresi androgen
pada wanita obes yang mengalami hirsutisme dengan cara menurunkan
aromatisasi estrogen perifer dan menurunkan hiperinsulinemia (Norwitz
et al., 2006).
a. Terapi medikamentosa
1) Kontrasepsi oral merupakan pilihan utama tata laksana PCOS
jangka panjang dengan cara menurunkan sekresi LH dan FSH

11

serta produksi androgen pada ovarium, meningkatkan produksi


SHBG di hati, menurunkan kadar DHEA, dan mencegah
neoplasia endometrium. Siproteron asetat (standar inggris),
spironolakton, atau eflornitin topikal dapat membantu pasien
yang mengalami hirsutisme berlebihan.
2) Progestin terlihat dapat menekan LH dan FSH hipofisis serta
androgen yang ada dalam sirkulasi, tetapi perdarahan di luar
menstruasi sering terjadi.
3) Agen yang mesensitisasi insulin (metformin) menurunkan kadar
androgen dalam sirkulasi, memperbaiki kecepatan ovulasi, dan
memperbaiki tolerasi glukosa. Meskipun demikian, obat tersebut
saat ini belum disetujui untuk digunakan dalam PCOS (Ibanez
et al., 2014).
4) Klomifen sitrat secara umum telah menjadi pengobatan lini
pertama untuk wanita yang menginginkan kehamilan.
b.

Terapi bedah
1) Ovarian

drilling,

yaitu

tindakan

pembedahan

dengan

menggunakan laser atau diatermi. Tindakan ini memiliki


beberapa

keuntungan

dibandingkan

dengan

terapi

medikamentosa untuk infertilitas, namun tidak terlihat memiliki


manfaat jangka panjang dalam memperbaiki kelainan metabolik.
2) Pengangkatan rambut secara mekanik (vaporasi laser,
elektrolisis

(elektrocauter),

krim

depilatory)

seringkali

merupakan lini pertama terapi hirsutisme.


K. Komplikasi
Komplikasi utama yang dikhawatirkan pada penderita PCOS adalah
terjadinya infertilitas (Bulun et al., 2011). Infertilitas merupakan suatu
keadaan dimana pasangan suami istri tidak mampu menghasilkan keturunan
meskipun telah melakukan hubungan seksual yang teratur (2-3 kali seminggu)
dan tidak menggunakan kontrasepsi (Norwitz et al., 2006). Dengan adanya
kelainan metabolik pada penderita PCOS yang berupa resistensi insulin akibat
obesitas dapat mengakibatkan terjadinya DM tipe 2, serta penyakit
kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner atau aterosklerosis (POGI,

12

2006), infark miokard (William et al., 2007), dan infertilitas (Bulun et al.,
2011).
L. Prognosis
Dengan adanya pengobatan yang benar PCOS memiliki prognosis
baik dan memungkinkan terjadinya kehamilan. Namun adanya PCOS
meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular dan cerebrovaskular dengan
adanya hiperandrogenisme dan peningkatan apolipoprotein. Sebanyak 4%
pasien

dengan

PCOS

memiliki

resiko

resistensi

insulin

sehingga

meningkatkan resiko diabetes mellitus tipe 2 dengan konsekuensi komplikasi


kardiovaskular. Penderita PCOS juga beresiko mengalami hiperplasia dan
karsinoma endometrium (Hardiman et al., 2008).

III.

KESIMPULAN

1. Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah suatu kelainan heterogen


berupa anovulasi kronik dan hiperandrogenik yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya, di mana semua penyebab sekunder (neoplasma yang
mensekresi androgen) telah disingkirkan.
2. Etiologi PCOS masih belum jelas, namun diduga berhubungan dengan
resistensi insulin, obesitas dan DM tipe 2.
3. PCOS merupakan kumpulan gejala, bukan merupakan suatu penyakit.
Diagnosis PCOS ditegakkan berdasarkan dengan minimal dua kriteria mayor
yang meliputi: anovulasi kronik, hiperandrogenemia, tanda-tanda klinis dari
hiperandrogenisme, dan tidak ada penyebab lain (etiologi lain telah
13

disingkirkan). Atau 1 kriteria mayor ditambah kriteria minor yang meliputi:


resistensi insulin, onset saat permenarke pada hirsutisme dan obesitas, adanya
peningkatan rasio LH dan FSH, dan anovulasi intermiten yang berhubungan
dengan hiperandrogenemia (testosterone bebas, DHEAS).
4. Penanganan PCOS meliputi terapi medikamentosa dan penanganan bedah.
Terapi medikamentosa meliputi kontrasepsi oral, Progestin, Agen yang
mesensitisasi

insulin

(metformin)

dan

Klomifen

sitrat.

Sedangkan

penanganan bedah meliputi ovarian drilling dengan menggunakan laser atau


diatermi, serta dengan pengangkatan rambut secara mekanik [vaporasi laser,
elektrolisis (elektrocauter), krim depilatori].
5. Penderita PCOS beresiko mengalami

gangguan

kardiovaskular

(aterosklerotik), infertilitas dan gangguan metabolic (DM tipe 2).

14