Anda di halaman 1dari 13

FLUIDISASI

Suhendrayatna

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala


Jalan Tgk. Syech Abdurrauf No. 7C, Darussalam Banda Aceh, 23111

1. Pengertian Fluidisasi
Fluidisasi adalah metoda pengontakan butiran-butiran padatan dengan fluida
baik cair maupun gas. Metoda ini diharapkan butiran padatan memiliki sifat seperti fluida
dengan viskositas tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjau suatu kolom berisi sejumlah partikel
padat berbentuk bola. Melalui unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dari bawah ke
atas. Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas
hanya mengalir dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat
akan tetap diam, karena gas hanya mengalir melalui ruang antar partikel tanpa
menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut
unggun diam atau fixed bed. Keadaan fluidisasi unggun diam tersebut ditunjukkan pada
Gambar 1a.

Unggun
diam (A)

Unggun
terfluidakan
(B)

Gambar 1 Skema unggun diam dan unggun terfluidakan

Kalau laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan di mana
unggun padatan akan tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini
masing-masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak
dengan lebih mudah. Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini, sifat unggun akan
menyerupai suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan
untuk mengalir, mempunyai sifat hidrostatik dan sebagainya. Sifat unggun terfluidisasi
ini dapat dilihat pada Gambar 1b. Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam
banyak hal seperti transportasi serbuk padatan (conveyor untuk solid), pencampuran
padatan halus, perpindahan panas (seperti pendinginan untuk bijih alumina panas),
pelapisan plastik pada permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembakaran,
proses pertumbuhan partikel dan kondensai bahan yang dapat mengalami sublimasi,
adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan adsorben), dan masih banyak aplikasi lain.
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

Gambar 2 Sifat Cairan dalam Unggun terfluidisasi

Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada prose fluidisasi antara lain:


(1) Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum
yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan
tetap diam. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 1a.
(2) Fenomena minimum or incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida
mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi
ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar
1b.
(3) Fenomena smooth or homogenously fluidization terjadi ketika kecepatan dan
distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun sama
atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam. Kondisi ini
ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3 Fenomena smooth or homogenously fluidization


(4) Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung gelembung pada
unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini
ditunjukkan pada Gambar 4.
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

Gambar 4 Fenomena bubbling fluidization

(5) Fenomena slugging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung besar


yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat.
Pada kondisi ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel padat seperti
terangkat. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5 Fenomena slugging fluidization

(6) Fenomena chanelling fluidization yang terjadi ketika dalam ungggun partikel
padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan
pada Gambar 6.

Gambar 6 Fenomena chanelling fluidization

(7) Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui
kecepatan maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan
terbawa aliran fluida dan ekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini
ditunjukkan pada Gambar 7.
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor:


(1) laju alir fluida dan jenis fluida
(2) ukuran partikel dan bentuk partikel
(3) jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
(4) porositas unggun
(5) distribusi aliran,
(6) distribusi bentuk ukuran fluida
(7) diameter kolom
(8) tinggi unggun.
Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang
akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. Karakteristik unggun
terfluidakan digambarkan pada kurva karakteristik fluidisasi yang merupakan plot antara
log U dan log P. Persamaan yang digunakan adalah Persamaan Ergun dan Persamaan
Wen Yu.
Proses fluidisasi biasanya dilakukan dengan cara mengalirkan fluida gas atau cair
ke dalam kolom yang berisi unggun butiran-butiran padat. Pada laju alir yang kecil aliran
hanya menerobos unggun melalui celah-celah/ ruang kosong antar partikel, sedangkan
partikel-partikel padat tetap dalam keadaan diam. Kondisi ini dikenal sebagai fenomena
unggun diam. Saat kecepatan aliran fluida diperbesar sehingga mencapai kecepatan
minimum, yaitu kecepatan saat gaya seret fluida terhadap partikel-partikel padatan lebih
atau sama dengan gaya berat partikel-partikel padatan tersebut, partikel yang semula
diam akan mulai terekspansi, Keadaan ini disebut incipient fluidization atau fluidisasi
minimum. Jika kecepatan diperbesar, akan terjadi beberapa fenomena yang dapat
diamati secara visual dan pada kondisi inilah partikel-partikel padat memiliki sifat seperti
fluida dengan viskositas tinggi.
Karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat fluida cair dengan
viskositas tinggi, metoda pengontakan fluidisasi memiliki beberapa keuntungan dan
kerugian. Keuntungan proses fluidisasi, antara lain:
(1) sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat
secara kontinu dan memudahkan pengontrolan,
(2) kecepatan pencampuran yang tinggi membuat reaktor selalu berada dalam kondisi
isotermal sehingga memudahkan pengendaliannya,
(3) sirkulasi butiran-butiran padat antara dua unggun fluidisasi memungkinkan
pemindahan jumlah panas yang besar dalam reaktor,
(4) perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukup tinggi,
(5) perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas
yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas
permukaan kecil.
Sebaliknya, kerugian proses fluidisasi antara lain:
(1) selama operasi partikel-partikel padat mengalami pengikisan sehingga
karakteristik fluidisasi dapat berubah dari waktu ke waktu,
(2) butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya sejumlah
tertentu padatan,
(3) adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin,

Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

(4)

2.

terjadinya gelombang dan penorakan di dalam unggun sering kali tidak dapat
dihindari sehingga kontak antara fluida dan partikel tidak seragam. Jika hal ini
terjadi pada reaktor, konversi reaksi akan kecil.
Hilang Tekanan (Pressure Drop)

Aspek utama yang akan ditinjau adalah mengetahui besarnya hilang tekan
(pressure drop) di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal tersebut mempunyai
arti yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya dengan besarnya energi
yang diperlukan, juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama
operasi berlangsung. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun terfluidakan
terutama dihitung berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam,
terutama oleh Balke, Kozeny, Carman, ataupun peneliti-peneliti lainnya.
2.1

Hilang Tekan dalam Unggun Diam


Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubuangan antara hilang
tekan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertama kali
pada tahun 1922 oleh Blake melalui metoda-metoda yang bersifat semi empiris, yaitu
dengan menggunakan bilangan-bilangan tidak berdimensi. Untuk aliran laminer dengan
kehilangan energi terutama disebabkan oleh gaya viscous, Blake memberikan hubungan
seperti berikut:

dimana:
P/L
gc

................................... (1)

= hilang tekan per satuan panjang/ tinggi unggun


= faktor gravitasi
= viskositas fluida
= porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume
ruang kosong di dalam unggun dengan volume unggun
u = kecepatan alir superfisial fluida
S = luas permukaan spesifik partikel

Luas permukaan spesifik partikel (luas permukaan per satuan volume unggun) dihitung
berdasarkan korelasi berikut:
................................. (2)
sehingga persamaan tersebut menjadi:

Atau

Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

............... (3)

................... (4)
dimana k adalah konstanta fludisasi dan k=36 k (Tabel 1). Persamaan ini kemudian
diturunkan lagi oleh Kozeny (1927) dengan mengasumsikan bahwa unggun zat padat
tersebut adalah ekivalen dengan satu kumpulan saluran-saluran lurus yang paralel yang
mempunyai luas permukaan dalam total dan volume dalam total masing-masing sama
dengan luas permukaan luar partikel dan volume ruang kosongnya.
Harga konstanta k diperoleh beberapa peneliti berbeda-beda seperti ditunjukkan pada
Tabel 1 berikut:
No.
1
2
3

k
150
180
200

Tabel 1 Konstanta Empirik Fluidisasi


Sumber
Kozeny (1927)
Carman (1937)
US Bureau of Mines (1951)

Untuk aliran turbulen, persamaan tersebut tidak dapat digunakan lagi sehingga Ergun
menurunkan rumus yang lain (1952) dimana kehilangan tekanan digambarkan sebagai
gabungan dari viscous losses dan kinetic energy loss.

losses energy

........ (5)

kinetic losses viscous

dimana k1 = 150 dan k2 = 1,75


Pada keadaan ekstrem, yaitu bila:
a. aliran laminer (Re<20), kinetic energy losses dapat diabaikan, sehingga

......................... (6)
b. aliran turbulen (Re>1000), viscous losses dapat diabaikan, sehingga:

................. (7)
2.2

Hilang Tekan pada Unggun Terfluidakan (Fluidized Bed)


Pada unggun terfluidakan, persamaan yang menggambarkan hubungan p/l dan u
yang biasanya digunakan adalah persamaan Ergun, yaitu:
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

.......... (8)
dimana f adalah porositas unggun pada keadaan terfluidakan. Pada keadaan ini,
dimana partikel-partikel zat padat seolah-olah terapung di dalam fluida sehingga terjadi
kesetimbangan antara berat partikel dengan gaya seret dan gaya apung dari fluida di
sekelilingnya:
Atau

[gaya seret oleh fluida yang naik] = [berat partikel]-[gaya apung]

[hilang tekan pada unggun] x [luas penampang] = [volume unggun] x [fraksi zat padat] x
[densitas zat padat densitas fluida]

.............................. (9)

................................ (10)
3.

Kecepatan Minimum fluidisasi


Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi Umf)
adalah kecepatan superfisial fluida minimum dimana fluidisasi mulai terjadi. harganya
diperoleh dengan mengombinasikan persaman Ergun dengan persamaan neraca massa
pada unggun terfluidakan, menjadi:

(11)
Untuk keadaan ekstrem, yaitu:
1. aliran laminer (Re<20), kecepatan fluidisasi minimumnya adalah:

.. (12)
2. aliran turbulen (Re>1000), kecepatan fluidisasi minimumnya adalah
Beberapa persamaan lain untuk menghitung harga Umf dapat dilihat di dalam pustaka.
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

Karakteristik Unggun Terfluidakan


Karakteristik unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik
antara penurunan tekanan (P) dan kecepatan superfisial (u). Untuk keadaan yang
ideal, kurva hubungan ini berbentuk seperti Gambar 8.

Gambar 8 Kurva karakteristik fluidisasi ideal

Garis A-B dalam grafik menunjukkan hilang tekan pada daerah unggun diam (porositas
unggun = 0). Garis B-C menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan. Garis
D-E menunjukkan hilang tekan dalam daerajh unggun diam pada waktu menurunkan
kecepatan alir fluida. Harga penurunan tekanannya, untuk kecepatan aliran fluida
tertentu, sedikit lebih rendah dari pada harga penurunan tekanan pada saat awal
operasi.
Penyimpangan dari keadaan ideal
1. Interlock
Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya
terjadi pada kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah
saling melepaskan pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat
partikel. Pada kenyataannya, keadaan di atas tidak selamanya bisa terjadi karena
adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu dengan lainnya
(interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan (P) sesaat sebelum fluidisasi
terjadi. Fenomena interlock ini dapat dilihat pada Gambar 9, terjadi pada awal fluidisasi
saat terjadi perubahan kondisi dari unggun tetap menjadi unggun terfluidakan.
2. Fluidisasi heterogen (aggregative fluidization)
Jenis penyimpangan yang lain adalah kalau pada saat fluidisasi partikel-partikel
padat tidak terpisah-pisah secara sempurna tetapi berkelompok membentuk suatu
agregat. Keadaan yang seperti ini disebut sebagai fluidisasi heterogen atau aggregative
fluidization. Tiga jenis fluidisasi heterogen yang biasa terjadi adalah karena timbulnya:
a. penggelembungan (bubbling), ditunjukkan pada Gambar 10a,
b. penorakan (slugging), ditunjukkan pada Gambar 10b,
c. saluran-saluran fluida yang terpisahkan (chanelling), ditunjukkan pada Gambar 10c,

Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

Gambar 9 Kurva karakteristik fluidisasi tidak ideal karena terjadi interlock

(A)

(B)
Gambar 10 Tiga jenis agregative fluidization

(C)

Bentuk kurva karakteristik untuk unggun terfluidakan yang mengalami penyimpangan


dari keadaan ideal yang disebabakan oleh tiga jenis fenomena di atas dapat dilihat
dalam pustaka (1) dan (3).
5.
5.1

Evaluasi Parameter-Parameter dalam Peristiwa Fluidisasi


Densitas Partikel
Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang tidak menyerap air atau zat
cair lain bisa dilakukan dengan memakai piknometer. Sedangkan untuk partikel berpori,
cara di atas akan menimbulkan kesalahan yang cukup besar karena air atau cairan akan
memasuki pori-pori di dalam partikel, sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel
(berikut pori-porinya) seperti yang diperlukan di dalam persamaan-persamaan yang
ditulis di muka, tetapi densitas bahan padatnya (tidak termasuk pori-pori di dalamnya).
Untuk partikel-partikel yang demikian, ada cara lain yang biasa digunakan, yaitu
dengan memakai metoda yang diturunkan Ergun. Prosedur percobaannya bisa dilihat di
dalam pustaka 3 dalam Daftar Pustaka, di halaman 57 dan 58.
5.2

Bentuk Partikel
Di dalam persamaan-persamaan yang telah diturunkan sebelumnya partikelpartikel padatnya dianggap sebagai butiran-butiran yang berbentuk bola dengan
diameter rata-rata dp. Untuk partikel-partikel yang mempunyai bentuk lain, harus
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

diadakan suatu koreksi yang menyatakan bentuk sebenarnya partikel yang ditinjau.
Faktor koreksi ini disebut sebagai faktor bentuk atau derajat kebolaan suatu partikel
yang didefinisikan sebagai:

.......... (14)
Derajat kebolaan (s) bisa dipakai langsung dalam persamaan-persamaan terdahulu
dengan mengganti dp menjadi s.dp, sehingga persamaan Ergun dapat ditulis menjadi:
.... (15)
dimana s = 1 untuk partikel berbentuk bola
s < 1 untuk partikel berbentuk bola
5.3

Diameter Partikel
Diameter partikel biasanya diukur berdasarkan analisa ayakan. Prosedur
penentuan dan perhitungan bisa dilihat dalam pustaka ke-1 (dalam Daftar Pustaka)
halaman 67 sampai 69 atau pustaka ke-3 (dalam Daftar Pustaka) halaman 61. Prosedur
perhitungannya dapat dilihat pada Bagian V.4 Rancangan Percobaan, Contoh Data dan
Langkah Perhitungan.
5.4

Porositas Unggun
Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun yang secara
matematik bisa ditulis sebagai berikut:

dimana

= porositas unggun
Vu = volume unggun
Vp = volume partikel

Harga porositas unggun ini sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri butiran padat yang
membentuk unggun tersebut, atau dengan perkataan lain, porositas unggun merupakan
fungsi dari faktor bentuk atau derajat kebolaan partikel-partikelnya. Salah satu hasil
eksperimen yang menggambarkan pengaruh derajat kebolaan terhadap porositas
unggun diberikan oleh Brown dan diperlihatkan pada Gambar 11.
6.

Pendekatan dalam Percobaan


Pengukuran densitas partikel dilakukan menggunakan piknometer dengan
valome tertentu dengan tipol sebagai fluidanya. Tipol digunakan karena memiliki
tegangan permukaan dan viskositas tinggi sehingga cenderung tidak memasuki pori-pori
partikel. Dengan demikian asumsu partikel padatan berbentuk bola dapat digunakan.
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

10

Kecepatan minimum fluidisasi dapat ditentukan secara grafis dan teoritis. Teknik
grafis dapat dilakukan apabila tersedia kurva karakteristik fluidisasi. (antara log u
terhadap log P). Dengan menarik garis vertikal pada titik mulai konstannya log P atau
titik yang menunjukkan adanya fenomena interlock dapat diperpikrakan Umf. Karena
fluktuasi nilai dibanding kurva fluidisasi ideal, perkiraan ini kurang akurat. Supaya Umf
perkiraan mendekati nilai sebenarnya, penarikan garis pada titik konstan P dilakukan
saat kurva fluidisasi mengalurkan data kecepatan tinggi ke rendah. Diharapkan saat
kecepatan menurun fenomena interlock dapat dikurangi. Interlock menyebabkan partikel
menyatu (biasanya karena basah atau karena kelembaban udara) sehingga kecepatan
udara yang dibutuhkan untuk memfluidisasikan partikel tersebut juga bertambah besar.
Akibatnya umf yang teramati cenderung lebih tinggi daripada nilai sebenarnya.

Gambar 11 Hubungan antara derajat kebolaan partikel dengan porositas unggun

7.

Perhitungan Laju Fluidisasi Teoritis

Perhitungan laju fluidisasi terbagi atas perhitungan laju fluidisasi minimum (

) untuk
'
v
mengangkat partikel-partikel pasir dan perhitungan fluidisasi maksimum ( ) yang
merupakan kecepatan maksimum fluidisasi bahan.
'
v mf

7.1

Fluidisasi Minimum
Laju fluida gas untuk menghasilkan fluidisasi minimum dihitung dengan
menggunakan persamaan yang dirumuskan oleh Wen dan Yu (10). Pendekatan Wen-Yu
digunakan mengingat nilai fraksi kosong () dan faktor sperik () bahan tidak diketahui.
Dalam persamaan ini, nilai fraksi kosong () dan faktor sperik () bahan didekati
dengan menggunakan persamaan:
1 mf
1
11
14
3
3
s mf
s2 mf
dan
(16)
maka kecepatan minimum gas untuk mencapai fluidisasi adalah:
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

11

d p u mf g

(7,2 10 )u

1,9 10

mf

1,137

d 3p g s g g
2
= (33,7 ) + 0,0408

1/ 2

33.7

7,2 10 4 1,137 2,04 10 3 1,137 9,8


2

= (33,7 ) + 0,0408
2

1,9 10 5

(17)
1/ 2

33.7

3,732 10 10 949,63
43,086 U mf = 1135,69 +
33,7
3,61 10 10

m
U mf = 0,28583
s
Jadi besar laju gas untuk mencapai fluidisasi minimum adalah 0,286 m/s.
Jika partikel pasir didekati sebagai pasir bulat, dengan faktor sperik () sebesar
0,86 dan fraksi kosong () sebesar 0,42 [Kunii, 1977], maka untuk partikel dengan
ukuran 20-30 mesh dengan laju linier gas pada kolom pengering sebesar 3 m/s, dengan
menggunakan persamaan Ergun diperoleh nilai Reynolds partikel sebesar:
d p ug g
Re p =
(1 ) g
1/ 2

7,2 10 4 3 1,13
(1 0,42) 1,845 10 5
Re p = 421,86
(regim transisi)
Jadi regim aliran partikel termasuk dalam regim transisi. Jika dilakukan perbandingan
antara laju gas aktual dengan laju gas minimum, diperoleh:
uf
3
=
= 10,5
k=
u mf 0,28583
Re p =

Jadi laju gas operasi aktual 10,5 kali laju gas minimum fluidisasi.
7.2

Fluidisasi Maksimum
Fluidisasi maksimum merupakan batas antara peristiwa terfluidisasinya partikel
padatan dengan peristiwa terbawanya partikel padatan tersebut (conveying). Untuk
bilangan Reynolds fluida gas (NRe,f) > 1000, digunakan persamaan empirik (9):
u 'f
9

u mf 1
(18)
Maka laju gas pada fluidisasi maksimum sebesar:
u 'f 9 u mf

( )

u 'f 9 (0,286) = 2,574

m
s
Jadi besar laju fluida gas pada fluidisasi maksimum adalah 2,574 m/s. Jika dibandingkan
dengan laju gas operasi aktual diperoleh:
m
3
uf
s
k= ' =
u f 2,574 m
s
Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

12

k = 1,165

Jadi operasi pengeringan dilakukan pada laju 1,165 kali laju gas pada fluidisasi
maksimum.
7.3

Skema Kecepatan Linier Gas Pengering


Dari perhitungan di atas dapat dibuat suatu skema laju gas pengering sebagai
berikut:
fluidisasi
maksimum

fluidisasi minimum

0,286

2,574

operasi

laju linier gas pengering [m/s]

Gambar 12 Skema laju gas pengering

Bahan Kuliah OTK-2 (Fluidisasi)

13