Anda di halaman 1dari 16

ARTIKEL ILMIAH

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN SYSTEMATIC


APPROACH TO PROBLEM SOLVING UNTUK
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR
FISIKA SISWA DI KELAS X MIA 3
SMAN 3 MUARO JAMBI

OLEH :
1. Chriskal Erisal
2. Drs. Menza Hendri, M.Pd
3. Nova Susanti, S.Pd, M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS JAMBI
DESEMBER 2014

Artikel ilmiah berjudul Penerapan Strategi Pembelajaran Systematic Approach


To Problem Solving Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Fisika Siswa Di
Kelas X MIA 3 SMAN 3 Muaro Jambi yang disusun oleh Chriskal Erisal
A1C308024 telah diperiksa dan disetujui.

Jambi,
Desember 2014
Pembimbing I

Drs. Menza Hendri, M.Pd


NIP. 19600929 198403 1 001

Jambi, Desember 2014


Pembimbing II

Nova Susanti, S.Pd, M.Si


NIP. 19821123 200604 2 003

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 1

Penerapan Strategi Pembelajaran Systematic Approach To Problem Solving


Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Fisika Siswa
Di Kelas X MIA 3 SMAN 3 Muaro Jambi
Chriskal Erisal, Drs. Menza Hendri, M.Pd, Nova Susanti, S.Pd, M.Si
ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai fisika siswa di SMA


Negeri 3 Muaro Jambi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu aktivitas siswa
dalam belajar dan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan yang masih
kurang terutama dalam menyelesaikan soal yang terdapat banyak hitungan. Hal ini
disebabkan antara lain siswa kekurangan buku pelajaran fisika yang berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari dan siswa malu untuk bertanya pada guru walaupun
belum mengerti dengan materi yang sedang dipelajari. Untuk itu peneliti mencoba
menerapkan suatu strategi pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan tersebut,
yaitu Strategi pembelajaran Systematic Approach To Problem Solving yang
menekankan pada penyelesaian soal secara sistematis. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah penerapan strategi pembelajaran pemecahan
masalah sistematis dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa di
kelas X MIA 3 SMA Negeri 3 Muaro Jambi.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan
sebanyak tiga siklus. Setiap siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi, evaluasi, analisis, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan
bahwa terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Hal
ini dapat dilihat dari peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, yaitu
pada siklus I rata-rata aktifitas siswa adalah 61,03%, terjadi peningkatan pada siklus
II menjadi 71,60% dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 90,46%. Peningkatan
hasil belajar pada aspek penilaian pengetahuan yang didapat siswa tiap akhir
siklusnya, dimana siklus I nilai rata-ratanya 2,56, pada siklus II adalah 2,57 dan
meningkat pada siklus III menjadi 3,11. Aspek sikap sosial didapat siklus I nilai rataratanya 2,39, pada siklus II adalah 2,98, dan pada siklus III menjadi 3,23. Untuk sikap
spiritual nilai yang didapat siswa dari siklus I, II, dan III persentase sikapnya selalu
100%. Hasil belajar aspek keterampilan didapat nilai rata-ratanya pada siklus I adalah
2,42, pada siklus II meningkat menjadi 2,72 dan meningkat lagi pada siklus III
menjadi 3,12.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa
dengan penerapan Strategi Pembelajaran Systematic Approach To Problem Solving
dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa di Kelas X MIA 3 SMA
Negeri 3 Muaro Jambi pada pokok bahasan Kinematika Gerak Lurus.
Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Systematic Approach To Problem Solving

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 2

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Fisika merupakan salah satu bagian ilmu pengetahuan alam yang berawal dari
fenomena alam. Bidang ilmu fisika tidak hanya merupakan kumpulan fakta tetapi
juga merupakan serangkaian proses ilmiah untuk mendapatkan fakta. Dalam konteks
sekolah, belajar fisika merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa. Keaktifan
siswa dalam pembelajaran fisika sangat penting sebab pembelajaran haruslah
berpusat pada siswa, bukan pada guru.
Berdasarkan hasil observasi melalui wawancara penulis dengan guru fisika di
Kelas X MIA SMA Negeri 3 Muaro Jambi
diperoleh keterangan bahwa
permasalahan dalam pembelajaran di kelas X MIA 3 antara lain siswa sulit
memahami materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini disebabkan oleh kemampuan
daya ingat serta kemampuan dasar berhitung yang dimiliki siswa masih kurang.
Permasalahan yang lain adalah siswa kurang mempunyai buku pelajaran fisika yang
berkaitan dengan materi yang akan dipelajari, sehingga siswa mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru dan hanya menunggu penyelesaian
soal tersebut dari guru tanpa mau berusaha sendiri. Guru juga jarang melakukan
percobaan dikarenakan keterbatasan alat dan waktu sehingga kemampuan
psikomotornya kurang terlatih.
Setelah beberapa kali penulis melakukan observasi pada saat proses
pembelajaran fisika berlangsung, diketahui bahwa pembelajaran masih terpusat pada
guru, sehingga berakibat siswa menjadi kurang aktif di kelas. Siswa juga kurang
antusias saat pembelajaran berlangsung, hal ini dapat diketahui dari sedikitnya siswa
yang berperan aktif bertanya ataupun menjawab pertanyaan guru. Siswa juga
kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan konsep. Siswa hanya menerima konsep
yang diberikan oleh guru.
Strategi yang tepat digunakan adalah strategi pemecahan masalah sistematis,
karena strategi ini dapat membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah
khususnya latihan soal menurut Wena (2011) pemecahan masalah sistematis adalah
petunjuk untuk melakukan suatu tindakan yang berfungsi untuk membantu seseorang
dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Penggunaan pemecahan masalah
sistematis dalam menyelesaikan suatu masalah dilengkapi dengan key relation chart
(KR chart), yaitu lembaran yang berisi catatan tentang persamaan, rumus, dan hukum
dari materi yang dipelajari. KR chart digunakan untuk memudahkan mengingat dan
memunculkan kembali hubungan yang diperlukan untuk menyelesaikan latihan soal
yang sedang dihadapi. Secara umum pemecahan masalah sistematis terdiri dari empat
fase utama, yaitu analisis soal, perencanaan proses penyelesaian soal, operasi
perhitungan, dan pengecekan jawaban serta interpretasi hasil.
Sesuai dengan permasalahan dan paparan di atas maka yang menjadi arah atau
fokus penelitian ini adalah menerapkan strategi pembelajaran Systematic Approach
To Problem Solving untuk meningkatkan aktivitas belajar fisika siswa di kelas X
MIA 3 SMAN 3 Muaro Jambi melalui desain penelitian tindakan kelas.

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 3

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana penerapan strategi
pembelajaran pemecahan masalah sistematis dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar fisika siswa di kelas X MIA3 SMAN 3 Muaro Jambi.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan strategi
pembelajaran pemecahan masalah sistematis dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar fisika siswa di kelas X MIA3 SMAN 3 Muaro Jambi.
Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Materi yang diajarkan dalam penerapan strategi pembelajaran ini adalah materi
Kinematika pada siswa kelas X MIA3 semester ganjil SMAN 3 Muaro Jambi
Tahun Ajaran 2014/2015.
2. Untuk melihat aktivitas siswa saat proses pembelajaran maka digunakan lembar
observasi aktivitas siswa.
3. Hasil belajar siswa yang diteliti ada 3 aspek yaitu hasil belajar siswa pada aspek
kognitif dengan menggunakan tes objektif pilihan ganda, aspek sikap dan aspek
keterampilan dengan menggunakan rubrik.
Manfaat Penelitian
Secara teoritis hendaknya hasil penelitian ini dapat menambah khasanah
pengetahuan serta wawasan keilmuan bagi peneliti khususnya dan para pembaca pada
umumnya.
Definisi Operasional
1. Proses mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
2. Strategi pembelajaran systematic approach to problem solving adalah petunjuk
untuk melakukan suatu tindakan yang berfungsi untuk membantu seseorang
dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
3. Aktivitas belajar sebagai suatu proses yang harus melibatkan seluruh aspek
psikofisis siswa, baik jasmani maupun rohani sehingga akselerasi perubahan
perilakunya dapat terjadi secara cepat, tepat, mudah, dan benar, baik berkaitan
dengan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Proses belajar dapat terjadi baik secara alamiah maupun direkayasa. Proses
balajar secara alamiah biasanya terjadi pada kegiatan yang umumya dilakukan oleh
setiap orang dan kegiatan belajar ini tidak direncanakan. Proses belajar yang
direkayasa merupakan proses belajar yang memiliki sistematika yang jelas dan telah
direncanakan sebelumnya guna mencapai tujuan yang diinginkan.
Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 4

Menurut Slameto (2010), beranggapan bahwa Belajar adalah suatu proses


usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan
lingkungan. Menurut Sardiman (2012) Belajar adalah sebagai suatu proses interaksi
antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta,
konsep ataupun teori.
Beberapa makna belajar di atas merupakan definisi belajar menurut pandangan
para ahli pendidikan. Berdasarkan definisi belajar tersebut dapat disimpulkan belajar
merupakan perubahan prilaku seseorang melalui kegiatan atau aktivitas yang
dilakukan untuk memperoleh pengetahuan tertentu. Dengan belajar seseorang dapat
mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan ke arah yang lebih baik.
Selain istilah belajar ada pula istilah lainnya yang juga sering didengar yaitu
pembelajaran. Pada dasarnya pembelajaran mempunyai kesan yang mirip dengan
pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Adapun pendapat ahli
mengenai pembelajaran diantaranya. Menurut Yamin (2012) menyatakan bahwa
Pembelajaran adalah kemampuan dalam mengelola secara operasional dan efisien
terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan pembelajaran, sehingga
menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang
berlaku. Komponen tersebut adalah guru, siswa, pembina sekolah, sarana/prasarana
dan proses pembelajaran. Sementara itu pembelajaran adalah upaya untuk
membelajarkan siswa dengan kegiatan memilih, menetapkan mengembangkan
metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan (Hamzah, 2012).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada dasarnya
adalah suatu proses pengelolaan seluruh komponen yang ada di sekolah untuk
mencapai hasil yang diinginkan. Proses ini dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk
siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidikan untuk membantu
siswa melakukan kegiatan belajar.
Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Hamalik (2013) mengemukaan beberapa faktor-faktor belajar yang efektif
sebagai berikut:
1. Siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan, baik kegiatan neural system, seperti
melihat, mendengar, merasakan, berfikir, kegiatan motoris, maupun kegiatankegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan,
dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan
ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan belajar
menjadi labih efisien.
2. Belajar memerlukan latihan baik dengan cara relearning, recalling, dan reviewing
agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.
3. Belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan mendapatkan
kepuasaanya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
4. Siswa yang belajar perlu mengatahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya.
Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan mendorong belajar lebih baik.
5. Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar
antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga
menjadi satu kasatuan pengalaman.

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 5

6. Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah


dimiliki oleh siswa besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan
pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan
pengertian-pengertian baru.
7. Siswa yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah
dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini erat hubunganya dengan masalah
kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas perkembangan.
8. Belajar dengan minat akan mendorong siswa lebih baik daripada belajar tanpa
minat. Minat ini timbul apabila siswa tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan
kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermakna
bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar
juga sulit untuk berhasil.
9. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan
yang lemah ataupun lelah akan menyebabkan perhatian tidak mungkinakan
melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat
menentukan berhasil atau tidaknya siswa yang belajar.
10. Siswa yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah
menangkap dan memahami pelajaran. Siswa yang cerdas akan lebih berfikir kratif
dan lebih cepat mengambil keputusan.

Faktor-faktor di atas merupakan faktor penting yang nantinya akan


mempengaruhi proses belajar seorang siswa dalam mempelajari suatu materi
atau bahan ajar. Dengan cara mengoptimalisasikan kesepuluh faktor tersebut
seorang guru dapat meningkatkan keefektifan belajar siswa sehingga dapat
meningkatkan kompetensi siswa.
Aktivitas Belajar
Pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi
melakukan kegiatan. Tidak ada hasil belajar kalau tidak ada aktivitas belajar.
Aktivitas dapat diartikan sebagai suatu perbuatan, baik jasmani maupun rohani yang
menghendaki gerakan fungsi otot-otot individu. Oleh karena itu aktivitas merupakan
prinsip-prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rousseau dalam (Sardiman, 2012), Segala
pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri,
penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri,
baik secara rohani maupun teknis. Menunjukkan bahwa setiap siswa yang belajar
harus aktif sendiri, tanpa ada aktivitas maka proses belajar tidak akan mungkin
terjadi.
Menurut Hanafiah (2009) aktivitas dalam belajar dapat memberikan nilai
tambah (added value) bagi peserta didik, berupa hal-hal berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Peserta didik memiliki kesadaran (awareness) untuk belajar sebagai wujud adanya
motivasi internal (driving force) untuk belajar sejati.
Peserta didik mencari pengalaman dan langsung mengalami sendiri, yang dapat
memberikan dampak terhadap pembentukan pribadi yang integral.
Peserta didik belajar dengan menurut minat dan kemampuannya.
Menumbuhkembangkan sikap disiplin dan suasana belajar yang demokratis di
kalangan peserta didik.
Pembelajaran dilaksanakan secara kongkret sehingga dapat menumbuh kembangkan
pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme.
Menumbuhkembangkan sikap kooperatif di kalangan peserta didik sehingga sekolah
menjadi hidup, sejalan, dan serasi dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 6

Begitu banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah, maka
dari itu Paul dalam Sardiman (2012), membagi aktivitas belajar dalam enam
kelompok, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Visual activities, yang didalamnya membaca, memperlihatkan perkerjaan orang lain.


Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, diskusi.
Listening activities, sebagai contoh mendengarkan, percakapan diskusi.
Writing activities, seperti misalnya: menyalin.
Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan
soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Jadi aktivitas belajar adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh siswa
yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung, untuk itu belajar sangat
diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, proses belajar mengajar tidak mungkin
berlangsung dengan baik.
Pengertian Strategi Pembelajaran
Pemilihan Strategi pembelajaran yang tepat sangat tergantung pada pemahaman
guru terhadap karakteristik siswa. Di dalam sebuah kelas terdapat berbagai macam
karakteristik siswa. Disini dituntut peran guru lebih kreatif dalam merencanakan
pembelajaran.
Dengan mengutip pemikiran Trianto (2012), secara umum strategi mempunyai
pengertian garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran
yang telah ditentukan. Dihubungkan dalam belajar mengajar, strategi merupakan
sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan siswa dalam perwujudan kegiatan belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Menurut Aqib (2013) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah caracara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan
digunakan selama proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan
mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik
peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Berdasarkan pengertian beberapa ahli maka diperoleh kesimpulan bahwa
strategi pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam mengelola
kegiatan pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik siswa. Pemilihan strategi
yang tepat dapat membuat siswa lebih cepat mengerti materi yang disampaikan oleh
guru.
Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah Sistematis
Setiap orang dihadapkan pada berbagai permasalahan yang harus dipecahkan,
baik yang bersifat teoritis keilmuan maupun praktis dalam kehidupan. Oleh sebab itu
setiap orang dituntut supaya memiliki sebuah strategi pemecahan masalah, salah
satunya adalah strategi pemecahan masalah sistematis. Menurut Wena (2011),
Strategi pemecahan masalah sistematis (systematic approach to problem solving)
adalah petunjuk untuk melakukan suatu tindakan yang berfungsi untuk membantu
seseorang dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan tahapan-tahapan
Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 7

sebagai berikut: Analisis Soal, Transformasi Soal, Operasi Perhitungan,Pengecekan


dan Interpretasi.
Penyusunan pemecahan masalah sistematis memperhatikan beberapa prosedur
seperti yang dikemukakan oleh Giancoli dalam Wena (2011) berikut ini :
a.
b.
c.

d.
e.

Baca masalah secara menyeluruh dan hati-hati sebelum mencoba untuk


memecahkannya.
Tulis apa yang diketahui atau yang diberikan, kemudian tuliskan apa yang
ditanyakan.
Pikirkan tentang prinsip, definisi, dan persamaan hubungan besaran yang
berkaitan. Sebelum mengerjakannya yakinkan bahwa prinsip, definisi, dan
persamaan tersebut valid. Jika ditemukan persamaan yang hanya memuat
kuantitas yang diketahui dan satu tidak diketahui , selesaikan persamaan
tersebut secara aljabar.
Pikirkanlah dengan hati-hati tentang hasil yang diperoleh, apakah masuk akal
atau tidak masuk akal.
Suatu hal yang sangat penting adalah perhatikan satuan, serta cek
penyelesaiannya.

Strategi pemecahan masalah sistematis digunakan dalam pembelajaran ketika:


1. Guru ingin siswa mencapai pemahaman yang mendalam dari materi ajar,
daripada hanya mengingat
2. Guru ingin mengembangkan keterampilan berpikir dan bernalar siswa,
kemampuan menganalisa situasi, menerapkan pengetahuan yang ada kepada
situasi baru, menyimpulkan perbedaan antara fakta dan opini, dan membuat
penilaian objektif.
3. Guru ingin siswa menjadi mampu mencari informasi.
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Hasil belajar
dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya yaitu hasil dan
belajar. Pengertian hasil menunjukan perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas
atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.
Menurut R.M Gagne dalam (Suprijono, 2010) mengemukakan bahwa hasil
pembelajaran adalah berupa kecakapan manusia yang meliputi: (a) Informasi verbal,
(b) Kecakapan intelektual terdiri dari diskrimasi, konsep konkrit, konsep abstrak,
aturan, aturan yang lebih tinggi, (c) Strategi kognitif, (d) Kecakapan motorik, dan (e)
Sikap.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2010) hasil belajar merupakan hasil dari suatu
interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri
dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman
belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan
untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan
siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 8

METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka desain penelitian
ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga
siklus yang terdiri dari siklus I, II, dan III. Dalam penelitian ini peneliti bekerjasama
dengan guru bidang studi fisika yang mengajar di kelas tersebut. Pada setiap siklus
memiliki tahapan-tahapan tertentu sesuai dengan tahapan dalam tindakan kelas yaitu:
1) perencanaan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (acting), 3) observasi
(pengamatan) dan evaluasi, 4) analisis dan refleksi (reflecting).
Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas X MIA 3 SMAN 3 Muaro
Jambi semester 1 tahun ajaran 2014/2015.
Subjek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 3 SMAN 3 Muaro Jambi
yang berjumlah 33 siswa.
Instrumen Penelitian
Lembar Observasi
Pada penelitian ini dilakukan observasi proses pembelajaran menggunakan
strategi pembelajaran Systematic Approach To Problem Solving terhadap pelaksanaan
pembelajaran dan aktivitas siswa. Lembar observasi dibuat berdasarkan sintak
pembelajaran yang ada di RPP. Sebelum melakukan observasi maka pengamat harus
memahami betul kriteria dalam menganalisa gejala yang terlihat pada objek sehingga
tidak keliru dalam mengambil keputusan. Selain itu agar hasil observasi dapat lebih
objektif maka observasi dilakukan pada setiap proses pembelajaran yang dilakukan
oleh guru pengamat.
Tes Hasil Belajar
Dalam penelitian ini digunakan instrumen tes berupa tes objektif dengan
alternatif pilihan yang memenuhi syarat standar soal yaitu validitas, taraf kesukaran,
reliabilitas dan daya beda. Agar soal tes yang digunakan berkualitas, soal dilakukan
analisis sebagai berikut:
a. Validitas Tes
Validitas tes adalah tingkat ketepatan tes. Sehubung dengan penelitian ini maka
validitas yang digunakan adalah validitas isi. Tujuan digunakan validitas isi yaitu
untuk menguji ketepatan isi dan keabsahan soal sebagai instrumen penelitian
sehingga data yang diperoleh dari hasil tes tersebut dapat dipercaya kebenarannya.
Oleh sebab itu penulis membuat kisi-kisi soal dan soal tes yang sesuai dengan materi
yang telah diberikan berdasarkan kurikulum 2013 SMA.
b. Tingkat Kesukaran
Menghitung tingkat kesukaraan tes soal adalah mengukur seberapa besar
kesukaran butir-butir soal tes jika suatu tes soal memiliki tingkat kesukaran seimbang
Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 9

maka soal tes tersebut baik. Dengan kata lain suatu butir soal hendaknya tidak terlalu
sukar dan tidak terlalu mudah.
Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan
menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Arikunto (2013),yaitu:
B
P
Js
Dengan :
P = Indeks Kesukaran
B = Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar
Js = Jumlah siswa peserta tes
Arikunto (2013) mengklasifikasikan indeks kesukaran soal di bawah ini sebagai
berikut:
0.00<P0.30 = Soal Sukar
0.30<P0.70 = Soal sedang
0.70<P1.00 = Soal mudah
c. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan siswa yang
pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan
rendah). Untuk menentukan daya pembeda digunakan rumus yang dikemukakan oleh
Arikunto (2013), sebagai berikut:
BA BB
D

JA JB
Dengan
D = Daya pembeda
BA= Banyak perserta atas yang menjawab benar
BB = Banyak peserta bawah yang menjawab benar
JA = Banyak peserta kelompok atas
JB = Banyak peserta kelompok bawah
Besar daya pembeda ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00 dan mengenal tanda
negative (-) dengan ketentuan menurut Arikunto (2013), besar daya pembada suatu
soal, maka setiap soal dapat dikategorikan sebagai berikut :
0.00< D 0.20 = Jelek
0.20< D 0.40 = Cukup
0.40< D .70 = Baik
0.70< D 1.00 = Baik sekali
D : negative ( semuanya tidak baik, jadi semua soal yang mempunyai nilai D
negative sebaiknya dibuang).
d. Reliabilitas Soal
Reliabilitas tes menunjukkan apakah suatu tes dapat mempunyai taraf
kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat menghasilkan tes yang tetap.
Sugiyono (2013), mengatakan bahwa instrumen yang reliabel adalah instrumen yang
bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan
data yang sama. Sejalan dengan pendapat di atas Arikunto (2010), mengungkapkan

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 10

bahwa Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan pada objek yang
sama. Untuk mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat dari kesejajaran hasil.
Untuk menentukan reliabilitas dalam penelitian ini digunakan rumus KuderRichardson (K-R21) yang dikemukakan oleh Arikunto (2010), yaitu:

k
r11

k 1

M k M
1

kVt

Dengan,

X
N

Ket: r11 = Reliabilitas


k = Banyaknya butir soal
M = Skor rata-rata
Vt = Varian total
X = Jumlah skor yang dijawab seluruh siswa yang benar
N = Jumlah peserta tes
Koefisien reliabilitas tes berkisar antara 0,00-1,00 dengan perincian korelasi :
0,00 r11 0,20 = sangat rendah
0,20 r11 0,40 = rendah
0,40 r11 0,60 = cukup
0,60 r11 0,80 = tinggi
0,80 r11 1,00 = sangat tinggi
Pengumpulan Data
Jenis Data
1. Data kualitatif, yaitu data tentang aktivitas siswa dan guru dalam proses belajar
mengajar.
2. Data kuantitatif adalah data tentang hasil belajar siswa berupa nilai yang diperoleh
dari 3 aspek penilaian yaitu aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek
keterampilan di kelas X MIA 3.
Cara Pengambilan Data
Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan menggunakan lembar
pengamatan aktivitas siswa dan lembar pengamatan pelaksanaan pembelajaran
selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data tentang hasil belajar siswa pada
aspek pengetahuan diambil melalui tes (ulangan formatif) yang diadakan setiap akhir
siklus pembelajaran. Selanjutnya untuk menilai aspek sikap dan keterampilan dengan
cara observasi yang dilaksanakan setiap pertemuan dalam satu siklus yang dilakukan
Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 11

oleh guru dengan menggunakan lembar penilaian sikap dan keterampilan yang
dilengkapi rubrik penilaian.
Analisis Data
Analisis kuantitatif untuk hasil belajar siswa diperoleh dari hasil pemberian tes
pada tahap evaluasi dilakukan dengan perhitungan yang dikemukakan oleh Arikunto
(2013), dengan menggunakan persamaan berikut :

S R

W
n 1

Keterangan : S = Skor
R = Jumlah jawaban yang benar
W = Jumlah jawaban yang salah
n = Jumlah option (banyaknya pilihan jawaban)
Selanjutnya penilaian sikap dan penilaian keterampilan dilakukan setiap siklus
saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar format penilaian
sikap dan keterampilan yang dilengkapi rubrik penilaian dengan menggunakan rating
skala 1-4 untuk penilaian keterampilan dan penilaian sikap. Nilai akhir untuk
penilaian keterampilan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh
Kurniasih (2013), sebagai berikut:

=
4

Analisis kualitatif diambil dari data hasil observasi tentang situasi belajar
mengajar, menurut Arikunto (2013) untuk data hasil observasi aktivitas siswa
dihitung dengan menggunakan rumus :
N
= a 100%
N
Keterangan : A= Aktivitas siswa
= Jumlah siswa yang aktif
N = Jumlah siswa keseluruhan
Dimana perhitungan penilaian sebagai berikut :
0 20 = Tidak aktif
21 40 = Kurang aktif
41 60 = Cukup aktif
61 80 = Aktif
81 100 = Sangat aktif
Indikator Keberhasilan
Indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang
dilakukan adalah keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Keberhasilan belajar
dilihat berdasarkan peningkatan proses aktivitas belajar siswa yang diambil dari hasil
data lembar observasi aktivitas siswa dan tes hasil belajar. Jika kriteria tersebut
terpenuhi, maka penerapan strategi pembelajaran Systematic Approach To Problem
Solving dalam memahami materi pelajaran khususnya pada materi kinematika gerak
Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 12

lurus dengan kecepatan konstan dan percepatan konstan dapat dijadikan untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini dari 36 soal yang diujicobakan, setelah dianalisis tingkat
kesukaran didapatkan 9 pada kategori soal mudah , 14 pada kategori sedang dan 13
soal pada kategori soal sukar. Setelah dianalisis daya beda terdapat 10 soal pada
kategori baik, 13 soal pada kategori cukup dan 13 soal pada kategori jelek. Soal-soal
yang daya bedanya pada kategori jelek dibuang sehingga soal yang dipakai adalah 23
soal. Setelah disesuaikan dengan indikator pembelajaran dan materi maka didapatkan
9 soal untuk evaluasi siklus I, 8 soal untuk evaluasi siklus II dan 6 soal untuk evaluasi
siklus III. setelah dianalisis reliabilitas didapatkan reliabilitas r11=0.67. Sehingga
dapat dikatakan bahwa soal yang diujicobakan memiliki reliabilitas tinggi.
Gambaran mengenai peningkatan aktivitas siswa yang diperoleh dari penerapan
dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1 Rata-rata peningkatan persentase aktivitas siswa dalam setiap siklus
Jumlah/ persentase (%)
Variabel yang diamati
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Rata-rata persentase aktivitas belajar siswa
61,03
70,28
90,46

Dari tabel 4.1 dapat dilihat rata-rata peningkatan aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran. Pelaksanaan tindakan pada siklus I, rata-rata persentase aktivitas siswa
masih berada pada kategori aktif tapi belum memuaskan. Selanjutnya pada siklus II
mengalami peningkatan rata-rata aktivitas siswa menjadi aktif. Selanjutnya pada
siklus III rata-rata persentase aktivitas siswa meningkat lagi menjadi sangat aktif.
Kemudian gambaran mengenai peningkatan hasil belajar siswa yang dilihat dari
3 aspek yaitu aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek keterampilan.
Tabel 4.2 Rata-rata peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus
Jumlah/ persentase (%)
Variabel yang diamati
Siklus I Siklus II
Siklus III
Rata-rata nilai siswa pada aspek pengetahuan
2,56
2,57
3,11
Rata-rata nilai siswa pada aspek sikap
2,39
2,98
3,23
Rata-rata nilai siswa pada aspek keterampilan
2,42
2,72
3,12

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat peningkatan hasil belajar yang terjadi
pada setiap siklus. Pelaksanaan tindakan pada siklus I, nilai siswa pada 3 aspek
tersebut masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dimana di SMA Negeri
3 Muaro Jambi KKM-nya yaitu 2,66. Kemudian pada siklus II nilai rata-rata siswa
mengalami peningkatan, hanya pada aspek pengetahuan yang belum mencapai KKM.
Selanjutnya pada siklus III nilai rata-rata siswa sudah di atas KKM semua.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan strategi

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 13

pembelajaran Systematic Approach To Problem Solving pada mata pelajaran fisika


kelas X MIA 3 SMA Negeri 3 Muaro Jambi dapat meningkatkan aktivitas siswa.
Kemudian dengan menerapkan strategi pembelajaran Systematic Approach To
Problem Solving pada mata pelajaran fisika kelas X MIA 3 SMA Negeri 3 Muaro
Jambi juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang dinilai dari aspek
pengetahuan, aspek sikap dan aspek keterampilan pada materi Kinematika Gerak
Lurus di kelas X MIA 3 SMA Negeri 3 Muaro Jambi.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh di atas serta untuk lebih meningkatkan
hasil belajar fisika siswa, maka penulis menyarankan beberapa hal:
1. Diharapkan kepada guru fisika agar dapat menerapkan strategi pembelajaran
Systematic Approach To Problem Solving sebagai alternatif dalam
pembelajaran khususnya pada materi yang memerlukan banyak hitungan nya.
2. Penelitian ini juga terbatas pada materi Gerak Lurus, jadi diharapkan adanya
lanjutan penelitian pada materi yang berbeda atau bahkan pada mata pelajaran
yang lain.
3. Diharapkan apabila menggunakan strategi pembelajaran Systematic Approach
To Problem Solving guru dapat mengalokasikan dan mengefektifkan waktu
dengan baik untuk setiap kegiatan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai
dengan optimal.
DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta : Rineka


Cipta
_________,. 2013. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Aqib, Zainal. 2013. Model-Model, Media, Dan Strategi Pembelajaran Kontekstual
(Inovatif). Bandung : Yrama Widya.
Dimyati & Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2013. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Hanafiah, Dkk. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung : PT. Refika Aditama
Kurniasih, I. & Sani, B. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 : Konsep & Penerapan.
Surabaya : Kata Pena.
Purwanto. 2014. Evaluasi Hasil Belajar.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sardiman, A.M. 2012. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Rajawali
Pers.
Slameto. 2010. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta : Rineka
Cipta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM : Pustaka
Pelajar
Trianto. 2012. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Surabaya : Prestasi Pustaka Publisher.

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 14

Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer : Suatu Tinjauan


Konseptual Operasional. Jakarta : Bumi Aksara

Chriskal Erisal : S1 Pendidikan Fisika Universitas Jambi

Page 15