Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

PERBANDINGAN DEREGULASI PAKET


KEBIJAKAN JILID I DENGAN DEREGULASI
SAAT INI DAN SEBELUMNYA

DISUSUN OLEH:
MARLINA
-

Manajemen
Persada Bunda
Pekanbaru

2015KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Perbandingan
Deregulasi Paket Kebijakan Jilid I Dengan Deregulasi Saat Ini dan Sebelumnya.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen saya di
Universitas Persada Bunda.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk
itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah
ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Pekanbaru,

Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB I

: Pendahuluan
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................1
C. Tujuan Penulisan................................................................................1
D. Manfaat Penulisan..............................................................................1

BAB II

: Pembahasan
A. Pengertian Deregulasi.........................................................................2
B. Filsafat Deregul..................................................................................2
C. Etika deregulasi..................................................................................3
D. Deregulasi Paket Kebijakan Jilid I.....................................................4
E. Deregulasi Sebelum Paket Kebijakan Jilid I......................................6
F. Regulator alternative...........................................................................7
G. Deregulasi Setelah Paket Kebijakan Jilid I.........................................8
H. Isi Paket Kebijakan Ekonomi September Jilid II................................9
I. Isi Paket Kebijakan Ekonomi September Jilid III..............................9
J. Bocoran Paket Kebijakan Ekonomi Jilid IV.......................................11
K. Persiapan Paket Kebjakan Ekonomi Jilid V, Ada Bahasan

Deregulasi
Perizinan
Di
Tingkat
Daerah
..........................................................................................................
11
BAB III : Penutup
A. Kesimpulan.........................................................................................12
B. Saran...................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Rumusan Masalah
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengumumkan Deregulasi Paket
Kebijakan Jilid I yang berfokus pada tiga hal besar, yakni meningkatkan daya
saing industri, mempercepat proyek-proyek strategis nasional, dan mendorong
investasi di sektor properti.
Menurut Jokowi, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah
melakukan upaya stabilisasi fiskal dan moneter, termasuk di dalamnya adalah
pengendalian inflasi. Sinergi kebijakan ini dilakukan guna menggerakkan mesin
pertumbuhan ekonomi, antara lain dengan mendorong percepatan belanja
pemerintah dan juga melakukan langkah-langkah penguatan neraca pembayaran.
"Langkah-langkah konkrit yang akan dilakukan pemerintah antara lain
pengendalian harga komoditas pokok, seperti BBM dan pangan, kemudian
pembentukan tim evaluasi dan pengawas, realisasi anggaran, dan yang ketiga
pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk mendorong
pemanfaatan biodiesel 15 persen, sehingga dapat mengurangi impor BBM dan
harga ekspor kelapa sawit.
Tak hanya itu, lanjut Jokowi, pemerintah juga telah melakukan langkahlangkah untuk melindungi masyarakat dan menggerakkan ekonomi pedesaan.
Antara lain dengan memberdayakan usaha mikro dan kecil dengan menyalurkan
kredit usaha rakyat (KUR) dengan tingkat suku bunga yang rendah. "Bunga KUR
yang dulunya 22-23 persen (diturunkan) menjadi 12 persen,"

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas maka kami identifikasi
permasalahan terhadap penelitian yang dilakukan sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan Deregulasi ?
2. Bagaimana Perbandingan Deregulasi Paket Kebijakan Jilid I Dengan
Deregulasi Saat Ini dan Sebelumnya?

C.

Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan
deregulasi paket kebijakan jilid i dengan deregulasi saat ini dan sebelumnya.

D.

Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan
mahasiswa tentang perbandingan deregulasi paket kebijakan jilid I dengan
deregulasi saat ini dan sebelumnya. dan juga untuk sebagai pembelajaran bagi
mahasiswa.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Deregulasi
Deregulasi adalah aturan/sistem (sistem yang mengatur) ,tindakan atau
proses menghilangkan mengurangi segala aturan.
Apakah deregulasi baik atau buruk?. Ada baiknya ditangguhkan dulu debat
pro dan kontra. Dari posisi pro : deregulasi secara keseluruhan (dan bukan
selektif) merupakan sesuatu yang baik adanya.
Bila diringkas,deregulasi menunjuk kebijakan pemerintah mengurangi /
meniadakan aturan administratif yang mengekang kebebasan gerak modal,barang
dan jasa.Contoh-cotoh deregulasi:
- Pemerintah menderegulasi bidang ekspor untuk menambah devisa negara.
- Deregulasi dibidang perpajakan berupa penghematan pajak bagi perusahaan
berarti meringankan biaya produksi perusahaan
- Deregulasi dibidang ekonomi/politik :omongan bahwa, pasar merupakan
mekanisme alami bagi alokasi kesejahteraan adalah omongan naif.Untuk itu
paket kebijakan yang menyangkut pengadaan modal perlu menerapkan strategi
deregulasi selektif.misalnya,regulasi ketat dikenakan pada transaksi yag tidak
menyangkut investasi jangka panjang .Sebaliknya deregulasi serikat buruh
perlu dilakukan dengan fokus pada daya tawar dan independensi.
- Deregulasi di sektor telekomunikasi : seandainya pemerintah mendorong
pemanfaatan teknologi telekomunikasi secara maksimal,akan bermunculan
potensi-potensi usaha mikro yang berawal dari basis komunikasi,mulai dari
pelayanan internet murah sampai pabrikasi peralatan komunikasi sederhana.

B.

Filsafat Deregulasi
Ketika harga minyak mulai rontok di tahun 1982, rezim Orde Baru
berangsur-angsur kehilangan otonomi fiskal. Sejak itu gerak ekonomi-politik
Indonesia mencari motor baru dalam rupa bisnis swasta dengan deregulasi sebagai
instrumen utama. Era deregulasi mulai di tahun 1983 mencakup keuangan, pajak,
tarif, bea cukai, perdagangan, investasi, pasar modal, perbankan, komunikasi, dan
sebagainya.
Apakah deregulasi baik atau buruk? Ada baiknya ditangguhkan dulu debat
pro dan kontra. Namun, sebagai uji coba, baiklah mulai dari posisi pro: deregulasi
secara keseluruhan (dan bukan selektif) merupakan sesuatu yang sangat baik
adanya.
Bila diringkas, deregulasi menunjuk ke- bijakan pemerintah
mengurangi/meniadakan aturan administratif yang mengekang kebebasan gerak
modal, barang, dan jasa. Dengan kebebasan gerak produksi, distribusi, dan
konsumsi modal, barang, serta jasa itu, volume kegiatan bisnis swasta diharapkan
melonjak. Dengan itu lanskap ekonomi Indonesia juga tidak lagi bergantung pada
uang minyak.

Deregulasi telah menjadi istilah teknis ekonomi dan populer karena alasan
ekonomi. Akan tetapi, penciutan istilah "deregulasi" ke bidang ekonomi itu sangat
menyesatkan. Deregulasi pertama-tama bukan gagasan ekonomi, tetapi premis
baru ketatanegaraan.
C.

Etika deregulasi
Bila deregulasi berisi premis hidup-matinya negeri ini tak boleh lagi
tergantung hanya pada pemerintah, tentu itu juga berarti hidup-matinya negeri ini
tidak boleh lagi hanya menjadi beban tanggungan pemerintah. Segera tampak
deregulasi pertama-tama bukan urusan teknis ekonomi, tetapi etika baru
manajemen masyarakat. Dan itu berlaku baik untuk bidang ekonomi, budaya,
pendidikan, sosial, maupun politik. Jadi, kita mesti pro atau kontra deregulasi?
Dua pokok berikut ini mungkin bertentangan dengan paham tradisional yang luas
diyakini, tetapi semoga ada gunanya diajukan.
Pertama, andaikan Anda penentang gigih deregulasi. Posisi kontra ini salah
satunya melibatkan penolakan atas pemindahan/perluasan otoritas regulasi dari
state-regulation ke self-regulation. Anda mungkin dituduh mendukung
otoritarianisme, tetapi tuduhan itu bisa diabaikan. Salah satu agenda pokok
penganut posisi kontra deregulasi lalu adalah memastikan agar gerakan civil
society mengoreksi dan memberdayakan kapasitas pemerintah sebagai badan
regulator yang baik karena pemerintah dilihat sebagai satu-satunya penanggung
jawab hidup-matinya negeri ini. Tetapi, agenda ini tidak lebih dari meneruskan
teriakan-teriakan kita selama ini dan deregulasi lalu juga kehilangan arti.
Kedua, andaikan Anda penuntut gigih deregulasi. Posisi pro ini berisi
kesetujuan atas pemindahan/perluasan otoritas regulasi dari state-regulation ke
self-regulation. Implikasi utamanya, civil society tidak-bisa-tidak berfokus pada
gerakan memastikan agar sektor-sektor nonpemerintah juga menjadi aktorregulator yang baik karena self-regulation berarti pemerintah bukan lagi satusatunya penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Lugasnya, persis dari
logika-internal deregulasi, sektor-sektor nonpemerintah itu kini juga tidak-bisatidak menjadi penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Itu berlaku baik bagi
sektor bisnis, media, maupun perguruan tinggi, dari soal acara televisi, rusaknya
gedung sekolah, busung lapar, sampai keluasan korupsi.
Apa yang terjadi bila sektor-sektor nonpemerintah menuntut deregulasi
seluasnya, tetapi membebankan semua hanya kepada pemerintah dan juga tidak
mau ikut menjadi solusi atas labirin masalah Indonesia? Itulah yang rupanya
sedang terjadi. Deregulasi lalu tidak lebih dari siasat para pelaku sektor-sektor
nonpemerintah untuk menjadi free riders di negeri ini. Free rider kira-kira berarti
"penumpang yang tidak membayar". Maka tidak perlu kaget bila para
programmers televisi merasa tidak punya urusan dengan pendidikan kultural
warga Indonesia. Tak mengherankan pula bila para bos perusahaan tambang
merasa tidak punya urusan dengan kehancuran lingkungan seperti di Pantai Buyat.
Kita bisa meratapi atau merayakan deregulasi, tetapi itu masih jauh dari
memahami bahwa deregulasi melibatkan agenda ketatanegaraan yang lebih
mendalam daripada sekadar perkara efisiensi ekonomi.

D.

Deregulasi Paket Kebijakan Jilid I


Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Keuangan BAmbang S.
Brojonegoro, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur BI Agus
Martowardojo dan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad serta
jajaran Kabinet Kerja bidang Ekonomi mengumumkan paket kebijakan untuk
mengatasi pelemahan ekonomi global di Istana Merdeka.
Paket ekonomi untuk menyehatkan perekonomian sudah diluncurkan. Belum
dipastikan pasar akan langsung bereaksi. Dollar yang terus menekan rupiah,
sektor perekonomian lesu membuat Presiden Joko Widodo mengeluarkan
kebijakan yang diharap mampu menjadi penyelamat. Jokowi mengumumkan
paket kebijakan ekonomi tahap pertama. Pengumuman berlangsung di Istana
Negara, Jokowi didampingi para menteri bidang ekonomi. Hadir dalam acara
tersebut Ketua OJK Muliaman D Hadad, Gubernur BI Agus Martowardojo,
Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro,
Mentan Amran Sulaiman, Mendag Thomas Lembong, dan Seskab Pramono
Anung. pemerintah meluncurkan paket kebijakan tahap pertama September 2015
yang terdiri dari tiga langkah.
Langkah pertama, mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi,
debirokrasi, penegakan hukum dan kepastian usaha. Jokowi mengatakan ada 89
peraturan yang dirombak dari 154 peraturan yang masuk ke tim. Sehingga ini
bisa menghilangkan duplikasi bisa memperkuat koherensi, dan memangkas
peraturan yang tak relevan dan menghambat daya saing industri nasional.
Selain itu, sudah disiapkan 17 peraturan pemerintah, 11 rancangan peraturan
presiden, 2 rancangan instruksi presiden, 63 rancangan peraturan menteri, dan 5
rancangan peraturan lain. Selain itu, pemerintah melakukan langkah
penyederhanaan izin, memperbaiki prosedur kerja perizinan, memperkuat sinergi,
menggunakan pelayanan berbasis elektronika,.
Pemerintah berkomitmen menyelesaikan semua paket deregulasi pada
September dan Oktober 2015. Jadi nanti akan ada paket I, Paket II, dan paket III
akan secara konsisten.
Kedua, mempercepat proyek strategis nasional, menghilangkan berbagai
hambatan, sumbatan dalam pelaksanaan dan penyelesaian proyek strategis
nasional. Menurut Jokowi antara lain penyederhanaan izin tata ruang dan
penyediaan lahan, percepatan pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta
deskresi dalam hambatan masalah hukum. Pemerintah juga memperkuat peranan
kepala daerah untuk melakukan dan memberikan dukungan percepatan proyek
strategis nasional.
Ketiga, meningkatkan investasi di sektor properti. Pemerintah mendorong
pembangunan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan membuka
peluang investasi yang lebih besar di properti. Saya ingin menekankan paket
7

kebijakan ekonomi bertujuan untuk menggerakan sektor riil kita yang akhirnya
memperkuat pondasi perekonomian kita ke depan.
Stimulus tahap pertama September 2015 akan memperkuat industri nasional,
akan mengembangkan usaha mikro kecil menengah dan koperasi, memperlancar
perdagangan antar daerah, dan pariwisata, dan menjadikan kesejahteraan nelayan
semakin membaik dengan menaikkan produksi ikan tangkap dan penghematan
bahan bakar sebesar 70% melalui konversi bahan bakar solar ke elpiji.
Pemerintah tak mungkin bisa bekerja sendirian, butuh kerja sama dan
dukungan. Mari bersatu bergotong royong menghadapi tantangan melemahnya
perekonomian global. Saya ingin menegaskan pemerintah tak hanya komitmen
menggerakkan ekonomi nasional dengan paket ekonomi ini. Pemerintah juga
serius dalam melaksanakan komitmen.
Reaksi bermunculan, paket ekonomi tahap I untuk sementara waktu dinilai
mampu menenangkan pasar keuangan dan dunia usaha. Paling tidak, agenda ini
menjadi sinyal tekad pemerintah membenahi ekonomi. Itu sebabnya, Ketua
Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi S Lukman menilai,
paket ini menumbuhkan optimisme. Kini, pengusaha menanti keseriusan
pemerintah menjalankan isi paket ekonomi itu.
Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, menilai, di atas
kertas, isi paket ekonomi ini bisa menjadi angin segar bagi pasar. Lagi pula secara
umum isi paket ini belum sepenuhnya sesuai harapan pasar dan masih memberi
kesan setengah hati. Apalagi isinya nyaris tak ada yang baru, terkesan sekadar
mengumpulkan sejumlah agenda serta rencana kerja yang sudah ada. Dengan
kata lain, tak ada resep spesial yang diracik pemerintah dalam paket ekonomi ini.
Salah satu yang disorot, misalnya, kata David Sutyanto, Analis First Asia
Capital, paket ekonomi ini masih terlalu parsial dan belum menjangkau semua
persoalan yang dihadapi ekonomi Indonesia saat ini. Urusan fiskal, misalnya,
paket ini belum menjangkau stimulus fiskal seperti keringanan pajak yang dinanti
oleh emiten menjelang akhir tahun.
Ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya melihat beberapa
kebijakan ekonomi yang diumumkan belum secara tegas dan detail menyebutkan
langkah memperkuat rupiah dan peningkatan daya beli masyakarat, utamanya
daya beli masyarakat perkotaan dan kelas menengah. Padahal daya beli kelompok
inilah yang sekarang paling terpukul, utamanya akibat pelemahan rupiah. Di sisi
lain, pemerintah masih kukuh mempertahankan target pajak. Seharusnya target
pajak diturunkan agar petugas pajak mengerem dan pengusaha tidak khawatir.
Dari Senayan, Wakil Ketua Komisi XI Marwan Cik Asan mengatakan, paket
kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo, cukup efektif untuk
menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Namun, implementasi kebijakan
itu harus diawasi secara ketat agar berjalan efektif. Presiden sesuai pidatonya
8

berjanji akan memantau langsung efektivitas kebijakan ini di lapangan. Ini hal
yang penting, jangan sampai kebijakan ekonomi yang sudah baik gagal
mendorong pertumbuhan hanya karena tidak dilaksanakan secara tepat di
lapangan.
Lima paket kebijakan yakni kemudahan visa wisatawan, elpiji untuk nelayan,
tambahan bantuan raskin selama dua bulan, percepatan penyaluran dana desa, dan
perluasan sumber daging sapi merupakan kebijakan yang tepat untuk
menggerakkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Kebijakan mengenai deregulasi peraturan seperti yang diinginkan Presiden
akan sulit dirasakan dalam waktu singkat. Lima paket kebijakan yang diberikan
Jokowi saat ini tidak jauh beda dengan usulan yang diberikan Ketua Umum Partai
Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.
Saran Pak SBY agar jangan semua terfokus ke infrastruktur, tapi melihat
juga apa yang dibutuhkan rakyat saat ini dan efektif mendongkrak daya beli
masyarakat,.
E.

Deregulasi Sebelum Paket Kebijakan Jilid I


Isi premis baru ketatanegaraan itu mungkin bisa ditunjuk dengan dua lapis
argumen berikut. Lapis pertama, deregulasi berisi gagasan bahwa jatuh-bangun
dan hidup-matinya suatu negeri tak boleh lagi hanya bergantung pada kekuasaan
rezim yang sedang memerintah. Jadi, jatuh-bangun dan hidup-matinya ekonomi,
budaya, atau pendidikan di Indonesia tidak boleh lagi hanya bergantung pada
inisiatif pemerintah, entah itu rezim Soeharto atau Susilo B Yudhoyono. Itulah
mengapa deregulasi melibatkan pemindahan berbagai inisiatif, dari pemerintah ke
sektor-sektor nonpemerintah.
Sejak 1 Januari 1984, misalnya, metode "valuasi pemerintah" (official
assessment) dalam pengumpulan pajak diganti menjadi "penghitungan diri" (selfassessment). Artinya, penghitungan pajak tidak lagi dimulai oleh petugas pajak,
tetapi oleh wajib pajak sendiri, lalu petugas pajak melakukan crosscheck. Tentu
perubahan itu ditujukan untuk sasaran ekonomi, seperti efisiensi dan pembatasan
kuasa petugas pajak bagi peningkatan revenue dari pajak. Namun, implikasi
praktis terhadap urusan fiskal ini hanyalah konsekuensi dari gagasan lebih
fundamental tentang deregulasi: bahwa hidup-matinya Indonesia tidak boleh lagi
bergantung hanya pada inisiatif dan tindakan aparat pemerintah.
Lapis kedua, justru karena itu deregulasi juga menunjuk gagasan baru
bahwa jatuh-bangun dan hidup-matinya kondisi politik, ekonomi, budaya, ataupun
pendidikan di Indonesia juga tidak bisa lagi hanya menjadi beban tanggungan
pemerintah. Lugasnya, solusi atas masalah Indonesia juga merupakan beban
tanggungan sektor-sektor nonpemerintah. Lapis ini sejajar dengan lapis pertama di
atas. Andaikan "deregulasi" adalah sekeping mata uang, pokok dalam lapis
pertama dan kedua merupakan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama.
Dua lapis pengertian di atas mungkin terdengar aneh bagi mereka yang
mengartikan deregulasi hanya sebagai soal teknis, seperti pengertian umum dalam
alam pikir ekonomi dewasa ini. Namun, dalam "republik refleksi", kita selalu

butuh kembali ke prinsip paling sederhana, yang kira-kira berbunyi begini:


pengertian luas bukanlah bukti validitas.
Dari pokok-pokok di atas mungkin segera tampak, de-regulasi bukan berarti
tidak-adanya regulasi, melainkan perluasan/pemindahan locus otoritas regulasi,
yaitu dari state-regulation ke self-regulation. Maka, de-regulasi sesungguhnya
berisi re-regulasi, dengan self sebagai aktor-regulator alternatif. Istilah "self" bisa
berupa individu perorangan, bisa juga badan usaha bisnis/ perusahaan, dan bisa
pula pemerintahan lokal yang otonom.
F.

Regulator alternative
Apa dasar self bertindak sebagai aktor-regulasi alternatif? Dasarnya adalah
self-determination yang terungkap dalam kebebasan dan kedaulatan pilihan
individual. Tetapi masih perlu dikejar lanjut. Kalau sumber daya pemerintah
melakukan state-regulation adalah mandat, apa sumber daya self-regulation?
Jawab: pemilikan/kontrol atas berbagai sumber daya (finansial, teknologis, fisik,
informasi, material, dan sebagainya) yang diubah menjadi capital. Itulah mengapa
terjadi penerapan istilah "capital" pada bidang-bidang seperti budaya (cf cultural
capital), pengetahuan (cf symbolic capital), dan lain-lain.
Dengan itu deregulasi melahirkan gejala baru, yaitu kedaulatan dan
kebebasan selera individual menjadi locus kekuatan regulatif baru yang tidak
kalah menentukan dibanding kekuatan regulatif pemerintah. Modelnya adalah
kinerja "kebebasan pilihan individual" dalam ekonomi pasar-bebas (cf "saya bebas
berbuat apa pun menurut selera saya dan selera apa pun yang bisa saya beli").
Dalam arti tertentu bahkan bisa dibilang, pemerintah sering tinggal menjadi
penjaga legalitas, tanpa sepenuhnya mampu menjadi regulator.
Ambillah acara di layar televisi sebagai contoh. Sudah lama meluas keluhan
tentang rendahnya mutu acara televisi yang dikuasai program gosip, klenik,
jingkrak-jingkrak, badut-badutan, serta histeria idola. Pemerintah tidak bisa lagi
menjadi regulator acara televisi tanpa dituduh otoriter. Mungkin para
programmers acara televisi bilang acara-acara itulah demand pemirsa. Tetapi
karena klaim itu tidak ada sebelum programmers menayangkan acara-acara
tersebut, dengan lugas bisa dikatakan regulatornya adalah corak selera para
programmers televisi. Kemudian muncul apologi, misalnya "bukankah pepatah
Romawi pun mengingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan roti, tetapi
juga komedi?".Dalih itu menggelikan karena soalnya justru sebagian besar acara
televisi berupa "komedi". Tambahan lagi, pepatah itu datang dari kaisar seperti
Nero dan Commodus sebagai siasat meninabobokan warga Roma dengan orgi
darah di Colosseum.
Sekali lagi, de-regulasi bukan pengha- pusan regulasi, tetapi re-regulasi
menurut selera pribadi. Dengan itu kekuatan-regulatif penentu corak kehidupan
publik bukan lagi hanya daya-regulatif pemerintah, tetapi juga daya-regulatif
kebebasan selera/pilihan individual. Pokok sederhana ini punya implikasi sangat
jauh.

G.

Deregulasi Setelah Paket Kebijakan Jilid I

10

Paket ekonomi Jilid I yang ditawarkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf


Kalla yang mengedepankan deregulasi dan debirokrasi ternyata banyak
kelemahan. Bahkan menjadi sorotan pengusaha karena tak seperti yang
dipidatokan sang presiden.
Karena banyak masukan dari pengusaha, maka fokus pemerintah saat ini
menyelesaikan harmonisasi aturan dalam deregulasi. Selain paket jilid 1 yang
sudah dirilis awal September lalu, paket jilid 2 rencananya akan dirilis pada akhir
September. Selanjutnya paket jilid 3 akan diterbitkan pada pekan ke-2 Oktober.
Program deregulasi 134 yang dicanangkan pemerintah mendapat banyak
respons dari pelaku usaha. Sebab, ketika masuk ke tahap implementasi, ada
beberapa hal yang dinilai pelaku usaha tidak cocok.
Menurut mantan ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang
kini menjadi tangan kanan Wapres Jusuf Kalla (JK) itu, pemerintah memilih
berhati-hati dalam proses deregulasi.
Tujuannya, aturan baru hasil deregulasi tidak tumpang tindih atau justru
menjadi penghambat baru bagi pelaku usaha. Karena tujuan utamanya adalah
mengilangkan high cost economy (ekonomi biaya tinggi).
Paket kebijakan ekonomi jilid 2 yang rencananya bakal dirilis akhir
September, saat ini memang tengah dimatangkan di Kementerian Koordinator
Perekonomian. Namun, belum dibahas di level presiden dan wakil presiden.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, paket jilid 2 ini akan lebih banyak fokus
pada peningkatan daya beli masyarakat, pemberian insentif perpajakan, dan
reformasi anggaran belanja pemerintah.
Di antara tiga poin tersebut, paket insentif perpajakan untuk wajib pajak
perorangan dan wajib pajak perusahaan yang pembahasannya paling alot. Sebab,
dengan realisasi penerimaan pajak yang relatif rendah seperti saat ini,
Kementerian Keuangan tidak ingin jika pemberian insentif pajak besar-besaran
bakal kian menyusutkan realisasi penerimaan pajak.
Dengan masih alotnya pembahasan tersebut, rencana pemerintah untuk
merilis paket kebijakan ekonomi jilid 2 pada akhir September pun berpotensi
molor menjadi Oktober. Itu pun dengan catatan jika proses deregulasi dalam paket
kebijakan ekonomi jilid 1 sudah tuntas dilakukan.
Pelaku usaha pun mendesak agar pemerintah tidak terlalu buru-buru merilis
paket kebijakan ekonomi jilid 2. Sebab, deregulasi 134 peraturan saja belum
tuntas hingga saat ini.
H.

Isi Paket Kebijakan Ekonomi September Jilid II


Joko Widodo (Jokowi) merilis paket kebijakan ekonomi untuk menstimulus
kondisi perekonomian Indonesia yang lemah, bernama September II.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator (Menko) bidang
Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, rilis paket kebijakan tersebut
terkait dengan pembenahan izin investasi di dalam negeri.
Menurutnya, paket kebijakan baru ini dikeluarkan lantaran dalam paket
September I terlalu banyak peraturan yang diubah sehingga substansi dan
dampaknya menjadi sedikit. (Baca: Ini Tiga Paket Kebijakan Ekonomi September
I Jokowi).

11

"Dengan paket yang jumlah peraturannya puluhan bahkan ratusan akhirnya


penjelasan kita berubah menjadi angka. Yang dijelaskan Permennya berubah
menjadi sekian. Jadi substansinya kurang.
Sebab itu, Jokowi memberikan arahan bahwa paket tersebut tidak perlu
terlalu banyak namun konkret dan dampaknya dirasakan masyarakat dan kalangan
dunia usaha. Paket September II ini difokuskan untuk mempercepat layanan
investasi di Tanah Air.
Darmin menjelaskan, izin investasi di Indonesia ini sedianya terdapat dua
kelompok yaitu kelompok investasi di kawasan industri, dan luar kawasan
industri.
Selama ini, lanjut dia, setidaknya butuh 526 hari untuk mengurus perizinan
di kawasan industri, yang terdiri dari delapan hari untuk izin badan usaha, serta
sisanya untuk mengurus 11 perizinan, termasuk untuk perizinan konstruksi.
"Dalam paket September II ini, investasi yang dilakukan di kawasan industri
yang tadinya perizinan badan usaha delapan hari, dan 11 perizinan lainnya tidak
diperlakukan sebagai izin lagi tapi sebagai standar atau sebagai syarat. Izin
investasi di kawasan industri akan jauh lebih cepat.
I.

Isi Paket Kebijakan Ekonomi September Jilid III


Presiden Jokowi kembali merilis paket kebijakan ekonomi jilid III untuk
periode awal Oktober. Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali merilis paket
kebijakan ekonomi jilid III untuk periode awal Oktober. Fokus paket kebijakan
kali ini untuk memperbaiki dan mempermudah iklim usaha, serta memperjelas
pengurusan perizinan dan syarat berusaha di Indonesia.
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution
menjelaskan, dalam paket ini ada dua poin besar yaitu mengenai penurunan tarif
dan atau harga. Kedua, penyederhanaan izin pertanahan, bidang pertanahan untuk
kegiatan penanaman modal.
"Untuk kelompok pertama harga BBM, harga avtur, elpiji 12 kilogram,
pertamax dan pertalite efektif turun sejak 2015. Angkanya dijelaskan Pak
Sudirman (Menteri ESDM Sudirman Said). Harga premium tetap.
Sementara, untuk harga gas industri akan ditetapkan sesuai kemampuan
daya beli industri. Namun, kebijakan ini baru akan berlaku efektif 1 Januari 2016.
Hal tersbeut lantaran, pemerintah perlu mengubah aturan mengenai
penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Sebab, keputusan untuk menurunkan
harga gas industri ini dilakukan dengan mengurangi penerimaan negara dari
PNBP. (Baca: Ini Isi Paket Kebijakan Ekonomi September II Jokowi).
"Perlu digarisbawahi bahwa penurunan harga gas ini tidak memengaruhi
penerimaan dari bagian perusahaan gas kontrak karya. Ini yang dikurangi PNBPnya dan biaya distribusinya. Jadi tolong dicatat lebih baik, karena dikira nanti
dunia usaha dipaksa turun penerimaannya.
Selanjutnya, untuk tarif listrik PT PLN (Persero) sebelumnya telah
menerapkan tarif penyesuaian (adjustment) dan untuk pelanggan dengan tipe I3
dan I4 telah dilakukan penyesuaian. Dalam paket ini, BUMN kelistrikan tersebut
juga menambah insentif dengan memberikan diskon harga pemakaian listrik untuk
tengah malam. Terutama dari jam 23.00 hingga 08.00 pagi sebesar 30%.

12

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini menuturkan, paket kebijakan jilid
III ini juga mengubah kebijakan mengenai penerima kredit usaha rakyat (KUR).
Sebelumnya, keluarga yang memiliki penghasilan tetap alias pegawai tidak bisa
diberi KUR lantaran takut konsumtif.
"Tapi faktanya banyak pegawai, istrinya buka salon, warkop. Sehingga
sepanjang digunakan untuk kegiatan produktif seperti itu maka KUR yang
diberikan itu dikategorikan KUR produktif bukan konsumtif,.
Penyederhanaan izin pertanahakatan untuk bidang pertanahan untuk
kegiatan penanaman modal dengan merevisi Peraturan Menteri Agraria dan Tata
Ruang Nomor 2 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan dan Pengaturan Agraria.
J.

13

Bocoran Paket Kebijakan Ekonomi Jilid IV


Beberapa hal yang mungkin masuk dalam paket kebijakan ekonomi jilid IV
Presiden Joko Widodo (Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin
Nasution mengungkapkan beberapa hal yang mungkin masuk dalam paket
kebijakan ekonomi jilid IV Presiden Joko Widodo (Jokowi) pekan depan.
Darmin mengatakan, dalam paket kebijakan lanjutan ada sektor
ketenagakerjaan. Pemerintah akan lebih fokus mendorong kegiatan ini, bukan lagi
deregulasi seperti isi paket sebelumnya.
"Soal ketenagakerjaan mungkin. Saat ini kita kalau dibilang menyusun
kebijakan bagaimana mendorong kegiatannya bukan deregulasi,".
Kendati rupiah sudah semakin perkasa terhadap dolar Amerika Serikat
(USD), menilai, semua fundamental ekonomi harus diperbaiki agar tidak terus
melambat.
"Yang membaik itu baru rupiah, yang kita perlu kegiatan meningkatkan
ekonomi supaya perlambatan tidak keterusan. Ini jangan dilihat semuanya sudah
baik, ada rapat The Fed yang jalan lagi, tapi bukan ke arah sana (paket kebijakan
IV),".
K.

Persiapan Paket Kebjakan Ekonomi Jilid V, Ada Bahasan Deregulasi


Perizinan Di Tingkat Daerah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan
pemerintah sedang menyiapkan paket kebijakan ekonomi jilid V yang diantaranya
membahas deregulasi perizinan di tingkat daerah.
Darmin tidak membicarakan fokus paket kebijakan jilid V lebih lanjut,
namun ia memastikan paket ini akan diumumkan paling cepat setelah kunjungan
Presiden Joko Widodo Ke Amerika Serikat akhir Oktober 2015.
Pemerintah baru mengumumkan paket kebijakan ekonomi jilid IV yang
diantaranya mengenai kebijakan pengupahan yang lebih sederhana, perluasan
penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan implementasi pemberian kredit oleh
LPEI untuk mencegah PHK.
Garis besar penerbitan paket kebijakan ekonomi tersebut adalah
mempercepat pengembangan ekonomi makro yang kondusif, menggerakkan
ekonomi nasional, melindungi masyarakat berpenghasilan rendah serta
menggerakkan ekonomi pedesaan.

14

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Setelah paket kebijakan jilid I yang lebih banyak berisi deregulasi
peraturan dikritik oleh banyak pelaku pasar karena dianggap tidak berdampak
jangka pendek, respon lebih positif muncul setelah pengumuman paket
kebijakan jilid III.
Efek positif dari paket kebijakan ekonomi pemerintah adalah kepastian
penyederhanaan birokasi untuk investasi, dan insentif bagi dunia usaha. Dengan
penyederhanaan birokrasi dan pemberian insentif, investor semakin percaya diri
untuk menanamkan modalnya di dalam negeri. Efek kebijakan lainnya,
pengusaha juga tidak ragu untuk membawa dolarnya ke Tanah Air dan
menukarkannya dengan rupiah.
Pada paket deregulasi (jilid I), kedua perizinan usaha dipangkas menjadi
hanya tiga jam sehingga investor dapat dengan cepat menerima kepastian dalam
merealisasikan investasinya.
Pengamat pasar keuangan William Surya Wijaya meyakini paket
kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah diapresiasi investor sehingga
membuka peluang arus dana asing kembali masuk ke Indonesia yang akhirnya
mengangkat rupiah.
Pemilik modal biasanya mengantisipasi terlebih dahulu dengan kembali
melakukan investasi. Nilai tukar rupiah yang terapresiasi menandakan kebijakan
pemerintah direspons positif.
Salah satu kebijakan ekonomi jilid III yakni penurunan harga bahan
bakar minyak (BBM), gas dan tarif listrik bagi industri dapat menekan beban
biaya perusahaan di sektor aneka industri di antaranya otomotif dan
komponennya, tekstil dan elektronik.
Namun diharapkan kebijakan pemerintah itu direspon dengan penurunan
harga jual produknya agar daya beli masyarakat kembali meningkat sehingga
dampaknya ke ekonomi dalam negeri dapat dirasakan.

B.

Saran
Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah lebih realistis untuk
tetap menjaga stabilitas ekonomi nasional dibandingkan paket sebelumnya. Ini
kesempatan konsolidasi ekonomi nasional beberapa bulan ke depan menjelang
2016 dimana perkiraan kenaikan the Fed rate akan diberlakukan.
Penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS perlu terus dijaga khususnya di
tengah perlambatan dan ketidakpastian global. Penguatan sektor riil menjadi satusatunya cara untuk menahan spekulasi di sektor pasar uang dan pasar modal.

DAFTAR PUSTAKA

15

B Herry-Priyono Pengajar Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF)


Driyarkara, Jakarta, Alumnus London School of Economics (LSE), Inggris
http://ekbis.sindonews.com/read/1039884/33/ini-bocoran-paket-kebijakan-ekonomijokowi-jilid-ii-1441186639
http://ekbis.sindonews.com/read/1042658/33/ini-tiga-paket-kebijakan-ekonomiseptember-i-jokowi-1441801753
http://ekbis.sindonews.com/read/1048979/33/ini-isi-paket-kebijakan-ekonomiseptember-ii-jokowi-1443523678
http://ekbis.sindonews.com/read/1051193/33/ini-isi-lengkap-paket-kebijakan-ekonomijokowi-jilid-iii-1444218446
http://ekbis.sindonews.com/read/1051891/33/ini-bocoran-paket-kebijakan-ekonomijilid-iv-jokowi-1444402931
http://toppesan.com/2015/09/29/dorong-penyerapan-tenaga-kerja-paket-deregulasi-jilid2-segera-diluncurkan/
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/01/opini/1789156.htm

16

Anda mungkin juga menyukai