Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MAKALAH SURVEY REKAYASA LAUT

Peran Geodet Didalam Perencanaan Pemasangan Dan


Pemeliharaan Jalur Pipa Bawah Laut

Disusun Oleh :
Anggit Keliandar

11.25.003

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
MALANG
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW.

Berkat

limpahan

dan rahmat-Nya

penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata
kuliah Survey Rekayasa Laut.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Pemasangan Pipa Lepas Pantai yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para Mahasiswa
Institut Teknologi Nasional (ITN). Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap kepada
Dosen Pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan
makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran
dari para pembaca.
Malang, Juli 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Wilayah lautan Indonesia memiliki potensi sumber daya yang
harus dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin untuk menunjang
perekonomian Indonesia. Salah satu potensi sumber daya alamnya yaitu
minyak bumi dan gas. Apabila keadaan ini dikaitkan perkembangan
industri minyak dan gas di Indonesia yang semakin hari semakin
mengalami peningkatan, maka permintaan akan minyak bumi dan gas
juga mengalami peningkatan. Oleh karena itu pemerintah harus
membangun suatu sistem untuk pendistribusian minyak bumi dan gas
secara efektif. Sistem tersebut berupa sarana transportasi yang efektif dan
efisien untuk menunjang kelancaran pendistribusian minyak bumi dan gas
(Ariza fahlusiyusuf, 2012).
Kebutuhan akan sarana transportasi ini memerlukan informasi dan
teknologi yang dapat diandalkan dalam bidang kelautan. Pembangunan
pipa bawah laut merupakan salah satu sarana transportasi yang efektif dan
efisien untuk pendistribusian minyak bumi dan gas di laut. Dalam
kegiatan pembangunan pipa bawah laut membutuhkan berbagai informasi
yang akan mendukung proses pemasangan pipa bawah laut tersebut.
Informasi yang dibutuhkan dalam pemasangan pipa bawah laut adalah:
1. Informasi kedalaman dasar laut di sepanjang koridor rencana survei
rencana rute pipa bawah laut, berupa topografi bawah laut.
2. Informasi pasang surut di sekitar area survei sebagai referensi
kedalaman.
3. Informasi arah dan kecepatan arus laut di sepanjang area survei
rencana rute pipa.

4. Informasi tentang jenis atau struktur batuan dan tanah di sepanjang


koridor rencana rute pipa bawah laut.
5. Informasi tentang infrastruktur yang sudah terpasang sebelumnya di
area survei seperti pipa dan kabel bawah laut. Informasi-informasi
diatas digunakan untuk keperluan penentuan rute pemasangan pipa
bawah laut, sehingga diharapkan hasil yang didapatkan berupa
informasi pemilihan rute pipa bawah laut. Informasi pemilihan rute
pipa bawah laut tersebut digunakan untuk rencana pembangunan dan
pemasangan pipa bawah laut di suatu wilayah, sehingga diharapkan
pembangunan pipa bawah laut tersebut menunjang kelancaran
disribusi minyak bumi dan gas dari suatu daerah ke daerah lain secara
efektif dan efisien.
Di makalah ini, penulis akan memaparkan secara singkat teori tentang
pemasangan pipa lepas pantai.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari penulisan
makalah ini :
1. Bagaimana kegiatan pemasangan pipa bawah laut secara umum ?
2. Bagaimana tahapan-tahapan pemasangan pipa lepas pantai ?
3. Bagaimana verifikasi posisi pemasangan pipa lepas pantai ?

1.3

Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, tujuan penulisan
dari makalah ini yaitu
1. mengetahui kegiatan pemasangan pipa bawah laut secara umum.
2. Mengetahui tahapan-tahapan pemasang pipa bawah laut.

3. Mengetahui kegiatan verifikasi posisi pipa bawah laut

BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN

2.1

Kegiatan Pemasangan Pipa Bawah Laut Secara Umum


Pipa bawah laut diperlukan untuk pendistribusikan minyak dan gas.
Untuk kegiatan pemasangan pipa bawah laut ini sendiri terbagi dalam
beberapa tahapan. Tahapan pertama sebelum dilakukan pemasangan pipa
bawah laut ini adalah survey perencanaan pemasangan pipa bawah laut.
Survei ini biasa juga disebut dengan geophysical pre-engineering route
survey for pipeline installation (Rahadianyu,2012).
Kegiatan ini biasanya dilakukan dalam rentang 6 bulan sampai 2
tahun sebelum dilakukan pemasangan pipa bawah laut. Survei ini
dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi dasar mengenai
topografi dasar laut dan pipa yang sudah ada sebelumnya (existing cable
and pipeline), bangkai bangkai kapal dan juga natural hazards yang
nantinya akan dipastikan lagi keberadaannya pada tahapan survei
selanjutnya. Setelah dilakukan persiapan dengan matang selanjutnya
dilakukan pre-Lay Survey yang dilakukan untuk memastikan kembali
kebenaran data-data dari survey Pre-engineering sebelum dilakukan
kegiatan instalasi pipa itu sendiri.
Tahapan berikutnya setelah kegiatan instalasi pipa dilakukan,
diperlukan kegiatan untuk memeriksa apakah penginstalasian pipa bawah
laut sudah sesuai dengan yang direncanakan yaitu pada kegiatan as-laid
survey. Tujuan dari dilakukannya as laid survey ialah untuk langsung
merekam posisi dan status dari pipa setelah pipa dipasang. Apabila
penginstalasian pipa ini sudah melewati tahap ini, maka kegiatan pipa
bawah laut dapat dikatakan telah selesai. Untuk selanjutnya perlu
dilakukan pengontrolan kondisi pipa bawah laut secara berkala.

2.1 Tahapan Pemasangan Pipa Bawah Laut


Pemasangan pipa bawah laut dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu preLay Survey, Pipeline Installation, As Laid Survey (Ajietukangpipa, 2012).
2.1.1

Pre-Lay Sursvey
Survei pra pemasangan dilakukan sebelum pemasangan pipa.
Pada survei ini jalur yang akan disurvei lebih lebar dibandingkan
dengan survei rute pemasangan pipa, hal ini dilakukan untuk
mencover jangkar dari kapal tongkang yang akan dilakukan untuk
pemasangan pipa. Tujuan dari survei pra pemasangan ini ialah
sebagai berikut :
1. Menyediakan informasi mengenai dasar laut, seperti data
batimetri dan menyediakan informasi mengenai posisi pipa
yang telah existing.
2. Mengidentifikasi endapan puing-puing yang berbahaya yang
terindikasi pada saaat survei rute pipa dilakukan.
3. Menyediakan informasi lanjut dari puing-puing yang telah
diketahui sebelumnya.
Detail ketelitian yang diajukan oleh klien untuk survey
geofisika

terdapat pada prosedur proyek survei. Survei yang

dilakukan pada pra pemasangan pipa ini sebagai berikut :


1. Side Scan Sonar
2. Sub-Bottom Profiler
3. Echo sounder
4. Magnetometer survey
Apabila terdeteksi fitur-fitur berbahaya oleh sonar, maka ROV
akan langsung turun untuk mengambil video atau memeriksa fitur
berbahaya tersebut sehingga dapat dipertimbangkan apakah
memungkinkan untuk memindahkan objek tersebut atau harus

dilakukan perubahan rencana jalur pipa

bawah laut untuk

menghindar dari objek tersebut.


Pada pra pemasangan pipa atau Pre-Lay Sursvey dibutuhkan
survey batimetri untuk menginformasikan mengenai dasar laut.
Survey batimetri merupakan suatu proses kegiatan pengukuran
kedalaman yang ditujukan untuk memperoleh suatu gambaran
(model) dan bentuk permukaan dasar perairan (seabed surface)
(Yatno, 2007). Visualisasi dari dasar perairan tersebut biasanya
berupa kontur kedalaman atau dalam bentuk model batimetri
diperoleh

dengan

menginterpolasikan

titik-titik

pengukuran

kedalaman yang tersebar pada lokasi yang dikaji. Informasi posisi


titik juga sangat penting, kegiatan penentuan posisi dan penentuan
kedalaman dari suatu titik harus dilakukan dalam waktu yang
bersamaan. Pekeraan penentuan posisi beserta kedalamannya
umumnya disebut dengan pemeruman.
Untuk memperoleh kedalaman yang bereferensikan terhadap
datum vertical, selama kegiatan survei batimetri harus harus
dilakukan pengamatan pasut. Kedudukan muka air yang selalu
bervariasi, akan menghasilkan kedalaman sesaat pada waktu
tertentu. Dengan melakukan pengamatan pasut pada waktu yang
sama dengan kegiatan penentuan kedalaman, maka kita dapat
mereduksi data ukuran kedalaman agar dapat mengacu terhadap
datum vertical yang telah disepakati sebelumnya.
1. Pasang surut
Pasang surut air laut adalah fenomena naik dan turunnya
permukaan air laut secara periodic yang disebabkan oleh pengaruh
grafitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Dengan
periode gerak naik muka laut rata-rata sekitar 12.4 jam atau 24.8
jam. Pengamatan pasut dilakukan untuk merekam gerakan vertical
permukaan air laut yang terjadi secara periodic, dengan merataratakan data tinggi muka air laut yang diamati pada rentang waktu

tertentu akan menghasilkan mean sea level (MSL). MSL dapat


dipakai sebagai tinggi nol yang dijadikan sebagai datum vertical
dalam menentukan kedalaman suatu titik.
Tinggi titik dipantai atau kedalaman titik di laut hanya dapat
ditentukan secara relative terhadap bidang yang disepakati sebagai
referensi tinggi atau datum vertical. Untuk menentukan sebuah
kedalaman,

diperlukan

suatu

bidang

referensi

kedalaman.

Pemilihan bidang referensi bergantung pada maksut dan tujuan dari


masing-masing proyek yang dilakukan. Datum vertical ditentukan
dengan merata-ratakan data pasut sepanang rentan waktu
pengamatan. Permukaan laut rata-rata atau mean sea level (MSL)
diperoleh dari satu atau beberapa stasiun pengamat pasut dan
dipakai sebagai datum vertikal. Bidang referensi yang sering
digunakan

dalam

kegiatan

pemeruman

bergantung

pada

standardisasi yang digunakan.


2. Penentuan posisi horizontal
Dalam penentuan posisi horizontal, digunakan GPS sebagai
teknologi penentuan posisi dari kedalaman. Metode yang
digunakan dalam penentuan posisi ini ialah metode DGPS
(Differential Global Positioning System), gambar berikut akan
mengilustrasikan system kerja metode DGPS.

Gambar 1.10. System kerja metode DGPS.

System ini merupakan system penentuan posisi real time secara


diferensial menggunakan data pseudo range. data pseudo range
ialah sebuah perkiraan arak antara satelit dengan receiver. Untuk
itu monitor stasiun harus mengirimkan koreksi diferensial ke
pengguna secara real time menggunakan system komunikasi
tertentu. Koreksi posisi dilakukan untuk menempatkan data yang
terekam pada posisi yang sebenarnya. Kesalahan ini teradi
dikarenakan konfigurasi satelit yang kurang baik selama akuisisi
data posisi DGPS (Differential Global Positioning System).
3. Reduksi kedalaman
Reduksi kedalaman bertujuan untuk melakukan koreksi
terhadap nilai kedalaman yang terukur. Dengan mengukur
permukaan air sesaat maka dapat menentukan bidang referensi dari
nilai kedalaman dasar laut terhadap mean sea level atau chart
datum dibutuhkan beberapa koreksi, yaitu koreksi cepat rambat
gelombang akustik, koreksi draft transduser. Koreksi pergerakan
kapal, dan koreksi pasut.

Gambar 1.11. Mengilustrasikan bagaimana menentukan nilai reduksi


kedalaman.

Titik kedalaman dasar laut hasil pengolahan data multibeam


echosounder dikoreksi terdapat draft transduser, reduksi pasut,
beda fase, dan sudut beam tertentu. Apabila suatu beam memiliki
beda fase tertentu dengan resolusi sudut beam yang berbeda maka
kedalaman dalam hal ini merupakan kedalaman miring seperti
yang diperlihatkan pada gambar 1.12.

Gambar 1.12.Kedalaman miring resolusi sudut beam.


Pengukuran kedalam dilakukan pada titik titik yang dipilih
untuk mewakili keseluruhan daerah yang akan dipetakan. Pada
titik-titik tersebut juga dilakukan pengukuran untuk penentuan
posisi. Titik-titik tempat dilakukan pengukuran untuk penentukan
posisi dan kedalaman disebut sebagai titik fiks perum. Untuk
pengukuran kedalam, digunakan echosounder atau perum gema,
alat ini dapat dipakai untuk menghasilkan profil kedalaman yang
kontinyu sepanjang lajur perum dengan ketelitiaan yang cukup
baik. Alat perum gema menggunakan prinsip pengukuran jarak
dengan manfaatkan gelombang akustik yang diancarkan oleh
transduser, gelombang kaustik tersebut merambat pada medium air
dengan cepat rambat yang relative diketahui atau dapat di prediksi
hingga menyentuh dasar perairan dan dipantulkan kembali ke
transduser.

A. Multibeam Echosunder
Multibeam Echosunder ialah alat untuk mengukur kedalaman
air dengan mengguakan banyak beam. Dengan system ini, setiap
kali dikirimkan gelombang suara kedasar laut, maka akan
diperoleh banyak titik kedalaman. Gelombang suara dikirimkan
dari tranduser ke dasar laut, dan akan dipantulkan kembali menuju
tranduser.
1. Penggunaan Multibeam Echosounder
Ini digunakan di hampir semua cabang survey hidrografi,
penggunaan multibeam echosounder sebagai berikut :
a. Pengerukan (control pada proyek kontruksi )
b. Offshore (inspeksi pipa, proyek peletakan pipa, dan inspeksi
struktur dengan ROV)
c. Pre-design surveys (berhubungan dengan jalur pipa dan rute
kabel)
d. Pemetaan (dibutuhkan oleh IHO (SP 44) untuk pelabuhan, dan
alur pelayaran)
e. Pemerintahan (inspeksi bendungan, tanggul dan pelabuhan)
2. System pada Multibeam Echosounder
Terdiri dari bagian berikut ini :
a. Prosesor data akustik
b. Panel control
c. Transuder
d. Sound velocity probe
3. Kalibrasi multibeam echosounder
Merupakan tahapan yang digunakan untuk menentukan besarnya
kesalahan yang ada, antara lain :
a. Kalibrasi patch test (uji keseimbangan)

Merupakan metode dengan menggunakan sampel suatu daerah


tertentu untuk menentukan nialai-nilai kalibrasi. Parameter yang
dapat dikalibrasi menggunakan metode ini adalah ::
1. Kalibrasi perbedaan waktu tunggu yaitu pengambilan data yang
dilakukan oleh multibeam echosounder memiliki waktu dengan
DGPS.
2. Kalibrasi Rool yaitu kalibrasi gerakan kapal pada arah sumbu
x.
3. Kalibrasi Pitch yaitu gerakan pitch yang mempengaruhi
perubahan posisi rotasi kapal pada sumbu y.
4. Kalibrasi yaw yaitu gerakan yaw yang mempengaruhi perubahan
posisi rotasi kapal pada sumbu z.
b.

Kalibrasi offset statis


Merupakan kalibrasi yang dilakukan untuk penyesuaian arak dari
sensor-sensor yang digunakan terhadap titik referensi dari wahana
survey dan transduser.
c. Kalibrasi cepat rambat gelombang suara
Sebelum memulai kegiatan pemetaan dasar laut harus dilakukan
pengambilan data kecepatan suara di dalam air pada daerah survey,
pengambilan data kecepatan suara ini menggunakan alat SVP
(Sound Velocity Profile).

B. Sub Bottom Profiler

Gambar 1.13.Kapal yang melaksanakan survey sub bottom profiler.


Sub bottom profiler ialah alat untuk menginvestigasi dan
identifikasi kondisi sedimen di dekat dengan permukaan dasar laut,
ataupun pengairan. Alat ini tidak dapat menembus jauh ke dalam
lapisan dasar laut tapi cukup baik untuk menelaah lapisan
permukaan laut.
2.2.1

Peletakan Pipa Bawah Laut (Pipeline Installatation).


Pemasangan pipa bawah laut terdiri dari peletakan pipa bawah
laut

dan

Tie-in/Riser

Installation.

Pemasangan

ini

dapat

menimbulkan sejumlah tantangan, terutama jika pemasangan pipa


dilakukan pada perairan yang dalam. Terdapat tiga cara dalam
peletakan pipa bawah laut, yaitu metode tow-in, metode S-lay,
metode J-lay, dan metode rel barge (Ajietukangpipa, 2012).
1. Tow-in Pipeline Installation
Dalam metode ini pipa yang panjang telah dilas, diperiksa dan
dilapisi. Pekerjaan tersebut dilakukan di darat, kemudian pipa
tersebut ditarik kedalam air menggunakan kapal. Selain lebih
murah metode kontruksi ini sangat baik untuk pengaplikasian
seperti shore approaches, memiliki pipa yang pendek, kumpulan

beberapa jaringan pipa, pengoperasian pipa pada perairan dalam,


dan daerah eksplorasi yang memiliki musim instalasi yang pendek.
Pipa yang akan dipasang tersuspensi di dalam air melalui
prinsip daya apung dengan menggunakan pelampung, dan satu atau
dua kapal akan menarik pipa tersebut ketempat dimana pipa
tersebut akan dipasang. Pada saat sudah sampai dilokasi
pemasangan pipa, pelampung yang dipasang akan dilepas dan pipa
akan terapung kedasar laut.
Metode tow-in installation ini dibagi menjadi 4 berdasarkan
dari posisi pipa saat ditarik, yang pertama ialah surface tow yaitu
metode dimana posisi pipa saat ditarik terletak pada permukaan
laut, pada metode ini kapal menarik pipa pada permukaan air laut
dan modul buoy membantu agar posisi pipa tetap terletak pada
permukaan laut.
Menggunakan

modul

daya

apung

yang

lebih

kecil

dibandingkan dengan metode surface tow, metode mid-depth tow


memanfaatkan

kecepatan

dari

kapal

penarik

untuk

mempertahankan posisi pipa yang ditarik tetap pada posisi


terendam didalam laut, pada saat kapal berhenti melaju maka pipa
yang ditarik akan langsung mengendap kedasar laut, sedangkan
untuk metode off-bottom tow menggunakan modul daya apung dan
rantai untuk menambah beban yang ditarik dan untuk menjaga agar
posisi pipa tetap berada diatas dasar laut, ketika kapal telah sampai
pada lokasi penempatan pipa maka modul daya apung dilepas dan
pipa akan mengendap didasar laut, dan terakhir ialah bottom tow
pada cara ini pipa ditarik dengan posisi pipa berada pada dasar laut
dan tidak menggunakan modul daya apung, cara ini hanya
dilakukan pada instalasi pipa di perairan dangkal dan pada dasar
laut harus dipastikan rata dan lembut untuk menggunakan cara ini.

Gambar 1. Posisi pipa di dalam laut pada saat ditarik dengan kapal
atau Surface Tow Pipeline Installation.

Gambar 1.1.Posisi pipa di dalam laut pada saat ditarik dengan kapal
atau Tow-in Pipeline Installation (Anonim, 2009).

2. S-Lay Pipeline Installation


Metode ini ialah metode yang paling umum untuk konstruksi
pipa lepas pantai. Pipa yang akan dipasang dilas, diperiksa, dan
dilapisi diatas kapal, setelah selesai pipa akan dikeluarkan melalui
bagian belakang kapal. Pipa tersebut melengkung kebawah keluar
dari buritan kapal menuju bawah air hingga mencapai touchdown
point, atau tujuan dari pipa tersebut di dasar laut dan pipa akan
membentuk huruf S didalam air.

Gambar 1.2. Ilustrasi pemasangan pipa dengan metode S-lay.


Stringers memanjang dari buritan kapal untuk menopang pipa
pada saat bergerak menuju air laut, serta mengontrol kelengkungan
dari instalasi pipa. Beberapa kapal memiliki strigers yang dapat
disesuaikan, dapat dijadikan panjang atau pendek yang disesuaikan
dengan kedalaman air laut.

Gambar 1.3. Pipa yang didorong oleh stingers.


Tensioner

adalah

perangkat

yang

berfungsi

untuk

mempertahankan tegangan pada pipa saat pipa tersebut didorong


ke dalam air. Pemasangan pipa dengan metode S-lay ini dapat
dilakukan pada perairan hingga kedalaman 6500 kaki (1.981
meter) dengan pipa yang dapat dipasang per hari mencapai 4 mil (6
kilometer) per hari.
3. J-Lay Pipeline Installation
Mengatasi beberapa kendala yang terdapat pada proses
pemasangan pipa dengan menggunakan metode S-lay, pemasangan
pipa menggunakan metode J-lay mengurangi tekanan pada pipa
dengan menempatkan pipa dalam posisi yang hamper vertikal.
Dalam kasus ini pipa diangkat melalui sebuah crane pada kapal
dan dimasukkan ke dalam laut. Berbeda dengan kelengkungan
ganda yang terdapat pada metode pemasangan S-lay, pipa hanya
melengkung satu kali pada pemasangan dengan metode J-lay ini,
dengan pipa membentuk huruf J didalam air.
Kurangnya tekanan yang dihasilkan pada metode pemasangan
pipa J-lay ini memungkinkan metode ini untuk diaplikasikan pada
kedalaman air yang lebih dalam. Selain itu metode pemasangan
pipa J-lay ini memungkinkan pipa untuk menahan gerakan dan

arus bawah air lebih baik dari pada pipa yang dipasang dengan
menggunakan metode S-lay.
Gambar 1.4. Pemasangan pipa menggunakan metode Jlay.
4. Metode Reel Barge
Pemasangan pipa bawah laut dengan metode Reel Barge ini

menggunakan gulungan yang berdiameter besar dengan pipa yang


telah dilas sebelumnya. Pengelasan, pelapisan dan pemeriksaan
terhadap pipa yang telah dilakukan di darat pada pusat perakitan
pipa itu sendiri, dan kemudian pipa yang telah selesai melalui
proses yang telah disebutkan sebelumnya dilingkari atau digulung
pada gulungan besar itu sendiri. Kapal tongkang yang telah
dilengkapi dengan gulungan pipa ini bergerak menuju lokasi
konstruksi, pada lokasi peletakan pipa, salah satu ujung dari pipa
yang telah disiapkan ini dikaitkan ke salah satu ujung pipa yang
telah diletakkan sebelumnya, dan kapal tongkang ini akan bergerak
sesuai dengan jalur rute pipa yang telah ditentukan. Straightening
rollers digunakan untuk pipa yang akan diletakkan ke dasar laut.
Gambar 2.6 akan mengilustrasikan pemasangan pipa dengan
menggunakan metode reel barge ini.
Gambar 1.5. Pemasangan pipa menggunakan metode Reel Barge.

Reel barge dapat memasang pipa lebih cepat dari pada kapal
tongkang yang biasanya tetapi terbatas pada pemasangan pipa
dengan diameter 400 mm (16 inci). Panjang pipa maksimum yang
dapat dipasang tergantung pada ukuran dari pipa tersebut, tetapi
kapasitas dari gulungan dan kemampuan dari barges itu sendiri
mencapai 22 km dengan diameter pipa 250 mm (10 inci). Gambar
2.8 menunjukkan gambar dari kapal reel barge. Di sisi lain reel
barge dapat memiliki golongan pipa vertical atau gulungan pipa
horizontal. Reel barge dapat memasang pipa yang berukuran kecil
dan juga fleksibel. Kapal dengan gulungan pipa horizontal dapat
memasang pipa dengan model S-lay, sedangkan untuk gulungan
vertical dapat memasang pipa dengan metode S-lay dan juga
metode J-lay. Gambar 2.7 menunjukkan kapal yang digunakan
pada metode reel barge.

Gambar 1.6.Pemasangan pipa menggunakan metode reel barge.


5. Tie-in/Riser Installation
Setelah pipa selesai diletakkan didasar laut bagian vertical pada
pipa disebut riser, digunakan untuk menggabungkan pipa bawah

laut ke fasilitaas produksi, biasanya terletak pada sebuah platform.


Bagian-bagian dari pemasangan riser ditunjukkan pada gambar
berikut ini.
Gambar 1.7. Pemasangan riser di bawah laut.

Beberapa metode dapat digunakan untuk pemasangan riser ini,


tie-in atau penghubung antara pipa bawah air dengan riser dapat
dibuat

dengan

pengalasan,

flanging,

atau

menggunakan

mechanical connectors. Pengelasan ialah metode paling disarankan


untuk digunakan apabila memungkinkan.
i. As Laid Survey
Tujuan dari dilakukannya as laid survey yaitu untuk langsung
merekam posisi dan status dari pipa setelah pipa dipasang. Survei
ini selalu dilakukan pada saat pemasangan pipa bawah laut atau
dilakukan sesegera mungkin pada saat survei ini memungkinkan
dilakukan setelah pipa sudah dipasang. Hal-hal yang didapatkan
pada saat survei ini sebagai berikut :
a. Posisi horizontal dari pipa bawah laut dengan referensi
perencanaan awal.

b. Profil vertical dari pipa bawah laut dengan memperhatikan


kondisi dasar laut dari berbagai sisi pada pipa bawah laut
tersebut.
c. Rekaman video dari kedua sisi dan bagian atas dari pipa bawah
laut.
d. Profil melintang dengan batasan interval tertentu.
e. Data lokasi dan dokumentasi kondisi fisik dari pipa bawah laut.
f. Data lokasi dan dokumentasi dari free spans dan buckles.
g. Data lokasi dan dokumentasi dari debris di sekitar lokasi pipa
yang dapat menghalangi penggalian.
h. Menentukan posisi dari masing-masing field joint dan CP
anode.
Untuk mendapatkan data-data diatas dapat digunakan beberapa
cara, salah satunya ialah penggunaan ROV (Remotely Operated
Vehicle), ROV dapat merekam data dengan menggunakan kamera
yang ada pada alat ROV ini dan juga menggunakan USBL (Ultra
Short Baseline) sebagai sistem penentuan posisi yang digunakan,
untuk menentukan posisi x dan y dan juga informasi keberadaan
dari free-span. Data kedalaman pipa secara Real-Time hanya
didapatkan oleh ROV jika posisi ROV berada tepat diatas pipa atau
menempel pada pipa. Kamera yang terdapat pada ROV juga dapat
merekam kerusakan yang terdapat dipermukaan pipa. Semua data
visual terekam pada tape bersamaan dengan informasi posisi dan
komentar dari ROV pilot.

Gambar 1.9 mengilustrasikan survei pipa bawah laut dengan


menggunakan ROV.
Metode lainnya ialah dengan menjalankan survei dengan alur
tegak lurus dengan jalur pipa dengan interval yang telah ditentukan
sebelumnya. Semua alat digunakan pada survei ini, pada dasarnya
side scan sonar dan sub bottom profiler adalah alat yang
menyediakan posisi dari pipa bawah laut tersebut. Meskipun alatalat tersebut tidak dapat diklasifikasikan sebagai alat penentu
posisi,

alat

tersebut

dapat

ditentukan

posisiya

dengan

menggunakan USBL, penggunaan alat side scan sonar dan sub


bottom profiler dimaksudkan agar alat-alat tersebut bisa lebih
mendekat ke pipa yang telah terpasang di dasar laut dibandingkan
dengan posisi echosounder untuk melengkapi data akustik yang
didapat.
Kegiatan verifikasi posisi pipa bawah laut dimaksutkan untuk
melakukan verifikasi posisi terhadap lokasi pemasangan pipa
bawah laut, setelah pipa dipasang di bawah laut, maka kegiatan
verifikasi ini langsung dilakukan, kegiatan ini bertujuan untuk
mengetahui kondisi pipa di dalam laut, dan juga mengetahui posisi
actual dari pipa tersebut setelah pemasangan pipa selesai

dilakukan. Kegiatan verifikasi posisi pipa bawah laut ini barkaitan


dengan penerapan sistem survei batimetri (Muhammadfi, 2012).
Trenching

Operation

Pipelines

merupakan

proses

perlindungan pipa dengan membenamkan pipa kedalam tanah,


dalam kasus ini ialah membenamkan pipa ke bawah laut ke bawah
lapisan dasar laut. Proses membenamkan pipa ini dapat dilakukan
dengan menggunakan 3 metode (Guo,et al. 2005), yaitu
1. Pre trenching yaitu pembuatan

parit sebelum instalasi pipa

dilakukan, metode seperti ini dilakukan apabila kondisi instalasi


pipa merupakan lapisan tanah yang keras.
2. Simultaneous trenching yaitu proses pembuatan parit atau
trenching dilakukan bersama dengan pemasangan pipa.
3. Post trenching yaitu proses trenching atau pembuatan parit
dilakukan setelah pemasangan pipa dilakukan, metode ini biasanya
dilakukan apabila kondisi lapisan tanah pada lokasi instalasi pipa
ialah lapisan tanah yang lunak.
Terdapat beberapa faktor mengapa perlu dibuat parit yang akan
digunakan oleh alur pipa, beberapa faktor antara lain :
1. Efek hidrodinamis
Sebuah pipa di desain untuk dapat stabil diatara dasar laut,
dikarenakan kondisi dilapangan yang terkadang memiliki pola arus
yang cukup kuat.
2. Bentangan pada pipa
Ketika suatu jalur pipa membentang dan pada lokasi bentangan
pada pipa terdapat sebuah arus yang dapat menyebabkan getaran
disekitar pipa. Getaran ini menyebabkan efek vortex shedding
(bentuk aliran yang melewati pipa) yang dapat berakibat
mengganggu aliran kedalam pipa sehingga pipa akan lebih baik
apabila dibuat parit atau dipendam.
3. Aktifitas penangkapan ikan

Lokasi dimana kegiatan penangkapan ikan yang ramai juga


harus diperhitungkan apabila akan melakukan proses pemasangan
pipa bawah laut dikarenakan jaringan penangkap ikan atau pukat
harimau dapat mengait atau merusak pipa tersebut sehingga akan
lebih baik dibuat sebuah parit untuk melindungi pipa bisa juga
dengan cara pipa dipendam.
4. Penempatan angkar
Apabila penempatan angkar kapal tidak mendeteksi obyek
bawah laut sebelumnya dan kondisi dibawah kapal tersebut
terdapat sebuah bentangan pipa maka akan sangat berbahaya bila
bentangan pipa tersebut tidak pas, karena angkar kapal akan mudah
merusak bentangan pipa tersebut.
5. Perlindungan terhadap es
Dibeberapa lokasi yang bersuhu sangat dingin memungkinkan
terdapat beberapa bongkahan es, gesekan yang terjadi antara
gesekan

es

dengan

pipa

akan

sangat

berbahaya

karena

mengakibatkan kerusakan pada lapisan pipa tersebut.

Gambar 1.8.Terdapat bongkahan es pada saat pemasangan pipa.

DAFTAR PUSTAKA
1. https://arizafahluziyusuf.wordpress.com/2012/03/27/metode-pemasanganpipa-bawah-laut/
2. digilib.itb.ac.id/files/.../jbptitbpp-gdl-rahadianyu-22735-3-2012ta-2.pdf.
3. https://ajietukangpipa.wordpress.com/2012/02/12/metode-pemasanganpipa-bawah-laut.
4. https://arizafahluziyusuf.wordpress.com/2012/03/27/metode-pemasanganpipa-bawah-laut.
5. www.richtechusa.com.
6. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/455/jbptitbpp-gdl-muhammadfi-22723-42012ta-3.pdf.
7. Anonim, 2009.