Anda di halaman 1dari 3

Biografi

Erik Erikson lahir pada tanggal 15 Juni 1902 di Jerman Selatan. Ia dibesarkan oleh ibu dan ayah
tirinya. Masa remaja Erikson dihabiskan dengan mengembara sebagai seniman dan penyair. Setelah
mengembara, Erikson mendapat surat untuk mengajar di sekolah baru di Wina. Salah satu pendiri
sekolah tersebut adalah Anna Freud. Pada saat di Wina pula, Erikson bertemu dengan Joan Serson,
seorang penari, seniman, dan guru yang berkebangsaan Kanada. Erikson lalu menikah dengan Joan
Serson dan memiliki empat anak, tiga putra yaitu Kai, Jon, dan Neil, dan satu putri yaitu Sue. Anak
Erikson yang bernama Neil mengidap Down Syndrome.

Pada tahun 1950, Erikson menerbitkan Childhood and Society, yaitu karya yang mengantarkan
Erikson kepada reputasi internasional sebagai pemikir yang penuh imajinatif.

Pada tahun 1960, dia kembali di Harvard, dan 10 tahun berikutnya Beliau menjadi profesor di bidang
perkembangan manusia. Setelah pensiun dan pada tahun-tahun awal pensiunnya tersebut, dia
senang berpindah-pindah, dan melanjutkan kebiasaan menulisnya.

Erikson meninggal pada tanggal 12 mei 1994 di usia 91 tahun.

Buku Erikson yang terkenal antara lain: Childhood and Society (1950, 1963, 1985), Young Man Luther
(1958), Identity: Youth and Chrisis (1968), Gandi’s Truth (1969), Dimensions of a New Identity (1974),
Life History and the Historical Moment (1975), Identity and the Life Cycle (1980), dan Life Cycle
Completed (1982).

Stephen Schlein dengan sangat baik hatinya menyatukan makalah Erikson dalam judul A Way of
Looking at Things (Erikson, 1987).

Erikson mengembangkan teori Freud yang hanya 5 tahap perkembangan yang hanya sampai anak-
anak, diperluas oleh Erikson menuju masa remaja, dewasa, dan usia senja. Beliau yakin bahwa setiap
tahapan membantuk membentuk kepribadian.

Meskipun Erikson menggunakan teori Freud sebagai akar pendekatannya tentang siklus hidup
kepribadian.

Menurut Freud, ego tidak memiliki kekuatan dari dirinya sendiri, ego harus meminjam energi dari id.
Freud percaya bahwa manusia yang sehat, ego sudah berkembang untuk mampu mengendalikan id
meskipun kontrolnya masih rapuh, dan impuls-impuls id masih dapat mengganggu dan mengalahkan
kapanpun.

Erikson yakin bahwa ego merupakan sebuah kekuatan positif yang menciptakan identitas diri. Ego
membantu beradaptasi dengan konflik dan krisis kehidupan dan menjaga kita dari kehilangan
individualitas dihadapan daya sosial. Pada masa kanak-kanak, ego lemah, fleksibel, dan rapuh. Pada
masa remaja, ego harus mulai mengambil bentuk tertentu dan memperoleh kekuatannya. Ego
menyatukan kepribadian. Menurut pandangan Erikson ego sebagai badan pengorganisasian yang
sebagian bekerja secara bawah sadar untuk mensintesiskan pengalaman kita di masa kini dengan
identitas diri di masa lalu dan gambaran diri ke depan.
Erikson mengidentifikasi 3 aspek ego.

1. Body ego : pengalam individu terkait dengan tubuh atau fisiknya sendiri. Individu
cenderung akan melihat fisiknya berbeda dengan fisik tubuh orang lain.
2. Ego ideal : gambaran terkait dengan konsep diri yang sempurna. Individu cenderung
akan berimajinasi untuk memiliki konsep ego yang lebih ideal dibanding dengan orang
lain.
3. Ego identity : gambaran yang dimiliki individu terkait dengan diri yang melakukan
peran sosial pada lingkungan tertentu.

Pengaruh masyarakat

Pandangan Erikson terhadap faktor-faktor sosial dan historis berkebalikan dengan sudut
pandang Freud yang kebanyakan sifatnya biologis. Menurut Erikson, saat manusia lahir, ego
itu hadir hanya sebagai potensi namun, untuk menjadi aktual dia harus hadir dalam
lingkungan kultural. Masyarakat yang berbeda dengan pengasuhan anak, cenderung
membentuk kepribadian yang cocok dengan kebutuhan dan nilai budaya mereka sendiri.

Prinsip epigenetik

Perkembangan epigenetik adalah perkembangan tahap demi tahap dari organ-organ embrio
.Ego berkembang mengikuti prinsip epigenetik artinya tiap bagian dari ego berkembang pada
tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu. Satu tahap muncul dari dan
dibangun di atas tahap sebelumnya namun, tidak menghilangkan atau menggantikan tahap
sebelumnya.

Tahap-tahap perkembangan Psikososial

Hal dasar yang dapat dipakai untuk memahami teori perkembangan psikososial Erikson:

1. Pertumbuhan berjalan menurut prinsip epigenetik


2. Setiap tahap kehidupan terdapat sebuah interaksi yang berlawanan, yaitu antara
elemen sintonik (harmonis) dan elemen distonik (konflik).
3. Kekuatan dasar yang terlalu kecil di setiap tahapan akan menghasilkan patologi inti
(core pathology) di tahap tersebut.
4. Aspek biologis perkembangan manusia.
5. Peristiwa ditahap sebelumnya bukan salah satu penyebab perkembangan kepribadian
berikutnya. Identitas ego dibentuk oleh multiplisitas konflik dan peristiwa masa lalu,
masa kini, dan antisipasi masa depan.
6. Perkembangan kepribadian dicirikan oleh sebuah krisis identitas.