Anda di halaman 1dari 16

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, laporan kasus

yang berjudul Skizofrenia Hebefrenik dapat diseelesaikan dengan tepat pada waktunya.
Laporan kasus ini dilaksanakan dalam rangka mengikuti kepaniteraan klinik madya di
bagian/SMF Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universita Warmadewa/RSUD
Sanjiwani Gianyar.
Penulisan laporan kasus ini tidak terlepas dair bimbingan dan dukungan dari dokter
pembimbing, dan berbagai pihak lainnya. Melalui kesempatan ini diucapkan terima kasih
kepada:
1. Dr. A. A. Ayu Agung Indriany, Sp. KJ selaku Kepala Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Jiwa
RSUD Sanjiwani Gianyar sekaligus sebagai dokter pembimbing yang memberi motivasi
dan banyak masukan dalam penyusunan laporan kasus ini.
2. Para staf di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali yang telah bersedia membimbing
selama kepaniteraan di RSJ Provinsi Bali.
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah ikut membantu dalam
penyusunan laporan kasus ini.
Laporan kasus ini disadari jauh dari kata sempurna oleh penulis, oleh karena itu
diharapkan saran dan masukan yang membangun untuk menyempurnakan laporan kasus ini.
Akhir kata, semoga dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.

Gianyar, September 2015

Penulis

LAPORAN KASUS
BAGIAN/SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA
RSUD SANJIWANI GIANYAR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIERSITAS WARMADEWA
Oleh : I Gede Wahyu Pratama Putra (1170121037)
Pembimbing : dr. A.A. Ayu Agung Indriany, Sp.KJ

STATUS PASIEN

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Agama
Status Pernikahan
Bangsa / Suku Bangsa
Alamat
Tanggal Kunjungan

: IMS
: Laki-laki
: 25 tahun
: SMA
: Buruh bangunan
: Hindu
: Belum menikah
: Indonesia / Bali
: Br. Belah Tanah, Gianyar
: 22 September 2015

RIWAYAT PASIEN
Keluhan Utama : - Kontrol obat habis (autoanamnesis)
- Sering berada diluar rumah (heteroanamnesis)
Autoanamnesis
Wawancara dilakukan pada tanggal 17 September 2015. Pasien datang ke Poliklinik
Psikiatri Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Povinsi Bali diantar oleh kakak laki-lakinya,
penampilan pasien wajar dengan roman muka sesuai usia. Pada saat datang pasien
mengenakan baju kaos berwarna hitam dan celana pendek berwarna cream serta
mengenakan sandal jepit. Penampilan pasien tampak kurang rapi dengan rambut yang
gondrong dan tidak tersisir rapi, kuku pasien terpotong pendek dan sedikit kotor.
Pasien diwawancarai dalam posisi duduk berhadapan dengan pemeriksa di ruang
periksa poliklinik RSJ Provinsi Bali. Selama wawancara berlangsung pasien mau
menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa namun terkadang sesekali pasien
tidak mau menatap pemeriksa. Pasien juga terkadang menjawab hanya dengan sepatah
2

dua patah kata. Saat ditanyakan nama, umur, alamat, sedang berada dimana pasien saat
ini serta siapa yang mengantar, pasien dapat menjawab semua pertanyaan tersebut dengan
benar. Pasien menjawab pertanyaan dalam Bahasa Indonesia dan bercampur Bahasa Bali.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya saat ini, pasien mengatakan perasaannya saat ini
biasa saja. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai perasaan biasa saja itu apakah
termasuk perasaan senang, sedih, atau kesal, pasien menjawab biasa saja kondisinya lebih
baik dibandingkan kondisi yang sebelumnya. Saat diwawancarai pasien tampak tenang
dengan ekspresi wajah yang datar dan sesekali pandangannya menatap ke bawah.
Pasien datang ke poliklinik RSJ Provinsi Bali karena persediaan obat yang
didapatkannya selama satu bulan sudah hampir habis dan pasien hanya memiliki
persediaan obat untuk hari ini saja. Ketika ditanya keluhan saat ini, pasien mengatakan
tidak ada keluhan cuma ingin kontrol karena obat habis. Pasien mengatakan saat ini
teratur untuk minum obat dan dibantu oleh kakak laki-lakinya yang mengingatkan untuk
minum obat. Selama pasien meminum obat, pasien tidur mulai dari jam 9 malam dan
terbangun jam 6 pagi esok harinya. Pasien berkata tidurnya biasa saja tidak mengalami
gangguan, tidak sulit untuk memulai tidur atau tiba-tiba terbangun ketika malam hari.
Pasien mengaku hanya terbangun jika ingin ke kamar kecil saja, setelah itu pasien dapat
dengan mudah tidur kembali. Nafsu makan pasien dikatakan baik sebanyak 3 kali sehari,
dan mandi dilakukan 1 kali sehari secara mandiri yaitu pada sore hari. Pasien mengaku
selama minum obat yang diberikan tidak pernah mengalami keluhan seperti tangan
gemetar ataupun kaku pada anggota tubuh. Saat ini aktivitas keseharian pasien hanya
berdiam dirumah saja disamping itu pasien juga membantu kakaknya sebagai buruh
bangunan dan ikut membantu mengirim bahan-bahan bangunan. Pasien saat ini sudah
jarang untuk bersosialiasi dengan tetangga-tetangga maupun beraktivitas ke Banjar
sebagai anggota sekaa teruna. Pasien mengaku jarang untuk bersosialiasi karena malas
dan merasa malu karena penyakit yang dideritanya, menurut pasien lebih baik diam
dirumah dan membantu kakak laki-lakinya bekerja.
Pasien mengatakan bahwa dirinya pernah dirawat di RSJ Provinsi Bali kurang lebih
2 tahun lalu (pasien lupa waktu pastinya). Pasien dirawat karena keluhan dirinya
dikatakan sering bengong sendiri, tertawa sendiri hingga sering bepergian keluar rumah
dengan berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas. Ketika ditanya apa yang dipikirkan pasien
saat terbengong tersebut, pasien mengatakan hanya teringat pada orang tuanya yang
3

sudah meninggal. Pasien mengatakan bahwa ibunya meninggal saat pasien masih kelas 1
SMA, kemudian disusul ayahnya ketika pasien kelas 3 SMA. Semenjak kejadian itu
ekonomi keluarga dikatakan semakin menurun sehingga keinginan pasien untuk
melanjutkan pendidikan ke perkuliahan setelah lulus SMA tidak bisa terwujud. Ketika
ditanyakan dimana pasien bersekolah saat SMA dulu, pasien mengatakan bersekolah di
SMA Sukawati. Setelah lulus SMA pasien mengaku tidak memiliki kesibukan, sehariharinya berdiam diri dirumah. Saat ditanya mengenai apa yang dicari pasien ketika
bepergian keluar rumah, pasien mengatakan sing ada geginan jumah. Ketika ditanya
apakah ada yang menyuruh atau memerintahkan pasien untuk bepergian keluar rumah,
kemudian pasien menjelaskan bahwa ia seperti mendengar suara-suara yang
menyuruhnya untuk pergi jalan-jalan keluar. Pasien mengatakan suara tersebut seperti
suara seorang laki-laki tetapi pasien tidak ingat pasti apa yang disampaikan oleh suara
tersebut. Pasien mengatakan bahwa ia sadar ketika berjalan kaki keluar rumah, ia berjalan
hingga sampai ke perbatasan desa, tetapi ia tidak mengetahui apa tujuan ia bepergian
keluar dikatakan hanya untuk melihat-lihat lingkungan sekitar. Saat ini keluhan
mendengar suara-suara tersebut sudah tidak dikeluhkan lagi, melihat bayangan-bayangan
yang tidak dapat dilihat oleh orang lain juga disangkal oleh pasien. Pasien disuruh untuk
mengingat 3 benda yaitu ayam, bola, pulpen kemudian pasien diajak berbicara, setelah
pasien diajak berbicara pasien dapat mengingat 3 benda tersebut. Saat pasien ditanyakan
mengenai hitungan 100-7, kemudian dikurangi 7, dan dikurangi 7 lagi, pasien dapat
menjawab namun sedikit lambat dan lama dalam menjawab, terakhir pasien hanya bisa
menjawab 79 dikurangi 7.
Saat kunjungan rumah yang dilakukan pada tanggal 22 September 2015, pasien
masih dapat mengenali wajah pemeriksa. Ketika ditanyakan aktivitas apa saja yang
dilakukan pasien sambil menunggu kedatangan pemeriksa, pasien mengatakan tadi
sempat mengirim bahan bangunan bersama kakaknya. Ketika ditanya bagaimana
perasaannya, pasien mengatakan jika perasaannya hari ini biasa saja namun sudah
semakin baik dibanding hari-hari sebelumnya. Pasien mengatakan sudah meminum obat
secara teratur semenjak pulang dari kontrol di poliklinik RSJ Provinsi Bali. Pasien juga
berkata tidurnya kemarin mulai jam 9 malam hingga jam 6 pagi, tidak mengalami
gangguan pada tidurnya, makan juga dikatakan biasa 3 kali sehari. Untuk mandi hanya 1

kali sehari pada sore harinya tanpa perlu diberi tahu lagi. Ketika ditanya apakah pasien
sekarang sedang merasa sakit, pasien berkata merasa tidak sedang sakit dan sangat sehat
serta tidak memiliki keluhan apa-apa.
Heteroanamnesis (Kakak Kandung Pasien)
Saat menemani pasien kontrol di Poliklinik RSJ Provinsi Bali, kakak pasien mengatakan
kondisi pasien saat ini sudah jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya. Kakak pasien
menemani pasien untuk kontrol obat yang dikatakan sudah akan habis dan hanya tersisa
untuk hari ini saja. Pasien dikatakan saat ini patuh untuk minum obat yang dibantu oleh
kakak pasien untuk selalu mengingatkan pasien minum obat. Kakak pasien mengatakan
bahwa pasien pernah dirawat di RSJ Provinsi Bangli 2 tahun lalu (kakak pasien lupa
waktu pastinya), dikatakan sempat dirawat selama kurang lebih 1 bulan setelah itu kakak
pasien meminta kepada pihak RSJ agar adiknya di rawat jalan saja. Pasien dirawat karena
dikatakan sering bengong, tertawa sendiri, bahkan sering bepergian keluar rumah dengan
berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas. Selain itu pasien dikatakan sulit untuk diajak
berbicara dan lebih banyak diam.
Keluhan tersebut dikatakan mulai tampak semenjak kedua orang tua pasien
meninggal. Ibu pasien meninggal ketika pasien masih duduk di kelas 1 SMA, kemudian
ayah pasien meninggal ketika pasien duduk di kelas 3 SMA. Pasien pernah bercerita
kepada kakak pasien bahwa pasien ingin lanjut kuliah ketika sudah lulus SMA nanti.
Ketika orang tua pasien meninggal, perekonomian keluarga dikatakan mulai menurun
mengakibatkan pasien tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk lanjut kuliah. Setelah
lulus SMA pasien dikatakan pernah bekerja sebagai pemahat patung di sekitar rumahnya,
namun pekerjaan pasien tersebut dikatakan tidak bertahan lama karena pasien berhenti
bekerja. Kakak pasien tidak mengetahui pasti alasan pasien berhenti bekerja, kakak
pasien pernah mencoba mempertanyakan hal tersebut kepada pasien, namun pasien
dikatakan tidak mau memberi penjelasan kepada kakak pasien. Kakak pasien juga
mengatakan bahwa adiknya memiliki kepribadian yang cenderung tertutup, jarang
bercerita kepada keluarga apabila memiliki masalah. Setelah tidak bekerja lagi, pasien
dikatakan lebih sering berdiam diri di rumah dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap.
Semenjak saat itu, adik pasien dikatakan sering terlihat melamun sendiri, lebih banyak
diam dan sulit untuk diajak berkomunikasi, terkadang tidak mau menjawab apabila

ditanya sesuatu, dan pandangan mata pasien dikatakan tidak fokus terlihat seperti
pandangan mata yang kosong. Pasien juga dikatakan sering tertawa-tertawa sendiri tanpa
penyebab yang jelas.
Kakak pasien juga mengatakan bahwa sebelum pasien dirawat di RSJ Provinsi Bali,
pasien juga pernah mengurung dirinya dikamar, tidak mau makan ataupun minum. Pasien
dikatakan mengurung dirinya hampir 1 hari, kemudian kakak pasien mencoba memanggil
pasien namun tidak ada jawaban, karena khawatir dengan kondisi pasien akhirnya kakak
pasien membongkar pintu kamar pasien. Ketika ditanya mengapa mengurung diri
dikamar pasien dikatakan tidak mau menjawab dan hanya terdiam saja. Pasien juga
dikatakan tidak mau makan apabila tidak diingatkan untuk makan, apabila ditanya apakah
sudah makan pasien hanya diam hingga pertanyaan yang sama diulang sampai 5 kali
pasien kemudian baru menjawab. Pasien saat itu juga dikatakan tidak mau mandi apabila
tidak dibujuk untuk mandi. Pasien dikatakan mulai masuk kamar pukul 9 malam untuk
tidur kemudian terbangun jam 6 keesokan paginya. Kira-kira 1 bulan sebelum dirawat di
RSJ Provinsi Bali, pasien dikatakan mulai sering bepergian keluar rumah dengan berjalan
kaki tanpa tujuan yang jelas. Ketika pasien pergi keluar rumah, maka kakak pasien akan
kebingungan mencari pasien hingga ada tetangga yang memberikan informasi mengenai
keberadaan pasien, kemudian kakak pasien segera mengajak pasien untuk pulang ke
rumah. Saat ditanya mengenai apa tujuan pasien bepergian ke luar rumah dengan berjalan
kaki, pasien mengatakan hanya ingin mencari hiburan saja dan merasa jenuh di rumah.
Pada saat melakukan kunjungan rumah pada tanggal 22 September 2015, pasien dan
kakaknya menunggu kedatangan pemeriksa di depan jalan rumahnya. Saat itu dikatakan
mereka baru saja pulang dari mengirim bahan bangunan. Keluarga pasien menerima
dengan ramah kedatangan pemeriksa dan mempersilahkan pemeriksa untuk masuk. Saat
itu pasien dirumah hanya dengan kakak laki-lakinya. Kakak pasien bercerita bahwa
kondisi pasien saat ini jauh lebih baik dibandingkan kondisi yang sebelumnya. Semenjak
rutin untuk minum obat dan kontrol ke Poliklinik RSJ Provinsi Bali, keluhan pasien
sudah tidak lagi dijumpai. Saat ini pasien dikatakan dapat beraktivitas kembali seperti
biasanya, dimana aktivitas pasien sehari-harinya yaitu membantu pekerjaan kakaknya
sebagai buruh bangunan dan terkadang ikut membantu pengiriman bahan-bahan
bangunan. Makan dikatakan biasa 3 kali sehari dan untuk mandi pasien dapat melakukan
secara mandiri tanpa perlu diingatkan kembali.
6

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sebelumnya tidak pernah menunjukkan gejala dan tanda gangguan kejiwaan,
namun dikatakan sekitar kurang lebih 2 tahun yang lalu pasien dikatakan mulai sering
bengong, lebih sering diam, sulit untuk diajak berkomunikasi, dan terkadang tertawa
sendiri. Riwayat penyakit kronis seperti kejang, hipertensi, DM, dan penyakit sistemik
lainnya disangkal pasien.
Riwayat Penyakit di Keluarga
Di keluarga dikatakan tidak ada yang mengalami keluhan yang serupa dengan pasien dan
tidak ada yang memiliki gangguan kejiwaan lainnya baik dari keluarga ayah maupun dari
keluarga ibu pasien.
Riwayat Pengobatan
Sebelum pasien dirawat di RSJ Provinsi Bali 2 tahun lalu, pasien sempat diajak berobat
ke dokter spesialis kejiwaan di daerah Denpasar, namun pengobatan tersebut tidak bisa
rutin dilakukan karena keterbatasan biaya. Kemudian pengobatan sempat dijalani di salah
satu puskesmas di daerah gianyar namun dari puskesmas diberikan rujukan agar
dilakukan perawatan di RSJ Provinsi Bali. Pasien sempat menjalani rawat inap selama 1
bulan di RSJ sebelum kakak pasien memutuskan untuk melakukan rawat jalan hingga
pada akhirnya dengan memakai jaminan kesehatan pasien tetap dapat melakukan kontrol
rutin di Poliklinik RSJ Provinsi Bali tiap bulannya. Pasien mendapatkan 2 jenis obat yaitu
risperidon dan satu lagi pasien lupa nama obat yang diberikan dikatakan obat tersebut
berwarna kuning.
Lingkungan Keluarga
Pasien merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara. Kakak pertama pasien adalah
perempuan sudah meninggal ketika masih kecil dulu. Kakak kedua pasien adalah lakilaki saat ini tinggal bersama pasien dirumah. Kakak ketiga dan keempat pasien berjenis
kelamin perempuan dan keduanya saat ini sudah menikah keluar sedangkan kakak kelima
pasien berjenis kelamin laki-laki yang sering mengantar pasien untuk kontrol ke
7

Poliklinik dan bekerja sebagai buruh bangunan. Saat ini pasien tinggal di rumah bersama
kedua kakak laki-lakinya, kakak ipar dan keponakan pasien.
Lingkungan Sosial
Semenjak sakit pasien sudah jarang untuk bersosialisasi dengan tetangga maupun dengan
anggota sekaa teruna-teruni di Banjar. Pasien mengaku jarang untuk bersosialisasi karena
malas dan merasa malu karena pasien masih dalam proses pengobatan penyakitnya.
Pasien mengatakan lebih baik diam di rumah dan membantu kakak laki-lakinya bekerja.
Lingkungan Rumah
Pasien merupakan warga Desa Batuan, Br. Belah Tanah-Gianyar. Saat melakukan
kunjungan rumah, pemeriksa disambut oleh keluarga pasien dengan ramah dan
memperkenalkan diri sebagai dokter muda sambil menjelaskan tujuan melakukan
kunjungan ke rumah pasien. Selama berada di rumah pasien, pemeriksa ditemani oleh
pasien dan kakak laki-laki pasien yang nomor 5. Dalam satu pekarangan rumah tersebut
terdiri dari 4 bangunan utama yaitu 1 bangunan menghadap ke utara yang terdiri dari 2
kamar ditinggali oleh kakak laki-laki pasien yang nomor 2 dan istrinya (kakak ipar
pasien), bangunan kedua meupakan bale dangin yang biasanya digunakan untuk tempat
upacara, bangunan ketiga menghadap ke barat yang digunakan sebagai gudang, serta
bangunan keempat yang menghadap ke selatan yang terdiri dari 2 kamar, dimana 1 kamar
ditempati oleh kakak laki-laki pasien nomor 5, istri kakak, dan anak kakaknya serta 1
kamar lagi ditempati oleh pasien.
Kamar pasien tergolong ruangan yang sempit kira-kira berukuran 2 x 3 meter,
terkesan sedikit lembab, serta tidak memiliki ventilasi yang cukup karena tidak ada
jendela. Dasar kamar pasien masih berupa semen tidak memakai keramik dan beralaskan
karpet bercorak kotak hitam putih yang sudah dalam keadaan robek-robek. Dalam kamar
pasien hanya berisikan sebuah kasur, sebuah meja, sebuah televisi yang diletakkan di atas
meja serta sebuah gitar yang digantung di tembok. Tembok kamar pasien dicat putih
namun sudah tampak kotor dan kondisi kamar pasien kurang terjaga kebersihannya.
Dalam 1 pekarangan terdapat 2 kamar mandi, 1 dapur, dan 1 merajan. Pekarangan rumah
pasien tergolong tidak begitu luas, namun terkesan cukup bersih dan tidak ada tanaman
8

liar meskipun halaman rumah masih berupa tanah. Rumah pasien memakai penerangan
listrik serta sumber air yang berasal dari PDAM.
III.

IV.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Interna
St. Present
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 76 x/mnt
Respirasi
: 18 x/mnt
Suhu
: 36,50 C
St. General
Kepala
: Normocephali
Mata
: Anemia -/- , ikterus -/- , reflek pupil +/+ isokor
THT
: Kesan tenang
Leher
: Pembesaran kelenjar getah bening (-), kaku kuduk (-)
Thorax
: Dinding thorax simetris, deformitas (-)
Cor
: S1 S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pulmo : vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen
: Distensi (-), bising usus (+) normal, nyeri tekan (-)
Ekstremitas
: Edema
Hangat
+
+
+
+
2. Status Neurologis
GCS
:
E4V5M6
Meningeal sign
:
kaku kuduk (-)
EPS
:
(-)
Tenaga
:
555
555
555
555
Tonus

Normal
Normal

Normal
Normal

Trofik

Normal
Normal

Normal
Normal

Reflek Fisiologis

+
+

+
+

Reflek Patologis

PEMERIKSAAN STATUS PSIKIATRI


9

Deskripsi Umum
1. Kesan Umum
a. Penampilan
Penampilan pasien wajar, roman muka sesuai umur, kontak verbal cukup dan
visual kurang serta postur tubuh ideal.
b. Perilaku dan Aktifitas Motorik
Perilaku normal dan tenang saat pemeriksaan.

2.

3.
4.

5.
6.

c. Sikap Terhadap Pemeriksa


Pasien tampak kooperatif, kontak visual kurang, kontak verbal cukup.
Sensorium dan Kognisi
a. Tingkat kesadaran
: jernih
b. Orientasi tempat, waktu dan orang
: baik
c. Konsentrasi dan perhatian
: baik
d. Daya Ingat
: baik
e. Daya berhitung
: baik
f. Intelegensi
: baik
g. Tilikan
: IV
Keadaan mood dan afektif
Mood/afek
: eutimik inappropriate
Proses Pikir
Bentuk Pikir : logis realis riwayat autistik
Arus Pikir
: koheren riwayat miskin bicara
Isi Pikir
: waham (-) fobia (-)
Gangguan Persepsi
Halusinasi
: halusinasi (-) riwayat halusinasi auditorik (+)
Ilusi
: (-)
Dorongan Instingtual
Insomnia

: (-)

Raptus

: (-)

Hipobulia

: (-) riwayat (+)

7. Psikomotor
V.

: tenang saat pemeriksaan

RINGKASAN

Pasien laki-laki berinisial IMS usia 25 tahun, pekerjaan buruh bangunan, belum menikah,
suku Bali datang ke poliklinik RSJ Provinsi Bali pada tanggal 17 September 2015 untuk
kontrol obat. Pasien mengatakan obat yang didapatkannya untuk 1 bulan sudah hampir habis
dan pasien hanya memiliki persediaan obat untuk hari ini saja. Pasien mengatakan makan
sehari-harinya biasa 3 kali sehari, mandi 1 kali sehari pada sore hari. Untuk tidur dikatakan
tidak mengalami gangguan, pasien biasanya mulai tidur pukul 9 malam dan bangun pukul 6

10

pagi. Aktivitas sehari-hari pasien adalah membantu kakaknya sebagai buruh bangunan dan
ikut membantu mengirimkan bahan-bahan bangunan. Pasien rutin melakukan kontrol karena
memiliki riwayat bengong, lebih banyak diam dan sulit untuk diajak berbicara, terkadang
tertawa sendiri hingga bepergian keluar rumah dengan berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas.
Pasien sebelumnya pernah mendengar seperti suara-suara yang menyuruhnya untuk pergi
jalan-jalan keluar. Kakak pasien mengatakan pasien pernah dirawat di RSJ 2 tahun lalu
selama kurang lebih 1 bulan. Pasien dirawat karena dikatakan sering bengong, lebih banyak
diam sehingga sulit diajak berkomunikasi, terkadang juga tertawa sendiri, dikatakan sering
bepergian keluar rumah dengan berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas dan pasien dikatakan
pernah mengurung diri. Keluhan mulai tampak ketika orang tua pasien sudah meninggal dan
ekonomi keluarga mulai menurun sehingga pasien tidak bisa melanjutkan keinginannya
untuk bersekolah lagi. Dikatakan pasien memiliki kepribadian yang tertutup jarang bercerita
apabila memiliki masalah. Pasien pernah melakukan pengobatan di praktik dokter swasta dan
puskesmas, dari puskesmas pasien mendapatkan rujukan ke RSJ Provinsi Bali. Saat ini
pasien rajin untuk kontrol di poliklinik RSJ Povinsi Bali, dikatakan dipoliklinik pasien
mendapatkan 2 jenis obat. Dikatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan
serupa dengan pasien dan tidak ada yang memiliki gangguan kejiwaan lainnya. Riwayat
penyakit kronis juga disangkal. Pada pemeriksaan status interna dan status neurologis dalam
batas normal sedangkan pada status psikiatri ditemukan mood/afek eutimik inadekuat,
halusinasi (-) riwayat halusinasi auditorik (+), riwatat hipobulia (+) dan psikomotor tenang
saat pemeriksaan.
VI.

DIAGNOSIS BANDING
1. Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)
2. Gangguan Skizoafektif Tipe Manik (F25.0)
3. Retardasi Mental (F.70)

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)

VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I
: Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)
Aksis II : Ciri kepribadian tertutup
Aksis III : Tidak ada
11

Aksis IV : Masalah ekonomi


Aksis V : GAF 70-61
IX.

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
1. Risperidon 2 x 2 mg
2. Trihexyphenidyl 1 x 2 mg
Non Medikamentosa
1. Terapi suportif dari keluarga
2. Rutin kontrol ke Poliklinik RSJ Provinsi Bali untuk memperoleh pengobatan
yang berkelanjutan dan teratur sehingga tidak terjadi putus obat yang dapat
megakibatkan keluhan bertambah berat.
3. Pasien dan keluarga diharapkan untuk terus berdoa kepada Tuhan guna
meminta kesembuhan.

X.

PROGNOSIS
Diagnosis
: Skizofrenia Hebefrenik : Buruk
Onset
: Dewasa
: Baik
Perjalanan Penyakit
: Kronis
: Buruk
Dukungan Keluarga
: Ada
: Baik
Riwayat keluarga
: Tidak ada
: Baik
Sosial ekonomi
: Menengah ke bawah
: Buruk
Pendidikan
: SMA
: Baik
Faktor pencetus
: Masalah ekonomi
: Baik
Penyakit organik
: Tidak ada
: Baik
Respon terhadap terapi
: Baik
: Baik
Cepat dan tepatnya terapi : Baik
: Baik
Kepatuhan
: Baik
: Baik
Kepribadian
: Tertutup
: Buruk
Tilikan
: IV
: Buruk
Dari beberapa kriteria tersebut di atas, pada kasus ini prognosis pasien adalah
dubious ad bonam (baik).

12

LAMPIRAN
I.

SILSILAH KELUARGA

Keterangan
Kotak
Lingkaran
Dengan garis

: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
13

Kotak Hitam

: Pasien

II. DENAH RUMAH

3
2
4

8
7
9
Keterangan :
1. Rumah tinggal kakak pasien
2. Kamar tidur pasien
3. Merajan
4. Bale Dangin
5. Rumah tinggal kakak pasien
14

6.
7.
8.
9.

WC
Dapur
Gudang
Pintu Masuk

III. FOTO DOKUMENTASI


1. Kondisi kamar pasien

15

2. Dokumentasi dengan pasien

16