Anda di halaman 1dari 12

TEKNOLOGI DALAM PELAYANAN KESEHATAN

REPRODUKSI DAN KB

DOSEN PEMBIMBING :
DISUSUN OLEH :
ENDANG TRI WAHYUNI
DESI CLARA
LUSI SUSANTI
MAHIRA
RENNY SILVIA PUTRI
SRI WULANDARI
D-IV KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES JAMBI
TAHUN AJARAN
2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang ini sangat
mendukung dalam kehidupan manusia di Indonesia bahkan di dunia, penemuan yang setiap
waktu terjadi dan para peneliti terus berusaha dalam penelitiannya demi kemajuan dan
kemudahan dalam beraktivitas.
Ilmu kedokteran khususnya ilmu kesehatan pun begitu cepat bekembang mulai dari
peralatan ataupun teori sehingga mendorong para pengguna serta spesialis tidak mau
ketinggalan untuk bisa memiliki dan memahami wawasan serta ilmu pengetahuan tersebut.
Terkait ilmu kesehatan dalam hal ini, yaitu kesehatan reproduksi banyak sekali teori-teori
serta keilmuan yang harus dimiliki oleh para pakar atau spesialis kesehatan reproduksi.
Wilayah keilmuan tersebut sangat penting dimiliki demi mengemban tugas untuk bisa
menolong para pasien yang mana demi kesehatan, kesejahteraan dan kelancaran pasien dalam
menjalanakan kodratnya sebagai perempuan.
Pengetahuan kesehatan reproduksi bukan saja penting dimiliki oleh para bidan atau
spesialais tetapi sangat begitu penting pula dimiliki khususnya oleh para istri-istri atau
perempuan sebagai ibu atau bakal ibu dari anak-anaknya demi kesehatan, dan kesejahteraan
meraka.
B. Rumusan Masalah
Apa saja tehnologi dalam pelayanan kesehatan reproduksi dan kb
C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa saja tehnologi dalam pelayanan kesehatan
reproduksi dan kb

BAB II
PEMBAHASAN
A. VAKSIN HPV
Vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks(kanker mulut rahim) yaitu
salah satu metode pencegahan dengan cara pemberian vaksin yang bisa
merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi yang
dapat mencegah Human papilloma virus menginfeksi sel yang bisa
menyebabkankanker leher rahim dan beberapa jenis kanker lain.
Dalam Artikel ini kita akan membahas secara lengkap tentang kanker
servik, penyebab, faktor resiko, cara pencegahan termasuk vaksinisasi
seperti cara pemberian vaksin HPV dan alasan kenapa harus melakukan
vaksisasi Hpv serta apa saja efek samping yang ditimbulkan oleh
pemberian vaksin HPV ini.
Mudah-mudahan anda membacanya sampai selesai karena kami yakin
informasi ini sangat penting terutama buat anda para wanita seperti
diberitakan baru-baru ini kanker servik pembunuh nomor satu wanita
indonesia dan tiap 2 menit ada 1 orang wanita meninggal karena kanker
serviks. Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Vaksin HPV
image by http://kesehatan.kompasiana.com/
1. Apa itu kanker serviks dan apa itu HPV?

Kanker servik adalah salah satu jenis kanker yang terjadi pada bagian
mulut rahim atau sering disebut kanker leher rahim Yang disebabkan oleh
Human papillomavirus (HPV) tipe 16 dsb 18.
Human papillomavirus (HPV) adalah sekelompok virus yang terdiri lebih
dari 150 tipe virus yang berhubungan. Mereka disebut papillomaviruses
karena jenis tertentu juga dapat menyebabkan kutil kelamin, atau
papillomas
2. Dapatkah kanker serviks dicegah?
Artikel tentang cara mencegah kanker serviks bisa dibaca pada artikel
sebelumnya. Secara umum Cara yang paling efektif untuk mengurangi
resiko yaitu dengan cara menekan laju virus, tidak melakukan hubungan
seksual dengan berganti-ganti pasangan karena penyakit ini termasuk
salah satu penyakit menular seksual.
Kemudian pencegahan juga dapat dilakukan dengan menjaga pola hidup
sehat, deteksi dini melalui skrening dan papsmer. Selain itu metode
pencegahan

kanker

servik yang

paling

penting

yaitu

dengan

melakukan vaksinasi HPV ini merupakan strategi yang paling mungkin


untuk mencegah infeksi HPV
Saat ini The Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui
dua vaksin untuk mencegah infeksi HPVyaitu Gardasil dan Cervarix.
Kedua vaksin ini sangat efektif dalam mencegah infeksi HPV tipe 16 dan
18 yang menyebabkan sekitar 70 persen kanker serviks dan kanker anal.
Gardasil juga mencegah infeksi HPV tipe 6 dan 11, yang menyebabkan 90
persen penyakit kutil pada kelamin.

3. Apa itu Gardasil dan cervarix


A. Vaksin HPV gardasil
Vaksin Gardasil yaitu vaksin yang diproduksi oleh Merck & Co. , Inc. Vaksin
ini juga disebut Quadrivalent Yang berfungsi untuk melindungi terhadap
empat jenis tipe HPV yaitu 6, 11, 16,dan 18. Gardasil diberikan melalui
serangkaian tiga suntikan ke dalam jaringan otot selama 6 bulan.

FDA telah menyetujui Gardasil untuk digunakan pada perempuan untuk


pencegahan kanker seviks, vulva dan kanker vagina yang disebabkan oleh
HPV tipe 16 dan 18.
Selain pada wanita Vaksin ini juga di anjurkan untuk digunakan pada lakilaki untuk pencegahan kanker dubur dan lesi prakanker dubur yang
disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Selain itu Gardasil juga terbukti
untuk pencegahan kutil kelamin yang disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11.
Vaksin ini lebih efektif di berikan usia 9 sampai 26 tahun.

B. Vaksin cervarix
Vaksin Cervarix adalah vaksin yang diproduksi oleh GlaxoSmithKline
(GSK). Sering juga disebut bivalen vaksin karena target vaksin hanya dua
jenis HPV yaitu tipe 16 dan 18. Vaksin ini juga diberikan dalam tiga dosis
selama 6 bulan. Cervarix diberikan digunakan pada usia perempuan 9 - 25
tahun hanya untukpencegahan kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe
16 dan 18. Kedua vaksin ini Gardasil dan Cervarix dikembangkan oleh
ilmuan NCI. NCI lisensi teknologi untuk dua perusahaan-Merck farmasi dan
GSK untuk mendistribusikan vaksin HPV secara luas

4. Bagaimana cara kerja vaksin HPV?


Vaksin HPV bekerja seperti imunisasi lain. Para peneliti berhipotesis bahwa
komponen permukaan yang unik dari HPV dapat membuat respon antibodi
yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi, dan komponen ini dapat
digunakan untuk membentuk dasar vaksin.
Komponen permukaan HPV dapat berinteraksi satu sama lain untuk
membentuk Virus-Like Partikel (VLP) yang tidak menular, karena mereka
tidak memiliki DNA. Namun, VLP ini dapat menempel pada sel-sel dan
merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi yang
dapat mencegah papillomavirus menginfeksi sel dimasa mendatang.

Meskipun vaksin HPV dapat membantu mencegah infeksi HPV masa


depan, mereka tidak bisa membantu menghilangkan infeksi HPV yang
ada. Artinya mereka hanya berfungsi untuk mecegah terjadinya kanker
serviks bukan untuk mengobati.
5. Seberapa efektif vaksin sebagai imunitas?
Gardasil dan Cervarix sangat efektif dalam mencegah infeksi dengan jenis
HPV yang targetkan. Vaksin telah terbukti memberikan perlindungan
terhadap penyebab kanker serviks secara terus-menerus untuk infeksi
HPV tipe 16 -18 hingga 8 tahun, yang merupakan waktu maksimum
penelitian sejauh ini. Karena vaksin HPV dikeluarkan pada bulan juni 2006.
Para ilmuan akan terus melanjutkan penelitian Untuk mengetahui total
durasi waktu perlindungan yang diberikan oleh ke dua vaksin ini.
Vaksinasi HPV juga telah diterbukti mencegah perubahan sel serviks
prakanker yang disebabkan oleh HPV 16/18. Hasil ini menunjukkan durasi
perlindungan dari vaksin kemungkinan akan bertambah hingga 4-6 tahun
kedepan pada wanita yang tidak terinfeksi HPV pada saat vaksinasi.
6. Bagaimana cara pemberian vaksin Hpv (proses vaksinasi)
Gardasil dan Cervarix dirancang untuk diberikan melalui penyuntikan
kedalam jaringan otot kepada orang-orang dalam tiga dosis/tiga kali
pemberian selama 6 bulan yaitu bulan 0 (dosis pertama/pemberian awal),
bulan 1 (sebulan dari pertama) dan yang terakhir bulan ke 6 dari
pemberian pertama kali. Tetapi,
sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa perempuan yang hanya
menerima dua dosis Cervarix telah mendapat sama besar perlindungan
dari infeksi HPV 16/18 dengan wanita yang menerima tiga dosis. Namun
temuan ini

perlu

dievaluasi

dengan

penelitian lebih

lanjut

untuk

menentukan apakah kurang dari tiga dosis vaksin akan memberikan


durasi perlindungan yang cukup.

Meskipun demikian, informasi ini mungkin membantu para petugas


kesehatan

masyarakat

yang

mengelola

program

vaksinasi

antara

kelompok orang tidak mungkin untuk menyelesaikan regimen dosis tiga.


7. Kenapa vaksinisasi HPV penting?
Vaksinisasi terbukti bisa mengurangi resiko kanker mulut rahim karena itu
vaksinisasi memiliki potensi untuk mengurangi angka kematian akibat
kanker serviks sebanyak dua - pertiga wanita. Selain itu, pada saat
vaksinisasi juga dilakukan skrining dan papsmeer yang merupakan
prosedut normal saat pemberian vaksinisasi. Sehingga bisa mendeteksi
atau mengetahui keadaan dan kelainan-kelainan yang mungkin ada pada
tubuh sejak dini. Ini juga merupakan salah satu keuntungan yang bisa
menjadi alasan kenapa harus melakukan vaksin hpv.
8. Apa efek samping pemberian vaksin HPV?
Ini

merupakan

Pertanyaan

yang

sering

muncul

kekhawatiran

terkait keamanan dan efek samping vaksinisasi Human Papiloma Virus.


Perlu diketahui bahwasanya semua obat dan Vaksin yang berlisensi FDA
harus menentukan bahwa itu adalah aman dan efektif. Pastikan yang di
pakai adalah Vaksin Gardasil dan Cervarix karena berlisensi FDA dan CDC
serta telah diuji jutaan orang di amerika dan Inggris serta banyak negara
lainnya termasuk indonesia. Sejauh ini, tidak ada efek samping yang
serius telah terbukti disebabkan oleh vaksin.
Namun efek samping Vaksin HPV Yang paling umum yaitu rasa nyeri
singkat di tempat suntikan. Ini merupakan masalah yang biasa terjadi
dengan efek samping vaksin lainnya. Selain itu baru-baru ini ada Sebuah
tinjauan dan himbauan keselamatan terbaru oleh FDA dan Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merespon sebuah laporan
terhadap efek

samping vaksin

imunisasi Gardasil kemungkinan ada

sebagian kecil orang yang memiliki tingkat alergi berlebihan terhadap


efek samping vaksin ditakutkan skan terjadinya sinkop atau pingsan
sementara waktu.
Kasus pingsan ini pernah terjadi pada beberapa kasus. Namun ini
tidak memerlukan penanganan yang serius. Hanya saja ditakutkan pasien
terjatuh sehingga menyebabkan cedera serius, seperti cedera kepala

karena terjatuh saat pingsan. FDA dan CDC telah mengingatkan penyedia
layanan kesehatan untuk mencegah jatuh dan cedera, yaitu dengan cara,
semua penerima vaksin setelah vaksinisasi harus tetap berada dalam
keadaan duduk atau berbaring selama 15 menit untuk dilakukan
pengamatan pasca vaksinasi untuk memastikan ada atau tidak nya efek
sanping dari penyuntikan Vaksin Hpv.
9. Kepada siapa saja vaksinisasi HPV untuk mencegah kanker servik
diberikan?
Vaksin Gardasil dan Cervarix yang terbukti efektif hanya jika
diberikan sebelum infeksi HPV, sehingga dianjurkan bahwa mereka akan
diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Keputusan FDA
termasuk informasi tentang usia dan jenis kelamin untuk penerima vaksin.
FDA menyatakan Gardasil diberikan pada wanita dan laki-laki usia 9
sampai 26. dan Cervarix untuk digunakan dalam usia wanita 9-25.baca
juga metode pengobatan kanker
10. Haruskah vaksin di berikan pada wanita yang telah terimfeksi PHV?
Meskipun Gardasil dan Cervarix aman bila diberikan kepada orang yang
sudah terinfeksi HPV, tetapi vaksin tidak mempunyai kemampuan untuk
mengobati infeksi. Vaksin diatas hanya berguna untuk pencegahan. Kedua
Vaksin ini memberikan manfaat maksimal jika seseorang menyuntikkan
vaksin HPV sebelum ia aktif secara seksual. Tetapi Ada kemungkinan
bahwa seseorang terinfeksi HPV masih akan mendapatkan manfaat dari
sisa ,vaksinasi, bahkan jika ia memiliki sudah terinfeksi dengan satu atau
lebih jenis termasuk dalam vaksin. Namun, ini Kemungkinan masih dalam
penyelidikan.

11. Berapa harga dan biaya untuk melakukan Vaksinisasi HPV?


Satu satunya kekurangan dari Vaksin ini adalah harganya yang mahal.
Dulu pernah sampai Rp. 3 jt tapi sekarang ini harga vaksin HPC lebih
murah sekitar 1,5 juta sepertinya. Karna harga vaksin HPV di amerika
sekitar $ 130 per dosis vaksinisasi kanker leher rahim

Vaksinisasi dapat di lakukan di dokter-dokter anak,klinik,atau rumah sakit


tumah sakit pemerintah atau tempat praktek dokter di kota anda Namun,
biaya atau yang sebenarnya untuk vaksinasi mungkin ditentukan oleh
klinik yang menyediakan layanan vaksin hpv untuk mencegah kanker
serviks.
B. MAMMOGRAFI
Kanker payudara
Payudara merupakan organ pada tubuh manusia yang terdiri dari
susunan jaringan lemak, kelenjar susu, serta saluran kelenjar. Masingmasing payudara memiliki jaringan pembuluh darah serta pembuluh
getah bening. Pembuluh getah bening akan menyalurkan cairan limfe ke
kelenjar getah bening. Fungsinya untuk melawan infeksi. Kelenjar getah
bening yang terkait dengan payudara terletak pada ketiak, di atas tulang
selangka, serta di dada.
Kanker payudara adalah penyakit di mana sel-sel penyusun payudara ini berubah
menjadi ganas, tumbuh tidak terkendali, serta merusak jaringan dan organ di sekitarnya.
Pertumbuhan sel-sel ganas ini ditandai dengan adanya pembentukan tumor di payudara
(benjolan tidak normal), pembesaran kelenjar getah bening, perubahan bentuk dan warna
kulit payudara, rasa nyeri pada payudara, serta luka yang lama sembuhnya.
Apa cara terbaik untuk mendeteksi kanker payudara?
Sekarang ini dikenal beberapa teknik deteksi kanker payudara. Cara yang paling
sederhana adalah pemeriksaan sendiri (sadari: periksa payudara sendiri), baik secara
pribadi maupun dilakukan oleh suami. Caranya:
1. Periksa payudara secara merata, dimulai dengan memperhatikan perubahanperubahan yang tampak.
2. Raba dan pijat payudara, mulai dari sisi atas kemudian melingkari payudara. Apabila
ada temuan berupa benjolan yang sebelumnya tidak ada, perubahan pada kulit
payudara, adanya luka, perubahan bentuk atau cairan yang tidak normal pada puting
susu, segera konsultasikan ke dokter.
Sebagai langkah pemeriksaan, dokter akan melakukan pemeriksaan klinis secara lebih
rinci dan detail. Dilanjutkan dengan menggunakan peralatan bantu diagnosis, di antaranya
adalah USG, Mammografi, MRI, maupun biopsi jaringan payudara.

Di antara sekian banyak metode diagnosis, Mammografi masih menjadi pilihan utama
untuk diagnosis kanker payudara. Mammografi ini merupakan pemeriksaan secara radiologis.
Pada beberapa orang pemeriksaan ini mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, karena
payudara akan ditekan dari sisi atas dan bawah kemudian barulah payudara difoto dengan
sinar-X. Penggunaan Mammografi pada wanita di bawah usia 40 tahun menjadi kurang
efektif karena jaringan payudara yang masih tebal, sehingga menyulitkan interpretasi hasil.
Adapun wanita berusia di atas 50 tahun, disarankan melaksanakan pemeriksaan dengan
Mammografi minimal sekali dalam dua tahun.
Digital mammografi menjadi pilihan yang lebih baik ketimbang Mammografi standar.
PadaDigital Mammografi, gambaran interpretasi payudara dapat dibuat secara tiga dimensi,
alih-alih Mammografi standar yang hanya dua dimensi. Pemeriksaan ini cocok diterapkan
pada wanita berusia di bawah 50 tahun.
USG merupakan pemeriksaan yang bersifat non-invasif dan dapat dilaksanakan pada
wanita usia muda. Pemeriksaan USG saja tanpa Mammografi tidak direkomendasikan untuk
deteksi kanker payudara karena angka spesifitas dan sensitivitasnya yang kecil. Namun
apabila keduanya digabungkan, nilai diagnostik terhadap kanker payudara dapat ditingkatkan.
Beberapa pemeriksaan lain yang tersedia sebaiknya dikerjakan sebagai pemeriksaan
tambahan terhadap Mammografi, mengingat efektivitas dan biaya yang dikeluarkan untuk
tujuan deteksi dini terhadap kanker payudara ini.
Deteksi dini akan dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat kanker
payudara. Setiap wanita harus memiliki pemahaman yang setara mengenai penyakit ini. Oleh
karena itu semua orang yang pernah membaca, mendengar atau menyaksikan mengenai
kanker payudara selayaknya menyebarluaskan informasi tersebut
C. PAP SMEAR

Pap Smear pertama kali dikenalkan oleh: George Nicholas Papanicolaou (1928).
Merupakan Sitologi Non-Eksfoliatif. Pemeriksaan morfologi sel leher rahim:
1. Mudah
2. Murah
3. Sederhana
4. Aman
5. Akurat
Defenisi Pap Smear
Pap smear merupakan suatu metode untuk pemeriksaan sel cairan dinding leher
rahim dengan menggunakan mikroskop, yang dilakukan secara cepat, tidak sakit, serta hasil
yang akurat. (Wijaya, 2010)(dalam http://sarydamy.blogspot.com/)
Pap smear merupakan cara yang mudah, aman dan untuk mendeteksi kanker serviks
melalui pemeriksaan getah atau lendir di dinding vagina. Sedangkan samadi, 2010
mengatakan Pap smear merupakan salah satu deteksi dini terhadap kanker serviks, yang

prinsipnya mengambil sel epitel yang ada di leher rahim yang kemudian dilihat
kenormalannya.
Tujuan Pemeriksaan Pap Smear
Tujuan dari deteksi dini kanker servik atau pemeriksaan Pap Smear ini adalah untuk
menemukan adanya kelainan pada mulut leher rahim. Meskipun kanker tergolong penyakit
mematikan, namun sebagian besar dokter ahli kanker menyebutkan bahwa dari seluruh jenis
kanker, kanker servik termasuk yang paling bisa dicegah dan diobati apabila terdeteksi sejak
awal. Oleh karena itu, dengan mendeteksi kanker servik sejak dini diharapkan dapat
mengurangi jumlah penderita kanker serviks (Wijaya, 2010).
Beberapa tujuan dari pemeriksaan Pap Smear yang dikemukakan oleh Sukaca, 2009 yaitu :
1. Untuk mendeteksi pertumbuhan sel-sel yang akan menjadi kanker.
2. Untuk mengetahui normal atau tidaknya sel-sel di serviks
3. Untuk mendeteksi perubahan prakanker pada serviks
4. Untuk mendeteksi infeksi-infeksi disebabkan oleh virus urogenital dan penyakitpenyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.
5. Untuk mengetahui dan mendeteksi sel abnormal yang terdapat hanya pada lapisan luar
dari serviks dan tidak menginvasi bagian dalam.
6. Untuk mengetahui tingkat berapa keganasan kanker serviks
Wanita yang diajurkan Pap smear
Wanita Usia Subur (WUS) merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung
kira-kira 33 tahun dimana organ reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 17-45
tahun. Wanita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear ke dokter, baik bagi
mereka yang telah melakukan pertama kali berhubungan seksual maupun yang sudah sering
melakukan hubungan seksual (sudah menikah). Begitupun bagi mereka yang sama sekali
yang belum pernah berhubungna seksual. Karena pemeriksaan Pap Smear ini dapat
mendeteksi samapai 90% kasus kanker servik secara akurat dengan biaya yang tidak terlalu
mahal, dan sangat efektif untuk menurunkan angka kematian pada wanita yang menderita
kanker serviks.
Kehamilan juga tidak mencegah seorang wanita untuk melakukan pemeriksaan Pap
Smear karena prosedur Pap Smear dapat dilakukan secara aman selama kehamilan. Sehingga,
wanita hamil juga dapat menjalani test ini. Pemeriksaan Pap Smear tidak direkomendasikan
bagi wanita yang telah melakukan histerektomi (dengan pengangkatan serviks) untuk kondisi
yang jinak. Wanita yang pernah melakukan histerektomi tetapi tanpa pengangkatan
(histerektomi subtotal), sebaiknya melanjutkan skrining sebagaimana halnya wanita yang
tidak melakukan histeretomi (wijaya, 2010).
Wanita yang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear sebagai berikut:
1. Wanita yang berusia muda sudah menikah atau belum namun aktivitas seksualnya tinggi.
2. Wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita HPV (Human
Papilloma Virus) atau kutil kelamin.
3. Wanita yang berusia diatas 35 tahun.

4.
5.
6.

Sesering mugkin jika hasil pap smear menunjukkan abnormal


Sesering mugkin setelah penilaian dan pengobatan prakanker maupun kanker serviks.
Wanita yang mengunakan pil KB (sukaca, 2009).

Waktu untuk Melakukan Pap Smear


Pemeriksaan Pap Smear dapat dilakukan kapan saja kecuali pada saat haid karena
darah atau sel dari dalam rahim dapat mengganggu keakuratan hasil pap smear, namun waktu
yang tepat untuk melakukan Pap Smear adalah satu atau dua minggu setelah berakhir masa
menstruasi.
Untuk wanita yang sudah menopause biasa melakukan pemeriksaan pap smear kapan
saja ( Dianada, 2008 ).
Adapun waktu untuk melakukan Pap Smear secara teratur yang dikemukan oleh Sukaca,
2009 yaitu :
1. Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berusia muda sudah menikah atau belum menikah
namun aktivitas seksualnya sangat tinggi.
2. Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah
menderita infeksi HPV (Human Papilloma Virus) atau kutil kelamin.
3. Setiap tahun untuk wanita yang berumur diatas 35 tahun.
4. Setiap tahun untuk wanita yang mengunakan pil KB.
5. Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun atau untuk wanita yang telah
menjalani histerektomi bukan karena kanker, jika 3 kali berturut-turut hasil pap smear
menunjukan negative.
6. Setahun sekali bagi wanita yang berumur 40-60 tahun.
7. Sesudah 2x pap tes hasilnya negative dengan interval 3 tahun dengan catatan bahwa
wanita yang resiko tinggi harus lebih sering menjalakan pap tes .
8. Sering mungkin jika hasil pap smear menunjukan abnormal sesering mungkin setelah
penilain dan pengobatan prakanker maupun kanker serviks.