Anda di halaman 1dari 6

Hal Sepele yang Serba Makna di Jepang; Luput dari

Kepedulian kita di Indonesia


Oleh: A. Hafied A. Gany
www.hafied.org; http://www.facebook.com/hafiedgany
http://www.twitter.com/hafiedgany
-------

Gambar 1. Ilustrasi upaya pelestarian lingkungan, di mana pohon-pohon dan tanaman hias serta
infrastruktur publik ikut menikmati kasih sayang manusia, dengan perlindungan hati-hati, bebas
paku, atau cedera batang, ranting akibat perlakuan manusia (Photo Gany, 17 Maret 2010).
-------
Sambil berjalan santai menelusuri Sungai Meguro di akhir Musim Dingin, saya
mengambil berbagai foto-foto suasana dan keindahan yang membanggakan saya,
bagaimana piawainya orang di Jepang memperlakukan sungai, kebersihan
lingkungan, keasrian pepohonan, tanaman dan fasilitas publik sehingga membuat
orang nyaman dan betah di manapun bekunjung. Anak saya yang menemani
berjalan, sulit menebak apa yang ada dalam benak saya dengan pengambilan
foto-foto detail dari obyek yang tidak lazim dilakukan dalam kunjungan wisata.
Begitu saya ceriterakan maksud saya, dia sontak membantu menunjukkan hal-hal
kecil yang dilakukan oleh orang Jepang dalam upaya memelihara kelestarian
lingkungannya, sehingga membuat saya menjadi sangat bersemangat mengambil

1
foto-foto yang membuat anak saya terpaksa berjalan lambat menunggu aksi
ayahnya yang tiba-tiba saja menjadi paparazzi dadakan.
Ternyata, banyak sekali hal-hal kecil yang menurut kita sepele dan tidak perlu
dilakukan, sehingga luput dari kepedulian kita di Indonesia, namun dilakukan oleh
Orang Jepang (petugas, pemerintah dan masyarakat) secara rutin, tekun dan
konsisten. Dan ternyata justru hal tersebut sangatlah efektif dan bermakna secara
menyeluruh, yang pada gilirannya mengantarkan negara dan bangsa mereka
meraih kesuksesan dalam melestarikan lingkungan dan ekosistem kehidupan.
Saya berharap bahwa pelajaran yang saya ungkap kembali pada artikel ini,
setelah tergugah dari kenyataan di Jepang, bisa menjadi bahan renungan untuk
mereformasi kebiasaan kita membangun infrastruktur besar, namun melupakan
fungsi manfaat, daya guna dan upaya pelestariannya – yang justru menjadi muara
keberhasilnya pembangunan di dalam semua bidang.
-------

Gambar 2. Upaya pelestarian lingkungan, di mana pohon-pohon dan pagar serta infrastruktur
publik ikut menikmati kasih sayang manusia, dengan perlindungan hati-hati, melindungi kelecetan
cat, atau cedera kerubuhan batang akibat perlakuan manusia (Photo Gany, 17 Maret 2010).
-------
Puluhan tahun yang lalu, saat saya mulai berkarir di suatu proyek pembangunan
pada suatu Provinsi di kawasan Sumatera bagian selatan, perisip yang diterapkan
oleh orang Jepang ini, pernah saya tahu dari seorang pakar Bank Dunia yang
sering saya konterpati dalam kunjungan kerja evaluasinya di proyek tempat saya
bekerja, namun hal ini, sejalan perjalanan waktu, hal ini lama-lama menghablur

2
dan luput dari perhatian saya mengingat bahwa saya juga arus ikut larut dalam
suasana batin pembangunan di negeri kita saat itu yang lebih mendahulukan
keberhasilan fisik ketimbang fungsi operasi pemanfaatan dan pelestariannya.
Semula saya sulit mengerti pandangan seorang pakar pertanian Bank Dunia dari
Washington (Dr. Boorman), yang saya mitrai setiap kali malakukan kunjungan
evaluasi tahunan, ketika pada kunjungan terakhirnya di proyek irigasi tempat saya
bekerja memberikan kesimpulan bahwa proyek ini dinyatakannya telah sukses
mencapai tujuannya. Pada hal, saya tahu benar bahwa selama kunjungan
tahunannya yang tidak kurang dari delapan kali saya temani, beliau tidak pernah
sama sekali memberikan perhatian khusus memeriksa fungsi dan kondisi
infrastruktur – yang menjadi kebanggaan hasil kerja fisik yang kami laksanakan di
proyek – setiap kali beliau inpeksi ke lapangan.
Di tengah kegamangan terhadap kesimpulan evaluasi pakar Bank Dunia tersebut,
pikiran saya sebagai petugas muda, naif dan masih kurang berpengalaman saat
itu, sangat terganggu dengan luapan pertanyaan dalam benak. Kok bisanya
seorang pakar yang doktor dalam bidang pertanian dari universititas terkenal di
Amerika pula, membuat kesimpulan bahwa proyek irigasi kami telah sukses, tanpa
pernah menjenguk apalagi mengevaluasi kondisi infrastruktur kebanggan kami
yang menjadi instrumen utama kesuksesan pembangunan pertanian? Mungkinkah
kesimpulan ini hanya basa-basi – karena konon beliau sesudah kunjungnan
terakhir ini – akan pindah menjadi koordinator Bank Dunia di Kawasan Asia
Selatan, pikir saya yang masih sangat naif pada saat itu.
Saat saya tanya, di atas mobil dalam perjalanan pulang ke “Base Camp” proyek,
beliau tersenyum lebar deeengan luapan semangat menjelaskan panjang lebar
bahwa untuk penilaian kondisi operational infrastruktur pengairan, saya percaya
sepenuhnya kepada keahlian insinyur dan teknisi seperti anda, sehingga sejak
tahun-tahun pertama pembangunan sampai sekarang, saya hanya mengevaluasi
bagaimana pengaruh kehadiran proyek ini terhadap kehidupan masyarakat
transmigrasi yang dilayaninya. Ini saya lihat dengan indikator nyata perubahan
tingkat kehidupan mereka dari tahun ke tahun secara fisik dan mendengarkan
opini mereka setiap kali berkunjung ke lapangan.
Mungkin anda tidak percaya – katanya sambil membuka pintu mobil yang waktu itu
belum ada yang memakai penyejuk udara (AC) – tapi berdasarkan teori dan
pengalaman saya di negara-negara lain, bahwa dengan memperhatikan raut
muka, kecerahan wajah, penampilan, dan pakaian anak kecil, gadis-gadis, ibu-ibu
dan bapak-bapak serta orang tua dan penduduk, demikian juga dengan kondisi
rumah, pekarangan, tanaman hias dan binatang peliharaan, saya bisa mengamati
perkembangan kehidupan mereka dari tahun ke tahun sampai sekarang. Hal itu
antara lain saya pakai sebagai tolok ukur evaluasi tidak bisa bias atau berbohong.
Bayangkan katanya bersemangat, “Pertama kali saya datang, saya melihat anak
kecil kurus-kurus, telanjang, perut buncit dan wajah sedih, berpenampilan kotor,
gadis-gadis dan kaum perempuan berpakaian lusuh, tidak mengenal dandan,
demikian pula dengan orang tua dan bapak-bapak banyak yang tidak memakai
baju, semua memandang orang luar seperti kita ini dengan curiga, dengan wajah

3
yang angar dan bermusuhan serta bebas dari kecerahan wajah, apalagi senyum.
Mereka selalu menghindar pergi kalau ditanya atau diajak berkomunikasi”.
Sekarang anda bisa lihat, lanjutnya: “Anak-kecil kelihatan sehat berpakaian rapih,
wajah bersih, ceriah bercengkerama dengan teman, kaum wanita sudah
mengenakan pakaian bersih, berdandan, memakai bedak, lipstik serta berwajah
ceria, penuh senyum dan kesan bersahabat seraya melayani dan tidak
menghindar seperti dulu lagi kalau kita mengajak berkomunikasi.
Coba anda perharikan, katanya meneruskan, sambil sesekali menunjuk ke luar
dari jendera mobil, bagaimana rumah-rumah mereka sudah dihiasi dengan
tanaman hias, kembang, dinding bercat rapih, pagar batas pekarangan tertata
rapih dan tanaman pekarangan yang terpelihara, di sana sini terlihat sangkar
burung perkutut, binatang peliharaan, kucing, anjing, ayam, bebek, dan terdengar
alunan musik dari radio serta suara anak-anak bernyanyi ria manakala kita
menelusuri jalan-jalan kampung. Saya yakin hasil pengamatan saya akan lebih
baik, dari sekedar angka-angka statistik (asal-bapak-senang - ABS) yang pasti
bias, yang saya amati pekembangannya, sangat kontras, dengan kondisi yang
saya lihat pada saat pertama kali datang, dan hal ini saya yakini melalui
pengamatan yang saya saksikan dari tahun ke tahun sampai sekarang ini, saya
sangat yakin memastikan proyek ini sudah berhasil mencapai tujuannya untuk
meningkatkan kemakmuran penduduk transmigran yang sengaja didatangkan.
Menjelang mobil sampai ke base camp, beliau menyimpulkan sambil berkata:
“Coba Anda pikirkan, seandainya Anda berada pada posisi mereka, anda tidak
mungkin dalam kehidupan di dusun yang baru ini akan memperhatikan hal yang
kecil-kecil (menghias diri, menanam kembang, memelihara tanaman pekarangan,
memelihara burung perkutut, membeli radio, memelihara kebersihan, membantu
orang dengan bersahabat) kalau kebutuhan pokoknya anda belum terpenuhi”.
Saya hanya sempat terenyuh dan terdiam, sambil mengangguk angguk
membenarkan, meskipun waktu itu saya belum bisa memaknai sepenuhnya apa
yang disimpulkannya, sambil meloncat turun dari mobil saat kami sampai di kantor
proyek, di tengah-tengah base-camp, yang eksklusif dari pemukiman penduduk
transmigran. Setidaknya saya mengerti bahwa saya sebagai tenaga teknk muda,
masih memberikan apresiasi kepada kemegahan bangunan proyek yang kami
bangun ketimbang memperhatikan hal kecil-kecil seperti penjelasan Dr. Boorman,
yang saya dan kebanyakan orang-orang pemerintahan dan petugas proyek pada
waktu itu menganggapnya hal yang sangat sepele.
-------
Terus terang, sambil menjadi paparazzi dadakan di pinggir Sungai Meguro, saya
sangat terpesona mendapati diri saya seperti memutar kembali rekaman kenangan
“tempo doeloe” yang sudah bertahun-tahun mengendap terabaikan dalam
sanubari adi-sadar saya akan kebenaran Dr. Boorman, ketika menyaksikan
bagaimana Orang Jepang menyiasati hal yang kecil-kecil dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat di lingkungan mereka, mulai dari perlakukan limbah,
pemeliharaan infrastruktur publik, pemeliharaan pohon-pohon, tanaman hias,
keamanan orang berjalan kaki, keamanan peralatan dan banyak lagi yang

4
menjangkau semua aspek kehidupan. Saya hanya bisa menarik nafas panjang,
menahannya ,sambil membathin, kapankan hal ini terwujud di Indonesia, tolonglah
beri kami petunjuk, semangat dan kemampuan ya Allah, wujudkankanlah obsessi
negara, rayat dan bangsa kami yang mendambakan kemakmuran ini. Amin!
(Silahkan lihat ilustrasi nyata kumpulan foto-foto pada Gambar 1, 2, 3 dan 4).
-------

Gambar 3. Upaya pelestarian lingkungan, di mana tanaman hias kecil se panjang jalan ikut
menikmati kasih sayang manusia, dimana batang kecil ditopang dengan ikatan batang dan ranting
pada batang bambu, dilapisi agar tidak cedera (Photo Gany, 17 Maret 2010).

5
Gambar 3. Upaya keamanan pejalan kaki dan pengendara sepeda ddengan diberikan stiker parkir
dan nomor registrasi pemilik, dan pada jalan tanjakan yang licin diberikan lapis dan tanda khusus
untuk perhatian pejalan kaki maupunn pengendara sepeda. (Photo Gany, 17 Maret 2010).

Tokyo, 19 Maret 2010


-------