Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tumbuhan
Uraian tumbuhan meliputi, sistematika tumbuhan, nama daerah, morfologi
tumbuhan, khasiat tumbuhan dan kandungan kimia.
2.1.1 Sistematika Tumbuhan
Menurut Tjitrosoepomo (2000), sistematika tumbuhan buah belimbing wuluh
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Oxalidales
Suku : Oxalidaceae
Genus : Averrhoa
Spesies : Averrhoa bilimbiLinn.
2.1.2 Nama Daerah
Nama daerah, Sumatera: Asom belimbing, balimbieng, balimbingan, balimbing ;
Jawa: belimbing wuluh, calincing wulet, bhalingbhing bulu ; Bali: blimbing buloh
; Sulawesi: limbi,balimbeng, lumpias, lembetue, bainang, calene, takurela ;
Papua: uteke. Dalam bahasa Inggris dikela sebagai cucumber tree atau bilimbi,
sedangkan dalam bahasalatin disebut Averrhoa bilimbi (Gunawan dan Mulyani,
2006).
2.1.3 Morfologi tumbuhan
Belimbing wuluh merupakan tanaman berbentuk pohon kecil, tinggi mencapai
10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah hanya
sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar dan ditemukan
dari dataran rendah sampai 500 m. Daun majemuk menyirip ganjil dengan 2145 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat telur,
ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm,
warnanya hijau, permukaan bawah warnanya lebih muda. Ciri buah belimbing
wuluh yaitu buahnya berbentuk bulat lonjong bersegi hingga seperti torpedo,
panjangnya 4-10 cm. Warna buah ketika muda hijau dengan sisa kelopak bunga
menempel pada ujungnya. Apabila buah sudah masak, maka buah berwarna
kuning atau kuning pucat.Daging buahnya mengandung banyak air dan rasanya
asam.Kulit buahnya berkilap dan tipis.Biji bentuknya bulat telur, gepeng
(Wijayakusuma dan Dalimartha, 2006).
2.1.4 Khasiat tumbuhan
Khasiat dari buah belimbingwuluh ini adalah sebagai obat batuk, gusi berdarah,
sariawan, jerawat, panu dan bisul (Gunawan dan Mulyani, 2006).

2.1.5 Kandungan senyawa kimia


Kandungan kimia buah belimbing wuluh mengandung flavonoid,
steroid/triterpenoid, glikosida, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A,
B1, dan C (Wijayakusuma dan Dalimartha, 2006).
2.2 Uraian Kulit
Kulit merupakan selimut yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki
fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan
luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis,
seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus-menerus, respirasi, pengaturan
suhu tubuh, produksi sebum dan keringat, pembentukan pigmen melanin untuk
melindungi kulit dari bahaya sinar ultraviolet matahari, sebagai peraba dan
perasa, serta pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar (Tranggono dan
Latifah, 2007).
2.2.1 Struktur kulit
Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu: Lapisan epidermis, lapisan
dermis dan lapisan hipodermis (Wasitaatmadja, 1997).
1. Lapisan epidermis
Epidermis merupakan bagian kulit paling luar yang palingmenarik untuk
diperhatikan dalam perawatan kulit, karena kosmetikdipakai pada bagian
epidermis. Ketebalan epidermis berbeda-bedapada berbagai bagian tubuh,
yang paling tebal berukuran 1 milimetermisalnya pada telapak tangan dan
telapak kaki, yang paling tipisberukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak
mata, pipi, dahi danperut. Sel-sel epidermis disebut keratinosit.Epidermis
melekat eratpada dermis karena secara fungsional epidermis memperoleh zatzatmakanan dan cairan antar sel dari plasma yang merembes melaluidindingdinding kapiler dermis ke dalam epidermis.Lapisan epidermis terdiri atas 5
lapisan: stratum korneum (lapisan tanduk), stratum lusidum (lapisan jernih),
stratum granulosum (lapisan butir), stratum spinosum (lapisan taju) dan
stratum basalis (lapisan benih) (Wasitaatmadja, 1997).
2. Lapisan dermis
Lapisan dermis ini jauh lebih tebal daripada epidermis dan tersusun atas
jaringan fibrosa dan jaringan ikat yang elastis. Lapisan ini terdiri atas: a. Pars
papilaris, yaitu bagian yang menonjol ke dalam epidermis berisi ujung serabut
saraf dan pembuluh darah ; b. Pars retikularis, yaitu bagian bawah dermis yang
berhubungan dengan lapisan hypodermis yang terdiri atas serabut kolagen.
Serat-serat kolagen ini disebut juga jaringan penunjang, karena fungsinya
dalam membentuk jaringan-jaringan kulit yang menjaga kekeringan dan
kelenturan kulit (Wasitaatmadja, 1997)
3. Lapisan hipodermis
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluhdarah dan
limfe.Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menujulapisan
kulit jangat.Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagaibantalan atau
penyangga bagi organ-organ tubuh bagian dalam dan sebagai cadangan
makanan(Wasitaatmadja, 1997).

.2.3 Absorbsi obat melalui kulit


Tujuan umum pengunaan obat topikal pada terapi adalah untuk menghasilkan
efek terapetik pada tempat-tempat spesifik di jaringan epidermis. Daerah yang
terkena, umumnya epidermis dan dermis, sedangkan sediaan topikal tertentu
seperti pelembab dan antimikroba bekerja dipermukaan kulit saja (Lachman,
dkk., 1994).
Beberapa cara penetrasi obat yang mungkin ke dalam kulit menurut
Tranggono dan Latifah (2007), yaitu: lewat antara sel-sel stratum korneum
(interselular), menembus sel-sel stratum korneum (transelular), melalui
kelenjar keringat, melalui kelenjar sebasea dan melalui dinding saluran folikel
rambut.
2.4. Uraian Jerawat
Jerawat merupakan penyakit peradangan yang terjadi akibat penyumbatan
pada pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pastul dan
bopeng (scar) pada daerah wajah, leher, lengan atas, dada dan punggung.
Peradangan dipicu oleh bakteri Propionibacterium acne, Staphylococcus
epidermidis dan Staphylococcus aureus (Mitsui, 1997; Wasitaatmadja, 1997).
2.3.1 Penyebab terjadinya jerawat
1. Hormonal
Sekresi kelenjar sebaseus yang hiperaktif dipacu oleh pembentukan hormon
testoteron (androgen) yang berlebih, sehingga pada usia pubertas akan
banyak timbul jerawat pada wajah, dada, punggung, sedangkan pada wanita
selain hormon androgen, produksi lipida dari kelenjar sebaseus dipacu oleh
hormon luteinizing yang meningkat saat menjelang menstruasi (Mitsui,
1997).
2. Makanan
Menurut penelitian yang dilakukan oleh sebuah institusikecantikan kulit di
Amerika Serikat (Academy of Dermatology) mengatakan bahwa jerawat tidak
disebabkan oleh makanan. Tidak ada makanan yang secara signifikan dapat
menimbulkan jerawat, tetapi ternyata sebuah hasilstudi kasus yang terbaru,
membuktikan hal yang bertolakbelakang. Para pakar peneliti di Colorado
State UniversityDepartment of Health and Exercise menemukan
bahwamakanan yang mengandung kadar gula dan kadar karbohidrat yang
tinggi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menimbulkan jerawat.
Secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa mengkonsumsi terlalu banyak gula
dapat meningkatkan kadar insulin dalam darah, dimana hal tersebut memicu
produksi hormon androgen yang membuat kulit jadi berminyak dan kadar
minyak yang tinggi dalam kulit merupakan pemicu paling besar terhadap
timbulnya jerawat (Mitsui, 1997).
3. Kosmetik
Penggunaan kosmetika yang melekat pada kulit danmenutupi pori-pori, jika
tidak segera dibersihkan akan menyumbat saluran kelenjar palit dan
menimbulkan jerawat yang disebut komedo. Kosmetik yang paling umum

menjadi penyebab timbulnya jerawat yaitu kosmetik pelembab yanglangsung


menempel pada kulit.
4. Infeksi bakteri
Propionibacterium acnes (Corynebacterium acnes) dan Staphylococcus
epidermidis biasanya ditemukan pada lesi-lesi akne. Berbagai strain
Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis dapat
menghidrolis trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol, asam lemak
bebas tersebut memungkinkan terjadinya lesi komedo (Mitsui, 1997).
2.3.2 Tahap terjadinya jerawat
Pada kulit yang semula dalam kondisi normal, sering kali terjadi penumpukan
kotoran dan sel kulit mati karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan,
khususnya padakulit yang memiliki tingkat reproduksi minyak yang tinggi.
Akibatnya saluran kandung rambut (folikel) menjadi tersumbat. Sel kulit mati
dan kotoran yang menumpuk tersebut, kemudian terkena bakteri acne, maka
timbulah jerawat. Jerawat yang tidak diobati akan mengalami pembengkakan
(membesar dan berwarna kemerahan) disebut papule. Bila peradangan semakin
parah, sel darah putih mulai naik ke permukaan kulit dalam bentuk nanah (pus),
jerawat tersebut disebut pastules. Jerawat radang terjadi akibat folikel yang ada
di dalam dermis mengembang karena berisi lemak padat, kemudian pecah,
menyebabkan serbuan sel darah putih ke area folikel sebasea, sehingga
terjadilah reaksi radang. Peradangan akan semakin parah jika kuman dari luar
ikut masuk ke dalam jerawat akibat perlakuan yang salah seperti dipijat dengan
kuku atau benda lain yang tidaksteril. Jerawat radang mempunyai ciri berwarna
merah, cepat membesar, berisi nanah dan terasa nyeri. Pastules yangtidak
terawat, maka jaringan kolagen akan mengalami kerusakan sampai pada lapisan
dermis, sehingga kulit/wajah menjadi bopeng (Scar) (Mitsui, 1997).
2.3.3 Penanggulangan jerawat
Usaha pengobatan jerawat menurut Wasitaatmadja (1997) dapat dilakukan
dengan 3 cara:
1. Pengobatan topikal
Prinsip pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo (jerawat
ringan), ditujukan untuk mengatasi menekan peradangan dan kolonisasi
bakteri, serta penyembuhan lesi jerawat dengan pemberian bahan iritan dan
antibakteri topikal seperti; sulfur, resorsinol, asam salisilat, benzoil
peroksida, asam azelat, tetrasiklin, eritromisin dan klindamisin.
2. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan untuk penderita jerawat sedang sampai berat
dengan prinsip menekan aktivitas bakteri, menekan reaksi radang, menekan
produksi sebum dan mempengaruhi keseimbangan hormonal. Golongan obat
sistemik misalnya: pemberian antibiotik (tetrasiklin, eritromisin dan
klindamisin).
3. Bedah kulit

Bedah kulit ditujukan untuk memperbaiki jaringan parut yang terjadi akibat
jerawat. Tindakan dapat dilaksanakan setelah jerawat sembuh baik dengan
cara bedah listrik, bedah pisau, dermabrasi atau bedah laser.
Definisi Gel
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
gel kadang kadang disebut jeli. (FI IV, hal 7)
Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil
senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing terbungkus
dan saling terserap oleh cairan (Formularium Nasional, hal 315)
Kegunaan Gel (Lachman, Dysperse system, hal 495 496)
Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk
sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk
bentuk sediaan obat long acting yang diinjeksikan secara intramuskular.
Gel biasa digunakan untuk orang yang memiliki kulit berminyak (pada sediaan
topikal)
Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan
pelindung
koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan oral, dan basis suppositoria.

Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada
shampo, parfum, pasta gigi, dan kulit dan sediaan perawatan rambut.
Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril) (FI IV, hal 8)
Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel.
Keuntungan sediaan gel :
Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan sediaan yang
jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus
pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan
pori tidak terganggu; mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik; kemampuan
penyebarannya pada kulit baik.
Kekurangan sediaan gel :
Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga
diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada
berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang
ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan
harga lebih mahal.
Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk
mencapai kej ernihan yang tinggi.
Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan
pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan
cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang
berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan zat

aktif.
Alasan pemilihan sediaan gel:
Tujuan pengobatan: biasanya sediaan gel diberikan untuk sediaan dengan cara
pemberian topikal
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi (Diktat Kuliah)
1. Penampilan gel : transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi,
dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang
mempunyai struktur tiga dimensi.
2. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik pada
kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel yang bersifat
anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik tersebut).
3. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi dengan
komponen lain dalam formulasi.
4. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab polisakarida
bersifat rentan terhadap mikroba.
5. Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid tapi sifat
soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah dioleskan saat
penggunaan topikal.
6. Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan perubahan
viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol.
7. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat penyimpanan dapat
terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat menimbulkan syneresis (air
mengambang diatas

A. Formula Umum
a. Bahan Aktif
Sari buah belimbing wuluh
Berdasarkan hasil penelitian uji aktivitas antibakteri terhadap baketri
Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermis yang dilakukan oleh
Rabiatul Hadawiyah (2012) menunjukkan bahwa sediaan gel yang efektif
yaitu sediaan gel yang mengandung 20% ektrak etanol buah Belimbing Wuluh
(Averrhoa billimbi L.). Buah belimbing wuluh (Averhoa billimbi L.)
mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba dan
senyawa tanin sebagai antibakteri, sernyawa flavonoid dan tanin inilah yang
diduga berperan sebagai aktig sebagai antijerawat (Hadawiyah, 2012). Jerawat
merupakan penyakit peradangan yang terjadi akibat peyumbatan pada
pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pastul dan bopeng
(scar) pada daerah wajah, leher, lengan atas, dada dan punggung. Peradangan
dipicu oleh bakteri Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis dan
Staphylococcus aureus (Wasitaatmadja, 1997).

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa belimbing wuluh


(Averrhoa billimbi L.) diduga dapat digunakan sebagai obat antijerawat.
Bagian tanaman yang digunakan untuk menyembuhkan jerawat adalah
buahnya. Cara penggunaannya yaitu dengan cara buah belimbing wuluh
(Averrhoa billimbi L.) dicuci dan ditumbuk halus, kemudian diremas dengan
air garam seperlunya dan digosokan pada muka yang berjerawat (Parikesit,
2011). Cara ini tergolong masih sederhana, kurang menarik dan kurang
praktis, selain itu tidak dapat disimpan lama karena mudah ditumbuhi
mikroba. Oleh karena itu diperlukan sediaan farmasi yang dapat memudahkan
dalam pemakaian buah belimbing (Averrhoa billimbi L.), salah satunya adalah
pembuatan gel ekstrak etanol buah belimbing wuluh (Averrhoa billimbi L.)
b. Bahan Tambahan
1. Basis gel
HPMC
Sinonim
: Cellulose, hidroksipropil metil eter, HPMC, Methocel,
metilselulosa,
propilenglikol
eter,
metil
hidroksipropilsellulosa, Metolose.
Kelarutan
: Larut dalam air dingin, praktis tidak larut dalam
kloroform, etanol (95%) dan eter; namun larut dalam
campuran etanol dan iklorometana, campuran metanol
dan diklorometana, dan campuran air dan alkohol. Larut
dalam larutan aseton encer, campuran diklorometana
dan propan-2-ol, dan pelarut organik lain.
Pemerian
: serbuk putih atau hampir putih, tidak berbau, dan
tidaka berasa.
Konsentrasi
: 0,5% - 2%
Titik lebur
: 260O C
Stabilitas
: merupakan material yang stabil walaupun higroskopis
sebelum dikeringkan. Stabil pada pH 5 11.
Peningkatan temperatur menurunkan kekentalan
kelarutan, mengalami perubahan dan padat menjadi gel
pada pemanasan dan pendinginan berturut turut.
Ph
: 2,5 -4
Kegunaan
: Basis gel
Penyimpanan
: Didalam wadah dan tertutup rapat
Inkompabilitas
: HPMC Inkompabilitas dengan beberapa agen
pengoksidasi karena HPMC bersifat nonionik, maka
HPMC tidak akan kompleks dengan garam garam
metal atau ion organik dapat memperlambat kecepatan
melarut.
Carbopol
Sinonim
: Acrypol; Acritamer; acrylic acid polymer; carbomera;
Carbopol; carboxy polymethylene; polyacrylic acid;
carboxyvinyl polymer; Pemulen; Tego Carbomer.
Kelarutan
: dapat larut dalam didalam air, di dalam etanol (95%)
dan glkiserin, dapat terdispersi didalam air untuk

Pemerian
Konsentrasi
Titik lebur
Stabilitas

Ph
Kegunaan
Penyimpanan
Inkompabilitas

2. Penstabil
TEA
Sinonim
Kelarutan
Pemerian
Konsentrasi
Titik lebur
Stabilitas
Ph
Kegunaan
Penyimpanan
Inkompabilitas

3. Humektan

membentuk larutan koloidal bersifat asam, sifat


merekatnya rendah.
: bewarna putih berbentuk serbuk putih halus, bersifat
asam, higroroskopik,dengan sedikit karakteristik bau.
: 0,5 2,0%
:
: Karbomer stabil , bahan higroskopis yang dapat
dipanaskan pada Suhu di bawah 1040C sampai 2 jam.
Namun, paparan Suhu yang berlebihan dapat
mengakibatkan perubahan warna dan stabilitas
berkurang .
: 2,5 4,0
: Basis Gel
:
: Karbomer yang berubah warna dengan resorsinol dan
tidak sesuai dengan fenol , polimer kationik , asam
kuat , dan tingkat tinggi elektrolit. antimikroba tertentu
juga harus dihindari atau digunakan pada tingkat
rendah. besi dan logam transisi lainnya dapat
menurunkan dispersi karbomer .
: Tealan; triethylolamine; trihydroxytriethylamine; tris
(hydroxyethyl)amine; trolaminum.
: Mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut
dalam kloroform P
: Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat,
bau lemah mirip amoniak, higroskopik
: 0,5 %
: 20O 21O C
: pada suhu ruang warna berubah menjadi kecoklatan
ketika terpapar cahaya dan udara. Sangat higroskopik
: 10,5
: Zat tambahan
: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
: TEA akan bereaksi dengan asam minerat membentuk
kristal garam dan ester. Dengan asam lemak yang
tinggi, TEA membentuk garam yang larut dalam air dan
memiliki karakteristik sabun. TEA juga akan bereaksi
dengan tembaga untuk membentuk kompleks garam,
perubahan warna dan curah hujan dapat terjadi dengan
adanya logam berat. TEA dapat bereaksi dengan ragen
seperti klorida ionil untuk menggantikan gugus hidroksi
dengan halogen. Reaksi produksi ini sangat beracun,
menyerupai mustard nitrogen lainnya.

Propilenglikol
Sinonim

Kelarutan

Pemerian
Konsentrasi
Titik lebur
Stabilitas

Ph
Kegunaan
Penyimpanan
Inkompabilitas
4. Pengawet
Metyl paraben
Sinonim
Kelarutan

Pemerian

Konsentrasi
Titik lebur
Stabilitas

: 1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol;


methyl ethylene glycol; methyl glycol; propane-1,2diol; propylenglycolum
: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan
dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak
dapat campur dengan eter minyak tanah P dan dengan
minyak lemak
: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
rasa agak manis, higroskopik
: = 5%
: 149 dan 153
: di temperatur dingin dan dalam wadah tertutup baik
propilenglikol stabil, tapi dalam temperatur tinggi dan
tempat terbuka mudah teroksidasi dan menghasilkan
produk seperti propionaldehid, asam laktat, asam
piruvat dan asam asetat. Propilenglikol stabil secara
kimia ketika dicampur dengan etanol 95%, gliserin, atau
air. Propilenglikol adalah senyawa higroskopis sehingga
harus disimpan dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya di tempat yang dingin dan kering.
: 4,5 dan 7,5
: Zat tambahan, pelarut
: Dalam wada tertutup baik
: inkompatibel dengan senayawa pengoksidasi seperti
kalium permanganate.
: Nipagin M
: Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air
mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3
bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam
larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol
P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati
panas, jika didinginkan larutan tetap jernih
: serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa
tebal
: 0,02 % 0,3 %
: 125O 128O
: larutatan metylparaben encer pada Ph 3-6 dapat
disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 120O C selama
20 menit tanpa dekomposisi. Larutan encer pada Ph 3-6
stabil (kurang dari 10% terdekomposisi) sampai sekitar
4 tahun pada suhu kamar, sedangkan larutan encer pada
Ph 8 atau diatasnya terhidrolisis secara tepat ( 10% atau

Ph
Kegunaan
Penyimpanan
Inkompabilitas

c. Bahan Pembawa
Aqua Destillata
Sinonim
Pemerian
Penyimpanan
Kegunaan

lebih setelah sekitar 60 hari penyimpanan pada suhu


kamar) ( HOPE)
:4-8
: Zat tambahan, zat pengawet
: Dalam wadah tertutup baik
: Aktivitas antimikroba dari metilparaben atau golongan
paraben yang lain sangat dapat mengurangi efektivitas
dari surfaktan nonionik, seperti polysorbate 80. Tetapi
adanya propilenglikol (10%) menunjukkan peningkatan
potensi aktivitas antibakteri dari paraben, sehingga
dapat mencegah interaksi antara metilparaben dan
polysorbate. Inkompatibel dengan beberapa senyawa,
seperti
bentoinit, magnesium trisilicate, talc,
tragacanth, sodium alginate, essential oils,sorbitol dan
atropine.
: Air Suling
: cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa
: Dalam wadah tertutup rapat
: Zat Pembawa

B. Rancangan Formula
Nama Bahan
Sari buah belimbing wuluh
HPMC
Carbopol
TEA
Propilenglikol
Metil Paraben
Aquadest

Konsentrasi (% b/v)
Formula I
Formula II
0,425%
0,425%
8%
0,35%
2%
10%
10%
1,2%
1,2%
Ad 100%
Ad 100%

Kegunaan
Antibacteria
Basis Gel
Basis Gel
Penstabil
Humektan
Pengawet
Pembawa

C. Alasan penambahan dan pengkombinasian bahan


a. Bahan Aktif
Sari buah belimbing wuluh
Hasil uji aktivitas antibakteri sediaan gel yang efektif yaitu sediaan gel
yang mengandung 20% ekstrak etanol buah belimbing wuluh, memberikan
diameter zona hambat rata-rata 15,00 mm terhadap bakteri Propionibacterium
acne dan memberikan diameter zona hambat rata-rata 16,50 mm terhadap
bakteri Staphylococcus epidermidis. Dari hasil penelitian bahwa gel ektrak
etanol buah belimbing wuluh dapat digunakan untuk mengobati jerawat.

Sari buah belimbing wuluh diduga dapat berpengaruh terhadap


pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Di antara bakteri yang dapat
menyebabkan infeksi tersebut adalah Eschericia coli dan Salmonella sp.
(Jawettz et al, 2005).
Buah belimbing wuluh mengandung senyawa flavonoid dan terpenoid
yang bersifat aktif sebagai antimikroba. Sari buah belimbing wuluh bersifat
efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Eschericia coli, Salmonella sp dan
Staphylococcus aureus.
Antibakteri adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau
mematikan bakteri.
b. Bahan Tambahan
1. Basis gel
HPMC
Karena HPMC dapat membentuk sedian gel yang jernih dan bersifat netral
serta memiliki viskositas yang stabil dalam penyimpanan jangka panjang
(Rowe et al., 2009). Selain itu HPMC mengembang terbatas dalam air
sehingga merupakan bahan pembentuk hidrogel yang baik. Hidrogel
sangat cocok digunakan sebagai sediaan topikal dengan fungsi kelenjar
sebaseus berlebih, dimana hal ini merupakan salah satu faktor penyebab
jerawat (Voigt, 1994).
Carbopol
Karena karbopol dapat memberikan viskositas yang baik untuk sediaan gel
(HPE 5 p. 111). Karena relatif bersifat tidak toksik, tidak mengiritasi,
tidak menyebabkan reaksi hipersensitivitas pada kulit manusia sehingga
cocok digunakan sebagai basis gel serta memberikan bentuk serta
penampakan yang baik, jernih dan tidak keruh.
2. Penstabil
TEA
untuk menetralkan carbomer sehingga dapat meningkatkan viskositas gel
(HPE 5 p. 113). Dapat meningkatkan viskositas dari carbopol. Merupakan
basa lemah shg baik digunakan karena kenaikan pH tidak drastis.
3. Humektan
Propilenglikol
Propilen glikol bersifat higroskopis dan lebih tidak toksik bila
dibandingkan dengan glikol yang lain. Penggunaan propilen glikol harus di
bawah 5% sebab pada konsentrasi lebih dari 5% dapat mengiritasi kulit
(Owen dan Weller, 2006). Propilen glikol berupa larutan bening, tidak
berwarna, kental, tidak berbau dan berasa manis, sedikit tajam seperti
gliserin (Kibbe, 2004).
4. Pengawet
Metyl paraben
Metilparaben memiliki aktivitas antibakteri pada formula farmasetik dan
akan lebih efektif bila penggunaannya dikombinasikan dengan antibakteri
lain seperti propilen glikol (Wade dan Waller, 1999). Dalam kosmetik,

metilparaben lebih banyak digunakan sebagai pengawet antibakteri


(Johnson dan Steer, 2006).
c. Bahan Pembawa
Aquadest
D. Perhitungan Bahan
Formula 1
1. Sari Buah Belimbing Wuluh
2. HPMC
3. Carbopol
4. TEA
5. Propilenglikol
6. Metyl Paraben
7. Aquadest

: 0,425%
:: 0,35%
: 2%
: 10%
: 1,2%
: ad 100

Formula 2
1. Sari Buah Belimbing Wuluh
2. HPMC
3. Carbopol
4. TEA
5. Propilenglikol
6. Metil paraben
7. Aquadest

x 100 = 0,425 g
x 100
x 100
x 100
x 100

: 0,425%
: 8%
::: 10%
: 1,2%
: ad 100

= 0,35 g
=2g
= 10 g
= 1,2 g

x 100 = 0,425 g
x 100 = 8 g
x 100 = 10 g
x 100 = 1,2 g

E. Cara Kerja
1. Timbang sejumlah gelling agent sesuai dengan yang dibutuhkan
2. Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-masing
3. Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya
4. Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam campuaran tersebut
atau sebaliknya sambil diaduk terus-menerus hingga homogen tapi jangan terlalu
kuat karena akan menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung
udara dalam sediaan yang nantinya dapat mempengaruhi pH sediaan.
5. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke dalam alat pengisi gel dan diisikan ke dalam
tube sebanyak yang dibutuhkan
6. Ujung tube ditutup lalu diberi etiket dan dikemas dalam wadah ynag dilengkapi
brosur dan etiket
F. Evaluasi Stability
Evaluasi fisik
1. Penampilan (Diktat teknologi likuida dan semisolid hal.127)
Yang dilihat penampilan, warna dan bau.
2. Homogenitas ( Diktat teknologi likuida dan semisolid hal.127)
Caranya: oleskan sedikit gel diatas kaca objek dan diamati susunan partikel
yang terbentuk atau ketidak homogenan.
3. Viskositas/rheologi (lihat lampiran martin, Farfis hal 501)
Menggunakan viscometer Stromer dan viscometer Brookfield
4. Distribusi ukuran partikel
Prosedur :

sebarkan sejumlah gel yang membentuk lapisan tipis pada slide mikroskop
Lihat di bawah mikroskop
Suatu partikel tidak dapat ditetapkan bila ukurannya mendekati sumber
cahaya
- Untuk cahaya putih, suatu mikroskop bisa dapat mengukur partikel 0,4
0,5 m. Dengan lensa khusus dan sinar UV, batas yang lebih rendah dapat
diperluas sampai 0,1
5. Uji Kebocoran ( Lihat Lampiran FI IV Hal. 1096)
6. Isi minimum (Lihat Lampiran FI IV hal.997)
7. Penetapan pH (Lihat Lampiran FI IV hal 1039)
8. Uji pelepasan Bhan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Ivantina Pelepasan
Diklofenak Dari Sediaan Salep )
Prinsip : mengukur kecepatan pelepasan bahan aktif dari sediaan gel dengan
cara mengukur konsentrasi zat aktif dalam cairan penerima pada waktu-waktu
tertentu
9. Uji difusi bahan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Sriningsih Kecepatan
difusi kloramfenikol dari sediaan salep)
Prinsip : Menguji difusi bahan aktif dari sediaan gel menggunakan suatu sel
difusi dengan cara mengukur konsentrasi bahan aktif dalam cairan penerima
pada selang waktu tertentu)
10. Stabilitas gel (Dosage Form, disperse system vol.2 hal 507) 1 tube
Evaluasi Kimia
Identifikasi zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain)
Penetapan kadar zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain)
Evaluasi Biologi
- Uji penetapan potensi antibiuotik (lihat lampiran FI IV hal 891)
- Uji sterilitas ( lihat lampiran FI IV, hal 855).

Anda mungkin juga menyukai