Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Semakin berkembangnya perekonomian Indonesia membuat geliat bisnis
semakin bergairah, hal ini di tandai dengan maraknya bisnis waralaba yang
berkembang saat ini. usaha waralaba yang ada, tidak hanya barasal dari Indonesia,
tetapi banyak waralaba asing yang berlomba-lomba masuk ke tanah air karena
potensi pasar yang dimiliki Indonesia sangat besar.
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar,
memperkirakan omzet sektor waralaba tumbuh 8% - 10% dari omzet tahun 2012,
dan omset yang di bukukan bisa mencapai Rp 160 triliun. Setiap tahun, bisnis
waralaba memang selalu tumbuh. Dari sisi omzet, tiap tahun nilainya terus naik.
Pada 2008, misalnya, omzet waralaba masih sekitar Rp 81,1 triliun. Selang dua
tahun, omzet sudah mencapai Rp 114,6 triliiun. Tren tersebut terus berlangsung
hingga tahun 2011 yang menyentuh angka Rp 120 triliun. Disamping itu jumlah
usaha waralaba terus bertambah. Sebagai gambaran, di tahun 2010, waralaba lokal
masih berjumlah 1.500 unit usaha, termasukbusiness opportunity (BO). Namun
tahun 2012, jumlahnya sudah mencapai 1.700 unit - 2.000 unit usaha. Sementara,
jumlah waralaba asing sekitar 350 unit usaha. Kendati dari sisi kuantitas bisnis ini
berkembang, unit usaha yang benar-benar memenuhi kriteria waralaba hanya

sekitar 100-an. Selebihnya merupakan unit usaha yang bersifat kemitraan


dan business opportunity.1
Salah satu faktor yang membuat semakin berkembangnya bisnis waralaba di
Indonesia adalah membaiknya perekonomian bangsa Indonesia, yang ditandai
dengan meningkatnya jumlah kelas menengah, sebagian kalangan kelas menengah
ini memiliki disposible income yang di gunakan untuk melakukan investasi, salah
satunya adalah dengan berinvestasi pada waralaba. Waralaba di pilih karena relatif
mudah untuk dilakukan karena calon pemilik waralaba hanya menyediakan
modal, sementara model bisnisnya hanya mengikuti sistem yang telah di bentuk
oleh pewaralaba. Disisi lain bisnis waralaba juga menjanjikan Break Even
Poin yang relatif cepat, sehingga jadilah bisnis waralaba semakin diminati
masyarakat dan berkembang saat ini.
Salah satu waralaba yang paling berkembang dan menjadi tren adalah
waralaba sektor makanan atau kuliner. Hal ini dapat dilihat semakin menjamurnya
waralaba kuliner yang tersebar di tanah air. Waralaba kuliner pun di banjiri oleh
pemain lokal dan pemain asing. Diantara waralaba lokal di bidang kuliner yang
besar dan mendominasi industri kuliner di Indonesia adalah Klenger burger, Mr.
Burger, J.Co, Kebab Baba Rafi, Lele Lela, Tela-Tela, Waroeng Steak, Ayam
Bakar Wong Solo, Bebek Goreng Haji Slamet, California Fried Chicken (CFC)
serta banyak lagi. sementara merek waralaba asing yang mendominasi pasar lokal
diantaranya banyak berasal dari negara Ameriaka seperti Pizza hut, Kentucy Fried

Industri.kontan.co.id. Bisnis Waralaba makin moncer, diakses pada tanggal 15 Juni 2015

Chicken (KFC), Texas, Dunkin Donut, StarBucks, A & W serta banyak pemain
lainnya.2
Semakin maraknya bisnis waralaba di Indonesia membuat pemerintah merasa
perlu untuk membuat aturan terhadap industri waralaba khususnya pada bidang
kuliner, Salah satu peraturan yang dikeluarkan pemerintah melalui menteri
perdagangan yaitu Permendag No. 7/M-DAG/PER/2/2013 tentang pengembangan
kemitraan dalam waralaba untuk jenis usaha jasa makanan dan minuman.
Adanya peraturan baru ini tentu memiliki dampak bagi usaha waralaba di
Indonesia, banyak pegusaha yang mendukung adanya peraturan yang dikeluarkan
pemerintah ini karena mereka menganggap kebijakan ini dapat mendukung dan
mendorong usaha mereka semakin berkembang, namun tidak sedikit pula yang
menolak, dengan asumsi peraturan pemerintah ini dapat menghambat usaha
mereka untuk lebih besar. Oleh karena itu perlu di lihat dampak adanya kebijakan
pemerintah ini terhadap bisnis waralaba di Indonesia.

Majalah Usahawan, 2010, Mengggempur Pasar Dengan Sistem Fraanchise, Edisi No.
11Tahun XX, November 1991, UI Press

BAB II
PERMASALAHAN

A. Uraian Masalah
Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau
badan terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan
barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat diamanfaatkan
dan/atau digunakan oleh pihak lain bedasarkan perjanjian waralaba.
Memasuki tahun 2013, terbit Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag)
terbaru No. 07/M-DAG/PER/ 2/2013 tentang Pengembangan Kemitraan dalam
Waralaba untuk Jenis Usaha Jasa Makanan dan Minuman. Pasal 4 dalam aturan
itu menyebutkan bahwa gerai yang boleh dimiliki dan dikelola sendiri oleh
pewaralaba maksimal sebanyak 250 unit. Jika melebihi jumlah tersebut,
pewaralaba wajib mewaralabakan gerai berikutnya ke pihak ketiga atau
dikerjasamakan dengan pola penyertaan modal. Pembatasan gerai ini berlaku lima
tahun sejak peraturan ini berlaku, bunyi Pasal 12 Permendag yang ditandatangani
oleh Mendag Gita Wirjawan pada 11 Februari 2013 lalu.3
Pembatasan gerai waralaba khususnya waralaba asing ini menuai kontroversi,
banyak dari pengusaha asing yang menolak diberlakukannya aturan ini sementara
disatu sisi masyarakat lokal masih merasakan bahwa pembatasan gerai waralaba
sebanyak 250 dinilai terlalu banyak untuk franchise asing. Dengan pembatasan
tersebut, asing masih memiliki peluang untuk memperbanyak jumlah waralaba.
3

Agustinus.
2013.
Apindo
nilai
Permendag
No.7/2013
ciptakan
pemerataan..http://ekbis.sindonews.com/read/2013/02/17/34/718609/apindo-nilai-permendag-no7-2013-ciptakan-pemerataan. Diakses pada tanggal 15 Juni 2015.

Padahal, semangat lahirnya Permendag tersebut adalah untuk membatasi


franchise asing di Indonesia. Atas tekanan dari masyarakat lokal Pemerintah
akhirnya berkilah bahwa upaya pembatasan jumlah gerai waralaba asing tidak
bisa ditekan lagi karena akan berbenturan dengan aturan yang dikeluarkan oleh
World Trade Organization (WTO). WTO mengeluarkan kebijakan bahwa tak ada
perlakuan berbeda antara waralaba asing dan nasional.
Berdasarkan uraian singkat permasalahan di atas terlihat bahwa keberadaan
Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 07/M-DAG/PER/2/2013
tentang Pengembangan Kemitraan dalam Waralaba untuk Jenis Usaha Jasa
Makanan dan Minuman telah melanggar aturan WTO, sehingga dalam makalah
ini Penulis tertarik untuk menganalisis kedudukan Peraturan Menteri Perdagangan
(Permendag) No. 07/M-DAG/PER/2/2013 terhadap aturan WTO yang melarang
adanya perbedaan perlakuan antara pengusaha asing dan pengusaha lokal.

B. Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk mengetahui kedudukan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.
07/M-DAG/PER/2/2013 terhadap aturan WTO yang melarang adanya perbedaan
perlakuan antara pengusaha asing dan pengusaha lokal.

BAB III
PEMBAHASAN

Pada tanggal 11 Februari Kemendag telah menerbitkan Peraturan Menteri


perdagangan Nomor 07/M-DAG/PER/2/2013 tentang pengembangan Kemitraan
dalam Waralaba untuk jenis jasa makanan dan minuman. Peraturan ini membatasi
kepemilikan waralaba minuman dan restoran memiliki gerai maksimal 250 outlet.
Secara garis besar adanya peraturan pemerintah melalui menteri perdagangan
yang mengatur mengenai waralaba di bidang kuliner tentu memberikan dampak
pada usaha waralaba yang bergerak di bidang kuliner di Indonesia
Peraturan mengenai waralaba nomer 7 tahun 2013 yang dikeluarkan
kementrian perdagangan ditanggapi pro dan kontra bagi pelaku usaha yang
bergerak di bidang waralaba. Mereka yang mendukung tentu memiliki alasan
tersendiri begitu juga mereka yang kontra. tentu kementrian perdagangan
memiliki pertimbangan tersendiri mengapa kebijakan ini di keluarkan, oleh karena
itu perlu di lihat dampak positif dan negatif dari adanya kebijakan ini agar kita
dapat melihat dengan cermat mengenai peraturan yang dikeluarkan oleh
kementrian perdangan tersebut.

Dampak Positif
Adanya peraturan menteri perdagangan nomor 7 tahun 2013 tentu memilki
tujuan, dan tujuan tersebut tentu diharapkan dapat memberi keuntungan bagi
pelaku bisnis lokal. Menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan,

pembatasan waralaba untuk jenis usaha makanan dan minuman, maksimal 250
outlet (gerai), sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.
07/M-DAG/PER/2/2013

tanggal

11

Februari

2013

dimaksudkan

untuk

memberdayakan Usaha Kecil Menengah (UKM).


Melalui peraturan ini pemerintah ingin menciptakan iklim yang lebih
kondusif bagi waralaba kuliner. Peraturan ini juga dibuat berlandaskan pemikiran
untuk merangsang dan menumbuhkan para pengusaha, wirausahawan dan
business man yang unggul, kreatif dan profesional, sehingga diharapkan dapat
mampu bersaing dalam industri francaise ini terutama dengan pemain asing yang
sudah terlebih dahulu memiliki brand yang kuat dan terkenal dimasyarakat.
Adanya kebijakan ini juga dimaksudkan untuk penertiban bagi pelaku dalam
industri waralaba itu sendiri, hal ini karena masih banyak masyarakat yang tidak
berhasil memiliki usaha waralaba dimaksud. sehingga perjanjian antara pemberi
waralaba (franchisor) dengan penerima waralaba (franchisee) yang hanya
menunjuk satu penerima waralaba saja, dan tidak memberikan hak kepada
penerima waralaba untuk membuka sub-franchise. Ini menunjukkan adanya
dominasi kepemilikan di satu tangan dengan sistem waralaba yang justru keluar
dari konsep waralaba itu sendiri. Peraturan ini juga dikeluarkan karena dalam
pengamatannya kementrian perdagangan menyoroti sejumlah waralaba yang
menjual barang-barang yang tidak sesuai dengan peruntukan izin usaha yang
dimiliki. Ada waralaba yang memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW)
jenis usaha waralaba untuk kafetaria, tetapi barang-barang yang dijual sebagian

besar adalah barang kelontongan yang bukan merupakan barang utama kafetaria
tetapi barang utama toko modern/minimarket.4

Dampak negatif
Walaupun peraturan pemerintah ini memiliki tujuan baik untuk melindungi
UKM dan memberdayakan pengusaha lokal, namun masih terdapat kelemahan
yang juga harus di perhatikan pemerintah dalam pemberlakuan kebijakan ini,
mengenai dampak negatif dari adanya peraturan ini, yaitu menguntungkan
pewaralaba asing untuk terus berinvestasi di Indonesia. hal ini dikarenakan dalam
Peraturan menyebutkan bahwa ketika jumlah gerai suatu waralaba restoran
melebihi batas 250 unit, maka perusahaan itu diwajibkan untuk mewaralabakan
dan/atau dikerjasamakan dengan pola penyertaan modal kepada pihal lokal.
Sehingga hal ini masih memungkinkan bagi pelaku usaha asing yang telah
memiliki jumlah outlet lebih dari 250 untuk tetap dapat membuka outletnya dan
memiliki kekuatan untuk mengontrol gerai yang di francaisekan karena
menggunakan pola penyertaan modal sejumlah 30-40 persen. Untuk nilai investasi
kurang dari atau sama dengan Rp10 miliar, jumlah penyertaan modal dari pihak
lain paling sedikit 40 persen. Sementara untuk nilai investasi lebih dari Rp10
miliar, jumlah penyertaan modal dari pihak lain minimal sekitar 30 persen.
Sehingga jika tidak ada pembatasan yang tegas tetap saja para investor asing dapat
menanamkan usaha waralabanya sebanyak-banyaknya dan akan mengancam para
pewaralaba lokal. Oleh karena itu diperlukan aturan kebijakan yang tegas, jelas
4

Setkab.co.id. Mendag: Pembatasan Waralaba Restoran/Kafe Untuk Berdayakan UKM.


Diakses pada tanggal 15 Juni 2015

dan tepat dalam membuat peraturan pewaralabaan di Indonesia yang tentunya


dapat mengoptimalkan para pengusaha lokal khususnya untuk kalangan menengah
ke bawah.

Kedudukan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 07/MDAG/PER/2/2013 terhadap aturan dan prinsip hukum WTO
Prinsip-prinsip hukum atau asas-asas hukum merupakan jembatan antara
peraturan-peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis
masyarakatnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa melalui asas hukum ini
peraturan-peratran hukum berubah sifatnya menjadi bagian dari suatu tatanan
etis.5
Dari pengertian prinsip di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip hukum
adalah suatu yang sangat mendasar bagi suatu konsep hukum. Prinsip hukum
dalam pengertian substansinya tidak meerupakan bagian terpisah dari kategori
norma-norma hukum, melainkan hanya berbeda dalam isi dan pengaruhnya.
Prinsip-prinsip dasar yang melandasi GATT/WTO menurut Wil D. Verwey dalam
Ginanjar Kartasasmita ialah prinsip non diskriminasi yang mengundang tiga
bentuk perlakuan terhadap barang yang akan dijual di pasar internasional. Prinsipprinsip itu berakar dari filsafah liberalisme barat, yang dikenal dengan Trinita,
yaitu kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan asas timbal balik
(reciprocity).6

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 45.
Ginanjar Kartassasmita, Pembangunan untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan
Pemerataan, (Jakarta: Cidesindo, 1996), hlm. 100.
6

10

Pada dasarnya prinsip-prinsip tersebut menganggap semua pihak sama


kedudukannya. Dari prinsip-prinsip tersebut tersirat prinsip persaingan bebas
melalui kesempatan yang sama. Prinsip-prinsip hukum liberal tersebut
menganggap semua negara sama kuat. Namun demikian muncul persoalan ketik
muncul negara-negara berkembang yang baru merdeka setelah Perang Dunia
Kedua. Kehadiran negara-negara berkembang mengakibatkan negara industtri
maju yang kuat bersaing dengan negara berkembang yang lemah, akhirnya asas
persamaan tidak lagi membawa keadilan (equity), tetapi sering justru
memperbesar ketidakadilan.7 Oleh karena itu, perlulah peraturan-peraturan dasar
dan prinsip-prinsip yang terdapat dalam hukum WTO menjadi acuan sistem
perdagangan multinasional.
Dalam menghadapi era globalisasi yang tengah berjalan di segala sektor
dewasa ini, Indonesia telah meratifikasi beberapa perjanjian penting yang
diantaranya adalah menjadi anggota WTO. Konsekuensi penting dari kenggotaan
suatu orgaanisasi dunia, seperti WTO yang diratifikaasi Indonesia melalui
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1994 pada tanggal 2 November 1994
mewajibkan Indonesia berhati-hati dalam memberlakukan peraturan ekonomi.
Ratifikasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia atas Agreement Establishing the
World Trade Organization dilihat dari segi hukum merupakan suatu langkah yang
tidak dapat dicegah sebab sebagai negara yang berkembang dengan posisi lemah
dalam peraturan dagang internasional, Indonesia harus meletakkan tumpuan pada
suatu forum multilateral, yakni WTO sebagai wujud suatu kekuasaan
7

Muhammad Sood, Hukum Perdagangan Internasional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,


2012), hlm. 40.

11

internasional di bidang perdagangan antarnegara, yang diharapkan menegakkan


rule of law dalam masyarakat global.
Adapun prinsip-prinsip hukum dari perdagangan multilateral yang diatur
didalam GATT/WTO, meliputi prinsip non-diskriminasi (the principle of
nondiscriminatory), prinsip resiprositas (reciprocity), prinsip penghapusan
hambatan kuantitatif, prinsip perdagangan adil (fairness principle), dan prinsip
tarif mengikat (tariff binding principle).
Prinsip non-diskriminasi adalah salah satu prinsip utama WTO, artinya
merupakan prinsip-prinsip yang menjadi landasan seluruh kebijakan dan tata
aturan perdagangan dalam sistem WTO. Prinsip non-diskriminasi berarti prinsip
yang menolak kebijakan atau tindakan yang diskriminatif.8 Terdapat dua prinsip
non diskriminasi dalam hukum organisasi perdagangan dunia (WTO/GATT) yaitu
kewajiban The Most Favoured Nation (MFN) Treatment dan kewajiban The
National Treatment.
Dalam hal keberadaan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.
07/M-DAG/PER/2/2013 secara spesifik telah melanggar prinsip non-diskriminasi
yaitu The National Treatment.
Prinsip National Treatment memberikan persamaan perlakuan di dalam suatu
negara, baik terhadap orang asing maupun terhadap warga negara sendiri. Prinsip
ini melarang perbedaan perlakuan antara barang asing dan barang domestik yang
berarti bahwa pada saat suatu barang impor telah masuk ke pasaran dalam negeri
suatu anggota, dan setelah melalui daerah pabean serta membayar biaya masuk,
8

Rusli Pandika, Sanksi Dagang Unilateral: Di Bawah Sistem Hukum WTO, (Bandung: PT.
Alumni, 2010), hlm. 131.

12

maka barang impor tersebut harus diperlakukan secara tidak lebih buruk daripada
hasil dalam negeri.
Suatu anggota WTO harus memberikan perlakuan yang sama bagi pemasok
jasa dari setiap anggota lain seperti yang diberikan kepada pemasok jasa nasional
dari anggota yang bersangkutan. Dengan kata lain, tidak boleh ada perlakuan
diskriminatif antara jasa-jasa dan pemasok-pemasok jasa nasional dan asing.
Negara-negara anggota memiliki kewajiban untuk tidak memperlakukan
produk-produk impor secara berbeda dengan kebijakan terhadap produk-produk
yang sama buatan dalam negeri. Ruang lingkup berlakunya prinsip ini juga
berlaku terhadap semua diskriminasi yang muncul dari tindakan-tindakan
perpajakan dan pungutan-pungutan lainnya. Prinsip ini berlaku pula terhadap
perundangundangan, pengaturan dan persyaratan-persyaratan hukum yang dapat
mempengaruhi penjualan, pembelian, pengangkutan, distribusi atau penggunaan
produk-produk di pasar dalam, negeri. Prinsip ini juga memberikan perlindungan
terhadap proteksionisme sebagai akibat upaya-upaya atau kebijakan administratif
atau legislatif.
Dengan demikian bahwa prinsip national treatment ini menghindari
diterapkannya peraturan-peraturan yang menerapkan perlakuan diskriminatif yang
ditujukan sebagai alat untuk memberikan proteksi terhadap produk-produk buatan
dalam negeri. Tindakan yang demikian ini menyebabkan terganggunya kondisi
persaingan antara barang-barang buatan dalam negeri dengan barang impor dan
mengarah kepada pengurangan terhadap kesejahteraan ekonomi. Dengan
persaingan yang adil antara produk impor dan produk dalam negeri, maka terjadi

13

perbaikan kinerja pada produksi dalam negeri untuk lebih efisien sehingga dapat
bersaing dengan produk impor. sedangkan bagi konsumen hal ini akan lebih
menguntungkan karena memungkinkan konsumen memperoleh barang yang lebih
baik dan harga yang lebih wajar. Dalam perspektif lain disebutkan bahwa justru
tindakan yang demikian dapat menyebabkan kurangnya minat investor untuk
menanamkan modalnya, karena berkurangnya keleluasaan investor untuk
mengambil keputusan bisnis yang lebih bebas.
Klausul National Treatment sering ditemukan dalam berbagai perjanjian
termasuk dalam GATT dan perjanjian-perjanjian persahabatan, perdagangan, dan
navigasi Penerapan prinsip ini acapkali dilakukan dengan menerapkan prinsip
resiprositas dalam hubungan ekonomi internasional. Praktik-praktik seperti ini
telah lama dilakukan. Misalnya, larangan pembatasan-pembatasan impor
kuantitatif yang ditandatangani antara Prancis dan Belanda pada tahun 1968;
antara Prancis dan Spanyol pada tahun 1654; antara Swedia dan Belanda pada
tahun 1679; dan antara Prancis dan Inggris pada tahun 1713.9
Menurut Herman Mosler dalam Taryana Sunandar, bahwa unsur-unsur
penting yang terkandung dalam Prinsip National Treatment adalah sebagai
berikut:10
a.

Adanya kepentingan lebih dari satu negara;

b.

Kepentingan tersebut terletak di wilayah yurisdiksi suatu negara;

Huala Adolf, Perjanjian Penanaman Modal dalam Hukum Perdagangan Internasional


(WTO), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004),. hlm. 38.
10
Taryana Sunandar, Penulisan Karya Ilmiah tentang Perkembangan Hukum Perdagangan
Internasional dari GATT 1947 sampai terbentuknya WTO (World Trade Organizartion), Badan
Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman , 1996, hlm. 24.

14

c.

Negara tuan rumah harus memberikan perlakuan yang sama baik terhadap
kepentingan sendiri maupun kepentingan negara lain yang berada di
wilayahnya; dan

d.

Perlakuan tersebut tidak boleh menimbulkan keuntungan bagi negara tuan


rumah sendiri dan merugikan kepentingan negara lain.
Penerapan prinsip National Treatment merupakan pencerminan dari

pembatasan kedaulatan suatu negara. Hal ini kerapkali diperjanjikan dalam rangka
mewujudkan suatu kompromi antara kepentingan nasional dan kepentingan
internasional yang sering bertentangan. Tujuan daripada penerapan prinsip ini
adalah untuk menciptakan harmonisasi dalam perdagangan internasional agar
tidak terjadi perlakuan yang diskriminatif antara produk domestik dan produk
impor, artinya kedua produk tersebut harus mendapatkan perlakuan yang sama.
Sehingga

penerapan

Permendag

No.7/M-DAG/PER/2/2013 tentang

pengembangan kemitraan dalam waralaba untuk jenis usaha jasa makanan dan
minuman bagai dua mata pedang, jika diterapkan akan melanggar prinsip hukum
yang diratifikasi oleh Indonesia sebagai bagian dari negara anggota WTO dan jika
tidak diterapkan maka tidak ada satu regulasi pun yang mengatur tentang
pengusaha asing yang berkekspansi di Indonesia tanpa memandang berkurangnya
atau melemahnya kedudukan pengusaha lokal di negeri sendiri.

15

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keberadaan

yaitu

Permendag

No.7/M-DAG/PER/2/2013 tentang

pengembangan kemitraan dalam waralaba untuk jenis usaha jasa makanan dan
minuman bertentangan dengan prinsip hukum yang diratifikasi oleh Indonesia
sebagai bagian dari negara anggota WTO yaitu prinsip non-diskriminasi : The
National Treatment.

B. Saran
Pemerintah seharusnya lebih hati-hati dalam membuat kebijakan apalagi yang
berupa aturan yang mengatur tentang kegiatan perekonomian antar negara,
pemerintah harus kembali mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang
meratifikasi aturan WTO sehingga segala konsekuensi yang timbul akan
keikutsertaan Indonesia meratifikasi aturan WTO haruslah ditanggung.
Pemerintah tidak seharusnya membuat kebijakan yang membuat perbedaan
perlakuan antara pengusaha asing dan pengusaha lokal. Justru yang seharusnya
pemerintah upayakan adalah bagaimana pengusaha lokal dapat bersaing dengan
pengusaha asing.

16

DAFTAR PUSTAKA

Literatur
Huala Adolf, Perjanjian Penanaman Modal dalam Hukum Perdagangan
Internasional (WTO), (Jakarta: PT Industri.kontan.co.id. Bisnis
Waralaba makin moncer, diakses pada tanggal 15 Juni 2015.
Kartassasmita,Ginanjar, Pembangunan untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan
dan Pemerataan, (Jakarta: Cidesindo, 1996).
Pandika, Rusli, Sanksi Dagang Unilateral: Di Bawah Sistem Hukum WTO,
(Bandung: PT. Alumni, 2010).
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2006).
Sood, Muhammad, Hukum Perdagangan Internasional, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2012)
Sunandar,Taryana Penulisan Karya Ilmiah tentang Perkembangan Hukum
Perdagangan Internasional dari GATT 1947 sampai terbentuknya WTO
(World Trade Organizartion), Badan Pembinaan Hukum Nasional
Departemen Kehakiman , 1996, hlm. 24.

Peraturan Perundang-undangan
Permendag No. 53/M-DAG/PER/8/2012 tentang Penyelenggaraan Waralaba,
Permendag No.68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba Untuk Jenis Usaha
Toko Modern

17

Permendag No. 07/M-DAG/PER/2/2013 tentang Pengembangan Kemitraan


Dalam Waralaba untuk Jenis Usaha Jasa Makanan dan Minuman.

Jurnal dan Link


Majalah Usahawan, 2010, Mengggempur Pasar Dengan Sistem Fraanchise, Edisi
No. 11Tahun XX, November 1991, UI Press
Agustinus.

2013.

Apindo

nilai

Permendag

No.7/2013

ciptakan

pemerataan..http://ekbis.sindonews.com/read/2013/02/17/34/718609/ap
indo-nilai-permendag-no-7-2013-ciptakan-pemerataan. Diakses pada
tanggal 15 Juni 2015.
Setkab.co.id. Mendag: Pembatasan Waralaba Restoran/Kafe Untuk Berdayakan
UKM. Diakses pada tanggal 15 Juni 2015