Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

Lamun

Disusun Oleh :
Nicodemus Billy Pranata H1081131012

Jurusan Ilmu Kelautan


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Tanjungpura
Pontianak
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan jumlah pulau lebih dari
17.1508 pulau yang terdiri dari pulau-pulau besar mau pun pulau-pulau kecil dengan panjang
garis pantai 81.000 km dan dilalui oleh garis khatulistiwa (Friedhelm, 2012). Indonesia
mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh karena itu Indonesia di kenal
sebagai sebuah negara maritim. Perairan laut Indonesia yang sangat luas,membuat perairan
laut Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati baik flora mau pun fauna yang sangat unik
dan membentuk suatu dinamika kehidupan laut yang saling berkesinambungan satu dengan
yang lain (Nybakken 1988).
Ekosistem laut merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik
(fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan saling
berinteraksi membentuk suatu unit fungsional. Komponen-komponen ini secara fungsional
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari
komponen-komponen tersebut maka akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya.
Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada, baik dalam
kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya.
Pada saat ini, perhatian terhadap biota laut semakin meningkat dengan munculnya
kesadaran dan minat setiap lapisan masyarakat akan pentingnya lautan. Menurut Bengen
(2001) laut sebagai penyedia sumber daya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan,
tambang mineral, dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata.
Karena itu wilayah pesisir dan lautan merupakan tumpuan harapan manusia dalam
pemenuhan kebutuhan di masa datang..

1.2 Permasalahan
Salah satu sumber daya laut yang

cukup potensial untuk dimanfaatkan adalah

lamun,dimana secara ekologis, lamun memiliki beberapa fungsi penting di daerah Pesisir.
Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan
sumber makanan penting bagi banyak organisme. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk
mempelajari dan mengetahui lebih jauh tentang satu-satunya tumbuhan berbunga yang hidup
dilaut, Terutama jenis yang banyak hidup di perairan tropis Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Lamun
Tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di
perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air adalah lamun.
Lamun memiliki rizhoma, daun, dan akar sejati seperti halnya tumbuhan didarat (Nontji,
1987; Nasmia, 2012). Ada beberapa jenis lamun yang mamu hidup diair tawar,
misalnyaVallisneria dan Hydrilla yang termasuk kedalam familly Hydrocharitaceae (Den
Hertog, 1970). Keberadaan dan kekhasan padang lamun telah dibentuk dari masa Jurasic
Tethys Sea(Friedhelm, 2012).
Komunitas lamun memegang peranan penting baik secara ekologis, maupun biologis
di daerah pantai dan estuaria. Disamping itu juga mendukung aktifitas perikanan, komunitas
kerang-kerangan dan biota avertebrata lainnya (Bastyan and Cambridge, 2008).
Lamun yang terdapat di dunia berkisar antara 50 60 (Hemminga, 2002; Waycott,
2004) atau 66 jenis (Den Hartog dan Kuo, 2006), sedangkan di Indonesia terdapat 7 marga,
yaitu

Enhalus,

Thalassia,

Halophila,

Halodule,

Cymodocea,

Syrongidium,

dan

Thalssodendrom (Nontji, 1987), dan terdiri dari 12 jenis, yaitu Halodule uninervis, H.
pinifolia, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Syringodium isoetifolium, Thalassodendron
ciliatum, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, H. minor, H. decipiens,
dan H. Spiulosa (Hutomo,1985). Selanjutnya Hutomo (1985) menyatakan bahwa terdapat 10
jenis lamun di Sulawesi, yaitu Halodule uninervis, H. pinifolia, Cymodocea rotundata, C.
serrulata, Syringodium isoetifolium, Thalassodendron ciliatum, Enhalus acoroides, Thalassia
hemprichii, Halophila ovalis, dan H. minor. Pertumbuhan lamun dibatasi oleh suplai nutrien
antara lain partikulat nitrogen dan fosfor yang berfungsi sebagai energi untuk melangsungkan
fotosintesis (Short, 1987).
Kedalaman air dan pengaruh pasang surut, serta struktur substrat mempengaruhi
zonasi sebaranjenis-jenis lamun dan bentuk pertumbuhannya. Jenis lamun yang sama dapat
tumbuh pada habitat yang berbeda dengan menunjukkan bentuk pertumbuhan yang berbeda
dan kelompok- kelompok jenis lamun membentuk zonasi tegakan yang jelas, baik murni
ataupun asosiasi dari beberapa jenis (Kiswara, 1997). Selain itu faktor lingkungan lainnya
juga ikut mempengaruhi pertumbuhan dan sebaran lamun.

Perlu dicatat ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa padang lamun adalah bagian
adari ekosistem terumbu karang dan tidak sebagai ekosistem sendiri, karena variasinya yang
sangat besar (Friedhelm., 2012).

2.2 Jenis Lamun


Lamun tidak seperti alga, Lamun mempunyai akar sejati, daun dan sistem transpor
yang bagian dalamnya berlignin seta bermanfaat untuk transport nutrien, gas, dan air (Fortes,
1990). Di daerah yang beriklim sedang Zostera mempunyai bunga betina dan bunga jantan
yag berkembang sama baik.Serbuk sari dapat dengan mudah dilepas ke air dan dapat
mencapai bunga betina secara tidak sengaja (Friedhelm,

2012). Informasi tentang

penyebaran biji masih sangat terbatas. Kemungkinan besar, biji disebar melalui aliran air.
Walaupun demikian, reproduksi vegetatifnya lebih penting dari reproduksi seksualnya
(Friedhelm, 2012).
Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan
termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di
substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada
saat terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah
hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air.
Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas
Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu
Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun
yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut
(Friedhelm, 2012) Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana
di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yakni
Hydrocharitaceae, dan Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun
tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea
serrulata, dan Thallassodendron ciliatum.
Thalassendron ciliatum mempunyai sebaran yang terbatas, sedangkan Halophila
spinulosa tercatat di daerah Riau, Anyer, Baluran, Irian Jaya. Belitung dan Lombok. Begitu
pula Halophila decipiens baru ditemukan di Teluk Jakarta. Teluk Moti-moti dan Kepulauan
Aru (Den HARTOG 1970).

2.3 Famili (Suku) Hydrocharitaceae


Untuk mempermudah mempelajari berbagai mahluk hidup dimuka bumi ini, ilmuan
sepakat untuk mengelompokan mahluk hidup (Klasifikasi Mahluk Hidup) kedalam

tingkatan yang disebut dengan Taksonomi. Sistem ini pertama kali dikembangkan Oleh
ilmuan Biologi Swedia bernama Carolus Linnaeus pada abad ke 18.
Perkembangan ilmu biologi yang terus berlangsung tentu telah banyak membawa
kemajuan pula pada bidang taksonomi. Di dalam taksonomi sendiri terdapat tingkatan famili.
Jika Ordo di ibaratkan sebuah bang sa seperti bangsa indonesia maka famili merupakan suku
yang terdapat dalam sebuah bangsa yang dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Nama
famili pada tumbuhan biasanya menggunakan akhiran aceae, misalnya famili Solanaceae,
Cucurbetaceae, Malvaceae, Rosaceae, Asteraceae, dan Poaceae. Namun, ada pula yang tidak
menggunakan akhiran kata-aceae, misalnya Compositae (nama lain Astraceae) dan Graminae
(nama lain Poaceae). Sementara nama famili pada hewan menggunakan akhiran kata ideae,
misalnya Homonidae (manusia), Felidae (kucing), dan Canidae (anjing) ( Den Hartog,1970)
Lamun Di Indonesia sendiri ditemukan terdiri 2 famili.Hydrocharitaceae dan
Cymodoceae, Dimana Hydrocharitaceae sendiri merupakan salah satu suku anggota
tumbuhan

berbunga

yang

dimana

kebayakan

anggotanya

adalah

tanaman

air

(Friedhelm,2012). Lamun yang berasal famili Hydrochatiaceae terdapat tiga genus yakni
Halophila, Enhalus, Thallassia.

2.4 Genus (Marga) Halophila


Halophila merupakan salah satu genus dari famili Hydrocharitaceae yang banyak
terdapat di perairan Indonesia.Halophila sendiri terdiri atas 4 spesies, Halophila ovalis,
Halophila minor, Halophila decepiens,dan Halophila spinulosa. Keunikan Genus Halophila
terdapat pada bentuk daunnya, dimana genus Halophila memiliki daun berbentuk sendok
(Friedhelm, 2012).

Gambar 2.4.1 : Genus Halophila


Sumber : Google

2.4.1 Halophila ovalis


Halophila ovalis merupakan salah satu spesies dari genus Halophila yang
pertumbuhannya sangat cepat dan merupakan jenis pionir. Umumnya, Halophila ovalis
dijumpai di substrat yang berlumpur, dapat menjadi jenis yang dominan di daerah intertidal
dan mampu hidup sampai kedalaman 25 meter ( Friedhelm, 2012).
Secara morfologi Halophila ovalis memliki akar tungal pada setiap nodus, setiap
nodus terdiri dari dua tegakan, jarak antar nodus 1,5 cm, tulang daun menyirip dan dan
berjarak 10 25 pasang, panjang helai daun 10 44 mm, panjang tangkai daun yaitu 3
cm (Friedhelm, 2012).

Gambar 2.4.1.1 : Halophila ovalis, Sumber : Google

2.4.2 Halophila minor


Halophila minor memiliki 4-7 pasang tulang daun, daun berbentuk bulat panjang
seperti telur, pasangan daun dengan tegakan pendek, dan panjang daun 0,5-1,5 cm (Den
Hartog; Philips dan Menez 1988).
Habitat lamun jenis ini serta helaian daunnya sangat mirip dengan Halophila ovalis
hanya lebih kecil dan jumlah urat daunnya lebih sedikit.

Gambar 2.4.2.1 : Halophila decipiens, Sumber : Google

2.4.3 Halophila decepiens


Halophila decipiens memiliki helai-helai daun yang berbulu, tembus cahaya, tipis
menyolok, dan berbentuk oval atau elips. Selain itu mempunyai tepi daun yang bergerigi
seperti gergaji, daun yang berpasang-pasangan, rhizomanya berbulu dan sering tampak kotor
karena sedimen menempel pada bulu-bulu tersebut (Den Hartog; Philips dan Menez 1988).

Gambar 2.4.3.1 : Halophila decipiens, Sumber : Google

2.4.4 Halophila spinulosa


Halophila spinulosa memiliki daun berbentuk bulat panjang, tepi daun tajam, rhizoma
tipis dan kadang-kadang berkayu, dan setiap kumpulan daun terdiri dari 10-20 pasang helai
daun yang saling berpasangan (Den Hartog; Philips dan Menez 1988).

Gambar 2.4.4.1 : Halophila spinulosa, Sumber : Google

2.5 Genus (Marga) Enhalus


Enhalus merupakan salah satu genus dari famili Hydrocharitaceae yang dapat
ditemukan diperairan indonesia. Diperairan Indonesia terdapat satu spesies lamun dari genus
Enhalus yakni Enhalus acoroides.

Dilihat dari sudut morfologinya Enhalus acoroides memiliki rhizoma (batang) yang
tertanam di dalam substrat, ujung daun yang bulat dan kadang-kadang terdapat serat-serat
kecil yang menonjol pada waktu muda, tepi daun seluruhnya jelas, bentuk garis tepi daunnya
seperti melilit, dan mempunyai daun sebanyak 3 atau 4 helai yang berasal langsung dari
rhizoma (Den Hartog; Philips dan Menez 1988).

Gambar 2.5.1 :Enhalus acoroides, Sumber : Google


2.6 Genus (Marga) Thalassia
Genus Thalassia sama seperti Genus Enhalus, Genus Thalassia hanya memiliki satu
spesies yang dapat ditemukan di perairan Indonesia yakni Thalassodendron ciliatum.
Thalassodendron ciliatum memiliki rhizoma yang sangat keras dan berkayu,
terdapat ligule, akar berjumlah 1-5, ujung daun membentuk seperti gigi, dan helaian daunnya
lebar serta pipih. Daun-daunnya berbentuk sabit, dimana agak menyempit pada bagian
pangkalnya (Den Hartog; Philips dan Menez 1988).

Gambar 2.6.1 : Thalassondendron ciliatum, Sumber : Google

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di dalam air. Lamun dapat hidup
di air tawar mau pun air laut. Komunitas lamun memegang peranan penting baik secara
ekologis, maupun biologis di daerah pantai dan estuaria. Disamping itu juga mendukung
aktifitas perikanan, komunitas kerang-kerangan dan biota avertebrata lainnya.
Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas
Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu
Hydrocharitaceae dan Cymodoceae.
Hydrocharitaceae sendiri merupakan salah satu suku anggota tumbuhan berbunga
yang dimana kebayakan anggotanya adalah tanaman air. Lamun yang berasal famili
Hydrochatiaceae terdapat tiga genus Halophila, Enalus, Thalassia.
Halophila sendiri terdiri atas 4 spesies, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila
decepiens,dan Halophila spinulosa. Keunikan Genus Halophila terdapat pada bentuk
daunnya, dimana genus Halophila memiliki daun berbentuk sendok. Sementara Genus
Enhalus dan Thalassia masing-masing hanya memiliki satu spesies yang dapat ditemukan
diperairan Indonesia yakni Enhalus acoroides dan Thalassodendron ciliatum.

Daftar Pustaka
Bastyan, G.R. and M.L. Cambridge. Transplantation as a method for restoring the seagrass
Posidonia australis. Estuarine, Coastal and Shelf Science . 2008
Bengen, D.G. 2001. Sinopsis Ekosistem Dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Instititut Pertanian Bogor
Den Hartog And kuo, j. 2006. Seagrass Morphology, Anatomy, and Ultrastructure. Di
dalam:Anthonyw.D. Larkum, A.D., R.J. Orth, and C.M. Duarte editor. Seagrasses: Biology,
Ecologyand Conservation. Published by Springer, The Netherlands
Den Hartog, C. 1970. The Seagrasses Of The World. North Holland. Amsterdam
Den Hartog,Phillips, R.C. dan E.G. Menez, 1988. Seagrasses. Smithsonion Institution Press.
Washington D.C.
Fortes, M.D., 1990. Taxonomy and ecology of seagrass. University of the Philippines.
Friedhelm. 2012. Ecology of Insular Southeast Asia. Diterjemah dan diterbitkan oleh
Salemba teknika : Jakarta
Hutomo, M., 1985. Telaah Ekologik Komunitas Ikan pada Padang Lamun (Seagrass,
Anthophyta) di Perairan Teluk Banten. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian
Bogor
Hemminga, M.A. and C.M. Duarte, 2000. Seagrass Ecology. Published by The Press
Syndicate of the University of Cambridge, United Kingdom
Kiswara, W. 1997. Inventarisasi dan Evaluasi Potensi Laut-Pesisir II Geologi, Kimia,
Biologi, dan Ekologi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Nasmia, 2012. Produk Alam Laut dari Rumput Laut (Seaweeds) dan Lamun (Seagrass).
Tugas Mata Kuliah Bioteknologi Bahan Hayati Alam Laut. Ilmu Pertanian. Program
Pascasarjanan S3.Universitas Hasanuddin, Makassar
Nontji, A., 1987. Laut Nusantara. Penerbit Jambatan, Jakarta

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Sebagai Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia.


Jakarta.
Short, I.T., 1987. Effect Of Sediment Nutrient Seagrassses. Literature Review And
Mesocosm Experiment. Marine Botani 27 : 4 57
sea as a provider of natural resources productive both as a source of food , mineral , and
energy , communications media or tourism or recreation area . Because of the coastal and
marine areas is the foundation of human hope in fulfilling the needs in the future ..

Anda mungkin juga menyukai