Anda di halaman 1dari 15

BAB II

ISI
2.1

Pengertian Ground Sill


GROUND SILL (Ambang) adalah salah satu bangunan di sungai yang difungsikan untuk
mengendalikan ketinggian dan kemiringan dasar sungai, agar dapat mengurangi atau
menghentikan degradasi sungai.
Bangunan ini juga dibangun untuk menjaga agar dasar sungai tidak turun terlalu berlebihan.

2.2

Type dan Bentuk Ambang


Ada 2 buah tipe umum Ambang:
1. Ambang datar (bed gindle work)
Bangunan ini hampir tidak mempunyai terjunan dan elevasi mercunya hampir sama
dengan permukaan dasar sungai, dan berfungsi menjaga agar permukaan dasar sungai tidak
turun lagi.
2. Ambang pelimpah (head work)
Bangunan ini mempunyai terjunan hingga elevasi permukaan dasar sungai di sebelah
hilirnya dan tujuannya adalah untuk lebih melandaikan kemiringan dasar sungai.

2.3

Perencanaan Ambang
a. Tinggi Ambang
1. Untuk Sungai Sempit
L = (1/n 1/m) h = (1.5 2.0 ) 1/h
2. Untuk Sungai Lebar
L = ( 1.5 2.0 ) 1/h
Dimana :
L = Jarak antara ambang (m)
H = Tinggi ambang (m)
N = Kemiringan dasar sungai
m = Tingkatan perencanaan dasar sungai
b = Lebar sungai (m)

b. Konstruksi ambang
Konstrnksi ambang terdiri dari tubuh dan lantai lindung yang dibangun secara monolit
dari bahan beton yang disebut pula bangunan utama (liath gbr.9.24) dan biasanya diadakan
hamparan pelindung (konsolidasi) dasar sungai di sebelah hulu dan sebelah hilir bangunan
utama tersebut.

c. Lantai lindung dan konsolidasi dasar sungai pada ambang


Lantai lindung ambang biasanya dikombinasikan dengan konsolidasi dasar sungai
guna melindungi tubuh ambang terhadap gerusan atau gejala piping. Panjang lantai lindung
dan konsolidasi dasar sungai hanya dapat ditetapkan berdasarkan model hidrolika atau
diperoleh secara empiris untuk ambang yang kecil-kecil.
Dan panjang lantai pelindung atau konsolidasi dasar sungai yang diperlukan sebagai
peredam energi secara kasar dapat dilihat pada rumus Safranes.

Dimana:
h = tinggi air di atas mercu ambang (m)
D = tinggi ambang (m)
H = total tinggi tekanan = D + h (m)
hf= kehilanagan tinggi tekanan akibat geseran = C*(D/h)*H

q = debit per satuan panjang (m/dt/m)


h= kedalaman air di tepi hilir lantai lindung (m)
C = 0.02
Jika panjang yang diperlukan untuk peredam energi adalah L, maka perkiraan L4,5h.
Lantai lindung dibuat horizontal dan biasanya monolit dengan tubuh ambang.
Sedang konsolidasi dasar sungai diadakan disebelah hilir lantai lindung dnegan
konstruksi yang fleksibel dand engan kekasaran yang tinggi pada permukaan bagian hulunya
dan berangsur berkurang ke arah hilirnya.
d. Konstruksi kontak tubuh ambang dengan tebing sungai.
Konstruksi kontak tubuh ambang dengan tebing sungai merupakan bagian pekerjaan
yang sangat penting, demikian pula kontak antara tebing sungai dengan bagian-bagian ambang
lainnya, seperti lantai lindung dan konsolidasi dasar sungai. Seperti diketahui bahwa air yang
melimpah dari atas mercu ambang menyebabkan alirannya bersifat terbuka dan
mengakibatkan gerusan, baik pada alur sungai maupun pada bantaran dikanan kirinya serta
kedua tebingnya.
Guna mencegah gerusan pada tebing sungai atau tanggul pada .kedua ujung tubuh
ambang,maka kedua ujung ambang tersebut diperbesar seperlunya seperti terlihat pada
gambar 9.26 dan pada gambar 9.27. Selain itu diadakan pIa lapis pelindung (plesengan) pada
kedua ujung ambang, hingga mencakup panjang lantai lindung yang dibuat dari konstruksi
beton bertulang.

Pada ambang yang tinggi tekanannya keeil tidak diperIukan perkuatan-perkuatan seperti
uraian di atas. Tetapi hal tersebut pun diperIukan untuk melindungi bantaran dan memperkuat kaki
tanggul dengan sekat paneang atau dengan konstruksi lain yang sesuai dengan kondisi setempat
serta menggunakan bahan-bahan yang dpaat diperoleh setempat (Gbr. 9.28).
Pada sungai-sungai yang jarak antara kedua tanggulnya lebih besar dari 50 m, perkuatan
lereng tanggul biasanya tidak diperlukan, tetapi kaki-kaki tanggul haruslah diperkuat dengan
melindungi permukaan bantara di sebelah hilir ambang.
Gbr. 9.29 memperIihatkanperkuatan sayap-sayappengarah aliran pada ambang pelimpah.
Perkuatan tersebut harus ditempatkan lebih ke belakang dan dibuat dari .melindungi dasar sungai
terhadap hempasan langsung dari air yang melintas ambang tersebut.
e. Sayap pengarah arus.
Apabila ambang dibangun pada sungai, biasanya aliran turbulen terjadi di sebalah hilir
ambang yang disebabkan loneatan hidrolis, mengakibatkan mudah terjadinya gerusansetempat.
Dalam keadaan demikian perIu adanya sayap pengarah arus, baik disebelah hulu
maupun sebelah hilir ambang dan bersamaan dengan itu dasarbantaran serta dasar alur sungai
diperkuat dengan hamparan pelindung yang konstruksinya tleksibel.
f. Pelindung bantaran
Apabila pada sungai-sungai dengan penampung ganda, tetapi ambang harus dibangun pada
alur sungainya saja, maka harus diadakan perlindungan untuk dasar bantaran yang meneakup
sampai dengan hulu dan ujung hilir sayap pengarah arus.
Untuk ambang pada sungai yang bantarannya sangat lebar,supaya biayanya lebih
murah, perkuatan diadakan di sekitar kai tanggul. Perkuatan bantaran diadakan dengan konstruksi
bronjong guling, hamparan blok beton, dan lain-lain.
3. HaI-haI yang perIu diperhatikan untuk keamanan ambang.
a. Gejala piping
Apabila ambang di bangun di atas lapisan tanah permeabel, air rembesan mengalir
melalui lapisan tanah pondasi. Hal tersebut disebabkan terjadinyatinggi tekananoleh
perbedaan elevasi muka air sungai di sebelah hulu dan di sebelah hilir ambang. Apabila
kecepatan alir air rembesan tersebut cukup besar, hingga melampaui kecepatankritis untuk
lapisan tanah pondasi tersebut, maka akan terjadi piping, yaitu butiran-butiran halus yang
membentuk lapisan tanah pondasi mulai bergerak dan hanyut bersama aliran air rembesan dan

terjadilah rongga-rongga pada lapisan yang semakin lama menjadi semakin bertambah besar
yang menyebabkan ambang turnn atau rnntuh.
Tinggi keamanan terhadap piping dapat diperoleh dengan nilai banding rayapan (creep
ratio).
Sebagaimana yang tertera pada gambaran 9.30, jika hi h2 bangunan aman terhadap
piping, bila C = L/H > angka-angka pada tabel 9.4 dan 12 2hl.
Maka L = 11 + 2h1 + 12 + 2h2 + 13
Jika hi h2 dan 12 < hi + h2,
Maka

L = I + h + I + h + I
C = L/H

dimana :
L = panjang lintasan aliran air rembesan

Tabel 9.4 Harga kritis C = L/H


Kelas Batas
Pasir sangat halus
Pasir halus
Pasir kasar
Krikil dan pasir
Krikil kasar termasuk batu pecah

C = L/H
18
15
12
9
4-6

Lane mengusulkan untuk tanah pondasi yang mengandung endapan datar,


menggunakan sepertiga lintasan rembesan mendatar untuk lintasan vertikal dan koefisien
rembesan datar lebih besar dari rembesan vertikal.
LW = 1/3 (1+ 1+ 1)+ 2 (H + h)
CW = LW/H
Apabila suatu bobot diberikan untuk angkat CW disebut "nilai banding rayapan
seimbang" dan keamanan terhadap bahaya piping dapat dijamin, jika nilai rayapan lebih
besar dari angkaangka seperti yang tertera pada tabel 9.5.
Tabel 9.5 Nilai banding rayapan seimbang

Kelas
Pasir sangat halus
Pasir
Pasir Sedang
Pasir Kasar
Krikil halus
Krikil sedang
Krikil kasar termasuk batu pecah
Batu pecah dengan sedikit krikil

Nilai Banding Rayapan


Seimbang
8.5
7
6
5
4
3.5
3
2.5

b. Pasir apung
Gejala pasir apung (Quick sand) dapat terjadi apabila dalam lapisan pasir terdapat
aliran air rembesan dengan lintasan vertikal ke arah atas, sehingga berat efektif butiran pasir
dapat diimbangi dengan tekanan angkat yang terdapat pada aliran air rembesan dan hilangnya
daya kontak antara butiran pasir tersebut, hingga butiran pasir seolah-olah melayang di dalam
aliran tersebut. Gradien hidrolis kritis (ic) dari air rembesan yang menyebabkan terjadinya
pasir apung dapat diperoleh dengan rumus :
i = Gs 1 / 1 + e
dimana :
ic = gradient hidrolis kritis
Gs = berat jenis butir tanah

e = angka pori

Jika faktor keamanan adalah Fs 5


c. Kecepatan aliran air rembesan
Keeepatan aliran air rembesan (v) dinyatakan derigan rumus berikut :
V = Kh / L
dimana :
k = koefisien permeabelitas
H = perbedaan elevasi antara muka air di hulu dan di hilir ambang
L = panjang lintasan

Walaupun angka v sangat bervariasi tergantung dari karakteristik lapisan tanah


pondasi ambang, tetapi keamanan ambang dapat dijamin terhadap gejala-gejala piping dan
pasir apung,jika angka v lebih kecil dari 1 mm/detik.

d. Tekanan angkat
Tekanan angkat (up lift) yang disebabkan oleh perbedaan elevasi muka air di
sebelahhulu dan di sebelah hilir ambang akan bekerja pada alas ambang tersebut. Akan tetapi
untuk ambang yang rendah, perbedaan elevasi muka air di hulu dan di hilir ambang tersebut
sangat kecil dan dapat diabaikan.
e. Stabilitas dinamik tubuh ambang
Tubuh ambang haruslah senantiasadalam keadaan aman terhadap guling (over
turning) dan gelincir (sliding).
Gaya-gaya yang bekerja pada ambang adalah :
1) Tekanan air
2) Tekanan tahan

3) Tekanan angkat
4) Kekuatan gempa

2.3

Metode Pelaksanaan
a. Tahap persiapan
1. Pengukuran, untuk mengetahui dan memperkirakan volume
pekerjaan,apakah

sesuai

dengan

volume

rencana

awal

perencanaan.
2. Pembuatan shop drawing yang dilengkapi back up data
diajukan kepada direksi teknis.
3. Mobilisasi peralatan, meliputi pengiriman dan penempatan
semua peralatan yang diperlukan dilapangan.
4. Pembuatan / pemeliharaan jalan masuk :
-

Untuk kelancaran mendatangkan bahan material maupun


alat berat.

Apabila jalan masuk tersebut rusak akubat lalu lalang alat


berat akan diperbaiki.

Dilakukan

terus

menerus

sesuai

dengan

kebutuhan

dilapangan.
5. Pembuatan foto dan laporan pelaksanaan.
6. Kebersihan,keluasan lapangan ,keselamatan dan kesehatan
kerja (K3)
b. Pekerjaan Tanah
1. Galian tanah berpasir ini akan dilakukan untuk merapikan
tanah asli guna meletakan batu.
2. Galian dilakukan pada daerah rencana groundsill.
3. Galian baru dilaksanakan setelah dilakukan pengukuran
memanjang dan melintang sehingga didapatkan titik-titik

elevasi dasar yang akurat. Setelah selesai pengerjaan galian


segera dilakukanpengukuran kembali untuk mendapatkan
volume galian yang diratakan.
4. Selama pekerjaan galian berlangsung, kordinasi dengan
direksi selaludilakukan agar tidak terjadi kekeliruan daam
menentukan titik-titik elevasi dan pemasangan patok yang
berjarak antara 25 meter hingga 50 meter.
5. Bekas tanah galian pada lokasi groundsill ditempatkan pada
sisi galian untuk membendung air masuk kedalam galian.
c. Pekerjaan pasangan batu ( groundsill )
1. Lokasi pengambilan material (batu) dari lokasi pekerjaan
sepanjang masih memenuhi persyaratan atau pada tempat
lain yang disetujui direksi.
2. Batu tersebut harus tahan terhadap cuaca (udara,air,panas
dan

dingin,

getaran,tekanan).

Pada

konstruksi

utama

groundsill ini digunakan batu dengan ukuran 250 1000 kg.


3. Batu dengan berat 250 1000 kg merupakan batu primer
yang dipasang dengan menggunakan exvactor. Batu ini
dipasang setelah pekerjaan galian tanah untuk pondasi
kemudian disusun rapi hingga mencapai elevasi yang telah
ditentukan.
Kegiatan penambangan pasir disungai.
Maraknya aktifitas penambangan pasir oleh masyarakat pasca musibah
gempa dan tsunami tanggal 24 desember 2004 disepanjang daerah aliran
sungai

(DAS)

sungai

Kr.Aceh

terutama

dikawasan

Indrapuri

telah

menyebabkan terganggu fungsi sungai ini ditandai dengan turunnya


elevasi dasar sungai. Hal ini dapat membahayakan jembatan yang
melintasi sungai tersebut. Gerusan air menyebabkan terancamnnya
stabilitas abutment jembatan.
Kegagalan Konstuksi Groundsill

Kegagalan kontruksi groundsill dapat menyebabkan terjadinya gerusan


pada bagian pilar jembatan.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala limpahan
rahmat, anugerah , serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah dengan judul Groundsill ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Tak lupa juga kami mengucapkan terimakasi kepada dosen pembimbing kami Ir. Lilik Hanifah
, M.T., yang telah menuntun dan memberi arahan kepada kami sehingga makalah yang
berjudul Groundsill ini dapat kami selesaikan dengan tepat waktu.
Pembuatan makalah ini guna memenuhi persayaratan nilai dalam proses perkuliahan
dengan mata kuliah Teknik Sungai.disamping itu,semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan , petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam perencanaan
Bangunan Groundsill.
Harapan kami , semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
perencanaan bagi para pembaca , sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik lagi.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena penglaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah
ini.

Mataram , 24 September 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Siphon dipakai untuk mengalirkan air lewat bawah jalan, melalui sungai atau saluran
pembuang yang dalam. Aliran dalam siphon mengikuti prinsip aliran dalam saluran tertutup.
Antara saluran dan siphon pada pemasukan dan pengeluaran diperlukan yang cocok. Kehilangan
tinggi energy pada siphon meliputi kehilangan akibat gesekan , dan kehilangan pada tikungan
serta kehilangan air pada peralihan masuk dan keluar. Agar siphon dapat berfungsi dengan baik ,
bangunan ini tidak boleh di masuki udara. Mulut sipon sebaiknya dibawah permukaan air hulu.
Kedalaman air di atas siphon (air perapat) dari permukaan air bergantung kepada kemiringan
dan ukuran siphon. Siphon dapat dibuat dari baja atau beton bertulang. Perencanaan hidrolis dan
bangunan siphon dijelaskan pada Buku KP-04 Bangunan.
Siphon harus dipakai hanya untuk membawa aliran slauran yang memotong jalan atau saluran
pembuang dimana tidak bisa dipakai gorong-gorong, jembatan ataupun talang. Pada siphon ,
kecepatan harus dibuat setinggi-tingginya sesuai dengan kehilangan tinggi energy maksimum
yang diizinkan. Hal ini tidak akan memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur. Siphon sangat
membutuhkan fasilitas pemeliharan yang memamdai dan hal-hal berikut harus diperhatikan :
a. Sedimen dan batu-batu yang terangkut harus dihentikan sebelum masuk dan menyumbat
siphon. Ini dilakukan dengan membuat kantong yang kososngkan / dibersihkan secara
berkala.
b. Menyediakan prasarana pemeliharaab hingga bagian terbawah pipa pun dapat dicapai,
seperti cerobong (shaft).
Penggunaan siphon dipetak tersier tidak menguntungkan karena biaya pelaksanaan dan
pemiliharaan yang tinggi serta besarnya kehilangan tinggi energy yang diperlukan , jadi
seharusnya dihindari. Penyesuaian layout dan perencanaan saluran (misalnya , pemecahan petak
tersier) harus dijajaki lebih dulu.
1.2. PERMASALAHAN
1. Apa itu siphon ?
2. Apakah fungsi dari siphon tersebut ?

3. Apa saja bangunan penunjang yang ada di siphon ?


4. Bagaimana keriteria perencanaan siphon tersebut ?
5. Bagaimana prosedur perhitungan perencenaan siphon tersebut ?

1.3. TUJUAN
1. Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Teknik Sungai.
2. Mengetahui siphon beserta fungsinya dalam aliran sungai dan drainase.
3. Mencari tahu mengenai saluran siphon dan bangunan penunjang yang berada pada siphon.
4. Mengetahui kriteria perencanaan dan cara menghitung dalam perencanaan siphon.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Ambang atau drempel (Groundsill) yang dibangun menyilang sungai untuk menjaga
agar dasar sungai tidak turun berlebihan. Groundsill adalah tumpukan batu-batu besar agar
tidak dapat dibawa oleh arus air sungai pada saat banjir. Gunanya untuk membuat
kemiringan dasar sungai menjadi kecil sehingga kecepatan air menjadi kecil dan
kedalaman air menjadi besar. Dengan kata lain mencegah gerusan dasar sungai dengan
cara lebih melandaikan kemiringan dasarnya guna mengurangi gaya tarik alirannya.
Pada groundsill ada Type dan bentuk Ambang, yaitu :
-

Ambang datar ( bed gindle work )

Ambang pelimpah (head work)

Dalam mendesain atau merencanakan ambang ada tahapan tahapan yang harus
dilaksanakan ,meliputi :
-

Tinggi ambang

Kontruksi ambang, Konstruksi ambang terdiri dari tubuh dan lantai lindung yang
dibangun secara monolit dari bahan beton.

Lantai lindung dan konsolidasi dasar sungai pada ambang, lantai lindung ambang
biasanya dikombnasikan dengan konsolidasi dasar sungai guna melindungi tubuh
ambang terhadap gerusan atau gejala piping.

Konsttruksi kontak tubuh ambang dengan tebing sungai, konstruksi kontak tubuh
ambang dengan tebing sungai merupakan bagian pekerjaan yang sangat penting.

Sayap pengarah arus, apabila ambang dibangun pada sungai,biasanya aliran


turbulen terjadi disebelah hilir ambang yang disebabkan loncatan hidrolis.

Perlindungan bantaran, , apabila pada sungai sungai dengan penampang ganda,


tetapi ambang harus dibangun pada alurnya saja, maka harus diadakan
perlindungan untuk dasar bantaran yang mencakup sampai dengan ujung hulu
dam hilir sayap pengarah arus.

HaI-haI yang perIu diperhatikan untuk keamanan ambang :


-

Gejala piping, Apabila ambang di bangun di atas lapisan tanah permeabel, air
rembesan mengalir melalui lapisan tanah pondasi.

Pasir apung, Gejala pasir apung (Quick sand) dapat terjadi apabila dalam
lapisan pasir terdapat aliran air rembesan dengan lintasan vertikal ke arah atas.

Kecepatan aliran air rembesan, walaupun angka v sangat bervariasi tergantung


dari karakteristik lapisan tanah pondasi ambang, tetapi keamanan ambang dapat
dijamin terhadap gejala-gejala piping dan pasir apung,jika angka v lebih kecil dari
1 mm/detik.

Tekanan angkat, Tekanan angkat (up lift) yang disebabkan oleh perbedaan elevasi
muka air di sebelahhulu dan di sebelah hilir ambang akan bekerja pada alas
ambang tersebut.

Stabilitas dinamik tubuh ambang, Tubuh ambang haruslah senantiasadalam


keadaan aman terhadap guling (over turning) dan gelincir (sliding).