Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

GERAKAN SOSIAL SEBUAH SOLUSI ATAU MASALAH SOSIAL

Di Susun Oleh :

Ahmad Rajab Suwito

( 21312A0023 )

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM
TAHUN AKADEMIK 2012/2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat illahirabbi, yang mana atas
hidayah dan rahmat dari-Nyalah sehingga

penyusun diberikan kesehatan sehingga dapat

menyelesaikan penyusunan makalah ini, taklupa saya menghaturkan salawat serta salam atas
junjungan nabi besar Muhammad SAW.
Yang mana makalah ini penyusun maksudkan sebagai persyaratan dan tugas study dalam
mata kuliah Sosiologi pada Universitas Muhammadiyah Mataram. Adapun penyajian makalah
ini penyusun upayakan seefektif mungkin dari sumber-sumber refrensi terpercaya tanpa
melupakan tujuan untuk membina kemampuan berfikir kreatif dan konstruktif.
Saya sebagai penyusun sadar betul bahwa pembahasan yang penyusun urai dalam
makalah ini masih banyak kekurangan dan masi jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu
penyusun mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun agar dalam penyusunan
makalah kedepannya dapat lebih dari kesempurnaan. namun demikian penyusun telah berusaha
sekeras mungkin demi tersusunnya makalah ini dari materi dan pembahasan yang insyaallah
terpercaya. Mudah mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua Amein

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Penyusun

(Ahmad Rajab Suwito)

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..
Daftar Isi ...

BAB I
Pendahuluan ....
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan .

BAB II
Pembahasan .................
2.1 Pengertian dan Konsep Gerakan Sosial..
2.2 Macam-Macam dan Tipe Gerakan Sosial....
2.3 Fungsi Gerakan Sosial.........................
2.4 Faktor Penyebab Gerakan Sosial
2.5 Ciri-Ciri Gerakan Sosial .

BAB III
Penutup ...
3.1 Kesimpulan ...............
3.2 Kritik dan Saran ................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa kini kita semua sering menjumpai aksi-aksi demontrasi yang dijalankan
oleh gerakan-gerakan sosial baik dari kalangan mahasiswa maupun elemen masyarakat. Ini
semua karena mereka peduli terhadap bangsa Indonesia. tak bisa di pungkiri bahwasannya
gerakan-gerakan sosial sangatlah berpengaruh terhadap perjalanan perkembangan bangsa
Indonesia ini.
Aksi-aksi dari gerakan sosial, misalanya gerakan mahasiswa tahun 1998 merupakan
sebuah contoh gerakan sosial yang berhasil dalam misinya. Memang tidak semua slogan yang di
inginkan dalam gerakan mahasiswa bisa terwujud namun langkah-langkah dan karakteristik yang
diambil dalam aksi unjuk rasa mahasiswa Indonesia selama tahun 1998 menunjukkan sebuah
ciri-ciri gerakan sosial. Saat Presiden Soeharto mengundurkan diri 21 Mei 1998, gerakan
mahasiswa yang marak di hampir seluruh kampus di Indonesia mencapai klimaksnya. Sesudah
itu perlahan-lahan situasi kampus kembali ke kehidupan perkuliahan. Boleh dikatakan, gerakan
sosial seperti itu seperti sebuah gerakan resi yang turun gunung manakala situasi membahayakan
negara memanggilnya.
Mahasiswa yang muncul sebgai suatu segmen masyarakat yang terdidik, terpengaruh
budaya pendidikan Barat dan belajar menganalisa masyarakatnya keluar dari tradisi-tradisi
umumnya yang ingin menempatkan Pemerintah sebagai sebuah institusi yang serba benar.
Para gerakan-gerakan sosial dari semua kalangan muncul itu bukan karena ingin tampil kepada
para wartawan. Tapi patut ditekankan bahwa kemunculan mereka adalah sebab dari
ketimpangan-ketimpangan para rezim yang berkuasa dan penindasan-penindasan yang dilakukan
oleh para rezim. Seperti, biaya sekolah mahal sampai-sampai anak miskin dilarang sekolah,
bahan makan sembako mahal, dan penindasan-penindasan lainnya. Bahkan dalam dunia
pendidikan bagi dunia mahasiswa itu juga tidak lepas dari kenakalan yang dilakukan oleh rezim
yang berkuasa.
Maka dari itu Penyusuns menyajikan sebuah tulisan tentang gerakan sosial, faktor
penyebab munculnya,ciri-ciri gerakan sosial dan macam-macam gerakan sosial. Yang mungkin
dapat diambil hikmahnya oleh penbaca. Yang nantinya akan bersikap kritis terhadap keadaan
yang terjadi disekitar kita.

1.2 Rumusan Masalah


1.

Bagaimana pengertian dan konsep dari gerakan sosial ?

2.

Sebutkan macam-macam dan fungsi gerakan sosial ?

3.

Bagaimana faktor penyebab atau pemicu munculnya gerakan sosial ?

4.

Apa saja ciri-ciri dari gerakan sosial ?

1.3 Tujuan
1.

Untuk memahami pengertian dan konsep gerakan sosial.

2.

Untuk memahami macam-macam gerakan sosial.

3.

Untuk memahami faktor pemicu atau penyebab munculnya gerakan sosial.

4.

Untuk memahami ciri-ciri dari gerakan sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Konsep Gerakan Sosial
Sejumlah ahli sosiologi menekankan pada segi kolektif dan gerakan sosial ini, sedangkan
diantara mereka ada pula yang menambahkan segi kesengajaan, organisasi dan kesinambungan.
Definisikan gerakan sosial artinya, Suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat
untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat.
Gerakan sosial adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang
merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang
secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak,
atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.
Organisasi yang dinamis adalah organisasi yang mampu berkolaborasi dengan sekitarnya.
Ketika sumber daya yang ada dapat berkolaborasi dan berbaur dengan sekitar maka akan tercipta
sebuah gerakan yang besar dan terarah. Jika subjek-subjek yang berada didalam sebuah wadah
organisasi mampu meningkatkan kualitas diri dan mampu meningkatkan jejaring komunikasi dan
kerjasama. Tentunya konsep TriNetwork ini akan menjadi sebuah konsep yang mampu
memberikan arah perubahan yang cukup bagi kemajuan organisasi.
Konsep TriNetwork ini adalah sebuah ilmu yang memposisikan diri organisasi dari 3
(Tiga) aspek penting dalam dunia kemasyarakatan. Aspek tersebut adalah:
Masyarakat
Sebuah Organisasi yang mandiri harusnya memiliki sebuah tujuan agar dapat melakukan
perubahan dan tentunya harus berorientasi terhadap masyarakat. Perjuangan yang tak
berorientasi tujuan maka akan sia-sia karena tidak ada yang akan merasakan hasil dan yang
mampu memberikan sebuah respons terhadap kinerja organisasi
Pemerintah
Sebagai penguasa dinegara adalah pemerintah, karena itu wajib hukumnya kita berkolaborasi
dengan penguasa agar kita dapat memberikan fungsi Sosial Control kita agar apa yang ditetapkan
dapat bersinergi dengan tujuan kita. Tak lepas dari itu kita juga memiliki peran yang sentral
dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang tentunya merupakan prioritas dari pemerintahan
untuk mensejahterakan rakyat dan tentunya bersinergi dengan aspek yang pertama yaitu tujuan
(masyarakat).

Instansi Swasta
Instansi swasta merupakan aspek yang ketiga karena perkembangan dunia Ekonomi tak akan
lepas dari peran instansi swasta. Aspek yang menjadi sentral dan tentunya berakibat yang sangat
fatal jika ekonomi mengalami kolaps dan mengakibatkan masyarakat menderita.
Konsep Dalam Marxisme tradisional perjuangan kelas ditempatkan pada titik sentral dan
faktor esensial dalam menentukan suatu perubahan sosial. Masyarakat kapitalis dibagi menjadi
dua kelas utama, yaitu kelas proletar (kelas yang dieksploitasi) dan kelas kapitalis (kelas yang
mengeksploitasi). Oleh karena itu, dalam perspektif ini, masyarakat terdiri dari dua unsur
esensial, yaitu dasar dan superstruktur.
Unsur dasar adalah faktor ekonomi, dianggap sebagai landasan yang secara esensial
menentukan dalam perubahan sosial. Sedangkan superstruktur, adalah faktor pendidikan,
budaya, dan ideologi yang berada di tempat kedua, karena faktor tersebut ditentukan oleh kondisi
perekonomian. Dengan demikian, menurut pendekatan ini, perubahan sosial terkaji dikarenakan
adanya perjuangan kelas, yaitu kelas yang dieksploitasi (buruh) berjuang melawan kelas yang
mengeksploitasi (kelas kapitalis).
Dengan kata lain, aspek esensial perubahan sosial adalah revolusi kelas buruh, dengan
determinisme ekonomi sebagai landasan gerakan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam
Marxisme tradisional tersebut di atas mendapatkan kritikan dari beberapa tokoh antiesensialisme
dan nonreduksionis, termasuk Antonio Gramsci. Mereka menolak pendekatan bahwa
kompleksitas yang terjadi di masyarakat hanya direduksi secara sederhana dengan hubungan
sebab dan akibat. Setiap sebab itu sendiri merupakan sebuah akibat dan demikian pula
sebaliknya. Inti pemikiran Antonio Gramsci adalah konsep hegemoni, yang kaitan dengan studi
tentang gerakan sosial dan perubahan sosial.
Pendidikan, budaya dan kesadaran merupakan sesuatu permasalahan yang sangat penting
dan perlu diperjuangkan dalam perubahan sosial. Hegemoni merupakan bentuk kekuasaan
kelompok dominan yang digunakan untuk membentuk kesadaran subordinat. Dalam perspektif
Gramscian, konsep organisasi gerakan sosial dikategorikan sebagai masyarakat sipil terorganisir.
Konsep tersebut didasarkan pada analisis tentang kepentingan konfliktual dan dealektika atau
kesatuan dalam keberbedaan antara Negara (State) dengan Masyarakat Sipil (Civil Socoety).
Masyarakat sipil terdiri dari berbagai bentuk masyarakat voluntir dan merupakan dunia
politik utama, dimana semuanya berada dalam aktivitas ideology dan intektual yang dinamis
maupun konstruksi hegemoni. Masyarakat sipil merupakan konteks dimana seseorang menjadi
sadar dan seseorang pertama kali ikut serta dalam aksi politik. Dengan demikian, masyarakat
sipil adalah suatu agregasi atau percampuran kepentingan, dimana kepentingan sempit
ditransformasikan menjadi pandangan yang lebih universal sebagai ideologi dan dipakai atau
diubah. Dalam konteks ini, bagi Gramsci masyarakat sipil adalah dunia dimana rakyat membuat
perubahan dan menciptakan sejarah.

Gerakan sosial berbeda dengan perilaku kolektif yang telah dibahas terdahulu, maka
gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan atau kepentingan yang bersama. Setelah
melakukan perusakan terhadap stadion, stasiun kereta api, kendaraan atau sarana umum lainnya.
Para suporter yang terlibat dalam perilaku kolektif biasanya tidak mempunyai tujuan atau
kepentingan bersama lagi dan perilaku kolektif akan berhenti sendirinya. Hal sama berlaku pula
bagi orang yang bersama-sama melakukan pemukulan bahkan pembunuhan terhadap tersangka
pelaku kejahatan. Para remaja penggemar aktor atau seniman tertentu yang telah berdesakdesakan dalam kerumpunan akhirnya berhasil memperoleh tanda tangan idola mereka.
Gerakan sosial, dipihak lain, ditandai dengan adanya tujuan jangka panjang, yaitu untuk
menghubah ataupun mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada didalamnya. Contoh,
gerakan mahasiswa di beberapa kota di Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilancarkan
hampir tiap hari bertujuan perimbangan politik dan kebijakan ekonomi pemerintah (pembubaran
PKI, penurunan harga, perubahan kabinet). Giddens (1989) dan Light, Keller dan Calhoun
(1989) menyebutkan ciri lain gerakan sosial, yaitu penggunaan cara yang berada diluar institusi
yang ada. Berbagai gerakan sosial memang memenuhi kriteria ini. gerakan mahasiswa Indonesia
pada tahun 1966 dan 1998, gerakan mahasiswa Amerika Serikat menentang perang Vietnam,
memang sering berada diluar institusi yang ada. Sebagaimana dapat dilihat kasus di atas, cara
yang digunakan memang berada diluar Institusi, misalnya, pemogokan, pawai, unjuk
rasa atau demonstrasi tanpa izin, mogok makan, intimidasi, konfrontasi dengan aparat keamanan.
2.2 Macam-Macam dan Tipe Gerakan Sosial
Disekitar kita banyak terdapat macam-macam gerakan sosial. Seperti halnya gerakan
buruh, gerakan petani, gerakan mahasiswa, gerakan religius, gerakan sosial, gerakan radikal,
gerakan ideologi, dan kalau kita menganalisis secara terperinci maka sangat banyak macammacam gerakan sosial yang tumbuh di dalam tataran masyarakat.
Karena keragaman gerakan sosial sangat besar, maka berbagai ahli sosiologi mencoba
menklarifikasikan dengan menggunakan kriteria tertentu. David Aberle, misalnya, dengan
menggunakan kriteria tipe perubahan yang dikehendaki (perubahan perorangan dan perubahan
sosial) dan besar pengaruhnya yang diingginkan ( perubahan untuk sebagain dan perubahan
menyeluruh). Membedakan empat tipe gerakan sosial, tipologi Aberle adalah sebagai berikut:
a. Alterative Movement
Ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk merubah sebagian perilaku perorangan.
Dalam kategori ini dapat kita masukan berbagai kampanye untuk merubah perilaku tertentu,
seperti misalnya kampanye agar orang tidak minum-minuman keras. Dengan semakin
menyebarnya penyakit AIDS kini pun banyak dilancarkan kampanye agar dalam melakukan
perbuatan sek dengan bertanggung jawab.

b. Rodemptive Movement
Gerakan ini lebih luas dibandingkan dengan alterative movement, karena yang hendak
dicapai ialah perubahan menyeluruh pada perilaku perorangan. Gerakan ini kebanyakan terdapat
di bidang agama. Melalui gerakan ini , misalnya, perorangan diharap untuk bertobat dan
mengubah cara hidupnya sesuai dengan ajaran agama.
c. Reformative Movement
Gerakan ini yang hendak diubah bukan perorangan melainkan masyarakat namun lingkup
yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu masyarakat, misalnya gerakan kaum homoseks
untuk memperoleh perlakuan terhadap gaya hidup mereka atau gerakan kaum perempuan yang
memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki. Gerakan people power di Filipina atau
gerakan menentang pedana mentri Suchinda di Thailand pun dapat dikategorikan dalam tipe ini
karena tujuannya terbatas, yaitu pergantian pemerintah.
d. Transformative Movement
Gerakan ini merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh.
Gerakan kaum Khamer Merah untuk menciptakan masyarakat komunis di Cambidia. Suatu
proses dalam mana seluruh penduduk kota dipindahkan ke desa dan lebih dari satu juta orang
Cambodia kehilangan nyawa mereka karena di bunuh kaum Khamer Merah, menderita kelaparan
atau sakit merupakan contoh ekstrim gerakan sosial semacam ini. Gerakan transformasi yang
dilancarkan oleh rezim komunis di Uni Soviet pada tahun 30-an serta di Tiongkok sejak akhir
40-an untuk mengubah masyarakat mereka menjadi masyarakat komunis pun mengakaibatkan
menentang diskriminasi oleh orang kasta-kasta bawah, menengah dan atasmu mendapat di
kategotikan dalam ini karena keberhasilan gerakan mereka akan berarti pula perombakan
mendasar pada masyarakat India.
Kornblum pun membuat klarifikasi tentang gerakan sosial, tetapi berbeda dengan Aberle,
maka yang dijadikan kriteria klarifikasi adalah tujuan yang hendak di capai. Atas dasar kriteria
ini kornblum membedakan antara revolutionary movenment, reformist movement, convervative
movement, dan reactionary movement. Apabila gerakan sosial nbertujuan mengubah institusi dan
strafikasi masyarakat, maka gerakan tersebut merupakan gerakan revolusioner (revolutionary
movenment).
Menurut Giddens, suatu revolusi harus memenuhi tiga kriteria, antara lain:
1.

Melibatkan gerakan sosial massal

2.

Menghasilkan proses reformasi dan perubahan

3.

Melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan

Dengan demikian menurut Giddens, revolusi perlu dibedakan dengan kudeta dan
pembrontakan, karena menurutnya kudeta hanya melibatkan penggantian pemimpin dan tidak
mengubah institusi politik sedangkan pembrontakan tidak membawa perubahan nyata meskipun
melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan.
Jika gerakan hanya bertujuan untuk mengubah senagian institusi dan nilai, maka nama
yang diberikan Kornblum ialah gerakan reformis (reformist movement). Atas dasar kriteria ini
gerakan Boedi Oetomo yang didirikan pada tahun 1908 di Jakarta merupaskan gerakan reformis,
karena tujuan utama mereka adalah memberikan pendidikan Barat formal kepada putra-putri
pribumi.
Gerakan yang berupa mempertahankan nilai dan institusi masyarakat disebut Kornblum
gerakan konsevatif(conservative movement). Di Amerika Serikat, misalnya usaha kaum feminis
ditahun 1980-anj untuk melakukan perubahan pada konstitusi demi menjamin persamaan hak
lebih besar antara laki-laki dan perempuan (ERAatau Equal Rights Amandment) ditentang dan
akhirnya digagalkan oleh gerakan konsevatif perempuan STOP-ERA suatu gerakan anti feminis
yang melihat sebagai ancaman terhadap peranan perempuan dalam keluarga sebagai istri dan ibu.
Suatu gerakan yang disebut reaksioner (reactionary movement) manakala tujuannya ialah
untuk kembali ke institusi dan nilai di masa lampau dan meninggalkan institusi dan nilai masa
kini. Contoh yang di berikan Kornblum ialah gerakan Ku Klux Klan di Amerika Serikat.
Organisasi rahasia ni berusaha mengembalikan keadaan di Amerika Serikat ke masa lampau di
kala instituisi sosial mendukung asas keunggulan orang kulit putih di atas orang kulit
hitam (White Supermacy).
2.3 Fungsi Gerakan Sosial
Perubahan-perubahan besar dalam tatanan sosial di dunia yang muncul dalam dua abad
terakhir sebagian besar secara langsung atau tak langsung hasil dari gerakan-gerakan sosial.
Meskipun misalnya gerakan sosial itu tidak mencapai tujuannya, sebagian dari programnya
diterima dan digabungkan kedalam tatanan sosial yang sudah berubah. Inilah fungsi utama atau
yang manifest dari gerakan-gerakan sosial. Saat gerakan sosial tumbuh, fungsi-fungsi sekunder
atau laten dapat dilihat sebagai berikut:
1. Gerakan Sosial memberikan sumbangsih kedalam pembentukan opini publik dengan
memberikan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik dan melalui penggabungan sejumlah
gagasan-gagasan gerakan kedalam opini publik yang dominan.
2. Gerakan Sosial memberikan pelatihan para pemimpin yang aka menjadi bagian dari elit politik
dan mungkin meningkatkan posisinya menjadi negarawan penting. Gerakan-gerakan buruh
sosialis dan kemerdekaan nasional menghasilkan banyak pemimpin yang sekarang memimpin
negaranya.

Para pemimpin buruh dan gerakan lainnya bahkan sekalipun mereka tidak memegang
jabatan pemerintah juga menjadi elit politik di banyak negara. Kenyataan ini banyak diakui oleh
sejumlah kepala pemerintahan yang memberikan penghargaan kepada para pemimpin gerakan
sosial dan berkonsultasi dengan mereka dalam isu-isu politik. Saat dua fungsi ini mencapai titik
dimana gerakan sesudah mengubah atau memodifikasi tatanan sosial, menjadi bagian dari
tatanan itu maka siklus hidup gerakan sosial akan berakhir karena melembaga.
2.4 Faktor Penyebab Gerakan Sosial
Dalam ilmu-ilmu sosial dapat dijumpai berbagai penjelasan, baik bersifat psikologis
maupun bersifat sosiologis. Penjelasan yang sering dikemukakan mengaitkan gerakan sosial
dengan deprivasi ekonomi dan sosial.
Menurut penjelasan ini orang melibatkan diri dalam gerakan sosial karena menderita
deprivasi (kehilangan, kekurangan, penderitaan), misalnya di bidang ekonomi (seperti hilangnya
peluang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya: pangan, sandang, papan). Para
penganut penjelasan ini menunjuk pada fakta bahwa gerakan sosial dalam sejarah didahului
deprivasi yang disebabkan oleh sosial seperti kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok.
Beberapa ahli sosiologi, misalnya James Davies, kurang sependapat dengan penjelasan
deprivasi semata-mata. Mereka menunjuk pada fakta bahwa gerakan sosial sering muncul justru
pada saat masyarakat menikmati kemajuan dibidang ekonomi. Oleh sebab itu dirumuskanlah
penjelasan yang memakai konsep deprivasi sosial relatif. James Davies mengemukakan bahwa
meskipun tingkat kepuasan masyarakat meningkat terus, namun mungkn saja terjadi kesenjangan
antara harapan masyarakat dengan keadaan nyata yang dihadapi kesenjangan antara pemenuhan
kebutuhan yuang diinginkan masyarakat dengan apa yang diperoleh secara nyata.
Kesenjangan ini dinamakan deprivasi sosial relatif. Apabila kesenjangan sosial relatif ini
semakin melebar sehingga melewati batas toleransi masyarakat, misalnya karena pertumbuhan
ekonomi dan sosial diikuti dengan kemacetan bahkan kemunduran mendadak maka, menurut
teori Davies revolusi akan tercetus.
Perubahan sosial memerlukan pengerahan sumber daya manusia maupun alam (resource
mobilization). Tanpa adanya pergerakan sumber daya suatu gerakan sosial tidak akan terjadi,
meskipun tingkat deprivasi tinggi. Keberhasilan suatu gerakansosial bergantung, menurut
pandangan ini, padasosial manusia seperti kepemimpinan, organisasi dan keterlibatan, serta
sosial sumber daya lain seperti dana dan sarana. Deprivasi yang dialami oleh masyarakat kita
pada tahun 1966 tingkat inflasi tinggi yang dampaknya terasa pada harga kebutuhan pokok,
ketidakmampuan terhadap klebijaksanaan politik dalam negeri kepemimpinan nasional setelah
peristiwa percobaan kudeta Gerakan 30 September.
Menurut teori ini tidak akan menghasilkan gerakansosial berupa kebangkitan Angkatan
1966 apabiula ditunjang dengan pengerahan sumber daya kepemimpinan, organisasi dab

keterlibatan mahasiswa dan pelajar, dukungan moral dan materiel kekuatan dalam TNI,
dukungan berbagai kalangan masyarakat, dan peliputan oleh media massa dalam negeri dan luar
negeri.
2.5 Ciri-Ciri Gerakan Sosial
Gerakan sosial lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena adanya ketidakadilan
dan sikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Dengan kata lain gerakan sosial lahir sebagai
reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkannya atau menginginkan perubahan kebijakan
karena dinilai tidak adil. Biasanya gerakan sosial seperti itu mengambil bentuk dalam aksi protes
atau unjuk rasa di tempat kejadian atau di depan gedung dewan perwakilan rakyat atau gedung
pemerintah. Setelah Mei 1998, gerakan sosial semakin marak dan ketidakadilan atau
ketidakpuasan yang muncul jauh sebelum 1998 dibongkar untuk dicari penyelesaiannya. Situasi
itu menunjukkan bahwa dimana sistem politik semakin terbuka dan demokratis maka peluang
lahirnya gerakan sosial sangat terbuka.
Di sini terlihat tuntutan perubahan itu biasanya karena kebijakan pemerintah tidak sesuai
lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak
sebagian rakyat.Karena gerakan sosial itu lahir dari masyarakat maka kekurangan apapun di
tubuh pemerintah menjadi sorotannya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi maka gerakan sosial yang
sifatnya menuntut perubahan insitusi, pejabat atau kebijakan akan berakhir dengan terpenuhinya
permintaan gerakan sosial. Sebaliknya jika gerakan sosial itu bernafaskan ideologi, maka tak
terbatas pada perubahan institusional tapi lebih jauh dari itu yakni perubahan yang mendasar
berupa perbaikan dalam pemikiran dan kebijakan dasar pemerintah. Adapun ciri-ciri gerakan
menurut beberapa ahli yaitu:

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bruce J Cohen (1992) ciri-ciri gerakan sosial yaitu:


Gerakan kelompok
Terorganisir (struktur, personalia, jaringan, mekanisme kerja, dukungan modal/alat, dll)
Memiliki rencana, sasaran, dan metode
Memiliki ideologi
Merubah atau mempertahankan
Memiliki usia jauh lebih panjang

a.
b.
c.
d.

Kamanto Sunarto (2004) ciri-ciri gerakan sosial yaitu:


Perilaku kolektif
Kepentingan bersama
Mengubah ataupun mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada di dalamnya.
Tujuan jangka panjang

e. Penggunaan cara di luar institusi (mogok makan, pawai, demo, konfrontasi, dll)
James W. Vander Zanden (1990) dan Rafael Raga Maran (2001) ciri-ciri gerakan
sosial yaitu:
a. Upaya terorganisir yang
b. Dilakukan sekelompok orang
c. Menimbulkan perubahan/menentangnya
d. Aktif atau tidak pasif menata perubahan

a.
b.
c.
d.
e.

Kartasapoetra dan Kreimers (1987) ciri-ciri gerakan sosial yaitu:


Kegiatan kolektif
Berusaha mengadakan orde kehidupan baru.
Memiliki kendali dan bentuk
Memiliki kebiasaan atau nilai sosial
Memiliki kepemimpinan dan tenaga kerja

a.
b.
c.
d.

Robert Mirsel (2004) ciri-ciri gerakan sosial yaitu:


Memiliki seperangkat keyakinan dan tindakan tak terlembaga (noninstitutionalised)
Dilakukan sekelompok orang
Memajukan atau menghalangi perubahan di dalam suatu masyarakat.
Mereka cenderung tidak diakui sebagai sesuatu yang berlaku umum secara luas dan sah
di dalam suatu masyarakat.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Laode Ida (2003) ciri-ciri gerakan sosial yaitu:


Ada upaya kolektif melakukan perubahan
Adanya organisasi sebagai wadah gerakan
Gerakan tersebut melembaga serta memiliki gagasan alternatif perubahan
Aktivitas dan gerakannya terus-menerus
Memiliki identitas kolektif sebagai ciri
Serta kehadirannya menjadi tantangan bagi pihak lain (pemerintah, institusi manca
negara, dll).
g. Gerakan dilakukan sekelompok orang
h. Memiliki visi, misi, tujuan, ide, nilai sosial politik
i. Mempertahankan, merubah, merebut, mengontrol, dan menjalankan kehidupan sosial
politik. Dilakukan secara sistematis dan terorganisir.

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gerakan sosial adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang
merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang
secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak,
atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Sejumlah ahli sosiologi menekankan pada segi
kolektif dan gerakan sosial ini, sedangkan diantara mereka ada pula yang menambahkan segi
kesengajaan, organisasi dan kesinambungan.
Konsep TriNetwork ini adalah sebuah ilmu yang memposisikan diri organisasi dari 3
(Tiga) aspek penting dalam dunia kemasyarakatan. Aspek tersebut adalah: 1. Masyarakat, 2.
Pemerintah, 3. Instansi Swasta. Gerakan sosial berbeda dengan perilaku kolektif yang telah
dibahas terdahulu, maka gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan atau kepentingan yang
bersama. Membedakan empat tipe gerakan sosial, tipologi Aberle adalah sebagai berikut:
Alterative Movement, Rodemptive Movement, Reformative Movement dan, Transformative
Movement.
Fungsi-fungsi gerakan sosial sekunder atau laten. Gerakan Sosial memberikan
sumbangsih kedalam pembentukan opini publik dengan memberikan diskusi-diskusi masalah
sosial dan politik dan melalui penggabungan sejumlah gagasan-gagasan gerakan kedalam opini
publik yang dominan.Gerakan Sosial memberikan pelatihan para pemimpin yang akan menjadi
bagian dari elit politik dan mungkin meningkatkan posisinya menjadi negarawan penting.
Faktor penyebab munculnya gerakan sosial dalam ilmu-ilmu sosial dapat dijumpai
berbagai penjelasan, baik bersifat psikologis maupun bersifat sosiologis. Penjelasan yang sering
dikemukakan mengaitkan gerakan sosial dengan deprivasi ekonomi dan sosial. Menurut
penjelasan ini orang melibatkan diri dalam gerakan sosial karena menderita deprivasi
(kehilangan, kekurangan, penderitaan), misalnya di bidang ekonomi (seperti hilangnya peluang
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya: pangan, sandang, papan).
3.2 Kritik & Saran
Sebagai manusia yang menjadi tempat salah dan khilaf, kami sangat menyadari bahwa
tanpa disadari tentu saja banyak kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja dan
menyadari pula bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini serta
makalah yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Sunarto. Kamanto, Pengantar Sosiologi, Jakarta, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi


Universitas Indonesia, 2004.
Nagazumi. Akira , Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, Jakarta,
Grafitipers, 1989.
Kornblum. William, sosiology in a Changing World, New York, 1988.
Keller. Light dan Calhoun. Craig , Sosiology, New York, Edisi Kelima, Alfred A. Knopf, 1989.
Jary. Julia dan Jary. David, Collins Dictionary of Sociology, Edisi Kedua, 1995.
http//:www.google.co.id.
Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L.,. Sosiologi, Terjemahan Aminuddin Ram dan Tita
Sobari. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1993
Smelser, Neil J. Theory of Collective Behavior. London: Routledge and Kegan Paul and New
York: The Free Press of Glencoe, 1962.