Anda di halaman 1dari 9

Definisi Kesehatan Reproduksi

Sehat adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan
hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan
dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. (WHO, 1992)
Kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. (UU Kesehatan No. 23
Tahun 1992)
Kesehatan Reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara
utuh, yang tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam semua
hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. (Depkes,
2001)
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat mental, fisik dan kesejahteraan
sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi
serta proses dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan serta
dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan
spiritual dan material yang layak, bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa, spiritual
memiliki hubungan yang serasi, selaras, seimbang antara anggota keluarga dan
antara keluarga dan masyarakat dan lingkungan. (BKKBN, 1996)

Sejarah Kesehatan Reproduksi


Pada tahun 1990 muncul pandangan baru tentang seksualitas dan kesehatan
reproduksi perempuan berdasarkan HAM hal ini ditandai dengan terselenggaranya
beberapa conferensi internasional yang membahas hal tersebut diantaranya:
1. Konferensi Wina Austria 1993
Konferensi internasional tentang HAM di Wina pada tahun 1993 mendiskusikan HAM
dalam perspektif Gender serta isu-isu kontropersial mengenai hak-hak reproduksi
dan seksual. Deklarasi dan plaform aksi Wina menyebutkan bahwa hak azasi
perempuan dan anak perempuan adalah mutlak, terpadu dan merupakan bagian
dari HAM (Wallstam dalam Pusdiknakes 2004).
2. ICPD Kairo Mesir 1994
Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Konfren on
Population and Depelopmen/ICPD). Yang disponsori oleh perserikatan Bangsa
Bangsa (PBB) di Kairo Mesir pada tahun 1994, dihadiri oleh 11.000 perwakilan dan
lebih 180 negara. Konfrensi tersebut melahirkan kebijakan baru tentang
pembangunan dan kependudukan, seperti tercantum dalam program aksi 20 tahun,
yang tidak lagi terfokus pada pencapaian target populasi tertentu tetapi lebih

ditujukan pada upaya penstabilan laju pertumbuhan penduduk yang beronientasi


pada kepentingan pembangunan manusia. Program aksi ini menyerukan agar setiap
negara meningkatkan status kesehatan, pendidikan dan hak-hak individu khususnya
bagi perempuan dan anak-anak dan mengintegrasikan program keluarga berencana
(KB) kedalam agenda kesehatan perempuan yang lebih luas.
Bagian terpenting dan program tersebut adalah penyediaan pelayanan kesehatan
reproduksi yang menyeluruh, yang memadukan KB, pelayanan kehamilan dan
persalinan yang aman, pencegahan pengobatan infeksi menular seksual/IMS
(termasuk HIV), informasi dan konseling seksualitas, serta pelayanan kesehatan
perempuan mendasar lainnya. Termasuk penghapusan bentuk-bentuk kekerasan
terhadap perempuan seperti sunat perempuan, jual beli perempuan, dan berbagai
bentuk kekerasan lainnya.
Konfrensi Perempuan Se Dunia ke 4 di Beijing China/FWCW (1995)
Deklarasi dan flatform aksi Beijing (Fort Word Confren on Women/FWCW (4-15
September 1995 yang diadofsi oleh perwakilan dari 189 negara mencerminkan
komitmen internasional terhadap tujuan kesetaraan, pengembangan dan
perdamaian bagi seluruh perempuan di Dunia. Flatform tersebut terdiri dari 6 bab,
mengidentifikasikan 12 Area Kritis kepeduhan (12 critical areas of consern) yang
dianggap sebagai penghambatan utama kemajuan perempuan yaitu:
a. Kemiskinan
Jumlah perempuan yang hidup dalam kemiskinan lebih banyak daripada laki-laki
karena terbatasnya akses perempuan terhadap sumber-sumber ekonomi misalnya:
lapangan pekerjaan, kepemilikan harta benda, pendidikan dan pelatihan serta
pelayanan masyarakat (misalnya: kesehatan)
b. Pendidikan dan pelatihan
Pendidikan merupakan HAM dan sarana penting untuk mencapai kesetaraan, dan
pengembangan dan perdamaian. Namun, anak perempuan mengalami diskriminasi
akibat pandangan budaya, pernikahan dan kehamilan dini, keterbatasan akses
pendidikan dan materi pendidikan yang bias gender.
c. Kesehatan.
Kesehatan perempuan mencakup kesejahteraan fisik dan emosi mereka, yang tidak
hanya dipengaruhi oleh faktor biologi tetapi juga turut ditentukan oleh kontest
sosial, politik dan ekonomi . Tercapainya standar kesehatan fisik tertinggi penting
bagi kehidupan dan kesejahteraan perempuan. Hal ini mendukung perempuan
untuk berpartisipasi baik di masyarakat maupun dalam kehidupan pribadinya.
d. Kekerasan perempuan dan anak perempuan.
Kekerasan pempuan dan anak perempuan subyek kekerasan fisik, seksual dan
psikologis yang terjadi tanpa dibatasi oleh status sosial ekonomi dan budaya baik di
kehidupan pribadi maupun di masyarakat. Segala bentuk kekerasan berarti

melanggar merusak atau merenggut kemerdekaan perempuani untuk menikmati


hak asasinya.
e. Konflik bersenjata
Selama konflik bersenjata, perkosaan merupakan cara untuk memusnahkan
kelompok masyarakat/suku, praktik-praktik tersebut harus dihentikan dan
pelakunya harus dikenai sanksi hukum.
f. Ekonomi
Perempuan jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sering
diperlakukan secara tidak layak (seperti gaji rendah, kondisi kerja yang tidak
memadai dan terbatasnya kesempatan kerja profesional)
g. Pengambilan Keputusan
Keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan belum mencapai target
30% di hampir semua tingkatan pemenintah, sebagaimana telah ditetapkan oleh
Lembaga Sosial dan Ekonomi PBB (theUN Ekonomic and Social Council) pada tahun
1995.
h. Mekanisme lnstitusional.
Perempuan sering terpinggirkan dalam struktur kepemerintahan nasional seperti
tidak memiliki mandat yang jelas, keterbatasan sumber sumber daya dan dukungan
dari para politisi nasional.
i. Hak Azasi Manusia
Hak azasi manusia bersifat universal. Dinikmatinya hak-hak tersebut secara penuh
dan setara oleh perempuan dan anak perempuan merupakan kewajiban pemerintah
dan PBB dalam mencapai kemajuan perempuan.
j. Media
Media masih tenus menonjolkan gambar yang negatif dan merendahkan
perempuan misalnya menampilkan kekerasan, pelecehan dan pornografi yang
berdampak buruk bagi perempuan.
k. Lingkungan
Perusakan alam menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan kesejahteraan dan
kwalitas hidup masyarakat terhadap perempuan di segala usia.
l. Diskriminasi.
Diskriminasi sudah dialami perempuan sejak awal kehidupannya. Perilaku dan
praktik-praktik yang berbahaya menyebabkan banyak anak perempuan tidak
mampu bertahan hidup hingga usia dewasa. Kurangnya perlindungan hukum atau
kegagalan dalam penerapannya, menyebabkan anak-anak perempuan rentan
terhadap segala bentuk kekerasan, serta mengalami konsekuensi hubungan seksual

usia dini dan tidak aman, termasuk HIV/AIDS.


Telaah Lima Tahunan: ICPD + 5 (1999).
Lima tahun sejak ICPD Kairo PBB mengundang para pemimpin negara untuk
membahas tentang kemajuan dan kegagalan pemerintah dalam melaksanakan
kebijakan yang terkait dengan pembangunan dan kependudukan (PRB 2000)
Pada ICPD + 5, isu seksualitas remaja dan abors, masih mengundang kontroversi.
Seain itu, muncul kontroversi baru mengenai kontrasepsi darurat dan peran
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam negosiasi antar pemerintah. Pertemuan
ICPD + 5 ditutup dengan mengadopsi beberapa tindak lanjut penerapan program
aksi ICPD termasuk di dalamnya adalah target baru untuk tahun 2015 yang
mempertajam fokus dan tujuan-tujuan pada tahun 1994.
Target Baru 2015 ICPD + 5 menetapkan target untuk mengukur penerapan ICPD
yaitu:
1. Akses terhadap pendidikan dasar pada tahun 2015, meningkatnya keikutsertaan
anak laki-laki dan perempuan di sekolah dasar hingga sekurang-kurannya 90%
sebelum 2010; serta menurunnya angka buta hurup pada perempuan dan anakanak perempuan pada tahun 1990 hingga setengahnya pada tahun 2005.
2. Semua fasilitas kesehatan menyediakan metode-metode KB yang mau dan
efektif, pelayanan kebidanan, pencegahan dan penanganan infeksi saluran
reproduksi dan infeksi menular seksual (ISR/IMS), serta metode pelindung untuk
mencegah infeksi, baik secara langsung maupun rujukan.
3. Mengurangi kesenjangan antara pemakaian kontrasepsi dengan proporsi individu
yang ingin membatasi jumlah anak dengan atau menjarangkan kehamilan, tanpa
menggunakan target atau kuota
4. Memastikan bahwa sekurangnya 60% persalinan ditolong oleh tenaga terlatih
terutama di negara negara dengan kematian ibu yang tinggi.
5. Pelayanan pencegahan HIV untuk laki-laki dan perempuan muda usia 15-24
tahun. Termasuk penyediaan kondom laki-laki dan perempuan pemeriksaan secara
sukarela, konseling dan tindak lanjut

Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi Dalam Siklus Kehidupan


Secara luas, ruang lingkup kesehatan reproduksi meliputi :
1. kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2. penceghan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) termasuk

HIV/AIDS
3. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi
4. kesehatan reproduksi remaja
5. pencegahan dan penganan infertilitas
6. kanker pada usia lanjut dan osteoporosis
7. berbagai aspek kesehatan reproduksi lain, misalnya kanker serviks, mutilasi
genital, fistula dll.
Kesehatan reproduksi ibu dan bayi baru lahir meliputi perkembangan berbagai
organ reproduksi mulai dari sejak dalam kandungan, bayi, remaja, wanita usia
subur, klimakterium, menopause, hingga meninggal. kondisi kesehatan seorang ibu
hamil mempengaruhi kondisi bayi yang dilahirkannya, termasuk didalamnya kondisi
kesehatan organ-organ reproduksi bayinya. permasalahan kesehatan reproduksi
remaja termasuk pada saat pertama anak perempuan mengalami haid/menarche
yang bisa berisiko timbulnya anemia, perilaku seksual yang mana bila kurang
pengetahuan dapat tertular penyakit hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS. selain
itu juga menyangkut kehidupan remaja memasuki masa perkawinan. remaja yang
mengijnak masa dewasa bila kurang pengetahuan dapat mengakibatkan risiko
kehamilan usia muda yang mana mempunyai risiko terhadap kesehatan ibu hamil
dan janinnya. selain hal tersebut diatas ICPD juga menyebutkan bahwa kesehatan
reproduksi juga mengimplikasikan seseorang berhak atas kehidupan seksual yang
memuaskan dan aman. seseorang berhak terbebas dari kemungkinan tertulari
penyakit menular seksual yang bisa berpengaruh pada fungsi organ reproduksi, dan
terbebas dari paksaan. hubungan seksual dilakukan dengan memahami dan sesuai
etika dan budaya yang berlaku.
Penerapan pelayanan kesehatan reproduksi oleh Depkes RI dilaksanakan secara
integratif memprioritaskan pada empat komponen kesehatan reproduksi yang
menjadi masalah pokok di Indonesia yang disebut paket Pelayanan Kesehatan
Reproduksi Esensial (PKRE) yaitu :
1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2. Keluarga berncana
3. Kesehatan reproduksi remaja
4. Pencegahan dan penanganan infeksi saluran reproduksi, termasuk HIV/AIDS
Sedangkan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK) terdiri dari PKRE
ditambah kesehatan reproduksi pada usia lanjut.

Elemen-elemen pelayanan kesehatan reproduksi

1.

Kesehatan ibu dan anak

2.

Pelayanan dan konseling,informasi,edukasi dan komunikasi KB

3.

Pencegahan dan penanganan aborsi dan komplikasinya

4.

Pencegahan dan penanganan ISR/IMS/HIV/AIDS

5.

Pencegahan dan pengobatan kemandulan serta masalah kebidanan lainnya

6.

Pencegahan dan penanganan kanker organ reproduksi

7.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak

8.

Kesehatan reproduksi remaja

9.

Kesehatan reproduksi laki-laki/partisipasi laki-laki

10. Konseling dan pendidikan kesehatan seksualitas

Hak Hak Asasi Dalam Hubungannya Dengan Hak Reproduksi

Hak reproduksi perorangan adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang, baik laki-laki maupun
perempuan (tanpa memandang perbedaan kelas sosial, suku, umur, agama, dll) untuk
memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab (kepada diri, keluarga, dan masyarakat)
mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta penentuan waktu kelahiran anak dan akan
melahirkan. Hak reproduksi ini didasarkan pada pengakuan akan hak-hak asasi manusia yang
diakui di dunia internasional (Depkes RI, 2002).

1. Menurut Depkes RI (2002) hak kesehatan reproduksi dapat dijabarkan secara


praktis, antara lain :
1. Setiap orang berhak memperoleh standar pelayanan kesehatan reproduksi yang
terbaik. Ini berarti penyedia pelayanan harus memberikan pelayanan kesehatan
reproduksi yang berkualitas dengan memperhatikan kebutuhan klien, sehingga
menjamin keselamatan dan keamanan klien.
2
Setiap orang, perempuan, dan laki-laki (sebagai pasangan atau sebagai individu) berhak
memperoleh informasi selengkap-lengkapnya tentang seksualitas, reproduksi dan manfaat serta
efek samping obat-obatan, alat dan tindakan medis yang digunakan untuk pelayanan dan/atau
mengatasi masalah kesehtan reproduksi.

3
Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh pelayanan KB yang aman, efektif,
terjangkau, dapat diterima, sesuai dengan pilihan, tanpa paksaan dan tak melawan hukum.
4
Setiap perempuan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya, yang
memungkinkannya sehat dan selamat dalam menjalani kehamilan dan persalinan, serta
memperoleh bayi yang sehat.
5
Setiap anggota pasangan suami-isteri berhak memilki hubungan yang didasari
penghargaan
6
Terhadap pasangan masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang
diinginkan bersama tanpa unsure pemaksaan, ancaman, dan kekerasan.
7
Setiap remaja, lelaki maupun perempuan, berhak memperoleh informasi yang tepat dan
benar tentang reproduksi, sehingga dapat berperilaku sehat dalam menjalani kehidupan seksual
yang bertanggungjawab
8
Setiap laki-laki dan perempuan berhak mendapat informasi dengan mudah, lengkap, dan
akurat mengenai penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS
1. Menurut ICPD (1994) hak-hak reproduksi antara lain :
1. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi.
2. Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
3.

Hak kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi

4.

Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan

5.

Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak

6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya


7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan
dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual
8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan, ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi
9. Hak atas kerahasiaan pribadi berkaitan dengan pilihan atas pelayanan dan
kehidupan reproduksinya
10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga

11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga
dan kehidupan reproduksi
12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi
1. C.
Menurut Piagam IPPF/PKBI Tentang Hak-hak reproduksi dan Seksual
adalah:
1. Hak untuk hidup
2. Hak mendapatkan kebebasan dan keamanan
3.

Hak atas kesetaraan dan terbebas dari segala bentuk diskriminasi

4.

Hak privasi

5. Hak kebebasan berpikir


6. Hak atas informasi dan edukasi
7. Hak memilih untuk menikah atau tidak serta untuk membentuk dan merencanakan
sebuah keluarga
8. Hak untuk memutuskan apakah ingin dan kapan punya anak
9. Hak atas pelayanan dan proteksi kesehatan
10. Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan
11. Hak atas kebebasan berserikat dan berpartisipasi dalam arena politik
12. Hak untuk terbebas dari kesakitan dan kesalahan pengobatan
Bagaimana Hak Reproduksi dapat Terjamin?
1. Pemerintah, lembaga donor dan masyarakat harus mengambil langkah-langkah yang tepat
untuk menjamin semua pasangan dan individu yang menginginkan pelayanan kesehatan
reproduksi dan kesehatan seksualnya terpenuhi;
2.

Hukum-hukum dan kebijakan-kebijakan harus dibuat dan dijalankan untuk mencegah


diskriminasi, pemaksaan dan kekerasan yang berhubungan dengan sekualitas dan
masalah reproduksi; dan

3. Perempuan dan laki-laki harus bekerja sama untuk mengetahui haknya, mendorong agar
pemerintah dapat melindungi hak-hak ini serta membangun dukungan atas hak-hak
tersebut melalui pendidikan dan advokasi.
4. Konsep-konsep kesehatan reproduksi dan uraian hak-hak perempuan ini diambil dari
hasil kerja International Womens Health Advocates Worldwide.
5. Pelayanan kesehatan reproduksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perempuan
sebagaimana mereka inginkan, serta mengetahui bahwa kebutuhan-kebutuhan ini sangat
beragam dan saling terkait satu dengan yang lain.
Hak Reproduksi maupun akses untuk mendapatkan Pelayanan Kesehatan Reproduksi adalah
penting, sehingga perempuan dapat:
1. Mempunyai pengalaman dalam kehidupan seksual yang sehat, terbebas dari penyakit,
kekerasan, ketidakmampuan, ketakutan, kesakitan, atau kematian yang berhubungan
dengan reproduksi dan seksualitas
2. Mengatur kehamilannya secara aman dan efektif sesuai dengan keinginannya,
menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan, dan menjaga kehamilan sampai waktu
persalinan
3. Mendorong dan membesarkan anak-anak yang sehat seperti juga ketika mereka
menginginkan kesehatan bagi dirinya sendiri.

http://aco-montoya.blogspot.com/2009/05/kesehatan-reproduksi.html
http://realtechnetcenter.wordpress.com/tutorial/kesehatan-reproduksi/
http://ebysangnutrisionist.blogspot.com/2013/11/normal-0-false-falsefalse-en-us-x-none_5.html