Anda di halaman 1dari 12

GEOSTRATEGI DALAM WUJUD

KETAHANAN NASIONAL
Published by NCISLAM4EVER under on Rabu, Mei 27, 2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

17.506 pulau yang Indonesia miliki, ratusan Gunung Vulaknik yang tertancap
dibumi Indonesia, laut dan samudra yang luas juga ada, tanah yang subur belum
terjamah semuanya, sumber daya manusia yang banyak walaupun baru hanya sebatas
kuantitas saja, sistem ketatanegaraan yang telah begitu komplek, peraturan yang
semuanya telah ada, cendikiawan-cendikiawan yang sangat banyak, hasil tambang dan
yang belum terkelola masih sangat banyak, wilayah yang berada digaris khatulistiwa,
sinar matahari dan curah hujan rata-rata pertahun yang mencukupi sangat luas, area
hutan yang menjadi paru-paru dunia, ragam hewani yang berhabitat ditanah air kita,
berjenis tumbuhan, pepohonan, buah-buahan dan sayuran yang sangat bermacam-macam
kekayaan laut (ikan, terumbukarang, barang tambang dll) yang belum terambil
manfaatnya oleh negara secara maksimal, lalu usia pasca pembebasan diri dari kekangan
penjajah dengan proklamasi kemerdekaan yang sudah menginjak usia 63 Tahun 9 Bulan
10 Hari sejak berakhirnya cengkraman penjajah dinegeri ini tepatnya sejak Indonesia
menyatakan kemerdekaannya pada Tanggal 17 agustus 1945, sampai waktu kami
menulis dalam makalah ini atau telah 100 Tahun lebih Indonesia berada dalam masa
setelah ikrar Kebangkitan Nasional Tahun 1908 yang telah silam. Kita tentu masih ingat
telah 6 kali berganti kepala negara dengan slogan dan kebijakan-kebijakannya bahkan
beberapa hari lagi kita memilih dan mengangkat kepala Negara Indonesia dan pemilihan
Presiden yang ke-7 pada Bulan Juni mendatang.

Lantas apakah cita-cita, harapan, keinginan, dan dambaan seluruh rakyat


indonesia dari Sabang sampai Meraoke dengan jumlah kurang lebih 230 juta jiwa yang
kesemuaannya menginginkan terwujudnya negara Kesatuan Republik Indonesia yang
aman, nyaman, adil sejahtera beradab dan berbudaya dengan daya saing global yang bisa
diadu, telah tercapai?

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pemaparan yang tertuang dalam latar belakang diatas, beberapa identitas
masalah yang berhasil kami rangkum diantaranya sebagai berikut:

1. Sistem politik Indonesia telah mengalami banyak peruabahan, yang kesemuaanya itu
belum pernah menunjukan keberhasilannya dalam menyatupadukan rakyat Indonesia
dengan kehegemoniannya, yang terjadi malah terciptanya kubu pemenang dan kubu yang
kalah yang saling menghujat, menjatuhkan dan itu semua tidak menunjukan
kebersamaannya sedikitpun juga.

2. Sistem ekonomi negara yang semakin bokrok, awut-awutan, dan tidak menentu sehingga
tidak mempunyai karakter yang jelas, mengenai sistem ekonomi apa yang diterapkan oleh
Indoensia, kemundurannya itu diukur dengan parameter semakin menumpuknya utang
negara keluar negeri, dan semakin banyaknya kemiskinan, pengangguran dikalangan
masyrakat.

3. Hubungan sosial yang terjadi dalam setiap pribadi rakyatnya telah banyak terkontaminasi,
terdegradasi sehingga karakter ketimurannya solah hilang dan berganti dengan adat
kebiasaan barat, baik dari cara hidup, pola hubungan dengan masyarakatnya dan
hubungan dengan negaranya, sudah semakin mengikis habis arti gotong royong dan
kebersamaan yang mana lebih cenderung menerapkan pola hidup individualistis,
deharmonisasi, diskriminatif terhadap suatu etnis atau kelompok masyarakat tertentu,
ekslusivisme, rasialis, lebih mementingkan superioritas diri, terutama dikalangan
masyarakat perkotaan dan menurut Ridwan Efendi hal ini merupakan dampak negatif dari
modernisasi.

4. Budaya yang dulu sangat kental dan asli kedaerahannya, kini telah mengalami yang
dimaksud guncangan budaya, ketimpangan budaya, dan pergeseran nilai-nilai budaya
yang menimbulkan anomie (Ridwan Efendi, 2007). Dan hal ini merupakan dampak dari
globalisasi. Yang sangat perlu disikapi, dan dikritisi.
5. Pertahanan keamanan negara yang sepertinya sedikit mengalami penurunan, terutama pada
aktor-aktornya, hal ini terbukti dengan melemahnya semangat kepatriotismean, terjadinya
penurunan moral dikalangan petugas-petugas Negara.

Barangkali hal-hal diatas adalah permasalahan yang berkenaan dengan geostrategi indonesia
dalam rangka merombak, membangun, memperbaiki segala sistem demi ketahanan nasional
bangsa yang berdiri tegak secara utuh.

1.3 Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan dalam penyusunan makalah ini, kami hanya ingin mengupas
hal-hal sebagai berikut:

1. Permasalahan dan upaya apa untuk menciptakan suasana perpolitikan ditanah air sehingga
akan tercipta pola hubungan sistem politik yang harmonis?

2. Permasalahan dan upaya apa untuk membangun perekonomian bangsa yang membangun
dan mensejahterakan negara dan rakyatnya?

3. Hal apa yang perlu dikedepankan demi menciptakan pola hubungan sosial yang terjalin
harmonis saling membantu untuk maju bersama?

4. Lantas upaya apa yang perlu dilakukan guna mempertahankan dan membuat merek budaya
indonesia yang khas, sehingga mempunyai daya nilai yang tinggi dimata dunia?

5. Pertahanan keamanan yang seperti apa yang perlu diperbaiki, ditingkatkan dan diterapkan
demi terwujudnya Indonesia yang satu kekuatan?

1.4 Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Dalam rangka memenuhi salah satu tugas kelompok dari dosen mata Kuliah Pendidikan
kewarganegaraan.

2. Belajar mengutarakan pemikiran, pendapat, saran kritik dan arahan serta harapan sebagai
warga Negara Indonesia yang berloyalitas tinggi.
3. Belajar mengusut suatu permasalahan serta menjelaskannya dengan ragam pemahaman
pribadi.

4. Juga untuk memperkaya khasanah bahan bacaan ilmiah bagi penggemar dan yang haus
ilmu.

1.5 Manfaat Penulisan

Harapan besar kami sebagai penulis jika makalah yang kami susun ini akan menjadi suatu
karya sederhana yang penuh manfaat, baik itu bagi diri sendiri, teman-teman mahasiswa,
guru dan Dosen juga masyarakat luas pada umumnya. Dan isnya Allah makalah ini kami
pajang diblog.

Adapun manfaat yang akan diperoleh dari makalah ini adalah:

1. Pemikiran baru, tentang konsep dan praktek geostraegi yang seharusnya dilakukan
dikalangan masyarakat Indonesia guna terwujud dan tercapainya Indonesia yang jaya dan
sejahtera dimata dunia.

2. Memberikan pemahaman bahwa Indonesia sangat perlu bekerja keras dalam rangka
mewujudkan Indonesia yang kuat dalam hal ketahanan nasionalnya, baik itu ikut dalam
bidang politiknya, ekonominya, sosialnya, budayanya, dan juga pertahanan keamanannya,
karena dengan begitu kemandirian bangsa akan sangat terlihat oleh dunia.

3. Makalah ini bermanfaat sebagai alternatif tersendiri dalam hal arahan yang perlu kita
galakan baik dikalangan rakyat bawah maupun dikalangan atas, karena hal itu termaktub
dalam makalah ini.

BAB II

Geostrategi Indonesia Dalam Wujud Ketahanan Nasional

Dalam makalah ini kami akan mencoba menguraikan secara terperinci, mengenai
strategi-strategi negara yang perlu diaktualisasikan dalam rangka membenahi segala bentuk
kemunduran yang tengah terjadi dinegara kita dalam setiap sendi kehidupan rakyatnya.
Adapun konsep-konsep diatas akan kami masukan dalam bidang-bidang ketatanegaraan
dibawah ini:

2.1 Geostrategi Dalam Bidang Politik

Konsep dan pratek perpolitikan dinegara Indoenesia, pada dasarnya adalah hasil dari difusi
dan asimilasi dari bentuk-bentuk beberapa konsep politik diluar negeri. Terutama konsep dan
praktek politik yang berasal dari nagara-nagara penjajah yang sempat singgah di bumi pertiwi
ini. Sekalipun dalam peraturan termaktub bahwa politik Indonesia adalah sistem politik yang
berdasarkan pancasila terutama yang terdapat pada sila ke-4 yaitu “Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”. Namun pada
kenyataannya lain. Hal ini jelas terlihat dengan dipraktikannya sistem politik demokrasi, yang
kalau kita tahu demokrasi itu muncul dari pemikiran-pemikiran liberalisme. Peran negara
dalam hal ini hanya sebagai kambing conge saja, dan terkadang negara tidak punya hak apa-
apa dalam mengurus urusan rakyatnya karena semuanya berpusat pada rakyat. Apakah itu
benar? Ataukah itu salah? Yang pasti perlu kita cermati, bahwa rakyat adalah bagian dari
negara, sekalipun negara pada awalnya berdiri atas kehendak rakyat, namun dengan kekuatan
peraturan yang telah disepakati oleh semua lembaga dan elemen masyarakat, maka peran
negara dan pemerintah tentu harusnya menjadi pilar yang perlu diperhatikan.

Hal lain yang sangat kami sayangkan dalam sistem politik negara kita itu adalah ‘tidak tahu
diri’ maksud saya adalah sistem praktek dan konsep politik yang diterapkan itu hanya
mementingkan keinginan saja, bukan melihat pada kebutuhan. Bukti konkrit adalah sudah
tahu utang Negara Indonesia keluar negeri itu sangat banyak, di indonesia malah
melangsungkan pemilihan wakil-wakil rakyat dengan biaya yang tidak kurang dari 24
Triliyun rupiah, apakah kalau seperti itu sistem politik Indonesia dikatakan tepat? Tentu
tidak.

Selain dari itu konsep musyawarah untuk mufakatnya itu sepertinya sudah tidak diangkat
lagi. Yang terjadi hanyalah kemokbrokan-kemokbrokan saja. Seperti kita ketahui bersama
bagaimana kasus korupsi diberbagai dinas instansi di Indonesia yang cukup sering terjadi,
sekalipun sejak pemerinahan SBY JK, dengan didirikannya KPK alhamdulilah agak sedikit
berkurang. Atau kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam tubuh partai-partai politik pun
tidak sedikit terjadi, seperti kasus calon yang beruang menjadi beruntung, karena ketua
parpolnya adalah orang kenalan calegnya. Dan setumpukan kasus-kasus yang lainnya.
Lantas solusi apa yang akan kami paparkan guna perbaikan sistem politik Indonesia
dan menjadi bagian dari geostrategi Indonesia.

a. Penentuan sistem politik yang konsepannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi
yang ada dan terjadi dinegara Indonesia, maksdunya disesuaikan dengan dasar-dasar
negara yaitu undang-undang dasar Negara. Dan yang paling penting adalah
prakteknya pun harus sesuai dengan konsep, kata orang Sunda “jangan pasalia, atau
kakidul kakaler”, dan hal ini jelas terjadi dengan sistem politik Indonesia, konsepnya
A sementara prakteknya B.
b.

2.2 Geostrategi Dalam Bidang Ekonomi

Seperti kita ketahui bersama, sistem baik konsep ataupun praktek perekonomian yang
diterapkan di Indonesia, sangat jauh dari upaya untuk pertahanan negara secara utuh dan
independent. Memang tidak bisa pungkiri rezim apapun yang naik semuanya sepakat untuk
memperbaiki keterpurukan perekonomian negara, mereka semua mengerahkan segenap
kemampuannya untuk memunculkan inovasi-inovasi baru yang kelihatannya menonjol
dimata dunia, tak jarang para ekonom negara kita banyak bekerja sama dengan pengusaha-
pengusaha asing, namun yang terjadi apa? Apakah kesejahteraan negara tercapai secara
merata? Kemakmuran dapat direalisasikan? Rakyat miskin dapat tertangani? Masyarakat
kalangan ekonomi bawah bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi? Tidak
bukan?. Mari kita analisa bersama, hutang negara kita yang terus meningkat, banyak
perusahan BUMN yang diprivatisasi kepada pihak swasta, tidak sedikit lahan tambang kita
dikeruk oleh negara-negara luar, adapun untungnya mereka yang menikmati, rakyat kita
hanya dijadikan korban saja. Lantas dimana peranan dan aplikasi dari yang diamanatkan
dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dan 2? Disini pun terjadi penyelewengan Undang-undang,
padahal bukannya negara kita adalah negara yang patuh kepada undang-undang karena kita
penganut demokrasi, atau jangan-jangan makna demokrasinya pun telah bergeser menjadi
democrazy?

Selanjutnya strategi apa saja yang harus kita lakukan dalam rangka memperkuat ketahanan
dalam sistem perekonomian Negara Indonesia?
1) Barangkali isi pidato presiden dalam acara memperingati hari kebangkitan Nasional 20
Mei kemarin bisa kami sarikan disini. Beliau menyampaikan bahwa harus adanya
“Kemandirian, Persaingan global dan Peradaban”. Kemandirian dalam segala hal,
segala bidang dan aspek kehidupan ketatanegaraan. Termasuk salah satunya dalam
bidang ekonomi. Lantas kita pun tidak akan lupa, dengan janji-janji para capres dan
cawapres yang sekarang sedang berkompetisi memperebutkan kursi kerajaan yang
semoga tidak semata kesana, melainkan siapapun yang nanti terpilih mereka akan
bertanggungjawab untuk memperjuangkan hak-hak rakyatnya secara merata, termasuk
dalam mewujudkan Indonesia menjadi sejahtera, aman, adil sentosa, dan berdaya saing
global.

2) Yang kedua, langkah konkret yang harus dilakukan adalah, penanaman sikap yang kuat
dalam setiap individu masyarakat untuk berpikir bukan hanya menjadi konsumen saja
melainkan bagaimana caranya menjadi produsen. Dan hal ini sangat belum membudaya
dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka hanya mau disuapin saja tanpa mau
berupaya membuatnya sendiri. Artinya sistem perekonomian bangsa kita perlu dirubah
arah orientasinya yang tadinya hanya sebagai konsumen sekarang diarahkan untuk
menjadi produsen. Dalam hal ini tentu peran pemerintah sebagai motivator dan fasilitator
murni sangat diperlukan.

3) Yang ketiga yang perlu kita dalam rangka memperkokoh sistem perekonomian Nagara
Indonesia adalah bagiamana caranya untuk sebisa mungkin tidak banyak terlalu mudah
diintervensi oleh pihak-pihk asing, sekalipun kita telah menganut sistem demokrasi tapi
bukan berarti segalanya harus kita tiru, karena kita bukan meraka, rakyat indonesia tidak
sama dengan rakyat dinegara mereka, baik itu corak hidupnya, kebudayaannya, adat
kebiasaannya, semuanya berbeda. Maka tak salah apabila kita memilah-milah hal yang
perlu kita adopsi dan yang tidak. Disinipun ketegasan hukum sangat diperlukan. Hukum
kita tidak boleh mudah terpengaruh oleh isu-isu dari mereka, yang paling perlu kita garis
bawahi adalah kita perlu waspada ketika mereka banyak memberikan bantuan kepada kita
jangan-jangan “ada badak dibalik kerikil” yang mana kalau hal itu dibiarkan maka akibat
buruknya tidak saat ini melainkan akan dirasakan oleh anak cucu kita. Apakah kita rela
sekarang kita senang-senang dengan semua sikap kasihan dari orang lain sementara
secara tidak sadar kita telah mengadaikan nasib anak cucu kita.
4) Yang tidak kalah penting dalam hal ini adalah bagaimana carana agar Indonesia bersedia
dan sepakat untuk menerapkan sistem ekonomi islam, mata uang yang digunakannya pun
bukan lagi rupiah melainkan emas dan perak, perbankkannya pun sistem syariah, yang
semuanya sudah jelas tidak pernah dilanda kerugian walau terjadi krisis global sekalipun
seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

2.3 Geostrategi Dalam Bidang Sosial

Sangat kita pahami dan maklumi bersama bahkan barangkali kita semua sepakat, semenjak
digembar-gemborkannya konsep dan praktek moderinasi dan derasnya arus globalisasi yang
masuk kenegara kita yang kesemuaanya dimotori oleh negara-negara barat, semua itu jelas-
jelas telah merubah dan memporak-porandakan tata kehidupan sosial masyarakat kita.
Percaya ataupun tidak hal itu jelas terjadi. Bagaimana mayarakat telah ternodai dengan sikap
individualistis, sikap saling merendahkan, sikap merasa diri yang saling kuat, sehingga
tatanan sosial dalam kehidupan mereka jelas-jelas telah menghilangkan jati diri bangsa.

Lalu langkah-langkah apa saja yang harus kita aktualisasikan guna memperbaiki tatanan
kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Dibawah ini coba kami paparkan hal-hal yang bisa
kita lakukan:

1) Dikembalikannya pola kehidupan yang dulu pernah ada. Perlu digaris bawahi bukan
berarti lantas kita kembali menjadi kehidupan kuno lagi. Melainkan kita kembali
menerapkan pola kehidupan yang harmonis, dinamis, dan familier. Kita kembali
munculkan sikap-sikap gotong royong, saling menghormati dan menghargai, saling
merasakan, dan saling mematu untuk bersama-sama membangun.

2) Perlu dipahamkan bahwa pola kehidupan liberal yang sekuler itu jelas sangat bertentangan
dengan prinsif-prinsif masyarakat ketimuran yang itu berarti mereka tidak lagi dengan
mudahnya meniru dan menerapkan pola yang seperti itu. Melainkan mereka harus
disadarkan ulang tentang bagaimana pola konsep dan praktek kehidupan yang
seharusnya dijalankan oleh warga Indonesia khussunya. Dalam hal ini institusi
pendidikan sangat memiliki peran yang sangat pilar. Maka dari itu harus digaris bawahi
praktek pendidikannya pun jangan dengan mudah meniru praktek-praktek yang
diterapkan di negara barat. Dan perlu digaris bawahi tidak semua hal yang datangnya
dari barat itu baik, pasti ada yang kurang baiknya.
2.4 Geostrategi Dalam Bidang Budaya

Kita tentu masih ingat ketika bangsa kita tiba-tiba rame menggunakan batik dalam setiap
aktivias keseharian kita, terutama dikalangan petinggi negara. Ya, peristiwa itu terjadi ketika
ada pengakuan bahwa batik adalah hasil kreasi orang-orang Malaysia. Lantas kita juga belum
lupa ketika orang ramai-ramai menyuarakan bahwa seni angklung adalah hasil seni budaya
khas bangsa Indonesia khususnya Jawa Barat. Pertanyaannya adalah apakah itu yang
dimaksud dengan cinta tanah air? Apakah itu perjuangan untuk menjaga warisan leluhur kita?
Atau yang mana?

Sejalan dengan pemikiran diatas, kami berpendapat bahwa ada hal penting yang diangggap
kurang diperhatikan oleh segenap bangsa ini, salah satunya adalah pemelihara atau
pelestarian budaya. Mengapa kami mengatakan demikian? Karena dengan tidak
dipeliharanya itu maka eksistensi budaya kita semakin hilang, terlebih saat ini semua itu telah
tergerus oleh roda globalisasi dan konsep modernisasi. Perlu kita waspaidai, perlu kita sikapi,
perlu kita tangapi secara serius. Bukan kita malah ketika budaya kita ada yang menjiplak,
bukan seharusnya kita tiba-tiba mengeksiskan budaya kita ketika itu diaku oleh bangsa lain.
Namun bagaimana cara dan upaya serta strateginya agara dalam setiap saat, tanpa mengenal
waktu-waktu tertentu saja, budaya ini perlu kita perlihara, perlu terus kita lestarikan, perlu
kita selalu perbaharui, dan perlu kita eksiskan baik dalam dan luar negeri.

Kita tidak perlu malu, kita tidak harus takut dikatakan kuno, atau ketingglan zaman dan
sebagainya. Kita seharusnya bangga dengan segudang kreativitas warisan leluhur kita. Coba
mulai dari saat ini pendidikan kebudayaan digalakan lagi, budaya tidak boleh dijadikan
sebagai suatu yang aneh,atau sesuatu yang unik, karena budaya bukan terngkorak hewan
purba, karena budaya bukan batu asteroid yang jatuh kebumi. Melainkan budaya itu harus
tetap hidup, harus tetap tumbuh dan berkembang, dalam setiap saat dan waktu, dimanapun
dan kapanpun serta oleh siapapun, bukan malah budaya itu disimpan dimuseum. Barang kali
ini adalah pemikiran yang keliru yang perlu segera dibenahi.

Adapun hal-hal yang bisa dilakukan terkait masalah, strategi untuk tetap menjaga
kelestarian budaya, menurut kami sebagai berikut:

1. Pendidkan kebudayaan perlu diprioritaskan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi, baik
itu di jalur pendidikan formal, nonformal dan informal.
2. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya kemasyarakatan dibiasakan selalu dibalut dengan
kebudayaan, jangan sampai kita lebih bangga menyaksikan tampilan Band dari pada
Seni Budaya Wayang atau Tari Jaipong.

3. Buat pencitraan bahwa budaya itu adalah salah satu kekayaan yang perlu dijanga,
mencintai budaya berarti mencintai dan menghargai leluhur kita. Bagaimanapun kita
tidak akan terlahir jika tidak punya leluhur.

4. Kita harus selalu mengupdate eksistensi kebudayaan kita, kita kemas dengan kemasan
yang lebih uptodate sehingga orang akan semakin cinta dan menikmati setiap kreasi
budaya kita.

5. Kita masih ingat dengan ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang
menghargai karya-karya leluhurnya, barangkali jargon ini hanya baru diketahui saja
belum dipahami. Maka pemahaman tentang kebudayaan menjadi sangat perlu untuk
diaktualisasikan dalam realita kehidupan.

2.5 Geostrategi Dalam Bidang Pertahanan Keamanan

Orang terkadang selalu mengidentikan ketahanan itu dengan TNI, ABRI, Polisi. Apakah itu
hal yang salah? Jelas tidak, mereka memang berkewajiban secara utuh dengan penuh
kesadaran untuk menjaga, membentengi keamanan dan kenyamanan segenap bangsa ini dari
berbagi ancaman baik yang datang dari dalam ataupun luar negeri. Apapun resikonya. Namun
kewajiban menjaga itu kami tegaskan bukan hanya ada ditangan-tangan mereka yang kami
sebut-sebut diatas. Melainkan kewajiban semua kalangan, mulai dari kalangan pekerja,
buruh, karyawan, rakyat sipil pemerintah, pengusaha, politikus, dll. Karena zaman sekarang
konsep ketahannanyapun telah berbeda dengan konsep yang pra kemerdekaan. Zaman
sekarang ini serangan yang mengancam keamanan dan kenyamanan serta ketertiban bangsa
itu tidak dalam bentuk serangan senjata yang berwujud, melainkan serangan senjara yang
abstrak dan sifatnya lebih mematikan dan menghancurkan. Tahukah apa yang kami maksud?
Itulah yang disebut dengan istilah perang pemikiran. Maka jelas sifatnya yang harus menjadi
benteng ketahanan keamanan bangsa ini bukan hanya berada ditangan-tangan perwira,
prajurit dan sebagainya, melainkan berada pada semua kalangan, dalam hal ini peran
pendidik dan pemuka agama menjadi sangat jelas diperlukan.
Sekarang ini kita banyak mendapatkan serangan yang telah terbukti ampuh menghancurkan.
Contoh ril, bagaimana sistem perekonomian kita kurang berkembang bahkan hutang negara
kita menjadi lebih besar, hal itu karena kita terlalu banyak menerima masukan dan arahan
dari ekonom-ekonom barat yang memang mereka itu pada pinter tapi kebelinger. Makanya
yang terjadi bukan malah membamtu melainkan menjatuhkan.

Dalam hal ini perlu ada adaptasi konsep yang diterapkan bagi para TNI, ABRI, Polisi dsb.
Mereka bukan hanya harus dikuatkan fisiknya saja, melainkan psikis dan pemikirannya, agar
mereka melek dengan berbagai tantangan, hambatan, ancaman dan permasalahan yang
sedang dan akan dihadapi oleh bangsa ini.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan Makalah

Sangat jelas bahwa strategi untuk memperkokoh kedaulatan bangsa dalam rangka
mewujudkan kesatuan dan persatuan yang berorientasi kepada kemajuan, keamanan,
kesejateraan, kemakmuran dan kebesaran bangsa ini mutlak sangat diperlukan. Strategi-
strategi jitu, dengan aktor-aktor handal sangat dibutuhkan. Pejuang-pejuang bangsa yang
ikhlas dan sigap dalam setiap kesempatan menjadi sangat penting untuk diwujudkan.

Pertahanan dengan stategi-strategi dalam bidang politik, perekonomian, sosial, budaya dan
keamanan menjadi pilar penting yang perlu dikukuhkan.

Secara sederhana hal-hal dibawah ini menjadi dirasa perlu unuk diaktualisasikan yaitu sikap
kemandirian, persaingan global dan peradaban. Begitulah presiden RI menyampaikan dalam
pidatonya 20 Mei 2009.

Kemandirian dalam arti tidak mudah terprovokasi, tidak mudah diintervensi, dan tidak mau
taat pada telunjuk pihak atau bangsa manapun. Adapaun persaingan yang dimaksud adalah
persaingan sehat yang melejit. Dalam setiap bidang kehidupan. Dan yang terakhir adalah
peradaban bangsa yang menjadi hal penting untuk direalisasikan, semakin kita beradab maka
jelas semakin tinggi derajat kita dimata dunia.
3.2 Saran

Ada satu peribahasa ‘hilangnya karakter akan menghilangkan citra”. Kami rasa sangat tepat,
bagi bangsa indonesia untuk selalu menjaga dan memelihara karakteristik ke-Indonesiaannya.
Karena bagaimanapun kita ini adalah orang Indonesia, sekalipun kita bergaya Eropa atau
Amerika, mereka tetap akan memandang kita seorang Indonesia. Maka kekhasan menjadi
sangat perlu ditumbuhkan.

Tidak perlu banyak yang kita harus segerakan untuk direalisasikan melainkan hanya satu
yaitu kepemilikan karakter, yang khas dan tidak tercampuri oleh karakter milik orang lain,
karena hal itu justru akan menghapuskan karakter kita yang aslinya. Kita harus bangga
dengan budaya kita, kita harus bangga dengan keaslian kita, kita harus bangga dengan
keberagaman kita, dan kita harus mau dan tidak malu-malu untuk memamerkannya kemata
dunia. Dan justru kita harus malu ketika jati diri kita adalah hasil jiplakan dari orang lain, kita
harus malu ketika kita menjadi bahan ejekan orang lain karena kebodohan kita yang selalu
mejadi peniru saja. Mari bersama kita menjadi pemain dalam laga sinetron kehidupan ini,
jangan puas jadi penonton saja, jangan puas jadi penikmat saja, mari berkarya, mari bersama,
mari beradab dan berbudaya. Jaga dan lestarikan warisan budaya nenek moyang kita. Jangan
biarkan harta karun itu diambil orang. Yang tidak kalah penting kami kutif dari sebuah syair
lagu.

Bangun pemuda pemudi Indonesia

Lengan bajumu singsingkan untuk negara

Masa yang akan datang kewajibanmulah

Menjadi tanggunganmu sepanjang masa

Menjadi tanggunganmu sepanjang masa

Demikian makalah yang kami susun, mohon maaf atas kekurangannya, semoga bermanfaat,
terimakasih,

Wassalamualaikum wr. wb