Anda di halaman 1dari 34

Peralatan Tegangan Tinggi

1. Pemutus Daya
1.1. Pengertian dan Fungsi Pemutus Daya
Circuit breaker (CB) atau Pemutus Daya adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang
berfungsi untuk memutuskan hubungan antara sisi sumber tenaga listrik dan sisi beban yang
dapat bekerja secara otomatis ketika terjadi gangguan atau secara manual ketika dilakukan
perawatan atau perbaikan. Setiap sistem tenaga listrik dilengkapi dengan sistem proteksi
yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kerusakan pada peralatan sistem dan untuk
mempertahankan kestabilan sistem ketika terjadi gangguan atau maintenaince.
1.2.

Prinsip Kerja Pemutus Daya


Pemutus daya (Circuit Breaker) harus mampu menyalurkan arus maksimum system secara
kontinyu dann memutuskan jaringan dalam keadaan berbeban atatu hubung singkat dengan
cepat sehinggga kerusakan yang tidak diinginkan dapat dihindari.
Jika suatu sistem terjadi gangguan atau suatu peralatan tegangan tinggi akan dilakukan
maintenaince, maka kontak akan dibuka sehingga arus akan terputus dan tidak merusak
sistem dan perangkat lain. Namun adanya beda tegangan diantara kontak dapat terjadi busur
api, maka suatu circuit breaker dapat bekerja. Jika kontak pemutus daya dipisahkan, maka
beda potensial diantara kontak akan menimbulkan medan elektrik disela kontak tersebut.
Arus yang sebelumnya mengalir melalui kontak akan memanaskan kontak pemutus daya
sehingga ketika kontak membuka, pada permukaan kontak terjadi emisi termal,
yaituterlepasnya electron dari molekul netral dengan kecepatan tinggi karena adanya
peningkatan suhu. Medan elektrik diantara kontak menimbulkan emisi medan tinggi pada
permukaan kontak yang berperan sebagai katoda. Emisi termal dan emisi medan tinggi
menyebabkan memperlancar proses ionisasi, yaitu terlepasnya electron dari ikatan atom
netral menjadi elektron bebas sehingga terjadi busur api.
Busur api tersebut harus segera dipadamkan yaitu dengan melakukan deionisasi, sehingga
busur api tidak menjadi korona atau flashover yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran
dan kerusakan pada sistem maupun perangkat lain. Oleh karena itu, circuit breaker harus
bekerja untuk menjadikan arus yang melalui kontak sama dengan nol. Namun, jika kuat
medan elektrik pada sela kontak lebih besar daripada kekuatan dielektrik medium sela
kontak, maka memungkinakn untuk terjadinya busur api lagi.

Dengan kata lain, pengurangan partikel bermuatan karena proses deionisasi lebih banyak
daripada penmabahan muatan karena proses ionisasi, maka busur api akan padam. Hal yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan proses deionisasi adalah diantaranya meniupkan udara
sela kontak yang akan mengalami pendinginan pada busur api. Kemudian deionisasi dapat
dilakukan dengan cara menyemburkan gas isolasi atau minyak ke busur api, memotong busur
api dengan tabir isolasi atau tabor logam. Semua hal tersebut dapat meningkatkan proses
rekombinasi pada deionisasi.
1.3.

Jenis-jenis Pemutus Daya


Dengan memperatikan hal-hal yang dapat memadamkan busur api, maka pemutus daya
dibuat berdasarkan medium isolasinya, yaitu Pemutus Daya Udara, Pemutus Daya Minyak,
Pemutus Daya Udara Tekan, Pemutus Daya Vakum dan Pemutus Daya isolasi gas SF6.
Berbagai macam pemutus daya tersebut dibuat untuk memadamkan busur api pada tegangan
tinggi. Pemutus daya yang menggunakan medium udara bekerja untuk memutuskan arus
sampai 50kA dan dapat digunakan pada rangkaian bertegangan sampai 10kV. Pemutus daya
dengn medium minyak memiliki kelemahan yaitu mudah terbakar jika terjadi tekanan tinggi,
namun pemutus daya medium minyak dapat bekerja memutuskan arus hubung singkat
sampai 10kA pada rangkaian bertegangan 500kV.
Pemutus daya udara tekan menggunakan medium udara kering yang bersih dan bertekanan
tinggi sehingga resiok terbakar sangat kecil, untuk menghasilkan udara bertekanan tinggi
maka pemutus daya dilengkapi dengan kompresor pada konstruksinya. Pemutus daya udara
tekan mampu memutus arus sampai 40kA pada rangkaian bertegangan 765kV.
Pemutus daya dengan medium vakum yang memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi.
Kelbihan yang dimilikinya adalah konstruksi yang kompak dan sederhana, tidak
menimbulkan kebakaran, tidak memproduksi gas, mampu memadamkan busur api, dan
mampu menahan tegangan impuls petir.
Namun pemutus daya yang sedang berkembang pesat adalah pemutus daya medium gas SF6.
Medium pemutus daya ini memiliki sifat kimia yang stabil,tidak mudah terbakar, tidak
mudah korosi dan memiliki sifat kelektronegatifan.sifat kimia yang dimilikinyalah
menjadikan SF6 memiliki sifat dielektrik dua kali lipat dari medium lain. Pemutus daya gas
SF6 bekerja pada rating tegangan hingga 1200kV. Keunggulan yang dimiliki pemutus daya
ini menjadikan biaya konstruksinya menjadi relative mahal.

2. Konduktor
2.1.
Pengertian dan Fungsi
Konduktor adalah alat yang digunakan untuk menghubungkan peralatan listrik dan
menyalurkan arus antar peralatan listrik pada suatu instalasi atau sistem tenaga listrik.
Konduktor memiliki bahan yang umunya dipakai adalah tembaga dan alumunium.
2.2.

Bahan dan Jenis Konduktor


Berdasarkan konstruksinya konduktor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kawat telanjang
dan kabel. Keduanya memiliki konstruksi dan fungsi masing-masing. Pada umumnya
konduktor berupa kawat telanjang dgunakan untuk menyalurkan energy listrik antar gardu
induk, dari gardu induk ke trafo distirbusi dan gardu induk ke panel. Berdasarkan bentuk
penampang kawat telanjang dapat dibedakan yang memiliki fungsi masing-masing. Kawat
telanjang berenampang batang digunakan pada panel daya, penampang kawat pilin digunakan
untuk jaringan distribusi dan transmisim sedangkan konduktor berongga dan berkas
digunakan pada transmisi tegangan tinggi.
Suatu konduktor telanjang bertegangan akan menimbulkan medan elektrik pada permukaan
konduktor. Kuat medan elektrik tersebut tergantung pada diameter dan kehalusan permukaan
konduktor.diameter yang semakin kecil dan permukaan yang semakin kasar akan
mengakibatkan kuat medan elektrik semakin besar. Jika medan elektrik lebih besar
dibandingkan kekuaran dielektrik dan media sekitarnya, maka akan terjadi pelepasan muatan
yang disebut korona.
Jenis konduktor yang kedua adalah kabel, yaitu alat tegangan tinggi yang umumnya
digunakan menyalurkan listrik dari generator ke trafo daya dan pada jaringan distribusi.
Kabel memiliki bagian utama, yaitu inti atau konduktor, bahan isolasi, bahan pengisi, bahan
pengikat, bahan pelindung beban mekanik dan selubung pelindung luar. Kabel tegangan
tinggi pada umumnya berinti tunggal dan berinti tiga, yang memilliki bahan dari pilinan serat
tembaga atau alumunium. Inti dibungkus dengan bahan isolasi utama yang sifat
mekanismenya fleksibel. Sifat termal inti kabel yang utama adalah memiliki ketahanan termal
tinggi, koefesien muai panas rendah dan daya hantar panas tinggi serta tidak mudah terbakar.
Bahan isolasi yang digunakan adalah minyak, polimer, dan kertas yang diimprenasi minyak
mineral. Kemudian inti kabel diikat dengan bahan isolasi pengikat yang dibungkus dengan
selubung yang terbuat dari timah.

2.3.

Parameter Konduktor
Komduktor yang menghantarkan arus listrik akan menimbulkan panas akibat rugi-rugi daya,
oleh karena itu agar sifat fisis bahan konduktor tidak berubah, maka kenaikan temperatiur
konduktor hanya dibatasi hingga 75oC. sehingga arus kontinyu yang mengalir juga perlu
dibatasi agar tidak terjadi peningkatan temperature.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan konduktor adalah resitansinya,
kekuatan mekanisnya, jari-jari geometris rata-rata dan diameter luarnya. Resistansi konduktor
berpengaruh terhadap rugi-rugi daya dan jatuh tegangan pada konduktor. Semakin besar
resistansi suatu konduktor, semakin besar rugi-rugi daya dan jatuh tegangan pada konduktor
tersebut.
Jarak antar konduktor ditetapka sedemikia sehingga tidak terjadi korona atau pelepasan
muatan pada permukaan konduktor. Jarak antar konduktor pada jaringan hantaran udara,
selain dibatasi oleh medan tertinggi yang diizinkan, dibatasi juga oleh jarak ayunan
konduktor jika ditiup angin.
Konduktor digunakan juga sebagai rel daya pada gardu induk dan panel. Rel daya untuk
gardu induk umumnya terbuat dari konduktor berbentuk kawat, sedangkan untuk panel
terbuat dari konduktor berbentuk batang. Jika pada rel daya mengalir arus hubung singkat,
maka rel daya akan mengalami gaya elektromagnetik yang besarnya bergantung pada
besarnya arus hubung singkat dan jarak antar rel. maka ari itu, jarak antar rel harus dirancang
sehingga gaya yang diakibatkan arus hubung singkat tidak sampai merusak rel dan isolator
penyangganya.

3. Pelindung Tegangan Lebih


3.1.

Pengertian dan Fungsi

Tegangan lebih adalah tegangan yang nilainya melebihi teganagn puncak maksimum pada
sistem tenaga listrik. Berdasarkan jenisnya, tegangan lebih dibagi menjadi dua yaitu tegangan
lebih internal dan teganagn lebih eksternal.berdasarkan frekuensi dan durasinya, tegangan
lebih terdiri dari teganagn lebih sementara berfrekuensi daya dan teganagn lebih transien.
Tegangan lebih sementara berfrekuensi daya diakibatkan oleh hubung singkat satu fasa ke
tanah, reonansi, pelepasan beban tib-tiba, dan transmisi panjang berbeban rendah. Sedangkan
teganagn lebih transien terjadi karena adanya operasi hubung buka (switching operation)

pada sistem ketika energensi, pengioliran gangguan, pemutusn arus kapasitif-induktif,


pelepasan beban.
Tegangan lebih eksternal adalah teganagn impuls yang terjad pada sistem tenaga listrik akibat
sambaran peti pada kawat hantaran udara transmisi sistem tersebut. Apaila teganagn lebih
yang ditimbulkan oleh impuls petir tidak dapat diatasi maka akan merusak isolasi pada gardu
sehingga merusak jaringan dan perangkat teganagn tinggi lain.
3.2.

Prinsip Kerja dan Jenis Alat Pelindung Tegangan Lebih

Alat pelindung tegangan lebih dipasang pararel dengan peralatan yang dilindungi. Prinsip
kerja pelindung teganag lebi adalah pelindung berperan sebagai isolasipada keadaan tegangan
jaringan normal, pelindung berperan sebagai penghantar dan mengalirkan arus impul ke tanah
jika terjadi terjadi tegangan impuls tinggi sehingga perangkat dan jaringan terlindungi.
Berdasarkan konstruksinya pelindung tegangan lebih memiliki tiga jenis, yaitu sela batang,
arrester ekspulsi dan arrester katup.
Sela batang memiliki konstruski bushing transformator, isolator saluran teganagn tinggi dan
pemutus daya. Sela batang memiliki dua elektroda batang dan isolator pendukung. Satu
elektroda dihubungkan ke tanah dan satu yang lain dihubungkan ke kawat jaringan.
Arester ekspulsi memiliki dua sela yang terhubung seri yaitu sela luar dan sela dalam. Arester
ekspulsi digunakan pada sistem teaga listrik bertegangan hingga 33kV. Elektroda sela dalam
dibumikan dlm bentuk pipa. Dengan adanya dua pasang elektroda ini membuat arrester
mampu memikul teganagn tinggi frekensi daya tanpa terjadinya pelepasan muataan atau
korona dan arus bocor ke tanah. Jika pada term,inal arrester tiba suatu tegangan impus petir,
maka sela dalam dan sela luar sama-sama terpecik, sehingga arus petir mengalir ke tanah.
Arus petir menimbilkan busur api pada kedua sela, namun karena durasi yang sangat singkat
busur api relatif rendah. Arester ekspulsi dapat digunakan untuk melindungi transformator
distribusi bertegangan 3-15 kV, namun belum memadai untuk melindungi transformator daya.
Arrester ekspulsi memiliki kelebihan yaitu, konstruksinya yang sederhana dan ekonomis,
selain itu kerja arrester ini lebih baik dibandingkan sela batang.
Arester katup memiliki pembagian jenis berdasarkan sela perciknya, yaitu arrester sela pasif,
arrester sela aktif, arrester tanpa sela percik. Arrester sela pasif digunakan pada jaringan
distribusi hantaran udara. Arrester sela aktif digunakan pada jaringan teganagan tinggi dan
titik pusat jaringan distribusi. Arrester tanpa sela diguakan untuk semua tingkat tegangan.

Arester ktup sela pasif memiliki konstruksiyang terdiri dari sela percik, resistor non-linier dan
isolator tabung. Sela percik terdiri dari beberapa susunan elekroda plat-plat yang terhubung
seri. Sela percik dan resistor non-linier keduanya ditempatkan dalam tabung isolasi tertutup,
shingga kerja arrester ini tidak dipengaruhi oleh keadaan udara sekitar. Arester sela aktif
memlikik konstruksi yang sama pada arrester sela pasif, namun arrester sela aktif memiliki
cara sendiri dalam memadamkan busur api, yaitu memperpanjang dan mendinginkan busur
api dengan cara membangkikan medan magnet pada sela percik.
Areser katup tanpa sela percik menggunakan resistor non-linier yang terbuat dari logam
oksia. Arrester ini dapat mengalirkan arus dari orde ampere samapi kiloampere, sedangkan
teganagan kerjanya dari orde volt hingga ratusan kilovolt. Kelemahan arrester iniadalah
mengalirkan arus bocor kontinu ke tanah, menyerap energy yang besar, dan mengandung
kapasitansi, yaitu kapasitansi yang dibentuk piring-piring logam oksida.
4. Sakelar Pemisah
4.1 Pengertian dan Fungsi
Sakelar pemisah adalah alat proteksi yang digunakan untuk memisahkan kontak sehingga
akan terjadi pemutusan aliran listrik. Pemutusan dilakukan untuk melindungi sistem apa bila
terjadi gangguan dan bila akan dilakukan maintenaince. Komponen uatam suatu sakelar
adalah rangka pelindung, isolator pendukung, lengan pemisah, terminal dan penggerak.
Ketika suatu kawat transmisi dipisahkan dari sistem, kawat transmisi akan menyimpan
muatan listrik. Selain daripada itu, awan bermuatan disekitar transmisi dan sambaran petir
langsung maupun tidak langsung dapat menginduksikan muatan listrik pada kawat transmisi.
Oleh karena itu, kawat transmisi yang sudah dipisahkan dari sistem harus selalu dibumikan.
Tugas tersebut dilakukan oleh sakelar pembumian yang berfungsi menghubungkan kawat
transmisi ke tanah sesaat sakelar pemisah membua. Hal yang sama dilakukan ketika
memisahkan kapasitor shunt dari sistem.
4.2. Prinsip Kerja dan Jenis
Apabila terjadi gangguan pada sistem dan jaringan maka sakelar pemisah akan dibekerja
dengan penggerak mekanik dan atau penggerak elektrik yang dikendalika jarak jauh oleh
operator. Berdasarkan konstruksinya, sakelar pemisah dibagi menjadi dua jenis, yaitu sakelar
pemisah kutub tunggal (satu fasa) dan sakelar pemisah tiga kutub (tiga fasa). Berdasarkan
lokasi pemasangannya, sakelar pemisah dibagi atas pasangan dalam dan pasangan luar.

Berdasarkan arah gerakan lengan pemisah, skelar pemisah dibagi atas gerak lengan vertical
dan horizontal. Sedangkan berdasarkan jumlah kontaknya terdiri dari kontak tunggal dan
kontak ganda.
Interlok antar sakelar pemisah dengan pemutus daya dibuat untuk mencegah kesalahan
operasi. Interlok harus memenuhi syarat yaitu sakelar pemisah ditutup sebelum pemutus daya
terkunci pada posisi terbuka, sakelar pembumian ditutup hanya ketika sakelar pemisah
terbuka, sakelar pemisah dapat ditutup hanya ketika pemutus daya dan sakelar pembumian
dalam keadaan terbuka. Ada tiga cara mengadakan interlock, yaitu dengan hubungan
mekanik, dengan menggunakan kunci, atau dengan mengggunakana solenoid.

Peralatan Tegangan menengah


Lighting Surge Arrester: Penggunaan lighting arrester pada sistem distribusi adalah untuk
melindung peralatan terhadap gangguan akibat sambaran petir. Arrester juga digunakan untuk
melindungi saluran distribusi dari flashover. Arrester dipasang dekat atau pada peralatan yang
dihubungkan dari fasa konduktor ke tanah.
Pada saat sistem bekerja normal, arrester memiliki sifat sebagai isolator. Apabila terjadi
sambaran petir, arrester akan berubah menjadi konduktor dan membuat jalur ke tanah
(bypass) yang mudah dilalui oleh arus petir, sehingga tidak menimbulkan tegangan lebih
yang tinggi pada trafo.
"BOSUNG"
1. 24 KV- 5 KA
2. 24 KV - 10 KA

Open Fuse Cut Out : Pada umumnya fuse cutout dipasang antara trafo distribusi dgn saluran
distribusi primer. Pada saat terjadi gangguan, elemen fuse akan melebur dan memutuskan
rangkaian sehingga akan melindung trafo distribusi dari kerusakan akibat gangguan dan arus

lebih pada saluran primer, atau sebaliknya memutuskan saluran primer dari trafo distribusi
apabila terjadi gangguan pada trafo atau jaringan sisi sekunder sehingga akan mencegah
terjadinya pemadaman pada seluruh jaringan primer.

"BOSUNG"
1. 24 KV- 100 A
2. 24 KV - 200 A

K type Fuse Link : fuse adalah peralatan proteksi arus lebih yang bekerja dengan
menggunakan prinsip melebur. Terdapat 2 tipe fuse berdasarkan kecepatan melebur elemen
fusenya (fuselink), yaitu tipe K (cepat) dan tipe T (lambat).

KEARNEY Fuse Link ( K type )


1. 2A, 3A, 4A, 5A, 6A, 8A, 10A, 12A, 15A, 20A
2. 25A, 30A, 40A, 50A
3. 60A, 65A, 80A, 100A
4. 140A
5. 200A

. Kabel tegangan menengah (medium voltage)


Kabel tegangan menengah dipakai untuk alliran listrik dengan kapasitas sampai 20 kV

GARDU DISTRIBUSI
Gardu distribusi merupakan salah satu komponen dari suatu sistem distribusi yang berfungsi
untuk menghubungkan jaringan ke konsumen atau untuk membagikan/ mendistribusikan
tenaga listrik pada beban/konsumen baik konsumen tegangan menengah maupun konsumen
tegangan rendah.

Gbr. Gardu distribusi.


Transformator distribusi digunakan untuk menurunkan tegangan listrik dari jaringan
distribusi tegangan tinggi menjadi tegangan terpakai pada jaringan distribusi tegangan rendah
(step down transformator); misalkan tegangan 20 KV menjadi tegangan 380 volt atau 220
volt. Sedan transformator yang digunakan untuk menaikan tegangan listrik (step up
transformator), hanya digunakan pada pusat pembangkit tenaga listrik agar tegangan yang

didistribusikan pada suatu jaringan panjang (long line) tidak mengalami penurunan tegangan
(voltage drop) yang berarti; yaitu tidak melebihi ketentuan voltage drop yang diperkenankan
5% dari tegangan semula.
Jenis transformator yang digunakan adalah transformator satu phasa dan ransformator tiga
phase. Adakalanya untuk melayani beban tiga phase dipakai tiga buah transformator satu
phase dengan hubungan bintang (star conection) atau hubungan delta (delta conection) .
Sebagian besar pada jaringan distribusi tegangan tinggi (primer) sekarang ini dipakai
transformator tiga phase untuk jenis out door. Yaitu jenis transformator yang diletakkan diatas
tiang dengan ukuran lebih kecil dibandingkan dengan jenis in door, yaitu jenis yang
diletakkan didalam rumah gardu.
C. Macam-Macam Gardu Distribusi
Gardu distribusi dapat dibedakan dari beberapa hal yang diantaranya :
1. Gardu Hubung
Gardu hubung adalah gardu yang berfungsi untuk membagi beban pada sejumlah gardu atau
untuk menghubungkan satu feeder TM dengan feeder TM yang lain. Dengan demikian pada
gardu ini hanya dilengkapi peralatan hubung dan bila perlu misalnya untuk melayani
konsumen TM dilengkapi dengan alat pembatas dan pengukur.
2. Gardu Trafo
Gardu Trafo adalah gardu yang akan berfungsi untuk membagikan energi listrik pada
konsumen yang memerlukan tegangan rendah. Dengan demikian pada gardu trafo
dipasang/ditempatkan satu atau dua trafodistribusi yang dipergunakan untuk merubah
tegangan menengah menjadi tegangan rendah selain dari peralatan hubungnya untuk
melayani konsumen tegangan rendah.
3. Gardu Open Type (Gardu Sel)
Gardu open type adalah gardu distribusi yang mempunyai peralatan hubung terbuka. Dimana
dalam bekerjanya pisau-pisau dalam peralatan hubung, dapat dengan mudah dilihat mata
biasa (dapat diawasi) baik pada saat masuk (menutup) atau saat keluar (membuka). Biasanya
tempat pemasangan peralatan hubung semacam ini diberi sekat antara satu dengan yang
lainnya yang terbuat dari tembok dan karena hal ini, gardu tembol open type sering disebut
gardu sel
Konstruksi jaringan distribusi dengan saluran udara terdiri dari beberapa komponen peralatan
utama, yaitu :
1. Tiang
Tiang listrik merupakan salah satu komponen utama dari konstruksi jaringan distribusi
dengan saluran udara. Pada jaringan distribusi tiang yang biasa digunakan adalah tiang beton.

Tiang listrik harus kuat karena selain digunakan untuk menopang hantaran listrik juga
digunakan untuk meletakan peralatan-peralatan pendukung jaringan distribusi tenaga listrik
tegangan menengah. Penggunaan tiang listrik disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Tiang listrik yang dipakai dalam distribusi tenaga listrik harus memiliki sifat-sifat antara
lain :
a. Kekuatan mekanik yang tinggi
b. Perawatan yang mudah
c. Mudah dalam pemasangan konduktor saluran dan perlengkapannya
2. Isolator
Isolator adalah suatu peralatan listrik yang berfungsi untuk mengisolasi konduktor atau
penghantar dengan tiang listrik. Menurut fungsinya, isolator dapat ditinjau dari dua segi yaitu
:
a. Fungsi dari segi elektris : Untuk menyekat / mengisolasi antara kawat fasa dengan tanah
dan kawat fasa lainnya.
b. Fungsi dari segi mekanis : Menahan berat dari konduktor / kawat penghantar, mengatur
jarak dan sudut antar konduktor / kawat penghantar serta menahan adanya perubahan pada
kawat penghantar akibat temperatur dan angin.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan isolator yang banyak digunakan pada sistem
distribusi tenaga listrik adalah isolator dari bahan porselin / keramik dan isolator dari bahan
gelas. Kekuatan elektris porselin dengan ketebalan 1,5 mm dalam pengujian memiliki
kekuatan 22 sampai 28 kVrms/mm. Kekuatan mekanis dengan diameter 2 cm sampai 3 cm
mampu menahan gaya tekan 4,5 ton/cm.
Kegagalan kekuatan elektris sebuah isolator dapat terjadi dengan jalan menembus bahan
dielektrik atau dengan jalan loncatan api (flashover) di udara sepanjang permukaan isolator.
Kasus pertama dapat diatasi dengan cara memilih kualitas bahan isolator dan
pengolahan/perawatan yang baik. Kasus ke dua dapat diatasi dengan memperbaiki tipe atau
konstruksi dari isolatornya. Pada umumnya semua konstruksi isolator direncanakan untuk
tegangan tembus yang lebih tinggi dari tegangan flashover, sehingga biasanya kekuatan
elektrik isolator dikarakteristikan oleh tegangan flashovernya
Ada beberapa jenis konstruksi isolator dalam sistem distribusi, antara ain :
a. Isolator gantung ( suspension type insulator )
b. Isolator jenis pasak ( pin type insulator )
c. Isolator batang panjang ( long rod type insulator )
d. Isolator jenis post saluran ( line post type insulator )

Isolator Gantung (Suspension Type Insulator)


Type Insulator)

Isolator Jenis Post Saluran (Pin Post

Isolator Pos Saluran (Line Post Insulator)


Isolator jenis ini terbuat dari porselin yang bagian bawahnya diberi tutup (cap) besi
cor yang disemenkan pada porselin serta pasak baja yang disekrupkan padanya. Karena jenis
ini dipakai sendiri (tidak dalam gandengan) serta kekuatan mekanisnya rendah, maka isolator
pos saluarantidak dibuat dalam ukuran yang besar.
Isolator Pos Pin (Pin Post Iinsulator)
Isolator pos pin digunakan pada daerah yang membutuhkan keandalan yang tinggi.
Bentuk dari isolator jenis pos pin
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh isolator pos pin, antara lain:
1. Bebas dari cacat, karena semen dan tangkai besi (metal flange) dipasang di sisi luar
porselin, sehingga tidak menyebabkan pemuaian.
2. Bebas dari kerusakan akibat lewat-denyar (puncture), kuat medan listrik pada isolator pos
pin seragam dan lebih rendah dibandingkan dengan isolator pasak (pin type insulator). Oleh
karena badan isolatornya tidak bocor, maka lewat-denyar yang terjadi di luar porselin
meskipun terjadi tegangan impuls secara tiba-tiba. Demikian pula pada inti isolator, terbebas
dari puncture..
3. Mempunyai sifat antikontaminasi yang baik, isolator pos pin mempunyai sifat
antikontaminasi yang baik dibandingkan isolator jenis lain, karena:
mempunyai jarak rayap (creepage distance) yang terlindungi besar hingga 50% dari
total jarak rayap.
mempunyai bentuk profil yang baik, karena mampu meneteskan kontaminan dari
tubuhnya

memepunyai jarak celah udara (air gap) yang besar antara bagian dalam sirip dengan
permukaan isolator, sehingga dapat menghindari terjadinya jembatan air yang
terkontaminasi.
4. Tahan terhahap busur api, arus berupa busur api yang mengalir akibat
lewat denyar akibat polusi dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan
isolator. Isolator pos pin bersifat mampu menahan busur api hingga circuit
breaker memutus aliran daya
3. Penghantar
Penghantar pada sistem jaringan distribusi berfungsi untuk menghantarkan arus listrik dari
suatu bagian keinstalasi atau bagian yang lain. Penghantar ini harus memiliki sifat-sifat
sebagai berikut :
a. Memiliki daya hantar yang tinggi
b. Memilki kekuatan tarik yang tinggi
c. Memiliki berat jenis yang rendah
d. Memiliki fleksibilitas yang tinggi
e. Tidak cepat rapuh
f. Memiliki harga yang murah
Jenis-jenis bahan penghantar, antara lain :
a. Kawat logam biasa, contohnya AAC ( All Alumunium Conductor ).
b. Kawat logam campuran, contohnya AAAC ( All Alumunium Alloy Conductor ).

Gambar 3.7. Pengahntar AAAC

Gambar 3.8. Trafo Distribusi Satu Fasa

Gambar 3.9. Trafo Distribusi Tiga Fasa


Fuse Cut Out (FCO) adalah sebuah alat pemutus rangkaian listrik yang berbeban pada
jaringan distribusi yang bekerja dengan cara meleburkan bagian dari komponenya (fuse link)
yang telah dirancang khusus dan disesuaikan ukurannya. FCO ini terdiri dari :
1. Rumah Fuse (Fuse Support)
2. Pemegang Fuse (Fuse Holder)
3. Fuse Link
Berdasarkan sifat pemutusanya Fuse Link terdiri dari 2 tipe yaitu :
1. Tipe K (pemutus cepat)
2. Tipe T (pemutus lambat)
FCO pada jaringan Distribusi digunakan sebagai pengaman percabangan 1 phasa maupun
sebagai pengaman peralatan listrik (trafo Distribusi non CSP, kapasitor)
6. Auto Voltage Regulator (AVR)

Gambar 3.12. Auto Voltage Regulator


Auto Voltage Regulator (AVR) merupakan auto transformer yang berfungsi untuk
mengatur/menaikan tegangan secara otomatis. Rangkaian dari regulator ini terdiri dari auto
transformer penaik tegangan.
7. Meter Expor-Impor

Gambar 3.13. Meter Expor-Impor


Meter Kirim Terima disini berfungsi untuk mengetahui berapa kWH yang dikirim dan
diterima antar UPJ.
Pada Meter Ex-Im terdapat CT dan PT yang berfungsi untuk mentransformasikan tegangan
dan arus dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah untuk proses pengukuran.
8. Peralatan Hubung
Yang termasuk dalam peralatan hubung antara lain ABSw, LBS, Recloser, Sectionaliser, dan
lain sebagainya.
3.3.2 Prosedur Pengoperasian Sistem Distribusi
Yang dimaksud dengan prosedur operasi pengaturan dan pengusahaan jaringan tegangan
menengah adalah usaha menjamin kelangsungan penyaluran tenaga listrik, mempercepat
penyelesaian gangguan gangguan yang timbul, serta dilain pihak menjaga keselamatan baik
petugas pelaksana operasi maupun instalasinya sendiri.
Pengoperasian jaringan distribusi tegangan menengah tersebut dilaksanakan dengan :
1. Memanuver atau memanipulasi jaringan, dengan menggunakan telekontrol maupun
dilapangan.

2. Menerima informasi - informasi mengenai keadaan jaringan dan kemudian membuat


penilaian (observasi) seperlunya guna menetapkan tindak lanjutan.
3. Menerima besaran-besaran pengukuran pada jaringan yang kemudian membuat penilaian
(observasi) seperlunya guna menetapkan tindak lanjutan.
4. Mengkoordinasikan pelaksanaanya dengan pihak - pihak lain yang bersangkutan.
5. Mengawasi jaringan secara kontinyu.
6. Mengusut dan melokalisir gangguan jaringan.
7. Mendeteksi gangguan jaringan sehingga titik gangguannya dapat ditemukan untuk
diperbaiki.
Kegiatan operasi distribusi ini dibedakan dalam dua keadaan yaitu keadaan normal dan
keadaan gangguan. Operasi sistem distribusi juga tergantung dari beberapa hal, antara lain
berdasarkan pada konfigurasi dan pola jaringan sistem distribusi yang digunakan.
Dalam operasi sistem distribusi, setiap alur tugas dari pekerjaan ditentukan oleh prosedur
tetap yang biasa disebut Standing Operation Procedure ( SOP ), dimana SOP adalah prosedur
yang dibuat berdasarkan kesepakatan / ketentuan yang harus dipatuhi oleh seseorang atau tim
untuk melaksanakan tugas / fungsinya agar mendapatkan hasil yang optimal dan untuk
mengantisipasi kesalahan manuver, kerusakan peralatan dan kecelakaan manusia..
3.3.3 Manuver Jaringan Distribusi
Manuver / manipulasi jaringan distribusi adalah serangkaian kegiatan membuat modifikasi
terhadap operasi normal dari jaringan akibat dari adanya gangguan atau pekerjaan jaringan
yang membutuhkan pemadaman tenaga listrik, sehingga dapat mengurangi daerah
pemadaman dan agar tetap tercapai kondisi penyaluran tenaga listrik yang semaksimal
mungkin. Kegiatan yang dilakukan dalam manuver jaringan antara lain :
a. Memisahkan bagianbagian jaringan yang semula terhubung dalam keadaan bertegangan
ataupun tidak bertegangan dalam kondisi normalnya.
b. Menghubungkan bagianbagian jaringan yang semula terpisah dalam keadaan bertegangan
ataupun tidak bertegangan dalam kondisi normalnya.
Optimalisasi atas keberhasilan kegiatan manuver jaringan dari segi teknis ditentukan oleh
konfigurasi jaringan dan peralatan manuver yang tersedia di sepanjang jaringan. Peralatan
yang dimaksud adalah peralatan peralatan jaringan yang berfungsi sebagai peralatan
hubung.
Peralatan tersebut antara lain yaitu :
1. Pemutus Tenaga (PMT)

Pemutus tenaga (PMT) adalah adalah alat pemutus tenaga listrik yang berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan hubungan listrik (switching equipment) baik dalam
kondisi normal (sesuai rencana dengan tujuan pemeliharaan), abnormal (gangguan), atau
manuver system, sehingga dapat memonitor kontinuitas system tenaga listrik dan keandalan
pekerjaan pemeliharaan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pemutus tenaga atau Circuit Breaker (CB)
adalah :
a. Harus mampu untuk menutup dan dialiri arus beban penuh dalam waktu yang lama.
b. Dapat membuka otomatis untuk memutuskan beban atau beban lebih.
c. Harus dapat memutus dengan cepat bila terjadi hubung singkat.
d. Celah (Gap) harus tahan dengan tegangan rangkaian, bila kontak membuka.
e. Mampu dialiri arus hubung singkat dengan waktu tertentu.
f. Mampu memutuskan arus magnetisasi trafo atau jaringan serta arus pemuatan (Charging
Current)
g. Mampu menahan efek dari arching kontaknya, gaya elektromagnetik atau kondisi termal
yang tinggi akibat hubung singkat.
PMT tegangan menengah ini biasanya dipasang pada Gardu Induk, pada kabel masuk ke
busbar tegangan menengah (Incoming Cubicle) maupun pada setiap rel/busbar keluar
(Outgoing Cubicle) yang menuju penyulang keluar dari Gardu Induk (Yang menjadi
kewenangan operator tegangan menengah adalah sisi Incoming Cubicle). Ditinjau dari media
pemadam busur apinya PMT dibedakan atas :
- PMT dengan media minyak (Oil Circuit Breaker)
- PMT dengan media gas SF6 (SF6 Circuit Breaker)
- PMT dengan media vacum (Vacum Circuit Breaker)
Konstruksi PMT sistem 20 kV pada Gardu Induk biasanya dibuat agar PMT dan mekanisme
penggeraknya dapat ditarik keluar / drawable (agar dapat ditest posisi apabila ada
pemadaman karena pekerjaan pemeliharaan maupun gangguan).
Di wilayah kerja PT. PLN (Persero) UPJ Wiradesa sendiri terdapat 4 feeder beserta PMT
Feeder yang aktif. Adapun masing-masing Feeder tersebut beserta PMT feeder yang aktif
meliputi :
- PKN 3
- PKN 5
- PKN 8

- PKN 12
2. Disconector (DS) / Saklar Pemisah
Adalah sebuah alat pemutus yang digunakan untuk menutup dan membuka pada komponen
utama pengaman/recloser, DS tidak dapat dioperasikan secara langsung, karena alat ini
mempunyai desain yang dirancang khusus dan mempunyai kelas atau spesifikasi tertentu, jika
dipaksakan untuk pengoperasian langsung, maka akan menimbulkan busur api yang dapat
berakibat fatal. Yang dimaksud dengan pengoperasian langsung adalah penghubungan atau
pemutusan tenaga listrik dengan menggunakan DS pada saat DS tersebut masih dialiri
tegangan listrik.
Pengoperasian DS tidak dapat secara bersamaan melainkan dioperasikan satu per satu karena
antara satu DS dengan DS yang lain tidak berhubungan, biasanya menggunakan stick
(tongkat khusus) yang dapat dipanjangkan atau dipendekkan sesuai dengan jarak dimana DS
itu berada, DS sendiri terdiri dari bahan keramik sebagai penopang dan sebuah pisau yang
berbahan besi logam sebagai switchnya.

Gambar 3.14. Disconecting Switch (DS)


3. Air Break Switch (ABSw)
Air Break Switch (ABSw) adalah peralatan hubung yang berfungsi sebagai pemisah dan
biasa dipasang pada jaringan luar. Biasanya medium kontaknya adalah udara yang dilengkapi
dengan peredam busur api / interrupter berupa hembusan udara. ABSw juga dilengkapi
dengan peredam busur api yang berfungsi untuk meredam busur api yang ditimbulkan pada
saat membuka / melepas pisau ABSw yang dalam kondisi bertegangan . Kemudian ABSw
juga dilengkapi dengan isolator tumpu sebagai penopang pisau ABSw , pisau kontak sebagai
kontak gerak yang berfungsi membuka / memutus dan menghubung / memasukan ABSw ,
serta stang ABSw yang berfungsi sebagai tangkai penggerak pisau ABSw. Perawatan rutin
yang dilakukan untuk ABSw karena sering dioperasikan, mengakibatkan pisau-pisaunya
menjadi aus dan terdapat celah ketika dimasukkan ke peredamnya / kontaknya. Celah ini
yang mengakibatkan terjadi lonjakan bunga api yang dapat membuat ABSw terbakar.

Gambar 3.15. Air Break Switch Gambar 3.16. Handle ABSW


Pemasangan ABSw pada jaringan, antara lain digunakan untuk :
a. Penambahan beban pada lokasi jaringan
b. Pengurangan beban pada lokasi jaringan
c. Pemisahan jaringan secara manual pada saat jaringan mengalami gangguan.
ABSW terdiri dari :
1. Stang ABSW
2. Cross Arm Besi
3. Isolator Tumpu
4. Pisau Kontak
5. Kawat Pentanahan
6. Peredam Busur Api
7. Pita Logam Fleksibel
4. Load Break Switch (LBS)
Load Break Switch (LBS) atau saklar pemutus beban adalah peralatan hubung yang
digunakan sebagai pemisah ataupun pemutus tenaga dengan beban nominal. Proses
pemutusan atau pelepasan jaringan dapat dilihat dengan mata telanjang. Saklar pemutus
beban ini tidak dapat bekerja secara otomatis pada waktu terjadi gangguan, dibuka atau
ditutup hanya untuk memanipulasi beban.

Gambar 3.17. Load Break Switch ( LBS )


5. Recloser ( Penutup Balik Otomatis / PBO )
Recloser adalah peralatan yang digunakan untuk memproteksi bila terdapat gangguan, pada
sisi hilirnya akan membuka secara otomatis dan akan melakukan penutupan balik (reclose)
sampai beberapa kali tergantung penyetelannya dan akhirnya akan membuka secara
permanen bila gangguan masih belum hilang (lock out). Penormalan recloser dapat dilakukan
baik secara manual maupun dengan sistem remote. Recloser juga berfungsi sebagai pembatas
daerah yang padam akibat gangguan permanen atau dapat melokalisir daerah yang terganggu
Recloser mempunyai 2 (dua) karateristik waktu operasi (dual timming), yaitu operasi cepat
(fast) dan operasi lambat (delay)
Menurut fasanya recloser dibedakan atas :
a. Recloser 1 fasa
b. Recloser 3 fasa
Menurut sensor yang digunakan, recloser dibedakan atas :
a. Recloser dengan sensor tegangan (dengan menggunakan trafo tegangan) digunakan di jawa
timur
b. Recloser dengan sensor arus (dengan menggunakan trafo arus) digunakan di jawa tengah

Gambar 3.18. Recloser


3.5 Peralatan pengukuran tenaga listrik

Dalam operasi dan pemeliharaan jaringan distribusi kemampuan penggunaan alat ukur sangat
dibutuhkan untuk mengetahui kondisi dan indikasi kerusakan dari sistem distribusi serta
komponen pendukungnya. Berikut ini peralatan pengukuran yang digunakan dalam operasi
dan pemeliharaan jaringan distribusi

SALURAN TEGANGAN RENDAH


Saluran Tegangan Rendah terdiri dari 3 (tiga) macam, yaitu Saluran Udara Tegangan
Rendah (SUTR), Saluran Kabel Udara Tegangan rendah (SKUTR), dan Saluran Kabel Tanah
Tegangan Rendah (SKTTR).
Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) dengan LVTC (Low Voltage Twistad Cable),
saat ini sudah dikembangkan, hal ini untuk mempertinggi keandalan, faktor keamanan dan
lain-lain. Untuk kabel LVTC ini pemasangannya, 1) di bawah SUTM (Underbuilt) dan 2)
khusus LVTC (JTR murni). Spesifikasi kabel LVTC. - Accesoreis twisted cable terdiri dari :
1. Suspension assembly
2. Large angle assembly
3. Dead end assembly
4. Insulated tap connector berbagai ukuran
5. Insulated Nontension joint
6. Insulated tension joint.
7. Guy set / stay set SUTR
Pemakaian guy set pada SUTR digunakan type ringan, pada stay set SUTR ini tidak
mempergunakan guy insulator. Spesifikasi material guy set sesuai dengan gambar standar,
sedang kawat baja galvanisnya sbb. :
1. Ultimate load : 17 kN
2. Penampang : 22 mm2
3. Material : baja
Dalam pemasangan Saluran Udara, konduktor harus ditarik tidak terlalu kencang dan
juga tidak boleh terlalu kendor, agar konduktor tidak menderita kerusakan mekanis maupun
kelelahan akibat tarikan dan ayunan, dilain pihak dicapai penghematan pemakaian konduktor.
Dalam pemasangan kabel udara setelah tiang berdiri, sambil menggelar kabel dari haspel
terlebih dahulu dipasang perlengkapan Bantu (klem service), pengikat, pemegang dan
sebagainya. Untuk kabel penghantar berisolasi, bagian yang diikat pada pemegang di tiang
adalah penghantar Nol, baik untuk dua kabel (sistem satu fasa) maupun empat kabel (sistem
tiga fasa). Penarikan kabel dimulai dari salah satu tiang ujung, kemudian ditarik dengan alat

penegang (hand tracker. Setelah tarikan dianggap cukup kuat, maka pada setiap tiang kabel
Nol diikat dengan pemegang yang telah disiapkan.
Pada kontruksi jaringan tegangan rendah atau menengah harus diperhatikan lintasan
yang akan dilewati saluran kabel, misalnya pada saat kabel udara melintasi jalan umum,
kabel udara yang dipasang di bawah pekerjaan konstruksi, kabel udara melintasi sungai, dan
lintasan- lintasan lain yang perlu perhatian sehubungan dengan keamanan kabel dan
keselamatan mereka yang berada di sekitar kabel tersebut. Berikut ini adalah beberapa contoh
bentuk saluran kabel udara yang melewati lokasi tersebut, dan ukuran-ukuran jarak aman
terhadap lingkungan yang tercantum dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakaan
tugas pemasangan kabel.
Gambar 9 sampai dengan Gambar 11, adalah kontruksi tiang penegang saluran udara
tegangan rendah sesuai dengan keperluan dimana tiang akan dipasang.

Keterangan Gambar 9.

Gambar 9. konstruksi tiang penyangga (TR1)

Keterangan Gambar 10.

Gambar 10. konstruksi tiang penyangga sudut (TR2)

Keterangan gambar 11.

Gambar 11. konstruksi tiang awal dan akhir (TR3)

Peralatan Proteksi Tenaga Listrik


Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah adalah proteksi yang dipasang pada
peralatan-peralatan listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluran
tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi
listrik (substation distribution) dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik
dengan aman. Proteksi transmisi tenaga listrik diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar
jika terjadi gangguan peralatan yang berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak
mengalami kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam kondisi menyala. Jika
proteksi bekerja dengan baik, maka pekerja dapat melakukan pemeliharaan transmisi tenaga
listrik dalam kondisi bertegangan. Jika saat melakukan pemeliharaan tersebut terjadi
gangguan, maka pengaman-pengaman yang terpasang haurus bekerja demi mengamankan
sistem dan manusia yang sedang melaukukan perawatan.
Tujuan dari sistem proteksi adalah:
untuk mengidentifikasi gangguan, memisahkan bagian instalasi yang terganggu dari bagian
lain yang masih normal dan sekaligus mengamankan instalasi dari kerusakan
atau
kerugian yang lebih besar, serta memberikan informasi / tanda bahwa telah terjadi gangguan,
yang pada umumnya diikuti dengan membukanya PMT.
Pemutus Tenaga ( PMT ) untuk memisahkan / menghubungkan satu bagian instalasi
dengan bagian instalasi lain, baik instalasi dalam keadaan normal maupun dalam keadaan
terganggu. Batas dari bagian-bagian instalasi tersebut dapat terdiri dari satu PMT atau lebih
Sedangkan untuk syarat yang harus dimiliki oleh sebuah sistem proteksi adalah Sensitif :
yaitu mampu merasakan gangguan sekecil apapun
Andal : yaitu akan bekerja bila diperlukan (dependability) dan tidak akan bekerja bila tidak
diperlukan (security).
Selektif : yaitu mampu memisahkan jaringan yang terganggu saja.

Cepat : yaitu mampu bekerja secepat-cepatnya


Proteksi ini berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem berarti system tersebut
tidak merasakan gangguan sekalipun. Sedangkan proteksi atau pengaman sistem, sistem
merasakan gangguan tersebut namun dalam waktu yang sangant singkat dapat diamankan.
Sehingga sistem tidak mengalami kerusakan akibat gangguan yang terlalu lama.
2. Relay Proteksi

ELEMEN PEMBANDING

Elemen ini berfungsi menerimabesaran setelah terlebih dahulu besaran itu diterima oleh
elemen pengindera untukmembandingkan besaran listrikpada saat keadaan normal
denganbesaran arus kerja relai.

ELEMEN PENGINDERA

Elemen ini berfungsi untukmerasakan besaran-besaran listrik,seperti arus, tegangan,


frekuensi,dan sebagainya tergantung relai yang dipergunakan.
Pada bagian ini besaran yang masuk akan dirasakan keadaannya,apakah keadaan yang
diproteksi itu mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal, untuk selanjutnya besaran
tersebut dikirimkan keelemen pembanding.

ELEMEN PENGUKUR

Elemen ini berfungsi untuk mengadakan perubahan secara cepet pada besaran ukurnya dan
akan segera memberikan isyarat untuk membuka PMT atau memberikan sinyal.
Relay adalah Sebuah alat yang bertugas menerima/mendeteksi besaran tertentu untuk
kemudian mengeluarkan perintah sebagai tanggapan (respons) atas besaran yang
dideteksinya.
Berdasarkan cara mendeteksi besaran:
a)

Relay Primer; besaran yang dideteksi misalnya arus, dideteksi secara langsung.

b) Relay Sekunder; besaran yang dideteksi, melalui alat-alat bantu misalnya trafo arus/trafo
tegangan
Konstruksi Relay terdiri dari dua bagian utama yaitu kumparan magnit dan kumparan induksi
3. Jenis-jenis Relay
a. Relay Arus Lebih
Merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang
pada Jaringan Tegangan tinggi, Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator
tenaga. Rele ini berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan
phasa-phasa.

Jenis Relay Arus Lebih:


Relay invers; waktu kerjanya tergantung kepada besarnya arus hubung singkat, makin besar
makin cepat. Pada koordinasi antara relay-relay invers berlaku koordinasi arus dan waktu
sekaligus.
Relay Cepat; digunakan dalam kombinasi dengan relay definit/invers apabila diperlukan
waktu kerja yang lebih cepat misalnya jika terjadi gangguan dengan arus hubung singkat
besar.
Relay Definit; bekerjanya tidak tergantung kepada besarnya arus hubung singkat yang
melaluinya. Waktu kerjanya disetel tertentu dan biasanya dikoordinasikan dengan waktu kerja
pengaman didepan dan dibelakangnya.
b. Relay Diffrensial
Relay Differensial pada prinsipnya adalah sama saja dengan relay arus lebih hanya saja lebih
peka karena harus bekerja terhadap arus yang kecil. Perbedaan dengan relay arus lebih
terletak pada rangkaian listrik yang bertugas mendeteksi arus.
c. Relai gangguan tanah terbatas
Rele Gangguan Tanah Terbatas ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap
tanah didalam daerah pengaman transformator khususnya untuk gangguan didekat titik netral
yang tidak dapat dirasakan oleh RELE differential, yang disambung ke instalasi trafo arus
( CT ) dikedua sisi.
d. Relai Bucholtz
Rele Bucholtz berfungsi untuk mendeteksi adanya gas yang ditimbulkan oleh loncatan
( bunga ) api dan pemanasan setempat dalam minyak transformator. Penggunaan rele deteksi
gas (Bucholtz) pada Transformator terendam minyak yaitu untuk mengamankan
transformator yang didasarkan pada gangguan Transformator seperti : arcing, partial
discharge, over heating yang umumnya menghasilkan gas.
e. Relai jansen
Relai Jansen berfungsi untuk mengamankan pengubah tap (tap changer) dari transformator.
Tap changer adalah alat yang terpasang pada trafo,berfungsi untuk mengatur tegangan
keluaran (sekunder) akibat beban maupun variasi tegangan pada sistem masukannya (input).
Tap changer umumnya dipasang pada ruang terpisah dengan ruang untuk tempat
kumparan,dimaksudkan agar minyak tap changer tidak bercampur dengan minyak tangki
utama. Untuk mengamankan ruang diverter switch apabila terjadi gangguan pada sistem tap
changer ,digunakan pengaman yang biasa disebut :RELE JANSEN (bucholznya Tap
changer).

Jenis dan tipe rele jansen bermacam-macam bergantung pada merk Trafo: misalnya RS
1000,LF 15,LF 30.
Rele jansen dipasang antara tangki tap changer dengan konservator minyaktap changer.
F. Relai zero sequenze current
Konstruksi dan prinsif kerjanya adalah seperti relay arus lebih, hanya rangkaian arusnya
yang bertugas mendeteksi arus zero sequenze yang berbeda. Juga karena arus zero sequenze
ini ordenya lebih kecil maka relay arus zero sequenze ini juga harus lebih peka dari relai arus
lebih.
Dalam keadaan normal maka arus dalam setiap fasa IR, IS, dan IT sama besarnya
(Simetris) masing-masing berbeda fasa 1200 , sehingga arus melewati kumparan Zo =0.
tetapi apabila ada gangguan hubung tanah maka keadaan arus setiap fasa tidak simetris lagi
dan mengalirkan komponen arus urutan nol lewat kumparan Zo sehingga relai arus zero
Sequenze bekerja.
G. Relai tekan lebih
Rele Tekanan Lebih ini berfungsi mengamankan tekanan lebih pada transformator,
dipasang pada transformator tenaga dan bekerja dengan menggunakan membrane.Tekanan
lebih terjadi karena adanya flash over atau hubung singkat yang timbul pada belitan
transformator tenaga yang terendam minyak, lalu berakibat decomposisi dan evaporasi
minyak, sehingga menimbulkan tekanan lebih pada tangki transformator.
H. Relai Impedansi
Relay impedansi disebut juga relay jarak atau impedance relay atau Distance relay.
Disebut relay impedansi karena mendeteksi impedansi tapi disebut relay jarak karena bersifat
mengukur jarak. Rele ini mempunyai beberapa karaktristik seperti mho, quadralateral,
reaktans, dll. Sebagai unit proteksi relai ini dilengkapi dengan pola teleproteksi seperti putt,
pott dan blocking. Jika tidak terdapat teleproteksi maka rele ini berupa step distance saja.
I. Directional Comparison Relay.
Relai penghantar yang prinsip kerjanya membandingkan arah gangguan, jika kedua relai
pada penghantar merasakan gangguan di depannyamaka relai akan bekerja. Cara kerjanya ada
yang menggunakan directional impedans, directional current dan superimposed
J. Relai hubung tanah (GFR)
Rele hubung tanah merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan
terpasang pada jaringan Tegangan tinggi,Tegangan menengah juga pada pengaman
Transformator tenaga.
K. Circuit Breaker (CB)

Circuit Breaker (CB) adalah salah satu peralatan pemutus daya yang berguna untuk
memutuskan dan menghubungkan rangkaian listrik dalam kondisi terhubung ke beban secara
langsung dan aman, baik pada kondisi normal maupun saat terdapat gangguan. Berdasarkan
media pemutus listrik / pemadam bunga api, terdapat empat jenis CB sbb:
1. Air Circuit Breaker (ACB), menggunakan media berupa udara.
2. Vacuum Circuit Breaker (VCB), menggunakan media berupa vakum.
3. Gas Circuit Breaker (GCB), menggunakan media berupa gas SF6.
4. Oil Circuit Breaker (OCB), menggunakan media berupa minyak.
Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu peralatan untuk menjadi
pemutus daya :
a. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu.
b. Mampu memutuskan atau menutup jaringan dalam keadaan berbeban ataupun dalam
keadaan hubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus daya itu sendiri.
c. Mampu memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi.
L. Relay Suhu
Relay ini digunakan untuk mengamankan transformator dari kerusakan akibat adanya suhu
yang berlebihan. Ada 2 macam relay suhu pada transformator, yaitu :
a. Relay Suhu Minyak
Relay ini dilengkapi dengan sensor yang dipasang pada minyak isolasi transformator. Pada
saat transformator bekerja memindahkan daya dari sisi primer ke sisi sekunder, maka akan
timbul panas pada minyak isolasi, akibat rugi daya maupun adanya gangguan pada
transformator.
b. Relay Suhu Kumparan
Relay ini hampir sama dengan relay suhu minyak. Perbedaannya terletak pada sensornya.
Sensor relay suhu kumparan berupa elemen pemanas yang dialiri arus dari transformator arus
yang dipasang pada kumparan-kumparan transformator.
BAHAN ISOLASI PENGHANTAR LISTRIK
1.

BAHAN POLYVINYL CHLORIDE (PVC)


Polyvinyl chloride (polivinil klorida) merupakan hasil polimerisasi monomer vinil
klorida dengan bantuan katalis. Pemilihan katalis tergantung pada jenis proses

polimerisasiyang digunakan.Untuk mendapatkan produk-produk dari PVC digunakan


beberapa proses
pengolahan yaitu :
Calendering
Produk akhir : sheet, film, leather cloth dan floor covering.
Ekstrusi
Merupakan carapengolahan PVC yang banyak digunakan karena dengan proses ini
dapat dihasilkan bermacam-macam produk. Extruder head dapat diganti dengan
bermacam bentuk untuk menghasilkan :
a)

pipa, tube, building profile, sheet, floor covering dan monofilament.

b)

Isolasi kabel listrik dan telepon.

c)

Barang berongga dan blown film.

Cetak injeksi
Produk yang diperoleh adalah :
a)

sol sepatu, sepatu, sepatu boot

b)

container, sleeve (penguat leher baju), valve.

c)

Fitting, electrical and engineering parts.

2.

BAHAN ISOLASI PLASTIK


Plastik adalah bahan sintetis yang dapat dibentuk dengan pemanasan dan dapat
diperkeras bergantung pada strukturnya. Bahan isolasi plastic terdiri dari :

Karet

1.

Karet butadin

2.

Karet butil

3.

Karet polichloropen

4.

Karet silicon

3.

BAHAN POLYETHYLENE ( PE )
Polietilena (disingkat PE) (IUPAC: Polietena) adalah termoplastik yang digunakan
secara luas oleh konsumen produk sebagai kantong plastik. Sekitar 80 juta metrik ton plastik
ini diproduksi setiap tahunnya. Polietilena adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang
monomer etilena (IUPAC: etena). Di industri polimer, polietilena ditulis dengan singkatan

PE, perlakuan yang sama yang dilakukan oleh Polistirena (PS) dan Polipropilena (PP).
Molekul etena C2H4 adalah CH2=CH2. Dua grup CH2 bersatu dengan ikatan ganda.
Polietilena dibentuk melalui proses polimerisasi dari etena. Polietilena bisa diproduksi melalu
proses polimerisasi radikal, polimerisasi adisi anionik, polimerisasi ion koordinasi, atau
polimerisasi adisi kationik. Setiap metode menghasilkan tipe polietilena yang berbeda.
4. CROSS LINKED POLYETHYLENE (XLPE)
Cross-linked polyethylene, biasa disingkat PEX atau XLPE, adalah bentuk
polyethylene dengan cross-link. Hal ini dibentuk menjadi tabung, dan digunakan terutama
dalam membangun layanan sistem pipa, hydronic sistem pemanas berseri-seri, pipa air rumah
tangga, dan isolasi untuk tegangan tinggi kabel listrik (tegangan tinggi). Hal ini juga
digunakan untuk gas alam dan aplikasi minyak lepas pantai, transportasi kimia, dan
transportasi limbah dan lumpur. Pada abad ke-21, PEX telah menjadi alternatif untuk
polyvinyl chloride (PVC), diklorinasi polyvinyl chloride (CPVC) atau pipa tembaga untuk
digunakan sebagai pipa air perumahan. PEX tubing berkisar dalam ukuran dari ukuran
kekaisaran 1/4-inch sampai 4 inci, tapi 1/2-inch, 3/4-inch, dan 1 inci adalah yang paling
banyak digunakan [1] Metric PEX. Adalah biasanya tersedia dalam 16 mm, 20 mm, 25 mm,
32 mm, 40 mm, 50 mm dan 63 mm ukuran.
5.

BAHAN ISOLASI MINYAK


Bahan isolasi cair digunakan sebagai bahan pengisi pada beberapa peralatan listrik,
misalnya : transformator, pemutus beban, rheostat. Dalam hal ini bahan isolasi cair berfungsi
sebagai pengisolasi dan sekaligus sebagai pendingin. Karena itu persyaratan untuk bahan cair
yang dapat digunakan untuk isolasi antara lain : mempunyai tegangan tembus dan daya
hantar panas yang tinggi.
1. Minyak Transformator
Minyak transformator adalah minyak mineral yang diperoleh dengan pemurnian
minyak mentah. Dalam pemakaiannya, minyak ini karena pengaruh panas dari rugi-rugi di
dalam transformator akan timbul hidrokarbon. Selain berasal dari minyak mineral, minyak
transformator dapat pula yang dapat dibuat dari bahan organik, misalnya : minyak trafo

Piranol, Silikon. Sebagai bahan isolasi, minyak transformator harus mempunyai tegangan
tembus yang tinggi.
Jarak elektroda dibuat 2,5 cm, sedangkan tegangannya dapat diatur dengan
menggunakan auto-transformator sehingga dapat diketahui tegangan sebelum saat terjadinya
kegagalan isolasi yaitu terjadinya locatan bunga api. Locatan bunga api dapat dilihat lewat
lubang yang diberi kaca. Selain itu dapat dilihat dari Voltmeter tegangan tertinggi sebelum
terjadinya kegagalan isolasi (karena setelah terjadinya kegagalan isolasi voltmeter akan
menunjukkan harga nol.
Dengan demikian dapat diketahui apakah minyak transformator ketahanan listriknya
memenuhi persyaratan yang berlaku. Ketahanan listrik minyak transformator dapat menurun
karena pengaruh asam dan dapat pula karena kandungan air.
2. bahan isolasi cair lain
Minyak untuk kabel yang berisolasi kertas dibuat lebih kental daripada minyak trafo,
disamping itu terdapat pula bahan isolasi kabel yang di impregnasi dengan minyak yang
kekentalan rendah dengan pemurnian yang tinggi, yaitu kabel untuk tegangan ekstra tinggi
yang diisi minyak.
Disamping bahan-bahan diatas, terdapat pula isolasi cair sintetis yang berisi chloor
(hidrokarbon seperti difenil C10H12). Bahan-bahan ini diantaranya: sovol, askarel, araclor,
pyralen, shibanol. Dan bahan isolasi cair lain yang lebih mahal dari minyak trafo adalah
minyak silicon.
6.

BAHAN ISOLASI PADAT


Kaca dan porselin adalah tergolong bahan mineral, tetapi penggunaannya tidak pada
bentuk atau keadaan alaminya melainkan harus diproses terlebih dahulu dengan pemanasan
(pembakaran), pengerasan dan pelumeran. Itulah sebabnya maka pembahasannya dipisahkan
dengan pembahasan bahan mineral pada bab sebelumnya.
1. Kaca
Kaca adalah substansi yang dibuat dengan pendinginan bahan-bahan yang dilelehkan,
tidak berbentuk kristal tetapi tetap pada kondisi berongga. Kaca pada umumnya terdiri dari
campuran silikat dan beberapa senyawa antara lain : borat, pospat. Kaca dibuat dengan cara
melelehkan beberapa senyawa silikat (pasir), alkali (Na dan K) dengan bahan lain (kapur,
oksida timah hitam). Karena itu sifat dari kaca tergantung dari komposisi bahan-bahan
pembentuknya tersebut. Massa jenis kaca berkisar antara 2 hingga 8,1 g/cm2, kekuatan
tekannya 6000 hingga 21000 kg/cm2 , kekuatan tariknya 100 hingga 300 kg/cm2. Karena
kekuatan tariknya relatif kecil, maka kaca adalah bahan yang regas. Walaupun kaca

merupakan substansi berongga, tetapi tidak mempunyai titik leleh yang tegas, karena
pelelehannya adalah perlahan lahan ketika suhu pemanasan di naikkan. Titik pelelehan kaca
berkisar antara 500 hingga 17000 C. Makin sedikit kandungan S1O2 nya makin rendah titik
pelembekan suatu kaca. Demikian pula halnya dengan muai panjang () nya, makin banyak
kadar S1O2 yang dikandungnya akan makin kecil nya. Muai panjang untuk kaca berkisar
antara 5,5-10-7 hingga 150. 10-7 per derajat celcius.
2. Sitol
Sitol mempunyai bahan dasar kaca yang merupakan pengembangan baru. Pemakaian
sitol adalah sangat luas, struktur dan sifat-sifatnya adalah diantara kaca dan keramik. Sitol
juga disebut keramik-kaca atau kaca kristal. Yang banyak dijumpai dipasaran antara lain :
pyroceram, vitoceram. Sitol mempunyai struktur kristal yang halus (hal ini yang
membedakannya dengan kaca biasa) tetapi berongga. Tidak seperti halnya keramik biasa,
sitol tidak dibuat dengan pembakaran tetapi cenderung dengan fusi dari bahan-bahan
mentahnya dengan menjadikannya meleleh dan kemudian kristalisasi.
3. Porselin
Porselin adalah bahan isolasi kelompok keramik yang sangat penting dan luas
penggunaannya. Istilah bahan -bahan keramik adalah digunakan untuk semua bahan
anorganik yang dibakar dengan pembakaran pada suhu tinggi dan bahan asal berubah
substansinya. Bahan dasar dari porselin adalah tanah liat. Ini berarti bahan dasar tersebut
mudah dibentuk pada waktu basah, tetapi menjadi tahan terhadap air dan kekuatan
mekaniknya naik setelah dibakar. Penggunaan isolator dari porselin antara lain : isolator tarik,
isolator penyangga.
7.

BAHAN ISOLASI BERSERAT


Kelebihan dari bahan berserat adalah mempunyai fleksibilitas yang baik, kekuatan
mekanis yang tinggi, mudah diproses dan murah harganya. Adapun kekurangannya adalah
higroskopis dan tegangan tembusnya rendah.
Jenis-jenis bahan isolasi berserat:

Kayu

Kertas

Tekstil
Akhir-akhir ini banyak tekstil sintetis yang digunakan sebagai bahan isolasi karena

mempunyai beberapa keuntungan antara laian: kekuatan mekanis, elastisitas, dan tahan panas

yang tinggi, higroskopisitas rendah dan lebih stabil terhadap pengaruh kimia. Serat sintetis
diantanya adalah poliamid (nilon, kapron, silon, dedron), serat polyester (lavsan, terilin,
tetron, dakron), seratpolistirin (PVC).

8.

Bahan berserat anorganik : Asbes dan Fiberglass

BAHAN ISOLASI MINERAL


Bahan isolasi mineral diperoleh dari tambang dan digunakan sebagai isolasi pada
ikatan kimia atau keadaan alaminya tanpa proses kimia atau termal sebelumnya.
Jenis-jenis bahan isolasi minerlal:

Mika

Mikanit

Mikanit komutator

Mikanit lempengan

Mikanit cetakan

Kertas mika

Mikanit fleksibel

Pita mika

9.

Marmer

Batu tulis

Klorida

BAHAN ISOLASI PLASTIK


Plastik adalah bahan sintetis yang dapat dibentuk dengan pemanasan dan dapat
diperkeras bergantung pada strukturnya. Bahan isolasi plastic terdiri dari :

Karet

Karet butadin

Karet butil

Karet polichloropen

Karet silicon

10.

BAHAN ISOLASI SERAT OPTIK

Sebagaimana namanya maka serat optik (fiber optic) dibuat dari gelas silika dengan
penampang berbentuk lingkaran atau bentuk-bentuk lainnya. Pembuatan serat optik (fiber
optic) dilakukan dengan cara menarik bahan gelas kental-cair sehingga dapat diperoleh
serabut atau serat gelas dengan penampang tertentu. Proses ini dikerjakan dalam keadaan
bahan gelas yang panas. Yang terpenting dalam pembuatan serat optik (fiber optic) adalah
menjaga agar perbandingan relatif antara bermacam lapisan tidak berubah sebagai akibat
tarikan. Proses pembungkusan seperti pemberian bahan pelindung atau proses pembuatan
satu ikat kabel yang terdiri atas beberapa buah hingga ratusan kabel pengerjaannya tidak
berbeda dengan pembuatan kabel biasa.
Perkembangan terakhir, pemakaian serat optic sebagai saluran tranmisi komunikasi
jarak jauh lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan transmisi konvensional, antara
lain: saluran 2 kawat sejajar kabel koaksial.
Serat optik (fiber optic) adalah suatu pemandu gelombang cahaya (light wave guide)
yang berupa suatu kabel tembus pandang (transparant), yang mana pemampang dari kabel
tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu : bagian tengah yang disebut Core dan bagian luar
yang disebut Cladding. Cladding pada serat optik membungkus atau mengelilingi Core.
Adapun bentuk pemampang dari core dapat bermacam-macang, antara lain : pipih, segi
tiga, segi empat, segi banyak atau berbentuk lingkaran. Adapun gambar skema pemampang
dari serat optik (fiber optic) dapat dilihat pada gambar berikut ini
11. Bahan isolasi yang berbentuk gas
a. Udara
Udara merupakan bahan isolasi yang mudah didapat dan mempunyai tegangan tembus yang
cukup besar yaitu 30kV/cm.
Susunan udara di muka bumi, terdiri atas 79% Nitrogen (N2) dan 20% Oksigen (O2),
sedangkan sisanya adalah sekitar 1% terdiri dari: Argon, Helium, Neon, Kripton,
karbondioksida dan lain-lain.
Pada sistem jaringan tenaga listrik, maka udara merupakan bahan penyekat antara kawat
konduktor atau antara kawat konduktor dengan tanah. Pada tekanan yang tidak terlalu tinggi,
udara merupakan bahan penyekat yang baik, kebocoran melalui udara adalah kecil sekali.
Tetapi pada tekanan yang cukup tinggi, maka akan terjadi loncatan elektron di udara. Udara
sering juga digunakan sebagai pendingin.
B. Hidrogen
Sifat-sifatnya adalah:

tidak berwarna dan tidak berbau,merupakan gas yang teringan,mudah terbakar tetapi tidak
memelihara pembakaran,bila bercampur dengan udara mudah meletustegangan tembusnya 18
kV/cmgas hidrogen ekonomis bila dipergunakan pada mesin-mesin kapasitas 15 MW ke atas.
Keuntungan pengunaan gas hidrogen dibandingkan dengan udara Kebisingan suara
berkurangTemperatur pendinginan yang dibutuhkan relatif rendahEfisiensi dapat naik antara
0,7 sampai 1% lebih tinggi dengan kepekatan Hidrogen 8 sampai 10 kali lebih rendah
daripada udara.Daya hantar panas hidrogen 6 sampai 7 kali lebih besar daripada udara.Tidak
membutuhkan pengamanan terhadap bahaya kebakaran (hidrogen tidak memelihara
kebakaran).
C. Sulfur Heksafluorida (SF6)
Sulfur heksafluorida (SF6) merupakan suatu gas hasil reaksi eksotermis antara unsur sulfur
dengan fluor :
S + 3 F2 SF6 + 262 kkalori
Sifat-sifatnya :
Merupakan gas terberat (massa jenisnya 6,14 kg/m3 atau sekitar 5 kali berat udara )Tidak
mudah terbakarTidak larut dalam airTidak beracunTidak berwarna dan tidak berbauTegangan
tembusnya sangat tinggi yaitu 75 kV/cmTepat sekali digunakan sebagai pendingin pada
peralatan listrik yang menimbulkan panas atau bunga api.