Anda di halaman 1dari 15

Manajemen Airway (Jalan Napas) pada resusitasi jantung paru

Tujuan tinjauan
Metode yang optimal untuk manajemen jalan napas selama henti jantung masih belum
diketahui. Tinjauan ini meringkas bukti terbaru yang membandingkan fungsi intervensi
jalan napas dasar dan lanjut [penyisipan alat jalan napas supraglotik (SGA) dan intubasi
trakea], termasuk kegunaan capnografi selama henti jantung.
Temuan terkini
Penelitian observasional dalam skala besar [649 359 kejadian henti jantung di rumah sakit
(OHCAs)] telah menunjukkan risiko yang disesuaikan untuk perbaikan secara neurologis
lebih tinggi pada mereka yang ditangani menggunakan ventilasi sungkup-dengan kantong
(bag-mask) dibandingkan dengan penyisipan alat jalan napas supraglotik atau intubasi
trakea. Dua penelitian terbaru, penelitian observasional dalam skala besar mengusulkan
penggunaan intubasi trakea pada OHCA lebih baik dibanding SGA. Penelitian
observasional mempunyai kelemahan besar: mereka bergantung pada statistika dalam
menilai suatu risiko tambahan sebagai faktor lainnya yang dapat mempengaruhi hasil, dan
menyembunyikan hal berlawanan yang mungkin dapat memberikan hasil berbeda
sehubungan dengan tiap strategi manajemen jalan napas.
Kesimpulan
Kebanyakan bukti menyangkut manajemen jalan napas selama henti jantung berasal dari
penelitian observasional. Pilihan jalan napas terbaik tampaknya berbeda bagi penolong
yang berbeda pula, dan pada keadaan berbeda selama proses resusitasi. Uji secara acak,
prospektif, serta uji yang dirancang dengan baik diperlukan untuk membantu menentukan
strategi jalan napas yang optimal. Dari pandangan kami, kini terdapat peralatan yang
mencukupi untuk mendukung uji tersebut.

Kata Kunci
Manajemen jalan napas, ventilasi sungkup-dengan kantong, resusitasi jantung paru, jalan
napas supraglotik, intubasi trakea
PENDAHULUAN
Manajemen jalan napas selama resusitasi jantung paru (CPR) marupakan pilihan. Ajaran
konvensional yang mana bebasnya jalan napas dan ventilasi merupakan hal penting selama
CPR, dan teknik jalan napas lanjut sebagai baku emas sudah tidak lagi didukung secara
universal. Hal ini masih dibenarkan, namun, dalam beberapa hal selama proses resusitasi,
bebasnya jalan napas, ventilasi dan oksigenai yang adekuat merupakan hal yang sangat
penting. Tanpa hal ini tampaknya tidak mungkin untuk mengembalikan dan/atau menjaga
irama perfusi jantung. Juga perlu untuk melindungi paru dari perlukaan yang mungkin
akibatkan aspirasi dari isi lambung. Pendekatan jalan napas terbaik mungkin berbeda untuk
pasien yang mengalami henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) dan di dalam rumah sakit
(IHCA). Dalam tinjauan ini kita akan mendiskusikan penelitian terkini dari manajemen
jalan napas untuk henti jantung dan menentukan untuk menyediakan beberapa penjelasan
akan keadaan saat kejadian.
PEDOMAN TERBARU
Berdasarkan pedoman terbaru untuk pasien OHCA dewasa [1,2]:
(1) Seorang penolong awam yang tidak terlatih memberikan kompresi saja untuk CPR
yang dipandu oleh seorang pelayan kesehatan emergensi (EMS) lewat telepon.
(2) Seorang penolong terlatih dapat memberikan ventilasi mulut ke mulut bila bersedia dan
dapat melakukannya.
(3) Saat kedatangan penolong EMS dapat menggunakan berbagai teknik jalan napas dan
ventilasi perdasarkan protokol lokal. Pilihan termasuk CPR dini hanya dengan
kompresi serta oksigen aliran tinggi melalui sungkup wajah [3], ventilasi sungkup-

dengan kantong, penyisipan satu dari beberapa jenis alat jalan napas supraglotik
(SGA), atau intubasi trakea.
Dalam praktiknya, pada banyak kejadian henti jantung akan digunakan lebih dari satu
teknik jalan napas, baik selama CPR dan setelah kembalinya sirkulasi secara spontan
(ROSC). Pilihan untuk teknik jalan napas dan ventilasi bergantung pada keahlian dan
pengalaman penolong.

POIN-POIN PENTING
Metode optimal untuk manajemen jalan napas selama henti jantung masih belum
diketahui

Pilihan jalan napas terbaik tampaknya berbeda-beda untuk penolong yang berbeda, dan
keadaan selama proses resusitasi.

Pasien bisa mendapatkan lebih dari satu jenis intervensi jalan napas selama resusitasi
jantung paru.

Uji secara acak, prospektif, dan yang dirancang secara baik diperlukan dalm
memebantu menentukan strategi jalan napas yang optimal selama henti jantung.

Terdapat peralatan klinik yang mencukupi untuk mendukung uji yang membandingkan
intervensi jalan napas dasar dan lanjut selama resusitasi jantung paru

APAKAH MANAJEMEN JALAN NAPAS DAN VENTILASI SECARA DINI


DIPERLUKAN SELAMA RESUSITASI JANTUNG PARU ?
Sebuah meta analisis dari tiga kelompok data uji acak dari EMS yang melakukan instruksi
CPR menunjukkan bahwa CPR yang hanya dengan kompresi dada saja berhubungan
dengan meningkatnya angka kehidupan dibandingkan dengna CPR yang standar [14
(211/1500) dengan 12% (178/1531); risk ratio 1.22, 95% confidence interval (CI) 1.011.46] [4,5]. Analisis jangka panjang berkelanjutan dari dua penelitian ini telah
menunjukkan bahwa keuntungan angka mortalitas dari orang yang dibimbing untuk

melakukan CPR kompresi dada saja diteruskan hingga 5 tahun [6*]. Alasan yang mungkin
menguntungkan akan penolong yang dibimbing untuk melakukan CPR kompresi dada saja
dibandingkan CPR yang standar termasuk :
(1) Darah arteri dapat tetap tersaturasikan dengan oksigen selama beberapa menit saat
henti jantung primer [7, 8].
(2) Penolong tidak ingin atau tidak mampu untuk melakukan ventilasi mulut ke mulut
secara efektif [9].
(3) Implementasi program CPR hanya dengan kompresi dapat meningkatkan CPR oleh
awam yang berada disekitarnya.
(4) Penundaan yang berkelanjutan untuk melakukan kompresi dada, bahkan bila ventilasi
efektif diberikan akan mengurangi kemungkinan untuk bertahan hidup [11, 12].
(5) Dengan bebasnya jalan napas, kompresi dada akan menghasilkan aliran udara dari dan
ke jantung, walaupun perkiraan jumlah volume tidalnya sedikit dan secara umum tidak
lebih dari ruang hampa secara anatomis [13]
Beberapa protokol sistem EMS untuk dewasa terutama henti jantung termasuk
pembebasan jalan napas dan oksigen aliran tinggi lewat sungkup wajah, dan ventilasi pasif
dari kompresi dada selama 6 menit pertama pada CPR. Peningkatan hasil telah dilaporkan
dengan pendekatan CPR penundaan minimal walaupun masih diperlukan penelitian lebih
lanjut [14]. Analisi retrospektif pada pasien OHCA dewasa menunjukkan peningkatan
secara neurologis setelah OHCA dengan fibrilasi ventrikel/takikardi ventrikel (VF/VT)
yang dilihat langsung (witnessed) menggunakan ventilasi pasif dibandingkan dengan
ventilasi sungkup-dengan kantong. Angka kelangsungan hidup serupa untuk VF/VT yang
tidak dilihat lagsung dan ritme tanpa syok. Data observasional yang teregristrasi secara
besar di Jepang, namun, disarankan bahwa pentingnya ventilasi untuk CPR pada anak,
setelah henti jantung dengan penyebab utama respirasi dan selama henti jantung yang
berkepanjangan [15, 16].

APAKAH TEKNIK JALAN NAPAS DASAR LEBIH BAIK SELAMA RESUSITASI


JANTUNG PARU ?
Penggunaan ventilasi sungkup-dengan kantong secara dini dengan self-inflating bag telah
menjadi alur utama bagi penolong profesional dalam manajemen jalan napas untuk henti
jantung. Ventilasi sungkup-dengan kantong, biasanya dengan alat tambahan untuk
membantu jalan napas (oropharyngeal atau nasopharyngeal airway), biasanya digunakan
hingga teknik jalan napas lanjut seperti penyisipan SGA atau intubasi trakea dapat
dilakukan. Ventilasi sungkup-dengan kantong dilakukan disela-sela kompresi dada, dapat
mengakibatkan mengembangnya lambung, dan tidak melindungi paru dari aspirasi isi
lambung. Namun, beberapa penelitian baru-baru ini tetap menyarankan penggunaan
sungkup kantong sebagai pilihan terbaik untuk henti jantung dibandingkan teknik lanjut
[17**, 18*, 19-21].
Bukti yang sangat menekankan untuk penggunaan sungkup-dengan kantong berasal
dari sebuah prospektif, yang diteliti secara nasional, dari 649 654 pasien OHCA Jepang
dewasa yang terdaftar secara berurutan yang mana menunjukkan bahwa ventilasi sungkupdengan kantong berhubungan dengan perbaikan ROSC, angka kehidupan selama satu-bulan
dan hasil secara neurologis dibandingkan baik dengan intubasi trakea dan SGA [17**].
Semuanya pasien temasuk yang sementara dibawa ke rumah sakit dan mengalami serangan
antara Januari 2005 dan Desember 2010. Ventilasi sungkup-dengan kantong telah
digunakan pada 367 837 (57%) pasien SGA [laryngeal mask airway (LMA), pipa laringeal
atau oesophageal-tracheal twin lumen ] pada 281 522 (43%), dan intubasi trakea pada 41
972 (6%). Penggunaan jalan napas lanjut (SGA atau intubasi trakea) berhubungan dengan
perburukan keadaan neurologis dibandingkan dengan penggunaan sungkup-dengan kantong
[1.1 dengan 2.9%; odds ratio (OR), 0.38; 95% CI 0.36-0.39].

Regresi logistik

multivariabel, dengan menambahkan faktor yang mempengaruhi hasil (usia, jenis kelamin,
etiologi serangan, irama awal yang tercatat, kejadian yang disaksikan, CPR oleh orang yang
melihat, akses publik untuk melakukan defibrilator eksternal, penggunaan adrenalin,

interval waktu), memberikan tambahan odds ratio untuk kemungkinan perubahan


neurologis pada jalan napas lanjut sebesar 0.38 (95% CI 0.37-0.40). Terdapat hasil yang
lebih buruk dibandingkan dengan ventilasi sungkup-dengan kantong dengan intubasi trakea
(OR yang disesuaikan, 0.41; 95% CI 0.370.45) ataupun SGA (OR yang disesuaikan, 0.38;
95% CI 0.360.40). Angka kecenderungan dicocokkan dengan kohort pada 357 228 pasien
juga mendukung observasi ini dan menunjukkan perburukan yang serupa yang tampak pada
kelainan neurologis untuk kelangsungan hidup baik pada penggunaan intubasi trakea dan
SGA.
Penelitian dalam skala yang lebih kecil juga mendukung temua orang Jepang ini.
Sebuah retrospektif tunggal yang berpusat di US yang meninjau 1294 OHCA non traumatik
antara 1994 dan 2008 menunjukkan intubasi trakea oleh paramedis berhubungan dengan
perburukan kelangsungan hidup setelah keluar dari rumah sakit (OR sungkup-dengan
kantong dengan intubasi trakea 4.5, 95% CI 2.3-8.9) [19]. Asosiasi negatif ini juga tampak
pada penelitian EMS tunggal lainnya di US dengan dasar manajemen jalan napas yang
berhubungan dengan OR dari 2.33 (95% CI 1.63-3.33) dibandingkan dengan keberhasilan
intubasi untuk kelangsungan hidup hingga keluar dari rumah sakit [20]. Sebuah data PHCA
Korea dengan kecenderungan kecocokan yang serupa untuk intubasi trakea, ventilasi
sungkup-dengan kantong atau penyisipan LMA [18**, 22]. Kelangsungan hidup dari mulai
masuk dan kelar rumah sakit serupa untuk intubasi trakea dan sungkup-dengan kantong:
OR 1.32 (95% CI 0.812.16) dan 1.44 (0.663.15). Kelangsungan hidup hingga masuk
serupa untuk LMA dan sungkup-dengan kantong: OR 0.72 (0.501.02). Walaupun begitu,
angka kelangsungan hidup hingga keluar dari rumah sakit lebih rendah secara signifikan
untuk LMA dibandingkan sungkup-dengan kantong: OR 0.45 (0.250.82). Nagao
mengobservasi bahwa tidak terdapat perbedaan akan kelainan neurologis pada saat keluar
rumah sakit untuk jalan napas lanjut (n = 199, pipa trakea 10, LMA 147, combitube (pipa
kombinasi) 42 pasien) dan ventilasi sungkup-dengan kantong (n = 156) untuk pasien
OHCA. Akhirnya, penelitian IHCA yang kecil (n = 105) juga melaporkan peningkatan

kelangsungan hidup secara neurologis hingga dikeluarkan dari rumah sakit pada ventilasi
sungkup-dengan kantong dengan jalan napas tambahan (oro-pharyngeal atau nasopharyngeal airways) dibandingkan intubasi trakea [23].
Perbedaan hasil yang terdapat bila dibandingkan antara teknik jalan napas dasar dan
lanjut mungkin berperan para teknik, atau faktor yang tidak dilaporkan yang mungkin dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup pasien henti jantung termasuk saat intervensi jalan
napas, keahlian dari penolong, kualitas CPR dan non-flow fraction (fraksi yang cukup) [11,
12, 24]. Sebuah analisis data kualitas CPR dari OHCA menunjukkan nilai median dari 2
[rentang interkuartil (IQR) 1-3; rentang 1-9] interupsi ontubasi trakea oleh paramedis,
dengan hampir lebih sepertiga dalam 1 menit dan lebih seperempat dalam 3 menit [25].
APAKAH JALAN NAPAS LANJUT MASIH BERPERAN DALAM PENANGANAN
PASIEN HENTI JANTUNG ?
Data yang mendukung pendekatan jalan napas dasar tidak mengharuskan kita untuk
berhenti menggunakan jalan napas lanjut pada pasien henti jantung. Walaupun beberapa
pasien henti jantung mendapatkan ROSC dan sadar kembali tanpa perlu menggunakan jalan
napas lanjut, beberapa akan memerlukan jalan napas lanjut pada beberapa tahapan selama
proses resusitasi, bisa selama CPR di tempat kejadian, selama di fasilitas transpor, atau
sebagai bagian pasca resusitasi setelah ROSC pada mereka yang berada dalam keadaan
koma. Pilihan menggunakan alat jalan napas lanjut antara intubasi trakea dan SGA
syangnya masih merupakan salah satu hal yang penting. Hal yang perlu dipertimbangkan
dalam membandingkan termasuk:
(1) Tidak semua SGA sama dan angka kesuksesan dalam penyisipan alat tersebut
bervariasi [26, 27]. SGA biasanya dikembangkan bersamaan dalam analisa.
(2) Kebanyakan penelitian tidak menggunakan SGA yang lebih baru (generasi kedua)
seperti LMA Supreme atau i-gel [28*].

(3) SGA biasanya digunakan sebagai alat penolong pada keadaan tidak dapat diintubasi
tidak dapat diventilasi.
Jalan napas supraglotik dengan intubasi trakea?
Kita telah membahas hal-hal yang pro dan kontra untuk intubasi trakea dan SGA pada
tinjauan sebelumnya [29]. Dua penelitian observasional baru-baru ini menyatakan bahwa
penggunaan intubasi trakea pada OHCA lebih baik dibanding penggunaan SGA [30**,
31*]. Penelitian PRIMED oleh Resuscitation Outcomes Consortium (ROC) Amerika
Slatan menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada hasil saat dibandingkan penggunaan
alat impendance treshold device (ITD) aktif dengan ITD palsu pada pasien OHCA selama
CPR standar [32]. Analisis sekunder dari penelitian ini membandingkan intubasi trakea (n
= 8487) dengan SGA (pipa laringeal, combitube, atau LMA; n = 1968) menunjukkan
bahwa keberhasilan intubasi trakea berhubungan dengan peningkatan angka kelangsungan
hidup hingga keluar dari rumah sakit dengan skor modifikasi Rankin 3 atau kurang (OR
yang disesuaikan 1.40; 95% CI 1.04-1.89), ROSC (OR yang disesuaikan 1.78; 95% CI
1.54-2.04) dan kelangsungan hidup selama 24 jam (OR 1.74; 95% CI 1.49-2.04) bila
dibandingkan dengan keberhasilan penyisipan SGA [30**]. Pada sebuah penelitian Jepang
OHCA, intubasi trakea (16 054 pasien, 12%) dan jalan napas penghambat esofagus (88
069, 63%) selama 3 tahun (2005-2007). OR yang disesuaikan untuk kelangsungan hidup 1
bulan lebih rendah untuk LMA ( 0.77 , 95% CI 0,64-0,94 ) dan esofagus penggunaan
obturator ( 0.81, 95 % CI 0,68-0,96 ) dibandingkan dengan intubasi trakea. Kedua
penelitian observasional memiliki kelemahan yang sama yang berkaitan dengan penelitian
yang membandingkan penggunaan jalan napas dasar dan lanjut : meskipun data risiko
disesuaikan dalam upaya untuk menjelaskan semua pembaur potensial , masih ada
kemungkinan kuat bahwa terdapat faktor tersembunyi dalam temuan.
Penyisipan dari SGA ( LTS - D , LMA Fleksibel , Combitube ) selama CPR pada
model babi menyebabkan kompresi arteri karotis internal dan eksternal dan penurunan

aliran darah arteri karotis bila dibandingkan dengan intubasi trakea [ 33* ]. Pengaruh SGA
pada aliran darah karotis belum dipelajari pada manusia yang mengalami henti jantung
tetapi studi pencitraan dari pasien yang dibius menunjukkan bahwa AirQ SGA tidak
menyebabkan kompresi arteri karotis [34].
Keahlian untuk intubasi trakea tidak terdapat di setiap keadaan. Penggunaan SGA
sebagai 'alternatif yang lebih mudah' telah membuatnya populer digunakan baik bagi
IHCA dan OHCA [35-37]. Sebagai contoh, sebuah rumah sakit di Inggris melaporkan 82%
pada upaya pertama dan 99% tingkat keberhasilan secara keseluruhan untuk penggunaan igel selama CPR [35]. Keberhasilan penempatan ( ventilasi untuk kenaikan dada , tidak ada
suara lambung, suara paru-paru bilateral, dan ketika terpasang, nilain kuantitatif end-tidal
CO2 akan terbaca) oleh paramedis serupa untuk LTS - D dan intubasi trakea (intubasi
trakea 80,2 dibandingkan LTS - D 80,5 %; P = 0,97 ) [38]. Dalam studi OHCA lain, tingkat
keberhasilan LT - D pada percobaan pertama oleh responden bantuan hidup dasar lebih
tinggi dari intubasi trakea oleh paramedis ( 87,8 dengan 57,6% , OR 5,3 , 95% CI 2,9-9,5 )
[39].
Masalah yang timbul pada intubasi trakea
Intubasi trakea dalam keadaan darurat seperti henti jantung merupakan hal yang menantang
dan berhubungan dengan komplikasi signifikan [40,41]. Kejadian sulitnya intubasi di
rumah sakit (tingkat Cormack dan Lehane minimal 3, atau setidaknya tiga kali upaya
intubasi) adalah 10,3% pada 3423 intubasi darurat oleh dokter ( distres pernapasan pada
52%, henti jantung 45%, perlindungan jalan napas 2%, lainnya 1% ) [42]. Sebuah kejadian
serupa (13%) dari intubasi yang sulit, dan faktor predisposisi (kurangnya ruang , leher
pendek, obesitas ,cedera wajah/leher ) telah dilaporkan oleh staf dokter sistem EMS [43].
Kejadian ini sekitar dua kali kejadian intubasi sulit yang tak terduga untuk anestesi umum
5,8% ( 95% CI 4,5-7,5% ) [44]. Data yang diharapkan untuk intubasi trakea pada 10 bagian
gawat darurat Jepang (1486 intubasi, 502 untuk henti jantung) dilaporkan tingkat

keberhasilan pada percobaan pertama di kisaran 40-83%, dan keberhasilan setelah tiga kali
upaya atau kurang 74-100% dari bagian tersebut [45]. Efek sampings secara keseluruhan
adalah 11 % dan kesalahan intubasi esofagus adalah 3,9%. Sebuah penelitian meta-analisis
observasional untuk pengelolaan jalan nafas di OHCA diperkirakan tingkat keberhasilannya
91,2% (95% CI 88,8-93,1) untuk intubasi trakea [26]. Penelitian ini juga mengamati
penurunan dalam keberhasilan intubasi trakea non-dokter dari 0,49% per tahun. Hal ini
mungkin mencerminkan pelaporan dan perekaman data yang lebih baik, atau sebenarnya
keterampilan yang memburuk. Data terakhir dari Sistem Informasi Pelayanan Medis
Darurat Nasional US melaporkan tingkat keberhasilan intubasi trakea dari 78%
(3494/4482) untuk OHCA [46] . Lyon dkk . [41] melaporkan data dari Inggris untuk
tinjauan retrospektif selama 4 tahun dari 794 OHCA dan 628 percobaan intubasi. Intubasi
pra-rumah sakit berhasil dalam tiga upaya atau kurang sebanyak 573 (91,2%), dan 55
memiliki komplikasi signifikan

(beberapa usaha yang gagal sebanyak 32, kesalahan

mengenali intubasi esofagus sebanyak 15, perpindahan pipa selama transportasi sebanyak
tiga, intubasi endobronkial sebanyak tiga, pipa balon di atas korda sebanyak dua).
Pengalaman merupakan hal yang penting untuk intubasi trakea
Intubasi trakea membutuhkan pelatihan yang ekstensif [47**] dan latihan teratur untuk
menghindari berkurangnya keahlian. Diantara 21 753 pasien OHCA yang dirawat oleh
penolong EMS di Pennsylvania, odds yang disesuaikan untuk bertahan hidup lebih tinggi
untuk pasien diintubasi oleh tim penolong dengan pengalaman intubasi trakea yang 'sangat
tinggi (kumulatif intubasi trakea> 50) dibandingkan dengan mereka dengan pengalaman
intubasi trakea yang rendah (kumulatif intubasi trakea1-10): OR yang disesuaikan 1.48,
95% CI 1,15-1,89 [48]. Dalam sebuah penelitian EMS dari Jerman, meningkatnya
pengalaman dokter (median 304 intubasi per tahun di semua pengaturan berbanding 18
intubasi per tahun) dikaitkan dengan kejadian yang lebih rendah intubasi trakea dari prarumah sakit sulit (8,9 dibanding 17,7%, P <0,05) [49*]. Pengalaman intubasi ini jauh lebih

besar dari angka yang dilaporkan dari banyak sistem EMS di mana beberapa individu
hanya akan melakukan satu intubasi per tahun [50-52].
PERAN KAPNOGRAFI
Bentuk gelombang kapnografi dianjurkan untuk identifikasi penempatan pipa trakea yang
benar selama CPR [2, 53]. Resusitasi jantung paru akan menghasilkan aliran darah paru
yang cukup untuk menghasilkan jejak end-tidal CO2, kecuali henti jantung telah
berkepanjangan ( > 30 menit). Audit jalan napas nasional Inggris (NAP4) menunjukkan
bahwa kapnografi tidak rutin digunakan selama CPR, dan ketika digunakan jejak datar
capnografi disalahartikan sebagai akibat dari henti jantung, bukan intubasi esofagus [54].
Selain konfirmasi penempatan pipa trakea, gelombang kapnografi juga mungkin
berperandalam menilai kualitas kompresi dada selama CPR , dan memberikan indikasi awal
ROSC [55,56**] . Heradstveit dkk. [56**] menjelaskan data kapnografi dari 575 pasien
OHCA. Mereka mengamati bahwa pasien dengan ROSC cenderung memiliki nilai endtidal karbon dioksida (ETCO2) yang tinggi. Pembaur seperti penyebab serangan, irama
awal, dan orang yang berada disekitar CPR mempengaruhi nilai ETCO 2, dan karena itu
membatasi peran prognostik gelombang kapnografi selama CPR [57]. Nilai dan peran
kapnografi selama CPR menggunakan ventilasi sungkup-dengan kantong atau SGA
membutuhkan penelitian lebih lanjut .
PERLUNYA PENELITIAN ACAK MANAJEMEN JALAN NAPAS SELAMA
RESUSITASI JANTUNG PARU
Bukti saat ini yang mendukung manajemen jalan napas selama CPR didasarkan pada
penelitian observasional dengan potensi resiko bias yang tinggi. Dalam tajuk rencana barubaru ini, Wang dan yealy [24] secara tegas menyatakan 'pengamatan secara kolektif ini
menunjukkan bahwa keseimbang secara ilmiah ada di antara berbagai pilihan manajemen
airway'. Saat ini ada kelangkaan penelitian yang sedang berlangsung melihat intervensi

jalan napas pada henti jantung (Tabel 1). Banyak bukti untuk intervensi jalan napas selama
CPR yang terekstrapolasi dari studi manikin atau pada pasien selama anestesi umum. Nilai
dari penelitian pada manikin khususnya telah dipertanyakan, terutama karena hasil
tergantung pada loyalitas dan ini jarang cukup baik untuk memungkinkan ekstrapolasi
handal pada manusia [58]. Merancang sebuah penelitian yang menguji intervensi jalan
napas secara spesifik merupakan hal yang menantang karena pendekatan yang benar akan
bervariasi sesuai dengan pelatihan dan pengalaman penolong, dan waktu keadaan di saat
henti jantung. Kelompok penolong yang berbeda mungkin juga tidak dapat mengimbangi
intubasi trakea seperti yang masih terlihat oleh banyak orang sebagai 'baku emas' dari
manajemen jalan napas. Ketersediaan perangkat jalan napas baru seperti video laringoskop
dan modifikasi perangkat yang ada, juga membuat keputusan yang tepat untuk perangkat
jalan napas berdasarkan penyulit. Difficult Airway Society Inggris telah mebuat pedoman
untuk mengevaluasi perangkat jalan napas baru sebelum penggunaan secara klinis [59].
Data pengamatan yang tersedia menunjukkan desain studi kedepannya harus mencakup
kelompok yang menggunakan intervensi jalan napas dasar sebagai strategi awal jalan
napas.Penggunaan gelombang kapnografi untuk mengkonfirmasi penempatan pipa trakea
harus menjadi kebutuhan pada penelitian di masa depan . Penelitian REVIVE - Airways
merupakan studi kelayakan EMS tunggal yang membandingkan standar penatalaksanaan
berdasarkan preferensi penolong, dan dua SGA ( i- gel dan LMA Supreme ) [28*]. Temuan
yang didapatkan dari penelitian ini diharapkan akan memberikan wawasan yang berguna
bagi mereka dalam merancang penelitian multisenter besar .

Tabel 1. Uji terdaftar yang sementara berlangsung untuk manajemen jalan napas untuk
henti jantung pada dewasa
Nomor registrasi
NCT01295749

Judul
Efek dari ventilasi
pipa laringeal pada
saat tidak ada aliran

Jenis penelitian
Uji intervensi acak

Hasil utama
Membandingkan saat
tidak ada aliran antara
kelompok A (ventilasi

selama henti jantung


yang terjadi di luar
Rumah Sakit

menggunakan
sungkup-dengan
kantong dan diselingi
dengan kompresi
dada) dan Kelompok B
(ventilasi dengan pipa
laringeal dan
dilanjutkan dengan
kompresi dada).
Ukuran hasil : tidak
adanya aliran selama
resusitasi oleh staf
paramedis
terlatih
pada pasien henti
jantung di luar rumah
sakit

ISRCTN1852862
5

Pembandingan acak
dari efektifitas
Laryngeal Mask
Airway Supreme, i-gel,
dan yang sudah
dilakukan selama ini
dalam manajemen
jalan napas secara dini
pada pasien henti
jantung di Rumah
Sakit: penelitian
berdasarkan
kemungkinan
(REVIVE-Airways)

Uji intervensional acak

(Data dari http://www.controlled-trials.com pada 31 Januari 2013)

Tabel 2. Teknik Jalan napas dan ventilasi untuk henti jantung

Menilai bila mungkin


dilakukan penelitian
dengan skala penuh

Teknik

Kesulitan teknik
Penghentian selama

CPR dengan

Mulut

Sungkup-

Jalan

Intubasi

kompresi saja

ke mulut

dengan

napas

trakea

kantong

supragloti

+++
++

k
++
+

Termudah
Tidak perlu

+
++++

kompresi

+++++
Tidak
perlu

Memerlukan ventilasi
Pengembangan

Tidak

lambung
Risiko aspirasi lambung
Perlunya tingkat

+++
Orang tidak terlatih

pelatihan dan

yang berada disekitar

pengalaman

biasanya diberikan

++

+++

Tidak

++++
+

++++
+++

++
++

+
+++++

instruksi oleh EMS


lewat telepon

KESIMPULAN
Terdapat berbagai pendekatan untuk manajemen jalan napas untuk henti jantung (tabel 2).
Sebagian besar bukti yang tersedia berasal dari studi observasional. Tidak ada bukti yang
dapat mendukung teknik jalan napas lanjut melebihi teknik dasar seperti ventilasi sungkupdengan kantong. Pilihan terbaik untuk jalan napas mungkin berbeda bagi penolong yang
berbeda, dan pada keadaan waktu yang berbeda dari proses resusitasi. Satu-satunya yang
dapat diandalkan sebagai cara untuk menentukan strategi manajemen jalan napas yang
optimal selama henti jantung adalah dengan melakukan uji acak, prospektif, yang dirancang
dengan baik.

Ucapan terima kasih


tidak ada.

Konflik penting
J.S. adalah anggota kelompok pengarah untuk penelitian REVIVE airway, ALS satuan
tugas asisten ketua untuk ILCOR, dan wakil ketua konsili resusitasi (Inggris) (semua belum
dibayar). Dia menerima honorarium sebagai editor jurnal Resuscitation.
J.P.N. merupakan penyidik untuk studi revive saluran udara (tidak dibayar). Ia menerima
honorarium sebagai editor-in-chief dari jurnal Resuscitation.