Anda di halaman 1dari 258
ASPEK-ASPEK HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA Oleh Rachmadi Usman, S.H. GM: 208 01.251 Copyright © PT Gramedia Pustaka Utama Jalan Palmerah Barat 33-37, Lt. 2-3 Jakarta 10270 Desain sampul: Pagut Lubis Setting: Malikas Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI, Jakarta 2001. Cetakan pertama: Februari 2001 Cetakan kedwa: Desember 2003 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Dicetak oleh Percetakan PT SUN, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan PRAKATA DAFTAR ISI BAB 1 PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM PERBANKAN BAB 2 BAB 3 1.1; 1.2. 1.3. Pengertian Hukum Perbankan Sumber-sumber Hukum Perbankan Asas-asas Hukum Perbankan DAFTAR PUSTAKA SISTEM KEUANGAN INDONESIA 2.1. 2.2, 2.3. 2.4. Pengertian Sistem Keuangan Sistem Moneter Sistem Perbankan Lembaga-lembaga Keuangan Lainnya 2.4.1. Perusahaan Pembiayaan 2.4.2. Perusahaan Asuransi dan Reasuransi 2.4.3. Dana Pensiun 2.4.4. Pasar Modal 2.4.5. Pegadaian DAFTAR PUSTAKA KELEMBAGAAN PERBANKAN 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. Pengertian dan Fungsi Bank Jenis Bank Bank Berdasarkan Prinsip Syariah Pendirian Bank 3.4.1. Perizinan Pendirian Bank 3.4.2. Bentuk Hukum Bank 20 21 21 23 32 42 45 48 50 53 55 56 59 59 62 64 69 69 74 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia 3.5. 3.6. 3.7. 3.8. 3.4.3. Kepemilikan Bank 3.4.4. Merger, Konsolidasi, dan Akuisisi Bank 3.4.5. Kepengurusan Bank 3.4.6. Penggunaan Tenaga Asing pada Bank 3.4.7. Permodalan Bank Pembinaan dan Pengawasan Bank 3.5.1. Pengertian Pembinaan dan Pengawasan Bank 3.5.2. Otoritas Pembina dan Pengawas Bank 3.5.3. Tingkat Kesehatan Bank 3.5.4. Kewajiban-kewajiban Bank 3.5.5. Pemeriksaan Bank 3.5.6. Penyelesaian terhadap Bank yang Bermasalah 3.5.7. Rekapitalisasi Bank Kerahasiaan Bank 3.6.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Kerahasiaan Bank 3.6.2. Pengecualian terhadap Rahasia Bank 3.6.3. Sanksi terhadap Pelanggaran Rahasia Bank Likuidasi Bank 3.7.1. Pengertian Likuidasi Bank 3.7.2. Dasar Hukum Likuidasi Bank 3.7.3. Pencabutan Izin Usaha Bank dan Akibat Hukumnya 3.7.4. Hak Utama Nasabah Penyimpan Dana 3.7.5. Tanggung Jawab Pribadi Pengurus/ Pemegang Saham Bank 76 84 104 112 112 122 122 124 128 133 137 143 146 153 153 155 164 166 166 168 171 177 184 3.7.6. Pemutusan Hubungan Kerja Pegawai Bank 190 Lembaga Penunjang Kinerja Bank 3.8.1. Badan Penyehatan Perbankan Nasional BPPN 3.8.2. Lembaga Penjamin Simpanan Nasabah DAFTAR PUSTAKA 194 194 199 203 Daftar lsi ix Bab 4 KEGIATAN USAHA BANK 208 4.1. Kegiatan Usaha Bank 208 4.2. Penghimpunan Dana 221 4.2.1. Simpanan Giro/Rekening Koran 222 4.2.2. Simpanan Deposito (Deposito Berjangka) 228 4.2.3. Simpanan Sertifikat Deposito 230 4.2.4, Simpanan Tabungan 232 DAFTAR PUSTAKA 234 Bab 5 PERKREDITAN DAN JAMINAN 236 5.1. Perkreditan Bank 236 5.1.1. Pengertian dan Unsur-unsur Kredit 236 5.1.2. Penggolongan Kredit 238 5.1.3. Prinsip-prinsip Pemberian Kredit 246 5.1.4. Pembatasan Pemberian Kredit 251 5.1.5. Kredit Bermasalah 255 5.2. Perjanjian Kredit Bank 260 5.2.1. Perjanjian Kredit Bank Adalah Perjanjian Tidak Bernama 260 5.2.2. Bentuk Perjanjian Kredit Bank 263 5.2.3. Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Baku 265 5.2.4. Isi Perjanjian Kredit Bank 267 5.2.5. Perlindungan Setara Subjek Perjanjian Kredit Bank 274 5.2.6. Hapusnya Perjanjian Kredit Bank 278 5.3. Jaminan Kredit Bank 281 5.3.1. Jaminan Kredit: Pengertian dan Kegunaannya 281 5.3.2. Penggolongan Jaminan Kredit Bank 287 5.4. Penyelamatan dan Penyelesaian Kredit Bank 293 5.4.1. Penyelamatan Kredit oleh Bank 293 5.4.2. Penyelesaian Kredit oleh Bank 296 DAFTAR PUSTAKA 303 TENTANG PENULIS 307 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. iy Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia ekonomi. Buku ini berisikan uraian, yang menyangkut kelembagaan dan kegiatan usaha perbankan, termasuk cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usaha perbankan yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Uraian dalam buku ini disusun secara sistematis, sehingga dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari dan memperdalam pengetahuan dan pemahamannya mengenai bisnis perbankan nasional dari kaca mata hukum. Uraian dalam buku ini diawali dengan pengertian dan dasar hukum perbankan, agar mahasiswa dapat menjelaskan pengertian, sumber-sumber dan asas-asas hukum perbankan di Indonesia. Kemu- dian pada bab kedua diuraikan sistem keuangan di Indonesia, sehingga mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan lembaga keuangan perbankan dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya di luar per- bankan. Selanjutnya pada bab ketiga diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan kelembagaan bank. Dalam bab berikutnya diuraikan mengenai usaha-usaha bank dan penghimpunan dana oleh bank. Pada bab kelima diulas dimensi hukum perkreditan dan jaminan bank. Dengan demikian buku ini pada prinsipnya berisikan uraian awal untuk mempelajari dan memahami lebih lanjut bisnis perbankan nasional dari kaca mata sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Buku dengan sistematisasi yang baik ini tidak terlepas dari bantuan, dorongan, dukungan, masukan dan bimbingan dari pelbagai pihak dan kalangan, baik secara perscorangan maupun kelembagaan. Saya dengan penuh sukacita menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan buku ini. Atas segala budi baiknya, seraya memanjatkan doa semoga Allah SWT Tuhan Yang Mahakuasa akan memberikan pahala sesuai dengan amalnya. Pada kesempatan ini saya tidak mungkin menyebutkan satu per satu pihak-pihak yang telah membantu, hanya beberapa nama saja yang disebutkan, yakni Bapak aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 6 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia janjian (kontrak) yang dibuat oleh kedua belah pihak sendiri. Dengan kata lain, hukum yang dalam keadaan bagaimanapun juga harus ditaati, hukum yang mempunyai paksaan mutlak (absolut). Sedangkan hukum mengatur ialah hukum yang dalam keadaan konkret dapat di- sisihkan oleh perjanjian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bila- mana kedua belah pihak dapat menyelesaikan soal mereka dengan membuat sendiri suatu peraturan, maka peraturan hukum yang ter- cantum dalam pasal yang bersangkutan, tidak perlu dijalankan. Hukum mengatur biasanya dijalankan, bilamana kedua belah pihak tidak membuat sendiri suatu peraturan atau membuat sendiri suatu peraturan tetapi tidak lengkap. Hukum mengatur disebut juga hukum menambah (Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto 1980:21-26 dan E, Utrecht 1983:28-30). Sekarang bagaimana dengan sifat hukum perbankan kita? Sifat hukum perbankan kita merupakan hukum memaksa, artinya bank dalam menjalankan usahanya harus tunduk dan patuh terhadap rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Apabila rambu-rambu perbankan tadi dilanggar, Bank Indonesia berwenang menindak bank yang bersangkutan dengan menjatuhkan sanksi administratif, seperti mencabut izin usahanya. Walaupun demikian dalam rangka pengawasan intern, bank diperkenankan membuat ke- tentuan internal bank sendiri (se/f regulation) dengan berpedoman ke- pada kebijakan umum yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketentuan internal bank sendiri ini dimaksudkan sebagai standar atau ukuran yang jelas dan tegas dalam pengawasan internal bank, sehingga bank diharapkan dapat melaksanakan kebijakannya sendiri dengan baik dan penuh tanggung jawab. Undang-Undang Perbankan yang Diubah merupakan sumber utama dari hukum perbankan di Indonesia. Karenanya segala ketentuan perbankan di Indonesia harus disesuaikan dengan Undang-Undang Perbankan yang Diubah tersebut. Dengan berlakunya Undang- Undang Perbankan yang Diubah, selain menyatakan tidak berlaku lagi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan, juga menyatakan tidak berlakunya lagi peraturan lainnya, yakni: aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 10 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia jasa, maka diperlukan penyesuaian terhadap peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang perekonomian, khususnya sektor perbankan. Jadi, penyempurnaan Undang-Undang Perbankan 1992 ini agar lebih sesuai dengan perkembangan perdagangan dunia di era globalisasi. Schubungan dengan itu, Penjelasan Umum-nya menyatakan antara lain: ”Sejalan dengan perkembangan tersebut—adanya komitmen Indone- sia dalam berbagai forum internasional seperti World Trade Organiza- tion (WTO), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Asso- ciation of South East Asian Nations (ASEAN)—diperlukan berbagai penyesuaian dalam peraturan perbankan nasional termasuk pembukaan akses pasar dan perlakuan non-diskriminatif terhadap pihak asing. Upaya liberalisasi di bidang perbankan dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat sekaligus meningkatkan kinerja perbankan nasional. Oleh karena itu, pihak asing perlu diberi kesempatan yang lebih besar untuk berperan serta dalam memiliki bank nasional sehingga tetap terjadi kemitraan dengan pihak nasional.” Dengan demikian dapat disimpulkan, penyempurnaan Undang- Undang Perbankan 1992 tersebut dimaksudkan agar peraturan perbankan lebih sesuai dengan perkembangan dan kebijakan di bidang ekonomi dan perdagangan nasional maupun dunia. Selain itu, juga untuk menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Undang-Undang Perbankan tersebut. Penyempurnaan yang telah dilakukan terhadap Undang-Undang Perbankan 1992 tersebut, meliputi antara lain: 1. peralihan kewenangan dalam pemberian izin pendirian bank kepada Bank Indonesia dari Departemen Keuangan, dengan memberikan kewenangan penetapan oleh Bank Indonesia atas beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Selain itu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga menekankan pentingnya fungsi penyehatan perbankan dapat dilakukan oleh Bank Indonesia; perlunya konsultasi kepada DPR dalam rangka pembentukan badan khusus penyehatan perbankan nasional, mengingat adanya peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dalam pendanaan pro- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 14 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia bisa hanya melihat pada peraturan-peraturan hukumnya saja, melainkan harus menggalinya sampai kepada asas-asas hukumnya. Asas hukum inilah yang memberi makna etis kepada peraturan-peraturan hukum serta tata hukum (Satjipto Rahardjo 1996:47). Dalam melaksanakan kemitraan antara bank dan nasabahnya, untuk terciptanya sistem perbankan yang sehat, kegiatan perbankan perlu dilandasi dengan beberapa asas hukum (khusus), yaitu: 1, Asas Demokrasi Ekonomi Asas demokrasi ekonomi ditegaskan dalam pasal 2 Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Pasal tersebut menyatakan, bahwa perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Ini berarti, fungsi dan usaha perbankan diarahkan untuk melak- sanakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam demokrasi ekonomi yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Mengenai hal ini, Penjelasan Umum Undang-Undang Perbankan 1992 menyatakan antara lain: "Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, kesinambungan dan peningkatan pelaksanaan pembangunan nasional yang berasaskan kekeluargaan, perlu senantiasa dipelihara dengan baik. Guna mencapai tujuan tersebut, maka pelaksanaan pembangunan ekonomi harus lebih memperhatikan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan unsur-unsur pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional. Salah satu yang mempunyai peran strategis dalam menyerasikan dan menyeimbangkan masing-masing unsur dari Trilogi Pembangunan adalah perbankan. Peran yang strategis tersebut terutama disebabkan oleh fungsi utama bank sebagai suatu wahana yang efektif dan efisien, yang dengan berasaskan demokrasi ekonomi mendukung pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak”. Dengan demikian jelaslah, bahwa perbankan dalam menjalankan fungsi dan usahanya harus memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 18 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia Undang-Undang Perbankan 1992 merahasiakan keadaan keuangan nasabah penyimpan dan nasabah debitor. Kedua nasabah bank ini dilindungi oleh rahasia bank. Sedangkan Undang-Undang Perbankan yang Diubah membatasi rahasia bank hanya tentang keadaan keuangan nasabah penyimpan dana saja. Pasal 40 Undang- Undang Perbankan yang Diubah menyatakan bahwa bank wajib merahasiakan informasi mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. Ketentuan rahasia bank ini dapat dikecualikan dalam hal tertentu, yakni untuk kepentingan perpajakan, penyelesaian piutang bank, peradilan pidana, perkara perdata antara bank dan nasabahnya, tukar menukar informasi antara bank atas permintaan, persetujuan atau kuasa dari nasabah penyimpan dana. Dengan demikian, berdasarkan Undang-Undang Perbankan yang Diubah, tidak seluruh aspek yang ditatausahakan bank merupakan hal-hal yang dirahasiakan. Walaupun demikian, rahasia bank merupakan salah satu unsur yang harus dimiliki oleh setiap bank dalam fung- sinya sebagai lembaga kepercayaan masyarakat pengelola dana ma- syarakat. Keterikatan bank terhadap ketentuan atau kewajiban meraha- siakan keadaan keuangan nasabahnya menunjukkan bahwa hu- bungan antara bank dan nasabah penyimpan dana dilandasi oleh asas kerahasiaan. Oleh karena itu, hubungan antara bank dan nasabah penyimpan adalah hubungan kerahasiaan (Bandingkan Sutan Remy Sjahdeini 1993:173). 4. Asas Kehati-hatian (Prudential Principle) Asas kehati-hatian adalah suatu asas yang menyatakan bahwa bank dalam menjalankan fungsi dan kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam rangka melindungi dana masyarakat yang dipercayakan padanya. Hal ini disebutkan dalam Pasal 2 Undang-Undang Perbankan yang Diubah, bahwa perbankan In- donesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Kemudian disebutkan pula dalam Pasal 29 Undang-Undang Perbankan yang Diubah bahwa bank wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 2 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia @ pasar tempat instrumen-instrumen tersebut diperdagangkan (Achwan, Harry Tjahjono dan Totok Subjakto 1993:3). Sistem keuangan Indonesia dijalankan oleh bank sentral, perbankan, pegadaian, perusahaan perasuransian, dana pensiun, pasar modal, dan lembaga pembiayaan. Bank sentral dan perbankan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Sebagai- mana Telah Diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Pegadaian diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 dan Keputusan Presiden Nomor 56 Tahun 1985. Sementara itu, perusahaan perasuransian dan dana pensiun masing-masing diatur di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Lembaga keuangan pasar modal diatur dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Yang terakhir, lembaga pembiayaan diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan. Lembaga-lembaga keuangan inilah yang memberikan pelayanan jasa keuangan kepada masyarakat Indonesia dengan menggunakan instrumen keuangan tertentu sesuai dengan jenis usahanya yang dijalankan dari lembaga-lembaga keuangan tersebut. Banklah yang hanya diperkenankan secara langsung menarik dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menerbitkan surat pengakuan utang. Semula, kewenangan dan tanggung jawab mengenai perizinan bank berada di tangan Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia, kini dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 perizinan berada pada Pimpinan Bank Indonesia, sehingga Bank Indonesia memiliki kewenangan dan tanggung jawab utuh untuk menetapkan perizinan, pembinaan, dan pengawasan bank serta pengenaan sanksi terhadap bank yang tidak mematuhi peraturan perbankan yang berlaku. Dengan demikian tidak terjadi lagi dualisme perihal pemegang otoritas perbankan. Sedangkan lembaga keuangan lainnya, otoritas yang memberi izin usaha, membina, dan mengawasinya berada pada Menteri Keuangan. Khusus pengawasan lembaga pembia- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 26 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia dengan tugas mengajukan usul nasionalisasi kepada Pemerintah dan menyusun Rancangan Undang-Undang Nasionalisasi De Javasche Bank serta menyusun Rancangan Undang-Undang Bank Indonesia. Pembentukan panitianya dilakukan dengan Keputusan Pemerintah Nomor 118 Tahun 1951 tanggal 2 Juni 1951. Nasionalisasi De Javasche Bank disahkan melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1951 tanggal 15 Desember 1951. Sedangkan pembentukan Bank Indonesia selaku bank sentral (sirkulasi) sebagai pengganti De Javasche Bank dan Bank Negara Indonesia baru dilakukan pada tanggal 1 Juli 1953 berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia. Sekitar tahun 1965, terjadi perubahan kebijakan perbankan yang drastis dan menyeluruh, sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat tentang penyusunan dan pengembangan ekonomi terpimpin pada waktu itu. Dilaksanakanlah kebijakan "Bank Berjuang”, di mana seluruh bank terutama bank-bank pemerintah harus menjadi alat pemerintah untuk mencapai tujuannya, dan terhadap mereka dilakukan pengawasan serta manajemen secara langsung. Untuk itu seluruh bank negara termasuk bank sentral, yaitu Bank Indonesia, dileburkan menjadi satu Bank Tunggal bernama Bank Negara Indonesia (BNI) dengan beberapa unit yang merupakan spesialisasi kegiatan mereka masing-masing. Ini merupakan sistem ”Bank Tunggal”. Dengan pengintegrasian ini, maka Bank Indonesia diubah menjadi BNI Unit I. Bank Koperasi Tani dan Nelayan menjadi BNI Unit II, Bank Negara Indonesia 1946 menjadi BNI Unit III, Bank Umum Negara menjadi BNI Unit IV dan Bank Tabungan Negara yang sebelumnya bernama Bank Tabungan Pos menjadi BNI Unit V. Di samping itu masih ada Bank Dagang Negara dan Bank Pembangunan Industri yang semula pada waktu didirikan bernama Bank Industri Negara. Seluruh pengintegrasian ini diatur dengan Penetapan Presiden Nomor 8,9,10,11,13, dan 17 Tahun 1965 (Faried Wijaya M. 1991:18). Sebagai langkah ke arah perbaikan ckonomi rakyat, Orde Baru mengadakan penilaian kembali semua landasan kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan. Dalam hubungan ini, Pasal 55 Ketetapan MPRS Nomor XXIII/MPRS/1966 menyatakan bahwa dalam rangka aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 34 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia menyesuaikan diri dengan bentuk hukum bank yang diatur di dalam undang-undang tersebut. Penyesuaian bentuk hukum dari bank umum milik negara tersebut menjadi perusahaan persero (PT Persero) dilakukan dengan peraturan pemerintah, yaitu: @ Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Negara Indonesia 1946 menjadi Perusahaan Perseroan (Persero); @ Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Dagang Negara menjadi Perusahaan Pawsaioai (Perera): e Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Rakyat Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero); e Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Ekspor Impor menjadi Perusahaan Perseroan (Persero); @ Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Bumi Daya menjadi Perusahaan Perseroan (Persero); e Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Tabungan Negara menjadi Perusahaan Perseroan (Persero); @ Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1992 tentang Penyesuaian Bentuk Hukum Bank Pembangunan Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Kemudian sejak tahun 1999, dari ketujuh bank umum milik negara ini, empat bank, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indo- nesia, Bank Bumi Daya, dan Bank Pembangunan Indonesia telah menggabungkan diri menjadi PT Bank Mandiri, yang total asetnya hampir mencapai Rp 160,5 triliun. Sedangkan Bank Negara Indonesia 1946, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Tabungan Negara tetap berdiri sendiri. Dulu terdengar kabar kalau Bank Tabungan Negara akan diakuisisi oleh Bank Negara Indonesia 1946. Penggabungan atau aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 38 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia Kegiatan operasi bank campuran ini umumnya hanya melakukan whosale atau corporate banking, yakni kegiatan yang hanya melayani nasabah-nasabah relatif besar saja. Di samping itu, nasabah-nasabah mereka umumnya nasabah yang telah memiliki hubungan bisnis dengan bank partner asing di negara asal atau negara asing lain. Bank campuran tersebut melakukan fungsi sebagai sumber informasi terutama bagi partner asing di samping menjalankan fungsi peng- awasan atas usaha nasabah yang bersangkutan. (Dahlan Siamat 1995:55) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Perbankan di banyak negara pada umumnya tidak ditujukan untuk melayani masyarakat kecil. Tata letak perkantoran, struktur organisasi, program pendidikan, falsafah perusahaan, manajemen dan sistem administrasi, cara dan prosedur pelayanannya, semua ditujukan untuk melayani orang-orang yang mapan dan berada. Namun di Indonesia sudah sejak lama ada sejenis bank yang khusus melayani masyarakat kecil yang membutuhkan bantuan dana di pasar-pasar dan di desa- desa. Selain itu, tugasnya adalah menghimpun dana tabungan masyarakat berupa deposito berjangka (Pandu Suharto, dalam Dju- haendah Hasan 1996:191-192). Dengan dikeluarkannya paket kebijakan 27 Oktober 1988, di Indonesia terdapat dua jenis BPR, yaitu BPR gaya lama (BPR yang telah memperoleh izin sebelum paket kebijakan 27 Oktober 1988) dan BPR gaya baru (BPR yang memperoleh izin usaha setelah paket kebijakan 27 Oktober 1988). BPR gaya lama ini terdiri atas bank desa, lumbung desa, bak pasar, bank pegawai, lumbung pitih nagari, lembaga perkreditan desa, badan kredit desa, badan kredit kecamatan, kredit usaha rakyat kecil, lembaga perkreditan kecamatan, bank karya produksi desa dan lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan dengan itu. Sesuai dengan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967, status dan tugas BPR gaya lama ditetapkan dalam Undang-Undang. Sambil menunggu dikeluarkannya undang-undang dimaksud, pengaturannya diadakan dalam Keputusan Presiden Nomor 38 Tahun 1988 tentang aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 42 Aspek-asptk Hukum Perbankan di Indonesia Rakyat yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, tidak diperkenankan melaksanakan kegiatan secara konvensional. Diperkenankannya bank melakukan kegiatan berdasarkan prinsip syariah diharapkan akan dapat saling melengkapi dengan lembaga- lembaga keuangan lainnya yang telah terlebih dahulu dikenal dalam sistem perbankan kita. Di samping itu, pendirian jenis bank syariah tersebut akan dapat memberi pelayanan kepada golongan masyarakat yang karena prinsip agama dan kepercayaan tidak bersedia meman- faatkan jasa-jasa bank konvensional. Bagaimanapun juga harus diakui bahwa dalam masyarakat banyak kelompok yang memiliki prinsip bahwa sistem bunga yang dianut oleh perbankan merupakan pelanggaran terhadap syariat agama dan merupakan riba yang dalam hukum Islam merupakan perbuatan dosa atau haram. Sejalan dengan itu, bank syariah ini dimaksudkan untuk melayani segmen pasar tersebut (Dahlan Siamat 1995:121). Biasanya untuk melakukan pengawasan atas produk perbankan dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kepada masyarakat, agar berjalan sesuai dengan prinsip syariah, dibentuklah apa yang dinamakan dengan Dewan Pengawas Syariah. Dewan ini bersifat independen dan terpisah dari kepengurusan bank sehingga tidak mempunyai akses terhadap operasional bank syariah yang bersangkutan. Tugas Dewan Pengawas Syariah tersebut adalah menentukan boleh tidaknya suatu produk atau jasa perbankan dipasarkan atau suatu kegiatan dilakukan, ditinjau dari sudut syariah menurut hukum Islam. Oleh karena itu, anggota-anggota yang duduk dalam Dewan Pengawas Syariah harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam me- ngenai syariah hukum Islam. Dalam pelaksanaan tugasnya, Dewan Pengawas Syariah setidaknya berkonsultasi pula dengan lembaga-lembaga wadah para ulama Indonesia yang ada di organisasi massa Islam. 2.4, LEMBAGA-LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA Pada prinsipnya lembaga-lembaga keuangan bukan bank tidak dapat digolongkan ke dalam sistem moneter dan perbankan. Oleh karena aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 46 Aspek-aspeke Hukum Perbankan di Indonesia kegiatan pembiayaan sebagai salah satu pilihan sumber pembiayaan pembangunan dalam rangka menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Perusahaan pembiayaan tersebut dapat melakukan satu atau lebih kegiatan bidang usaha: a. sewa-guna (/easing), yakni usaha pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara "finance lease” maupun ”op- erating lease” untuk digunakan oleh penyewa guna usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala; b. modal ventura (ventura capital), yakni usaha pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (investee company) untuk jangka waktu ter- tentu; c. perdagangan surat berharga (securities), yakni usaha pembiayaan dalam bentuk perdagangan surat berharga; d. anjak-piutang (factoring), yakni usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan-tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri; e. usaha kartu kredit (credit card), yakni usaha pembiayaan untuk membeli barang dan jasa dengan menggunakan kartu kredit; f, pembiayaan konsumen (consumers finance), yakni usaha pembiayaan untuk pengadaan barang untuk kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala. Perusahaan pembiayaan adalah badan usaha di luar bank dan LKBB, yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Dari pengertian ini, terlihat kegiatan usaha perusahaan pembiayaan berbeda dengan kegiatan usaha bank, sehingga pilihan sumber dana pembiayaan pembangunan tidak hanya mengandalkan lembaga perbankan. Berdasarkan pengertian tersebut, dalam melakukan kegiatan usahanya perusahaan pembiayaan: aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 54 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia badan maupun kelembagaan yang mempunyai kelebihan dana dan ingin menginvestasikannya, dapat melakukannya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui pasar modal. Ada perbedaan yang sangat mendasar dari manfaat tersebut. Misalnya jika kelebihan dana tersebut didepositokan, umumnya berjangka pendek, sebagai imbalannya si pemilik dana tersebut memperoleh bunga tetap dengan jangka waktu tertentu. Namun jika kelebihan dana tersebut diinvestasikan melalui pasar modal, khususnya saham, selain memperoleh dividen, pemilik dana tersebut juga memperoleh capital gain, yaitu selisih lebih dari nilai kurs pada saat saham tersebut dijual. Di samping itu, pemegang saham dapat menentukan arah kebijakan perusahaan. Pemegang saham mempunyai hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Risiko pemegang saham relatif sangat kecil dibandingkan dengan deposito bila terjadi devaluasi. Undang-undang Pasar Modal dalam hubungannya dengan pasar modal tidak memberi definisi secara menyeluruh, tetapi lebih menitikberatkan kepada kegiatan dan para pelaku di suatu pasar modal (Bandingkan Munir Fuadi 1996:11). Oleh karena itu, undang- undang mendefinisikan pasar modal sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995, kelembagaan pasar modal meliputi: 1. Instansi yang terkait dengan/dalam pasar modal: a. Badan Pengawas Pasar Modal; b. Bursa efek; c. Lembaga Kliring dan Penjaminan; d. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian; e. Reksa Dana. 2. Perusahaan sekuritas/efek: a. Penjamin/ Wakil Penjamin Emisi Efek aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 58 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia Mariam Darus Badrulzaman. 1991. Bab-bab tentang Credietverband, Gadai dan Fiducia. Bandung: Alumni. Mariam Darus Badrulzaman. 1994. Ancka Hukum Bisnis. Bandung: Alumni. M. Dawam Rahardjo, et.al. 1995. Bank Indonesia: Dalam Kilasan Sejarah Bangsa. Jakarta: LP3ES. Muhammad Djumhana. 1993. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: Alumni. Munir Fuadi. 1995. Hukum tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Munir Fuadi. 1996. Pasar Modal Modern (Tinjauan Hukum). Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Munir Fuadi. 1997. Pembiayaan Perusahaan Masa Kini (Tinjauan Hukum Bisnis). Bandung: PT Citra Aditya Bakti. MN. Purwosutjipto. 1995. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 1: Pengetabwan Dasar Hukum Dagang. Jakarta: PT Djambatan. Pasar Modal Indonesia dan Bapepam. Badan Pengawas Pasar Modal Departemen Keuangan Republik Indonesia. Rachmadi Usman. 1997. Aspek-aspek Hukum Bank Bagi Hasil. Banjarmasin: Fakultas Hukum Lambung Mangkurat. Sejarah dan Kebijakan Pemerintah di Bidang Pasar Modal. Badan Pengawas Pasar Modal Departemen Keuangan Republik Indonesia. Siti Ismijati Jenie. 1996. ”Beberapa Perjanjian yang Bekenaan dengan Kegiatan Pembiayaan”. Makalah disajikan pada Penataran Dosen Hukum Perdata. Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Stephen M. Goldeeld dan Lester V. Chandler. 1990, Ekonomi, Uang, dan Bank. Jakarta: Erlangga. Thomas Suyatno, et.al. 1994. Kelembagaan Perbankan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Widjanarto. 1994. Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 62 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia 3. dalam menjalankan fungsi tersebut, perbankan Indonesia harus mampu melindungi secara baik apa yang dititipkan masyarakat kepadanya (Penjelasan Umum Angka 3) dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking), dengan cara: © fisien, sehat, wajar dalam persaingan yang sehat yang semakin mengglobal atau mendunia; dan @ menyalurkan dana masyarakat tersebut ke bidang-bidang yang produktif, bukan konsumuif; 4. Peningkatan perlindungan dana masyarakat yang dipercayakan pada bank, selain melalui penerapan prinsip kehati-hatian, juga pemenuhan ketentuan persyaratan kesehatan bank, serta sekaligus berfungsi untuk mencegah terjadinya praktek-praktek yang merugikan kepentingan masyarakat luas (Penjelasan Angka 7). Dengan demikian, fungsi perbankan kita tidak hanya sekadar sebagai wadah penghimpun dan penyalur dana masyarakat atau perantara penabung dan investor, tetapi fungsinya akan diarahkan kepada peningkatan taraf hidup rakyat banyak, agar masyarakat menjadi lebih baik dan sejahtera daripada sebelumnya. Oleh karena itu, dalam menjalankan fungsinya, Perbankan Indonesia seyogianya selalu mengacu pada tujuan Perbankan Indonesia tersebut. 3.2. JENIS BANK Dengan Undang-Undang Perbankan yang Diubah, kembali kelemba- gaan bank ditata dalam struktur yang lebih sederhana, menjadi dua jenis bank saja, yaitu: Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Pem- bedaan jenis bank ini ditegaskan dalam pasal 5 Undang-Undang Per- bankan yang Diubah. Dikatakan menurut jenisnya, bank terdiri atas: a. Bank Umum Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 68 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia kegiatan. usaha secara konvensional. Demikian juga Bank Perkreditan Rakyat yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. PENGAWASAN BANK SYARIAH Pengawasan terhadap bank syariah dilakukan secara rangkap, yaitu: 1. Pengawasan umum Pengawasan umum terhadap bank syariah dilakukan oleh Bank Indonesia, sama seperti bank konvensional pada umumnya. Bank Indonesia bertindak mengawasi bank syariah selaku pemegang otoritas pembina dan pengawas bank. Di samping itu, secara in- ternal, bank syariah diawasi pula oleh dewan komisaris, dewan pengawas, atau pengawas bank yang bersangkutan. 2. Pengawasan khusus Pengawasan khusus terhadap bank syariah dilakukan oleh Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas Syariah yang ada pada tiap bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Dewan Syariah Nasional dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia yang bertugas dan memiliki kewenangan untuk memastikan kesesuaian antara produk, jasa, dan kegiatan usaha bank dengan prinsip syariah. Sedangkan Dewan Pengawas Syariah berkedudukan di kantor pusat bank yang melakukan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Dengan demikian, Dewan Pengawas Syariah ini: i. berfungsi untuk mengawasi kegiatan usaha bank syariah agar sesuai dengan prinsip syariah; ii, dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Dewan Pengawas Syariah wajib mengikuti fatwa Dewan Syariah Nasional; iii. kedudukan Dewan Pengawas Syariah bersifat independen, yang dibentuk oleh Dewan Syariah Nasional, dengan tugas yang diatur oleh Dewan Syariah Nasional; aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 72 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia oleh Bank Indonesia. Berkaitan dengan itu, pemerintah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1999 telah mencabut peraturan-peraturan Pemerintah tersebut, selanjutnya Bank Indonesia yang akan mengatur. Pembukaan Kantor Bank yang Berkedudukan di Luar Negeri Pembukaan kantor-kantor cabang pembantu dan kantor-kantor perwakilan dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri, hanya dapat dilakukan dengan izin Pimpinan Bank Indonesia. Bank yang berkedudukan di luar negeri adalah bank yang didirikan berdasarkan hukum asing dan berkantor pusat di luar negeri. Dengan demikian, bank yang bersangkutan tunduk pada hukum di tempat bank tersebut didirikan. Bank Indonesia dalam memberikan izin pembukaan jenis kantor-kantor dimaksud, selain memperhatikan tingkat kesehatan bank juga memperhatikan tingkat persaingan yang sehat antar-bank, tingkat kejenuhan jumlah kantor bank dalam suatu wilayah tertentu, serta pemerataan pembangunan ekonomi nasional. Sedangkan pembukaan kantor di bawah kantor cabang pembantu dari bank yang berkedudukan di luar negeri tersebut, wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia. Persyaratan dan tata cara pembukaan kantor-kantor bank yang berkedudukan di luar negeri diatur lebih lanjut di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1999 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pembukaan Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu dan Kantor Perwakilan dari Bank yang Berkedudukan di Luar Negeri, yang kemudian dijabarkan lagi dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/37/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pembukaan Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, dan Kantor Perwakilan dari Bank yang Berkedu- dukan di Luar Negeri. Hal-hal pokok yang diatur pada ketentuan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Bank yang berkedudukan di luar negeri yang dapat membuka kantor di Indonesia adalah bank yang: a. mempunyai peringkat dan reputasi baik berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional terkemuka; aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 76 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia hukum koperasi dimiliki oleh anggota koperasi yang kegiatan usaha- nya ditujukan untuk mensejahterakan para anggota koperasi yang bersangkutan selain masyarakat pada umumnya. Perusahaan perseroan terbatas dapat pula menjalankan kegiatan usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Perusahaan perseroan terbatas ini merupakan persekutuan yang berbentuk badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian. Hal ini dikemukakan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, bahwa perseroan terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Sebagai badan hukum, perusahaan perseroan terbatas mempunyai /egal personality yang terbatas pada nilai nominal saham yang dimilikinya. 3.4.3. KEPEMILIKAN BANK Kepemilikan bank diatur di dalam pasal 22 sampai dengan pasal 28 Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Pada prinsipnya pendiri Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat bisa warga negara atau badan hukum Indonesia dan khusus Bank Perkreditan Rakyat dapat dimiliki bersama oleh pendirinya. Di Indonesia, bank tidak dapat didirikan oleh warga negara asing sendiri, kecuali didirikan secara kemitraan antara warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia dengan warga negara asing dan/atau badan hukum asing. Bank Umum hanya dapat didirikan oleh: a. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia. Badan hukum Indonesia tersebut antara lain negara Republik Indonesia, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, koperasi, dan badan usaha milik swasta; atau b. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia dengan warga negara dan/atau badan hukum asing secara kemitraan. Jika salah satu pihak yang mendirikan Bank Umum tersebut adalah aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 80 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia kesulitan untuk mengetahui perubahan kepemilikan saham bank yang bersangkutan. Kepemilikan Saham Bank Umum Dalam kehidupan perekonomian yang semakin terbuka dan berkembang cepat seperti saat ini, dibutuhkan layanan jasa perbankan yang semakin luas, baik, dan berkualitas. Schubungan dengan itu diperlukan sistem perbankan yang sehat, efisien, tangguh, dan mampu bersaing. Oleh karena itu, perbankan perlu didorong untuk memperkuat struktur permodalannya, baik dengan mengupayakan sumber dana dari dalam maupun dari luar negeri, termasuk pula untuk penyebaran kepemilikan dan meningkatkan kinerja bank yang bersangkutan. Untuk memperkuat struktur permodalan perbankan tersebut, maka dibuka kemungkinan yang lebih besar bagi masyarakat untuk membeli saham Bank Umum. Pasal 26 Undang-Undang Perbankan yang Diubah menetapkan bahwa Bank Umum dapat melakukan emisi saham melalui bursa efek di Indonesia dan/atau di luar negeri. Sebagai pembelinya tidak terbatas, siapa saja diberikan kesempatan untuk memiliki saham Bank Umum dengan secara langsung dan/atau melalui bursa efek, baik perorangan maupun badan hukum, serta baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing dan/atau badan hukum Indonesia maupun badan hukum asing dengan tetap mempertahankan prinsip kemitraan. Diharapkan perorangan dan/ atau badan hukum yang membeli saham Bank Umum akan mampu meningkatkan permodalan dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan tingkat kesehatan bank yang bersangkutan. Pada gilirannya, dengan perubahan struktur permodalan dimaksud akan dapat membantu menciptakan sistem perbankan yang sehat. Berbeda dengan ketentuan sebelumnya, yang membatasi kepemi- likan saham Bank Umum oleh pihak asing untuk tidak menjadi mayoritas dari jumlah seluruh saham yang dijual melalui bursa efek, pasal yang sama dari Undang-Undang Perbankan 1992 menyatakan bahwa warga negara asing dan/atau badan hukum asing dapat membeli saham Bank Umum melalui bursa efek, dengan ketentuan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 106 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia vy. jumlah anggota direksi sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang, di antaranya 1 (satu) orang kewarganegaraan Indonesia jika sebagian saham dimiliki oleh pihak asing; vi. mayoritas anggota direksi bank umum berpengalaman dalam operasional bank sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebagai pejabat eksekutif, sedangkan untuk anggota direksi Bank Umum berdasarkan prinsip syariah dipersyaratkan hanya 1 (satu) tahun atau mengikuti pelatihan perbankan syariah jika anggota direksi belum berpengalaman; vii. mayoritas anggota direksi dilarang memiliki hubungan keluarga sampai dengan derajat kedua termasuk suami istri, keponakan, menantu, ipar, dan besan dengan anggota direksi lain atau anggota dewan komisaris; viii. dilarang merangkap jabatan sebagai anggota dewan komisaris, direksi atau pejabat eksekutif pada lembaga perbankan, perusahaan atau lembaga lain; ix. di antara anggota-anggota direksi dilarang secara sendiri- sendiri atau bersama-sama memiliki saham melebihi 25% (dua puluh lima per seratus) dari modal disetor pada suatu perusahaan lain; x. dilarang memberikan kuasa umum kepada pihak lain yang mengakibatkan pengalihan tugas dan wewenang tanpa batas. . direksi BPR harus memenuhi persyaratan: i, tidak termasuk dalam daftar orang tercela di bidang perbankan sesuai dengan yang ditetapkan oleh Bank Indo- nesia; ii, menurut penilaian Bank Indonesia yang bersangkutan memiliki akhlak dan moral yang baik; mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bersedia mengem- bangkan dan melakukan kegiatan usaha BPR/BPRS secara sehat; sekurang-kurangnya berpendidikan formal setingkat Di- ploma III atau sarjana muda; ili. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kelembagaan Perbankan 113 tingkat laba di satu pihak dan kemungkinan timbul risiko di pihak lain. Permodalan yang terlalu besar, akan dapat mempengaruhi jumlah perolehan laba bank. Sedangkan modal yang terlalu kecil di samping akan membatasi kemampuan ekspansi bank juga akan mempengaruhi penilaian khususnya para deposan, debitor dan juga pemegang saham bank. Dengan perkataan lain besar kecilnya permodalan bank akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan keuangan bank yang bersangkutan (Dahlan Siamat 1993:56). Penggunaan modal bank secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan berbagai tujuan guna menunjang kegiatan operasi bank. Jumlah modal suatu bank dianggap tidak mencukupi apabila tidak memenuhi maksud-maksud tesebut. Dalam manajemen bank umum penetapan jumlah kebutuhan modal merupakan masalah yang cukup kompleks. Kesulitan tersebut antara lain menentukan penggunaan dan kebutuhan modal bank. Pada dasarnya memutuskan tujuan modal jauh lebih sederhana karena tujuan modal bank dengan modal perusahaan non bank dapat dikatakan tidak jauh berbeda (Dahlan Siamat 1993:62). Fungsi utama modal bank umum pada prinsipnya ada tiga, yaitu fungsi operasional, fungsi perlindungan, dan fungsi pengaturan. Dari ketiga fungsi utama tersebut, fungsi modal bank dapat disimpulkan untuk: e melindungi deposan dengan menyanggah semua kerugian atau bila terjadi insolvensi dan likuidasi, terutama bagi sumber dana yang tidak diasuransikan; e untuk memenuhi kebutuhan gedung kantor, inventaris guna menunjang kegiatan operasional dan aktiva tidak produktif lainnya; e memenuhi ketentuan permodalan minimum, yaitu untuk menutupi kemungkinan terjadi kerugian pada aktiva yang memiliki risiko yang tidak dapat diperkirakan, sehingga operasi bank dapat tetap berjalan tanpa mengalami gangguan yang berarti; e untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat mengenai kemam- puan bank memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo dan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 122 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia Rakyat yang didirikan di wilayak ibukota propinsi di luar wilayah DKI Jakarta Raya dan Kabupaten/Kotamadya Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Kerawang; c. Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk Bank Perkreditan Rakyat yang didirikan di luar wilayah tersebut di atas. Bagi Bank Perkreditan Rakyat yang berbentuk hukum koperasi, modal disetornya berupa simpanan pokok, simpanan wajib, dan hibah sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Perkoperasian. Ditentukan pula bagian dari modal disctor Bank Perkreditan Rakyat yang digunakan untuk modal kerja sekurang-kurangnya berjumlah 50% (lima puluh Per seratus). Bagi Bank Perkreditan Rakyat yang berbentuk hukum perusahaan, permodalannya mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1992. 3.5. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN BANK 3.5.1. PENGERTIAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN BANK Apa yang dimaksud dengan fungsi ”pembinaan” dan ”pengawasan ” bank oleh Bank Indonesia dapat dibaca pada Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Penjelasan pasal 29 memberikan pengertian fungsi "pembinaan” dan ”pengawasan” bank tersebut, sebagai berikut: 1. pembinaan adalah upaya-upaya yang dilakukan dengan cara menetapkan peraturan yang menyangkut aspek-aspek: i. kelembagaan bank ii. kepemilikan bank iii. kepengurusan bank iv. kegiatan usaha bank y. pelaporan bank; serta vi. lainnya yang berhubungan dengan kegiatan operasional bank. 2. Pengawasan meliputi pengawasan tidak langsung, yang terutama dalam bentuk pengawasan dini melalui penelitian analisis dan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 126 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia 4. untuk menciptakan distorsi terhadap iklim persaingan yang sehat dari pasar dan tidak untuk memaksakan bank untuk melakukan kebijakan moneter dan kredit tertentu. Persaingan antara bank, justru iklim yang ingin diciptakan oleh kebijakan deregulasi karena dengan iklim tersebut, dapat diharapkan menciptakan efisiensi dalam perbankan. Demikian pula, kebijakan pengendalian moneter, khususnya pengendalian tidak langsung oleh Bank Indonesia, dimaksudkan untuk memberikan kepercayaan kepada perbankan dan sektor swasta untuk mengatur dirinya sendiri dalam memaksimalkan dan mengefisiensikan sumber-sumber pendanaan masyarakat pada sektor-sektor yang dari bisnis memang memerlukan bantuan kredit perbankan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa bank mampu memaksimalkan pelayanannya kepada masyarakat. Peranan pemerintah memang masih ada, namun pada tahap terakhir, manajemen bank sebagai pelaku ekonomilah yang menentukan arah pengalokasian dana yang dapat dihimpunnya (Bank Indonesia Banjarmasin 1996:15-17). Tetapi untuk masa mendatang, ctugas, kewenangan, dan tanggung jawab mengawasi bank tidak lagi dilakukan oleh Bank Indonesia, melainkan akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan. Hal ini diamanatkan dalam pasal 35 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999, bahwa tugas mengawasi bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen, dan dibentuk dengan undang- undang. Pembentukan akan dilaksanakan selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember 2002. Jadi, pada tahun 2003 mendatang, tugas mengawasi bank tidak lagi dilakukan oleh Bank Indonesia, melainkan diserahkan kepada lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen dan itu akan dibentuk dengan undang-undang. Dalam melaksanakan tugasnya nanti, lembaga ini (supervisory board) melakukan koordinasi dan kerja sama dengan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Lembaga pengawasan sektor jasa keuangan tersebut dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank yang dikoordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 130 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia disempurnakan dengan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 26/23/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank, Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993 tentang Tata cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 26/6/BPPP tanggal 29 Mei 1993 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat. Berdasarkan ketentuan tersebut, pelaksanaan penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan cara mengkuantifikasikan dua aspek, yaitu: 1. aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank dengan pendekatan kualitatif; 2. pelaksanaan ketentuan tertentu yang sanksinya dikaitkan dengan penilaian tingkat kesehatan bank. Ini berarti penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia didasarkan pada indikator yang biasanya disebut dengan CAMEL plus. Sebab di samping menilai faktor-faktor kuantitatif yang berkaitan dengan keadaan keuangan bank, juga menilai faktor-faktor lainnya yang bisa mempengaruhi hasil penilaian berupa ketaatan bank terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Perbankan yang Diubah dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank pada umumnya dan ketentuan tertentu yang wajib dilaksanakannya secara khusus. Inilah yang menjadi unsur tambahan di dalam penilaian tingkat kesehatan bank. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Tingkat kesehatan bank pada dasarnya dinilai dengan pendekatan kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank. Pendekatan kuantitatif dimaksud dilakukan dengan penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, dan likuiditas, yang disingkat dengan sebutan:"CAMEL?” (capital, assets quality, management qualiti, earnings and liquidity), yang terdiri atas beberapa komponen. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 134 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia menurut tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia berdasarkan pasal 30 Undang-Undang Perbankan yang Diubah dan pasal 8 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999. Apabila diperlukan, kewajib- an tersebut dikenakan pula terhadap perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait, dan pihak terafiliasi. Ketentuan ini akan dite- rapkan apabila perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait dan pihak terafiliasi tersebut mendapat fasilitas tertentu dari bank atau dapat diduga mempunyai peran dalam kegiatan operasional bank. Tujuan penyampaian keterangan dan penjelasan oleh bank kepada Bank Indonesia tersebut disebutkan pada penjelasan pasal 30 Undang- Undang Perbankan yang Diubah, antara lain sebagai berikut: ”Kewajiban penyampaian keterangan dan penjelasan yang berkaitan dengan kegiatan usaha suatu bank kepada Bank Indonesia diperlukan mengingat keterangan tersebut dibutuhkan untuk memantau keadaan dari suatu bank. Pemantauan keadaan bank perlu dilakukan dalam rangka melindungi dana masyarakat dan menjaga keberadaan lembaga perbankan. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan hanya dapat ditumbuhkan apabila lembaga perbankan dalam kegiatan usahanya selalu berada dalam keadaan sehat.” Dalam rangka memperolch kebenaran atas laporan yang disampaikan oleh bank, Bank Indonesia diberi wewenang untuk melakukan pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas yang ada pada bank. Oleh karenanya, bank berkewajiban untuk memberikan kesempatan kepada otoritas pembina dan pengawas bank untuk: i, memeriksa buku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya; serta ii. memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen, dan penjelasan yang dilaporkan oleh bank yang bersangkutan. Keterangan tentang bank yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan tadi tidak dapat diumumkan dan bersifat rahasia. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kelembagaan Perbankan 143 sia secara tertulis. Jika perlu Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaan ulang. b. Hasil pemeriksaan bank digunakan oleh Bank Indonesia sebagai bahan pembinaan dan pengawasan, antara lain melalui pembahasan intensif antara pengurus bank dengan Bank Indonesia dalam pertemuan wawancara. 3.5.6. PENYELESAIAN TERHADAP BANK YANG BERMASALAH Suatu bank dikatakan bermasalah jika bank yang bersangkutan mengalami kesulitan yang bisa membahayakan kelangsungan usahanya, yakni kondisi usaha bank semakin memburuk, yang antara lain ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas aset, likuiditas, dan rentabilitas serta pengelolaan bank yang tidak dilaksanakan berda- sarkan prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat. Ini berarti bank yang tidak bermasalah adalah bank yang kegiatan usahanya berkembang secara wajar, tanpa mengalami kesulitan yang berarti dalam segi permodalan, kualitas aset, likuiditas, dan rentabilitas. Bank yang bermasalah dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu: 1. bank yang bermasalah struktural, yakni bank yang kondisinya sudah tergolong sangat parah (tidak sehat) dan setiap saat dapat terancam kelangsungan hidupnya. Karakteristik bank yang masuk dalam Kategori ini biasanya antara lain kualitas aktiva produktif tidak sehat, akumulasi rugi cukup besar yang mengakibatkan modal menjadi negatif serta likuiditasnya sangat buruk. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh campur tangan pemilik dalam pengelolaan manajemen cukup besar yang antara lain dapat dilihat dari besarnya kredit yang diberikan kepada grup atau kelompok dari pemilik; 2. bank yang bermasalah non-struktural, biasanya campur tangan pe- milik tidak atau belum terlalu jauh dan kemudian pemilik menya- dari kesalahan tersebut. Sementara itu, meskipun rentabilitas bank cenderung memburuk akibat kualitas aktiva produksi yang juga kurang menggembirakan, namun modal bank masih mencukupi aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kelembagaan Perbankan 147 pemegang saham/pemilik maupun olch investor baru, dan penyertaan modal negara. Untuk itulah lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1998 tentang Program Rekapitalisasi Bank Umum, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubenur Bank Indonesia Nomor 53/KMK.017/1999 dan Nomor 31/12/KEP/GBI, tentang Pelaksanaan Program Rekapitalisasi Bank Umum. Nindyo Pramono mengemukskan bahwa rekapitalisasi sebenarnya adalah suatu hal yang lumrah terjadi dalam suatu koperasi. Perubahan struktur modal dengan cara menukarkan obligasi dengan saham (obligasi konversi) misalnya, adalah sesuatu yang biasa terjadi dalam sebuah perusahaan. Biasanya kebangkrutan merupakan alasan yang lazim untuk melakukan rekapitalisasi. Jika bank suatu negara banyak yang tidak sehat, maka kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan akan hilang. Mereka akan memilih lembaga investasi yang lain yang lebih menjanjikan keuntungan dan keamanan uangnya. Masyarakat pengusaha akan kesulitan mendapatkan bantuan modal, industri akan macet dan perekonomian secara makro akan hancur. Oleh karena itu, bank yang sakit harus disehatkan. Salah satunya dengan rekapitalisasi atau injeksi modal. Rekapitalisasi_ perbankan adalah hanya sebagian dari program restrukturisasi perbankan yang cakupannya jauh lebih luas. Oleh karena bisnis perbankan strukcur pendanaannya lebih berat ke utang daripada modal, maka untuk melakukan rekapitalisasi jelas akan membutuhkan dana yang besar. Dana itu juga dari uang rakyat. Untuk itu syarat transparansi diperlukan agar masyarakat tidak hilang kepercayaannya terhadap industri perbankan (Nindyo Pramono 1999:14-15). Peserta Program Rekapitalisasi Program rekapitalisasi ini dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengatasi kesulitan permodalan dan kelangsungan usaha Bank Umum. Tidak semua Bank Umum dapat masuk dalam program re- kapitalisasi ini. Sebelumnya terhadap Bank Umum yang akan ikut ser- ta dalam program rekapitalisasi dilakukan due diligence oleh auditor international. Dari due diligence, Bank Umum akan digolongkan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kelembagaan Perbankan 187 izin usahanya dicabut. Jawabannya, ya dapat dimintai pertanggung- jawaban secara perdata/pribadi, bahkan kepadanya dapat diancamkan dengan hukuman pidana dan/atau administratif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Hal ini telah diatur dalam pasal 23 dan pasal 24 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999. Pasal 23 menetapkan pemegang saham, anggota dewan komisaris atau pengawas, anggota direksi dan pejabat lainnya, pegawai serta pihak-pihak lain, yang turut serta mempengaruhi pengelolaan bank, yang telah melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan keadaan bank yang bersangkutan memburuk sehingga dicabut izin usahanya, yang telah melanggar ketentuan dalam peraturan pemerintah ini, diancam dengan sanksi pidana dan/atau administratif sebagaimana diatur dalam pasal 49, pasal 50, pasal 50A, pasal 52, dan pasal 53 Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Kemudian dalam pasal 24 ayat (1) menetapkan dalam hal harta kekayaan bank dalam likuidasi tidak cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban bank likuidasi tersebut, maka kekurangannya wajib dipenuhi oleh anggota direksi dan anggota dewan komisaris serta pemegang saham yang turut serta menjadi penyebab kesulitan keuangan yang dihadapi oleh bank atau menjadi penyebab kegagalan bank. Selanjutnya penjelasan pasal tersebut menyatakan sebagai berikut: ”Ketentuan ini dimaksud untuk mendukung prinsip kehati-hatian yang vwajib dilaksanakan oleh bank. Dalam hal anggota direksi, anggota dewan komisaris, dan pemegang saham turut serta menjadi penyebab kesulitan keuangan yang dihadapi bank atau menjadi penyebab kegagalan bank, yang bersangkutan bertanggung jawab penuh secara pribadi turut serta memenuhi kewajiban bank terhadap nasabah dan kreditor lainnya. Gugatan atau tuntutan kepada anggota direksi, anggota dewan komisaris dan atau pemegang saham tersebut dapat diajukan oleh Tim Likuidasi, atau pemegang saham yang memenuhi persyaratan tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk mewakili bank. Seluruh perolehan dari gugatan atau tuntutan Tim Likuidasi atau pemegang saham terhadap anggota direksi, anggota dewan komisaris dan atau pemegang saham yang turut serta menjadi penyebab kesulitan keuangan atau kegagalan bank menjadi milik bank dalam likuidasi dan digunakan untuk memenuhi kewajiban bank dalam likuidasi.” aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kelembagaan Perbankan 191 Pemerintah melalui media massa (surat kabar) menyatakan menjamin hak-hak karyawan bank yang dibekukan atau dilikuidasi, sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Selain itu, pemerintah telah merancang program ”Kami Peduli” yang ditujukan khusus bagi karyawan bank yang akan dibekukan. Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan pemerintah dalam program ”Kami Peduli” tersebut pada intinya meliputi: 1. Pusat Penyelesaian Masalah Ketenagakerjaan Perbankan. Wadah ini dimaksudkan sebagai sarana karyawan bank yang dibekukan untuk merundingkan penyelesaian pemutusan hubungan kerja. Di dalam wadah ini, wakil pekerja masing-masing bank akan berunding dengan wakil pemilik bank yang ditunjuk pemerintah untuk mencari penyelesaian yang tuntas dan disepakati kedua belah pihak. 2. Acara ”Bursa Peluang Kerja dan Wirausaha” Bursa ini adalah jembatan bagi karyawan bank yang dibekukan untuk melakukan konsultasi dan dialog dengan berbagai perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Dalam bursa ini, karyawan bank yang dibekukan dapat pula bertemu dengan perusahaan yang menawarkan peluang investasi dan wirausaha di berbagai sektor, seperti agribisnis dan perdagangan. 3. Seminar ”Mengembangkan Potensi Diri untuk Membuka Peluang di Masa Krisis” Karyawan bank yang dibekukan dapat pula mengikuti seminar yang dirancang untuk membangun motivasi dan mengembangkan potensi diri dalam menemukan peluang di masa krisis. Dalam seminar ini, dapat dipelajari berbagai macam kiat dan saran yang diberikan oleh sejumlah pakar dan ahli dari berbagai bidang yang siap membagi pengalaman dan pengetahuannya kepada kita. 4. Partisipasi dalam Proses Pemberesan Pemerintah masih membutuhkan karyawan bank yang dibekukan. Selama kurang lebih dua bulan, sekitar separo dari karyawan bank yang dibekukan akan dikontrak oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional untuk menyelesaikan pemberesan atas bank-bank yang dibekukan. Setelah masa kontrak berakhir, masih terbuka peluang aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kelembagaan Perbankan 197 pemegang saham tertentu di dalam negeri ataupun di luar negeri, baik secara langsung maupun melalui penawaran umum; f. menjual atau mengalihkan tagihan bank dan atau menyerahkan pengelolaannya kepada pihak lain, tanpa memerlukan persetujuan Nasabah Debitor; g. mengalihkan pengelolaan kekayaan dan atau manajemen bank pada pihak lain; h. melakukan penyertaan modal sementara pada bank, secara langsung atau melalui pengkonversian tagihan badan khusus menjadi pe- nyertaan modal pada bank; i. melakukan penagihan piutang bank yang sudah pasti dengan pe- nerbitan Surat Paksa; j- melakukan pengosongan atas tanah dan atau bangunan milik atau yang menjadi hak bank yang dikuasai oleh pihak lain, baik sendiri maupun dengan bantuan alat negara penegak hukum yang ber- wenang; k, melakukan penelitian dan pemeriksaan untuk memperoleh segala keterangan yang diperlukan dari dan mengenai bank dalam pro- gram penyehatan, dan pihak mana pun yang terlibat atau patut diduga terlibat, atau mengetahui kegiatan yang merugikan bank dalam program penyehatan tersebut; I. menghitung dan menetapkan kerugian yang dialami bank dalam program penychatan dan membebankan kerugian tersebut kepada modal bank yang bersangkutan, dan bilamana kerugian tersebut terjadi karena kesalahan atau kelalaian direksi, komisaris, dan atau pemegang saham, maka kerugian tersebut akan dibebankan kepada yang, bersangkutan; m. menetapkan jumlah tambahan modal yang wajib disetor oleh pemegang saham bank dalam program penyehatan; n. melakukan tindakan lain yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan wewenang sebagaimana tersebut di atas. Kalau dicermati, terkesan kewenangan khusus yang dipunyai Badan Penyehatan Perbankan Nasional sangat luas, dan itu tidak dipunyai lembaga lainnya. Bahkan bisa dikata mirip pengadilan. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kegiatan Usaha Bank 209 berjangka pendek maupun yang berjangka panjang. Surat pengakuan utang yang berjangka pendek adalah sebagaimana dimaksud dalam pasal 100 sampai pasal 229 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, yang dalam pasar uang dikenal sebagai Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), yaitu promes dan wesel maupun jenis lain yang mungkin dikembangkan di masa yang akan datang. Surat pengakuan utang berjangka panjang dapat berupa obligasi atau sekuritas kredit. d. membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya: 1. surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud; 2. surat pengakuan utang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud; 3. kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah; 4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI); 5. obligasi; 6. surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun; 7. instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun. Usaha Bank Umum sebagaimana dimaksud di atas mencakup kegiatan membeli, menjual atau menjamin surat-surat berharga seperti surat pengakuan utang dan surat-surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia. e, memindahkan uang Bank Umum menjalankan usaha memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah. f. menempatkan atau meminjamkan dana Bank Umum menjalankan usaha menempatkan dana pada, me- minjamkan dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya. g- mencrima pembayaran aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kegiatan Usaha Bank 213 a. menghimpun dana masyarakat; Bank Perkreditan Rakyat menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Penyebutan atau ”bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu” dimaksudkan untuk me- nampung kemungkinan adanya bentuk penghimpunan dana dari masyarakat oleh Bank Perkreditan Rakyat yang serupa dengan de- posito dan tabungan tetapi bukan giro atau simpanan lain yang dapat ditarik dengan cek. b. memberikan kredit; c. menyediakan pembiayaan dan penempatan dana; Bank Perkreditan Rakyat menyediakan pembiayaan dan penem- patan dana berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bank Perkreditan Rakyat yang melaksanakan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah tidale di- perkenankan melaksanakan kegiatan secara konvensional dan Bank Perkreditan Rakyat yang berdasarkan prinsip konvensional tidak diperkenankan melakukan kegiatan berdasarkan Prinsip Syariah; d, menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain. Di samping rincian kegiatan usaha bank scsuai dengan jenis banknya, terdapat pula pembatasan bagi bank untuk menjalankan kegiatan usahanya tersebut sebagaimana disebutkan di dalam pasal 10 dan 14 Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Pasal 10 Undang-Undang Perbankan yang Diubah menyatakan bahwa Bank Umum dilarang: a. melakukan penyertaan modal, kecuali yang diizinkan oleh Undang- Undang Perbankan yang Diubah sebagai usaha tambahannya; b. melakukan usaha perasuransian; c. melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7, antara lain melakukan kegiatan sebagai penjamin emisi efek (underwriter). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 226 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia 7. Sanksi sehubungan cek/bilyet giro kosong a. Terhadap nasabah sebagai berikut: @ Nasabah yang telah menarik cek/bilyet giro kosong 3 lembar atau lebih dalam jangka waktu 6 bulan atau menarik cek/bilyet giro kosong 1 lembar dengan nominal Rp1.000.000.000,00 atau lebih, namanya dicantumkan dalam daftar hitam yang diterbitkan oleh Bank Indonesia secara berkala dan berlaku di wilayah kliring lokal setempat selama 1 tahun sejak tanggal penerbitan, serta bersifat rahasia. e@ Nama nasabah yang tercantum dalam daftar hitam yang masih berlaku, apabila terdapat penolakan lagi cek/bilyet giro kosong 3 lembar atau lebih atau 1 lembar dengan nominal Rp1.000.000.000,00 atau lebih, akan dicantumkan kembali dalam daftar hitam berikutnya. @ Nama-nama nasabah yang dapat dicantumkan dalam daftar hitam adalah nama perorangan, badan usaha, dan badan hukum. e Instansi pemerintah/lembaga negara, bank umum, BPR, badan usaha milik negara, yang telah melakukan cek/bilyet giro kosong tidak dicantumkan dalam daftar hitam. b. Bank wajib meminta kepada nasabah yang rekeningnya telah ditutup untuk mengembalikan sisa blanko cek/bilyet giro yang belum digunakan. c. Nama nasabah yang tercantum dalam daftar hitam penarik cek/bilyet giro kosong akan hapus dengan sendirinya setelah masa berlakunya daftar hitam berakhir dan nasabah dimaksud dapat diterima kembali sebagai nasabah bank. d. Terhadap bank dikenakan sanksi dalam rangka pembinaan dan pengawasan bank karena ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Imam Prayogo Surohadibroto dan Djoko Prakoso mengemukakan bahwa kalau dilihat dari segi intensitas pemakaian, maka bilyet giro menduduki peringkat pertama sebagai alat bayar giral di samping aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 232 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia 3. pada halaman depan sekurang-kurangnya dicantumkan: a. mmeans i. kata-kata "SERTIFIKAT DEPOSITO” dan ”DAPAT DIPERDAGANGKAN?” dalam ukuran besar sehingga mudah terlihat; . nomor seri dan nomor urut; nama dan tempat kedudukan penerbit; . nilai nominal dalam rupiah; tanggal dan tempat penerbitan; tingkat bunga atau diskonto; . pernyataan bahwa penerbit mengikat diri untuk membayar sejumlah uang tertentu dalam rupiah pada tanggal dan tempat tertentu; . tanda tangan direksi atau pejabat yang berwenang dari penerbit; tanda tangan pejabat dari kantor cabang di tempat sertifikat deposito diterbitkan; 4. pada halaman belakang dicantumkan klausula yang sekurang- kurangnya menyatakan bahwa: b. penerbit menjamin sertifikat deposito dengan seluruh harta dan piutangnya; sertifikat deposito dapat diperjualbelikan dan dapat dipindah- tangankan dengan cara penyerahan; pelunasan dilakukan pada tanggal jatuh waktu atau sesudahnya dengan menyerahkan kembali warkat sertifikat deposito yang bersangkutan oleh pembawa. 4.2.4. SIMPANAN TABUNGAN Pengertian tabungan/saving disebutkan di dalam pasal 1 angka 9 Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Dikatakan yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Kepada nasabahnya akan diberikan atau menerima buku tabungan sebagai bukti telah menyimpan dananya dalam bentuk aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 252 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia dengan kredit lainnya, dan pada saat perusahaan grup orang dalam tersebut mengalami kesulitan, bank tidak mampu bertindak secara lugas dan tegas. Untuk mencegah pemberian kredit yang berlebihan tersebut di beberapa negara diatur secara tegas, bahkan dalam undang- undang. Di Indonesia semula pembatasan hanya disisipkan dalam ketentuan perhitungan capital adequacy yaitu dengan memberikan risk margin yang lebih besar pada kredit-kredit besar (yang melampaui 15% modal sendiri), namun kemudian ketentuan batas maksimum pemberian kredit ini untuk pertama kali ditegaskan dalam paket Oktober 1988, yang selanjutnya dikukuhkan dalam undang-undang. Dengan demikian batas maksimum pemberian kredit merupakan sarana pengawasan penyaluran kredit atau pembiayaan oleh bank. Batas maksimum pemberian kredit adalah batas maksimum penyediaan dana yang diperkenankan untuk dilakukan oleh bank kepada peminjam atau sekelompok peminjam tertentu. Penyediaan dana di sini meliputi pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan, fasilitas jaminan, penem- patan investasi surat berharga, atau hal lain yang serupa dengan itu, antara lain tagihan yang diambil alih oleh bank dalam rangka kegiatan anjak piutang yang dapat diberikan oleh bank kepada peminjam atau sekelompok peminjam. Dalam hal ini, Bank Indonesia diberikan wewenang untuk menetapkan batas maksimum pemberian kredit untuk masing-masing peminjam atau sekelompok peminjam termasuk perusahaan-perusahaan dalam kelompok yang sama sesuai dengan Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Berdasarkan pasal 11 Undang-Undang yang Diubah, maka ketentuan batas maksimum pemberian kredit dibedakan atas 2 (dua) jenis, yaitu: a. Jenis batas maksimum 30% Bank Indonesia dapat menetapkan batas maksimum yang lebih rendah dari 30% dari modal bank, tetapi tidak boleh melebihi 30% dari modal bank yang bersangkutan. Pengertian modal bank ditetapkan Bank Indonesia sesuai dengan pengertian yang dipergunakan dalam penilaian kesehatan bank. Batas maksimum pemberian kredit ini ditujukan kepada peminjam atau sekelompok peminjam yang terkait, termasuk kepada perusahaan-perusahaan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 264 Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia Edaran Bank Negara Indonesia Unit I Nomor 2/539/UPK/Pemb. tanggal 8 Oktober 1966, Surat Edaran Bank Negara Indonesia Unit I Nomor 2/649/UPK/Pemb. tanggal 20 Oktober 1966 dan Instruksi Presidium Kabinet Nomor 10/EK/2/1967 tanggal 6 Pebruari 1967, yang menyatakan bahwa bank dilarang melakukan pemberian kredit dalam berbagai bentuk tanpa adanya perjanjian kredit yang jelas antara bank dan nasabah atau Bank Sentral dan bank-bank lainnya. Dari sini jelaslah bahwa dalam memberikan kredit dalam berbagai bentuk wajib dibuatkan perjanjian atau akad kreditnya; 2. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 27/162/KEP/ DIR dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 27/7/UPPB masing- masing tanggal 31 Maret 1995 tentang Kewajiban Penyusunan dan Pelaksanaan Kebijakan Perkreditan Bank bagi Bank Umum, yang menyatakan bahwa setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati pemohon kredit dituangkan dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis. Dengan demikian pemberian kredit wajib dituangkan dalam perjanjian kredit secara tertulis, baik dengan akta di bawah tangan maupun akta notarial. Perjanjian kredit di sini berfungsi sebagai panduan bank dalam perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian dan pengawasan pemberian kredit yang dilakukan oleh bank, sehingga bank tidak dirugikan dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank terjamin dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, sebelum pemberian kredit dilakukan, bank harus sudah memastikan bahwa seluruh aspek yuridis yang berkaitan dengan kredit telah diselesaikan dan telah memberikan perlindungan yang memadai bagi bank. Menurut Ch. Gatot Wardoyo dalam tulisannya berjudul ”Sekitar Klausula-klausula Perjanjian Kredit Bank”, bahwa perjanjian kredit mempunyai beberapa fungsi, di antaranya: 1. perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Perkreditan dan Jaminan 269 e. klausula tentang conditions precedent, yaitu klausula tentang syarat- syarat tangguh yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh nasabah debitor sebelum bank berkewajiban untuk menyediakan dana bagi kredit tersebut dan nasabah debitor berhak untuk pertama kalinya menggunakan kredit tersebut; f. klausulg tentang agunan kredit dan asuransi barang-barang agunan; g. klausula tentang berlakunya syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan hubungan Rekening Koran bagi perjanjian kredit yang bersang- kutan; h. klausula tentang affirmative covenants, yaitu klausula yang berisi janji-janji nasabah debitor untuk melakukan hal-hal tertentu selama perjanjian kredit masih berlaku; i. klausula tentang negative covenants, yaitu klausula yang berisi janji- janji nasabah debitor untuk tidak melakukan hal-hal tertentu selama perjanjian kredit berlaku; j. klausula tentang financial covenants, yaitu klausula yang berisi nasabah debitor untuk menyampaikan laporan keuangannya kepada bank dan memelihara posisi keuangannya pada minimal taraf tertentu; k. Klausula tentang tindakan yang dapat diambil olch bank dalam rangka pengawasan, pengamanan, penyelamatan, dan penyelesaian kredit; 1. klausula tentang events of default, yaitu klausula yang menentukan suatu peristiwa atau peristiwa-peristiwa yang apabila terjadi mem- berikan hak kepada bank untuk secara sepihak mengakhiri perjan- jian kredit dan untuk seketika dan sekaligus menagih seluruh out- standing kredit, m. Kklausula tentang arbitrase, yaitu klausula yang mengatur mengenai penyelesaian perbedaan pendapat atau perselisihan di antara para pihak melalui suatu badan arbitrase, baik badan arbitrase ad hoc atau badan arbitrase institusional; n. klausula-klausula bunga rampai atau miscellaneous provisions atau boilerplate provisions, yaitu klausula-klausula yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang belum tertampung secara khusus di dalam Kausula-klausula lain; termasuk di dalam klausula-klausula aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Perkreditan dan Jaminan 277 bank untuk dapat melakukan segala tindakan yang dipandang perlu oleh bank; e Kuasa nasabah debitor kepada bank untuk mewakili dan melak- sanakan hak-hak nasabah debitor dalam setiap? Rapat Umum Pe- megang Saham; e Pembuktian kelalaian nasabah debitor secara sepihak oleh pihak bank semata; e Pencantuman klausula-klausula eksemsi yang membebaskan bank dari tuntutan ganti kerugian oleh nasabah debitor atas terjadinya kerugian yang diderita olehnya sebagai akibat tindakan bank (Sutan Remy Sjahdeini 1993a:11-12). Adanya klausula-klausula yang demikian adalah upaya bank untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit. Bank tidak ingin mengalami kerugian yang disebabkan nasabah debitor tidak sanggup dan mampu lagi untuk melunasi hutangnya. Perjanjian Kredit bank yang memuat klausula-klausula yang demikian kurang menguntungkan perkembangan dunia perbankan itu sendiri, karena keadaan tersebut dapat saja dimanfaatkan oleh nasabah debitor yang nakal dengan cara mengajukan gugatan penyalahgunaan keadaan kepada pengadilan, sehingga dengan dasar penyalahgunaan keadaan ekonomis tersebut pengadilan dengan sendirinya akan memutuskan membatalkan perjanjian kredit bank tersebut. Walaupun pada saat penandatanganan perjanjian kredit bank, bank berkedudukan dalam posisi yang kuat; sebaliknya pada saat pelaksanaan perjanjian kredit perbankan, bank menjadi pihak yang lemah, karena ada kemungkinan suatu sebab pengembalian ataupun pelunasan kreditnya mengalami kemacetan. Sementara itu penyelesaian kredit sendiri mengalami pelbagai hambatan, baik dari segi hukum maupun non hukum. Sutan Remy Sjahdeini mengemukakan bahwa karena demikian tragisnya keadaan yang dialami atau dihadapi oleh bank, tindakan- tindakan yang diambil berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh klausula-klausula di dalam perjanjian kredit, ternyata oleh pengadilan atas dasar gugatan nasabah debitor dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum atau klausula itu sendiri oleh pengadilan dinyatakan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Perkreditan dan Jaminan 285 satu dilema, di sisi yang satu bank harus membantu golongan ekonomi lemah, namun pada sisi lain juga melindungi pihak bank sebagai kreditor. Begitu tingginya risiko yang harus dihadapi pihak bank sebagai kreditor, karena itu perlu pernyatan kembali ketentuan peraturan tentang jaminan dalam perjanjian kredit yang lebih menjamin kepastian kembalinya kredit yang disalurkan. Sebagai salah satu tindakan preventif, akan lebih baik apabila dalam penilaian bagi perjanjian kredit tertentu (misalnya proyek debitor kurang meyakinkan), bank sebagai lreditor selain melakulan tindakan pengawasan terhadap jalannya proyek dan penggunaan kredit yang diterima debitor. Dalam kaitan jaminannya, pihak bank selain meminta jaminan pokok, juga dapat meminta jaminan tambahan kepada calon debitornya (Djuhaendah Hasan 1996:210-211). Sesungguhnya kelonggaran agunan tersebut kurang mendukung pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Hak dan Tanggungan. Penjelasan pasal 8 memberikan bukti kepemi- likan tanah berupa girik, petuk, dan sejenis dijadikan sebagai agunan. Padahal bukti-bukti kepemilikan tersebut bukanlah menunjukkan sebagai tanda bukti kepemilikan tanah seperti halnya sertifikat hak atas tanah. Dengan lahirnya Undang-Undang Hak Tanggungan, maka penjelasan pasal 8 ini hanyalah tinggal sejarah dan tidak dapat diterapkan lagi karena bertentangan. Penjelasan pasal 8 yang dimaksud adalah "tanah yang kepemilikannya berupa girik, petuk, dan lain-lain yang sejenis dapat digunakan sebagai agunan”. Sutan Remy Sahdeini menyatakan keheranannya mengenai penegasan dalam penjelasan pasal 8 yang menyatakan bukti kepemilikan tanah berupa girik atau petuk dapat digunakan sebagai agunan, karena menurut hukum, girik atau petuk bukanlah tanda bukti hak milik atas tanah, tetapi hanya sekadar tanda bukti siapa yang harus membayar pajak atas penggunaan tanah yang bersangkutan. Sekalipun memang seringkali mereka yang namanya tercantum pada girik atau petuk tanah adalah juga pemilik tanah itu, tetapi tetap saja girik atau petuk bukanlah tanda bukti hak milik atas tanah yang bersangkutan, sehingga tidak dapat diterima sebagai agunan (Sutan Remy Sjahdeini 1993a:22). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bisnis perbankan dapat ditilik dari pelbagai sudut, salah satunya melalui kaca mata hukum. Buku ini memaparkan telaah bisnis perbankan dalam hubung- annya dengan aspek-aspek hukum yang melandasi kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan bisnis perbankan. Dalam buku ini anda akan mendapatkan: m Pengertian dan dasar hukum perbankan nasional dan sistem keuangan di Indonesia. @ Seluk-beluk kelembagaan dan kegiatan usaha yang boleh dilakukan oleh bank. @ Kebijakan legislasi pengaturan bisnis perbankan dan regulasi yang mempengaruhi kegiatan usaha perbankan. Buku ini ditujukan tidak hanya untuk mahasiswa yang ingin mempelajari dan mendalami hukum perbankan nasional tetapi juga untuk tenaga pengajar yang memer- lukan bahan untuk pengajaran mata kuliah hukum per- bankan, dan kalangan praktisi hukum serta pelaku bisnis perbankan yang hendak mempelajari lebih jauh lagi mengenai ketentuan-ketentuan yuridis yang me- ngatur bisnis perbankan nasional. Ditulis oleh seorang yang kompeten dalam bidang hukum perbankan, buku ini pantas anda miliki karena disusun secara sistematis dan mudah dipahami. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Ji.Palmerah Selatan 24-26 L1.6 Jakarta 10270 Email: nonfiksi@gramedia.com Website: http://www.gramedia.com 9-686-251-! ISBN 979-686-251~4 IM hi