Anda di halaman 1dari 8

Studi KASUS

Sebuah perusahaan kontraktor mendapatkan kontrak untuk proyek


gedung bertingkat tinggi yang harus selesai dalam waktu 500 hari
kalender. Dalam kontrak menyebutkan bahwa jika kontraktor tidak
menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal pekerjaan yang sudah disepakati
baik karena:

Kelalaian dari owner atau perencana atau pekerja atau kontraktor


atau sub kontraktor
Perubahan yang diminta pada saat pelaksanaan

Perselisihan

Pengiriman material atau alat yang terlambat

Dan kejadian-kejadian yang lain yang berada dibawah tanggung


jawab kontraktor
Kontraktor harus memberikan pemberitahuan secara tertulis kepada
perencana tidak lebih dari 10 hari setelah kejadian yang mengakibatkan
keterlambatan jadwal pekerjaan.Pada hari ke 300, berdasarkan
penjadwalan kurva s harusnya sudah bisa diselesaikan 67,5%, tapi
kontraktor baru bisa menyelesaikan pekerjaan sebesar 20% saja. Hal ini
disebabkan karena beberapa macam kejadian yaitu
1.
Sebuah kebakaran terjadi dan kontraktor tidak menginformasikan
hal ini kepada owner. Sedangkanperencana segera ke lapangan setelah
kejadian kebakaran dan menginformasikan kepada owner. Subkontraktor
pengecatan memberikan pernyataan bahwa sub kontraktor elektrikal yang
mengakibatkan kebakaran yaitu konsleting yang terjadi menimbulkan
percikan api dan menyambar tiner cat sehingga timbul kebakaran
sedangkan sub kontraktor elektrikal memberikan pernyataan bahwa sub
kontraktor pengecatanlah yang mengakibatkan kebakaran yaitu tiner cat
jatuh dan mengenai kabel sehingga terjadi konsleting dan terbakar.
2.
Operator Backhoe mengetahui bahwa alat berat backhoe harusnya
diperbaiki, tetapi bakhoe tetap digunakan, suatu
saat shovel daribackhoe terlepas dan harus diperbaiki.
Ternyata sparepart harusdidatangkan dari luar kota.
3.
Konflik antara Kontraktor dan Manajemen Konstruksi
4.
Masalah hukum sebelum owner menandatangani kontrak yaitu
adanya kasus penyuapan terhadap komite pelelangan pada saat
pelelangan terjadi.
Berdasarkan kasus diatas lakukan analisa yang berkaitan dengan proses
pelelangan, kontrak,penjadwalan proyek, organisasi, manajemen
komunikasi dan masalah kepemimpinan. Jika perlu anda bisa
memberikanasumsi sendiri dalam penganalisaan kasus.

Hasil Kajian/ Analisis


Pemahaman tentang konstruksi dapat dibagi ke dalam dua
kelompok, yaitu teknologi konstruksi dan manajemen konstruksi. Kedua
hal ini saling terkait satu sama lain dan untuk meningkatkan efektifitas
dan efisiensi dalam pengelolaan poyek.
Teknologi konstruksi mempelajari metoda atau teknik yang
digunakan untuk mewujudkan bangunan fisik dalam lokasi proyek.
Sedangkan, manajemen konstruksi adalah bagaimana agar sumber daya
yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer
secara tepat, yaitu; manpower, material, machines,monye dan method.
Dengan demikian, harus dibuat perancangan untuk
teknik/manajemen yang dapat mengakomodasi peninjauan dan
penyesuaian secara terus-menerus di setiap saat dalam memenuhi
kebutuhan yang ada demi menyelesaikan pekerjaan yang sedang
berjalan.
Di bidang manajemen konstruksi sangat penting karena mencakup
di berbagai pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi baik perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Oleh karenanya, untuk
mencapai suatu tujuan tertentu maka setiap tahap perancangan dan
pekerjaan harus dijalankan sesusai dengan fungsinya.
Maka dari kasus ini saya membahas berdasarkan setiap prosesproses yang sudah ditentukan dalam soal, yaitu; proses pelelangan,
kontrak, pengjadwalan proyek, organisasi, manajemen komunikasi dan
kemimpinan.
A. Pelelangan
Setelah tahap design diselesaikan oleh perencana maka akan
dilanjutkan dengan tahap pengadaan pelaksana konstruksi. Proses ini
dilakukan untuk menjaring pemberi jasa konstruksi dengan tujuan untuk
mendapatkan jasa konstruksi yang terbaik dalam melakukan pelaksanaan
pembangunan proyek konstruksi. Karena dalam proses ini sangat
menentukan kontraktor yang terbaik dan sudah memiliki pengalaman dan
keahlihan dalam proyek yang akan dilaksanakan.
Pada saat proses pelelangan tidak boleh ada penyuapan atau
kecurangan apapun karena para pengadaan jasa/barang akan melanggar
prisip-prinsip dasar pelelangan yang ada, yaitu tidak:
Efisien : karena pengadaan barang/jasa tidak menggunakan dana dan
daya yang ada untuk memilih pemenang yang akan melaksanakan
pekerjaan proyek tersebut yang telah ditetapkan.

Efektif : karena tidak sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan.


Terbuka dan Bersaing : pada tahap ini pengadaan barang/jasa harus
terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan
dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia
barang/jasa setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan
ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan. Mungkin terbuka pada
saat proses pelelangan tetapi ada penyedia barang/jasa yang bekerja
sama dengan komite pelelangan proyek untuk dimenangkan proyek
tersebut.
Transparan : kerena komite pelelangan tidak tranparan dalam
pengadaan barang/jasa kepada penyedia barang/jasa. Pada tahap ini
terjadi kecurangan antara komite pelelangan dan perusahaan kontraktor.
Adil/Tidak Diskriminatif : ini jelas-jelas terjadi perlakuan yang tidak
sama para calon penyedia barang/jasa karena diantara para calon
penyedia barang/jasa ada yang sudah bekerja sama untuk dimenangkan
proyek tersebut.
Akuntabel : karena dalam proyek ini tidak berjalan sesuai
perencanaan yang ditetapkan.
Dan juga akan melanggar tata cara pelelangan yang sudah ada dalam
proses pelelangan untuk pengumuman pelelangan dan penunjukan
pemenang yang akan melaksanakan dan bertanggungjawab dalam proyek
tersebut.
Asumsi:
Jika sudah mengetahui pada saat proses pelelangan terjadi
penyuapan terhadap komite pelelangan maka owner harus mengambil
sebuah keputusan yang tepat untuk menjaga proyek tersebut agar tidak
terjadi kerugian yang lebih besar.
Owner boleh menuntut kepada komite pelelangan dan kontraktor
untuk bertanggungjawab atas semuanya.
Owner berhak membawa kasus ini melalui jalur hukum jika
diperlukan.

B. Kontrak
Proses pembentukan kontrak diawali dengan dua pihak atau lebih
yang telah saling menyetujui untuk mengadakan kerja sama, berupa
kesanggupan oleh satu pihak untuk melakukan sesuatu bagi pihak lainnya
dengan sejumlah imbalan yang telah disepakati bersama.
Setelah proyek tersebut dimenangkan oleh kontraktor, selanjutnya
kontraktor akan memilih sub-kontraktornya. Dalam proyek ini terdapat
kontraktor utama, dan dua sub-kontraktor lain yaitu sub-kontraktor
elektrikal dan sub-kontraktor pengecatan. Dalam persetujuan yang
disepakati bersama harus bebas dari semua terminologi yang dapat
mempunyai arti samar/ganda. Karena dapat menimbulkan keragu-raguan

dalam pengartian dan penafsirannya. Akibatnya, masing-masing pihak


akan berusaha memberikan penafsiran tersendiri yang tentunya dengan
maksud tidak merugikan diri sendiri sehingga kerap menjadi bibit
perselisihan.
Maka dalam proyek ini kedua pihak dari sub-kontraktor saling
menuding satu sama lain atas kebakaran yang terjadi dalam proyek untuk
tidak bertanggung jawab. Mereka tidak ingin merugikan atau dirugikan
dari pihak lain demi menjaga keahlihan dalam pekerjaan mereka di bagian
yang dikerjakan.
Maka ada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam
kontrak antara pihak-piahk yang terlibat dalam proyek ini:
1.
Pelanggaran Kontrak
Pelanggaran ini terjadi karena kedua pihak baik kontraktor dan
komite pelelangan melakukan pelanggaran terhadap persyaratan yang
terkandung dalam kontak. Akibatnya, salah satu pihak akan mengalami
kerugian dan oleh kerena kerugian tersebut dapat dilakukan tuntutan
penggantian pada pihak yang menyebabkannya.
2.
Pemutusan Kontrak
Pemutusan kontrak dapat terjadi dengan semua pemenuhan
persyaratan baik syarat teknis maupun administrasi secara otomatis
mengakibatkan kontrak selesai. Dan ownermemiliki hak penuh untuk
dapat memberhentikan kontrak dengan kontraktor tersebut.
3.
Kerugian Akibat Pelanggaran Kontrak
Dalam pelanggaran kontrak, selalu ada pihak-pihak yang dirugikan.
Pihak yang dirugikan berhak atas penggatian kerugian yang dialami akibat
pihak lain yang melakukan pelanggaran kontrak. Karena dari kedua subkontraktor tidak mengakui kesalahan mereka dengan apa yang
mengakibatkan terjadinya kebakaran itu.
4.
Hubungan Kontrak dalam Proyek
Keterlibatan pihak-pihak dalam proyek dapat dikelompokkan
menjadi hubungan yang besifat kontraktual. Artinya, pihak tersebut
menandatangani kontrak dan juga hubungan antarpihak yang secara
tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan proyek. Dalam proyek ini
kontraktor utama pengawasannya terhadap sub-kontraktor kurang karena
tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam proyek sehingga
mengakibatkan kebakaran yang tidak dipertanggugjawabkan dari kedua
sub-kontraktornya. Ini menunjukan bahwa hubungan antara kontraktor
dan sub-kontraktor tidak begitu baik dalam melaksanakan proyek ini.
Asumsi:
- Owner dapat memberhentikan pekerjaan proyek pada waktu
sementara dan mencari kontraktor lain yang lebih berpengalaman untuk
melanjutkan pekerjaan proyek tersebut.
- Kontraktor wajib ganti rugi berupa material atau imaterial(berupa ganti
rugi finansial) kepada pemilik/owner atas kejadian tersebut.

C. Penjadwalan Proyek
Sebelum pelaksanan kegiatan proyek kostruksi dimulai, biasanya
didahului penyusunan rencana kerja waktu (jadwal kerja) kegiatan yang
desesuaikan dengan metoda konstruksi yang akan digunakan. Pihak
pengelola proyek melakukan kegiatan pendataan lokasi proyek gona
mendapatkan infromasi detail untuk keperluan penyusunan rencana kerja
atau jadwal proyek.
Dalam penyusunan rencana kerja pada awalnya perencanaan
sudah direncankan dengan sedemikian rupa tetapi masih terjadi beberapa
hal yang dapat mengakibatkan keterlambatan proyek tersebut, yaitu:
Dalam proyek ini sudah direncanakan dengan jangka waktu 500 hari
kalender harus selesai, dan pada 300 hari seharusnya sudah bisa
diselesaikan 67.5% tetapi pada kenyataan di lapangan tidak sesuai
dengan waktu yang telah direncanakan. Maka keterlambatan ini akan
menyebabkan pekerjaan selanjutnya.
Pada pekerjaan yang akan dilaksanakan setiap sub-kontraktor harus
jelas dan tepat, karena dalam proyek kontruksi setiap pekerjaan ada
tahapannya
Pengadaan peralatan tidak dipehatikan kapasitas, kemampuan dan
kondisi peralatan.
Asumsi:
Peranan kontraktor utama dalam proyek ini harus konsisten dan tegas
untuk melakasanakan proyek ini sesuai waktu yang telah direncanakan.
Manajer lapangan harus mengawasi seluruh pekerjaan dan kondisi alat
yang digunakan untuk tidak terjadi kerusakan yang mengakibatkan
keterlambatan pada pekerjaan selanjutnya.
Adanya jadwal pengecekan peralatan.
Jika menggunakan alat berat dalam proyek ini maka sparepart seharus
dipersiapakan.
Harus diadakan evaluasi setiap minggu untuk mengetahui peningkat
atau kamajuan pekerjaan dan jika terjadi sesuatu harus melakukan
evaluasi musiawara.
Kontraktor harus mengatur jadwal pekerjaan yang telah direncanakan,
sesuai pengerjaan masing-masing dari setiap sub-kontraktor agar jika
terdapat suatu masalah dapat teratasi dengan mudah.
D. Organisasi
Pengorganisasian ini bertujuan untuk melakukan pengaturan dan
pengelompokan kegiatan proyek agar kinerja yang dihasilkan sesuai
dengan harapan. Tahap ini menjadi sangat penting karena ketidaktetapan
pengaturan dan pengelompokan kegiatan yang terjadi akan berakibat
langsung terhadap tujuan proyek.
Pengelompokan kegiatan dapat dilakukan dengan menyusun jenis
kegiatan dari yang besar hingga yang terkecil. Penyusunan tersebut

kemudian dilanjutkan dengan menetapkan pihak yang nantinya


bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Dalam sistem pengorganisasian di proyek ini kurang baik karena
pada saat pelelangan komite pelelangan tidak mengikuti tata cara
pelelangan yang ada dan memilih kontraktor yang belum berpengalaman
untuk melaksanakan proyek semacam ini. Sehingga terjadi berbagai
masalah yang mengakibatkan keterlambatan yang jauh dari perencanaan
pada awalnya. Masalah-masalah yang terjadi berhubungan dengan
organisasi pada proyek ini adalah:
Hubungan antara pihak kontraktor dan manajemen konstruksi kurang
baik karena ada konflik antara pihak manajemen proyek dan kontraktor.
Kontraktor tidak mengontrol seluruh pekerjaan yang dikerjakan oleh
pekerja kontraktor dan sub-kontraktornya.
Asumsi:
- Birokrasi dalam proyek ini sebaiknya harus diperbaiki karena tidak
berfungsi secara maksimal.
- Hubungan antara semua pihak yang terlibat dalam proyek ini harus
tetap solid dan baik, untuk menjamin kualitas dari proyek ini.
- Kontraktor berhak melakukan pengontrolan terhadap pekerjanya dan
sub-kontraktornya.

E. Manajemen Komunikasi
Untuk melaksanakan suatu kegiatan atau pekerjaan yang telah
direncanakan hal yang paling penting adalah komunikasi antara semua
pihak yang terlibat di dalam pekerjaan tersebut untuk menjaga tidak
terjadinya hal-hal yang akan menyebabkan pekerjaan yang lain.
Komunikasi merupakan suatu koordinasi yang melibatkan seluruh pihak
dalam pekerjaan untuk bisa memaksimalkan fungsi masing-masing pada
suatu harapan dan tujuan tertentu.
Tapi di proyek ini komunikasi antara pihak kontraktor
dan owner tidak berjalan sesuai apa yang telah disepakati dari
awal. Kontraktor harus memberikan pemberitahuan secara tertulis
kepada perencana tentang semua kejadian yang terjadi. Masalah yang
muncul berkaitan dengan komunikasi di proyek ini adalah:
Kontraktor tidak menginformasikan kebarakaran yang terjadi
kepada owner.
Sebenarnya kontraktor harus tetap memberitahukan kejadian ini
kepada perencana meskipun perencana langsung ke lapangan untuk
melihat langsung kejadian tersebut. Karena pemberitahuan secara tertulis
tersebut merupakan sebuah bukti untuk kontraktor atas keterlambatan
jadwal pekerjaan
Operator backhoe tidak memberitahukan kondisi alat kepada
manajer lapangan.

Terjadi konflik antara manajemen konstruksi dan kontraktor mungkin


karena kurangnya komunikasi di lapangan dan kontraktor dengan
manajemen konstruksi tentang pelaksanaan pekerjaan proyek.
Asumsi:
Komunikasi antara pihak kontraktor dengan manajemen konstruksi
harus lebih intens lagi agar tidak terjadi konflik yang dapat
menghambatkan pekerjaan.
Jika terjadi konflik seperti pada proyek tersebut maka owner harus
mengambil suatu keputusan untuk menyelesaikan konflik tersebut
Operator backhoe harus memberitahukan segera kepada manajer
lapangan tentang kondisi backhoe supaya manajer lapangan
menginformasikan kepada manajer proyek.
Kontraktor harus melakukan evaluasi setiap pekerjaan sebelum
melanjutkan perkejaan lainnya.
F.

Masalah Kepemimpinan
Masalah mendasar yang menjadi pemikiran pemimpin perusahaan
konstruksi secara wajar sehingga mampu memanfaatkan sumber daya
yang ada dalam perusahaan jasa konstruksi dikenal dengan 5 M (Men,
Mechines, Methods, Materials da Money). Menyelesaikan masalah dan
menentukan arah tujuan tercapainya proyek konstruksi yang tepat biaya,
tepat mutu, dan tepat waktu dalam lingkungan yang dinamis dan
senantiasa berubah.
Kontraktor dalam proyek tersebut merupakan pimpinan proyek
yang mampu merencanakan, melaksanakan dan mengelola proyek
tersebut dengan mengatasi semua kendala yang ditimbulkannya. Peran
kontraktor dalam proyek tersebut adalah melakukan suatu tindakan yang
tepat untuk mencapai tujuan yang telah disepakati dan ditetapkan
dengan owner. Dan masalah-masalah yang terjadi dalam proyek tersebut
yang berhubungan dengan kepemimpinan yaitu:
v Pelaksanaan proyek tidak tepat pada waktu yang telah direncankan
pada awalnya.
v Tidak mampu mengatasi masalah yang terjadi di dalam proyek
makanya tidak menginfomasikan kejadian tersebut kepada owner.
v Tidak tepati pada perjanjian yang telah menandatanggani
dengan owner.

Asumsi:
Pemimpin perusahaan kontraktor harus berani menghadapi segala
masalah dan kendala di dalam proyek tersebut demi menjaga
perusahaannya dan keahlihannya di proyek konstruksi.
Mampu memilih sub-kontraktor yang tepat dan memiliki
keahlihannya di bagian yang akan dikerjakan.
Mampu mengambil suatu tindakan atau keputusan untuk tidak
terjadi kerugian baik dari perusahan kontraktor dan sub-kontraktornya.

Mampu memberikan motivasi kepada pekerjanya.


http://crocodilhotimor.blogspot.co.id/2014/04/manajemen-konstruksi-studikasus.html