Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Inflamasi merupakan suatu respons protektif normal terhadap luka jaringan


yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat- zat
mikrobiologik. Inflamasi juga adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau
merusak organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur
derajat perbaikan jaringan. Namun, kadang-kadang inflamasi tidak bias dicetuskan
oleh suatu zat yang tidak berbahaya seperti tepung sari, atau oleh suatu respons
imun, seperti asma atau artritis rematoid. Pada kasus seperti ini, reaksi pertahanan
mereka sendiri mungkin menyebabkan luka jaringan progresif, dan obat-obat antiinflamasi mungkin diperlukan untuk memodulasi proses peradangan.
Inflamasi terbagi menjadi dua pola dasar. Inflamasi akut adalah radang yang
berlansung relatif singkat, dari beberapa menit sampai beberapa hari, dan ditandai
dengan perubahan vaskular, eksudasi cairan dan protein plasma serta akumulasi
neutrofil yang menonjol. Inflamasi akut dapat berkembang menjadi suatu inflamasi
kronis jika agen penyebab injuri masih tetap ada. Inflamasi kronis adalah respon
proliferatif dimana terjadi proliferasi fibroblas, endotelium vaskuler, dan infiltrasi
sel mononuklear (limfosit, sel plasma dan makrofag). Respon peradangan meliputi
suatu suatu perangkat kompleks yang mempengaruhi perubahan vaskular dan
selular.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

PENGERTIAN ANTI INFLAMASI


Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering
mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen obat yang
kita minum biasanya mengandung analgesic atau pereda nyeri.
Inflamasi adalah respon dari suatu organisme terhadap pathogen dan alterasi mekanis
dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang
mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu
dari respon utama system kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Radang terjadi saat suatu
mediator inflamasi (misal terdapat luka) terdeteksi oleh tubuh kita. Lalu permeabilitas sel di
tempat tersebut meningkat diikuti keluarnya cairan ke tempat inflamasi maka terjadilah
pembengkakan. Kemudian terjadi vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah perifer sehingga
aliran darah dipacu ke tempat tersebut, akibatnya timbul warna merah dan terjadi migrasi sel-sel
darah putih sebagai pasukan pertahanan tubuh kita. Inflamasi distimulasi oleh factor kimia
(histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang
berperan sebagai mediator radang di dalam system kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar
dari penyebaran infeksi.
Radang sendiri dibagi menjadi 2, yaitu:

1.

Inflamasi non imunologis : tidak melibatkan system imun (tidak ada reaksi alergi) misalnya

2.

karena luka, cederafisik, dsb.


Inflamasi imunologis : Melibatkan system imun, terjadi reaksi antigen-antibodi. Misalnya pada
asma.
Prostaglandin merupakan mediator pada inflamasi yang menyebabkan kita merasa perih, nyeri,
dan panas. Prostaglandin dapat menjadi salah satu donator penyebab nyeri kepala primer.

Di membrane sel terdapat phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol. Saat terjadi luka,


membrane tersebut akan terkena dampaknya juga. Phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol
diubah menjadi asam arakidonat. Asam arakidonat nantinya bercabang menjadi dua yaitu jalur
siklooksigenasi (COX) dan jalur lipooksigenase.
Pada jalur COX ini terbentuk prostaglandin dan thromboxanes. Sedangkan pada jalur
lipooksigenase terbentuk leukotriene.
1.

Prostaglandin sebagai mediator inflamasi dan nyeri. Juga menyebabkan vasodilatasi dan edema

2.
3.

(pembengkakan).
Thromboxane menyebabkan vasokonstriksi dan agregasi (penggumpalan) platelet.
Leukotriene menyebabkan vasokontriksi, bronkokonstriksi.

1.

Radang mempunyai tiga peran penting dalam perlawanan terhadap infeksi :


Memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk meningkatkan

performa makrofaga.
2. Menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi.
3. Mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.
Respon peradangan dapat dikenali dari rasa sakit, kulit lebam, demam, dll.yang disebabkan
karena terjadi perubahan pada pembuluh darah di area infeksi :
1.

Pembesaran diameter pembuluh darah, disertai peningkatan aliran darah di daerah infeksi. Hal
ini dapat menyebabkan kulit tampak lebam kemerahan dan penurunan tekanan darah terutama

2.
3.

pada pembuluh kecil.


Aktivasi molekul adhesi untuk merekatkan endothelia dengan pembuluh darah.
Kombinasi dari turunnya tekanan darah dan aktivasi molekul adhesi, akan memungkinkan sel
darah putih bermigrasi ke endothelium dan masuk ke dalam jaringan. Proses ini dikenal
sebagai ekstravasasi.

Bagian tubuh yang mengalami peradangan memiliki tanda-tanda sebagai berikut :


1.
2.
3.
4.
5.

Tumor atau membengkak


Calor atau menghangat
Dolor atau nyeri
Rubor atau memerah
Functiolaesa atau daya pergerakan menurun, dan kemungkinan disfungsi organ

Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan
karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas,
kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Proses inflamasi meliputi kerusakan
mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang,
dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang
dilepaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, prostaglandin dan PAF.
Agen yang dapat menyebabkan cedera pada jaringan, yang kemudian diikuti oleh radang
adalah kuman (mikroorganisme), benda (pisau, peluru, dsb.), suhu (panas atau dingin), berbagai
jenis sinar (sinar X atau sinar ultraviolet), listrik, zat-zat kimia, dan lain-lain. Cedera radang yang
ditimbulkan oleh berbagai agen ini menunjukkan proses yang mempunyai pokok-pokok yang
sama, yaitu terjadi cedera jaringan berupa degenerasi (kemunduran) atau nekrosis (kematian)
jaringan, pelebaran kapiler yang disertai oleh cedera dinding kapiler, terkumpulnya cairan dan sel
(cairan plasma, sel darah, dan sel jaringan) pada tempat radang yang disertai oleh proliferasi sel
jaringan makrofag dan fibroblas, terjadinya proses fagositosis, dan terjadinya perubahanperubahan imunologik.

B.

JENIS TANAMAN ANTI INFLAMASI

A.
a.

b.

Kunyit (Curcuma domestica Val)


Klasifikasi
Kingdom
: Plantae
Subkingdom
: Tracheobionta
Super Divisi
: Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Sub Kelas
: Commelinidae
Ordo
: Zingiberales
Famili
: Zingiberaceae
Genus
: Curcuma
Spesies
: Curcuma domestica Val
Morfologi
Secara umum, kunyit memiliki ciri-ciri antara lain memiliki cabang dengan ketinggian
antara 10 sampai 100 cm. Adapun bagian batangnya tidak berupa batang berkambium melainkan
batang semu yang tegak dan cenderung bulat. Batang tersebut membentuk rimpang, berwarna
hijau bercampur kuning dan tersusun atas pelepah-pelepah daun dengan tekstur yang lunak.
Sementara itu bagian daun memiliki bentuk yang lanset atau bulat telur. Ukuran panjangnya bisa
mencapai 40 cm. Sementara itu lebarnya antara 8 sampai 12,5 cm. Daun tersebut merupakan
daun tunggal dengan tulang menyirip dan warna hijau yang cenderung pucat. Dari klasifikasi
kunyit di atas, kita juga bisa mengetahui bahwa bunga pda kunyit merupakan jenis bunga
majemuk dengan rambut juga sisik yang terletak di pucuk batang semunya.
http://akardanumbi.blogspot.com/2013/05/nama-latin-dan-klasifikasi-kunyit.html

Khasiat tanaman kunyit


1) Mencegah Alzheimer
Seseorang yang memiliki penyakit Alzheimer akan bermasalah dengan ingatan, penilaian, dan
berpikir. beberapa penelitian menunjukan bahwa kunyit memiliki kandungan zat anti-inflamasi
dan antioksidan, sehingga dengan mengkonsumsi kunyit maka akan mendapatkan manfaat
kunyit yatiu mencegah penyakit Alzheimer.
2) Mengobati Tifus
Kunyit dapat digunakan untuk mengobati tifus. untuk membuat obat tifus dari kunyit inilah yang
harus anda lakukan. Bahan : 2 rimpang kunyit, 1 bonggol sere, 1 lembar daun sambiloto.
caranya : Tumbuk semua bahan tersebut hingga halus dan dipipih, kemudian tambahkan 1 gelas

air masak yang masih hangat dan disaring, kemudian minumlah ramuan tersebut, lakukan rutin
selama seminggu.
3) Mencegah Kanker
Kunyit mengandung kurkumin dimana zat ini merupakan antioksidan yang dapat mencegah
kerusakan dan mutasi sel yang disebabkan oleh radikal bebas. Selain itu kandungan kurkumin
juga memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan kanker terutama kanker payudara,
kanker usus, kanker perut, kanker paru-paru dan juga kanker kulit.
4) Mengurangi Resiko Diabetes
Khasiat kunyit yang didapat dari kandungan kurkumin di dalamnya dapat mengurangi resistansi
insulin. Karena hal tersebut maka kandungan kadar glukosa darah dapat dikendalikan sehingga
resiko untuk terserang diabetes tipe 2 pun akan berkurang.
5) Menyembuhkan Luka
Manfaat kunyit bisa digunakan untuk meyembuhkan luka, karena kunyit mengandung bahan
anti-septik dan bahan anti-bakteri. dengan kandungan itu kunyit sangat baik digunakan untuk
disinfektan untuk luka biasa maupun luka bakar.
6) Mencegah Anemia
Anemia diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Anda bisa menggunakan kunyit untuk mencegah
anemia, karena kunyitbanyak mengandung zat besi. Kandungan zat besi ini merupakan
komponen penting dalam pembentukan sel darah merah sehingga dengan mengkonsumsi kunyit
anda dapat mencegah anemia.
7) Melancarkan Pencernaan
Dengan adanya kandungan kurkumin dalam kunyit juga dapat membantu proses pencernaan
serta mengurangi gejala kembung. Namun orang yang memiliki penyakit kandung empedu
sebaiknya tidak menggunakan kunyit sebagai suplemen karena dapat memperburuk kondisi.
8) Mencegah dan Mengobati Panas Dalam
Manfaat kunyit juga bisa digunakan untuk mengobati dan mencegah panas dalam. Caranya :
Ambil 1 biji kunyit yang agak besar, lalu bersihkan kunyit sampai tidak tersisa lagi bekas tanah
yang menempel. Kuliti sampai bersih, parut kunyit sampai mempunyai bagian-bagian yang kecil.
Sisihkan. Ambil gula merah dan potong secukupnya, campurkan keduanya bersamaan dengan
menggunakan air panas. Aduk dan sampai terlihat mengental, lalu parutan kunyit tadi Anda
saring, dan minum selagi hangat.
9) Mencegah Keputihan
Khasiat kunyit sangat ampuh untuk mencegah keputihan. Caranya : Ambil 2 ruas kunyit, satu
genggam daun beluntas, satu gagang asam, sepotong gula aren. Bersihkan dulu semua bahan,
lalu bahan direbus secara bersamaan sampai air mendidih, jika sudah mendidih, saring bahan dan
minumlah secara rutin, satu gelas per hari.

10) Mengatasi Gatal dan Penyakit Kulit


Khasiat kucnyit dapat digunakan untuk mengatasi gatal dan penyakit kulit. Caranya : Ambil 1
ruas kunyit, bersihkan lalu parut kunyit. Ambil biji cengkeh lalu ditumbuk, parutan kunyit tadi
Anda campurkan dengan tumbukan biji cengkeh dan bunga melati. Remas-remas, lalu balurkan
pada tubuh yang gatal. Untuk mencegah luka, Anda cukup mencampurkan parutan kunyit dan
asam kawak, balurkan sampai luka mongering dan tidak terasa sakit lagi.
http://dropfamous.blogspot.com/2013/10/manfaat-kunyit.html

B.
a.

Ipomea pes-caprae
Morfologi
Ipomea pes-caprae (tapak kuda) adalah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium
incompletus karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina).
Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti
bulat atau orbicularis. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus.
Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk tulang melengkung atau cervinervis. Tepi
daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya bersifat
meruncing atau acuminatus. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk tumpul atau obtusus.

b.

Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Ipomoea pes-caprae sebagai berikut :
Kingdom
Divisi
Class
Ordo
Family
Genus
Spesies

c.

: Plantae
: Spermatophyta
: Monocotyledineae
: Solanales
: Convolvulaceae
: Ipomoea
: Ipomoea pes-caprae

Ekologi
Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m dpl, biasanya di pantai berpasir, tetapi juga
tepat pada garis pantai, serta kadang-kadang pada saluran air, dan kebanyakan hidup pada daerah
tropis.
d. Nilai medis
Tapak kuda yang merupakan famili Convolvulaceae ini sebenarnya digunakan sebagai tanaman
obat sejak zaman dulu kala. Di beberapa negara, tapak kuda atau disebut juga beach morning
glory, digunakan untuk mengatasi peradangan dan mengatasi rasa sakit. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa tapak kuda mengandung glochidone, asam betulinic, alfa dan beta amyrin
asetat, serta isoquercitrin. Pada tanaman tersebut juga terdapat antinociceptive, yang berguna
mengatasi rasa sakit berlebihan. Antinociceptive akan beraksi seperti hidroalkoholik, yang
mampu mengurangi rasa sakit. Dengan kandungan tersebut, tapak kuda kerap digunakan untuk
meredakan nyeri persendian atau pegal otot. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai
pereda sakit gigi dan pembengkakan gusi.

C.

Musa Paradiasiaca

a.

Morfologi
Musa Paradiasiaca (pisang) adalah satu tumbuhan yang berdaun lengkap atau folium completus
karena memiliki pelepah daun (vagina), tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina).
Tanaman ini pula memiliki sifat daun yaitu bangun daunya atau circumscriptio berbentuk seperti
jorong atau ovalis. Daging daun atau intervenium nya bersifat seperti kertas atau papyraceus.
Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk bertulang menyirip atau penninervis. Tepi
daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk
runcing atau acutus. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk runcing atau acutus. Permukaan
daunnya berbentuk licin dan berselaput lilin atau laevis pruinosus.

b.

Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Musa paradiasiaca sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Class
: Monocotyledoneae
Ordo
: Zingiberales
Family
: Musaceae
Genus
: Musa
Spesies
: Musa paradiasiaca

c.

Ekologi
Temperatur optimum untuk pertumbuhan pisang adalah pada suhu 27 38 C. Pisang tumbuh
baik di daerah beriklim tropika dengan curah hujan 200 220 mm/tahun. Kelembaban tanah
berkisar 60 70 %.
Pada daerah tropis, pisang masih dapat tumbuh pada ketinggian hingga 1.600 m dpl dan
menyukai matahari langsung. Pisang toleran pada pH 4,5 7,5.
d. Nilai medis
Pisang memiliki banyak nilai medis. Pisang kaya akan mineral seperti kalium, magnesium,
pospor, dan zat besi yang hampir seluruhnya dapat diserap oleh tubuh. Pisang juga mengandung
provitamin A, vitamin C, B dan seratomin yang aktif sebagai neurot transmitter dalam
melancarkan fungsi otak. Cairan yang dihasilkan oleh batang pisang digunakan untuk mengobati
saluran kencing, disentri, dan diare bahkan untuk mengobati kebotakan. Jika dikonsumsi secara
rutin dapat menyembuhkan penyakit maag, darah tinggi, dan berfungsi juga sebagai anti radang.
http://nhono-ghero.blogspot.com/2011/04/daun-lengkap-daun-tidak-lengkap.html

BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan cara kerja obat anti inflamasi ada 2 jenis anti inflamasi yang digunakan
dalam klinik, yaitu :
A. Golongan Kortikosteroid
Golongan obat ini dapat mengurangi aktivitas fosfolipase dan mengikat enzim
lipogenase, dan mengurangi terbentuknya leukotrin mengurangi radang atau inflamasi. Leukotrin
adalah zat kemotaktik besifat menarik migrasi sel fagosit ketempat cidera yang jika digunakan
berlebihan dapat menin yebabkan inflamasi.
Efek karena penggunaan obat golongan steroid dalam jangka panjang dapat menimbulkan
efek samping seperti iritasi pada lambung, moon face ( wajah bulan), menekan imunitas, dan
tulang menjadi keropos.
B. Golongan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)
Golongan AINS sering digunakan dalam pengobatan inflamasi. Semua golongan AINS
bekerja mengikat enzim siklooksigenase. Siklooksigenase berfungsi mengkonversi asam
arakidonat menjadi prostaglandin, tromboksan dan prostasiklin yang akan merangsang timbulnya
tanda tanda inflamasi.
Obat AINS dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. AINS non selektif
AINS non selektif ini berarti menghambat COX1 dan COX2 sehingga dapat
menimbulkan iritasi lambung. Oleh karena itu, jika menggunakan obat golongan ini harus
diminum setelah makan dan tidak di gunakan pada orang penderita gastritis dan hati hati pada
lansia.

2. AINS selektif
AINS selektif adalah obat yang hanya mengikat COX2 sehingga menimbulkan iritasi
lambung karena COX2 tidak berfungsi melindungi mukosa lambung.
Karagenin merupakan senyawa yang dapat menginduksi cedera sel dengan melepaskan
mediator yang mengawali proses inflamasi. Udema yang terjadi akibat terlepasnya mediator
inflamasi seperti: histamin, serotin, bradikinin, dan prostagladin. Udem yang disebabkan oleh
injeksi karagenin diperkuat oleh mediator inflamasi terutama PGE1 dan PGE2 dengan cara
menurunkan permeabilitas vaskuler. Apabila permeabilitas vaskuler turun maka protein-protein
plasma dapat menuju ke jaringan yang luka sehingga terjadi udema. ( Anonim, 2011).
Berikut merupakan senyawa/ bahan aktif yang di gunakan saat praktikum:
a. CMC-Na

Gambar. Struktur CMC Na.


(Anonim,2012).
Merupakan turunan dari selulosa dan sering dipakai dalam industri pangan, atau
digunakan dalam bahan makanan untuk mencegah terjadinya retrogradasi. Na-CMC merupakan
zat dengan warna putih atau sedikit kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa, berbentuk
granula yang halus atau bubuk yang bersifat higroskopis CMC ini mudah larut dalam air panas
maupun air dingin. Pada pemanasan dapat terjadi pengurangan viskositas yang bersifat dapat
balik (reversible). Viskositas larutan CMC dipengaruhi oleh pH larutan, kisaran pH Na-CMC
adalah 5-11 sedangkan pH optimum adalah 5, dan jika pH terlalu rendah (<3), Na-CMC akan
mengendap.(Anonim, 2012)
CMC-Na adalah polimer mukoadhesif yang termasuk golongan anionik bioadhesif
polimer bersama dengan PAA(Poly Acrilic Acid), polikarbopil, penggolongan polimer
mukoadhesif, golongan polyacrylates (karbopol dan karbomer) dan turunan dari karbohidrat
seperti karboksimetil selulosa dan chitosan mempunyai daya lekat yang tinggi sebagai polimer
mukoadhesif. Hal ini sejalan dengan yang selulosa Natrium alginat dan asam hialuronik.
Diungkapkan oleh Grabovac polisakarida seperti karagenan, CMC-Na, dan alginat diketahui
sebagai polimer mukoadhesif yang bagus. (Tjay dan Rahardja, 2002).
b. Renadinac

Gambar.Struktur Na-Diklofenak (Anonim,2012).


Renadinac dengan zat aktif natrium diklofenak, Diklofenak adalah sebuah non-steroidal
anti-inflammatory drug (NSAID) yang menunjukkan aksi anti-inflamasi, analgesik, dan
antipiretik pada hewan model. Mekanisme aksi voltaren , seperti NSAID yang lain berkaitan
dengan menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin merupakan sejenis hormon yang
menyebabkan inflamasi dan nyeri di tubuh.(Anonim, 2012)
c. Cortidex

Gambar. Struktur deksametason


Cortidex berisi deksametazon memiliki efek mineralokortikoid ringan (retensi garam dan
air). Deksametason bekerja lama dan memiliki waktu paruh secara biologic 36-72 jam dengan
dosis ekivalen 0.75 mg yang hanya berlaku untuk pemberian oral dan intravena. (Tyay, Tan Hoan
dan kirana Rahardjo, 2002).
Deksametason adalah glukokortikoid sintetik dengan aktivitas imunosupresan dan antiinflamasi. Sebagai imunosupresan Deksametason bekerja dengan menurunkan respon imun
tubuh terhadap stimulasi rangsang. Aktivitas anti-inflamasi Deksametason dengan jalan menekan
atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat akumulasi sel yang
mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada tempat inflamasi.(Katzung, 2002).
d. Curcumin

Gambar . Struktur curcumin


(Anonim,2012)
Curcumin merupakan komponen aktif yang banyak terkandung di dalam temulawak
(Curcuma Xanthorrhiza Roxb). Dengan mengkonsumsi curcumin, maka hati akan terjaga
sehingga kerja hati sebagai detoksifikasi akan berjalan dengan baik. Secara otomatis akan dapat
meningkatkan daya tahan tubuh kita juga mampu mengurangi kegiatan siklooksigenase yaitu

suatu enzim kunci yang mengakibatkan radang Curcumin mempunyai rumus molekul C 21H20O6
(bobot molekul = 368). (Tjay dan Rahardja, 2002).

METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah spuit injeksi 1ml dan Plestimogra. Bahan yang digunakan adalah
aquades, Larutan CMC Na 1% , Larutan Renadinac 0,25% dalam CMC-Na 1%, Larutan
Cortidex 12mg% dalam CMCNa 1%, Larutan Curcumin 0,25% dalam CMC-Na 1%, Larutan
Karegenin

1%

hewan

uji

Tikus

(Laboratorium

Akademi

FarmasiNasional).

Cara Kerja
Masing- masing kelompok dapat 4 tikus, Tikus ditimbang, kaki belakang diberi tanda diatas
lutut, Tikus I (kontrol) : suntik CMCNa 1% secara PO, Tikus II : disuntik Cortidex 12 mg%
secara PO, Tikus III : disuntik Renadinac 0,25% secara PO, Tikus IV : suntik Curcumin 0,25%
secara PO,Ukur volume udem kaki tikus (sebagai volume awal), Setelah 30 menit, suntik tikus
dengan Karagenin 1 ml, Ukur volume udem (Vt) pada menit 0, 30, 60, 90, 120, 150, Tentukan %
daya antiinflamasi, buat grafik, histogram dan analisis hasil dengan One Way ANOVA.
Hasil Percobaan dan Pembahasan
Tujuan diadakannya praktikum kali ini adalah untuk mengetahui atau mempelajari daya anti
inflamasi suatu obat. Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap serangan bahan infeksi, antigen atau
hanya cedera fisik. Inflamasi adalah suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik, kimiawi,
maupun mekanik dimana rangsangan tersebut menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti
histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin dan leukotrin yang menimbulkan reaksi radang
berupa merah (rubor), panas (kolor), bengkak (udema), nyeri (dolor), dan disertai gangguan
fungsi (fungtion laesa).

Gambar . mekanisme kerja antiinflamasi

Adanya rangsangan dari luar baik fisika, kimia, maupun mekanik mengakibatkan trauma
sehingga terjadi gangguan pada jaringan. Jaringan yang mengalami gangguan akan
menghasilkan fosfolipid yang kemudian akan dihidrolisis oleh enzim fosfolipase menghasilkan
asam arakidonat. Asam arakidonat yang terbentuk kemudian akan disintesis oleh enzim
lipooksigenase dan siklooksigenase yang nantinya akan menghasilkan mediator-mediator
infalamsi. Enzim lipooksigenase akan mensintesis asam arakidonat menjadi asam-asam mono
dan di-hidroksi (HETE) yang merupakan perkusor leukotrin (mediator inflamasi), LTA (senyawa
yang dijumpai pada keadaan antifilaksis) kemudian memproduksi LBT 4 (penyebab peradangan)
dan LTC4,LTD4 dan LTE4. Leukotrin yang terbentuk ini akan mengakibatkan asma
radang/inflamasi pada bronkus. Siklooksigenase mensintesa siklik endoperoksida yang akan
dibagi menjadi dua produk COX 1 dan COX 2. COX 1 berisi tromboksan ,protasiklin (yang
dapat menghambat produksi asam lambung yang berfungsi untuk melindugi mukosa lambung).
COX 2 (asam meloksikam) berisi prostaglandin (penyebab peradangan).
Antiinflamasi merupakan atau senyawa yang bekerja dengan cara mengikat enzim
lipooksigenase dan siklooksigenase sehingga dapat menghambat sintesis pembentukan
leukotrien dan prostaglandin. Hambatan tersebut membuat stabilitas sel meningkat, permeabilitas
membrane menurun sehingga mengurangi pembengkakan.
Pada praktikum ini pengamatan daya antiinflamasi obat dilakukan pada kaki hewan uji,
dimana hewan uji yang digunakan adalah tikus. Pemilihan hewan uji ini dikarenakan, tikus
memiliki kaki yang lebih besar dari mencit sehingga lebih mudah disuntik secara subkutan.
Sebelum diberikan perlakuan terlebih dahulu tikus ditimbang dan diberikan tanda disalah satu
lututnya, hal ini bertujuan untuk menyamakan persepsi pembacaan saat dicelupkan pada alat
pletismograf. Tikus yang ditimbang bertujuan untuk mengetahui bobot tikus, dimana bobot tikus
ini digunakan untuk mencari volume pemberian obat antiinflamasi pada tikus, makin besar bobot
tikus maka volume pemberian obat yang diberikan juga semakin besar. Pemberian obat
antiinflamasi ini diberikan secara peroral.
Pada praktikum yang dilakukan kali ini pengujian daya inflamasi dilakukan dengan
menggunakan pemicu kimiawi sehingga dibentuk udema sebagai salah satu gejala fisiologis
terjadinya inflamasi. Zat yang digunakan sebagai pemicu terjadinya inflamasi adalah karegenin
1% dengan pemberian pada masing-masing tikus 0,2 ml yang diinjeksikan secara subkutan
pada kaki mencit. Karegenin adalah ekstrak chondrus yang menyebabkan inflamasi jika

diinjeksikan secara subkutan pada tikus. Keuntungan digunakannya karegenin ini adalah tidak
meningalkan bekas, tidak menimbukan kerusakan jaringan dan memberikan respon yang lebih
peka terhadap obat antiinflamasi.
Pada percobaan ini yang digunakan untuk menentukan daya antiinflamasi obat adalah
alat plestimograf, dimana dilakukan dengan mengamati volume udema pada kaki hewan uji pada
selang waktu 0, 30, 60, 90, 120, dan 150. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
alat ini adalah pastikan sebelum kaki tikus dimasukkan pada alat plestimograf cairan pada
pengukur berada pada titik nol, agar nantinya menunjukan hasil volume udema yang
sesungguhnya. Pada alat plestimograf digunakan air raksa dan air berwarna. Penggunaan air
raksa ini dikarenakan air raksa memiliki daya kohesi yang tinggi sehingga tidak akan membasahi
kaki tikus. Daya kohesi lebih besar daripada daya adhesi menyebabkan air raksa tidak dapat
bercampur dengan air berwarna sehingga dapat mendorong cairan berwarna untuk lebih mudah
dibaca skalanya. Penggunaan cairan ini bisa diganti dengan cairan lain namun harus memiliki
prinsip cairan tidak bercampur satu sama lain.
Pada percobaan ini obat yang dibandingkan daya antiinflamasinya adalah cortidex,
ranidinac, curcumin, dan CMC-Na sebagai control. Hal yang perlu diperhatikan adalah, setelah
pemberian perlakuan obat antiinflamasi maupun CMC-Na, kemudian kaki tikus dimasukan
dalam plestimograf untuk mengetahui volume udema mula-mula (Vo), selanjutnya tikus
diistirahatkan selama 30 menit, hal ini bertujuan agar larutan obat dapat terabsorbsi secara
maksimal dalam tubuh.
Obat yang digunakan adalah cortidex 12 mg %, renadinac 0,25 % dan curcumin 0,5%
serta yang digunakan sebagai penginduksi radang adalah karagenin 1 %. Karagenin adalah sulfat
polisakarida bermolekul besar sebagai induktor inflamasi. Penggunaan karagenin sebagai
penginduksi radang memiliki beberapa keuntungan antara lain: tidak meninggalkan bekas, tidak
menimbulkan kerusakan jaringan dan memberikan respon yang lebih peka terhadap obat
antiinflamasi dibanding senyawa iritan lainnya.
Renadinac memiliki zat aktif yaitu natrium diklofenak, natrium diklofenak adalah
keluarga diklofenak, merupakan obat AINS golongan karboksilat/asam asetat turunan asam
feniasetat. Obat ini diberikan secara oral karena obat ini diabsorbsi melalui saluran cerna yang
berlangsung secara cepat. Obat ini terikat pada protein plasma sebesar 99% dan mengalami efek
metabolism lintas pertama(first-pass) sebesar 40-50%. Obat ini menghambat produksi
prostaglandin (PG) yang berikatan dengan enzim cox. Siklooksigenase berfungsi mengkonversi

asam arakidonat menjadi prostagelandin, tromboksan dan prostasiklin yang akan merangsang
timbulnya tanda-tanda ainflamasi.

Gambar .Mekanisme NSAID


Curcumin adalah komponen aktif yang terdapat di dalam temulawak yang dinanfaatkan
sebagai anti radang (inflamasi). Merupakan inhibitor enzim dimana fosfolipid berikatan dengan
enzim fosfolipase sehingga menghasilkan asam arakidonat karena adanya curcumin sehingga
enzim sikloogsigenase dihambat sehingga asam arakidonat tidak berikatan dengan enzim
sikloogsigenase sehingga prostaglandin tidak terbentuk sehingga tidak terjadi inflamasi.
Cortidex dengan zat aktif deksametazon, deksametazon ini merupakan obat golongan
kortikosteroid atau AIS (anti inflamasi steroid). Obat golongan kortikosteroid menghambat
enzim fosfolipase. Adanya deksametazon maka fosfolipid tidak dapat diubah menjadi asam
arakidonat karena enzim fosfolipase terhambat sehingga mediator peradangan prostaglandin dan
leukotrin dari asam arakidonat tidak terjadi maka tidak terjadi inflamasi.

Gambar. Mekanisme AIS


Pada praktikum, hewan uji yang dipakai adalah tikus. Pada tikus pertama, setelah tikus
ditimbang, kemudian diberikan CMC-Na secara per oral sebanyak 2.5 ml dan diukur volume
kakinya. CMC-Na hanya berfungsi sebagai control atau pembanding bila tikus tidak diberikan
obat antiinflamasi. Karena didalam tubuh tikus tidak terdapat obat yang dapat menghambat
terbentuknya mediator inflamasi maka efek inflamasi yang ditimbulkan dapat bereaksi dengan
cepat , karena larutan CMC-Na tidak dapat memberikan efek antiinflamasi pada tikus, akibatnya
volume udemanya tampak lebih besar dari awal mulanya. Tikus yang telah diberikan perlakuan,

dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30 menit,
kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai
volume udema setelah diberi perlakuan (Vt), Sehingga diperoleh rata-rata menit ke-0=0.096;
menit ke-30=0.11 menit ke-60=0.14; menit ke-90=0.25; menit ke-120=0.242dan menit ke150=0.208.
Pada tikus yang kedua, diberikan cortidex sebanyak 0,9 ml. Cortidex berisi dexametason
yang merupakan obat golongan kortikosteroid, dimana mekanisme kerjanya dengan cara
mengikat enzim fosfolipase sehingga fosfolipid tidak dapat diubah menjadi asam arakidonat,
akibatnya tidak akan terbentuk leukotrien dan prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi.
Tikus yang telah diberikan perlakuan, dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya
setelah diistirahatkan selama 30 menit, kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit
setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai volume udema setelah diberi perlakuan (Vt). Sehingga
diperoleh rata-rata menit ke-0=0.078; menit ke-30=0.092; menit ke-60=0.037; menit ke-90=0.1;
menit ke-120=0.122 dan menit ke-150=0.134.
Pada tikus yang ketiga, diberikan renadinac sebanyak 0,756 ml. Renadinac berisi natrium
diklofenak yang merupakan obat golongan AINS, dimana mekanisme kerjanya dengan
menghambat kerja dari enzim siklooksigenase sehingga prostaglandin, prostasilkin, dan
trombokan, sebagai mediator inflamasi tidak akan terbentuk. Tikus yang telah diberikan
perlakuan, dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30
menit, kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat
sebagai volume udema setelah diberi perlakuan (Vt). Sehingga diperoleh rata-rata menit ke0=0.056; menit ke-30=0.086; menit ke-60=0.118; menit ke-90=0.154; menit ke-120=0.176dan
menit ke-150=0.124.
Pada tikus 4, diberikan curcumin sebanyak 1 ml. Curcumin yang berfungsi sebagai
antioksidan merupakan inhibitor enzim, dimana mekanisme kerjanya adalah curcumin yang
merupakan substrat akan berikatan dengan enzim siklooksigenase menggantikan substrat asam
arakidonat sehingga prostaglandin tidak akan terbentuk. Tikus yang telah diberikan perlakuan,
dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30 menit,
kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai
volume udema setelah diberi perlakuan (Vt). ). Sehingga diperoleh rata-rata menit ke-0=0.0725;

menit ke-30=0.1; menit ke-60=0.1075; menit ke-90=0.1175; menit ke-120=0.12dan menit ke150=0.125.
Dari data yang diperoleh dilakukan perhitungan Area Under Curve (AUC) dan % daya
antiinflamasi untuk semua kelompok kerja yang kemudian dibuat grafik perbandingan dan
dilanjutkan dengan analisis Oneway Anova.

CMC Na

Cortidex

renadia
x

curcumi
n

Gambar: Grafik waktu vs volume udem


Dari grafik dapat diketahui bahwa pemberian CMC-Na yang berperan sebagai kontro
l, volume udemnya paling tinggi, hal ini dikarenakan CMC-Na tidak mempunyai efek
anti inflamasi. Pada pemberian renadinak volume udem tertinggi terjadi pada menit antara 90120. Setelah itu volume udem pada tikus mulai turun. Hal ini berarti renadinax mampu
memberikan efek antiinflamasi setelah menit ke-120. Pada pemberian Curcumin peningkatan
volume udem terlihat tidak signifikan karena peningkatan volume udem cenderung konstan.
Pada pemberian Cortidex sampai menit ke-150 menunjukkan grafik yang terus naik, hal itu
berarti cortidex belum memberikan efek anti inflamasi sampai menit ke-150. Untuk curcumin
dan cortidex bila dilihat dari kurva, volume udemnya masih naik namun besarnya masih di
bawah kontrol dan renadinac. Bila dibandingkan dengan control, volume udem pada cortidex,
renadinac, dan curcumin berada di bawah grafik CMC-Na. Hal ini menunjukkan cortidex,
renadinac, dan curcumin memiliki efek anti inflamasi

%DAI
%DAI

Gambar : Grafik obat vs %DAI

Pada grafik diatas menunjukkan menunjukkan % daya antiinflamasi suatu obat dalam
mengurangi inflamasi yang terjadi. Dalam grafik terlihat bahwa cortidex mempunyai % DAI
yang paling besar bila dibandingkan dengan renadinac dan curcumin, dimana %DAI cortidex
yaitu 43,15 %, curcumin mempunyai %DAI sebesar 39,02 % dan renadinac mempunyai %DAI
paling kecil yaitu 31,67 %. Sehingga dapat diketahui bahwa cortidex memiliki kemampuan
paling kuat dalam mengobati inflamasi, sedangkan renadinac memiliki kemampuan yang lebih
lemah dalam mengobati inflamasi bila dibandingkan dengan curcumin.
Cortidex mempunyai efek antiinflamasi yang paling besar karena langsung mengikat
enzim fosfolipase sehingga menghambat fosfolipid berubah menjadi asam arakhidonat.
Sedangkan renadinac dan curcumin bekerja mengikat enzim COX sehingga asam arakidonat
tidak dapat menghasilkan prostaglandin. Dilihat dari aksi kerja ketiga obat tersebut, secara
teoritis cortidex akan memberikan efek antiinflamasi yang paling kuat daripada renadinac dan
curcumin karena cortidex lebih dulu menghambat pembentukan asam arakhidonat, sedangkan
renadinac dan curcumin baru bekerja setelah asam arakhidonat terbentuk.

PEMBAHASAN STATISTIK
Dari hasil pengamatan sudah nampak perbedaan apabila dilihat dari rata-rata % daya
inflamasi, namun perbedaan ini masih harus dibuktikan apakah perbedaan tersebut berbeda
signifikan (berbeda bermakna) atau tidak. Signifikansi ini di amati secara statistik dengan
bantuan software SPSS dengan metode analisis One-way Anova(variansi tunggal). Metode
analisis ini mempunyai taraf signifikan 5% atau tingkat kepercayaan 95%. Jika diperoleh nilai
signifikansi kurang dari 0,05 berarti diketahui menunjukkan data yang di analisa berbeda
signifikan, tetapi apabila signifikasi yang didapat lebih dari 0,05 menunjukkan bahwa data
tersebut tidak berbeda signifikan atau dengan kata lain efeknya sama saja.
Dari analisis statistik yang dilakukan diketahui rata-rata timbulnya efek inflamasi pada
pemberian cortidex 43.1540, rendinac 31.6660 dan curcumin 39.0175

Dari hasil pengamatan tabel anova diketahui bahwa besarnya probabilitas atau
signifikasinya adalah lebih dari 0,05, dimana pada kolom data signifikan dapat dilihat bahwa
hasil yang diperoleh adalah 0,747 sehingga hasil tersebut tidak memberikan perbedaan yang
nyata atau dengan kata lain efek anti inflamasi dari ketiga obat tersebut sama saja.
Faktor-faktor yang menyebabkan ketidaksignifikannya data dapat disebabkan oleh:
1. Cara pemberian obat yang tidak tepat akan mempengaruhi dosis yang diberikan.
Sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu
contohnya adalah kesalahan dalam penyuntikan, mengakibatkan obat yang seharusnya
diberikan berkurang, hal tersebut berhubungan dengan dosis yang diberikan.
2. Pemberian dosis yang tidak tepat juga dapat mempengaruhi hasil yang diharapkan.
Terkadang dosis yang diberikan bisa melebihi atau kurang dari yang diperhitungkan.
3. Kondisi hewan uji yang sulit diamati apakah sehat atau tidak maka dapat mempengaruhi
dalam pemberian obat. Jika hewan uji dalam keadaan sakit maka ini sangat berpengaruh
dalam proses pemberian obat. Akibatnya efek yang diharapkan tidak terpenuhi.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Obat yang memberikan daya anti inflamasi paling kuat ke yang lemah yaitu, cortidex,
renadinac dan curcumin

Persen Daya Antiinflamasi pada obat cortidex diperoleh 43,15 %, obat renadinac
diperoleh 31,67 % , dan pada obat curcumin diperoleh 39,02 %

Dari data analisis ANOVA, diperoleh nilai 0,747 yang berarti tidak signifikan, tidak
memberikan perbedaan yang nyata dengan ketentuan signifikan 0,05.

Daftar Pustaka
Anonim, 2011. Radang Pengertian Macam Peran Tanda-Tanda Faktor Pengaruh Aspek Cairan
Seluler
Peradangan.http://fetybyanstec.wordpress.com/2011/06/22/radangpengertianmacamperantanda2
faktor-pengaruhaspek-cairan-seluler-peradangandlllll/. Diakses tanggal 2 Mei 2012.
Anonim. 2012. Analgetik Kuat dan Lemah. http://www.script.com/obat analgetik kuat dan
lemah/. Diakses tanggal 2 Mei 2012.
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Terapi .Jakarta:Salemba Merdeka
Mycek, M.J., Harvey, R.A., dan Champe C.C. 2001. Farmakologi Ulasan