Anda di halaman 1dari 24

Mengenal Survei Seismik

MENGENAL SURVEI SEISMIK


I.

PENDAHULUAN

Survey seismic merupakan salah satu kegiatan eksplorasi minyak dan gas yang menggunakan metode
geofisika dengan pemanfaatan penjalaran gelombang di bawah permukaan menggunakan sumber getar
dan penerima getar yang dibentang di atas permukaan tanah. Sumber getar menghasilkan gelombang
pantul ke dalam tanah dan dipantulkan kembali ke permukaan oleh lapisan-lapisan batuan yang akan
diterima penerima getar. Hasilnya berupa penampang lapisan batuan bawah permukaan yang berguna
untuk mencari sumber potensial cadangan minyak dan gas.

Gambar 1. Sketsa Survei Seismik

Kegiatan survey seismic tidaklah mudah, kegiatan ini memerlukan kerjasama dan komunikasi yang baik
antara company, main contractor dan sub-contractor.

Company adalah pihak yang memberikan pekerjaan kepada pihak Main contractor.
Main contractor adalah pihak pelaksana yang memberikan supervisi kepada pihak sub-contractor untuk
membantu pelaksanaan di lapangan. Umumnya pihak contractor ini memiliki lebih dari satu subcontractor.
Sub-contractor adalah pihak yang membantu main contractor dalam pekerjaan yang berhubungan
dengan kehumasan, kegiatan topografi, rintis, titian, pengeboran dangkal dan pengisian bahan peledak
serta pekerjaan perekaman data.

1
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Sebagai pendukung kegiatan, pihak pelaksana terdapat beberapa department, yaitu:


Department Kehumasan; bertanggung jawab pada kegiatan sosialisasi tingkat permerintah propinsi
hingga perorangan pemilik lahan yang terkena lintasan guna memperlancar kegiatan survey seismik
serta sebagai pengumpul data pemilik lahan (inventory) dan kerusakan yang terjadi akibat kegiatan
survei seismik (damage claim) di sepanjang lintasan seismic.
Department Topografi; bertanggung jawab dalam menentukan koordinat receiver dan shoot point
yang sesuai dengan koordinat teoritik yang telah ditentukan dalam desain survey.
Department Seismologist; bertanggung jawab pada kegiatan pengeboran dan pengisian bahan
peledak serta perekaman data.
Department Processing; bertanggung jawab pada pengolahan data yang diperoleh dari hasil
perekaman, guna mengetahui geometri data dan hasil perekaman data secara cepat dan diharapkan
dapat memberikan saran kepada department Seismologist dan Observer untuk perekaman data
pada hari berikutnya.

Gambar 2. Meeting Koordinasi

Selain semua Department tersebut diatas, adapula tim pengontrol kualitas pekerjaan di lapangan
dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dalam kegiatan survey seismic. Tim tersebut dinamakan QC
(Quality Control) tim yang berperan sebagai company man.

2
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Secara teknis pelaksanaan survey seismic dapat digambarkan sebagai berikut :

PERIJINAN & SOSIALISASI

PEMBANGUNAN GUDANG HANDAK

PERSIAPAN BASECAMP

TOPOGRAFI

RINTIS & PEMASANGAN TITIAN

ADVANCE PARTY

TES PARAMETER

PENGEBORAN & PENGISIAN


BAHAN PELEDAK

TES GEOPHONE

PEMBENTANGAN KABEL GEOPHONE

PEREKAMAN DATA

BASIC PARTY
PENGOLAHAN DATA LAPANGAN
PEMBAYARAN GANTI RUGI

3
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

II.

ADVANCE PARTY

II.1. PERIJINAN DAN SOSIALISASI


Tahapan awal yang harus dilakukan ialah perijinan. Perijinan dilakukan mulai dari perijinan tingkat
propinsi, kabupaten/kotamadya, kecamatan, kelurahan hingga tingkat perorangan selaku pemilik
lahan yang terlintasi oleh lintasan seismik.
Perijinan pada tingkat kecamatan hingga pemilik lahan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, guna
mengenalkan kepada aparat setempat dan warga tentang maksud dan tujuan serta tahapantahapan kegiatan seismik yang akan dilaksanakan.
Selain itu dilakukan pula perekrutan tenaga kerja lokal dan pendampingan pendataan pemilik lahan
serta pendataan kerusakan yang ditimbulkan akibat dari kegiatan seismic sepanjang lintasan serta
perihal pembayaran ganti rugi.
Pada tahapan ini Department yang berperan adalah Department kehumasan didampingi oleh
Department QC, yaitu QC Humas dan QC Damage Claim.

Gambar 3. Kegiatan Sosialisasi

II.2. PEMBANGUNAN GUDANG HANDAK


Sumber energi yang digunakan sebagai sumber getaran adalah bahan peledak. Bahan peledak
tersebut

dapat berupa miniseis atau dayagel dengan detonator sebagai triger peledakan.

Pengadaan bahan peledak dilakukan oleh pihak company melalui mitra kerjanya yang bergerak
dalam bidang pengadaan bahan peledak tersebut.
Keamanan bahan peledak sangatlah penting sehingga harus dilakukan pengawasan yang baik
terhadap bahan peledak salah satunya dengan pembangunan gudang handak (bahan peledak) yang
harus sesuai dengan standard dan spesifikasi teknis DIRJEN MIGAS.

4
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Gambar 4. Gudang Handak survei seismik 2D milik SPC Mahakam Hilir Pte. Ltd

Gudang handak harus dilengkapi dengan :


Tanggul setinggi 2 meter
Pagar berduri
APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
Satu unit pompa air (hydrant) dan selangnya
Lampu penerangan mencakup seluruh gudang handak
Master Point sebagai tempat berkumpul apabila terjadi sesuatu
Rambu-rambu yang menunjang keselamatan dan kebersihan
Termometer untuk menjaga suhu gudang handak
Alat Penangkal petir serta alat pengukur tahanan tanah
Atap gudang dilengkapi dengan talang air
Parit pembuangan di sekeliling gudang handak
Portal dan Pos Jaga di depan gerbang masuk gudang handak
Gudang Accessories
Sarana penunjang keperluan personil (Kamar Mandi, WC dan Dapur)

Selama proses pembangunan gudang handak akan dikenal dokumen berikut :


1. P3 (Pemilikan, Penguasaan dan Penyimpanan Bahan Peledak)
Dokumen ini berupa surat ijin untuk memiliki, menguasai dan menyimpan bahan peledak di
gudang handak yang telah dibangun oleh pihak perusahaan dengan seijin dari Kapolri.
Dalam dokumen surat ijin ini tertera beberapa persyaratan gudang handak sebagai tempat
penyimpanan diantaranya :

5
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Gudang handak harus dilengkapi 3 (tiga) gembok dengan kunci yang berbeda dengan
penanggung jawab kunci masing-masing gembok yang juga berbeda yaitu ; Kepala gudang,
petugas polisi dan kepala teknis di lapangan.
Gudang handak harus dijaga secara terus menerus (24 jam) oleh petugas jaga yang ditunjuk
pihak perusahaan dan didampingi oleh polri setempat.
Selain hal tersebut di atas pemegang ijin berkewajiban memberikan laporan kepada Kapolri dan
bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan bahan peledak.
2. P2 (Pembelian dan Penggunaan Bahan Peledak)
Dokumen ini berupa surat ijin pembelian dan penggunaan bahan peledak untuk keperluan
seismik survey, dokumen ini juga berlaku sebagai surat ijin pengangkutan bahan peledak dari
gudang perusahaan penyedia bahan peledak ke gudang pembeli (gudang handak seismik).
Dokumen surat ijin ini dikeluarkan oleh Kapolri (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia).
3. P1 (Pengangkutan Bahan Peledak)
Dokumen ini berupa surat ijin pengangkutan bahan peledak dari gudang sementara (gudang
handak) ke lokasi survei seismic di lintasan.

II.3. PERSIAPAN BASECAMP


Persiapan Basecamp dilakukan oleh pihak pelaksana pekerjaan di lapangan. Basecamp yang
digunakan haruslah memenuhi standard HSES (Health, Safety, Environment dan Security).
Sebuah Basecamp harus memiliki ruangan :

Ruang Bekerja (Kantor)

Ruang Genset

Ruang Beristirahat (Kamar Tidur)

Areal Merokok

Ruang Kesehatan (Klinik)

Areal Berkumpul (Master Point)

Ruang Makan

Workshop Recording

Ruang Masak (Dapur)

Parkiran yang luas

Ruang Pertemuan (Meeting)

Setiap ruangan yang ada di basecamp hendaknya dilengkapi dengan rambu-rambu keselamatan dan
rambu-rambu informasi serta smooke detector sebagai alat yang akan memberikan respon apabila
terjadi kebakaran atau apabila ada personil yang merokok di tempat yang tidak semestinya.
Selain beberapa ruangan tersebut di atas, basecamp juga dilengkapi dengan beberapa karyawan
yang bekerja penuh di basecamp seperti ; laundry, office boy, room boy, koki dan satpam.

6
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

II.4. TOPOGRAFI
Department topografi memiliki peran yang sangat penting dalam pelaksanaan teknis di lapangan,
karena survey topografi adalah proses awal penentuan koordinat (X, Y, Z) yang akan digunakan
pada tahapan-tahapan berikutnya hingga tahap akhir yaitu pengolahan data dan interpretasi data.
Tahapan dalam survey topografi:
1. Orientasi Line

: Setelah pihak perusahaan menentukan lintasan yang dikehendaki,


Department Topografi akan mengeluarkan koordinat teoritik (X,Y),
kemudian dilanjutkan dengan pengecekan batas-batas wilayah
survey, posisi-posisi lintasan dan akses jalan menuju lintasan
tersebut.

Gambar 5. Pengecekan area survei serta akses lintasan

2. Jejaring GPS

: Setelah diketahui posisi lintasan kemudian dilanjutkan dengan


pembuatan jejaring BM (Bench Mark) GPS (Global Positioning
System). Pembuatan jejaring BM GPS ini dimaksudkan untuk
memperoleh tingkat keakuratan posisi yang baik.

Gambar 6. contoh BM GPS yang telah terpasang


7
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

3. Pengamatan GPS

: Pengamatan GPS ini dilakukan setelah BM GPS dipasang sesuai


dengan jejaring GPS yang telah dibuat. Pengamatan GPS ini
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan ketelitian posisi yang
akurat untuk setiap titik BM GPS.

4. Pengolahan data GPS

: Setelah proses pengamatan dan pengolahan data GPS, departemen


topo akan memperoleh nilai koordinat posisi tiap-tiap BM GPS.

5. Membuka Lintasan

: Pembukaan lintasan seismik dimulai dari titik BM GPS atau titik


poligon terdekat yang telah memiliki koordinat yang telah pasti (fix).

Gambar 7. Pengamatan GPS

Gambar 8. Flow Pengolahan Data GPS

8
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Gambar 9. Pengukuran Lintasan

Pengukuran lintasan untuk Receiver point maupun Shoot point ditandai dengan menggunakan
patok, adapun ketentuan warna dan penomeran disesuaikan dengan kesepakatan. Umumnya ada
perbedaan antara patok receiver point dengan shoot point.
Pada survey 2D shoot point genap juga diberi tanda patok dengan tujuan memudahkan unit drilling
apabila harus melakukan kompensasi bila pada saat kondisi normal tak terpenuhi. Sedangkan pada
survey 3D dikenal SL (Shoot Line) dan RL (Receiver Line), shoot point berada pada lintasannya sendiri
sehingga tidak ada pengecualian untuk dipasang tanda patok baik shoot point ganjil maupun genap.
Dari hasil survei topografi, selain diperoleh koordinat (X,Y,Z) posisi receiver point dan shoot point,
diperoleh pula data pendukung lainnya yaitu peta dan sketch line.

SP

SP

Gambar 10. Ilustrasi posisi receiver point (biru) dan shoot point (merah) pada lintasan 2D

Gambar 11. Ilustrasi posisi shoot point (merah) dan receiver point (biru) pada lintasan 3D

9
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Setelah pengukuran lintasan selesai bukan berarti pekerjaan departemen Topografi selesai, karena
pada saat pengeboran dan pengisian bahan peledak, saat posisi normal tak terpenuhi dengan
alasan jarak aman. Maka jalan yang ditempuh ialah offset atau kompen titik SP. Untuk melakukan
offset atau kompen departemen Topografi kembali berperan menentukan titik pergeseran tersebut.
SPoffset

SPkompensasi

SP

SP

SPkompensasi

SP

SPoffset

Gambar 12. Ilustrasi SP Offset dan SP kompensasi

Hal utama yang mempengaruhi adanya offset atau kompen SP adalah keberadaan bangunan atau
lokasi yang memiliki jarak aman. Contohnya ; perkampungan, sekolah, peternakan dan tambak.
Oleh sebab itu Driller dan personil Topografi beserta QC Lapangan melakukan pengecekan di setiap
titik-titik source yang perlu untuk di-offset dengan panduan safety distance yang sudah disepakati
antara Field Supervisor dan Party Chief.

II.5. RINTIS DAN PEMASANGAN TITIAN


Rintis yang dimaksudkan adalah membuka jalur lintasan agar lebih mudah di akses, setelah
dilakukan pemasangan tanda berupa patok pada lintasan.
Pemasangan titian juga sama halnya dengan rintis yaitu bertujuan untuk mempermudah akses di
lintasan, Informasi line sketch yang dibuat oleh tim pengukur lintasan sangat membantu dalam
penentuan program kerja.

Gambar 13. Rintis (kiri), tangga (tengah), jembatan dan tangga (kanan)
10
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Areal sebuah survey umumnya meliputi hutan, rawa, sungai, dan areal yang berbukit-bukit.
Sehingga diperlukan sebuah tangga, pegangan tangan dan jembatan untuk mempermudah pekerja
yang sedang melakukan kegiatan di sepanjang lintasan.

II.6. TES PARAMETER


Tes parameter ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh data yang terbaik pada
kedalaman lubang bor dan muatan tertentu.
Pelaksanaan tes parameter hampir sama dengan pelaksanaan perekaman data, pembentangan
kabel geophone sedangkan SP tes berada diataranya dengan kedalaman dan muatan yang berbedabeda. SP tes dapat dilakukan dengan beberapa pattern hole (dua lubang dengan kedalaman dan
muatan yang sama ditembak secara bersamaan) atau beberapa single hole.
Peralatan yang digunakan adalah peralatan perekaman. Sebelum tes parameter dilaksanakan
terlebih dahulu dilakukan tes instrument untuk memastikan bahwa peralatan perekaman dapat
berfungsi dengan baik.
Setelah dipastikan instrument dapat berfungsi dengan baik, proses perekaman tes parameter telah
siap dilaksanakan dengan cara yang sama seperti melakukan perekaman data.

Bentangan Geophone 1 Lintasan


SP dengan variasi
kedalaman dan muatan

Gambar 14. Contoh design tes parameter

II.7. PENGEBORAN DAN PENGISIAN BAHAN PELEDAK


Tahapan selanjutnya adalah tahapan pengeboran, pada tahapan ini pengeboran yang dilakukan
ialah pengeboran dangkal dengan kedalaman yang telah ditentukan berdasarkan hasil parameter
test. Pengeboran dilakukan pada shoot point sesuai dengan tanda yang diberikan oleh Department
Topografi dengan tujuan untuk melakukan penanaman bahan peledak. Mengapa harus dilakukan
pengeboran terlebih dahulu, hal ini dilakukan agar bahan peledak yang ditanam berada pada
lapisan keras (lapisan yang berada dibawah lapisan lapuk). Kemudian akan timbul pertanyaan;
mengapa harus pada lapisan keras, karena pada lapisan lapuk, gelombang yang dipancarkan oleh
sumber akan terefraksi.

11
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Peralatan yang digunakan dalam pengeboran dan pengisian bahan peledak diantaranya :
1. Mesin Water Pump
Digunakan untuk menyalurkan air dengan bantuan selang/hose dari sumber air ke mud pit
disetiap titik pengeboran.
2. Mesin Power Rig
Digunakan saat melakukan pengeboran, mesin ini berfungsi sebagai pemutar mata bor dengan
sambungan pipa pengeboran.
3. Mesin Mud Pump
Mesin Mud Pump berfungsi untuk menyalurkan mud dari mud pit ke lubang pengeboran agar
serpihan cutting pengeboran dapat terangkat ke permukaan.
4. Selang (suction hose)
Selang digunakan untuk menyalurkan air dan juga mud pengeboran.

Gambar 15. Mesin Power Rig (Kiri), Mesin Mud Pump (tengah) dan selang/hose (kanan)

5. Pipa bor
Pipa bor digunakan untuk menghubungkan antara mata bor dan mesin bor, guna mengetahui
seberapa dalam lubang yang telah dibor dapat dilakukan dengan menghitung jumlah pipa bor
yang telah masuk, umumnya panjang pipa bor adalah 1,5 meter/pipa.

Gambar 16. Pipa bor

12
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

6. Mata Bor
Mata Bor berfungsi untuk membuat jalur sepanjang lubang bor. Mata Bor ini merupakan salah
satu alat yang sangat berguna dalam pengeboran. Ada beberapa macam mata bor, diantaranya
: Trifus, mata bor 7/8, Wing 3/8 dan sebagainya.
Pemilihan mata bor ini disesuaikan dengan diameter lubang bor yang diinginkan dan juga
litologi yang akan ditembus.
7. King Swifel
Alat yang digunakan untuk pengeboran dengan cara flushing tanpa menggunakan power rig.

Gambar 17. Contoh Mata Bor

8. Kunci Pipa
Kunci pipa ini sangat berperan saat akan melakukan penambahan pipa bor atau saat
pencabutan pipa bor.
Kunci ini juga sangat berperan saat melakukan pengeboran pada lapisan lunak dengan cara
flushing.

Gambar 18. King Swifel (kiri atas), kunci pipa (kiri bawah)
dan kotak Detonator (DT-kanan) dan kotak Dynamite (DN-kiri)

13
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

9. Kotak Dynamite dan Kotak Detonator


Kotak ini berfungsi untuk menyimpan detonator dan dynamite yang akan digunakan di lintasan.
Untuk penggunaan jumlah dynamite maupun detonator harus dapat diperkirakan terlebih dulu
oleh driller dan shooter.
10. Polymer
Cairan kimia yang digunakan untuk mengeraskan dinding lubang bor, umumnya digunakan saat
menembus lapisan pasir gugur.

Gambar 19. Liquid Polymer

11. Digital Cap Tester


Cap Tester ini berfungsi untuk mengetahui tahanan yang masih dimiliki oleh detonator sekaligus
memastikan apakah detonator masih berfungsi atau tidak.
Apabila Tahanan Jenis bernilai 0, berarti detonator mati atau lebih dikenal dengan istilah dead
cap.
12. Loading pole
Loading Pole atau Dummy load digunakan untuk melakukan pengecekan kondisi lubang bor
apakah telah sesuai dengan kedalaman yang diinginkan, apakah terjadi formasi gugur pada
dinding lubang bor atau tidak dan digunakan untuk mendorong dynamit yang akan ditanam ke
dasar lubang bor.
13. Tali Rafia
Saat melakukan perakitan dynamite, dynamite akan diikat dengan tali rafia. Hal ini dilakukan
untuk menghindari putusnya kabel detonator saat dimasukkan kedalam lubang bor akibat
menahan beban terlalu besar, sehingga tali rafia ini akan membantu beban kabel detonator
saat dilakukan penanaman kedasar lubang bor.
14. Lakban
Lakban digunakan untuk membalut dynamite terutama pada bagian sambungan saat perakitan.
14
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Pada survey seismic 2D pengeboran dilakukan hanya pada SP ganjil terkecuali jika tidak dapat
dilakukan pada SP ganjil maka harus dikompensasi ke SP genap. Sedangkan pada survey 3D,
pengeboran dilakukan di sepanjang lintasan shoot, SP genap maupun ganjil.
Pada umumnya pada satu unit pengeboran terdapat tim pengeboran, tim water relay yang lebih
dikenal dengan sebutan kru selang dan satu tim pengisian bahan peledak yang lebih dikenal dengan
sebutan kru preloading. Tim pengeboran ini dipimpin oleh seorang Driller yang telah bersertifikat
MIGAS sedangkan tim preloading dipimpin oleh seorang Shooter yang juga telah bersertifikat
MIGAS. Dalam unit tersebut juga terdapat dua orang mandor yaitu mandor drilling dan preloading,
adapula seorang safety man dan dilengkapi oleh seorang medic yang merupakan standard dasar
dalam pelaksanaan kegiatan survey seismic.
Pengeboran pada lapisan yang lunak pada umumnya hanya menggunakan system flushing tanpa
menggunakan mesin hanya dengan bantuan air/mud dan dorongan pipa oleh kru menggunakan
kunci Inggris. Pada lapisan yang agak keras dapat dilakukan menggunakan mesin yang dikenal
dengan sebutan power rig.
Pada pelaksanaan kegiatan pengeboran pada sisi titik yang akan dibor akan di buat lubang pit
tempat penampungan air dan lumpur serpihan cutting hasil pengeboran.

King swifle

Power Rig

Mud Pit

Gambar 20. Pengeboran flushing (kiri), dengan power rig (tengah), pencabutan pipa bor (kanan)

Gambar 21. Cek kondisi lubang bor (kiri) dan Penanaman bahan peledak (kanan)
15
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Setelah pengeboran dan pengisian bahan peledak dilakukan kemudian dilanjutkan dengan tamping
(pemampatan lubang bor) bertujuan agar energy saat peledakan terpusat kebawah. Selain hal
tersebut diatas, lubang mud pit juga harus ditutup dengan rapi seperti semula.

Gambar 22. Mendorong bahan peledak ke dasar lubang (kiri) dan tamping (kanan)
Agar tidak terjadi kerusakan dan pencemaran di permukaan akibat kegiatan pengeboran tersebut.
Hal ini berkaitan erat dengan standard HSE (Health, Safety and Environment) yang diterapkan pihak
company sehingga selain kesehatan dan keamanan, kelestarian lingkungan di wilayah kegiatan
survey seismic juga harus tetap terjaga.

II.8. TES GEOPHONE


Pengecekan Geophone dilakukan sebelum proses perekaman berlangsung, pengecekan yang
dilakukan yaitu :
1. Tes Leakage
Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kebocoran pada kabel geophone. Apabila terjadi
kebocoran pada geophone akan menyebabkan terjadinya ringing pada data sehingga akan
tampak noise seperti noise 50 Hz.

Gambar 23. Tes Leakage (kiri), tes polarity dan continuity (kanan)
16
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

2. Tes Polaritas
Dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian telah terpasang dengan posisi yang
benar. Apabila polaritasnya tidak searah maka data akan memiliki polaritas terbalik dan
memerlukan reverse editing pada saat pengolahan data.
3. Cek continuity
Dilakukan untuk memastikan bahwa geophone memiliki harga tahanan geophone yang normal
saat di rangkai paralel maupun seri.

II.9. PEMBENTANGAN KABEL GEOPHONE


Sebelum dilakukan perekaman data, terlebih dahulu dilakukan pembentangan kabel geophone yang
dilakukan oleh kru bentang dan penanaman geophone yang dilakukan oleh kru rojok/penanaman.
Kru pembentangan dan kru rojok ini juga memiliki peranan yang tak kalah pentingnya dibandingkan
dengan kru yang lainnya, karena saat penanaman geophone posisi coupling geophone yang
tertanam sangat berpengaruh pada kualitas data yang dihasilkan.
Pada daerah rawa penanaman geophone dilakukan hingga menemukan lapisan keras.

Gambar 24. Pembentangan dan penanaman geophone

Peralatan yang digunakan selama pembentangan dan rojok :


1. Kabel String Connector/Take Out

: Alat yang digunakan untuk menghubungkan antar


string geophone sehingga menjadi satu channel.

2. Geophone

: Instrument penerima getaran gelombang

3. Super Planter

: Alat yang digunakan untuk membuat lubang tempat


penanaman geohone

4. Planting pole

: Alat yang digunakan untuk menanam geophone ke


dalam lubang yang telah dibuat sebelumnya.
17
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

5. Kabel Link (FDU)

: FDU (Field Digitizing Unit) adalah kabel yang digunakan


untuk menghubungkan antar trace, menerima data dari
geophone dan merubah data tersebut dari analog
menjadi digital.

Gambar 25. String Connector (kiri), Geophone (tengah) dan kabel link FDU (kanan)

6. Line Acquisition Unit (LAUL)

: Kabel yang digunakan untuk menghubungkan antara


FDU dan LAUX serta mengirimkan data yang diterima
dari FDU ke labo. Alat ini juga berfungsi sebagai
pemberi dan pengontrol power lintasan.

7. Crossing Line Acquisition Unit (LAUX) : Alat yang digunakan untuk menghubungkan antar kabel
transfer (LAUL) di lintasan dan instrument LABO.

Penentuan jumlah maksimal trace antara FDU, LAUL/LAUX tidak semudah membagi power supply
yang tersedia dengan jumlah trace, tetapi harus mempertimbangkan hal berikut di bawah ini :
1.

Jumlah maksimal trace tiap lintasan harus sesuai dengan design yang telah ditentukan.

2.

Tegangan akan berkurang sebanding dengan panjang kabel. Sehingga apabila kabel terlalu
panjang akan memungkinkan terjadinya drop power supply. Drop ini dapat menyebabkan data
tidak terekam dengan sempurna (line cut).

18
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

III.

BASIC PARTY

III.1. PEREKAMAN DATA


Perekaman data merupakan akhir pekerjaan teknis survei seimik di lapangan. Proses perekaman
data dikendalikan oleh seorang observer yang posisinya berada di Labo. Labo merupakan sebuah
tempat dimana pengontrol instrument perlengkapan recording berada. Pada survey seismik darat
umumnya Labo berada dalam sebuah truk (dog house) atau bisa juga dalam sebuah flying camp.

Gambar 26. Labo Flying camp (kiri) dan dog house (kanan)

Sebelum melakukan perekaman observer akan melakukan urutan pekerjaan sebagai berikut :
1. Pengecekan Trace

: Dilakukan untuk memastikan kondisi instrument dan seluruh


persambungan kabel dan geophone dalam kondisi baik.

2. Instrument Test

: Instrument test atau daily test dilakukan sebelum melakukan


penembakan untuk mengetahui apakah instrument yang digunakan
dalam kondisi baik. Salah satu daily test yaitu field noise test.

3. Blaster Test

: Dilakukan menggunakan capsin untuk memastikan instrument ini


dapat bekerja dengan baik (geophone uphole dapat menangkap
uphole time dengan baik dan kabel cap dapat menghasilkan arus yang
akan dialirkan menuju detonator).

4. Persiapan Perekaman : Setelah semua instrument dapat dipastikan dalam kondisi baik,
dilanjutkan dengan persiapan perekaman.
Persiapan perekaman yang dilakukan observer dengan memastikan
beberapa hal di bawah ini :
Shooter telah berada di posisi yang benar, pengecekan posisi SP
dengan melihat trace ID dan FDU ID untuk menghindari kesalahan
posisi tembak.
19
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Personil penyetopan jalan telah berada di posisi masing-masing.


Pengamanan lintasan, seluruh personil mengamankan posisi
masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan.
5. Perekaman

: Perekamakan dilakukan untuk mendapatkan data yang bagus tanpa


noise. Apabila persiapan perekaman telah dilakukan dan noise telah
tidak ada, maka perekaman pun dimulai. Shooter tembak di lintasan
akan mendengarkan komando dari observer untuk melakukan
penembakan.

Plotter
NAS

Gambar 27. Instrument di Labo (kiri), observer sedang memonitor noise dari Labo (kanan)

Seorang observer harus memiliki konsentrasi dan inisiatif yang tinggi sehingga apabila terjadi
trouble shooting maka observer dapat dengan cepat mengambil keputusan.
Saat proses perekaman tidak selalu berjalan sempurna. Terkadang terdapat kejadian miss fire, yaitu
:
1. Dead Trace

: Trace mati, tidak menerima signal.

2. Dead Cap

: Detonator dan dinamit tidak meledak

3. Cap Only

: Detonator meledak, tetapi dynamite tidak ikut meledak

4. Loss Wire

: Kabel detonator yang akan disambung ke kabel cap pada blaster tidak
dapat disambung, karena tidak ditemukan.

5. Loss Hole

: Shoot point yang akan ditembak tidak ditemukan

6. Line Cut

: Data yang diterima terpotong, beberapa penyebab line cut diataranya :


Kabel leakage, kabel yang bocor dapat menyebabkan air masuk ke
dalam kabel dan terjadi hubungan arus pendek sehingga hubungan
terputus.
Persambungan kabel jelek, persambungan kabel yang jelek dapat
menyebabkan data tidak terkirim sempurna.
20
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Baterai di pasang terlalu jauh, seperti yang telah diuraikan di atas


bahwa panjang kabel akan sebanding dengan power supply yang
diperlukan. Jadi apabila baterai dipasang terlalu jauh maka power yang
diperlukan akan semakin besar hal ini dapat menyebabkan baterai drop
sehingga hubungan terputus dan terjadi line cut.
Baterai low, apabila baterai low dan akhirnya drop akan menyebabkan hubungan terputus dan data
mengalami line cut.

III.2. PENGOLAHAN DATA LAPANGAN


Proses pengolahan data lapangan dilakukan setelah data hasil perekaman di lapangan berikut data
koordinat dan informasi penembakan lainnya diterima oleh department Processing.
Pengolahan data yang dilakukan di lapangan berbeda dengan pengolahan data yang dilakukan di
processing center. Karena pada pengolahan data di lapangan lebih menitik beratkan pada geometri
dan kualitas raw data terhadap noise.
Tahapan yang umumnya dilakukan di processing field ialah :
1. Reformat data
Data yang diperoleh dari LABO umumnya masih dalam bentuk format SEG-D sehingga perlu
dilakukan perubahan kedalam format processing.
2. Geometri
Pada tahapan proses ini dilakukan pendefinisian koordinat X,Y,Z, offset ataupun kompensasi
pada receiver point dan shoot point serta pola bentangan dan jumlah receiver yang aktif.
Pada tahapan ini dilakukan QC Geometri untuk memastikan bahwa data yang diperoleh telah
berada pada geometri yang benar.
Geometri penembakan termasuk di dalamnya yaitu :
- FFID (Record ID)
Dari informasi observer log dapat kita ketahui apakah terdapat kesalahan penulisan FFID.
- Koordinat
Dari koreksi geometri juga dapat kita ketahui apakah koordinat shoot point yang ditembak
telah benar atau ada pergeseran.
- Up Hole Time
Apabila pada data SPS data uphole time tidak ikut terekam maka dapat dilihat pada observer
log.

21
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

- Nomor shoot point


Sama halnya dengan FFID, dari observer log dapat kita ketahui apabila terdapat kesalahan
penulisan nomor Shoot Point.
- Bentangan
Dari raw data dapat kita lihat apakah ada kesalahan pada bentangan saat penembakan atau
lebih dikenal dengan wrong spread.
Apabila terjadi beberapa kesalahan geometri seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka
kita dapat berkoordinasi atau melakukan konfirmasi kepada department Seismologist dan
department Topografi agar dapat segera dilakukan perbaikan.
Interval receiver dan shoot point dapat menentukan bin untuk mengetahui perhitungan CDP
(Common Deep Point), fold coverage dan offset.

Dari batas luasan bin yang diketahui kita dapat mengetahui nilai fold pada luasan tersebut. Nilai
fold menunjukkan jumlah trace refleksi yang diterima dalam 1 bin.

Plotter

Gambar 28. Kegiatan Processing

3. Editing
Pada raw data yang telah terkoreksi geometri, dilanjutkan dengan editing data. Editing data
dilakukan pada data shoot gather berupa killing trace pada trace yang spike, jelek atau mati,
reverse trace yang mengalami polaritas terbalik.
22
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Selain killing trace dapat juga dilakukan muting, yaitu memotong trace hanya pada bagian
tertentu yang telah didefinisikan.
4. Static Correction
Koreksi Statik ini dilakukan untuk melakukan koreksi pada waktu tempuh gelombang akibat
perbedaan ketinggian di permukaan (topografi) dan perbedaan ketebalan lapisan lapuk.
Koreksi static dapat dilakukan dengan cara sebagai beikut :
Koreksi ketinggian (elevation) dengan data ketinggian topografi dan data uphole time.
Koreksi lapisan lapuk (weathering layer) dengan data hasil picking first break.
5. TAR (True Amplitude Recovery)
Tool TAR digunakan untuk mengembalikan energi Amplitudo yang terserap karena proses
atenuasi akibat jarak tempuh dari sumber ke penerima.
6. Deconvolution
Deconvolution merupakan filter untuk mengembalikan signal dengan amplitudo yang melebar
akibat adanya filtering oleh bumi (konvolusi) menjadi spike menggunakan bantuan wavelet.
Deconvolution dilakukan sepanjang time untuk meningkatkan resolusi.
7. Velocity Analysis
Analisis kecepatan merupakan proses terpenting untuk menggambarkan struktur bawah
permukaan. Hasil analisis kecepatan dapat kita pergunakan sebagai model kecepatan awal.
Model kecepatan akan dipergunakan hingga proses migrasi.
Nilai kecepatan suatu medium berbeda-beda. Nilai ini dipengaruhi oleh litologi batuan,
porositas, densitas, ukuran butir, kandungan fluida dan sebagainya.
8. Residual Statics
Residual statics dilakukan untuk meningkatkan kualitas stack section dengan cara
menghilangkan permasalahan statik yang tersisa, yaitu membuat horizon pada hasil seismic
stack yang telah terkoreksi NMO (Normal Move Out). Setelah dilakukan residual statics
umumunya reflektor akan lebih menerus.
9. Stacking
Stacking ialah melakukan penjumlahan pada dimensi offset (CDP gather) sehingga dapat
meningkatkan rasio signal dan menghilangkan noise.
10. Migration
Adanya perubahan pada bidang reflector yang diakibatkan oleh sesar (patahan pada sebuah
bidang) mengakibatkan adanya efek difraksi, selain itu pada lapisan miring CDP tidak jatuh pada
posisi sebenarnya. Oleh karena itu dilakukan proses migrasi dengan tujuan :
Menghilangkan efek difraksi

23
-Tuty Nurijan-

Mengenal Survei Seismik

Mengembalikan reflector ke posisi yang sebenarnya


Meningkatkan resolusi lateral
Parameter yang sangat penting dalam proses migrasi ialah lebar aperture. Karena nilai aperture
inilah yang akan digunakan dalam perhitungan amplitude sepanjang hiperbola difraksi.

III.3. PEMBAYARAN GANTI RUGI


Pada tahapan ini department Kehumasan kembali memiliki peranan yang sangat penting. Setelah
dilakukan perekaman data, selanjutnya dari departemen Kehumasan menurunkan timnya yang
dikenal dengan sebutan tim Inventory untuk melakukan pendataan kerusakan sepanjang lintasan.
Data kerusakan tanam tumbuh dan rumah retak ini kemudian dicocokan dengan data kepemilikan
lahan yang telah diperoleh saat pelaksanaan topografi. Adapun besar penggantian kerusakan
disesuaikan dengan peraturan daerah yang berlaku.
Pada mumnya kerusakan terjadi pada tanaman musiman karena pada tanaman keras baik produktif
maupun tidak produktif umumnya tidak akan ditebang tetapi akan dihindari dengan cara bergeser
dalam radius yang masih dapat ditoleransi.
Setelah data kerusakan tanam tumbuh dan data rumah retak diperoleh, dilanjutkan dengan
pembayaran kompensasi dihadapan aparat setempat, yaitu Muspika (Danramil, Kapolsek), Camat,
Lurah dan RT atau yang mewakili.

Gambar 29. Kegiatan Pembayaran Ganti Rugi

Dari beberapa tahapan yang telah disebutkan di atas. Apabila kita lakukan seluruh tahapan tersebut
dengan baik dan benar, sesuai denga standard operasional yang berlaku maka harapan untuk
memperoleh data yang baik dapat terpenuhi.

24
-Tuty Nurijan-