Anda di halaman 1dari 5

I.

Latar Belakang
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka mencapai masyarakat adil yang
berkemakmuran dan makmur yang berkeadilan. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan
bahwa tujuan negara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Tujuan pertama merupakan manifestasi dari negara hukum formal, sedangkan tujuan kedua dan
ketiga merupakan manifestasi dari pengertian negara hukum material, yang secara keseluruhan
sebagai manifestasi tujuan khusus. Sementara tujuan yang terakhir adalah perwujudan dari
kesadaran suatu bangsa yang hidup di tengah-tengah pergaulan masyarakat internasional.
Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sila pancasila dikembangkan atas dasar
ontomologis manusia, baik sebagai makhluk individu atau sosial. Nilai-nilai Pancasila harus
dikembalikan kepada kondisi objektif masyarakat Indonesia. Maka dari itu, pancasila harus
menjadi paradigma perilaku manusia Indonesia, termasuk dalam pembanguan nasionalnya.
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk dan cara menerapkan pancasila dalam upaya pembangunan
perekonomian Indonesia?
2. Bagaimana cara merealisasikan implementasi pancasila sebagai landasan hukum dan
politik negara Indonesia?
3. Bagaimana peran pancasila sebagai paradigma landasan pembangunan sosial budaya
negara Indonesia?
III. Pembahasan
Upaya Penerapan Pancasila sebagai Landasan Pembangunan Perekonomian
Hampir semua pakar ekonomi Indonesia memiliki kesadaran akan pentingnya moralitas
kemanusiaan dan ketuhanan sebagai landasan pembangunan ekonomi. Namun dalam praktiknya,
mereka tidak mampu meyakinkan pemerintah tentang konsep d yang sesuai dengan kondisi
Indonesia. Sangat disayangkan bahwa tidak sedikit pakar ekonomi Indonesia yang mengikuti
pendapat pakar barat tentang pembangunan ekonomi Indonesia.

Pandangan tentang merkantilisme melahirkan sistem ekonomi kapitalis pada akhir abad
18. Sedangkan pada abad 19 di Eropa lahir pemikiran baru sebagai reaksi dari sistem ekonomi
kapitalis yang dikenla dengan system ekonomi sosialis yang juga memperjuangkan nasib kaum
proletar yang ditindas oleh kaum kapitalis.
Sistem pertama mengutamakan individu, sistem kedua mengutamakan kepentingan orang
banyak. Manakah yang lebih penting?
Apabila dikaji secara kritis, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada suatu sistem pun
yang paling sempurna. Oleh karena itu menjadi sangat penting dan mendesak untuk
mengembangkan sistem ekonomi yang mendasarkan ada sistem moralitas dan humanistik
sehingga lahirlah sistem ekonomi yang berperikemanusiaan.
Sistem ini mendasarkan pada tercapainya kesejahteraan rakyat secara luas. Pembangunan
ekonomi bukan hanya mengejar pertumbuhan saja, melainkan untuk tujuan kemanusiaan yaitu
terciptanya kesejahteraan seluruh bangsa. Pemikiran ini melahirkan sistem ekonomi Indonesia
yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Dengan demikian, pembangunan ekonomi harus
mampu menghindarkan diri dari persaingan bebas, monopoli, dan bentuk lainnya yang dapat
menimbulkan penindasan, penderitaan dan kesengsaraan rakyat kecil.
Sesuai dengan paradigma pancasila,pengelolaan ekonomi Indonesia diserahkan kepada
tiga bentuk badan usaha yaitu :
1. Koperasi sebagai soko guru ekonomi indonesia merupakan badan usaha nonprofit
yang berpihak pada kepentingan rakyat kecil.
2. BUMN atau BUMD sebagai badan usaha yang berwenang mengelola sektorsektor ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak.
3. Badan Usaha Swasta sebagai badan usaha profit millik perseroan atau kelompok
yangmengelola sektor ekonomi yang belum mampu ditangani oleh koperasi dan
atau BUMN/BUMD.
Apabila ketiga lembaga ini mampu melaksanakan tugasnya, maka bangsa Indoensia
masih memilki harapan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami kemajuan dan tingkat

stabilitas yang mantap, namun kenyataannya ketiga pengelola ekonomi ini belum berkembang
sesuai dengan yang diharapkan.

Upaya Penerapan Pancasila sebagai Landasan Pembangunan Hukum dan Politik


Pembangunan politik memilki dimensi yang strategis karena hampir semua kebijakan
publik tidak dapat dipisahkan darinya. Hal ini juga banyak menimbulkan kekecewaan
masyarakat, antara lain: (1) kebijakan hanya dibangun atas dasar kebijakan politik tertentu; (2)
kepentingan masyarakat kurang mendapat perhatian; (3) pemerintah dan elite politik kurang
berpihak pada masyarakat; (4) adanya tujuan tertentu untuk melanggengkan kekuasaan elite
politik.
Persoalan mengenai kemampuan dan kedewasaan rakyat dalam berpolitik menjadi
prioritas pembangunan bidang politik. Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa manusia
adalah subjek negara dan karena pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat dan
martabat manusia. Namun cita-cita ini sulit diwujudkan karena tidak ada kemauan dari para elite
politik sebagai pemegang kebijakan politik.
Pembangunan politik semakin tidak jelas arahnya ketika terjadi banyak penyelewengan
dan tidak dapat ditegakkan oleh hukum. Apabila dianalisis, kegagalan tersebut dapat dijabarkan
yaitu:
1. Tidak jelasnya paradigma pembangunan politik dan hukum karena tidak adanya
blue print
2. Penggunaan pancasila sebagai paradigma pembangunan masih bersifat parsial
3. Kurang berpihak pada hakikat pembangunan politik dan hukum
Prinsip-prinsip yang kurang sesuai dengan nilai-nilai pancasila telah membawa implikasi
yang luas dan mendasar bagi kehidupan masyarakay Indonesia. Pembangunan bidang hukum
yang didasari pada nilai-nilai moral baru sebatas pada tataran filosofis dan konseptual. Hukum
nasional yang dikembangkan secara realistis jarang dapat terwujud karena setiap upaya
penegakan hukum dipengaruhi oleh keputusan politik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

pembangunan dibidang politik telah mengalami kegagalan. Hal ini kemungkinan besar akan
masih dapat diperbaiki untuk masa mendatang apabila para politikus dan aparat penegak hukum
di Indonesia tidak memandang pancasila sebelah mata, namun berupaya dan bekerja sama untuk
benar-benar menerapkannya secara nyata dalam setiap kebijakan yang mereka ambil untuk
bangsa dan negara ini; bukan memperlakukan pancasila seakan sebagai suatu peraturan tak
tertulis yang dapat mereka langgar begitu saja.
Upaya Penerapan Pancasila sebagai Landasan Pembangunan Sosial Budaya
Pembangunan sosial budaya harus dilaksanakan atas dasar kepentingan nasional yaitu
terwujudnya kehidupan masyarakat yang demokratis, tentram, aman, dan damai. Pemikiran
tersebut bukan berarti bangsa Indonesia harus steril dari pengaruh budaya asing. Artinya,
pengaruh budaya asing harus diterima apabila diperlukan dalam membangun masyarakat
Indonesia yang modern. Namun, perlu diingat bahwa masyarakat modern bukan berarti
masyarakat yang berbudaya Barat (westernisasi), melainkan masyarakat yang tetap berpijak pada
akar budayanya.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka tidak berlebihan apabila Pancasila merupakan satusatunya paradima pembangunan bidang sosial budaya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari
kesepakatan bangsa Indonesia bahwa Pancasila merupakan kristlisasi nilai-nilai kehidupan
masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, kita harus menyadari bahwa penggunaan Pancasila
sebagai paradigma pembangunan sosial budaya bukan satu-satunya jaminan mencapai
keberhasilan optimal.
Argumen di atas dapat dilihat dari keberhasilan masa Orde Baru dalam melaksanakan
pembangunan pada umumnya, bidang sosial budaya pada khususnya. Sekilas kita dapat
menyaksikan masyarakat yang tertib, aman, dan damai. Namun sebenarnya pemerintah Orde
Baru menanam bom yang siap meledak, serta menghancurkan masyarakat Indsonesia.
Kegagalan pembangunan bidang sosial budaya hampir serupa dengan kegagalan
pembangunan bidang politik. Orde Baru yang belum berhasil mewujudkan cita-citanya berganti
dengan masa reformasi. Akan tetapi, nyatanya perjuangan masa reformasi sering dimanfaatkan
oleh kepentingan politik tertentu, sehingga masa reformasi yang diharapkan dapat memperbaiki
bidang sosial budayapun belum dapat mencapai cita-citanya. Pertikaian antar kelompok yang

terjadi di berbagai wilayah Indonesia merupakan bukti kegagalan dalam membangun sistem
sosial budaya yang sesuai ddengan nilai-nilai kebenaran, serta harkat dan martabat manusia.
Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus dihayati dan diamalkan kembali agar dapat
menjadi dasar pembangunan bidang sosial budaya. Menurut Koentowijoyo, Pancasila sebagai
paradigma mempunyai ciri khas, seperti:
1. Universal karena mampu melepas simbol-simbol dari keterkaitan struktur
2. Transedental karena mampu meningkatkan derajat kemerdekaan manusia dan kebebasan
spiritual.
Atas dasar argumen di atas semua masyarakat dapat berpartisipasi secara rasional, proporsional
dan realistis dalam membangun tatanan sosial budaya. Akhirnya dalam rangka mewujudkan
tatanan kehidupan yang demokratis, aman, tentram, damai, adil, dan makmur menuntut
partisipasi dari seluruh komponen bangsa yang dilaksanakan atas nilai-nilai kebenaran.
IV. Kesimpulan
Berdasarkan pemikiran diatas, maka pembangunan nasional sebagai sarana untuk
mewujudkan tujuan nasional harus dikembalikan pada hakikat manusia yang monopluralis yang
memiliki ciri-ciri yaitu: (1) terdiri dari jiwa dan raga, (2) sebagai makhluk individual dan sosial,
serta (3) sebagai pribadi yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Sebagai konsekuensi pemikiran diatas, maka pembangunan nasional harus meliputi aspek
jiwa, seperti akal, kehendak, raga (jasmani), pribadi, sosial, dan ke-Tuhanan yang terkristalisasi
dalam nilai-nilai pancasila. Dengan demikian pancasila dapat dijadikan tolak ukur atau
paradigma pembanguna nasional diberbagai bidang.