Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN SURVEY TINJAU LOKASI

BAHAN GALIAN NIKEL PT CANE


KECAMATAN PEUKAN BADA
KABUPATEN ACEH BESAR
ACEH

PT CENTRAL ACEH NICKEL

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


KATA PENGANTAR

Laporan Survey Tinjau Lokasi Nikel Daerah Gampong Lambaro Neujid,


Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh merupakan hasil interpretasi
awal yang dilakukan dengan melihat peta geologi dan topografi serta melakukan
tinjauan langsung keadaan lokasi di lapangan, dimulai dari tanggal 26 Oktober sampai
30 Oktober 2015, Laporan ini dibuat untuk menjelaskan gambaran besar keadaan
disana.
Survey tinjau prospeksi Nikel dilakukan dengan melihat singkapan Kondisi di
lapangan dan melakukan serangkaian uji. Proses dan aktivitas geologi bisa
menimbulkan terbentuknya batuan dan jebakan mineral. Yang dimaksud dengan jebakan
mineral adalah endapan bahan-bahan atau material baik berupa mineral maupun
kumpulan

mineral

(batuan)

yang

mempunyai

arti

ekonomis

(berguna

dan

mengguntungkan bagi kepentingan umat manusia).


Laporan Survey Tinjau ini dapat berjalan dengan baik atas kerjasama dengan
pihak Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. (APN) dan semua pihak yang terkait, dengan ini
kami ucapkan terima kasih.
Banda Aceh, 31 Oktober 2015

Behlul Idana

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I

ii

PENDAHULUAN

BAB II

BAB III

1.1

Latar Belakang

1.2

Maksud dan Tujuan

1.3

Metode Penelitian, Alat dan Pelaksana, dan Waktu Kerja

1.4

Lokasi dan Pencapaian Daerah Penelitian

KONDISI GEOGRAFIS DAN SOSIAL MASYARAKAT

2.1

Kondisi Geografis

2.2

Kondisi Sosial Masyarakat

GEOLOGI UMUM DAERAH

3.1

3.1.1. Fisiologi

3.1.2. Stratigrafi

3.1.3 Struktur dan Tektonika

3.2
BAB IV

Geologi Regional

Genesa Pembentukan Nikel Laterite

KEGIATAN SURVEY DAN PENYELIDIKAN LAPANGAN

14

4.1 Tahap Persiapan Awal

14

4.2. Kegiatan Survey Dan Penyelidikan Umum

14

4.2.1. Survey Tinjau Topografi dan Morfologi

14 4.2.2.

Penyelidikan Geologi

BAB V

15

4.2.3. Penyelidikan Geofisika

15

4.2.4. Analisa Laboratorium

16

HASIL KEGIATAN SURVEY DAN PENYELIDIKAN LAPANGAN

17

5.1

Penyelidikan Geofisika

18

5.2

Hasil Analisis Laboratorium

18

5.3

Kesimpulan

19

DAFTAR PUSTAKA

Prospeksi Bahan Galian Nikel

20

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


LAMPIRAN

21
iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan

Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan yang
maha esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang
banyak, karena itu pengeloloanya harus dikuasai oleh negara untuk memberi nilai
tambah

secara

nyatabagi perekonomian nasional dalam usaha

mencapai

kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadialan ( Undang Undang


Republik Indonesia No. 4 Tahun 2009).
Nikel merupakan salah satu barang tambang yang sangat berharga dan memiliki
nilai jual tinggi di pasaran dunia karena memiliki manfaat yang begitu besar bagi
kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan logam anti karat, campuran dalam
pembuatan stainless steel, baterai nickel-metal hybride dan berbagai jenis barang
lainnya.
Survey tinjau merupakan tahapan eksplorasi Nikel yang paling awal dengan
tujuan mengidentifikasih daerah daerah yang secara geologis mengandung endapan
nikel yang berpotensi untuk diselidiki lebih lanjut serta mengumpulkan informasi
tentang kondisi geografi, tataguna lahan, dan kesampaian daerah.
Prospeksi adalah kegiatan penyelidikan awal suatu daerah di upayakan
mendapatkan berbagai mineral berharga. Dapat disimpulkan bahwa Prospeksi
merupakan kegiatan penyelidikan dan pencarian untuk menemukan endapan bahan
galian atau mineral berharga berdasarkan data geologi,geokimia,dan geofisika.
Di Aceh, di Kabupaten Aceh Besar, di Kecamatan Peukan Bada terdapat formasi
batuan yang mengandung nikel yaitu formasi Caleu, merupakan daerah volcanic
yang kaya akan batuan beku yang diduga mengandung endapan nikel

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

1.2

Maksud dan Tujuan


1
Maksud dilakukannya survei tinjau di lokasi adalah untuk mendapatkan data
data berupa lokasi, sebaran formasi yang mengandung nikel dan data-data teknis
geologi lainnya. Sedangkan tujuan penyelidikan umum adalah menginventarisir
endapan nikel yang ada di daerah tersebut dengan menentukan lokasi-lokasi
keterdapatan nikel dan untuk mengetahui penyebaran dari nikel,serta melaporkan
daerah prospeksi berdasarkan hasil temuan dilapangan.

1.3

Metode Penelitian, Alat dan Pelaksana, dan Waktu Kerja


Penyelidikan yang dilakukan dalam eksplorasi pendahuluan ini berupa

pengumpulan data geologi lapangan, pengujian lokasi eksplorasi dengan uji tahanan
listrik dan pengambilan sampel tanah untuk analisis kimia.
Sedangkan peralatan yang digunakan sebagai berikut

Peta Topografi skala 1 : 50.000

Base map Peta Geologi Aceh Besar skala 1 : 250.000

Palu geologi 1 unit

Kompas geologi 1 unit

Pita ukur 100 m

Kamera digital 1 unit

GPS Handhelds 1 unit

Plastik Sampel

Alat Geolistrik

Laptop

Alat Alat Tulis

Tenda Penginapan 3.5 x 2.5 m

Obat Obatan ( P3K)

Peralatan Safety Eksplorasi

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

Pelaksana kegiatan eksplorasi dilakukan oleh tim eksplorasi PT Central Aceh


Nikel (CANE) yang berjumlah 7 orang dengan profil sebagai berikut.
2

Kegiatan eksplorasi dilakukan selama 5 hari dari tanggal 26 s.d 30 Oktober 2015.

1.4

Lokasi dan Pencapaian Daerah Penelitian


Secara administratif daerah penyelidikan terletak di Gampong Lambaro Neujid,
Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Secara geografis, lokasi
penyelikan terletak antara 0 11' 53.00 "- 0 15' 48,18" Lintang Selatan dan 117 16'
31.40 " - 117 18' 52.49" Bujur Timur seluas 9 hektar.
Untuk mencapai Kecamatan Peukan Bada, kabupaten Aceh Besar dari kota
Banda Aceh dapat dicapai dengan roda 2 atau roda 4,melewati jalan Banda Aceh
Medan ( Jarak tempuh sekitar 20 Km, dengan waktu tempuh lebih kurang 35
menit).

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

BAB II
KONDISI GEOGRAFIS DAN SOSIAL MASYARAKAT

2.1 Kondisi Geografis


2.1.1

Topografi dan Morfologi


Berdasarkan hasil interpretasi peta topografi dan pengamatan langsung di
lapangan secara umum, morfologi di lokasi eksplorasi merupakan daerah perbukitan
bergelombang lemah sampai perbukitan bergelombang sedang, dengan perbedaan
tinggi antara lembah dan puncak bukit berkisar antara 20 s.d 40 meter.
Sungai utama yang melintasi lokasi adalah Sungai Meutuah yang berada di
bagian selatan, dari hasil pengamatan maka sungai ini dapat dikelompokkan ke
dalam sungai berstadia muda menjelang dewasa. Tingkat erosi dan pelapukan yang
teramati juga cukup intensif dan ketebalan soil bisa lebih dari 2 meter.

2.2

Kondisi Sosial Masyarakat


Masyarakat suku asli yang berada di lokasi adalah Suku Aceh , sedangkan
pendatang berasal dari Jawa dan Sunda. Mata pencaharian masyarakat sebagian
besar adalah petani tradisional sedangkan sebagian kecil lainnya bekerja di
perusahaan kayu dan perkebunan.
Masyarakat didaerah peukan bada aceh besar memiliki sifat yang ramah, itu
terlihat saat kami sampai disana, tingkah polah masyarakat disana dalam berbicara,
adat sopan santun sangat baik dalam menjamu tamu dari luar, hal ini sangat
memudahkan kami dalam melakukan penyelidikan umum didaerah tersebut.
Pemanfaatan lahan pada umumnya masih berupa semak belukar, ladang
masyarakat (padi, karet, pisang, sawit, lamtoro, dll), serta pemukiman.

Penggunaan Lahan

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

Pohon Karet

Pohon Aren

Jalan bekas ilegal logging

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


BAB III
GEOLOGI UMUM DAERAH
Berdasarkan geologi regional Aceh Besar (P3G Bandung,T.O.Simandjutak
dkk,1993), daerah penelitian berada pada formasi Caleu.Formasi Caleu ; Terdiri dari
satuan batuan batuan beku yang terhablur ulang dan terlapukkan.Formasi batuan ini
berumur Kapur Akhir-Paleosen Awal,terdiri dari satuan batuan sekis mika, sekis
glokofan, sekis amfibolit, sekis klorit, rijang berlapis, sekis genesaan, pualan dan
batugamping meta.Formasi ini berumur Paleosen.
3.1 Geologi Regional
3.1.1. Fisiografi
Berdasarkan Peta geologi lembar Aceh Besar, secara morfologi daerah ini dapat
dibedakan menjadi empat satuan yaitu pegunungan, perbukitan, daerah kars dan dataran
rendah. Daerah pegunungan tersebar dibagian barat (peg.Angowala) dan bagian timur
(peg.Boro-boro) lembar dan sebagian P. kabaena (G.Sambapalulli). Ketinggian antara
600 dan 1550 m diatas muka laut dengan lereng yang umumnya curam. Perbukitan
terdapat ditiga daerah, dibagian barat lembar yang terbentang hampir Utara-Selatan,
dibagian timur lembar yang berbanjar Barat-Timur dan dibagian utara. ketinggiannya
berkisar dari 100 hingga 600 m diatas muka air laut.
Pola aliran umumnya memperlihatkan percabangan dengan dasar lembah agak
datar dan memperlihatkan apengikisan kesamping lebih kuat. Daerah kars terdapat
dibeberapa bagian lembar ini terutama diantara Boepinang hingga Toari dan sebagian P.
Kabaena. Ketinggian mencapai hampir 700 m dari muka air laut dan di P. Kabaena
bahkan melebihi 1000 m. Satuan ini banyak dibentuk oleh Batugamping dengan pola
alirannya secara umum banyak percabangan dan setempat terdapat di bawah tanah.
Dataran rendah terluas menempati bagian tengah daerah pemetaan dan beberapa tempat
dekat pantai. Satuan ini berketinggian hingga sekitar 150 m dari muka ir laut. Pola
aliran umumnya sejajar, pada beberapa tempat memperlihatkan pengikisan kesamping
lebih kuat.

3.1.2. Stratigrafi

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

Berdasarkan himpunan batuan, struktur dan umur, secara regional di Lembar


Aceh Besar terdapat dua mandala (terrane) geologi sangat berbeda yang sering
bersentuhan yaitu Mandala Geologi Aceh Barat dan Anjungan Aceh Besar. Mandala
Geologi Aceh Barat dicirikan oleh gabungan batuan ultramafik, mafik dan malihan,
sedangkan anjungan Aceh Besar dicirikan oleh kelompok batuan sedimen pinggiran
benua yang beralaskan batuan malihan. Pada Mandala Geologi Aceh Besar batuan tertua
adalah batuan ultramafik yang merupakan batuan alas. Batuan ini bersama batuan
penutupnya yaitu batuan sedimen pelagos. Secara regional diberi nama lajur ofiolit
Aceh Besar. Batuan ultramafik terdiri dari peridotite, serpentinit, wherlit, harzburgit,
gabro, basal, mafik malihan yng disebut kompleks pongpangeo dikuasai oleh berbagai
jenis sekis dan sedimen malih. Selain itu terdapat sarpentinit dan sekis glaukopan yang
diperkiran batuan ini terbentuk dalam lajur penunjaman Benioff pada akhir kapur Awal
hingga paleogen (Simandjuntak, 1980, 1986). Hubungan antara ultramafik dengan
batuan malihan kompleks Pompangeo adalah sentuhan tektonik.
Pada Neogen takselaras di atas kedua mandala yang saling bersentuhan tersebut
terendapkan kelompok Molasa Aceh. Batuan jenis Molasa yang tertua di lembar Aceh
Besar adalah Formasi Langkeu yang diperkirakan berumur Akhir Miosen Tengah.
Formasi ini terdiri dari batupasir dan konglomerat. Formasi Langkeu mempunyai
anggota konglomerat yang keduanya berhubungan menjemari. Diatasnya menindih
secara selaras batuan berumur Miosen Akhir hingga Pliosen yang terdiri atas Formasi
Eemoiko dan Formasi Boepinang. Formasi Eemoiko dibentuk oleh batugamping koral,
kalkarenit, batupasir gampingan dan napal. Formasi Boepinang terdiri atas batulempung
pasiran, napal pasiran dan batupasir. Secara takselaras kedua formasi ini tertindih oleh
Formasi Alangga dan Formasi Buara yang saling menjemari. Formasi Alangga berumur
Pliosen, terbentuk oleh konglomerat dan batupasir yang belum padat. Formasi Buara
dibangun oleh terumbu koral, setempat terdapat lensa konglomerat dan batupasir yang
belum padat. formasi ini masih memperlihatkan hubungan yang menerus dengan
pertumbuhan terumbu pada pantai yang berumur Resen. Satuan batuan termuda di
daerah ini adalah endapan sungai, rawa, dan kolovium.

3.1.3 Struktur dan Tektonika.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

Sejarah geologi dan perkembangan tektonik dilembar Aceh Besar tidak dapat
dipisahkan dengan evolusi tektonik Aceh secara keseluruhan. Kerumitan geologi Aceh
ini terutama bagian utara sangat menarik.
Sesar Anggowala adalah merupakan sesar utama daerah ini, merupakan sesar
mendatar menganan (dextral). Sesar ini berarah baratlaut tenggara, dan diduga
melanjut kearah utara dan bersambung dengan sesar matano dilembar malili
(Simandjuntak,drr.,1981), sesar ini diduga mulai giat kembali pada awal Tersier, akibat
pergerakkan tektonik, diantaranya pengaruh gerakan benua kecil (minikontinen) kearah
barat. Kekar dijumpai hampir pada semua batuan, terutama batuan beku (Kompleks
Ultramafik dan mafik), batuan sedimen malih Mezosoikum dan batuan malihan
(Kompleks pompangeo). Dalam batuan Neogen kekar kurang berkembang, kekar ini
diperkirakan terbentuk dalam beberapa masa, Sejarah pengendapan batuan didaerah ini
diduga sangat erat hubungannya dengan perkembangan tektonik daerah Indonesia
bagian barat, tempat lempeng Samudra Pasifik, lempeng Benua Australia, dan lempeng
Benua Eurasia saling bertubrukan. Kompleks Ultramafik dan mafik berasal dari batuan
kerak samudera yang merupakan batuan dasar di Geologi Aceh Besar yang diduga
berumur Kapur.
3.2 Genesa Pembentukan Nikel Laterite
Endapan nikel laterit merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan ultramafik
pembawa Ni-Silikat. Umumnya terdapat pada daerah dengan iklim tropis sampai
dengan subtropis. Pengaruh iklim tropis di Indonesia mengakibatkan proses pelapukan
yang intensif, sehingga beberapa daerah di Indonesia memiliki profil laterit (produk
pelapukan) yang tebal dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil
nikel laterit yang utama. Proses konsentrasi nikel pada endapan nikel laterit
dikendalikan oleh beberapa faktor yaitu, batuan dasar, iklim, topografi, airtanah,
stabilitas mineral, mobilitas unsur, dan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap
tingkat kelarutan mineral.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


Genesa Umum Nikel Laterit Berdasarkan cara terjadinya, endapan nikel dapat
dibedakan menjadi 2 macam, yaitu endapan sulfida nikel tembaga berasal dari mineral
pentlandit, yang terbentuk akibat injeksi magma dan konsentrasi residu (sisa) silikat
nikel hasil pelapukan batuan beku ultramafik yang sering disebut endapan nikel
8

laterit.
Menurut Bateman (1981), endapan jenis konsentrasi sisa dapat terbentuk jika
batuan induk yang mengandung bijih mengalami proses pelapukan, maka mineral yang
mudah larut akan terusir olehproses erosi, sedangkan mineral bijih biasanya stabil dan
mempunyai berat jenis besar akan tertinggal dan terkumpul menjadi endapan
konsentrasi sisa. Air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan terkayakan
kembali oleh material material organis di permukaan meresap ke bawah permukaan
tanah sampai pada zona pelindihan, dimana fluktuasi air tanah berlangsung. Akibat
fluktuasi ini air tanah yang kaya akan CO2 akan kontak dengan zona saprolit yang
masih mengandung batuan asal dan melarutkan mineral mineral yang tidak stabil
seperti olivin / serpentin dan piroksen. Mg, Si dan Ni akan larut dan terbawa sesuai
dengan aliran air tanah dan akan memberikan mineral mineral baru pada proses
pengendapan kembali (Hasanudin dkk, 1992). Boldt (1967), menyatakan bahwa proses
pelapukan dimulai pada batuan ultramafik (peridotit, dunit, serpentin), dimana pada
batuan ini banyak mengandung mineral olivin, magnesium silikat dan besi silikat, yang
pada umumnya banyak mengandung 0,30 % nikel. Batuan tersebut sangat mudah
dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. Air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara
luar dan tumbuh tumbuhan, akan menghancurkan olivin. Terjadi penguraian olivin,
magnesium, besi, nikel dan silika kedalam larutan, cenderung untuk membentuk
suspensi koloid dari partikel partikel silika yang submikroskopis. Didalam larutan besi
akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya
endapan ini akan menghilangkan air dengan membentuk mineral mineral seperti karat,
yaitu hematit dan kobalt dalam jumlah kecil, jadi besi oksida mengendap dekat dengan
permukaan tanah.
Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut dan
silika pada profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam dan lembab serta
membentuk konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses laterisasi pada unsur Fe, Cr,

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


Al, Ni dan Co (Rose et al., 1979 dalam Nushantara 2002) . Proses pelapukan dan
pencucian yang terjadi akan menyebabkan unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co terkayakan di
zona limonit dan terikat sebagai mineral mineral oxida / hidroksida, seperti limonit,
hematit, dan Goetit (Hasanudin, 1992).
Endapan bijih nikel laterit, yaitu bijih nikel yang terbentuk sebagai hasil
pelapukan batuan ultramafik dan terkonsentrasi pada zona pelapukan (Peters, 1978).
Zona konsentrasi laterit pada daerah penelitian adalah sebagai berikut:
> Surface
merupakan tanah penutup dan tidak memiliki kandungan nikel. Ketebalan rata-rata
0,06 meter.
> Pisolite Horison
merupakan zona laterit dengan kadar besi yang tinggi (> 50%), kandungan nikel dari
0,4% - 0,8%. Ketebalan rata-rata 6,36 meter
> Limonit (Ferralite) Horizon
merupakan zona laterit dengan kadar nikel dari 0,8% - 2% dan kandungan besi 25%
- 50%. Ketebalan rata-rata 12,21 meter
>Saprolit Horizon
merupakan zona laterit dengan kadar nikel lebih dari 2% dan kandung besi 10% 25%. Ketebalan rata-rata 2,2 meter
>Unweathered Ultramafik
merupakan batuan dasar (Harzburgit) yang belum mengalami pelapukan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:
A. Batuan asal
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel
laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada batuan
ultra basa tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya
- mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti
olivin dan piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan
memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
B. Iklim

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan
dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses
pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan
membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan
dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan.
C. Reagen-reagen kimia dan vegetasi
Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawasenyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang
mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia.
Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH
larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini,
vegetasi akan mengakibatkan: penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah
dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan akumulasi air hujan akan lebih
banyak humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana
hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih
tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk
menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
D. Struktur
Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah struktur
kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui, batuan
beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi
air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih
memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.
E. Topografi
Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagenreagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan
sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam
melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya
terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini
menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah
yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak
daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

10

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

F. Waktu
Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif
karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai berikut :
1) Iron Capping
merah tua, merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. Iron capping
mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. Terkadang terdapat
mineral-mineral hematite, chromiferous.
2) Limonite Layer
fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi dari limonit soil
menyelimuti seluruh area.Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat
hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral
manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite,
chromiferous, quartz, gibsite, maghemite.
3) Silika Boxwork
putih orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian
menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian
mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal,
magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal
dari nikel ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang
serpentinized.
4) Saprolite : campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims,
vein dari endapan garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa kasus
terdapat silika boxwork, bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock.
Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer
yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi sebagai
kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin. Struktur dan tekstur
batuan asal masih terlihat.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

11

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


5) Bedrock : bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih besar
dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak
mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan
batuan dasar). Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral
garnierite dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root
zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.

Gambar 1.2.Genesa Pembentukan Endapan Nikel Laterite

Prospeksi Bahan Galian Nikel

12

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

BAB IV
KEGIATAN SURVEY DAN PENYELIDIKAN LAPANGAN
13
4.1.

Tahap Persiapan Awal

Kegiatan persiapan dimaksudkan untuk membuat rencana kerja dan biaya selama
penyelidikan dan survey lapangan.Kegiatan berlangsung dua hari,Pengumpulan data
data awal dipakai untuk mendukung kegiatan survey ini berupa studi literatur dan
laporan penyelidikan terdahulu..Adapun persiapan meliputi :
1. Rapat Kerja pembentukan tim dan koordinasi untuk survey lapangan yang terdiri
dari 2 orang geologist,1 konsultan perencanaan tambang,dan 2 orang dari pihak
management PT Millenium Resources sebagai calon pembeli dari IUP Nikel
Laterite PT Surya Saga Utama.
2. Pengurusan Surat Keterangan Izin Peninjauan(SKIP) beserta surat permohonan
SKIP.
3. Berkoordinasi dengan Camat Peukan Bada,Geuchik Gampong Lambaru
Neujid,dan Pemandu local.
4. Tahap pengajuan rencana kerja dan biaya kepada pihak manajemen.

4.2.

Kegiatan Survey Dan Penyelidikan Umum


4.2.1.

Survey Tinjau Topografi dan Morfologi


Kegiatan ini bertujuan untuk melihat morfologi dan topografi daerah

penelitian, karena peta topografi daerah ini yang memang belum tersedia dan
dengan melihat peta topografi dari peta Bakosurtanal setra SRTM dari kontur
Global Mapper dan google earth maka di plot titik titik elevasi secara umum
serta pengambilan beberapa foto yang menggambarkan formasi batuan di daerah
tersebut.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

4.2.2.

Penyelidikan Geologi

14

Survey Geologi dilakukan secara umum dengan melihat litologi/satuan batuan


yang ada didaerah ini,lebih khusus dilakukan penyelidikan dengan pengambilan
contoh dari lokasi.Tanah penutup (OB) rata rata 1.5 2.5 meter,dan dari
pengamatan serta pengkomparasian dengan profil nikel laterite belum
menyentuh zona transisi bahkan zona saprolite yang diinginkan.Luas area
prospek yang di lakukan pengamatan dan pengambilan contoh sampling zona
limonit 9 Ha.Endapan nikel yang terlihat terdapat di vein antara formasi
batuan gamping.
4.2.3.

Penyelidikan Geofisika

Pengambilan data yang dilakukan di lapangan menggunakan alat geolistrik


konfigurasi Gradient Array. Dimana pada lokasi pengukuran, terdapat 4 buah
bentangan kabel dengan tiap bentang kabel terdiri dari 55 elektroda dan jarak
antar spasi elektroda adalah 24 meter. Pengukuran dimulai dengan mengalirkan
arus listrik ke dalam bumi melalui elektroda arus dan mengukur respon beda
potensial melalui elektroda potensial untuk mendapatkan hasil pengukuran
resistivitas di lapangan. Selain itu, pengumpulan berbagai macam literatur yang
berhubungan

dengan

kajian

geologi

daerah

setempat

seperti

genesa

pembentukan nikel laterit yang dapat memudahkan dalam menganalisis


karakteristik dari tiap lapisan nikel laterit.
Hasil pengukuran resistivitas yang diperoleh di lapangan merupakan nilai
resistivitas semu yang mengangap bahwa bumi tidak terdiri dari beberapa
lapisan, sebagaimana yang dinyatakan dalam rumus berikut:

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


a = 2 [(r 1 1 r 1 2) (r 1 3 r 1 4)] V/i
a adalah resistivitas semu, V adalah beda potensial, i adalah arus dan r
adalah elektroda.
Karena yang diperoleh di lapangan adalah resistivitas semu, maka perlu
dilakukan proses inversi. Proses inversi bertujuan untuk mengubah nilai
resistivitas semu menjadi nilai resistivitas sebenarnya. Proses inversi akan
dilakukan

dengan

menggunakan

program

komputer

Res2Dinv

dan

menghasilkan penampang 2 dimensi.


Pada tahap selanjutnya, penampang 2 dimensi akan diinterpretasikan secara
geofisika untuk melihat kedalaman dan ketebalan lapisan nikel laterit dengan
berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi nilai resistivitas tersebut
seperti, kandungan air, kondisi fisik material, kandungan clay, mineralogi
batuan, dan sebagainya.
4.2.4.

Analisa Laboratorium
Analisa laboratorium dilakukan pada sampel yang di ambil yaitu pada urat
nikel diantara batuan gamping. Pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan palu geologi. Analisa sampel dilakukan di laboratorium pusat
sumber daya geologi Bandung.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

15

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

BAB V
HASIL KEGIATAN SURVEY DAN PENYELIDIKAN LAPANGAN

5.1 Penyelidikan Geofisika


Pada daerah penelitian terdapat empat lintasan pengukuran ERT, yaitu lintasan
N3, lintasan N4, lintasan N5 dan lintasan N6. Lintasan pengukuran tersebut terletak di
bagian barat timur daerah penelitian. Setiap lintasan memiliki panjang 441 meter
dengan spasi antar elektroda 7 meter dan menggunakan Konfigurasi Gradient.

Berdasarkan gambar di atas, terdapat tiga


lapisan yaitu :
1. Lapisan pertama memiliki resistivitas 160 -700 ohm.meter.
2. Lapisan kedua dengan nilai resistivitas 0 260 ohm.meter.
3. Lapisan ketiga dengan nilai resistivitas 300 -700 ohm.meter.
Pada Gambar diatas dilihat bahwa lintasan N6 memiliki penampang resistivitas
mengikuti topografi daerah (heterogen). Oleh karena itu, lintasan N6 diberikan beberapa
contoh garis bantu untuk menentukan kedalaman dan ketebalan tiap lapisan tersebut.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

16

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar


Pada lapisan pertama terdapat enam garis bantu yaitu N61, N62, N63, N64, N65 dan
N66.
Lapisan pertama tidak dapat ditentukan kedalamannya karena lapisan pertama
berpatokan dari permukaan tanah (0 meter), sehingga yang ada hanya ketebalan lapisan.
Garis bantu N61 memiliki ketebalan 25 meter, garis bantu N62 memiliki ketebalan 15
meter, garis bantu N63 memiliki ketebalan 16 meter, garis bantu N64 memilki
ketebalan 10 meter, garis bantu N65 memiliki ketebalan 7 meter dan garis bantu N66
memiliki ketebalan 4 meter di bawah permukaan bumi. Dari keenam garis bantu di
peroleh ketebalan rata-rata untuk lapisan pertama yaitu 13 meter.
Pada lapisan kedua terdapat tiga garis bantu yaitu N63, N64 dan N65. Garis
bantu N63 memiliki kedalaman dari 16 meter sampai dengan 26 meter di bawah
permukaan bumi dengan ketebalan lapisan 10 meter. Garis bantu N64 memiliki
kedalaman dari 10 meter sampai dengan 41 meter di bawah permukaan bumi dengan
ketebalan lapisan 31 meter. Garis bantu N65 memilki kedalaman dari 7 meter sampai
dengan 36 meter dengan ketebalan lapisan 29 meter. Dari ketiga garis bantu di peroleh
kedalaman rata-rata untuk lapisan kedua yaitu 11 meter sampai dengan 34 meter di
bawah permukaan bumi dengan ketebalan rata-rata 23 meter.
Pada lapisan ketiga tidak dapat ditentukan ketebalannya karena mempunyai
batas bawah lapisan tak terhingga, sehingga yang ada hanya kedalaman lapisan. Pada
lapisan ketiga terdapat tiga garis bantu yaitu N63, N64 dan N65. Garis bantu N63
memiliki kedalaman 26 meter di bawah permukaan bumi. Garis bantu N64 memilki
kedalaman 41 meter. Garis bantu N65 memiliki kedalaman 36 meter di bawah
permukaan bumi. Dari ketiga garis bantu di peroleh kedalaman ratarata untuk lapisan
ketiga yaitu 34 meter di bawah permukaan bumi.
5.2 Hasil Analisis Laboratorium
Berikut Tabel Hasil Analisis sampel batuan yang mengandung nikel

Prospeksi Bahan Galian Nikel

17

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

Ada 2 sampel standar yang digunakan untuk program QC, yaitu sampel standar
limonit (LIM), dan bedrock (BRK). Berdasarkan evaluasi, maka diperoleh bias sekitar
17.41% Ni dan 1.58% untuk Fe untuk Standard Limonite. Sedangkan untuk bedrock
bias Ni berada di kisaran 2.78% untuk Ni dan 2.44% untuk Fe. Untuk standar limonite
terjadi bias yang cukup tinggi ini pada nilai Ni disebabkan oleh akurasi alat X-Ray
yang tidak bisa dikontrol dengan baik. Tetapi setidaknya dari data statistik
menunjukan bahwa data standard cukup presisi dan ini menunjukan bahwa pembacaan
alat X-Ray cukup stabil.
5.3 Kesimpulan
Berdasarkan penampang resistivitas, terdapat 3 lapisan profil nikel laterit secara
vertical yaitu lapisan limonit (atas) dengan nilai resistivitas 100 ohm.meter 700
ohm.meter, lapisan saprolit (tengah) dengan nilai resistivitas 0 400 ohm.meter dan
lapisan bedrock (bawah) dengan nilai resistivitas 300 - 700 ohm.meter.
Ketebalan rata-rata untuk lapisan limonit berdasarkan keempat lintasan yaitu 15
meter. Kedalaman rata-rata untuk lapisan saprolit berdasarkan keempat lintasan yaitu 12
meter sampai dengan 45 meter di bawah permukaan bumi dengan ketebalan rata-rata 33
meter. Kedalaman rata-rata untuk lapisan bedrock berdasarkan keempat lintasan yaitu
45 meter di bawah permukaan bumi.
Pada kegiatan ini dilakukan pengiriman 1 sampel standar. Berdasarkan hasil
laboratorium dijumpai nilai unsur Ni yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat kontaminasi sampel dalam proses preparasi sangat baik. Hasilnya dapat dilihat
bahwa kandungan Ni pada sampel tergolong tinggi.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

18

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

DAFTAR PUSTAKA
Butt, CRM., Zeegers, H.1992, Regolith Exploration Geochemistry in Tropical and
Subtropical Terrains, Handbook of Exploration Geochemistry, Elsevier:
Amsterdam
Djadjulit,A., Karim, A.,Hasanudin, D., Kelfas, Y.,Purwanto, H., Ukat., Sutisna, A .
1992, Pemantauan Penambangan Bijih Nikel di UPN Pomalaa, PT Aneka
Tambang Pomalaa, Kolaka, Sulteng. Laporan Teknik Penambangan no 36,
Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Pusat Pengembangan Teknologi
Direktorat Proyek Penelitian Teknologi Pertambangan Jurusan Fisika-FMIPA ITB:
Bandung.
Lilik, H., dan Idam, A., 1990. Geolistrik Tahanan Jenis. Laboratorium Fisika Bumi
Muhtar, G.A., Hamzah, M., Syamsuddin. 2014. Eksplorasi Nikel Menggunakan
Metoda Resistivity. Universitas Hasanuddin: Makassar
Sufriadin. 2013. Mineralogi, Geokimia dan Perilaku Leaching Pada Endapan Laterit
Nikel Soroako, Sulawesi Selatan. Program Pascasarjana Teknik Geologi
Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.

Prospeksi Bahan Galian Nikel

19

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

LAMPIRAN
20

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

21

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

22

Prospeksi Bahan Galian Nikel

PT. CENTRAL ACEH NICKEL, Peukan Bada, Aceh Besar

PETA LOKASI EKSPLORASI NIKEL


23

Prospeksi Bahan Galian Nikel


24