Anda di halaman 1dari 9

Cukup beralasan jika Rupert C.

Lodge menyatakan bahwa Life is education, and education


is life
Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk
menunjang penyelenggaraan pendidikan. Yang termasuk kedalam tenaga kependidikan
terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu:
1) kepala satuan pendidikan, yaitu orang yang diberi wewenang dan tanggung jawab untuk
memimpin satuan pendidikan tersebut (dalam hal ini adalah Kepala Sekolah/Madrasah,
Rektor, Direktur, serta istilah lainnya.
2) pendidik, yaitu tenaga kependidikan yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan dengan tugas khusus sebagai profesi pendidik. Pendidik mempunyai sebutan lain
sesuai kekhususannya seperti guru, dosen, tutor, konselor, pamong belajar, instruktur,
fasilitator, Ustadz/dzah, dan sebutan lainnya, dan
3) tenaga Kependidikan lainnya, orang yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan
pendidikan di satuan pendidikan, walaupun secara tidak langsung terlibat dalam proses
pendidikan, diantaranya: Tata Usaha, penjaga laboratorium, pustakawan, dan lainnya.
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi
mengemukakan Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab
yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam
melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab IV
Bagian Kesatu Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi Pasal 8 dan 9
a) Pasal 8
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidikan, sehat jasmai
dan rohani, serta mmiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

b) Pasal 9
Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan
tinggi program sarjana atau program diploma empat.

Selanjutnya, kualifikasi guru diperjelas kembali dalam Permendiknas Nomor 16 tahun 2007,
1. Kualifikasi Dosen
Sama halnya dengan guru, kualifikasi dosen juga di jelaskan dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab V, bagian satu

kualifikasi, kompetensi, sertifikasi, dan jabatan akademik. Pasal 45 dan 46, ayat 1 dan 2
sebagai berikut:

a) Pasal 45
Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani
dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi
tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

b) Pasal 46
Ayat 1
Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diperoleh melalui
pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai denganbidang keahlian.

Ayat 2
Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum;
1. Lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan
2. Lulusan program doctor untuk program pascasarjana.
Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut
terintegrasi dalam kinerja guru
2) Kompetensi Guru mata pelajaran IPA pada SMP/MTs

Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori IPA serta penerapannya


secara fleksibel.

Memahami proses berpikir IPA dalam mempelajari proses dan gejala alam

Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala alam.

Memahami hubungan antar berbagai cabang IPA, dan hubungan IPA dengan
matematika dan teknologi.

Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum alam
sederhana.

Menerapkan konsep, hukum, dan teori IPAuntuk menjelaskan berbagai fenomena


alam.

Menjelaskan penerapan hukum-hukum IPA dalam teknologi terutama yang dapat


ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami lingkup dan kedalaman IPA sekolah.

Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan IPA.

Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan kerja/belajar


di laboratorium IPA sekolah.

Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak komputer
untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas, laboratorium.

Merancang eksperimen IPA untuk keperluan pembelajaran atau penelitian

Melaksanakan eksperimen IPA dengan cara yang benar.

Memahami sejarah perkembangan IPA dan pikiran-pikiran yang mendasari


perkembangan tersebut.

2. PendahuluanKeberadaan konselor dlm sistem pendidikan nasionaldinyatakan sbg salah


satu kualifikasi pendidik, sejajar dengankualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor,
widyaiswara,fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat6)
empat kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam PP 19/2005, maka rumusan
kompetensi akademik dan profesional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang standar
kualifikasi dan kompetensi guru dimana disebutkan bahwa setiap guru wajib memenuhi
standar kualitas akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional, juga bahwa
guru-guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik diploma empat (D-IV) atau sarjana
akan diatur dengan peraturan menteri tersendiri. Berikut dibawah ini adalah salinan dari
lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 yang diterbitkan pada
4 Mei 2007 tentang kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
KUALIFIKASI AKADEMIK GURU
Ada 2 kualifikasi akademik guru yaitu kualifikasi guru melalui pendidikan formal dan
kualifikasi guru melalui uji kelayakan dan kesetaraan dimana hal itu dijelaskan dengan
kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidangbidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan di perguruan tinggi dapat
diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang

yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi wewenang
untuk melaksanakannya.
Satuan Pendidikan

Kualifikasi Akademik Guru

PAUD/TK/RA

Guru pada PAUD/TK/RA harus memiliki


kualifikasi akademik pendidikan minimum
diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
dalam bidang pendidikan anak usia dini atau
psikologi yang diperoleh dari program studi
yang terakreditasi.

SD/MI

Guru pada SD/MI, atau bentuk lain yang


sederajat, harus memiliki kualifikasi
akademik pendidikan minimum diploma
empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang
pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI)
atau psikologi yang diperoleh dari program
studi yang terakreditasi.

SMP/MTs

Guru pada SMP/MTs, atau bentuk lain yang


sederajat, harus memiliki kualifikasi
akademik pendidikan minimum diploma
empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi
yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari
program studi yang terakreditasi.

SMA/MA

Guru pada SMA/MA, atau bentuk lain yang


sederajat, harus memiliki kualifikasi
akademik pendidikan minimum diploma
empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi
yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari
program studi yang terakreditasi.

SDLB/SMPLB/SMALB

Guru pada SDLB/SMPLB/SMALB, atau


bentuk lain yang sederajat, harus memiliki
kualifikasi akademik pendidikan minimum
diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
program pendidikan khusus atau sarjana yang
sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari

program studi yang terakreditasi.


SMK/MAK

Guru pada SMK/MAK atau bentuk lain yang


sederajat, harus memiliki kualifikasi
akademik pendidikan minimum diploma
empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi
yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari
program studi yang terakreditasi.

IPA pada SMP/MTs

Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori IPA serta


penerapannya secara fleksibel.

Memahami proses berpikir IPA dalam mempelajari proses dan gejala alam

Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala


alam.

Memahami hubungan antar berbagai cabang IPA, dan hubungan IPA


dengan matematika dan teknologi.

Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum


alam sederhana.

Menerapkan konsep, hukum, dan teori IPAuntuk menjelaskan berbagai


fenomena alam.

Menjelaskan penerapan hukum-hukum IPA dalam teknologi terutama yang


dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami lingkup dan kedalaman IPA sekolah.

Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan IPA.

Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan


kerja/belajar di laboratorium IPA sekolah.

Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak
komputer untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas,laboratorium.

Merancang eksperimen IPA untuk keperluan pembelajaran atau penelitian

Melaksanakan eksperimen IPA dengan cara yang benar.

Memahami sejarah perkembangan IPA dan pikiran-pikiran yang mendasari


perkembangan tersebut.

Biologi pada SMA/MA, SMK/MAK*

Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori biologi serta


penerapannya secara fleksibel.

Memahami proses berpikir biologi dalam mempelajari proses dan gejala


alam.

Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala


alam/biologi.

Memahami struktur (termasuk hubungan fungsional antar konsep) ilmu


Biologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait.

Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum


biologi.

Menerapkan konsep, hukum, dan teori fisika kimia dan matematika untuk
menjelaskan/mendeskripsikan fenomena biologi.

Menjelaskan penerapan hukum-hukum biologi dalam teknologi yang


terkait dengan biologi terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari.

Memahami lingkup dan kedalaman biologi sekolah.

Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu


biologi dan ilmu-ilmu yang terkait.

Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan


kerja/belajar di laboratorium biologi sekolah.

Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak
komputer untuk meningkatkan pembelajaran biologi di kelas,laboratorium

dan lapangan.

Merancang eksperiment biologi untuk keperluan pembelajaran atau


penelitian.

Melaksanakan eksperiment biologi dengan cara yang benar.

Memahami sejarah perkembangan IPA pada umumnya khusunya biologi


dan pikiran-pikiran yang mendasari perkembangan tersebut.

Kimia pada SMA/MA, SMK/MAK*

Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori kimia yang


meliputi struktur, dinamika, energetika dan kinetika serta penerapannya
secara fleksibel.

Memahami proses berpikir kimia dalam mempelajari proses dan gejala


alam.

Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala


alam/kimia.

Memahami struktur (termasuk hubungan fungsional antar konsep) ilmu


Kimia dan ilmu-ilmu lain yang terkait.

Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum


kimia.

Menerapkan konsep, hukum, dan teori fisika dan matematika untuk


menjelaskan/mendeskripsikan fenomena kimia.

Menjelaskan penerapan hukum-hukum kimia dalam teknologi yang terkait


dengan kimia terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan
seharihari.

Memahami lingkup dan kedalaman kimia sekolah.

Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu


yang terkait dengan mata pelajaran kimia.

Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan


kerja/belajar di laboratorium kimia sekolah.

Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak
komputer untuk meningkatkan pembelajaran kimia di kelas, laboratorium
dan lapangan.

Merancang eksperiment kimia untuk keperluan pembelajaran atau


penelitian.

Melaksanakan eksperiment kimia dengan cara yang benar.

Memahami sejarah perkembangan IPA pada umumnya khusunya kimia


dan pikiran-pikiran yang mendasari perkembangan tersebut.

Penjelasan Pasal 94 butir c pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005


tentang Standar Nasional Pendidikan yang berbunyi: Sebelum standar
kualifikasi akademik berlaku efektif, BSNP mengembangkan Standar Antara
yang secara bertahap menuju pencapaian standar kualifikasi pendidik
sebagaimana dimaksud pada Pasal 29 Peraturan Pemerintah ini. Rumusan ini
mengharuskan dikembangkannya Standar Antara. Standar Antara diperlukan
untuk kepentingan sertifikasi guru yang diberlakukan pada masa transisi yaitu
selama 15 tahun sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan. Setelah masa transisi tersebut, Standar


Antara tidak diberlakukan lagi.
Pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 42 ayat (1)
Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan
jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kemudian dijelaskan lagi pada Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
pada pasal 8, pasal 9, dan pasal 10. Pasal 8 berbunyi Guru wajib memiliki kualifikasi
akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 9 berbunyi Kualifikasi
akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program
sarjana atau program diploma empat. Sedangkan pada pasal 10 tertulis Kompetensi guru
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui
pendidikan profesi. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru lebih lanjut diatur
dalam Peraturaan Menteri Pendidikan Nasonal Nomor 16 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1) Setiap
guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara
nasional..

Kompetensi Pedagogik

1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, social,


cultural, emosional, dan intelektual.
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan
yang diampu.
4. Menyelenggarakan kegiatan pengembanga yang mendidik.
5. Memafaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
penyelenggaraan kegiatan pengembangannyang mendidik.
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran.
10.Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi Kepribadian

1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hokum, social, dan kebudayaan


nasional Indonesia
2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan
bagi peserta didik dan masyarakat
3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa
4. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi
guru, dan rasa percaya diri.
5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Kompetensi Sosial

1. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena


pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang
keluarga, dan status sosial ekonomi.
2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
3. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia
yang memiliki keragaman sosial budaya.
4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara
lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Kompetensi Profesional

1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang


mendukung mata pelajaran yang diampu.
2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
3. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan
tindakan reflektif.
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi
dan mengembangkan diri.

Adapun persyaratan pengadaan tenaga pendidik di atur dalam PP 38 / 1992 pada pasal 9 ayat
1 yaitu :
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang
Guru.