Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan
sensititsasi terhadap sarcoptes scabiei var huminis dan produknya.
Sinonim dari penyakti ini adalah kudis.
Penyakti scabiei merupakan penyakti menular oleh kutu tuma gatal
sarcoptes scabiei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum
membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6
sampai 1,2 cm.
Akibatnya, penyakti ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan udem
yang disebabakan oleh garukan.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menjelaskan
Menjelaskan
Menjelaskan
Menjelaskan
Menjelaskan
Menjelaskan

pengertian scabies
etiologi scabies
manifestasi klinis scabies
patofisiologi scabies
penatalaksanaan scabies
asuhan keperawatan scabies

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh sarcoptes scabiei
yang menyebabkan iritasi kulit. Parasit ini menggali parit-parit didalam
epidermis sehingga menimbulkan gatal-gatal dan merusak kulit penderita.
(Soedarto, 1992).
Scabies adalah penyakit kulit yang mudah menular dan ditimbulkan oleh
investasi kutu sarcoptes scabiei var homini yang membuat terowongan

pada stratum korneum kulit, terutama pada tempat predileksi (Wahidayat,


1998).
Scabies merupakan investasi kulit oleh kutu sarcoptes scabiei yang
menimbulkan gatal. Penyakit ini dapat ditemukan pada orang-orang
miskin yang hidup dengan kondisi higiene dibawah standar sekalipun juga
sering tedapat diantara orangorang yang sangat bersih. Scabies sering
dijumpai pada orang-orang yang seksual-aktif. Namun demikian, infestasi
parasit ini tidak bergantung pada aktivitas seksual karena kutu tersebut
sering menjangkiti jari-jari tangan, sentuhan tangan dan menimbulkan
infeksi. Pada anak-anak, tinggal semalaman dengan teman yang terinfeksi
atau atau saling berganti pakaian dengannya dapat menjadi sumber
infeksi. Petugas kesehatan yang melakukan kontak fisik yang lama
dengan pasien scabies dapat pula terinfeksi.
B. Etiologi
Penyebab dari scabies adalah sarcoptes scabiei var homini. Kutu betina
yang dewasa akan membuat terowongan pada lapisan superfisial kulit dan
berada disana selama sisa hidupnya. Dengan rahang dan pinggir dan
tajam perluas dari persendian kaki depannya, kutu tersebut akan
memperluas terowongan dan mengeluarkan telurnya 2 hingga 3 butir
sehari sampai selama 2 bulan. Kemudian kutu betina itu mati. Larva
(telur) menetas dalam waktu 3 hingga 4 hari dan berlanjut hingga stadium
larva serta nimfa menjadi bentuk kutu dewasa dalam tempo sekitar 10
hari.
Cara penularan (transmisi) penyakit penyakit ini ada dua macam, yaitu
secara langsung dan tidak langsung :
1. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan,
tidur bersama, dan hubungan sekseual.
2. Kontak tidak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei,
bantal, dll.

C. Manifestasi klinik
Pasien dengan skabies memiliki gejala-gejala yang sangat khas. Ini
berbeda dengan penyakit kulit yang lain. Oleh karena itu perawatan harus
memahami secara benar gejala tersebut :
1. Pruritus nokturna, yakni gatal pada malam hari. Ini terjadi karena
aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas, dan
pada saat hospes dalam keadaan tenang atau tidak beraktvitas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok. Misalnya, dalam
sebuah keluarga, biasanya seluruh anggota keluarga dapat terkena
infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat
penduduknya, misalnya asrama atau penjara.
3. Adanya lesi yang khas, berupa terowongan (kurnikulus) pada tempat
predileksi; berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau

berkelok, rata-rata panjang 1 cm. Pada ujung terowongan ditemukan


papul atau vesikel. Tempat predileksinya adalah kulit dengan stratum
korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku
bagian luar, lipatan ketiak bagian depan, areola mamae (wanita),
umbilikus, bokong, genitalia eksterna pria (pria), dan perut bagian bawah.
Pada bayi, dapat mengenai telapak tangan dan kaki.
4. Ditemukannya tungau merupakan penentu utama diagnosis.
D. Patofisiologi
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan
tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman
atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan
lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan leh
sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu
kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat it kelainan kulit menyerupai
dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika. Dengan
garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.
Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.
E. Penatalaksanaan
Kepada pasien agar diminta mandi dengan air yang hangat dan sabun
guna menghilangkan debris yang mengelupas dari krusta dan kemudian
kulit dibiarkan kering benar serta menjadi dingin.
Preparat skabisida, seperti lindane (Kwell) atau krotamiton (krim dan
lotion Eurax), dioleskan tipis-tipis pada seluruh permukaan kulit mulai dari
leher kebawah dengan hanya meninggalkan daerah muka dan kulit kepala
(yang pada scabies tidak terkena). Obat itu dibiarkan selama 12 hingga 24
jam dan sesudah itu, pasien diminta untuk membasuh dirinya sampai
bersih. Aplikasi obat satu kali sudah dapat memberikan efek kuratif, tetapi
disarankan agar terapi tersebut diulang sesudah 1 minggu kemudian.

Pasien perlu mengetahui petunjuk pemakaian ini karena pengolesan


skabisida segera sesudah mandi dan sebelum kulit mengering serta
menjadi dingin dapat meningkatkan absorbsi perkuatan skabisida
sehingga berpotensi untuk menimbulkan gangguan sistem saraf pusat
seperti serangan kejang.
F. Asuhan keperawatan
Pengkajian
Data yang perlu dikaji adalah :
1. Biodata, perlu dikaji secara lengkap untuk umur, penyakit scabies bisa
menyerang semua semua kelompok umur baik anak-anak maupun
dewasa bisa terkena penyakit ini, tempat, paling sering dilingkungan yang
kebersihannya kurang dan padat penduduknya, seperti asrama dan
penjara.
2. Keluhan utama, biasanya klien datang keluhan gatal dan ada lesi pada
kulit.

3. Riwayat penyakit sekarang, biasanya klien mengeluh gatal terutama


malam hari dan timbul lesi berbentuk pustula pada sela-sela jari tangan,
telapak tangan, ketiak, areola mamae, bokong atau perut bagian bawah.
Untuk menghilangkan gatal biasanya penderita menggaruk lesi tersebut
sehingga dapat ditemukan adanya lesi tambahan akiat garukan.
4. Riwayat penyakit dahulu, tidak ada penyakit lain yang dapat
menimbulkan skabies kecuali kontak langsung atau tidak langsung
dengan penderita.
5. Riwayat penyakit keluarga, pada pasien skabies, biasanya ditemukan
anggota keluarga lain, tetangga atau juga teman yang menderita, atau
mempunyai keluhan dan gejala yang sama. Oleh karena itu, dalam
melakukan pengkajian/anamnesis, perawat perlu menanyakannya secara
lengkap.
6. Psikososial, penderita skabies biasanya merasa malu, jijik, daan cemas
dengan adanya lesi yang berbentuk pustula. Mereka biasanya
menyembunyikan daerah-daerah yang terkena lesi pada saat interaksi
sosial.
7. Pola kehidupan sehari-hari, penyakit skabies terjadi karena higiene
pribadi yang buruk/kurang (kebiasaan mandi, cuci tangan, dan ganti baju
yang tidak baik). Pada saat anamnesis perlu ditanyakan secara jelas
tentang pola kebersihan diri klien maupun keluarga. Dengan adanya rasa
gatal dimalam hari, tidur penderita seringkali terganggu. Lesi dan bau
yang tidak sedap, yang tercium dari sela-sela jari atau telapak tangan
akan menimbulkan gangguan aktivitas dan interaksi sosial.
8. Pemeriksaan fisik, pada inspeksi ditemukan lesi yang khas berbentuk
papula, pustula, vesikel, urtikaria, dll. Garukan dapat menimbulkan erosi,
ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Pada daerah predileksi ditemukan
terowongan kecil, sedikit meninggi, berkelok-kelok, berwarna putih keabuabuan, panjang kira-kira 10 mm. Pada beberapa kasus, ditemukan bau
yang tidak sedap/amis.

1.
2.
3.
4.
5.

Diagnosa
Kerusakan integritas kulit b/d lesi dan pruritus
Gangguan pola tidur b/d pruritus/gatal
Gangguan citra diri b/d penampilan dan respon orang lain
Risiko tinggi infeksi b/d lesi
Ansietas b/d perubahan status kesehatan